Kebaikan Hati Itu Tak Pernah Ragu


A kind heart is a fountain of gladness, making everything in its vicinity freshen into smiles

(Washington Irving)

Sudah kesekian kali kami sekeluarga kembali ke hotel itu, baik ketika mudik maupun sekedar libur biasa. Memang bisa dibilang menguras kantong setiap menginap di sana, tetapi sikap santun dan kebaikan hati para pegawainya yang luar biasa membuat kami, terutama saya, terpesona dan jatuh hati untuk selalu kembali ke sana. Tidak hanya para pegawai yang berhubungan langsung dengan tamu, melainkan mereka yang berada di semua level, termasuk dari tingkat yang umumnya tak terlihat oleh tamu hotel.

Sejak pertama kali menginap di sana hingga kemarin ketika mudik, kualitas layanan para pegawainya tak berubah bahkan pada saat-saat ‘genting’ sekalipun. Seperti pada saat Hari Raya, ketika tingkat penghunian kamar hotel berada di level sangat tinggi dan situasi ‘genting’ pelayanan laksana ujian terjadi ketika sarapan pagi. Hampir semua tamu secara bersamaan, -terutama setelah selesai shalat Ied-, datang tumplek blek di restoran, menuntut hak perut mereka, dan termasuk saya. 😀 Sambil meminta maaf, tamu-tamu yang belum mendapatkan meja diarahkan ke meja-meja sementara di halaman luar yang didekorasi dengan cantik dekat kolam renang. Senyum mereka tak pernah lepas dari wajah. Tulus, tidak dibuat-buat hanya demi kenyamanan tamu.

Ketulusan dan kebaikan hati ini mengingatkan saya sebuah momen beberapa tahun sebelumnya, ketika saya ‘tertangkap’ oleh salah seorang dari mereka sedang dalam posisi memotret landscape luar yang cantik dari jendela lorong. Meskipun tak ingin mengganggu ‘kesibukan’ saya, dengan santun ia mengucapkan salam dan menunggu sejenak hingga saya selesai. Kemudian…

“Karena kelihatannya Ibu suka memotret, apakah Ibu sudah ke lantai Panorama?”

“Apa itu, Mas?”

“Tempat teratas sehingga Ibu bisa memotret 360 derajat pemandangan dari atas, tanpa halangan.”

“Sungguhkah?” Saya terbelalak karena tidak menyangka mendapatkan informasi singkat yang berguna.

“Jika sekarang Ibu sedang luang, saya bisa mengantarkan”

“Wah, tentu saja saya bisa, terima kasih banyak mas”

Bersamanya kami naik lift ke lantai teratas tempat orang-orang prioritas menginap lalu melalui naik tangga satu lantai sehingga kami sampai di rooftop. Saya terpukau dengan keberadaan tempat terbuka yang juga ditata manis dengan berbagai tumbuhan bunga.

Merapi berselimut awan dengan latar bougainville

Rasa terima kasih saya kepadanya sepertinya tak cukup, karena ia telah membagikan informasi yang sama sekali tak saya duga. Ia bisa saja berdiam diri melihat saya sedang memotret di lorong, atau ia bisa saja hanya menyapa lalu memberi salam untuk saya pagi itu. Itu sudah cukup dalam penyelesaian tugasnya terhadap tamu. Namun dengan kebaikan hati dan kesantunan, ia mengutamakan kepuasan tamu tanpa ragu. Sebagai sesama pemegang status sebagai pegawai perusahaan, belum tentu saya berada dalam nilai profesionalisme yang sama, dibandingkan dengannya.

Dan sejak itu, setiap menginap di sana, saya selalu menyempatkan diri ke lantai Panorama itu. Kadang hanya melihat-lihat pemandangan sekitar atau bisa juga memotret pemandangan yang sama. Berada di sana, rasanya saya selalu teringat akan kebaikan hati yang tercetus begitu saja, tanpa sebuah keraguan dan hal itu membuat saya tersenyum sendiri. Namun sayangnya, di sana saya belum pernah mendapatkan foto pemandangan Gunung Merapi yang jelas, karena lebih sering ia bersaput kabut, malu-malu bersembunyi di balik awan. Ah sepertinya Gunung Merapi mau bergaya laksana Gunung Fuji di Jepang, hanya orang-orang beruntung yang bisa menyaksikannya dengan jelas.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-22 ini bertema Unexpected Information agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

WPC – Forces of Nature : A Decade Volcano


When we’re asked to submit about Forces of Nature as the theme of Weekly Photo Challenge, I decided to share old pictures of my visit to an affected area of Mt. Merapi two months after a large eruption.

The affected area of Mt Merapi
The affected area of Mt Merapi

We were able to see the trails of pyroclastic flows that burned everything on its way and left it with ashes. Even the huge sand barriers were totally damaged.

The Damaged Sand Barriers of Mt Merapi
The Damaged Sand Barriers of Mt Merapi

But nature always finds a way. Among the dried environment which was full of ashes, I saw fresh greeny growing leaves were bloomed on top of dried brownish one. A beginning. A new Hope!

A New Hope, a beginning after the eruption
A New Hope, a beginning after the eruption

And last year, on my way to Solo from Jogjakarta, I took a picture of Mt. Merapi from the South-East direction. I was amazed to view of Mt. Merapi’s peak. The beautiful peak looked partially collapsed apart, because of its continuous activities of large explosions and pyroclastic flows.

Forces of Nature - Mt. Merapi
Forces of Nature – Mt. Merapi

Mt. Merapi, 2930 m or 9610 ft height, around 28 kms north of Jogjakarta, has been designated as one of the 17 decade volcanoes in the world because of the destructive eruptions and proximity to populated areas.

The current peak of Mt. Merapi
The current peak of Mt. Merapi