Pilgrimage 4: Menuju Tempat Utama


25 Desember 2019

Insya Allah, ini harinya, nanti malam…

Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka

madinah3
Masjid Nabawi Yang Selalu Dirindukan

Setelah hari-hari sebelumnya saya menikmati ibadah di Masjid Nabawi dan menyempatkan juga berkeliling kota Madinah, maka tiba hari setelah waktu dzuhur akan meninggalkan kota Cahaya, kota yang telah membuat saya jatuh hati. Kenyataan yang membuat hati langsung mengerut, saya akan meninggalkan Masjid Nabi, sebuah tempat yang selalu menenteramkan jiwa. Dan waktunya melanjutkan menuju yang utama. Di antara kerinduan melihat Ka’bah, terselip juga rasa cemas. Kecemasan manusiawi dari diri yang telah bergelimang dosa. Ya Allah, ampuni kami…

Saya mencoba menghilangkan kecemasan itu dengan membantu suami mengenakan pakaian ihramnya. Untung saya sempat mengabadikan Pak Ustadz yang mencontohkan prosesnya waktu manasik. Tips-tipsnya amat berguna (mungkin kapan-kapan akan saya tuliskan cara mengenakan pakaian ihram agar tidak melorot meskipun tanpa sabuk).

Sesaat sebelum meninggalkan kamar, sebersit rasa menyeruak keluar. Ya Allah, ada kerinduan untuk tinggal di Madinah tapi undangan berumroh tak kalah kuatnya. Ada saat datang, ada saat pergi…

Di lobby hotel, tampak orang berkerumun dari beberapa grup travel. Ada yang baru check-in dan ada pula yang check-out seperti kami. Bisnis hotel di Madinah ini berjalan luar biasa, meskipun menurut saya, frontliners hotel ini tidak menerapkan service excellence.

Saya mendekat ke rombongan kami dan disambut oleh wajah-wajah cerah dari para ibu.

Ya ampun Bu, gamisnya bagus sekali, putih bersih… Keren“, kata mereka melihat pakaian yang saya kenakan. Saya tersipu menjelaskan bahwa saya membelinya di toko yang ada di lorong-lorong dekat Masjid. Saya tahu, mereka amat prihatin dengan belum ditemukannya koper saya. Dan mereka ikut gembira dan bahagia melihat saya tampil serupa dengan mereka.

Yang penting, putih dan bersih”, lanjut saya tersenyum lebar.

Teringat ketika membelinya, sepulang dari Mesjid. Suami dan saya secara tak sengaja menemukan lorong yang mengarah ke toko-toko yang mengingatkan saya akan Tanah Abang atau ITC di Jakarta. Saya amat terbantukan oleh mereka yang berjualan dan membolehkan kami membayar dengan uang Rupiah bahkan komunikasinya juga dilakukan dalam bahasa Indonesia. Rasanya tak berada jauh dari tanah air. Bahkan sekilas terlihat baju-baju gamis dan khimar (jilbab panjang) yang dipajang tidak jauh beda dengan yang biasa terlihat di toko-toko di Tanah Abang atau ITC-ITC di Jakarta. 

Setelah diperbolehkan untuk naik ke bus, sang suami mengajak saya segera ke bus. Ia memastikan koper kami yang tinggal satu itu masuk ke dalam ruang bagasi bus. Lalu di atas bus, dengan setengah bercanda saya mengatakan kepadanya bahwa saya kasihan terhadap koper suami yang sendirian tak punya teman. Karena pasangan suami isteri dalam rombongan selalu memiliki dua koper sedang kami hanya punya satu, karena koper saya sedang jalan-jalan sendiri entah kemana. Tanpa berkata suami yang telah mengenakan pakaian ihram itu menepuk-nepuk tangan saya agar tak berpikir lagi mengenai koper.

Tapi saya tidak berpikir soal koper, melainkan analoginya. Bukankah tadi saya berkata tentang koper pasangan ada dua dan yang satu jalan-jalan entah kemana? Bukankah tadi saya mengasihani koper suami? Bisa jadi rasa iba saya tadi menjadi wakil dari rasa iba banyak orang, melihat seringnya suami bersama anak-anak ditinggal saya yang pergi jalan-jalan sendiri (solo-travelling). 

Saya terdiam menggigit bibir mengikuti alur pikiran sendiri, melempar sebuah pertanyaan main-stream yang tak mudah dijawab, apakah memang demikian pandangan banyak orang melihat seorang isteri yang melakukan solo-travelling? Saya sendiri tak mampu berkata setuju maupun tidak, namun hanya bisa menyimpan pemikiran ini ke dalam hati sebagai masukan yang indah.

madinah1
Gedung-gedung di dekat Masjid Nabawi, Madinah

Dari atas bus, kami masih menunggu mereka yang belum check-out sambil menyaksikan denyut nadi kota Madinah yang kebanyakan berlalu-lalang dari dan ke Masjid. Kota yang selalu diberkahi Allah, entah kapan saya bisa kembali ke kota ini. Ah, saya pasti merindukan kota yang damai ini.

Setelah semua lengkap, bus beranjak pelan menuju hotel bintang lima untuk menjemput sebagian dari rombongan kami. Menjemput mereka yang tinggal di tempat yang lebih mahal ini, membuat saya teringat sesuatu. Meskipun mereka memilih hotel yang lebih mahal, bukan berarti mereka tak bisa menunjukkan kebaikan dan ketulusan hati. Salah seorang dari merekalah yang memberi tahu saya pertama kali untuk urusan yang amat krusial. Tempat mencari pakaian dalam!

Di Saudi Arabia, paling tidak di semua pertokoan yang saya masuki, tidak pernah terlihat perempuan yang menjaga toko. Semuanya laki-laki. Sehingga tidak mungkin saya menanyakan apakah mereka menjual pakaian dalam perempuan. Lalu, seandainya ada, bagaimana saya harus menjawab bila mereka menanyakan ukurannya? Tidak, saya memang kehilangan koper, tetapi saya tidak kehilangan kewarasan untuk mengobral hal-hal yang amat personal itu.

Lalu pertolongan itu datang dari seorang ibu yang menginap di hotel berbintang lima itu. Dia berbisik agar saya mencoba melihat-lihat di sebuah supermarket di dekat Masjid. Jika memang tidak ada, maka harus cari di mal yang untuk mencapainya perlu naik taxi. Saya percaya pertolongan itu datang dari arah mana saja. Dan benarlah, saya menemukan beberapa pakaian dalam yang cocok tanpa harus bertanya-tanya dengan laki-laki kemudian meminta suami yang membayarnya ketika berada di kasir. Selesai urusan.

Mengingat peristiwa itu, saya tersenyum mengangguk kepadanya ketika melihat mereka sekeluarga naik ke atas bus. Mata yang berbicara, sama-sama mengerti dan saling memahami satu sama lain.

Bus bergerak terus meninggalkan kota Madinah. Saya menguatkan hati dan janji untuk memenuhi panggilanMu ya Allah…

madinah2
Gedung-gedung di Kota Madinah

Dzul Hulaifah (Bir Ali) 

Dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah meninggalkan Madinah, sampailah kami di Dzul Hulaifah atau kini lebih dikenal dengan nama Masjid Bir Ali, tempat kami mengambil miqot (batas/awalan memulai ibadah utama Umroh dan mengucap niat Umroh). Pak Ustadz mengingatkan bahwa di Masjid ini selalu padat dipenuhi Jamaah sehingga jamaah harus hati-hati dan ingat arah ke titik kumpulnya.

Langit terlihat amat biru di Dzul Hulaifah, teramat kontras dengan warna putih dinding Masjid. Segera saja kami semua melaksanakan shalat sunnah 2 raka’at dan mengucap niat Umroh. Kemudian saya menunggu di titik kumpul. Sejauh mata memandang hampir semua jamaah diliputi pakaian ihram putih. Membuat berdegup saat terlintas bayangan akan manusia di padang mahsyar.

birali2
Biru Langit di atas Masjid Bir Ali

Setelah beberapa saat bus melanjutkan perjalanan lagi menuju Mekkah Al Mukarramah yang memakan waktu sekitar enam jam. Tepat sebelum berangkat Pak Ustadz mengulang mengucapkan niat Umroh yang diikuti jamaah lalu kalimat-kalimat talbiyah dikumandangkan lagi.

Saya memandang ke jalan di luar yang lebar, halus dan penuh rambu. Enam jam perjalanan dengan bus yang dilengkapi pendingin udara. Duduk di atas reclining seat dan tersedia makan serta minum. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di luar jendela terpampang alam yang kering dan tandus dengan gurun batu di sana sini membuat saya membayangkan perjalanan Rasulullah bersama para sahabat dan keluarganya empat belas abad yang lalu saat melakukan ibadah dari Madinah ke Mekkah. Dulu tak ada jalan rata yang mulus dan lebar. Tak ada kendaraan yang sejuk, bahkan tak ada bangunan batu ber-AC untuk beristirahat. Begitu sulit, begitu banyak kendala dan hambatan alam. Perjalanan hanya bisa dilakukan dengan menggunakan unta atau kuda, atau bahkan berjalan kaki. Berhari-hari, melewati malam yang kering dan siang yang amat terik.

Ya Rasul, Ya Nabi, begitu lama jaraknya, baru bisa kuikuti jejakmu…

Mekkah Al Mukarramah

Waktu terus berjalan, gelap mulai menyelimuti. Pak Ustadz bercerita banyak hal namun kemudian ia berkata, “Alhamdulillah kita telah sampai di batas kota Mekkah”.

Saya melihat perubahan pemandangan di luar jendela, karena sudah banyak bangunan yang menunjukkan sebuah kota. Lampu-lampu jalan yang terang.

Setelah beberapa menit, pak Ustadz kembali berkata,”perhatikan sebelah kiri…”

Otomatis semua jamaah menoleh ke kiri ke luar jendela. Terlihat ada yang terang dan tinggi di kegelapan malam. Pak Ustadz melanjutkan, “ke sanalah tujuan kita semua. Itulah jam yang ada di Masjidil Haram”.

Saya menggigit bibir, terasa sakit. Saya benar-benar berada di Mekkah! 

Mata tak terasa menjadi basah. Allah telah menggenapi janjiNya sehingga saya bisa sampai ke kota Mekkah setelah sekian puluh tahun hidup sebagai manusia. Saya juga menggenapi janji kepada ayah mertua untuk sampai ke Mekkah sepeninggalnya, meskipun perlu waktu bertahun-tahun. Juga janji kepada almarhum Papa bahwa saya bisa sampai ke Mekkah. Kepada almarhum Opa dan almarhumah Oma yang meneladani saya semasa kecil tentang menjalankan shalat. Dan Mama, yang telah terlebih dahulu berhaji dan menceritakan keindahan dan keajaiban Tanah Suci. Airmata saya meleleh tanpa bisa dihentikan.

Saya tak menyadari arahnya bus berjalan, karena masih terpesona dengan bayangan jam di Masjidil Haram. Tapi mendadak bus memasuki terowongan yang menutupi semua pemandangan. Rupanya rombongan yang menginap di hotel bintang lima diturunkan lebih dahulu. Keluar dari terowongan yang terlihat hanyalah manusia dimana-mana berjalan kaki. Kepadatannya melebihi apa yang saya lihat di Madinah. Luar biasa.

Dan sampailah kami di hotel, yang juga penuh dengan manusia. Tidak heran, karena bulan Desember merupakan peak season untuk melakukan umroh. Pembagian kamar dilakukan dengan cepat lalu dilanjut dengan makan malam.

Setelah makan malam itu, kami semua akan berjalan kaki menuju Baitullah.

Waktunya tiba untuk Umroh!

DSC00341
Clock Tower

 

Pilgrimage 3: Kenangan di Sudut-Sudut Madinah


Diantara waktu-waktu wajib untuk mendirikan shalat dan ibadah sunnah lainnya, masih tersisa waktu bagi kami para jamaah umroh untuk mengunjungi tempat-tempat yang menggenggam cerita perjuangan Rasulullah dan para Sahabat pada masanya yang terletak tak jauh dari sudut-sudut kota Madinah, Seperti pagi itu, setelah semua menyelesaikan sarapan, dengan menggunakan bus kami meninggalkan hotel menuju tempat-tempat yang penuh makna itu.

Tetapi entah mengapa, saya pribadi masih merasa tak bisa melepas hati yang tertinggal di Masjid Nabawi. Meskipun sempat berada hanya berpuluh meter dari makam Rasul untuk bisa berkunjung dan berdoa, saya masih belum berkesempatan bersimpuh dan berdoa di depan kuburnya dan juga Taman Nabi. Juga saya belum berkesempatan melangitkan doa di Baqi, tempat para syuhada menghabiskan tidur panjangnya. Seakan-akan kaki saya terikat pada keadaan di dalam Masjid dengan mata yang terpesona akan keindahannya saat-saat shalat dan tak bisa pergi dari situ. Meskipun badan ini berada di dalam bus yang tengah bergerak ke arah Selatan kota menuju Masjid Quba…

Quba
Masjid Quba

Pak Ustadz menjelaskan tentang Masjid Quba yang dulu dibangun oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam satu tahun setelah Hijrah dan disebut dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 108 sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa dan didalamnya terdapat orang-orang yang membersihkan diri. Konon Rasulullah sering mendirikan sholat di Masjid ini, sehingga dalam rangka meneladaninya jamaah Umroh biasanya sholat dua raka’at di Masjid Quba ini.

Bus berhenti tak jauh dari Masjid, lalu kami bergegas turun dan berjanji berkumpul lagi di dekat gerbang depan setelah selesai. 

Sebagai muslimah, saya mengikuti arah para muslimah lainnya menuju tempat wudu. Terperangah juga saya karena toilet dan ruang wudu terdekat amat penuh. Tetapi dasar rejeki anak sholeh 😀 saya seperti ditunjukkan untuk terus berjalan ke ujung yang di sana tidak terlalu padat. Alhamdulillah. Saya sampai tidak habis pikir mengapa banyak orang tidak mau berjalan sedikit lebih jauh untuk mendapat keleluasaan?  Lalu setelah selesai berwudu, saya menengok kiri dan kanan, tidak ada satu pun teman segrup di sekitar saya padahal ketika perginya masih berombongan. Waduh!

Karena telah terpisah dari rombongan, saya berjalan mengikuti arah pintu masuk khusus perempuan. Namun di depan pintu saya harus berhenti dan menunggu antrian shalat. Sedetik dua detik menunggu, tak diduga mata saya bertubrukan dengan petugas yang meminta saya segera bergerak ke kanan yang lebih sepi! Segera saja saya ikuti arahnya dan benar! Saya langsung mendapat tempat shalat yang amat nyaman paling depan. Alhamdulillah, segala puja dan puji bagiMu Ya Allah, begitu banyak saya mendapatkan kemudahan…

Di Masjid Quba ini, -menurut satu riwayat, shalat dua raka’at di Masjid ini mendapat ganjaran pahala setingkat umroh-, saya hanya menikmati sesaat saja untuk bersimpuh dan bersujud di hadapanNya untuk memohon ampunan dari segala kesalahan dan dosa, karena tahu ada begitu banyak jamaah lain yang mengantri. Masjid Quba memang salah satu Masjid favorit yang must visit bagi jamaah Umroh, sehingga memang biasanya padat. Termasuk, kata pak Ustadz dan juga pengalaman teman-teman, sikap agresif dari para pedagang yang berjualan di sekitar Masjid, yang membuat jamaah harus hati-hati dan waspada. Namun Alhamdulillah, kami segrup sama sekali tidak bersinggungan dengan para pedagang yang agresif.

Tak lama kemudian, di dekat gerbang banyak dari kami saling berfoto sambil menunggu kawan-kawan lain yang belum selesai. Saat itu, saya menengadah menikmati langit di atas Masjid Quba yang amatlah biru. Sangat kontras dengan warna putih dari Masjid. Apalagi berhias pepohonan kurma, Masjid Quba ini terlihat amat cantik.

DSC00323e
The Dates Farm

Setelah mengambil foto group, perjalanan kami dilanjutkan ke Kebun Kurma, yang katanya merupakan tujuan favorit jamaah dari Indonesia. Apalagi jika bukan berbelanja kurma! Saya terhenyak dengan apa yang terlihat di hadapan. Kurma-kurma berbagai jenis disusun rapi di atas rak dan para pedagang langsung saja merayu calon pembeli dalam bahasa Indonesia saat mereka mengetahui pengunjungnya adalah dari Indonesia. Saya tertawa bersama suami mendengar fasihnya mereka berbahasa Indonesia, rasanya seperti negeri sendiri.

Sayang bagi mereka karena saya tak suka berbelanja, meskipun kawan-kawan segrup berlomba untuk membeli kurma. Saya hanya mencicipi sedikit lalu jalan-jalan di kebunnya. Kebun kurma terlihat tak cukup indah karena panen sudah lewat. Meskipun demikian, salah satu dari mereka sempat memperagakan keahlian menaiki pohon kurma.

Setelah lama menunggu, -karena kawan-kawan segrup kami suka sekali berbelanja-, akhirnya bus berangkat lagi menuju sisi lain dari Madinah, menuju Jabal Uhud. Sebuah tempat yang penuh makna namun memedihkan hati.

DSC00315e
Uhud from the bus

Sejalan dengan cerita yang disampaikan Pak Ustadz, pikiran saya terbang mengingat kisah pedih Perang Uhud. Sebuah perang perjuangan Rasulullah dan para Sahabat untuk memenangkan Islam di muka bumi tiga tahun setelah Hijrahnya, melawan pasukan kaum Quraisy yang datang dari Mekkah sebagai penyembah berhala yang tidak bersedia ritual keyakinannya digantikan. Setelah perang hampir dimenangkan oleh Pasukan Islam, hanya karena tergoda oleh rasa kemenangan yang belum sampai di tangan, tergiur akan harta rampasan perang serta ketidakpatuhan kepada perintah pemimpin, akhirnya banyak pasukan Islam syahid terbunuh oleh Pasukan Quraisy yang memanfaatkan situasi sehingga kemenangan berhasil berbalik menjadi milik Pasukan Quraisy. Saya membayangkan para Sahabat dengan gagah berani berjihad sebisa mungkin menghalau pasukan Quraisy sekaligus melindungi Rasulullah ketika kemenangan sudah lepas dari Pasukan Islam. Sebuah kisah yang amat memedihkan, karena dalam perang yang sama Hamzah, Paman Rasulullah sebagai Pejuang Islam yang dikenal sebagai Singa Padang Pasir itu terbunuh teramat keji dan tak manusiawi.

Tapiiiii….

Saya yang sedang terguncang rasa karena teringat kisah heroik yang sangat luar biasa ini menyadari bahwa bus yang saya tumpangi ini berjalan terus dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Otomatis saya memandang Pak Ustadz di bagian depan Bus, dan mendengar penjelasannya bahwa memang bus ini hanya melewati saja dan tidak berhenti. Bahkan melewatkan juga pemakaman 70 syuhada perang Uhud… Dalam hati saya berteriak tak bisa menerima bus tidak berhenti di tempat bersejarah ini namun bersamaan waktunya kesadaran saya muncul bahwa akan lebih baik saya berdoa untuk mereka saat melewati pemakamannya.

Rasanya hati ini tersayat perih menyadari saya tak memiliki kesempatan menjejak di Bukit Uhud tempat Rasulullah pernah berjuang. Sudah begitu dekat…

Saya seperti anak kecil yang merajuk, memandang sedih Bukit Uhud yang semakin menjauh, one day, one day InsyaAllah… demikian getir hati berkata.

Lalu bus berjalan terus melalukan perasaan kecewa menuju sebuah tempat yang mungkin membawa sedikit ceria. Percetakan Al Quran Terbesar di Dunia, King Fahd Glorious Quran Printing.

Meskipun dari bus terlihat antrian masuk yang begitu panjang, bersama ibu-ibu lain saya turun juga. Namun begitu berada di ujung antrian, ternyata antrian untuk muslimah tidak begitu panjang dan saya bisa dengan cepat berjalan ke depan. Dan begitu sampai di dalamnya saya terpesona juga, begitu luas dan hebat percetakannya yang mampu menghasilkan 10 juta Al Qur’an setiap tahunnya.

Hingga kini, Percetakan Al Quran terbesar di dunia yang mempekerjakan lebih dari 1700 karyawan ini telah memproduksi ratusan juta Al Qur’an termasuk menerjemahkannya ke dalam puluhan bahasa dan karakter penulisan. Tidak hanya dalam bentuk hardcopy, melainkan dapat dibaca juga dalam bentuk digital. Untuk terjemahan dalam bahasa Indonesia bisa dilihat: Terjemah Al Qur’an dalam Bahasa Indonesia

Setelah puas menyaksikan kertas-kertas hasil cetakan itu menjadi kitab-kitab suci yang dimuliakan dan didistribusikan dengan menggunakan kendaraan khusus yang hilir mudik, saya meninggalkan tempat itu dan mendapat sebuah Al Qur’an yang diberikan secara cuma-cuma. Alhamdulillah, sebuah Al Qur’an asli dari Madinah.

Al Quran Madinah
Al Quran – Not For Sale

Karena waktu sholat sudah mendekat, tentu saja kami semua lebih memilih kembali ke Masjid Nabawi daripada mengunjungi tempat-tempat lain yang bersejarah. 

Dan berulang kembali sesuatu yang membuat hati miris, karena saya hanya bisa menyaksikan Masjid Qiblatain, -masjid dengan dua kiblat-, dari bus yang berjalan terus. Padahal Masjid Qiblatain itu memiliki kisah yang amat erat dengan Rasulullah dalam hal mengarahkan shalat dan berpindah kiblat dari Baitul Maqdis di Jerusalem menjadi Ka’abah di Mekkah. Sebuah tempat yang menjadi saksi bisu dari apa yang tertulis dalam surat Al Baqarah ayat 144. Saya hanya mampu menggigit bibir. Mungkin bagi kawan-kawan segrup yang telah berulang kali melakukan perjalanan umroh, tak merugi jika tidak turun di Masjid Qiblatain karena mereka sudah pernah. Tetapi saya dan beberapa orang yang belum pernah, tentunya ada rasa ingin shalat di dalamnya, menjejak buminya, bersimpuh dan bersujud serta menyentuh udara perpindahan kiblat itu. Tetapi lagi-lagi, kesempatan itu bukan milik saya… Ada rasa getir yang muncul di hati melihat Masjid Qiblatain semakin menjauh.

DSC00337e
Qiblatain Mosque from the bus

Tak berhenti disitu saja karena dari atas bus, saya juga hanya bisa memandang dengan sebersit keinginan untuk bisa menapaki Masjid Khandaq yang menjadi saksi bisu perang parit (Khandaq, dalam Bahasa Arab) yang terjadi pada tahun ke lima setelah Hijrah.

Pasukan Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah memiliki jumlah pejuang yang jauh lebih sedikit daripada Pasukan Quraisy, namun tetap saja Rasulullah dan pasukannya mampu mempertahankan Madinah karena adanya parit lebar dan panjang yang digali oleh pejuang muslim di sekeliling Madinah. Pembangunan parit sebagai pelindung sebelumnya tidak dikenal dalam pertempuran di jazirah Arab, namun karena peran Salman Al Farisi yang berasal dari Persia, membuat Pasukan Islam bisa menggegapgempitakan Allahu Akbar sebagai lambang kemenangan.

Sekali lagi di dalam hati ada suara, one day, one day InsyaAllah… meskipun tidak bisa shalat di Masjid Khandaq ataupun masjid Qiblatain, saya bersyukur sudah bisa begitu dekat. Sudah melihatnya meski dari jauh, meski dari atas bus. Saya sudah berkeliling dan membiarkan mata untuk melihatnya sebagai nikmat tak terhingga. Alhamdulillah…

Karena ada banyak manusia lain yang belum mendapat kesempatan untuk mendirikan shalat di Masjid Nabawi di Kota Penuh Cahaya ini, kota dengan sudut-sudutnya menerbangkan kenangan dan kerinduan…

 

Pilgrimage 1: Menuju Kota Cahaya


Hanya terbilang dua bulan sebelum keberangkatan, saya mengambil keputusan besar untuk melakukan perjalanan batin ke Tanah Suci, sebuah perjalanan yang selalu digadang-gadang dilakukan seawal mungkin, jika mampu, dalam kehidupan seseorang yang beragama Islam.

Meskipun terkesan mendadak, -keputusan diambil 2 bulan sebelum berangkat-, saya bisa menuliskan sejuta alasan pembenaran telah melakukan penundaan sekian lama, bertahun-tahun, bahkan berdekade-dekade. Yaa sudahlah, apapun alasan itu, akhirnya Allah SWT mengabulkan perjalanan kami berdua, -dengan sang belahan jiwa-, dalam minggu terakhir bulan Desember 2019 yang lalu. Sebagai hadiah ulang tahun saya sekaligus hadiah ulang tahun pernikahan, yang keduanya diperingati dalam bulan Desember dan berjarak hanya hitungan hari dari tanggal keberangkatan.

Dan manisnya, sejak dulu saya memang memiliki impian jika melakukan ibadah ke Tanah Suci, -umroh atau bila memungkinkan haji-, inginnya langsung ke tiga Masjid utama, Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al Aqsho, sesuai hadist

“Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsa”

(HR. Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397)”.  

Dan keinginan itu juga yang membuat perjalanan ini menjadi terbatas.

Karena suami dan saya hanya pegawai, -artinya cutinya terbatas-, pemilihan waktu untuk melakukan ibadah ke Tanah Suci itu perlu pertimbangan sendiri. Karena pertimbangan ini, akhirnya saya memilih waktu akhir tahun meskipun merupakan peak season. Paling tidak, kami meninggalkan kantor tidak terlalu lama karena ada cuti bersama, hari libur Natal dan Tahun Baru, Tapi yaaa… begitulah, karena akhir tahun, harganya lebih mahal (bangeeet!). Tapi di sisi lain, untuk ibadah kepada Allah Yang Selalu Melimpahkan Rejeki, mosok kita itung-itungan?

Selain waktu yang tidak tersedia banyak, tidak banyak juga agen perjalanan yang mau melakukan perjalanan ibadah Umroh Plus Aqsho di akhir tahun. Kalaupun ada, harganya sangat membumbung tinggi. Akhirnya, setelah memilih dan memilah, saya memutuskan menggunakan agen perjalanan MAP Tour yang berkantor pusat di Condet, Jakarta dengan mengambil paket bintang 3 untuk berdua yang harganya lebih terjangkau daripada paket bintang 5 (Bintang-bintangan ini hanya ditentukan oleh jarak ke Masjid, yang semakin tinggi bintangnya, semakin dekat jarak dengan Masjid, meskipun fasilitasnya sangat berbeda dengan standar bintang di Indonesia)

Maka pada tanggal keberangkatan…

Di Bandara, satu persatu anggota grup kami menampakkan mukanya. Hari itu dengan maskapai Malaysian Airlines, kami menuju Madinah (yang terkenal dengan sebutan Kota Cahaya) dengan transit di Kuala Lumpur. Untuk penerbangan ke Kuala Lumpur, saya mendapatkan penerbangan jam 9 pagi, dan sebagian dari grup kami mendapatkan penerbangan jam 11 pagi. Memang agak aneh grup kami terpecah dua, tetapi pihak travel beralasan karena peak season dan penerbangan ke Kuala Lumpur sangat penuh. Baiklah… kami semua belajar ikhlas karena ini adalah perjalanan ibadah.

Pagi di terminal 3 itu, tidak sedikit dari kami yang menunggu dengan cemas. Suasana di depan restoran sebagai meeting point itu sudah seperti pasar dengan begitu banyak jamaah dari berbagai travel Umroh dengan masing-masing seragamnya. Kami berbisik satu sama lain, di Jakarta saja sudah padat dengan manusia, apalagi di Mekkah… tetapi sebenarnya kecemasan kami bukan itu.

Menit demi menit berlalu, jamaah semakin banyak. Saya melirik jam tangan, tinggal satu jam sebelum lepas landas, tetapi boarding pass belum di tangan dan belum antri imigrasi. Berkali-kali saya mengintip ke arah check-in, koper-koper itu masih rapi berjajar di depan konter group check-in. Saya terus mengingat diri, ini adalah perjalanan ibadah, jadi sewajarnya untuk memperpanjang sabar. Lagi pula saya, yang biasanya solo-travelling, kali ini harus belajar melakukan perjalanan melalui agen.

Alhamdulillah, akhirnya semua tepat pada waktunya, dan kami bisa terbang ke Kuala Lumpur dan menunggu cukup lama untuk melanjutkan penerbangan lanjutan ke Madinah. Yah kan juga harus menunggu grup kami yang berangkat jam 11 dari Jakarta. Latihan sabar lagi.

KLIA1
Kuala Lumpur International Airport 1

Kecemasan berikutnya terasa ketika sudah ada panggilan untuk boarding ke pesawat lanjutan yang akan membawa kami ke Madinah, grup berikutnya belum terlihat batang hidungnya satu pun! Berkali-kali saya melihat ke arah pintu saat mengantri, mereka belum tampak juga. Akhirnya dalam hitungan menit sebelum saya memasuki badan pesawat Airbus A380 itu, tampak rombongan grup berlari-lari menuju gerbang. Alhamdulillah.

Saya terkagum memasuki pesawat Airbus A380 dua lantai yang hingga kini masih merupakan pesawat penumpang terbesar di dunia. Kelas Business Suite di lantai satu yang hanya saya lalui saja tampak menyenangkan sekali, bisa jadi dipesan oleh mereka yang berkelimpahan rejeki. Meskipun tak penting, saya mencoba mengingatnya bahwa di lantai dua pesawat ini hanya untuk kelas bisnis dan tidak ada kelas ekonomi. Entah kenyataannya seperti apa. Yang pasti, saat duduk di kelas ekonomi, saya kurang begitu nyaman karena sepertinya kursi kelas ekonomi tidak dirancang secara ergonomis untuk tubuh Asia yang lebih kecil. Kaki saya kurang bisa menjejak lantai. Atau saya yang tidak tinggi ya?

Mendapat kursi di bagian jendela untuk penerbangan selama 9 jam seharusnya menyenangkan, tetapi buat saya benar-benar membuat mati gaya. Pemandangan di luar jendela tidak menarik, sedangkan untuk menonton film rasanya malu terhadap diri sendiri karena kontradiktif dengan alunan suara otomatis yang diperdengarkan ke kabin,

Labbaik Allahumma Labbaik. Labaika Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulk. Laa Syarika Lak

Aku penuhi panggilanMu, ya Allah, aku penuhi panggilanMu. Tidak ada sekutu bagiMu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milikMu, begitu juga kerajaan adalah MilikMu. Tiada sekutu bagiMu.

Jadilah seperti itu, selama penerbangan panjang yang diselingi makan dan cemilan, jamaah menjalankan apa yang dihimbau pak Ustadz untuk meluruskan niat dan melafalkan kalimat talbiyah meskipun tidak bisa dihindari sejenak terlelap

Jam demi jam berlalu, akhirnya kota tujuan tak jauh lagi meskipun telah berbalut malam. Seruan Alhamdulillah otomatis terdengar di seluruh kabin ketika roda pesawat besar itu menyentuh landasan kota Madīnah al-Munawwarah, kota yang bercahaya. Ya Allah, Ya Rasul… dada saya dipenuhi oleh rasa haru yang begitu menggelegak, mata terasa kabur oleh airmata yang mengembang. Benarkah saya telah di Madinah?

Saya masih merasa linglung, rasanya tak menjejak tanah, tak percaya bahwa saya ada di bumi yang berabad dulu juga dijejaki Rasulullah, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Saya menggigit bibir memastikan bahwa saya sungguh memasuki bandara Madinah yang tidak terlalu luas dan juga tak terlalu padat oleh manusia. Kami benar-benar beruntung bisa mendarat langsung di Madinah karena umumnya pesawat yang mengangkut jamaah Haji atau Umroh lebih banyak mendarat di Jeddah. Tidak ada antrian imigrasi yang mengular di Madinah ini, sama sekali tidak ‘mengerikan’ seperti yang diceritakan dalam beberapa blog jika saja kita mendarat di Jeddah.

Madinah Airport
Madinah Airport

Lepas imigrasi kami menunggu di tempat pengambilan bagasi. Menit demi menit berlalu, satu per satu koper grup kami muncul tetapi bukan koper saya. Sampai akhirnya proses pengeluaran bagasi selesai, koper saya tak pernah muncul. Tentu saja saya menjadi masygul, meskipun dipendam sendiri. Entah apa rencana Allah untuk saya dengan kejadian ini. Telah berkali-kali saya mengalami ujian kehilangan barang dalam perjalanan, seperti kehilangan dompet dulu ketika di Macau, hampir kehilangan paspor di Hoi An, juga pernah carrier saya yang tak muncul di Jakarta setelah trekking di Annapurna, Nepal. Dan kini, saat akan menjalankan ibadah Umroh, saya tak memiliki baju lain kecuali yang dikenakan.

Waktu berlalu dengan cepat. Saya tak mungkin membiarkan jamaah lain menunggu koper yang tidak jelas keberadaannya itu. Sementara pak Ustadz yang sekaligus menjadi Tour Leader berkali-kali menunjukkan wajah kebingungan, dengan ikhlas saya mengusulkan kepada grup untuk segera ke hotel daripada menunggu sebuah ketidakjelasan. Saya telah ikhlas atas peristiwa koper yang tak muncul, dengan segala konsekuensinya karena meninggalkan bandara tanpa bukti pengaduan jelas tentang lost & found itu artinya sama saja tak kehilangan satu pun! Hanya saja saya melihat tidak adanya sumber daya (manusia) yang cukup di bandara itu untuk keperluan lost & found, airport handling yang tidak tertib dari agen perjalanan. Pak Ustadz dan suami akhirnya setuju untuk setiap hari ke bandara untuk mengecek keberadaan koper itu.

Meskipun telah mengikhlaskan, selama perjalanan menuju hotel, pikiran saya tetap saja bercabang. Untuk dua belas hari ke depan, saya harus membeli beberapa pakaian dan keperluan penting lainnya. Selain itu, berbelanja hanya bisa dilakukan di waktu kosong padahal jadwal acara lumayan padat. Ya Allah, saya tak tahu tempat toko yang menjual barang-barang yang saya perlukan, sebagai perempuan apakah saya aman berbelanja mengingat begitu banyaknya batasan untuk seorang perempuan di Arab.

Ada rasa cemas yang merambat ke seluruh tubuh, bersamaan dengan suara hati yang terus mengingatkan kedalaman surat Al Ikhlas, bukankah Allah SWT menjadi tempat pertama kita menyandarkan segala sesuatu, susah atau senang, sempit maupun lapang? Sepertinya saya masih harus banyak belajar…

Meskipun dari jauh, bus yang kami tumpangi sengaja berjalan perlahan ketika melewati Masjid Nabawi yang terang dipenuhi cahaya seakan-akan memberi kesempatan kepada kami untuk mengagumi. Saya tertegun melihatnya, masjid indah yang hanya bisa saya lihat dari internet, juga dari foto saudara atau kawan yang ke Tanah Suci, kini ada di depan mata saya sendiri. Ya Allah… saya hanya bisa diam, tergugu dengan mata basah penuh airmata.

Hari itu, meskipun berselang belasan abad jauhnya, saya hanya berjarak ratusan meter dari kubur Nabi, Keluarga dan sahabat-sahabatnya. Saya mendapat anugerah tak terhingga dari Allah SWT bisa sampai ke tanah yang berabad dulu juga pernah dijejak Rasulullah, udara yang berabad dulu juga pernah dihirupnya. Saya tahu, seperti Muslim yang lain juga, hati saya jatuh menjangkar kuat di Madinah. 

WelcomeNote1
Welcome Note

Bersambung…