WPC – Through The Windows of Holy Shrines


Pashupatinath is a famous and sacred Hindu temple complex which is located on the bank of Bagmati River, in the eastern part of Kathmandu, Nepal. As one of the UNESCO World Heritage Sites in Kathmandu Valley, Pashupatinath has numerous religious buildings.

On the eastern bank of the river, visitor can see several similar white shrines, most of them are devoted to Shiva. These buildings are made from stone and decorated with intricate carvings with Shiva lingam installed inside the shrine. From the end of the shrines, through the windows of the holy buildings, visitor can see these lingams in a straight line.

Pashupatinath lingam

Windows

Nepal: Pemandu, Warna Lain di Kuil Pashupatinath


“Be sure you put your feet in the right place, then stand firm” – Abraham Lincoln

Dalam sebuah perjalanan, bersamaan waktu ketika saya mendapatkan pembelajaran tentang Kematian Yang Membahagiakan di Kuil Pashupatinath, sejatinya saya perlu menebusnya berupa pemberian pembelajaran dalam bentuknya yang lain kepada seorang pemandu. Suatu kesempatan yang memiliki multi aspek pembelajaran yang begitu indah.

Tak jauh sebelum sampai di kuil Pashupatinath, saya bertemu dengan seorang pemuda. Jelas ia  menawarkan menjadi pemandu, namun dengan halus saya menolaknya. Walaupun tak mudah menyerah, ia tetap mendesak dan -ia memberi diskon untuk pelayanannya-, saya tetap menolaknya. Bukan apa-apa, saya hanya ingin menikmati mengikuti arah suara hati yang menuntun tanpa harus menuruti seseorang. Ia memahami dan pergi meninggalkan saya yang melangkah menuju wajah-wajah ilusif.

Hiasan berwajah di bagian atas rumah puja
Hiasan berwajah di bagian atas rumah puja

Tetapi kesendirian saya tak lama karena seorang pemuda seusia mahasiswa mendekati dengan senyumnya yang lebar. Tak perlu lama mengetahui bahwa dia seorang pemandu wisata di Kuil Pashupatinath. Saya menolaknya. Tetapi sama seperti yang sebelumnya, ia tak mudah menyerah dan terus menawarkan jasanya dengan lebih intens ditambah berbagai rayuan sambil menghadang langkah saya. Saya terhenyak, tapi masih tersenyum sambil menggelengkan kepala. Memberikannya toleransi, memohon pengertian.

Detik berjalan lambat, sang pemandu muda itu tetap diam menghalangi jalan hingga saya bergeser ke samping. Namun saat melangkah, secepat itu pula dia bergerak mengikuti langkah saya dan lagi-lagi menghalangi jalan di depan saya. Terpana akan tindakannya, mengakibatkan saya menatapnya langsung di matanya, mencari maksud tindakannya. Sungguh tak terlihat kejahatan, melainkan sebersit keangkuhan bercampur ketakpedulian khas kebeliaan usia yang kemudian diperkuat dengan kata-katanya sendiri.

“Anda tidak perlu membayar saya, Anda hanya perlu mendengarkan saya karena saya sangat mengetahui seluk beluk kuil ini dan saya suka bercerita tentang kuil ini”

Saya memicingkan mata tak percaya dengan apa yang saya dengar. Benarkah? Saya baru saja hendak menanggapi apa yang dia katakan itu, namun dia telah mengulang pernyataannya bahkan tak memberi ruang dan waktu bagi saya untuk membantunya atau sekedar mengingatkan akan risiko ucapannya. Dia benar-benar tak peduli dan sepertinya beranggapan saya telah ditaklukkan hingga mulai menggiring dalam jaring persepsinya sendiri. Dia yang terpenjara

Mereka yang terpenjara
Mereka yang terpenjara

Dan saya yang tak sekalipun setuju dengannya, tetap menjejak di  alam senyata-nyatanya sekaligus memutuskan untuk mengikutinya selama sesuai dengan minat saya sambil berharap semoga ia mendapat pembelajaran.

Bahkan ia tak menjelaskan apapun mengenai latar belakang deretan rumah puja yang cantik di bukit di atas Kuil Pashupatinath atau pun tak sukarela menjadi penerjemah dari para Sadhu. Ia hanya mengobrol sesaat dengan para Yogi itu dalam bahasa Nepal berharap saya bertanya kepada para Sadhu itu agar ada ada lembaran uang yang berpindah tangan.

Saya tak ingin mengikutinya menuju puncak bukit. Selain tak ada obyek menarik, saya tak suka mengeluarkan energi mendaki bukit saat tubuh sedang lelah. Tetapi akhirnya ia berhasil membuat saya mengikutinya ke puncak bukit karena saya ingin melihat keseluruhan Kuil Pashupatinath dari tempat yang tinggi.

Ternyata benar, hanya dengan sedikit pemandangan Kuil Pashupatinath, -karena tertutup pepohonan-, dan sebuah kandang berpagar untuk rusa totol seperti di Bogor, saya semakin merasa tak nyaman berada di puncak bukit yang sepi. Hanya beberapa menit saya berada di atas lalu melangkah turun kembali yang membuat wajahnya seperti menyesal karena tidak bisa berlama-lama di atas.

Kathmandu from Pashupatinath Hill
Kathmandu from Pashupatinath Hill

Perempuan memiliki intuisi lebih untuk bisa mendeteksi sesuatu yang berjalan tidak pada tempatnya. Demikian pula keberadaan pemuda itu. Dan saya masih memberi toleransi terhadap denting dari dalam kalbu sampai batasnya yang terakhir. Lagi-lagi ia berupaya untuk mendekat secara fisik kepada saya dan beruntungnya saya mendapat celah untuk mengalihkan pembicaraan.

Karena sedang berada di kuil tempat kremasi, pembicaraan mengarah pada hal-hal yang berbau spiritual dan dengan idealisme kemudaannya ia bercerita dengan penuh semangat bahwa ia tak percaya pada dewa-dewa Hindu yang jumlahnya ribuan itu, ia tak percaya pada agama. Ia lebih menitikberatkan pada pandangan untuk menikmati hidup saat sekarang. Menikmati kebebasan kemudaan. Waktu yang tak akan kembali lagi. Tak ingin menghakimi, saya membiarkan cerita itu mengalir tertelan waktu.

A Tree that has lost its leaves
A Tree that has lost its leaves

Waktu terus melangkah. Intuisi saya bekerja baik. Sesuatu berjalan tidak pada tempatnya. Sebagai perempuan independen yang datang sendiri ke kuil, ketika berjalan dekat dengan yang berlawanan jenis, secara otomatis kewaspadaan saya tingkatkan walau tetap percaya akan perlindungan Yang Kuasa. Diantara lisannya yang cenderung tak terkendali sesekali terucap nyata upaya pendekatannya sementara dia dibatasi keraguan oleh fisiknya. Terima kasih kepada Yang Membukakan Jalan karena perjalanan hidup telah membuat mampu melihat semua itu seperti membaca buku yang terbuka.

Sambil melangkah turun ke arah sungai, dia bertanya balik kepada saya apakah saya mempercayai Yang Kuasa Pemilik Semesta? Saya tidak ragu dalam menjawab tetapi sempat terpikir bahwa Dia Yang Penuh Cinta sedang memberi makna kepada saya. Oleh karenanya sambil melangkah, saya bercerita singkat tapi penuh rasa syukur bahwa saya termasuk orang yang senantiasa mendapat perlindungan dari orang-orang yang berniat buruk kepada saya. Ada tangan-tangan yang tak terlihat menjaga saya. Kadang dalam waktu singkat diperlihatkan karakter asli mereka yang berniat buruk, tak jarang keburukan menimpa kehidupannya. Sambil lalu tak serius saya katakan kepadanya bahwa malaikat penjaga saya sepertinya merupakan sosok pekerja keras yang penuh kekuatan. Dan setelah ucapan itu dari ekor mata saya terlihat si pemuda menghentikan langkah secara mendadak dan memperhatikan saya. Saya tak tahu kenapa.

Lalu dekat kuil kecil yang pada panelnya dihiasi Kamasutra, ia menceritakan beberapa posisi yang ada di panel sambil tertawa-tawa dengan nada yang mengarah tak senonoh. Saya mengabaikan apa yang terdengar di telinga. Saya lebih mengingat penjelasan seorang pemandu yang lebih bijak saat Meniti Jalan Cinta di Durbar Square Kathmandu

Perlu lewat tempat orang-orang yang telah makan asam garam kehidupan
Perlu lewat tempat orang-orang yang telah makan asam garam kehidupan

Sejak awal tak ada kesepakatan dengan pemuda itu dan saya pun tak merasa terikat dengannya hingga saya melanjutkan langkah ke kuil-kuil lain di situ. Sejenak saya bisa menikmati karena ia tak terlihat mengikuti saya, namun saat hendak melangkah mengikuti jalan keluar, si pemuda tadi entah dari mana muncul kembali bersama ranselnya. Tanpa ditanya, ia bercerita bahwa sesaat dia menghilang karena mengambil ransel yang dititipkan di salah satu kios. Saya mengangkat bahu sambil mengira-ngira kemana arah bicaranya.

Saya terus melangkah mengikuti jalan keluar menuju tempat parkir. Jalan ini bukan jalan keluar yang umum bagi warga lokal sepertinya. Sudah waktunya untuk memastikan. Saya berhenti dan menyatakan waktu berpisah sudah tiba karena saya akan melanjutkan perjalanan ke Bouddhanath.

Tapi secepat kilat, tanpa tedeng aling-aling ia mengatakan, karena rumahnya dekat dengan Bouddhanath, ia bisa mengantar dan memandu kunjungan saya di Bouddhanath. Dan tidak selesai sampai di situ. Dengan nada penuh rayuan ia melanjutkan,

“…Setelah Bouddhanath kita minum bersama dalam happy hours…”

<Plaaak… Tangan saya melayang ke wajahnya. Kurang ajar!>

Walaupun adegan menampar itu hanya khayalan saya saja, kegeraman saya tak terhindarkan. That’s it. Saya tak nyaman bahkan terganggu dengan nada dan lisannya. Tak ada sedikitpun nada kesopanan.

Waktunya menarik garis batas. A moment of truth.

A symbol of truth
A symbol of truth

Saya menolak dengan tegas termasuk menolak dirinya menumpang di taksi yang telah saya sewa seharian sambil mengucapkan terima kasih kepadanya selama di Kuil Pashupatinath itu lalu melangkah pergi meninggalkannya.

Sesaat berlalu, sepertinya ia tersadar belum dapat jasa pemanduan lalu mencoba mengejar dan berhenti di depan saya. Mencoba meminta apa yang dia pikir menjadi haknya. Saya menggelengkan kepala, tidak mau mengeluarkan lembaran uang sepeserpun. Dia mengubah ekspresi wajahnya sebagai orang yang menderita, kali ini ada nada memohon (sejak tadi kemana?). Saya tetap menggelengkan kepala. Dia mengubah caranya lagi. Dia mengatakan bukankah dia telah banyak bercerita di Kuil Pashupatinath ini…

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, saya memotongnya dengan tegas dan tak memberinya ruang, menatap matanya langsung. Bukankah sejak awal dia sendiri yang mengatakan, bahwa saya tidak perlu membayarnya, saya diminta untuk mendengarkannya saja karena dia sangat mengetahui seluk beluk kuil dan dia suka bercerita tentang kuil ini. Saya mengulanginya dengan perlahan, saya hanya diminta mendengarkan dan telah saya lakukan. Saya mendengarkan ceritanya tanpa perlu membayar! Karena itu sesuai perkataannya sendiri.

Dia terpana.

Saya menatap tajam kearah matanya, membiarkan dia menyaksikan ketegasan dan keseriusan yang ada dalam lisan. Satu kali menelan obat pahit, selamanya akan menjadi anti-body.

Kemudian saya melangkah pergi meninggalkan dia dan Kuil Pashupatinath yang indah dengan semilir angin jelang malam. Si pemandu tak pernah tahu jatahnya bicara telah tersalurkan di kotak yang disediakan untuk para lanjut usia di saat dia mengambil ransel.

Nepal: Kematian Yang Membahagiakan di Pashupatinath


Pashupatinath, salah satu UNESCO World Heritage Site yang terletak di pinggir sungai Bagmati di Kathmandu, merupakan kawasan ketiga yang saya datangi hari itu. Sesuai dengan rekomendasi waktu terbaik untuk berkunjung ke kuil itu, ketika matahari sudah condong ke arah peraduannya, jelang sore hari hingga sinar tak lagi terasa terik.

Dengan tiket seharga 500 NPR, kaki membawa tubuh ini memasuki kawasan Kuil Pashupatinath yang luas dan langsung disambut dengan auranya yang kelam dan sendu. Tak heran, karena kuil ini merupakan salah satu kuil Dewa Siwa yang terbesar di Kathmandu sekaligus tempat suci untuk melakukan kremasi, ritual terakhir bagi manusia yang telah meninggal dunia.

Sunset at Pashupatinath
Sunset at Pashupatinath

Dan walau kematian selumrah kelahiran, tetap saja ada rasa sendu yang tak nyaman untuk disaksikan sendirian saat terang sedang berubah perlahan menjadi temaram. Saya terus melangkah, membiarkan hati tetap membuka untuk mendapatkan sejatinya makna karena apa yang dirasa pertama bukanlah yang sesungguhnya.

Terasa angin yang datang dari pepohonan menerpa wajah dengan lembut. Dengan ekor mata terlihat pula pucuk-pucuk pohon bergoyang manis mengikuti irama angin. Seandainya kuil ini bukan tempat suci untuk kremasi, mungkin rasanya akan berbeda, mungkin saya akan suka desir lembut angin yang datang, juga pucuk-pucuk pohon yang bergoyang. Tetapi kali ini terasa berbeda, sepertinya roh-roh sedang mengajak bermain, kadang sembunyi di balik pohon, kadang meniupkan rasa dingin ke balik tengkuk. Tetapi ah, apapun yang dirasa, saya tetap harus melangkah mengikuti jalan setapak yang berujung pada sungai suci Bagmati tempat lokasi kuil Pashupatinath.

Bagmati River
Bagmati River

Dari kejauhan terlihat asap membumbung menandakan sebuah ritual kremasi tengah berlangsung. Saya mengingat janji pada diri sendiri untuk tidak menggunakan zoom terhadap proses kremasi, untuk tidak mengambil foto tubuh yang dikremasikan ataupun keluarga yang kehilangan. Karena semua prosesi itu merupakan bagian dari ibadah yang sangat pribadi dan harus dihargai setinggi-tingginya.

Sungai semakin dekat dan saya mulai menyusurinya, perlahan mendekat ke pinggir sungai yang sedang tak banyak air. Tak jauh dari tempat saya berdiri, terlihat seekor sapi berwarna coklat yang tengah berjalan santai. Ketakpeduliannya mampu membuat saya tersenyum. Tidak ada orang yang berani mengganggu makhluk yang dianggap suci itu, apalagi di dalam kawasan Kuil Pashupatinath yang nota bene merupakan Kuil Sang Mahadewa. Di benak langsung terbayang semua kuil yang didedikasikan kepada Dewa Siwa biasanya terdapat lembu Nandi, sang bhakta yang setia.

Tak terasa langkah kaki telah menyusuri sungai hingga berada di seberang kuil. Sebuah jembatan batu tampak kokoh menghubungi kedua sisi kuil. Dan di ujung kuil di bagian bawah tebing tinggallah para sadhu, orang suci yang mendedikasikan hidupnya dengan bermeditasi, memperkaya kehidupan spiritualnya dan meninggalkan keduniawian untuk mencapai keadaan moksha, kesempurnaan.

Berhadapan langsung dengan bangunan utama kuil, terlihat tempat kremasi yang dibagi berdasarkan kelas sosialnya. Ada tempat khusus untuk para kalangan atas yang rapi berlantai warna terang dan tentu saja ada tempat untuk rakyat jelata yang terlihat standar berwarna kelam. Saat itu terlihat dua asap mengepul di bagian rakyat jelata. Tidak ada keramaian, tak banyak orang, mungkin hanya beberapa keluarga terdekat saja, itu pun kurang dari hitungan jari dalam satu tangan. Saya teringat ketika menyaksikan ngaben sederhana di pantai Kuta, Bali. Semua syarat utama dalam ritus telah dilaksanakan walau sederhana, tak berlebih. Lalu apa yang kurang? Bukankah berlaku sederhana itu memperkaya jiwa?

Menyaksikan kremasi dari seberang, berbagai rasa melesat dari kepala. Tak ada keriuhan tangis melepas raga yang telah selesai bertugas, sementara sang jiwa kembali bebas dengan sejuta amalnya. Kematian telah membebaskan dari suka duka dunia, membukakan gerbang bahagia bagi sang jiwa, lalu mengapa manusia kerap menahannya? Bukankah sang jiwa akan bahagia kembali kepada Yang Maha Kuasa yang penuh Cinta? Saya merenung, mendapat pembelajaran dari rasa dan mata yang menyaksikan.

Seusai pembelajaran hidup dari menyaksikan ritual kremasi dari seberang sungai, saya beralih menaiki tangga kearah bukit. Di sana terdapat rumah-rumah puja yang dibangun sejajar mengikuti garis lurus. Di dalam semua rumah puja yang berjendela lengkung di tiap dindingnya itu, berisikan lingga-yoni yang merupakan lambang Dewa Siwa. Dan di atas linggayoni itu senantiasa diletakkan bunga segar. Pemandangan rumah puja dengan linggayoni yang berjajar dengan bunga diatasnya itu ditambah dengan pantulan sinar matahari sore yang menerobos masuk melalui jendela lengkung, membuat suasana kompleks kuil Pashupatinath menjadi lebih indah, menghapus rasa sendu yang ada di dekat sungai.

Meninggalkan linggayoni, lagi-lagi kaki ini menapaki tangga menuju tempat para Sadhu di bagian atas bukit. Di hadapan mereka saya kehilangan kata-kata untuk bertanya kepada mereka bahkan juga untuk mengabadikannya. Rasanya tak pantas mengabadikan mereka, para yogi yang telah menempuh jalan spiritual yang tak mudah, bermeditasi dan meninggalkan keduniawian, dengan balasan lembaran-lembaran uang. Hati ini berkata jika ingin berdonasi, maka berdonasi saja, tanpa perlu meminta balas bisa mengabadikannya dalam foto. Akhirnya sambil meminta maaf karena tidak mengambil foto mereka, saya melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit.

Dari puncak bukit terhampar pemandangan indah seluruh kompleks kuil Pashupatinath di antara sinar matahari sore. Entah kenapa sinar matahari sore yang berwarna oranye itu memberi nuansa khusus pada  kuil. Ada rasa bahagia diantara rasa sendu. Sebagaimana kegembiraan terwakili oleh warna-warna terang, kesenduan tak pernah luput memberi makna yang dalam di tiap hidup.

Selain menyaksikan keindahan kompleks dari puncak bukit, sempat juga saya melihat kawanan kecil rusa totol seperti yang ada di Istana Bogor hidup berkelompok dalam sepetak tanah berpagar kawat. Lucu dan manisnya kawanan rusa totol itu mampu membuat wajah ini tersenyum.

Turun dari bukit, saya melanjutkan perjalanan ke Kuil Dewa Wisnu di kompleks itu. Beberapa lukisan hasil sapuan wanita Perancis yang menggambarkan kisah Radha-Krishna yang penuh cinta, mampu membuat rasa sendu di Kuil Pashupatinath semakin terangkat. Setelah mengabadikan Garuda dan juga Ganesha, Sang Dewa Pengetahuan, saya melanjutkan perjalanan kearah Kuil Utama di seberang sungai Bagmati.

Menyeberangi jembatan batu, kaki melangkah ke pelataran Kuil Utama.  Karena bukan Hindu, saya tidak diperbolehkan masuk ke Kuil Utama yang memang hanya digunakan untuk ibadah. Di sudut pelataran, tak jauh dari jembatan, terlihat sebuah bangunan kuil kecil yang sekeliling dindingnya dipenuhi panel-panel kayu tentang kamasutra.

Kerumunan orang terlihat lebih banyak di kuil ini, bisa jadi menjelaskan betapa lekatnya manusia pada hal-hal ilusif yang terlihat menyenangkan di dunia ini. Kamasutra di sebuah kuil ibadah? Di Nepal ini memang bukan merupakan hal yang luar biasa. Di Durbar Square Kathmandu saya menyaksikan kuil Jagannath yang berpanel Kamasutra dan kini, -dekat dengan tempat penyelenggaraan kremasi-, disini juga terdapat kuil yang berpanel Kamasutra. Bukankah proses kreasi itu umumnya berujung pada proses kelahiran yang pada waktunya juga akan berakhir?

Saya berjalan perlahan menuju kuil lainnya yang harus melewati sebuah tempat serupa panti jompo yang merawat sekumpulan ibu-ibu lanjut usia. Mereka yang telah ditempa pahit manisnya hidup, pasang surutnya ombak kehidupan, tidak memiliki keluarga yang cukup mampu untuk menjaganya, tampak duduk nyaman bersenda gurau bersama-sama di beranda menikmati sore. Sambil melempar senyum dan menghaturkan salam kepada mereka, saya meminta izin melalui gerakan badan untuk mengabadikan bangunan-bangunan indah itu. Ah, mereka hanya menunjuk kotak donasi sebagai jawaban dan saya memahaminya. Paling tidak sebuah kejujuran ada pada wajah mereka, untuk hidup senyata-nyatanya diperlukan uang yang cukup.

Selepas mengabadikan keindahan bangunan lainnya, pelan-pelan saya melangkah mengikuti jalan setapak untuk meninggalkan Kuil Pashupatinath. Saya menyempatkan diri untuk menoleh kembali menyaksikan proses kremasi yang masih berlangsung di tempat tadi. Mengingat sebuah pembelajaraan. Bagi mereka kematian merupakan gerbang bagi jiwa untuk memulai kehidupan baru, sebuah kelahiran baru atau bahkan sebuah kepulangan abadi berupa kemanunggalan sejati dengan Dia Pemilik Semesta. Sebuah kematian itu sesungguhnya membahagiakan.

Berada di Pashupatinath dan menyaksikan kematian, membuat saya mensyukuri setiap tarikan nafas yang tertinggal, begitu banyak anugerah yang telah dilimpahkan hingga saat ini dan kita tidak pernah mengetahui berapa banyak sisa waktu untuk berbuat kebaikan. Anjuran orang bijak untuk bersering datang pada tempat-tempat kematian memang benar, selain memberikan doa dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan, kematian akan mengingatkan mengenai makna hidup kita sendiri. Tua atau muda, laki-atau perempuan, kaya atau miskin, orang baik atau jahat, siap atau tidak, bukankah kita semua makhluk berjiwa yang sedang dalam antrian menuju kesana?