Uji Nyali di Pagi Hari Yang Indah


The Hanging Lanterns
The Hanging Lanterns

Pagi hari masih berada di atas tempat tidur di kamar yang hening sambil melihat kembali foto-foto kota kuno Hoi An yang indah dengan kerlap-kerlip lampion warna warni di kamera, rasanya menyenangkan sekali. Apalagi hari ini akan mengunjungi My Son, destinasi percandian yang sudah lama diimpikan. Nikmatnya My Me-Time yang sudah kesekian kali ini, memang membuat ketagihan karena rasanya seperti mencapai langit ketujuh, bisa merasa begitu dekat dengan Pemilik Semesta. Ketika segala topeng di wajah tak perlu dikenakan, ketika segala takut dan cemas bisa ditinggalkan di belakang, ketika airmata bisa mengalir kapan saja tanpa rasa dihakimi, ketika bahagia dan syukur bisa dilantunkan penuh pujian tanpa putus, ketika tak perlu merasa malu karena tak mampu dan masih banyak ketika-ketika lain yang semuanya satu. Sejatinya manusia.

Dan saat seperti ini, kejernihan suara hati lebih sering tampil ke permukaan. Tetapi apakah didengarkan atau diabaikan, semua itu tergantung dari situasi yang dihadapi. Juga pagi itu.

Sejak mendarat di Vietnam tak cuma sekali suara hati itu berusaha menggapai kesadaran saya untuk memeriksa cap paspor setelah melewati imigrasi Vietnam. Hanya sekedar mendengar, tetapi tidak bertindak, karena tidak ada negara baru yang didatangi sepanjang tahun 2015. Sebuah kebiasaan buruk sebenarnya, karena sebaiknya kita memeriksa paspor sendiri saat melewati imigrasi, mungkin kecuali Hong Kong dan Macau ya, karena dua tempat itu sudah tidak cap paspor lagi (Teringat dulu ketika naik KTM dari Singapura ke Malaysia saya tidak tahu bahwa paspor tidak dicap masuk oleh imigrasi Malaysia, sehingga harus gelagapan menunjukkan tiket pergi KTM, -yang untungnya masih disimpan-, di imigrasi Malaysia saat keluar untuk pulang ke Jakarta).

20160106_140824ee

Nah, saat leyeh-leyeh di tempat tidur itulah suara hati itu kembali mengguncang kesadaran dan akhirnya berhasil membuat saya ingin melihat bentuk cap dan warna imigrasi Vietnam. Artinya harus mengambil paspor yang ada di dompet hijau.

Sejak kehilangan dompet uang (dan Alhamdulillah ketemu lagi) ketika melakukan perjalanan ke Hong Kong – Macau di akhir tahun 2013 lalu, kini tersedia dua dompet yang berbeda untuk  uang dan kartu-kartu. Pengalaman itu luar biasa sekali stressnya. Bayangkan ada paspor, tetapi tidak punya cukup dana untuk seluruh keluarga untuk sampai ke tanggal pulang. Sejak itu, keberadaan dompet mendapat perhatian lebih. Dompet berwarna hijau dipakai untuk menyimpan paspor, dua kartu dan uang sehari-hari, dan dompet hitam yang tidak pernah dikeluarkan dari ransel kecuali sangat diperlukan.

Karena dompet hijau itu bisa dibilang nyawa perjalanan, maka selalu berada dalam jangkauan mata dan tangan serta biasanya diletakkan berdekatan dengan ponsel. Pagi itu dompet hijau berada di atas meja dekat kaki tempat tidur. Dengan sedikit malas, saya mengarah ke meja dan mengambil dompet hijau itu.

Segera saya buka ritsletingnya dan… Ya Tuhan… Paspor TIDAK ADA!!!

Mengedip sekali tak percaya, terlintas di benak kemungkinan paspor terselip di kantong sebelahnya… Langsung saja saya buka ritsleting satunya lagi…. TIDAK ADA JUGA!!!

Sepersekian detik kemudian, semua isi dompet hijau itu sudah berserakan di atas tempat tidur, uang, kartu kredit, kartu debit, lembar pesanan hotel dan boarding-pass penerbangan pulang, serta nota-nota tak penting lainnya… semua lengkap, KECUALI PASPOR!!! Huuuuaaaaaaaa…

PASS-E1

Ada rasa terkejut menyergap ke seluruh tubuh, lalu berusaha mengingat-ingat dimana dan kapan terakhir saya memegang paspor. Satu detik, dua detik dalam diam, meyakinkan diri untuk tidak panik. Harus bisa berpikir tenang agar dapat mengingat kronologis perjalanan.

Sambil tetap berusaha mengingat-ingat dan berusaha tenang, ransel daypack yang digunakan semalam untuk jalan keliling Hoi An, saya bongkar seluruh isinya dan sama seperti dompet hijau, isinya tertumpah semua ke tempat tidur. Tetapi si buku kecil bersampul hijau itu tetap lenyap tak terlihat.

Yang pasti, waktu hilangnya antara check-in kemarin hingga pagi ini, karena tidak mungkin tidak menyerahkan paspor saat check-in bukan?  Tetapi sejak saat itu hingga pagi ini, artinya bisa dimana saja, di ribuan tempat walau hanya di kota kuno Hoi An. Masih bersyukur bisa menentukan tempat dan waktunya sehingga ada batas yang jelas (tapi jelas atau tidak, paspor tetap lenyap…).

Teringat peristiwa tahun lalu, tepat perjalanan akhir tahun, sama seperti sekarang. Bedanya waktu itu bersama keluarga, kali ini sendirian. Waktu itu terbantu oleh dukungan orang-orang tercinta, kali ini tidak ada mereka disini. Situasinya hampir sama, kehilangan “Nyawa Perjalanan”, kalau tahun lalu seluruh dompet beserta isinya, kalau tahun ini PASPOR!

Walaupun memaksa diri untuk tetap tenang, ada sejumput rasa tegang yang naik dengan cepat ke permukaan tubuh. Hanya sejumput! Karenanya, saya cukup heran dengan diri sendiri, tidak ada kepanikan. Bisa dibilang tenang, bahkan terlalu tenang untuk ukuran masalahnya. Tetapi itu SAMA seperti tahun lalu, saat menyadari berada di negara orang dan tanpa uang, saat itu saya tenang, bahkan terlalu tenang. Apakah ini sebuah pertanda?

Ya Tuhan, ada apa lagi kali ini… Ada tarik ulur yang hebat antara logika dan rasa. Yang satu berkata harus cepat karena berlomba dengan waktu, yang satu berkata nikmatilah bersama sang waktu, yang satu bicara soal yang nyata yang lain lebih pada jiwa. Akhirnya saya menyerah, karena yang mendominasi rasa berserah. Ya, saya hanya perlu pasrah, percaya sepenuhnya padaNya bahwa semua akan baik-baik saja. Sabar dan tenang. (Walau tak bisa dibohongi, rasa panik mulai naik menyerang ketenangan itu…)

Bagaimana bisa tenang…???

Tetapi kesadaran saya masih berfungsi baik. Kepanikan yang tidak perlu harus diatasi sebelum menjadi liar. Panik tidak akan menyelesaikan masalah. Harus ada solusi. Jadi what’s next? First thing first!

Mandi!

Ternyata tenang itu memang bermanfaat. Asli, saya bisa meletakkan masalah kehilangan itu di depan pintu kamar mandi lalu berpikir dan menetapkan langkah berikutnya secara detail sambil browsing yang diperlukan selama duduk di kloset. Yang pasti, harus kerjasama dengan pihak hotel terutama ketika berhubungan dengan pihak berwenang (polisi setempat), lalu menapak tilas rute semalam dalam satu jam karena siapa tahu ada yang berbaik hati mengembalikan paspor, lalu mengurus surat kehilangan dipastikan harus selesai hari itu, kemudian terbang ke Hanoi untuk langsung mengurus ke KBRI (karena hari itu adalah hari Jumat) dan ucapkan selamat tinggal pada liburan karena tentu saja harus langsung pulang setelah mengurus SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor). Untunglah semua dokumen penting sudah disimpan ke cloud, jadi tinggal dicetak. Tak boleh lupa harus menyediakan dana untuk hidup di Hanoi. Ketika permasalahan sudah diidentifikasi batas-batasnya, rasanya semakin tenang. Kalau pun ada rasa tidak nyaman, harusnya normal, karena berpergian dengan satu kondisi yang tidak menyenangkan. Tetapi selalu ada alasan positif kan? Bukankah saya belum pernah ke Hanoi? Pemikiran itu membuat saya mandi dengan nyaman dan sempat keramas dulu walau lebih cepat dari biasanya, hehehe…

Barang-barang telah rapi tetapi sebelum ke lobby untuk melakukan langkah pertama, saya sisihkan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia Pemilik Semesta. Dan setelah kewajiban selesai, saya masih bersimpuh dalam diam, tak terasa airmata jatuh. Hanya ada satu kata. Pasrah. Menerima yang harus dijalani, karena saya sedang diuji. Tepat seperti tahun lalu, Desember yang sama, seakan diminta untuk Percaya, untuk Yakin, untuk Sabar akan pertolonganNya.

Satu airmata jatuh lagi, bukan karena sedih, melainkan merasa tak berdaya dengan serupanya ujian dalam selang waktu tepat satu tahun.

Namun di balik rasa tak berdaya, entah kenapa terasa bahwa Dia Yang Maha Kuasa sedang menyelipkan rasa bahagia. Saya mengenalinya melalui ketenangan itu. Setahun lalu dengan ketenangan yang sama. Tidak ada yang hilang, Dia menyimpannya dan saya harus Percaya dan Sabar. Itu saja.

Pasrah. Percaya dan Sabar. Help is on the way…

Tersentak karena tiba-tiba terlintas di benak pengalaman serupa untuk bergantung sepenuhnya padaNya, -percaya dan sabar-, ketika kehilangan arah dan kemalaman di tengah-tengah Gayasan National Park di Korea Selatan dulu… (Klik disini untuk baca ceritanya)

Bismillah.

Tetapi dasar manusia. Walaupun diupayakan tenang, kecemasan dan kepanikan mulai menghajar diri sepanjang langkah menuju lobby. Bagaimana kalau benar-benar harus ke Hanoi? Bisakah mengingat rute semalam? Bagaimana kalau nanti… Bagaimana kalau…dan banyak lagi ‘bagaimana’

Sampai di depan konter hotel, lagi-lagi saya terdiam sebentar menarik nafas sementara petugas laki-laki berwajah ramah itu tersenyum menyapa dengan standar layanan lalu menunggu.

Mmm… err…. (mulai panik)…. Hmm… I think… (bingung mau mulai dari mana dan bagaimana) I think… hmm… my passport is lost… perhaps it fell somewhere on the ancient city last night…

Dia mendengarkan seksama dan terkejut. Matanya membelalak.

“Do you mean, hmmm… err… lost? Your passport is lost?”

Saya mengangguk pasrah. Ya Tuhan… tolong saya…

Tiba-tiba petugas hotel itu diam, tampak terpikir sesuatu.

“Hold on… wait… wait… It’s lost … or we still keep it”, nada kalimatnya bertanya, mungkin ke diri sendiri.

WHAAAT??? – Tentu saja ekspresi dengan tiga tanda tanya ini hanya ada di pikiran.

Petugas hotel itu berbalik badan dan dengan cepat dia memeriksa dokumen-dokumen di balik konter dan mengambil satu folder plastik transparan. Sedetik kemudian, dia membalik dan mengangkat folder plastik tadi ke hadapannya.

Dia tak perlu membukanya karena terlihat si buku kecil berwarna hijau kebiruan di folder plastik itu!

“Yessss…that’s my passport!!!”, teriakan saya cetar membahana. Dua wajah tersenyum lebar.

20160113_071709E1

Dalam sekejap mata sekujur badan rasanya disiram air dingin. Hati yang cemas, langsung hilang. (Lagi-lagi teringat rasa yang sama setahun lalu, ketika suara di ujung telepon mengatakan bahwa dia menemukan sebuah dompet hitam di depan konternya). Rasa dingin yang mengguyur, sama rasa, tak beda.

Jadiiiii…. Selama ini mereka belum mengembalikan? Mereka menyimpannya. Mengapa tidak mengatakannya? (Lalu mengapa saya tak ingat paspor belum dikembalikan? Sedetik kemudian teringat kembali saat check-in, ada dua petugas yang melayani, -yang memberikan welcome drink dan merekomendasikan rencana tur serta yang melakukan registrasi-, berada di dua meja yang berbeda. A distraction!

Walau tak ada maaf telah memisahkan paspor dengan pemiliknya, petugas hotel itu segera menyerahkan paspor yang tentu saja diterima dengan bahagia luar biasa. Saya ciumi buku kecil itu dan ditempelkan ke dada seakan kekasih yang tak boleh lepas lagi. Sekujur tubuh tersenyum penuh rasa syukur yang tak henti. Bayangan kesulitan menghadapi polisi dan keterpaksaan terbang ke Hanoi langsung memudar dan berganti dengan gambar candi-candi kerajaan Champa di My Son. Ah, liburan kini bisa dilanjutkan lagi. Tubuh bergegas untuk sarapan yang tadinya hampir saja dilewatkan.

Sekali lagi saya diberikan kesempatan merasakan Cinta yang luar biasa, begitu lengkap, begitu dekat dan tak terbandingkan, tak terdefinisikan… I am so blessed.

Haeinsa Trip: Beautiful Life Lessons with Ups & Downs


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Haeinsa Temple, sebuah kuil dalam Gayasan National Park, Korea Selatan, merupakan World Heritage Site yang menyimpan Tripitaka Koreana, kitab suci Buddha pada 81.350 buah cetakan kayu sejak tahun 1398. Haeinsa Temple sendiri telah lama tersimpan rapi dalam Korea bucket list saya sebagai destinasi dengan prioritas tertinggi, bahkan mengalahkan tempat-tempat world heritage lainnya di Korea. Tidak ada alasan spesifik yang jelas, namun sebagai pejalan, sepertinya ada ikatan yang begitu dalam antara Haeinsa dan saya. Karena itulah tekad membulat untuk menyentuh Haeinsa Temple dengan seluruh panca indera ketika melakukan solo-trip ke Korea Selatan November 2013 lalu.

Man jadda wajada. Man shabara zhafira. Man sara ala darbi washala

Yang mengupayakan sungguh-sungguh akan sukses, yang bersabar akan beruntung, 

dan yang berjalan di jalannya secara konsisten akan sampai ke tujuan.

Sebuah perjalanan pada intinya adalah upaya yang sungguh-sungguh. Bagi yang tidak pernah mengupayakan, tidak pernah beranjak kemana-mana. Seperti pagi itu, pagi musim gugur yang indah di Guesthouse, Gyeongju, yang harus ditinggalkan. Hari itu saya mengarah ke Haeinsa Temple, destinasi utama saya, melalui kota Daegu dengan cara apapun juga.

Saya melangkah menuju halte untuk bertanya kepada seseorang yang menunggu bus, tentang nomor bus dan arah ke terminal bus antar kota. Namun dia memilih meminta maaf karena tidak bisa berbahasa Inggris. Halte yang hanya didukung oleh karakter Hangul yang tidak bisa dipahami, serta ketidakpastian situasi tanpa tahu arah, -sementara waktu berjalan terus-, meningkatkan kekuatiran yang menjengkelkan. Saya tak ijinkan ketidakpastian melanda hingga saya beralih berjalan kaki menuju stasion kereta api di seberang. Namun apa daya, ternyata jadwal kereta tak sejalan waktu saya. Keluar stasion kereta, saya melangkah ke tempat antrian taksi. Namun, ketika saya sampaikan tujuan ke terminal bus antar kota, pengemudi taksi itu tak berkenan mengantar saya. Sekali lagi, tak berkenan! Dan dengan berbagai alasan! Terhenyak, kecewa pun merambat naik. Baru kali itu, -jika boleh bersombong rasa-, uang ada tetapi taksi tak mau mengantar. Bukan tak bisa, tetapi tak mau. Ada sedikit yang berdenyut dengan penolakan itu, tetapi kecewa hanya menjadi beban bila dipelihara. Saya belum berpindah, dan hanya ada dua pilihan di hadapan: berdiam menunggu dalam ketidakpastian atau mengambil tindakan untuk mencapai tujuan impian. Saya memilih opsi terakhir.

So walk, or run if you can, to your dreams. It doesn’t matter if it’s far or near.

You can pause along the way but never stop…

Bukankah masih ada kaki sehat yang dianugerahi oleh Yang Maha Memiliki? Bukankah beban ransel tidak sampai membuat punggung meliuk? Sedangkan mentari pagi masih bersinar lembut. Selangkah demi selangkah saya jalani dengan senyum, terminal bus antar kota di Gyeongju pun akan terlampaui. Jalan, kalau perlu berlari. Jarak sekian kilometer ke Terminal Bus tak akan terasa jauh karena Haeinsa terdengar samar memanggil dari balik gunung. Tetes keringat jatuh pun jadi hiasan. Semangat dari dalam pun meneriakkan, ayo menuju Haeinsa! Dan saya terganjar dengan kegembiraan sesampainya di terminal bus antar kota.

 In Life, many things don’t go according to plan,

If you fall, get back up. If you stumble, regain your balance, but never, never give up!

Dan kenyamanan pun saya dapatkan dalam perjalanan bus selama 60 menit dari Gyeongju ke Daegu.  Hati tenang beristirahat. Namun, seperti juga kehidupan, kenyamanan tidak pernah berlangsung selamanya. Sesampainya di Daegu, kota besar sebelum Haeinsa, bus berakhir di terminal antah berantah, yang tidak tertera dalam rencana perjalanan. Tak tampak rambu menuju subway. Naik bus atau taksi? Rasa cemas kembali merambat naik. Ditambah sisa buruk sangka dari pengalaman sebelumnya berhubungan dengan orang Korea yang terbatas berbahasa Inggris. Tapi…

Never give up. Miracles happen every day

Hati ini bertahan untuk memenangkan perjalanan ke Haeinsa walaupun kerikil terserak. Tak mungkin berdiam dalam ketidakpastian. Harus bergerak, mencari keseimbangan baru. Tak boleh menyerah pada situasi. Never give up! Sejalan semangat yang terbit, saya mendekati seorang perempuan Korea di halte bus. Sebagai sesama perempuan, saya membuka percakapan dengan bahasa dunia, senyum. Tidak dinyana, dia malaikat penolong berbahasa Inggeris yang memberi jalan keluar. Sarannya, menggunakan taksi kembali ke terminal yang ada dalam rencana saya. Ketika kelelahan hati terjadi berulang kali, senyum pun menjadi pemuas dahaga, apalagi pertolongan tulus berupa solusi. Denting keajaiban. Bersyukur saya menerima keajaiban-keajaiban yang terjadi setiap hari. Dan akhirnya di terminal bus yang seharusnya, hati bersukacita memegang karcis bus dari Daegu ke Haeinsa.

But, life isn’t meant to be easy, it’s meant to be lived. Sometimes good, other times rough.

And with every ups and downs, you learn lessons that make you strong…

Namun sepertinya keberuntungan bukanlah teman perjalanan saya kali ini. Belum juga beranjak dari terminal bus antar kota Daegu, petugas bus naik dan bicara cepat dalam bahasa Korea yang membuat setengah dari isi bus yang siap berangkat mengeluh keras dan langsung turun. Beberapa turis mancanegara dan saya terhenyak panik dalam ketidakmengertian. Ada apa? Mengapa? Apakah batal? Tidak seorangpun menyampaikan dalam bahasa Inggeris, dan karenanya saya bertanya pada mahasiswa di sebelah. Ia menjelaskan terpatah-patah bahwa perjalanan ke Haeinsa perlu waktu 5 jam dari yang biasanya paling lama 2 jam, karena lalu lintas padat. Sebelum saya bertanya lebih jauh, ia sudah bergegas turun membiarkan saya dilanda ketidakjelasan. Dan untunglah seorang turis Eropa sigap mencari tahu dan memastikan bus tetap berangkat ke Haeinsa, hanya saja akan lebih lama. Dan benarlah, perjalanan ke Haeinsa di akhir minggu itu tersendat-sendat dalam antrian panjang yang semakin parah jelang tujuan. Sebuah bagian dari kerikil-kerikil yang terserak dalam perjalanan…

Before your reach your destination, you’ll find yourself going through the wilderness.

While in the wilderness, your faith will be tried and tested.

Dan kemacetan lalu lintas yang parah bukanlah halangan terakhir untuk mencapai Haeinsa. Waktu yang terus bergulir hingga jelang sore pun belum membuat bus sampai ke Haeinsa. Satu per satu penumpang turun di tengah perjalanan, entah sampai tujuannya, mengalihkan ke kendaraan lain atau membatalkan perjalanan, sehingga membuat kekuatiran saya meningkat lagi. Penumpang bus semakin sedikit, tidak ada informasi jarak apakah Haeinsa sudah dekat atau masih jauh. Namun bus telah memasuki wilayah pegunungan Gayasan National Park dengan jalannya yang berkelok-kelok. Hingga suatu saat, bus benar-benar terjebak dalam kemacetan total, tak bisa lagi bergerak, tak bisa maju atau mundur, dua arah berhenti di tengah hutan pegunungan. Dalam kemacetan pun sebagian penumpang kagum sambil menunjuk sisi kiri bus. Tak dinyana, tampak sebuah patung Buddha Berdiri membelah hutan cantik berwarna merah kuning khas musim gugur. Gelombang besar penumpang mendesak minta diturunkan di situ menyisakan beberapa lansia. Bahkan turis Barat yang sigap tadi juga turun dan menghilang entah kemana. Dan terbawa arus penumpang lain yang mendesak turun, tanpa pikir panjang, saya pun ikut melompat turun.

Leap and the net will appear (Zen saying) 

Sepersekian detik setelah melompat dari bus, disorientasi dan sendirian, saya kehilangan arah dan tidak tahu dimana saya berada saat itu. Salah atau tidak, saya sudah turun dari bus. Jelas belum sampai di Haeinsa temple. Dalam hitungan detik, tingkat mawas diri yang diperlukan saat solo-traveling itu turun mencapai level terendah karena lelah hati akibat gempuran situasi tak bersahabat sejak memulai hari. Saya hanya menduga tempat ini merupakan spot penting untuk mulai trekking dalam Gayasan National Park, karena terlihat kelompok orang mengenakan pakaian trekking, berjalan ke berbagai arah. Berdesir perasaan di dalam, benih pikiran buruk bertandang. Saya sendirian, tanpa teman, orang asing yang tak mengerti bahasa lokal, tanpa persiapan trekking, tanpa tahu arah, dan dalam beberapa jam malam akan datang. Berlomba dengan waktu, kekuatiran luar biasa menerjang saya. Walaupun dalam hati, saya tetap malu untuk merasa takut dan kalah. Tak mau menyerah begitu saja, saya harus bisa tetap bertahan, dan berperang melawan segala bentuk kekuatiran yang tidak memberikan solusi apa-apa kecuali rasa takut.

Courage was not the absence of fear, but the triumph over it.

The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear

Seperti tak menginjak bumi, saya paksa untuk melangkah ke arah taman tempat patung Buddha yang putih tinggi menjulang itu di antara pepohonan dengan warna musim gugur yang indah, berharap lebih tenang. 

Do not dwell in the past, do not dream of the future,

concentrate the mind on the present moment (Buddha)

Alih-alih terjebak rasa takut karena disorientasi, saya mencoba fokus menikmati keindahan saat itu. Rasa indah memberi cukup ruang untuk berpikir lebih jernih tindakan selanjutnya. Dan setelah beberapa saat menenangkan diri, karena tempat itu bukan Haeinsa dan tak ingin terjerat pada sebuah pengalih perhatian, maka saya harus berpindah menuju ke Haeinsa. Walau dalam hati masih tersimpan campur aduknya sisa kekuatiran, tetapi saya tidak boleh kalah dengan rasa. Saya harus bergerak mencari jawaban akan keberadaan posisi saya.

Dan kaki ini melangkah ke papan peta yang ternyata tertulis dalam Hangul yang tidak saya pahami dan memperlihatkan rute trekking yang menyebar ke beberapa tujuan. Tidak ada petunjuk arah ke Haeinsa Temple. Peta itu mampu meningkatkan kecemasan saya lagi, seandainya saya bisa memahami Hangul! Lengkap sudah, saya sendirian, in the middle of nowhere, di tempat yang tidak dikenal, di hutan  negara orang, dikelilingi oleh orang-orang yang berbicara dalam bahasa asing, ditambah lagi banyak dari mereka hanya peduli dengan kelompoknya. Tetapi saya tidak mungkin kembali, lalu lintas berhenti total, point of no return. Perasaan ini sangat menekan, hati sangat lelah, tetapi jauh di dalam sana, terdengar teriakan untuk tetap tidak boleh kehilangan harap.

No storm lasts forever, hold on. Be brave. Have faith. Every storm is temporary and we’re never alone!

Jiwa membawa saya mendekati seorang pasangan paruh baya yang membawa kamera mahal. Saya duga mereka mampu berbahasa Inggeris karena kameranya. Absurd memang, tetapi siapa tahu? Dan benarlah, ternyata mereka adalah malaikat yang dikirim untuk memberi kekuatan kepada saya. Dalam bahasa Inggeris patah-patah, mereka menunjukkan jalan setapak untuk mencapai Haeinsa Temple, serta perkiraan waktunya. Rasanya ingin berteriak bahagia, pertolongan itu datang jua. Bersyukur karena saya tidak sendirian. Saya hanya diminta untuk percaya saja. Sepotong informasi sudah cukup untuk menunjukkan jalan berikutnya.

Faith is taking the first step even when you don’t see the whole staircase – Martin Luther King Jr.

Saya, tidak bisa tidak, kecuali melangkah mengikuti jalan setapak. Saya tidak mempersiapkan pakaian dan sepatu trekking, karena saya menduga Haeinsa seperti juga kuil terkenal lain di Korea, sudah terbentuk akses jalan sehingga tidak perlu trekking. Saya hanya berdoa agar sepatu boot beralas karet ini tidak licin dan jaket musim gugur yang saya pakai cukup untuk menahan dinginnya udara.

 No one saves us but ourselves, No one can and no one may. We ourselves must walk the path.

Inilah jalan yang harus saya tapaki, ‘belantara hutan’ yang harus dijelajahi untuk mencapai apa yang saya inginkan. Saya memulai ratusan meter pertama yang mendaki yang masih landai. Dan ketika di sudut tersembul sebuah papan petunjuk arah ke Haeinsa Temple, tertulis dalam tulisan latin, benar-benar seperti rintik hujan saat kemarau berkepanjangan.

Saya nikmati sejengkal dua jengkal, sekilo dua kilo jalan setapak yang kian mendaki sambil mengambil foto tempat-tempat indah, tempat-tempat yang mengingatkan akan rasa yang bergejolak seperti roller coaster. Tetes keringat mengucur, lagi-lagi menjadi hiasan perjalanan. Tiap langkah yang diambil, entah mengapa hati ini mengucap nama Yang Maha Pemberi Petunjuk, sepertinya ada airmata yang menetes bahagia dari dalam jiwa. Saya tak bicara, kecuali kepada Sang Pemilik Alam. Luar biasa.

Jalan semakin mendaki dan sampailah saya pada sebuah simpang dekat pasar, yang saya kenali dari gambar internet sebagai awal akses jalan ke Haeinsa Temple. Saya sudah dekat, tinggal sedikit lagi.  Seakan tak sabar, saya mempercepat langkah karena hari sudah semakin sore. Dan, akhirnya… saya melihat sebuah batu besar bertuliskan Haeinsa Temple, UNESCO World Heritage Site, tak terasa mata saya panas, berkaca-kaca… Finally! Akhirnya saya menjejakkan kaki di Haeinsa Temple! Saya menyentuhkan tangan ke batu besar itu. (Dan saya akan ceritakan mengenai Haeinsa Temple di tulisan terpisah).

… hug it when you finally meet it! Embrace the moment. Love it and never let it go.

Hold its opportunities and kiss its lessons with full of sincerity.

Remember every moment of it – specially – the journey.

It is what matters most.

Ijinkan saya memeluk rasa itu sedalam-dalamnya. Saya nikmati setiap langkah di dalam Haeinsa Temple hingga dentang terakhir gong itu berbunyi, akhir dari kunjungan ke kuil. Berat rasanya harus mengucapkan salam perpisahan kepada Haeinsa. Tapi tak pernah ada datang yang tak pergi bukan? Karena pada akhirnya, saya harus mencari cara apapun untuk kembali ke Daegu malam itu. Masih adakah bus yang kembali ke Daegu? Padahal terminal pun tak tahu, apalagi karcis pulang…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Menyadari itu, setengah berlari saya menuruni jalan setapak menuju persimpangan dekat pasar itu dan rasanya sekejap saya sampai di persimpangan itu. Saya membisikkan doa, menyebut namaNya yang indah sebagai Maha Pemberi Petunjuk. Saya melangkah ke arah kanan, yang dalam pemahaman saya di situlah arah terminal bus. Saya terus mengayunkan langkah di pinggir jalan diantara mobil-mobil yang parkir tak teratur. Petugas lalu lintas masih terus berupaya mencairkan lalu lintas. Lampu-lampu mobil sudah dinyalakan memberi terang dalam kegelapan. Saya mengikuti pasangan muda yang berjalan di depan, berharap mereka juga ke terminal bus. Tapi ketika mereka membuka pintu mobilnya, pupus harapan saya ada teman yang menuju terminal bus. Di sekitar saya hanya ada mobil-mobil dengan penumpangnya yang mencoba sabar dalam macet. Tak ada manusia yang berjalan di depan saya. Selain lampu mobil, di tempat itu hanya ada kegelapan, tanpa senter. Saya merapatkan jaket, udara dingin dan angin pegunungan di musim gugur mulai menusuk. Jalan terus. This too shall pass… Tak bisa lain, saya harus bergegas walaupun airmata terasa hampir pecah. Saya sudah sampai di ujung tali, saya bergantung. Ya Tuhan, tolong saya…

 When you get to the end of your rope, tie a knot and hold on. Help is on the way.

Kaki terus melangkah menuju keramaian lampu. Mobil-mobil masih mengekor ke belakang dan kesanalah saya melangkah. Sampai akhirnya mulai ada bangunan-bangunan. Saya mendaki pada lorong yang ada penginapan namun dua kali saya melongok ke meja resepsionis di penginapan murah, tetapi tak ada orang sama sekali di baliknya.

God will make a way when there seems to be no way…

Saya keluar lagi menatap mobil-mobil yang terjebak di lapangan bawah. Apa yang harus saya lakukan? Seratus meter di atas ada toko barang kelontong, harapan saya. Saya bergegas ke atas. Di depan pintu, sambil membungkukkan badan dan mengucap salam, saya memohon kepada mereka untuk ditunjukkan arah terminal bus. Dan mereka malaikat yang tidak bisa berbahasa Inggeris, tetapi mau menolong hingga keluar ke jalan untuk menunjukkan jalan arah terminal bus. Saya terbungkuk-bungkuk hampir menangis bahagia mendapat petunjuk yang sangat berharga. Lagi-lagi, hanya perlu percaya dengan sepotong informasi…

Saya mengikuti petunjuk itu dan menemukan satu bus yang parkir. Walau tak tampak seperti terminal, tetapi tempat itu sebuah terminal bus. Dan kekuatan dari Yang Berkehendaklah yang menggerakkan mata saya untuk melihat tulisan yang tersembunyi: TICKET. Sekejap saya meluncur kesana dan berhasil mendapatkan tiket walaupun antrian penumpang yang menunggu kedatangan bus di pinggir jalan sudah mengular dan saya adalah ekornya. Saya tunggu bus datang sampai kapanpun walau dingin dan angin gunung menembus jaket.

Tidak ada yang kebetulan, semua terjadi karena ada alasannya. Seorang remaja putri dan seorang bapak yang entah dari mana ikut mengantri, dikirim oleh Yang Maha Kasih sebagai malaikat untuk menemani saya. Mereka membuka percakapan, karena melihat wajah saya yang non-Korea dan akhirnya menjadi teman perjalanan yang menyenangkan hingga Daegu. Tak ada nama atau email yang dipertukarkan, hanya ada rasa welas asih yang terjalin. Dan di Daegu setelah memastikan saya aman dan selamat, mereka menghilang memisahkan diri di balik ratusan orang di terminal. Dan sesampai di kamar penginapan, airmata saya tumpah. Saya telah mendapat pembelajaran yang teramat indah, dibimbing langsung dariNya. Tuhan Maha Baik.

Karena bepergian sesungguhnya adalah untuk mengenal diri dan

barangsiapa yang mengenal dirinya, ia pasti akan mengenal Tuhannya.

Solo Traveling Berbahaya… Bisa Kecanduan :-)


Solo traveling, bukan dalam arti jalan-jalan ke Solo, Jawa Tengah (walaupun bisa saja ber-solo traveling ke Solo), namun disini berarti pergi berwisata sendirian. Bisa jarak dekat, jauh, domestic atau luar negeri, sebentar atau lama, bisa ngirit maupun spending more money. Lalu apa enaknya? Bukankah berwisata itu tujuannya untuk senang-senang dan hanya bisa dicapai kalau pergi bersama-sama? Ya, tentu saja kembali kepada orangnya dalam memaknai sebuah perjalanan.

Bagi saya, melakukan solo-traveling, lebih bermakna pada perjalanan rohani. Istilah kerennya, my me-time traveling. Hidup dalam dunia yang hiruk pikuk penuh kompetisi memerlukan periode tenang untuk benar-benar kembali terisi penuh. Dalam periode ini saya memaksimalkan power of receiving, sebuah kemampuan dasar yang perlu juga dilatih, sebaik power of giving.

Dalam kesendirian akan lebih banyak waktu untuk melakukan introspeksi diri, lebih banyak bicara ke dalam diri dalam suasana yang berbeda dari keseharian, lebih banyak mendengar dan melihat sehingga menerima banyak hal sebagai tenaga baru, mengenali dan mengikis karat-karat hati yang buruk. Tidak akan pernah kesepian karena, bukankah hati diri sendiri merupakan teman yang paling baik? Dia yang selalu menemani kemana pun kita pergi, dan self-talk pasti membawa kebaikan dalam jiwa.

Ketika melakukan solo-traveling ke Kuta, Bali, Lanjutkan membaca “Solo Traveling Berbahaya… Bisa Kecanduan :-)”

Pilihan: Memelihara atau Ikut Merusak Bangunan Maha Karya?


Dalam liburan Lebaran kemarin ini, saya mengunjungi tempat wisata yang terkenal di sekitaran Yogyakarta yaitu Candi Borobudur dan Candi Ratu Boko. Kekaguman saya yang berlebih pada bangunan-bangunan bersejarah mungkin telah membuat saya begitu hidup di dalamnya. Yang dilihat melalui mata di kepala ini tidak hanya bangunan fisik semata, melainkan juga  bagaimana proses pendiriannya, kehidupan dahulu kala yang saling berinteraksi di dalamnya dan kemegahan yang tercitra darinya, yang melintas dalam bayangan pikiran seakan film yang sedang diputar. Itulah sebabnya saya sering duduk diam memandangi dan menikmati Candi.

Kali ini saya mengunjungi secara khusus ke Candi Borobudur dalam arti, mengkhususkan waktu untuk menikmati sebuah mahakarya dari generasi pendahulu kita. Saya datang lebih awal dan menginap disekitaran Candi Borobudur. Menikmati sengatan matahari siang menjelang sore, mengejar saat matahari tenggelam di ufuk barat dan menikmati munculnya kembali Sang Mentari di awal pagi hari.

Di hari lain menjelang sore, saya berkesempatan mengunjungi Candi Ratu Boko dan dua Candi kecil lainnya di sebelah selatan Prambanan. Dari ketinggian Candi Ratu Boko yang berada di perbukitan, saya begitu menikmati saat-saat matahari tenggelam dengan langit kuning keemasan mewarnai ufuk barat, luar biasa indahnya. Saya bayangkan manusia-manusia jaman dahulu juga menikmati keindahan alam ini dengan kearifan yang dimilikinya saat itu.

Namun…

Lanjutkan membaca “Pilihan: Memelihara atau Ikut Merusak Bangunan Maha Karya?”