Berserah Bermadah


25 Desember 2019 Malam, Waktu Makkah

Sesegera setelah makan malam kami berkumpul langsung di lobby hotel. Hampir semua jamaah pria menyempurnakan kembali pakaian ihram yang telah dikenakan sejak miqat di Masjid Bir Ali siang tadi. (Baca dulu perjalanan dari Madinah ke Mekkah sebelumnya dengan judul Pilgrimage 4: Menuju Tempat Utama)

Pak Ustadz berdiri paling depan mengawali rombongan kami, -kecuali Nini yang melakukan umroh dengan layanan kursi roda-, kemudian kami berjalan bersama menuju Masjidil Haram sambil melafalkan doa dan kalimat talbiyah. Terasa getar halus yang merambat naik ke seluruh tubuh. Inilah dia, inilah waktunya. Semakin dekat, semakin banyak manusia. Seperti yang Pak Ustadz katakan, Masjidil Haram tak pernah sepi dari manusia, apalagi jelang waktu shalat. Dimana-mana orang akan berusaha mendekat. Merasakannya sendiri, berada diantara ribuan jamaah itu, timbul berbagai rasa dari dalam hati. Merasa kecil tapi sama-sama manusia, syukur bercampur haru, rasa asing, takut, bahagia, ada juga sedikit tak sabar, semua campur aduk menjadi satu, timbul tenggelam.

Di pelataran depan Clock Tower kami berhenti, menunggu rombongan dari hotel bintang lima bergabung. Kesempatan menunggu itu saya gunakan untuk memutar kepala, mengarahkan pandang ke gerbang Masjidil Haram. Ya Allah, begitu terang, begitu bercahaya. Begitu banyak jamaah hilir mudik dalam balutan ihramnya. Saya memindah pandang ke bawah, tak mau yang lain mengetahui airmata yang menetes, mengharu biru. Untunglah bermanja rasa itu tak lama karena harus fokus mengikuti langkah Pak Ustadz agar tak terpisah. Karena berjalan dalam satu rombongan diantara ribuan orang yang berselimut warna putih, tentu tidak semudah bicara. Apalagi di tempat tersuci, semua niat dan perkataan bisa membawa akibat.

Gate at Night

Sebelum melakukan tawaf, kami shalat Jamak Maghrib dan Isya yang diimami oleh Pak Ustadz, karena kami semua ingin melakukannya di Masjidil Haram. Tempat yang dipercaya, sekali shalat disini mendapat ganjaran pahala 100.000 kali di bandingkan shalat di Masjid lain kecuali Masjid Nabawi dan Masjidil Aqso. Dan setelahnya, kami menuju area Mataf, area tempat Ka’bah berdiri

Ritual Umroh

Berjalan menuju Mataf, saya memanjang-manjangkan leher. Sebagai orang yang belum pernah menginjakkan kaki di Masjidil Haram, tentu saja ada keinginan yang amat kuat untuk bisa melihat Ka’bah yang menjadi arah kiblat shalat dengan mata kepala sendiri. Tetapi Masjidil Haram itu amatlah luas dan pak Ustadz dengan mudahnya berjalan seakan-akan kakinya memiliki mata, sementara saya seperti kerbau yang dicocok hidungnya untuk terus mengikutinya. Sampai akhirnya… sepasang mata saya ini melihat Ka’bah untuk pertama kalinya. Masya’Allah

Saya melihatnya sambil berjalan dengan mata tak berkedip. Bangunan yang biasa terlihat di sajadah-sajadah atau hanya bisa disaksikan via media, kini saya bisa melihatnya langsung dengan mata sendiri. Saya berkedip-kedip menahan airmata yang menggenang memenuhi pelupuk. Allah Maha Baik telah memberikan saya kesempatan berkunjung ke tempat yang suci ini. Berkali-kali saya menggigit bibir untuk memastikan saya tak bermimpi.

Sebelum melangkah ke area Mataf yang dipenuhi begitu banyak orang, pak Ustadz mengingatkan kami semua untuk tetap bersama-sama dan tak terpisah dari rombongan. Mendengar itu, langsung saja saya menggamit ujung kain ihram suami yang memang disisakan di bagian pinggang (sang belahan jiwa mengikuti arahan dari Pak Ustadz tentang cara mengenakan kain ihram yang katanya tidak akan melorot dan akan semakin kencang jika bagian sisa itu ditarik). Begitu banyak rasa ketika akhirnya saya benar-benar mengikhlaskan diri, berserah sepenuhnya saat menapakkan kaki untuk pertama kali di area Mataf, pelataran terdekat berlantai putih yang melingkari bangunan dengan sisi sekitar 12 – 13 meter itu. Ada gema khusus dari dalam jiwa saat menjejak lantainya, tak bisa dijelaskan rasanya kecuali rasa haru yang melimpah ruah.

Tawaf

Tawaf

Meski langit malam memayungi kota Mekkah, saat itu saya sama sekali tak merasa gelap karena cahaya lampu begitu terang. Apa yang sering saya lihat di TV atau media sosial lain, kini saya ada di dalamnya, mengikuti langkah-langkah manusia lain yang berserah diri, bermadah dan melantunkan pujian, berharap kasih sayangNya. Meski tawaf dilakukan jelang tengah malam, jumlah jamaah yang melakukannya tak juga menyurut. Udara terasa sejuk meski tak sedingin Madinah. Mungkin itu juga yang menyebabkan jamaah banyak memulai ritual umroh pada malam hari, seperti kami.

Melihat begitu banyaknya orang di area Hajar Aswat, -sebuah sudut berbatu hitam yang segarisnya menandakan awal Tawaf,- saya langsung minder. Apalagi rombongan kami tak ada yang mendekat ke Hajar Aswat. Saya melambaikan tangan sebagai lambang menciumnya lalu melantunkan bacaan dan pujian

Putaran demi putaran tak terasa lelahnya jika puji-pujian dan doa dilantunkan hanya untukNya, kadang ada desakan dan dorongan datang dari rombongan yang baru datang atau juga datang dari rombongan yang telah selesai. Tak ada umpatan, kejengkelan dan kemarahan, semua saling memberi jalan, berhenti sejenak meskipun bisa tergencet karena dorongan dari belakang. Kadang saya terhimpit dari samping oleh badan suami yang terdesak tapi tak pernah lama. Apapun, semua maklum. Hanya ada rasa berserah di RumahNya. Rombongan Indonesia amat mudah dikenali, biasanya banyak, berpakaian sama kecuali para prianya yang berihram biasa. Yang menarik perhatian adalah suara lantunan mereka yang nyaring diawali oleh pembimbingnya. Bisa jadi mereka tak sadar telah bersedekah membantu yang sulit menghafal bacaan doa dan pujian.

Dan saya mendapat keajaiban itu. Saya menyadarinya, meskipun lupa pada hitungan putaran keberapa. Awalnya saya tak percaya, tetapi keadaan itu tak berubah hingga Tawaf selesai. Saya menggigit bibir penuh rasa syukur sambil tak berhenti mengucapkan doa dan puji-pujian. Ya Allah… rasanya tak tertahankan, tak terkatakan… Di tengah padatnya manusia yang sedang berjalan itu, saya menyaksikan sendiri, sekitar semeter setengah lingkaran di depan saya selalu kosong Padahal di luar itu, langsung ada punggung orang lain. Ketika saya mempercepat jalan hingga mendekat ke orang di depan saya, maka orang di depan saya selalu bergerak lebih cepat. Selalu ada ruang sekitar 1 meter di depan saya yang kosong seakan-akan dibukakan jalan agar saya mudah melangkah, berlangsung terus hingga Tawaf selesai. Alhamdulillah.

Ya Allah, saya mengingat anugerah-anugerah penuh keajaiban yang terjadi dalam kehidupan saya, juga dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya. Sungguh saya merasa mendapat berkah yang tak habis-habis. Rasa syukur begitu memenuhi hati seakan hendak meledakkan diri, semua hanya untukNya, Dzat Yang Maha Baik.

Setelah Tawaf, jamaah mendirikan shalat sunnah di belakang maqom Ibrahim. Meskipun diberi tali pembatas, kadang jamaah yang sedang Tawaf membuatnya tergeser sehingga ruang untuk bersujud bagi jamaah yang sedang shalat menjadi lebih sempit. Namun hebatnya para petugas, yang dikenal sebagai Askar, dengan sigap mengembalikan pembatasnya dan meminta jamaah agar shalat di area yang ditentukan. Shalat pertama saya di pelataran Ka’bah membuat rasa begitu membuncah. Luar biasa sekali. Gambaran-gambaran yang begitu sering terlihat di sajadah kini terpampang di hadapan saya. Sebisanya saya merekam dalam ingatan karena lebih banyak doa dilangitkan di tempat yang konon makbul untuk berdoa.

Dalam Masjid Al Haram

Sa’i dan Tahallul

Gelap malam masih meliputi kota Makkah ketika kami berjalan menuju Mas’a, -tempat melakukan Sa’i-, yaitu aktifitas wajib dalam haji dan umrah yang mengharuskan jamaah berjalan (sedikit cepat) dari bukit Shafa menuju Marwah dan sebaliknya sebanyak tujuh kali, untuk mengingat upaya keras Siti Hajar demi putranya, -Nabi Ismail AS yang menangis kehausan-, sehingga Siti Hajar setengah berlari dari Shafa menuju Marwah bolak-balik untuk mendapatkan minum. Akhirnya Allah memancarkan sebuah mata air untuk mereka berdua yang belakangan dikenal Air Zamzam.

Saat itu, seperti juga Tawaf, Sa’i di tengah malam itu tetap padat luar biasa. Kembali saya terpesona, area Mas’a lengkap dengan pendingin udara dan kipas, lebarnya sekitar 20 meter yang terdiri dari dua jalur lebar untuk para pejalan kaki serta dua jalur khusus untuk jamaah difable maupun pengguna kursi roda. Tentu saja kondisi ini teramat jauh berbeda dengan kondisi orisinalnya di jaman dulu. Kini, perjalanan tujuh kali putaran sepanjang total 2,8 kilometer itu pun terasa tak melelahkan, karena sejalan dengan kaki yang melangkah, pikiran diingatkan pada upaya Siti Hajar yang selalu memohon pertolongan Allah dalam menghadapi kesulitan, dan memohon ampunan dari seluruh perbuatan dosa.

Sa’i

Setelah berniat, kami berjalan di antara para jamaah dengan kecepatan rata-rata. Saya, juga para muslimah dalam rombongan kami, mengimbangi kecepatan para jamaah pria yang harus berlari-lari kecil dalam kawasan yang berlampu hijau. Karena sa’i adalah salah satu rukun ibadah yang dilakukan dengan jalan cepat, lebih cepat dari jalan biasa dan lebih lambat dari lari.

Meski dalam ritual ibadah, mata ini tak mampu mengabaikan kemegahan tempat Sa’I, yang dimasukkan ke dalam bagian Masjidil Haram pada tahun 1975 ketika sedang dilakukan perluasan Masjid. Kini, di bangunan dua lantai demi mengakomodasi jumlah jama’ah yang semakin besar tiap tahunnya, kaki jamaah bisa senantiasa bersih karena menapaki lantai marmer putih yang menutupi area hingga ke bukit Shafa dan Marwah. Di bagian ujung, meski hanya sebagian kecil saja, dua puncak bukit tersebut dibiarkan terbuka apa adanya dengan batuan khas Jazirah Arab.

Saat Sa’i, mata ini sempat menangkap pandangan seorang perempuan sepuh berjalan sendiri di pinggir, tertatih dengan ritme kaki yang sudah ringkih. Raga boleh tertatih, namun mungkin baginya iman kepada Allah lebih utama. Bukankah Sa’i sendiri bermakna perjuangan hidup yang pantang menyerah, penuh kesabaran, ketakwaan dan ketawakalan terhadap Allah? Gambaran ibu sepuh tadi berakar kuat di benak, seakan mengingatkan sejatinya Sa’i tak boleh terlalu nyaman dengan lantai marmer ber-AC.

Hampir tiga kilometer ritual Sa’i dilakukan dan ketika selesai di bukit Marwah, rasa syukur lagi-lagi membuncah deras. Di dekat batuan keras bukit Marwah itu, kami semua melakukan tahallul yang ditandai dengan menggunting rambut. Tahallul sendiri menandakan selesainya ibadah umroh. Semua yang haram dilakukan selama Umroh kini telah menjadi halal kembali. Alhamdulillah.


Malam masih menyelimuti bumi Mekah ketika kami melewati sebuah pintu keluar dari area Mas’a. Langit masih gelap meski cahaya lampu bersinar amat terang. Saya melempar pandang, dimana-mana masih terlihat jamaah berpakaian serupa, bernada sama, berserah dan bermadah kepadaNya.

Ka’bah

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 8 dan bertema Puncak agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

Sukacita Menjejak Tempat Suci


Bagi yang mengikuti blog saya ini, telah beberapa kali saya mengungkapkan kegemaran jalan-jalan yang sudah ada sejak saya kecil. Menjejak tempat baru membukakan wawasan namun suka duka perjalanan menuju tempat baru itu membuat saya hidup.

Dan dari begitu banyak destinasi, -kebanyakan berupa tempat-tempat yang memiliki sejarah-, hanya ada beberapa tempat yang berhasil memporak-porandakan rasa dalam jiwa begitu dahsyat. Bisa jadi karena tempat-tempat itu diyakini oleh banyak jiwa sebagai tempat suci keimanan.


Puskarni, The Holy Pond

Meskipun saya telah menuliskan dalam pos Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini namun rasanya kata-kata itu tak pernah bisa terangkai dengan tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami ketika menjejak Kuil Mayadevi di Lumbini. Tempat itu konon, merupakan tempat kelahiran Sang Buddha, lebih dari dua setengah millenium yang lalu.

Kuil yang menurut saya terlalu sederhana untuk sebuah lokasi yang dipercaya merupakan tempat kelahiran seseorang yang telah mengguncang dunia, sesungguhnya hanya sebuah bangunan batu yang menutupi sebidang tanah serupa ekskavasi arkeologis. Tak ada hiasan, tak ada altar, tak ada tanda-tanda pemujaan, namun ketiadaan barang-barang duniawi itu tak mampu menghilangkan rasa sakral yang begitu hebat di dalamnya. Hanya dengan sebuah penanda yang dikenal dengan istilah Marker Stone yang terlindung oleh kaca, banyak pengunjung bisa jatuh bersimpuh di depannya. Itulah tempat yang dipercaya menjadi titik akurat kelahiran Sang Buddha Siddharta Gautama.

Suara sayup genta-genta kecil yang berdenting tertiup angin, juga suara bacaan sutra yang disenandungkan di bawah rimbun pohon Boddhi di luar kuil, menambah suasana sakral di Marker Stone yang letaknya tak jauh dari pintu keluar. Bahkan setelah dua setengah millenium, kesakralan tempat itu tetap masih terasa kuat.

A Monk under a Boddhi Tree

Sebagai non-Buddhist yang bisa sampai di tempat itu, saya merasakan energi yang begitu besar melingkupi tempat itu, membuat rambut halus di sekujur tubuh meremang dan perasaan dari dalam menggelegak keluar. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada saya sebelum ini, Berbagai rasa campur aduk, suka cita, bahagia, keharuan yang dalam silih berganti dengan rasa syukur yang berlimpah, semuanya berlangsung dalam waktu singkat membuat diri ini rasanya akan meledak. Tetapi mengenal diri yang lemah ini, saya harus segera melipir keluar mencegah tangis menjadi tersedu dalam sukacita yang dalam.

Lalu melengkapi keluarbiasaan di tempat suci itu, sebuah khata, -selendang sutra putih pembawa berkah-, yang didapat dari seorang biksu di bawah Pohon Boddhi melingkari leher saya. Dengan khata yang melingkar leher, saya meninggalkan Lumbini masih dengan berbagai rasa dari bersyukur, terpesona, bahagia, haru, merasa beruntung hingga rasa sedikit tak percaya mengalaminya, atas semua kebaikan Sang Pemilik Semesta.


Kemudian bertahun-tahun setelah perjalanan ke Lumbini itu, saya akhirnya berkesempatan melakukan perjalanan ibadah umroh ke Makkah dan Madinah yang tentu saja juga meluluhlantakkan rasa dalam jiwa. Rasanya setiap detiknya memiliki kenangan tersendiri, bagaimana saya bisa menjejakkan kaki sendiri, berdiri dengan tubuh sendiri, bersimpuh lalu bersujud meletakkan kening di masjid Nabi dan juga di hadapan Ka’bah. Seperti kata teman-teman saya yang telah melakukan perjalanan serupa terlebih dahulu, hanya ibadah yang ada dalam pikiran, rasanya ingin bermanja-manja selamanya dalam Kasih SayangNya. Bahkan bangun selepas tengah malam lalu berjalan ke arah Masjid pun dilakukan dengan sukacita. Tak berat sekalipun melangkahkan kaki, bertafakur, melangitkan doa dan pujian serta bersyukur. Bahkan di siang hari, saat matahari terik memanggang bumi, tempat-tempat bersujud dan berdoa itu tetaplah nyaman. Payung-payung terkembang untuk melindungi mereka dari terik matahari, karpet-karpet yang tergelar, bahkan mesin-mesin pendingin udara yang menyemburkan udara sejuk untuk kenyamanan ibadah.

Semua yang menyenangkan itu membuat jatuh tersungkur dalam syukur saat mengingat dan membayangkan berabad-abad lalu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga serta sahabat-sahabatnya melakukan perjuangan Islam yang sangat tidak mudah, dengan kondisi alam di Jazirah Arab yang tak bersahabat serta budaya setempat yang tidak kondusif. Dan membandingkan dengan kenyamanan serta semua yang membuat haru biru di tempat saya bersimpuh dan bersujud, bagaimana mungkin saya mengeluh? Saya tak bisa lain kecuali membiarkan airmata bahagia yang terus turun membasahi pipi.

Dan saat itu saya melihat di sekitaran, di depan, di belakang, kiri maupun kanan, memiliki wajah yang serupa, teduh dalam kebahagiaan beribadah memujiNya. Datang dari berbagai bangsa dan warna kulit serta dari segala penjuru dunia, berbalut pakaian yang bernada sama. Bertasbih, memuji namaNya, membaca kitabNya… menikmati undangan dariNya. Rasanya tidak ada rangkaian kata yang tepat untuk mewakili ungkapan rasa yang saya alami. Takkan pernah ada, takkan pernah cukup…

Saat itu, rasa penuh anugerah yang seperti mau meledak dan mendesak terus dari dalam, setiap detiknya, setiap menitnya itu, sungguh sebuah candu, membuat rindu, yang selalu ditunggu.

Saya pun mengamini apa yang dirasakan oleh teman-teman dan kerabat yang pernah menjalankan ibadah umroh terlebih dahulu bahwa semua kebahagiaan selama berada di Makkah dan Madinah itu selalu ingin diulang. Bahagianya itu seperti orang sedang jatuh cinta, ingin selalu berada berdekatan dan merasakan terus mencintai dan dicintai. Namun berbeda dengan rasa jatuh cinta pada manusia lain yang biasa menimbulkan keegoisan berdua dengan orang yang dicintai, rasa bahagia di Makkah dan Madinah ini tidak ada rasa ingin menguasai, bahkan meningkatkan rasa berbagi dan mengikis rasa mendahulukan kepentingan diri sendiri. Mungkin rasa bahagia itu berada di tingkatan yang lebih tinggi…


Dan yang tak kalah penting di akhir tahun 2019 lalu itu, dengan susah payah saya sungguh menahan airmata bahagia saat bus meninggalkan perbatasan Jordan menuju bumi Palestina. Setelah puluhan tahun memendam impian untuk sampai ke bumi Palestina, akhirnya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri Masjid Al Aqsho, saya berdiri di halamannya, bisa menghirup dan menghembus harum udaranya, juga beribadah di dalamnya. Bumi para Nabi. Bahkan sampai sekarang saja, setiap menuliskannya airmata saya selalu meleleh merasakan betapa besar anugerah yang saya terima. Alhamdulillah…

Jika saja saya bisa, rasanya ingin waktu berhenti agar saya bisa berlama-lama menikmati setiap detil kenangan saat berada di Bumi Palestina. Namun manusia ini serba terbatas, meski keinginan bisa liar tanpa batas. Sebisa mungkin saya merekam semua yang dirasakan berada di tempat yang dipercaya sebagai titik awal peristiwa Isra’ Mi’raj.

Tidak hanya itu, berada di Jerusalem membuat saya juga mengingat kembali kisah-kisah yang pernah didengar semasa mengenyam pendidikan di sekolah Katolik berpuluh tahun lalu. Menyusuri lorong-lorong kota tua Jerusalem tak bisa terhindar dari Via Dolorosa (jalan kesengsaraan yang diyakini dilalui oleh Yesus hingga ke Bukit Golgota). Juga, lalu lalangnya rabbi Yahudi dan banyaknya sinagoga di kota ini membuat kebahagiaan tersendiri. Lagi-lagi saya setengah percaya sedang berada di kota Jerusalem, kota yang menelurkan begitu banyak kisah di kitab-kitab suci tiga agama.

Dome of The Rock, Al Aqsho complex
Al Aqsho’s courtyard

Meskipun saya masih berangan-angan untuk mengunjungi Varanasi yang merupakan salah satu kota suci umat Hindu di India, saya tak kecil hati. Di Kathmandu, Nepal saya juga sempat mengunjungi Pashupatinath, salah satu kuil suci Hindu yang memberikan kebahagiaan tersendiri. Juga mengunjungi kuil Changu Narayan di Kathmandu yang memberikan saya begitu banyak keajaiban yang membahagiakan dan tentu saja ke Muktinath, salah satu kuil Hindu yang sederhana namun menjadi salah satu yang sangat sakral.

Jika saya diberikan umur panjang, sepertinya saya masih berkeinginan untuk mengunjungi tempat-tempat suci di dunia ini. Kebahagiaan berada di tempat-tempat itu tak bisa diabaikan begitu saja. Addictive


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-47 bertema Happiness agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Pilgrimage 4: Menuju Tempat Utama


25 Desember 2019

Insya Allah, ini harinya, nanti malam…

Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka

madinah3
Masjid Nabawi Yang Selalu Dirindukan

Setelah hari-hari sebelumnya saya menikmati ibadah di Masjid Nabawi dan menyempatkan juga berkeliling kota Madinah, maka tiba hari setelah waktu dzuhur akan meninggalkan kota Cahaya, kota yang telah membuat saya jatuh hati. Kenyataan yang membuat hati langsung mengerut, saya akan meninggalkan Masjid Nabi, sebuah tempat yang selalu menenteramkan jiwa. Dan waktunya melanjutkan menuju yang utama. Di antara kerinduan melihat Ka’bah, terselip juga rasa cemas. Kecemasan manusiawi dari diri yang telah bergelimang dosa. Ya Allah, ampuni kami…

Saya mencoba menghilangkan kecemasan itu dengan membantu suami mengenakan pakaian ihramnya. Untung saya sempat mengabadikan Pak Ustadz yang mencontohkan prosesnya waktu manasik. Tips-tipsnya amat berguna (mungkin kapan-kapan akan saya tuliskan cara mengenakan pakaian ihram agar tidak melorot meskipun tanpa sabuk).

Sesaat sebelum meninggalkan kamar, sebersit rasa menyeruak keluar. Ya Allah, ada kerinduan untuk tinggal di Madinah tapi undangan berumroh tak kalah kuatnya. Ada saat datang, ada saat pergi…

Di lobby hotel, tampak orang berkerumun dari beberapa grup travel. Ada yang baru check-in dan ada pula yang check-out seperti kami. Bisnis hotel di Madinah ini berjalan luar biasa, meskipun menurut saya, frontliners hotel ini tidak menerapkan service excellence.

Saya mendekat ke rombongan kami dan disambut oleh wajah-wajah cerah dari para ibu.

Ya ampun Bu, gamisnya bagus sekali, putih bersih… Keren“, kata mereka melihat pakaian yang saya kenakan. Saya tersipu menjelaskan bahwa saya membelinya di toko yang ada di lorong-lorong dekat Masjid. Saya tahu, mereka amat prihatin dengan belum ditemukannya koper saya. Dan mereka ikut gembira dan bahagia melihat saya tampil serupa dengan mereka.

Yang penting, putih dan bersih”, lanjut saya tersenyum lebar.

Teringat ketika membelinya, sepulang dari Mesjid. Suami dan saya secara tak sengaja menemukan lorong yang mengarah ke toko-toko yang mengingatkan saya akan Tanah Abang atau ITC di Jakarta. Saya amat terbantukan oleh mereka yang berjualan dan membolehkan kami membayar dengan uang Rupiah bahkan komunikasinya juga dilakukan dalam bahasa Indonesia. Rasanya tak berada jauh dari tanah air. Bahkan sekilas terlihat baju-baju gamis dan khimar (jilbab panjang) yang dipajang tidak jauh beda dengan yang biasa terlihat di toko-toko di Tanah Abang atau ITC-ITC di Jakarta. 

Setelah diperbolehkan untuk naik ke bus, sang suami mengajak saya segera ke bus. Ia memastikan koper kami yang tinggal satu itu masuk ke dalam ruang bagasi bus. Lalu di atas bus, dengan setengah bercanda saya mengatakan kepadanya bahwa saya kasihan terhadap koper suami yang sendirian tak punya teman. Karena pasangan suami isteri dalam rombongan selalu memiliki dua koper sedang kami hanya punya satu, karena koper saya sedang jalan-jalan sendiri entah kemana. Tanpa berkata suami yang telah mengenakan pakaian ihram itu menepuk-nepuk tangan saya agar tak berpikir lagi mengenai koper.

Tapi saya tidak berpikir soal koper, melainkan analoginya. Bukankah tadi saya berkata tentang koper pasangan ada dua dan yang satu jalan-jalan entah kemana? Bukankah tadi saya mengasihani koper suami? Bisa jadi rasa iba saya tadi menjadi wakil dari rasa iba banyak orang, melihat seringnya suami bersama anak-anak ditinggal saya yang pergi jalan-jalan sendiri (solo-travelling). 

Saya terdiam menggigit bibir mengikuti alur pikiran sendiri, melempar sebuah pertanyaan main-stream yang tak mudah dijawab, apakah memang demikian pandangan banyak orang melihat seorang isteri yang melakukan solo-travelling? Saya sendiri tak mampu berkata setuju maupun tidak, namun hanya bisa menyimpan pemikiran ini ke dalam hati sebagai masukan yang indah.

madinah1
Gedung-gedung di dekat Masjid Nabawi, Madinah

Dari atas bus, kami masih menunggu mereka yang belum check-out sambil menyaksikan denyut nadi kota Madinah yang kebanyakan berlalu-lalang dari dan ke Masjid. Kota yang selalu diberkahi Allah, entah kapan saya bisa kembali ke kota ini. Ah, saya pasti merindukan kota yang damai ini.

Setelah semua lengkap, bus beranjak pelan menuju hotel bintang lima untuk menjemput sebagian dari rombongan kami. Menjemput mereka yang tinggal di tempat yang lebih mahal ini, membuat saya teringat sesuatu. Meskipun mereka memilih hotel yang lebih mahal, bukan berarti mereka tak bisa menunjukkan kebaikan dan ketulusan hati. Salah seorang dari merekalah yang memberi tahu saya pertama kali untuk urusan yang amat krusial. Tempat mencari pakaian dalam!

Di Saudi Arabia, paling tidak di semua pertokoan yang saya masuki, tidak pernah terlihat perempuan yang menjaga toko. Semuanya laki-laki. Sehingga tidak mungkin saya menanyakan apakah mereka menjual pakaian dalam perempuan. Lalu, seandainya ada, bagaimana saya harus menjawab bila mereka menanyakan ukurannya? Tidak, saya memang kehilangan koper, tetapi saya tidak kehilangan kewarasan untuk mengobral hal-hal yang amat personal itu.

Lalu pertolongan itu datang dari seorang ibu yang menginap di hotel berbintang lima itu. Dia berbisik agar saya mencoba melihat-lihat di sebuah supermarket di dekat Masjid. Jika memang tidak ada, maka harus cari di mal yang untuk mencapainya perlu naik taxi. Saya percaya pertolongan itu datang dari arah mana saja. Dan benarlah, saya menemukan beberapa pakaian dalam yang cocok tanpa harus bertanya-tanya dengan laki-laki kemudian meminta suami yang membayarnya ketika berada di kasir. Selesai urusan.

Mengingat peristiwa itu, saya tersenyum mengangguk kepadanya ketika melihat mereka sekeluarga naik ke atas bus. Mata yang berbicara, sama-sama mengerti dan saling memahami satu sama lain.

Bus bergerak terus meninggalkan kota Madinah. Saya menguatkan hati dan janji untuk memenuhi panggilanMu ya Allah…

madinah2
Gedung-gedung di Kota Madinah

Dzul Hulaifah (Bir Ali) 

Dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah meninggalkan Madinah, sampailah kami di Dzul Hulaifah atau kini lebih dikenal dengan nama Masjid Bir Ali, tempat kami mengambil miqot (batas/awalan memulai ibadah utama Umroh dan mengucap niat Umroh). Pak Ustadz mengingatkan bahwa di Masjid ini selalu padat dipenuhi Jamaah sehingga jamaah harus hati-hati dan ingat arah ke titik kumpulnya.

Langit terlihat amat biru di Dzul Hulaifah, teramat kontras dengan warna putih dinding Masjid. Segera saja kami semua melaksanakan shalat sunnah 2 raka’at dan mengucap niat Umroh. Kemudian saya menunggu di titik kumpul. Sejauh mata memandang hampir semua jamaah diliputi pakaian ihram putih. Membuat berdegup saat terlintas bayangan akan manusia di padang mahsyar.

birali2
Biru Langit di atas Masjid Bir Ali

Setelah beberapa saat bus melanjutkan perjalanan lagi menuju Mekkah Al Mukarramah yang memakan waktu sekitar enam jam. Tepat sebelum berangkat Pak Ustadz mengulang mengucapkan niat Umroh yang diikuti jamaah lalu kalimat-kalimat talbiyah dikumandangkan lagi.

Saya memandang ke jalan di luar yang lebar, halus dan penuh rambu. Enam jam perjalanan dengan bus yang dilengkapi pendingin udara. Duduk di atas reclining seat dan tersedia makan serta minum. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di luar jendela terpampang alam yang kering dan tandus dengan gurun batu di sana sini membuat saya membayangkan perjalanan Rasulullah bersama para sahabat dan keluarganya empat belas abad yang lalu saat melakukan ibadah dari Madinah ke Mekkah. Dulu tak ada jalan rata yang mulus dan lebar. Tak ada kendaraan yang sejuk, bahkan tak ada bangunan batu ber-AC untuk beristirahat. Begitu sulit, begitu banyak kendala dan hambatan alam. Perjalanan hanya bisa dilakukan dengan menggunakan unta atau kuda, atau bahkan berjalan kaki. Berhari-hari, melewati malam yang kering dan siang yang amat terik.

Ya Rasul, Ya Nabi, begitu lama jaraknya, baru bisa kuikuti jejakmu…

Mekkah Al Mukarramah

Waktu terus berjalan, gelap mulai menyelimuti. Pak Ustadz bercerita banyak hal namun kemudian ia berkata, “Alhamdulillah kita telah sampai di batas kota Mekkah”.

Saya melihat perubahan pemandangan di luar jendela, karena sudah banyak bangunan yang menunjukkan sebuah kota. Lampu-lampu jalan yang terang.

Setelah beberapa menit, pak Ustadz kembali berkata,”perhatikan sebelah kiri…”

Otomatis semua jamaah menoleh ke kiri ke luar jendela. Terlihat ada yang terang dan tinggi di kegelapan malam. Pak Ustadz melanjutkan, “ke sanalah tujuan kita semua. Itulah jam yang ada di Masjidil Haram”.

Saya menggigit bibir, terasa sakit. Saya benar-benar berada di Mekkah! 

Mata tak terasa menjadi basah. Allah telah menggenapi janjiNya sehingga saya bisa sampai ke kota Mekkah setelah sekian puluh tahun hidup sebagai manusia. Saya juga menggenapi janji kepada ayah mertua untuk sampai ke Mekkah sepeninggalnya, meskipun perlu waktu bertahun-tahun. Juga janji kepada almarhum Papa bahwa saya bisa sampai ke Mekkah. Kepada almarhum Opa dan almarhumah Oma yang meneladani saya semasa kecil tentang menjalankan shalat. Dan Mama, yang telah terlebih dahulu berhaji dan menceritakan keindahan dan keajaiban Tanah Suci. Airmata saya meleleh tanpa bisa dihentikan.

Saya tak menyadari arahnya bus berjalan, karena masih terpesona dengan bayangan jam di Masjidil Haram. Tapi mendadak bus memasuki terowongan yang menutupi semua pemandangan. Rupanya rombongan yang menginap di hotel bintang lima diturunkan lebih dahulu. Keluar dari terowongan yang terlihat hanyalah manusia dimana-mana berjalan kaki. Kepadatannya melebihi apa yang saya lihat di Madinah. Luar biasa.

Dan sampailah kami di hotel, yang juga penuh dengan manusia. Tidak heran, karena bulan Desember merupakan peak season untuk melakukan umroh. Pembagian kamar dilakukan dengan cepat lalu dilanjut dengan makan malam.

Setelah makan malam itu, kami semua akan berjalan kaki menuju Baitullah.

Waktunya tiba untuk Umroh!

DSC00341
Clock Tower