Belajar Dari Tempat Simbol Perdamaian


Menapakkan kaki di tempat yang memiliki simbol perdamaian itu memiliki daya lenting yang baik. Banyak orang telah menjejakkan kakinya di tempat-tempat seperti itu, jauh lebih banyak dari pada saya yang hanya menjejak ke beberapa tempat. Tempat yang di atasnya didirikan bangunan atau tanda sebagai simbol perdamaian. Dan tentunya saat menjejakkan kaki di sana, saat itu, selalu mampu menggetarkan rasa yang luar biasa.

Seperti ketika berada di Hiroshima, Jepang, saat mengunjungi Peace Park, saat itu perasaan dibawa naik turun sedemikian rupa. Bagaimana mungkin saya tak tergugah saat membaca peristiwa kelam bagi kemanusiaan yang sangat menghancurkan hati yang pernah terjadi tepat di bawah kaki berpijak? Ratusan ribu atau jutaan nyawa hilang dalam sekejap dan berpuluh tahun berikutnya akibat dampak buruk yang ditimbulkannya.

Dan bagaimana mungkin rasa saya tak terkoyak ketika berada di monumen yang mengisahkan perjuangan seorang gadis kecil yang terpapar radiasi akibat bom atom yang dijatuhkan di kotanya? Bagaimana mungkin saya tidak teringat kepadanya setiap saya melipat origami burung kertas, sebuah cara si gadis kecil untuk tetap memiliki harapan hidup? Bagaimana mungkin saya tidak tertampar rasa saat menyaksikan api perdamaian yang terus menyala meskipun saat itu hujan turun dengan derasnya?

Dan di tempat lain, sedikit di luar kota Phnom Penh, Kamboja. Bagaimana mungkin saya tidak hancur rasa saat berkunjung ke Choeung Ek, Ladang Pembantaian manusia (The Killing Fields) yang terjadi selama Khmer Merah berkuasa di Kamboja? Begitu banyak pertanyaan tergambar di benak. Bagaimana mungkin orang bisa sekejam itu, membunuh karena berbeda ideoologi? Atau hanya karena ia berkacamata dan dianggap pandai? Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membantai manusia lainnya dan memperlakukan lebih buruk daripada hewan ternak? Bagaimana mungkin orang bisa membunuh seorang ibu dengan bayinya? Dan bagaimana mungkin seorang manusia bisa membunuh bayi-bayi dengan membenturkannya ke pohon?

IMG_2393
Cheoung Ek Monument, Phnom Penh, Cambodia

Memang saat saya berada di tempat-tempat itu, perasaan saya berkecamuk hebat. Begitu banyak pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” silih berganti muncul terus di kepala, meskipun peristiwa-peristiwa itu nyatanya sudah terjadi di masa lalu.

Tempat-tempat yang kelam dan dari sana kita bisa banyak belajar…

*

Di sisi yang berbeda, di tempat-tempat denting-denting kedamaian dibunyikan dan diingatkan kepada kita…

Seperti ketika berada di Nepal, melakukan perjalanan darat dari Pokhara hingga Lumbini, dengan mengunjungi tempat-tempat yang menjadi simbol perdamaian. World Peace Pagoda yang berada di atas bukit di pinggir kota Pokhara, menjadi landmark bagi siapapun yang ke Pokhara. Hampir semua turis menyempatkan waktu untuk berkunjung ke sana.

Juga saat berada di Lumbini, tempat kelahiran Sang Buddha, saya menyaksikan nyala api perdamaian di pintu masuk taman perdamaian, tempat yang menjadi saksi kelahiran Sang Buddha hampir tiga millenium lalu. Bahkan tak jauh dari sana terdapat papan yang bertuliskan ajaran Buddha yang penuh damai.

Juga saat berada di Vientiane, Laos, saya terkagum kepada gema perdamaian dunia dalam bentuk Gong yang disampaikan dari Indonesia untuk di tempatkan di dekat kolam yang segaris lurus dengan Patuxai, monumen negeri Laos yang menyerupai Arc de Triomphe di Paris.

*

Dua sisi yang berbeda, menggaungkan gema yang sama, kata yang sama, Perdamaian. 

Tak bisa dipungkiri bahwa damai di mulai dari diri sendiri, namun apakah kita semua mampu berteguh hati mengupayakan rasa damai laksana Mahatma Gandhi, pahlawan India yang memilih jalan anti kekerasan dalam perjuangannya? Kata-katanya amatlah jelas di sisi mana ia berdiri.

Peace is not the absence of conflict but the ability to cope with it – Gandhi

Tentu tak mudah, mungkin memang sangat tidak mudah, untuk diterapkan, apalagi kita, manusia-manusia yang hidup di peradaban sekarang dengan segala kenikmatan duniawi, terlalu sering, bahkan terbiasa untuk memenangkan ego dan tidak menahan diri terhadap batas kebutuhan orang lain. Ego kita senantiasa dimenangkan dalam banyak masa.

Ah, bisa jadi saya terlalu menggeneralisasi, tetapi jika kita mau menengok sejenak ke berbagai konflik yang terjadi belakangan ini di sekitar kita. Apapun alasannya yang menjadi pencetus, -yang paling sering adalah masalah suku, agama, ras dan antar-golongan-, belum lagi bicara ideologi, membuat kita semua, mau tidak mau, terjebak pada terbukanya konflik. Dari yang kecil hingga besar. Yang mungkin awalnya hanya sebuah noktah friksi mini yang tak berarti, namun seakan mendapat bahan bakar yang mampu meledakkan dan membesarkannya menjadi musibah dan bencana.

Mahatma Gandhi masih mengukirkan banyak kalimat bijaksana dalam perjuangannya yang anti kekerasan dalam memelihara kedamaian. Darinya sudah sewajarnya kita mengambil pembelajaran agar kita semakin berpikir,

I object to violence because when it appears to do good, the good is only temporary; the evil it does is permanent

Bukankah para leluhur telah memperkenalkan kata itu, agar kita selalu sadar dan waspada. Eling. Karena sisi buruk itu selalu mahir menggoda, merayu dan menantang. Dan ia tak pernah berhenti. Membuat kita selalu berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan fragile, untuk jatuh ke kubangan kekerasan, kekejian, kejahatan, keburukan dan serupanya.

Bukankah ‘lebih benar’, ‘lebih baik’, ‘lebih suci’, ‘lebih modern’, ‘lebih kaya’, ‘lebih tinggi’, ‘lebih sukses’ dan serupanya, terselip rasa yang amat menggoda?

Teringat saya pada Rumi, penyair sufi yang sangat terkenal dan berlimpah kata-kata bijaksana, juga kepada seorang guru yang mengagumi Rumi. Mereka berbicara hal yang serupa, mengenai ego untuk memelihara damai.

When you step down in the path of ego, means you step up in the path of God

Ah, kalimatnya amat jelas, semoga saja kita bisa belajar.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-39 ini bertema Peace agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

WPC – A Wish For The World (Starting From Ourselves)


It’s only one month after President Obama’s visit to Hiroshima, Japan, my family had the chance to visit the ground zero where the atomic bomb was exploded 71 years ago. Before exiting the Hiroshima Peace Memorial Museum, we stood in front of a glass cabinet that contains Mr. Obama’s note and the paper cranes origami made by him.

Reading the note which is emphasized by the presence of the paper cranes as the symbol of peace, I felt it’s an encouragement to the visitors to have the same wish, – for peace of the world -, since we would see the wishes after walking through a long gallery which is full of miserable and heartbreaking pictures of nuclear bomb’s impacts.

But peace cannot be achieved by force, it can only be achieved by understanding. It starts in the human heart, from our own selves and then the children. Whether the heart is open or closed has implications for the world.

A Note from President Obama
Peace Symbol made by by Mr. B. Obama
Obama’s Visit to Hiroshima
Paper cranes origami made by me