Korea: Menapak Huwon, The Secret Garden


Walaupun belum puas berkeliling Istana Changdeokgung, tetapi waktu untuk mengikuti tour Huwon tinggal beberapa saat lagi sehingga saya bergegas menuju titik pertemuan di Hamnyangmun, gerbang masuk Huwon, the Secret Garden yang berada di belakang Istana Changdeokgung. Peraturan sangat ketat untuk Huwon, tak seorangpun diperkenankan memasuki kawasan Huwon bila tidak dalam rombongan yang memiliki pemandu resmi. Lagi-lagi karena kemalasan saya yang tidak mencari tahu jadwal tour berbahasa Inggeris sehingga saya tertinggal karena jadwalnya sudah terlewat. Walaupun begitu, saya nekad mengikuti rombongan berikutnya yang berbahasa Korea yang tidak saya mengerti. Daripada tidak bisa masuk sama sekali kan…?

Melewati gerbang Hamnyangmun, saya berjalan pelan di buntut rombongan sambil mengabadikan Huwon yang dikenal sebagai tempat istirahat raja-raja Dinasti Joseon dengan tamannya yang memiliki pohon raksasa berusia ratusan tahun. (Betapa bangsa Korea ini sangat menghargai pepohonan karena saya langsung teringat akan pohon pertama yang ditanam di Kuil Haeinsa yang telah tinggal sisa, -karena terkena petir-, masih tetap dipelihara dengan baik). Sambil melangkah, mata dan jiwa rasanya sangat dimanjakan oleh pemandangan dedaunan yang sedang berganti warna, rasanya seperti sedang melangkah di negeri dongeng.

Starting the tour, leaving the gate of Huwon
Starting the tour, leaving the gate of Huwon

Huwon, sejatinya berarti Taman Belakang, mengambil lahan seluas 32 hektar di belakang Istana Changdeokgung dan Istana Changgyeonggung yang berada disisinya. Namun siapa yang sangka, taman yang dibangun saat Raja Taejong berkuasa pada awalnya dikhususkan untuk keluarga kerajaan dan para perempuan Istana, kini menyimpan banyak cerita di sudut-sudutnya? Setiap pondok kecil, tempat-tetirah, kolam teratai dan pepohonan yang berjumlah 26.000 spesies, tampaknya hanya bisa berdiam diri selama ratusan tahun menyimpan rahasia para manusia yang pernah hidup di dekatnya.

Bahkan pernah suatu masa hanya Raja yang bisa memasukinya, hingga taman itu dinamakan Geumwon (Taman Terlarang). Jangan masyarakat biasa, petinggi-petinggi Istana hanya bisa memasukinya bila mendapat izin dari Raja sendiri. Waktu pun berjalan lambat hingga taman indah itu berganti nama menjadi Naewon yang berarti Taman Dalam, maksudnya mungkin taman dalam lingkungan Istana. Belakangan masyarakat Korea Selatan menamakannya dengan nama Biwon (Taman Rahasia) sesuai nama kantor yang ada di tempat itu pada abad-19. Namun hingga kini, taman itu dikembalikan dengan nama Huwon, -sesuai namanya semasa dinasti Joseon yang membangunnya-, walaupun untuk kepentingan pariwisata, Huwon diterjemahkan sebagai The Secret Garden.

Secret Garden in Autumn
Secret Garden in Autumn

Berjalan kaki di Secret Garden saat musim gugur memang seperti memasuki negeri dongeng yang banyak tergambar dalam lukisan. Indah. Mungkin karena dibangun mengikuti topografi alamnya dengan menekan sesedikit mungkin pembuatan taman buatan. Taman-taman yang lebih kecil dibuat lebih intim dengan tambahan kolam teratai seperti yang terlihat di Buyongji, Aeryeonji dan Gwallamji serta jeram kecil Ongnyucheon yang semuanya mengikuti aliran air yang ada di Secret Garden. Puncak Bukit Maebong yang berada di belakang Secret Garden menambah keharmonisan dengan alam sekitarnya. Siapa yang mau menolak merasakan sendiri sensasi rasa, -sebuah perjalanan waktu-, saat Secret Garden masih digunakan sebagai tempat menulis puisi-puisi indah, bermeditasi atau perjamuan kerajaan bahkan sampai latihan panah yang disaksikan Raja?

Tetapi walaupun keindahannya di depan mata, rasanya saya masih ingin mengetahui sesuatu yang terus mengganjal di pikiran. Apa yang rahasia? Apakah karena tersembunyi di belakang Istana hingga tak langsung terlihat? Ataukah ada kegiatan rahasia yang dilakukan di taman ini? Bisa jadi, karena ada sebuah bangunan yang didirikan sebagai tempat diskusi politik yang hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu yang dipercaya oleh Raja. Bukankah itu sesuatu yang rahasia? Masih ada alternatif lain. Bisa jadi karena aktivitas kalangan Istana yang tak pantas terlihat oleh mata masyarakat umum, seperti Raja yang memancing di Buyongji, atau Raja dan Permaisuri yang giat berkebun dan beternak ulat sutra. Atau mungkinkah ada kisah-kisah romantis yang terlarang di tempat ini yang tak pernah terungkap? Semua bisa terjadi… tetapi saya hanya mendengar desir angin dari antara pepohonan.

Buyongjeong Pavillion
Buyongjeong Pavillion

Buyongjeong

Saya tertinggal beberapa meter saat rombongan telah berhenti mendengarkan cerita si pemandu di dekat Kolam Buyongji dan Bangunan Juhamnnu, yang merupakan tempat belajar dan pelatihan diri dari anggota keluarga Istana. Perpustakaan kerajaan yang dikenal dengan nama Gyujanggak dan Seohyanggak juga didirikan di wilayah ini. Namun tak itu saja, di depan Yeonghwadang sering kali acara perjamuan kerajaan diselenggarakan, termasuk ujian Negara yang disaksikan oleh Raja! Entah apa rasanya mengerjakan ujian Negara disaksikan Raja.

Buyongjeong yang menghadap kolam teratai Buyongji dan berada di seberang Juhamnu memang sangat tepat digunakan sebagai tempat bermeditasi dari anggota keluarga kerajaan. Saya beruntung karena pondokan Buyongjeong sudah dibuka kembali setelah direstorasi selama setahun. Bangunan cantik dua lantai Juhamnu dibangun di bagian atas yang dapat dicapai setelah melalui gerbang Eosumun. Dan konon di tempat ini Raja sering membaca sambil melihat-lihat keadaan sekitar yang tentu saja indah. Jika musim gugur dihiasi dengan dedaunan penuh warna, musim dingin dengan salju putih yang memukau namum misterius dan tentu saat musim semi harum bunga menyerbak kemana-mana.

Two stories Juhamnu and the gate Eosomun
Two stories Juhamnu and the gate Eosomun
Yeonghwadang for the banquet
Yeonghwadang for the banquet

Berjalan sendiri di tempat yang indah seperti di Secret Garden ini, saya merasa ada yang kurang sehingga saya mendekati seseorang yang juga berjalan sendiri untuk berkenalan dan berbagi keindahan. Dia seorang female solo traveler yang menyenangkan dari  Philippines. Akhirnya saya bisa bicara banyak dengan seseorang di Seoul! Kami berdua, -sampai akhir perjalanan di Secret Garden- saling berbagi pujian keindahan dan bertukar cerita tanpa perlu menanyakan nama dan latar belakang. Sepertinya situasi kami sama, hanya merindukan orang lain agar bisa berkomunikasi normal. Saat itu hanya kami yang berbicara dalam bahasa Inggeris. Di Korea Selatan, jauh dari negeri sendiri, saya mendapat pembelajaran, betapa berharganya, -sebuah berkah luar biasa-, bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sama, untuk bisa saling memahami, walaupun tengah berada diantara kerumunan manusia.

Aeryeonjeong

Pemandangan pepohonan dengan daun warna-warni terus berlangsung sampai di area Aeryeonjeong yang dibangun saat Raja Sukjong berkuasa pada akhir abad-17. Aeryeonjeong sepertinya merupakan area memorial karena Putra Mahkota Hyomyeong, anak pertama dari Raja Sunjo, -yang berbakat luar biasa dan telah dipercaya mengurus tata Negara atas nama Raja Sunjo sejak usia 18 tahun-, hanya berkesempatan hidup sebentar, hingga berusia 22 tahun. Dengan bakatnya, ia telah membangun banyak fasilitas di wilayah ini. Melalui gerbang Bulromun yang terasa magis, saya menyaksikan tempat belajarnya yang dikenal dengan nama Uiduhap, yang dibangun sangat sederhana tanpa dekorasi dan merupakan satu-satunya bangunan yang menghadap Utara sehingga sangat tepat untuk membaca dan bermeditasi. Lengkap dengan kolam teratainya, dan tentu saja karena sedang musim gugur ini, keadaan sekitarnya begitu indah.

Alam yang sedang tampil indah di Secret Garden sepertinya masih mau mempercantik dirinya dengan menurunkan rintik hujan. Lengkap sudah, alam yang cantik, rintik hujan dan udara dingin. Sempurna.

Saya pun bergegas membeli payung di sebuah toko cinderamata lalu bersama teman perempuan Philippines itu, kami mengejar rombongan sambil menatap hujan. Seandainya bisa, kami ingin menari di bawah hujan di tengah Taman Rahasia ini…

Ongnyucheon

Tempat ini terkenal dengan kolam dengan jeram kecilnya yang indah terbuat dari batu pualam dengan beberapa pondokan menghiasi pinggirannya sehingga menjadikannya tempat terbaik untuk menulis puisi. Romantisnya sangat terasa, apalagi di saat hujan seperti ini. Dan sementara yang lain sibuk berfoto dengan pasangan masing-masing, saya memilih mengabadikan dedaunan merah, oranye, kuning yang tertimpa rintik hujan.

Saya terpukau dengan bentuk Gwallamjeong, sebuah pondokan yang dibangun di situ. Walaupun sekilas terlihat seperti umumnya bangunan tradisional Korea, namun jika diperhatikan lebih jauh, bagian dasarnya dibangun menyerupai bentuk kipas yang tentu saja jadi terasa berbeda, apalagi jika diperbolehkan duduk di tempat itu. Ah, pikiran saya terbang liar, siapa ya yang pernah duduk menitikkan air mata yang mengalir seperti aliran jeram di tempat itu?

Jongdeokjeong juga merupakan pondokan yang didirikan di wilayah Ongnyucheon. Dibangun dengan pilar-pilar kayu di enam sisi, pondokan paling tua ini terlihat cantik dengan bentuk atap dua tingkat khas Korea yang cantik. Apalagi dengan latar belakang cantik warna-warni musim gugur. Tak salah memang, perjalanan di Secret Garden ini mata dimanjakan dengan keindahan dan imajinasi bisa liar menari. Lagi-lagi saya bertanya dengan diri sendiri, adakah kisah cinta yang terjadi di sudut ini?

Walau pelan kaki melangkah, akhirnya saya sampai juga di ujung perjalanan. Saya akan mengucapkan selamat berpisah kepada Huwon, The Secret Garden yang membentuk harmoni dengan lingkungan alam sekitar, yang pastinya tak akan mudah hilang dari ingatan. Sudut-sudutnya yang diam menyimpan begitu banyak kisah rahasia. Indah, romantis sekaligus misterius.

Akses

  • Subway
    • Jongno 3 (sam)-ga Station (Line 1, 3 or 5), Exit 6. Jalan 10 menit, atau
    • Anguk Station (Line 3), Exit 3. Jalan lurus ke Timur selama 5 menit
  • Bus
    • 7025, 151, 162, 171, 172, 272 atau 601 turun di halte Istana Changdeokgung

Tutup : Setiap Senin

Jam Buka

  • Feb-Mei, Sep-Okt 09:00-18:00 / Jun-Ags 09:00-18:30 / Nov-Jan 09:00-17:30
  • Tiket terakhir dijual 1 jam sebelum tutup.
  • Akses Huwon, hanya melalui tur yang dipandu selama 90 menit, dijual secara terbatas maksimal untuk 100 orang (online 50 orang, sisanya dapat dibeli di tempat)

Harga Tiket

Dewasa                Istana 3,000 won / Huwon 5,000 won
Anak-anak          Istana 1,500 won / Huwon 2,500 won

Korea – Istana Changdeokgung Seoul


Setelah mengunjungi Deoksugung, Istana selanjutnya yang saya kunjungi di Seoul adalah Istana Changdeokgung. Dodolnya, saya tidak memperhatikan lokasi tepatnya dan karena menggunakan subway, saya harus turun tangga ke platform kereta, lalu naik tangga (lagi) ke permukaan bumi yang pintu Exit-nya ternyata salah sehingga harus jalan kaki (lagi) untuk kembali kearah yang benar. Kaki rasanya mau putus akibat rendahnya awareness saya pada lingkungan.

Padahal Istana Changdeokgung dicatat sebagai UNESCO World Heritage Site pada tahun 1997 dan dinyatakan sebagai contoh luarbiasa dalama kategori arsitektur istana dan kebun di kawasan Timur Jauh, terlebih lagi karena bangunan-bangunannya terintegrasi dengan lingkungan alam sekitarnya yang sangat harmonis.

p1040036
The 2 stories Donhwamun, the gate of Changdeokgung

Karena alasan itulah, -walau dengan kaki yang diseret-seret pun-, saya memaksa diri dan akhirnya saya sampai juga di Donhwamun, pintu gerbang utama Istana Changdeokgung, yang terlihat megah di hadapan. Gerbang Donhwamun ini dibangun pada tahun 1412, dengan struktur kayu dua lantai dan merupakan yang terbesar dari semua gerbang istana. Seperti banyak bangunan lain di Korea Selatan, Donhwamun inipun dibakar selama invasi Jepang pada tahun 1592 dan dibangun kembali pada 1608. Dan seperti juga gerbang-gerbang lain di Istana manapun di dunia ini, dalam perjalanan sejarahnya, walaupun diserang, dirubuhkan, dihancurkan, tetap saja ada yang membangun kembali untuk menjaga bangunan yang lebih penting yang berada di baliknya.

Melewati Donhwamun, saya menyaksikan konter tiket penuh dengan pengunjung sehingga saya memilih mundur sesaat untuk membaca situasi. Wisata ke Istana Changdeokgung memang terbagi dua ada yang hanya membeli tiket istana saja dan ada juga yang membeli tiket Istana termasuk Taman Rahasia (Secret Garden).  Saya memilih yang kedua dan karenanya saya memiliki waktu untuk menjelajah Istana hanya beberapa saat, sebab untuk ke Taman Rahasia, saya diharuskan ikut dalam sebuah rombongan dengan guide dan tidak diperkenankan sendiri berkeliaran. Petugas tiket meminta saya untuk datang pada waktu yang ditentukan di gerbang Secret Garden. Sementara itu, saya akan berkeliling Istana yang tidak kalah besar dari Deoksugung. Semoga kaki saya masih kuat…

Sebagai istana resmi kedua dari Dinasti Joseon (1392 – 1897), -setelah Istana Gyeongbukgung-, Istana Changdeokgung dengan luas sekitar 45 hektar di daerah Jongno di kota Seoul ini, sejatinya dibangun pada abad-14 sebagai rumah kediaman kerajaan. Dan sesuai arti dari Changdeokgung, harapan dapat memberikan kemakmuran dan kebajikan sepanjang masa, sepertinya terwujud karena hingga kini Istana ini yang paling terawat dari empat lainnya yang ada di Seoul.

Melangkah di atas jembatan yang belakangan saya tahu namanya Geumcheongyo merupakan langkah luar biasa karena itu artinya saya melangkah di atas jembatan yang telah berusia ratusan tahun dan bertahan hingga kini. Dibangun pada tahun 1411, jembatan ini memiliki struktur dua lengkungan dan ukiran hewan mitos yang disebut Haetae di selatan dan patung kura-kura yang disebut Hyeonmu di utara. Konon selain patung-patung itu, masih ada ukiran lain yang bertujuan untuk mengusir roh jahat, dimana-mana ada ya upaya seperti itu yaa… Saya melewati jembatan yang juga memiliki lubang angin dan hiasan kelopak teratai di sisi samping.

Entah kenapa setiap melangkah memasuki kawasan istana, saya melangkah hati-hati seakan meminta ijin lewat pada setiap saksi bisu dari begitu banyak kisah getir kehidupan Istana. Setelah melewati sebuah gerbang lainnya, saat semua orang bergegas menuju bangunan Utama, saya berbalik arah mengikuti suara hati yang berbisik. Nafas saya tertahan sejenak melihat indahnya warna warni dedaunan di musim gugur yang menjadi latar belakang dan terbingkai dalam pintu gerbang kayu yang lebar. Jika saya tak berbalik tadi, pemandangan indah ini takkan terekam dalam benak.

Mungkin keindahan seperti ini yang menggerakkan hati Raja Seongjong, Raja ke-9 dari Dinasti Joseon, yang menjadikan Istana Changdeokgung sebagai kediaman resminya. Sayang, pada tahun 1592 saat keluarga istana menyelamatkan diri dari upaya invasi Jepang ke Korea, rakyat menjadi sangat marah hingga membakar seluruh bangunan istana. Kemudian berkat upaya Raja Seonjo istana dibangun kembali dua dekade setelah pembakaran. Namun begitulah kehidupan Istana yang tak bisa lepas dari perebutan kekuasaan dan pengkhianatan, sehingga di tahun 1623 Istana Changdeokgung kembali dihancurkan. Dalam sejarahnya, walaupun diserang juga oleh Dinasti Manchu dari China, tetapi Istana Changdeokgung ini tetap dibangun kembali dengan disain awal hingga kini.

Bahkan Kaisar terakhir Korea, Sunjong, menghabiskan saat-saat terakhirnya di Istana ini hingga ajal menjemputnya di tahun 1926. Sepeninggal Kaisar Sunjong, Putra Mahkota Yi Un diperbolehkan tinggal di Bangunan Nakseonjae bersama isterinya Puteri Bangja dan adiknya Puteri Deokhye hingga akhir hayat, meskipun fasilitas ini kadang ditentang oleh pemerintahan Korea yang silih berganti. Perubahan bentuk pemerintahan Korea yang tak lagi bersifat monarki ini berdampak pada kejiwaan anak Sang Putera Mahkota yang bernama Yi Gu. Walaupun bisa tinggal beberapa saat di Istana ini, akhirnya ia lebih memilih meninggalkan Seoul untuk menetap di Tokyo.

Injeongjeon

Saya sampai di Injeongmun, gerbang yang langsung menghadap Injeongjeon. Bangunan Injeongjeon merupakan ruang tahta Istana Changdeokgung yang digunakan untuk urusan resmi kerajaan termasuk penobatan raja baru dan menerima utusan asing. Sebagai bangunan utama di Istana Changdeokgung, Injeongjeon dibangun pada tahun 1405 dan mengalami penghancuran beberapa kali namun tetap dibangun kembali. Di depan pintu terdapat inskripsi berangka tahun 1609 yang menjelaskan jalan resmi dan halaman berdasar batu pipih. Selain itu ada pula yang menjelaskan ranking jabatan di kalangan  pejabat Istana. Setiap orang harus berdiri di belakang nomor batunya masing-masing, semakin tinggi jabatannya semakin dekat tingkat berdirinya dengan Raja.

Saya melongok ke dalam ruang tahta yang penuh dengan pilar-pilar kayu kokoh bernuansa merah dengan tahta berkanopi penuh hiasan. Entah berapa Raja yang pernah menduduki tahta itu. Tahta bisu yang tak menghakimi menyaksikan siapapun dengan hati penuh kemuliaan atau justru penuh khianat demi bisa mendudukinya. Begitulah sifat kekuasaan yang terus menggoda hati manusia…

Namun siapapun yang menduduki tahta, Istana Changdeokgung sepertinya memiliki keberuntungannya sendiri. Bisa jadi karena dibangun berdasarkan perhitungan rumit Feng Shui, dengan Gunung Bugaksan di bagian belakang Istana dan Sungai Geumcheon berada di bagian depan. Kondisi ini membuat bangunan-bangunan tampak absurd dalam penataan, tetapi sesungguhnya semuanya terbangun dalam sebuah harmoni dengan lingkungan sekitarnya.

Seonjeongjeo

Saya melanjutkan perjalanan menuju Seonjeongjeon. Disinilah tempat Raja berkantor, menerima pejabat Negara, melakukan pertemuan setiap hari dengan menteri, melaporkan pada urusan negara dan seminar di sini. Entah saya yang salah persepsi atau apa, tetapi untuk ukuran seorang orang nomor satu di sebuah Negara, menurut saya Seonjeongjeon tidak terlalu luas, walaupun ada juga ruangan lain untuk para pembantunya, kalau sekarang mirip dengan fungsi Sekpri kali yaa… Namun tak hanya itu fungsinya Seonjeongjeon, karena selain untuk kantor, Seonjeongjeon ini juga dipakai sebagai ruang doa jika ada keluarga kerajaan yang mangkat. Hiiii… dan biasanya doa persemayaman untuk keluarga kerajaan itu akan lama sekali, bisa berbulan-bulan, bahkan jika Raja bisa setahun! Lalu kantor sehari-hari pindah kemana ya?

Menariknya, ada koridor yang menghubungkan Seonjeongjeo dan gerbangnya (Seonjeongmun), bisa jadi agar tidak kehujanan saat berdoa untuk persemayaman. Inilah kelebihan Seonjeongjeon, bahkan di Injeongjeon (ruang tahta) tidak ada koridor yang menghubungkan gerbang dan ruang tahtanya.

Kaki mengajak tubuh ini melangkah kearah Timur, menuju Huijeongdang, yang dikenal dengan ruangan pribadi Raja. Saya berpikir akan menemukan ruang tidur, namun yang terlihat adalah ruang kerja lengkap dengan seperangkat kursi. Ternyata memang sejarah mencatat perubahan fungsi Huijeongdang ini. Apa yang saya rasakan bahwa Seonjeongjeon terlalu kecil ternyata benar, karena Raja  memindahkan kantornya ke Huijeongdang dan menjadi Pyeonjeon (Ruang Kerja Raja). Walaupun Huijeongdang hancur terbakar pada tahun 1917, Huijeongdang direkonstruksi kembali namun berubah dari disain aslinya dengan menambahkan gaya Barat pada akhir masa fungsinya seperti adanya tempat parkir kendaraan di bagian depan, jendela kaca dan lampu gantung listrik, fasilitas modern pada kamar mandi dan furniture bergaya baroque.

Saya masih dapat melongok ke dalam ruang tidur Raja, namun dengan segera menghilangkan pikiran-pikiran jahil saat melihat lorong-lorong tertutup menuju kamar-kamar lain. Sudahlah… itu biasa… 😀

Berdekatan dengan Huijeongdang terdapat bangunan yang dikenal dengan nama Daejojeon, yaitu tempat tinggal resmi permaisuri. Sayangnya Daejojeon terbakar pada tahun 1917 dan direkonstruksi dengan bahan yang diambil dari Istana Gyeongbokgung. Sejarah juga mencatat bahwa Daejojeon terakhir digunakan oleh permaisuri terakhir Joseon, sehingga saya bisa memperkirakan bagaimana perjalanan rumah tangga kerajaan Dinasti Joseon pada masa-masa terakhirnya.

img_9884
Huijeongdang and Daejojeon, the private area for the King and Queen

Walaupun masih ada tempat-tempat lain yang mungkin menarik, saya diingatkan oleh bunyi alarm agar segera bergegas menuju titik pertemuan tour ke Taman Rahasia (Secret Garden) Changdeokgung, karena jika terlambat, saya tidak akan bisa masuk ke Taman Rahasia itu. Ah, segala sesuatu yang rahasia, akan terasa menarik…

*****

Akses  
[Subway]

  1. Jongno 3 (sam)-ga Station (Subway Line 1, 3 or 5), Exit 6. Jalan sekitar 10-menit untuk ke gerbang
  2. Anguk Station (Seoul Subway Line 3), Exit 3. Jalan lurus ke timur sekitar 5 menit untuk ke gerbang.
    [Bus]
    Bus No. 7025, 151, 162, 171, 172, 272 or 601 turun di Changdeokgung Palace Bus Stop

Tutup Setiap Senin

Jam Buka  Feb-Mei, Sep-Okt 09:00-18:00 /  Jun-Ags 09:00-18:30 / Nov-Jan 09:00-17:30

Harga tiket  Dewasa (19-64): 3,000 won / Anak-anak & Remaja (<18): 1,500 won

****

Beberapa Cerita perjalanan lainnya di Korea:

  1. Korea – Warna Warni Istana Deoksugung
  2. Ada Bahasa Indonesia di Seoraksan
  3. Hwangseong Fortress – Menjadi Warisan Dunia karena Sebuah Buku Tua
  4. Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-abad

WPC – When Leaves Were In Transition


The Leaves in Transition
The Leaves in Transition

It was memorable moments when I walked alone in the Secret Garden, behind one of the famous South Korean palaces in Seoul, the Changdeokgung. It was early November and the leaves on trees in the garden were in transition, from green to yellow or red then brown, then they fell to the ground.

Being a person who lives in a tropical country with only summer and rainy season, for me autumn season is a remarkable time. Knowing about autumn is one thing, but walking in a real garden with the trees in a color transition in Autumn was another amazing unforgettable moments.

“As the Leaves change, so do we…

The lucid colors of the trees reminded me of the eternity of change. As the leaves change, so do we. With the changing seasons comes new beginnings. We all change colors and lose our leaves, but after that we bloom again…

Menyaksikan Lantern Festival di Cheonggye-Cheon Stream, Seoul


Masih merupakan lanjutan cerita perjalanan saya di Korea…

Meninggalkan lapangan tempat Monumen Raja Sejong Yang Agung yang tak jauh dari Gerbang Gwanghwamun berada, saya berjalan kaki perlahan mengikuti kerumunan orang-orang menembus dinginnya malam musim gugur di Seoul. Secara geografis karena terletak lebih utara, Seoul lebih dingin daripada Busan, sehingga saya memasukkan tangan lebih dalam ke saku jaket. Monumen Admiral Yu Sun Shin terlewati sudah, namun saya masih meneruskan langkah. Terlihat banyak sekali kerumunan orang di depan. Pasti ada sesuatu yang menarik di sana! Dan benarlah, Ternyata ada Seoul Annual Lantern Festival sedang berlangsung di Cheonggye-Cheon Stream. Wah, betapa beruntungnya saya! Cheonggye-Cheon Stream saja sudah menjadi tempat yang harus dikunjungi di Seoul, apalagi ditambah dengan adanya Seoul Annual Lantern Festival !

The Welcoming Blue Waterfall
The Welcoming Blue Waterfall

Cheonggye-Cheon Stream, sebuah tempat yang saya impikan untuk dimiliki di kota saya di negeri sendiri yang entah kapan bisa terealisasi. Tetapi memang saya benar-benar iri setengah mati dengan warga Seoul karena mereka memiliki Cheonggye-Cheon Stream. Dan bagi saya sendiri, Cheonggye-Cheon Stream merupakan bentuk komitmen antara pemerintah dan masyarakat Seoul yang mengedepankan budaya kesehariannya dan kepatuhan terhadap peraturan serta lingkungan ekologisnya. Hal ini yang membuat Cheonggye-Cheon menjadi tempat khas yang harus dikunjungi di Seoul. Banyak kota di dunia ini yang memiliki tower tinggi, gedung pencakar langit yang semakin tinggi menembus awan, kebun yang indah, mall yang besar dan luas, museum yang menarik, tempat-tempat ibadah yang berlapis emas, dan lain lain, namun hanya sedikit kota yang memiliki Stream yang menyenangkan untuk dijadikan tempat berjalan kaki. Cheonggye-Cheon di Seoul adalah salah satunya.

Sebenarnya Cheonggye-Cheon Stream merupakan anak sungai kecil yang mengalir dari Barat ke Timur sepanjang 8km di pusat kota Seoul. Pada jaman dulu, Cheonggye-Cheon Stream yang dibangun oleh raja-raja dari dinasti Joseon merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari di kota lama Seoul. Kemudian dengan berjalannya waktu terutama setelah Perang Korea di pertengahan abad 20, air sungai ini sudah tercemar sedemikian rupa karena rumah-rumah kumuh semakin banyak berdiri di sepanjang anak sungai ini sehingga di bawah kepemimpinan Presiden Park Chung-hee di tahun 1958, pemerintah memilih untuk menutupnya dan menyembunyikannya di bawah jalan raya dan kemudian diteruskan dengan pembangunan jalan bertingkat di atas jalan yang sudah ada yang selesai dibangun pada tahun 1976. Sejak itu Cheonggye-Cheon semakin hilang dari ingatan.

Cheonggye-Cheon Stream once was covered
Cheonggye-Cheon Stream once was covered

Dan sebuah ide yang sangat brillian dari walikota Seoul, Lee Myung-bak, untuk menatanya kembali, membongkar semua beton-beton yang menutupnya dan memperlihatkan aliran anak sungai ini ke permukaan dan mempercantik lingkungan sekitarnya, hingga kembali menjadi bagian tak terpisahkan dari kota Seoul yang modern. Sebuah pekerjaan restorasi yang terlihat ‘gila dan tak masuk akal’ serta juga mendapat pertentangan luar biasa dari masyarakat lokal karena mahal biayanya ini, dimulai tahun 2003 hingga 2005 dan mencakup wilayah Cheonggye-cheon Plaza di Taepyeong-no hingga ke Jungnang-cheon. Tetapi akhirnya sesuatu yang ‘gila’ ini mendapat pujian termasuk dari masyarakat internasional karena Cheonggye-Cheon Stream yang ada di pusat kota Seoul ini menjadi contoh landmark kota yang ramah lingkungan. Bisa dibilang, belum ke Seoul apabila belum menginjakkan kaki ke Cheonggye-Cheon Stream. Berlebihan? Percaya deh… tempat itu memang luar biasa asyik.

The Stepping steps in Cheonggye Cheon Stream
The Stepping steps in Cheonggye Cheon Stream
Romance along the Cheonggye Cheon Stream
Romance along the Cheonggye Cheon Stream

Uniknya tempat ini, di sepanjang lebih dari lima kilometer dari penataan aliran sungai ini situs-situs bernilai sejarah, jembatan batu tua, jembatan-jembatan baru untuk kendaraan dan jembatan-jembatan baru untuk pejalan kaki baru, air mancur dan hal-hal lain yang menarik, direkonstruksi kembali, dibangun kembali dan sengaja dipindahkan untuk menarik perhatian. Cheonggye-Cheon Stream menjadi sebuah tempat rekreasi, untuk melihat dan membayangkan wilayah historis tempat mencuci pakaian para penduduk Seoul pada jaman dulu, atau sisa-sisa beton dari jalan raya yang pernah menyembunyikan aliran anak sungai ini, atau sejumlah mural sejarah yang menghias dinding-dindingnya, dan masih banyak lagi hal-hal yang diciptakan atau dipindahkan untuk memperkuat kesan sebagai icon pariwisata di Seoul. Tetapi tentu saja yang mungkin paling terkenal adalah jembatan besar dari batu yang bersejarah dengan arsitektur yang cantik, Gwangtonggyo dan Supyogyo. Meskipun tidak lagi berada di lokasi semula, jembatan pedestrian historis yang lebar ini, yang terkenal dengan nama Gwangtonggyo ini, tetap mampu menciptakan imajinasi betapa anggunnya kaum bangsawan yang sedang melalui jembatan ini pada masanya. Juga jembatan Supyogyo, yang memiliki kekhasan tersendiri karena tepat di dekatnya didirikan sebuah pengukur ketinggian muka air sebagai pengendali banjir pada masa itu.

The delicate carving stone under the bridge of Cheonggye-Cheon Stream
The delicate carving stone under the bridge of Cheonggye-Cheon Stream

Dan saya menikmati mengikuti langkah kaki menyusuri Cheonggye-Cheon Stream malam itu sambil membayangkan kondisinya pada jaman dahulu dan tentu saja menikmati Festival Lampion di Seoul yang sedang berlangsung, sambil kadang tersenyum sendiri melihat pasangan-pasangan berduaan menikmati kemudaannya tanpa menghiraukan gerimis kecil dan udara dingin Seoul.

Air terjun yang indah berwarna biru mengawali langkah kaki saya menyusuri aliran air yang dingin itu. Kemudian dilanjutkan mengenai berbagai seni budaya dan sejarah Raja-raja Korea terutama Masa Kejayaan Periode Baekje, sesuai tema tahun 2013. Walaupun tidak semua orang memahami sejarah dan budaya Korea Selatan, semua yang ditampilkan lampion-lampion itu mampu memanjakan mata. Dimulai dari Prajurit Baekje yang diikuti elang, hewan yang berpengaruh semasa Periode Baekje. Juga digambarkan bagaimana King Goi memulai sistem ranking dan warna seragam dalam kehidupan istana, dan pengembangan ketrampilan pengolahan metal hingga seni grafis yang bersumber dari kepercayaan Buddha serta ketrampilan pengembangan armada maritim.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berbagai kissah diungkapkan pada lampion-lampion itu. Ada kissah mengharukan dari Raja Danjong, sebagai raja ke enam dari Dinasti Joseon yang diangkat pada usia 12 tahun, namun harus menerima kenyataan pahit karena digulingkan dari tahtanya oleh Pamannya sendiri, Suyang Daegun. Akhirnya, Raja Danjong dan permaisurinya, Ratu Jeongsun, dipertemukan kembali secara cantik dalam Festival Lampion Seoul, 555 tahun setelah pengasingan dan kematiannya di Yeongwoi. Mengharukan sekali!

King Danjong, who was dethroned, and Queen Jeongsun are reunited here
King Danjong, who was dethroned, and Queen Jeongsun are reunited here
Military officer who guarded King Danjong in exile in Yeongwol
Military officer who guarded King Danjong in exile in Yeongwol

Saya juga tertarik pada lampion yang disebut dengan Chiljido, yaitu sebuah lampion yang dibentuk seperti pedang unik bercabang enam yang kini menjadi Kekayaan Nasional Jepang dan sekarang ini disimpan di Isonokami Shrine. Sebuah tulisan yang menghiasi tubuh pedang itu, –Pangeran dari Baekje mengirim pedang ini ke Jepang dan berharap pedang ini tetap bisa diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang–, membuat saya berpikir, sebuah persahabatan yang bervisi jauh ke depan dan bermakna dalam. Mampukah generasi sekarang meneruskan harapan Pangeran Baekje itu?

The unique 6 branches sword, now kept in Isonokami Shrine, Japan
The unique 6 branches sword, now kept in Isonokami Shrine, Japan

Persahabatan dengan Jepang juga digambarkan dengan kedatangan Wangin, seorang yang berilmu dari Baekje yang berbagi pengetahuan mengenai etika dan moral, termasuk kepercayaan Confusianisme dan ketrampilan ukiran.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Satu hal yang digambarkan dalam lampion sebagai pembelajaran adalah kehancuran sebuah periode hanya karena permainan. Raja Gaero yang merupakan Raja Baekje ke 21 menyukai permainan Go. Dorim, seorang pendeta Buddha dari Kerajaan Goguryeo, memenangkan permainan Go melawan Raja Gaero dengan imbalan pembangunan gedung-gedung dan istana mewah yang justru menghancurkan ekonomi Baekje sampai ke dasar-dasarnya. Semua kehancuran itu hanya berasal dari sebuah permainan yang bersifat judi.

King Gaero and the Buddhist monk Dorim playing Go to end of Baekje history
King Gaero and the Buddhist monk Dorim playing Go to end of Baekje history

Korea yang terkenal dengan makam-makam Raja yang mewah, juga digambarkan dalam festival lampion ini, termasuk semua barang yang ditemukan dalam makam Raja Muryeong. Dari perhiasan, bentuk mahkota dan ilustrasi-ilustrasi mitos untuk menjaga makam dari penjarahan. Juga lampion-lampion yang berbentuk binatang-binatang yang dipercaya pembawa keberuntungan yang dibentuk dengan ekspresi yang lucu, ada juga lampion-lampion orang-orang berpakaian tradisional yang sedang memainkan alat musik tradisional pada jaman Baekje.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Salah satu yang menarik, yang memang menjadi kekuatan dari Cheonggye-Cheon Stream karena pendekatannya yang ramah lingkungan adalah lampion-lampion yang menggambarkan mengenai Green Card dan Maskotnya Mulbeomi, seekor anjing laut. Greencard di Korea ini merupakan layanan publik berbasis poin yang diberikan kepada mereka yang menjaga lingkungan karena membeli produk-produk ramah lingkungan, juga yang menggunakan transportasi publik, yang melakukan penghematan listrik, air dan gas. Sedangkan Mulbeomi, si anjing laut sebagai maskot, merupakan hewan yang terancam punah akibat pemanasan global. Sehingga diharapkan dengan penggunaan Greencard ini, Korea Selatan turut menjaga kelangsungan bumi, bisa menolong anjing laut dan hewan-hewan lain yang terancam. Sebuah ajakan nasional yang sangat hebat.

Mulbeomi as the GreenCard's Mascot
Mulbeomi as the GreenCard’s Mascot

Saya melihat negara lain berpartisipasi dalam Festival Lampion Seoul ini, seperti Phillippines dengan menampilkan pohon Natal yang besar. Phillippines memang terkenal dengan suasana Natalnya yang paling lama, bahkan saat itu awal bulan November, mereka telah mendirikannya di Korea Selatan! Juga boneka lucu-lucu yang sangat ekspresif mengungkapkan kegembiraan dari Taiwan. Sayang sekali saya tidak melihat Indonesia ikut berpartisipasi disini. Kapan ya?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Juga ada lampion-lampion yang menggambarkan Incheon yang akan menjadi Tuan Rumah penyelenggaraan Asian Games tahun 2014 ini dan masih banyak lagi rupa bentuk lampion yang menghias sepanjang Cheonggye-Cheon Stream.

Malam semakin larut, saya telah berada di ujung Festival yang berhiaskan ikan-ikan warna warni yang dibuat seakan terbang. Sungguh cantik. Membuat saya larut dalam imajinasi yang bergerak lincah. Kaki terus melangkah, kembali memutar menyusuri Cheonggye-Cheon Stream pada sisi yang lain, seakan mengundang untuk selalu datang lagi dan lagi…