Aksen Lengkung Di Situs Warung Boto


Saat ke Jogja tahun lalu, -setelah urusan keluarga selesai-, bersama suami saya menyempatkan diri mengunjungi Situs Warungboto atau kadang disebut juga dengan Pesanggrahan Rejawinangun yang terletak di Jalan Veteran No.77, Warungboto, Umbulharjo, Jogja. Situs yang belakangan mulai terkenal sebagai salah satu destinasi di Jogja ini, -bisa jadi karena Putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu bersama Bobby Nasution melakukan foto pre-wedding di sini-, merupakan salah satu bangunan cagar budaya berupa sebuah pesanggrahan dan pemandian yang sekilas menyerupai Taman Sari. 

DSC00132
Situs Warungboto

Sayangnya saya berkunjung ke Situs Warungboto ini tepat tengah hari yang tentu saja keringat langsung deras mengucur dan panas menerpa kulit. Hebatnya lagi, di lokasi ini tidak ada tempat yang cukup rindang kecuali di dalam ruangan-ruangannya yang berada di tingkat atas. Sungguh, terik matahari ini membuat mood saya langsung jatuh ke level terendah. Mungkin akan lebih baik jika berkunjung ke sini pagi-pagi atau sore hari ketika matahari sudah tidak begitu gahar.

Gara-gara terik matahari itu, saya tidak ingin berlama-lama di sana dan hanya berada di sekitar kolam pemandian dan bangunan yang mengelilinginya. Itupun sebisa mungkin berdiri di bawah bayangan. Bisa jadi ada bangunan lain yang menarik berada di pelataran atas, tetapi uh, maaf seribu maaf, kali ini saya takluk oleh sinar matahari yang langsung membuat sakit kepala. Apalagi, di Situs Warungboto ini saya harus menaiki tangga-tangga untuk memasuki bangunan utama. Lengkap sudah, terik matahari dan tangga, dua hal yang tidak saya sukai dalam berwisata 😀

Situs Warungboto yang dindingnya menggunakan batu bata dan dilepo ini terdaftar dalam pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini, seperti juga Benteng Keliling Keraton atau Taman Sari-nya Keraton Yogyakarta, memiliki dinding yang amat tebal.  

Jadilah siang itu, pelan-pelan saya menaiki tangga untuk ke bagian yang tidak terpelihara dan kelihatannya masih asli. Lorong pintu-pintunya mempunyai aksen lengkung. Sayang sekali tangan-tangan tak bertanggung jawab telah mengotorinya dengan coretan grafiti yang merusak keindahan situs.

Kemudian tanpa tergesa saya melipir mengikuti bayangan untuk memasuki ruangan-ruangan yang ketinggian lantainya tidak sama (multi-level). Saya langsung merasa adem meski sedikit lembab. Entah kenapa rasanya déjà vu dengan situasi Taman Sari yang memang mirip. Dengan struktur yang berdinding tebal, -melalui pintu dan jendela layaknya dalam sebuah benteng-, saya bisa melihat ke arah kolam pemandian yang saling berhubungan yang konon airnya berasal dari sebuah mata air. Tiba-tiba saja saya teringat akan kisah-kisah jaman dulu yang selalu menjadikan sebuah mata air sebagai tempat yang suci dan sakral.

Saya turun lagi ke bawah menuju kolam pemandian dan memperhatikan bentuknya yang unik.

Kolam pertama berbentuk lingkaran dengan dinding melengkung seperti cawan atau mangkuk besar, yang memiliki diameter sekitar 4 meter dan di bagian tengahnya dibuat bentukan seperti helai-helai bunga yang merupakan tempat air yang memancar keluar (umbul). Konon, disanalah sumber mata airnya.

DSC00136
The Spring Pool

Kolam kedua berbentuk persegi panjang yang memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebarnya sekitar 4 meter dengan dinding kolam yang sedikit miring (tidak tegak). Mungkin dinding yang melengkung dan tidak tegak ini memang merupakan disain awal yang membuatnya berbeda dari kolam-kolam pemandian lainnya.

Menariknya, kedua kolam itu terhubung oleh sebuah bentukan terbuka yang menyerupai undakan simetris di kanan kiri dan juga memiliki dinding melengkung ke arah kolam kedua. Artistik.

Dari seberang pintu yang memiliki aksen lengkung, saya mengamati bentuk kedua kolam itu. Entah kenapa saya memiliki pemikiran yang agak melenceng saat mengamati bentuk kedua kolam dari ketinggian. Kolam yang melingkar lalu dihubungkan dengan sebuah bentukan yang agak panjang dan berakhir membuka pada kolam kedua itu, kok seperti sebuah gua garba (rahim) yang merupakan simbol dari awal terciptanya kemanusiaan dan kebudayaan. Entahlah, karena sama sekali tidak ada informasi mengenai makna bentuk kedua kolam itu.

DSC00132
Situs Warungboto
DSC00139
Two empty pools

Yang ada hanya sejarahnya, yang berdasarkan informasi di sebuah papan, Situs Warungboto merupakan sebuah tempat peristirahatan (petilasan) yang pembangunannya dimulai semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I dan dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Bisa jadi kondisi asli bangunan Situs Warungboto, masih seperti yang saya saksikan di tempat yang pertama kali saya datangi, meskipun hanya berupa reruntuhannya yang tidak terpelihara dengan menyisakan dinding tebal  yang tak bisa diragukan.

Konon, sejak tidak digunakan oleh pihak Kraton hingga tahun 1935, tempat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya karena terdapat sumber air. Namun setelah Indonesia merdeka, tempat ini seperti terlupakan. Bisa jadi karena letaknya jauh dari keraton atau sumber airnya sudah tak berfungsi lagi.

Apapun kondisinya kini, setelah mengalami pemugaran, Situs Warungboto menjadi lebih baik dan dapat dijadikan sebagai alternatif berkunjung di Jogja. Meskipun tidak sebesar Taman Sari, dengan kondisi sekarang ini rasanya situs Warungboto memiliki kemegahan dan kecantikannya sendiri.

DSC00126
Warungboto

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-8 ini bertema Curve agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…