Nepal: Menyapa Sore di Bhaktapur Durbar Square


Sebelum berangkat, seorang teman kantor yang pernah ke Nepal merekomendasikan untuk menginap di Bhaktapur minimal semalam, karena menurutnya saya pasti akan suka. Kenyataannya… bukan suka, melainkan suka banget, sangat teramat suka sekali! Hehe..

Bisa jadi karena suasana hati saat itu sedang bahagia level maksimum, -setelah mengalami keajaiban tak henti sejak dikawal guardian angels kemudian mendapat air suci serta sekalung bunga bersamaan dengan festival Haribodhi Ekadashi di kuil kuno Changu Narayan-, sehingga tak ada rasa keberatan ketika taksi berputar-putar tak jelas di lorong-lorong sempit Bhaktapur untuk mencapai penginapan. Saya memang menyerahkan sepenuhnya kepada pengemudi setengah baya itu untuk menemukan alamat penginapan walau seingat saya letaknya tak jauh dari Durbar Square ataupun Pottery Square. Saya hanya duduk manis penuh kekaguman menyaksikan semua keindahan arsitektur khas Nepal melintas silih berganti di hadapan mata saat mobil memasuki kawasan lama Bhaktapur. Kadang kepala saya berputar tak ingin melepas pandangan indah, tapi yang lebih indah memasuki wilayah pandang. Saya panik, ini kawasan luar biasa untuk dijelajahi. Lalu ketika akhirnya mobil berhenti di depan penginapan kecil, saya langsung keluar lalu berdiri menjejakkan kaki di bumi Bhaktapur. Bahagia, tak percaya.

Tak bisa tidak, semua keindahan itu harus menunggu urusan check-in dan lain-lainnya. Jelas sekali saya tak ingin berlama-lama di penginapan walaupun dengan penuh kesadaran saya harus mengurus kelanjutan perjalanan di Nepal. Kepada petugas penginapan itu, saya  minta bantuan pengurusan tiket penerbangan ke Pokhara untuk keesokan harinya karena saya ingin menikmati Bhaktapur lebih lama. Bahkan sambil menghubungi agen perjalanan, dia sigap memberikan penjelasan arah tempat wisata yang telah berabad berdiri dalam diam itu. Setelah semuanya selesai, segera saja saya mengawali perjalanan di kawasan kuno itu.

Bhaktapur Durbar Square From Western Gate
Bhaktapur Durbar Square From Western Gate

Bhaktapur, -atau dengan lidah lokal sering disebut dengan nama Bhadgaon atau Khwopa-, memiliki makna kotanya para bhakta, para pemuja. Bhaktapur yang terletak sekitar 13 km arah Timur Kathmandu modern itu, pernah menjadi ibukota Kerajaan Malla berabad-abad lampau.

Saat itu saya melangkah di lorong-lorong antara bangunan rumah hingga akhirnya muncul di Bhaktapur Durbar Square, sebuah kawasan yang menjadi bagian dari UNESCO World Heritage Sites di Nepal. Inilah lapangan terbuka yang sudah terhampar sejak berabad lalu dan berhadapan dengan istana yang terkenal dengan 55 jendelanya. Sejuk udara November memberi rasa berbeda. Tetapi entah kenapa saya ingin melewatkan istana Raja, -yang dulu menjadi pusat kekuasaan hingga saat ditaklukkan oleh Raja Prithvi Narayan Shah pada abad-18-, bisa jadi karena teringat Rupee yang kian menipis.

Saya melihat ke sisi yang lain. Jika sebagian masyarakat China percaya angka empat sebaiknya dihindari, tidak demikian dengan para pemuja di Bhaktapur. Di bagian barat Durbar Square terlihat empat kuil yang dikenal dengan nama Char Dham (Char berarti empat). Bagi penganut Hindu, ibadah ke kuil-kuil ini merupakan ziarah mini jika belum mampu pergi ke Kuil Char Dham yang asli di India Utara. Kuil Char Dham terdiri dari Kuil Gopinath yang bergaya tradisional Nepali penuh image Dewa Vishnu lengkap dengan Garudanya yang merupakan kuil terbesar dari kelompok Char Dham ini. Lalu Kuil Rameshwar dengan empat pilar beratap putih dekat gerbang Durbar Square serta kuil kecil Badrinath yang sakral untuk Dewa Vishnu dalam inkarnasinya sebagai Narayan. Kuil keempat adalah kuil Kedarnath yang didedikasikan untuk Dewa Shiva. Dalam gempa 2015 lalu hanya bagian atas kuil yang terbuat dari batu bata merah yang rusak walaupun kuil ini berhasil dibangun lagi setelah runtuh akibat gempa tahun 1934.

Masih di sekitar gerbang Barat, di depan sekolah terdapat Ugrachandi dan Bhairab, sebuah karya abad-17 yang menggambarkan Dewa Shiva dan Dewi Parwati. Namun dibalik keindahannya, terdapat kisah mengerikan yang membuat sakit perut. Sebagaimana penguasa-penguasa keblinger jaman dulu yang ingin hasil karya semasa kekuasaannya abadi, konon tangan pembuat Ugrachandi dan Bhairab sengaja dipotong agar ia tak dapat membuat duplikasinya! Whew…

Sore mulai menghias langit Barat saat saya menyusuri dinding Istana. Sayang sekali karena National Art Gallery saat itu sedang direnovasi, hingga saya hanya bisa mengabadikan Vishnu sebagai Narsingha di salah satu dekorasi gerbangnya. Namun apa yang lebih cantik melihat gerbang emas istana yang dikenal dengan sebutan Sun Dhoka (Golden Gate) berkilau tertimpa matahari sore? Dihiasi dewa-dewi Hindu di bagian atas, gerbang yang dibuat oleh Raja Bhupatindra Malla ini tampak sangat menonjol di dinding Istana. Detil hiasannya begitu mengagumkan, Garuda yang bertarung melawan Naga di puncak lengkung gerbang dan di bawahnya terpampang Dewi Taleju Bhawani berwajah empat bertangan ratusan sebagai dewi pelindung dinasti Malla. Melalui Sun Dhoka ini pengunjung bisa memasuki halaman dalam Istana 55 jendela.

Sun Dhoka - Garuda and the 4 faces Taleju Bhawani
Sun Dhoka – Garuda and the 4 faces Taleju Bhawani

Kemudian di depan Istana tampak menjulang kolom dengan Raja Bhupatindra Malla bersimpuh di puncaknya dengan tangan mengatup di depan dada menghadap Kuil Taleju yang ada di halaman dalam Istana. Sebuah monumen yang mengingatkan saya pada monumen serupa di Kathmandu dan Patan Durbar Square. Semua ukurannya sama, relatif kecil untuk ukuran seorang Raja bahkan saya harus menggunakan zoom untuk mengabadikannya dalam foto. Bisa jadi itulah makna sebuah kerendahhatian seorang penguasa, bukan dirinya yang diperbesar untuk dipuja-puja melainkan hal lain yang lebih berguna bagi banyak orang.

Bhupatindra Malla's Column, Bhaktapur
Bhupatindra Malla’s Column, Bhaktapur

Selemparan batu dari kolom Raja terdapat kuil Vatsala Durga. Kuil indah, saingannya Krishna Mandir di Patan ini didirikan oleh Raja Jagat Prakash Malla pada abad-17. Mengikuti aturan dan arsitektur kuil di India, kuil cantik ini sungguh memanjakan mata dengan hiasannya yang detil. Teringat saat matahari sore menerpa permukaan kuil, tak bosan-bosan saya mengabadikannya dari beberapa sudut. Keindahannya yang menjadi ikon Bhaktapur Durbar Square, -yang menjadi pusat pandangan mata wisatawan yang datang-, meluluhlantakkan hati saya karena kini keindahannya hanya tinggal kenangan sejak gempa April 2015 meruntuhkannya rata dengan tanah. *sedih

Dan di atas dua pelataran di dekatnya terdapat dua genta. Yang ukurannya lebih besar, Taleju Bell, didirikan oleh Raja Jaya Ranjit Malla pada abad-18 untuk mengingatkan waktu ibadah pagi dan sore di Kuil Taleju. Genta yang lebih kecil diletakkan di depan kuil Vatsala Durga yang dikenal sebagai Genta Menyalak (Barking Bell). Konon, genta kecil yang didirikan oleh Raja Bhupatindra Malla sebagai pembuktian mimpinya ini bila dibunyikan mampu membuat anjing-anjing menggonggong. Sempat terlintas di benak untuk membunyikannya tapi saya takut nanti anjing-anjing itu jadi fans mengikuti kemana saya pergi hehe..

Saya melanjutkan langkah menuju sebuah pendopo yang cukup lapang yang dikenal sebagai Chyasilin Mandap melengkapi kuil Vatsala Durga. Pendopo ini dijaga sepasang singa mengkilat yang dibuat dengan sangat indah, menjadi tempat istirahat saya ketika kaki sudah lelah menikmati Durbar Square.

Lions as the guardians of Chyasilin Mandap
Lions as the guardians of Chyasilin Mandap

Masih di sekitar Istana, di sudut tenggara berdiri Kuil Siddhi Lakshmi yang dibangun pada abad-17. Dihiasi dengan penjaga-penjaga yang berpasangan yang berbeda jenis, yang paling depan penjaga berwajah Oriental yang lucu dan memegang anak dan anjing, undakan berikutnya dijaga sepasang kuda berhias, lalu badak yang juga berhias, kemudian singa yang berwajah manusia dan entah apa lagi yang pastinya memiliki makna dalam karena seperti biasanya, setiap patung penjaga itu memiliki kisahnya tersendiri.

Dan akhirnya saya berdiri di depan dua patung singa yang tampak menyolok namun janggal di tengah-tengah lapangan terbuka itu. Bertangga tetapi tidak ada apa-apa di belakangnya. Ada yang mengatakan bahwa sebelumnya terdapat kuil indah di belakangnya tetapi telah rata dengan tanah akibat gempa bumi puluhan tahun atau berabad sebelumnya. Namun mungkin yang lebih masuk akal, kedua patung singa itu memang sengaja dibuat sebagai penjaga sebelum memasuki kawasan istana dari arah Timur. Saya tidak tahu kebenarannya, tapi yang jelas keduanya sangat menarik! Lagi pula singanya seksi hehe…

Bhaktapur Durbar Square from Eastern Gate
Bhaktapur Durbar Square from Eastern Gate

Di sebelah Utara patung singa terdapat kuil Fasidega yang memiliki pelataran tinggi yang luas dengan bangunan berwarna putih di atasnya. Kuil yang didedikasikan untuk Dewa Shiva ini, memiliki undakan bertingkat yang masing-masing dijaga oleh pasangan gajah, singa dan sapi yang sangat keren. Dan di bagian dalam bangunan puncak terdapat sebuah lingga sebagai lambang Dewa Shiva. Sayangnya, bangunan yang berwarna putih telah runtuh dalam gempa April 2015 meninggalkan pelataran dan patung-patung penjaganya. Konon sebelum runtuh, kuil Fasidega ini dapat terlihat dari kuil Changu Narayan karena puncak putihnya (tetapi yang jelas saya tidak dapat melihatnya saat berada di Changu Narayan, karena bangunan serupa Kuil Fasidega itu tidak hanya satu!)

Kaki melangkah terus menyusuri jalan-jalan di Bhaktapur ditemani sore yang manis. Tanpa terasa saya telah melewati Tadhunchen Bahal yang kini menjadi tempat tinggal Dewi Kumari dari Bhaktapur, the little princess, the living goddess. Kali ini saya melewatkan tempatnya, bisa jadi melewatkan kesempatan berpandang mata, berbahasa kalbu dengannya. Tetapi tak ada penyesalan karena saya telah melakukannya dengan Dewi Kumari di Kathmandu.

Pashupatinath Temple
Pashupatinath Temple – Can you see the erotic panels?

Saya kembali kearah istana menyusuri beranda lorong kayu yang berukir melengkung dan berhenti di depan sebuah kuil tua di sebelah selatan dari Kuil Vatsala Durga. Terkenal dengan nama Kuil Pashupatinath, -karena menjadi replika kuil di Pashupatinath itu-, berdiri dengan megahnya. Kuil yang didirikan oleh Raja Yaksha Malla pada abad-15 ini didedikasikan untuk Dewa Shiva yang diperkuat dengan kehadiran arca Nandi di sebelah Barat, sang bhakta yang menjadi kendaraan setia Dewa Shiva. Kuil Hindu megah yang tertua di kawasan ini bernuansa Tantra sehingga terlihat jelas panel-panel erotis tanpa harus memanjangkan leher dan membelalakkan mata. Panel erotis yang terpampang jelas di sekeliling kuil seakan memberi konfirmasi bahwa aktivitas seksual bukanlah hal yang tabu, bahkan konon lebih bersifat spiritual yang hakiki atas penyatuan jiwa manusia dengan alam semesta. Namun terlepas dari kebenarannya, faktanya adalah semua panel erotis berada di bagian luar kuil. Sebuah makna yang kebenarannya bisa diterima banyak orang, bahwa semua urusan keduniawian dan nafsu sudah seyogyanya ditanggalkan sebelum melakukan ibadah, sesederhana itu. Bukan begitu?

Nandi the Bull
Nandi the Bull

Langit Barat Bhaktapur semakin oranye, kembali saya melanjutkan langkah membiarkan diri ini get-lost diantara lorong-lorong sempit Bhaktapur. Alunan musik Om Mani Padme Hum terdengar samar dari dalam kios, berpadu harmonis dengan alunan Bhajan yang juga terdengar dari kios yang lain. Tak ada yang tersinggung bermuka garang, disini Hindu Buddha berdamping mesra, sama-sama mengalunkan musik puja dan puji, menawarkan damai bahagia…

Melihat dan Merasakan Yang Tak Kasatmata


Creepy and Spooky

Waktu kecil saya itu penakut (dan sampai sekarang masih juga sih walaupun kadarnya tidak separah waktu kecil). Takut karena dengar cerita-cerita horror, nonton film horror dan karenanya takut pada apa yang ada dalam pikirannya seandainya makhluk-makhluk itu muncul di depan mata. Bahkan saat kecil, saya tidak berani menyeberang ruang tengah dari rumah orangtua yang saat itu tak berplafon dan memiliki beberapa genting kaca sehingga langit malam berhias bulan bisa terlihat langsung. Dan justru itu yang menakutkan, bagaimana kalau muka makhluk mengerikan itu muncul di atas genting kaca?

Tapi herannya, walaupun penakut tetap saja nonton film-film horror yang bikin jantung deg-degan dan tidak bisa tidur semalaman. Salah satu film yang berkesan banget ya Poltergeist itu, karena tokoh iblisnya muncul siang hari! Dan makin kesini, film-film yang bikin senewen itu makin seru rasanya. Dan setelahnya pastilah terjadi situasi yang sama selama beberapa hari, minta ditemani ke kamar mandi, atau ke dapur kalau lagi kelaparan pas malam hari, pokoknya tidak mau ditinggal sendiri 😀

Masa takut di rumah sendiri? Hehehe… itu ada ceritanya deh…

Entah kenapa saya memiliki sensitivitas yang agak lebih tinggi dari kebanyakan orang. Sejak SD sudah bersinggungan dengan hal-hal seperti ini, terutama musibah atau kematian. Duluuu… pernah suatu ketika saya mengatakan ‘hati-hati di jalan’ kepada seorang sahabat yang safe-driver yang mau mudik, satu hal yang tidak pernah saya ucapkan kepada dia dan pagi itu terlontar begitu saja. Besoknya, sang sahabat cerita dia tabrakan tapi Alhamdulillah dia baik-baik saja. Sampai sekarang, ucapan yang sangat umum itu hampir selalu berhenti dibibir saya dan tak terucapkan. Mending doa yang lain saat berpisah dengan orang lain…

Yang lebih tak menyenangkan saat berhubungan dengan kematian. Biasanya benak saya dipenuhi dengan situasi berkabung, jika ada orang yang saya kenal akan menghadap Tuhan, walaupun saya tidak mengetahui pasti siapa orangnya! Biarpun saya sedang pesta atau senang-senang, gambaran di pikiran itu tidak berganti ditambah perasaan seakan-akan berada di tengah-tengah situasi berkabung itu. Tidak nyaman sama sekali dan asli, beraaat… Tau kan rasanya saat berada dalam situasi perkabungan dan hal itu terasa berhari-hari bisa seminggu lebih lalu berhenti setelah kejadian. Biasanya saya hanya mengangguk-angguk sendiri kayak sapi menyadari semua tanda itu, oh itu, oh dia… Semakin dekat hubungan keluarga, semakin berat. Saat bapak kos meninggal dunia, hampir seminggu lamanya benak saya dihiasi dengan gambaran penuh kesedihan itu yang membuat saya tidak bisa tidur.

Sampai akhirnya saya merasa tidak sanggup untuk itu dan berdoa agar diberi kekuatan dan ketenangan.

Dikabulkan sih, paling tidak kalau ada yang pergi, belakangan ini situasi yang saya hadapi tidak se-ekstrim dulu, paling mimpi atau seperti dulu tapi lebih mild dan tidak lama. Tetapi bagi saya yang sulit sampai sekarang adalah saat berada di rumah sakit, atau di rumah duka atau tempat-tempat yang bernuansa ‘berat’. Saya seperti kembali ke jaman dulu…

Nah apalagi kalau jadi bisa lihat yang tak kasatmata…

Ya begitulah, walaupun untung saja, tidak selalu dan sangaaat jarang…. (dan semoga engga lagi!)

Duluuu… saat masih awal berkarir sebagai petugas data center, malam itu saya bertugas sendirian untuk penyelesaian akhir hari. Agar tak mengganggu tangan, saya melepas gelang asesories dan meletakkan di tengah meja kerja. Sekelebat, dua kelebat sih sering terlihat melalui ekor mata, kadang membuat bulu kuduk meremang juga. Tetapi, saat gelang saya jatuh sendiri dari meja ke lantai, kejadian itu tidak membuat saya lari ketakutan melainkan lebih kearah situasi tersinggung. Dengan santai saya ambil gelang dari lantai sambil mengatakan, jangan ganggu dong… saya kan sedang bekerja di sini. Setelahnya saya selalu aman sentosa kerja malam disitu (beda dengan rekan saya yang pernah tertidur di tempat yang sama, dan dibangunkan oleh suara dengan badan yang digoyang-goyangkan, dan sambil dihardik, jangan tidur disini!) 😀

Beberapa tahun lalu saya sering bekerja malam sendirian. Walaupun saat itu berfokus pada pekerjaan, terdengar juga sih bunyi-bunyi di kubikal belakang, desir CPU yang bekerja, bunyi kriet-kriet atau geseran kursi atau benda. Saya selalu berpikir positif saja, bisa jadi angin, binatang, atau ada rekan yang lupa mematikan PC-nya. Tetapi biasanya tidak mengganggu. Kalaupun mengganggu, itu adalah kelebatan-kelebatan yang suka terlintas di ekor mata dan kalau sudah sampai menjalar di dinding… itu saatnya saya untuk bilang, Ok.. Ok.. Aplusan yaa… saya pulang deh… 😀

Pernah sekali waktu saya ditugaskan ke Surabaya dan menginap di sebuah hotel yang terkenal di kota itu. Sekali itu saya benar-benar tidak bisa tidur, miring kiri atau miring kanan, di dalam selimut atau di luar selimut, saya merasa ditatap habis-habisan dari kursi yang ada di kaki tempat tidur saya. Ada rasa yang sangat tidak nyaman malam itu… dan untungnya itu malam terakhir di sana…

IMG_0668e

Tetapi ngomong-ngomong soal Surabaya, adik saya punya dua cerita menarik yang terjadi di Surabaya. Karena waktu itu si adik sedang dalam business trip, dia menginap di satu hotel berbintang di tengah kota yang dulu menjadi salah satu pusat peperangan jaman kemerdekaan. Setelah check-in saat malam hari, dengan santai dia menuju kamarnya. Nah karena dia mengenakan sepatu resmi, langkahnya terdengar keras tek-tok-tek-tok-tek-tok di lantai marmer lorong hotel itu. Yang menyebalkan ya itu, ada suara langkah sepatu lain yang mengikutinya tanpa ada fisiknya dan ikut berhenti kalau adik saya berhenti. Ketika melanjutkan jalan, suara langkah kaki itu terdengar lagi… tek-tok-tek-tok-tek-tok berhenti… tek-tok-tek-tok-tek-tok… Aaargh… Males ga sih kalau diikuti seperti ini?

Lain lagi ceritanya saat dia check-in di hotel brand internasional yang terkenal, masih di Surabaya. Mungkin karena lelah seharian kerja dan sudah terbiasa mengucapkan salam, tanpa sadar sepulang kerja malam itu, ia membuka pintu kamarnya yang ada di sudut di lantai hotel itu, sambil mengucapkan Assalamu’alaikum. Dan salam itu dibalas dengan manisnya tanpa ada wujud, Wa’alaikumsalam…. 😀 😀 😀

Tak beda jauh dengan apa yang dialami guru saya saat kehadiran makhluk di sekitarnya. Sekali waktu, saat sholat subuh di musholanya, setelah pembacaan surat Al Fathihah, terdengar suara di belakangnya, Aamiiiiiin…. walaupun pasti tidak ada makmum saat itu. Jujur deh… kalau saat itu jadi imam, konsen ga sih?

Mungkin sama ya seperti manusia, ada yang baik, dan ada yang suka iseng juga. Ibu saya saat mendirikan sholat di rumah kakak di Medan, pernah sekali waktu ditarik-tarik mukenanya ke belakang sampai harus berhenti sejenak. Iseng sekali kan…?

Saya sendiri mendapat pengalaman berhadapan face-to-face dengannya. Haiyaaa sebuah perkenalan…

Pagi jelang siang itu, saya sedang nonton TV sendirian di ruang tamu rumah. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba terasa udara dingin terasa lewat di belakang saya. Saya langsung berdiri dari sofa, berbalik badan dan membelakangi TV. Saat itu saya lihat sosok makhluk di hadapan saya, berwajah tapi tembus pandang, susah dijelaskan tetapi serupa uap air saat mendidih. Sepersekian detik kemudian, setengah sadar dengan apa yang ada di hadapan, saya lari tergopoh-gopoh ke lantai atas bersamaan dengan suara angin ribut menuju pintu keluar di teras belakang… jadi ini toh yang namanya perkenalan di rumah? 😀 😀 😀

Saya pikir hubungan dengan hal-hal demikian hanya di Indonesia dan putus hubungan ketika traveling ke luar negeri. Tetapi ternyata tidak…

Ketika solo-travelling ke Korea, saat berdiam di kamar hotel dikota Daegu tiba-tiba saya merasa udara sangat dingin mendatangi saya di kamar yang tadinya hangat. Karena berpengalaman dengan udara dingin yang tiba-tiba itu, saya tahu ini berhubungan dengan hal-hal yang ‘begitulah’. Dengan cueknya (walaupun bulu kuduk meremang sih), saya menyalakan TV dan memasang dengan volume keras (walaupun ga ngerti bahasa Korea!) lalu ke kamar mandi. Ah, ternyata di kamar mandi ini dinginnya ikuuuuttt… Malah lebih dingin! Sebel banget… 😀

Nah yang terakhir ini, saat ke kompleks Angkor dengan Gara, Sang Pencari Jejak. Waktu itu Gara sedang berusaha memotret di sebuah ceruk yang gelap di Candi Preah Khan. Tetapi karena gelap dan tak bisa terekam di kamera, Gara pergi keluar meninggalkan saya sendiri. Saya mencoba menggunakan ponsel yang sebelumnya bisa bekerja di tempat gelap. Nah, kalau menggunakan kamera ponsel itu kan pasti gelap dulu lalu semakin terang (walaupun banyak noisenya). Jreeeng… saat jelang terang itulah di kamera saya lihat sebuah wajah keras menggunakan atribut topi segitiga (seperti bossnya pasukan pengawal) di layar kamera saya, dan tahu pasti di ceruk itu tak ada satu orangpun. Gelap! Walaupun sesungguhnya tidak bisa berpikir secara lurus, saya tidak meneruskan mengambil foto di tempat itu. Saya menganggap dia bisa menampilkan wajah di kamera sebagai sebuah peringatan. Sepertinya pesannya cuma satu: Don’t do that! Ya sudah saya ikuti, tetapi asli dengkul lemes, ga punya kekuatan, jantung serasa berhenti… Dan dari ngobrol dengan Gara setelahnya, saya diberitahu olehnya, bahwa saya orang ke sekian yang pergi bersamanya dan melihat yang gaib… Aduh seandainya saja saya tahu sebelumnya… 😀 😀 😀

Well, apapun yang terjadi… bukankah ada Dia Yang Maha Kuasa Pemilik Semesta? Period!

Tapi by the way, Anda pernah mengalami juga? Berbagi cerita ga penting ini yuk… 😀

Bahagia Penuh Drama di Negeri Champa


Banyak teman menyangka saya sudah merambah ke pelosok-pelosok negeri Vietnam padahal baru kali ini saya menjejakkan kaki di negara itu. Awalnya memang Vietnam menjadi salah satu negara tujuan setelah negara-negara pertama wajib kunjung (Singapura, Malaysia dan Thailand), tetapi hal itu tak pernah terjadi hingga saat ini. Bahkan Kamboja yang awalnya tidak pernah masuk hitungan karena kengerian saya terhadap sisa-sisa kekejaman Pol Pot, malah akhirnya didatangi lebih dulu dan berulang kali setelahnya, tanpa pernah sekali pun mampir ke Vietnam. Tapi semua yang indah terjadi tepat pada waktunya.

Ho Chi Minh City from Above
Ho Chi Minh City from Above

Indah? Tentu saja segala sesuatu terasa indah setelah melalui berbagai drama 😀 😀 😀

Berbeda dengan banyak teman yang mengawali perjalanan ke Vietnam dengan mengunjungi Ho Chi Minh City di selatan atau Hanoi di utara, saya lebih memilih mendatangi Vietnam Tengah. Tentu ada alasan tersendiri bagi saya.

Karena Champa.

Sebagai penyuka fairytales, bagi saya kisah-kisah puteri raja selalu menarik, termasuk kisah dalam sejarah mengenai puteri Champa yang mengarungi lautan, meninggalkan negerinya dan berpindah budaya untuk ‘ikut suami’ di tanah Jawa. Nama Champa yang berbekas kuat di benak terangkat kembali setelah berkenalan dengan sejarah negeri-negeri di kawasan Asia Tenggara. Apalagi kedekatan hubungan Champa dan Nusantara saat itu masih dapat dilihat di reruntuhan percandian yang kini berada dalam penguasaan Vietnam. Terlintas juga candanya seorang sahabat jaman sekolah yang mengatakan wajah saya mirip puteri Champa (dilihat dari Mars mungkin :p )

Dan tentu saja, di Vietnam Tengah itu dalam jarak yang terjangkau terdapat tiga UNESCO World Heritage Sites yang tentu saja selalu memanggil-manggil untuk dikunjungi!

Begitulah, dengan berbekal cuti dua hari, saya terbang ke Kuala Lumpur dengan penerbangan yang mengalami delay 1 jam, untuk kemudian paginya lanjut ke Ho Chi Minh City hanya untuk berpindah terminal dari internasional ke domestik dan terbang lagi ke Da Nang lalu berkendara sekitar 45 menit menuju Hoi An, yang sedikit banyak serupa dengan kota Melaka. Dengan cara lompat-lompat seperti itu dan harga yang hampir sama, saya mendapat lebih banyak waktu di Hoi An, daripada mengambil penerbangan Jakarta – Da Nang via HCMC.

Hoi An at night
Hoi An at night

Kawasan kota tua Hoi An memang sebuah kawasan pinggir sungai yang cantik dan romantis, yang saat saya datangi sejak sore hingga malam dihiasi pula dengan rintik hujan Desember yang dingin sekitar 18-20C. Namun keesokan harinya, pagi yang saya lewati tidak secantik malam yang dilalui, lagi-lagi dengan drama yang membuat hati turun naik bak naik roller-coaster. Suatu saat nanti mungkin akan saya ceritakan drama-drama tak penting itu

Tetapi drama-drama itu sama sekali tak mampu menghapus antusiasme saya ke kawasan My Son, kawasan UNESCO World Heritage Site yang berisikan reruntuhan candi-candi kerajaan Champa. Seperti biasa saya merasa ‘hidup’ ketika berada di kawasan percandian. Kali ini, walaupun jelas sedang rintik hujan, saya tetap mendatanginya dengan berpayung atau tidak, memotretnya, menikmatinya dalam hening. It’s a time-travel to Champa Kingdom and surely I should dance in the rain.

My Son - Champ ruins
My Son – Champ ruins

Kegembiraan saya bisa menari diantara reruntuhan kerajaan Champa takkan terhapus walaupun sisa hari itu diisi lagi dengan drama lain sepanjang jalan menuju Hue yang ditempuh selambat kura-kura. Saya tak bisa merasa jengkel kecuali tersenyum kecut merasakan besarnya sense of humor Yang Maha Kuasa, yang memberi gejolak rasa penuh turbulensi.

Vietnam yang sejarah negerinya juga mengalami pasang surut, -perang Indochina berakhir tahun 1975 dan dilanjutkan dengan praktek sosialis komunis hingga tahun 1980an-, kini menjelma menjadi negeri yang tak kalah kompetitifnya. Negeri yang dari ujung utara berbatas dengan China telah tersambung dengan National Route 1A Highway hingga ke ujung selatan Vietnam sepanjang lebih dari 2300 km, dan yang pasti menghubungkan kota-kota besar seperti Hanoi sebagai ibukota yang ada di Utara, juga Da Nang di bagian Tengah hingga ke Ho Chi Minh City yang merupakan kota terbesar yang ada di Selatan. Saya juga terkagum saat melewati terowongan Hai Van yang panjangnya lebih dari 6 km menembus pegunungan, yang merupakan terowongan terpanjang se-Asia Tenggara.

Sesampainya di Hue, yang jaraknya dari My Son tak beda jauh dengan Jakarta – Bandung, saya check-in di penginapan yang sudah dipesan sebelumnya. Perempuan di balik konter penginapan itu menyambut saya dengan cukup berlebihan, menyimpan lembar pemesanan dan paspor lalu segera menggiring saya ke kamar yang telah disediakan dan menutup pintu dari luar. Herannya saya seperti kerbau dicucuk hidungnya, bersedia digiring dan terpenjara dalam kamar 😀 . Setelah berberes sebentar, saya langsung turun untuk mendapatkan kembali paspor dan terjadilah yang namanya keluar mulut harimau masuk mulut buaya 😀 . Pengaturan transportasi kembali dari kota Hue ke Da Nang dengan sangat cerdas dan cantik diaturnya sehingga saya menyetujui tanpa berpikir panjang lagi yang kelak saya sesali, walau penyesalan selalu datang terlambat dan sama sekali tak berguna.

Hue city - in the afternoon
Hue city – in the afternoon

Tetapi apapun itu, saya menikmati perjalanan di Hue sebagai salah satu UNESCO World Heritage Site dengan melakukan perjalanan dengan perahu sepanjang Perfume River, mengunjungi beberapa kuil indah dan tentu saja kompleks pemakaman yang terkenal dari para Raja Dinasti Nguyen. Bahkan karena banyaknya yang dikunjungi sampai akhirnya saya harus membatalkan kunjungan lebih lanjut ke landmark kota Hue yang dikenal dengan Imperial City atau The Citadel hanya karena saya harus mengejar minivan saya ke Da Nang yang sudah dijanjikan penginapan sebelumnya. Lagi-lagi pembatalan ke The Citadel ini saya sesalkan karena ternyata petugas penginapan itu PHP nomor wahid. Tetapi apa mau dikata, perjalanan tidak boleh berhenti karena sebuah PHP 😀

Bagaimanapun sesaat sebelum memulai perjalanan kembali ke Da Nang, saya bertemu dengan perempuan sederhana yang berhati baik. Saya percaya bahwa ada orang-orang yang dikirim bersilangan hidup dengan kita, -walaupun hanya sesaat dan tak saling kenal-, hanya untuk memberikan ketentraman hati dan mengangkat kembali rasa percaya.

Awal-awal perjalanan dari Hue kembali ke Da Nang merupakan waktu yang melelahkan bagi saya yang tak berhasil menaklukkan rasa jengkel dan tak ikhlas mengalami drama-drama tak penting selama perjalanan di Vietnam ini. Akhirnya dengan bantuan musik dari MP3 player dan ingatan ke pengalaman-pengalaman di Korea Selatan yang jauh lebih buruk, akhirnya pelan-pelan saya bisa menjadi lebih tenang.

Malam pun telah datang sesampainya saya di Da Nang, kota ketiga terbesar di Vietnam. Saya turun di stasion bus dan berbekal lembaran pemesanan hotel, saya menunjukkan nama penginapan itu ke supir taksi yang tidak bisa berbahasa Inggeris. Ia mengangguk dan berdiskusi dengan temannya yang berfungsi sebagai penerjemah walaupun bahasa Inggrisnya pun terbatas pula. Tetapi saya dapat diyakinkan bahwa supir taksi itu memahami arah penginapan saya.

Seperti biasa di hari terakhir perjalanan, saya membiasakan untuk sedikit memanjakan diri agar dapat menutup perjalanan dengan kenangan yang mengesankan. Saya memilih tidur di hotel dengan kamar di lantai tinggi dan menghadap ke sungai Han dengan jembatan Pelangi dan jembatan Naga dan suasana kota yang memikat mata, walaupun harus menebusnya dengan harga yang membuat kantong langsung bolong, dan itupun sudah ditambah dengan poin hasil pemesanan hotel sebelumnya. Whooooaaaa…

Dragon Bridge at Night - Da Nang
Dragon Bridge at Night – Da Nang

Dan benarlah, dengan menginap di hotel dengan kondisi menyenangkan mampu menenggelamkan rasa tidak nyaman akibat drama-drama selama di Vietnam dan bisa mengembalikan semangat bahwa perjalanan saya akan berakhir indah. Selalu demikian.

Setengah hari di kota Da Nang saya isi dengan menyusuri sungai hingga ke sebuah gereja katedral berwarna pink yang di dalamnya sedang berlangsung misa dalam bahasa Vietnam. Saya hanya memotret bagian luarnya lalu menuju Museum of Champ Sculpture yang memang menjadi tujuan utama saya di kota ini.

Dua setengah jam terasa masih belum cukup untuk menikmati semua artefak kerajaan Champa yang tersimpan cukup baik di museum ini. Sungguh saya tidak menyesal berlama-lama di reruntuhan My Son waktu itu dalam keadaan hujan gerimis karena banyak pelengkap yang saya dapat di museum ini. Akhirnya waktu juga yang mengharuskan saya meninggalkan museum dan berjalan cepat kembali ke hotel untuk check out. Berada kembali di kamar dengan fasilitas wifi yang cepat, saya mendapat informasi bahwa penerbangan saya ke Kuala Lumpur mengalami delay 1 jam. Aargh, kalau tahu saya bisa berlama-lama di museum!

Museum of Champ Sculpture
Museum of Champ Sculpture

Satu jam berleha-leha di kamar, saya turun ke lobby untuk check-out yang ternyata memakan waktu sangat lama karena ada grup tamu yang sedang check-in dan hanya ada seorang petugas di konter hotel. Wajah-wajah manis dan ganteng yang sedang mengantri check-out berubah menjadi muram penuh frustrasi memperhatikan detik waktu yang berjalan lambat.

Selesai urusan hotel, saya selamat sampai bandara Da Nang dalam lima menit perjalanan dengan taksi dan menembus kerumunan orang yang memenuhi konter domestik. Bandara Da Nang ini memang tidak memiliki terminal khusus internasional melainkan hanya dibedakan dengan konter domestik dan internasional. Hanya ada seorang petugas imigrasi yang langsung memberi cap pada paspor dan membiarkan saya melenggang masuk ke ruang tunggu yang padat dengan calon penumpang. Entah kenapa saya merasa legaaaaa telah keluar dari imigrasi Vietnam.

Penerbangan ke Kuala Lumpur yang memakan waktu selama 3 jam dihiasi dengan cukup banyak turbulensi. Saya yang mendapat tempat duduk paling belakang mendapat tambahan bau pesing sepanjang perjalanan yang sepertinya datang dari toilet yang ada di balik tempat duduk saya. Dibandingkan dengan bau pup (maaf!) selama 5 jam selama penerbangan Kuala Lumpur – Kathmandu dulu, bau pesing ini tidak ada apa-apanya. Sabar sajalah…

Sesampainya di Kuala Lumpur dan karena penerbangan sebelumnya didelay, saya memutuskan untuk berdiam di bandara menunggu penerbangan selanjutnya ke Jakarta dan membatalkan pergi ke pusat kota Kuala Lumpur. Sehingga saya langsung ke konter transfer dan tidak melewati imigrasi lagi untuk sampai ke gerbang penerbangan yang ke Jakarta. Setelah semua proses selesai, saya baru mencari tempat nyaman untuk menunggu. Sebuah kubikal ATM yang belum selesai dan berpenerangan temaram menjadi pilihan saya, apalagi tersedia colokan listrik. Sambil merebahkan tubuh, saya membaca notifikasi email yang memberitahu bahwa penerbangan saya ke Jakarta hari itu didelay 2 jam. Aaaaargh. Saya terjebak di terminal KLIA2! Kalau tahu begitu, saya keluar jalan-jalan ke kota…

Akhirnya tepat tengah malam, pesawat yang membawa saya ke Jakarta lepas landas dari bandara KLIA2 dan mendarat di Soekarno-Hatta pk. 01.00 dini hari. Alhasil sesampainya di rumah saya hanya punya waktu tidur dua jam untuk bersiap lagi ke kantor pada pagi harinya.

Aaah Vietnam… sebuah perjalanan yang naik turun penuh drama dan tawa tapi selalu bermakna…

*

(dan semoga saya punya semangat untuk menuliskan cerita detailnya 😀 😀 😀 )

Nepal: Kematian Yang Membahagiakan di Pashupatinath


Pashupatinath, salah satu UNESCO World Heritage Site yang terletak di pinggir sungai Bagmati di Kathmandu, merupakan kawasan ketiga yang saya datangi hari itu. Sesuai dengan rekomendasi waktu terbaik untuk berkunjung ke kuil itu, ketika matahari sudah condong ke arah peraduannya, jelang sore hari hingga sinar tak lagi terasa terik.

Dengan tiket seharga 500 NPR, kaki membawa tubuh ini memasuki kawasan Kuil Pashupatinath yang luas dan langsung disambut dengan auranya yang kelam dan sendu. Tak heran, karena kuil ini merupakan salah satu kuil Dewa Siwa yang terbesar di Kathmandu sekaligus tempat suci untuk melakukan kremasi, ritual terakhir bagi manusia yang telah meninggal dunia.

Sunset at Pashupatinath
Sunset at Pashupatinath

Dan walau kematian selumrah kelahiran, tetap saja ada rasa sendu yang tak nyaman untuk disaksikan sendirian saat terang sedang berubah perlahan menjadi temaram. Saya terus melangkah, membiarkan hati tetap membuka untuk mendapatkan sejatinya makna karena apa yang dirasa pertama bukanlah yang sesungguhnya.

Terasa angin yang datang dari pepohonan menerpa wajah dengan lembut. Dengan ekor mata terlihat pula pucuk-pucuk pohon bergoyang manis mengikuti irama angin. Seandainya kuil ini bukan tempat suci untuk kremasi, mungkin rasanya akan berbeda, mungkin saya akan suka desir lembut angin yang datang, juga pucuk-pucuk pohon yang bergoyang. Tetapi kali ini terasa berbeda, sepertinya roh-roh sedang mengajak bermain, kadang sembunyi di balik pohon, kadang meniupkan rasa dingin ke balik tengkuk. Tetapi ah, apapun yang dirasa, saya tetap harus melangkah mengikuti jalan setapak yang berujung pada sungai suci Bagmati tempat lokasi kuil Pashupatinath.

Bagmati River
Bagmati River

Dari kejauhan terlihat asap membumbung menandakan sebuah ritual kremasi tengah berlangsung. Saya mengingat janji pada diri sendiri untuk tidak menggunakan zoom terhadap proses kremasi, untuk tidak mengambil foto tubuh yang dikremasikan ataupun keluarga yang kehilangan. Karena semua prosesi itu merupakan bagian dari ibadah yang sangat pribadi dan harus dihargai setinggi-tingginya.

Sungai semakin dekat dan saya mulai menyusurinya, perlahan mendekat ke pinggir sungai yang sedang tak banyak air. Tak jauh dari tempat saya berdiri, terlihat seekor sapi berwarna coklat yang tengah berjalan santai. Ketakpeduliannya mampu membuat saya tersenyum. Tidak ada orang yang berani mengganggu makhluk yang dianggap suci itu, apalagi di dalam kawasan Kuil Pashupatinath yang nota bene merupakan Kuil Sang Mahadewa. Di benak langsung terbayang semua kuil yang didedikasikan kepada Dewa Siwa biasanya terdapat lembu Nandi, sang bhakta yang setia.

Tak terasa langkah kaki telah menyusuri sungai hingga berada di seberang kuil. Sebuah jembatan batu tampak kokoh menghubungi kedua sisi kuil. Dan di ujung kuil di bagian bawah tebing tinggallah para sadhu, orang suci yang mendedikasikan hidupnya dengan bermeditasi, memperkaya kehidupan spiritualnya dan meninggalkan keduniawian untuk mencapai keadaan moksha, kesempurnaan.

Berhadapan langsung dengan bangunan utama kuil, terlihat tempat kremasi yang dibagi berdasarkan kelas sosialnya. Ada tempat khusus untuk para kalangan atas yang rapi berlantai warna terang dan tentu saja ada tempat untuk rakyat jelata yang terlihat standar berwarna kelam. Saat itu terlihat dua asap mengepul di bagian rakyat jelata. Tidak ada keramaian, tak banyak orang, mungkin hanya beberapa keluarga terdekat saja, itu pun kurang dari hitungan jari dalam satu tangan. Saya teringat ketika menyaksikan ngaben sederhana di pantai Kuta, Bali. Semua syarat utama dalam ritus telah dilaksanakan walau sederhana, tak berlebih. Lalu apa yang kurang? Bukankah berlaku sederhana itu memperkaya jiwa?

Menyaksikan kremasi dari seberang, berbagai rasa melesat dari kepala. Tak ada keriuhan tangis melepas raga yang telah selesai bertugas, sementara sang jiwa kembali bebas dengan sejuta amalnya. Kematian telah membebaskan dari suka duka dunia, membukakan gerbang bahagia bagi sang jiwa, lalu mengapa manusia kerap menahannya? Bukankah sang jiwa akan bahagia kembali kepada Yang Maha Kuasa yang penuh Cinta? Saya merenung, mendapat pembelajaran dari rasa dan mata yang menyaksikan.

Seusai pembelajaran hidup dari menyaksikan ritual kremasi dari seberang sungai, saya beralih menaiki tangga kearah bukit. Di sana terdapat rumah-rumah puja yang dibangun sejajar mengikuti garis lurus. Di dalam semua rumah puja yang berjendela lengkung di tiap dindingnya itu, berisikan lingga-yoni yang merupakan lambang Dewa Siwa. Dan di atas linggayoni itu senantiasa diletakkan bunga segar. Pemandangan rumah puja dengan linggayoni yang berjajar dengan bunga diatasnya itu ditambah dengan pantulan sinar matahari sore yang menerobos masuk melalui jendela lengkung, membuat suasana kompleks kuil Pashupatinath menjadi lebih indah, menghapus rasa sendu yang ada di dekat sungai.

Meninggalkan linggayoni, lagi-lagi kaki ini menapaki tangga menuju tempat para Sadhu di bagian atas bukit. Di hadapan mereka saya kehilangan kata-kata untuk bertanya kepada mereka bahkan juga untuk mengabadikannya. Rasanya tak pantas mengabadikan mereka, para yogi yang telah menempuh jalan spiritual yang tak mudah, bermeditasi dan meninggalkan keduniawian, dengan balasan lembaran-lembaran uang. Hati ini berkata jika ingin berdonasi, maka berdonasi saja, tanpa perlu meminta balas bisa mengabadikannya dalam foto. Akhirnya sambil meminta maaf karena tidak mengambil foto mereka, saya melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit.

Dari puncak bukit terhampar pemandangan indah seluruh kompleks kuil Pashupatinath di antara sinar matahari sore. Entah kenapa sinar matahari sore yang berwarna oranye itu memberi nuansa khusus pada  kuil. Ada rasa bahagia diantara rasa sendu. Sebagaimana kegembiraan terwakili oleh warna-warna terang, kesenduan tak pernah luput memberi makna yang dalam di tiap hidup.

Selain menyaksikan keindahan kompleks dari puncak bukit, sempat juga saya melihat kawanan kecil rusa totol seperti yang ada di Istana Bogor hidup berkelompok dalam sepetak tanah berpagar kawat. Lucu dan manisnya kawanan rusa totol itu mampu membuat wajah ini tersenyum.

Turun dari bukit, saya melanjutkan perjalanan ke Kuil Dewa Wisnu di kompleks itu. Beberapa lukisan hasil sapuan wanita Perancis yang menggambarkan kisah Radha-Krishna yang penuh cinta, mampu membuat rasa sendu di Kuil Pashupatinath semakin terangkat. Setelah mengabadikan Garuda dan juga Ganesha, Sang Dewa Pengetahuan, saya melanjutkan perjalanan kearah Kuil Utama di seberang sungai Bagmati.

Menyeberangi jembatan batu, kaki melangkah ke pelataran Kuil Utama.  Karena bukan Hindu, saya tidak diperbolehkan masuk ke Kuil Utama yang memang hanya digunakan untuk ibadah. Di sudut pelataran, tak jauh dari jembatan, terlihat sebuah bangunan kuil kecil yang sekeliling dindingnya dipenuhi panel-panel kayu tentang kamasutra.

Kerumunan orang terlihat lebih banyak di kuil ini, bisa jadi menjelaskan betapa lekatnya manusia pada hal-hal ilusif yang terlihat menyenangkan di dunia ini. Kamasutra di sebuah kuil ibadah? Di Nepal ini memang bukan merupakan hal yang luar biasa. Di Durbar Square Kathmandu saya menyaksikan kuil Jagannath yang berpanel Kamasutra dan kini, -dekat dengan tempat penyelenggaraan kremasi-, disini juga terdapat kuil yang berpanel Kamasutra. Bukankah proses kreasi itu umumnya berujung pada proses kelahiran yang pada waktunya juga akan berakhir?

Saya berjalan perlahan menuju kuil lainnya yang harus melewati sebuah tempat serupa panti jompo yang merawat sekumpulan ibu-ibu lanjut usia. Mereka yang telah ditempa pahit manisnya hidup, pasang surutnya ombak kehidupan, tidak memiliki keluarga yang cukup mampu untuk menjaganya, tampak duduk nyaman bersenda gurau bersama-sama di beranda menikmati sore. Sambil melempar senyum dan menghaturkan salam kepada mereka, saya meminta izin melalui gerakan badan untuk mengabadikan bangunan-bangunan indah itu. Ah, mereka hanya menunjuk kotak donasi sebagai jawaban dan saya memahaminya. Paling tidak sebuah kejujuran ada pada wajah mereka, untuk hidup senyata-nyatanya diperlukan uang yang cukup.

Selepas mengabadikan keindahan bangunan lainnya, pelan-pelan saya melangkah mengikuti jalan setapak untuk meninggalkan Kuil Pashupatinath. Saya menyempatkan diri untuk menoleh kembali menyaksikan proses kremasi yang masih berlangsung di tempat tadi. Mengingat sebuah pembelajaraan. Bagi mereka kematian merupakan gerbang bagi jiwa untuk memulai kehidupan baru, sebuah kelahiran baru atau bahkan sebuah kepulangan abadi berupa kemanunggalan sejati dengan Dia Pemilik Semesta. Sebuah kematian itu sesungguhnya membahagiakan.

Berada di Pashupatinath dan menyaksikan kematian, membuat saya mensyukuri setiap tarikan nafas yang tertinggal, begitu banyak anugerah yang telah dilimpahkan hingga saat ini dan kita tidak pernah mengetahui berapa banyak sisa waktu untuk berbuat kebaikan. Anjuran orang bijak untuk bersering datang pada tempat-tempat kematian memang benar, selain memberikan doa dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan, kematian akan mengingatkan mengenai makna hidup kita sendiri. Tua atau muda, laki-atau perempuan, kaya atau miskin, orang baik atau jahat, siap atau tidak, bukankah kita semua makhluk berjiwa yang sedang dalam antrian menuju kesana?

Nepal: Memeluk Himalaya dari Jendela Part-1


Pagi ini adalah akhir penantian bertahun-tahun. Hari Besar. The D-Day, hari yang menjadi salah satu alasan utama saya pergi ke Nepal. Himalaya!

Bergegas saya menyiapkan hari, walaupun ketika terbangun di pagi hari, saya mendapati jam tangan memilih mati pada waktu dan hari yang salah. Sempat sebuah kekuatiran terlintas di kepala. Hanya sekilas. Tahun 2015 saat dunia teknologi informasi sudah demikian maju, masihkah saya menghubungkan jam yang mati karena habis baterenya dengan pertanda buruk? Saya mencubit diri sendiri, seakan Yang Maha Baik melakukannya kepada saya. Tersenyum, malu. Seharusnya saya berpikir, inilah saat melupakan waktu karena Dia berkenan memperkenalkan saya berkelana ke negeri indah ini.

Dan bagai seorang pengantin yang menuju tempat pengucapan janji suci, jantung ini berdetak tak karuan hingga mobil penjemput itu datang dan membawa saya pergi membelah Kathmandu di pagi yang sepi. Sang pengemudi yang baik hati itu menurunkan saya di terminal domestik sambil berkata akan menunggu saya seselesainya. Saya kembali bergegas untuk proses check-in di konter Buddha Air karena waktu terbang sudah dekat. Benar saja, 5 menit lagi tak datang nama saya dicoret sebagai penumpang. Kemudian begitu senangnya akan terbang, saya mengambil jalur pria hingga wisatawan ganteng bermata biru di depan saya memberitahu jalur seharusnya buat saya 😀 Ternyata di Kathmandu untuk masuk ke ruang tunggu harus melalui pemeriksaan fisik yang jalurnya sudah dibedakan sejak awal antara perempuan dan pria. Selepas pemeriksaan itu, dalam hitungan kurang dari semenit saya sudah berdiri di bus yang membawa ke arah pesawat.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berbeda dari kebanyakan penerbangan serupa, mountain flight Buddha Air ini menggunakan pesawat baling-baling jenis ATR72 terbaru. Walaupun lebih mahal, sekitar 200USD, paling tidak saya merasa aman karena pernah menaiki jenis pesawat itu beberapa kali di negara lain. Dari promonya dikatakan bahwa penerbangan ini diperuntukkan bagi orang yang ingin mencicipi berdekatan dengan Himalaya tanpa harus bersusah payah mendaki, tanpa harus mempersiapkan fisik, tanpa harus meluangkan waktu yang berhari-hari atau berminggu-minggu. Kondisi itu sangat saya! Dan hebatnya lagi, dijanjikan bahwa setiap penumpang memiliki jendelanya sendiri-sendiri!

Dan sebagaimana janji kepadaNya saat subuh, saya tak meletakkan keinginan apapun dalam penerbangan ini. Saya akan menerima dengan penuh rasa syukur atas setiap peristiwa yang terjadi karena itinerary yang saya susun telah disesuaikan langsung olehNya. Lalu satu persatu peristiwa indah menghiasi hari saya.

Everest Experience - Finally boarding...
Everest Experience – Finally boarding…
Everest Experience - ATR72 onboard
Everest Experience – ATR72 onboard

Sebagai penumpang terakhir check-in, tak heran saya mendapat nomor tempat duduk paling buntut. Namun saya terkejut karena ternyata tempat duduknya paling dekat dengan satu-satunya pintu masuk di bagian belakang pesawat Buddha Air ini. Biasanya di pesawat ATR72 tempat duduk ini diisi oleh Business Class. Dan hebatnya lagi, kursi di sebelah saya kosong. Tidak itu saja, dua kursi di seberang lorong juga kosong. Dan tambah hebatnya lagi, saya memiliki dua jendela, jendela yang agak ke belakang dan jendela di baris tempat duduk. Demikian juga kursi kosong di seberang lorong itu. Ketika banyak orang memperebutkan nomor-nomor terdepan dengan kebanggaan namun berhimpit dengan yang lain, saya paling belakang mendapat keleluasaan penuh. Tuhan Maha Baik.

Himalaya Peaks
Himalaya Peaks

Menyadari banyaknya campur tanganNya, saya hanya bisa terdiam sambil menggigit bibir menahan rasa yang membuncah di dada ketika pesawat lepas landas menuju pegunungan Himalaya yang bertudung salju. Inilah saatnya, saat impian menjadi senyata-nyatanya. Dia yang jutaan milenia berjajar gagah menghias bumi. Dia, Sang Himalaya yang seakan membaca pikiran saya, tersenyum menanti.

Pandangan Pertama dari Jendela - Ganesh Himal di kiri & Langtang di tengah
Pandangan Pertama dari Jendela – Ganesh Himal di kiri & Langtang di tengah

Sebut saja mulai yang terdekat dengan Kathmandu hingga ke Timur Langtang Lirung 7234m, Shisha Pangma (Gosain Than) di Tibet 8013m, Dorje-Lakpa yang serupa piramid 6966m, Phurbi-Ghyachu 6637m, Choba-Bhamre 5970m tiga puncak yang berjejeran, Gauri-Shankar 7134m gunung suci, Melungtse 7181m berpuncak datar, Chug imago 6297m yang belum pernah ditaklukkan, Pigferago 6620m, Numbur 6957m dikenal sebagai Everest mini karena bentuknya mirip, Karyolung 6511m, Cho-Oyu 8201m sang dewi hijau kebiruan, Gyachung Kang 7652m, Pumori 7161m, Nuptse 7855m, Sagarmatha 8848m (atau dikenal Everest dalam bahasa Inggeris atau Chomolungma dalam bahasa Tibet) Bintang Utama dalam jajaran Himalaya, Lhotse 8516m pendamping Sagarmata di Selatan, Ama-Dablam 6812m yang cantik sebelum ke Sagarmatha, Chamlang 7319m, Makalu 8463m Great Black, Kanchanjunga 8586m pemegang ranking nomor tiga dan masih seterusnya… Belum termasuk Himalaya bagian barat ke jajaran Ganesh Himal 7130m, Manaslu 8163m, Annapurna 8091m, Dhaulagiri 8167m dan tentu saja Machhapuchhre ‘Fish Tail’ 6993m yang menggoda di Pokhara.

Saya kembali menempel di jendela, menyambut keindahan pandang sang kekasih. Langit biru pagi yang cerah menjadi kontras dengan puncak-puncak yang berselimut salju di kejauhan. Balut putih itu semakin dekat. Tetapi dalam sekejap terlihat mengabur karena setitik dua titik air menggenang di pelupuk mata. Saya mengerjapkan kelopak mata berkali-kali, tetapi tak berhasil menahannya. Airmata itu jatuh juga ke pipi. Ya Tuhan, mengapa ketika bahagia, ketika impian terlihat begitu nyata, harus ada airmata? Rasa sesak itu terasa sangat menekan di dada, merangsek jadi satu. Tetapi bagaimanapun saya sadar sebuah senyum tak ingin merasa airmata mengalir. Tak boleh ada kesempatan yang telah diberikan menjadi sia-sia. Cepat saya menyekanya dengan punggung tangan dan kembali menengok sang kekasih…

Langtang Lirung Goshain Than Dorje Lakpa
Langtang Lirung Goshain Than Dorje Lakpa
Dorje Lakpa - Phurbi Ghyachu - Choba Bhamre
Dorje Lakpa – Phurbi Ghyachu – Choba Bhamre

Dari kejauhan, saya sudah terkagum oleh puncak Langtang Lirung yang berada di ketinggian di 7234m yang hanya memungkinkan untuk ditaklukan oleh pendaki ahli terhadap batuan bersalju. Saya menikmati keindahan puncak Langtang Lirung dan berangan-angan berada dalam kehijauan Langtang National Park untuk merasa lebih dekat dengannya. Tampak di dekatnya Shisha Pangma atau yang dikenal dengan nama Goshain Than 8013m, terlihat lebih rendah dari Langtang tetapi itu karena letaknya yang jauh di wilayah Tibet.

Meninggalkan Langtang, puncak Dorje Lakpa 6966m menyambut saya dengan bentuk khas piramidnya. Kekhasannya membuat mudah dikenali dan dinikmati walau tak mudah didaki. Ketika udara baik, hampir semua penghuni Lembah Kathmandu dapat menikmati keindahan Dorje Lakpa.

Pemandangan dengan puncak-puncak gunung beratap salju terus terhampar di hadapan, terangkai mengular tak terputus dengan dan yang tanpa nama, menghias bumi ciptaanNya dengan indah. Angin yang bertiup di puncak gunung menerbangkan butiran-butiran putih halus laksana bendera berkibar.

The Holy Ghauri Shankar and Melungtse
The Holy Ghauri Shankar and Melungtse

Dan itulah yang terlihat pada Ghauri Shankar, gunung setinggi 7134m yang terkenal secara spiritual di Nepal yang diyakini mendapat perlindungan langsung oleh pasangan Shankar (Dewa Siwa) dan Ghauri (Dewi Parwati) karena baru pada tahun 1979 manusia bisa menginjakkan kaki di puncaknya setelah sekian lama penuh dengan cerita kegagalannya. Lagi-lagi saya merasa begitu besarnya rasa luarbiasa yang campur aduk menggelegak dari dalam seakan ingin menghancurkan semua batasan tubuh material ini.

Kemudian Melungtse yang sangat mudah teridentifikasi karena puncaknya yang mendatar seperti plateau berdiri dengan anggunnya di ketinggian 7181m. Pemandangan yang begitu menarik hati karena puncaknya yang begitu khas. Begitu indah.

Melungtse - Chugimago - Pigferago - Numbur
Melungtse – Chugimago – Pigferago – Numbur

Perjalanan baru memperlihatkan setengah dari barisan pegunungan yang dapat disaksikan. Dan kini pesawat mulai memasuki pegunungan yang merupakan pusat tujuan penerbangan. Walaupun seluruh jajaran gunung sejak awal penerbangan begitu indah, namun semua juga paham bahwa tidak akan pernah ada yang mengalahkan Sagarmatha. Dialah bintang utama yang ditunggu.

Saya masih memandang ke arah luar jendela sambil memperhatikan lembar kertas berisikan puncak Himalaya. Selepas Melungtse tadi berturut-turut akan terlihat Chug imago 6297m, Pigferago 6620m, Numbur 6957m, Karyolung 6511m, Cho-Oyu 8201m, Gyachung Kang 7652m, Pumori 7161m, Nuptse 7855m dan kemudian Sang Bintang Sagarmata (Everest) 8848m. Saya hanya mengambil foto sambil berkali-kali menarik nafas panjang. KaruniaNya begitu banyak saya terima hari ini, tak habis-habis.

Pigferago - Numbur - KaryoLung - Cho Oyu
Pigferago – Numbur – KaryoLung – Cho Oyu

Dan selagi sejenak duduk beristirahat dari begitu banyak anugerah yang diterima, saya memperhatikan seorang pria berwajah Hindustan yang mendapat tempat duduk di sebelah kanan terlihat putus asa berdiri dan duduk lagi, berdiri lagi mengintip pemandangan indah di jendela sebelah kiri. Berkali-kali. Manusia dan keinginannya, pikir saya lalu melempar pandang kembali.

Namun entah kenapa di benak terukir sebuah senyum yang sering berahasia menyimpan tanya tak terucap. Saya tak ingin melepas pandang Himalaya yang terhampar dengan segala keindahannya di luar jendela. Dan tik-tok-tik-tok waktu berlalu

Apakah saatnya tiba? Apakah saya harus melepas memeluk Himalaya dari jendela? (bersambung…)

Nepal: Suatu Malam di Swayambhunath


Alkisah Manjusri, seorang Boddhisattva yang terkenal akan Kebajikan dan Pengetahuannya, sedang dalam perjalanan menuju sebuah danau, -yang kini tempat itu terkenal dengan nama Swayambhu-, untuk melihat bunga teratai yang tumbuh indah ditengah-tengahnya. Ia melihat potensi pengembangan di sekeliling wilayah berbukit itu sehingga ia mengupayakan akses yang lebih mudah untuk masyarakat agar bisa mencapainya. Manjusri, dengan kesaktian spiritualnya kemudian memotong sebuah ngarai di Chovar. Air danau mengalir keluar lalu mengering serta meninggalkan lembah yang dikenal sebagai Lembah Kathmandu sekarang ini. Bunga teratai yang terlihat sebelumnya itu konon berubah bentuk menjadi sebuah bukit dan bunga itu menjadi Stupa di Swayambhunath. Sementara itu, Manjusri tetap menjalankan hidup kesehariannya di wilayah Swayambhu.  Karena terkanal akan welas asihnya, Manjusri membiarkan kutu-kutu tumbuh di rambutnya yang panjang. Konon, dengan berjalannya waktu, kutu-kutu itu bertransformasi menjadi kera-kera sakti yang tetap mendiami Swayambunath bagian barat laut hingga kini.

Itulah sekelumit kisah legenda tentang asal-usul Swayambhunath yang terkenal juga dengan nama Monkey Temple, yang kini menjadi salah satu kompleks peribadatan tertua di pinggir Barat Kathmandu.  Karena lokasinya di puncak bukit, banyak yang menyarankan saya untuk mengunjungi Swayambhunath pada malam hari untuk melihat keindahan lampu-lampu seantero lembah Kathmandu.

Setelah membeli tiket masuk seharga 200NRs di pintu Selatan, saya mengikuti Bivek, sang guide dadakan, yang berjalan menuju Kolam Perdamaian Dunia (World Peace Pond) yang di tengahnya terdapat patung Buddha berdiri diatas bunga teratai. Walaupun tidak seheboh Fontana di Trevi di Roma, turis disini juga melempar koin ke sebuah guci di dekat kaki Sang Buddha dengan tujuan agar permohonannya terkabul.

World Peace Pond
World Peace Pond – throw the coins here…

Hanya karena ingin berpartisipasi menambah jumlah koin di kolam, saya mengambil koin seadanya dari dalam dompet. Kemudian sambil melihat ke arah wajah patung Sang Buddha di temaramnya lampu, sesaat teringat akan orang-orang yang mengikuti jalannya, juga para biksu yang melakukan pindapatta, lalu orang-orang yang terlekat pada nafsu keinginannya, lalu ke orang-orang yang menderita, ke berbagai tempat terjadi perang, tempat-tempat menyedihkan. Ah, semoga semua makhluk berbahagia lalu saya lempar koin itu. Koin mendarat tepat pada bibir lubang guci lalu jatuh perlahan karena gaya gravitasinya ke bagian dalam guci bergabung bersama koin-koin lain, gerakannya a la slow motion.  Masuk! Rasa dingin langsung menjalar di sekujur tubuh. Tak percaya akan lemparan pertama yang berhasil masuk, saya melihat tangan sendiri. Saya bukan pelempar yang baik, bahkan bisa dikategorikan sebaliknya. Kok bisa?

Melihat koin saya masuk, Bivek yang sudah dua tiga kali mencoba dan tidak masuk, langsung berteriak, “Hei… Good to you… your wish will come true.” Saya tersenyum datar. Bagi seorang pelempar yang sangat buruk, masuk ke dalam guci di lemparan pertama adalah sebuah keajaiban. Apalagi, setelah itu Bivek mengatakan harapan baikmu yang menjadikannya masuk. Saya mengangkat bahu mengamini.

Tangga Selatan menuju puncak itu tak sebanyak 365 anak tangga di pintu timur, tetapi tetap saja membuat saya terengah kehabisan nafas. Benar-benar saya membenci tangga, teringat sempat hampir pingsan di tangga Bromo dulu, dan juga mata berkunang-kunang jelang gelap di tangga sempit menara Mesjid Banten. Tetapi saya tahu upaya melelahkan itu akan terbayar lunas dengan pemandangan indah di puncak bukit.

Night view over Kathmandu Valley
Night view over Kathmandu Valley

Dan tentu saja saya langsung tertarik pada magnet kuat Mata Kebajikan Sang Buddha, yang tergambar di tiap sisi dinding Stupa Utama. Sepasang mata yang tercerahkan dari kemelekatan dunia, sepasang mata yang akhirnya menjadi icon di seluruh Nepal.

Di tiap sisi dinding itu, tak hanya ada sepasang Mata. Sedikit di atas di antaranya, terdapat mata ketiga yang dipercaya ketika Sang Buddha sedang mengajar, -sinar kosmik yang berasal dari Mata Ketiga dan bertindak sebagai pembawa pesan kepada makhluk surgawi-, menyebabkan makhluk surgawi apabila tertarik dapat turun ke bumi untuk mendengarkan pengajaran Sang Buddha. Para makhluk yang sedang tersiksa di neraka dan para makhluk yang mendiami Dunia Bawah, tidak dapat datang ke bumi untuk mendengarkan ajaran Sang Buddha. Walaupun demikian sinar kosmik yang terpancar itu dapat mengurangi penderitaan mereka selama Sang Buddha mengajar. Selaini tu, di antara Mata Sang Buddha sedikit di bawahnya, terdapat hidung yang tergambar seperti tanda tanya dengan ulir yang lebih banyak. Bentuk ini merupakah karakter Nepali untuk menuliskan angka 1, sebagai simbol menyatukan semuanya untuk meraih pencerahan, melalui ajaran Buddha. Di atas kubah besar, di puncak terdapat tiga belas tingkatan yang menunjukkan bahwa setiap makhluk hidup harus menempuh tiga belas tahap perjalanan spiritual untuk mencapai tingkat kebuddhaan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Beberapa biksu berjubah merah maroon berjalan perlahan mengitari Stupa Besar menyempurnakan suasana damai di antara lantunan suara puji-pujian dari sebuah beranda, tetapi bukan Om Mani Padme Hum yang sering terdengar di kios-kios di Thamel. Walau tak sempat melihat, saya hanya bisa membayangkan sebelum fajar menyingsing ratusan umat menaiki  365 anak tangga dari sisi timur menuju puncak melalui lokasi yang disebut Vajra dan dua patung singa penjaga gerbang untuk mengitari Stupa searah jarum jam sambil melantunkan mantra-mantra.

Malam beranjak pelan di Swayambhunath, yang konon dibangun sejak abad 5 oleh Raja Vrsadeva dan diselesaikan oleh Raja Manadeva sekitar tahun 640, walaupun ada yang percaya bahwa Raja Ashoka pernah mengunjungi situs ini pada abad ke 3 dan memerintahkan untuk pembangunan kuil.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Yang menarik dari Swayambhunath ini bagi saya adalah toleransi antar agama. Seperti umumnya di bagian lainnya di Nepal, walaupun Swayambhunath merupakan tempat ibadah agama Buddha, tempat ini juga digunakan oleh penganut Hindu karena memang ada tempat pemujaan khusus bagi penganut Hindu. Bahkan Raja Pratap Malla yang beragama Hindu memberikan penghormatan di kuil ini dengan membangun tangga timur pada abad 17. Bahkan Bivek, guide dadakan saya itu juga memberi penghormatan di tempat-tempat Buddha.

Berada di ketinggian puncak bukit memang memungkinkan menikmati kelip-kelip lampu seantero lembah Kathmandu. Karena bepergian sendiri dan berada di tempat indah dalam suasana yang damai, pikiran ini terbang ke orang-orang terdekat yang sudah mendoakan keselamatan perjalanan saya. Sejumput doa terucapkan dalam hati untuk mereka semua. Salam penuh cinta dari Swayambhunath…

Prayer Flags, The Eye, The Stupa of Swayambhunath
Prayer Flags, The Eye, The Stupa of Swayambhunath

Ketentraman itu buyar seketika ketika terdengar gebrakan kayu berkali-kali. Saya mencari sumber suara dan mendadak saya diam tak bergeming sedikitpun melihat yang tampak di depan mata. Pertama hanya sedikit lalu semakin banyak dan semakin banyak… Berawal dari satu, dua, tiga lalu puluhan… ratusan… kera-kera dalam rombongan besarnya menuju tempat istirahatnya. Asli, baru sekali itu saya melihat kera dalam rombongan yang sangat besar. Sejak kecil saya tidak pernah menyukai kera, bagi saya kera itu bisa saja mendadak menjadi liar dan ganas. Dan rombongan kera itu, walaupun tertib lewat di hadapan, bisa saja menjadi chaos dan menyerang… dan gambaran itu sangat-sangat menakutkan!

Do you see two monkeys?
Do you see two monkeys?

Tetapi bukankah Nama lain Swayambhunath adalah Kuil Kera? Jadi saya harusnya heran kalau di sana saya menemui banyak kelinci kan…

Salam Perkenalan Pertama di Kathmandu

Gerbang Narayanhiti

Taksi mungil itu meninggalkan Tribhuvan International Airport menuju Thamel di pusat kota Kathmandu. Dalam beberapa hal, Thamel mungkin bisa disejajarkan dengan Khaosan Road-nya Bangkok, yang lengkap dengan hingar bingarnya pariwisata: penginapan, rumah makan, agen perjalanan, trekking guide, tempat hang-out sampai toko-toko yang menawarkan segalanya. Dan karenanya Thamel penuh dengan segala macam kebisingan, dari padatnya manusia, suara moda transportasi lengkap dengan klaksonnya, hingga suara-suara penjual dan musik yang terdengar di sepanjang jalan. Lengkap riuhnya, tapi kuat daya tariknya.

Wajah Thamel di Hari Libur
Wajah Thamel di Hari Libur

Namun bagaimana pun hebohnya sebuah mainstream, tetap saja saya memilih Thamel sebagai basis, walau hanya di pinggirnya. Dekat dengan pusat kegiatan dan bisa dicapai dengan jalan kaki, namun cukup jauh untuk mendengar segala kebisingan. Apalagi sebagai perempuan yang melakukan perjalanan sendiri, saya senantiasa mengutamakan keamanan. Termasuk memilih penginapan yang pernah mendapat award terbaik dari Tripadvisor. Masalahnya hanya satu, lokasinya sedikit tricky. Karena itulah saya menyewa taksi yang tahu seluk beluknya Thamel.

thamel1

Tetapi Ya Tuhan, jantung terasa berdenyut lebih cepat dan alarm kewaspadaan langsung berdenting ketika laki-laki yang saya lihat menunggu di kios layanan taksi bandara, ikut dalam taksi saya menuju hotel. Rupanya saya sedang berhadapan dengan pihak ketiga dalam industri pariwisata, makna yang lebih baik dari makelar atau calo. Dan sebelum saya sempat bertindak apa-apa, dengan ramah dia memperkenalkan diri bernama Bivek, yang katanya, namanya berarti bijaksana. Ia bercerita sering membawa wisatawan dari berbagai negara tetapi belum pernah dari Indonesia. Dan seperti kebanyakan agen perjalanan di Nepal, dia lebih banyak bicara sambil promosi ini dan itu, termasuk juga memamerkan foto keluarganya. Saya hanya tersenyum merasakan aura kebanggaannya walau tidak mematikan denting alarm kewaspadaan itu.

Sementara itu, seperti perempuan yang mulai berhias, kota Kathmandu yang berlembah dan berbukit langsung menyambut saya dalam sebuah kemacetan panjang, walaupun baru saja meninggalkan area bandara. Suhu sejuk Kathmandu yang berada pada 1400mdpl tak dapat menghapus gambaran sesungguhnya bahwa kota ini berdebu. Banyaknya pekerjaan konstruksi jalan yang belum terselesaikan dengan tuntas makin menambah jumlah debu terbang ke udara. Sekelebat saya teringat pembangunan di Jakarta, sepertinya tak banyak beda.

Saya melihat keluar jendela taksi yang beringsut pelan dan terpaku pada tulisan World Heritage di pagar pinggir jalan. Sebuah rasa membuncah keluar menenggelamkan semua kegaduhan hati yang sebelumnya muncul. Senyum langsung tersungging melihat area salah satu kuil Hindu tertua di Kathmandu yang menjadi salah satu tempat yang harus saya kunjungi, Kuil Pashupatinath. Saya hanya mencatat dalam hati bahwa perlu menembus kemacetan bila berkunjung ke kuil tempat kremasi ini.

Perbaikan Jalan di sekitar Area Kuil Pashupatinath
Perbaikan Jalan di sekitar Area Kuil Pashupatinath

Dan laksana seorang anak kecil yang sedang mendapat hadiah, kedua mata ini terus memperhatikan suasana Kathmandu yang penuh dengan kubus-kubus bangunan yang dicat warna warni. Menarik. Mobil-mobil ukuran kecil dan sepeda motor tampak bersliweran membelah jalan. Tampak juga bundaran jalan dengan taman rapi yang ditengahnya berdiri sebuah patung. Tapi kemudian terlihat juga kabel-kabel hitam saling bertumpuk di sebuah tiang menghalangi keindahan kuil kecil di sudut jalan. Dan tidak hanya itu, denyut penduduknya yang semakin menyuarakan kebebasan, Kathmandu pun tak lepas dari aktivitas unjuk rasa yang dijaga sejumlah polisi. Benar-benar sebuah kota dengan beribu wajah. Walaupun demikian, Kathmandu tetap mempesona saya dengan kecantikan Istana Narayanhti-nya yang sekarang menjadi museum, serta kemampuan memberikan pilihan rasa untuk lidah internasional dengan membuka restoran-restoran dengan merek mendunia.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Percaya itu….

Bivek masih semangat mengobral cerita membuat saya merasa berada di sekitar tukang jual obat di lapak-lapak dadakan. Tetapi akhirnya ada waktu membuatnya terdiam sesaat. Seperti biasanya ketika berkunjung ke negeri lain, saya membawa cinderamata khas Indonesia. Kali ini saya memberinya wayang kecil 15cm yang bisa ditempel sambil saya jelaskan bahwa wayang itu adalah Krishna, yang juga dikenal di Indonesia. Penjelasan saya membuat Bivek terdiam dan langsung menempelkan wayang itu ke dahinya sebanyak tiga kali. Dia mengatakan bahwa yang saya beri adalah dewa bagi mereka. Saya mengangguk mengerti sambil mengambil sebagian cerita tentang Mahabharata dan Ramayana serta budaya-budaya Hindu yang saya ketahui sejak kecil, karena terbiasa berkunjung ke Bali dan ke banyak candi di Jawa. Bivek terperangah, tak menyangka saya mampu  mengimbangi di domain kerjanya. Hingga ia bertanya apakah saya seorang professor yang membuat saya tersenyum lebar. Padahal saya hanya menanggapi ceritanya. Tapi itulah yang terjadi dalam sebuah perkenalan antar duta bangsa.

Lepas dari kemacetan, Bivek terlibat pembicaraan dalam bahasa lokal dengan pengemudi yang entah kenapa menarik perhatian pendengaran saya. Insting langsung bekerja walaupun biasanya saya tidak terlalu peduli dengan pembicaraan orang lain, apalagi dalam bahasa lokal. Namun bunyi bahasa yang asing juga nada bicaranya sepertinya mengarah pada sesuatu. Saya menunggu.

Dan akhirnya terkuak juga, Bivek menawarkan untuk mampir ke kantornya agar liburan saya di Nepal bisa terlaksana dengan baik. Saya menolak. Tetapi dia terus berusaha sambil berkata bahwa kantornya hanya berjarak 5 menit dari hotel. Saya tetap menolak. Bivek tak menyerah begitu saja. Ia bertanya tentang rencana trip saya. Saya hanya mengangkat bahu karena saya memang hanya punya rencana kasar di Nepal. Bivek berada di atas angin, karena saya sudah tertarik mendengarkan sarannya. Saya sudah mulai melangkah ke wilayah abu-abu. Ini bahaya! Denting kewaspadaan itu berbunyi.

Tak lama kemudian, taksi kecil itu lincah bergerak ke lorong-lorong sempit diantara berbagai bangunan padat toko, penginapan, restoran dan lain-lain, lalu berhenti di pinggir jalan tepat di dekat rombongan bule yang sedang menawar rickshaw. Saya melihat ke sekeliling dan merasa disorientasi. Saya tidak mengenal daerah ini tetapi sepertinya sudah berada di kehebohan Thamel. Bivek turun dan saya ragu mengikutinya masuk ke dalam lorong. Nguing-nguing alarm bawah sadar semakin keras.

Hati bergetar cemas, tetapi tak boleh memperlihatkannya. Saya masih beruntung berada di keramaian publik karena saya percaya akan kebaikan orang lain. Saya mengingatNya yang selalu bersama kemana pun saya pergi. Keberanian dan rasa percaya diri tumbuh sejalan dengan doa-doa yang dipanjatkan dalam hati. Saya mengikuti Bivek melangkah masuk ke sebuah lorong.

Sebelum melangkah melalui pintu masuk, dengan ekor mata saya mengukur jarak ke jalan tempat taksi parkir. Tidak jauh rupanya. Saya melangkah masuk dan langsung mata berputar melihat situasi ruang yang temaram. Saya dipersilahkan duduk dan berhadapan dengan seorang laki-laki yang kata Bivek, adalah boss-nya. Sigap terhadap calon korbannya, laki-laki itu langsung menjerat saya dengan pembicaraan yang mengarahkan agar saya mengikuti trip perusahaannya, walaupun katanya akan menyesuaikan dengan jadwal dan rencana saya di Nepal.

Teh masala dihidangkan di depan saya. Mengetahui posisi saya yang kurang bagus, saya mencoba mengikuti permainannya dengan memberikan kota-kota dan tempat-tempat yang ingin saya singgahi dalam seminggu rencana saya di Nepal. Sengaja saya berikan kota dan tempat yang jauh lebih banyak daripada jumlah harinya. Tidak lupa saya katakan bahwa di hari terakhir di Nepal saya akan menginap di sebuah resort terkenal di Nagarkot. Sebuah tempat yang bagi mereka menghubungkan saya sebagai tambang emas. Lalu saya diam memperhatikan perubahan angin permainan.

Sambil melihatnya sibuk berkutat dengan kalkulator, dan tanya jawab dengan saya atas rencana mustahil, akhirnya si Boss menyodorkan lembaran itinerary di Nepal dengan total puluhan ribu dollar yang tak masuk akal yang membuat saya terkekeh di dalam hati. Berbagai alasan dia sampaikan dengan menurunkan tingkat kemewahan untuk negosiasi. Pikiran saya terbang ke kantor dalam situasi serupa. Tak melepas senyum saya ikuti proses negosiasi yang tak imbang itu, yang telah saya menangkan tanpa ia tahu. Akhirnya, tanpa harus merasa kalah, mereka melepas saya yang hanya setuju untuk mengikuti tournya untuk sisa hari itu saja dari rencana seminggu di Nepal. Itu pun saya rasa sudah membuat kantong terasa langsung bolong. Harga sebuah permainan persepsi.

Situasi jalan di Kathmandu
Situasi jalan di Kathmandu

Saya kembali ke taksi yang menunggu lalu melanjutkan perjalanan. Perjalanan ke hotel yang kata Bivek hanya 5 menit jalan kaki sepertinya hanya bisa dicapai bila manusianya sejenis raksasa yang bisa terbang. Dengan mobil pun harus ditempuh lebih dari 15 menit menembus keramaian Thamel.  Bahkan Bivek pun tak tahu persis lokasi hotel itu, berbeda dengan perkataan sebelumnya. Dan setelah berhenti beberapa kali untuk bertanya, akhirnya sampai juga saya di hotel. Terima kasih ya Tuhan…

Saya masih punya janji dengan Bivek untuk tour di Kathmandu sisa hari itu. Walaupun sebelumnya saya mencium adanya kebohongan-kebohongan kecil, semua itu tak mengubah rasa percaya saya pada kebaikan orang lain. Karena Yang Maha Kuasa bersama saya dalam perjalanan ini. Selalu. Selamanya.

Menikmati Malam di Gyeongju, Korea


Gyeongju, Korea merupakan kota dengan sebutan museum tanpa dinding, karena berseraknya tempat-tempat bersejarah di kota kecil sekitar 1 jam berkendara dari Busan itu. Tetapi apabila tak tertarik dengan sejarah pun, kita tetap masih bisa menikmati kota itu, terutama pada malam hari. Jadi, lupakan sejarah sesaat, nikmati saja keindahan di Gyeongju yang sejuk (atau karena saya datangnya pas musim gugur ya?).

 

Anapji Pond

Saya bersyukur karena mengunjungi tempat ini di kala senja dan menikmatinya hingga malam bertandang. Saya coba lupakan sejenak sejarahnya, dan membiarkan rasa yang menuntun langkah-langkah saya pada malam itu.

Saya hanya menyentuh pagar pembatas area yang di dalamnya terdapat bulatan-bulatan bekas fondasi bangunan itu sebagai tanda permintaan maaf karena ketakmampuan saya melepaskan diri sepenuhnya dari sejarahnya. Aura peninggalan yang sangat kuat tetap terasa membumbung di udara, sehingga saya hanya bisa terdiam hening sebagai penghormatan walaupun kali ini saya hanya ingin menikmati malam di Anapji Pond.

Sisi dari Anapji Pond
Sisi dari Anapji Pond
Lihat! Ada ikan-ikan diantara lampu kolam
Lihat! Ada ikan-ikan diantara lampu kolam
Bangunan Utama di Anapji Pond
Bangunan Utama di Anapji Pond
Detil Atap Bangunan di Anapji Pond
Detil Atap Bangunan di Anapji Pond
Refleksi di Anapji Pond
Refleksi di Anapji Pond
Anapji Pond At Night
Anapji Pond At Night
Anapji Pond dari sisi seberang
Anapji Pond dari sisi seberang

Terlepas dari cerita hebat di baliknya, Anapji Pond tetaplah sebuah kolam, yang berisikan ikan-ikan cantik berenang diantara lampu yang menyinari bangunan-bangunan tradisional berukir indah.

Namun entah kekuatan apa yang menyelimuti saat itu, tetapi terasa sekali pada malam itu atmosfer kaum bangsawan berjalan perlahan menikmati malam, berawal dari aula utama menyusuri bangunan-bangunan cantik di tepi kolam berhias cahaya yang memantul dari air kolam yang tenang. Memberikan efek refleksi yang sempurna. Berpikir sangat dalam mengenai kehidupan bernegara, kehidupan sehari-hari rakyat dan kehidupan romansa pribadi para keluarga kerajaan.

Tidak perlulah mengetahui siapa Raja, siapa Perdana Menteri atau silsilah keturunannya, atau Dinasti yang mengelolanya. Cukuplah untuk menikmati dengan sepenuh hati, merasakan aura kehidupan para pemilik darah biru, merasakan keindahan terangkai sepanjang malam di Anapji Pond. Dan saya pun berjebak dalam semesta keindahan Anapji Pond.

 

Cheomseongdae Observatory

Tak jauh dari Anapji Pond, bisa dicapai dengan berjalan kaki, berdirilah Cheomseongdae Observatory dengan anggunnya di tengah-tengah taman di pusat kota.  Pemerintah setempat telah membuat bangunan kuno itu semakin tampil dramatis dengan sorotan lampu yang memecah kegelapan malam.

Tanpa perlu mengetahui secara dalam kekuatan sejarah di balik keanggunan Cheomseongdae Observatory, siapapun yang melihatnya malam itu akan merasakan hal yang sama. Keindahannya melebihi keingintahuan orang akan fungsi bangunan itu.

Cheomseongdae Observatory - Peninggalan dari Seorang Perempuan
Cheomseongdae Observatory – Peninggalan dari Seorang Perempuan

Saya hanya duduk dalam keheningan di bangku taman dan menikmati Cheomseongdae Observatory yang luar biasa di hadapan. Saya tak melihat sisi sejarahnya, saya tak mencari tahu fungsi bangunannya. Saya hanya diam dalam hening. Suasana yang tercipta terasa magis dan menerbangkan saya untuk melihat ke dalam jiwa mengenai makna kehidupan. Dan malam pun terus merangkak pelan…

Saya tetap tak bisa melepaskan dari kekuatan sejarahnya. Tetapi, lagi-lagi saya berusaha melupakannya sesaat. Saya hanya mengingat bahwa Cheomseongdae merupakan warisan dunia dari seorang perempuan! Dan hidup sebagai perempuan, saya seperti jatuh ke dasar jurang tak bertepi, berhadapan dengan peninggalan dengan tingkat dunia yang seakan bertanya langsung kepada saya, apa yang telah kau berikan kepada dunia sebagai warisan?

Arrggghhh… Cheomseongdae yang indah tetapi membantingku KO.

 

Tumuli Park

Di arah yang berlawanan dari Cheomseongdae Observatory, tersebar tumuli-tumuli (gundukan) yang di dalamnya menyimpan sejarah Korea yang panjang. Tapi malam itu, tak perlu melihat sejarah, tak perlu memikirkan apa yang ada di balik tumuli itu. Lihat saja keindahan lengkung-lengkung rerumputan hijau yang tertata rapi dan disinari lampu sorot.

Lagi-lagi saya terdiam dalam hening. Saya tahu tumuli adalah makam dan hal itu yang menghenyakkan saya dalam keheningan. Saya hanya ingin menikmati dalam hening dan tak ingin terlalu filosofis melihatnya. Tetapi rasa dari dalam itu begitu membuncah Sudahkah saya memikirkan mati? Lalu bagaimanakah saya ingin diingat ketika saya sudah mati? Apakah saya sudah bernilai hingga sekarang ini, sebelum saya mati? Dan masih banyak lagi karena saya berhadapan dengan makam!

Tumuli adalah Makam!
Tumuli adalah Makam!

Tak perlu menilik sejarahnya, tak perlu tahu siapa yang ada di baliknya, hanya makna sebuah makam dan saya pun berlari bergidik, karena tahu belum cukuplah bekal untuk itu.

Kuliner

Di depan area tumuli itu terdapat deretan rumah makan dan kios-kios yang menawarkan makanan Korea atau makanan ringan, yang bagi para wisatawan penggila kuliner bisa langsung menikmatinya setelah lelah berjalan-jalan. Saya sendiri tidak mencicipinya karena saya masih harus berjuang mencari jalan pulang ke penginapan yang lumayan jauh.

***

Jika saja masih ada waktu bagi saya untuk berkeliling lagi, tentu masih banyak tempat wisata lain yang bisa dikunjungi. Tidak apa-apa, saya menyimpannya untuk kunjungan kesana lagi, kapan-kapan ketika kesempatan lain datang…

(DISCLAIMER: All photos are mine unless otherwise stated. Please put the link or e-mail me if you wish to use it personally)