Menjejak Kembali Langkahmu


Sadly missed along life’s way, quietly remembered everyday…

No longer in our life to share, but in our hearts you’re always there

-Unknown

Ketika seorang sahabat mengajak untuk menuliskan cerita tentang menapak tilas, pikiran ini langsung terbang ke sebagian perjalanan-perjalanan yang saya lakukan selama ini. Perjalanan-perjalanan menapak tilas seseorang yang selalu ada dalam jiwa,dan sebagian besarnya sudah saya tuliskan di blog ini. Bagi saya pribadi hanya ada satu perjalanan menapak tilas, yaitu menapak tilas perjalanan almarhum Papa. Tapi ah, bisa jadi, saya sudah terlalu lelah untuk membongkar ruang-ruang hati dan ingatan mencari tahu perjalanan lain yang berupa menapak tilas.

Meskipun kamus rujukan mendeskripsikan menapak tilas adalah melakukan perjalanan dengan menelusuri tempat-tempat yang pernah didatangi dan dilalui oleh seseorang pada jaman dahulu untuk menghidupkan kenangan atau sejarah, saya sendiri mengartikannya secara bebas. Karena menapak tilas bagi saya pribadi mencakup juga kegiatan mendatangi kota-kota yang pernah didatangi atau ditinggali oleh seseorang yang berarti. Dan itu artinya adalah Papa!


Saya telah menjejak Hong Kong, negeri tempat Papa dan Mama menikmati honeymoon yang ke sekian kali. Merasakan gempitanya Kowloon, melihat kerlap-kerlip lampu kota seperti yang Papa Mama ceritakan. Dan saya ceritakan pula kepada mereka tentang sudah adanya jalan mobil dan kereta yang menghubungkan tempat-tempat yang terpisahkan oleh laut meskipun saya tetap mencoba menaiki ferry yang sangat khas itu. Tak lupa saya ceritakan bandara yang tak lagi di Kaitak sehingga saya tak bisa lagi merasakan debaran jantung saat mendarat karena dekatnya dengan perairan. Hong Kong yang modern telah jauh berbeda dengan Hong Kong yang dulu Papa Mama datangi, berpuluh tahun silam. Meskipun demikian, jauhnya perbedaan itu tetap tak mampu menghilangkan kenangan yang terpaut di dalamnya.

Tak lupa, saya pun telah menjejak langkah Papa di Jepang, termasuk di Kamakura, berfoto di Daibutsu, patung Buddha yang besar itu. Bahkan saya sempat menginap satu malam di Yokohama, kota pelabuhan tempat kapal Papa dulu berlabuh. Malam itu, saya berjalan sendiri sekitaran Yokohama, menghirup harumnya udara laut sambil mengenang langkah-langkah Papa. Dan yang paling meninggalkan kesan ketika saya bisa berpose serupa foto Papa di depan Gedung A-Dome di Hiroshima. Dan semua pengalaman itu telah saya ceritakan kepadanya ketika Papa masih terbaring tak berdaya karena stroke yang menyerangnya. Meski demikian, kegembiraan dan semangat selalu terpancar pada raut wajahnya saat kami bertukar cerita tentang Jepang.

Saya sendiri mengalami rasa emosi yang menggelegak saat berdiri di depan Shwedagon Paya, Myanmar. Karena saya mengenal nama pagoda besar di Myanmar itu sejak masih teramat kecil. Buat seusia itu, mengucapkan Shwedagon teramat susah, apalagi membayangkan letaknya. Namun nama itu begitu kuat menempel di benak sehingga tercetus, one day saya akan sampai ke sana. Dan benarlah saya bisa menjejak ke tempat itu, ke tempat Papa dulu juga berfoto. Sepulangnya saya dari Myanmar, cerita tentang itu teramat membahagiakan Papa. Cerita itu bagaikan tak berakhir, menjadi penyemangat Papa di kala sakit mendera, sesemangat saya menceritakan kepadanya.


Akhir Desember 2019

Dalam bus yang bergerak meninggalkan kota Mekkah setelah melakukan ibadah Umroh, saya diliputi berbagai rasa. Ada kesedihan meninggalkan kota Mekkah, ada juga kegembiraan karena kami sedang menuju Palestina. Dan diantara rasa-rasa yang bercampur aduk itu, di salah satu sudut ruang hati ada denyutan yang teramat pribadi. Yang mungkin tidak terasakan oleh rombongan kami, namun hanya saya sendiri yang merasakan.

Denyut itu begitu kecil tapi jelas, laksana genta-genta yang digoyangkan oleh biksu penjaga kuil yang menghasilkan denting indah yang merambat jauh. Dan denyut itu terjadi karena bus sedang menuju kota yang pernah disinggahi Papa. Jeddah!

Berpuluh tahun silam ketika penerbangan merupakan transportasi termahal sehingga biayanya tak terjangkau bagi kalangan biasa untuk menunaikan ibadah haji, para jamaah hanya memiliki pilihan menggunakan kapal laut. Berminggu hingga berbulan lamanya dari Indonesia untuk mencapai Mekkah dan selama itu kehidupan berjalan tak mudah bagi yang tak biasa. Ombak mengayunkan manusia-manusia yang berjalan, titik keseimbangan raga tak pernah tetap. Bagi yang tak tahan, kepala pusing bahkan sampai mengeluarkan isi perut merupakan peristiwa yang terlalu sering terjadi sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan. Dan para jamaah tamu Allah yang kebanyakan telah lanjut usia itu bertahan semampunya. Bahkan kota-kota yang disinggahi pun tak terlihat menarik lagi karena Jeddah merupakan kota pelabuhan terakhir sebelum akhirnya para jamaah berduyun memasuki Mekkah, kota kecintaan mereka. Tak semua bisa mencapainya, karena sebagian darinya telah syahid dalam perjalanan haji mereka. Dan sesuai protokol yang ada dalam setiap perjalanan di laut, bagi mereka yang dipanggil pulang ke HadiratNya dan freezer tak mampu menampung lagi, satu-satunya jalan adalah mengembalikan jasad yang telah kaku itu ke alam semesta melalui pelarungan.

Saya telah mendengar kisah itu sejak kecil dari bibir almarhum Papa, termasuk manusia-manusia tak sabar yang menyangka pelabuhan-pelabuhan sebelumnya yang disinggahi adalah Jeddah. Mereka sudah tak lagi sabar, ingin segera turun, bersujud mencium harumnya Bumi Mekkah.

Kisah-kisah tentang Jeddah semakin cepat silih berganti menghias benak saya ketika bus mendekati kota yang menimbulkan kenangan itu. Ada sejentik air yang mengembang di sudut mata, sejumput doa terucap dari hati yang paling dalam. Saya menarik nafas panjang untuk menguatkan jiwa. Kali ini, tak ada lagi telinga Papa yang siap mendengar cerita-cerita saya saat mengunjungi kota yang pernah ia singgahi dalam perjalanan dengan kapalnya. Papa telah dipanggil pulang dua tahun lalu.

Masjid Qisas, Jeddah

Meski Jeddah semakin dekat, saya tahu takkan bisa mengunjungi pelabuhannya karena tak pernah ada dalam itinerary. Namun, bisa mencapai kotanya saja, bisa menjejak di bumi Jeddah dan bisa mencium harum udaranya, saya sudah sangat bersyukur. Tak ada waktu untuk singgah kecuali melihat dari atas bus, juga pelabuhannya yang hanya bisa terlihat dari kejauhan. Seperti biasa di bus, saya menempelkan telapak tangan di jendela untuk menyapa tempat-tempat yang mampu mengaitkan kenangan dan juga membisikkan kata dalam jiwa. Dan ketika menjejak bandara Jeddah, pikiran saya terbang ke pelabuhan Jeddah somewhere out there,

Saya telah sampai di Jeddah, Pa, di kota tempat Papa dulu pernah melangkahkan kaki.

Berjuta cerita ingin saya sampaikan kepadanya, karena saya begitu beruntung bisa sampai ke Mekkah dan selepasnya bisa melewati Jeddah dengan sangat cepat, hanya belasan jam penerbangan dan juga dengan bus yang nyaman melalui jalan bebas hambatan. Sungguh tak perlu seperti mereka yang dulu ikut dalam kapal Papa, yang begitu lengkap deritanya, yang begitu panjang perjuangannya.

Ya Allah, begitu banyak saya ingin bercerita kepadanya…


April 2019

Saya memang terlambat melakukan perjalanan ke Mawlamyine (sebuah kota yang diminta Papa untuk saya datangi, ketika kami bertukar cerita tentang Shwedagon). Mawlamyine merupakan kota pelabuhan yang pernah disinggahi Papa dulu. Saya melakukannya 102 hari setelah Papa meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Setelah sore yang mengharu biru (jika berkenan, baca kisahnya Hadiah Manis di Mawlamyine), keesokan paginya saya berjalan kaki menyusuri sungai lebar di depan hotel itu, melepas semua rasa yang ada, membiarkan angin menunjukkan arah kaki melangkah. Sunset yang rupawan sore kemarin tak menyediakan tempat bagi sunrise untuk bertanding dengannya. Kapal tambang yang terbengkalai namun tertambat di pinggir, menambahkan kerak yang tak enak dilihat. Air keruh sungai juga tak mengubah keadaan menjadi manis. Satu-satunya yang mampu melipur jiwa adalah kabut yang melingkupi sebagian dari jembatan membuat pemandangan terlihat magis karena sebagian jembatan seperti hilang ditelan kabut.

Meski tak mengerti banyak hal, saya mencoba memahami denyut kota pelabuhan Mawlamyine itu. Papa tak pernah mengatakan kepada saya secara langsung apa yang menarik dari kota itu sehingga saya harus menemukannya sendiri. Dan setelah mendapatkan hadiah manis seperti yang saya ceritakan pada link di atas, pagi ini saya harus menemukannya kembali. Apakah kabut magis yang menutupi sebagian jembatan itu atau bukan, saya hanya bisa menduga-duga.

Dan langkah-langkah pagi itu membukakan mata saya. Di sepanjang jalan yang disusuri, saya menemukan banyak masjid bahkan Masjid Sunni dan Syiah berdekatan. Di hari itu saya juga berkeliling kota sunset itu. Begitu banyak gereja Kristen maupun Katolik dan aliran lain didirikan di kota Mawlamyine. Bahkan di negeri yang mayoritas penduduknya menganut Buddha ini, saya juga menemukan kuil Hindu yang luas. Dan tentu saja ada banyak kuil Buddha yang amat indah dengan stupa-stupanya yang berlapis emas.

Perlahan saya memahami, mungkin ini yang dimaksud Papa mengenai keindahan Mawlamyine. Kehidupan beragama mereka begitu penuh toleransi. Sebuah teladan yang selalu Papa ajarkan kepada saya, kepada seluruh anaknya. Dan Papa meminta saya untuk ke Mawlamyine, untuk menemukannya. Sebuah keindahan yang saya saksikan namun tak bisa lagi saya ceritakan kepadanya. Saya 102 hari terlambat mengunjungi Mawlamyine…

Terlalu banyak kenangan manis di Myanmar terkait dengannya.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 5 dan bertema Napak Tilas agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

Hadiah Manis di Mawlamyine


Petugas hotel itu berada di seberang jalan, -salah satu tugasnya membantu untuk mencegat bus untuk dinaiki tamu hotel-, sudah memanggil saya. Saya langsung saja berterima kasih kepada gadis penerima tamu berwajah ramah yang telah banyak membantu saya selama di Hpa’an. Dia yang memiliki sifat langit dan bumi dengan gadis penerima tamu satunya lagi yang bicaranya secepat kilat tanpa perasaan, sehingga gadis baik hati ini membuat saya memiliki kesan baik akan Hostel di Hpa’an ini. Teringat saat dia menunjukkan rumah makan saat saya kelaparan di malam hari dan dia juga yang merekomendasikan untuk mencegat bus di depan hotel hanya untuk pergi ke Mawlamyine. Secepat kilat saya menyeberang membawa ransel dan menunggu bus yang sebentar lagi datang.

Bus akhirnya berhenti di hadapan lalu saya naik dan oops…

Bayangan menaiki bus seperti sebelum-sebelumnya langsung runtuh, karena bus  ini sudah tua mungkin jelang tak layak jalan. Bus berjalan sangat pelan, dengan berbagai bunyi kriet-krieeet dan AC yang tak lagi berfungsi. Saya duduk tak jauh dari pintu di bagian terpapar sinar matahari. Kapanpun ada calon penumpang berdiri di pinggir jalan yang mau naik, bus akan berhenti. Baiklah… ini hadiah baru untuk perjalanan ke Mawlamyine.

Dalam melakukan perjalanan saya sudah biasa melepas ekspektasi, karena ekspektasi biasanya merupakan sumber ketidakbahagiaan. Termasuk melepas ekspektasi bus yang membawa saya ke Mawlamyine ini. Awalnya memang terlintas dalam pikiran karena pengalaman naik bus yang keren sebelumnya, namun tak pernah menjadi kekecewaan.

Bukankah yang terlihat buruk tidak selalu buruk? Bukankah pengalaman yang kurang menyenangkan bisa menjadi guru bagi kita semua?

DSC07980
Bus menuju Mawlamyine

Hadiah berada dalam bus “buruk rupa” ini mengajarkan saya banyak sekali. Ketika saya menoleh ke belakang, semua penumpang bus yang tak seberapa jumlahnya itu tampak diam terkantuk-kantuk, tak ada yang mengeluh. Mereka percaya penuh kepada sang pengemudi yang akan membawa mereka ke tempat tujuan. Mereka paham bahwa mengeluh karena bus berjalan pelan atau karena AC yang tidak berfungsi di bus, atau karena bus sering berhenti, semuanya tak akan mengubah keadaan. Jadi untuk apa mengeluh? Serahkan saja kepada sang pengemudi.

Saya pun mengikuti penumpang lain, duduk diam meski terpapar sinar matahari.

◊ § ◊

Satu hari Minggu pagi yang cerah di tahun 2012.

“Kota apa ya yang ada di Selatannya Yangon, Yan?”, tanya Papa sambil mengingat-ingat.

“Bago?”, jawab saya menebak, karena baru saja saya melakukan perjalanan ke Bago waktu itu. 

Papa menggeleng, terlihat gemas akan dirinya sendiri yang tak mampu mengingat nama kota itu. Karena lanjut usia ditambah serangan stroke bertubi-tubi, membuat proses berpikir Papa memakan waktu cukup lama.

“Mmm…? Apa itu…? hmm…”

“Oh, Moulmein? “, saya menebak lagi, karena Moulmein adalah salah satu kota pelabuhan di Myanmar.

“Ya, Moulmein!” Wajahnya memancar bahagia karena menemukan nama kota yang dipikirkannya.

Dan selanjutnya Papa menceritakan tentang Moulmein, tentang kapal yang pernah dibawa berlabuh ke pelabuhannya, tentang sunsetnya. Cerita yang sama, tapi tak pernah membuat saya bosan. Papa dan saya selalu menjadi seru saat saling bertukar cerita tentang perjalanan-perjalanan. 

Dan tiba-tiba terucap oleh Papa…

“Cobalah pergi ke Moulmein, pasti berkesan”, kata Papa sambil tersenyum waktu itu.

Momen sekejap itu langsung meluncur ke dalam hati terdalam dan berdiam di sanubari, terekam kuat. Moulmein!

◊ § ◊

Pipi saya terpapar panas matahari, tapi panas itu tak terasa. Ada rasa rindu menggelegak kepadanya. Saya sedang menuju kota yang pernah ia minta. Rasa ini sangat mengharubiru. Perjalanan menuju Mawlamyine (atau dulu terkenal dengan nama Moulmein) inilah yang membuat saya kembali ke Myanmar setelah tujuh tahun. Dengan apapun saya akan mencapai kota itu dan Tuhan membawa saya hari ini menaiki bus yang sudah renta ini, berjalan lambat, dengan AC yang tak berfungsi dengan berbagai bunyi-bunyi kerapuhannya.

Seakan mengingatkan saya akan dirinya, menggamitnya di masa tuanya, semasa ia masih bisa berjalan meskipun tertatih akibat stroke dan perlu dibantu. Ia terus berupaya maju dalam kekurangmampuannya. Sungguh tak beda dengan situasi yang saya alami sekarang. Dalam bus yang ringkih…

Setiap kriyet-kriyet bunyi bus yang telah renta, setiap rasa panas matahari yang mendera, setiap tekanan melesak ke depan akibat perpindahan gigi persneling dan setiap geyal-geyol jalannya bus, sejumlah itu pula lah untai doa yang saya panjatkan untuknya, untuk dia yang meminta saya datang ke Moulmein, namun tak sempat mendengar kisah perjalanan saya ke Moulmein ini. Karena Yang Maha Baik memanggilnya pulang 102 hari sebelum saya menjejak ke kota ini.

◊ § ◊

DSC07983
Melewati Jembatan jelang memasuki Kota Mawlamyine

Kota Mawlamyine sudah di depan mata, saya bergegas melihat posisi berdasarkan GPS pada ponsel. Saya harus turun sebelum terminal karena lebih dekat jaraknya ke hotel. Dan akhirnya bus yang telah renta itu berhenti juga di halte yang saya harus turun. Saya berterima kasih kepada pengemudinya, lalu sekilas menyentuh badan bus tua itu sambil mengucapkan terima kasih dalam hati lalu meloncat keluar. Sambil menunggu bus berjalan lagi, saya menyempatkan diri menyentuh tanah seakan memberi salam kepada bumi tempat saya berpijak pertama kali, di negeri baru.

Pa, aku sampai di Moulmein!

Di kota ini, di kota yang dikenal Papa dengan nama Moulmein, kapal Papa pernah berlabuh dan sebuah insiden mengiringinya. Bendera kapal, sang Merah Putih, merupakan representasi negara Indonesia, tanpa diketahui telah diambil oleh seorang penduduk setempat. Tujuannya bukan apa-apa, bukan faktor ekonomi apalagi politik. Ia, seseorang yang sangat miskin, mengambil bendera agar ia bisa memiliki alas untuk beristirahat. Seumur-umur ia tak pernah menggunakan alas yang bersih dan bagus. Ia sungguh tak tahu akibat hukum dengan mengambil bendera kapal hingga digiring dan dituntut. Namun setelah mengetahui alasan pengambilan bendera dan kemelaratan orang tersebut, Papa tidak sanggup melanjutkan proses tuntutan karena sisi kemanusiaannya telah berbicara. Hati Papa yang penuh kasih sayang.  

Dan di hari ke-102 setelah berpulangnya Papa, saya menginjakkan kaki di kota yang sama tempat Papa dulu pernah singgah dan berurusan dengan orang tak berpunya. Saya menapak tilas sebuah perjalanan batin yang amat indah.

Dan seperti memperkuat kesan yang saya harus alami sepanjang perjalanan ini, saya disuguhi pemandangan menjelang kota Mawlamyine. Desa-desa yang hanya berisi satu dua rumah sangat sederhana dengan lingkungan yang sangat kering dan tampak tak berdaya. Membuat hati saya langsung berdenyut-denyut. Di sini kehidupannya sangat tidak mudah, membuat saya otomatis mengingat kisah insiden bendera itu. Sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu, situasinya tetap serupa. Saya mendapat hadiah manis dalam perjalanan ini. Menjadi saksi akan kehidupan mereka yang sangat sederhana, yang mengharuskan kita yang melihatnya untuk selalu memiliki empati dan merendah hati. 

◊ § ◊

Panas udara Mawlamyine langsung menghilang saat saya memasuki kamar hotel yang AC-nya telah dingin. Kamar yang bisa menyamankan tubuh dan menenangkan hati. Jendela lebar kamar itu membuat saya tak perlu turun ke pinggir sungai Than Lwin yang ada di hadapan. Saya bisa menyaksikan pergerakan matahari menjelang sunset langsung dari kamar. Begitu indah, seperti yang pernah Papa ceritakan. Sama seperti berpuluh-puluh tahun lalu.

DSC08038
Sunset di Sungai Than Lwin dan Kapal Menjauh

Tetapi tiba-tiba…

Tampak sebuah kapal yang sedang bergerak menyusuri sungai yang lebar itu. Sebenarnya hal itu sangat biasa tetapi bagi saya hari itu, bukan sesuatu yang biasa. Entah mengapa, saya melihat kapal itu seakan-akan kapal Papa, kapal yang pergi menjauh.  Seperti dirinya.

Saya langsung terbanting menangis, luruh dalam airmata mengikuti gerak pelan kapal yang akhirnya menghilang dari area pandang. Sekali lagi, kali ini sendirian di kota tempat Papa pernah singgah, saya mengucap selamat jalan untuk Papa tercinta.

Dia Yang Maha Baik telah memberikan hadiah perjalanan terindah untuk saya, yang  berserak penuh tanda dan makna.

Ah, sepertinya di tempat ini saya akan menghabiskan banyak waktu berbicara dengan jiwa.

◊ § ◊


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-48 ini bertema Gift agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Ke Myanmar Lagi Setelah Tujuh Tahun


Saat roda pesawat menyentuh mulus landasan bandara Internasional Yangon, saya menarik nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rasanya tak percaya bahwa setelah 7 tahun akhirnya saya kembali lagi ke Myanmar, negeri yang terkenal dengan sebutan The Golden Land. Bandara yang dulu terkesan tak ramah dan seram, kini bagai perempuan cantik yang menarik hati dengan begitu banyak toko-toko merek Internasional.

Jika 7 tahun lalu saya harus datang menggunakan visa, kini sebagai pemegang paspor Indonesia, saya bisa melenggang dengan visa exemption dari Pemerintahan Myanmar. Jika dulu saya ketar-ketir dengan kecukupan bank notes US Dollar terbaru yang harus licin yang saya bawa karena ATM internasional tidak ada, kini saya bisa menarik uang kyat melalui ATM, bahkan sampai di tempat terpencil pun ada ATM! Jika dulu sinyal ponsel lebih banyak hilang, kini saya bisa terus exist dimana-mana hingga ke tempat terpencil. Dan yang paling membahagiakan, jika dulu saya hanya mendapat sedikit hotel yang bisa dibooking online kini Myanmar tak beda dengan Negara-negara lainnya. Jika dulu saya bingung untuk bisa booking pesawat domestik di Myanmar, kini saya memiliki kemudahan untuk memilih transportasi bus atau pesawat untuk pindah kota. Tujuh tahun untuk keterbukaan sebuah Negara, perubahan ini patut diacungi jempol.

Kemudahan itu juga termasuk pemesanan tiket bus sehingga saya bisa dengan cepat dari bandara ke stasiun bus dan langsung menuju Kinpun, desa terdekat untuk sampai ke Golden Rock. Saya telah menghitung waktu perjalanan bahwa saya bisa mencapai Golden Rock sebelum sunset dan betapa membahagiakan saya bisa mendapatkan sunset yang indah di Golden Rock! Bahkan keesokan harinya saya juga bisa mendapatkan pemandangan indah perbukitan yang berlapis-lapis ditimpa sinar mentari pagi.

DSC07452
Sunset at Golden Rock, Myanmar

Perjalanan saya pagi itu berlanjut ke kota kecil Hpa’an di Kayin State dengan menggunakan bus dan sempat berkenalan dengan penduduk lokal seperjalanan bus. Mereka dengan ramahnya dan dengan bahasa Inggeris yang fasih menunjukkan tempat saya harus turun agar tak jauh berjalan kaki dari hostel saya menginap. Membahagiakan sekali rasanya mendapatkan bantuan dari mereka.

Di hostel kecil di Hpa’an itu, lagi-lagi saya mendapatkan kemudahan. Setelah rehat sejenak di kamar hostel yang ber-AC sambil menunggu meredupnya terik mentari, saya berkeliling tempat-tempat wisata di Hpa’an dengan motortaxi. Hpa’an, kota kecil pinggir sungai Than Lyin yang berada di kawasan perbukitan karst memang merupakan surga bagi penggemar wisata gua. Karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat mengunjungi Gua Kaw Gon yang luar biasa cantik karena dipenuhi dengan tatahan ribuan Buddha kecil di sepanjang dinding dan atap gua, juga Gua Yathae Pyan yang banyak stalaktit dan stalagmit, Gua Kaw Ka Thaung yang menyimpan relik Buddha dan tentunya gua terbesar Mahar Saddan yang terkenal dengan stalagtit dan stalagmitnya dan berujung pada danau kecil di ujung keluarnya. Bahkan di hari pertama saya sempat mengunjungi sebuah monastery berpemandangan indah pada saat senja. Refleksi monastery dan perbukitannya terlihat sangat menawan di danau kecil.

Perjalanan selanjutnya menuju kota Mawlamyine atau dulu dikenal dengan Moulmein, di Mon State, yang mengharubiru rasa. Sesungguhnya perjalanan ke Mawlamyine inilah yang membuat saya kembali ke Myanmar setelah tujuh tahun. Dengan apapun saya akan menempuhnya, saya akan sampai pada Mawlamyine meskipun hal ini tidak akan mudah.

Sebuah perjalanan menapak tilas tidak akan pernah mudah karena dipenuhi kenangan dan cinta. Setiap langkah saya seperti melepaskan helai bunga doa untuknya. Meskipun menginap di tempat terbaik di kota ini, saya tahu akan berteman dengan airmata dan menghabiskan waktu berbicara dengan jiwa.

Namun jiwa pejalannya yang ada pada saya mengajak melangkah ke tempat-tempat baru. Di kota ini saya melihat bagaimana Myanmar berusaha memiliki bangunan Buddha Tidur terbesar di dunia (meskipun kini dikalahkan oleh China yang mengubah bukit menjadi Sleeping Buddha). Bangunan Buddha Tidur yang saya lihat ini juga masih dalam tahap pembangunan, entah kapan selesainya.

DSC08118
Win Sein Taw Ya Pagoda, Mawlamyine, Myanmar

Selepasnya, saya diajak oleh sopir tuktuk untuk mengunjungi beberapa masjid, termasuk menyempatkan ziarah kubur kepada seorang ulama yang dimakamkan disana. Pengalaman mengunjungi perkampungan muslim dengan melihat beberapa masjid di kota Mawlamyine melengkapi keindahan hari saya. Seakan saya dibukakan mata bahwa saya tidak boleh menyamaratakan keadaan Muslim di Myanmar. Di kota ini, di Negara bagian Mon ini, toleransi antar agama berjalan dengan sangat baik. Buktinya amat jelas, saat berjalan kaki di pagi hari, saya mendapati tiga masjid yang tak berjauhan lokasinya. Bahkan belakangan saya menyesal, karena tahu disana ada lebih banyak masjid daripada rumah ibadah lain, yang tidak sempat saya lihat.

Bagaimanapun perjalanan harus dilanjutkan, pada malam harinya saya kembali ke Yangon dengan menggunakan bus malam yang menyimpan cerita untuk bersikap berani di baliknya. Kota Yangon dengan segala kebaikan dan keburukannya, tidak jauh beda dengan Jakarta, kota tempat saya dibesarkan dan hidup didalamnya. Sebagai perempuan yang pergi sendiri, antenna kewaspadaan saya harus terus berfungsi dengan baik, kelengahan sedikit saja bisa berakibat tak baik. Meskipun diatas segalanya, Dia Yang Maha Melindungi yang menjaga saya selamanya.

Hari itu, kota Yangon bukan menjadi kota destinasi, melainkan kota transit karena saya harus terbang ke Heho untuk sampai ke Danau Inle yang terkenal. Tujuh tahun lalu, saya tidak sempat ke Danau Inle dan tahun ini, Inle menjadi tujuan destinasi saya untuk menikmati liburan kali ini. Benar-benar beristirahat.

Dua malam saya habiskan di Danau Inle untuk berleha-leha dan berwisata sekitar danau, ke tempat-tempat pembuatan kain, tempat pembuatan perahu, tempat kerajinan tangan dan lain-lain. Bahkan di tempat itu, yang jauh dari kota, saya sempat menarik ATM. Ah, Myanmar memang sekarang lebih mudah.

DSC08571
Inle Lake one-leg rowing fisherman during Sunset

Menikmati sunrise dan sunset di Danau Inle merupakan pengalaman indah yang saya alami. Bagaimana mungkin saya mengabaikan nelayan-nelayan yang mencari ikan di danau dengan mendayung memakai satu kakinya? Bagaimana mungkin saya mengabaikan bunga-bunga matahari dan lotus yang terhampar dan mekar dengan indahnya di pinggiran danau? Keindahan luar biasa Danau Inle membuat saya berjanji akan mendatangi lagi suatu saat nanti.

Meskipun beristirahat total, -ini cara mengisi liburan saya yang sangat berbeda dari biasanya-, tetap saja ada satu tempat yang membangkitkan semangat. Dengan melakukan perjalanan sekitar 1 jam dengan perahu, saya sampai pada reruntuhan bangunan dari Abad ke-11. Meskipun terpapar terik matahari dan sedikit mendaki, saya bisa menikmati kawasan Bagan dalam ukuran mini.

Perjalanan saya di Myanmar mendekati akhir. Saya harus kembali ke Yangon, dengan berkendara bus selama 11 jam. Sebuah perjalanan panjang yang menghabiskan hari, namun bagi saya tetap saja ada kisah-kisah menyenangkan dan menghangatkan hati melalui sentuhan hati dengan orang-orang lokal yang baik dan ramah.

Malam terakhir di Yangon, dalam keadaan badan yang lelah, justru saya mendapat pengalaman ‘perkenalan’ sampai akhirnya saya minta penggantian kamar. Meskipun saya tidak mau berpikir aneh-aneh, tetapi demi istirahat enak, lebih baik saya pindah ke kamar lain. Bukankah mengganggu bila lampu tiba-tiba meredup lalu terang kembali dan berulang serta bunyi-bunyian keras tanpa alasan yang jelas?

Tetapi bagaimana mungkin saya meninggalkan Yangon tanpa mampir ke Shwedagon yang megah? Dan tetap saja beberapa jam disana sudah mampu memberi sentuhan hangat ke dalam jiwa, sampai akhirnya waktu juga yang memaksa saya meninggalkan Yangon.

Setelah tujuh tahun, Myanmar telah banyak berdandan cantik disana-sini menyambut tamu-tamu yang semakin banyak berdatangan. Meskipun kali ini saya mendatangi tempat-tempat yang belum saya datangi sebelumnya, -kecuali Yangon-, saya merasakan sekali perubahan kearah yang lebih baik itu, dan tentu saja sangat menggembirakan.

Ah, karena post ini merupakan rangkuman perjalanan, doakan saja saya bisa menulis perjalanan seru waktu disana ya. Siapa yang baru-baru ini ke Myanmar juga? Boleh dong cerita-cerita… 🙂