Let It Go, Let It Flow


Dalam setiap perjalanan, biasanya saya memiliki tempat yang meninggalkan kesan yang amat membekas. Meskipun kadang, saya tidak pernah tahu apa yang membuat saya begitu terkesan.

Seperti halnya pada perjalanan saya ke Namche Bazaar dua tahun lalu (duh, sudah dua tahun ya? Rasanya baru kemarin menanjak kelelahan… ). Saat pergi, -menuju Namche Bazaar-, saya menyempatkan diri berhenti di tengah jembatan dan mengagumi suara air yang menimpa bebatuan. Suara airnya meresap sampai ke hati. Saat itu, saya merasa agak berat meninggalkan tempat itu. Belum puas rasanya, tetapi waktu bukan sahabat saya waktu itu. Dasar trekker abal-abal yang ‘sok tau setengah mati’, saya ini perlu waktu berkali-kali lipat dari trekker pada umumnya untuk mencapai Namche Bazaar. Kebanyakan berhenti yang saya gunakan untuk foto-foto (padahal lebih utamanya untuk mengambil nafas 😀 )

DSC01278
A Small Creek on the way to Namche Bazaar, Nepal

Nah kembali ke tempat tadi, akhirnya saya harus meninggalkannya demi tidak kemalaman sampai ke Namche Bazaar. Tapi saya mengingat tempat itu.

Perjalanan pendek ke Namche Bazaar tahun itu memang tanpa rencana, tanpa planning yang matang. Saat itu saya hanya begitu rindu Himalaya (sekali ke Himalaya, biasanya jadi kecanduan sih), sehingga ketika bisa mengambil cuti sebentar, tanpa pikir panjang saya langsung terbang ke Nepal.

Waktu saya memang terbatas sekali, sehingga saat sorenya mencapai Namche Bazaar, esok paginya saya harus turun kembali. Saya seperti seorang turis yang dibawa oleh tourleader, berhenti hanya untuk berfoto sejenak. Bahasa kerennya, pokoknya sudah sampai di situ. Praktis tidak ada kesan yang tertinggal dalam di tempat itu.

But the show must go on… Saya harus turun dan kembali ke Indonesia kan?

Di tengah jalan itu, saya berhenti lama di tengah jembatan hanya untuk menatap air, menikmati suara air. Gemerisiknya meninggalkan kesan begitu dalam.

Saya mungkin memang tidak memiliki kesan dalam di Namche Bazaar, tetapi saya memiliki kesan amat indah di sebuah tempat, di tengah jembatan tak jauh dari Namche. Di antara pepohonan yang rindang, suara airnya bagai musik di telinga,

Bisa jadi saya agak menyesal melakukan perjalanan ke Namche Bazaar ini yang dilakukan terburu-buru. Tetapi dengan menyaksikan air yang suaranya begitu menenteramkan, saya merasa bisa melepaskan penyesalan itu. Melihat airnya yang mengalir, saya terundang melepaskan semua masalah yang ada, sedikit sesal dan semua lelah yang dirasa. Saya melepaskannya dan membiarkannya pergi mengikuti alirannya. Yang kemudian saya rasakan adalah rasa terbebaskan…

(ah, tampaknya saya harus bongkar-bongkar lagi, karena rasanya saya pernah merekam suara air itu, mudah-mudahan saja tidak terhapus!)

Ada yang pernah punya pengalaman seperti saya?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-50 ini bertema All About Water agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…