Nepal – Jalan-Jalan di Pokhara, The Lakeside City


Sepertinya belum rela melepas pemandangan indah di Raniban Retreat sejak pagi, tetapi Ganga, –tour guide ‘dadakan’ yang juga manajer hotel merangkap kawan baru-, setengah memaksa saya untuk melakukan trekking sangat singkat ke World Peace Pagoda lalu berkeliling kota Pokhara sambil mengunjungi tempat-tempat menarik. Baru kali ini rasanya saya setengah hati pergi menjelajah sebuah kota yang belum dikenal karena, lagi-lagi jelas alasannya, saya tak ingin meninggalkan pemandangan gunung Macchapuchhare atau sering dikenal dengan Fish Tail dalam bahasa Nepal dan pemandangan puncak-puncak Annapurna yang mempesona. Ganga tertawa lebar mengetahui alasan saya, dia katakan bahwa gunung-gunung itu masih berada di tempatnya semula setelah kita kembali. Saya setengah mendelik kepadanya 🙂 Tentu saja dia bisa bilang begitu karena dia sudah bertahun-tahun tinggal di tempat indah ini, tetapi tidak bagi saya yang baru sehari semalam dibuat terpukau. Namun bagaimanapun Ganga telah berupaya banyak, mengatur ini dan itu, lagipula mau tak mau saya harus mulai melepas keterikatan dengan pemandangan mempesona puncak-puncak gunung berselimut salju itu.

Annapurna Range with Mt. Macchapuchhre (Fish Tail) (center)
Annapurna Range with Mt. Macchapuchhre (Fish Tail) (center)

Shanti Stupa (World Peace Pagoda)

Shanti Stupa –yang artinya Perdamaian dalam bahasa Sanskrit- berada di puncak bukit Ananda, 1100mdpl di wilayah Kaski yang menjadi bagian dari kota Pokhara. Karena lokasinya yang lebih rendah dari Raniban Hill tempat hotel Raniban Retreat berada, maka saya menyanggupi ajakan Ganga untuk melakukan trekking sangat singkat yang kurang dari 1 jam ke Shanti Stupa. Karena katanya kalau di Nepal belum melakukan trekking, namanya bukan ke Nepal! Saya juga bersedia trekking singkat, bukan trekking yang serius karena saya hanya membawa satu-satunya sepatu yang kini dipakai, sepasang flat shoes yang ditertawakan oleh si tour-guide ‘dadakan’ itu karena katanya sungguh tidak tepat untuk trekking menembus alam. Ya iyalaaah….

Dan tentu saja yang namanya trekking itu jarang sekali hanya jalan datar saja. Setelah jalan menurun yang nyaman menembus hutan dengan melompati satu dua pohon yang tumbang, saya mulai menapaki jalan mendaki yang cukup membuat keringat keluar apalagi saat itu harus memutar lebih jauh karena longsor di beberapa tempat. Saya benar-benar mengangkat topi untuk stamina para trekkers dan pendaki gunung 😀

Ketika akhirnya bisa menjejak di area Shanti Stupa, saya dibuat kagum dengan ukurannya yang sangat besar. Tingginya saja mencapai 35 meter. Monumen dunia yang memiliki relics Buddha didasarnya namun memiliki latar belakang penuh drama sejak pendirian di tahun 1973 ini, akhirnya diresmikan di tahun 1992 dan kini menjadi salah satu spot turis terkenal di Pokhara, apalagi berlatar pegunungan Himalaya yang puncak-puncaknya berselimut salju. Di keempat arah mata angin, stupa dua tingkat ini berhiaskan empat patung Buddha yang didonasikan dari Jepang, Sri Lanka, Thailand dan Nepal yang menggambarkan periode-periode penting dalam kehidupan Buddha, sejak kelahiran, mendapatkan pencerahan, pengajaran pertama dan kepergiannya ke Nirwana. Berada di sini yang hening penuh damai, saya teringat ketika pagi tadi Shanti Stupa diselimuti kabut yang tentu saja sangat luar biasa bila mengalaminya sendiri di tempat ini. Pasti amazing. Sayang sekali dari tempat saya berdiri tak nampak pemandangan pegunungan bersalju itu, lagi-lagi tampaknya mereka sedang sembunyi di balik awan.

Shanti Stupa - World Peace Pagoda, Pokhara
Shanti Stupa – World Peace Pagoda, Pokhara
Buddha Images at Shanti Stupa, Pokhara
Buddha Images at Shanti Stupa, Pokhara – Birth – Enlightenment – First Sermon – Parinirvana

Gua Gupteshwor Mahadev

Kemudian dengan menggunakan taxi hotel yang telah menunggu di halaman parkir Shanti Stupa, Ganga dan saya melanjutkan perjalanan ke gua Gupteshwor Mahadev yang konon merupakan gua terpanjang di Nepal. Tak lama kemudian taksi berhenti di tempat seperti pasar. Sebelum saya sempat bertanya, Ganga telah menjelaskan bahwa jalan menuju Gua Gupteshwor Mahadev memang melalui kios-kios.

Setelah membeli tiket seharga 100NPR, saya melintas gerbang masuk. Sesuai namanya Gua Gupteshwor Mahadev -yang berarti Dewa yang bersembunyi-, letaknya berada di bawah permukaan tanah, sehingga kami perlu menuruni tangga semen yang melingkar berhias berbagai pahatan dewa-dewi sepanjang dinding yang masih dalam tahap penyelesaian. Udara lembab langsung menerpa hidung saat memasuki mulut gua. Dan saya harus melangkah hati-hati karena selain penerangan yang seadanya, saya bisa terpeleset karena licin.

Di tempat yang agak datar dan terbuka, selain terlihat cukup banyak stalagmit yang dipercaya sebagai Lingga Shiva, ada sebuah tempat puja yang mendapat banyak kunjungan dari orang yang hendak menghaturkan sembah dan puja-puji. Ganga memberi tanda bahwa yang berlama-lama di tempat ini hanya yang mau beribadah sehingga saya kembali mengikutinya untuk melanjutkan perjalanan.

Di ujung sebuah lorong sempit yang mengharuskan jalan bergantian, kami memberi waktu kepada seorang perempuan tua bersari merah berjalan tertatih-tatih sambil mendaraskan puji-pujian kepada Dewa. Saya tersadarkan, tempat saya berdiri dan berjalan dipercaya sebagai tempat suci, tak heran bila banyak orang datang kesini untuk beribadah. Bukan seperti saya, yang berkunjung untuk melihat-lihat.

Kami masih terus berjalan dengan hati-hati hingga beberapa menit kemudian Ganga tiba-tiba berhenti. Berada tepat di belakangnya, saya langsung memahami mengapa dia berhenti. Pasti dia ingin menunjukkan udara pengap gua yang tiba-tiba berubah menjadi angin sejuk sehingga tubuh terasa segar dan nyaman. Pikiran saya langsung bekerja, pasti ada lubang udara di sekitar sini. Ketika saya bertanya padanya, ia tidak menjawab melainkan mengajak terus berjalan menuruni tangga hingga ke sebuah titik yang letaknya dekat sekali di atas aliran air.

Water From Davis Fall to Gupteshwor Mahadev Cave
Water From Davis Fall to Gupteshwor Mahadev Cave

Saya terpana, ada aliran air di bawah permukaan tanah. Dan berjarak sekitar 30 meter dari tempat saya berdiri terlihat celah karang yang memperlihatkan terangnya situasi di luar disertai suara gemuruh air. Sambil menunjuk celah karang tersebut dan mencoba mengalahkan suara gemuruh, Ganga mengatakan bahwa air dan suara itu berasal dari Davis Falls. Saya hanya mengangguk membayangkan air terjun di luar sana. Tak hanya itu, Ganga pun menunjuk air yang ada di sekitar kami. Tidak seperti umumnya air yang membentuk sebuah aliran. Di sekitar kami hanya ada permukaan air tanpa arah aliran, seperti hanya berputar-putar. Ganga tersenyum lebar menunjukkan ‘keajaiban’ itu walaupun secara ilmiah saya tahu pasti ada banyak celah sempit di antara batu-batu karang di bawah tempat saya berdiri yang mengalirkan air. Alam bekerja dengan sangat teratur kan?

Davis Falls (Devi’s Falls)

Bermodal tiket masuk seharga 20NPR, setelah dari gua Gupteshwor Mahadev saya masih membayangkan air terjun yang akan saya lihat itu seperti air terjun di Tawangmangu atau Sipiso-piso yang tinggi sehingga ketika sampai di Davis Falls saya hanya bisa tersenyum menyadari imajinasi di benak hancur berkeping-keping. Tetapi bagaimanapun tak pernah ada kunjungan yang membuat saya menyesal.

Davis Falls punya cerita sedih di balik namanya. Orang Nepal sendiri menyebutnya Patale Chhango, yang artinya air terjun di bawah tanah. Tetapi tempat ini lebih dikenal dengan Davis Falls, karena sebenarnya di tahun 1961 seorang turis perempuan Swiss bernama Davis tenggelam di tempat aliran air terjun yang memiliki beberaa jeram ini dan jasadnya ditemukan di sungai Phusre 3 hari kemudian. Kejadian itulah membuat air terjun yang berjeram ini dinamakan Davis Falls.

Davis Falls, Pokhara
Davis Falls, Pokhara

Entah karena cara pengucapannya atau hal lain, penamaan air terjun ini berkembang menjadi Devi’s Falls, air terjun Dewi, yang memang setelah jatuh airnya menghilang ke bawah tanah setelah melalui celah karang yang dapat dilihat dari gua Gupteshwor Mahadev, yang memang letaknya hanya berseberangan jalan dari Davis Falls. Mau disebut Davis Falls atau Devi’s Falls atau aslinya Patale Chhango, bukankah masing-masing memiliki cerita sendiri-sendiri?

Saat saya berkunjung, bunyi air di jeramnya cukup keras, tak heran jika saat musim hujan dengan volume air yang melimpah, konon bunyi air di jeramnya sangat memekakkan telinga.

Davis Falls, Pokhara
Davis Falls, Pokhara

Danau Phewa / Fewa

Tentu saja Ganga mengajak saya naik perahu di Danau Phewa, danau kedua terbesar di Nepal setelah Danau Rara yang berada di Barat Laut Nepal. Berperahu di Danau Phewa ini memang merupakan kegiatan yang direkomendasikan untuk turis karena memang pemandangannya indah dan sangat menentramkan. Suasananya tenang dengan sekali-sekali dayung meriakkan air permukaan danau. Dengan hanya 50NPR saya bisa menyeberang ke pulau di tengah danau dengan menggunakan doonga atau perahu yang dicat dengan warna menyolok, sangat kontras dengan hijaunya air danau dan langit biru serta awan putih yang berarak. Sayang sekali pegunungan berpuncak salju itu lagi-lagi sedang bersembunyi. Saya membayangkan, air danau yang tenang itu tentu bisa menjadi cermin pemandangan yang luar biasa.

The Doongas, Colorful boats at Phewa Lake
The Doongas, Colorful boats at Phewa Lake

Dari perahu yang bergerak pelan, Ganga menunjuk hotel kami dan juga Shanti Stupa yang berada jauh di atas puncak bukit. Saya terbelalak juga, membayangkan orang-orang yang melakukan trekking kesitu. Lumayan juga tingginya…

Phewa Lake, Pokhara - Can you find Shanti Stupa on top of the hill?
Phewa Lake, Pokhara – Can you find Shanti Stupa on top of the hill?

Varahi Temple

Kuil bertingkat dua yang didedikasikan untuk Vishnu itu berada di sebuah pulau kecil di tengah Danau Phewa dan menjadi tujuan kami berperahu. Kuil yang didirikan pada abad-18 ini menjadi kuil utama Pokhara. Ketika kami sampai, terlihat banyak orang mengunjungi kuil ini untuk beribadah sehingga saya menunggu beberapa saat dari pinggir ditemani oleh burung-burung merpati yang jinak. Saya jadi teringat di seluruh Durbar Square yang ada di Kathmandu yang selalu dipenuhi dengan burung merpati. Selain burung merpati, Ganga juga mengajak saya melihat ke pinggir pulau tempat ikan-ikan memperebutkan makanan yang diberikan pengunjung. Saya menghargai usahanya, tetapi –mungkin karena panggilan perut-, melihat ikan-ikan itu saya justru teringat saat makan di saung dengan mulut-mulut ikan mas dan gurame yang menganga dan menutup sehingga berbunyi plop-plop-plop… (dan di benak langsung terbayang gurame bakar madu…)

Varahi Temple, Phewa Lake, Pokhara
Varahi Temple, Phewa Lake, Pokhara

*

Jelang sore, setelah menikmati makan siang Dal Bhat di sebuah restoran tepi sungai, saya meninggalkan Pokhara kembali ke hotel di wilayah hutan Raniban. Kembali saya kehabisan nafas menapaki 500 anak tangga sambil berharap pegunungan berpuncak salju itu tak malu lagi memperlihatkan pesonanya…

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal

Nepal – Merasakan Rehat di Surga Bumi


This is the place where time stands still… (itu istilah saya tentang hotel tempat saya menginap di Pokhara)

Taksi mungil itu berhenti tepat di bawah tangga natural. Pemandangan sekitar menakjubkan, tetapi tak ada manusia lain selain sang pengemudi taksi dan saya. Lalu dimana hotelnya? Belum sempat bertanya, Bapak tua pengemudi taksi telah menghubungi hotel dan dalam waktu singkat seseorang berperawakan tinggi turun tergopoh-gopoh dari atas, sepertinya petugas hotel. Dengan cekatan ia mengambil ransel lalu meletakkan di punggungnya lalu mempersilahkan saya jalan duluan.

Wait….! Seperti yang tertulis di situs web Raniban Retreat, semua tamu harus menapaki 500 anak tangga untuk sampai ke hotel.

500! *langsungpingsan

Kalau saja kolega di kantor tidak merekomendasikan tempat ini, kalau saja review hotelnya biasa-biasa saja, mungkin saya akan langsung pindah ke hotel lain di tepi danau Phewa di Pokhara. Jumlah 500 anak tangga itu kalau dikonversi normal laksana naik tangga ke lantai 25!

Ah, betapa saat ini saya sangat merindukan ekskalator! Atau tandu 😀

Tapi apapun yang terjadi, saya sudah berdiri disini. Pilihannya hanya satu: Terus, yang artinya naik, karena pilihan kedua untuk balik arah lalu menyesal, bertentangan dengan makna perjalanan saya hingga hari ini.

Bahkan setelah berlimpah anugerah selama ini, sekarang inipun saya masih diberikan sebuah anugerah lain dalam bentuk tantangan. Menaklukkan kemalasan bergerak. Dan kesempatan ini hadir sekarang di depan mata. Bukankah sebuah perubahan dimulai dari sebuah langkah kecil? Dan bukankah kita tak perlu melihat keseluruhan tangga untuk mewujudkan keinginan kita? *halah..

Saya mulai melangkah, menapaki anak tangga satu per satu dan tentu saja dalam waktu singkat rasanya sudah kehabisan nafas. Saya mengomel dalam hati merasa kebiasaan naik tangga enam lantai di kantor pun masih belum cukup, walaupun lebih baik daripada tidak sama sekali. Minimal setiap seratusan anak tangga saya bisa rehat sejenak mengumpulkan tenaga. Setahap demi setahap. Tak perlu memaksakan diri, daripada pingsan seperti dulu di tangga Bromo atau di tangga menara masjid Banten hanya gegara sok kuat 😀

Tapi Bapak setengah baya itu amatlah sabar menemani saya. Dia hanya tersenyum penuh pengertian ketika untuk kesekian kalinya saya meminta waktu untuk rehat di dekat sebuah tempat pemujaan. Bisa jadi ia telah menemani begitu banyak tamu yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk menapaki 500 anak tangga itu. Bisa jadi banyak yang memiliki stamina bagus dan juga tidak sedikit yang lamban laksana kura-kura seperti saya. Hebatnya, tak sekalipun ia mau mendahului tamunya.

Ia hanya merekomendasi untuk sesekali melihat ke belakang. Dan saya berbalik…

p1010627
Phewa Lake and City of Pokhara
p1010630
Half way up to the Hotel with World Peace Pagoda and City of Pokhara on the background

Dan pemandangan itu memang menakjubkan, kota Pokhara di tepi danau Phewa terhampar di hadapan.

Ketika tenaga sudah kembali, saya lanjut menapaki tangga hingga gerbang hotel terlihat. Ah, masih 100 anak tangga lagi! Merasa tinggal tahapan terakhir, saya melanjutkan langkah dengan nafas yang tinggal Senin-Kamis dan… akhirnya 500 anak tangga itu berhasil saya lampaui. Horeee…!

Di lobby, saya tidak langsung menuju konter untuk check-in karena masih berupaya memasukkan lebih banyak oksigen ke paru-paru agar bisa ‘hidup’ secara normal lagi. Tetapi karena tidak ada tamu lain, petugas di balik konter itu dengan ramah bertanya untuk proses check-in. Bagaimana mungkin orang yang kehabisan nafas bisa menjawab pertanyaan sederhana? Kecuali menjawabnya dengan bahasa tangan…

…Hah… Sebentar… Hah… Tunggu … Hah… 1 menit… Hah… *megap-megap

Mereka semua tersenyum lebar, memahami. Mungkin terbiasa menghadapi tamu yang kehabisan nafas di area lobby. Mereka menunggu dengan sabar sampai saya bisa ‘normal’ kembali untuk check-in lalu mengantar ke kamar saya. Kamar berpintu kaca lebar dengan pemandangan langsung kota Pokhara di tepi Danau Phewa di bawah dan pegunungan Himalaya berpuncak salju dengan Macchapuchhre (Fish Tail) didepan mata, berhiaskan taman bunga di depan kamar. SubhanAllah… Inilah yang disebut Heaven on earth!

img_0791
Phewa Lake and the City of Pokhara – view from the small garden in front of my room

Tak menunggu lama, saya menyalakan musik di ponsel dan ikut menggoyangkan badan menyaksikan pemandangan di depan mata ini.

… I’m on Your magical mystery ride

And I’m so dizzy, don’t know what hit me, but I’ll be alright…

Dengan pemandangan seperti ini, rasanya naik lebih dari 500 anak tangga pun tidak akan menyesal.

img_1014
Annapurna and Machhapuchhre (Fish Tail) on the center – view from the garden in front of my room

Di taman depan kamar berhias bunga-bunga kuning, saya duduk diam, do nothing, menikmati rehat dipeluk keindahan alam. Melupakan sebuah kota yang baru didatangi tapi tak kunjung dijelajahi. Saya berada di surga bumi karena indahnya tak berakhir, seakan waktu membeku, turut menjadi saksi keagungan Ilahi. Bahkan setelah beberapa waktu pun saya masih di tempat yang sama sampai seorang perempuan dari hotel datang membuyarkan rasa sambil menyatakan kesiapannya memberi layanan spa.

img_0797
Phewa Lake and the City of Pokhara – a night view from the hotel

Bagi saya, memanjakan diri di tempat yang indah merupakan sebuah proses recharge yang luar biasa. Lagi-lagi saya hanya mengikuti hati, apa yang terjadi di hadapan itulah yang saya terima dengan senang. Bisa jadi kali ini Dia meminta saya untuk diam beristirahat dan menyaksikan…

You wanna make a memory
You wanna steal a piece of time
You can sing the melody to me
And I can write a couple of lines

Tidak hanya itu, Ganga, -manajer hotel-, bahkan menjadi teman ngobrol yang asik untuk menghabiskan waktu di Raniban Retreat, dengan berbagai topik pembicaraan yang menarik dari kebun organik, pengobatan gratis hingga pemanfaatan energi surya untuk listrik hotel. Dengan semangat ia menceritakan hotel unik yang eco-friendly ini hingga bisa memberdayakan masyarakat lokal yang bermukim tak jauh dari hotel bahkan tamu-tamu hotel bisa diajak melihat langsung kehidupan mereka.

Dan keinginan kecil saya keluar dengan sendirinya. Sebenarnya saya hanya memesan semalam di Raniban Retreat dan keesokan harinya saya akan pindah ke Sarangkot untuk mendapatkan mountain view lebih dekat. Tetapi merasakan sendiri kesenyapan yang ada di Raniban Retreat yang sangat saya, akhirnya saya memutuskan untuk memperpanjang sehari lagi di Raniban Retreat ini. Bahkan Ganga memberikan diskon besar untuk itu 😀

Walaupun udara dingin menyelimuti pagi itu, saya tetap menanti sunrise di taman bunga di depan kamar saya di Raniban. Rasanya tak mampu mengungkapkan keindahan alam yang ada di hadapan, dada terasa sesak ditambah airmata yang mengaburkan pandang. Tak henti rasanya mengucap syukur kepada Pemilik Semesta yang telah memberikan kesempatan menjadi saksi keindahan alam.

img_0811
The first silhoutte of Annapurna Range, Mt. Macchapuchhre (Fish Tail)
img_0816e
The first sunlight over the peaks of Annapurna Range on a misty morning
img_0984
Annapurna Range with Mt. Macchapuchhre (Fish Tail)

Himalaya berbaris dengan cantiknya di atas lautan gerombolan awan putih yang pekat menggantung menutupi Danau Phewa dan kota Pokhara. Puncak-puncak gunung Annapurna dan Macchapuchhre yang tingginya sekitar 7000-an meter dan tertutup salju abadi itu perlahan-lahan tampak bersinar terkena matahari pagi. Di hadapan mata ini ada doa yang terkabulkan karena Himalaya menampakkan diri di balik sifat pemalunya. Kesenyapan pagi menambah magisnya suasana. Burung-burung pagi terbang memperkuat lukisan pagi.

Di arah timur, Sang Surya perlahan naik dengan gagahnya, menyapu lembut lapisan-lapisan awan yang bergerak menyelimuti bukit dengan World Peace Pagoda di puncaknya. Sebuah peristiwa menyambut pagi terbaik yang pernah saya alami.

img_0826
World Peace Pagoda on hilltop, view from right side of my room
p1010640
The magical moment – The Sun, Sea of clouds and World Peace Pagoda
p1010641
Morning has broken – the sun over World Peace Pagoda and sea of clouds

Pagi hari itu berkunjung dengan kegembiraan tak hingga. Ganga menemani saya menikmati sarapan yang tersedia di rooftop dengan pandangan 360 derajat yang menakjubkan. Saat itulah saya mengatakan kepadanya, this is the place where time stands still…

p1010700
Panorama View from my room – Himalaya (behind the clouds on the left) and World Peace Pagoda on the right

*

Di dunia ini tidak ada yang tak berakhir, juga istirahat saya di Raniban Retreat ini. Telah sampai waktu untuk melanjutkan perjalanan. Ransel sudah siap di punggung, saya menatap World Peace Pagoda yang cantik di atas bukit. Keindahan lukisan alam yang tak terlupakan.

p1010722
Sea of clouds in the morning and World Peace Pagoda, Raniban, Pokhara, Nepal

Lalu saya menoleh ke barisan pegunungan bertudung salju. Macchapuchhre di depan mata. Sekali lagi doa yang terkabulkan, karena saya meminta kepadaNya agar dapat melihatnya sebelum merambah ke wilayah Terai. Memohon sekali lagi setelah pagi tadi ia menampakkan keagungannya seperti kemarin. Dan kini ia menepiskan awan-awan yang menyelimutinya, membiarkan puncak yang tak pernah ditaklukan terlihat oleh hati yang meminta. Saya mengucapkan kata perpisahan kepadanya dan kepada gunung-gunung di Annapurna. Selama dua hari puncak-puncak itu tak malu menampakkan diri yang luar biasa dan entah kapan saya bisa menjejak disana, di Annapurna…

peaks
Annapurna Range and Mt. Macchapuchhre (center)

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal

Nepal – Berlimpah Anugerah Menuju Pokhara


Begitu menutup pintu mobil, taksi mungil itu langsung melesat meninggalkan Bhaktapur menuju bandara Tribuvan seakan tak memberikan kesempatan kepada saya untuk mengucapkan “Sampai Jumpa Lagi” kepada kawasan yang telah menorehkan pengalaman penuh bahagia ini. Saya memejamkan mata, sesaat saja, membiarkan diri memeluk rasa bahagia pernah begitu menyatu di Bhaktapur, lalu rasa itu harus saya lepaskan kepada pemiliknya. Saya juga dimakan Sang Waktu yang tak pernah berjalan mundur.

Kali ini tidak seperti déjà vu, karena saya memang kembali ke Bandara Tribhuvan di Kathmandu, seperti saat melakukan Everest experience flight kemarin. Tiga hari berturut-turut berada di bandara yang sama, hanya beda terminal, mungkin bisa disebut dengan frequent-flier in 3 days! Saya turun dengan ransel di punggung menuju gedung terminal yang masih direnovasi lalu  secepatnya melakukan check-in. Berbeda dengan kemarin saat melakukan kesalahan hingga ditegur para laki-laki, kali ini saya memasukkan tas tangan ke jalur perempuan lalu mencari tempat duduk di ruang tunggu. Saya menunggu hingga waktunya boarding namun tidak ada penjelasan hingga akhirnya pengumuman itu keluar. Penerbangan ditunda 1 jam! Lalu 30 menit lagi… Tetapi ah, saya sedang dalam perjalanan hati. Apapun yang terjadi harus diterima dengan keterbukaan. Siapa tahu saya diselamatkan dari keburukan. Hanya perlu menambah sabar kan?

ktm-airport
Tribhuvan Airport, Domestic Terminal, Kathmandu

Ruang tunggu bandara itu penuh, kebanyakan terdiri dari penumpang lokal walaupun disana-sini ada tubuh tinggi berambut pirang dengan penampilan yang siap menjelajah gunung-gunung tinggi yang bertebaran di Nepal. Kebanyakan mereka ke Lukla, sebagai awal langkah menuju Everest. Tak banyak turis yang memilih terbang ke Pokhara, mereka biasanya telah terangkut di dalam bus-bus turis yang berangkat pagi dari Kathmandu.

Lamanya perjalanan dari Kathmandu ke Pokhara melalui jalan darat, -walaupun katanya pemandangan alamnya indah sekali-, membuat saya mengambil keputusan untuk terbang. Menghemat waktu adalah penting bagi saya sehingga waktu cuti dapat dimanfaatkan secara maksimal, walaupun untuk itu saya harus merogoh kocek lebih dalam.

Panggilan boarding yang ditungu-tunggu akhirnya terdengar juga. Seluruh penumpang terlihat lega dan bergegas menuju bus pengangkut yang membawa ke pesawat ATR72 Buddha Air itu. Pesawat bermesin baling-baling itu dimasuki dari belakang sehingga saya yang mendapatkan tempat duduk di lorong bagian depan, harus mengantri dengan sabar, mendahulukan para penumpang bisnis yang duduk di bagian belakang yang saat itu kebanyakan terisi oleh kelompok tinggi besar berambut pirang dan para pebisnis Nepal.

Setelah menempati tempat duduk, penumpang yang duduk di depan saya membuat sedikit kegaduhan. Mereka mendapat nomor terpisah dan ingin bertukar tempat duduk karena merupakan pasangan suami isteri. Sang suami mendapat nomor jendela tepat di sebelah saya dan sang isteri tidak bersedia duduk bersebelahan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Saya sekilas melihat pria yang telah bersedia memberikan tempat duduknya demi pasangan suami isteri itu, beliau tak lagi muda tapi ada keramahan diparasnya. Kegaduhan di depan saya menyurut namun beliau tetap berdiri di lorong.

Dengan sedikit ragu, pak tua berwajah ramah itu menyapa saya, meminta maaf.

“Could you do a favor for me? I could not sit there, on the window-seat; I prefer on the aisle”

Saya melihat cepat kepadanya, entah apa, ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan, sesuatu yang ditutupi. Hanya saja beliau tetap tak bersedia untuk menempati tempat duduk yang ada di jendela. Sementara saya yang sudah benar dengan nomor tempat duduk tiba-tiba menjadi pusat perhatian karena ada penumpang yang masih berdiri dan melihat saya. Seakan-akan saya salah menempati tempat duduk.

Kejadian begitu cepat, saya harus mengambil keputusan. Saya tak meminta nomor lorong, bahkan sebenarnya di hati terdalam, saya menginginkan nomor jendela. Dan kini nomor itu diberikan kepada saya, lalu mengapa saya harus berpikir dua kali?

Tetapi begitu naïve-nya saya, saya masih bertanya meminta persetujuan kepada orang itu sambil tangan menunjuk ke samping, “so, is it okay if I take the window seat?”

Dia tak menjawab tapi ada senyum lebar berkembang menghias wajahnya. Ada semacam kelegaan besar. Tak sampai sedetik saya langsung bergerak berpindah. Rejeki tak boleh ditampik! Tempat duduk di jendela dengan pemandangan pegunungan Himalaya bertudung salju sepanjang penerbangan! Diberikan gratis lagi!

p1010595
Himalaya

Selagi pesawat melakukan persiapan lepas landas, saya terdiam dalam hening. Anugerah lagi. Memang terbersit keinginan untuk duduk di kursi dekat jendela karena saya suka dengan pemandangan Nepal, tetapi jika tak bisa ya tidak mengapa. Lalu mengapa ada pasangan yang terpisah tempat duduk dan ngotot ingin duduk bersama lalu ada orang baik hati yang bersedia bertukar tempat dan apapun alasannya dia bahkan memberikan kursi jendelanya kepada saya. Ah, Tuhan Yang Maha Baik memang selalu punya caraNya sendiri untuk melimpahkan anugerah kepada yang diinginkan walau harus melalui beberapa orang lainnya. Mereka telah menjadi saluran berkah untuk saya. Semoga hidupnya berlimpah kebaikan…

Di atas lembah Kathmandu, bapak tua baik hati di sebelah saya itu membuka percakapan awal. Ternyata beliau bukan orang sembarangan, beliau seorang pensiunan tentara Inggris yang selama ini ditempatkan di banyak negara persemakmuran di Asia. Dan alangkah terkejutnya saya, ketika ia mengetahui saya berasal dari Indonesia, ia membuka percakapan dalam bahasa Indonesia dengan sedikit dialek Melayu.

“Apa kabar. Maaf bahasa Indonesia saya tidak baik, banyak sudah lupa”

Saya tersenyum lebar, tidak setuju dengannya karena menurut saya, bahasa Indonesianya bagus. Saya terkejut, sekaligus bangga dan kagum, rasanya aneh, campur aduk. Siapa sangka, di ketinggian dua puluhan ribu kaki di atas kawasan Himalaya yang jauh dari Indonesia, saya diajak berbicara dalam bahasa Indonesia oleh penutur asing, bukan penutur asli. Bahasa Indonesia campur dialek Melayu dan bukan bahasa Inggeris! Kemungkinan terjadinya sangat amat kecil sekali dan tentu saja, saya merasa sangat  berbahagia bisa mendapatkan kesempatan itu. Sungguh tak terduga. Lagi-lagi, Dia Yang Maha Baik telah melimpahkan anugerah kepada saya berupa kemudahan berbahasa ibu. Bisa jadi Dia menginginkan agar saya merasa kenyamanan berada di rumah. At Home… Bukankah ada pepatah Home is where the heart is..?

Perjalanan ini sungguh memperkaya jiwa, Oh I’m so blessed…

p1010605
Himalaya with Clouds

Namun pembicaraan tetap saja memiliki jeda sehingga memungkinkan bagi saya untuk menikmati pemandangan diluar jendela, barisan pegunungan berselimut salju abadi yang tadinya terlihat samar kini seluruhnya telah tertutup awan. Hanya puncak tinggi dengan salju abadinya terlihat serupa dengan awan-awan putih tebal yang memenuhi pandangan mata. Di bagian depan, deretan pegunungan yang menjadi pagar dari pegunungan Himalaya atau dikenal dengan Mahabharat Range itu mengumbar keindahan lembahnya yang meliuk-liuk. Sepertinya Dia Yang Maha Kuasa sedang tersenyum ketika menciptakan bumi Nepal hingga kontur permukaan bumi terlihat begitu indahnya.

Tak lama kemudian terasa pesawat menurunkan ketinggiannya secara perlahan. Danau Phewa sudah terlihat, itu artinya Pokhara sudah di depan mata. Saya memperhatikan keadaan danau. Inilah wajah lain dari Nepal. Jika Kathmandu penuh dengan budaya tradisional, Pokhara mengumbar janji dengan kegiatan outdoor yang menantang adrenalin. Di kota ini saya tak punya banyak rencana kecuali untuk beristirahat di tempat yang indah. Saya tak punya target khusus, saya biarkan itinerary dari Yang Maha Kuasa terjadi pada hari-hari saya di Pokhara.

Semakin dekat ke Pokhara, saya terpikir kembali mengenai transportasi dari bandara ke penginapan. Walaupun telah saya kabarkan soal penundaan penerbangan sejak dari Kathmandu tadi, saya tak yakin pesannya sampai. Berdasarkan pengalaman sebelumnya saat baru sampai di Kathmandu dan ternyata pesanan taksi saya tak muncul batang hidungnya, saya skeptis untuk mendapatkan layanan antar di Pokhara ini. Tetapi biarlah, apapun yang terjadi pasti ada jalan keluarnya. Semoga.

Bahkan saat akan meninggalkan tempat duduk,  the old Brit yang baik hati itu mengucapkan salam perpisahan dalam bahasa Indonesia, seakan tahu hal-hal yang bisa menentramkan dan menenangkan hati. Sampai jumpa lagi…

Bandara Pokhara kecil, -dalam arti yang sebenarnya-. Gedung terminalnya hanya berupa sebuah ruangan berkaca dan seluruh bagasi yang sebelumnya ada di perut pesawat diserahterimakan ke penumpang melalui sebuah jendela yang bisa disaksikan langsung oleh pemilik bagasi. Setelah mengambil ransel, saya keluar gedung tanpa ekspektasi dijemput.

p1010610
Pokhara Airport

Tetapi saya membaca nama saya di kertas yang dipegang oleh seseorang. Rasanya tak percaya, tetapi benar. Itu nama saya! Saya dijemput! Saya masih ditunggu, walaupun penerbangannya ditunda lama. Lagi! AnugerahMu yang berlimpah, yang tak putus.

Saya meminta maaf kepadanya sekaligus sangat berterima kasih karena telah bersedia menunggu lama. Sang pengemudi yang tak muda lagi itu tersenyum ramah. Tak perlu berpanjang kata, dia mempersilakan saya masuk dan menjalankan mobilnya, menyusuri danau dan perlahan meninggalkan pusat kota. Walaupun tahu penginapan saya itu jauh dari kota, tetapi saya tidak menyangka sejauh ini. Terpencil bahkan harus memasuki daerah perbukitan dengan jalan yang tak lagi beraspal. Seandainya saya tak ditunggu olehnya, apakah taksi biasa mengetahui dan mau mengantar hingga ke tempat ini?

p1010620
On the way to Hotel, Pokhara

Saya menggigit bibir, perjalanan kali ini benar-benar berlimpah anugerah dariNya. Benar-benar tak henti, terus-menerus sampai dada terasa sesak. Semuanya serba luar biasa… Dari Bhaktapur yang penuh kenangan, mendapat tempat duduk jendela sehingga bisa menikmati pemandangan Himalaya yang berselimut salju, diajak berkomunikasi dalam bahasa ibu oleh penutur asing di ketinggian Himalaya, tetap dijemput taksi yang bersedia menunggu walaupun penerbangan mengalami penundaan dan kini terhampar pemandangan indah…

Maka Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Then which of the favors of your Lord will you deny?

Laos – Memenuhi Janji ke Wat Phou


Walaupun sudah berusaha lebih awal, saya sampai di gerbang Wat Phou pada saat matahari membentuk sudut kecil dengan tegaknya di atas kepala. Namun demikian, diiringi panas yang juara, saya berdiri diam dalam haru, setelah sekian lama akhirnya saya bisa menjejak di Wat Phou, kompleks percandian terakhir dari daftar candi yang dianugerahi oleh UNESCO sebagai World Heritage Site sebelum tahun 2014 di kawasan Asia Tenggara. Laksana sebuah pita lebar, pikiran saya terbang dan menalikan Borobudur, Prambanan, Angkor, Preah Vihear, Ayutthaya, Sukhothai, My Son dan kini Wat Phou yang ada di depan saya. Lengkap, 8 situs. Delapan, bentukan angka yang tarikan garisnya lengkung tak berujung.

Dan sebagaimana umumnya UNESCO World Heritage Site, jarak antara gerbang dan lokasi candi pasti masih jauh. Tetapi untunglah pemerintah Laos menyediakan layanan shuttle gratis sejenis golf-car berkursi banyak untuk mengantarjemput pengunjung dari gerbang masuk ke batas awal percandian. Sesuatu yang patut diacungi jempol untuk memajukan industry pariwisatanya. Tak terbayangkan seandainya harus berjalan kaki terpanggang matahari sepanjang hampir satu kilometer…

Kendaraan shuttle itu menyusuri pelan di pinggir baray (kolam buatan) yang airnya memberikan kesejukan di tengah hari yang panas dan menurunkan seluruh pengunjung di sudut Barat Daya baray. Berbeda dengan kebanyakan orang yang lebih memilih berjalan di jalan aspal di samping baray kedua yang telah mengering, saya justru memilih melakukan kunjungan secara ‘resmi’ melalui jalan pelintasan seremonial yang diapit dua baray kedua yang telah mengering.

The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background
The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background

Sebelum melangkah, tanpa menghiraukan terik yang memanggang, saya berdiri dalam hening di awal jalan pelintasan yang terbentang di depan, menatap lurus ke candi yang berada di atas bukit. Seperti juga di tujuh situs sebelumnya, saya selalu menautkan hati dengan bumi yang berada di bawah kaki saya, inilah tempat-tempat yang memiliki keluarbiasaan. Seakan memberi sambutan khusus, sejumput awan bergerak menutup matahari barang sejenak ditambah kesejukan udara dari baray besar tadi yang terasa membelai dari arah belakang. Jalan pelintasan lama ini beralaskan batuan pipih membentang tepat di tengah menuju bangunan candi. Saya memang tengah berdiri di pintu pertama dari jalan pelintasan resmi yang dulu digunakan untuk sebuah prosesi seremonial, jalan yang digunakan para Raja dan kaum bangsawan pada masa keemasannya. Tak heran auranya terasa magis dan suasana alamnya luar biasa…

Inilah candi kuno yang dulu selalu diasosiasikan dengan kota Shrestapura, kota yang terletak di pinggir Sungai Mekong dan berhadapan langsung dengan Gunung Lingaparvata. Dua symbol suci bagi mereka yang percaya, gunung yang berada di ketinggian dan dari namanya saja sudah dapat ditebak merupakan tempat kediaman salah satu dewa dalam Trimurti dan sungai besar yang tentu saja diasosiasikan dengan samudra atau Gangga yang suci. Jelas sekali bahwa Wat Phou ini didedikasikan Shiva, Sang Mahadewa.

Masih berdiri di awal jalan pelintasan, saya menatap pegunungan dengan puncak Lingaparvata yang melatari Wat Phu. Siapa yang mengira saya bisa menjejak di tempat yang berada segaris membagi dua antara Angkor Wat dan My Son, seakan memberi konfirmasi dari inskripsi yang ada bahwa sejak jaman dulu, tempat suci di bumi Laos sekarang ini memang telah memiliki hubungan langsung dengan Kerajaan Champa (sekarang Vietnam) dan juga Kerajaan Chenla (sekarang Kamboja).

Pemikiran itu menggugah senyum dalam hati, membayangkan sebagai bagian rombongan bangsawan melangkah pelan di jalan pelintasan beralas batu dan berhiaskan tonggak setinggi pinggang di kanan kiri. Jika dahulu jalan pelintasan ini terhampar bersih, kini mata perlu jeli agar kaki melangkah tanpa perlu menginjak kotoran binatang yang tertinggal.

Struktur pertama sebelah Utara menarik perhatian saya untuk dijelajahi terlebih dahulu, sementara bagian Selatan mengalami perbaikan di sana sini. Setelah mengambil gambar tampak luar, saya mulai menapaki tangga dan menyusuri dinding-dindingnya. Jendela berteralis batu berulir seperti di Angkor membuat saya lupa sejenak berada di bumi Laos. Memasuki bangunan tanpa atap ini, menjadikan imajinasi bergerak liar. Saya bebas membayangkan ruangan di hadapan ini, pada masanya berlantai kayu yang indah atau dibiarkan terhampar dengan rumput yang terpelihara. Saya juga mengintip dari balik gallery yang biasa tertutup atap lengkung. Disini pastinya sangat menyenangkan, memandang bumi Champasak yang terhampar jauh di hadapan dengan air yang memenuhi baray memberi keteduhan tersendiri.

Bangunan kembar di Selatan dan Utara ini, yang sering disebut sebagai istana, -bisa jadi untuk rehat bagi para bangsawan yang berkunjung-, merupakan bangunan pertama yang ditemui setelah akhir dari jalan pelintasan. Hanya bangunan di Selatan memiliki tambahan Kuil Nandi, bhakta (pemuja) setia Dewa Shiva, selain sebagai kendaraannya. Sayang sekali, di beberapa tempat terserak batu-batu hiasan yang cantik yang bisa jadi masih menunggu dikembalikan ke posisinya.

Kembali ke jalan pelintasan tengah, terlihat permulaan tangga berundak di ujung jalan. Tangga di tengah yang dinaungi pohon kamboja (frangipani) ini tidak dapat dilalui karena telah rusak dimakan usia sehingga pengunjung harus memutar sedikit. Dari sedikit ketinggian, pemandangan sudah terlihat membentang luar biasa.

Saya terus melangkah di jalan pelintasan yang kini menanjak dan berakhir di sebuah tangga berundak lain yang juga dinaungi pohon kamboja yang mengundang saya untuk rehat sejenak di bawahnya sambil mengamati bentuk dekorasi anak tangga dan orang yang melakukan sembah dan doa di depan sebuah patung berdiri berselempang hijau. Patung yang konon disebut dengan Dwarapala ini, bergaya Khmer dan hanya tinggal sendiri.

Setelah air botol habis, saya bergegas menuju kuil utama di atas melalui jalan berbatu yang kini tak lagi rata. Tangga di depan mata ini cukup curam, tak rata dan berdasar sempit dan tentunya tanpa pegangan tangan. Di beberapa tempat tinggi batunya mencapai lutut orang dewasa. Salah langkah disini, glundung sudah pasti.

Dibangun berdasar kosmologi Hindu, Wat Phou merupakan sebuah candi gunung, sebagai representasi gunung suci Meru, pusat alam semesta tempat kediaman para dewa. Dengan demikian, setiap lantai di Wat Phou bertambah tinggi seiring kenaikan levelnya, persis sebuah piramida.

Wat Phou - Central Sanctuary, Champasak, Laos
Wat Phou – Central Sanctuary, Champasak, Laos

Memasuki level teratas, selain menemukan batuan berukir yang terserak menunggu dikembalikan ke posisi sebenarnya, saya juga mengamati bangunan utama. Wilayah ini sudah digunakan sejak abad-5 sebagai tempat suci walaupun struktur yang sekarang berdiri berasal dari abad-11 hingga abad-13. Keindahan bangunan ini dipenuhi dengan hiasan rumit dwarapala dan devata di dinding. Berbagai hiasan di atas pintu seperti saat Krishna mengalahkan ular Kaliya dengan menari di atas kepalanya di atas pintu kiri atau Indra yang sedang menunggang Airvata sang gajah berkepala tiga di pintu tengah, Vishnu dengan mengendarai Garuda menaklukan naga di pintu kanan, Vishvakarma di atas Kala dan dijaga oleh singa.

Indra on Airvatha, Wat Phou
Indra on Airvatha, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou

Sejak abad-13 Wat Phou dialihfungsikan menjadi tempat ibadah Theravadda Buddha tanpa mengubah ornamen dinding namun hanya menambahkan patung Buddha, yang ritual ibadahnya dilakukan hingga kini. Pada altar tengah terdapat Buddha dengan pernak-pernik pemujaan di sekitarnya termasuk gong. Pada meja depan terdapat 3 buah batu yang terlihat cukup berat jika diangkat.

Inside the Sanctuary of Wat Phou
Inside the Sanctuary of Wat Phou

Di halaman sebelah Utara bangunan terdapat patung Boddhisatva yang kondisinya sebagian rusak namun dupa-dupa di depannya menandakan masih dipergunakan. Di belakangnya terpahat pada sebuah batu besar, Trimurti dengan Shiva di tengah, diapit oleh Brahma di sebelah kiri dan Vishnu di kanan.

Wat Phou view from the main sanctuary
Wat Phou view from the main sanctuary

Saya berjalan ke arah tebing di sebelah Utara, pemandangan kearah dataran rendah Laos terlihat semakin luar biasa dari balik pepohonan. Saya melihat banyak tumpukan beberapa batu pipih disusun keatas layaknya sebuah pagoda, yang sering juga saya lihat di Korea, Jepang, maupun di Angkor yang konon merupakan upaya meditasi yang menyusunnya. Selain itu, banyak batuan besar yang terlihat ‘labil’ ,-karena disangga bidang yang lebih kecil-, dipenuhi oleh penyangga kayu-kayu yang sengaja diletakkan pengunjung yang ibadah. Bisa jadi semua dilakukan berdasarkan keikhlasan turut menyangga sesuatu yang bersifat genting dan kritis.

Akhirnya saya mendapatkan Batu yang berpahat gajah itu. Luar biasa sekali. Beberapa saat menikmati batu gajah itu, semilir angin terasa membelai dari belakang. Karena saya tak merasakan kehadiran manusia lain di dekat saya, dan konon, jauh berabad sebelumnya tempat ini dijadikan tempat persembahan manusia, hal itu membuat saya bergegas kembali ke kuil utama.

Di tebing belakang kuil yang merupakan tempat awal kesakralan Wat Phou karena di bawah batu yang terlihat menggantung itu dialirkan air dari mata air melalui saluran berukir yang hingga kini tetap dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari dan ditampung pada tempat yang menyerupai sebuah yoni berongga. Padahal semua itu terdapat di sebuah ruang (ceruk) yang terbentuk di bawah tebing menggantung. Alam menyangganya dengan sangat baik.

Saya melihat dengan penuh ketakjuban, menyadari sangat kecilnya saya dibandingkan tebing batu itu. Kekuatan manusia tak ada apa-apanya. Sekali penyangganya terlepas, manusia lenyap, tak berbekas, penyet…

Udara masih panas, tetapi saya harus melangkah pelan meninggalkan Wat Phou, lokasi terakhir janji saya yang mewujud. Angka delapan itu tak putus, meliuk melingkar hingga suatu saat kita akan berjumpa lagi…

Nepal: Terjebak Lorong Waktu Menuju Dattatreya


Baru saja meninggalkan kamar ketika langkah kaki terhenti sejenak melihat beberapa orang, -sepertinya tetangga sekitar-, melakukan puja dan ibadah pagi di tempat pemujaan kecil yang ada di bagian dalam halaman penginapan. Pikiran langsung melayang pada ritual serupa di tanah air atau juga di banyak tempat. Sepertinya semua agama memiliki keserupaan mengawali hari dengan ibadah, menciptakan hubungan yang amat pribadi antara manusia dengan Sang Khalik Pemilik Semesta. Indah sekali.

 

Tak ingin mengganggu mereka lebih lama, saya melipir dinding kearah luar melalui pintu belakang dan menemukan deretan gerabah tanah liat teronggok begitu saja tanpa ada yang menjaga. Siapa juga yang berniat mengambilnya karena hampir semua sudut dekat penginapan terdapat deretan gerabah serupa. Tak heran Bhaktapur terkenal juga dengan Pottery Square-nya, sebuah tempat yang kemanapun mata memandang terdapat gelaran gerabah yang instagramable. Namun entah kenapa, hal yang menjadi salah satu ikon Bhaktapur itu bukan menjadi fokus saya pagi hari itu, karena kedua kaki ini mengajak kembali menuju Bhaktapur Durbar Square melalui lorong berdinding bata yang menjulang tinggi.

Berada di lorong sempit di antara bangunan tradisional, rasanya seperti menekan tombol mesin waktu ke abad pertengahan. Jarak antar bangunan begitu rapatnya hingga langit hampir tak terlihat karena tertutup sambungan atap dari bangunan yang berseberangan. Beberapa kali saya mendongak ke atas mencari langit sambil mengukur ketinggian jendela-jendela Newari yang menghias dinding. Mau tidak mau saat melihat material dinding, sejumput pikiran teknis yang terinstal di kepala muncul sekejap dalam rasa ngeri, dinding-dinding itu terlihat begitu ringkih, mudah runtuh dan sangat berisiko (dan enam bulan kemudian, Bhaktapur menjadi salah satu kawasan terburuk yang terkena dampak gempa bumi April 2015)

Benar-benar seperti terperangkap dengan apa yang saya lihat dan apa yang saya rasakan di Bhaktapur ini. Mereka meneruskan tradisi hingga sepertinya kesan kuno Bhaktapur tetap terjaga. Mereka tetap menggunakan batu bata dengan perekat lumpur untuk mendirikan atau merenovasi bangunan yang bergaya tradisional di negeri indah ini. Bisa jadi karena bahan konstruksi mahal dan tidak mudah didapat di negeri yang dikelilingi dua negara besar India dan China ini. Ketika melihat semua yang kuno di Bhaktapur ini, tidak hanya sekali saya mencubit diri sendiri, ini bukan mimpi kan? Tapi terasa pedih, ini sungguh nyata, bukan mimpi, saya ada di abad-21!

Akhirnya saya menjejak lagi di alun-alun istana lama itu. Saya terpana dengan pemandangan sekitarnya, -sungguh berbeda dengan keadaan sore sebelumnya yang padat dengan pengunjung-, kali ini hanya ada dua orang di ruang terbuka luas itu diantara burung-burung pagi yang sibuk mencari makanan di pelataran depan kuil Vatsala Durga (yang kini telah rata dengan tanah akibat gempa 2015). Rasanya janggal melihat bangunan-bangunan indah di Bhaktapur Durbar Square itu dibalut kelengangan, seperti masih terlelap dalam pelukan pagi. Sepinya terasa menggigit dan mampu membuat saya terdiam dalam hening, merasa seperti ribuan mata damai tengah memperhatikan. Menyadari hari ini terakhir di Bhaktapur, saya berbisik pamit pada tempat dengan kedamaian pagi yang indah ini. Semoga waktu bisa mempertemukan kita lagi disini.

Saya melanjutkan langkah ke Taumadhi Square, alun-alun kecil lainnya tempat Nyatapola megah berdiri dan hanya berjarak seratus meter dari Bhaktapur Durbar Square. Di balik sebuah panggung batu saya melihat orang-orang menggelar dagangannya di tanah beralaskan plastik lebar. Sayuran, ubi, tomat, labu, bawang merah, bawang putih, buncis, rempah-rempah, paprika, kembang kol, ketimun, dan masih banyak lagi keperluan sehari-hari. Pelan-pelan saya melangkah menikmati situasi, dikelilingi bangunan berusia ratusan tahun dan ditengah pasar dadakan yang penuh dengan orang berbaju tradisional. Rasanya sama seperti terjun  kembali ke abad pertengahan. Lagi-lagi saya berpikir, ini bukan abad-21!

Diterpa keterpanaan menyaksikan semuanya dalam pusaran ‘lorong waktu’ ini, saya terus mengikuti kaki melangkah dan terhenyak saat menyadari sudah berdiri di depan penginapan saya sendiri dari sisi yang berbeda. Ah, kali ini bisa jadi si dua kaki menurut pada si perut yang memerintah 🙂

Dan karena sudah di depan penginapan sendiri, saya sempatkan untuk menikmati sarapan yang tersedia di lantai teratas yang terbuka (rooftop). Kali ini saya merasa kembali ke abad-21 lagi karena makanan yang sedikit internasional walaupun terasa aneh karena sarapan ditemani burung gagak. Bisa jadi terpengaruh cerita-cerita tentang burung gagak… 😀

Selepas sarapan saya melanjutkan jalan-jalan pagi, kali ini lebih mengarah mencari ATM atau money changer untuk menambah lembaran Nepali Rupee yang sudah tinggal satu atau dua sambil, -jika memungkinkan-, menjelajah ke tempat lain.

Kali ini saya mengambil arah lain yang lebih sepi walaupun tetap berhiaskan dinding bata yang menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran rumit pada jendelanya. Angin pagi bulan November terasa lembut menerpa muka. Alunan musik tenang bernada oriental Tibet Om Mani Padme Hum yang mengalun lembut sepanjang toko-toko terdengar menghipnotis di telinga, seakan membawa saya kembali dalam perjalanan waktu. Rasanya memang luar biasa, langkah yang sangat ringan, tak ada beban, terbang melayang…

Hingga sampai pada muara lorong itu…

Tepat di depan sebuah hiti, -tempat pengambilan air- dan di depannya terdapat sebuah panggung kecil dari batu. Saya tersadarkan berada di sebuah square lain dan pastinya dekat dengan sebuah tempat istimewa. Saya masih melangkah, di sebelah kanan saya dinding rumah dengan hiasan rumit yang sangat cantik tapi terawat dengan baik.

Hingga saya berdiri dekat sebuah kolom dan mendongak melihat sesuatu di atas…

Garuda!

Garuda at Dattatreya Temple
Garuda at Dattatreya Temple

Dalam sekejap rasanya seluruh aliran darah meluruh semua ke bawah meruntuhkan kekuatan berdiri begitu menyadari bangunan yang ada di hadapan mata adalah Dattatreya, kuil yang dibangun oleh Raja Yaksha Malla di tahun 1427! Kuil berusia ratusan tahun dan konon dibuat dari satu pohon ini, didedikasikan kepada sosok inkarnasi ketiga dewa utama dalam Hindu, Brahma, Vishnu dan Shiva. Namun dengan empat symbol Vishnu yang ada di depan bangunan, Gada, Cakra, Lotus dan Kerang menyadarkan presentasi reinkarnasi dewa yang lebih diutamakan di kuil ini.

Garuda, Cakra, The Mace, Conch Shell, Lotus in front Dattatreya
Garuda, Cakra, The Mace, Conch Shell, Lotus in front Dattatreya

Saya masih dipenuhi rasa tak percaya mengikuti kaki melangkah hingga ke tempat ini bahkan tanpa peta sekalipun, hanya berdasarkan ingatan bahwa somewhere in Bhaktapur, there is Dattatreya square. Bahkan dalam lorong jalan yang ditempuh tak ada satu pun rambu yang menunjukkan arah ke Dattatreya. Seakan-akan memang saya ‘dibawa terbang’ ke tempat ini menembus lorong waktu untuk sampai ke tempat cantik ini.

Bhimsen Temple in front of a hiti, Dattatreya Square
Bhimsen Temple in front of a hiti, Dattatreya Square

Tengah menikmati situasi sekitar yang aslinya berasal dari abad pertengahan, secara tidak sengaja mata ini tertumbuk pada sebuah proses jual-beli disitu. Mendadak rasa dingin menyerang sekujur tubuh menyadari isi dompet yang telah tipis dan waktu yang berangkat siang. Saya harus segera mencari ATM Internasional atau money changer. Tetapi di Bhaktapur? Di pagi hari seperti ini? Pikiran ini sekejap membolakbalikkan pikiran saya antara abad-21 dan abad pertengahan tepat seperti apa yang saya lihat di depan mata. Ah… saya mungkin gagap waktu!

Dengan miris tak ikhlas, sejumput kata perpisahan kepada Dattatreya saya bisikkan dari dekat kolom Garuda. Alun-alun kecil di Bhaktapur ini telah dengan ajaibnya memberi warna di dalam hati dengan membiarkan ditemukan hanya dari sebuah bimbingan hati. Benar-benar berat untuk melangkah meninggalkan kawasan Dattatreya, tetapi saya sadar waktu tak pernah menunggu. Memutar langkah, saya melangkah kembali, suatu saat kita akan berjumpa kembali…

Menyusuri jalan yang sama, kali ini lorong waktunya lebih cepat berganti ke abad-21, mungkin karena kebutuhan uang yang mendesak. Mata saya lebih tajam mencari logo ATM ataupun Money Changer. Semoga sistem ATM-nya buka 24 jam atau  money changer sudah buka.

Selagi melangkah mencari ATM, di ujung lorong dari sebuah kios yang tersembunyi, mata menangkap rangkaian bulu merak yang dibentuk menjadi sebuah kipas yang tergantung. Sebagai penggemar merak, semua yang berhubungan dengan merak cepat sekali saya kenali. Tentu saja saya ingin membelinya, tetapi tidak punya cukup uang untuk itu. Entah kenapa tetapi situasi ini sepertinya saya kenali, seakan saya sedang diuji… Apakah saya memilih membeli merak dengan lembaran besar USD atau meneruskan langkah untuk mendapatkan Nepali Rupees seperti niat awal sekembalinya dari Dattatreya tadi. Sebuah godaan…

The lane to Dattatreya
The lane to Dattatreya

Saya memilih meneruskan mencari Money Changer dan melepas keinginan membeli kipas merak itu lalu melanjutkan langkah.  Dan benar saja, sekitar 500 meter setelahnya saya melihat tulisan Money Changer yang hanya bisa dilihat dari posisi arah jalan saya. Dan yang terpenting, money changer tersebut telah buka! Ah, lagi-lagi saya mendapatkan berkah keajaiban pagi ini. Setelah sehari sebelumnya mencoba beberapa ATM dan tidak berhasil, sepertinya saya memang ditakdirkan mengalami perjalanan bolak-balik melalui lorong waktu. ATM merupakan teknologi yang sudah umum di abad-21 namun saya tidak berjodoh dengan menggunakan teknologi abad-21 itu di Bhaktapur. Pagi ini di kios Money Changer, saya kembali dihadapkan kepada proses tradisional, yang dilakukan sama berabad lalu, -seperti juga di abad pertengahan-, dalam hal penukaran mata uang asing. Selembar USD tadi telah berubah menjadi NPR, dan lega rasanya membawa kembali NPR di dompet.

Dengan adanya uang di dompet, timbul lagi keinginan kembali ke kios yang menjual kipas bulu merak. Tetapi lagi-lagi ada rasa ragu, entah kenapa, saya ragu tak cukup waktu untuk ke bandara mengejar pesawat. Entahlah, tetapi saya membatalkan untuk kembali ke kios yang menjual kipas merak itu, sebuah keputusan setengah hati yang mungkin saya sesali karena hingga kini saya tidak pernah punya kipas merak! Tetapi, ah, bisa jadi kipas bulu merak yang cantik itu memang bukan jodoh saya, melainkan milik mereka yang ‘terjebak di abad pertengahan’…

Melintas Perbatasan Chong Mek Thailand ke Vangtao Laos Selatan


Mendung masih menyelimuti langit Ubon walaupun matahari sudah terbit dari tadi, tetapi saya sudah siap meninggalkan penginapan. Saya merasa terlambat, seharusnya saya sudah di jalan menuju perbatasan. Untung saja sudah ada petugas di balik konter penginapan itu. Sambil memproses check-out saya minta bantuannya untuk mencarikan tuktuk agar bisa sampai ke terminal bus yang akan membawa saya ke Pakse di Laos.

Entah kenapa saya terpikir untuk mempercepat perjalanan ke perbatasan ini. Bus internasional yang akan melintas perbatasan baru akan berangkat dari terminal Ubon Ratchathani sekitar pukul 08.30, artinya saya harus menunggu dua jam lebih demi membayar 200baht ke Pakse. Padahal dalam dua jam itu saya sudah bisa melampaui perbatasan. Hmm… saya berpikir keras dan menimbang-nimbang karena tidak yakin ada kendaraan umum yang bisa non-stop dari Ubon Ratchathani ke perbatasan di Chong Mek, selain taksi. Bus ada, tetapi pasti lama karena sering berhenti di banyak tempat. Pilihan lain adalah naik Songthaew, sejenis angkot yang lebih besar, tetapi biasanya gonta-ganti yang tak jelas di Phibun Mangsahan, kota kecil diantara Ubon Ratchathani dan Chong Mek. Bus atau Songthaew pasti lebih murah dari 200Baht tetapi waktu jadi tak pasti. Padahal saya sedang berlomba dengan waktu untuk mencapai Wat Phou di Champasak, hari ini.

Demi cinta (uhuk!) saya bersedia merogoh kantong lebih dalam. Saya memutuskan untuk naik taksi demi sebuah Wat Phou yang kian jelas memanggil dari Champasak. 1000Baht! Itu artinya lima kali bolak-balik Ubon – Pakse naik bus internasional.

Akhirnya saya batalkan pesanan tuktuk dan minta dicarikan taksi yang bersedia ke Chong Mek di pagi hari itu dan keberuntungan selalu datang buat siapa saja yang bangun pagi. Seorang pemuda yang sepertinya masih relasi dari pemilik hotel yang sedang membersihkan kendaraan, bersedia mengantar ke perbatasan. Jadilah saya naik Honda city dari Ubon Ratchathani ke Chong Mek sepanjang 90km.

Jalan-jalan luar kota di Thailand lebar dan tertata rapi. Beruntunglah saya bisa naik mobil menikmati perjalanan darat yang menyenangkan. Sebuah kemewahan tersendiri, bisa lancar melalui jalan lingkar kota Phibun Mangsahan. Pemuda baik hati itu juga melambatkan laju kendaraan agar saya bisa mengambil foto waduk Sirindhorn yang terlihat dari jalan.

Sekitar satu jam saya telah sampai di Chong Mek. Pengennya sih bisa berteriak, Borderrrr…!!!

Immigration Building in Chong Mek, Thailand
Immigration Building in Chong Mek, Thailand

Sepanjang perjalanan saya selama ini, selain Singapore – Johor Bahru di Malaysia dengan kereta api, dan Lowu di Hong Kong dengan Shenzhen di China, saya belum pernah melintas perbatasan via darat. Dan hari ini pengalaman pertama saya melintas perbatasan dua negara via darat dengan berjalan kaki. Dengan jantung berdebar-debar, saya bersiap menghadapi pengalaman itu sendiri.

Pemuda baik hati itu melepas saya tepat di depan gedung imigrasi. Saya bukannya langsung menuju gedung imigrasi melainkan menyeberang kearah toko 7-11 untuk mengabadikan situasi perbatasan Thailand. Dan sebagai isteri dan ibu yang baik, hihihi, saya mengirim pesan ke keluarga mengatakan saya sedang di perbatasan. Sekalian menulis status tak bermutu bernada pamer sambil check-in di Facebook, halah! 😀 😀 😀

Petugas imigrasi Thailand sudah siap di belakang konter. Lagi-lagi saya diajak berbahasa Thai karena wajah ‘Thai palsu’ yang saya miliki. Karena saya bengong sambil memperlihatkan paspor Garuda di tangan, petugas itu dengan ramah meminta saya pindah ke konter khusus ASEAN karena saya salah masuk ke jalur lokal.

Paspor saya telah dicap keluar dari Thailand dan belum masuk ke Negara tujuan (Lao PDR). Dan inilah saya yang sedang berjalan kaki memasuki daerah tak jelas (no man’s land). Ah, mungkin saya yang kebanyakan nonton film Hollywood yang selalu heboh mengerikan penuh drama di wilayah no-man’s land 😀 😀 😀

Saya menuruni tangga menuju terowongan bawah tanah berjeruji yang terbagi dua arah dan menghubungkan Thailand dan Lao PDR, tak beda sama sekali dengan tikus putih percobaan yang dipaksa berjalan mengikuti arah yang sudah ditentukan.

Dan eng-ing-eng…. Di ujung akhir tangga naik terowongan, saya muncul di wilayah yang seharusnya menjadi bagian dari gedung imigrasi Laos, tetapi ini tidak. Saya sampai di sebuah tempat terbuka setelah melewati kios kecil berbendera Lao PDR. Bebas mau melangkah kemana saja. Free…

The End of Tunnel - Small Kiosk wih Lao Flag
The End of Tunnel – Small Kiosk with Lao Flag

Mana gedung imigrasi untuk cap paspor? Ya cari sendiri, usahaaaa… sodara-sodara…

Jantung berdegup lebih kencang menyadari situasi laissez faire di depan mata (Tiba-tiba saya terpikir untuk melakukan perjalanan melintas perbatasan Indonesia di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur serta Nusa Tenggara Timur dan Papua, hanya untuk sebuah perbandingan situasi…)

Where's the Immigration Building?
Where’s the Immigration Building? The White Building??? It’s not….

Saya berbalik arah menanyakan kepada petugas perempuan yang ada di dalam kios kecil itu. Dia hanya menunjuk tak jelas, kearah bangunan besar di depan mata. White building, katanya. Saya mengangguk mengucapkan terima kasih lalu berjalan kearah gedung tadi.

Angin ribut lokal pun menyambut

Tiba-tiba angin terasa kuat berhembus datang dari arah kiri saya. Suaranya menderu dan tak menyenangkan, debu-debu di jalan yang lama tak kena hujan terbang seketika ke atas, daun-daun yang jatuh, sampah-sampah dan benda ringan lainnya seketika terbang terbawa angin. Saya sempat melihat dua orang yang sedang berjalan ke arah Thailand langsung menutup wajah untuk menghindari debu yang terbang liar. Saya sudah terjebak di tengah-tengah angin ribut lokal ini. Dengan mata yang terpicing, saya sempat melihat barang-barang konstruksi seperti potongan lembaran seng bergoyang-goyang. Alarm tubuh langsung berdering menandakan situasi yang harus diwaspadai. Saya cepat mencari gundukan besar dekat jalan tanah merah yang belum beraspal namun memungkinkan untuk berbaring disitu jika alam semakin tak bersahabat. Saya berdoa dalam hati agar senantiasa dilindungi dari marabahaya sambil tetap berjalan cepat kesana, tetapi itu artinya saya menjauhi the white building yang ditunjukkan petugas perempuan tadi. Terasa lembaran sisa surat kabar yang terbang terbawa angin dengan keras mengenai sisi kiri saya. Terpaksa dengan mata memicing saya melangkah lebar-lebar mencoba menghindari terkena barang-barang yang terbang, mencoba mengalahkan angin. Syukurlah semakin dekat ke gedung, angin semakin terasa tertinggal di belakang. Sebagaimana tiba-tiba ia datang, secepat itu pula ia pergi. Ah, saya tersadar… Itu sebuah sambutan buat saya di Laos! 😀

Dan… baru terlihat jelas gedung yang dikatakan petugas tadi masih belum selesai pembangunannya. Hah? Jika bukan gedung putih yang ini, jadi dimana untuk imigrasi ? Helloooo… paspor ini belum dicap masuk!

Saat ini saya masih dalam keadaan tak jelas, sudah tercatat keluar dari Thailand tetapi belum masuk Laos. Jika tanah ini bukan tanah siapa-siapa, artinya masih adakah hukum disini jika something’s going wrong? Namun jika ini tanah Laos, saya masih berjalan sebagai illegal alien… pendatang haram…

Saya melihat seorang perempuan berseragam dinas berjalan melintas sekitar seratus meter di depan. Melihat sebuah kesempatan baik, saya langsung mengejar dan bertanya padanya. Untunglah ia berkenan mengantarkan saya langsung ke gedung imigrasi karena ia juga menuju tempat yang sama, sambil menjelaskan nomor konter ASEAN yang harus saya masuki. Alhamdulillah… Ternyata gedung yang dimaksud terletak di sebelah gedung yang ditunjuk petugas perempuan yang pertama tadi. Adanya angin ribut lokal menyebabkan saya melangkah ke arah yang salah.

Finally the Counter for ASEAN
Finally the Counter for ASEAN

Saya mengikuti sarannya dan mengambil kartu kedatangan lalu mengisinya kemudian menyetorkan ke lubang di bawah jendela.

Saya ditanya asal negara yang saya jawab sambil jengkel (saat itu tidak ada orang lain alias sendirian dan dia memegang paspor saya yang sudah jelas tertulis Republik Indonesia, masih ditanya lagi!) Ujung-ujungnya adalah 10000Kip. Masalahnya saya tidak punya Kip, tidak punya Bath kecil. Untung saja saya selalu bawa uang US$1 sisa dari Kamboja, saya sodorkan dua lembar dan mereka tersenyum menyerahkan kembali paspor saya yang sudah bercap Vangtao, Lao PDR. Ini sesuai dengan apa yang diceritakan di internet bahwa di perbatasan Laos, imigrasinya selalu meminta uang 10000Kip sebagai processing fee. Hah?? Kalau warganegara asing yang perlu VOA okelah, tapi kalau ASEAN yang hanya tinggal cap, apa lagi yang diproses? Ya sudahlah… apalagi saat itu akhir minggu… (eh, eh…… whaaattt???)

Saya baru ingat hari ini adalah akhir pekan. Bank tutup! Saya di tanah Laos dan tidak punya uang. Celaka dua belas! Dengan memegang paspor saya keliling mencari money changer dan semuanya tutup Saudara-saudara… Saya melangkah ke ATM Laos, keren nih, bisa tarik uang melalui jaringan internasional. Tetapi ada orang yang mencobanya dan gagal… Bahkan ia memperlihatkan kepada saya layar yang bertulisan Out of Service. Metooong!!! Saya iseng melangkah ke Bank di seberang jalan hanya untuk membaca tulisan yang tergantung di pintu, Closed. Bagus sekali!

Saya kembali kearah ATM tadi tak henti berharap palsu. Tadaaaa… saya mendapat berkah lagi, ATM sekarang berfungsi, mungkin tadi sistemnya belum siap. Sukses mengambil uang dan merasa ‘kaya’ dengan Kip Laos, saya melanjutkan perjalanan. Saya kan harus ke Pakse!

Lagi-lagi saya bertanya kepada seseorang yang berseragam dinas dan diantarkan ke tempat ojek agar bisa diantar ke tempat minivan. Begitu banyak orang baik! Di tempat saya turun dari ojek, dua orang mendekati saya. Satu menawarkan mobil langsung ke penginapan saya di Pakse dan satu lagi naik minivan yang berakhir di terminal. Ini pilihan dengan negosiasi seru penuh tawa karena saya menggunakan jari-jari untuk menawar termasuk merajuk jika terasa mahal. Akhirnya setelah berkomunikasi bahasa tarzan dengan warga lokal itu, saya dapat mobil privat langsung ke Pakse dengan harga sedikit lebih tinggi daripada harga minivan. Great!

Saya meninggalkan perbatasan Vangtao dan menempuh 1 jam perjalanan lagi ke Pakse. Kali ini jalur lalu lintas Laos berada di sebelah kanan dengan jalan yang relatif mulus namun berdebu yang kadang dihiasi dengan rombongan sapi yang menyeberang tanpa lihat mobil berkecepatan tinggi sedang melaju. Tak hanya sekali sang pengemudi menginjak rem secara mendadak dan para sapi itu hanya bisa nyengir… dan saya terus bergumam dalam hati… Wat Phou, I’m on the way…

Ada Apa dengan Ubon di Thailand Timur?


Mendarat transit di Don Muang Bangkok (on the way ke Thailand Timur dan Laos) memberi kenangan tersendiri bagi saya, memunculkan kembali rasa sentimentil. Sama seperti dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di Bangkok untuk 1st solo-trip, saat bandara Suvarnabhumi belum berfungsi dan Don Muang masih menjadi satu-satunya bandara internasional di Bangkok. Segala sesuatu yang pertama kali memang berkesan manis. Bahkan kekumuhan Don Muang yang dulu tetap saya suka. Berkali-kali ke Bangkok baik bisnis maupun terbang bersama keluarga kebanyakan mendarat di Suvarnabhumi, sampai akhirnya penerbangan berbiaya rendah memindahkan operasinya ke Don Muang dan baru kali ini saya mendarat lagi di Don Muang. Sendiri. Rasanya sama, déjà vu, penuh keluarbiasaan…

Apalagi dalam trip kali ini, tak sedikit yang “untuk pertama kalinya”

Saya selalu teringat pertanyaan retorik yang memecut agar keluar dari comfort zone dan bisa terus bertumbuh, When was the last time you did something for the first time?

Ah, mungkin terasa sebagai alasan…  Memang saya pernah ke Bangkok, tetapi bukankah ini kali pertama saya pergi ke Ubon Ratchathani dengan maskapai yang baru pertama kali saya gunakan?

Penerbangan Nok-Air selama satu jam ke Ubon Ratchathani atau biasa disingkat Ubon berlangsung nyaman, termasuk diberikan kue dan air kemasan mangkuk kecil. Beberapa saat setelah mendarat di bandara Ubon Ratchathani, -karena menggunakan SIM card TrueMove unlimited-, notifikasi Facebook mengingatkan tepat empat tahun lalu saya sedang berada di Chiang Rai, Thailand Utara, daerah yang terkenal dengan nama The Golden Triangle wilayah dengan tiga perbatasan, yaitu Laos, Myanmar dan Thailand. Dan kini saya dalam perjalanan memasuki The Emerald Triangle, wilayah dengan tiga perbatasan lainnya yaitu Laos, Cambodia dan Thailand. Tapi semoga empat tahun lagi saya sedang tidak berada di Bermuda Triangle hehehe…

Saya ikut antrian penumpang yang menanti taksi bandara. Udara akhir bulan April yang panas terasa menerpa wajah. Sungguh waktu yang tidak tepat untuk berkunjung ke Thailand ataupun Laos karena masih termasuk bulan panas terik. Tetapi apa sih yang bisa mengalahkan kegembiraan bisa jalan walau terik sekalipun?

Wat Ban Na Muang

Berdekatan dengan bandara Ubon, saya mampir sebentar untuk melihat keindahan kompleks kuil yang disebut juga dengan Wat Sa Prasan Suk ini. Kompleks ini terkenal dengan replika kuil kerajaan diatas perahu panjang, baik yang dibangun diatas kolam maupun yang diatas daratan. Saya terkagum dengan gerbangnya berupa seseorang yang mengendarai gajah berkepala tiga, yang biasa dikenal di Thailand sebagai Erawan. Hmm, saya terpikir percampuran manis Hindu dalam praktek Buddha yang terjadi di Thailand ini, karena yang terlintas dalam benak adalah dewa Indra sedang menaiki Airawatha dalam filosofi Hindu.

The Main 'Barge' of Wat Ban Na Muang, Ubon Ratchathani
The Main ‘Barge’ of Wat Ban Na Muang, Ubon Ratchathani

Saya disambut dengan kemegahan perahu panjang penuh ukiran yang sangat indah dan detail. Jika diperhatikan dengan seksama, bisa dilihat badan ular berkepala tujuh keluar dari mulut Naga sebagai batas dari replika perahu panjang lengkap dengan bangunan kuil di tengah-tengah dan patung para pendayung dan penjaganya.

Tak jauh dari replika perahu panjang, terdapat patung Buddha keemasan yang cukup besar dengan sebuah patung biksu yang lebih kecil berada di depan Buddha di atas sebuah pelataran. Tetapi terik matahari cukup membuat keringat mengucur sehingga membatalkan saya untuk menjelajah pelataran atas itu.

Big Buddha on Wat Ban Na Muang, Ubon
Big Buddha on Wat Ban Na Muang, Ubon

Sebuah bangunan dengan bentuk atap cantik khas Thailand didirikan didekatnya untuk meletakkan genta-genta. Latar yang bagus sekali walaupun panas menyelimuti kompleks ini. Hanya ada sesuatu yang sedikit mengganggu diantara keindahan kompleks yaitu adanya beberapa makam yang tepat berada di dekat bangunan-bangunan indah itu. Meskipun keadaan makam terawat dengan baik, tetap saja terlihat janggal.

Melangkah mendekati kolam dengan air yang sedikit menyejukkan udara sekitar, terlihat lagi sebuah bangunan semen berbentuk perahu panjang dengan kuil kecil khas Thailand di tengahnya. Di ujungnya berhias Naga berkepala tujuh. Pernah lihat yang berkepala sembilan atau sebelas?

Matahari mulai tergelincir meninggalkan ketinggiannya, saya harus bergegas ke destinasi berikutnya karena waktu saya di Ubon hanya setengah hari ini.

Wat Phra That Nong Bua

Setelah berberes sebentar di penginapan, saya bergegas lagi menuju salah satu landmark suci kota Ubon yang must-see karena menyerupai Kuil Mahabodhi di Bodhgaya, India. Saya naik tuktuk kesana tetapi karena masalah bahasa, saya diturunkan di pasar dekat kuil. Ya sudahlah, untung saja puncak bangunan terlihat dari pasar sehingga saya bisa berjalan kaki kesitu. Coba kalau puncaknya tak terlihat, apa yang akan terjadi?

Sekelompok orang sedang melakukan persiapan doa di pelataran luar, sehingga saya melipir kearah lain untuk mengambil foto. Setiap sudut diberi stupa berbentuk serupa hingga menambah manis taman yang tertata dengan apiknya di halaman dalam. Seorang petugas tampak tak henti membersihkan pelataran dari daun-daun yang jatuh. Tak jauh dari saya berdiri, dua perempuan muda duduk di halaman dengan buku di pangkuan sepertinya sedang belajar dan seperti umumnya monasteries dimanapun, suasana hening dan damai juga terasa di sini.

Nice inner yard of Wat Phra That Nong Bua, Ubon
Nice inner yard of Wat Phra That Nong Bua, Ubon

Dengan melepas alas kaki saya mengelilingi bangunan kuil yang dibangun tahun 1956 ini. Empat pintu berukir di tiap sisi diapit empat patung Buddha berdiri pada tiap sisi di kanan kiri pintu. Panel-panel cerita Jataka, -cerita kehidupan Buddha-, menghiasi tiap sisi bangunan dengan indahnya dengan hiasan naga berkepala tujuh di tiap sudutnya.

Masuk ke bangunan utama, saya terpesona melihat isinya yang serba keemasan. Empat Patung Buddha berlapis emas menghadap tiap pintu, -menggambarkan Kelahiran, Mendapatkan Pencerahan, Pemberian Wejangan dan Saat Mangkat dari Buddha Gautama-, keempatnya membelakangi stupa Mahabodhi berlapis emas yang lebih kecil dan mengerucut ke atas yang menyimpan relic. Langit-langit tinggi menjulang dengan penyangga berhias berwarna merah. Dengan penerangan dari lampu chandelier yang cantik menambah rasa mewah tempat ibadah ini. Dua orang bersimpuh dalam hening di depan Buddha, seperti tak peduli akan kehadiran turis disitu.

Keluar meninggalkan bangunan utama, saya melangkah ke bangunan lain berbentuk bangsal besar yang sunyi di halaman sebelah. Di sisi depan terdapat patung Buddha yang cukup besar dengan patung Buddha Berbaring di belakang atasnya. Sepinya terasa menggigit sehingga saya cepat-cepat meninggalkan ruangan itu setelah mengambil foto. Apakah ini tempat untuk…? Hmmm… mungkin saja!

Inside of A Building in Wat Phra That Nong Bua, Ubon
Inside of A Building in Wat Phra That Nong Bua, Ubon

Di halaman luarnya terdapat karya seni berhias khas Thailand yang mengambil kisah-kisah epos Ramayana, termasuk pertempuran Garuda dan Naga yang dibuat dengan sangat indah. Saya menyelami keindahan Theravada Buddha yang dianut oleh masyarakat Thailand ini. Buddha yang khas, seperti juga di Laos dan Cambodia, praktek Buddha disini diwarnai oleh pengaruh Hindu, bercampur dalam damai. Bagaimana mungkin saya mengabaikan pengaruh Hindu yang kuat jika Raja-raja Thailand bermula dengan nama-nama Rama dan berlanjut saat ini dengan dinasti MahaChakri juga nama Ayutthaya yang konon berakar dari kata Ayodya?

Saya meninggalkan Wat Phra That Nong Bua sebelum gelap karena saya tak mengenal wilayah sekitar itu. 500 meter berjalan kaki menuju jalan besar, saya tak menemui halte bus atau tuktuk. Celaka dua belas. Ini terlalu jauh jika jalan kaki ke penginapan. Tapi tak ada cara lain, tetap harus jalan kaki. Sebuah mal cukup besar terlihat di depan mata, saya menggembirakan hati paling tidak jarak 2 kilometer masih bisa dijalani. Pasti ada kendaraan umum disana. Semangat saya bergerak kearah mal, tapi bukan untuk belanja 🙂

Taman Thung Si Meuang

Sebisa mungkin saya mengeringkan keringat yang mengucur sebelum naik taksi, tetapi metabolisme tubuh saya luar biasa, tubuh ini masih saja mengucurkan keringat walaupun sudah duduk beberapa menit di teras luar mal. Tak mau berlama-lama, dengan setengah berkeringat saya naik taksi menuju taman Thung Si Meuang, taman kota Ubon Ratchathani. Semoga pak sopir tidak pingsan karena mencium keringat saya 😀 namun syukurlah… ternyata jauh juga kalau harus jalan kaki hehehe…

Di Taman kota Thung Si Meuang terdapat dua ikon kota yang menarik, Salah satunya adalah monumen lilin raksasa keemasan yang berukir dalam sebuah wahana yang diujungnya terdapat Garuda dengan sayap terkembang. Dengan latar senja jelang malam, ikon kota Ubon Ratchathani itu terlihat berkilau. Cantik sekali. Monumen lilin raksasa ini ditempatkan di ujung sebuah tanah lapang yang saat saya datang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berolahraga. Saya tak dapat membayangkan bagaimana penuhnya tempat ini setiap bulan Juli karena menjadi pusat Festival Lilin. Tertarik untuk datang untuk meramaikan festival Lilin ini?

Giant Candle and Garuda in Thung Si Muang Park, Ubon
Giant Candle and Garuda in Thung Si Muang Park, Ubon

Melangkah sedikit ke Selatan, saya duduk di pinggir kolam sambil melihat Bilik Puja (Shrine) yang berisikan Pilar kota. Sayangnya ketika itu Pilar Kota cukup dipenuhi orang sehingga saya hanya bisa mengabadikan dari jauh.

Saya bergerak kembali seperti malam yang merangkak naik, tampak kesibukan di bagian jalan yang membelah taman Thung Si Meuang ini. Sepertinya ada gelaran pasar malam jelang akhir minggu. Saya hanya melihat-lihat sebentar sambil melangkah menuju penginapan sekalian mencari-cari makanan yang terlihat menarik. Akhirnya nasi goreng udang khas Thailand ditenteng ke penginapan yang tak jauh lagi. Setelah mandi keringat karena berjalan cukup jauh dari Wat Phra That Nong Bua hingga Mal, saya perlu berlama-lama menikmati mandi yang menyegarkan.

Meskipun hanya tersedia waktu setengah hari bagi saya untuk menjelajah Ubon Ratchathani, saya telah meninggalkan jejak di kota yang berada di Thailand Timur ini. Memang masih banyak tempat cantik yang bisa dikunjungi tetapi lagi-lagi waktu bukanlah milik saya. Besok perjalanan menanti dengan keseruan lainnya. Lintas batas Negara menanti. Ini pasti lebih adventurous

Ketika Si Cantik Hoi An Menghadirkan Cinta


Walaupun cuaca diprakirakan berhias hujan rintik sepanjang hari, -apalagi badai di atas laut China Selatan tak juga berkurang-, saya tak dapat menunggu lebih lama agar mendung berpindah dari langit kota yang telah saya jejakkan pertama kali di siang itu. Tak ada jalan lain kecuali menembus dan menari diantara rintik hujan karena tak tersedia waktu yang cukup bagi saya untuk berdiam diri menanti hujan berhenti.

Si cantik Hoi An menawarkan begitu banyak keindahan hingga UNESCO tak ragu menganugerahinya sebagai World Heritage City, seperti juga Luang Prabang atau Melaka. Dan karena begitu banyak sudut kecantikannya, saya memulai dari An Hoi Sculpture Park, -sebuah taman karya seni-, yang tepat berada di pinggir sungai yang selemparan batu dengan penginapan saya. Rintik hujan membuat suasana menjadi lebih intim walau tak ada informasi tentang karya-karya indah di taman yang relatif mini ini selain untuk dinikmati dengan latar belakang sungai dan rumah-rumah kuno Hoi An. Di beberapa tempat tersedia kursi yang lebih banyak diisi oleh manusia yang sedang jatuh cinta. Tetapi bukankah si cantik Hoi An memang menawarkan cinta di sudut-sudut keindahannya?

Saya berjalan kaki sambil beberapa kali melompati genangan basah, lalu  menyeberangi jembatan yang tiang-tiangnya berhias lampion merah yang cantik. Becak wisata, sepeda yang disewa turis, sepeda penduduk lokal, pejalan kaki yang berjas hujan transparan atau berpayung warna warni tumplek blek memenuhi jembatan yang menghubungkan saya ke jantung kota tua. Hati terasa berdenyut lebih kuat, merasakan kenyamanan suasana kota heritage dunia yang segala sesuatunya memanjakan mata dan memikat rasa.

Pelan-pelan saya melangkah menyusuri pinggir sungai hingga sampai di sebuah landmark kota Hoi An yang terkenal yaitu Japanese Bridge. Jembatan lengkung berbentuk lorong tertutup yang dibangun tahun 1593 oleh komunitas pedagang Jepang itu sebenarnya memiliki nama lokal Lai Vien Kieu atau Bridge from Afar. Beberapa bagian pada dindingnya berhias keramik biru dengan ukiran atap yang sangat memikat hati. Pengunjung yang datang begitu dimanjakan dengan bisa menyaksikan dan menikmati keindahan jembatan dari samping kanan, atau dari jembatan kecil di seberangnya, atau bahkan dari jalan yang menembus lorongnya, yang semuanya memiliki keindahannya masing-masing. Apalagi ketika malam telah datang memeluk, lampu-lampu temaram yang menerangi lembut sang landmark seakan melengkapi kecantikan Hoi An.

The Famous Japanese Bridge at Night
The Famous Japanese Bridge at Night

Terpisah satu blok melewati beragam façade kuno yang cantik dari berbagai café dan toko, saya sampai pada tempat yang dikenal dengan nama Quang Dong yang bergapura merah berukir. Bangunan cantik dengan gaya campuran China Kanton dan tradisional Hoi An ini, dibangun sekitar tahun 1786 oleh etnis China Kanton yang datang ke Hoi An dan merupakan tempat berkumpulnya sekaligus menjadi kuil untuk pemujaan bagi  warga etnis China Kanton. Terdapat dua patung sejenis burung dengan ukiran yang sangat rumit dengan kaki langsing yang berdiri di atas kura-kura, menjadi penjaga pintu kuil. Dan di halaman dalam kuil di bagian tengah terdapat karya seni di atas kolam berupa patung naga dan ikan yang sangat indah.

Ah, si Cantik Hoi An ini, tanpa menjadi seorang ahli sejarah pun, pengunjung benar-benar dimanjakan dengan pernik-pernik menggemaskan dan kerling manis lampion-lampion warna warni yang tergantung cantik di jalan atau beranda toko maupun rumah makan. Cinta memang hadir menggoda di kota cantik ini dan menyelimuti setiap hati yang datang. Rintik hujan yang menghilang tak membuat kedekatan kepala-kepala pasangan menjauh, bahkan tangan-tangan mereka semakin erat menggenggam, mendekatkan bahu yang sudah bersentuhan, mencoba mengalahkan dinginnya udara saat itu.

Jemari kaki yang dingin karena hanya berlapis sandal membuat saya melangkah masuk ke sebuah rumah tua yang terpelihara dan tampak sangat mengundang. Rumah toko Quan Thang, merupakan salah satu rumah tertua dan tercantik di Hoi An. Dibangun oleh seorang pedagang makmur China di akhir abad-17, bangunan ini menjadi contoh terbaik dari rumah toko satu lantai yang memiliki dua muka di jalan yang berbeda. Rumah tua Quan Thang ini juga memiliki berbagai corak arsitektur yang saling mendukung sehingga memberi kesan luas dan sangat nyaman ditinggali. Dan berdasarkan perabot antik yang ada dan masih terpelihara serta tata cara penghuni rumah menjalani hidup selama enam generasi, menunjukkan betapa makmur para keluarga pedagang China dan juga kota Hoi An lama pada masanya sebagai kota pelabuhan dan perdagangan. Terbayang langsung di benak betapa si Cantik Hoi An menjaga keindahan rupa dari kemakmuran para penghuninya.

Tidak itu saja, kecantikan Hoi An terlihat pula dari eratnya hubungan komunitas pedagang China di kota lama itu. Seperti yang dapat disaksikan di bangunan Chinese Assembly Hall, Lop Hoa Van Le Nghia, yang merupakan tempat berkumpulnya para pedagang China dari berbagai etnis, saling bertukar cerita dagang, saling bantu sekaligus melakukan pemujaan untuk keselamatan dan keberuntungan serta meneruskan tradisi yang telah berakar. Bangunan yang berada di pertigaan ini, memiliki relief burung phoenix di kedua dinding dekat pintu, yang menjadi symbol keabadian. Dan seakan ingin menjadikan sebuah misteri yang abadi, si Cantik Hoi An tidak serta merta memberikan informasi mengenai sejarah dari bangunan ini.

Meninggalkan Chinese Assembly Hall dan berpapasan dengan deretan becak-becak wisata yang tak putus serta para turis penyewa sepeda, membuat saya berdiri menunggu di seberang bangunan menarik lainnya yaitu Chua Phuc Kien, sebuah kuil cantik yang didedikasikan kepada Thien Hau, sang dewi laut yang merupakan pelindung para pelaut. Bangunan yang didirikan jelang akhir abad-17 oleh pedagang China yang meninggalkan negeri sejalan dengan runtuhnya kekuasaan dinasti Ming di China ini, merupakan kuil yang lebih banyak melayani etnis Fukien karena etnis ini menjadi mayoritas di kota Hoi An lama. Dan sebagai kota pelabuhan yang mempertemukan banyak pasangan, ternyata kuil ini juga merupakan salah satu tempat pemujaan untuk mendapatkan berkah keturunan.

Melanjutkan langkah kaki pada suasana kota yang semakin temaram dengan hujan rintik yang kembali membasahi bumi, akhirnya saya sampai di Cho Hoi An, pasar induk di Hoi An. Awalnya saya bertahan dengan menggunakan tudung jaket untuk menari di bawah hujan sepanjang jalan di Hoi An, ternyata hujan semakin deras yang memaksa saya harus berteduh, tepat di depan gerbang pasar. Pasar yang terkenal hingga sekarang ini merupakan tempat berkumpul dari para pedagang untuk menjual keperluan sehari-hari.

Ketika hujan telah berkurang derasnya, saya meninggalkan pasar menuju Japanese Bridge melalui jalan yang berbeda. Rintik hujan ditengah udara malam yang dingin, lampion-lampion yang menyala temaram di atas beranda toko dan rumah makan termasuk yang tergantung melintang di atas jalan, menambah aura mesra di sepanjang jalan yang basah. Tak sedikit terlihat payung yang terkembang dengan dua tubuh merapat di bawahnya membuat iri bagi siapa saja yang menyaksikan. Hati saya berdenyut tersenyum merasakan kehadiran cinta di kota Hoi An ini.

Malam merambat naik, saya melewati saja Museum Folklor yang bermandi cahaya dan the Old House of Tan Ky karena sudah tutup serta Museum Keramik karena ada yang bermain genderang di perut saya, tanda pemberontakan minta diisi. Walaupun beberapa kali berhenti untuk memotret, akhirnya saya  berhenti pada seorang ibu di pinggir jalan yang menjual kue moci dan membiarkan kue moci dan uang Vietnam Dong saling bertukar tempat. Lalu saya melanjutkan langkah kembali sambil memindahkan kue moci itu ke mulut hingga akhirnya saya sampai kembali ke pinggir sungai.

Terfokus pada Japanese Bridge yang terlihat sungguh cantik karena bermandi cahaya, saya tak segera melihat ada pasangan calon pengantin di atas perahu kecil yang sedang berfoto di dekat tempat saya berdiri. Cinta yang hadir disitu merekatkan dua hati, membuat saya tersenyum lagi, siapa yang bisa mengabaikan suasana penuh romansa dari si Cantik Hoi An?

Setelah berfoto dengan latar Jembatan Jepang, kedua calon pengantin itu melarungkan lilin dalam wadah kertas berbentuk mahkota, -yang setahu saya di Thailand disebut krathong-, sebagai lambang melepas semua yang berbau negatif saat hendak memasuki kehidupan baru. Tetapi melarungkan lilin dalam wadah itu tidak hanya milik kedua calon pengantin itu saja, karena banyak pengunjung melakukannya. Melarung, bisa jadi merupakan sebuah terapi untuk melepas semua yang tidak menyenangkan, semua yang menyedihkan dan berbagai rasa negative lainnya yang terjadi di masa lalu untuk dikembalikan kepada Sang Pemilik Alam.

Saya melangkah pelan menyusuri sungai untuk kembali ke penginapan, terdiam dalam hening menyaksikan lilin-lilin dalam wadah berbentuk mahkota itu bergerak perlahan-lahan, terombang-ambing mengikuti arus di permukaan Sungai Thu Bon. Walau lilin dalam wadah itu kecil, tetapi terlihat begitu terang, kontras dengan warna gelap permukaan sungai. Seperti juga dalam kehidupan, bintang-bintang ataupun lilin-lilin yang terlihat kecil, namun terangnya mampu memberi petunjuk arah.

Ah, lagi-lagi keindahan di depan mata itu terasa seperti sebuah sindiran penuh cinta dari si Cantik Hoi An, agar kita senantiasa menjadi pelita penunjuk arah dalam perjalanan hidup…

Hoi An and Thu Bon River at Night
Hoi An and Thu Bon River at Night