be me. do me. for me.

Wat Haw Pha Bang

it is not selfish to love yourself, take care of yourself, and to make your happiness a priority. it is necessary. (mandy hale)

Saya percaya semua orang, pria dan wanita, kadangkala perlu memiliki ruang dan waktu untuk sendirian. Dia bukan ingin memutuskan hubungan dari yang dikasihi, atau yang dicintai, bukan… karena memang tidak ada yang salah dengannya. Dia hanya ingin bersama dengan dirinya. Bersama dengan jiwa dan raganya yang telah mengikuti sejak ia lahir ke dunia ini. Itu saja. Dan biarkan saja, jangan diganggu. Biarkan dia menikmati waktunya.

Me time.

Bahkan, misalnya ada yang salah dengannya, yang tidak sesuai dengan kehidupannya, let him or let her. Kadangkala dia perlu mencari waktu bagi dirinya sendiri, untuk mencari spirit atau semangat hidup untuk memulihkan dirinya, untuk beristirahat sebentar dari kekejian dunianya, mungkin untuk berpikir mengenai langkahnya, mungkin juga hanya untuk menjadi dirinya sendiri, yang bukan image dari siapapun kecuali dia sendiri tanpa topeng-topeng palsu yang melelahkannya, dalam ruang yang nyaman baginya. Dan semua itu akan baik baginya. Juga bagi orang-orang tercintanya.

Ini tentang saya atau dia?

Ah, ini tentang me-time 🙂

Meskipun dulu tidak mengenal istilah ‘me-time‘, sudah sejak lama saya menjalaninya. Bisa jadi sejak remaja. Karena tinggal terpisah dari orangtua dan saudara sejak SMA, -orangtua dan adik tinggal di luar pulau sedangkan kakak kuliah dan kos di Bandung-, praktis untuk urusan kerumahtanggaan di Jakarta sebagai base-camp menjadi tugas saya sepenuhnya meskipun ada nenek sebagai wali dan ‘orang dewasa’ di rumah. Dan meskipun saat itu saya belum mengenal istilah ‘me-time’ tetapi saya sudah melakukannya untuk rehat sejenak dari kehebohan masa-masa itu. Kadang hanya untuk membaca buku di British Council atau pergi melarikan diri sejenak ke Museum, atau hanya keliling kota naik bus (maklum saat itu, uang saku saya sangat-sangat terbatas).

Sepuluh tahun pertama setelah bekerja dan berkeluarga, saya meluangkan waktu untuk me-time tidak terlalu banyak. Paling hanya menghabiskan satu jam membaca di saat anak-anak tidur atau memanggil mbok pemijat ke rumah. Rasanya surga jatuh dari langit!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dan ketika anak-anak sudah semakin bisa mandiri menuju masa pra-remaja, kebiasaan melakukan me-time semakin naik dilihat dari frekuensi dan lamanya. Bukan karena tingkat stress yang meningkat, melainkan adanya kebiasaan baru saya yang sangat menyenangkan: solo-travelling. Untung saja, suami saya termasuk orang yang penuh pengertian yang selalu memberikan saya ijin pergi kemanapun (meskipun belakangan ini daftar negara yang menurut dia not allowed semakin panjang, termasuk India, hahaha…)

Meskipun hanya menghabiskan akhir pekan (karena tugas kantor bisa diperpanjang), solo-trip saya ke Bangkok menjadi begitu memorable dan menjadi me-time saya yang luar biasa. Selain membangun kepercayaan diri dan keberanian, saya menjadi yakin dengan gaya travelling saya yang seringnya ‘solo’ itu.

Saat me-time ke Bali, saya menikmati seluruh fasilitas hotel berbintang di pinggir pantai berpasir putih itu, berjalan-jalan santai dan berkesempatan ngobrol panjang lebar dengan teman kuliah yang sudah lama sekali tak jumpa. Betapa me-time itu memperkaya rasa saya.

Juga saat mencoba melakukan me-time yang agak panjang dengan mengunjungi Kamboja, dan Angkor Wat untuk pertama kalinya dan mengalami beberapa kejadian yang luar biasa, yang mengubah pandangan saya tentang kemanusiaan dan juga terhadap negara itu.

Tidak ada me-time yang begitu mind-blowing seperti perjalanan saya ke Korea Selatan, yang ketika dijalani dihiasi dengan begitu banyak kesulitan dan kebingungan, yang pada akhirnya membukakan pikiran dan menjadi dasar dari perjalanan selanjutnya bahwa keberhasilan mengatasi kesulitan itu membuat kita lebih baik dari pada sebelumnya. Selalu begitu. Dan pertolongan itu akan datang tepat pada waktunya, dari arah yang tidak dapat diperkirakan, pada saat-saat kritis di ujung akhir perjuangan terbaik kita, pada saat-saat kita hampir menyerah, ikhlas dan berserah diri secara total kepada Dia, kepadaNya kita bergantung sepenuhnya.

Saat me-time, lagi-lagi solo-trip, ke Luang Prabang di Laos, saya bisa begitu santai dan merasakan kedamaian total seperti waktu yang berjalan sangat lambat di sana. Melihat iring-iringan biksu berjubah oranye di jalan yang sepi tanpa kendaraan, dengan latar gedung-gedung berarsitektur Perancis. Hingga kini Luang Prabang selalu menjadi salah satu kota pertama di luar negeri yang terlintas di kepala ketika ingin beristirahat total tanpa melakukan apa-apa.

Dalam perjalanan pertama saya ke Nepal yang penuh keluarbiasaan, saya sampai memperpanjang menginap di Raniban. Sesuatu hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Hal itu terjadi karena saya merasakan energi yang berlimpah, kenyamanan, kedamaian dan kebahagiaan yang mengalir ke dalam jiwa saat saya memandang Gunung Macchapuchare yang puncaknya selalu berselimut salju tepat di depan kamar saya di Raniban itu. Juga bisa menikmati sarapan saat kabut menyelimuti bukit yang di atasnya ada Shanti Stupa. Ah, sejak pertama kali melihat Himalaya, apalagi menyaksikannya dari Raniban itu, saya merasa terus menerus dipanggil untuk kembali ke Himalaya. Memperpanjang satu hari itu merupakan me-time ‘pangkat dua’, yang menjadi ada dalam sebuah perjalanan independen yang sesungguhnya sudah merupakan me-time trip juga. 

Di tahun 2019 ini, saya semakin sering melakukan me-time meskipun periodenya bisa singkat. Saya memilih menghabiskan waktu akhir pekan ke Garden By The Bay, Singapura hanya untuk bersantai dengan Bunga Sakura di sekitar saya. Dalam perjalanan saya yang terakhir ke Myanmar, saya melakukan perpanjangan menginap di Danau Inle, demi sebuah ketenteraman dan kedamaian berperahu, menyaksikan matahari tenggelam dan terbit, menyaksikan bunga-bunga lotus dan burung-burung kuntul beterbangan, Lalu apakah selalu harus ke luar negeri?

Jawabannya pasti tidak.

Karena baru-baru ini saya mengambil cuti hanya untuk me-time dan mengulang masa remaja saya, saya berkeliling kota naik bus sendiri. Saya punya kesempatan mendatangi Museum Si Pitung di Marunda. Dan di hari yang berbeda juga bisa pergi ke Museum MACAN di Jakarta Barat, hanya bermodalkan Rp. 3.500 sekali naik bus. Bukankah mengetahui sejarah kota juga bisa memperkaya budaya dalam diri? Dan menikmati seni itu bisa memperkaya jiwa?

Ah, bagi saya, menyisihkan waktu untuk me-time, bukan untuk memamerkan egoisme pribadi saja. Bukan juga untuk sekedar merasakan dan menikmati makna kemewahan sebuah kesendirian, melainkan juga harusnya bisa menambah value dan makna diri.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-27 ini bertema Me Time agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Ke Myanmar Lagi Setelah Tujuh Tahun


Saat roda pesawat menyentuh mulus landasan bandara Internasional Yangon, saya menarik nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rasanya tak percaya bahwa setelah 7 tahun akhirnya saya kembali lagi ke Myanmar, negeri yang terkenal dengan sebutan The Golden Land. Bandara yang dulu terkesan tak ramah dan seram, kini bagai perempuan cantik yang menarik hati dengan begitu banyak toko-toko merek Internasional.

Jika 7 tahun lalu saya harus datang menggunakan visa, kini sebagai pemegang paspor Indonesia, saya bisa melenggang dengan visa exemption dari Pemerintahan Myanmar. Jika dulu saya ketar-ketir dengan kecukupan bank notes US Dollar terbaru yang harus licin yang saya bawa karena ATM internasional tidak ada, kini saya bisa menarik uang kyat melalui ATM, bahkan sampai di tempat terpencil pun ada ATM! Jika dulu sinyal ponsel lebih banyak hilang, kini saya bisa terus exist dimana-mana hingga ke tempat terpencil. Dan yang paling membahagiakan, jika dulu saya hanya mendapat sedikit hotel yang bisa dibooking online kini Myanmar tak beda dengan Negara-negara lainnya. Jika dulu saya bingung untuk bisa booking pesawat domestik di Myanmar, kini saya memiliki kemudahan untuk memilih transportasi bus atau pesawat untuk pindah kota. Tujuh tahun untuk keterbukaan sebuah Negara, perubahan ini patut diacungi jempol.

Kemudahan itu juga termasuk pemesanan tiket bus sehingga saya bisa dengan cepat dari bandara ke stasiun bus dan langsung menuju Kinpun, desa terdekat untuk sampai ke Golden Rock. Saya telah menghitung waktu perjalanan bahwa saya bisa mencapai Golden Rock sebelum sunset dan betapa membahagiakan saya bisa mendapatkan sunset yang indah di Golden Rock! Bahkan keesokan harinya saya juga bisa mendapatkan pemandangan indah perbukitan yang berlapis-lapis ditimpa sinar mentari pagi.

DSC07452
Sunset at Golden Rock, Myanmar

Perjalanan saya pagi itu berlanjut ke kota kecil Hpa’an di Kayin State dengan menggunakan bus dan sempat berkenalan dengan penduduk lokal seperjalanan bus. Mereka dengan ramahnya dan dengan bahasa Inggeris yang fasih menunjukkan tempat saya harus turun agar tak jauh berjalan kaki dari hostel saya menginap. Membahagiakan sekali rasanya mendapatkan bantuan dari mereka.

Di hostel kecil di Hpa’an itu, lagi-lagi saya mendapatkan kemudahan. Setelah rehat sejenak di kamar hostel yang ber-AC sambil menunggu meredupnya terik mentari, saya berkeliling tempat-tempat wisata di Hpa’an dengan motortaxi. Hpa’an, kota kecil pinggir sungai Than Lyin yang berada di kawasan perbukitan karst memang merupakan surga bagi penggemar wisata gua. Karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat mengunjungi Gua Kaw Gon yang luar biasa cantik karena dipenuhi dengan tatahan ribuan Buddha kecil di sepanjang dinding dan atap gua, juga Gua Yathae Pyan yang banyak stalaktit dan stalagmit, Gua Kaw Ka Thaung yang menyimpan relik Buddha dan tentunya gua terbesar Mahar Saddan yang terkenal dengan stalagtit dan stalagmitnya dan berujung pada danau kecil di ujung keluarnya. Bahkan di hari pertama saya sempat mengunjungi sebuah monastery berpemandangan indah pada saat senja. Refleksi monastery dan perbukitannya terlihat sangat menawan di danau kecil.

Perjalanan selanjutnya menuju kota Mawlamyine atau dulu dikenal dengan Moulmein, di Mon State, yang mengharubiru rasa. Sesungguhnya perjalanan ke Mawlamyine inilah yang membuat saya kembali ke Myanmar setelah tujuh tahun. Dengan apapun saya akan menempuhnya, saya akan sampai pada Mawlamyine meskipun hal ini tidak akan mudah.

Sebuah perjalanan menapak tilas tidak akan pernah mudah karena dipenuhi kenangan dan cinta. Setiap langkah saya seperti melepaskan helai bunga doa untuknya. Meskipun menginap di tempat terbaik di kota ini, saya tahu akan berteman dengan airmata dan menghabiskan waktu berbicara dengan jiwa.

Namun jiwa pejalannya yang ada pada saya mengajak melangkah ke tempat-tempat baru. Di kota ini saya melihat bagaimana Myanmar berusaha memiliki bangunan Buddha Tidur terbesar di dunia (meskipun kini dikalahkan oleh China yang mengubah bukit menjadi Sleeping Buddha). Bangunan Buddha Tidur yang saya lihat ini juga masih dalam tahap pembangunan, entah kapan selesainya.

DSC08118
Win Sein Taw Ya Pagoda, Mawlamyine, Myanmar

Selepasnya, saya diajak oleh sopir tuktuk untuk mengunjungi beberapa masjid, termasuk menyempatkan ziarah kubur kepada seorang ulama yang dimakamkan disana. Pengalaman mengunjungi perkampungan muslim dengan melihat beberapa masjid di kota Mawlamyine melengkapi keindahan hari saya. Seakan saya dibukakan mata bahwa saya tidak boleh menyamaratakan keadaan Muslim di Myanmar. Di kota ini, di Negara bagian Mon ini, toleransi antar agama berjalan dengan sangat baik. Buktinya amat jelas, saat berjalan kaki di pagi hari, saya mendapati tiga masjid yang tak berjauhan lokasinya. Bahkan belakangan saya menyesal, karena tahu disana ada lebih banyak masjid daripada rumah ibadah lain, yang tidak sempat saya lihat.

Bagaimanapun perjalanan harus dilanjutkan, pada malam harinya saya kembali ke Yangon dengan menggunakan bus malam yang menyimpan cerita untuk bersikap berani di baliknya. Kota Yangon dengan segala kebaikan dan keburukannya, tidak jauh beda dengan Jakarta, kota tempat saya dibesarkan dan hidup didalamnya. Sebagai perempuan yang pergi sendiri, antenna kewaspadaan saya harus terus berfungsi dengan baik, kelengahan sedikit saja bisa berakibat tak baik. Meskipun diatas segalanya, Dia Yang Maha Melindungi yang menjaga saya selamanya.

Hari itu, kota Yangon bukan menjadi kota destinasi, melainkan kota transit karena saya harus terbang ke Heho untuk sampai ke Danau Inle yang terkenal. Tujuh tahun lalu, saya tidak sempat ke Danau Inle dan tahun ini, Inle menjadi tujuan destinasi saya untuk menikmati liburan kali ini. Benar-benar beristirahat.

Dua malam saya habiskan di Danau Inle untuk berleha-leha dan berwisata sekitar danau, ke tempat-tempat pembuatan kain, tempat pembuatan perahu, tempat kerajinan tangan dan lain-lain. Bahkan di tempat itu, yang jauh dari kota, saya sempat menarik ATM. Ah, Myanmar memang sekarang lebih mudah.

DSC08571
Inle Lake one-leg rowing fisherman during Sunset

Menikmati sunrise dan sunset di Danau Inle merupakan pengalaman indah yang saya alami. Bagaimana mungkin saya mengabaikan nelayan-nelayan yang mencari ikan di danau dengan mendayung memakai satu kakinya? Bagaimana mungkin saya mengabaikan bunga-bunga matahari dan lotus yang terhampar dan mekar dengan indahnya di pinggiran danau? Keindahan luar biasa Danau Inle membuat saya berjanji akan mendatangi lagi suatu saat nanti.

Meskipun beristirahat total, -ini cara mengisi liburan saya yang sangat berbeda dari biasanya-, tetap saja ada satu tempat yang membangkitkan semangat. Dengan melakukan perjalanan sekitar 1 jam dengan perahu, saya sampai pada reruntuhan bangunan dari Abad ke-11. Meskipun terpapar terik matahari dan sedikit mendaki, saya bisa menikmati kawasan Bagan dalam ukuran mini.

Perjalanan saya di Myanmar mendekati akhir. Saya harus kembali ke Yangon, dengan berkendara bus selama 11 jam. Sebuah perjalanan panjang yang menghabiskan hari, namun bagi saya tetap saja ada kisah-kisah menyenangkan dan menghangatkan hati melalui sentuhan hati dengan orang-orang lokal yang baik dan ramah.

Malam terakhir di Yangon, dalam keadaan badan yang lelah, justru saya mendapat pengalaman ‘perkenalan’ sampai akhirnya saya minta penggantian kamar. Meskipun saya tidak mau berpikir aneh-aneh, tetapi demi istirahat enak, lebih baik saya pindah ke kamar lain. Bukankah mengganggu bila lampu tiba-tiba meredup lalu terang kembali dan berulang serta bunyi-bunyian keras tanpa alasan yang jelas?

Tetapi bagaimana mungkin saya meninggalkan Yangon tanpa mampir ke Shwedagon yang megah? Dan tetap saja beberapa jam disana sudah mampu memberi sentuhan hangat ke dalam jiwa, sampai akhirnya waktu juga yang memaksa saya meninggalkan Yangon.

Setelah tujuh tahun, Myanmar telah banyak berdandan cantik disana-sini menyambut tamu-tamu yang semakin banyak berdatangan. Meskipun kali ini saya mendatangi tempat-tempat yang belum saya datangi sebelumnya, -kecuali Yangon-, saya merasakan sekali perubahan kearah yang lebih baik itu, dan tentu saja sangat menggembirakan.

Ah, karena post ini merupakan rangkuman perjalanan, doakan saja saya bisa menulis perjalanan seru waktu disana ya. Siapa yang baru-baru ini ke Myanmar juga? Boleh dong cerita-cerita… 🙂

Korea – Istana Changdeokgung Seoul


Setelah mengunjungi Deoksugung, Istana selanjutnya yang saya kunjungi di Seoul adalah Istana Changdeokgung. Dodolnya, saya tidak memperhatikan lokasi tepatnya dan karena menggunakan subway, saya harus turun tangga ke platform kereta, lalu naik tangga (lagi) ke permukaan bumi yang pintu Exit-nya ternyata salah sehingga harus jalan kaki (lagi) untuk kembali kearah yang benar. Kaki rasanya mau putus akibat rendahnya awareness saya pada lingkungan.

Padahal Istana Changdeokgung dicatat sebagai UNESCO World Heritage Site pada tahun 1997 dan dinyatakan sebagai contoh luarbiasa dalama kategori arsitektur istana dan kebun di kawasan Timur Jauh, terlebih lagi karena bangunan-bangunannya terintegrasi dengan lingkungan alam sekitarnya yang sangat harmonis.

p1040036
The 2 stories Donhwamun, the gate of Changdeokgung

Karena alasan itulah, -walau dengan kaki yang diseret-seret pun-, saya memaksa diri dan akhirnya saya sampai juga di Donhwamun, pintu gerbang utama Istana Changdeokgung, yang terlihat megah di hadapan. Gerbang Donhwamun ini dibangun pada tahun 1412, dengan struktur kayu dua lantai dan merupakan yang terbesar dari semua gerbang istana. Seperti banyak bangunan lain di Korea Selatan, Donhwamun inipun dibakar selama invasi Jepang pada tahun 1592 dan dibangun kembali pada 1608. Dan seperti juga gerbang-gerbang lain di Istana manapun di dunia ini, dalam perjalanan sejarahnya, walaupun diserang, dirubuhkan, dihancurkan, tetap saja ada yang membangun kembali untuk menjaga bangunan yang lebih penting yang berada di baliknya.

Melewati Donhwamun, saya menyaksikan konter tiket penuh dengan pengunjung sehingga saya memilih mundur sesaat untuk membaca situasi. Wisata ke Istana Changdeokgung memang terbagi dua ada yang hanya membeli tiket istana saja dan ada juga yang membeli tiket Istana termasuk Taman Rahasia (Secret Garden).  Saya memilih yang kedua dan karenanya saya memiliki waktu untuk menjelajah Istana hanya beberapa saat, sebab untuk ke Taman Rahasia, saya diharuskan ikut dalam sebuah rombongan dengan guide dan tidak diperkenankan sendiri berkeliaran. Petugas tiket meminta saya untuk datang pada waktu yang ditentukan di gerbang Secret Garden. Sementara itu, saya akan berkeliling Istana yang tidak kalah besar dari Deoksugung. Semoga kaki saya masih kuat…

Sebagai istana resmi kedua dari Dinasti Joseon (1392 – 1897), -setelah Istana Gyeongbukgung-, Istana Changdeokgung dengan luas sekitar 45 hektar di daerah Jongno di kota Seoul ini, sejatinya dibangun pada abad-14 sebagai rumah kediaman kerajaan. Dan sesuai arti dari Changdeokgung, harapan dapat memberikan kemakmuran dan kebajikan sepanjang masa, sepertinya terwujud karena hingga kini Istana ini yang paling terawat dari empat lainnya yang ada di Seoul.

Melangkah di atas jembatan yang belakangan saya tahu namanya Geumcheongyo merupakan langkah luar biasa karena itu artinya saya melangkah di atas jembatan yang telah berusia ratusan tahun dan bertahan hingga kini. Dibangun pada tahun 1411, jembatan ini memiliki struktur dua lengkungan dan ukiran hewan mitos yang disebut Haetae di selatan dan patung kura-kura yang disebut Hyeonmu di utara. Konon selain patung-patung itu, masih ada ukiran lain yang bertujuan untuk mengusir roh jahat, dimana-mana ada ya upaya seperti itu yaa… Saya melewati jembatan yang juga memiliki lubang angin dan hiasan kelopak teratai di sisi samping.

Entah kenapa setiap melangkah memasuki kawasan istana, saya melangkah hati-hati seakan meminta ijin lewat pada setiap saksi bisu dari begitu banyak kisah getir kehidupan Istana. Setelah melewati sebuah gerbang lainnya, saat semua orang bergegas menuju bangunan Utama, saya berbalik arah mengikuti suara hati yang berbisik. Nafas saya tertahan sejenak melihat indahnya warna warni dedaunan di musim gugur yang menjadi latar belakang dan terbingkai dalam pintu gerbang kayu yang lebar. Jika saya tak berbalik tadi, pemandangan indah ini takkan terekam dalam benak.

Mungkin keindahan seperti ini yang menggerakkan hati Raja Seongjong, Raja ke-9 dari Dinasti Joseon, yang menjadikan Istana Changdeokgung sebagai kediaman resminya. Sayang, pada tahun 1592 saat keluarga istana menyelamatkan diri dari upaya invasi Jepang ke Korea, rakyat menjadi sangat marah hingga membakar seluruh bangunan istana. Kemudian berkat upaya Raja Seonjo istana dibangun kembali dua dekade setelah pembakaran. Namun begitulah kehidupan Istana yang tak bisa lepas dari perebutan kekuasaan dan pengkhianatan, sehingga di tahun 1623 Istana Changdeokgung kembali dihancurkan. Dalam sejarahnya, walaupun diserang juga oleh Dinasti Manchu dari China, tetapi Istana Changdeokgung ini tetap dibangun kembali dengan disain awal hingga kini.

Bahkan Kaisar terakhir Korea, Sunjong, menghabiskan saat-saat terakhirnya di Istana ini hingga ajal menjemputnya di tahun 1926. Sepeninggal Kaisar Sunjong, Putra Mahkota Yi Un diperbolehkan tinggal di Bangunan Nakseonjae bersama isterinya Puteri Bangja dan adiknya Puteri Deokhye hingga akhir hayat, meskipun fasilitas ini kadang ditentang oleh pemerintahan Korea yang silih berganti. Perubahan bentuk pemerintahan Korea yang tak lagi bersifat monarki ini berdampak pada kejiwaan anak Sang Putera Mahkota yang bernama Yi Gu. Walaupun bisa tinggal beberapa saat di Istana ini, akhirnya ia lebih memilih meninggalkan Seoul untuk menetap di Tokyo.

Injeongjeon

Saya sampai di Injeongmun, gerbang yang langsung menghadap Injeongjeon. Bangunan Injeongjeon merupakan ruang tahta Istana Changdeokgung yang digunakan untuk urusan resmi kerajaan termasuk penobatan raja baru dan menerima utusan asing. Sebagai bangunan utama di Istana Changdeokgung, Injeongjeon dibangun pada tahun 1405 dan mengalami penghancuran beberapa kali namun tetap dibangun kembali. Di depan pintu terdapat inskripsi berangka tahun 1609 yang menjelaskan jalan resmi dan halaman berdasar batu pipih. Selain itu ada pula yang menjelaskan ranking jabatan di kalangan  pejabat Istana. Setiap orang harus berdiri di belakang nomor batunya masing-masing, semakin tinggi jabatannya semakin dekat tingkat berdirinya dengan Raja.

Saya melongok ke dalam ruang tahta yang penuh dengan pilar-pilar kayu kokoh bernuansa merah dengan tahta berkanopi penuh hiasan. Entah berapa Raja yang pernah menduduki tahta itu. Tahta bisu yang tak menghakimi menyaksikan siapapun dengan hati penuh kemuliaan atau justru penuh khianat demi bisa mendudukinya. Begitulah sifat kekuasaan yang terus menggoda hati manusia…

Namun siapapun yang menduduki tahta, Istana Changdeokgung sepertinya memiliki keberuntungannya sendiri. Bisa jadi karena dibangun berdasarkan perhitungan rumit Feng Shui, dengan Gunung Bugaksan di bagian belakang Istana dan Sungai Geumcheon berada di bagian depan. Kondisi ini membuat bangunan-bangunan tampak absurd dalam penataan, tetapi sesungguhnya semuanya terbangun dalam sebuah harmoni dengan lingkungan sekitarnya.

Seonjeongjeo

Saya melanjutkan perjalanan menuju Seonjeongjeon. Disinilah tempat Raja berkantor, menerima pejabat Negara, melakukan pertemuan setiap hari dengan menteri, melaporkan pada urusan negara dan seminar di sini. Entah saya yang salah persepsi atau apa, tetapi untuk ukuran seorang orang nomor satu di sebuah Negara, menurut saya Seonjeongjeon tidak terlalu luas, walaupun ada juga ruangan lain untuk para pembantunya, kalau sekarang mirip dengan fungsi Sekpri kali yaa… Namun tak hanya itu fungsinya Seonjeongjeon, karena selain untuk kantor, Seonjeongjeon ini juga dipakai sebagai ruang doa jika ada keluarga kerajaan yang mangkat. Hiiii… dan biasanya doa persemayaman untuk keluarga kerajaan itu akan lama sekali, bisa berbulan-bulan, bahkan jika Raja bisa setahun! Lalu kantor sehari-hari pindah kemana ya?

Menariknya, ada koridor yang menghubungkan Seonjeongjeo dan gerbangnya (Seonjeongmun), bisa jadi agar tidak kehujanan saat berdoa untuk persemayaman. Inilah kelebihan Seonjeongjeon, bahkan di Injeongjeon (ruang tahta) tidak ada koridor yang menghubungkan gerbang dan ruang tahtanya.

Kaki mengajak tubuh ini melangkah kearah Timur, menuju Huijeongdang, yang dikenal dengan ruangan pribadi Raja. Saya berpikir akan menemukan ruang tidur, namun yang terlihat adalah ruang kerja lengkap dengan seperangkat kursi. Ternyata memang sejarah mencatat perubahan fungsi Huijeongdang ini. Apa yang saya rasakan bahwa Seonjeongjeon terlalu kecil ternyata benar, karena Raja  memindahkan kantornya ke Huijeongdang dan menjadi Pyeonjeon (Ruang Kerja Raja). Walaupun Huijeongdang hancur terbakar pada tahun 1917, Huijeongdang direkonstruksi kembali namun berubah dari disain aslinya dengan menambahkan gaya Barat pada akhir masa fungsinya seperti adanya tempat parkir kendaraan di bagian depan, jendela kaca dan lampu gantung listrik, fasilitas modern pada kamar mandi dan furniture bergaya baroque.

Saya masih dapat melongok ke dalam ruang tidur Raja, namun dengan segera menghilangkan pikiran-pikiran jahil saat melihat lorong-lorong tertutup menuju kamar-kamar lain. Sudahlah… itu biasa… 😀

Berdekatan dengan Huijeongdang terdapat bangunan yang dikenal dengan nama Daejojeon, yaitu tempat tinggal resmi permaisuri. Sayangnya Daejojeon terbakar pada tahun 1917 dan direkonstruksi dengan bahan yang diambil dari Istana Gyeongbokgung. Sejarah juga mencatat bahwa Daejojeon terakhir digunakan oleh permaisuri terakhir Joseon, sehingga saya bisa memperkirakan bagaimana perjalanan rumah tangga kerajaan Dinasti Joseon pada masa-masa terakhirnya.

img_9884
Huijeongdang and Daejojeon, the private area for the King and Queen

Walaupun masih ada tempat-tempat lain yang mungkin menarik, saya diingatkan oleh bunyi alarm agar segera bergegas menuju titik pertemuan tour ke Taman Rahasia (Secret Garden) Changdeokgung, karena jika terlambat, saya tidak akan bisa masuk ke Taman Rahasia itu. Ah, segala sesuatu yang rahasia, akan terasa menarik…

*****

Akses  
[Subway]

  1. Jongno 3 (sam)-ga Station (Subway Line 1, 3 or 5), Exit 6. Jalan sekitar 10-menit untuk ke gerbang
  2. Anguk Station (Seoul Subway Line 3), Exit 3. Jalan lurus ke timur sekitar 5 menit untuk ke gerbang.
    [Bus]
    Bus No. 7025, 151, 162, 171, 172, 272 or 601 turun di Changdeokgung Palace Bus Stop

Tutup Setiap Senin

Jam Buka  Feb-Mei, Sep-Okt 09:00-18:00 /  Jun-Ags 09:00-18:30 / Nov-Jan 09:00-17:30

Harga tiket  Dewasa (19-64): 3,000 won / Anak-anak & Remaja (<18): 1,500 won

****

Beberapa Cerita perjalanan lainnya di Korea:

  1. Korea – Warna Warni Istana Deoksugung
  2. Ada Bahasa Indonesia di Seoraksan
  3. Hwangseong Fortress – Menjadi Warisan Dunia karena Sebuah Buku Tua
  4. Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-abad

Nepal: Bertemu Guardian Angels di Changu Narayan


Walaupun sejak awal saya merencanakan untuk menjejakkan kaki di kuil tertua yang merupakan salah satu dari tujuh lokasi World Heritage Site di Kathmandu, saya tidak pernah mengharuskan diri mencapainya. Kuil Changu Narayan yang terletak 20km sebelah timur Kathmandu ini bukan seperti kuil lainnya yang mudah dicapai dari jalan besar apalagi bagi saya yang melakukan solo-trip. Tetapi seperti biasa ketika melakukan solotrip, saya percaya setiap perjalanan ke dalam diri pribadi ini merupakan upaya pencucian jiwa, termasuk juga perjalanan ke Nepal ini, sehingga pintu-pintu kemudahan seakan terbuka untuk saya. Terbukti taksi mungil itu menawarkan harga yang terjangkau untuk perjalanan ke Changu Narayan, mau menunggu saya hingga selesai lalu mengantar saya ke Bhaktapur, tempat saya menghabiskan malam berikutnya. Sebuah awal yang baik.

View from Changu Narayan Temple
View from Changu Narayan Temple

Udara perbukitan di Lembah Kathmandu pagi hari itu bersih, sebersih langit biru yang berhias awan tipis. Jalan besar Araniko Highway dari Kathmandu itu sudah ditinggalkan beberapa waktu lalu dan taksi mungil yang saya tumpangi itu mulai menyusuri jalan Nagarkot yang menanjak tanpa kehilangan daya mesinnya. Sesekali saya bertemu dengan wisatawan berambut pirang yang berjalan kaki yang membuat saya tersipu malu. Sementara saya menaiki kendaraan, mereka yang berusia lebih dari saya justru memanfaatkan tubuh sehatnya untuk berjalan.

Jalan Nagarkot masih terbilang lumayan mulus dan cukup lebar untuk dilalui dua kendaraan bersisian tanpa harus turun ke bahu jalan. Namun hal itu tak berlangsung lama, pengemudi taksi yang tak muda lagi dengan tangkas membelokkan taksi ke jalan Changu Narayan, sebuah jalan yang makin menyempit  dan menanjak serta memberikan sensasi kengerian tersendiri. Jalan tanpa tepian itu memang terbuka memberi pemandangan indah sekaligus undangan musibah bagi yang tak waspada berkendara. Sekilas pemandangannya serupa dengan Puncak dengan setengah lebar jalannya dan tanpa pagar pengaman. Bila tak trampil, jurang dan lembah di bawah bisa langsung menerima tubuh yang melayang.

Di sebuah pertigaan tampak serombongan perempuan berpakaian merah yang berjalan kaki yang disusul rombongan lain yang serupa bahkan hingga menutupi jalan. Sambil menjalankan kendaraannya perlahan, pengemudi taksi menyapa orang yang ada di pinggir jalan. Saya tak mengerti apa yang dibicarakan namun kemudian sang pengemudi berbaik hati mengatakan kepada saya bahwa sedang ada festival Narayan di kuil dan di atas macet sekali.

Saya terhenyak, teringat ketika berada di Kathmandu Durbar Square saya menyaksikan festival untuk Sang Narayan. Festival pertama saya di Nepal. Lalu di Lalitpur atau Patan, saya juga melihat keramaian yang didedikasikan untuk Sang Narayan. Dan kini, di salah satu kuil utama, di Changu Narayan, ada festival untuk Sang Narayan? Ah, Cinta… saya merasa terberkati bisa menyaksikannya langsung.

Benar saja, tak lama kemudian lalu lintas semakin padat yang akhirnya tersendat. Semakin banyak orang berjalan kaki. Taksi mungil itu beringsut pelan hingga akhirnya terhenti total karena padatnya kendaraan di depan. Pengemudi taksi dengan trampilnya membanting ke kanan sehingga mendapat ruang gerak sedikit untuk maju sampai akhirnya benar-benar tidak ada ruang lagi dan ia bisa memarkir kendaraannya di pinggir jalan. Ia menyerah dan menyampaikan bahwa saya harus berjalan kaki hingga ke kuil.

Berada di antah berantah diantara orang-orang Nepal, saya cukup dibuat gamang. Saya bertanya apakah kuil masih jauh? Dia menggeleng. Sebuah gelengan yang tidak mampu meyakinkan saya. Bangsa Nepal terkenal sebagai bangsa yang kuat berjalan naik turun gunung. Sebuah gelengan itu artinya dekat, tetapi bisa saja berarti jauh atau cukup melelahkan bagi orang Indonesia yang terbiasa dimanjakan oleh ojek dan angkot.

Lots of People in the park area
Lots of People in the park area

Tiba-tiba mata saya menangkap dua atau tiga wisatawan berambut pirang di antara orang-orang Nepal itu. Saya memutuskan untuk turun sambil berbicara kepada pengemudi untuk bertemu nanti di mobil lalu cepat mengejar wisatawan tadi. Paling tidak saya berada dalam jangkauan orang-orang yang kemungkinan besar memahami bahasa Inggeris, sebuah trik hasil pembelajaran karena kesusahan komunikasi di Korea Selatan dulu. Apalagi saya yakin bahwa wajah Asia saya lebih menguntungkan daripada rambut pirangnya mereka, karena pendekatan cara Asia lebih bisa diterima.

Saya berjalan kaki bersama masyarakat lokal. Banyak mata memperhatikan saya yang terlihat berbeda dari perempuan lokal tetapi saya banyak melempar senyum dan bertukar sapa Namaste, sebuah pendekatan yang berbalas senyum dan pandangan ramah. Tak perlu mereka mengetahui kebangsaan saya, tapi terasa sekali masyarakat Nepal berbaik hati menyambut saya. Bukankah di sini pun Cinta membantu saya melebur menjadi serupa dengan mereka yang beringsut pelan di permukaan bumi ini?

Pengemudi taksi tadi benar, jalannya memang tidak jauh lagi, juga tidak terlalu melelahkan walaupun sedikit menanjak. Udara memang tak lagi sejuk, mungkin karena padatnya manusia yang menuju kuil serta matahari mulai meninggi. Tak lama berjalan, saya sampai pada tempat yang saya perkirakan merupakan lapangan parkir kendaraan. Berarti Kuil Changu Narayan sudah dekat.

Main Gate of Changu Narayan Village
Main Gate of Changu Narayan Village

Karena tak tahu arah menuju kuil, saya mengikuti saja orang lokal yang berjalan. Follow the crowd, pasti sampai, kata orang yang malas bertanya. Begitu padatnya, saya tak melihat tempat tiket masuk sehingga saya melangkah terus tanpa dosa. Sampai saat bahu saya disentuh oleh penjaga tiket yang lari meninggalkan tempatnya untuk mengejar saya yang belum membayar. Terperangah malu, sambil minta maaf karena sama sekali tidak melihatnya, saya membayar tiket masuk. Untung wajah penjaga tiket itu berubah manis, percaya atas kesungguhan saya yang tidak melihat tempat penjualan tiket masuk.

Momen melangkah melewati gerbang di dekat penjualan tiket itu mendenyutkan jantung. Sebuah awal perjalanan hati di wilayah Changu Narayan. Tempat yang pasti luar biasa karena ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site. Saya terus berjalan menembus desa yang mendirikan rumah-rumahnya sepanjang jalan menuju kuil. Di pinggir jalan setapak yang menanjak, dijual berbagai barang keperluan sehari-hari atau cinderamata. Dan ketika saya mendongak ke atas melihat dinding rumah penduduk. terlihat jagung-jagung dengan kulitnya dijemur di jendela tingkat atas rumah mereka langsung di bawah terik matahari hingga berwarna kecoklatan. Sebuah pemandangan yang jarang ada.

Dari beberapa rumah terdengar Om Mani Padme Hum, lagu meditatif yang umum terdengar dari rumah-rumah Buddhist Nepali. Toko lainnya menjual barang-barang cinderamata untuk para wisatawan, seperti topeng, lukisan, kalung, boneka dan hiasan dinding yang semuanya terlihat indah. Sambil mengambil foto, saya melihat juga sebagian orang sudah turun kembali. Bisa jadi mereka telah selesai memberikan persembahan di kuil.

Semakin ke atas kepadatan semakin terasa. Semakin sulit untuk berjalan di jalan setapak tapi saya terdesak mengikuti kerumunan. Berada diantara himpitan orang dengan bahasa yang tidak dikenal, baik pria maupun wanita membuat situasi benar-benar tidak nyaman. Dalam hati saya memohon ditunjukkan jalan yang sepertinya langsung dikabulkan berupa sedikit ruang gerak. Saya langsung keluar dari himpitan lalu berdiri menunggu di atas dudukan rendah menyaksikan manusia memadati gerbang kuil. Gerbang yang terlalu kecil untuk dilewati umat yang membludak, membuat saya kuatir terhadap kemungkinan terjadinya chaos. Sudah terlalu sering terjadi ketika sejumlah orang bersikap tak peduli, situasi berubah menjadi chaos yang tak terkendali. Dan itu artinya kekonyolan yang tak perlu karena bisa terjepit, terjebak atau terinjak. Saya menunggu dengan sabar,  mendahulukan orang-orang yang hendak beribadah sambil mengamati gelombang manusia yang tak henti memasuki gerbang kuil.

Saya berdiri tepat di depan gerbang kuil yang berbentuk lengkung batu, tak pernah mendapat giliran. Bagaimana mungkin saya menerobos kerumunan manusia yang tak berkurang kepadatannya itu?

Jangan pernah menyerah, Help is on the way. Dan kesabaran pun berbuah. Tiga dara yang entah datang dari mana datangnya tiba-tiba menyapa saya dalam bahasa Inggeris yang fasih, menanyakan apakah saya hendak masuk ke dalam kuil. Masih terperanjat karena tidak merasakan kehadirannya, saya mengangguk. Mereka lalu menyebar di kanan kiri dan di depan saya lalu membukakan jalan. Saya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya mengikuti perlindungan mereka. Mereka benar-benar menjaga di kiri kanan saya dalam terowongan gerbang yang penuh manusia itu. Pelan beringsut maju dan akhirnya saya sampai di pelataran kuil. Lega sekali rasanya bisa berada di udara terbuka lagi. Saya hendak berterima kasih kepada ketiga dara yang telah menolong saya dan mencari keberadaan mereka hingga kepala saya berputar. Namun seperti datangnya, saya tak lagi bisa menemukan mereka. Sepertinya mereka sudah kembali berbaur dengan lautan manusia. Bahkan saya belum sempat berterima kasih kepada mereka, the Guardian Angels.

Dalam sekejap, saya berjalan ke pinggir mencari ruang agar dapat mengunjungi hati yang mendapat berkat. Kasih Sayang yang dilimpahkan tidak main-main. Saya menggigit bibir menahan rasa, mata terasa panas. Saya mengerjapkan mata berkali-kali. Siapakah saya ini hingga Cinta harus turun tangan sendiri? Siapakah saya ini sampai saya mengalami hal yang luarbiasa ini? Sejak menjejakkan kaki di Nepal, begitu banyak keluarbiasaan yang saya alami. Malam luar biasa di Swayambunath, keluarbiasaan melihat jajaran Himalaya dalam mountain flight, menyaksikan puncak Mt. Everest yang agung dalam kebeningan kaca cockpit, berlama-lama berbahasa kalbu dan bertukar pandang dengan Dewi Kumari, mengalami sendiri keriuhan festival Narayan di Kathmandu dan di Lalitpur. Dan kini, mendapat ‘guardian angels’ di Changu Narayan. Setiap hari terjadi lagi dan lagi, seakan tak henti. Oh, I am so blessed. Begitu banyak rasa syukur tersampaikan yang rasanya takkan pernah cukup. Jiwa ini rasanya tenggelam dalam lautan berkat yang dilimpahkan. Hati terasa sesak dengan rasa syukur yang tak habis. Setiap sel rasanya bergetar mengucap deretan kata terima kasih Cinta.

Sejenak saya berada dalam ekstasi rasa itu dan perlahan digantikan dengan fakta yang ada di depan mata. Manusia yang tumpah ruah di pelataran kuil Changu Narayan. Cinta menyadarkan bahwa saya telah dihantarkan ke kuil Changu Narayan dan siap berkeliling dalam keajaiban.

Nepal: Ketika Setitik Puncak Everest Tersibak Untukku


Melanjutkan tulisan sebelumnya (baca disini untuk separuh penerbangan sebelumnya), penerbangan ‘mountain flight’ yang tak terlupakan seumur hidup sesuai promosinya Buddha Air sebagai Everest Experience, memasuki paruh kedua pegunungan Himalaya yang berujung pada pemandangan Puncak dari segala puncak dunia, Sang Bintang, Sagarmatha! Everest 8848m!

Dari atas ketinggian terbang 25000 kaki, Puncak Melungtse yang eye-catching itu baru saja menghilang dari pandangan, namun barisan pegunungan berselimut salju itu masih tak putus terhampar di luar jendela kiri dan bagaikan sedang menikmati film yang sedang berputar, pemandangan indah puncak gunung Chugimago 6297m dan Pigferago 6620m seakan menggantikan Melungtse yang selesai tampil.

Melungtse 7181m -Chugimago 6297m-Pigferago 6620m
Melungtse 7181m -Chugimago 6297m-Pigferago 6620m

Sementara saya melihat keluar jendela menikmati pemandangan indah di luar, saya tak mampu lupa sikap putus asa pria berwajah Hindustan yang tak bisa melihat jelas Himalaya karena duduk di sebelah kanan. Gilirannya pun belum tiba. Bagaimanapun saya pun tak dapat mengabaikan ketukan pengingat untuk berbagi yang terdengar di hati. Saya memutuskan untuk mendengarkan dan mengikutinya.

Saya tersenyum kepada si pria Hindustan, “You can use my window, I have two”.

Matanya berbinar dan tersenyum lebar, “Thank you very much. I just wanna take pictures using my phone, one or two” Tanpa menunggu jawaban saya lagi, pria tadi langsung menyeruak ke jendela di dekat saya, menenggelamkan tanggapan saya berikutnya.

“no problem, take your time…”

Saya tersenyum dalam hati, semua orang di pesawat ini memang pecinta jendela, termasuk pria Hindustan ini. Pramugari tak dapat berbuat apa-apa ketika hampir semua orang menjadi tak sabar terutama yang berada di sebelah kanan yang berdiri sambil membungkuk ke arah jendela kiri. Di luar puncak Pigferago 6620m, Numbur 6957m, Karyolung 6511m hingga Cho-Oyu 8201m masih tampil dengan keindahannya bercampur awan. Bahkan Cho-Oyu puncak ke delapan tertinggi di dunia itu masih malu berselimut mega. Lalu pramugari itu mendatangi saya, berdiri di lorong tak jauh dari pria tadi…

Pramugari itu tersenyum, “Next is your turn”

Setiap penumpang diijinkan masuk ke cockpit pesawat untuk mendapatkan pemandangan Himalaya yang lebih jernih. Saya terloncat kegirangan. Sebagai orang terakhir check-in, tentu saja saya bukan orang yang termasuk yang didahulukan untuk masuk ke cockpit tetapi juga bukan orang paling akhir.

Numbur - Karyolung - Cho Oyu
Numbur – Karyolung – Cho Oyu

Dari belakang, tidak mudah untuk berjalan menuju cockpit dengan situasi para penumpang yang berdiri bergerombol di lorong dan membungkuk untuk melihat jendela kiri. Akhirnya ketika sampai di depan, pramugari itu menghentikan saya di antara ruang bagasi yang tertutup tanpa jendela. Saya kehilangan pemandangan di luar dan harus menunggu antrian dengan sabar.

Namun penumpang di depan saya itu seakan tak rela melepas waktunya. Saya paham, siapa juga yang rela melepas pemandangan barisan pegunungan tertinggi nomor satu di dunia? Saya juga tidak! Tetapi semakin lama ia menikmatinya, semakin lama pula saya kehilangan pemandangan indah di paruh kedua perjalanan ini. Saya tadi hanya sempat melihat sekilas puncak Cho-Oyu 8201m, dan itu semakin dekat dengan Sang Bintang.

ChoOyu 8201m - GyachungKang 7652m -Pumori 7161m
ChoOyu 8201m – GyachungKang 7652m -Pumori 7161m

Tapi entah kenapa, saya seakan diingatkan oleh janji saya sendiri kepadaNya saat bangun pagi. Saya tak mau meminta apapun. Saya sudah sangat banyak mendapat anugerah. Saya akan menerima apapun. Makanya saya diam menikmati waktu tunggu. Pramugari itu akhirnya meminta orang di depan saya untuk menyudahi gilirannya dan akhirnya dia keluar juga dari cockpit. Hati saya bergemuruh. Akhirnya giliran saya! Finally!

Tetapi Yang Maha Kuasa seakan mengajak bercanda dengan saya. Dia menunggu giliran saya untuk masuk cockpit, dan saat itu juga waktunya pesawat berputar menyebabkan saya hanya melihat langit dan garis horison yang miring serta disorientasi arah. Sepertinya Dia sungguh-sungguh bercanda, berhasil ‘ngerjain’ saya agar bisa kembali bergembira dan tersenyum setelah rentetan keharuan yang menyesakkan dada menyaksikan begitu banyak keindahan ciptaanNya. Sambil menjaga keseimbangan saat pesawat berputar, saya pun tertawa terbahak-bahak dalam hati, menerima semua kegembiraan dan canda dariNya, walau berupa garis horison miring dan disorientasi arah. Tuhan Maha Baik, Maha Menyenangkan Hati.

Saya menunggu dalam senyum hingga garis horizon itu kembali mendatar, sekejap saya menyadari berada di cockpit dengan jendela yang lebih bening. Saya terpana. Langit begitu biru. Salju begitu putih. Dan pemandangan pegunungan begitu indah dengan lekuk-lekuk mengular dan dinding-dinding cadas berhias awan. Saya masih kehilangan arah. Saya bertanya kepada pramugari berwajah Hindustan tadi. Telunjuk tangannya menunjuk lurus ke jendela kecil di arah kanan. Saya kebingungan. Apa? Sepersekian detik ia memandang saya dan tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, saya terbelalak paham. Ya itu dia! Sagarmatha! Everest! 8848m!

Walau hanya setitik! Walau hanya sebagian dari puncaknya, tetapi saya diberi kesempatan melihatnya. Saya hanya bisa menatapnya sebentar dengan mata kepala sendiri, nyata, bukan melalui TV atau internet, tanpa kamera. Biarlah ini menjadi rejeki milik mata yang menyaksikan dan tubuh menerima getaran ekstasi rasa syukur yang menjalar ke seluruh permukaannya. Terima kasih ya Allah…

A Tip of Everest Peak
A Tip of Everest Peak

Lalu saya cepat mengambil foto. Jari terus menerus menekan tombol kamera walaupun dada terasa sesak lagi. Baru saja Dia menggoda saya dengan garis horison miring dan disorientasi arah, lalu sekejap diberikan hadiah luar biasa hingga hilang kata-kata. Tidak ada penumpang lain yang melihatnya dari jendela cockpit yang jernih karena begitu posisi berganti, selapis kabut awan telah menutup puncaknya. Seperti disengaja, hanya dikhususkan untuk saya. Ah, nikmat mana lagi yang hendak kamu dustakan?

Saya masih bergeming seakan tak percaya akan cinta yang diberikan olehNya. Dan saya teringat akan penumpang yang masuk ke cockpit sebelum saya, yang tak pernah mau meninggalkan cockpit. Kini saya pun seperti dia dan memahami sepenuhnya. Siapa yang mau meninggalkan tempat dengan pemandangan seindah ini? Bagaimanapun waktu bukanlah milik saya dan kini ia berkunjung pada penumpang sesudah saya. Saya melangkah keluar dari cockpit bersamaan dengan menghilangnya Everest dari cakupan jendela. Benar-benar hadiah tak terlupakan seumur hidup saya!

Pramugari tadi memandang saya sambil tersenyum, mengenali ekspresi wajah yang mendapatkan hadiah luar biasa. Saya berterima kasih kepadanya yang telah mengatur penumpang yang hampir semuanya mengatakan “Sebentar lagi…” saat di dalam cockpit. “It’s so majestic… wow… Speechless”, kata saya padanya.

Saya kembali ke tempat duduk di bagian belakang dan membungkukkan tubuh ke depan sebisanya dengan jiwa yang bersyukur memuji namaNya, jutaan kali pun tetap terasa kurang atas satu hadiah luar biasa ini. Kali ini rasanya benar-benar saya tersungkur, menyadari bahwa sesungguhnya keterbatasan kemampuan menerima yang dimiliki manusia. Ah, kita selamanya memang tak pernah memiliki…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kini jendela kanan yang dipenuhi orang yang masih asik mengambil foto, Melungtse yang berpuncak datar kembali tampil di jendela menyusul Ghauri-Shankar yang puncaknya masih berbalut kabut putih yang berpendar tertiup angin. Sebentar lagi Dorje Lakpa mengambil alih pandangan di jendela.

Saya tahu setiap detiknya berarti semakin dekatnya perpisahan dengan pegunungan bertudung salju itu. Tatapan hampa dengan berjuta kata terima kasih pada mereka yang berbaris diam namun berbaik hati membiarkan mata dimanjakan.

Gunung Dorje Lakpa baru saja menghilang dari jendela, dan Langtang Lirung hadir di kejauhan. Kehijauan lembah Kathmandu semakin terhampar di hadapan. Semakin jelas perpisahan sudah dimulai, pesawat semakin jauh dari Himalaya yang berjajar gagah. Mountain flight dengan Everest Experience dari Buddha Air ini akan berakhir dalam beberapa saat, tetapi saya tahu pengalaman yang saya dapatkan ini telah memberi warna hidup yang tak terlupakan. Saya meletakkan tangan di jendela sebagai tanda salam perpisahan sementara. Terima kasih, Himalaya…

Day 1 – Jelajah Busan Sampai Menyeret Kaki


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Busan adalah kota pertama di Korea Selatan yang saya jelajahi dalam solo-traveling kali ini dan waktunya hanya 1 hari! Sebenarnya banyak destinasi yang bisa dilihat di Busan, tetapi dengan keterbatasan waktu saya hanya mendapatkan sebagian kecil dari daftar saya. Mungkin sebagian besar sisanya buat lain waktu. Bukankah jadi ada alasan untuk datang lagi ke Korea Selatan? hehehe… Yang jelas, walaupun tidak banyak yang saya kunjungi di Busan, saya merasa sangat sehat karena kemana-mana harus jalan kaki yang buat ukuran saya adalah jaauuuuhh…!

Penginapan saya yang letaknya tidak jauh dari Busan Station membuat saya mudah kemana-mana dengan menggunakan Metro (subway). Sayang memang, karena sepanjang perjalanan tidak ada yang bisa dilihat kecuali kegelapan. Berlainan jika menggunakan bus, kita bisa melihat keindahan pemandangan sekitar. Tetapi masalahnya, saya tidak mempersiapkan diri menggunakan transportasi dengan bus. Karena berpengalaman tersesat di Jepang dengan bus dulu karena kebodohan saya sendiri, subway menjadi pilihan ternyaman dengan prioritas lebih tinggi karena sifatnya yang lebih pasti.

Sudah sekitar jam 10-an ketika saya meninggalkan penginapan untuk mulai menjelajah Busan. Tidak sampai 100meter saya sampai di stasion metro Busan Station (113, line 1 – orange) dan seorang penjaga membantu saya untuk berkenalan dengan mesin-mesin tiket karena mungkin dia kasihan melihat saya lama bengong di depan mesin tiket. Saya membeli 1 day trip pass karena saya mau keliling Busan sehari ini tanpa harus berpikir soal transportasi lagi. Tiket sehari unlimited ini hanya berbentuk secarik kertas kecil, tidak lebih besar dari jempol orang dewasa dan sama bentuknya dengan tiket point to point.

Kemudian saya turun ke arah kereta melalui… tangga! Seperti yang saya baca, subway di Korea Selatan dipenuhi dengan tangga. Mungkin mayoritas penduduk Korea adalah orang yang sehat jasmaninya dan mampu naik/turun melalui tangga. Bukan berarti tidak ada lift atau ekskalator untuk para lansia dan disable, tetapi akses yang paling terlihat dari gate tiket dan mungkin yang paling disarankan untuk digunakan adalah tangga. Dan kedalamannya tidak tanggung-tanggung, bisa sampai 3 lantai. Kalau turun mungkin masih no problem, tapi naik? apalagi kalo tersesat.. hehehe…

Seperti biasanya pada hari pertama ini, saya meluangkan waktu khusus untuk mempelajari peta metro Busan, yang menurut saya sangat ajaib, karena mampu membuat silap mata khususnya bagi orang yang suka teledor seperti saya. Bayangkan, stasion awal line 2 di Yangsan dan berakhir di Jangsan. Bagi saya, kedua nama stasion itu sama karena bacaannya mirip. Saya sempat terkecoh karenanya (waktu transfer kereta bayangin muka dodol saya ke kiri: Yangsan, ke Kanan: Jangsan.. Lhoo!)  Halaah! hanya beda 1 huruf : Y dan J !!!

Haeundae Beach

Destinasi pertama di Busan adalah menuju Haeundae Beach yang terkenal seantero Korea Selatan. Untuk itu dari Busan station (#113 line 1, orange) saya menuju Napo dan turun di Seomyeon untuk transfer ke line 2. Dari Seomyeon saya menuju Jangsan (Jangsan yaaa… bukan Yangsan! :-D) dan turun di Haeundae Station, exit 5. Dan lagi-lagi naik tangga untuk keluar ke permukaan bumi ya! Tetapi karena masih awal penjelajahan, masih semangat45.

Muncul di permukaan tanah dari Haeundae Station, udara sejuk musim gugur langsung menerpa. Tidak terlalu dingin, bisa dikatakan nyamanlah. Namun untuk mencapai pantai harus berjalan sekitar 10 menit. Tetapi stop sebentar! Karena kelihatannya orang Korea menghitung jarak dekat dalam hitungan menit-nya jalan kaki, hitung dulu kecepatan rata-rata orang berjalan. Jika kecepatannya 4 km/jam itu artinya jarak ke pantai sekitar 700meter. Di Indonesia, jarak segitu biasanya sudah tersedia ojek. Di Korea? Ya jalan kaki… dan itu termasuk dekat! Pantai dan suasananya sudah terlihat kok… (tapi kalau dipikir-pikir dari sini juga terlihat bulan kan??? mau jalan kaki juga? Hehehe…)

Jadilah saya berjalan kaki menuju pantai terkenal itu dan menjelang tengah hari bolong yang terik tapi anginnya cukup dingin, saya menginjak pantai putih Haeundae yang sangat landai. Benar-benar waktu yang tidak tepat untuk berkunjung ke pantai. Saya melihat jajaran gedung tinggi dengan hotel Novotel menjulang di tempat yang paling strategis. Hmm.. ditandai untuk nanti bersama keluarga… Di pantai tampak anak-anak TK sedang belajar dan bermain bersama guru-gurunya. Mereka bergoyang lucu mengikuti lagu Gangnam Style yang mendunia itu. Juga tampak orang-orang yang mengajak anjingnya berjalan-jalan. Selain itu tampak pula pesepeda yang menyusuri pedestrian khusus sepeda. Memang nyaman sekali menyusuri pantai dengan sepeda, walau waktunya salah sekalipun karena anginnya tetap membuat nyaman. Pantai Haeundae tidak terlalu banyak dikunjungi pengunjung saat itu, padahal jika musim panas tiba, pantai Haeundae sangat penuh pengunjung dengan payung-payung pantainya yang berwarna merah berjejer-jejer.

Saya berjalan perlahan menuju Dongbaek dengan menyusuri pantai melewati area Busan Aquarium yang dipenuhi pengunjung muda. Jika ada kesempatan di waktu mendatang, saya akan mengunjungi Busan Aquarium tapi kali ini belum dulu. Pantai Haeundae ditata apik. Beberapa spot terlihat menarik walaupun informasinya dalam tulisan Hangul sehingga saya tidak dapat mengerti maknanya. Tetapi tanpa perlu memahami artinya, saya bisa  menikmati dengan mata dan hati, semua terasa indah. Beberapa sisanya diberikan penjelasan bahasa Inggeris, seperti fenomena pulau Tsushima yang termasuk wilayah Jepang, kadang terlihat dari Haeundae, kadang tidak.. walaupun dalam keadaan cuaca yang jernih.Mau tau penjelasannya? Datang deh ke Haeundae Beach..

Patung Putri Duyung

Saya masih terus menyusuri pantai Haeundae sampai ke ujung, arah ke Dongbaek dan di atas sebuah karang, dibuatlah sebuah patung putri duyung. Kita bisa mencapainya dengan menyusuri jalan di balik hotel Westin ataupun dari arah Dongbaek melalui jalan setapak yang terbuat dari kayu. Konon, legenda mengisahkan bahwa Putri Hwanggok yang datang dari Kerajaan duyung Naranda, dinikahi oleh Raja Eunhye dari Mugung, sebuah kerajaan yang sangat terkenal. Setelah menikah dan menetap di Mugung, di saat-saat Putri Hwanggok sangat merindukan keluarga dan bangsanya di Naranda, ia hanya dapat melepas rindunya melalui pantulan bola emas saat bulan purnama tiba. Sedih yaa… wajah patung sang putri pun dibuat melow penuh kerinduan. Percaya ga sih, saya merasakan atmosfir rindu disitu… Bagaimana tidak, dalam posisi di atas patung putri duyung itu, sejauh mata memandang hanya ada lautan, dan memang bila kita sendiri disitu, hanya ada satu rasa, rindu sama orang-orang tercinta…. jiaaaahhh 🙂  

The Chamber

Saya kembali ke Haeundae sambil mulai terseok-seok pegal dan kepanasan sampai ke titik awal dekat Hotel Novotel. Di belakang hotel terdapat sebuah monumen seni yang dikenal dengan nama The Chamber karya Dennis Oppenheim (1938 – 2011), seorang seniman pelopor dalam seni konsep. Untuk menikmatinya, pengunjung the Chamber perlu masuk ke dalam monumen tersebut dan berjalan diantara ‘tembok’ yang dibuat menyerupai lembar kelopak bunga yang berlekuk. Dan merasakan bahwa dalam keleluasaan dan keterbukaan, tetap terdapat rasa restriksi dan pembatasan. Dari luar, pengunjung akan merasa terundang karena terlihat terbuka, namun begitu masuk di dalamnya, akan terasa terbatasi karena lekuk dari ‘tembok’ The Chamber. Ada makna yang sangat dalam. Ironisnya, Dennis Oppenheim meninggal sebulan sebelum monumen di Busan ini sempurna tersusun.

Haeundae Traditional Market

Saya meninggalkan pantai pelan-pelan dan menuju pasar tradisional. Tidak ada yang spesial di pasar ini kecuali keadaannya yang bersih dan teratur (dan semoga saja semua pasar di Indonesia bisa seperti ini). Tidak banyak pengunjung, mungkin karena sudah siang. Bisa jadi keadaannya berbeda jika kita datang pagi-pagi dimana banyak orang mengunjungi pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Awalnya saya berminat membeli makanan untuk langsung disantap, tetapi sepanjang kaki melangkah tidak ada satu pun yang kena di hati. Akhirnya saya kembali ke stasion Metro.

Busan Museum of Art

Meninggalkan pantai, dengan Metro saya menuju BMA (Busan Museum of Art) dan tentu saja pakai tangga dan tangga lagi 😥 Dan ketika hendak keluar ke permukaan tanah, saya sampai tidak mau melihat ke atas karena takut putus asa karena tingginya tangga, hehehe..  Akhirnya walaupun nafas satu-satu sampai juga ke permukaan tanah dan langsung duduk di taman untuk minum dahulu sambil meluruskan kaki yang mulai protes dan ngambek. Untung saja pemandangannya cantik. BMA ini terletak di seberang BEXCO dan sangat nyaman dinikmati saat sore, dimana karya-karya seni digelar di dalam dan di luar gedung. Bentuk tangan, cangkir, teko, dalam ukuran besar dan banyak lagi karya seni yang indah saling mengisi dunia seni Busan ditunjang dengan halamannya yang sedang ditumbuhi pohon-pohon berwarna hijau, kuning, oranye dan merah, warna-warna khas musim gugur. Udara sore makin memberi kenikmatan untuk melihat-lihat karya seni. Rasanya ingin terus berlama-lama di taman itu. Bentuk-bentuk arsitektur gedung yang ada di sekitar BMA juga sangat mendukung keindahan disain kota. Saya kagum. Untuk urusan disain, sepertinya Korea Selatan memang berada di level-level atas, paling tidak menurut pandangan rasa saya.

Shinsegae Mall @ Centum City

Waktu berjalan terus, saya harus melanjutkan perjalanan walaupun untuk melangkah sudah harus menyeret kaki. Dan sampailah saya ke pusat perbelanjaan terbesar di dunia yang terdaftar di World Guinness Book of World Record. Awalnya Shinsegae hanya merupakan pelopor pusat perbelanjaan di Korea, tetapi perkembangannya luar biasa. Memiliki jumlah item yang tak terhitung banyaknya, termasuk spa, tempat bermain seluncur es, golf driving range, multi-bioskop yang berada dalam satu atap juga terintegrasi dengan stasion Metro. Gedungnya sendiri memang luar biasa besar. Saya hanya sedikit mencoba menjelajah lantai-lantainya yang memang luar biasa besarnya. Sepertinya ekskalator tidak habis-habis bersambung, makin lama makin tinggi. Dasar saya tidak suka berbelanja, saya selalu beranggapan bahwa pusat perbelanjaan dimana-mana berkonsep sama: ada barang, diatur dengan baik dan ada yang membeli (tetapi bukan termasuk saya! hehe). Puas melihat-lihat, saya keluar meninggalkan pusat perbelanjaan itu. Dan malam pun datang menjelang, situasi di luar lebih menarik. The Golden time…

Saya mencari lokasi paling nyaman di sudut dan duduk menikmati situasi sambil (lagi-lagi) meluruskan kaki di bangku beton yang disediakan di dekat pedestrian lebar. Tidak ada orang di sekitar saya. Yang ada hanyalah pemandangan indah di depan mata saya. Malam menjelang datang, lampu-lampu penerangan sudah mulai dinyalakan, lampu kendaraan yang lewat menambah suasana sementara ranting-ranting berdaun kuning tampak keemasan diterpa lampu. Gedung-gedung bertabur lampu menjulang indah menjadi latar belakang pemandangan kota dalam menyambut malam di musim gugur.  Saya suka di tempat ini.

Gwangalli Beach & Gwangan Bridge

Malam pun datang, saya menyeret kaki lagi meninggalkan area Centum City dan Haeundae dan menuju Gwangan Station, exit 3 atau 5. Hanya untuk menuju pantai malam-malam! Lagi-lagi, salah waktu untuk berkunjung ke pantai. Jika tadi siang salah waktu ke Haeundae, sekarang waktu malam ke Gwangalli yang tentu saja tidak terlihat apa-apa kecuali ya satu itu… Gwangan Bridge yang terkenal. Saya memperhatikan jembatan panjang yang penuh lampu di tengah kegelapan malam. Indah memang walaupun tidak terlalu spesial. Di pinggir pantai banyak lampu-lampu menghiasi gedung. Saya jadi teringat akan gemerlapnya kota Macau yang penuh dengan kasino, walaupun belum seekstrim itu. Yang jelas, saya berhasil mengunjungi pantai Gwangalli walaupun kaki sudah seperti mau putus. Lagi-lagi Korea Selatan hanya menuliskan 10 menit jalan kaki menuju pantai dari stasion. Artinya, 20 menit untuk bolak balik. Cukup bikin mampus dengan kaki yang sudah protes berat minta istirahat total. Tambah lagi untuk ke pantai Gwangalli ini jalannya agak menurun dan tentu saja untuk kembalinya, harus nanjak! (Ampuuun… Saya kangen tukang ojek… 😀 )

Ayam Goreng Tanpa Tulang

Akhirnya saya menyerah, kaki benar-benar protes dan seharian ini perut belum terisi. Saya mengenal perut yang tidak bisa menerima makanan Korea ini. Pelan-pelan saya menyusuri jendela-jendela yang masih buka sekembali dari pantai. Begitu laparnya, saya langsung naik lift melihat ada tulisan latin Thai di lantai 3, yang saya kira restoran Thailand, namun ternyata hanyalah sebuah kantor travel yang gelap! Dodol lagi! Terpaksa turun dan merayap lagi pada jendela-jendela yang menawarkan makanan. Puji syukur masih ada restoran buka dengan menu bahasa Inggeris: ayam goreng tanpa tulang, sejenis chicken nugget, dengan side dish. Ketika order saya datang, porsi yang katanya kecil itu datang dengan ukuran untuk 4 orang! Saya terkejut dan memandang putus asa kepada waitress. Tetapi waitress dengan bahasa Inggeris yang cukup baik dan ramah mengatakan, bisa dibungkus kok! Alhasil makanan bungkus itu menjadi makanan saya terus selama dua hari ke depan! Hidup ayam goreng tanpa tulang!!!

Seokbulsa, Yonggungsa, Beomeosa Temples, Jagalchi, 40 Steps, Taejongdae Park yang terlewatkan…

Kembali dari Gwangan, badan ini sudah menyerah total, yang paling buruk telah saya lakukan, berjalan tidak lagi melangkah tetapi menyeret-nyeret kaki. Sebenarnya kali ini tidak separah ketika jalan di Hong Kong atau Shenzhen, tetapi entah kenapa rasanya lelah sekali. Walaupun perut sudah terisi, beberapa kali mata dan otak sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Gawat… Sepertinya badan sudah mau ‘demo’ anti-jalan, tidak bisa tidak, saya harus memutuskan kembali ke penginapan. Saya tahu masih banyak destinasi yang belum dikunjungi, Seokbulsa, Yonggungsa, Beomeosa temples, Jagalchi market, Taejongdae Park, Seomyeon area dan 40 Steps yang saya simpan untuk dikunjungi lain waktu. Kali ini, Busan, cukuplah sampai di sini dulu, karena besok saya harus meninggalkan Busan dan pergi ke kota lain…