Sejumput Malam di Makam Nabi Syu’aib


Sekembalinya dari Kawasan Wisata Laut Mati, -ceritanya bisa dibaca dalam tulisan Senja di Laut Mati, Terendah Di Muka Bumi sebelum ini-, tanpa perlu dikomando lagi seisi bus duduk dalam diam. Tak ada celoteh atau suara pemandu karena temaramnya lampu di dalam bus membuat kantuk menyerang. Apalagi jalan yang mulus tanpa kemacetan membuat perjalanan menjadi nyaman. Namun bisa jadi karena kami semua sudah lelah menjalani hari yang panjang sejak meninggalkan Jeddah pagi tadi lalu terbang ke Jordan, yang dilanjut dengan perjalanan ke Laut Mati dan kini yang dirindukan mungkin hanya pembaringan.

Demikian pula keadaan saya, dengan mata yang setengah mengantuk, kadang terbuka dan kadang terlelap, saya berusaha sebisanya mengikuti perjalanan. Rasanya sayang sekali jika terlelap di negeri yang baru pertama kali saya kunjungi.

Ketika melihat banyak lampu di luar jendela bus, saya berpikir sudah sampai di Amman. Ternyata dugaan saya salah. Saat itu kami masih sekitar tiga puluh menit lagi ke kota Amman. Saya hanya ingat bus berbelok lalu bergerak lagi untuk beberapa saat lalu akhirnya berhenti di sebuah tanjakan yang disusul dengan dinyalakannya sebagian lampu dalam bus.  Lalu suara pemandu terdengar memecah keheningan. Sayangnya saya tak mendengar jelas informasi yang disampaikan. Saya hanya melihat sebuah mesjid yang terlihat indah jika difoto dengan lampu kehijauan di menaranya. Rasanya tak banyak rumah ataupun toko di sekitarnya karena terlihat kegelapan menyelimuti. Masjid itupun terang karena lampu di halamannya. Seperti berada di tempat terpencil di perbukitan yang jauh dari pemukiman.

Prophet Syu’aib Mosque and Shrine, Jordan at night

Di dalam bus, -mungkin karena lelah-, tidak ada perempuan lain yang turun dari bus kecuali saya. Yang laki-laki pun bisa dihitung tak melebihi dari jumlah jari dalam satu tangan. Saya mengambil beberapa foto di halaman Masjid lalu mendekat ke sebuah pintu. Di situ baru saya memahami, betapa beruntungnya saya mengikuti hati untuk turun dari bus karena di dekat pintu tertulis dengan sangat jelas: Makam dan Masjid Nabi Syu’aib Alaihissalam. Bukankah kita sangat beruntung bisa menjejakkan kaki di tempat orang-orang sholeh berbaring di peristirahatan terakhirnya?

Entah kenapa, saya agak takut untuk mendekat. Rasanya aura kesholehannya tetap menguar dan meliputi seluruh ruangan itu. Saya menjadi begitu insecure berada di dekat makam orang yang selama hidupnya begitu sholeh dan menjadi utusan Allah kepada orang-orang Madyan dan Ashabul Aikah. Tanpa sadar saya mundur selangkah sambil menundukkan kepala, menyadari banyaknya khilaf yang dibuat hingga kini. Rasanya tak pantas untuk mendekat, seakan bisa menjadi noda atas kesucian auranya.

Terpampang jelas di depan mata, makam Nabi Syu’aib Alaihissalam yang terletak di tengah ruangan berlangit-langit tinggi dan lantainya berkarpet tebal, diselimuti dengan kain beludru berwarna hijau berhiaskan benang emas sebagai penutup yang indah. Lalu dari tempat saya berdiri, yang berjarak hanya beberapa langkah dari makam Nabi Syuáib Alaihissalam, saya mengangkat tangan dan melangitkan doa.

Makam Nabi Syu’aib, Jordan

Sebelum meninggalkan ruangan, saya membiarkan ingatan menari-nari, mengingat kisah hidup Nabi Syu’aib Alaihissalam. Sebagai orang yang diutus Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kaum Madyan dan Ashabul Aikah, tantangan yang dihadapi Nabi Syu’aib Alaihissalam sangatlah besar. Kaum Madyan merupakan kaum yang menguasai jalur perdagangan di wilayah sekitar Laut Mati sedangkan Ashabul Aikah merupakan sekelompok orang yang percaya kepada pepohonan bahkan mereka menyembahnya. Kaum Madyan terkenal sebagai pedagang yang ulet dan banyak diantara mereka yang sukses dan berlimpah kekayaan. Sayangnya, dalam menjalankan perdagangan, mereka seringkali tak jujur dan licik. Ketidakjujurannya terlihat saat bertransaksi jual beli, mereka suka mengurangi ukuran dan timbangan. Gandum yang seharusnya ditimbang 1 kilogram dikurangi dan dijual dengan harga untuk 1 kilogram, sehingga mereka mendapatkan keuntungan dari cara tak jujur tersebut. Selain itu, seperti juga Ashabul Aikah, Kaum Madyan lebih percaya pada hal-hal selainNya yang membuat mereka hidup berlimpah harta dan bisa menguasai jalur perdagangan.

Nabi Syu’aib mengetahui hal itu dan memperingatkan mereka akan hukuman atas perbuatan kaum Madyan dan Ashabul Aikah yang tidak benar itu. Namun, bukannya berterima kasih, mau memahami dan bertobat, mereka justru makin menentangnya. Bahkan mereka mengusir Nabi Syu’aib Alaihissalam dan semua pengikutnya untuk keluar dari kota itu. Ah, sepertinya saat itu mereka berpandangan sebagai mayoritas di kota itu dan jumlahnya lebih banyak maka apa yang mereka lakukan adalah benar. Lebih benar daripada Nabi Syu’aib Alaihissalam dan pengikutnya yang menjadi kelompok minoritas karena jumlahnya sedikit.

Bagaimanapun Kebenaran hanyalah milik Yang Maha Kuasa,

Lalu, terjadilah bencana di tempat kaum Madyan bermukim. Gempa hebat terjadi di tempat itu dan meluluhlantakkan pemukiman mereka hingga tak bersisa satupun. Kaum Madyan meregang nyawa terjebak di rumah mereka sendiri.

Sedangkan bencana yang menimpa Ashabul Aikah adalah serangan udara yang sangat panas dan membakar kulit. Tentunya sangat jauh lebih panas daripada gelombang panas yang sering terjadi belakangan ini di negeri-negeri jauh. Tidak ada lagi bangunan dan pohon yang dapat dijadikan tempat berteduh dari udara yang mematikan itu. Kemudian di langit muncul segerombolan awan hitam dan berat, awan yang membawa petir dengan suaranya yang sangat keras menggelegar. Mereka tak dapat lagi menghindarkan diri dari bencana yang mengerikan itu.

Tentu saja kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam yang diutus kepada mereka yang membuat kerusakan di muka bumi ini, dapat dibaca dalam Al Qurán. Tetapi mengingat kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam di depan makamnya di Jordan ini, tentu jauh berbeda rasanya. Gambar-gambar imajinasi mengenai kisah itu bergerak sendiri seperti menonton sebuah film di benak, menjadikan sebuah peringatan yang menyesakkan. Sebuah pembelajaran teramat penting yang dapat diambil dari kaum terdahulu.

Keheningan berada di depan Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam pecah saat datang pengunjung lain. Saya meninggalkan ruangan dan mengambil foto di halaman. Sayang sekali, Masjid Syu’aib yang ada di kompleks itu pintunya terkunci, padahal konon sangat indah. Pintu Masjid berada tak jauh dari bangunan kecil berkubah emas yang ada di tengah-tengah pelataran halaman dalam.

A nice place for taking the ablution, Mosque of Prophet Syuaib, Jordan

Tak banyak yang bisa diabadikan kecuali bangunan kecil berkubah emas tadi yang terbuka pada sebagian dindingnya yang tampaknya merupakan tempat mengambil air wudhu, terlihat dengan keran air dan tempat duduk batu yang melingkarinya.

Setelah puas mengambil foto yang tak seberapa, saya berbalik ke arah bus berhenti. Dalam beberapa saat saya akan meninggalkan salah satu tempat yang diklaim sebagai Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ini. Selain di Jordan di tempat saya berdiri ini, ada juga yang mengatakan bahwa makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di Galilea Hilir, Israel. Selain itu ada yang mengatakan makamnya ada di Guriyeh, Iran. Bahkan tak sedikit yang berpendapat makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di sebelah Barat Ka’bah, Mekkah. Sementara yang lain berpandangan makamnya ada di Jabal Nabi Syu’aib di Yaman. Mana yang benar? Wallahu a’lam bishawab.

Saya melangkah kembali ke dalam bus, lalu pintu-pintu bus ditutup. Roda bus mulai bergerak pelan meninggalkan kegelapan perbukitan di belakang, lampu-lampu dalam bus kembali temaram. Meski badan terasa lelah, saya merasa sangat beruntung dapat menjejak sebentar di tempat yang baru saja ditinggalkan dengan hikmah yang terserak begitu banyak. Dan kini, sepertinya saya menyerah pada dunia, hanya pembaringan yang saya rindukan…

From the courtyard of Prophet Syuaib Mosque