Museum of Champ Sculpture, Da Nang


Hanya beberapa jam untuk menikmati kota Da Nang sebelum kembali ke Tanah Air saat solo-travelling ke Vietnam Tengah, saya menyempatkan diri berkunjung ke Museum of Champa Sculpture, yang lokasinya hanya selemparan batu dari tempat saya menginap. Museum yang menyimpan banyak sekali artefak kerajaan Champa ini memang menjadi tujuan utama saya di kota Da Nang, sebagai pelengkap kunjungan ke My Son, tempat reruntuhan kerajaan negeri Champa berabad lalu.

Sayangnya seperti juga di Indonesia, museum yang menyimpan banyak sejarah kejayaan Vietnam jaman dulu ini tampaknya belum menjadi tujuan wisata dari orang lokal maupun turis asing karena dalam dua setengah jam saya berada di sana, belum banyak orang yang datang berkunjung.

Meskipun akhir pekan, -mungkin saya yang kepagian, namun hingga sampai pulang pun-, sepertinya bukan merupakan waktu berkunjung yang nyaman untuk ke museum. Yang pasti saya memang pengunjung pertama, yang menunggu sejenak hingga gerbang dibuka lalu membayar sekitar 40000 VND untuk masuk.

Ketika masuk ke dalam ruangan, patung batu dewa-dewa utama Hindu beserta pasangannya, Dewa Siwa, Brahma, Wisnu serta Uma, Saraswati dan Laksmi seakan-akan menyambut kedatangan saya (Lhaaa… pikiran saya jadi lari ke film Night in The Museum, yang penghuninya menjadi hidup sepanjang malam)

Sebenarnya kata Champa tidak terlalu asing untuk telinga orang Indonesia, karena dalam pelajaran sejarah saat sekolah dulu (entah sekarang masih diberikan di sekolah atau tidak), kita pernah dengar kisah mengenai Putri Campa yang cantik menikah dengan Raja Jawa. Ada yang masih ingat?

Ada begitu banyak peninggalan Champa yang disimpan di Museum ini, tidak hanya dari reruntuhan My Son, tetapi juga di tempat-tempat lain (dan uuh, akhirnya mampu menimbulkan keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat itu suatu saat nanti)

Bagi saya yang merupakan penggemar candi, membayangkan keindahan seni pada bangunan candi pada masanya memang menyenangkan. Jika di kompleks Angkor Wat ada penggambaran apsara yang sedang menari, di sini terlihat bentuk-bentuk serupa seperti apsara meski berbeda posenya. Saya berlama-lama di tempat ini karena amat menikmati bentuknya yang sedang meliuk-liuk menari itu. Hiasan pada tubuhnya, serta mahkotanya amat menarik hati.

Tak hanya makhluk-makhluk kayangan yang memenuhi museum ini, melainkan ada juga penggambaran kehidupan masyarakat biasa yang sepertinya menggunakan kereta beroda dan juga hewan-hewan yang hidup bersama dalam masyarakat. Ketika melihat sebuah kereta beroda yang amat jelas penggambaran rodanya, saya amat terpesona. Terbayang pada masa itu, roda-roda itu amatlah membantu pergerakan masyarakat.

Lalu melihat adanya sapi, gajah yang tak berhiasan, kuda yang juga ada di antara kereta beroda itu, burung-burung serta kera, seakan memberi konfirmasi ke jaman sekarang bahwa hewan-hewan itu dapat hidup secara baik di antara masyarakat Champa pada saat itu.

Tidak hanya penggambaran hewan-hewan yang hidup secara baik di dalam masyarakat, namun juga mahkluk-makhluk mitos yang dikategorikan suci atau hewan yang digunakan oleh kalangan atas yang tak terjangkau oleh masyarakat biasa. Seperti gajah yang biasa digunakan untuk Raja atau kaum bangsawan biasanya dihias dengan indah, seakan tak akan kalah dengan yang menungganginya. Juga hiasan-hiasan pada sudut bangunan yang biasanya diisi oleh sejenis burung mitos atau singa yang juga dihias dengan indah, dengan hiasan leher yang berumbai. Dan sesuai dengan kepercayaan pada waktu itu, Naga berkepala angka ganjil (lima, tujuh atau sembilan) senantiasa ada pada bangunan-bangunan suci.

Dan saya mencari Garuda, -hewan yang memuja dan menjadi tunggangan Dewa Wisnu-, karena ingin mengetahui bagaimana bentuknya. (Saya jadi terkenang akan Garuda yang dibuat amat indah di dekat kuil Narayan di Kathmandu, Nepal).

Garuda, lengkap dengan detil bulu-bulu dibuat cukup baik. Paling tidak saya bisa menebak dengan benar tanpa melihat informasi yang ada di sebelahnya. Meskipun tak terlalu jelas, Garuda masih tampak mengenakan hiasan-hiasan pada kepala, telinga, leher hingga dada dan pinggulnya. Adanya hiasan-hiasan itu seakan-akan menunjukkan ketinggian tingkatannya.

Di bagian lain, saya juga bisa menikmati penggambaran dengan detil yang menarik. Seakan-akan seseorang yang dihormati sedang menari. Saya hanya bisa menduga, namun tak bisa menyakinkan diri bahwa penggambaran itu adalah The Dancing Shiva.

Selain itu, juga terdapat relief Dewa Wisnu yang sedang duduk di atas Anantasesha dan dipayungi oleh kepala-kepalanya. Uniknya dalam penggambaran ini, Ananta berkepala sebelas, yang biasanya hanya lima atau tujuh.

Saya begitu menikmati semua peninggalan yang ada di Museum ini meskipun informasi yang menyertainya bisa dibilang minim. Tetapi tak mengapa, kadang dengan keterbatasan informasi ini membuat saya lebih tertantang untuk selalu bertanya, siapakah dia, apakah ini, apakah itu dan sebagainya.

Selanjutnya di ruangan tengah, terdapat sekumpulan batuan besar yang dibentuk dengan tatahan yang amat rumit dan agaknya menjadi bagian dari sebuah bangunan suci. Saya bisa melihat gerbang lengkap dengan hiasan melengkung serta dua penjaga gerbangnya. Relief yang amat indah yang menceritakan kehidupan saat itu.  Sayang saya tak bisa berlama-lama menikmatinya karena keterbatasan waktu padahal sangat menarik…

Meneruskan langkah, sampailah saya di sebuah patung perempuan yang dipercaya sebagai Dewi Tara dan tak jauh darinya terdapat patung seorang dewa yang mendapat pencahayaan khusus di sebuah ruangan. Sayangnya saya tidak mengetahui lebih jauh tentang mereka. Pastinya mereka amat dihormati dan amat bernilai dilihat dari pencahayaan dan penyimpanan yang khusus.

Tidak terasa saya sudah sampai di penghujung waktu yang bisa digunakan karena harus segera check-out dari hotel dan kembali ke Tanah Air. Rasanya selalu sama, enggan untuk meninggalkan tempat yang penuh dengan batu-batuan yang dibentuk dengan indah dan penuh makna, padahal waktu tak lagi bersahabat.

Kunjungan ke Museum of Champ Sculpture ini mengakhiri perjalanan saya di Vietnam Tengah dan meninggalkan banyak tempat yang masih harus dikunjungi di Vietnam ini, Na Trang masih menggoda, Vietnam Utara dengan campuran budayanya yang khas… ah, semakin banyak tempat yang belum dikunjungi tapi waktu ini amat terbatas.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-7 ini bertema Museum agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Main Ke Rumah Si Pitung Di Marunda


 

Rumah Si Pitung

Siapa orang Betawi yang tidak kenal si Pitung? Dialah Sang Legenda Robin Hood dari Betawi pada akhir abad 19 yang telah berhasil mempermalukan Kepala Polisi Batavia dan meresahkan pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera pada masanya.

Selama delapan tahun, 1886 – 1894, Si Pitung melakukan aksi perampokan uang dan emas permata yang bernilai tinggi terhadap saudagar-saudagar kaya yang dinilainya bersekutu dengan Belanda lalu konon ia membagikan rampasannya kepada orang-orang miskin, namun selalu berhasil lolos dari kejaran polisi. Sempat sekali tertangkap, tapi seperti belut, dengan mudahnya Si Pitung yang bernama asli Salihun ini melarikan diri dari penjara Meester Cornelis di tahun 1891. Dan tidak tanggung-tanggung Sang Jawara ini mempermalukan Pemerintah Hindia Belanda karena ia bisa hilir mudik dengan kereta api tepat di depan hidung Sang Kepala Polisi. Dan bukannya mereda, Si Pitung bahkan berhasil membinasakan Demang Kebayoran yang memusuhi petani-petani serta tak henti-hentinya meresahkan pemerintah kolonial saat itu.

Tak terbayangkan gusar dan marahnya Penasehat Pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera yang bernama Snouck Hurgronje kepada Kepala Polisi Batavia, Schout Hijne, yang selalu gagal menangkap satu orang Bumiputera yang bernama Si Pitung ini. Pelecehan jabatan yang dilakukan Si Pitung terhadap Schout Hijne ini membuat Sang Kepala Polisi menghalalkan segala cara untuk menangkapnya, termasuk mendatangi dukun untuk mencari penawar jimat keberuntungan Si Pitung. Tindakan ini makin membuat Snouck Hurgronje hilang akal karena yang dilakukan Sang Kepala Polisi dianggap sangat memalukan dan tidak terpelajar. Tetapi kegagalan terus menyelimuti penguasa saat itu, karena ketika menggerebek rumah Si Pitung di Rawa Belong, mereka hanya menemukan uang 2.5 sen pada tiang bambu. Bahkan kabar kematiannya tetap tak jelas, apalagi keberadaan makamnya.

Dan legenda jawara itu tetap memenuhi pikiran masyarakat Betawi dengan penuh kebanggaan

*

Museum Rumah Si Pitung

Sebenarnya sudah lama saya ingin ‘main’ ke rumah Si Pitung, tetapi baru empat hari jelang puasa niat mengenal legenda Sang Robin Hood Betawi itu bisa terlaksana. Saya sengaja mengambil cuti untuk main ke rumah Sang Legenda yang kini menjadi museum di Marunda. Sebuah pertanyaan menari-nari di benak sepanjang perjalanan, rumah masa kecilnya di Rawa Belong (dekat Palmerah) dan konon makamnya ada di Sukabumi Utara, yang tak jauh dari Rawa Belong. Lalu mengapa museumnya ada di Marunda yang sangat jauh? Saya tak punya jawaban pasti, kecuali hanya untuk menenangkan pikiran. Sebagai buronan kelas kakap, sewajarnya ia tak pernah menetap dan selalu berpindah…

Untuk mencapai rumah Si Pitung di Marunda atau House of Si Pitung di Google Maps, saya menggunakan aplikasi Travi untuk membantu perjalanan dengan bus TransJakarta. Saya naik bus Transjakarta Koridor 1 menuju Kota lalu turun untuk transit di Monas, dan menunggu bus Koridor 2 yang menuju Pulo Gadung. Setelah melewati sekian banyak halte, saya turun di Cempaka Timur. Tanpa keluar dari area bayar, saya menyusuri jembatan penghubung ke Cempaka Mas 2 untuk lanjut dengan bus TransJakarta Koridor 10 menuju Tanjung Priok dan turun di halte Enggano. Di Halte TransJakarta Enggano ini saya harus menunggu agak lama bus ukuran ¾  jurusan Marunda, dan turun di Pertigaan Rumah Si Pitung. Dari sini saya harus jalan kaki lagi sekitar 200 meter untuk sampai ke Rumah Si Pitung. Meskipun jauh banget, perjalanan dengan bus TransJakarta sangat mudah dan murah, hanya Rp 3.500,- atau sekali tap, tanpa tersesat.

Perjalanan panjang dan lama, -yang kalau naik mobil pribadi bisa sampai Bandung itu saat tol Cikampek bebas macet-, membuahkan hasil meskipun cuaca agak kurang bersahabat. Udara pantai utara Jakarta yang panas membuat keringat mengalir dengan cepat, meskipun ada kolam-kolam bakau yang mampu meredam sedikit panas. Setelah membayar Rp. 3.000 untuk tiket masuk, akhirnya saya bisa berdiri di halaman Rumah Si Pitung, Legenda Jawara terkenal dari Betawi.

Rumahnya yang kini jadi museum tak beda dengan rumah-rumah Betawi pesisir pada umumnya yang berbentuk rumah panggung. Saat saya berkunjung sama sekali tak ada orang, bisa jadi karena saya datang pada hari kerja dan bukan akhir minggu.

Saya menaiki tangga sempit itu dengan hati-hati dan langsung terkejut ketika sampai di anak tangga paling atas. Di sudut teras depan, sebuah patung tak berwajah mengenakan pakaian jawara. Meskipun tak berwajah, saya merasa tak nyaman dengan patung setinggi manusia itu. Ah, saya mungkin lebih terbiasa dengan manekin yang benar-benar terlihat sebagai patung daripada sesuatu berbentuk tubuh manusia tapi tak berwajah. Hitam lagi… Meskipun siang, tetap serem ‘kan?

Kemudian saya melangkah masuk ke ruang tamu melalui pintu yang ketinggiannya rendah. Panas matahari di luar rasanya terjebak di dalam sini, membuat saya seperti kehabisan nafas. Tanpa angin meskipun jendela terbuka. Gerah! Di dalam ruang ini terdapat seperangkat kursi tamu lengkap dengan toples-toplesnya, menggenapi yang ada di teras depan. Lukisan Si Pitung bersama seorang perempuan dan sebuah lampu teplok menghiasi dinding. Sebenarnya ruangan ini bagus, tetapi pengelolanya tak memiliki rasa estetika sama sekali karena kabel listrik yang putih bersama stopkontaknya tidak disembunyikan dan terlihat sangat jelas, merusak penataan warna kayu yang telah dibuat senada.

Lalu ruang berikutnya adalah kamar tidur Si Pitung yang berisi ranjang berkelambu. Saya hanya bisa mengambil foto dari batas pintu karena ada pembatas akses. Jika dalam beberapa sumber dikatakan Si Pitung melajang seumur hidupnya untuk mempertahankan kekuatan jawaranya, maka kondisi kamar yang memiliki ranjang double bertiang dan berkelambu serta meja rias perempuan, menjadikannya bertolak-belakang. Apalagi di lukisan pada ruang sebelumnya terdapat penggambaran Si Pitung bersama seorang perempuan. Adakah yang tahu kisah cinta Si Pitung ini? Siapakah perempuan pendamping legenda Betawi ini?

Saya masih melangkah terus ke belakang. Rasanya saya menjadi pemilik rumah karena menjadi satu-satunya pengunjung saat itu. Ruang berikutnya adalah ruang makan dengan seperangkat meja makan dengan kendi dan lampu gantung berhias. Melihat kendi itu, tergambar dalam benak jawara-jawara meminum air yang mengucur langsung dari kendi ke mulutnya tanpa menggunakan gelas. Kadang kala untuk menyegarkan wajah juga.

Kemudian di sudut ruang terdapat lemari bercermin dengan tikar di hadapannya dan sebuah kayu permainan congklak. Sepertinya bayangan Si Pitung bermain congklak terasa absurd pada benak saya, seharusnya perempuan muda yang melakukan permainan ini. Adakah perempuan-perempuan muda atau anak-anak di sekeliling Jawara Betawi ini? Atau benda ini hanya sekedar benda budaya yang tak terkait dengan Si Pitung? Entahlah… karena tak ada informasi pendukung di sekitar benda ini.

Di sudut seberangnya terdapat bale-bale dengan setumpuk peti yang entah untuk apa kegunaannya. Bisa jadi sebagai tempat menyimpan sementara harta rampasan sebelum dibagikan kepada yang membutuhkan. Selain itu juga terdapat satu set rebana dan alat musik tradisional Betawi. Sayangnya tidak ada penjelasan sama sekali, kecuali larangan-larangan. Bisa jadi pengelola menganggap semua pengunjung sudah tahu mengenai Si Pitung dan budaya Betawi. Padahal di luar negeri untuk museum spesifik seperti ini, selalu disertai informasi yang lengkap, jika perlu ditambahkan hal-hal lain yang bisa mengundang pengunjung datang lagi. Informasi yang ada justru membuat saya bertanya-tanya, -karena diinformasikan peti-peti itu adalah koleksi seseorang-, lalu hubungannya apa dengan sejarah Si Pitung?

Dapur dan Peralatan Masak

Ruang berikutnya adalah dapur dengan sebuah bale-bale dan seperangkat peralatan masak diletakkan diatasnya. Bukankah akan menarik bila dipresentasikan bagaimana cara memasak secara tradisional pada abad 19 itu? Belum tentu semua anak millenial jaman now bisa mengetahui nama-nama alat masak tradisional itu. Tetapi sayang, tidak ada informasi pendukungnya.

Di arah belakang terdapat pintu menuju teras belakang yang tersedia juga sebuah bale-bale yang kelihatannya enak sekali untuk bersantai tidur-tiduran sambil minum kopi. Sekali lagi, sayang tak ada informasi pendukung yang menjelaskan. Jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesia saja tidak ada. Selain itu, lagi-lagi si kabel putih merusak semua pemandangan. Mungkin memang museum ini tidak ditujukan untuk pasar turis asing. Sayang ya?

Saya kembali ke teras depan, menikmati sedikit angin di situ. Menatap ke luar, seakan-akan ke halaman tetangga, tetapi apa daya, terlihat kabel-kabel listrik bergantungan tak beraturan. Gemas rasanya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditata dengan lebih baik.

Balkon di Teras Depan

Mentari semakin terik, saya turun mencari tempat teduh di halaman sambil menikmati Rumah Jawara Betawi ini. Seekor kucing tiba-tiba datang melingkari kaki saya, ingin bermanja-manja rupanya. Hati ini miris, masyarakat Indonesia belum banyak yang mencintai museum. Bahkan bisa jadi pengelolanya pun masih beranggapan museum adalah tempat membuang benda-benda tua yang tidak diperlukan lagi, yang tak jauh beda dengan gudang. Tanpa perlu informasi pendukung, meskipun sebenarnya banyak cerita sejarah berada di balik benda-benda berharga yang dipamerkan itu. Ah, jika manusia belum mencintai sejarahnya, bagaimana ia bisa menghargai masa depan bangsanya?

Saya meninggalkan museum Rumah Si Pitung dengan perasaan sedikit masygul. Apalagi bus TransJakarta melewati saya begitu saja tanpa berhenti di halte yang sama tempat saya turun sebelumnya. Kali ini karena tak tahan panas untuk menunggu lagi, langsung saja saya mengorder babang Ojol untuk kembali ke halte Enggano. Meskipun setelah itu saya agak menyesal karena rupanya babang Ojol itu nekad menerobos sempitnya jalan di antara truk-truk peti kemas segede gaban tanpa peduli saya yang senewen tak terbiasa dan terus komat-kamit berdoa. Saya hanya membayangkan wajah suami yang ngomel karena saya nekad naik ojek diantara truk-truk peti kemas itu. Bisa-bisa ijin jalan-jalan ditarik… uugh..

Sebuah Refleksi Hati Di Museum MACAN


Dalam sebuah ruang tepatnya bersebelahan jalur masuk Museum Of Modern And Contemporary Art in Nusantara (MACAN) terdapat instalasi karya Yayoi Kusama yang sangat populer, yang berjudul Infinity Mirrored Room – Brilliance of the Souls. Instalasi yang menjadi koleksi Museum ini, sekarang ditampilkan permanen dan sepertinya menjadi icon dari Museum MACAN. Atau pengunjung yang datang hanya untuk berfoto dalam ruang ini? Bisa jadi…

Yayoi Kusama’s Infinity Mirror – Museum of Modern And Contemporary Art in Nusantara, Jakarta

Instalasi dalam ruang gelap ini penuh polka dot ini, awalnya hanya dihadirkan sementara dalam pameran perdana museum dan juga pameran retrospektif seniman unik itu yang berjudul Life is The Heart of A Rainbow. Siapa nyana, akhirnya yang sementara itu sekarang menjadi permanen sejak 26 Maret 2019 lalu?

Di Museum MACAN, pengunjung hanya bisa memasuki ruang Infinity Mirrored Room – Brilliance of the Souls setelah berkeliling museum dan ikut dalam antrian. Tidak bisa lama di dalam, hanya 30 detik! Bahkan bisa lebih cepat dari angka itu jika antriannya panjang. Apa pesonanya?

Jangankan saya, selebriti dunia seperti Katy Perry saja melakukan selfie didalamnya. Ya, karena instalasi polkadot warna warni itu dalam ruang gelap penuh cermin yang disinari memang sangat indah, menarik sekaligus menyimpan misterinya sendiri.

Namun terlepas dari kekaguman saya akan hasil karya dan kece-nya Infinity Mirrored Room itu, saya juga tak bisa lepas dari rasa prihatin yang dalam kepada sang artist. Sesungguhnya ruang gelap dan bentuk polkadot warna-warni yang terlihat terhampar tanpa batas karena refleksi cermin itu merupakan halusinasi dan ekspressi dari mental illness yang ditanggung oleh perempuan Jepang kelahiran tahun 1929 itu sejak usia 10 tahun. Kemampuan membelokkannya menjadi seni yang begitu indah, telah menyelamatkan hidupnya dari upaya bunuh diri.

Sungguh saat saya meninggalkan ruang Infinity Mirrored Room itu, saya merasa seperti ‘bukan gegar otak melainkan gegar rasa’ bahwa sebuah kekurangan manusia, sebuah mental illness, dapat menjadi sebuah berkah luar biasa yang bila dikenali dan disalurkan kearah yang positif, bisa berubah menjadi sebuah kelebihan. Sebuah gangguan kejiwaan yang di dunia sering dikategorikan negatif bisa menghasilkan karya positif yang dicari banyak orang, -dan orang yang memahami bersedia membayar mahal untuk bisa mengagumi karyanya-, serta menjadi trademark bagi Yayoi Kusama.

Bagi saya pribadi, merasakan sendiri berada di dalam Infinity Mirrored Room itu benar-benar ‘makjleb

***

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-18 ini bertemakan Reflection agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Banten Lama: Menguak Peradaban Empat Abad Silam


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pertengahan Maret 2014 lalu saya menyempatkan jalan-jalan seharian ke kawasan Banten Lama, salah satu Tentative List of UNESCO World Heritage Site yang diajukan Indonesia sejak tahun 1995. Dan ketika sampai di kawasan tersebut, perasaan saya miris sekali menyaksikan kondisi kawasan yang pernah menjadi destinasi para pengarung samudera dan penjelajah dunia. Bagaimana dunia akan mengetahuinya jika kita sendiri tidak memeliharanya dan cenderung mengabaikan tempat bersejarah itu?

Sejarah tak dapat ditutupi bahwa pada abad 16 Banten Lama telah terukir sebagai kawasan yang riuh dengan kehidupan internasional di bumi Nusantara tercinta ini. Telah berabad lamanya tertinggal catatan-catatan pengelana China, budaya dan pengaruh dari syiar Islam yang datang dari jazirah Arab, peninggalan hasil usaha pedagang-pedagang Persia, Goa, negeri-negeri Eropa, berbagai ragam arsitektur bangunan, implementasi pengelolaan sumber daya air dan dari temuan-temuan di situs yang terdiri dari keramik, koin, perhiasan dan lain-lain yang berasal dari berbagai negara di dunia pada saat itu, kesemuanya memberikan bukti yang jelas nyata. Dan bukankah ada nama Belanda yang tertulis di buku-buku pelajaran sejarah Indonesia, Cornelis de Hautman, yang memimpin pendaratan Belanda di kawasan Banten di tahun 1596? Dan siapa sangka, ternyata pertempuran hebat di Sunda Kelapa yang akhirnya dimenangkan oleh Fatahillah itu memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah Banten Lama. Dan bahkan jika dirunut ke belakang maka Sunan Gunung Jati di Cirebon, Kerajaan Demak, hingga Sunan Ampel di Jawa Timur juga memiliki keterkaitan yang lekat dengan Banten. Bagi saya pribadi, jalan-jalan kali ini sungguh membukakan wajah Indonesia yang penuh kejayaan 4 abad silam.

Peninggalan-peninggalan Kejayaan Masa Lalu

Untuk menikmati seluruh peninggalan kejayaan masa lalu satu per satu tidak mungkin diselesaikan dalam satu hari karena terseraknya obyek di kawasan Banten Lama. Apalagi bila ditambah niat melakukan ziarah syiar Islam di Banten, tentu memakan waktu lebih lama. Namun kali ini saya dapat mengunjungi dan menikmati sebagian besar dari peninggalan sejarah yang luar biasa ini.

1. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Saya mengawali jalan-jalan kali ini di museum yang menjadi gerbang utama untuk menelusuri jejak kejayaan masa lalu Banten Lama. Dengan harga tiket senilai uang logam Rupiah terbesar alias Rp. 1000,- kita bisa mendapatkan banyak informasi mengenai kehidupan Banten pada jaman dahulu kala dengan berbagai koleksi artefak yang ditemukan di situs-situs sekitar Banten Lama. Terdapat koleksi perhiasan, senjata, keramik, saluran pengelolaan air, bahkan patung Nandi sebagai kendaraan Dewa Syiwa dan lain-lain. Di depan Museum ini diperagakan pula Ki Amuk, meriam besar yang dipergunakan ketika terjadi pertempuran dengan Belanda. Selain itu diperagakan pula peralatan penggilingan tebu, batu-batu hiasan Kraton Surosowan dan nisan-nisan makam Cina.

2. Jembatan Rante

Jembatan yang telah kehilangan rantai, tiang besi dan kayu yang dapat diangkat ini, pada jaman dulu merupakan tempat pemeriksaan pajak terhadap barang dagangan di perahu-perahu yang akan masuk ke Banten. Lolos urusan perpajakan, petugas akan menarik rantai yang mengikat papan kayu sebagai landasan penyeberangan jembatan sehingga perahu bisa lewat melanjutkan perjalanan. Jembatan Rante ini dapat dicapai dengan berjalan kaki karena lokasinya sekitar 300meter dari Kraton Surosowan menuju Mesjid Agung Banten dan berada di belakang kios-kios penjual cinderamata. Sayang sekali, kondisi kanal tidak tertata apik, air yang tak jernih dengan tumbuhan enceng gondok disana sini serta sampah yang terserak di pinggir kanal membuat jembatan Rante seakan kehilangan nilai historisnya.

3. Masjid Agung Banten

Mesjid yang dibangun oleh Sultan Muhammad Hasanuddin sebagai Sultan Banten I pada pertengahan abad 16 ini merupakan salah satu mesjid yang bercirikan arsitektur Jawa Kuno dan memiliki Menara setinggi 24m yang berdiri anggun di halaman Mesjid, yang dari pintu pertama atau kedua Menara pemandangan indah sekitar hingga ke pantai laut Jawa dapat terlihat. Selain dikunjungi oleh orang-orang yang beribadah, mesjid ini juga didatangi oleh pengunjung yang menziarahi makam-makam para ahli syiar Islam yang terdapat pada kompleks mesjid dan seantero Banten.

4. Kraton Surosowan

Tepat di seberang Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama terdapat Kraton Surosowan yang kini tinggal reruntuhan dinding dan batu-batu fondasi yang terbuat dari bata merah. Apa yang tertinggal dapat menggambarkan betapa megah kraton pada masanya, yang merupakan pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya dan seluruh sendi kehidupan dalam masyarakat Banten. Kraton yang luasnya tiga kali lapangan bola ini merupakan tempat tinggal para Sultan sekaligus tempat berinteraksi dengan rakyatnya. Di bagian tengah reruntuhan Kraton ini terdapat kolam pemandian Ratu Dhenok dan Pancuran Emas yang sering dijadikan tempat melakukan ritual kungkum bagi sebagian orang yang percaya akan mendapatkan kekuatan dari para leluhur (walaupun airnya tak lagi bening, penuh lumut kehijauan dengan botol plastik yang dibuang disana sini). Juga di sudut-sudut Kraton yang berbentuk seperti relung gua, sering dijadikan tempat bersemedi mencari wangsit. Berada dalam lingkungan Kraton Surosowan yang penuh sejarah ini, sepertinya kita dibawa ke dunia lain sambil menerka-nerka bagaimana bentuk Kraton pada masanya.

5. Watu Gilang

Merupakan lempeng batu persegi panjang yang menjadi tempat pentahbisan Sultan-sultan Banten jaman dulu sekaligus tempat memberikan pengumuman dari Kraton untuk rakyat. Watu Gilang saat ini telah berada dalam naungan sebuah pergola berpagar setelah lama sebelumnya tergeletak terabaikan begitu saja di lapangan terbuka terkena panas hujan. Kondisi ini lebih baik walau tetap menyedihkan, karena lingkungan sekitarnya tidak tertata rapi dan terkesan kumuh sehingga obyek ini seperti kehilangan aura sakral penuh karismatik dari apa yang pernah terjadi di atas batu itu. Dan apabila Watu Gilang disejajarkan tingkatnya dengan sebuah Tahta Kesultanan, sepertinya kita telah berkhianat terhadap akar budaya sendiri ketika benda bersejarah itu terserak diantara kekumuhan kios-kios pedagang, berhiaskan sampah dan kotoran-kotoran binatang yang bebas berkeliaran, dan dijadikan tempat mencari wangsit.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

6. Kraton Kaibon

Kraton Kaibon merupakan istana Ratu Aisyah, ibunda dari Sultan Syaifudin, yang kini tinggal tersisa gapura, reruntuhan dinding dan batu-batu fondasi karena dihancurkan Belanda pada masa kolonial sehingga menyimpan imajinasi akan kehebatan dan keindahan Kraton pada jaman dahulu. Sayangnya, rerumputan yang tertata cukup baik mengundang kambing-kambing berkeliaran dan meninggalkan kotoran-kotorannya sembarangan di tempat yang bersejarah ini. Dan ketika hujan lebat turun, tak jarang Kraton Kaibon ini tergenang cukup tinggi, alam menunjukkan dayanya merusak secara perlahan tapi pasti struktur bangunan yang menjadi salah satu icon peradaban empat abad silam.

7. Pelabuhan nelayan Karangantu

Pelabuhan tradisional sejak abad 16 ini tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang dijunjungnya dengan memelihara perahu-perahu nelayan yang dimiliki secara turun temurun. Walaupun tak bisa menandingi metropolis-nya Banten jaman dulu dan cakupannya yang lebih kecil daripada pelabuhan Sunda Kelapa, perahu-perahu yang ada cukup membawa kenangan akan hebatnya kehidupan komunitas maritim di wilayah Banten Lama.

8. Kerkhof

Bekas pemakaman Belanda yang berada di sisi Benteng Speelwijk ini meninggalkan satu atau dua bangunan makam yang cukup menarik. Jika didekati, tulisan indah berukir jaman Belanda masih terlihat di salah satu bangunan makam yang sayangnya tempat ini terbengkalai diantara rumput ilalang yang tinggi. Pemandu saya memperlihatkan betapa bagusnya kualitas besi orisinal yang digunakan untuk pagar asli yang masih tersisa. Dengan getir beliau bercerita di balik kisah besi orisinal itu. Ketika pintu jeruji dengan kualitas besi yang sangat bagus di bangunan kecil dekat gerbang, hilang dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab, seluruh satpam yang menjaga kawasan obyek wisata Banten Lama terkena sanksi oleh pejabat dinasnya (dan respons otomatis muncul dari dalam hati saya, apakah juga ada sanksi yang berlaku untuk pejabat dinasnya?)

9. Benteng Speelwijk

Benteng yang tadinya berada di dekat pantai dan sekarang sudah menjorok ke tengah daratan karena pendangkalan laut ini, hanya tinggal tembok keliling yang masih terlihat kokoh dan sebagian bastion. Ketika berada di dalam Benteng, entah saya harus getir atau tersenyum. Karena tempat terbuka di bagian tengah telah berubah menjadi lapangan bola lengkap dengan tiang gawangnya. Serasa di stadion! Bagaimana pun ketika masuk ke dalam ruang bekas gudang senjata, saya kembali merasa memasuki sebuah benteng militer yang selalu bercirikan tembok kokoh, lorong-lorong gelap, disana-sini terkena bom. Udara langsung terasa lembab sepanjang lorong gelap menuju gudang senjata tersebut. Sesekali terdengar suara burung walet yang sengaja mencari kegelapan. Dan tentu saja, jangan lupa bawa senter untuk memasuki ruang dalam benteng ini.

10. Vihara Avalokitesvara.

Vihara yang namanya diambil dari seorang Boddhisatva yang dikenal sebagai Dewi Welas Asih (Kwan Im) ini, konon dibangun atas perintah Syarif Hidayatullah sebagai bentuk nyata atas kehidupan beragama yang harmonis pada masa itu dan kini menjadi salah satu vihara tertua di Indonesia. Patung Avalokitesvara yang konon berasal dari Dinasti Ming, terdapat di altar utama yang ada di depan, yang di sisi kiri kanannya terdapat ruang-ruang yang lebih kecil untuk ibadah. Di bagian belakang terdapat dharmasala yang dihubungkan oleh koridor cantik berhiaskan kissah legenda ular putih. Legenda Mbah Banten yang sakti penjaga sumber mata air yang dipercaya membawa kemujaraban menjadi legenda lokal yang ada di vihara ini. Banyak yang meminta air mujarab ini, tidak hanya dari golongan orang yang beribadah di vihara ini melainkan juga yang datang dari jauh dengan latar belakang yang berbeda.

11. Rumah Pecinan Kuno

Tidak jauh arah selatan dari Vihara, terdapat sebuah rumah kuno yang tinggal satu-satunya masih berdiri kokoh dan lengkap, yang dikenal sebagai Rumah Pecinan Kuno. Pada masa keemasannya, rumah-rumah dengan arsitektur China berdiri di sepanjang jalan dengan gaya yang sama. Daerah itu memang dikenal dengan daerah Pecinan yang dikhususkan bagi para keturunan China untuk berdagang. Saya membayangkan cantiknya lampion-lampion berwarna merah tergantung di langit-langit sepanjang selasar seakan tak peduli dengan kesibukan orang-orang berpakaian khas China yang lalu lalang menawarkan dagangan.

12. Masjid Pecinan Tinggi

Tak jauh dari Rumah Pecinan Kuno, setelah melewati rel kereta api, di sebelah kanan jalan terdapat Mesjid Pecinan Tinggi yang hanya tersisa Menara dan Mihrab-nya. Sungguh luar biasa menyaksikan Menara yang masih tegak berdiri yang konon didirikan pertama kali oleh Syarif Hidayatullah dan dilanjutkan oleh Maulana Hasanuddin serta menjadi mesjid yang lebih tua daripada Mesjid Agung Banten. Sungguh sayang, karena keterbatasan dana Menara dan Mihrab tampak terbengkalai terkena coretan vandalisme, bangunan terlihat sedikit miring, mungkin karena akibat banjir, tanah secara perlahan tertekan karena tak mampu menahan beban berat dari Menara.

13. Danau Tasikardi dan Pengindelan Abang

Dalam perjalanan pulang melalui Serang Barat, setelah menyaksikan pemandangan hamparan sawah yang menghijau yang menenangkan jiwa, di pinggir jalan saya melihat Pengindelan Abang, sebuah bangunan rumah penyaringan air yang berasal dari Danau Tasikardi, danau buatan berjarak 200meter. Hati saya miris sekali melihat coret-coret vandalis menghiasi seluruh bangunan Pengindelan Abang. Sungguh perbuatan yang sama sekali tidak menghargai kehebatan pengelolaan sumber daya air empat abad silam di Banten.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Akses Menuju Banten Lama

Seperti biasa, tak banyak informasi lengkap mengenai akses ke Kawasan Banten Lama, termasuk dari web resmi pariwisata Banten. Informasi justru didapat dari para Travel Bloggers yang suka berbagi cerita.

Untuk tujuan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, dari Jakarta bisa melalui Jalan Tol JakartaMerak, keluar di Serang Timur (sekitar km72) dan ikuti rambu petunjuk jalan hingga perempatan besar. Disitu, sebenarnya arah Banten Lama berbelok ke kanan, namun karena ada pengaturan lalu lintas, maka harus memutar mengikuti arah lalu lintas terlebih dahulu, sampai bertemu kembali dengan RS Sari Asih Serang diujung awal perempatan tadi. Berbeloklah ke kiri di depan RS Sari Asih itu, ikuti jalan (yang agak paralel dengan jalan tol) dan ikuti rambu petunjuk Banten Lama. Setelah beberapa saat di sebuah pertigaan, berbeloklah ke kiri mengikuti petunjuk arah Banten Lama untuk masuk ke Jl. Ayip Usman. Ikuti jalan Ayip Usman tersebut hingga mentok dan berbeloklah ke kanan, memasuki Jalan Banten lama (atau dikenal dengan Jalan Kasemen) yang di beberapa tempat rusak. Setelah melewati penjual kayu-kayu glondongan, ikuti terus jalan ini (di Google Map ditandai dengan Jl. Samaun Bakri, Jl. Kalanggaran – Sukadana)

Setelah berkilo-kilometer, menjelang sebuah jembatan besi yang besar (dan jembatan lama ada di sebelah kirinya), di kiri jalan terlihat sudut reruntuhan Kraton Kaibon. Seberangi jembatan hingga bertemu pertigaan dengan Mesjid Al Munawaroh di kanan. Berbeloklah ke kiri (ikuti jalan yang agak bergelombang) hingga bertemu dengan kompleks reruntuhan Kraton Surosowan. Di pertigaan sebenarnya dilarang jalan terus, tetapi bila Anda akan mengunjungi museum, maka ambillah jalan yang lurus itu sekitar 300m Anda akan sampai di tempat tujuan Anda.

Untuk ke Benteng Speelwijk, Kerkhoff dan Vihara Avalokitesvara, dari Museum Anda harus kembali ke jalan utama dan berbelok ke kiriketika mentok di depan Mesjid Al Munawaroh tadi, ikuti jalan sampai bertemu dengan jembatan dan pelabuhan Karangantu yang merupakan tempat bersandarnya perahu-perahu (mirip pelabuhan Sunda Kelapa). Berbeloklah ke kiri sebelum jembatan, lalu menyusuri tepian sungai dan ikuti jalan sekitar 500m, hingga terlihat sisi luar Benteng Speelwijk. Disini, bisa terlihat Bekas Pemakaman Belanda (Kerkhof). Untuk mencapai pintu masuk Benteng, kelilingilah benteng terlebih dahulu dengan kendaraan Anda. Diujung jalan Anda akan menemukan Benteng Speelwijk di sebelah kanan dan Vihara Avalokitesvara di sebelah kiri.

Untuk mencapai Rumah Pecinan Kuno, kembalilah ke jalan utama tanpa berbalik arah ke pelabuhan, dan sekitar 100 – 200 meter kita akan menemui Rumah Pecinan Kuno yang tinggal satu-satunya, dan ikuti jalan sekitar 200meter lagi akan sampai pada Mesjid Pecinan Tinggi.

Dengan mengikuti jalan tersebut menuju Kramatwatu (Akses Tol Serang Barat), maka di kanan kiri jalan terlihat pemandangan sawah-sawah yang saat saya lewati sedang siap panen. Di kejauhan tampak kumpulan pepohonan yang melingkari Danau Tasikardi. Dan sekitar 200meter sebelum Danau Tasikardi itu, kita akan melihat Pengindelan Abang tepat di pinggir jalan.

Jika kita lanjutkan perjalanan, tak lama kemudian kita akan menyeberangi jalan tol merak yang ada di bawah jembatan dan setelah berbelok kekiri di persimpangan lampu lalu lintas, kita akan sampai ke akses tol untuk kembali ke Jakarta melalui Gerbang Serang Barat.

Dan… walaupun bisa dicapai dengan menggunakan bus umum, saya tidak melihat banyak angkutan umum untuk mencapai tempat-tempat wisata tersebut. Menurut saya, akan lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi.

Waktu Terbaik

Kawasan Banten Lama dapat dikunjungi sepanjang waktu, kecuali musim hujan. 2 Jam waktu yang diperlukan agar sampai ke Banten lama dari Jakarta dengan kendaraan pribadi melalui jalan tol. Tentunya agak lebih lama bila menggunakan kendaraan umum. Karena saya menyukai hal-hal yang berbau heritage, saya memerlukan waktu hingga 6 jam untuk menikmati sebagian besar obyek wisata yang ada di kawasan tersebut, termasuk makan siang dan foto-foto santai.

Pagi hari atau sore hari merupakan waktu terbaik untuk menikmati obyek-obyek wisata yang berada di tempat terbuka (seperti Kraton Surosowan, Kraton Kaibon, Benteng Speelwijk) mengingat terik matahari yang terasa membakar kulit.

Jika Anda termasuk orang yang menyukai wisata reliji (ziarah syiar Islam) maka waktu yang diperlukan untuk mengelilinginya akan lebih lama lagi, karena banyak sekali tempat-tempat yang berhubungan dengan ziarah ini. Hanya saja yang perlu diperhatikan pada saat perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW, kawasan Mesjid Agung Banten sangat penuh dikunjungi para peziarah, sehingga tidak nyaman untuk sekedar berwisata.

Ke Sangiran: Belajar Menghargai Harta Karun Kita


Hingga saat ini telah ditemukan tidak kurang dari 100 individu fosil Homo erectus di Sangiran. Jumlah ini mewakili lebih dari setengah populasi Homo erectus di dunia…

Dari hasil penelitian genetika, khususnya Mitochondiral DNA, diketahui bahwa seluruh umat manusia yang ada sekarang ini berasal dari seorang wanita yang pernah hidup sekitar 200.000 tahun yang lalu di Afrika Timur ….

sangiran_whsItulah kalimat-kalimat yang menarik perhatian di Museum Manusia Purba Sangiran, Solo, Jawa Tengah. Dan semakin dalam memasuki ruangan-ruangannya, saya seperti dibawa mesin waktu ke ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, menelusuri kehidupan luar biasa yang pernah ada saat itu di Jawa, di Indonesia, di negara kita. Dan bukti-bukti adanya kehidupan jutaan tahun lalu itu masih ada, menjadi harta karun tak ternilai bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Ada di sini, di Indonesia!

Mungkin sama dengan Anda, bagi saya, Sangiran merupakan kata yang hanya ada ketika masih duduk di bangku sekolah dalam ilmu geografi kependudukan dan sejarah, dan setelah itu tenggelam kalah dari berbagai prioritas kehidupan lain yang lebih penting. Dan baru-baru ini seorang kawan yang datang jauh-jauh dari Philippines hanya untuk mendatangi Sangiran yang menyebabkan saya mencari tahu lebih jauh tentang Sangiran. Katanya santai, Sangiran adalah UNESCO World Heritage Site yang mudah dicapai dari Jogjakarta. Dan rasanya saya tertampar keras dengan pernyataan santainya itu, karena sebagai orang yang sudah menganggap Jogjakarta sebagai rumah kedua, tidak pernah sekalipun saya berkunjung ke Sangiran. Sedangkan badan dunia UNESCO dan masyarakat internasional mengakui dan mengesahkan Sangiran di Indonesia telah memenuhi persyaratan sebagai salah satu situs warisan dunia. Dan saya, sebagai warga negara Indonesia, bahkan belum pernah menginjakkan kaki di sana! Dan karena itulah saya langsung merencanakan mengunjungi Museum Manusia Purba Sangiran.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sangiran, sekitar 17km di Utara Solo menuju Purwodadi, tepatnya di desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe. Untuk mencapainya cukup mudah. Bila berkendara dari Jogja atau Solo, ambil jalan besar ke Utara menuju Purwodadi dan berbelok ke kanan pada pertigaan Kalijambe. Tidak perlu takut tersesat karena di pertigaan jalan besar itu terdapat gapura berbentuk kolom-kolom batu bertuliskan Situs Sangiran. Dari pertigaan itu jalan terus sepanjang 3-4 km hingga sampai ke Museum Manusia Purba. Untuk kendaraan umum, terdapat bus dari Solo menuju Purwodadi dan berhenti di pertigaan Kalijambe dan dilanjutkan dengan menggunakan ojek untuk ke Museum.

Museum dibuka hari Selasa sampai dengan Minggu, pk.08:00 – 16:00. Tutup setiap hari Senin. Harga tiket masuk untuk wisatawan Indonesia Rp. 5.000,- atau Rp 11.500,- untuk wisatawan asing. Hanya sekitar US$1,- untuk masuk, termasuk sangat murah dibandingkan museum-museum serupa di beberapa negara. Pemutaran film bisa dilakukan dengan harga Rp. 60.000,- per rombongan. Tempat parkir luas bisa menampung bus dan mobil cukup banyak, tersedia juga warung makan dan kios-kios penjual cinderamata dan kaos berbagai ukuran dan motif. Hanya saja diperlukan kejelian mata dalam memilih kualitas cinderamata/kaos dan tentu saja ketrampilan menawar. Sayang sekali saya tidak bisa memastikan apakah museum ini bisa diakses oleh para disable mengingat banyaknya tangga.

Tidak seperti di tempat-tempat lain yang bergelar World Heritage Site yang memperlihatkan simbol UNESCO dan gelar yang diraih secara lebih menyolok, Museum Manusia Purba Sangiran hanya meletakkan tanda gelar internasional yang diraih itu pada sebuah pohon beringin besar yang ada di depan penjual cinderamata/kaos. Sayang sekali sebenarnya karena simbol itu merupakan pengakuan dari sebuah badan dunia dan dunia internasional terhadap apa yang ada di bumi Indonesia. Tidak mudah sebuah tempat mendapatkan gelar World Heritage Site karena harus lolos melewati kriteria-kriteria yang rumit dan sudah standar di seluruh dunia. UNESCO sendiri menetapkan Sangiran sebagai World Heritage Site no 593 pada 5 Desember 1996 dengan sebutan Sangiran Early Man Site

Museum Manusia Purba Sangiran memiliki 3 Ruang pamer: Kekayaan Sangiran, Langkah-Langkah Kemanusiaan, dan Masa Keemasan Homo Erectus – 500.000 tahun yang lalu. Ketiga ruang pamer itu memiliki kekuatan masing-masing walaupun tidak jarang hal yang sama berulang di tempat yang lainnya.

Setelah pemeriksaan tiket masuk, pengunjung diarahkan ke kiri menyusuri selasar berkolom banyak di sisi-sisinya, secara tak sadar kita sebenarnya sedang berjalan di atas lapisan vulaknis paling tua, hasil aktivitas erupsi gunung Lawu purba yang telah mengeras selama 1.8 juta tahun.

Memasuki ruang pertama: Kekayaan Sangiran, di dalamnya terdapat penjelasan mengenai evolusi manusia, koleksi fosil fauna yang dimiliki seperti buaya, herbivora bertanduk besar, kudanil purba, dan gajah purba serta binatang-binatang laut seperti penyu dan kerang-kerangan. Juga penggambaran mengenai kehidupan sehari-hari Homo erectus di Sangiran. Yang menarik di ruang ini juga ditampilkan temuan-temuan terbaru setahun terakhir ini berupa rahang bawah, tulang panggul dan tulang paha dari gajah purba yang diperkirakan hidup 250.000 – 730.000 tahun yang lalu!

Kemudian, di ruang di sebelahnya dijelaskan mengenai type Homo erectus yang ada di Indonesia. Bahwa dalam waktu 1.5 juta tahun terjadi 3 tahap evolusi Homo erectus di Jawa., dua tingkat diantaranya terjadi di Sangiran (type arkaik 1.5- 1 juta tahun yang lalu; dan type tipikal 0.9 – 0.3 juta tahun yang lalu). Tipe termuda yaitu type progressif terdapat di Blora, Sragen dan Ngawi. Tidak itu saja, di tempat yang sama dipamerkan pula teknik-teknik yang dimiliki Homo erectus seperti alat pemangkasan dan pembuatan alat batu. Yang menarik untuk pelajar yang masih anak-anak adalah teknik rekonstruksi terhadap POPO, seekor kudanil dari Bukuran yang memiliki 119 buah fossil yang dirangkai menjadi kesatuan fosil hewan yang utuh.

Dan bagi yang belum mengetahui teori manusia berasal dari kera secara dalam, mungkin perlu datang ke museum ini dan mencari informasi mengenai Kera dan Manusia di ruang pertama ini. Penjelasan yang disampaikan sangat menarik.

Ruang pamer kedua: Langkah-langkah Kemanusiaan, mengisahkan teori dari Big Bang hingga Sangiran tercipta termasuk pengungkapan orang-orang yang memiliki teori terkait dengan perkembangan evolusi manusia. Homo erectus bukanlah manusia yang pertama (sebelumnya sudah ada genus Homo habilis (genus manusia) yang hanya tinggal di Afrika). Namun Homo erectuslah merupakan manusia pertama yang menjelajah dunia, tidak hanya sabana dan hutan terbuka di daerah tropis, juga di daerah sub-tropis di Eropa dan Asia, termasuk beradaptasi pada lingkungan laut dan mengembangkan teknologi pelayaran yang paling primitif agar bisa menyeberangi pulau.

Di ruang ini pula kita bisa mengenal para pionir dari Museum Sangiran ini. Dan tidak kalah menariknya penjelasan dalam bentuk audio visual mengenai terbentuknya pulau-pulau di Indonesia dalam kerangka waktu jutaan tahun yang lalu.

Salah satu yang mengejutkan, Raden Saleh, yang kita kenal sebagai maestro seni lukis Indonesia yang terkenal, ternyata dikenal juga sebagai kolektor balung buto (fosil hewan purba dari Sangiran) sehingga dikenal pula oleh para ilmuwan Eropa saat itu, karena koleksinya yang cukup lengkap.

Yang seru juga di dalam ruang ini, Homo erectus dikabarkan melakukan kanibalisme karena temuan fosil biasanya tanpa wajah dan dasar tengkorak, atau ditemukan banyak fosil tengkorak tetapi tidak disertai dengan anggota tubuh lainnya. Benarkah demikian? Lagi-lagi penjelasan yang disampaikan sangat menarik. Untuk pastinya, datang saja ke Museum ini…

Dan satu lagi, Homo erectus alias Pithecantropus yang berawal dari Afrika, mampu menjelajah daerah sabana, Asia Barat, India hingga Asia Tenggara dan tinggal di Jawa sekitar sejuta tahun lalu. Dan semuanya musnah sekitar 100.000 tahun lalu, lalu jika kita bukan dari Homo erectus, lalu dari manakah manusia Indonesia yang ada sekarang ini? Ternyata, jawabannya seru juga…

Di ruangan ini pula juga bisa dilihat bagaimana sebuah fosil itu ditemukan dalam keadaan lengkap atau dalam keadaan terlipat dalam goa-goa abadi. Tidak dilarang untuk berfoto seperti seorang ahli arkeologi bersama fossilnya.

Dalam ruang ketiga – Jaman keemasan Homo erectus sekitar 500.000 tahun yang lalu, digambarkan dalam 3 dimensi tentang kehidupan sehari-hari Homo erectus dan lingkungannya yang berupa sabana yang luas sepanjang horison. Dengan demikian pengunjung bisa memiliki bayangan bagaimana Homo erectus hidup dalam jamannya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sekeluar Museum kita bisa menikmati tempat-tempat istirahat yang nyaman dan berangin, sambil berfoto dengan latar belakang gedung museum yang cukup menarik bentuknya.

Karena keterbatasan waktu saya tidak sempat melihat menara pandang yang berjarak tidak jauh dari Museum. Dari Menara Pandang ini bisa disaksikan betapa luas Kubah Sangiran (Sangiran Dome) yang merupakan area yang ditetapkan sebagai situs arkeologis Sangiran di Indonesia.

Saya sudah menjejakkan kaki di sana dan kagum akan kekayaan fosil yang ada untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, Masyarakat internasional dan badan dunia telah mengakui harta karun yang ada di Indonesia ini, lalu kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menghargainya dan memelihara kehebatannya? Yuk berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran!

Day 1 – Jelajah Busan Sampai Menyeret Kaki


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Busan adalah kota pertama di Korea Selatan yang saya jelajahi dalam solo-traveling kali ini dan waktunya hanya 1 hari! Sebenarnya banyak destinasi yang bisa dilihat di Busan, tetapi dengan keterbatasan waktu saya hanya mendapatkan sebagian kecil dari daftar saya. Mungkin sebagian besar sisanya buat lain waktu. Bukankah jadi ada alasan untuk datang lagi ke Korea Selatan? hehehe… Yang jelas, walaupun tidak banyak yang saya kunjungi di Busan, saya merasa sangat sehat karena kemana-mana harus jalan kaki yang buat ukuran saya adalah jaauuuuhh…!

Penginapan saya yang letaknya tidak jauh dari Busan Station membuat saya mudah kemana-mana dengan menggunakan Metro (subway). Sayang memang, karena sepanjang perjalanan tidak ada yang bisa dilihat kecuali kegelapan. Berlainan jika menggunakan bus, kita bisa melihat keindahan pemandangan sekitar. Tetapi masalahnya, saya tidak mempersiapkan diri menggunakan transportasi dengan bus. Karena berpengalaman tersesat di Jepang dengan bus dulu karena kebodohan saya sendiri, subway menjadi pilihan ternyaman dengan prioritas lebih tinggi karena sifatnya yang lebih pasti.

Sudah sekitar jam 10-an ketika saya meninggalkan penginapan untuk mulai menjelajah Busan. Tidak sampai 100meter saya sampai di stasion metro Busan Station (113, line 1 – orange) dan seorang penjaga membantu saya untuk berkenalan dengan mesin-mesin tiket karena mungkin dia kasihan melihat saya lama bengong di depan mesin tiket. Saya membeli 1 day trip pass karena saya mau keliling Busan sehari ini tanpa harus berpikir soal transportasi lagi. Tiket sehari unlimited ini hanya berbentuk secarik kertas kecil, tidak lebih besar dari jempol orang dewasa dan sama bentuknya dengan tiket point to point.

Kemudian saya turun ke arah kereta melalui… tangga! Seperti yang saya baca, subway di Korea Selatan dipenuhi dengan tangga. Mungkin mayoritas penduduk Korea adalah orang yang sehat jasmaninya dan mampu naik/turun melalui tangga. Bukan berarti tidak ada lift atau ekskalator untuk para lansia dan disable, tetapi akses yang paling terlihat dari gate tiket dan mungkin yang paling disarankan untuk digunakan adalah tangga. Dan kedalamannya tidak tanggung-tanggung, bisa sampai 3 lantai. Kalau turun mungkin masih no problem, tapi naik? apalagi kalo tersesat.. hehehe…

Seperti biasanya pada hari pertama ini, saya meluangkan waktu khusus untuk mempelajari peta metro Busan, yang menurut saya sangat ajaib, karena mampu membuat silap mata khususnya bagi orang yang suka teledor seperti saya. Bayangkan, stasion awal line 2 di Yangsan dan berakhir di Jangsan. Bagi saya, kedua nama stasion itu sama karena bacaannya mirip. Saya sempat terkecoh karenanya (waktu transfer kereta bayangin muka dodol saya ke kiri: Yangsan, ke Kanan: Jangsan.. Lhoo!)  Halaah! hanya beda 1 huruf : Y dan J !!!

Haeundae Beach

Destinasi pertama di Busan adalah menuju Haeundae Beach yang terkenal seantero Korea Selatan. Untuk itu dari Busan station (#113 line 1, orange) saya menuju Napo dan turun di Seomyeon untuk transfer ke line 2. Dari Seomyeon saya menuju Jangsan (Jangsan yaaa… bukan Yangsan! :-D) dan turun di Haeundae Station, exit 5. Dan lagi-lagi naik tangga untuk keluar ke permukaan bumi ya! Tetapi karena masih awal penjelajahan, masih semangat45.

Muncul di permukaan tanah dari Haeundae Station, udara sejuk musim gugur langsung menerpa. Tidak terlalu dingin, bisa dikatakan nyamanlah. Namun untuk mencapai pantai harus berjalan sekitar 10 menit. Tetapi stop sebentar! Karena kelihatannya orang Korea menghitung jarak dekat dalam hitungan menit-nya jalan kaki, hitung dulu kecepatan rata-rata orang berjalan. Jika kecepatannya 4 km/jam itu artinya jarak ke pantai sekitar 700meter. Di Indonesia, jarak segitu biasanya sudah tersedia ojek. Di Korea? Ya jalan kaki… dan itu termasuk dekat! Pantai dan suasananya sudah terlihat kok… (tapi kalau dipikir-pikir dari sini juga terlihat bulan kan??? mau jalan kaki juga? Hehehe…)

Jadilah saya berjalan kaki menuju pantai terkenal itu dan menjelang tengah hari bolong yang terik tapi anginnya cukup dingin, saya menginjak pantai putih Haeundae yang sangat landai. Benar-benar waktu yang tidak tepat untuk berkunjung ke pantai. Saya melihat jajaran gedung tinggi dengan hotel Novotel menjulang di tempat yang paling strategis. Hmm.. ditandai untuk nanti bersama keluarga… Di pantai tampak anak-anak TK sedang belajar dan bermain bersama guru-gurunya. Mereka bergoyang lucu mengikuti lagu Gangnam Style yang mendunia itu. Juga tampak orang-orang yang mengajak anjingnya berjalan-jalan. Selain itu tampak pula pesepeda yang menyusuri pedestrian khusus sepeda. Memang nyaman sekali menyusuri pantai dengan sepeda, walau waktunya salah sekalipun karena anginnya tetap membuat nyaman. Pantai Haeundae tidak terlalu banyak dikunjungi pengunjung saat itu, padahal jika musim panas tiba, pantai Haeundae sangat penuh pengunjung dengan payung-payung pantainya yang berwarna merah berjejer-jejer.

Saya berjalan perlahan menuju Dongbaek dengan menyusuri pantai melewati area Busan Aquarium yang dipenuhi pengunjung muda. Jika ada kesempatan di waktu mendatang, saya akan mengunjungi Busan Aquarium tapi kali ini belum dulu. Pantai Haeundae ditata apik. Beberapa spot terlihat menarik walaupun informasinya dalam tulisan Hangul sehingga saya tidak dapat mengerti maknanya. Tetapi tanpa perlu memahami artinya, saya bisa  menikmati dengan mata dan hati, semua terasa indah. Beberapa sisanya diberikan penjelasan bahasa Inggeris, seperti fenomena pulau Tsushima yang termasuk wilayah Jepang, kadang terlihat dari Haeundae, kadang tidak.. walaupun dalam keadaan cuaca yang jernih.Mau tau penjelasannya? Datang deh ke Haeundae Beach..

Patung Putri Duyung

Saya masih terus menyusuri pantai Haeundae sampai ke ujung, arah ke Dongbaek dan di atas sebuah karang, dibuatlah sebuah patung putri duyung. Kita bisa mencapainya dengan menyusuri jalan di balik hotel Westin ataupun dari arah Dongbaek melalui jalan setapak yang terbuat dari kayu. Konon, legenda mengisahkan bahwa Putri Hwanggok yang datang dari Kerajaan duyung Naranda, dinikahi oleh Raja Eunhye dari Mugung, sebuah kerajaan yang sangat terkenal. Setelah menikah dan menetap di Mugung, di saat-saat Putri Hwanggok sangat merindukan keluarga dan bangsanya di Naranda, ia hanya dapat melepas rindunya melalui pantulan bola emas saat bulan purnama tiba. Sedih yaa… wajah patung sang putri pun dibuat melow penuh kerinduan. Percaya ga sih, saya merasakan atmosfir rindu disitu… Bagaimana tidak, dalam posisi di atas patung putri duyung itu, sejauh mata memandang hanya ada lautan, dan memang bila kita sendiri disitu, hanya ada satu rasa, rindu sama orang-orang tercinta…. jiaaaahhh 🙂  

The Chamber

Saya kembali ke Haeundae sambil mulai terseok-seok pegal dan kepanasan sampai ke titik awal dekat Hotel Novotel. Di belakang hotel terdapat sebuah monumen seni yang dikenal dengan nama The Chamber karya Dennis Oppenheim (1938 – 2011), seorang seniman pelopor dalam seni konsep. Untuk menikmatinya, pengunjung the Chamber perlu masuk ke dalam monumen tersebut dan berjalan diantara ‘tembok’ yang dibuat menyerupai lembar kelopak bunga yang berlekuk. Dan merasakan bahwa dalam keleluasaan dan keterbukaan, tetap terdapat rasa restriksi dan pembatasan. Dari luar, pengunjung akan merasa terundang karena terlihat terbuka, namun begitu masuk di dalamnya, akan terasa terbatasi karena lekuk dari ‘tembok’ The Chamber. Ada makna yang sangat dalam. Ironisnya, Dennis Oppenheim meninggal sebulan sebelum monumen di Busan ini sempurna tersusun.

Haeundae Traditional Market

Saya meninggalkan pantai pelan-pelan dan menuju pasar tradisional. Tidak ada yang spesial di pasar ini kecuali keadaannya yang bersih dan teratur (dan semoga saja semua pasar di Indonesia bisa seperti ini). Tidak banyak pengunjung, mungkin karena sudah siang. Bisa jadi keadaannya berbeda jika kita datang pagi-pagi dimana banyak orang mengunjungi pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Awalnya saya berminat membeli makanan untuk langsung disantap, tetapi sepanjang kaki melangkah tidak ada satu pun yang kena di hati. Akhirnya saya kembali ke stasion Metro.

Busan Museum of Art

Meninggalkan pantai, dengan Metro saya menuju BMA (Busan Museum of Art) dan tentu saja pakai tangga dan tangga lagi 😥 Dan ketika hendak keluar ke permukaan tanah, saya sampai tidak mau melihat ke atas karena takut putus asa karena tingginya tangga, hehehe..  Akhirnya walaupun nafas satu-satu sampai juga ke permukaan tanah dan langsung duduk di taman untuk minum dahulu sambil meluruskan kaki yang mulai protes dan ngambek. Untung saja pemandangannya cantik. BMA ini terletak di seberang BEXCO dan sangat nyaman dinikmati saat sore, dimana karya-karya seni digelar di dalam dan di luar gedung. Bentuk tangan, cangkir, teko, dalam ukuran besar dan banyak lagi karya seni yang indah saling mengisi dunia seni Busan ditunjang dengan halamannya yang sedang ditumbuhi pohon-pohon berwarna hijau, kuning, oranye dan merah, warna-warna khas musim gugur. Udara sore makin memberi kenikmatan untuk melihat-lihat karya seni. Rasanya ingin terus berlama-lama di taman itu. Bentuk-bentuk arsitektur gedung yang ada di sekitar BMA juga sangat mendukung keindahan disain kota. Saya kagum. Untuk urusan disain, sepertinya Korea Selatan memang berada di level-level atas, paling tidak menurut pandangan rasa saya.

Shinsegae Mall @ Centum City

Waktu berjalan terus, saya harus melanjutkan perjalanan walaupun untuk melangkah sudah harus menyeret kaki. Dan sampailah saya ke pusat perbelanjaan terbesar di dunia yang terdaftar di World Guinness Book of World Record. Awalnya Shinsegae hanya merupakan pelopor pusat perbelanjaan di Korea, tetapi perkembangannya luar biasa. Memiliki jumlah item yang tak terhitung banyaknya, termasuk spa, tempat bermain seluncur es, golf driving range, multi-bioskop yang berada dalam satu atap juga terintegrasi dengan stasion Metro. Gedungnya sendiri memang luar biasa besar. Saya hanya sedikit mencoba menjelajah lantai-lantainya yang memang luar biasa besarnya. Sepertinya ekskalator tidak habis-habis bersambung, makin lama makin tinggi. Dasar saya tidak suka berbelanja, saya selalu beranggapan bahwa pusat perbelanjaan dimana-mana berkonsep sama: ada barang, diatur dengan baik dan ada yang membeli (tetapi bukan termasuk saya! hehe). Puas melihat-lihat, saya keluar meninggalkan pusat perbelanjaan itu. Dan malam pun datang menjelang, situasi di luar lebih menarik. The Golden time…

Saya mencari lokasi paling nyaman di sudut dan duduk menikmati situasi sambil (lagi-lagi) meluruskan kaki di bangku beton yang disediakan di dekat pedestrian lebar. Tidak ada orang di sekitar saya. Yang ada hanyalah pemandangan indah di depan mata saya. Malam menjelang datang, lampu-lampu penerangan sudah mulai dinyalakan, lampu kendaraan yang lewat menambah suasana sementara ranting-ranting berdaun kuning tampak keemasan diterpa lampu. Gedung-gedung bertabur lampu menjulang indah menjadi latar belakang pemandangan kota dalam menyambut malam di musim gugur.  Saya suka di tempat ini.

Gwangalli Beach & Gwangan Bridge

Malam pun datang, saya menyeret kaki lagi meninggalkan area Centum City dan Haeundae dan menuju Gwangan Station, exit 3 atau 5. Hanya untuk menuju pantai malam-malam! Lagi-lagi, salah waktu untuk berkunjung ke pantai. Jika tadi siang salah waktu ke Haeundae, sekarang waktu malam ke Gwangalli yang tentu saja tidak terlihat apa-apa kecuali ya satu itu… Gwangan Bridge yang terkenal. Saya memperhatikan jembatan panjang yang penuh lampu di tengah kegelapan malam. Indah memang walaupun tidak terlalu spesial. Di pinggir pantai banyak lampu-lampu menghiasi gedung. Saya jadi teringat akan gemerlapnya kota Macau yang penuh dengan kasino, walaupun belum seekstrim itu. Yang jelas, saya berhasil mengunjungi pantai Gwangalli walaupun kaki sudah seperti mau putus. Lagi-lagi Korea Selatan hanya menuliskan 10 menit jalan kaki menuju pantai dari stasion. Artinya, 20 menit untuk bolak balik. Cukup bikin mampus dengan kaki yang sudah protes berat minta istirahat total. Tambah lagi untuk ke pantai Gwangalli ini jalannya agak menurun dan tentu saja untuk kembalinya, harus nanjak! (Ampuuun… Saya kangen tukang ojek… 😀 )

Ayam Goreng Tanpa Tulang

Akhirnya saya menyerah, kaki benar-benar protes dan seharian ini perut belum terisi. Saya mengenal perut yang tidak bisa menerima makanan Korea ini. Pelan-pelan saya menyusuri jendela-jendela yang masih buka sekembali dari pantai. Begitu laparnya, saya langsung naik lift melihat ada tulisan latin Thai di lantai 3, yang saya kira restoran Thailand, namun ternyata hanyalah sebuah kantor travel yang gelap! Dodol lagi! Terpaksa turun dan merayap lagi pada jendela-jendela yang menawarkan makanan. Puji syukur masih ada restoran buka dengan menu bahasa Inggeris: ayam goreng tanpa tulang, sejenis chicken nugget, dengan side dish. Ketika order saya datang, porsi yang katanya kecil itu datang dengan ukuran untuk 4 orang! Saya terkejut dan memandang putus asa kepada waitress. Tetapi waitress dengan bahasa Inggeris yang cukup baik dan ramah mengatakan, bisa dibungkus kok! Alhasil makanan bungkus itu menjadi makanan saya terus selama dua hari ke depan! Hidup ayam goreng tanpa tulang!!!

Seokbulsa, Yonggungsa, Beomeosa Temples, Jagalchi, 40 Steps, Taejongdae Park yang terlewatkan…

Kembali dari Gwangan, badan ini sudah menyerah total, yang paling buruk telah saya lakukan, berjalan tidak lagi melangkah tetapi menyeret-nyeret kaki. Sebenarnya kali ini tidak separah ketika jalan di Hong Kong atau Shenzhen, tetapi entah kenapa rasanya lelah sekali. Walaupun perut sudah terisi, beberapa kali mata dan otak sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Gawat… Sepertinya badan sudah mau ‘demo’ anti-jalan, tidak bisa tidak, saya harus memutuskan kembali ke penginapan. Saya tahu masih banyak destinasi yang belum dikunjungi, Seokbulsa, Yonggungsa, Beomeosa temples, Jagalchi market, Taejongdae Park, Seomyeon area dan 40 Steps yang saya simpan untuk dikunjungi lain waktu. Kali ini, Busan, cukuplah sampai di sini dulu, karena besok saya harus meninggalkan Busan dan pergi ke kota lain…

Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 2)


Belum baca cerita bagian pertamanya? Baca dulu…

Masih di lantai basement yang sama, ada ruangan yang diubah atmosfirnya menjadi Batavia Tempo Doeloe, lengkap dengan Rel dan gambar Trem, Sepeda Onthel, kayu-kayu peninggalan benteng yang ditemukan saat renovasi gedung, lampu-lampu yang digunakan dan lain-lain. Juga diperlihatkan Replika Jam Utama yang dahulu berada di depan gedung ini. Saat ini Jam Utama sudah tidak ada, digantikan dengan bundaran untuk akses udara pada terowongan bawah tanah antara Stasiun Kota/Beos, Museum dan Halte TransJakarta. Bahkan sebagian dari rel trem asli diperlihatkan di bagian ini. Menurut cerita, rel trem ini tidak pernah dibongkar dan masih ada di tempat aslinya berada hingga kini, namun telah tertutup aspal jalan.

Tidak berhenti di situ, rasa atmosfir Tempo Doeloe masih bisa dinikmati dengan menggunakan lift yang interior lapisan kayunya masih tetap orisinal namun mesinnya telah dimodernisasi. Suasana dalam lift cukup mendukung atmosfir tempo doeloe.

Di lantai 2, yang langsung terlihat adalah keindahan Kaca Patri yang terpampang langsung di depan tangga Utama, tepat di hadapan Ruang Rapat Pimpinan. Motif stained glass ini luar biasa indahnya, dengan motif tentang keindahan Negeri Belanda dengan empat musimnya, yang masing-masing musim diwakili kisahnya dengan sepotong kaca patri.

Lanjutkan membaca “Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 2)”

Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 1)


Ternyata masih banyak tujuan wisata yang menarik dan murah meriah untuk mengisi liburan akhir pekan di seputaran Jakarta selain jalan-jalan ke Mal. Salah satunya adalah Museum Bank Mandiri yang terletak di kawasan kota tua Jakarta, tepatnya di jl. Lapangan Stasiun No 1, di seberang stasiun kereta api Kota (Beos).

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk sampai ke museum ini. Pengguna angkutan umum dengan moda KRL/Commuter Line bisa berhenti di stasiun kereta api Kota/Beos. Lalu keluar melalui pintu kiri, menyusuri trotoar dan turun ke terowongan bawah tanah. Ikuti petunjuk arah Museum Bank Mandiri. Bagi pengguna bus TransJakarta (Bus Way) caranya tidak jauh berbeda. Turun di tujuan akhir Kota (Beos), lalu turun ke terowongan bawah tanah dan ikuti arah ke Museum ini. Bagi pengguna kendaraan pribadi, kendaraan dapat diparkir di halaman Museum, walaupun sangat terbatas tempatnya. Seputaran museum ini dikenal sebagai tempat yang padat lalu lintasnya, sehingga selain diperlukan pemahaman arah dan orientasi jalan, perlu juga kesabaran menghadapi kemacetan lalu lintas.

Menurut sejarah, pada awalnya gedung ini merupakan gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorij Batavia, sebuah perusahaan dagang milik Belanda, yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. Dibangun pada tahun 1929 dengan rancangan arsitek Belanda JJJ de Bruyn, A P Smits dan C van de Linde. Dibuka secara resmi pada tanggal 14 Januari 1933 oleh CJ Karel Van Aalst, Presiden NHM saat itu. Tahun 1960, NHM dinasionalisasi menjadi Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) urusan Ekspor Impor yang kemudian pada tahun 1968 berganti nama menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim). Tahun 1999 Bank Exim, BDN, BBD dan Bapindo dimerger menjadi Bank Mandiri.

Museum ini buka hari Selasa hingga Minggu, 09.00-16.00, Hari Senin/Libur Nasional tutup. Tiket masuk Lanjutkan membaca “Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 1)”