Menyambut Tahun Baru Dalam Hujan


Karena ingin merasakan kembali kehebohan malam tahun baru seperti di Hong Kong tahun 2015 dengan kembang api warna-warni dan kerlip kota, maka pada akhir tahun 2017 kami mengunjungi Singapura. Tujuan utamanya hanya satu, menyaksikan malam pergantian tahun dengan pertunjukan kembang api.

Apakah berhasil?

Iya, berhasil, tapi pakai hujan! 😀

Malam itu, sengaja kami datang lebih awal agar bisa dapat tempat duduk terbaik sambil berdoa khusuk karena melihat awan gelap menggantung rendah di atas langit Singapura. Turun di stasiun MRT Bayfront, kami berjalan mengikuti kerumunan orang yang semakin padat menuju arena The Float at Marina Bay. Pernah terbayang gak sih kalau The Helix Bridge itu padat sekali dengan manusia? Situasinya benar-benar padat merayap, melangkah pelan karena kadang harus berhenti dan berdiri diam beberapa saat hehehe…

Beruntung sekali saya sudah membeli tiket secara online untuk menyaksikan kembang api dari The Float at Marina Bay, karena malam itu untuk masuk dengan tiket di tangan saja sudah antri panjang, apalagi kalau belum memiliki tiket yang antriannya mengular tersendiri. Lagi pula beli tiket on the spot itu lebih mahal.

DSC03059
The Crowd in Marina Bay

By the way, saya beli tiket masuk SGD 5.5 per orang secara online melalui Klook, kalau on the spot SGD 8.00. Itu tahun 2017 yaaa dan tahun selanjutnya saya heran kenapa bisa langsung naik 10 kali lipat!

Lalu mengapa saya beli tiket masuk padahal bisa menyaksikan dari pinggir jalan? Sederhana saja sih, saya mau santai dan tidak rebutan cari tempat terbaik dalam menyaksikan pertunjukan kembang api dan tidak harus menduduki tempat itu sejak pagi. Lagi pula, tempat-tempat strategis untuk menyaksikan pertunjukan kembang api itu sudah dipagari. Ah, tempat-tempat terbaik memang ada harganya! Selain itu, saya tidak tinggal di hotel-hotel sekitar Marina Bay yang harga akhir tahunnya bikin pingsan!

Jadilah setelah melalui pemeriksaan ketat untuk barang-barang bawaan, duduklah kami semua di  tribun atas The Float. Sementara manusia-manusia penggemar kembang api terus memadati arena, saya sekeluarga mengamati pemandangan malam. Asyik sih melihat pemandangan Marina Bay-Sands, Art Science Museum yang khas dan tentu saja gedung-gedung tinggi di kawasan bisnis Singapura.

Dan di sana, doa kami semua tak terkabul. Saya mulai merasakan satu demi satu titik air yang ditumpahkan dari langit. Gerimis. Payung-payung warna-warni mulai terkembang. Belum juga jam 11 malam, titik-titik air yang jatuh tidak konsisten, kadang deras, kadang berhenti sesaat. Akhirnya karena merasa terganggu dengan harus memegang payung berlama-lama, anak-anak turun ke panitia untuk membeli jas hujan transparan tipis.

Seperti juga di Indonesia (kebiasaan lihat TV kali ya… yang mengucapkan Selamat Tahun Baru untuk warga Wilayah Indonesia Timur, kemudian untuk warga Indonesia Tengah dan puncaknya di Wilayah Indonesia bagian Barat), maka di Singapura itu sejak pk. 22.00 sudah dimulai pertunjukan kembang api setiap jamnya meskipun sebentar.

Hujan sepertinya ingin hadir malam itu, atau juga mungkin pawang hujannya kurang ahli 😀 sehingga berbalut jas hujan transparan kami sekeluarga duduk santai menikmati musik dan pertunjukan. Banyak pasangan yang berdekatan, semakin deras hujannya semakin dekat mereka berdekatan di bawah payung. Tidak jarang, balon-balon yang mereka pegang terlepas atau sengaja dilepaskan. Bisa jadi sebagai tanda melepas segala kepahitan yang telah terjadi dan membiarkan harapan-harapan baru menjunjung ke langit tinggi.

Dan detik terus mendekat ke pukul 00.00 di tahun yang baru.

Ketika akhirnya countdown dimulai, semua yang hadir berteriak beramai-ramai…

Ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one… Happy New Year!!!

Pertunjukan kembang api mencapai puncaknya, berlangsung lama dari menit ke menit, tanpa henti sama sekali. Luar biasa! Ledakan kembang api ditambah gemuruh manusia-manusia yang berbahagia, berpelukan saling mengucapkan selamat tahun baru, mengabaikan payung-payung dan basah hujan yang di kawasan itu.

DSC03195
Happy New Year

Seperti juga banyak orang lain, tak lupa kami melakukan wefie dengan ucapan selamat tahun baru untuk dikirimkan kepada kerabat dan keluarga tercinta di Indonesia, meskipun mengenakan jas hujan transparan dan rambut basah. Kami memilih foto awal tahun baru yang paling bagus di antara yang berantakan karena rupa yang bisa dibilang ‘hancur lebur’ karena basah. Tapi yang penting adalah ekspresi bahagianya kan?

Pesta di Marina Bay berlanjut, musik hingar bingar dengan ritme yang mengundang untuk menggoyangkan tubuh terus berlangsung. Suara MC terus berkumandang mengajak membeli makanan dan minuman serta ajakan untuk berpesta. Meskipun demikian, kami semua memilih kembali ke hotel karena kami akan terbang ke Jakarta pada siang harinya.

Sambil jalan kaki menuju hotel mengikuti kerumunan orang, alangkah senangnya kami mengetahui tidak perlu jalan kaki jauh karena masih ada MRT yang beroperasi pada tahun baru itu. Sungguh sebuah layanan terbaik dari MRT Singapura. Jam operasional MRT diperpanjang khusus pada hari itu, meskipun hanya untuk rute tertentu.

Dalam keadaan basah, -meskipun orang lain tak jauh beda kondisinya-, sebelum naik kereta, kami dan juga orang lain mencoba mengeringkan badan dan melipat jas hujan serta memasukkan yang basah ke dalam tas. Sehingga di kereta terlihat cukup rapi dan terjaga kebersihannya.

Tahun baru, belum lama berganti angka, kebiasaan-kebiasaan baik bisa kita mulai saat itu juga. Tahun baru biasanya berlimpah dengan harapan-harapan baru, dengan sejumlah resolusi yang indah. Tapi untuk apa harapan-harapan baru bila tidak disertai dengan adanya tindakan-tindakan?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-35 ini bertema New Year agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

The Helix, Love Is In The Air…


P1020079

Meskipun punya banyak foto jembatan, entah mengapa, jembatan favorit saya selalu kembali kepada The Helix yang ada di kawasan Marina Bay, Singapura. Bisa jadi karena saya menjadi saksi before and after kawasan itu atau memang kesan pertama yang begitu dalam sehingga timbul rasa romantisme khusus terhadap jembatan itu (hahaha ini apa yaa? 😀 😀 )

Bertahun-tahun sebelum jembatan itu jadi, -saat ke Singapura dan berfoto di area Merlion-, saya tidak bisa membayangkan bagaimana kawasan di seberang saya berdiri itu bisa menjadi kawasan yang begitu terkenal seantero dunia, yang membuat semua turis tumplek blek ke tempat itu. Rasanya masih ingat di benak, ucapan seorang kawan asli Singapura yang mengatakan bahwa nanti di tempat itu akan menjadi hotel besar lengkap dengan kasinonya. Dan kini, perkataannya menjadi nyata. Tempat itu menjadi sebuah landmark, yang ibaratnya, jika belum kesana berarti belum ke Singapura. Meskipun terdengar hedonis sekali, namun tak bisa dipungkiri kawasan Marina Bay yang dekat dengan Hotel Marina Bay-Sands itu memang menjadi magnet yang sangat kuat bagi pariwisata Singapura.

Setelah kawasan itu terbentuk, dalam rangka urusan kantor saya berkesempatan berkunjung lagi ke Singapura dan beruntung bisa menginap di salah satu hotel berbintang di kawasan Marina Center. Dan dasar saya yang tidak bisa lepas dari jalan-jalan, saat perjalanan bisnis pun saya pakai juga buat jalan-jalan meskipun hanya bisa dilakukan pada malam hari. Inilah salah satu yang saya suka di Singapura, saya selalu merasa aman berjalan sendiri di malam hari bahkan sampai tengah malam sekalipun. Bisa jadi, karena penduduknya sudah serius melek hukum dan tidak mau berhadapan dengan sanksinya.

Malam itu saya berjalan-jalan hingga ke Esplanade, dan kembali lagi menuju The Helix untuk melanjutkan jalan-jalan malam ke Marina Bay-Sands sebelum kembali ke hotel. Saat melintasi The Helix, -yang secara resmi dibuka penuh pada tanggal 18 Juli 2010-, jembatan ini dipenuhi oleh orang-orang yang juga menikmati malam. Mungkin sama seperti saya, hanya ingin menikmati rasanya melintasi jembatan terkenal yang dulu dikenal dengan nama Double Helix Bridge. Saya sendiri hingga kini masih terkagum-kagum, ada jembatan yang dibangun sebagai penjabaran sains.

Sejak pertama kali menapaki jembatan malam itu, saya sudah suka bentuknya yang menyerupai rangkaian DNA, spiral melingkar, dengan pada lantainya terdapat lampu-lampu kecil yang menyorot ke atas, berpasangan, yang belakangan saya tahu bahwa lampu itu menjadi ciri khas The Helix. Dari Wikipedia, lampu-lampu itu memang mewakili struktur DNA. Coba deh kalau kesana lagi, perhatikan ada pasangan lampu yang berwarna ‘c’ dan ‘g’ serta ‘a’ dan ‘t’, berwarna hijau dan merah, mewakili cytosine, guanine, adenine dan thymine yang merupakan empat dasar DNA. Bingung ya? Sama dong dengan saya… 😀 Tidak usah dibahas ya, biar Google saja yang menyimpan lengkap informasi itu 😀 😀

P1020088
The Helix – Green and Red

Tetapi saya merasa indah saja, bahwa sesuatu yang sangat ilmiah dan sangat mendasar dalam tubuh makhluk hidup dijabarkan dengan begitu kerennya dalam sebuah karya yang berfungsi sebagai sebuah jembatan. Tidak heran, jika akhirnya The Helix, yang panjangnya sekitar 280meter ini mendapat penghargaan The World’s Best Transport Building di tahun 2010 dan Building & Construction Authority’s Design & Engineering Safety Excellence di tahun 2011.

Malam itu dan pada malam-malam lainnya saat menapaki The Helix, saya selalu menikmati lampu-lampu redup itu, mengamati orang-orang yang melaluinya, menikmati pemandangan indah kota Singapura, meskipun sekali-sekali terlintas juga bahwa saya sedang menembus model struktur DNA makhluk hidup. Dan kalau sudah terpikir itu, biasanya saya seperti diingatkan tentang Sang Pencipta…

P1020090
The Helix -from the viewing platform

Terlepas dari bentuknya yang keren, secara fisik sebenarnya The Helix terbuat dari besi dan kaca yang saling terkait. Bahkan jembatan ini disesuaikan dengan kondisi cuaca setempat yang hanya kenal hujan dan panas, sehingga dilengkapi kanopi supaya pelintasnya terlindung dari panas dan hujan meskipun tidak utuh. Keunikan lainnya yang saya suka dari The Helix karena jembatan ini memiliki tempat khusus untuk melihat-lihat pemandangan kearah kota, terutama saat malam pemandangannya sangat cantik. Meskipun katanya bisa menampung hingga 100 orang, platform untuk melihat-lihat ini tentunya menjadi tempat favorit untuk melihat pertunjukan keren di langit seperti kembang api. Tapi sepertinya harus lebih awal booking tempat, karena tempat ini sangat-sangat padat waktu Tahun Baru. Pengalaman bermalam tahun baru di Singapura, berjalan kaki melalui The Helix saja macet! 😀

Mungkin karena frekuensi saya berjalan sendiri melaluinya, jauh lebih banyak daripada bersama orang-orang yang saya kenal, membuat saya seperti punya rasa tersendiri dengan jembatan itu. Seperti biasa, jika pergi sendiri, saya biasa melakukan pembicaraan dengan hati saat berjalan. Juga saat menapaki The Helix. Dan oleh karenanya saya merasa tak pernah kesepian, meskipun tengah malam dan tidak ada orang di samping. Seperti saat kembali ke hotel, saat itu sebagian lampu The Helix telah dimatikan, saya menyaksikan satu pasangan berjalan mesra di depan saya. Melihat mereka, saya ikut berbahagia. ikut merasakan romansanya, kemesraan mereka yang penuh cinta dan bahagia itu menular… Kata orang sana, Love is in the air…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-13 ini bertemakan Jembatan agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

WPC – The Beauty in Silence and Darkness


A few years ago I made time to walk around Marina Bay, Singapore, just before midnight. I wanted to see and feel the atmosphere of the modern never-sleep city. I was amazed; for a moment I felt silence filled up the air. The area which is normally full of visitors during the day seems so empty, nobody’s there. The colorful lights on the Helix bridge had been turned off and it was illuminated by minimal lights. There was only a couple walking through the iconic bridge in Singapore. I followed them to cross the bridge and hope to find more people that night, but I saw nobody until the end of the bridge.

I felt the emptiness of the night, but at the same time I felt the beauty filling up the air. Yes, I saw the buildings in the business center across the area I was standing were still full of lights, but for a moment I felt the city of Singapore was so beautiful. In its silence and darkness, the city still looked so mesmerizing, just like Hellen Keller said,

There is beauty in everything, even in silence and darkness

******

Where is the people?
Where is the people?
Lights on but the water was calm
Lights on but the water was calm