Menjejak Jordan, Mengintip Cave of Seven Sleepers


Lamat-lamat dalam hati saya mendaraskan doa dalam penerbangan menuju Amman yang baru saja meninggalkan bandara internasional King Abdul Azis, Jeddah. Tidak lain kecuali harapan bisa kembali lagi ke Tanah Suci. Sebuah rasa yang sejak dulu saya selalu skeptis kini benar-benar menguasai hati. Dulu, saya tak pernah mengerti mengapa orang berkali-kali mengerjakan umroh dan berhaji, bukankah ibadah itu cukup sekali saja? Kini, setelah mengalami sendiri, saya paham bahwa rasa ingin berada di Tanah Suci itu yang begitu intim, begitu personal, begitu menyenangkan, semua itu seperti minum di saat dahaga dengan damai memenuhi jiwa. 

Kesadaran berada di pesawat yang sedang mengangkasa, melahirkam setitik rasa tak rela meninggalkan bumi tempat Tanah Suci berada. Saya menarik nafas panjang, tanpa membuka mata pun saya memahami diri ini dihadapkan langsung oleh hukum kefanaan. Tidak pernah ada yang abadi, sebuah awal senantiasa memiliki akhir, sebuah perjumpaan senantiasa berujung pada perpisahan. Dan ini saatnya…

Bersamaan dengan rasa yang keluar, jauh di sudut jiwa, serangkaian kata bijak dari Jalaluddin Rumi terasa mendenting-denting di benak seakan mengingatkan. Bukankah perpisahan hanya untuk orang-orang yang mencintai dengan matanya? Bukankah untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak akan pernah ada kata perpisahan? Sekali lagi saya menarik nafas panjang, melepas dengan ikhlas, menyambut rasa yang memberi semangat baru.

Setelah dua jam penerbangan Saudi Arabian Airlines dengan pesawat A320 itu akhirnya bandara megah Internasional Queen Alia, kota Amman, Jordan menyambut kami semua. Sebagai bandara terbesar di Jordan, kemegahannya langsung terasa apalagi tak banyak orang berlalu lalang. Entahlah, bisa jadi kelengangannya lebih terasa karena saya baru datang dari Jeddah yang kerap didatangi manusia dari berbagai negara. 

Belum cukup lama mengagumi bandara megah kota Amman, kami sudah diarahkan segera keluar bangunan indah ini. Yah, seperti umumnya perjalanan yang diatur oleh sebuah agen, tidak ada istilah santai selepas imigrasi Jordan. Bersamaan dengan koper-koper yang dimasukkan ke dalam bagasi, kami pun segera menaiki bus untuk kemudian bergerak menuju tempat-tempat wisata di Jordan. 

Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Dari balik jendela bus, saya mengamati pemandangan gurun yang kering kecoklatan menghias perjalanan, yang sesekali disela oleh suara pemandu wisata. Kami memang menuju Gua Ashabul Kahfi yang terletak di Abu Alanda, dekat kawasan Raqim, sekitar 30 menit berkendara dari bandara. Konon, di sana merupakan tempat yang melatari kisah yang tertulis dalam kitab suci Al Quran. Kisah tentang Ashabul Kahfi atau dikenal juga The Seven Sleepers

Kawasan Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Meski masih diperdebatkan keakuratannya, gua Ashabul Kahfi atau tertulis di gerbang dengan nama Cave of Seven Sleepers yang berlokasi di Jordan ini tetap berhasil membuat saya kagum. Gerbangnya sendiri melengkung cantik, menandakan adanya campur tangan dari dunia modern. Saya tersenyum dalam hati, Jordan tidak sendirian mengklaim memiliki gua Ashabul Kahfi karena Turki pun melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari satu tempat (Ephesus, Afsin dan Tarsus). Bagaimanapun, saya sebagai pencinta segala sesuatu yang berbau sejarah kuno, bisa merasakan Ashabul Kahfi di Jordan ini begitu menguarkan rasa ancient. Rasanya hidung saya otomatis bergerak-gerak membaui batu-batunya, temboknya, suasananya, lalu membiarkan imajinasi menari lincah membayangkan tempat yang seakan terperangkap dalam waktu itu. 

Otomatis saya teringat perjalanan ke Lumbini, Nepal beberapa tahun lalu (baca tulisan saya tentang Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini). Lumbini yang dipercaya sebagai tempat lahir Sang Buddha lebih dari dua millenium lalu, memiliki situasi struktur bebatuan serupa dengan yang terhampar di Ashabul Kahfi ini. Rasanya tak jauh beda. Tanpa perlu mengetahui secara ilmiah, dari rupa bebatuannya saja sudah terasa goresan sejarah besar kehidupan berabad-abad lalu di tempat saya berpijak.  

Di depan mata terhampar kawasan selayaknya sebuah situs purbakala yang sedang diekskavasi, dengan jalan setapak yang lebarnya hanya bisa dilalui oleh manusia. Bisa jadi dulu tanah ini juga dijejaki oleh tentara Romawi yang mencari ketujuh pemuda yang menolak perintah Raja itu. Ada yang masih ingat kisah Ashabul Kahfi ini? 

Gate of Ashabul Kahfi area

Tertulis dalam kitab suci, Ashabul Kahfi atau Tujuh Pemuda Yang Tertidur merupakan kisah manis tentang kekuatan iman dari tujuh pemuda penganut agama samawi yang konon terjadi beberapa abad sebelum kedatangan Nabi Isa ‘Alaihissalam

Kala itu, penguasa (ada yang menyebutnya Raja Decius dan juga Gubernur Daqyanus) dikenal sebagai orang-orang yang dzalim dan penyembah berhala. Dengan kekuasaannya, mereka bisa memaksa siapapun dan dengan cara apapun untuk menanggalkan iman akan Dia Yang Maha Esa untuk kembali menyembah berhala. Tak heran, kemarahan penguasa langsung saja  berkobar ketika mengetahui ada tujuh pemuda yang menolak perintahnya, meski salah satu diantara tujuh orang itu adalah kerabatnya.. Akibatnya tidak tanggung-tanggung, hukuman mati atas ketujuh pemuda itu menanti apabila dalam waktu dua hari mereka tidak mau mengubah keyakinannya. 

>Ketujuh pemuda itu tetap menolak dan memutuskan melarikan diri dan bersembunyi dalam sebuah gua di kawasan pegunungan. Seperti juga kisahnya, nama ketujuh pemuda itupun senantiasa diperdebatkan, termasuk apakah ada anjing yang konon bernama Qithmir dan bertugas menjaga pintu gua. Apapun itu, nyatanya ketujuh pemuda terselamatkan dari hukuman yang keji itu. Dia, Pemilik Semesta ini menunjukkan kuasaNya dengan membuat mereka tertidur selama 300 tahun Masehi atau 309 tahun Hijriah. 

Terbangun karena rasa lapar, ketujuh pemuda ini menyangka terlelap hanya sehari. Namun, ketika salah satu pemuda itu pergi ke kota untuk mencari makanan, alangkah terkejutnya dia karena kota sudah sangat berbeda. Selain itu, uang peraknya sudah tidak berlaku untuk membayar. Serta merta seisi kota gempar mendengar ceritanya karena dia adalah salah satu dari tujuh pemuda yang telah menghilang selama tiga abad. Penduduk kota ingat betul akan kisah turun temurun tentang tujuh pemuda yang menghilang karena tidak ikhlas menjual agama kepada penguasa dzalim penyembah berhala. Dan hari itu, salah satu dari ketujuh pemuda itu berdiri di antara mereka.

Sontak saja, berita kembalinya ketujuh pemuda itu tersiar seantero negeri. Raja yang berkuasa saat itu dan penduduk negeri menyambut mereka dengan meriah dan meminta mereka tinggal di kota. Namun mereka menolak dan tetap memilih kembali ke gua. Konon, sesampainya di gua, mereka bersujud dan memohon agar Pemilik Segala Kuasa bisa menurunkan rahmatNya dan mengizinkan mereka meninggalkan dunia fana. Tak ada yang mustahil bagi Pemilik Semesta. 

Tubuh mereka dikuburkan di dalam gua, yang bisa disaksikan adanya tujuh makam batu di dalam gua. Namun kini semua tulang yang tersisa ditempatkan di salah satu makam batu, yang di satu bagiannya diberi kaca tembus pandang, agar kita bisa melihat ke dalamnya.

-o- 

Tampak depan Gua Ashabul Kahfi, pintunya rendah & ceruk gaya Romawi, di bagian atas ada reruntuhan bekas mihrab masjid
Tempat tidur sekaligus makam batu dalam gua
Hiasan dinding di dalam gua
Showcase of artefacts in the cave.

Dengan berhias ceruk khas Romawi di dekat pintu gua yang rendah, udara lembab gua yang minim sirkulasi langsung menyergap hidung ketika saya melangkah memasukinya. Gua itu tak luas, tapi cukup untuk dihuni tujuh orang. Ada bagian depan gua dan di bagian belakangnya dengan level yang lebih rendah merupakan kubur batunya. Saya mengintip ke lubang kaca, serupa tulang masih terkumpul di dalam sana dan sebuah showcase tampak diletakkan di sana untuk menyimpan segala macam artefak pendukung kisah. Entahlah, bisa jadi hanya tiruan, mungkin juga asli… Rasanya semua isi kisah terasa jumpalitan di benak. Otak ilmiah yang bertumbuk dengan kisah reliji ini bermuara pada selarik pemahaman, bisa jadi sebidang tempat ini memang terlipat dalam waktu. Wallahualam bissawab. Kebenaran hanyalah milik Allah.

Saya tidak lama berada dalam gua karena ingin melihat bagian luar yang juga terlihat menarik. Selain kucing cantik berbulu lebat yang sedang berjemur, yang terhampar hanyalah bebatuan belaka. Namun bukan sekedar bebatuan tanpa kisah karena awalnya dulu di atas gua konon dibangun sebuah gereja kecil. Bisa jadi demikian karena ada perkembangan kependudukan di wilayah yang kini masuk ke negeri Jordan itu. Tetapi pada akhirnya, seperti umumnya perjalanan waktu di negeri-negeri Timur Tengah, gereja kecil tadi dikonversi menjadi masjid. Menariknya, mihrab masjid tepat tepat di atas pintu depan untuk masuk ke gua, yang tentunya menghadap kiblat.

Meninggalkan bebatuan kuno itu, saya melangkah menuju Masjid Al Kahfi, yang didirikan di kawasan yang sama yang letaknya lebih atas. Kompleks Masjid itu sangat megah dan sangat kontras dengan lingkungan kuno Gua Ashabul Kahfi. Seperti bumi dan langit, yang satu menunjukkan modernitas, lainnya merujuk pada kekuatan alam. 

Setelah mendirikan shalat di Masjid itu, kami melangkah keluar menikmati sesaat waktu bebas untuk mengabadikan tempat bersejarah sekaligus tempat ibadah yang tak kalah indah. Sayangnya, lagi-lagi tak bisa lama, karena bus telah menunggu kami menuju persinggahan berikutnya…

Tempat terendah di muka bumi.

Masjid di atas kawasan Ashabul Kahfi
Pemandangan dari arah Masjid ke lembah

Jeddah Sekejap Mata


Karena tak pernah menggunakan jasa agen dalam melakukan perjalanan, saya telah berjanji pada diri sendiri untuk ‘patuh’ pada itinerary yang dibuat agen perjalanan ketika berangkat Umroh meskipun pada akhirnya saya sering sekali geleng-geleng kepala dalam perjalanan itu. Takjub, dalam arti yang bukan positif. Bagaimanapun, karena ini adalah perjalanan ibadah, -perjalanan ke relung-relung hati antara manusia dan Tuhannya-, saya menerima semua peristiwa yang terjadi sebagai sesuatu yang memperkaya jiwa.

Semua yang terjadi patut disyukuri, meskipun tidak selalu menggembirakan hati. Karena kenyataan yang paling mendasar bagi saya, perjalanan ini sendiri merupakan sebuah kemewahan yang tak terperi, rejeki yang luar biasa dan semua yang tidak sesuai dengan harapan, tidak mengubah nilai kemewahan dan keluarbiasaan perjalanan ini. Bahkan hal-hal yang tak menggembirakan hati itu pun tak ada artinya sama sekali.

Waktu memang berpacu, hari-hari ibadah di Madinah sudah berlalu dan kini, tak lama lagi kami pun harus mengucap selamat berpisah kepada Mekkah, tempat kami berhari-hari bermuhasabah. Siang atau malam, di kota yang di dalamnya terdapat Ka’bah dengan aliran manusia yang tak pernah berhenti bermunajat kepada Allah, Pemilik Semesta.

Datang juga saatnya. Roda bus bergerak perlahan, seakan mengetahui betapa berat hati kami menjauh dari kawasan Masjidil Haram. Tapi sebagaimana tertulis dalam begitu banyak kitab kebajikan, setiap pertemuan memiliki perpisahan, setiap awal berujung pada akhir. Demikian juga perjalanan indah di Mekkah ini. Kawasan yang begitu bercahaya dan berpatokan pada jam di menara tertingginya, terlihat makin menjauh. Di pagi yang belum datang dan masih berselimut gelap, bus kami telah menyusuri aspal, perlahan meninggalkan kota Mekkah dan membuat mata basah. Kota kecintaan ini akan membuat berjuta rindu, penuh harap akan kesempatan-kesempatan untuk kembali lagi mengunjungi kota yang ada di hati setiap Muslim ini.

Sungguh rasanya tak ingin menengok ke belakang karena cahaya kota Mekkah makin memudar…

Menit-menit berlalu dalam sepi, sesekali terdengar bisik antara anggota rombongan, seakan tak mau mengganggu ketenangan mereka yang kembali terlelap di dalam bus. Saya tak mampu memejamkan mata kembali. Rasa galau berpisah dengan Mekkah itu masih terasa, apalagi di saat yang sama bus ini menuju Jeddah. Sebuah wajah otomatis menyeruak keluar dari dalam jiwa. Jeddah adalah tempat almarhum Papa berpuluh tahun lalu berlabuh, mengantar mereka, -para calon haji-, meraih impian menjejak Tanah Suci untuk menunaikan kewajiban agamanya. Perjalanan yang ditempuh dengan begitu banyak kesulitan dan perjuangan, mengarungi samudera, melawan ombak ganas, -bukan hitungan jam atau hari-, melainkan berminggu-minggu. Menggenggam harap meski derita datang silih berganti.

Perjuangan mereka itu berbanding terbalik dengan apa yang dialami jaman sekarang. Dari Tanah Air tak sampai 12 jam terbang, jamaah bisa sampai di Tanah Suci, dengan segala anugerah makan dan minum yang enak, kendaraan yang nyaman dan semua kenikmatan lainnya. Bagi saya, apalah artinya koper yang hilang (baca di sini kisahnya) dibandingkan dengan segala derita dan perjuangan yang dialami calon Haji pada jaman Almarhum Papa membawanya? Ada rasa syukur yang begitu berlimpah, namun juga bercampur dengan kerinduan yang amat dalam kepada beliau yang telah berpulang setahun yang lalu. Secara otomatis lamat-lamat saya membaca Al Fatihah dan serumpun doa untuk beliau yang tercinta.

Sebuah Bangunan di Jeddah

Tak perlu waktu lama, pijar lampu makin menerangi jalan raya menandai wilayah kota Jeddah telah dimasuki. Bangunan makin padat dan makin terasa internasional. Berbeda dengan Mekkah, Jeddah memang dapat dimasuki oleh semua orang dari berbagai agama, berbagai komunitas.

Masjid Juffali

Subuh masih merayap dalam senyap ketika bus terasa melambat. Ternyata bus meliukkan raga besinya itu ke halaman sebuah Masjid agar kami bisa menunaikan ibadah shalat Subuh. Dari atas bus sudah terlihat Masjid begitu cantik dengan cahayanya, teramat kontras dengan warna Subuh yang masih gelap. Berada di seberang Kantor Urusan Luar Negeri yang terpisah oleh jalan raya, tempat ibadah umat Islam ini rupanya dibangun tahun 1986 oleh seorang saudagar Arab yang amat kaya bernama Syeikh Ibrahim Al Juffali. Tak heran, dengan sentuhan tangan Abdul Wahid al-Wakil, seorang arsitek terkenal berkebangsaan Mesir, masjid ini terlihat menawan dengan 26 kubah kecil-kecil dengan satu menara tinggi di sudut Timur.

Masjid Qisas
Di dalam masjid Qisas ( tempat perempuan)

Namun di balik segala keindahan yang memanjakan mata itu, Masjid itu berselimut peristiwa-peristiwa getir dan muram yang terjadi sejak dulu (dan rupanya hingga kini). Di sebuah pelataran di halaman Masjid ternyata merupakan tempat berlangsungnya hukuman pancung terpidana yang dilakukan oleh seorang algojo. Terdengar begitu menyeramkan dan barbar, namun memang itulah yang terjadi di Masjid Juffali atau bagi Jamaah Indonesia lebih terkenal dengan nama Masjid Qisas.

Qisas sendiri memang merujuk pada istilah dalam hukum Islam yang artinya pembalasan. Dengan kata lain, memberikan hukuman setimpal. Mungkin lebih sering kita mendengar istilah mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa. Begitulah, apabila seseorang terlibat dalam kasus pembunuhan, maka dalam aturan Qisas, keluarga korban memiliki hak untuk meminta hukuman mati kepada pelaku dengan cara dipancung di depan umum dan di bumi Arab ini dilaksanakan seusai shalat Jumat, di pelataran tadi yang berukuran 5 x 5 meter berlantai keramik.

Jangan tanyakan prosesnya karena saya tak pernah (dan takkan mau) menyaksikannya. Konon saat pelaksanaannya, sang Algojo akan berdiri dengan jarak tiga langkah dari terpidana. Keluarga korban ada di bagian depan. Ketika tiba waktunya, Algojo mulai melangkah, langkah pertama, kedua dan ketiga. Jika tidak ada tanda, aba-aba atau pergerakan dari keluarga korban, maka Algojo akan menuntaskan pekerjaannya. Namun jika ada pergerakan berupa tangan atau mulut dari keluarga korban, maka Algojo segera menghentikan esksekusinya. Pergerakan, tanda atau aba-aba dari keluarga korban itulah yang menjadi symbol atau makna bahwa keluarga korban telah memaafkan terpidana.

Membayangkan saja sudah membuat perut terasa mulas, tetapi begitulah… Sengeri itu pelaksanaannya namun sesederhana itu pula pengampunannya.

Namun kelihatannya proses eksekusi ini dinilai ‘setengah hati’. Di satu sisi merupakan penerapan dari sebuah intepretasi hukum Islam dan di sisi lainnya adalah pertimbangan politik negeri itu. Karena tidak sedikit petugas intelijen Kerajaan Arab Saudi diterjunkan di antara massa yang menyaksikan peristiwa eksekusi itu sebagai pengawas untuk memastikan proses eksekusi itu tidak tersebar ke dunia luar. Hukumannya tidak main-main karena kebebasan adalah taruhannya. Seseorang bisa langsung dipenjara jika ketahuan membocorkan peristiwa itu ke dunia luar. Ngeri kan?

Setelah cukup waktu di Masjid Qisas, kami melanjutkan perjalanan menuju bandara internasional King Abdul Aziz. Tetapi sebelumnya bus berhenti sejenak di pinggir jalan agar Pak Ustadz bisa memberitahu secara sekilas. Rupanya kami berhenti di luar pagar dari tempat yang dipercaya sebagai makam dari perempuan pertama yaitu Siti Hawa.

Dari atas bus yang hanya berhenti beberapa detik, apalagi hari masih gelap serta pencahayaan yang temaram, saya hanya bisa melihat permukaan dinding yang panjang. Apakah itu dinding pembatas sebelum masuk ke kawasan makam atau bukan, saya sendiri tak bisa memastikan. Seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, saya hanya bisa menganggguk-angguk pada apa yang saya dengar dari Pak Ustad dan semampunya berdoa dalam hati.

Seperti yang diketahui semua orang, sebagai manusia perempuan pertama, Siti Hawa merupakan istri dari Nabi Adam AS. Saat musim haji, makam Siti Hawa ini merupakan salah satu destinasi yang ramai dikunjungi oleh para peziarah seluruh dunia. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang meragukan kebenaran tempat itu sebagai makam dari ibu seluruh manusia di dunia karena kurangnya bukti.

Mall of Arabia, JEDDAH
Jeddah International Airport

Roda bus bergerak kembali menyusuri jalan-jalan di kota Jeddah. Sebuah bangunan besar terlewati, hmmm… Mall of Arabia, mall yang terbesar di kawasan ini, terlihat sepi. Warna keemasan makin merona di ufuk Timur. Terasa ada denyut dalam hati yang membuat saya menarik napas panjang. Jauh di dalam lubuk hati, saya menggerakkan jemari dan melambaikan tangan ke arah pelabuhan yang telah mengukir jejak almarhum Papa berpuluh tahun silam.

Hati terasa menghangat membisikkan kata, “Saya telah sampai di Jeddah, Pa. Tapi maaf, tak bisa menjejak di pelabuhan, di tempat kapal Papa dulu bersandar. Tapi tidak apa-apa ya Pa, bukankah jejak-jejak kita di kota yang sama selalu bertaut dan menjadi kenangan selamanya?”

Satu tarikan nafas melepas ikhlas. Langit Timur terlihat makin terang, bandara internasional Jeddah di depan mata seakan membuka tangannya menyambut kedatangan kami untuk berhenti sejenak sebelum terbang meninggalkan negeri padang pasir ini. Tak lama lagi, dalam hitungan jam, bibir ini akan berucap, Sampai Jumpa lagi Tanah Suci…

Airport in the morning

Pilgrimage 2: Tempat Penuh Rindu


Mau Ibadah atau…

Perjalanan panjang berbelas jam (yang sudah saya tulis sebelumnya), sejak sebelum subuh di Jakarta hingga hampir tengah malam di Madinah cukup menguras tenaga hingga alarm badan pun berbunyi. Mau tak mau saya harus memilih beristirahat di hotel daripada membuatnya lebih buruk karena  perjalanan masih dua belas hari lagi.

Sambil mencoba lelap di pembaringan, pikiran melayang lagi ke koper yang ‘diambil’ kembali olehNya dan mencoba menemukan hikmah di baliknya. Sepertinya saya ditegur untuk urusan niat ke Tanah Suci. Tanpa sadar, demi kenyamanan perjalanan, saya meluangkan waktu jauh lebih banyak untuk urusan duniawi seperti sibuk membeli pakaian dan kerudung yang bisa dipadupadankan, mengatur ini itu dan seterusnya; daripada meluruskan niat ibadah dan memaknai tujuan perjalanan itu sendiri. Bukankah saya telah mengetahui bahwa tak pernah ada kebaikan untuk segala sesuatu yang berlebihan.

Saya ditegur keras, amat keras. Seakan diminta untuk berpikir tentang perjalanan sesungguhnya ke Tanah Suci, tentang orang yang berhaji ataupun saat seorang manusia meninggal dunia, berapa banyak pakaian yang dipakainya untuk ibadah yang utama? Hanya beberapa helai kain tak berjahit!

Sedangkan saya membawa satu koper penuh, masih ditambah tas tangan. Saya ini mau wisata atau mau ibadah?!

Di pembaringan, benak saya penuh dengan bayangan orang-orang sederhana, juga orang-orang jaman dulu, yang hanya berbalut doa dan pengharapan penuh kepadaNya untuk bisa sampai ke Tanah Suci lalu bertahan melalui perjalanan berbulan-bulan penuh kesulitan tiada tara. Dihajar bayangan seperti itu saya seperti jatuh ke dalam lubang hitam raksasa…

∧∨∧∨∧∨∧∨

Dan sungguh saya berdiri di dalamnya…

Gelap malam masih menyelimuti kota Madinah ketika saya berdiri sejenak di depan hotel sebelum berjalan kaki menuju Masjid. Angin dingin Desember di Madinah terasa menusuk tulang membuat saya seakan tak bertulang ditambah beberapa jam sebelumnya dihajar oleh pemahaman makna kehilangan koper. Yang tersisa hanya rasa hampa, tak bisa lagi merasa memiliki sesuatu. Lagi-lagi seperti diingatkan, bukankah semua di dunia ini adalah pinjaman?

Sekitar dua ratus meter melangkah, gerbang Masjid tampak di depan mata. Saya terhenyak akan keindahannya. MasyaAllah… lampu-lampu penuh cahaya itu seakan bintang di langit gelap. Indah, luar biasa indah… Lagi-lagi saya digempur rasa kagum tak terhingga.

madinah1
Masjid An Nabawi, Madinah

Saya meneruskan langkah, Ya Nabi salam ‘alaika. Ya Rasul salam ‘alaika. Ya habib salam alaika salawatullah ‘alaika

Setelah sepakat untuk bertemu lagi di gerbang yang sama, saya melangkah menuju gerbang muslimah sementara sang belahan jiwa mencari tempat terbaiknya bersama ikhwan segrup.

Meskipun terbiasa jalan sendiri dalam banyak perjalanan, di Masjid Nabawi saya merasa sedikit gamang. Mungkin karena suasana kemuliaan yang melingkupinya sekaligus penjagaan yang tak terlihat oleh mata. Selain manusia, bukankah malaikat-malaikat penjaga juga ada di sana?

Di pintu Masjid, saya melepas sandal lalu memasukkannya ke tas tangan dan membiarkan seorang askar berpakaian hitam memeriksanya. Kemudian sambil berdoa saya melewati pintu itu dengan sejuta rasa yang muncul di dada. Masya Allah… Indahnya tak bisa terkatakan. Kalau saja saya tak terdorong oleh jamaah di belakang yang mendesak saya untuk maju, saya masih terpesona di dekat pintu. Saya melangkah sambil membiarkan rasa menggugah jiwa…

madinah2
Inside the Nabawi Mosque (Female Area)

Shaf-shaf depan di atas karpet untuk muslimah sudah penuh, sehingga saya mundur lagi mencari yang masih kosong. Alhamdulillah, ternyata tak sulit untuk mendapatkannya. Dan langsung saja, selagi masih ada waktu sebelum Subuh, shalat-shalat sunat didirikan. Berserah diri jiwa raga dalam kesendirian meski diantara manusia lainnya, membuka hubungan langsung yang amat personal kepadaNya, melangitkan pujian-pujian dan doa.

Baru saja selesai berdoa, terdengar azan yang terdengar amat indah. Rasanya berbeda mendengar azan di Masjid Nabawi ini. Mungkin saya mengada-ada, tetapi sungguh, rasanya mampu meluruhkan semua rasa. Dan saya mengingat kisah tentang Bilal, sang muazin pertama yang membuat mata sayaberkaca-kaca…

Setelah azan yang dilanjut doa, segera saja saya mendirikan shalat sunah sebelum Subuh, seperti juga jamaah lain. Setelahnya, saya duduk melanjut dzikir, tetapi shalat jamaah Subuh tak kunjung didirikan. Saya menunggu melanjutkan dzikir sambil melihat sekeliling.

Di sekeliling saya terlihat berbagai bangsa. Selain wajah Arab dan Indonesia yang mendominasi dalam kelompok-kelompok, terlihat juga wajah-wajah Uzbekistan yang berkulit putih,  Turki, Pakistan atau Bangladesh,  Malaysia. Sempat saya lihat juga wajah Tiongkok yang terlihat dari aksara dalam syalnya.

Melihat wajah-wajah itu, tak terasa dzikir saya bercampur dengan ungkapan syukur. Berbeda bangsa, berbeda warna kulit, berbeda bahasa, namun disatukan dalam ikatan persaudaraan yang sama. Tak ada senyum yang tak berbalas, tak ada salam yang tak berbalas. Di sini, di tempat yang amat mulia ini, semuanya sama. Begitu indah rasanya…

Lalu terdengar azan lagi. Azan, bukan Iqamah.

Saya bertanya-tanya dalam hati, mengira-ngira azan yang saya dengar dan azan yang sebelumnya. Dengan wajah yang masih diliputi keraguan, saya memandang ke kiri dan ke kanan. Dan tiba-tiba perempuan di sebelah saya berbagi kebaikan, -yang ternyata orang Indonesia yang mungkin bekerja atau bersekolah di Arab (sebab tak terlihat sebagai orang yang sedang umroh)-, menjelaskan bahwa di sini selalu ada dua kali azan Subuh. Yang pertama untuk mengingatkan umat untuk Shalat Malam dan yang berikutnya adalah untuk panggilan shalat Subuh. Setelah berterima kasih kepadanya, saya bergegas mendirikan shalat sunnah sebelum Subuh sekali lagi.

Lalu tak lama setelahnya, dalam balutan pakaian yang didominasi putih dan hitam, perempuan-perempuan yang berbeda-beda namun terikat satu persaudaraan itu serentak berdiri, bertujuan sama, memenuhi panggilan untuk shalat. Dan dada saya bergemuruh sangat hebat saat mendirikan shalat wajib pertama secara berjamaah di Masjid Nabawi.

Ya Allah… satu impian terbesar dalam hidup saya telah Engkau kabulkan.

Selesai shalat, ada panggilan lagi. Perempuan di sebelah saya seperti malaikat penolong yang melihat kebingungan saya. Tanpa diminta ia menjelaskan bahwa selalu ada shalat jenazah sehabis shalat fardhu sambil mengingatkan secara cepat tata caranya. Ya Allah, begitu banyak keajaiban di Masjid ini. Semua berbagi kebaikan tanpa diminta, mengalir begitu saja.

Ada rasa haru yang begitu mendesak kalbu saat membayangkan keberuntungan bagi yang meninggal dan dishalatkan di Madinah, dishalatkan oleh begitu banyak orang yang jiwa raganya sedang berfokus kepadaNya, di tempat yang begitu agung penuh keberkahan dan nantinya mereka akan dikubur di Baqi, tempat para keluarga dan sahabat Nabi serta para syuhada dimakamkan. Betapa mulianya mereka…

∧∨∧∨∧∨∧∨

madinah3
Daylight

Pemandangan tentang Cinta

Dan waktu-waktu wajib selanjutnya tak pernah berubah suasananya meskipun setiap waktu berbeda rasa. Desember merupakan bulan yang dingin, membuat shalat Dzuhur di tengah hari pun tak membuat gerah atau Ashar yang memiliki langit sore yang mempesonakan hingga datangnya waktu Maghrib. Semua waktu yang memiliki pesona tersendiri sementara alunan ayat suci senantiasa terdengar. Harum khasnya udara Masjid, semuanya… Suasana Masjid Nabawi inilah yang membuat saya selalu merindu.

Di tempat ini, seperti baru menikah, saya senantiasa berjalan bersama sang belahan jiwa dan berpisah di gerbang yang sama untuk saling menantikan jika telah selesai ibadah. Entah kenapa, rasanya ada romantisme tersendiri di tempat mulia ini.

Di Masjid ini pun, saya melihat begitu banyak kaum pria yang menunggu orang tercintanya, ibu, isteri atau saudara perempuannya di batas gerbang perempuan. Mereka dengan setia menunggu, berkali-kali menoleh, memanjangkan lehernya, memperhatikan dan berharap keluarnya yang tercinta yang berbalut baju dengan warna yang dominan sama, hitam atau putih. Tidak mudah, tetapi mereka tetap setia menunggu hingga bertemu.

Dan setelah berjumpa, mereka menjaga di sampingnya, mendorong kursi roda ibunya atau membantu menuntunnya, atau ada juga langsung meraih menggendong anaknya, tetapi semua menampilkan wajah yang serupa, sumringah, penuh senyum bahagia saat berjumpa dengan mereka yang tercinta. Rasanya tak ada rasa kecewa dan angkara, karena hati dan jiwa mereka semua menuju Yang Maha Kuasa, Yang Selalu Menjaga. Semuanya merupakan pemandangan yang mengharubirukan jiwa. Hanya ada di pintu keluar perempuan, sebuah pemandangan tentang cinta. Inikah Surga di dunia?

∧∨∧∨∧∨∧∨

Tempat terbaik untuk berbuat baik

Salah seorang anggota dalam grup kami sudah lanjut usia, mungkin tak begitu jauh bedanya dari usia Mama. Tak disangka, beliau pun mengalami apa yang dialami Mama. Jatuh di kala usia tak lagi muda sehingga tulang panggulnya retak. Saya memanggilnya Nini (nenek dalam bahasa Sunda) dan menceritakan kepadanya bahwa Mama saya dioperasi untuk mengganti bonggol tulang panggul dan berminggu-minggu beristirahat di tempat tidur untuk bisa kembali berjalan. Cerita tentang Mama, pemahaman akan sakit yang sama, menjadikan kami berdua menjadi dekat satu sama lain, meskipun anak dan mantunya juga ada disana tapi saya sama sekali tak merasa keberatan untuk berjalan bersamanya yang amat pelan melangkah. Saya percaya, semua peristiwa yang saya temui di Tanah Suci ini, bukan sembarang peristiwa, karena semuanya pasti akan menuju kebaikan.

madinah 5
Inside the Mosque (male area) – photo creditted to my hubby

Selagi menuntunnya di sebelah kanan dan menantunya di sebelah kiri, pikiran ini terbang ke Mama berharap, semoga dengan membantu menuntun Nini jalan perlahan di Madinah ini, selalu ada orang yang akan membantu Mama dimanapun ia berada. Saya tahu, setiap langkah yang dilakukan Nini dengan beratnya, itulah juga yang dialami Mama, menahan sakit dan nyeri setiap langkahnya akibat operasi dan osteoporosis pada tulang tua yang semakin menyerang dirinya. Duhai Engkau Yang Maha Mengetahui Semua Rahasia, meskipun secara fisik saya membantu Nini untuk berjalan, tetapi sungguh serasa saya berjalan bersama Mama. Ya Allah, ini luar biasa sekali rasanya.

Bahkan, saat kali pertama dalam antrian ke Raudhah -tempat yang paling mustajab untuk berdoa-, waktunya sungguh tidak tepat. Meski Nini berkeras mampu terjaga, tak dapat ia sembunyikan kelelahan di wajahnya untuk tetap bertahan hingga ke gilirannya yang mungkin lewat tengah malam. Saya mengusulkan untuk mencoba ke Raudhah lebih awal esok harinya. Meskipun artinya, kesempatan saya bisa berdoa di Raudhah akan semakin kecil karena malam itu saya akan mengantarkannya pulang. Tak mengapa, karena tak mungkin saya membiarkan Nini berjalan pulang hanya dengan menantunya. Itu jarak yang amat jauh dari gerbang terdekat Raudhah ke gerbang 15, di larut malam untuk seorang lanjut usia yang berkebutuhan khusus dan hanya ditemani seorang perempuan saja.

Dan satu diantara tiga malam di Masjid Nabawi itu, jelang shalat Isya, menantu Nini dan saya berlari kesana kemari untuk mencari sebuah kursi wakaf, -kursi yang digunakan oleh orang-orang yang menjalankan shalat sambil duduk-, agar Nini bisa shalat dengan nyaman. Tetapi sungguh, di sekitar kami telah habis semua. Menantu Nini sampai harus memohon dengan sangat kepada seseorang akhwat berbadan besar yang di sebelahnya ada kursi tapi tak digunakan. Tapi meskipun menantu Nini sudah memohon, akhwat berbadan besar itu tak memberikannya. Mengetahuinya, hati saya pecah berkeping, tetapi tak mungkin memaksa orang lain untuk bisa berbagi.

Saat itu, kami hanya bisa sampai di pelataran Masjid. Nini memaksa saya untuk segera shalat dan agak setengah hati saya melepas Nini menemukan caranya sendiri untuk bisa beribadah. Dan saya dibuat terkagum akan kekuatan dan keikhlasan Nini untuk tetap shalat sambil berdiri, meskipun harus menahan sakit dan menjaga keseimbangan karena tak mungkin beliau ruku’ dan sujud secara normal. Ketika saya tanya kepada Nini resep bisa selalu bertahan, sambil tersenyum beliau berkata, niatnya ibadah kepada Allah. Mendengarnya, saya merasa terjun bebas lagi ke lubang hitam karena masih belum mampu selalu meluruskan niat.

∧∨∧∨∧∨∧∨

Dan kulepaskan beban itu…

Berada di antara manusia-manusia, tetap saja ada yang membisikkan kata agar tetap menuntut koper yang hilang, yang bagi saya amat kontradiktif dengan suasana ibadah. Tetapi dasar saya masih manusia tempat muasalnya salah dan dosa, saya mendengar bisikan-bisikan itu. Ada rasa gemas yang muncul karena hari demi hari, tak ada kabar dari agen perjalanan tentang koper itu. Sang suami telah bolak balik bandara hanya untuk mendapat berita hampa. Dan biro perjalanan itu hanya berkata, kita coba lagi besok… Berbagai pertanyaan meragukan memenuhi benak, bagaimana mencobanya jika sudah harus meninggalkan Madinah menuju Mekkah sedangkan jika tidak dipaksa suami tak ada perwakilan dari biro perjalanan itu untuk ke Bandara? Dan bahkan saya masih belum memiliki pakaian putih yang disarankan Biro Perjalanan untuk umroh dan mereka tidak membahas kebutuhan ini meskipun tahu saya kehilangan koper. Ah, sepertinya setan pun masih mengipas-ngipasi semua yang bisa terbakar di hati manusia-manusia di Masjid yang suci ini.

madinah4
The Lamps

Terus menerus mendengarkan bisikan-bisikan halus yang menyulut itu membuat saya jengah dan ingin menutup telinga hati serta sementara menjauh dari grup. Lalu melangkah lebih awal ke Masjid sehingga memiliki keleluasaan waktu sebelum shalat wajib tiba. Sendiri, saya mendirikan shalat sunnah. Berupaya mendirikan dinding tinggi yang meniadakan suara-suara dari luar, mengajak jiwa dan raga seutuhnya, hanya memujiMu dalam setiap gerakan shalat yang didirikan, bertasbih beratus kali hanya kepadaMu, tak ada yang lain.

Segera setelah selesai, airmata saya tumpah tak berhenti di tempat ini, di Masjid Nabawi. Beban itu terlepas sudah, ada atau tiada koper itu saya tak lagi terpengaruh. Karena semua ini hanya pinjaman untuk hidup di dunia. Tergambar lagi di benak akan kesederhanaan dua lembar kain putih tak berjahit dan kesederhanaan rumah Nabi pada jamannya. Karena semua ini milikMu, semua hanya untukMu… Sesungguhnya saya tak memiliki apa-apa.

Dan saya selalu akan merindukan tempat ini, tempat saya meluruhkan semuanya di hadapanMu, melepas semua beban…

Bersambung…