Golden Triangle Yang Bukan Di Jakarta


Entah kenapa saya merasa memiliki sayap dan terbang di antara gedung-gedung tinggi di Jakarta. Di atas kawasan prestisius, yang terhubung oleh Jalan Sudirman – Jalan Thamrin – Jalan Rasuna Said dan Jalan Gatot Subroto. Gedung-gedung tinggi itu bahkan mengalahkan ketinggian tiga patung yang menjadi titik dari sebuah kawasan berbentuk segitiga, Patung Pemuda di Senayan, Patung Arjuna di dekat Bundaran Air Mancur Bank Indonesia dan Patung Dirgantara di Pancoran. Kawasan bisnis Golden Triangle yang ada di Jakarta. Gedung-gedung mewah nan tinggi itu begitu familiar meskipun terlihat kelabu yang semakin memutih samar. Dan tiba-tiba saya terguncang, semua gedung tinggi itu mendadak hilang berganti wajah…

Guncangan itu terjadi karena roda pesawat berbadan lebar itu menyentuh landasan. Rupanya saya tertidur dengan pikiran yang masih mencengkeram kuat istilah Golden Triangle. Pikiran bawah sadar itu membawa saya ke alam mimpi tentang kawasan Golden Triangle di Jakarta, meskipun destinasi saat itu bukanlah Golden Triangle yang ada di Jakarta.


Seperti umumnya maskapai nasional yang mendapat prioritas di setiap bandara, pesawat Royal Thai yang kami naiki itu juga mendapat tempat terbaik untuk parkir. Tak lama kami telah menjejak gedung terminal kedatangan Bandara Chiang Rai. Siang itu situasi bandara ramai, meskipun tidak seramai Suvarnabhumi di Bangkok tempat kami lepas landas satu setengah jam sebelumnya.

Setelah pengambilan bagasi, saya menuju tempat penyewaan mobil. Sebenarnya saya agak sedikit cemas dengan perjalanan kali itu. Bukan karena saya baru pertama kali ke Chiang Rai, melainkan karena “bersama siapa” saya melakukan perjalanan itu. Rasanya agak terbebani.

Bermula dengan rencana selesainya acara kantor di Bangkok pada hari Sabtu sebelumnya, bersama seorang teman, saya mengajukan perpanjangan 1 hari agar kami bisa ke Chiang Rai sementara kolega yang lain kembali ke Jakarta. Rencana kami melakukan get-lost di Chiang Rai disetujui dan mendadak yang memberi persetujuan itu juga mau ikut ke Chiang Rai. Dan kepastian beliau ikut, termasuk mendadak. Boss ikut? Rasanya saya langsung terjun bebas bolak-balik...

Meskipun beliau tidak menuntut yang aneh-aneh, tetap saja anak buah yang merasa tidak enak hati. Saya dan teman saya bisa mengambil gaya backpacking tetapi gaya itu tidak mungkin diterapkan untuk si boss kan? Tetapi di sisi lain, tidak mungkin juga menyamakan ke kelas si boss kan? Kantong bisa bolong langsung! Akhirnya sebisa-bisanya kami saja untuk mengambil jalan tengah, yang cukup layak baginya namun juga tidak memberatkan kami secara budget.

Itulah sebabnya kami memilih menyewa mobil dengan kelas yang lebih tinggi. Dan mobil yang datang adalah mobil sedan yang biasa dipakai menteri jaman Pak Harto berkuasa. Volvo!

Dengan volvo bergaya menteri itu kami menuju kota lalu check-in di hotel yang sederhana untuk ukuran si boss tapi termasuk mewah bagi kami. Kemudian tanpa membuang waktu, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Golden Triangle yang memakan waktu sekitar 90 menit.

Herannya, entah mata saya yang kurang berfungsi baik atau memang nyatanya jarang, kami sama sekali tidak menemukan rumah makan di sepanjang jalan menuju Golden Triangle. Saat itu saya merindukan jalur ke Puncak yang berjejer rumah makan sepanjang jalan. Akhirnya kami berhenti sejenak di sebuah minimarket yang menjual makan siang siap saji, seperti nasi ayam atau mie udang. Makannya pun sambil berdiri. Entah apa yang ada dalam benak si boss. Pasti seumur-umur beliau tidak pernah makan nasi ayam atau nasi udang sambil berdiri, di minimarket lagi!

Mentari siang itu terasa seperti membakar kulit ketika akhirnya kami sampai di Golden Triangle, sebuah kawasan pertemuan Sungai Mekong dan Sungai Ruak yang menjadi batas negara Myanmar, Thailand dan Laos. Sebuah patung Buddha dalam posisi duduk yang berkilau kuning emas tampak memenuhi pandangan. Buddha sepertinya diharapkan dapat memberi perlindungan kepada tempat itu, meskipun tidak jauh dari sungai di negara yang berbeda terdapat kasino tempat orang menghamburkan uang panas mereka.

Golden Triangle View Point
Golden Triangle

Saya tersenyum dalam hati meski tak ingin menghakimi. Entah siapa atau dari negara mana pengunjung kasino itu. Apakah warga Thailand sama sekali tidak ada yang pergi kasino? Atau hanya karena tidak terlihat saja? Rasanya tidak mungkin masyarakat Thailand bisa mengabaikan kasino yang ada di depan hidung mereka.

Meski terkenal notorious sebagai tempat produksi opium (candu) dan berbagai jenis narkotika berbahaya lainnya serta tersedianya kasino, Golden Triangle menyediakan pemandangan yang cukup menarik. Paling tidak bagi turis yang tidak berhubungan dengan aktivitas yang amat berisiko itu, masih bisa menikmati pemandangan, berperahu di sepanjang sungai Mekong, mampir ke desa pinggir sungai di negeri yang berbeda atau hanya sekedar foto-foto di view-point, yang seperti kami lakukan.

Sinar mentari terasa terik setelah kami setuju untuk menaiki boat yang cukup menampung kami bertiga. Meskipun salah waktu, perjalanan dengan perahu itu menyenangkan juga. Berkali-kali saya terkena percikan air sungai. Saat itu sih senang-senang saja, tidak sadar kami pergi dengan seseorang yang jika ada apa-apa kami bisa digantung orang sekantor 😀

Pemandangan dari Sungai Mekong berbeda dengan pemandangan di darat. Meskipun konon Myanmar termasuk negara yang miskin, saya melihat ada bangunan yang teramat cantik namun megah dengan arsitektur tradisional di sisi sungai di bagian Myanmar. Paradise Resort Golden Triangle. Tidak mungkin bersandar di sana karena bisa langsung berhubungan dengan tentara Myanmar yang pastinya tidak ramah. Konon hanya warganegara Thailand atau Myanmar yang bisa menginap di hotel megah namun sepi itu.

Paradise Resort At Myanmar side

Seperti langit dan bumi, di seberang sisi Myanmar yang ada hotel megah itu adalah sisi Laos yang tidak ada apa-apa. Hanya ada sebuah desa kecil bernama Don Sao. Di desa ini masyarakat lokal menjual beberapa souvenir khas Laos. Di tempat yang ‘menyedihkan’ ini kami bersandar sebentar. Hanya untuk menginjak bumi Laos yang dihiasi dengan bendera negara tanpa menggunakan Paspor. Kami tak bisa jalan lebih jauh dari desa Don Sao itu. Tetapi momen itu penting karena jika kami ditanya sudah pernah ke Laos, maka dengan pasti kami akan mengiyakan 😀

Beberapa biksu remaja terlihat di sekitar warung-warung yang menjual minuman dan souvenir. Kehadiran biksu di sekitar warung menunjukkan adanya kuil di sekitar desa itu. Bisa jadi kuil didirikan sebagai penetral aura atas tanah yang ‘panas’ tempat berdirinya Jungle Casino yang tak jauh dari Don Sao. Saya hanya merasa miris, di dekat kasino tempat orang menghamburkan uang panas, ada desa yang penduduknya serba kekurangan.

Ticket to Hall of Opium, Golden Triangle, Chiang Rai, Thailand

Kami tak lama di bumi Laos, karena hari semakin habis. Sekembali kami ke wilayah Thailand, langsung saja kami ke Hall of Opium. Sayang sekali tidak diperkenankan berfoto didalamnya. Tetapi di dalamnya dikisahnya sejarah opium, sebaran tanamannya, kisah-kisah pengguna opium sejak jaman dulu dan perdagangan opium. Meskipun tak bisa memiliki foto di sana, saya menikmati sekali berjalan-jalan di Hall of Opium ini, karena adem dan penerangan yang lembut. Asli membuat diri ini merindukan kasur 😀

Tak lengkap rasanya jika kita ke Chiang Rai tetapi tidak mengunjungi desa-desa dari etnis Karen yang terus menghidupkan tradisi mengenakan gelang-gelang pada lehernya sehingga lehernya menjadi panjang. Mobil Volvo berhenti di pinggir jalan lalu kami harus berjalan kaki menuju desa di atas.

The traditional dance in Chiang Rai

Kami disambut oleh tarian tradisional yang membuat kami merasa terhormat sekali. Siapalah kami ini kok sampai disambut dengan tarian? Tetapi usut punya usut, tarian untuk menyambut kami ini tidak gratis 😀 Setelahnya ada tempat donasi yang harus segera diisi. Kasihan juga, mereka menjadi salah satu wisata untuk Thailand tapi mungkin kehidupannya tak pernah lebih baik. Bahkan konon, sejarah mereka lebih banyak kelamnya.

Tak lama, kami sampai di rumah perempuan-perempuan yang bergelang di leher dan kakinya itu. Awalnya takjub sekali karena tak terbayangkan mengenakan gelang-gelang itu dalam waktu yang lama. Kami berkesempatan bicara dengan mereka dan setelah chit-chat itulah sebagai perempuan, saya merasa sedikit miris terhadap mereka yang sangat friendly terhadap tamu.

Karen long neck ladies

Tradisi yang mereka hidupkan selama ini, meskipun menjadi sebuah kekhususan, tetap saja melemahkan fisik kaum perempuan itu. Saya harus mendengarkan dengan seksama jika mereka bicara karena suara yang keluar sangat lirih dan halus, hampir tak terdengar. Tak heran, keberadaan gelang-gelang itu pastinya menekan pita suara atau struktur leher mereka. Leher mereka tak lagi kuat untuk menahan kepala mereka sendiri karean otot leher telah digantikan oleh gelang-gelang itu dalam waktu yang lama. Meskipun katanya, perempuan bergelang-gelang itu menjadi cantik, bagi saya mereka telah merusakkan tubuh aslinya.

Saya tidak pernah tahu apakah 300 bath sebagai biaya untuk masuk itu dikembalikan untuk kehidupan mereka. Karena tetap saja kehidupan mereka memedihkan.

Hari semakin sore, kami kembali ke Chiang Rai dan menikmati makan malam di sebuah restoran yang bisa ditempuh jalan kaki dari hotel. Rasanya terlalu singkat perjalanan kali ini, belum menikmati semuanya kami harus kembali ke Bangkok lalu ke Jakarta.

Tapi perjalanan kali itu memastikan saya pribadi untuk berencana menginjak kembali tanah Myanmar dan Laos secara resmi, dengan cap di paspor tentunya, yang Alhamdulillah bisa terwujud sebulan kemudian. Hanya satu bulan setelah menginjak Don Sao dan mengamati Paradise Resort di bumi Myanmar dari Sungai Mekong di kawasan Golden Triangle, saya kembali berkunjung ke Myanmar dan Laos dari pintu yang berbeda.

Chiang Rai Airport

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-38 bertema Triangle agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Yang Besar di Negeri Gajah Putih


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Thailand, sejak dulu bahkan sampai sekarang, saya masih saja mudah terpesona dengan apa yang ditawarkan Negeri Gajah Putih itu. Tidak hanya penduduknya yang ramah dan makanannya termasuk ramah di perut saya, obyek-obyek wisatanya selalu menarik.

Masih teringat saat itu, ketika pertama kali melakukan perjalanan sebagai female solo-traveller, saya memiliki kesan teramat manis akan Wat Pho. Kuil Buddha yang di dalamnya terdapat Patung Buddha Berbaring yang amat besar itu, mempesonakan saya. Seumur-umur saya belum pernah melihat patung Buddha sebesar itu dan sebagus itu. Tak heran, saya berlama-lama di sana.

watpho
Reclining Buddha in Wat Pho
head
The Head of Buddha

Dan itulah enaknya berjalan secara independen, saya yang menentukan sendiri bagaimana dan berapa lama saya berada di sebuah tempat. Tanpa harus bergegas di tempat yang saya suka, namun saya bisa cepat pergi jika tempatnya tidak menyenangkan. Di Wat Pho, saya begitu menikmati tempat dan suasananya. Menikmati suara ritmis denting koin-koin yang dijatuhkan pengunjung ke dalam pot donasi. Rasa nyamannya benar-benar mengesankan saya. Bisa jadi karena ruangannya yang amat tinggi dan besar untuk bisa menampung patung Buddha berukuran panjang hampir 50 meter itu.

Kesan besar dan indah dari Wat Pho itu sangat menyerap dalam ingatan saya. Meskipun setelah perjalanan itu saya berkesempatan pergi ke Myanmar dan menemukan begitu banyak patung Buddha Berbaring dengan ukuran raksasa yang jauh lebih besar daripada Wat Pho, bagi saya kerennya Wat Pho masih nomor satu.

Atau karena Wat Pho saya kunjungi dalam perjalanan perdana sebagai solo-traveller? 😀 (sebab kata orang semua yang pertama kali itu selalu berkesan)

Tapi faktanya, keterpesonaan saya tak berhenti di situ. Dalam kesempatan lain ke Thailand, kali itu saya bisa ke Ayyuthaya, -bertahun-tahun setelah perjalanan pertama ke Wat Pho itu-, di sana saya terpesona di Kuil Wat Phanan Choeng Worawihan.

Saat itu, saya melakukan perjalanan perdana ke Ayyuthaya sebelum melanjutkan ke Sukhothai pada hari berikutnya. Karena tidak menginap di Ayyuthaya, saya memanfaatkan waktu semaksimal mungkin dari siang hingga malam untuk menjelajah kawasan yang pernah menjadi pusat kerajaan Thai berabad-abad lalu itu dan malamnya kembali ke stasiun kereta api untuk melanjutkan perjalanan ke Sukhothai. Baca kisahnya 3 Hari 2 Malam Bangkok – Ayyuthaya – Sukhothai sebagai cara untuk berhemat biaya penginapan.

Di dalam Wat Phanan Choeng Worawihan siang jelang sore itu, saya terpesona dengan apa yang saya saksikan di depan mata. Jika di Wat Pho terdapat Reclining Buddha yang berlapis keemasan maka di Wat Phanan Choeng Worawihan terdapat patung Buddha duduk (Seated Buddha) yang berlapis emas dan ukurannya termasuk yang salah satu terbesar di Thailand. Tidak kira-kira tingginya, hampir 20 meter! Kira-kira setinggi gedung 5 lantai. Jadi kebayang besar kuil yang menampungnya, kan?

IMG_6428
Buddha in Wat Phanan Choeng Worawihan, Ayyuthaya
IMG_6423
Buddha in Wat Phanan Choeng Worawihan, Ayyuthaya
IMG_6422
See the men

Saat itu saya bergabung dengan para Buddhist duduk di area tengah. Bukan untuk mengikuti ibadah melainkan untuk mengambil foto patung Buddha yang dipercaya merupakan salah satu patung tertua berukuran besar dari Sang Buddha yang berada di dalam bangunan tertutup. Konon patung itu dibangun pada tahun 1324 meskipun belum ada bukti yang benar-benar mendukung.

Saya mengamati patung teramat besar yang mengenakan jubah berwarna saffron itu. Bersih dan berkilau. Baru saya menyadari bahwa saat itu, patung Buddha sedang dibersihkan oleh sejumlah pria dewasa. Besarnya ukuran patung itu membuat pria-pria dewasa yang sedang membersihkan terlihat seperti anak-anak kecil. Tinggi mereka sebagai manusia dewasa terlihat masih lebih pendek daripada tinggi jari tangan Sang Buddha yang saat itu mengambil pose tangan Bhumisparsha mudra (tangan kanan menyentuh bumi). Terbayang kan, kalau tinggi orang hanya setinggi jari tangan, betapa tinggi patung Buddha di Wat Phanan Choeng Worawihan itu.

Uniknya, patung Buddha yang kini berlokasi di dekat pertemuan Sungai Chao Phraya dan Sungai Pa Sak, dipercaya penduduk lokal memiliki kisah mistis. Konon, saat negeri Burma menyerang Ayyuthaya di akhir abad-18, patung Buddha ini sempat meneteskan airmata! Mendengar kisah ini, saya tak ingin bereaksi, karena sepanjang pengetahuan saya justru urban-legend itu bertolak belakang dengan filosofi Buddha. Ah, bisa saja saya yang sotoy…

Terlepas dari kisah lokal itu, saya juga memiliki kesan lain di Wat Phanan Choeng Worawihan. Dijudesin oleh perempuan!

Jadi ceritanya, saat itu saya tak tahu apakah di sana memotret Buddha itu merupakan pelanggaran atau tidak. Seorang teman Buddhist pernah menyampaikan secara halus bahwa sebaiknya tidak dilakukan karena katanya tak akan pernah sempurna hasilnya. Tapi mengingat saat itu saya masih pejalan novice, maka suaranya masih terabaikan.

Nah, mungkin karena suara dari shutter kamera membuat seorang perempuan melihat saya dengan wajah yang teramat judes sebagai simbol: DILARANG FOTO DI SINI!!! Dasar saya masih belum puas dengan besarnya Sang Buddha, dengan cueknya saya melanjutkan foto sekali dua kali. Setelah itu, tanpa sadar saya menoleh lagi kepada perempuan itu. Duh, terlihat seperti ada api neraka di wajahnya. Kalau saja di kuil itu boleh melabrak dengan berapi-api, mungkin dia akan melabrak saya seperti naga raksasa yang menyemburkan api. Syereeemmm!

Meskipun saat itu saya tak menyadari kesalahan, untuk menjaga ketentraman batin dia dan saya, lebih baik saya keluar dari kuil. Lagi pula saya tak ingin mengganggu ibadah mereka. Yang jelas, pengalaman dijudesin oleh orang lain itu sangat membekas, membuat saya semakin bertindak hati-hati di rumah ibadah lain.

Selepas menjelajah Ayyuthaya, dengan kereta api saya merambah lebih Utara menuju Sukhothai, tempat yang dipercaya pemerintahan Di kawasan bersejarah itu saya menyewa sepeda, sebuah keputusan yang sepertinya tidak tepat. Meskipun tidak seluas Angkor Archaelogical Park, bagi saya mengelilingi kawasan di Sukhothai dengan menggowes sepeda itu cukup membuat saya gempor. Sok tahu siih…

Setelah satu persatu bangunan candi di Sukhothai itu didatangi, sampai juga akhirnya saya di Wat Si Chum, salah satu landmark-nya Sukhothai. Dan seperti biasa, saya terpesona dengan keluarbiasaan yang ditawarkan Wat Si Chum ini.

IMG_6721
Wat Si Chum, Sukhothai

Jika di Wat Phanan Choeng Worawihan, patung Buddha berlapis emas, di Wat Si Chum ini patung Buddha-nya dibiarkan apa adanya. Tetapi bukan berarti tak terawat. Bahkan dalam kondisi apa-adanya, tanpa lapis emas, Patung Buddha yang dikenal dengan Phra Achana ini sudah menjadi landmark dan tempat yang harus dikunjungi saat ke Sukhothai. Ukurannya tak beda jauh dengan Wat Phanan Choeng Worawihan sekitar 15 meter, tetapi tetap saja besaaaaarrrr!

Wat Si Chum merupakan salah satu kuil terbesar yang dipercaya dibangun pada abad-13 serta konon, paling misterius di Sukhothai. Patung Buddha Phra Achana di tempat ini dikelilingi empat dinding tinggi 15 meter dalam jarak yang sempit yang menyerupai sebuah mandapa. Konon, mandapa itu dulunya tertutup atap meskipun tak dapat dipastikan bentuknya.

Selain ukurannya yang besar, masih ada dua hal yang misterius dari Wat Si Chum ini. Konon, di bawah kuil ini ditemukan sebuah lorong bawah tanah yang ujungnya entah dimana karena aksesnya ditutup demi perlindungan terhadap kawasan bersejarah. Selain itu, ada tangga-tangga sempit mengarah ke atas yang tujuan penggunaannya juga belum diketahui. Sayangnya semua akses itu tertutup untuk publik. Biar para ahli arkaeologi yang mempelajari dan mencarinya, sebagai pejalan saya hanya bisa menikmati keindahan dan keluarbiasaannya.

Jelang sore, pelan-pelan saya menggowes sepeda sewaan untuk mengembalikannya lalu kembali ke stasiun kereta di Phitsanulok. Apa yang saya saksikan di Bangkok, Ayyuthaya dan Sukhothai, memiliki kemiripan. Penduduk Negeri Gajah Putih ini tak segan mendirikan bangunan dengan patung Buddha dengan ukuran yang teramat besar, tidak beda dengan beberapa negeri Buddha lain di Asia. Kata teman saya, semakin besar ungkapan rasa terima kasih kepada Sang Buddha, maka semakin besar dan bernilai pula ia persembahkan.

Mendadak sebuah kesadaran membukakan pikiran. Bagaimana dengan saya? Sebagai ungkapan terima kasih dan syukur, seberapa besar yang saya persembahkan kepada Sang Pemberi Hidup?

 


This post was written in response to the weekly challenge from Celina’s Blog, Srei’s Notes, Cerita Riyanti, and also A Rhyme In My Heart, -similar to the old Weekly Photo Challenge from WordPress-, which is the 29th week of 2020 has the theme of  Big, so we are encouraged ourselves to write articles weekly. If you are interested to take part in this challenge, we welcome you… and of course we will be very happy!

WPC – A Temple’s Corner


Wat Phra That Nong Bua

A couple years ago I had a chance to visit Ubon Ratchathani, a nice border city in North-Eastern Thailand. And one of the sacred landmarks in Ubon Ratchathani is Wat Phra That Nong Bua, a must-see Buddhist temple. The gleaming gold and white chedi at this temple loosely resembles the Mahaboddhi stupa in Bodhgaya, India.

The temple is the place where Buddha relics are housed in the 55meter height square-based stupa and stands in the middle of a marble slabs, with smaller stupas at each corner in the inner yard. The people seem to keep the inner yard clean from the falling leaves of the trees surrounding the complex.

I took off my shoes to explore this beautiful temple which was built in 1956 to honor of 2500 years of Buddhism. I noticed in each corner of the main temple, there was decorated with a serpent with seven heads.

As other Buddhist temples in Thailand, I feel like the other visitors who can come at anytime, pay respect and experience peaceful nice environment.

Stupa in the corner of inner yard

Wat Phra That Nong Bua

 

 

 

 

 

 

Weekly Photo Challenge: Orange – Sunrise to Sunset Daydreaming


Sunrise across the Mekong river, Phnom Penh, Cambodia
Sunrise across the Mekong river, Phnom Penh, Cambodia

Feeling the morning breeze on my face, suddenly I woke up in a river bank. Disoriented but could not help watching the nice orange sunrise across the big river. Am I home? It must be the Great Mekong in Cambodia.

*

Without any chance to think, my body became lighter and lighter. Momentary blinded for a blink, the sun disappeared and now I saw local monks in orange robes walking around Angkor Wat, home of the souls.

*

Secretly following them through the wind, watched them chanting in front of the Giant Buddha. But, heiii… there’s no Giant Buddha in Angkor. Time had played with me and brought me to a temple with gold, yellow and orange color in Thailand, home of the smiles.

*

Blue bench under the flamboyant tree in Bagan, Myanmar
Blue bench under the flamboyant tree in Bagan, Myanmar

A moment or two taking delight, then I had to tiptoe out quietly. This country-hopping drained my energy. One step means hundreds kilos to fly in bewilderment. I should take a rest for a while. I could not believe my eyes stuck to the blue bench under the orange flamboyant tree in Bagan, Myanmar. Another hopping to the home of new hope.

*

A orange backhoe in Kuta, Bali, Indonesia
A orange backhoe in Kuta, Bali, Indonesia

I fell asleep on the bench that brought me to the seat inside the orange heavy vehicle in Bali. What’s going on? I drove it to clean the beach. Lots of trash came from the ocean and brought those back to the shore of island of gods. I have the faith that cleaning is a way to purify.

*

A Plane and A Pagoda in Hong Kong
A Plane and A Pagoda in Hong Kong

The heat and sweat made my day. Within less than a second I was in the plane that flew over an orange pagoda in Hong Kong, the hidden oasis to make a solemn request for peace.

*

Autumn leaves after the rain, Secret Garden in Changgyeonggung, Seoul, Korea
Autumn leaves after the rain, Secret Garden in Changgyeonggung, Seoul, Korea

Landed in South Korea with autumn vista. Being a tropical mind who knew only rain and summer seasons, I was always amazed by the red, yellow and orange maple trees, the special autumn colors as a delicate bridge to welcome winter sonata.

*

But again, time flew and no more for loving the autumn colors. I stood still in front of an orange big gate in Japan. Too big for small me walking through it before I stopped in front of an orange shrine. Somebody whispered it’s a love shrine, although the true love shrine is in the heart of people…

I walked through a tunnel of thousands orange torii or gates in Fushimi Inari in Kyoto, one step to another, believe there is an end in everything

*

Lantern Festival in CheonggyeCheon Stream, Seoul, Korea
Lantern Festival in CheonggyeCheon Stream, Seoul, Korea

Finally all torii disappeared and became lantern characters in orange atmosphere. The King himself deliberated with his Royal members to prosper his people life

*

Sunset in Kuta Beach, Bali, Indonesia - Heaven on Earth...
Sunset in Kuta Beach, Bali, Indonesia – Heaven on Earth…

A silhouette in Discovery Beach, Bali
A silhouette in Discovery Beach, Bali

Time ticked and I was kicked. The bright orange color decorated the western sky of Indonesia, as a sign for sunset. Kuta Beach in Bali will be my witness.  Like a movie, the picture faded away and a silhouette of tree with orange background was emerged, night was on the way to come.

*

Hanging Orange Lamps in Sampoerna Museum, Surabaya, Indonesia
Hanging Orange Lamps in Sampoerna Museum, Surabaya, Indonesia

Quietly I switched on the orange lamps for giving some lights through the mysterious darkness of the night

*

Museum of Bank Mandiri, Jakarta, Indonesia
Museum of Bank Mandiri, Jakarta, Indonesia

A day has been gone and be part of a place we called a museum. We can visit to make a remembrance but it has been bygones. Just like the one with the colonialism orange atmosphere…

*

Orange BMW 2002
Orange BMW 2002

Suddenly all’s gone and I tumbled down. I pinched myself and realized that I had a daydreaming in an orange old BMW!

And the last but not least, a question… do you know the production year of that BMW? 🙂

*

in response to Weekly Photo Challenge with the theme for this week

Orange

Menyaksikan Mentari Tenggelam dari Tebing Preah Vihear


Sebagai salah satu World Heritage Site, Candi Preah Vihear di perbatasan Thailand – Cambodia memang masih berada di daerah rawan konflik antar kedua negara, Tetapi tidak menyurutkan saya untuk datang kesana tahun 2012 lalu. Candi ini memang luar biasa keren, dan tempatnya awesome…

A Rhyme in My Heart

Preah Vihear Preah Vihear

November tahun 2012 lalu, akhirnya saya berkesempatan untuk mengunjungi Preah Vihear, Candi Khmer yang memukau yang terletak di atas tebing 600 meter di wilayah Pegunungan Dangrek, Cambodia bagian Utara. Tidak itu saja, bahkan bisa menyaksikan sunset di situ! Memang Preah Vihear merupakan sebuah destinasi yang sudah lama berada dalam angan-angan saya untuk dapat diinjak dengan kaki, dilihat dengan mata dan disentuh dengan seluruh jiwaraga. Kesempatan datang begitu saja, ketika acara yang tadinya harus saya hadiri di Phnom Penh dibatalkan, sehingga perjalanan bisa saya ubah ke Siem Reap. Dan itinerary disiapkan secepat kilat, karena perubahan acara itu datang tidak mengetuk pintu dahulu.

Untungnya arsip lama saya tentang Preah Vihear tidak banyak berubah. Pertanyaan pertama yang selalu muncul : Apakah AMAN berkunjung ke Preah Vihear sekarang ini? Dan itu juga berlaku untuk saya, apalagi saya seorang female independent traveler.

Lihat pos aslinya 2.327 kata lagi