Menjejak Jordan, Mengintip Cave of Seven Sleepers


Lamat-lamat dalam hati saya mendaraskan doa dalam penerbangan menuju Amman yang baru saja meninggalkan bandara internasional King Abdul Azis, Jeddah. Tidak lain kecuali harapan bisa kembali lagi ke Tanah Suci. Sebuah rasa yang sejak dulu saya selalu skeptis kini benar-benar menguasai hati. Dulu, saya tak pernah mengerti mengapa orang berkali-kali mengerjakan umroh dan berhaji, bukankah ibadah itu cukup sekali saja? Kini, setelah mengalami sendiri, saya paham bahwa rasa ingin berada di Tanah Suci itu yang begitu intim, begitu personal, begitu menyenangkan, semua itu seperti minum di saat dahaga dengan damai memenuhi jiwa. 

Kesadaran berada di pesawat yang sedang mengangkasa, melahirkam setitik rasa tak rela meninggalkan bumi tempat Tanah Suci berada. Saya menarik nafas panjang, tanpa membuka mata pun saya memahami diri ini dihadapkan langsung oleh hukum kefanaan. Tidak pernah ada yang abadi, sebuah awal senantiasa memiliki akhir, sebuah perjumpaan senantiasa berujung pada perpisahan. Dan ini saatnya…

Bersamaan dengan rasa yang keluar, jauh di sudut jiwa, serangkaian kata bijak dari Jalaluddin Rumi terasa mendenting-denting di benak seakan mengingatkan. Bukankah perpisahan hanya untuk orang-orang yang mencintai dengan matanya? Bukankah untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak akan pernah ada kata perpisahan? Sekali lagi saya menarik nafas panjang, melepas dengan ikhlas, menyambut rasa yang memberi semangat baru.

Setelah dua jam penerbangan Saudi Arabian Airlines dengan pesawat A320 itu akhirnya bandara megah Internasional Queen Alia, kota Amman, Jordan menyambut kami semua. Sebagai bandara terbesar di Jordan, kemegahannya langsung terasa apalagi tak banyak orang berlalu lalang. Entahlah, bisa jadi kelengangannya lebih terasa karena saya baru datang dari Jeddah yang kerap didatangi manusia dari berbagai negara. 

Belum cukup lama mengagumi bandara megah kota Amman, kami sudah diarahkan segera keluar bangunan indah ini. Yah, seperti umumnya perjalanan yang diatur oleh sebuah agen, tidak ada istilah santai selepas imigrasi Jordan. Bersamaan dengan koper-koper yang dimasukkan ke dalam bagasi, kami pun segera menaiki bus untuk kemudian bergerak menuju tempat-tempat wisata di Jordan. 

Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Dari balik jendela bus, saya mengamati pemandangan gurun yang kering kecoklatan menghias perjalanan, yang sesekali disela oleh suara pemandu wisata. Kami memang menuju Gua Ashabul Kahfi yang terletak di Abu Alanda, dekat kawasan Raqim, sekitar 30 menit berkendara dari bandara. Konon, di sana merupakan tempat yang melatari kisah yang tertulis dalam kitab suci Al Quran. Kisah tentang Ashabul Kahfi atau dikenal juga The Seven Sleepers

Kawasan Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Meski masih diperdebatkan keakuratannya, gua Ashabul Kahfi atau tertulis di gerbang dengan nama Cave of Seven Sleepers yang berlokasi di Jordan ini tetap berhasil membuat saya kagum. Gerbangnya sendiri melengkung cantik, menandakan adanya campur tangan dari dunia modern. Saya tersenyum dalam hati, Jordan tidak sendirian mengklaim memiliki gua Ashabul Kahfi karena Turki pun melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari satu tempat (Ephesus, Afsin dan Tarsus). Bagaimanapun, saya sebagai pencinta segala sesuatu yang berbau sejarah kuno, bisa merasakan Ashabul Kahfi di Jordan ini begitu menguarkan rasa ancient. Rasanya hidung saya otomatis bergerak-gerak membaui batu-batunya, temboknya, suasananya, lalu membiarkan imajinasi menari lincah membayangkan tempat yang seakan terperangkap dalam waktu itu. 

Otomatis saya teringat perjalanan ke Lumbini, Nepal beberapa tahun lalu (baca tulisan saya tentang Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini). Lumbini yang dipercaya sebagai tempat lahir Sang Buddha lebih dari dua millenium lalu, memiliki situasi struktur bebatuan serupa dengan yang terhampar di Ashabul Kahfi ini. Rasanya tak jauh beda. Tanpa perlu mengetahui secara ilmiah, dari rupa bebatuannya saja sudah terasa goresan sejarah besar kehidupan berabad-abad lalu di tempat saya berpijak.  

Di depan mata terhampar kawasan selayaknya sebuah situs purbakala yang sedang diekskavasi, dengan jalan setapak yang lebarnya hanya bisa dilalui oleh manusia. Bisa jadi dulu tanah ini juga dijejaki oleh tentara Romawi yang mencari ketujuh pemuda yang menolak perintah Raja itu. Ada yang masih ingat kisah Ashabul Kahfi ini? 

Gate of Ashabul Kahfi area

Tertulis dalam kitab suci, Ashabul Kahfi atau Tujuh Pemuda Yang Tertidur merupakan kisah manis tentang kekuatan iman dari tujuh pemuda penganut agama samawi yang konon terjadi beberapa abad sebelum kedatangan Nabi Isa ‘Alaihissalam

Kala itu, penguasa (ada yang menyebutnya Raja Decius dan juga Gubernur Daqyanus) dikenal sebagai orang-orang yang dzalim dan penyembah berhala. Dengan kekuasaannya, mereka bisa memaksa siapapun dan dengan cara apapun untuk menanggalkan iman akan Dia Yang Maha Esa untuk kembali menyembah berhala. Tak heran, kemarahan penguasa langsung saja  berkobar ketika mengetahui ada tujuh pemuda yang menolak perintahnya, meski salah satu diantara tujuh orang itu adalah kerabatnya.. Akibatnya tidak tanggung-tanggung, hukuman mati atas ketujuh pemuda itu menanti apabila dalam waktu dua hari mereka tidak mau mengubah keyakinannya. 

>Ketujuh pemuda itu tetap menolak dan memutuskan melarikan diri dan bersembunyi dalam sebuah gua di kawasan pegunungan. Seperti juga kisahnya, nama ketujuh pemuda itupun senantiasa diperdebatkan, termasuk apakah ada anjing yang konon bernama Qithmir dan bertugas menjaga pintu gua. Apapun itu, nyatanya ketujuh pemuda terselamatkan dari hukuman yang keji itu. Dia, Pemilik Semesta ini menunjukkan kuasaNya dengan membuat mereka tertidur selama 300 tahun Masehi atau 309 tahun Hijriah. 

Terbangun karena rasa lapar, ketujuh pemuda ini menyangka terlelap hanya sehari. Namun, ketika salah satu pemuda itu pergi ke kota untuk mencari makanan, alangkah terkejutnya dia karena kota sudah sangat berbeda. Selain itu, uang peraknya sudah tidak berlaku untuk membayar. Serta merta seisi kota gempar mendengar ceritanya karena dia adalah salah satu dari tujuh pemuda yang telah menghilang selama tiga abad. Penduduk kota ingat betul akan kisah turun temurun tentang tujuh pemuda yang menghilang karena tidak ikhlas menjual agama kepada penguasa dzalim penyembah berhala. Dan hari itu, salah satu dari ketujuh pemuda itu berdiri di antara mereka.

Sontak saja, berita kembalinya ketujuh pemuda itu tersiar seantero negeri. Raja yang berkuasa saat itu dan penduduk negeri menyambut mereka dengan meriah dan meminta mereka tinggal di kota. Namun mereka menolak dan tetap memilih kembali ke gua. Konon, sesampainya di gua, mereka bersujud dan memohon agar Pemilik Segala Kuasa bisa menurunkan rahmatNya dan mengizinkan mereka meninggalkan dunia fana. Tak ada yang mustahil bagi Pemilik Semesta. 

Tubuh mereka dikuburkan di dalam gua, yang bisa disaksikan adanya tujuh makam batu di dalam gua. Namun kini semua tulang yang tersisa ditempatkan di salah satu makam batu, yang di satu bagiannya diberi kaca tembus pandang, agar kita bisa melihat ke dalamnya.

-o- 

Tampak depan Gua Ashabul Kahfi, pintunya rendah & ceruk gaya Romawi, di bagian atas ada reruntuhan bekas mihrab masjid
Tempat tidur sekaligus makam batu dalam gua
Hiasan dinding di dalam gua
Showcase of artefacts in the cave.

Dengan berhias ceruk khas Romawi di dekat pintu gua yang rendah, udara lembab gua yang minim sirkulasi langsung menyergap hidung ketika saya melangkah memasukinya. Gua itu tak luas, tapi cukup untuk dihuni tujuh orang. Ada bagian depan gua dan di bagian belakangnya dengan level yang lebih rendah merupakan kubur batunya. Saya mengintip ke lubang kaca, serupa tulang masih terkumpul di dalam sana dan sebuah showcase tampak diletakkan di sana untuk menyimpan segala macam artefak pendukung kisah. Entahlah, bisa jadi hanya tiruan, mungkin juga asli… Rasanya semua isi kisah terasa jumpalitan di benak. Otak ilmiah yang bertumbuk dengan kisah reliji ini bermuara pada selarik pemahaman, bisa jadi sebidang tempat ini memang terlipat dalam waktu. Wallahualam bissawab. Kebenaran hanyalah milik Allah.

Saya tidak lama berada dalam gua karena ingin melihat bagian luar yang juga terlihat menarik. Selain kucing cantik berbulu lebat yang sedang berjemur, yang terhampar hanyalah bebatuan belaka. Namun bukan sekedar bebatuan tanpa kisah karena awalnya dulu di atas gua konon dibangun sebuah gereja kecil. Bisa jadi demikian karena ada perkembangan kependudukan di wilayah yang kini masuk ke negeri Jordan itu. Tetapi pada akhirnya, seperti umumnya perjalanan waktu di negeri-negeri Timur Tengah, gereja kecil tadi dikonversi menjadi masjid. Menariknya, mihrab masjid tepat tepat di atas pintu depan untuk masuk ke gua, yang tentunya menghadap kiblat.

Meninggalkan bebatuan kuno itu, saya melangkah menuju Masjid Al Kahfi, yang didirikan di kawasan yang sama yang letaknya lebih atas. Kompleks Masjid itu sangat megah dan sangat kontras dengan lingkungan kuno Gua Ashabul Kahfi. Seperti bumi dan langit, yang satu menunjukkan modernitas, lainnya merujuk pada kekuatan alam. 

Setelah mendirikan shalat di Masjid itu, kami melangkah keluar menikmati sesaat waktu bebas untuk mengabadikan tempat bersejarah sekaligus tempat ibadah yang tak kalah indah. Sayangnya, lagi-lagi tak bisa lama, karena bus telah menunggu kami menuju persinggahan berikutnya…

Tempat terendah di muka bumi.

Masjid di atas kawasan Ashabul Kahfi
Pemandangan dari arah Masjid ke lembah

Nepal – Trekking Hari Pertama Menuju Ulleri


Sungguh Dia tak bercanda, menjadikanku ringan, memampukan, dan atas ribuan tangga pun kuberjaya.

Matahari belum sepenuhnya terbit ketika kami meninggalkan hotel di Kathmandu menuju bandara. Sarapan yang hanya tertelan setengahnya tak lagi saya pikirkan. Terlambat terbang berarti terlambat sampai Pokhara dan terlambat memulai trekking. Padahal hari ini merupakan ujian ketangguhan fisik! Langsung di hari pertama trekking.

Tak sampai setengah jam kemudian saya sudah duduk manis di ruang tunggu bandara domestik yang penuh calon penumpang itu. Dan tanpa perlu menunggu lama, penerbangan kami menuju Pokhara akhirnya diberangkatkan. Tentu saja, setelah berselfie dengan latar belakang pesawat baling-baling ini, seorang pramugari berbusana tradisional yang dimodifikasi menyambut kami dalam penerbangan ke Pokhara yang memerlukan waktu hanya sekitar 30 menit. Dan Pemilik Kuasa berkenan melimpahkan berkat dengan menyibakkan awan-awan tebal lalu menampakkan jajaran Himalaya jelang akhir penerbangan. Pegunungan berselimut salju itu sedikit bersaput kabut, hati saya langsung melesak. Pemandangan seperti ini yang membuat saya selalu ingin kembali ke Nepal. Dalam beberapa saat ke depan, akankah kaki ini menjejak di rangkaian pegunungan yang sambung menyambung itu?

Himalaya

Menit-menit berlalu hingga kota Pokhara mulai tampak di bawah. Pesawat kecil kami menyentuh bumi Pokhara dengan mulus. Ah, setelah lebih dari dua tahun saya kembali lagi kesini…

Meninggalkan area bandara, kami menyusuri Phewa Lake yang menjadi icon dari kota Pokhara dan menyempatkan diri mengintip World Peace Stupa di puncak bukit yang langsung membuat saya tersenyum sendiri mengingat kenangan indah dua tahun lalu saat alam mempersembahkan keluarbiasaannya saat matahari terbit.

Di Pokhara, kami berhenti sebentar di hotel yang akan kami inapi sepulang trekking, -hanya untuk menitipkan barang-barang yang tak perlu dibawa ke gunung-, untuk kemudian dengan menggunakan jeep kami menuju Hille melalui Nayapul. Jalannya seperti di Puncak, meliuk-liuk mengikuti lereng bukit. Jelang Nayapul, karena di ujung bawah turunan terlihat antrian panjang kendaraan, dengan sigap sang pengemudi memutar arah dan memasuki jalan alternatif menuju Birethanti, tanpa lewat Nayapul.

Jalan yang diambil bukan jalan resmi melainkan jalan tanah yang berada di antara rumah-rumah penduduk. Namun dengan begitu kami bersentuhan langsung dengan kehidupan keras yang ada di Nepal. Negeri ini memang dikaruniai bentang alam yang amat indah, tetapi kehidupan masyarakatnya juga tak mudah. Mereka yang ada di pegunungan harus bekerja amat keras, memanggul semua barang-barang untuk dijual atau untuk dimiliki dengan kekuatan otot leher mereka. Bahkan sejak kecil mereka belajar!

Di Birethanti setelah melewati jembatan yang terbentang di atas Modi Khola, jeep berhenti. Dipak, pemandu kami, turun ke pos pemeriksaan ACAP (Annapurna Conservation Area Permit) dan kartu TIMS (Trekkers’ Information Management Systems). Melihat kesempatan yang hanya sekali, kami pun turun untuk foto-foto, termasuk mengamati peta trekking ke Annapurna yang terpampang di pinggir jalan. Selesai pemeriksaan TIMS can ACAP, perjalanan pun dilanjutkan kembali menuju Hille.

Jeep mulai menanjak di jalan tanah, di tempat sama para trekkers menapaki satu demi satu langkah kakinya. Sekali dua kali Jeep menyusul kelompok trekkers yang harus menepi sejenak di pinggir jalan membiarkan Jeep lewat. Saya tak menyangka dampak yang terjadi pada diri ini. Semakin sering saya melewati mereka, semakin saya merasa malu dan tidak nyaman. Kepada mereka, kepada alam, kepada diri sendiri, kepada Yang Maha Pengasih yang telah memberikan saya kaki dan tenaga. Siapakah saya ini hingga terus menerus membuat mereka harus menepi memberi jalan kepada saya? Bukankah tujuan saya pergi ke Nepal untuk trekking? Lalu apa bedanya mereka dan saya? Saya merasa tertohok sangat dalam dengan berbagai pertanyaan diri sendiri karena menggunakan kendaraan untuk menempuh jalan yang sama yang digunakan oleh trekker. Sebagaimana dalam setiap perjalanan, hikmah yang terserak mulai terlihat. Kita tinggal mengambilnya, jika kita mau…

Belum selesai dipermalukan rasa, jalan terlihat memburuk dengan tanah berlumpur di beberapa tempat. Kondisi ini membuat roda tidak mudah untuk mencengkeram. Saya memperhatikan sang pengemudi yang dengan tangkas mengemudikan jeep fourwheeldrive. Hingga suatu saat….

Di sebelah kiri mobil jurang cukup dalam dan sebelah kanan tebing cadas vertikal ke atas…

Sopir mengambil posisi agar jeep tidak terjebak pada tanah berlumpur itu, namun sayang roda tidak bisa menghindar dari terperosok ke dalam tanah gembur itu. Sang Pengemudi berusaha keras agar jeep bisa berpindah tempat, tetapi malang, kami justru terjebak di dalamnya lalu berhenti. Di kiri jurang dan di kanan tebing. Sang sopir berbicara singkat dengan Dipak yang kemudian langsung pindah ke belakang bersama Kedar. Pak Ferry terlihat kuatir hendak turun juga, namun saya bergeming tak tahu harus berbuat apa. Rasanya satu atau dua detik terlama dikepung kekuatiran mobil akan terguling ke jurang atau terhempas ke tebing. Sekali dua kali sang pengemudi mencoba lagi dan pada upaya ketiga akhirnya mobil terangkat juga dari jebakan lumpur itu. Huft!  Saya baru menyadari akan dalamnya jurang yang siap menelan jika mobil tak terkendali. Pantas saja Pak Ferry pias wajahnya karena ia duduk di sebelah kiri tepat di bibir jurang…

The View

Di Hille yang merupakan batas akhir perjalanan dengan jeep, kami semua turun dan berterima kasih dengan sang pengemudi. Inilah awal langkah kaki, yang saya awali dengan doa. Dalam setiap perjalanan, dimana pun, ketika kaki mulai melangkah, saya melebarkan hati untuk menyadarkan diri akan kehadiran Sang Pemilik Jiwa. Kesadaran yang begitu mudah teralihkan, padahal Dia yang selalu menjaga.

Jalan tanah terhampar di depan mata sedikit menanjak tetapi belum lama menapakinya, Dipak mengajak makan siang. Bagi saya yang terbiasa makan siang saat matahari telah tergelincir dari atas kepala, apalagi lebih sering melewatkannya saat sedang melakukan perjalanan, ajakan pemandu untuk makan disambut dengan setengah hati, Tetapi saya harus menurut kepadanya karena ia lebih mengenal medan. Bisa jadi di depan tidak ada lagi rumah makan yang lumayan. Pak Ferry menerima saja dan meminta rekomendasi makanan yang tentu saja serempak Dipak dan saya berseru, Dhal Bhat!

Dhal Bhat adalah makanan tradisional Nepal yang sangat dikenal oleh wisatawan, apalagi para trekker. Terdiri dari nasi (bhat), sup lentil, sayuran, kentang (aloo), lauk kari, kadang ditambahkan acar dan sejenis keripik (Papad). Karena terkenalnya makanan ini, di Nepal sering disebut Dal Bhat Power 24H! Mungkin memang bisa menjadi cadangan energi seharian terutama untuk trekkers.

Setelah makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan dan sampai di jembatan gantung (suspension bridge) yang pertama. Saya senang sekali karena akhirnya keinginan berfoto di jembatan gantung bisa terpenuhi, bahkan bisa menyeberanginya. Ini hadiah yang membahagiakan dari Yang Kuasa! Dengan sengaja saya melangkah dengan lebih kuat sehingga jembatan bergoyang, -yang mengingatkan kepada anak bungsu saya yang pasti jejeritan minta ampun karena senewen sehingga minta dipandu penuh cinta-. Kejahilan saya yang membahagiakan bisa membuat orang berwajah pias jejeritan minta ampun sampai pasrah.

Selepas jembatan, perjalanan semakin menanjak. Jalan yang dibuat berundak dengan tangga batu menyebabkan seakan saya naik tangga ratusan lantai. Dipak telah mengingatkan bahwa hari pertama ini kami akan langsung dihajar dengan kebengisan tangga yang seakan tak berujung. Lelah fisik memang dirasakan sekali, tetapi jika di samping kanan diantara pepohonan tiba-tiba terlihat air terjun yang gemericiknya menenangkan lalu indahnya perbukitan berhiaskan awan sambung menyambung, rasanya segala lelah itu menguap hilang.

Saya terus melangkah naik dan naik dan naik… benar-benar tak berujung. Tangga batu sepertinya berakhir diantara rumah penduduk, namun ternyata memberikan harapan palsu tangga akan selesai. Puncak tangga batu yang terlihat dari bawah itu berbelok dan merupakan awal dari tangga berikutnya. Rasanya, di awal masih senang, makin lama karena lelah mau marah, sampai akhirnya pasrah. Saya hanya bisa menghitung dalam berbagai bahasa yang saya bisa, satu, dua, tiga, empat, lima, atau dalam bahasa Nepali, ek, dui, tin, char, panch (bukankah mirip eka, dwi, tri, catur, panca?)

Neverending Stairs

Pemandangan bukit yang bisa mencapai ketinggian 3000an meter itu, -yang jika di Indonesia sudah disebut dengan gunung-, saling bersilangan membentuk bentang alam yang sangat cantik. Waktu berlalu cepat tanpa sadar, jembatan gantung yang tadi saya lewati sudah hilang dari pandangan dan sudah berada jauh di bawah. Saat itu pengukur ketinggian pada jam tangan menunjukkan angka 1540m, kami berhenti untuk istirahat lagi, kesekian kalinya. Tetapi ini sudah 500meter dari Birethanti yang berada di sekitar 1000mdpl. Luar biasa! Sebagai seorang yang tidak pernah mendaki gunung dimanapun, rasanya tak percaya, sayakah ini yang melakukannya? Ah, rasanya seperti menapaki awan, tak sadar telah ringan dibawa terbang.

It is not Downhill

Lalu sedang asik berfoto sambil menikmati pemandangan indah, Dipak berseru menunjuk sebuah tanaman yang tumbuh liar di dekat kaki saya, -yang kalau di Indonesia bisa jadi masalah tersendiri-. Aha, tumbuhan cannabis alias ganja! Pak Ferry dan saya terbahak bersama, tapi tidak berani posting ke media sosial.

Istirahat itu benar-benar membantu karena setelahnya serangkaian tangga yang tak berujung itu dimulai lagi. Dipak, pemandu kami dengan sabarnya terus mengatakan agar melangkah pelan, pasti sampai. Bahkan selagi istirahat, Pak Ferry sempat mencoba membawa duffel bag berat yang dibawa Kedar, -porter kami yang rupawan-, dengan cara Nepal yaitu dengan meletakkan tali pengikat di dahi dan mengangkatnya menggunakan otot leher. Satu kata darinya bernada compliment, Crazy!

Thikhedunga -sebuah desa yang sering disebut dalam itinerary Annapurna Base Camp via Poonhill-, telah kami lewati. Biasanya trekker bermalam disini jika mulai berjalan dari Nayapul, tetapi kami harus terus melangkah.

Di tengah jalan, pasukan keledai pun mulai menyambut kami. Rombongan hewan penolong manusia untuk membawa barang itu membawa keriuhan, suara klenengannya terdengar dari jauh. Saya ingin mengabadikannya, tetapi tak sadar saya berada di jalur jalannya. Ia mendatangi saya yang melihat dari jendela bidik kamera. Menyadari kesalahan melihat bibir keledai semakin dekat, saya langsung angkat kaki dari situ namun tidak menemukan jalan untuk menghindar. Tanpa pikir panjang, saya melompat  ke samping ke tempat aman, dekat Dipak yang terbahak menyaksikan saya seperti dikejar keledai.

Perjalanan melelahkan itu berlanjut lagi. Karena saya merupakan titik terlemah, sebagai pemandu Dipak sangat memperhatikan kekuatan yang tersisa dari saya dan memutuskan untuk berhenti di Ulleri, -bukan di Banthanti seperti rencana awalnya karena masih perlu satu jam jalan penuh tangga. Di Ulleri kami menginap di sebuah penginapan sederhana tetapi memiliki pemandangan luar biasa. Pilihan yang amat bagus.

Secangkir teh dengan daun mint menyambut saya di ruang makan. Rasanya luar biasa sekali bisa melonjorkan kaki dan menikmati pemandangan indah sambil minum teh.

Kenikmatan luar biasa ini saya lanjutkan sendiri di kamar. Ternyata saya bisa sampai hingga ke ketinggian ini dengan berjalan kaki. UndanganNya Dare To Dream memang luar biasa, saya dimampukan, saya dikayakan oleh pengalaman. Rasanya hanya satu kata untuk menggambarkan situasi yang saya alami di Ulleri. Perfect!

WPC – Today Was a Good Day to Walk Around Malacca


Melaka, or Malacca, as a UNESCO World Heritage city, attracted my heart with its mixture of cultural trails of many countries that gave colors, from Portugal, England, Dutch, China and Melayu itself. That was the reason my husband and I visited Melaka this year. And for getting the ambience and the beauty of Melaka, my husband and I spent a good day to walk around Melaka.

We started from the Dutch Square, where Christ Church and all red buildings are located. Here we can hire rickshaw with various flowers decoration if we’re too tired to walk. Then we followed a path to reach St. Paul’s Church on top of a hill. There stands a statue of St Francis Xavier with his arm cut-off.

Following the nice path down the hill, my husband and I reached the replica building of the Sultanate and a ruin of fortress that’s called Porta de Santiago.

Continuing the walk, passing the museums we are back to the Dutch Square again. Then if we walk across the bridge, we will be in Jl. Hang Jebat which is famous as Jonker Street. It is famous of a night market along the road and full of food stalls and various selling kiosks.

It took several minutes of walking to reach the Kampong Keling mosque, the oldest mosque in the area. At the end of the road is the Cheng Hoon Teng temple, a famous Chinese temple which is always crowded with the visitors. And there is a Hindu temple next to the mosque. What a beautiful harmony in that area.

My husband and I did not have any difficulties to have a good lunch because we can find many restaurants in the area.

In the afternoon, we enjoy a river-cruise through Melaka River and feel the fresh atmosphere of the river and the nice environment of the river bank. It took almost 1 hour to have a good cruise along the river.

Going back to the hotel, pleasant cool water in the swimming pool is so tempting during the hot sunny days. Well, a fresh soaking after a nice walk will complete our day and relaxing as well. Hmm… it’s really a good day…

*

In response to Weekly Photo Challenge with the theme Today Was a Good Day