Pasangan Sakral Rama dan Sita


Ketika sahabat saya melempar ide dengan topik Couple sebagai bahan tulisan minggu ini, terus terang saya bingung hendak menuliskan apa. Rasanya tidak mudah menuliskan tentang pasangan (couple) dalam blog yang sebagian besar isinya tentang cerita perjalanan ini, meskipun belakangan isinya banyak juga cerita yang bukan tentang perjalanan 😀 Tapi itulah tantangannya kan?


Setelah cerita perjalanan ke sebuah kota di Nepal bagian Timur yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Sita (di Indonesia biasa disebut dengan Dewi Sinta) dalam legenda Ramayana dan juga sebagai tempat pertemuan pertama kalinya dengan Rama, tempat pernikahan sekaligus tempat kembalinya dari pengasingan, -yang semuanya dapat dibaca di link berikut ini: Gema Cinta dari Janakpur-, rasanya tidak salah bila saya menambahkan sedikit lagi tentang pasangan sakral ini.

Sepanjang sepengetahuan saya di dalam Hindu, Rama merupakan avatar dari Dewa Vishnu, bahkan istrinya Dewi Lakshmi, juga menitis kepada Sita yang merupakan pasangan dari Rama. Di Kuil Janaki yang ada di Janakpur, -tempat yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Sita-, banyak terdapat lukisan-lukisan gaya India tentang Rama dan Sita. Bahkan di Janaki Mandap (Vivaha Mandap) yang dipercaya sebagai tempat pernikahan Rama dan Sita didirikan patung pasangan sakral ini.

Meskipun lukisan-lukisan yang indah ini tidak memiliki informasi dalam bahasa Inggeris (semua tertulis dengan karakter Nepali), saya hanya bisa mengira-ngira kisahnya dengan memperhatikan apa yang digambarkan. Seperti tokoh yang digambarkan memiliki kulit berwarna biru, saya memperkirakan bahwa dia adalah Rama dan perempuan di sampingnya adalah Sita.

Kisah Ramayana yang aslinya dari India ini, memang telah lama dekat di kalangan orang Indonesia, terutama di Jawa dan Bali. Biasanya ditampilkan dalam bentuk pertunjukan wayang atau sendratari yang cukup lama. Salah satu pertunjukan tari yang mengambil adegan Ramayana yang amat mengesankan bagi saya adalah tari kecak yang diselenggarakan di kawasan Pura Uluwatu jelang matahari terbenam.

Sebagai penggemar tari Bali, saya begitu menikmati pertunjukan itu apalagi menggunakan api sebagai penerang di saat sudah gelap. Api yang sama digunakan sebagai lambang peperangan Rama dibantu oleh Hanuman melawan Rahvana yang menculik Sinta. Magis!

uluwatu
Sita & The Golden Deer in Uluwatu, Bali

Selain di Bali, -terkait dengan pasangan sakral dalam Ramayana ini-, saya bersyukur mendapat satu kali kesempatan menyaksikan pertunjukannya secara gratis. Sebenarnya kejadiannya tidak disengaja. Ketika itu, saya dan keluarga menginap di sebuah kotel di Jogjakarta, yang pada malam harinya diselenggarakan pertunjukan sendratari Ramayana di pelataran restoran. Sebagai tamu hotel, saya memang dapat menyaksikannya, meskipun harus berdiri sepanjang pertunjukan karena hanya tamu yang memesan makan malam yang mendapat privilege tempat duduk. 

Menyaksikan pertunjukan Ramayana versi Jawa ketika itu, saya perlu waktu untuk mencerna adegan-adegan dalam pertunjukan karena, -seperti juga di dalam pertunjukan wayang-, Ramayana versi Jawa ini memiliki adegan yang cukup banyak. Bisa jadi saya terbiasa melihat pertunjukan Ramayana versi singkat sehingga terlupakan adegan-adegan yang memang ada dalam Ramayana. Tetapi paling tidak, saya bisa menangkap maksud tarian.

Ada upaya gagah berani dari Burung Jatayu untuk menyelamatkan Sita, tetapi gagal hingga Jatayu pun harus kehilangan nyawanya. Rahvana kembali melarikan Sita dan menyembunyikannya. Hingga datang utusan dari Rama, yang bernama Hanuman. Dia membawa cincin Rama, sebagai tanda valid sebagai utusan Rama. Melalui pertempuran-pertempuran Rama melawan Rahvana yang dibantu pasukan Hanuman, akhirnya Rama dan Sita bisa kembali bersatu.

Malam itu, pertunjukan berakhir dengan happy-ending, dengan pasangan yang akhirnya berbahagia berkumpul kembali.

Meskipun saya lupa, apakah waktu itu sempat ada adegan pengujian kesucian Sita melalui api. Adegan terakhir ini selalu membuat saya terbelah rasa. Rasanya masygul juga merasa tak sesuai dengan penggambaran sikap ksatria Rama.

DSC05397
The Happy Couple – Rama & Sita

Nepal: Memandang Dewi Kumari the Living Goddess di Jendelanya


Sebenarnya saya masih terkagum-kagum dan ingin berlama-lama berada di keramaian Durbar Square dan melihat arak-arakan festival dimulai, tetapi ada suara hati yang mengajak saya membalikkan badan memperhatikan sebuah bangunan cantik berukir khas Newari. Inilah Kumari Ghar, istana Kumari Devi atau Dewi Kumari, the living Goddess.

Kumari Ghar and the Lions
Kumari Ghar and the Lions

Tampak depan dari istana Kumari Ghar yang berada tepat di belakang saya itu terlihat cantik dengan hiasan-hiasan berukir dan pintunya yang dijaga oleh dua patung singa. Saya masuk dan tiba di halaman tengah yang dikenal sebagai Kumari Chowk. Halaman ini tidak luas, sekitar 6 kali 6 meter, dengan tempat persembahan dan tanaman hias di tengah halaman. Saya mengamati dengan seksama istana berlantai tiga yang menjadi tempat tinggal Dewi Kumari itu.

Kumari Devi atau Dewi Kumari, merupakan gadis cilik yang belum mencapai masa pubertasnya, dan dipercaya oleh sebagian kelompok Hindu dan Buddha di Nepal, sebagai titisan dewi Durga atau dikenal dengan nama Taleju Bhavani dalam bahasa Nepal. Ia dipilih secara ketat dari kasta Shakya atau klan Bajracharya, kelompok tertinggi dari masyarakat Buddhist Nepal untuk menjadi Kumari hingga masa pubertas atau sakit keras atau hal lain yang dapat menggugurkan tingkat ke’dewi’annya.

Bagi saya, legenda di balik kisah Kumari ini cukup menarik untuk disimak dan mengingatkan saya akan kisah-kisah serupa yang berkembang di tanah air. Versi pertama mengatakan bahwa pertemuan rutin antara Dewi Taleju dan Raja diketahui oleh permaisuri, yang akhirnya membuat Dewi Taleju memutuskan untuk berinkarnasi sebagai gadis cilik agar bisa ditemui Raja dan memiliki unsur kedewian untuk melindungi seluruh kerajaan. Versi kedua lain lagi, konon pertemuan rutin Raja dan Dewi Taleju berakhir karena ada upaya pendekatan secara seksual oleh Raja sehingga Dewi Taleju menghentikan pertemuan rutin itu. Dalam penyesalannya, Raja meminta Sang Dewi untuk kembali agar dapat menjaga kesejahteraan kerajaannya, Dewi Taleju setuju untuk tampil sebagai gadis cilik. Versi ketiga berkembang di abad 12, bahwa ada seorang gadis kecil yang dikucilkan dari masyarakat karena dianggap telah dirasuki oleh Dewi Durga. Permaisuri Raja tidak percaya begitu saja lalu ia mempelajari suratan nasib gadis kecil itu. Ternyata hal itu membuatnya marah karena Raja sendiri yang telah menjadikan gadis kecil itu sebagai inkarnasi Dewi Durga. Bagaimanapun sebuah benang merah bisa ditarik, bahwa ada kaitan khusus antara Kumari dan Sang Raja.

Mengingat posisi Kumari di Nepal sangat eksklusif, karena setiap tahun Raja atau orang tertinggi di pemerintahan Nepal meminta restu dari Kumari, maka tidaklah mudah menjadi seorang Kumari yang dipilih dalam usia yang masih sangat belia. Seorang Kumari dipilih melalui serangkaian test yang turun temurun dipertahankan terhadap fisik maupun mental sang calon. Begitu banyak kriteria yang harus dilewatinya, seperti 32 kriteria sempurna dari seorang dewi, berbadan sehat, berambut dan bermata hitam, tidak penakut dan lolos ‘uji-nyali’ pada malam hari berdiam bersama para kurban persembahan berupa lusinan kepala kerbau dengan hanya diterangi cahaya lilin.

Daya tarik Kumari sebagai Dewi yang hidup sebagai manusia dianggap begitu hebatnya sehingga dia dipercaya juga sebagai pembawa keberuntungan. Banyak orang bersedia untuk datang berkerumun di bawah jendelanya di Kumari Chowk dengan harapan agar Kumari dapat sejenak melewati jendela dan melihat mereka dalam diamnya. Karena konon, diamnya Kumari dalam melihat tamunya, menunjukkan harapan dan doa yang terkabul.

Saya masih berdiri di halaman istana kecil itu untuk menikmati suasana. Terasakan penting dan sakralnya tempat ini ditandai dengan lembar pita keemasan yang tersampir di atap teratasnya. Di tempat inilah tinggal seorang anak manusia yang memiliki serangkaian keberkahan hingga pantas disebut dengan seorang dewi yang restunya bisa membuat sejahtera sebuah negeri.

Ketika saya melihat ke jendela teratas di lantai tiga itu, alih-alih Kumari, yang terlihat adalah wajah tua sang penjaga yang melihat tanpa ekspresi ke kerumunan orang di halaman bawah. Entah apa yang ada dalam pikirannya, bisa jadi dia sedang menimbang-nimbang agar Kumari bersedia tampil di jendela.

Tetapi tak ada perubahan. Dari tempat saya berdiri di Kumari Chowk itu, terdengar suara anak-anak kecil tertawa, berlari dan melompat-lompat penuh canda di dalam rumah. Saya membayangkan di balik jendela-jendela itu ada anak-anak yang hidup dalam dunianya sendiri. Dunia anak-anak yang membahagiakan. Dunia mereka yang mendampingi seorang dewi yang hidup di dunia. Bahkan Sang Dewi itu sendiri mungkin masih suka berlari, menjerit, melompat dan tertawa-tawa seperti anak-anak lainnya. Sebagai seorang ibu, tentu saja saya pernah merasakan kehebohan dunia anak-anak yang bagi saya mereka hanya diam dan damai ketika tidur.

Terbawa kenangan akan dunia anak-anak yang penuh kegembiraan, tiba-tiba terbersit dalam hati, apakah saya mungkin dapat menyaksikan Sang Dewi dalam tubuh anak-anak itu karena saya percaya dia ada di situ bersama anak-anak lain yang sedang lari-lari penuh kegembiraan itu. Harapan saya menyatu dengan harapan orang-orang yang hadir di Kumari Chowk itu, apakah saya bisa beruntung melihat Sang Dewi, The Living Goddess? Saya tersenyum sendiri dengan harapan saya itu, menyadari sepenuhnya kebaikan suara hati

Sekitar sepuluh menit saya mengelilingi Kumari Chowk dan mengambil foto, tetapi tak ada tanda-tanda Dewi Kumari akan tampil di jendelanya. Saya tak putus asa, saya diam menanti, menunggu. Tak jelas.

Dan peristiwa itu terjadi lagi!

Sesaat saya hendak membalikkan badan akan meninggalkan Kumari Chowk itu, seseorang mengatakan dalam bahasa Inggris bahwa Kumari akan tampil. Saya tak jadi berbalik. Saya tetap berdiri di sudut kiri, di garis lurus arah pandang sang penjaga tadi.

Dan akhirnya wajah mungil itu muncul di jendela. Tepat menggantikan wajah sang penjaga tua. Arah garis lurus berpandangan dengan saya. Saya melihat Dewi Kumari dan dia melihat saya dalam diam. Saya seperti terhipnotis tak bergerak dan membiarkan diri asik berlama-lama berbahasa kalbu dalam hening berpandang mata dengannya. Matanya tak berubah pandang, tak melirik ke kiri atau kanan, dia hanya memandang lurus ke depan, ke arah saya, menembus ke dalam hati sanubari. Sebagai seorang ibu, saya mendoakan kesehatan dan kebaikan untuk kehidupannya sebagai anak hingga dewasanya. Namun sebagai seorang pengunjung Kumari Ghar, saya tak bisa berbuat lain kecuali tersenyum, berterimakasih kepadanya dan mendoakan kebaikan untuk semua. Setelah bermenit-menit itu Dewi Kumari menghilang dari jendelanya dan membiarkan saya tetap terdiam tak percaya.

Sepersekian detik saya tersadarkan. Lagi! Sebuah anugerah!

Jarang wisatawan bisa melihat Dewi Kumari di jendelanya kecuali sedang berada di festival yang mengharuskan Dewi Kumari meninggalkan istananya. Lebih jarang lagi bisa saling berpandang-pandangan dan berlama-lama bercakap dalam hening. Sebuah pengalaman batin yang luar biasa.

Perlahan saya meninggalkan Kumari Chowk itu dengan rasa syukur yang berlimpah. Sambil tersenyum saya teringat akan keinginan tiba-tiba agar bisa melihat Dewi Kumari dan karena campur tanganNya keinginan itu terwujud dengan segala keindahannya. Ini benar-benar perjalanan yang sangat menggugah rasa dari Yang Maha Kuasa (baca disini untuk rangkumannya) . Terima kasih Ya Allah…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dan saya meninggalkan Kumari Ghar tanpa penyesalan sedikitpun walau tak memiliki satupun foto saat penuh momen dengan Dewi Kumari. Saya tak menyesal sama sekali membiarkan momen indah ini menjadi rejeki milik mata yang menyaksikan dan jiwa raga bergetar atas limpahan kasih sayangNya karena memang sejatinya itulah yang harus saya lakukan, bukan mengambil foto.

Bukankah saya meminta untuk dapat melihat Dewi Kumari dan bukan untuk mengambil fotonya? Dan ketika diberikan momen itu, alangkah tidak bersyukurnya saya bila mengalihkan menjadi milik kamera. Apalagi mengambil foto Dewi Kumari saat muncul di jendela itu dilarang oleh budaya setempat.

Sebagai pejalan, saya sangat menghargai budaya mereka. Jika dilanggar, artinya saya telah kehilangan makna perjalanan itu dan apa guna memiliki sebuah foto bila saya tak lagi bisa menghargai tempat yang saya datangi itu?

Di gerbang keluar Kumari Ghar itu, saya membeli beberapa kartu pos yang berisikan wajah-wajah Kumari sambil bercerita bahwa saya melihatnya. Gadis penjual itu tersenyum berkata, you’re blessed… Ah, perjalanan ini benar-benar mencuci jiwa…

(semoga nepal bisa bangkit kembali dan menjadi lebih baik daripada sebelumnya)

Mengintip Puncak Merapi dari Balik Legenda Candi Sewu


Konon, suatu hari yang indah di bumi Mataram…
 
Seorang puteri raja yang cantik jelita, Roro Jonggrang namanya, tengah meratapi kematian ayahnya, Prabu Boko, yang gugur di tangan Sang Pangeran dari Kerajaan Pengging, kerajaan di sebelah wilayah kerajaan Boko.
 
Sementara itu, Bandung Bondowoso, nama Sang Pangeran yang terkenal sakti itu, tengah berupaya menaklukkan rasa gundahnya karena telah membunuh ayah dari Roro Jonggrang. Sebagai Pangeran, ia harus menjaga keutuhan wilayah kekuasaan kerajaannya, tetapi di sisi lain, ia tak sampai hati melihat penderitaan seorang puteri cantik. Untuk menebus rasa bersalahnya, sebagai laki-laki sejati ia berniat menikahi Roro Jonggrang sehingga ia bisa menjaga Sang Puteri seumur hidupnya.
 
Perasaan tulus ikhlas Bandung Bondowoso ingin memperisteri Roro Jonggrang, disambut Sang Puteri dengan perasaan campur aduk. Tentu saja Roro Jonggrang tidak mau menerima lamaran Bandung Bondowoso, pembunuh ayahnya. Tetapi sebagai seorang puteri, ia harus menggunakan cara-cara yang anggun untuk menolak lamaran tanpa terlihat sikap penolakannya. Setelah berpikir keras, Roro Jonggrang bersedia menerima lamaran dengan dua syarat, yakni Bandung Bondowoso harus membuat sebuah sumur Jalatunda dan seribu candi yang harus selesai dalam sehari semalam. Yakin akan kesaktiannya, Bandung Bondowoso menerima persyaratan itu.
 
Bandung Bondowoso dengan mudah menyelesaikan pembuatan sumur Jalatunda. Tak percaya persyaratan pertama telah selesai dan teringat ia harus bersanding dengan laki-laki pembunuh ayahnya, Roro Jonggrang berusaha memperdaya Bandung Bondowoso dengan memintanya memeriksa kekuatan dinding sumur. Ketika Bandung Bondowoso berada di dasar sumur, Roro Jonggrang bersama dayang dan pembantu istana berusaha mengubur hidup-hidup Bandung Bondowoso dengan timbunan tanah. Namun, karena kesaktiannya, ia berhasil keluar dari timbunan tanah itu. Bandung Bondowoso sempat marah karena tipu daya Roro Jonggrang, tetapi Sang Puteri berhasil memadamkan kemarahannya karena gerak gemulai, rayuan dan kecantikannya. Bandung Bondowoso pun luluh hatinya dan bermaksud menyelesaikan persyaratan ke dua.
 
Karena kesaktiannya, Bandung Bondowoso berhasil meminta bantuan para makhluk halus untuk membangun 1000 candi. Melihat pekerjaan membangun 1000 candi itu hampir rampung, Roro Jonggrang membangunkan para dayangnya dan perempuan desa untuk mulai menumbuk padi pada lesung dan membakar jerami pada sisi Timur seakan-akan pagi telah datang. Bahkan ayam-ayam pun terpedaya dan mulai berkokok melihat kegiatan pagi sudah berlangsung. Mengira bahwa sebentar lagi sang mentari akan terbit, para makhluk halus lari tunggang langgang meninggalkan pekerjaan yang sudah mencapai 999 candi sehingga Bandung Bondowoso dinyatakan gagal memenuhi syarat yang diajukan Roro Jonggrang. Mengetahui bahwa kegagalan itu sebagai akibat dari tipu muslihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso murka. Ia tak lagi percaya akan gerak gemulai dan kecantikan Roro Jonggrang. Dalam kemurkaannya ia mengutuk Rara Jonggrang menjadi batu, melengkapi menjadi candi yang ke seribu.
 
Itulah legenda asal muasal Candi Sewu yang konon merupakan 999 candi yang belum rampung, dan arca Durga di ruang utara candi Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan dikenal sebagai Candi Roro Jonggrang yang berarti gadis yang cantik semampai.
 
<><><> 
Candi Sewu - Candi utama
Candi Sewu – Candi utama

Legenda Roro Jonggrang yang sudah diceritakan sejak kecil itu kembali memenuhi benak ketika saya melangkah melalui pintu tak resmi Candi Sewu yang biasa digunakan bagi para petugas candi yang terletak di sebelah utara. Hanya ada seorang petugas yang ramah menyapa saya yang datang kepagian.  Mungkin terasa janggal melihat ada pengunjung yang datang pagi-pagi ke Candi yang juga jarang dikunjungi walaupun bersebelahan dengan Candi Prambanan. Tidak ada tiket masuk, tetapi saya tetap meletakkan beberapa lembar uang donasi pemeliharaan candi karena kecintaan saya kepada bebatuan peninggalan sejarah itu. Dan selanjutnya saya seakan lebur di dalam atmosfer candi.

Candi Sewu, hamparan batu yang terserak
Candi Sewu, hamparan batu yang terserak

Entah apa yang terbentuk dalam pikiran, ketika melihat reruntuhan batu candi, saya selalu merasa antusias. Demikian juga ketika saya melihat hamparan batu tak beraturan di depan mata ini. Menurut  legenda, inilah hasil kerja para makhluk halus yang lari tunggang langgang karena menganggap pagi sudah datang. Ribuan batu tak beraturan, hamparan candi yang belum sepenuhnya rampung. Candi Sewu, yang berarti seribu dalam bahasa Jawa, hanya menunjukkan hiperbolisme tutur bahasa Jawa sebagai pengganti kata banyak sekali. Walaupun menurut sumber yang bisa dipercaya, sebenarnya Candi Sewu hanya berjumlah 249 yang terdiri dari 1 Candi Utama, 8 Candi Pengapit dan 240 Candi Perwara dan semua disusun dalam posisi yang simetris dengan Candi Utama yang besar berada di tengah-tengah. Saya membayangkan tampak aerialnya dari udara, pasti luar biasa cantik. Ah, sepertinya saya harus meminjam baling-baling bambunya Doraemon untuk melihat keindahan ini…

Dan hmm… karena melalui pintu tak resmi, saya tak disambut oleh dua patung Dwarapala yang saling berhadapan menjaga candi di gerbang pelataran luar di tiap arah mata angin. Bahkan untuk menekankan betapa kuat ‘penjagaan’nya, antara pelataran luar dan pelataran dalampun dipisahkan dengan sepasang dwarapala yang memegang gada. Bagaimanapun nanti saya harus melewati dua Dwarapala yang ada di pelataran dalam untuk masuk ke Candi Utama.

Candi Sewu, yang belum selesai menurut legendanya
Candi Sewu, yang belum selesai menurut legendanya

Langkah saya pelan menapaki pelataran luar candi yang dibangun pada abad 8 atas perintah penguasa Mataram saat itu, Rakai Panangkaran dan Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Sebuah contoh nyata seorang penguasa yang mengedepankan toleransi kehidupan beragama rakyatnya. Candi Sewu memang merupakan candi Buddha yang saat itu digunakan untuk berbagai kegiatan peribadatan bagi masyarakat bumi Mataram yang beragama Buddha.

Dari pelataran luar saya bisa menikmati Gunung Merapi di kejauhan yang puncaknya seperti terbelah sebagai akibat kegiatan vulkaniknya yang frekuentif. Inilah enaknya berkunjung pada pagi hari, belum ada pengunjung lain dan kondisi langit bersih. Entah kenapa melihat Gunung Merapi, sehelai benang lamunan terbang memintal legenda Candi Sewu. Tak ingin berpikir jauh, segera saya mencabutnya dari taman pikiran dan kembali menikmati bangunan-bangunan batu yang berdiri megah.

Puncak Merapi dan Stupa Candi Sewu, diantara banyak legenda dan mitos
Puncak Merapi dan Stupa Candi Sewu, diantara banyak legenda dan mitos

Saya memandangi Candi Utama penuh kekaguman. Sungguh saya menyukai arsitektur candi utama karena bentuknya yang bersudut-sudut, atap seakan berlapis dan memiliki pembatas yang dibentuk indah setinggi sekitar 1 meter. Di abad ketika teknologi penggunaan semen belum ditemukan, rumus rumit matematis konstruksi dan ketahanan material belum dihitung, Candi Sewu dibangun hingga ketinggian sekitar 30 meter dan menariknya di tiap atap yang berjumlah 9 itu terdapat stupa pada puncaknya. Sungguh saat itu leluhur kita berada dalam sebuah peradaban yang membanggakan (dan pikiran saya terbang ke Candi Prambanan yang lebih tinggi daripada Candi Sewu dan berlokasi di kompleks sebelah, hingga kini di abad 21, kita masih kesulitan teknologi untuk melakukan pembersihan puncak-puncak Candi!)

Candi Sewu - Candi Utama dilihat dari sudut candi pengapit
Candi Sewu – Candi Utama dilihat dari sudut candi pengapit

Seakan telah mendapat izin dari dua Dwarapala bergada, saya menaiki tangga Timur Candi Utama yang berhiaskan makara menuju selasar Candi. Di ketinggian lantai ini, saya terpana menikmati lebih jelas keindahan puncak Merapi yang seakan terbelah. Pagi yang luar biasa! Lagi-lagi sejumput lamun terbang menggoda benak, teringat legenda kesaktiannya, apakah Bandung Bondowoso masih dalam kemurkaan abadinya sehingga membelah Puncak Merapi? Dan bukankah beredar pula mitos bagi pasangan yang belum menikah akan bubar jika berkunjung ke Candi Prambanan? Ah, nakalnya lompatan lamunan ini…

Gunung Merapi di antar Stupa Candi Sewu
Gunung Merapi di antar Stupa Candi Sewu

Sambil tersenyum mengusir lamunan, pelan saya melangkah ke ruang dalam Candi yang memiliki tempat untuk meletakkan benda-benda untuk peribadatan. Mungkin demi keamanan, benda-benda ini sudah diselamatkan terlebih dahulu ke museum dan meninggalkan relung kosong. Kemudian saya melangkah menyusuri Candi hingga ke sisi Barat.

Dari Pintu Ruang Dalam Candi Sewu
Dari Pintu Ruang Dalam Candi Sewu
Gunung Merapi diantara tiga Candi Pengapit di Candi Sewu
Gunung Merapi diantara tiga Candi Pengapit di Candi Sewu

Di balik keteduhan Candi karena tak terkena sinar matahari pagi, saya melihat pelataran yang juga dilengkapi oleh Candi Pendamping dan Candi Perwara dan ribuan reruntuhan batu yang masih belum tersusun. Candi Pendamping membelah jalan untuk mencapai pintu masuk dan  memiliki relief pada dinding berupa sosok laki-laki berbusana bangsawan yang sedang berdiri. Ratusan Candi Perwara terhampar di pelataran luar.

Siapakah Dia? - Relief di Candi Sewu
Siapakah Dia? – Relief di Candi Sewu
Candi Sewu - Relief di Candi Pengapit
Candi Sewu – Relief di Candi Pengapit
Hiasan-hiasan pada Candi Pengapit di Candi Sewu
Hiasan-hiasan pada Candi Pengapit di Candi Sewu

Saya menikmati setiap detiknya berada di Candi Sewu tanpa kehadiran pengunjung lain sambil menikmati pemandangan indah Gunung Merapi di kejauhan. Hamparan batu candi berserakan di pelataran membuat saya tersenyum sendiri. Bagi saya candi ini luar biasa berkesannya. Rapi sekaligus berantakan, Yin dan Yang, Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, kasih sayang dan kebencian… Sebuah harmoni.

Candi Sewu - Rapi dan Berserakan dalam Harmoni
Candi Sewu – Rapi dan Berserakan dalam Harmoni

Matahari pagi pelan-pelan mulai meninggi. Sayup-sayup terdengar suara bus-bus yang mulai berdatangan memenuhi tempat parkir Candi Prambanan yang letaknya bersisian dengan Candi Sewu. Ah, sebentar lagi pengunjung lain akan berdatangan memberi warna lain pada candi. Saya bangkit membereskan barang bawaan dan melangkah pulang bersama legenda Roro Jonggrang…