Museum of Champ Sculpture, Da Nang


Hanya beberapa jam untuk menikmati kota Da Nang sebelum kembali ke Tanah Air saat solo-travelling ke Vietnam Tengah, saya menyempatkan diri berkunjung ke Museum of Champa Sculpture, yang lokasinya hanya selemparan batu dari tempat saya menginap. Museum yang menyimpan banyak sekali artefak kerajaan Champa ini memang menjadi tujuan utama saya di kota Da Nang, sebagai pelengkap kunjungan ke My Son, tempat reruntuhan kerajaan negeri Champa berabad lalu.

Sayangnya seperti juga di Indonesia, museum yang menyimpan banyak sejarah kejayaan Vietnam jaman dulu ini tampaknya belum menjadi tujuan wisata dari orang lokal maupun turis asing karena dalam dua setengah jam saya berada di sana, belum banyak orang yang datang berkunjung.

Meskipun akhir pekan, -mungkin saya yang kepagian, namun hingga sampai pulang pun-, sepertinya bukan merupakan waktu berkunjung yang nyaman untuk ke museum. Yang pasti saya memang pengunjung pertama, yang menunggu sejenak hingga gerbang dibuka lalu membayar sekitar 40000 VND untuk masuk.

Ketika masuk ke dalam ruangan, patung batu dewa-dewa utama Hindu beserta pasangannya, Dewa Siwa, Brahma, Wisnu serta Uma, Saraswati dan Laksmi seakan-akan menyambut kedatangan saya (Lhaaa… pikiran saya jadi lari ke film Night in The Museum, yang penghuninya menjadi hidup sepanjang malam)

Sebenarnya kata Champa tidak terlalu asing untuk telinga orang Indonesia, karena dalam pelajaran sejarah saat sekolah dulu (entah sekarang masih diberikan di sekolah atau tidak), kita pernah dengar kisah mengenai Putri Campa yang cantik menikah dengan Raja Jawa. Ada yang masih ingat?

Ada begitu banyak peninggalan Champa yang disimpan di Museum ini, tidak hanya dari reruntuhan My Son, tetapi juga di tempat-tempat lain (dan uuh, akhirnya mampu menimbulkan keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat itu suatu saat nanti)

Bagi saya yang merupakan penggemar candi, membayangkan keindahan seni pada bangunan candi pada masanya memang menyenangkan. Jika di kompleks Angkor Wat ada penggambaran apsara yang sedang menari, di sini terlihat bentuk-bentuk serupa seperti apsara meski berbeda posenya. Saya berlama-lama di tempat ini karena amat menikmati bentuknya yang sedang meliuk-liuk menari itu. Hiasan pada tubuhnya, serta mahkotanya amat menarik hati.

Tak hanya makhluk-makhluk kayangan yang memenuhi museum ini, melainkan ada juga penggambaran kehidupan masyarakat biasa yang sepertinya menggunakan kereta beroda dan juga hewan-hewan yang hidup bersama dalam masyarakat. Ketika melihat sebuah kereta beroda yang amat jelas penggambaran rodanya, saya amat terpesona. Terbayang pada masa itu, roda-roda itu amatlah membantu pergerakan masyarakat.

Lalu melihat adanya sapi, gajah yang tak berhiasan, kuda yang juga ada di antara kereta beroda itu, burung-burung serta kera, seakan memberi konfirmasi ke jaman sekarang bahwa hewan-hewan itu dapat hidup secara baik di antara masyarakat Champa pada saat itu.

Tidak hanya penggambaran hewan-hewan yang hidup secara baik di dalam masyarakat, namun juga mahkluk-makhluk mitos yang dikategorikan suci atau hewan yang digunakan oleh kalangan atas yang tak terjangkau oleh masyarakat biasa. Seperti gajah yang biasa digunakan untuk Raja atau kaum bangsawan biasanya dihias dengan indah, seakan tak akan kalah dengan yang menungganginya. Juga hiasan-hiasan pada sudut bangunan yang biasanya diisi oleh sejenis burung mitos atau singa yang juga dihias dengan indah, dengan hiasan leher yang berumbai. Dan sesuai dengan kepercayaan pada waktu itu, Naga berkepala angka ganjil (lima, tujuh atau sembilan) senantiasa ada pada bangunan-bangunan suci.

Dan saya mencari Garuda, -hewan yang memuja dan menjadi tunggangan Dewa Wisnu-, karena ingin mengetahui bagaimana bentuknya. (Saya jadi terkenang akan Garuda yang dibuat amat indah di dekat kuil Narayan di Kathmandu, Nepal).

Garuda, lengkap dengan detil bulu-bulu dibuat cukup baik. Paling tidak saya bisa menebak dengan benar tanpa melihat informasi yang ada di sebelahnya. Meskipun tak terlalu jelas, Garuda masih tampak mengenakan hiasan-hiasan pada kepala, telinga, leher hingga dada dan pinggulnya. Adanya hiasan-hiasan itu seakan-akan menunjukkan ketinggian tingkatannya.

Di bagian lain, saya juga bisa menikmati penggambaran dengan detil yang menarik. Seakan-akan seseorang yang dihormati sedang menari. Saya hanya bisa menduga, namun tak bisa menyakinkan diri bahwa penggambaran itu adalah The Dancing Shiva.

Selain itu, juga terdapat relief Dewa Wisnu yang sedang duduk di atas Anantasesha dan dipayungi oleh kepala-kepalanya. Uniknya dalam penggambaran ini, Ananta berkepala sebelas, yang biasanya hanya lima atau tujuh.

Saya begitu menikmati semua peninggalan yang ada di Museum ini meskipun informasi yang menyertainya bisa dibilang minim. Tetapi tak mengapa, kadang dengan keterbatasan informasi ini membuat saya lebih tertantang untuk selalu bertanya, siapakah dia, apakah ini, apakah itu dan sebagainya.

Selanjutnya di ruangan tengah, terdapat sekumpulan batuan besar yang dibentuk dengan tatahan yang amat rumit dan agaknya menjadi bagian dari sebuah bangunan suci. Saya bisa melihat gerbang lengkap dengan hiasan melengkung serta dua penjaga gerbangnya. Relief yang amat indah yang menceritakan kehidupan saat itu.  Sayang saya tak bisa berlama-lama menikmatinya karena keterbatasan waktu padahal sangat menarik…

Meneruskan langkah, sampailah saya di sebuah patung perempuan yang dipercaya sebagai Dewi Tara dan tak jauh darinya terdapat patung seorang dewa yang mendapat pencahayaan khusus di sebuah ruangan. Sayangnya saya tidak mengetahui lebih jauh tentang mereka. Pastinya mereka amat dihormati dan amat bernilai dilihat dari pencahayaan dan penyimpanan yang khusus.

Tidak terasa saya sudah sampai di penghujung waktu yang bisa digunakan karena harus segera check-out dari hotel dan kembali ke Tanah Air. Rasanya selalu sama, enggan untuk meninggalkan tempat yang penuh dengan batu-batuan yang dibentuk dengan indah dan penuh makna, padahal waktu tak lagi bersahabat.

Kunjungan ke Museum of Champ Sculpture ini mengakhiri perjalanan saya di Vietnam Tengah dan meninggalkan banyak tempat yang masih harus dikunjungi di Vietnam ini, Na Trang masih menggoda, Vietnam Utara dengan campuran budayanya yang khas… ah, semakin banyak tempat yang belum dikunjungi tapi waktu ini amat terbatas.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-7 ini bertema Museum agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Bahagia Penuh Drama di Negeri Champa


Banyak teman menyangka saya sudah merambah ke pelosok-pelosok negeri Vietnam padahal baru kali ini saya menjejakkan kaki di negara itu. Awalnya memang Vietnam menjadi salah satu negara tujuan setelah negara-negara pertama wajib kunjung (Singapura, Malaysia dan Thailand), tetapi hal itu tak pernah terjadi hingga saat ini. Bahkan Kamboja yang awalnya tidak pernah masuk hitungan karena kengerian saya terhadap sisa-sisa kekejaman Pol Pot, malah akhirnya didatangi lebih dulu dan berulang kali setelahnya, tanpa pernah sekali pun mampir ke Vietnam. Tapi semua yang indah terjadi tepat pada waktunya.

Ho Chi Minh City from Above
Ho Chi Minh City from Above

Indah? Tentu saja segala sesuatu terasa indah setelah melalui berbagai drama 😀 😀 😀

Berbeda dengan banyak teman yang mengawali perjalanan ke Vietnam dengan mengunjungi Ho Chi Minh City di selatan atau Hanoi di utara, saya lebih memilih mendatangi Vietnam Tengah. Tentu ada alasan tersendiri bagi saya.

Karena Champa.

Sebagai penyuka fairytales, bagi saya kisah-kisah puteri raja selalu menarik, termasuk kisah dalam sejarah mengenai puteri Champa yang mengarungi lautan, meninggalkan negerinya dan berpindah budaya untuk ‘ikut suami’ di tanah Jawa. Nama Champa yang berbekas kuat di benak terangkat kembali setelah berkenalan dengan sejarah negeri-negeri di kawasan Asia Tenggara. Apalagi kedekatan hubungan Champa dan Nusantara saat itu masih dapat dilihat di reruntuhan percandian yang kini berada dalam penguasaan Vietnam. Terlintas juga candanya seorang sahabat jaman sekolah yang mengatakan wajah saya mirip puteri Champa (dilihat dari Mars mungkin :p )

Dan tentu saja, di Vietnam Tengah itu dalam jarak yang terjangkau terdapat tiga UNESCO World Heritage Sites yang tentu saja selalu memanggil-manggil untuk dikunjungi!

Begitulah, dengan berbekal cuti dua hari, saya terbang ke Kuala Lumpur dengan penerbangan yang mengalami delay 1 jam, untuk kemudian paginya lanjut ke Ho Chi Minh City hanya untuk berpindah terminal dari internasional ke domestik dan terbang lagi ke Da Nang lalu berkendara sekitar 45 menit menuju Hoi An, yang sedikit banyak serupa dengan kota Melaka. Dengan cara lompat-lompat seperti itu dan harga yang hampir sama, saya mendapat lebih banyak waktu di Hoi An, daripada mengambil penerbangan Jakarta – Da Nang via HCMC.

Hoi An at night
Hoi An at night

Kawasan kota tua Hoi An memang sebuah kawasan pinggir sungai yang cantik dan romantis, yang saat saya datangi sejak sore hingga malam dihiasi pula dengan rintik hujan Desember yang dingin sekitar 18-20C. Namun keesokan harinya, pagi yang saya lewati tidak secantik malam yang dilalui, lagi-lagi dengan drama yang membuat hati turun naik bak naik roller-coaster. Suatu saat nanti mungkin akan saya ceritakan drama-drama tak penting itu

Tetapi drama-drama itu sama sekali tak mampu menghapus antusiasme saya ke kawasan My Son, kawasan UNESCO World Heritage Site yang berisikan reruntuhan candi-candi kerajaan Champa. Seperti biasa saya merasa ‘hidup’ ketika berada di kawasan percandian. Kali ini, walaupun jelas sedang rintik hujan, saya tetap mendatanginya dengan berpayung atau tidak, memotretnya, menikmatinya dalam hening. It’s a time-travel to Champa Kingdom and surely I should dance in the rain.

My Son - Champ ruins
My Son – Champ ruins

Kegembiraan saya bisa menari diantara reruntuhan kerajaan Champa takkan terhapus walaupun sisa hari itu diisi lagi dengan drama lain sepanjang jalan menuju Hue yang ditempuh selambat kura-kura. Saya tak bisa merasa jengkel kecuali tersenyum kecut merasakan besarnya sense of humor Yang Maha Kuasa, yang memberi gejolak rasa penuh turbulensi.

Vietnam yang sejarah negerinya juga mengalami pasang surut, -perang Indochina berakhir tahun 1975 dan dilanjutkan dengan praktek sosialis komunis hingga tahun 1980an-, kini menjelma menjadi negeri yang tak kalah kompetitifnya. Negeri yang dari ujung utara berbatas dengan China telah tersambung dengan National Route 1A Highway hingga ke ujung selatan Vietnam sepanjang lebih dari 2300 km, dan yang pasti menghubungkan kota-kota besar seperti Hanoi sebagai ibukota yang ada di Utara, juga Da Nang di bagian Tengah hingga ke Ho Chi Minh City yang merupakan kota terbesar yang ada di Selatan. Saya juga terkagum saat melewati terowongan Hai Van yang panjangnya lebih dari 6 km menembus pegunungan, yang merupakan terowongan terpanjang se-Asia Tenggara.

Sesampainya di Hue, yang jaraknya dari My Son tak beda jauh dengan Jakarta – Bandung, saya check-in di penginapan yang sudah dipesan sebelumnya. Perempuan di balik konter penginapan itu menyambut saya dengan cukup berlebihan, menyimpan lembar pemesanan dan paspor lalu segera menggiring saya ke kamar yang telah disediakan dan menutup pintu dari luar. Herannya saya seperti kerbau dicucuk hidungnya, bersedia digiring dan terpenjara dalam kamar 😀 . Setelah berberes sebentar, saya langsung turun untuk mendapatkan kembali paspor dan terjadilah yang namanya keluar mulut harimau masuk mulut buaya 😀 . Pengaturan transportasi kembali dari kota Hue ke Da Nang dengan sangat cerdas dan cantik diaturnya sehingga saya menyetujui tanpa berpikir panjang lagi yang kelak saya sesali, walau penyesalan selalu datang terlambat dan sama sekali tak berguna.

Hue city - in the afternoon
Hue city – in the afternoon

Tetapi apapun itu, saya menikmati perjalanan di Hue sebagai salah satu UNESCO World Heritage Site dengan melakukan perjalanan dengan perahu sepanjang Perfume River, mengunjungi beberapa kuil indah dan tentu saja kompleks pemakaman yang terkenal dari para Raja Dinasti Nguyen. Bahkan karena banyaknya yang dikunjungi sampai akhirnya saya harus membatalkan kunjungan lebih lanjut ke landmark kota Hue yang dikenal dengan Imperial City atau The Citadel hanya karena saya harus mengejar minivan saya ke Da Nang yang sudah dijanjikan penginapan sebelumnya. Lagi-lagi pembatalan ke The Citadel ini saya sesalkan karena ternyata petugas penginapan itu PHP nomor wahid. Tetapi apa mau dikata, perjalanan tidak boleh berhenti karena sebuah PHP 😀

Bagaimanapun sesaat sebelum memulai perjalanan kembali ke Da Nang, saya bertemu dengan perempuan sederhana yang berhati baik. Saya percaya bahwa ada orang-orang yang dikirim bersilangan hidup dengan kita, -walaupun hanya sesaat dan tak saling kenal-, hanya untuk memberikan ketentraman hati dan mengangkat kembali rasa percaya.

Awal-awal perjalanan dari Hue kembali ke Da Nang merupakan waktu yang melelahkan bagi saya yang tak berhasil menaklukkan rasa jengkel dan tak ikhlas mengalami drama-drama tak penting selama perjalanan di Vietnam ini. Akhirnya dengan bantuan musik dari MP3 player dan ingatan ke pengalaman-pengalaman di Korea Selatan yang jauh lebih buruk, akhirnya pelan-pelan saya bisa menjadi lebih tenang.

Malam pun telah datang sesampainya saya di Da Nang, kota ketiga terbesar di Vietnam. Saya turun di stasion bus dan berbekal lembaran pemesanan hotel, saya menunjukkan nama penginapan itu ke supir taksi yang tidak bisa berbahasa Inggeris. Ia mengangguk dan berdiskusi dengan temannya yang berfungsi sebagai penerjemah walaupun bahasa Inggrisnya pun terbatas pula. Tetapi saya dapat diyakinkan bahwa supir taksi itu memahami arah penginapan saya.

Seperti biasa di hari terakhir perjalanan, saya membiasakan untuk sedikit memanjakan diri agar dapat menutup perjalanan dengan kenangan yang mengesankan. Saya memilih tidur di hotel dengan kamar di lantai tinggi dan menghadap ke sungai Han dengan jembatan Pelangi dan jembatan Naga dan suasana kota yang memikat mata, walaupun harus menebusnya dengan harga yang membuat kantong langsung bolong, dan itupun sudah ditambah dengan poin hasil pemesanan hotel sebelumnya. Whooooaaaa…

Dragon Bridge at Night - Da Nang
Dragon Bridge at Night – Da Nang

Dan benarlah, dengan menginap di hotel dengan kondisi menyenangkan mampu menenggelamkan rasa tidak nyaman akibat drama-drama selama di Vietnam dan bisa mengembalikan semangat bahwa perjalanan saya akan berakhir indah. Selalu demikian.

Setengah hari di kota Da Nang saya isi dengan menyusuri sungai hingga ke sebuah gereja katedral berwarna pink yang di dalamnya sedang berlangsung misa dalam bahasa Vietnam. Saya hanya memotret bagian luarnya lalu menuju Museum of Champ Sculpture yang memang menjadi tujuan utama saya di kota ini.

Dua setengah jam terasa masih belum cukup untuk menikmati semua artefak kerajaan Champa yang tersimpan cukup baik di museum ini. Sungguh saya tidak menyesal berlama-lama di reruntuhan My Son waktu itu dalam keadaan hujan gerimis karena banyak pelengkap yang saya dapat di museum ini. Akhirnya waktu juga yang mengharuskan saya meninggalkan museum dan berjalan cepat kembali ke hotel untuk check out. Berada kembali di kamar dengan fasilitas wifi yang cepat, saya mendapat informasi bahwa penerbangan saya ke Kuala Lumpur mengalami delay 1 jam. Aargh, kalau tahu saya bisa berlama-lama di museum!

Museum of Champ Sculpture
Museum of Champ Sculpture

Satu jam berleha-leha di kamar, saya turun ke lobby untuk check-out yang ternyata memakan waktu sangat lama karena ada grup tamu yang sedang check-in dan hanya ada seorang petugas di konter hotel. Wajah-wajah manis dan ganteng yang sedang mengantri check-out berubah menjadi muram penuh frustrasi memperhatikan detik waktu yang berjalan lambat.

Selesai urusan hotel, saya selamat sampai bandara Da Nang dalam lima menit perjalanan dengan taksi dan menembus kerumunan orang yang memenuhi konter domestik. Bandara Da Nang ini memang tidak memiliki terminal khusus internasional melainkan hanya dibedakan dengan konter domestik dan internasional. Hanya ada seorang petugas imigrasi yang langsung memberi cap pada paspor dan membiarkan saya melenggang masuk ke ruang tunggu yang padat dengan calon penumpang. Entah kenapa saya merasa legaaaaa telah keluar dari imigrasi Vietnam.

Penerbangan ke Kuala Lumpur yang memakan waktu selama 3 jam dihiasi dengan cukup banyak turbulensi. Saya yang mendapat tempat duduk paling belakang mendapat tambahan bau pesing sepanjang perjalanan yang sepertinya datang dari toilet yang ada di balik tempat duduk saya. Dibandingkan dengan bau pup (maaf!) selama 5 jam selama penerbangan Kuala Lumpur – Kathmandu dulu, bau pesing ini tidak ada apa-apanya. Sabar sajalah…

Sesampainya di Kuala Lumpur dan karena penerbangan sebelumnya didelay, saya memutuskan untuk berdiam di bandara menunggu penerbangan selanjutnya ke Jakarta dan membatalkan pergi ke pusat kota Kuala Lumpur. Sehingga saya langsung ke konter transfer dan tidak melewati imigrasi lagi untuk sampai ke gerbang penerbangan yang ke Jakarta. Setelah semua proses selesai, saya baru mencari tempat nyaman untuk menunggu. Sebuah kubikal ATM yang belum selesai dan berpenerangan temaram menjadi pilihan saya, apalagi tersedia colokan listrik. Sambil merebahkan tubuh, saya membaca notifikasi email yang memberitahu bahwa penerbangan saya ke Jakarta hari itu didelay 2 jam. Aaaaargh. Saya terjebak di terminal KLIA2! Kalau tahu begitu, saya keluar jalan-jalan ke kota…

Akhirnya tepat tengah malam, pesawat yang membawa saya ke Jakarta lepas landas dari bandara KLIA2 dan mendarat di Soekarno-Hatta pk. 01.00 dini hari. Alhasil sesampainya di rumah saya hanya punya waktu tidur dua jam untuk bersiap lagi ke kantor pada pagi harinya.

Aaah Vietnam… sebuah perjalanan yang naik turun penuh drama dan tawa tapi selalu bermakna…

*

(dan semoga saya punya semangat untuk menuliskan cerita detailnya 😀 😀 😀 )