If Not Now, Then When?


Pertanyaan itu terjadi di tahun lalu, ketika di dalam hati sudah muncul niat yang semakin kuat untuk menjalankan ibadah Umroh. Sang Maha Pencipta telah bertahun-tahun mengetuk pintu hati saya, membangunkan jiwa saya karena Dia tak pernah lelah mengajak saya untuk melakukannya. Dan memang jika waktunya telah tiba, semua akan terjadi … if not now, then when?

Seperti yang dituliskan pada kisah Umroh di postingan Pilgrimage 1: Menuju Kota Cahaya, bisa dibilang perjalanan itu termasuk tiba-tiba. Hanya sekitar dua bulan sebelum keberangkatan, keputusan itu diambil. Meski jauh sebelumnya, tentu saja sudah ada keinginan menjalankan umroh yang bagi saya sifatnya ‘timbul tenggelam’

Ketika teman-teman saya hampir semua telah menjalankan ibadah Umroh dan bahkan telah berhaji bertahun-tahun lalu, saya sendiri lebih sering melanglang buana ke tempat-tempat lain. Sampai akhirnya memang datang waktunya untuk saya menghadapi sendiri panggilan itu.

Pratinjau(buka di tab baru)

Praktis, setelah kepergian Papa saya di bulan Desember 2018 lalu, saya seperti berhenti dalam waktu. Saya lebih banyak berdiam di rumah, tak berencana melakukan perjalanan seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan dalam tahun 2019 itu, saya hanya pergi ke Myanmar dan Singapura, bukan ke negeri-negeri baru yang belum pernah saya datangi, seperti yang biasa saya rencanakan.

Sejak tahun 2019 itu, muncul keinginan untuk melakukan perjalanan ke dalam diri, bukan ke tempat-tempat baru. Hanya ke dalam diri sendiri. Keinginan itu membuat saya lebih memilih di rumah, seakan-akan sebagian hati dan pikiran saya terikat di rumah. Membuat perjalanan di tahun itu, -meskipun tetap menyenangkan-, meninggalkan kesan lelah.

Akhirnya paruh kedua tahun 2019 itu, keinginan menjalankan ibadah Umroh itu semakin kuat. Saya mulai mencari biro-biro perjalanan Haji dan Umroh yang sesuai.

Selain mencarinya via internet yang hasilnya amat membingungkan, saya juga bertanya-tanya via keluarga, kerabat dan teman-teman yang sudah menjalankan ibadah umroh. Paling tidak mereka pasti bisa memberikan rekomendasi. Namun seorang teman secara jujur mengatakan, semua agen perjalanan itu sama saja. Pada akhirnya yang akan beribadah yang menetapkan penyesuaian itu.

Persis seperti melakukan perjalanan ke sebuah destinasi. Begitu banyak jalan yang dapat ditempuh yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Namun semuanya kembali kepada yang akan melakukan perjalanan itu sendiri. Artinya kembali ke saya lagi.

Jadilah, saya mencari jarum dalam tumpukan jerami. Benar, kata teman saya itu, akhirnya saya sendiri yang menentukan penyesuaian dengan kondisi dan situasi saya. Ada biro perjalanan yang diikuti oleh ratusan jemaah, ada yang sedikit, dengan harga yang murah sampai mahal. Semua itu mengerucut ketika saya memfilter ketersediaan paket di akhir bulan Desember sesuai rencana cuti suami dan saya. Rupanya di biro-biro terkenal paket perjalanan umroh akhir bulan Desember sudah penuh karena merupakan paket favorit. Dan karena saya hanya memiliki waktu di akhir bulan Desember, maka paket-paket yang tersedia tinggal sedikit.

Saya sudah menimbang-nimbang untuk memilih salah satu biro perjalanan ketika keinginan sedari kecil tiba-tiba muncul ke permukaan. Mengapa tidak sekalian ke Masjid Al Aqsho?

Selain ibadah ke Makkah dan Madinah, tidak keinginan yang begitu berdiam lama seperti keinginan saya melihat dan beribadah langsung di Masjid Al Aqsho!

Yang terjadi kemudian, keinginan itu meleburkan semua biro perjalanan yang tadinya sudah mengerucut. Saya mulai lagi dari awal. Apakah ada biro perjalanan Umroh plus Al Aqsho di akhir tahun dan masih tersedia kursi? Jawabannya hanya ada beberapa. Dan memang Dia Yang Maha Mengatur telah membukakan jalan bagi saya untuk mewujudkan keinginan yang sudah terpendam begitu lama.

Meskipun demikian, tetap saja saya masih ragu karena harganya relatif mahal. Hampir dua kali lipat dari harga perjalanan umroh biasa. Lalu saya berpikir kembali, apakah saya melakukan umroh saja tanpa Al Aqsho dan merencanakan perjalanan ke Al Aqsho di lain waktu? Lalu apakah saya masih diberikan kesempatan di lain waktu untuk ke Masjid Al Aqsho? Tetapi kapan lagi bisa melakukan perjalanan ibadah ke tiga masjid utama dalam satu kali perjalanan? Dan banyak lagi pertanyaan yang membuat maju mundur…

Saya membiarkan waktu berlalu…

Lalu saat itulah hati saya diketuk if not now, then when?

Diketuk begitu, saya seperti tersadarkan. Sambil menarik nafas panjang, menutup mata, saya memohon kepada Dia Yang Maha Pemilik Kehidupan. Telah datang waktunya untuk berserah diri semuanya kepadaNya. Jalan telah dihamparkan, mengapa harus ada keraguan?

Berapa harga yang bisa saya berikan untuk sebuah perjalanan batin yang pastinya akan indah?

Saat itulah, saya mengambil keputusan untuk berangkat dengan salah satu biro perjalanan untuk menjalankan ibadah umroh plus Aqsho.

If Not Now, Then When?

Kawasan Al Aqsho

Meskipun sampai sekarang saya belum menyelesaikan untuk menuliskan kisah-kisahnya, tetapi bagi saya, saat itu adalah sebuah keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Perjalanan itu dimulai di minggu ketiga bulan Desember 2019 hingga ke minggu pertama tahun 2020. Perjalanan batin yang begitu menggugah dari Masjid An Nabawi, Masjid Al Haram dan berakhir di Masjid Al Aqsho.

Siapa yang sangka bahwa tak lama setelahnya Kerajaan Arab Saudi menutup akses untuk ibadah Umroh karena merebaknya virus COVID-19 yng berkelanjutan dan menimbulkan sebuah pandemi, yang hingga tulisan ini dipublish, belum juga dibuka kembali? Seandainya saat itu saya membiarkan diri untuk terus menunda, pastinya perjalanan indah ketiga Masjid itu belumlah terwujud hingga kini.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-35 bertema Now agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

WPC – The Present of Today – My Birthday


Have A Wonderful Night
Have A Wonderful Night

Yesterday is history.

Tomorrow is a mystery.

Today is a gift

That is why it is called

The present.

*

For this week’s photo challenge, the Daily Post asked us to take a moment to notice our present and share a photo of it. A ‘Now’ photo. And it’s totally matched to me.

Well, I thanked God for the present, of today. Not yesterday, nor tomorrow. It’s today. Now.

It’s Christmas’ Eve and my birthday, too 🙂
(And please do not ask me to count the candles on the birthday cake anymore, since I stopped counting those candles, -and stop putting candles and sometimes no birthday cake anymore-, after my 17th birthday, long long ago)

As time flies through the seconds, minutes and hours of my birthday, I write on my journal. Time is moving forward, every second is a priceless present. That’s why we have to appreciate every moment, every second that God gives us. It’s not easy but it does not mean we cannot do it. At least we can try our best. We should make every day count, for we may never be able to experience it again. Today is not just the result of yesterday, it is the foundation for building the tomorrow that we really want.

Aaah, the guest relation officer of the hotel seems know about my birthday (perhaps from the check-in process) and tonight is Christmas’ Eve, that’s why she sends small cookies to my room, with a small beautiful note

Sun is upset and Moon is happy. Because Sun is missing you and Moon is gonna be with you for rest of the night – Have A Wonderful Night