Menuju Seoul dengan ‘Shinkansen’-nya Korea


Pagi jelang siang di Daegu

Sambil memejamkan mata, saya mengucap selamat berpisah kepada kamar penginapan yang telah menjadi saksi diam atas pengalaman spiritual penuh emosi semalam sekembalinya saya dari Haeinsa (klik disini kalau mau baca). Tiga kota Korea Selatan yang telah mengharubiru hati sudah terlewati dalam perjalanan ini dan tiba saatnya untuk berpindah kembali.

Semalam, diantara airmata bahagia yang tumpah dan pengalaman-pengalaman luar biasa selama perjalanan ini, sebuah  keputusan harus ditetapkan. Saya harus menghapus trip ke Naejangsan National Park. Taman Nasional Naejangsan, yang terkenal keindahannya saat musim gugur bukan menjadi rejeki saya untuk dikunjungi kali ini. Waktunya tidak akan cukup untuk sampai juga ke Suwon dan Seoul pada hari yang sama. Dan kalaupun dipaksakan juga, kunjungan terburu-buru ke Naejangsan pastilah tidak menyenangkan. Itupun kalau lancar dan tidak tersesat! Mudah-mudahan ada kesempatan lagi untuk bisa berkunjung kesana di lain waktu.

KTX Kereta Super Cepat Korea Selatan
KTX Kereta Super Cepat Korea Selatan

Membatalkan pergi ke Naejangsan adalah satu hal, tetapi hari itu untuk bisa sampai ke Seoul dari Daegu dengan selamat adalah hal lain yang berbeda sama sekali. Berdasarkan pengalaman-pengalaman mengejutkan sejak hari pertama tiba di Korea Selatan, hal sekecil apapun bisa menjadi hal yang prosesnya tak semudah membalikkan telapak tangan. Tentu saja kejutan seperti itu benar-benar bisa membuat cemas, deg-deg-an, hati ketar-ketir atau apapun seperti itu. Dan… hal sepele itu termasuk mengurus tiket kereta super cepat Korea Selatan, Shinkansen-nya Korea, yang disebut KTX.

Setelah check-out, dengan menggendong ransel saya berjalan kaki ke station Dong Daegu, yang terintegrasi dengan stasion KTX, kereta api super cepat Korea Selatan. Beberapa toko roti yang saya lewati menebarkan aroma harum menggugah perut yang berontak belum sarapan. Karena tidak mau teralihkan dengan wangi harum itu, saya memaksa diri menggunakan kacamata kuda, meneruskan langkah menuju stasion kereta. Tukar tiket KTX dulu baru sarapan, demikian yang saya teriakkan kepada si perut.

Lagi! Di Stasion KTX

Stasion KTX di Daegu cukup megah. Sebagai orang yang sudah tercemar dampak dunia kapitalis konsumtif, saya merasa kembali ke peradaban modern ketika memasuki gedung station KTX setelah semalam sebelumnya berkutat di Gayasan National Park. Modernitas telah mengangkat rasa optimisme saya.  Merasa ‘hidup’ dengan atmosfer kesibukan kerja, penuhnya kios-kios kopi dan makanan dengan para profesional. Ah, sepertinya saya sedang mendekat pada dunia yang saya kenal, seharusnya semua akan berjalan normal, demikian perasaan saya berkata.

Lorong menuju Main Hall Stasion KTX Daegu
Lorong menuju Main Hall Stasion KTX Daegu

Seperti seekor doggie yang menandai daerah jelajahnya, saya berjalan mengelilingi station KTX dari ujung ke ujung, hanya supaya mengetahui situasi dan kondisinya di station Daegu. Setelah puas, saya kembali ke arah counter untuk menukarkan E-ticket KRPass 1 day yang saya miliki. Semoga lancar.

Setelah mengantri pada antrian yang terpendek, sampai juga giliran saya ke depan counter. Saya serahkan print-out e-ticket sebagai bukti pembayaran dan paspor. Perempuan di balik counter hanya bertanya, “1 day Pass, today?” Saya mengangguk, menjawab, “Yes. Today. To Seoul Station” Kemudian dia sibuk dengan komputernya. Jam pasir mulai bergulir.

Seperti juga JRPass di Jepang, KRPass adalah kartu transportasi yang khusus untuk oleh turis asing dan dibeli di luar negara korea, untuk digunakan tanpa batas pada kereta-kereta api yang tergabung dlm Korail, kecuali subway dan kereta turis. KR Pass tersedia dalam beberapa periode, 1, 3, 5, 7 atau 10 hari dengan berbagai variasi harga.

KR Pass seukuran kartu nama & Ticket Kereta
KR Pass seukuran kartu nama & Ticket Kereta

Saya membeli KRPass 1 hari secara online karena pertimbangan kemudahan dan kecepatan mendapatkan transportasi dalam sehari sesuai rencana awal perjalanan saya. Awalnya, saya mau ke Naejangsan dan pada hari itu juga saya harus sampai ke Seoul, maka saya harus berganti-ganti kereta. Dan karena saya tidak mau dipusingkan dengan rute dan jadwal, maka dari itu KTX menjadi pilihan utama saya dan jadilah saya membeli KRPass 1 hari itu. Sebenarnya dengan pembatalan ke Naejangsan, perjalanan saya lebih simple, saya hanya perlu tiket Dong Daegu ke Seoul. Tetapi semenit, dua menit petugas perempuan di depan saya masih tetap memencet-mencet keyboardnya. Ah, lagi! Tanda-tanda buruk di depan mata, sesuatu yang tak semudah membalikkan telapak tangan…

Benarlah! Ia meminta saya menunggu sebentar, lalu pergi dan tidak berapa lama ia kembali bersama seorang perempuan lain yang seperti supervisornya. Sang Supervisor memperhatikan e-ticket saya, lalu berbicara dengan petugas tadi dalam bahasa Korea yang tidak bisa saya mengerti. Blah-blah-blah… Sang Supervisor memencet-mencet keyboard lalu kembali ia meminta saya menunggu dengan manis. “Anything wrong?” tanya saya ketar-ketir. Di kiri kanan antrian sudah bergerak banyak dan di belakang saya mulai tak sabar. Dia tersenyum menggeleng dan pergi meninggalkan saya.

Saya agak putus asa menyaksikannya pergi  namun agak tenang melihatnya kembali lagi dengan buku notes di tangan. Ia meminta saya pindah ke counter yang paling ujung sehingga tidak mengganggu antrian di belakang saya. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, saya menurut saja. Kemudian Sang Supervisor itu membuka terminal dan mulai membaca buku catatan yang dibawanya. Membiarkan saya menyaksikan semua itu. Hmmm… ia membaca ke buku ‘manual’nya, lalu ke terminal, memencet keyboard lagi, membaca lagi. Dan seorang perempuan lain lagi bergabung membantu. Luar biasa, untuk penukaran e-ticket KRPass saya itu sampai 3 orang yang melayani. Entah kenapa, pikiran saya terbang ke saat-saat memberikan pelatihan di kantor, muka bingungnya terlihat serupa. Dalam sekejap saya berkesimpulan bahwa di Daegu jarang yang menukarkan e-ticket KRPass. Mungkin jamak di Seoul atau Busan, tetapi mungkin tidak banyak di tempat selain dua kota itu.

Stasion KTX Daegu, Korea Selatan
Stasion KTX Daegu, Korea Selatan

Akhirnya kesabaran saya menunggu berbuah juga, berhasil mendapatkan KRPass dan mendapat tiket kereta KTX ke Seoul. Sambil menunggu kereta dan menenangkan hati yang lagi-lagi diberikan kejutan pagi,  saya mencari sarapan roti baguette. Karena sejak kecil dicekoki dengan makanan setipe satu ini, akibatnya kalau belum ketemu roti, rasanya belum sarapan!

KTX, si kereta berhidung aneh

Kemudian jelang waktu keberangkatan, saya melangkah menuju peron menunggu si kereta dengan hidung aneh ini datang. Berbeda dengan rel Shinkansen di Jepang yang terdiri dari 3 rel paralel, rel KTX ini tampak tidak berbeda dengan rel kereta biasa dengan dua bilah besi paralel walaupun secara teknologi mungkin berbeda spesifikasinya. Berdasarkan informasi wiki, infrastrukturnya didisain agar kereta dapat berjalan baik dengan kecepatan hingga 350km/jam. Hebat…

Tidak perlu lama menunggu, kereta saya pun datang dan naiklah saya ke kereta super cepat buatan Korea ini. Disebelah saya duduk seorang bapak dengan tampang eksekutif yang tampaknya tak mau diajak bicara karena sibuk dengan catatan-catatannya. Mungkin lebih baik, karena saya juga ingin melanjutkan tidur di kala bosan melihat pemandangan keluar jendela.

Perkiraan mendapatkan pemandangan indah sepanjang perjalanan tidak tercapai karena yang terlihat kebanyakan hanyalah pagar tembok batas kereta, kadang sisi belakang perumahan kota. Sedikit sekali pemandangan gunung dengan warna musim gugurnya. Entahlah, mungkin saya sedang tertidur saat pemandangan indah terhampar.

Yang ajaib, saya berharap di gerbong kereta terdengar informasi suara saat memasuki stasion kota-kota besar yang disampaikan dalam bahasa Inggeris, selain Korea tentu. Tetapi dalam gerbong KTX yang saya naiki ini sama sekali tidak terdengar bahasa Inggeris, hanya bahasa Korea. Wow! Saya hanya membaca satu persatu nama-nama stasion ketika kereta berhenti. Itupun jika tidak tertidur. Sebuah hal yang sangat mendasar, bagaimana mungkin dalam gerbong kereta yang ditujukan sebagai pendukung utama turisme Korea tidak disampaikan dalam bahasa internasional? Padahal harga tiketnya mahal dan dijual di luar Korea! Entahlah, tetapi pada hari itu, sejak dari Stasion  Daegu hingga mencapai Seoul Station, tidak ada satupun bahasa Inggeris terdengar dari loudspeaker di gerbong saya. <Catatan: tetapi ketika menggunakan kereta dengan kelas yang lebih rendah menuju Suwon, saya mendengar informasi yang disampaikan dalam bahasa Inggeris!>

Akhirnya KTX sampai di Seoul Station
Akhirnya KTX sampai di Seoul Station

Untunglah, saya selamat sampai di Seoul Station, station di Seoul dimana semua penumpang berhenti dan turun. Jika tidak, mungkin kejadian salah turun stasion seperti ketika di Thailand akan terulang lagi (klik disini kalau mau baca pengalaman salah turun stasion di tengah malam).

Mencicipi Ruang Publik Di Gyeongju, Korea Selatan

Bangku Taman Gyeongju

Masih di hari kedua saya di Korea Selatan, tengah hari saya tiba di Gyeongju, sebuah kota kecil sekitar 1 jam berkendara dari Busan (Baca seru dan heboh perjalanannya di sini). Dengan menggendong daypack, saya meninggalkan guesthouse dan menelusuri trotoar menuju Gyeongju Station, stasion kereta api. Orang di guesthouse menyarankan untuk Bulguksa Temple, -destinasi utama saya di Gyeongju-, dapat menggunakan bus nomor 10 atau 11 dan halte busnya ada di depan Geongju Station. Saya melewati ujung lorong pasar tradisional Gyeongju, yang ketika saya intip, terasa lengang. Mungkin karena hari sudah beranjak siang.

Warna Musim Gugur Menuju Bulguksa Temple
Warna Musim Gugur Menuju Bulguksa Temple

Di perempatan saya menyeberang menuju stasion kereta api Gyeongju dan mampir sebentar di Tourist Information Center yang ada di depannya untuk mengambil peta Gyeongju dan petunjuk arah bus. Kemudian menyeberang lagi ke halte bus dan menunggu beberapa saat hingga bus yang dimaksud datang. Sambil menanti kedatangan bus, saya perhatikan keadaan sekitarnya. Menyedihkan, karena  semua informasi di halte bus hanya dalam Hangul yang tidak bisa saya baca. Kemudian saya perhatikan lagi bahwa semua kendaraan yang lewat di depan saya, hampir semua made in Korea Selatan, taksi-taksinya tampak masih baru walaupun pengemudinya rata-rata berusia lanjut. Penduduk Gyeongju, cukup tertib dengan lampu lalu lintas walaupun tidak tampak seorang polisi di situ. Yang menanti di halte bus kebanyakan pelajar dan remaja, mungkin karena hari Sabtu, mereka memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan.

Tak lama kemudian bus datang dan setelah memasukkan koin Won ke dalam box di dekat supir, saya masuk ke dalam. Untunglah seorang pelajar berbaikhati menggeserkan badan menyediakan tempat duduk untuk saya. Bus umum di Gyeongju seperti bus-bus umum di Indonesia, ada yang duduk dan banyak yang berdiri. Lagi-lagi saya teringat bahwa di Korea Selatan bukanlah hal yang aneh bila bus padat oleh penumpang. Terbersit di benak saya, bahkan di sebuah negara maju pun, orang masih berjubel di bus umum. Betapa transportasi publik yang nyaman semakin dibutuhkan dimana-mana.

Saya naik bus umum ini pakai iman (istilah saya untuk ‘pasrah mode’) artinya, saya hanya mengandalkan telinga untuk mendengar bahwa saya harus turun di Bulguksa. Dan pada suatu tempat, ketika bus berhenti di sebuah halte saya membaca bahwa di halte itu tertulis Bulguksa. Melihat banyak orang yang turun, saya sempat bersiap-siap turun. Tetapi entah mengapa, saya bertanya dulu  kepada pelajar di sebelah saya, apakah benar ini menuju Bulguksa Temple? Dia menggeleng sambil menjelaskan dengan bahasa Inggeris yang cukup bisa dimengerti. Bahkan dia mengatakan, masih beberapa halte lagi dan dia akan memberitahu saya jika sudah sampai nanti. Ah, saya bertemu lagi dengan orang baik. Dan memang benar setelah melewati tempat-tempat yang berbau resort, bus akhirnya berhenti dan pelajar di sebelah memberitahu bahwa saya harus turun di sini. Lepas dari bus, di hadapan saya terbentang bukit luas dan terdapat petunjuk ke Bulguksa Temple. Kamsahamnida my friend… Untuk sepotong rute di  Gyeongju, saya terselamatkan di transportasi publik: bus umum!

Saya mulai melangkahkan kaki menuju Bulguksa Temple melalui jalan mendaki yang di sebelah kiri kanannya terbentang taman-taman yang tertata rapi. Kuil yang merupakan salah satu UNESCO World Heritage Site di Korea Selatan ini termasuk yang sangat diminati oleh wisatawan domestiknya. Saya akan posting tentang Bulguksa Temple ini terpisah. Tidak hanya keluarga yang mengunjunginya tetapi juga pasangan remaja. Semua tampak berbondong-bondong berjalan ke atas bukit. Mungkin saja mereka tidak masuk ke kuilnya, dan hanya bersantai di taman-tamannya. Korea Selatan memang saya acungi jempol untuk penyediaan ruang publik berupa taman yang nyaman. Dengan beralaskan tikar, mereka bisa berpiknik bersama seluruh anggota keluarga tercinta. Anak-anak berlari-lari berkejaran sementara pasangan-pasangan tampak berdekatan berduaan merancang masa depan.

Jalan Kaki Menuju Bulguksa Temple
Jalan Kaki Menuju Bulguksa Temple

Saya mengunjungi Bulguksa Temple yang indah dan sekembalinya dari sana tampak antrian panjang mengular di halte bus. Rasanya tidak mungkin saya menunggu bus untuk sampai tepat waktu di destinasi  berikutnya. Setelah menimbang-nimbang akhirnya saya memutuskan untuk naik taksi daripada menunggu bus.

Ketika masih di Indonesia, seorang kawan telah mengingatkan untuk tidak menggunakan taksi di Korea Selatan, karena mahal. Tetapi apa boleh buat, saya harus pergi ke destinasi berikutnya. Sang pengemudi tampak senang ketika saya bilang mau ke Cheomseongdae. Lagi-lagi saya pakai iman untuk menggunakan taksi. Saya tidak tahu rute terdekat dari Bulguksa ke Cheomseongdae. Argo sudah bertambah ketika akhirnya sampai ke jalan besar yang tampak padat. Sang pengemudi mengatakan dalam bahasa Korea campur Inggris yang terbatas ‘traffic not OK’ berkali-kali. Dari bahasa tubuhnya, tampak ia tidak senang dengan lalu lintas yang macet. Ia minta ijin untuk memutar dengan jalur yang lebih kosong. Saya memahami dan setuju agar ia mengambil jalan yang lebih kosong. Hahaha, saya menyadari ketololan saya, karena pada akhirnya ujung jalan itu tetap macet dan saya harus membayar ongkos jalan yang memutar dan pastinya lebih mahal. Terlebih lagi, bukannya menurunkan di Cheomseongdae, ia menyarankan saya untuk turun di Anapji Pond yang berada “tidak jauh versi Korea” dari Cheomseongdae, karena lalu lintas macet total. Bodohnya lagi, saya setuju! Hahaha… Akhirnya saya turun di Anapji Pond yang kilometernya lebih dekat daripada ke Cheomseongdae tapi saya membayar ongkos yang lebih mahal karena jalan yang memutar. Berdiri di depan Anapji Pond, saya tergelak dalam hati. Kamsahamnida Pak Sopir Taksi, sudah menambah cerita tentang transportasi umum di Gyeongju.

Hari sudah beranjak malam ketika saya selesai mengunjungi Anapji Pond, namun tentu saja saya mau ke Cheomseongdae yang terkenal itu. Di peta, Cheomseongdae berada di depan Anapji Pond, walaupun dalam kenyataannya harus jalan kaki beratus-ratus meter untuk sampai. Jadilah saya menyeberang jalan raya mengikuti the crowd, sekumpulan orang yang sedang berjalan di depan, yang menurut intuisi saya juga menuju Cheomseongdae.

Tidak lama mengikuti the crowd hingga ke seberang, sebagian dari mereka berpisah. Sebagian melanjutkan jalan di trotoar yang terang benderang dan sebagian lagi berbelok ke kiri menembus jalan tanah yang lebih gelap. Mampuslah saya! Saya harus berpikir cepat. Seingat saya, Cheomseongdae berada di tengah taman sehingga saya mengambil rombongan yang berbelok ke kiri, dan itu juga berarti saya jalan kaki sendirian ke tempat yang lebih gelap. Aahh… travel solo kali ini, memang seru sekali!

Taman yang saya jelajahi ini sebenarnya merupakan ruang publik yang bagus dan indah, tapi jika datang saat matahari masih muncul! Kalau sudah tenggelam, ruang publik ini menjadi serupa seperti ruang publik dimana-mana. Penerangan hanya cukup di tempat-tempat strategis, tetapi selebihnya gelap. Ada bangku-bangku taman dengan penerangan yang tidak berlebihan. Untuk jalan kaki di jalur setapaknya masih bisa terlihat, tetapi harus dengan mata yang lebih sensitif terhadap cahaya redup. Kalau istilah fotografi, katanya ISOnya harus lebih tinggi supaya hasilnya lebih jelas.

Sebenarnya sejak dari Anapji Pond, sebenarnya kaki sudah berteriak lelah, tetapi bukan di Korea Selatan namanya kalau kaki tidak pegal-pegal karena kebanyakan jalan kaki. Sehingga mau tidak mau, saya harus terus jalan kaki. Perut juga sudah menagih minta diisi. Tetapi semua permintaan tubuh itu belum bisa saya penuhi. Di tengah penjalanan ketika Cheomseongdae sudah terlihat indah, -sekitar 500meter lagi-, saya menikmati fasilitas yang ada di taman itu, duduk!

Bangku Taman Gyeongju
Bangku Taman Gyeongju

Di seberang jalan setapak, tampak sepasang remaja sedang bercengkerama, dan tidak jauh di hadapan saya ada seorang bapak bercelana training sedang asik merenggangkan badannya. Walaupun sudah lanjut usia, ia tampak fit dan lentur. Sebentar dia merenggangkan ototnya lalu melanjutkan berjalan lagi. Di Korea, terutama di taman-taman publik, saya sering melihat orang-orang berolahraga, tidak peduli udara musim gugur yang lumayan dingin. Buat saya ini luar biasa, taman yang sedang saya duduki ini, bukan taman yang terang, walaupun bukan juga taman yang gelap total. Namun masih banyak orang yang beraktivitas dan berolahraga. Sambil menikmati keadaan sekitar, akhirnya saya memenuhi kebutuhan perut juga. Ayam goreng tanpa tulang yang saya beli di Busan kemarin (kalau belum baca proses terbelinya ayam itu di Busan, baca disini ya), akhirnya saya santap habis di taman Gyeongju ini. Ah, memang menyenangkan sekali berada malam-malam di taman publik di Gyeongju ini.

Sambil makan di tengah keremangan malam, tiba-tiba saya seperti tersadarkan. Taman tempat saya duduk ini, -ruang publik ini-, sebenarnya merupakan bagian dari Tumuli-tumuli yang berserakan seantero Gyeongju. Tumuli, atau gundukan-gundukan besar yang terlihat langsung di hadapan saya ini sebenarnya merupakan… Kuburan! Yah, siapapun yang dikubur di dalamnya, raja atau petinggi kerajaan, tetaplah dulunya seorang manusia yang sekarang sudah meninggal! Tiba-tiba udara terasa lebih dingin menusuk tulang sehingga saya merapatkan jaket. Mengapa tiba-tiba saya jadi teringat film China yang orang matinya hidup kembali dan lompat-lompat yaa? Aduh.. lalu benarkah si kakek tadi manusia? Cepat saya menutup day-pack dan melanjutkan jalan kaki, meninggalkan kegelapan dan udara dingin…

Sekeluar dari taman saya menghadapi kenyataan bahwa tidak ada satu pun transportasi publik yang bisa saya gunakan padahal hari sudah malam. Lalu bagaimana saya pulang ke Guest-house? Saya tidak tahu rute dan nomor bus yang bisa dinaiki (dan kalaupun ada halte, rutenya tidak bisa dibaca karena dalam Hangul) dan juga di sekitar itu tidak ada taksi yang tersedia. Saya tidak melihat tempat menunggu taksi dan tidak ada informasi tentang itu di sekitar. Padahal di dekat saya terdapat batu besar bertulisan UNESCO World Heritage Site. Menyedihkan sekali! Tidak ada pilihan lain kecuali jalan kaki menyusuri trotoar, padahal kaki sudah menjerit minta istirahat. Mungkin dalam keadaan normal, jarak 2 km masih bisa dibilang dekat. Tetapi di kota kecil, di negara orang, di trotoar yang tidak kita kenal daerahnya, di malam-malam yang sepi…? Biar itu ruang publik, tetapi tetap saja terasa tidak nyaman, terasa jauh dan tidak sampai-sampai, apalagi dalam keadaan kaki sangat-sangat pegal seperti mau putus !!