WPC – A Temporary Splendor in Bangkok


The Crematorium

Always bringing back the good memories of my first solo-trip, I love to travel to Bangkok. Therefore, last week I made an unplanned weekend getaway back to the city that recently held a cremation ceremony for the late King Bhumibol Adulyadej.

I was amazed when arrived at the cremation area which is located in Sanam Luang, -usually just a field park-, adjacent to the Grand Palace complex. All temporary structures there are so amazing, with the shiny golden royal crematorium and supplementary structures that cover almost two-thirds of the 30-acre ground.

This magnificent Royal Crematorium is modeled after the imaginary of Mount Sumeru, the center of the universe in Buddhist cosmology and was influenced by Hinduism as deeply rooted in the ancient Thai kingdom for centuries. In the center, the height of main structure is about 50 meters from the ground, usually made of wood with steel structure inside. The myth heavenly pond is found around the base of royal crematorium and decorated with many mythical creatures and auspicious animals, namely elephants, horses, cows, and lions.

I know the it is subject to change but this grandeur Royal Crematorium and other components will be scheduled to completely dismantled in the end of November 2017.

Temporary Surround Building

Temporary

Makna Hikmah Terserak di Perjalanan Korea


Ketika saya baru kembali dari Korea, seorang atasan menanyakan tentang perjalanan saya di Korea. Karena tahu beliau tidak berbasa-basi, saya yang masih gres dengan semua peristiwa yang dialami, menjawab dengan ringan bahwa ternyata di Korea Selatan yang maju itu tidak banyak orang bisa berbahasa Inggris sehingga banyak peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi hanya karena faktor bahasa. Dan Jleb! Saya takkan pernah lupa akan tanggapannya. Time is healing, yang tidak menyenangkan akan berubah menjadi momen-momen yang berkesan mendalam, kata beliau.

Bagaimana mungkin sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan menjadi memorable moments? Saat itu karena masih penuh dengan kesan tak nyaman selama di Korea, saya tak menerimanya begitu saja, tetapi karena menghormatinya, saya membiarkan hal itu mengendap di dalam hati.

*

Perjalanan ke Korea saat itu memang impulsif, karena masih tersisa cuti banyak (baca cerita lengkap alasan saya pergi ke Korea disini) dan mungkin juga karena trip ke Korea sebelumnya sempat dibatalkan. Saat saya ke Jepang sebelumnya di tahun yang sama, seharusnya lanjut ke Korea tetapi situasi politik di semenanjung Korea saat itu tidak mendukung sehingga trip itu dibatalkan. Padahal saat itu tiket sudah ditangan bahkan sudah memesan beberapa hotel. Pembatalan itu sepertinya berubah menjadi keingintahuan yang besar itu yang mungkin menjadi trigger keputusan untuk pergi ke Korea di musim gugur. Namun pada dasarnya saya tidak tahu apa-apa tentang Korea, saya bukan penggemar K-pop, K-drama, bukan juga penggemar kuliner Korea, tidak bisa baca Hangeul, tidak tahu banyak sejarah Korea. Hanya karena ada Samsung, LG dan cerita kondisi alamnya yang cantik. Itu saja!

Berbekal itu, saya mengurus sendiri pembuatan visa (baca soal pembuatan visa disini) yang sampai sekarang terus menjadi salah satu top-posting di blog ini, sampai akhirnya dengan sangat menyesal kolom komentar saya tutup karena menjurus yang aneh-aneh dan tidak mutu 😀 (Saya kan bukan agen tenaga kerja juga bukan agen pencari bakat untuk K-pop, juga bukan agen untuk operasi plastik kan… 😀 )

Ketika semua orang memulai perjalanan ke Korea dengan masuk melalui Seoul, saya justru masuk melalui Busan (baca:  Berkenalan dengan Busan disini). Mendarat pagi-pagi saat jam kerja normal belum dimulai merupakan masalah tersendiri. Apalagi saya tidak bisa baca karakter Hangeul yang mendominasi dimana-mana. Bertemu wajah tak bersahabat di hari pertama, bertanya pada seseorang tapi dijawab dengan gelengan atau muka lempeng. Bahkan untuk mencari lokasi hotel pun saya harus mengerahkan kreativitas. Kekuatiran dan kecemasan bisa survive di Korea mulai menemani di hari pertama perjalanan. Lalu apakah saya akan menyerah di hari pertama?

Namun bukankah jika kuatir dan cemas dipelihara terus, kita tidak akan pernah pergi kemana-mana? Saya mencoba mengatasinya, saya percaya masih ada orang baik di sekitar kita. Pergeseran titik pandang, -dari penerima negativeness menjadi pemberi positiveness-, terbukti benar. Saya menurunkan harapan tinggi tentang Korea dan memilih lebih percaya kepada orang lokal dan orang baik pun mulai muncul di hadapan (Baca disini saat Jelajah Busan). Saya bersyukur bisa merambah mengelilingi pantai Haeundae, ke Museum Seni Busan, ke Mal yang segede gaban, menikmati Jembatan Gwangan di kegelapan malam. Paling tidak masih ada pengalaman yang cukup menyenangkan.

Kemudian keesokan harinya saat akan berpindah kota, saya harus jujur bahwa keteledoran juga menjadi faktor mengapa banyak hal buruk terjadi pada saya. Jika saya teledor membaca peta sehingga salah stasiun dan kehilangan waktu, janganlah situasi eksternal yang disalahkan. Juga kalau teledor meletakkan tiket jangan salahkan faktor luar kan ya? Tetapi terlepas dari dua faktor itu, saya menyadari sepenuhnya memang perjalanan dari Busan ke Gyeongju itu penuh drama hanya karena faktor bahasa (baca cerita Menuju Gyeongju disini). Tetapi saya belum mau menyerah secepat itu…

Gyeongju, -kota cantik 1 jam berkendara dari Busan-, memiliki banyak tempat publik yang luar biasa walaupun bagi saya dihiasi rasa antara cemas, takut dan ingin tahu yang besar (baca cerita Ruang Publik Gyeongju disini). Sebagai solo-traveller perempuan, saya harus mampu mengatasi rasa gamang tidak mengenali siapapun dan juga tidak bisa berkomunikasi karena keterbatasan bahasa. Namun segala yang tidak menyenangkan itu bisa diseimbangkan ketika menjejak Bulguksa Temple. Sebuah keluarbiasaan bisa sampai di tempat World Heritage ini. Mungkin karena beberapa kejadian sebelumnya yang tidak menyenangkan, bisa sampai ke destinasi ini rasanya seperti mendapat durian runtuh, rasanya seperti mencium bau surga (baca cerita Bulguksa Temple). Tapi sayang, setelah meninggalkan Bulguksa, kembali saya berteman dengan sepi bersama benda-benda bersejarah yang berserakan disana hingga malam hari, paling tidak itulah hal yang saya dapat nikmati di Gyeongju (Baca disini: Malam di Gyeongju)

Tetapi ketidaknyamanan trip di Korea belumlah mencapai puncak. Ketika akan meninggalkan kota Gyeongju, begitu banyak rasa tak bersahabat menghampiri saya, tak ada yang bisa membantu menjawab pertanyaan saat saya ingin naik bus sampai akhirnya saya memilih taksi namun ternyata ditolak oleh sopir taksi dengan berbagai alasan. Tidak bisa naik kereta karena jadwalnya tidak cocok akhirnya saya menuju terminal bus, -satu-satunya lokasi yang saya tahu-, dengan berjalan kaki walau cukup jauh ditambah menggendong ransel berat. Saya tak berpikir jauh, setiap masalah yang ada di depan mata saya hadapi satu persatu. Meskipun pelan, saya tetap bergerak maju. Saya seakan sedang ujian, kesabaran dan kekuatan saya diuji, sejauh apa keseriusan saya untuk mencapai tujuan dan untuk Korea ini, ada sebuah tempat yang menjadi destinasi utama yang ingin saya capai, Kuil Haeinsa di tengah hutan taman Nasional Gayasan.

Sungguh, keberanian dan kekuatan saya diuji saat menuju dan sepulangnya dari Kuil Haeinsa. Di tengah jalan bus terjebak dalam kemacetan parah dan harus berhenti sebelum mencapai terminal Haeinsa dan mengharuskan saya turun di tempat yang bagi saya adalah in the middle of nowhere. Saya mengalami disorientasi, tanpa teman, tanpa orang yang bisa diajak bicara atau tanya, dan situasi antara pulang dan lanjut sama tak pastinya, apakah saya harus menyerah? Tetapi menangis tak akan menyelesaikan masalah (Baca disini Ujian dalam Perjalanan)

Dan bagai sebuah siklus kehidupan dengan roda di bawah kemudian berputar ke atas, perjalanan tak mudah ke Haeinsa itu terbayar dengan keindahan Kuil Haeinsa dengan begitu banyak simbol-simbol kehidupan (baca soal simbol-simbol kehidupan di Haeinsa Temple) dan tentu saja Mahakarya kayu ratusan tahun yang dijaga didalamnya (baca hebatnya Mahakarya Kayu). Tetapi ujian bagi saya rupanya belum berakhir karena kegembiraan bisa mencapai Haeinsa hanya terasa sekejap saja bagi saya, setelahnya saya kembali harus menapak perjalanan yang tak mudah.

Tanpa tahu arah terminal bus, dari Kuil Haeinsa saya mengikuti intuisi sendirian menuruni jalan setapak di tengah hutan Nasional dalam keremangan jelang gelap dan dinginnya udara pegunungan, hanya berpegang pada percaya dan yakin akan pertolonganNya. Saya seperti bergantung di ujung tali, airmata ini hampir pecah, tetapi saya tak boleh menyerah. Dua kali mencoba mencari bantuan, tak ada satu pun orang muncul di hadapan. Kali ketiga, bak malaikat penjaga, dua orang lanjut usia muncul di pintu sebuah kios memberi arah tempat bus kembali ke Daegu. Saya tahu saya boleh menangis penuh syukur saat itu karena lulus dari ujian. Setelahnya didepan mata saya hadir para sahabat seperjalanan tanpa perlu tahu nama-namanya.

Hari-hari selanjutnya perjalanan menjadi lebih mudah karena puncak ketidaknyamanan telah terlewati. Saya meneruskan perjalanan menuju Seoul dengan menggunakan KTX (baca disini: Kereta Super Cepat KTX). Bahkan waktupun bersahabat sehingga saya menyempatkan diri berjalan ke Hwaseong Fortress (baca disini Hwaseong Fortress).

Perjalanan tak mudah menuju ke Mt. Seorak (baca trip ke Seoraksan disini), -yang menjadi salah satu tujuan utama wisatawan Indonesia-, terasa manis ketika saya mendapat apresiasi dari seorang tour guide lokal yang membawa rombongan Indonesia karena berani ke Seoraksan sendiri tanpa mengerti bahasa Korea. Bagi saya, perjalanan ke Seoraksan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua kesulitan di Haeinsa. Bahkan di Seoraksan ini, Tuhan pun mengirimkan seorang sahabat seperjalanan tanpa perlu bicara, tanpa perlu bersalaman. Hanya sebuah anggukan dan senyum karena sama-sama menempuh perjalanan yang searah. Saya memungut hikmah, bahwa diantara wajah-wajah yang serupa, saya mendapatkan hati yang penuh senyum. Seorang saja cukup untuk menenteramkan hati.

Trip Korea yang penuh ketidaknyamanan ini membaik saat berjalan di Seoul, menjelajah hingga kaki lelah di istana-istananya yang cantik seperti Istana Deoksugung (baca: Istana Deoksugung) maupun Istana Changdeokgung (baca: Istana Changdeokgung). Bahkan lagi-lagi Tuhan mengirimkan sahabat seperjalanan untuk berbagi cerita di Secret Garden Istana Changdeokgung dalam rombongan berbahasa Korea dalam hujan musim gugur yang basah (baca Secret Garden). Dan malamnya kaki dibawa hingga kebatas lelahnya dengan menyusuri Cheonggyecheon Stream untuk menyaksikan festival Lentera (baca Lantern Festival disini).

Namun Yang Kuasa sepertinya menitip pesan penutup di akhir trip Korea dengan membiarkan saya berlari-lari di luasnya bandara Incheon di hari kepulangan karena ceroboh tak mengukur jarak Incheon dengan Seoul (baca hebohnya Lari di Incheon). Semuanya bukan kebetulan, saya dibiarkan untuk lari sehingga tak mengenali bandara Incheon di dalam waktu yang sangat pas agar tak tertinggal pesawat. Semua pasti ada alasannya…

Tetapi dasar manusia yang lebih banyak dan lebih cepat mengingat buruknya, demikian pula saya yang pulang ke tanah air, lebih banyak mengingat ketidaknyamanan daripada semua yang menyenangkan selama melakukan perjalanan ke Korea.

*

Waktu pun berjalan, time is healing.  Benar kata atasan saya. Setelah sekian lama, trip Korea ini berubah menjadi perjalanan yang memiliki memorable moments, yang sangat tidak menyenangkan pun menjadi sebuah keluarbiasaan yang selalu saya syukuri. Jika tidak ada semua faktor yang tidak menyenangkan itu, sejatinya saya tak akan memahami makna setiap detik kehidupan dariNya. Jadi janganlah takut jika mengalami hal yang tidak menyenangkan selama melakukan perjalanan karena sebagaimana hal menyenangkan, hal yang tidak menyenangkan pun akan memperkaya jiwa…

Korea: Menapak Huwon, The Secret Garden


Walaupun belum puas berkeliling Istana Changdeokgung, tetapi waktu untuk mengikuti tour Huwon tinggal beberapa saat lagi sehingga saya bergegas menuju titik pertemuan di Hamnyangmun, gerbang masuk Huwon, the Secret Garden yang berada di belakang Istana Changdeokgung. Peraturan sangat ketat untuk Huwon, tak seorangpun diperkenankan memasuki kawasan Huwon bila tidak dalam rombongan yang memiliki pemandu resmi. Lagi-lagi karena kemalasan saya yang tidak mencari tahu jadwal tour berbahasa Inggeris sehingga saya tertinggal karena jadwalnya sudah terlewat. Walaupun begitu, saya nekad mengikuti rombongan berikutnya yang berbahasa Korea yang tidak saya mengerti. Daripada tidak bisa masuk sama sekali kan…?

Melewati gerbang Hamnyangmun, saya berjalan pelan di buntut rombongan sambil mengabadikan Huwon yang dikenal sebagai tempat istirahat raja-raja Dinasti Joseon dengan tamannya yang memiliki pohon raksasa berusia ratusan tahun. (Betapa bangsa Korea ini sangat menghargai pepohonan karena saya langsung teringat akan pohon pertama yang ditanam di Kuil Haeinsa yang telah tinggal sisa, -karena terkena petir-, masih tetap dipelihara dengan baik). Sambil melangkah, mata dan jiwa rasanya sangat dimanjakan oleh pemandangan dedaunan yang sedang berganti warna, rasanya seperti sedang melangkah di negeri dongeng.

Starting the tour, leaving the gate of Huwon
Starting the tour, leaving the gate of Huwon

Huwon, sejatinya berarti Taman Belakang, mengambil lahan seluas 32 hektar di belakang Istana Changdeokgung dan Istana Changgyeonggung yang berada disisinya. Namun siapa yang sangka, taman yang dibangun saat Raja Taejong berkuasa pada awalnya dikhususkan untuk keluarga kerajaan dan para perempuan Istana, kini menyimpan banyak cerita di sudut-sudutnya? Setiap pondok kecil, tempat-tetirah, kolam teratai dan pepohonan yang berjumlah 26.000 spesies, tampaknya hanya bisa berdiam diri selama ratusan tahun menyimpan rahasia para manusia yang pernah hidup di dekatnya.

Bahkan pernah suatu masa hanya Raja yang bisa memasukinya, hingga taman itu dinamakan Geumwon (Taman Terlarang). Jangan masyarakat biasa, petinggi-petinggi Istana hanya bisa memasukinya bila mendapat izin dari Raja sendiri. Waktu pun berjalan lambat hingga taman indah itu berganti nama menjadi Naewon yang berarti Taman Dalam, maksudnya mungkin taman dalam lingkungan Istana. Belakangan masyarakat Korea Selatan menamakannya dengan nama Biwon (Taman Rahasia) sesuai nama kantor yang ada di tempat itu pada abad-19. Namun hingga kini, taman itu dikembalikan dengan nama Huwon, -sesuai namanya semasa dinasti Joseon yang membangunnya-, walaupun untuk kepentingan pariwisata, Huwon diterjemahkan sebagai The Secret Garden.

Secret Garden in Autumn
Secret Garden in Autumn

Berjalan kaki di Secret Garden saat musim gugur memang seperti memasuki negeri dongeng yang banyak tergambar dalam lukisan. Indah. Mungkin karena dibangun mengikuti topografi alamnya dengan menekan sesedikit mungkin pembuatan taman buatan. Taman-taman yang lebih kecil dibuat lebih intim dengan tambahan kolam teratai seperti yang terlihat di Buyongji, Aeryeonji dan Gwallamji serta jeram kecil Ongnyucheon yang semuanya mengikuti aliran air yang ada di Secret Garden. Puncak Bukit Maebong yang berada di belakang Secret Garden menambah keharmonisan dengan alam sekitarnya. Siapa yang mau menolak merasakan sendiri sensasi rasa, -sebuah perjalanan waktu-, saat Secret Garden masih digunakan sebagai tempat menulis puisi-puisi indah, bermeditasi atau perjamuan kerajaan bahkan sampai latihan panah yang disaksikan Raja?

Tetapi walaupun keindahannya di depan mata, rasanya saya masih ingin mengetahui sesuatu yang terus mengganjal di pikiran. Apa yang rahasia? Apakah karena tersembunyi di belakang Istana hingga tak langsung terlihat? Ataukah ada kegiatan rahasia yang dilakukan di taman ini? Bisa jadi, karena ada sebuah bangunan yang didirikan sebagai tempat diskusi politik yang hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu yang dipercaya oleh Raja. Bukankah itu sesuatu yang rahasia? Masih ada alternatif lain. Bisa jadi karena aktivitas kalangan Istana yang tak pantas terlihat oleh mata masyarakat umum, seperti Raja yang memancing di Buyongji, atau Raja dan Permaisuri yang giat berkebun dan beternak ulat sutra. Atau mungkinkah ada kisah-kisah romantis yang terlarang di tempat ini yang tak pernah terungkap? Semua bisa terjadi… tetapi saya hanya mendengar desir angin dari antara pepohonan.

Buyongjeong Pavillion
Buyongjeong Pavillion

Buyongjeong

Saya tertinggal beberapa meter saat rombongan telah berhenti mendengarkan cerita si pemandu di dekat Kolam Buyongji dan Bangunan Juhamnnu, yang merupakan tempat belajar dan pelatihan diri dari anggota keluarga Istana. Perpustakaan kerajaan yang dikenal dengan nama Gyujanggak dan Seohyanggak juga didirikan di wilayah ini. Namun tak itu saja, di depan Yeonghwadang sering kali acara perjamuan kerajaan diselenggarakan, termasuk ujian Negara yang disaksikan oleh Raja! Entah apa rasanya mengerjakan ujian Negara disaksikan Raja.

Buyongjeong yang menghadap kolam teratai Buyongji dan berada di seberang Juhamnu memang sangat tepat digunakan sebagai tempat bermeditasi dari anggota keluarga kerajaan. Saya beruntung karena pondokan Buyongjeong sudah dibuka kembali setelah direstorasi selama setahun. Bangunan cantik dua lantai Juhamnu dibangun di bagian atas yang dapat dicapai setelah melalui gerbang Eosumun. Dan konon di tempat ini Raja sering membaca sambil melihat-lihat keadaan sekitar yang tentu saja indah. Jika musim gugur dihiasi dengan dedaunan penuh warna, musim dingin dengan salju putih yang memukau namum misterius dan tentu saat musim semi harum bunga menyerbak kemana-mana.

Two stories Juhamnu and the gate Eosomun
Two stories Juhamnu and the gate Eosomun
Yeonghwadang for the banquet
Yeonghwadang for the banquet

Berjalan sendiri di tempat yang indah seperti di Secret Garden ini, saya merasa ada yang kurang sehingga saya mendekati seseorang yang juga berjalan sendiri untuk berkenalan dan berbagi keindahan. Dia seorang female solo traveler yang menyenangkan dari  Philippines. Akhirnya saya bisa bicara banyak dengan seseorang di Seoul! Kami berdua, -sampai akhir perjalanan di Secret Garden- saling berbagi pujian keindahan dan bertukar cerita tanpa perlu menanyakan nama dan latar belakang. Sepertinya situasi kami sama, hanya merindukan orang lain agar bisa berkomunikasi normal. Saat itu hanya kami yang berbicara dalam bahasa Inggeris. Di Korea Selatan, jauh dari negeri sendiri, saya mendapat pembelajaran, betapa berharganya, -sebuah berkah luar biasa-, bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sama, untuk bisa saling memahami, walaupun tengah berada diantara kerumunan manusia.

Aeryeonjeong

Pemandangan pepohonan dengan daun warna-warni terus berlangsung sampai di area Aeryeonjeong yang dibangun saat Raja Sukjong berkuasa pada akhir abad-17. Aeryeonjeong sepertinya merupakan area memorial karena Putra Mahkota Hyomyeong, anak pertama dari Raja Sunjo, -yang berbakat luar biasa dan telah dipercaya mengurus tata Negara atas nama Raja Sunjo sejak usia 18 tahun-, hanya berkesempatan hidup sebentar, hingga berusia 22 tahun. Dengan bakatnya, ia telah membangun banyak fasilitas di wilayah ini. Melalui gerbang Bulromun yang terasa magis, saya menyaksikan tempat belajarnya yang dikenal dengan nama Uiduhap, yang dibangun sangat sederhana tanpa dekorasi dan merupakan satu-satunya bangunan yang menghadap Utara sehingga sangat tepat untuk membaca dan bermeditasi. Lengkap dengan kolam teratainya, dan tentu saja karena sedang musim gugur ini, keadaan sekitarnya begitu indah.

Alam yang sedang tampil indah di Secret Garden sepertinya masih mau mempercantik dirinya dengan menurunkan rintik hujan. Lengkap sudah, alam yang cantik, rintik hujan dan udara dingin. Sempurna.

Saya pun bergegas membeli payung di sebuah toko cinderamata lalu bersama teman perempuan Philippines itu, kami mengejar rombongan sambil menatap hujan. Seandainya bisa, kami ingin menari di bawah hujan di tengah Taman Rahasia ini…

Ongnyucheon

Tempat ini terkenal dengan kolam dengan jeram kecilnya yang indah terbuat dari batu pualam dengan beberapa pondokan menghiasi pinggirannya sehingga menjadikannya tempat terbaik untuk menulis puisi. Romantisnya sangat terasa, apalagi di saat hujan seperti ini. Dan sementara yang lain sibuk berfoto dengan pasangan masing-masing, saya memilih mengabadikan dedaunan merah, oranye, kuning yang tertimpa rintik hujan.

Saya terpukau dengan bentuk Gwallamjeong, sebuah pondokan yang dibangun di situ. Walaupun sekilas terlihat seperti umumnya bangunan tradisional Korea, namun jika diperhatikan lebih jauh, bagian dasarnya dibangun menyerupai bentuk kipas yang tentu saja jadi terasa berbeda, apalagi jika diperbolehkan duduk di tempat itu. Ah, pikiran saya terbang liar, siapa ya yang pernah duduk menitikkan air mata yang mengalir seperti aliran jeram di tempat itu?

Jongdeokjeong juga merupakan pondokan yang didirikan di wilayah Ongnyucheon. Dibangun dengan pilar-pilar kayu di enam sisi, pondokan paling tua ini terlihat cantik dengan bentuk atap dua tingkat khas Korea yang cantik. Apalagi dengan latar belakang cantik warna-warni musim gugur. Tak salah memang, perjalanan di Secret Garden ini mata dimanjakan dengan keindahan dan imajinasi bisa liar menari. Lagi-lagi saya bertanya dengan diri sendiri, adakah kisah cinta yang terjadi di sudut ini?

Walau pelan kaki melangkah, akhirnya saya sampai juga di ujung perjalanan. Saya akan mengucapkan selamat berpisah kepada Huwon, The Secret Garden yang membentuk harmoni dengan lingkungan alam sekitar, yang pastinya tak akan mudah hilang dari ingatan. Sudut-sudutnya yang diam menyimpan begitu banyak kisah rahasia. Indah, romantis sekaligus misterius.

Akses

  • Subway
    • Jongno 3 (sam)-ga Station (Line 1, 3 or 5), Exit 6. Jalan 10 menit, atau
    • Anguk Station (Line 3), Exit 3. Jalan lurus ke Timur selama 5 menit
  • Bus
    • 7025, 151, 162, 171, 172, 272 atau 601 turun di halte Istana Changdeokgung

Tutup : Setiap Senin

Jam Buka

  • Feb-Mei, Sep-Okt 09:00-18:00 / Jun-Ags 09:00-18:30 / Nov-Jan 09:00-17:30
  • Tiket terakhir dijual 1 jam sebelum tutup.
  • Akses Huwon, hanya melalui tur yang dipandu selama 90 menit, dijual secara terbatas maksimal untuk 100 orang (online 50 orang, sisanya dapat dibeli di tempat)

Harga Tiket

Dewasa                Istana 3,000 won / Huwon 5,000 won
Anak-anak          Istana 1,500 won / Huwon 2,500 won

Bercermin Diri dalam Harmoni Kuil Haeinsa


AWAL PERJALANAN RASA. Saya berdiri diam di depan batu besar bersimbol UNESCO yang dihiasi aksara Hangul. Tidak perlu bisa membaca Hangul untuk bisa memahami saya sudah sampai pada tujuan, Haeinsa Temple. Ada rasa haru membuncah berhasil melakukan pencapaian setelah melewati berbagai hambatan emosi sepanjang perjalanan hingga sampai ke tempat saya berpijak ini. Melewati batu besar ini berarti saya memasuki sebuah perjalanan dalam rasa.

Logo UNESCO di antara karakter Hangul
Logo UNESCO di antara karakter Hangul

HANYA BAGI YANG MEMERLUKAN. Haeinsa Temple sesungguhnya bersembunyi dalam diam dan heningnya wilayah Taman Nasional Gayasan, di propinsi Gyeongsangnam-do, seakan tak peduli akan kunjungan para peziarah atau wisatawan. Juga seakan tak peduli dengan gelar yang disandangnya sebagai UNESCO World Heritage Site karena telah ratusan tahun menyimpan Tripitaka Koreana, bilah-bilah cetakan kayu berisikan ajaran Buddha. mungkin baginya, manusia yang datang berkunjunglah yang memerlukannya. Memerlukan keheningan dan kedamaian untuk bercermin diri dalam meniti hidup.

MELURUHKAN KEBURUKAN. Dan entah mengapa, segala sesuatu yang menyesakkan, segala kekuatiran, derita dan ketakutan seakan runtuh luluh, terlepas dan tak berani membonceng begitu kaki melangkah memasuki gerbang Haeinsa yang memang menjadi tujuan utama perjalanan saya ke Korea Selatan.

BATAS. Ucapan Selamat Datang tampaknya tersampaikan dalam keheningan Iljumun, Gerbang Satu Pilar yang merupakan gerbang pertama dalam wilayah kompleks Haeinsa Temple. Namun sepertinya lebih banyak orang yang memperhatikan sebuah karya seni berbentuk orang yang sedikit membungkuk daripada menyadari makna gerbang Iljumun. Dan Iljumun pun seperti tak peduli dengan apapun yang dilakukan mereka. Dalam diamnya, ia hanya membukakan rasa akan sebuah batas bagi mereka yang sadar dan seakan mempersilakan untuk melangkah di jalan setapak menuju gerbang kedua, Bonghwangmun atau yang lebih dikenal dengan Gerbang Empat Dewa Penjaga. Dan untuk melengkapi rasa yang hadir, di kiri kanan jalan setapak yang mendaki landai ini dipenuhi berbagai bendera putih bertuliskan untai kata filosofis yang sangat dalam, sebuah awalan untuk membersihkan taman pikiran.

Tanda Baru  dalam diam dan Sebuah Karya Seni
Tanda Baru dalam diam dan Sebuah Karya Seni
Iljumun, Gerbang Satu Pilar
Iljumun, Gerbang Satu Pilar

TUMBUH BERSAMA WAKTU. Langkah demi langkah diambil menuju Gerbang kedua, semua pengunjung termasuk saya seakan dibawa ke awal waktu pembangunan kuil Haeinsa oleh dua pendeta, Suneung dan Ijeong sekitar abad-8 sepulangnya dari Tiongkok. Pihak kerajaan mendukung pembangunan kuil setelah kedua pendeta tak henti berdoa untuk kesembuhan Sang Ratu dari penyakitnya yang tak terobati. Pengunjung pun diajak melihat sisa pohon di pinggir jalan setapak yang dipercaya menjadi saksi terakhir awal pembangunan kuil Haeinsa walau akhirnya tumbang pada tahun 1945 setelah tumbuh bersama waktu selama hampir 1200 tahun.

Saksi Terakhir Pembangunan Kuil Haeinsa yang tumbang tahun 1945
Saksi Terakhir Pembangunan Kuil Haeinsa yang tumbang tahun 1945

KESUNGGUHAN. Dan akhirnya ketika langkah kaki menjejak di Bonghwangmun, atau dikenal dengan gerbang Empat Dewa Penjaga, -berisikan lukisan Empat Dewa sebagai Penjaga arah mata angin-, para pengunjung seakan ditanya kembali akan niatnya berkunjung dan bersedia meluruhkan semua yang berbau keburukan. Dan bukankah di setiap gerbang milestone kehidupan kita seakan ditanya kembali niat kita?

TAMBAHAN BEKAL KEKUATAN. Selepas Bonghwangmun, siapapun yang berkehendak dapat memohon doa di Guksudan atau Hall of Mountain Spirit. Bangunan kecil ini berisikan patung Guksa-daesin, dewa pelindung ranah Haeinsa, yang dipercaya dapat memberikan pencerahan kepada manusia dan mencegahnya dari ketidakberuntungan serta memberikan berkat kepada semua orang agar mengikuti kebenaran hakiki. Dalam perjalanan rasa ini, sebuah analogi tergambarkan saat berada di antara dua gerbang milestone hidup yang masih memerlukan bekal kekuatan.

MENUJU GERBANG AKHIR. Perjalanan melalui pintu-pintu gerbang hampir berakhir. Di ujung jalan setapak terdapat tangga curam menuju Haetalmun atau dikenal sebagai Gerbang Surga, yang dipercaya sebagai simbol memasuki dunia kebenaran dan meninggalkan dunia yang penuh penderitaan, selaras dengan konsep Buddha.

MEMAKNAI PERJALANAN. Sesaat menengok ke belakang dari posisi saya berdiri, dari gerbang pertama Iljumun, lalu Bonghwangmun hingga gerbang ketiga Haetalmun, saya telah menapaki 33 anak tangga, yang konon simbol surga Trayastrimsa, tempat berdiamnya 33 dewa di puncak Gunung Sumeru. Sebuah nama yang membuat pikiran lain terbersit, walaupun saya memahami maksudnya adalah gunung imajiner Mt. Meru atau Mahameru dalam pemahaman Buddha, namun pikiran ini terbang ke puncak Mahameru yang indah di Jawa Timur, Indonesia, yang tentu saja merupakan sebuah perjalanan panjang, mendaki penuh lelah dari tempat-tempat yang rendah mencapai tempat-tempat tinggi. Bukankah hidup dipenuhi rasa syukur atas sebuah perjalanan dari sebuah titik kecil ke titik kecil lain yang begitu berdekatan?

MENJAGA KESEIMBANGAN. Gerbang Haetalmun di puncak tangga yang tinggi, curam dan fragile seakan mengingatkan saya agar senantiasa menjaga keseimbangan rasa namun tetap waspada dalam setiap langkah hidup, seperti juga di kawasan kuil Haeinsa. Laksana sebuah pengingat akan peristiwa bencana kebakaran hebat yang berkali-kali terjadi di kuil Haeinsa semasa Dinasti Joseon berkuasa, walaupun upaya menjaga, mengamankan dan memelihara sepenuhnya setia dilaksanakan.

Halaman Utama Haeinsa
Halaman Utama Haeinsa

PEMENUHAN JANJI. Rasanya saya benar-benar luruh melebur menjadi satu dengan Haeinsa dengan setiap langkah penuh keajaiban makna. Haeinsa, inikah yang engkau janjikan untuk setiap jiwa yang datang dengan rasa?

HARMONI. Langkah terasa ringan menapaki pelataran kuil. Sepertinya memang sesuai dengan makna Haeinsa yang dikenal sebagai Kuil Pencerminan di Laut tenang. Untuk mudahnya bagi non-Buddhist seperti saya, dalam kehidupan duniawi dengan semua penderitaan, penyakit dan delusi, bisa dianalogikan sebagai laut yang bergolak dan segala sesuatu yang harmoni diibaratkan sebagai laut yang tenang. Sebuah makna yang dapat dilihat dalam rasa.

HIDUP YANG BERJENJANG. Bahkan kompleks Kuil Haeinsa ini pun dibangun di atas permukaan tanah yang berjenjang dengan dua pelataran tempat aktivitas peribadatan dan kegiatan sehari-hari dari para penghuninya. Seperti juga kehidupan, memiliki jenjang-jenjang tersendiri. Bahkan dalam sebuah jenjang pun memiliki keindahan, seperti juga pemandangan hutan di pegunungan dengan keindahan musim gugur menyembul di antara bangunan kuil di pelataran pertama. Dan melalui tangga, saya menuju pelataran kuil yang lebih tinggi. Dan pelataran akhir ini penuh dengan pengunjung yang kebanyakan datang dari berbagai penjuru Korea, yang membuat saya tersenyum dalam rasa dengan penggambaran ini. Sangat manusiawi. Bukankah pada akhir perjalanan hidup kita semua akan berkerumun?

Pagoda Birotap
Pagoda Birotap

3 SAKSI DIAM YANG SETIA. Perlahan saya berjalan ke tengah pelataran tempat tegaknya tiang bendera yang konon menjadi saksi setia kuil dari abad ke abad. Didekatnya terdapat pagoda batu tiga tingkat yang dikenal sebagai Birotap (Pagoda Vairocana) yang dahulu tempat menyimpan patung Buddha. Tak jauh dari Pagoda Birotap berdiri Lampu Batu, simbol lampu kedamaian Buddha yang dibangun untuk memberikan penerangan ke pelataran. Dalam hidup yang sudah terjalani ini, bukankah kita semua memiliki saksi-saksi diam yang setia menemani?

SEDERHANA. Saya melewati bangunan termpat peribadatan Gwaneumjeon dan Gunghyeondang yang sederhana dan tidak bercat. Ciri khas yang kuat dari Haeinsa, sebuah kesederhanaan, tetapi tampil kontras dengan keindahan hutan yang menghias pegunungan di latar belakang. Kuat dan berprinsip.

Pemandangan Musim Gugur di antara Bangunan
Pemandangan Musim Gugur di antara Bangunan

PUNCAK, YANG UTAMA. Mata saya memandang tiga rangkaian anak tangga di kiri, tengah dan kanan untuk naik ke permukaan tanah yang lebih tinggi. Rasa membawa saya menapaki tangga di kanan, -karena memang sebenarnya tangga di tengah hanyalah untuk para pendeta dalam upacara khusus-, menuju bangunan utama kuil yang disebut Daejeokgwangjeon (Tempat Kedamaian dan Kebijaksanaan Yang Agung) yang didedikasikan untuk Buddha Vairocana, dan diapit oleh Shrine Daebirojeon di kiri dan Myeongbujeon di kanannya. Seakan terdengar bisik dari dalam kalbu akan simbol dari tiap kehidupan yang memiliki tempat tujuan akhir?

IBADAH DENGAN CINTA. Tetapi di sudut Daejeokgwangjeon tampak orang berkerumun menanti giliran beribadah ke dalam. Ah, tak patut rasanya mendahulukan keinginan saya daripada orang-orang yang berniat ibadah. Saya berpindah untuk menikmati lukisan sepanjang dinding dan bagian atap Daejeokgwangjeon, yang semuanya dikerjakan dengan kesabaran, ketelitian dan kecintaan melalui kondisi meditatif yang panjang.

Detail Sudut Atap Daejeokgwangjeon
Detail Sudut Atap Daejeokgwangjeon

MOMENT KEINDAHAN. Mengambil jeda untuk melepas lelah, saya duduk di belakang bangunan utama menikmati pemandangan alam di latar belakang. Karena tersembunyi di kawasan Gayasan National Park, kuil Haeinsa memiliki nilai tambah. Selain udaranya yang sejuk, kuil ini dikelilingi oleh indahnya warna-warni pepohonan khas musim gugur. Dan sebagai orang tropis yang jarang melihat perbedaan warna pohon, sungguh saya menikmati keindahan warna merah, kuning, hijau dalam nuansanya sendiri-sendiri yang menjadi kontras dengan warna homogen coklat kehitaman dari kuil. Seperti juga dalam fase hidup, saat jeda istirahat kita juga dapat menikmati moment indahnya hidup. Dan saat itu pun, walau dipenuhi pengunjung, Haeinsa tetap diliputi ketenangan yang terasa sampai ke dalam relung rasa.

Pepohonan dengan warna musim gugur di latar belakang
Pepohonan dengan warna musim gugur di latar belakang

MENAPAKI PUNCAK. Di puncak ketinggian kompleks Haeinsa, dari sisi Myeongbujeon, Sang Waktu telah menuntun saya melihat tempat penyimpanan Tripitaka Koreana di level teratas, yang paling terjaga. Lalu, setelahnya saya berjalan turun kembali ke arah Bangunan Utama Daejeokgwangjeon dari sisi kiri Daebirojeon, yang berisi dua patung kayu Buddha yang konon dipercaya dari abad-9 dan merupakan yang tertua di Korea. Semua dari kita memiliki langkah-langkah di puncak ketinggian yang tak terlupakan dan penuh kesan.

Sebuah Pameran Karya Seni Bernilai Filosofis
Sebuah Pameran Karya Seni Bernilai Filosofis
Lampion Jalur Meditasi
Lampion Jalur Meditasi

MELEPAS DERITA. Puncak ketinggian telah terlampaui dan saya turun kembali ke pelataran tempat Pagoda Birotap berada. Sebuah pameran seni filosofis sedang berlangsung di pelataran Haeinsa ini. Sekitar seribu kain persegi merah diikat menyerupai kantong berisikan batu tersusun rapi di atas tanah yang membentuk persegi panjang. Batu-batu yang diletakkan pengunjung kuil merupakan simbol dari beban penderitaan yang pernah dirasa sepanjang hidupnya. Sebuah interaksi pengunjung untuk melepaskan penderitaan di Haeinsa, dan menjelma menjadi orang baru setelahnya. Ibarat ringan setelah melepas beban, hidup terbuka menjadi tempat bersyukur dan berdoa. Dan kesempatan itu tersedia di pelataran berikutnya, pengunjung diarahkan melakukan meditasi berjalan melalui jalur yang dibatasi oleh lampion-lampion yang tergantung berwarna merah, hijau, ungu dan kuning. Siapapun, tanpa harus menjadi Buddhist, dapat menggantungkan harapan dan doa pada lampion-lampion itu.

MEMBAWA BAHAGIA. Hari semakin sore, pengunjung semakin berkurang. Akhir perjalanan sudah tercium auranya. Suasana sepi mulai terasa di pelataran depan bangunan tempat genta besar dan drum tabuh tergantung. Sambil menyisiri bagian luar dari lampion-lampion jalur doa, saya berjalan pelan menuju pintu keluar. Dan saat kaki melangkah meninggalkan gerbang surga terdengar pukulan tabuhan oleh pendeta, tanda kuil ditutup dari kunjungan orang luar. Dan bersamaan dengan itu, dari dalam jiwa sebuah ucapan terungkap keluar, Terima kasih atas suasana damai dan harmonimu, Haeinsa! Ah, Semoga semua makhluk berbahagia…

Hwaseong Fortress: Menjadi Warisan Dunia Karena Sebuah Buku Tua


Dari sebuah benteng yang dirancang untuk menjadi Ibukota

Disusun dan dibangun dengan perhitungan rinci tanpa cela

Namun perlahan terlupakan karena pergantian para penguasa

Lalu hancur total akibat Jepang menyerang juga Perang Korea

Dua ratus tahun setelahnya Hwaseong seakan tak pernah ada

Namun dari sebuah buku, Hwaseongseongyeokuigwe namanya

Para ahli bersatu padu bekerja sama membangun sebuah citra

Dan dalam dua tahun Hwaseong Fortress yang hilang kembali ada

Abad-18 Hwaseong hanya merupakan bagian dari Istana Raja

Abad-20 Hwaseong telah menjadi bagian dari Warisan Dunia

*

Menjelang sore pada musim gugur di Suwon, Korea Selatan…

Hwaseong Fortress, salah satu UNESCO World Heritage Site di Korea Selatan, berdiri dengan megah. Benteng atau Fortress ini pada awal pembangunannya merupakan bagian dari Istana Haenggung, tempat kediaman sementara para Kaisar dari Dinasti Joseon di luar kediaman resminya di ibukota negeri. Dan Kaisar Jeongjo-lah yang menginstruksikan pembangunan benteng pertahanan sepanjang 5.5km ini mengelilingi sebuah kota yang dirancang mandiri sebagai pengungkapan bakti Sang Kaisar kepada ayahnya, Putra Mahkota Sadosaeja. Selain mendirikan benteng, sepanjang pemerintahannya, Kaisar Jeongjo senantiasa berupaya berbakti dengan cara membersihkan nama ayahnya yang dibunuh oleh tangan kakeknya sendiri.

Hwaseong Fortress - Suwon
Hwaseong Fortress – Suwon

Kata “Hwaseong” sendiri sesungguhnya memiliki makna filosofis yang sangat dalam, karena berasal dari salah satu pengajaran Konfusianisme, Jangja. Dalam karakter China, Hwaseong merupakan tempat yang diperintah oleh seorang tokoh legenda yang bijak dan bermoral sempurna yakni Kaisar Yao. Beliau adalah kaisar legendaris dalam sejarah Cina kuno yang kebajikannya digunakan sebagai model untuk kaisar Cina pada masa-masa selanjutnya. Masa pemerintahan Kaisar Yao merupakan waktu yang paling damai dan makmur dalam sejarah Cina kuno. Dengan dilatarbelakangi oleh pemahaman filosofis yang dalam itu, pembangunan Hwaseong Fortress di Korea Selatan menjadi luar biasa.

Hingga kini Hwaseong Fortress menjadi benteng dengan struktur terhebat dan penuh perhitungan yang pernah dibuat di dunia. Memiliki empat gerbang di setiap arah mata angin. Janganmun di Utara, Paldamun di Selatan, Changnyongmun di Timur dan Hwaseomun di Barat. Bahkan katanya setiap lubang diantara batu batanya diukur dengan presisi sehingga dapat menembakkan senjata, panah atau tombak panjang.

Dan kehebatan Hwaseong Fortress tidak berhenti sampai disitu. Benteng ini bahkan menjadi pelopor perencanaan pembangunan kota di tingkat dunia, dilihat dari segi kelengkapan sarana dan prasarana serta perencanaan matang yang sistematis dibandingkan pembangunan kota yang serupa pada jamannya seperti Saint Petersburg di Rusia atau bahkan Washington DC di Amerika. Sebuah pemikiran yang sangat hebat dari Kaisar Jeongjo, orang yang menginstruksikan pembangunan Hwaseong Fortress ini.

Sejarah mengisahkan ketika Kaisar Jeongjo bertempat tinggal sementara di Istana Haenggung dalam rangka kunjungan ke wilayah Suwon, Sang Kaisar mulai menginstruksikan pembangunan Hwaseong Fortress termasuk kota di dalamnya. Pada awalnya Kaisar Jeongjo merencanakan Hwaseong menjadi ibukota kedua dari Dinasti Joseon. Untuk itu, Kaisar Jeongjo berencana akan pindah ke istana Haenggung, untuk menikmati kota Hwaseong-nya, setelah ia menyerahkan tahtanya kepada penerusnya. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Kaisar Jeongjo mangkat dalam usia yang relatif muda pada tahun 1800 menyebabkan Hwaseong perlahan-lahan terlupakan oleh peradaban.

Janganmun North Gate of Hwaseong Fortress, Suwon (means capital city and welfare of the people)
Janganmun North Gate of Hwaseong Fortress, Suwon (means capital city and welfare of the people)

Dan UNESCO pun mencatat Hwaseong Fortress dalam daftar World Heritage Site…

Sebenarnya Hwaseong Fortress masih relatif berumur muda, sekitar 200 tahun, jika dibandingkan dengan seribuan obyek lainnya yang bisa mencapai ribuan tahun, untuk tercatat dalam daftar UNESCO World Heritaga Site. Ditambah lagi sebagian besar struktur asli sudah hancur karena penyerangan Jepang dan akibat perang Korea. Lalu apa yang menyebabkan tempat itu bisa terdaftar sebagai World Heritage Site?

Dan karena sebuah buku kuno, Hwaseongseongyeokuigwe, sehingga Hwaseong Fortress dapat direkonstruksi kembali mengikuti struktur aslinya. Hwaseongseongyeokuigwe merupakan buku arsip yang terperinci mengenai pembangunan Hwaseong Fortress. Di dalam buku ini seluruhnya tersimpan baik penjelasan arsitektur dan prosedur teknis yang diterapkan, lengkap dengan gambar-gambar dan disain strukturnya, dimensi struktur, penggunaan dan sumber bahan baku yang digunakan dan hal-hal kecil lainnya. Sungguh menakjubkan berdasarkan satu buku kuno berumur ratusan tahun itu, pembangunan kembali benteng ke bentuk aslinya bisa dilakukan dengan sangat mudah.

Para insinyur dan ahli teknik masa kini benar-benar mengikuti semua petunjuk yang diberikan dalam buku Hwaseongseongyeokuigwe, yang dimulai dari menemukan jenis yang tepat untuk menghasilkan bentuk dan kualitas batu bata yang digunakan. Setelah batubata diproduksi dengan benar, kumpulan batu itu digunakan untuk membangun tembok benteng seperti yang dijelaskan dalam dokumen.

Hwaseong Fortress sepertinya merupakan kasus pertama kali dan satu-satunya hingga kini, sebuah monumen sejarah yang hancur total dibangun kembali hanya berdasarkan dokumen tertulis. Kelengkapan Hwaseongseongyeokuigwe, yang penuh informasi ilmiah yang sangat detail, membuat monumen ini memungkinkan memenangkan gelar sebagai UNESCO World Heritage Site.

*

Setelah membayar tiket masuk, rencana melihat Gukgung (Korean Traditional Archery) di dekat pintu masuk batal karena saat itu merupakan trip terakhir kereta kelilingHwaseong Fortress. Saya sedang malas mendaki berkilo-kilometer sehingga tawarannaik kereta keliling disambut gembira. Sebenarnya para penumpang diberikan informasi mengenai tempat-tempat menarik sepanjang perjalanan, tetapi sayangnya dalam bahasa Korea!

A corner in Hwaseong Fortress in Suwon. It's believed to have been constructed very scientifically — at Hwaseong Fortress.
A corner in Hwaseong Fortress in Suwon. It’s believed to have been constructed very scientifically — at Hwaseong Fortress.

Sudah beberapa gerbang dan tempat pemantauan benteng terlewati. Kereta masih menyusuri tembok benteng yang berdiri tegak, seakan angkuh terhadap kemungkinan serangan musuh. Kemudian berjalan perlahan mendaki bukit. Tampak seluruh permukaan tanah tertutup dengan rumput hijau yang terpelihara. Pemerintah Korea Selatan bersama warga sekitar bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap indah dan di sudut lain, tampak tembok benteng menjulang di balik rimbunnya rumput keladi yang berbunga.

Tak lama kemudian kereta memasuki wilayah dengan pepohonan berwarna khas musim gugur yang terhampar di depan mata. Merah, hijau, kuning keemasan dan jalanan yang sepi. Ketika kereta melewati perlahan sebuah pelataran dengan patung besar, terlontar keinginan untuk turun menikmati pemandangan. Dan ternyata kereta memang berhenti di situ, menurunkan semua penumpangnya dan kembali kosong. Dan memang trip terakhir kereta tidak termasuk kembali ke tempat awal sehingga saya harus berjalan kaki untuk kembali.

Setelah mengeksplorasi pelataran berisi patung besar Kaisar Jeongjo, saya menikmati jalan-jalan di sekitarnya dalam suasana musim gugur. Sebagai orang tropis, saya menikmati sekali pengalaman berjalan-jalan diantara pohon-pohon yang berwarna-warni dengan gugurnya dedaunan. Banyak juga warga lokal dari segala umur yang berjogging. Bahkan disediakan peralatan olahraga di area terbuka.

The Bronze Statue of King Jeongjo The Great
The Bronze Statue of King Jeongjo The Great
The Map & Pictures of Hwaseong Fortress on the Wall next to the Statue
The Map & Pictures of Hwaseong Fortress on the Wall next to the Statue
Public Park in Autumn inside the Hwaseong Fortress
Public Park in Autumn inside the Hwaseong Fortress

Belum ingin berpisah dengan indahnya suasana, saya bahkan mendaki ke puncak bukit. Dan sampai di atas, terhampar pemandangan yang jauh lebih indah dari kota Suwon, apalagi menjelang malam, lampu-lampu kota dinyalakan. Saya duduk menikmati malam. Seandainya Kaisar Jeongjo masih hidup, tentunya ia juga suka melihat pemandangan ini. Pemandangan lepas, udara dingin, sangat tepat untuk berpikir strategis memikirkan bangsa dan negara.

Malam merangkak pelan. Waktu juga yang memutuskan. Saya berjalan turun perlahan sambil melamunkan keluarbiasaan situs warisan dunia, Hwaseong Fortress ini. Yang tadinya hancur, dalam waktu dua tahun bisa kembali berdiri megah. Hanya karena sebuah buku tua. Saya belajar bahwa dari dokumentasi yang detil dan menyeluruh, apa yang hancur bisa kembalikan ke semula. Ah, rasa terima kasih tak terhingga untuk Kaisar Jeongjo!

A part of 5.5km of the Hwaseong Fortress
A part of 5.5km of the Hwaseong Fortress
Seojangdae (Western Command Post), built 1794 on the summit of Mt. Paldal
Seojangdae (Western Command Post), built 1794 on the summit of Mt. Paldal
Hwaseong Fortress at night
Hwaseong Fortress at night

*

Hwaseong Fortress dibuka setiap hari untuk umum, pk. 09.00 – 18.00 kecuali musim dingin dari pk. 09.00 – pk. 17.00 dengan harga tiket masuk 1000 Won (dewasa) dan 500 Won (anak-anak).

Menikmati Malam di Gyeongju, Korea


Gyeongju, Korea merupakan kota dengan sebutan museum tanpa dinding, karena berseraknya tempat-tempat bersejarah di kota kecil sekitar 1 jam berkendara dari Busan itu. Tetapi apabila tak tertarik dengan sejarah pun, kita tetap masih bisa menikmati kota itu, terutama pada malam hari. Jadi, lupakan sejarah sesaat, nikmati saja keindahan di Gyeongju yang sejuk (atau karena saya datangnya pas musim gugur ya?).

 

Anapji Pond

Saya bersyukur karena mengunjungi tempat ini di kala senja dan menikmatinya hingga malam bertandang. Saya coba lupakan sejenak sejarahnya, dan membiarkan rasa yang menuntun langkah-langkah saya pada malam itu.

Saya hanya menyentuh pagar pembatas area yang di dalamnya terdapat bulatan-bulatan bekas fondasi bangunan itu sebagai tanda permintaan maaf karena ketakmampuan saya melepaskan diri sepenuhnya dari sejarahnya. Aura peninggalan yang sangat kuat tetap terasa membumbung di udara, sehingga saya hanya bisa terdiam hening sebagai penghormatan walaupun kali ini saya hanya ingin menikmati malam di Anapji Pond.

Sisi dari Anapji Pond
Sisi dari Anapji Pond
Lihat! Ada ikan-ikan diantara lampu kolam
Lihat! Ada ikan-ikan diantara lampu kolam
Bangunan Utama di Anapji Pond
Bangunan Utama di Anapji Pond
Detil Atap Bangunan di Anapji Pond
Detil Atap Bangunan di Anapji Pond
Refleksi di Anapji Pond
Refleksi di Anapji Pond
Anapji Pond At Night
Anapji Pond At Night
Anapji Pond dari sisi seberang
Anapji Pond dari sisi seberang

Terlepas dari cerita hebat di baliknya, Anapji Pond tetaplah sebuah kolam, yang berisikan ikan-ikan cantik berenang diantara lampu yang menyinari bangunan-bangunan tradisional berukir indah.

Namun entah kekuatan apa yang menyelimuti saat itu, tetapi terasa sekali pada malam itu atmosfer kaum bangsawan berjalan perlahan menikmati malam, berawal dari aula utama menyusuri bangunan-bangunan cantik di tepi kolam berhias cahaya yang memantul dari air kolam yang tenang. Memberikan efek refleksi yang sempurna. Berpikir sangat dalam mengenai kehidupan bernegara, kehidupan sehari-hari rakyat dan kehidupan romansa pribadi para keluarga kerajaan.

Tidak perlulah mengetahui siapa Raja, siapa Perdana Menteri atau silsilah keturunannya, atau Dinasti yang mengelolanya. Cukuplah untuk menikmati dengan sepenuh hati, merasakan aura kehidupan para pemilik darah biru, merasakan keindahan terangkai sepanjang malam di Anapji Pond. Dan saya pun berjebak dalam semesta keindahan Anapji Pond.

 

Cheomseongdae Observatory

Tak jauh dari Anapji Pond, bisa dicapai dengan berjalan kaki, berdirilah Cheomseongdae Observatory dengan anggunnya di tengah-tengah taman di pusat kota.  Pemerintah setempat telah membuat bangunan kuno itu semakin tampil dramatis dengan sorotan lampu yang memecah kegelapan malam.

Tanpa perlu mengetahui secara dalam kekuatan sejarah di balik keanggunan Cheomseongdae Observatory, siapapun yang melihatnya malam itu akan merasakan hal yang sama. Keindahannya melebihi keingintahuan orang akan fungsi bangunan itu.

Cheomseongdae Observatory - Peninggalan dari Seorang Perempuan
Cheomseongdae Observatory – Peninggalan dari Seorang Perempuan

Saya hanya duduk dalam keheningan di bangku taman dan menikmati Cheomseongdae Observatory yang luar biasa di hadapan. Saya tak melihat sisi sejarahnya, saya tak mencari tahu fungsi bangunannya. Saya hanya diam dalam hening. Suasana yang tercipta terasa magis dan menerbangkan saya untuk melihat ke dalam jiwa mengenai makna kehidupan. Dan malam pun terus merangkak pelan…

Saya tetap tak bisa melepaskan dari kekuatan sejarahnya. Tetapi, lagi-lagi saya berusaha melupakannya sesaat. Saya hanya mengingat bahwa Cheomseongdae merupakan warisan dunia dari seorang perempuan! Dan hidup sebagai perempuan, saya seperti jatuh ke dasar jurang tak bertepi, berhadapan dengan peninggalan dengan tingkat dunia yang seakan bertanya langsung kepada saya, apa yang telah kau berikan kepada dunia sebagai warisan?

Arrggghhh… Cheomseongdae yang indah tetapi membantingku KO.

 

Tumuli Park

Di arah yang berlawanan dari Cheomseongdae Observatory, tersebar tumuli-tumuli (gundukan) yang di dalamnya menyimpan sejarah Korea yang panjang. Tapi malam itu, tak perlu melihat sejarah, tak perlu memikirkan apa yang ada di balik tumuli itu. Lihat saja keindahan lengkung-lengkung rerumputan hijau yang tertata rapi dan disinari lampu sorot.

Lagi-lagi saya terdiam dalam hening. Saya tahu tumuli adalah makam dan hal itu yang menghenyakkan saya dalam keheningan. Saya hanya ingin menikmati dalam hening dan tak ingin terlalu filosofis melihatnya. Tetapi rasa dari dalam itu begitu membuncah Sudahkah saya memikirkan mati? Lalu bagaimanakah saya ingin diingat ketika saya sudah mati? Apakah saya sudah bernilai hingga sekarang ini, sebelum saya mati? Dan masih banyak lagi karena saya berhadapan dengan makam!

Tumuli adalah Makam!
Tumuli adalah Makam!

Tak perlu menilik sejarahnya, tak perlu tahu siapa yang ada di baliknya, hanya makna sebuah makam dan saya pun berlari bergidik, karena tahu belum cukuplah bekal untuk itu.

Kuliner

Di depan area tumuli itu terdapat deretan rumah makan dan kios-kios yang menawarkan makanan Korea atau makanan ringan, yang bagi para wisatawan penggila kuliner bisa langsung menikmatinya setelah lelah berjalan-jalan. Saya sendiri tidak mencicipinya karena saya masih harus berjuang mencari jalan pulang ke penginapan yang lumayan jauh.

***

Jika saja masih ada waktu bagi saya untuk berkeliling lagi, tentu masih banyak tempat wisata lain yang bisa dikunjungi. Tidak apa-apa, saya menyimpannya untuk kunjungan kesana lagi, kapan-kapan ketika kesempatan lain datang…

(DISCLAIMER: All photos are mine unless otherwise stated. Please put the link or e-mail me if you wish to use it personally)

Menuju Seoul dengan ‘Shinkansen’-nya Korea


Pagi jelang siang di Daegu

Sambil memejamkan mata, saya mengucap selamat berpisah kepada kamar penginapan yang telah menjadi saksi diam atas pengalaman spiritual penuh emosi semalam sekembalinya saya dari Haeinsa (klik disini kalau mau baca). Tiga kota Korea Selatan yang telah mengharubiru hati sudah terlewati dalam perjalanan ini dan tiba saatnya untuk berpindah kembali.

Semalam, diantara airmata bahagia yang tumpah dan pengalaman-pengalaman luar biasa selama perjalanan ini, sebuah  keputusan harus ditetapkan. Saya harus menghapus trip ke Naejangsan National Park. Taman Nasional Naejangsan, yang terkenal keindahannya saat musim gugur bukan menjadi rejeki saya untuk dikunjungi kali ini. Waktunya tidak akan cukup untuk sampai juga ke Suwon dan Seoul pada hari yang sama. Dan kalaupun dipaksakan juga, kunjungan terburu-buru ke Naejangsan pastilah tidak menyenangkan. Itupun kalau lancar dan tidak tersesat! Mudah-mudahan ada kesempatan lagi untuk bisa berkunjung kesana di lain waktu.

KTX Kereta Super Cepat Korea Selatan
KTX Kereta Super Cepat Korea Selatan

Membatalkan pergi ke Naejangsan adalah satu hal, tetapi hari itu untuk bisa sampai ke Seoul dari Daegu dengan selamat adalah hal lain yang berbeda sama sekali. Berdasarkan pengalaman-pengalaman mengejutkan sejak hari pertama tiba di Korea Selatan, hal sekecil apapun bisa menjadi hal yang prosesnya tak semudah membalikkan telapak tangan. Tentu saja kejutan seperti itu benar-benar bisa membuat cemas, deg-deg-an, hati ketar-ketir atau apapun seperti itu. Dan… hal sepele itu termasuk mengurus tiket kereta super cepat Korea Selatan, Shinkansen-nya Korea, yang disebut KTX.

Setelah check-out, dengan menggendong ransel saya berjalan kaki ke station Dong Daegu, yang terintegrasi dengan stasion KTX, kereta api super cepat Korea Selatan. Beberapa toko roti yang saya lewati menebarkan aroma harum menggugah perut yang berontak belum sarapan. Karena tidak mau teralihkan dengan wangi harum itu, saya memaksa diri menggunakan kacamata kuda, meneruskan langkah menuju stasion kereta. Tukar tiket KTX dulu baru sarapan, demikian yang saya teriakkan kepada si perut.

Lagi! Di Stasion KTX

Stasion KTX di Daegu cukup megah. Sebagai orang yang sudah tercemar dampak dunia kapitalis konsumtif, saya merasa kembali ke peradaban modern ketika memasuki gedung station KTX setelah semalam sebelumnya berkutat di Gayasan National Park. Modernitas telah mengangkat rasa optimisme saya.  Merasa ‘hidup’ dengan atmosfer kesibukan kerja, penuhnya kios-kios kopi dan makanan dengan para profesional. Ah, sepertinya saya sedang mendekat pada dunia yang saya kenal, seharusnya semua akan berjalan normal, demikian perasaan saya berkata.

Lorong menuju Main Hall Stasion KTX Daegu
Lorong menuju Main Hall Stasion KTX Daegu

Seperti seekor doggie yang menandai daerah jelajahnya, saya berjalan mengelilingi station KTX dari ujung ke ujung, hanya supaya mengetahui situasi dan kondisinya di station Daegu. Setelah puas, saya kembali ke arah counter untuk menukarkan E-ticket KRPass 1 day yang saya miliki. Semoga lancar.

Setelah mengantri pada antrian yang terpendek, sampai juga giliran saya ke depan counter. Saya serahkan print-out e-ticket sebagai bukti pembayaran dan paspor. Perempuan di balik counter hanya bertanya, “1 day Pass, today?” Saya mengangguk, menjawab, “Yes. Today. To Seoul Station” Kemudian dia sibuk dengan komputernya. Jam pasir mulai bergulir.

Seperti juga JRPass di Jepang, KRPass adalah kartu transportasi yang khusus untuk oleh turis asing dan dibeli di luar negara korea, untuk digunakan tanpa batas pada kereta-kereta api yang tergabung dlm Korail, kecuali subway dan kereta turis. KR Pass tersedia dalam beberapa periode, 1, 3, 5, 7 atau 10 hari dengan berbagai variasi harga.

KR Pass seukuran kartu nama & Ticket Kereta
KR Pass seukuran kartu nama & Ticket Kereta

Saya membeli KRPass 1 hari secara online karena pertimbangan kemudahan dan kecepatan mendapatkan transportasi dalam sehari sesuai rencana awal perjalanan saya. Awalnya, saya mau ke Naejangsan dan pada hari itu juga saya harus sampai ke Seoul, maka saya harus berganti-ganti kereta. Dan karena saya tidak mau dipusingkan dengan rute dan jadwal, maka dari itu KTX menjadi pilihan utama saya dan jadilah saya membeli KRPass 1 hari itu. Sebenarnya dengan pembatalan ke Naejangsan, perjalanan saya lebih simple, saya hanya perlu tiket Dong Daegu ke Seoul. Tetapi semenit, dua menit petugas perempuan di depan saya masih tetap memencet-mencet keyboardnya. Ah, lagi! Tanda-tanda buruk di depan mata, sesuatu yang tak semudah membalikkan telapak tangan…

Benarlah! Ia meminta saya menunggu sebentar, lalu pergi dan tidak berapa lama ia kembali bersama seorang perempuan lain yang seperti supervisornya. Sang Supervisor memperhatikan e-ticket saya, lalu berbicara dengan petugas tadi dalam bahasa Korea yang tidak bisa saya mengerti. Blah-blah-blah… Sang Supervisor memencet-mencet keyboard lalu kembali ia meminta saya menunggu dengan manis. “Anything wrong?” tanya saya ketar-ketir. Di kiri kanan antrian sudah bergerak banyak dan di belakang saya mulai tak sabar. Dia tersenyum menggeleng dan pergi meninggalkan saya.

Saya agak putus asa menyaksikannya pergi  namun agak tenang melihatnya kembali lagi dengan buku notes di tangan. Ia meminta saya pindah ke counter yang paling ujung sehingga tidak mengganggu antrian di belakang saya. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, saya menurut saja. Kemudian Sang Supervisor itu membuka terminal dan mulai membaca buku catatan yang dibawanya. Membiarkan saya menyaksikan semua itu. Hmmm… ia membaca ke buku ‘manual’nya, lalu ke terminal, memencet keyboard lagi, membaca lagi. Dan seorang perempuan lain lagi bergabung membantu. Luar biasa, untuk penukaran e-ticket KRPass saya itu sampai 3 orang yang melayani. Entah kenapa, pikiran saya terbang ke saat-saat memberikan pelatihan di kantor, muka bingungnya terlihat serupa. Dalam sekejap saya berkesimpulan bahwa di Daegu jarang yang menukarkan e-ticket KRPass. Mungkin jamak di Seoul atau Busan, tetapi mungkin tidak banyak di tempat selain dua kota itu.

Stasion KTX Daegu, Korea Selatan
Stasion KTX Daegu, Korea Selatan

Akhirnya kesabaran saya menunggu berbuah juga, berhasil mendapatkan KRPass dan mendapat tiket kereta KTX ke Seoul. Sambil menunggu kereta dan menenangkan hati yang lagi-lagi diberikan kejutan pagi,  saya mencari sarapan roti baguette. Karena sejak kecil dicekoki dengan makanan setipe satu ini, akibatnya kalau belum ketemu roti, rasanya belum sarapan!

KTX, si kereta berhidung aneh

Kemudian jelang waktu keberangkatan, saya melangkah menuju peron menunggu si kereta dengan hidung aneh ini datang. Berbeda dengan rel Shinkansen di Jepang yang terdiri dari 3 rel paralel, rel KTX ini tampak tidak berbeda dengan rel kereta biasa dengan dua bilah besi paralel walaupun secara teknologi mungkin berbeda spesifikasinya. Berdasarkan informasi wiki, infrastrukturnya didisain agar kereta dapat berjalan baik dengan kecepatan hingga 350km/jam. Hebat…

Tidak perlu lama menunggu, kereta saya pun datang dan naiklah saya ke kereta super cepat buatan Korea ini. Disebelah saya duduk seorang bapak dengan tampang eksekutif yang tampaknya tak mau diajak bicara karena sibuk dengan catatan-catatannya. Mungkin lebih baik, karena saya juga ingin melanjutkan tidur di kala bosan melihat pemandangan keluar jendela.

Perkiraan mendapatkan pemandangan indah sepanjang perjalanan tidak tercapai karena yang terlihat kebanyakan hanyalah pagar tembok batas kereta, kadang sisi belakang perumahan kota. Sedikit sekali pemandangan gunung dengan warna musim gugurnya. Entahlah, mungkin saya sedang tertidur saat pemandangan indah terhampar.

Yang ajaib, saya berharap di gerbong kereta terdengar informasi suara saat memasuki stasion kota-kota besar yang disampaikan dalam bahasa Inggeris, selain Korea tentu. Tetapi dalam gerbong KTX yang saya naiki ini sama sekali tidak terdengar bahasa Inggeris, hanya bahasa Korea. Wow! Saya hanya membaca satu persatu nama-nama stasion ketika kereta berhenti. Itupun jika tidak tertidur. Sebuah hal yang sangat mendasar, bagaimana mungkin dalam gerbong kereta yang ditujukan sebagai pendukung utama turisme Korea tidak disampaikan dalam bahasa internasional? Padahal harga tiketnya mahal dan dijual di luar Korea! Entahlah, tetapi pada hari itu, sejak dari Stasion  Daegu hingga mencapai Seoul Station, tidak ada satupun bahasa Inggeris terdengar dari loudspeaker di gerbong saya. <Catatan: tetapi ketika menggunakan kereta dengan kelas yang lebih rendah menuju Suwon, saya mendengar informasi yang disampaikan dalam bahasa Inggeris!>

Akhirnya KTX sampai di Seoul Station
Akhirnya KTX sampai di Seoul Station

Untunglah, saya selamat sampai di Seoul Station, station di Seoul dimana semua penumpang berhenti dan turun. Jika tidak, mungkin kejadian salah turun stasion seperti ketika di Thailand akan terulang lagi (klik disini kalau mau baca pengalaman salah turun stasion di tengah malam).

When I Smell the Fragrance of Heaven in Bulguksa Temple…


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mid-day in Gyeongju, South Korea…

When the local bus stopped at Bulguksa and the visitors got off the bus, it didn’t mean they had arrived at the temple. Actually all visitors should walk around 200m uphill along a nice walkway to reach the ticket booth. Then walk along a natural path to the temple’s gate.  But while walking the beautiful scenery will surround us in 360. Seems the Koreans love to build temples and monasteries in harmony with the mountains since long time ago.

The walkway was comfortably made, wide and neat, with food or souvenir stalls in each side. The beautiful autumn scenery with red and yellow maple leaves with fresh atmosphere and the happiness of family picnics on the greenery grass removed the tiredness of walking.

And after walking for a while, finally I reached the iconic stone with UNESCO World Heritage Site symbol on it in Roman and Hangul. Bulguksa Temple itself was designated as a World Cultural Asset by UNESCO in 1995, which is home to many important cultural relics.

My heart smiled when I stepped into the natural path, sensing the aura of beauty. A picturesque pond welcomed me with autumn colored trees around it and the motionless water showed its total reflection. Very beautiful. It’s Bulguksa! As the name indicates, it was designed as a realization of the blissful land of the Buddha in the present world. It was intended to be the happy land where all beings are released from the suffering by following Buddha’s teachings. Meaning, the temple had to be not only faithful to Buddha’s teachings but beautiful as well. It works, I felt it.

I stopped for a while in the gate with four statues of heavenly gods inside as temple’s guardians, watching some Koreans gave a slight bow to each god with both palms met in front of the chest, some others passed as nothing was important. From the gesture and the intimidating stares of the gods, they looked like asking me the reason going to Bulguksa. Hmm.. I thought of this Korean trip. Bulguksa Temple was in my bucket list since my first plan going to South Korea last year. But it’d never happened because of the warming political situation between North and South Korea in the first quarter of 2013. I had to cancel the trip although all was ready. Well, no regret at all, there’s price I had to pay for extending my trip in Japan instead of going to South Korea at that time. Fortunately I got the beautiful chance to go in autumn. In November 2013 my dream came true, arrived in Bulguksa temple, -a complex of beautiful wooden buildings and stone pagodas built upon decorative stone terraces-, and here I was standing on my own feet.

It was a heartwarming moment, like a kid got unexpected gift. I walked slowly, enjoying moments in this representative relic of Gyeongju, and was known worldwide for the amazing details and the touch of stone relics.  In front of my own eyes, I saw the famous White Cloud and Blue Cloud Bridge which are the thirty-three stone-stairs adorned with elaborate railings, -which symbolize the thirty-three heavens-, that originally to reach the elevated compound of the temple.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Then after a while, avoiding the crowds of people at Tourist Information hut, I went to a small shrine on the right side which was less people visited but interesting. There were stone tub filled with water for purifying all beings before praying. Looking at the tub with lotus petals in each foot and details where the water comes out, reminded me of Yoni, as one pair with Lingam in Hinduism.

I walked slowly and entered the main yard from the right side of the temple. The long wooden terrace was so lovely with adorned detail pillars and roof. I closed my eyes and took a deep breath trying to absorb all the beauty of the temple. My mind was flying back many centuries ago, giving me a flash of its history. Originally called Hwaeombeomnyusa or Beopryusa Temple, a small wooden temple, -built in 528 during the reign of King Beop-Heung-, was for the Queen to pray for the welfare of the kingdom. It took hundreds years to be redeveloped. The current temple was built by Kim Dae-Seong, -a devoted believer and the architect of the original temple with a remarkable eye for beauty and legendary reincarnated into the prime minister-, in 751 during the reign of King Gyeong-Deok and completely built in 774. After that the temple logged a long history of reconstructions and numerous renovations from the Goryeo Dynasty to the Joseon Dynasty included burned down during the Imjin Waeran war following Japanese Invasion in the end of 16th century. Then it was reconstructed again in 1604 during the reign of King Seon-jo of the Joseon Dynasty and had continuous renovation for 200 years.

The chitchat of other visitors woke me up from the daydreaming and realized that I’d been on the land of Seokgamoni Buddha as part of the temple’s main yard. Actually Bulguksa’s cloistered sanctuary is divided into two, the land of Seokgamoni Buddha and the land of Amitabha, means the Buddha of Boundless Light. The land of Seokgamoni Buddha, -the impure land-, is larger and higher than Amitabha’s, the pure one. Some said that Seokgamoni, or Sakyamuni, is praised as the more noble to appear in the mundane world out of his great compassion.

One of the buildings in the land of Seokgamoni Buddha is Daeungjeon, hall of great enlightenment, which enshrines a gilt-bronze Buddha and is the main hall for worshiping. The other important one is  Musolijeon, the Hall of No Discourse, as the lecture hall.

But I was amazed with view in front of me. Between Daeungjeon and Jahamun (Mauve Mist Gate), stand the famous pagodas, Tabotap, the Pagoda of Many Treasures, and the other should be the Seokgatap (the Seokgamoni Pagoda). Unfortunately on my visit, the sacred Seokgatap was being under 3 years restoration.

I walked into the Jahamun, the Mauve Mist Gate that is full of delicate detailed decoration on the wooden roof and pillars. Jahamun was the gate for people to reach Daeungjeon from the outside by using staircases. But considering the age and value, visitors cannot use the staircases anymore.

The staircases, although they are called as bridges, have deep meaning. The staircase which is in the lower part is Cheongungyo or Blue Cloud Bridge and has 17 steps. The staircase which is in the upper part is Baegungyo or White Cloud Bridge and has 16 steps. These staircases symbolically connect the earthly world below and the world of Buddha above. In the other version, some wise people said that the staircases are the symbol of man’s journey from youth to old age.

Back to the land of Seokgamoni Buddha,  among the many treasures of Bulguksa, the famous pagoda pair in the main yard have an unmatched reputation. Seokgatap and Tabotap, have stood for over 12 centuries surviving the flames of war that engulfed all of the temple’s original wooden structures. And it’s surprising me that a legend inspires the arrangement of them. When Seokgamoni preached the Lotus Sutra, the pagoda of Prabhutaratna emerged out of the earth in witness of the greatness and truth of his teaching. Some other said that both pagodas are the manifestations of the Buddha’s contemplation and detachment from the world. Because of the legend and amazing history of them, none of thousands pagodas scattered across South Korea surpass those two pagodas for the philosophical depth. 

Seokgatap

Based on many sources, Seokgatap, or the Seokgamoni Pagoda, represents the finest traditional style of Korean Buddhist pagodas that was inspired from China’s one. As proven by many people, the three-story pagoda is admired for its proportions, simple with minimal decoration but graceful style. Unfortunately I was not able to see the glorious height of Seokgatap because of its current restoration process.  However, during restoration when the second roof was removed, it’s showed a gilt bronze casket containing, for those who believe, was the relics of Sakyamuni.

It was like in 1966, during repairing a collection of precious treasures was found in the Seokgatap. They included a paper scroll of the Pure Light Dharani Sutra, printed between 706 and 751. The scrolling Sutra, 6m long 7cm wide, was one of the world oldest printed materials. The other treasures found were three sets of beautiful decorated relic containers including a gilt-bronze box in elaborate openwork, a gilt-bronze box with a fine engraving of bodhisattvas and heavenly gods, and a glass bottle containing 46 grains of holy relics. No wonder Seokgatap is so sacred.

Beside the sacredness of Seokgatap, I was told about its legend. Among the Koreans, Seokgatap is also called as the Pagoda without Reflection. It referred to the sad legend of Asanyeo, wife of the Asadal, who built this pagoda. The poor woman came to Gyeongju to see her husband as years had gone without any news. At that time, no outsiders were allowed to come into the holy site and she had to wait by a pond near the temple until the the water showed a reflection of the pagoda. But that reflection was never showed up, she gave up waiting in vain and finally she threw herself into the pond.

Tabotap

This beautiful pagoda is symbolizing Prabhutaratna Buddha, -the one that emerged out of the earth in witness of the greatness and truth of Seokgamoni’s teaching. The highly ornate pagoda representing the skill of Silla’s craftsmanship, looks like a shrine with railings supported by a square slab roof on four pillars, and seems unbelievable that was constructed of stone. Those pillars stand on an elevated platform approached by four staircases in each side with 10 steps, symbolizing the 10 paramitas, or great virtues in Buddhism.

Considering the name of Tabotap which is called as Pagoda of Many Treasures, there was no record about the treasures found inside it.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Slowly I continued to walk to the quietness of the backyard by using a steep stairs. I saw here Gwaneumjeon or Avalokitesvara’s Shrine, the Boddhisattva of Perfect Compassion. It is called as the shrine of the One who Listens to the Cries of the World. I noticed that few people worshiped here. Perhaps it was a good sign that most Koreans had solved their own problems.

From Gwaneumjeon, I had to go downstairs for reaching Birojeon. It was similar with the adjacent building with more people worshiped. Birojeon is the hall in which enshrined the Golden Bronze Vairocana Buddha Sitting Statue, which was believed for the Truth, Wisdom and Cosmic Power. At the corner of Birojeon’s yard, there is a small building which houses the Sarira or Relic Stupa.

Leaving Birojeon then passing the Beophwajeon, -the area of stone foundation-, and my journey in Bulguksa was approaching the land of Amitabha, the pure land with Geungnakjeon or the Paradise Hall as the main hall. From many resources, Amitabha, -who vowed that all who believed in him and   called upon his name would be born into his paradise-, has a broad following among Koreans. It’s proven by lots of fresh beautiful and colorful flowers arranged in front of this hall and of course, the crowds in the Shrine. In front of this main hall, stand the Anyangmun Gate -the Pure Land Gate- and a big golden mouse statue in between.

Similar to Jahamun Gate in the eastern of the temple, Anyangmun Gate in the western part was the gate for people to reach Geungnakjeon from the outside by using staircases. But, again, considering the age and value, of course visitors are not allowed to use the staircases anymore.

These are 18-step stone staircases, the lower part of staircase called Yeonhwagyo or Lotus Flower Bridge and has 10 steps. Long time ago, this staircase was graced by the delicate lotus blossom carvings. The upper part of the staircase called Chilbogyo or Seven Treasure Bridge and has 8 steps. It is said that only those who reached enlightenment could use these stairs. Although these structures are smaller than the eastern one, both are similar in design and structure form.

My journey in Bulguksa was almost completed. I stopped for a minute in a building that stores a big heavy bell. My mind flew back again centuries ago and the sound of the bell heard over every corners of the temple, waking up the monks in grey robe to start the day with their daily routines.

Then I was back again in the front yard of Bulguksa Temple in the western side. From this corner people usually take the picturesque Bulguksa Temple in Autumn, with red and yellow colorful trees. My eyes absorbed the beauty in front of me. This was truly heaven on earth.

From the western corner I walked slowly to face the central façade of the temple. I saw Beomyeongnu or the Overflowing Shadow Pavillion, an elevated center building between Anyangmun and Jahamun Gate and originally constructed in mid of 8th century for placing the Dharma Drum. Its shape represents of Mt. Sumeru, an imaginary mount considered to be in the center of the universe in Buddhist cosmology. The current structure was restored in 1973, which is smaller than the original. Particularly unique are the stacked pillars, using 8 differently nice shaped stones and their placement, facing each of the four cardinal directions. The workers seemed in meditative state when putting the stones into the arrangement. 

Before leaving Bulguksa, I sat facing the temple and enjoyed the view. Closing my eyes and imagined a lotus pond that once existed beneath the staircases leading up to the main courtyard gave a fresh atmosphere. Seems I could smell the fragrance of heaven here…