Jepang: Toshogu Di Nikko Yang Sarat Makna


Menjejakkan kaki di Stasiun Nikko yang didisain cantik, saya yang dipenuhi rasa haru bergegas membeli tiket bus one day pass yang dapat digunakan untuk mengelilingi seluruh tempat wisata yang ada di kawasan Nikko, walaupun diselimuti sejumput keraguan dapat menyelesaikan kunjungan dalam sehari. Tetapi bagaimana pun saya memulainya dari Toshogu, tempat cerita ini bermula…

View from Omotemon -  See the Torii?
View from Omotemon – See the Torii?

Sambil menanti bus, saya terkadang tersenyum sendiri. Nikko, salah satu kawasan World Heritage Site Jepang yang ditetapkan sejak 1999, merupakan destinasi yang sudah lama saya impikan untuk dikunjungi. Ketika kali pertama ke Jepang, saya mencoret impian ini, karena keterbatasan waktu lalu tahun-tahun selanjutnya berlalu hanya berupa mimpi bisa menjejak di Nikko.

Dan pagi ini, ketika Shinkansen Yamabiko menurunkan saya di Utsunomiya setelah berkereta dari Tokyo, saya berpindah menggunakan Nikko Line, -kereta lokal yang disediakan oleh Japan Rail untuk mencapai Nikko-, sebuah kota kecil berpenduduk puluhan ribu di prefektur Tochigi, 200km Timur Laut Tokyo. Perjalanan kereta selama 45 menit ini seperti perjalanan manis ke Bandung yang melewati pegunungan dan pedesaan dengan pemandangan yang sangat cantik. Saya tak bermimpi! Saya ada di Nikko!

Nikko Station and neighborhood
Nikko Station and neighborhood

Berada di pegunungan sekitar 600meter di atas pemukaan laut, kawasan Nikko lebih dikenal sebagai tempat peninggalan kekayaan budaya dan penguasa jaman Edo dari Keshogunan Tokugawa yang berkuasa turun temurun selama 250 tahun sejak abad-16. Bahkan Shogun Ieyasu Tokugawa sendiri dimakamkan di Nikko, menjadikan tempat ini dihormati secara khusus oleh masyarakat Jepang. Ditambah dengan keberadaan Kuil Toshogu, -sebuah Kuil Shinto yang luar biasa cantiknya-, menjadikan Nikko sebagai tempat yang sesuai artinya dalam bahasa Jepang, Cahaya Matahari. Rasanya tepat sekali kiasan yang mengatakan Nikko adalah Nippon, karena adakah yang mampu memisahkan Cahaya Matahari dari Matahari Terbit?

Setelah bus membawa saya ke lokasi Kuil Toshogu, sambil berjalan menanjak menuju gerbang, pikiran saya dipenuhi sejarah Nikko yang sebenarnya telah terukir lama sebelum ajaran Buddha diperkenalkan di tempat ini. Masyarakat tradisional telah lama melakukan kegiatan pemujaan di Gunung Nantai yang letaknya tak jauh dari Nikko. Kegiatan itu tetap berjalan, walaupun seorang biksu Buddha Shodo Shonin, -penyebar ajaran Buddha yang berkelana ke pedalaman hingga ke Gunung Nantai-, menjadikan Nikko sebagai pusat kegiatan ajaran Buddha di abad-8. Dan demikianlah, ajaran asli Shinto yang telah menyerap di dalam kehidupan masyarakat lokal saat itu, tetap dilaksanakan dalam kehidupan yang harmoni dengan ajaran Buddha, sehingga kuil Buddha dan kuil Shinto tetap berdiri secara berdampingan di Nikko sejak dulu. Ada yang berdenyut di dalam diri ini, seakan menampar wajah sendiri. Toleransi, sebuah kata yang mudah diminta tetapi tak mudah diberi.

View from Omotemon -  See the Torii?
View from Omotemon – See the Torii?

Kaki masih menapaki jalan berkerikil yang menanjak menuju gerbang. Di Nikko inilah tempat pemersatu bangsa Jepang, Shogun Ieyasu Tokugawa (1542-1616) dimakamkan. Bahkan setelah kematiannya, dia berharap tetap dapat melindungi Jepang secara spiritual, dengan menempatkan makamnya di Nikko, yang terletak di Utara pusat wilayahnya (kini Tokyo). Dengan begitu dia bisa menghadang semua iblis dan bentuk kejahatan yang secara tradisional dipercaya datang dari arah Utara. Lagi-lagi saya merasa terjerembab kalah memahami makna totalitas perjuangan, menyadari bedanya orang biasa dengan seorang Shogun, yang tak ingin berhenti berjuang, bahkan berupaya hingga melampaui maut dan waktu, mempersembahkan jiwa raga, melindungi apa yang menjadi tanggung jawabnya termasuk orang-orang yang hidup di dalamnya.  Sedangkan saya? Apa yang telah saya lakukan dalam hidup ini?

Sepeninggal Ieyasu Tokugawa, di tahun 1617 dilakukan pembangunan Kuil Toshogu yang sederhana oleh penerusnya, Shogun Hidetada Tokugawa dan direkonstruksi menyeluruh menjadi sebuah mahakarya, seperti yang dilihat hingga kini oleh Shogun Iemitsu Tokugawa pada tahun 1636 dengan bantuan hampir setengah juta pekerja dan seniman untuk membangun kuil indah yang selesai dalam waktu hampir satu setengah tahun.

Ishidorii - 16c Stone Torii
Ishidorii – 16c Stone Torii

Jantung berdenyut lebih keras saat melalui sebuah Torii dari batu yang dikenal dengan sebutan Ishidorii, yang dipersembahkan tahun 1618 oleh Kuroda Nagamasa, seorang tuan tanah di wilayah Kyushu (sekarang daerah Fukuoka). Torii batu yang terdiri dari 15 buah batu granit besar yang sangat berat itu, dikirimkan dengan kapal dari Kyushu ke Koyama kemudian dikirim melalui darat ke Nikko. Saya terkagum melihat Torii yang luar biasa ini, karena selain besar dan terlihat kuat, torii ini dibangun dengan teknologi anti-gempa. Terbukti Jepang yang telah melalui begitu banyak gempa besar, torii ini tak pernah runtuh sejak dibangun di awal abad-17. Benarlah kata Kahlil Gibran (tentang Pernikahan) agar memberi jarak pada batu kuil agar dalam keadaan terguncang (saat gempa), batu tak akan bisa meruntuhkan.

Gojunoto - Five Stories Pagoda
Gojunoto – Five Stories Pagoda

Setelah melewati torii, di sebelah kiri terlihat Gojunoto, pagoda lima lantai dengan ketinggian 36meter. Didalamnya terdapat Shinbashira, -teknologi anti-gempa berbentuk tiang berdiameter 0.6m yang tergantung dari lantai 4 hingga hampir menyentuh lantai bawah. Dalam keadaan gempa, Shinbashira ini akan menopang rangkaian rangka kayu sehingga tidak akan runtuh. Tetapi memang umumnya pagoda di Jepang bisa selamat dari gempa, tetapi lebih sering hancur karena terbakar. Seperti Gojunoto di Nikko ini, dibangun tahun 1648 oleh Gubernur Sakai Tadakatsu dari Wakasa (sekarang Fukui) namun terbakar di tahun 1815. Yang terlihat sekarang merupakan rekonstruksi di tahun 1818 dengan dua belas lambang Shio tergambar di sekeliling lantai pertama.

Omotemon - The Gate with The fierce guard
Omotemon – The Gate with The fierce guard

Kemudian saya sampai di gerbang depan yang dikenal dengan sebutan Omotemon. Dihiasi dengan dua penjaga berwajah bengis dikenal dengan nama Nio (Vajrapani dalam Sansekerta) setinggi 4meter dan dikawal oleh sepasang singa di sisi lainnya serta gajah-gajah berlapis emas. Bila diperhatikan mulut penjaga yang satu tertutup (Agyo)  dan penjaga lainnya terbuka (Ungyo), konon menyuarakan falsafah dasar mengenai kehidupan, yang hidup pasti mati, setiap awal akan berakhir atau pernah dengar istilah ‘Alpha Omega’ kan?

The imaginary Elephant - BTW see the raven?
The imaginary Elephant – BTW see the raven?
Sanjinko - Three Sacred Store House
Sanjinko – Three Sacred Store House

Setelah melalui gerbang Omotemon dengan takzim, di hadapan saya terlihat tiga Bangunan Suci Penyimpanan, di sebelah kanan dikenal dengan nama Shimojinko (artinya Bawah), Nakajinko (Tengah) dan paling kiri Kamijinko (atas); yang ketiganya lebih dikenal dengan sebutan Sanjinko, yang digunakan untuk menyimpan kostum festival musim semi dan musim gugur serta peralatan pasukan berkuda lengkap dengan panah-panahnya. Menariknya, ada penggambaran dua makhluk serupa gajah di ujung atap Kamijinko yang dikenal dengan ‘gajah imajinasi’. Gajah atau bukan Gajah?

Kemudian saya berbalik dan berhadapan dengan Sanjinko adalah satu-satunya bangunan sederhana yang tak bercat, terkenal dengan nama Shinkyusha (Kandang Kuda Suci). Dan di bagian atas saya berjumpa dengan ukiran tiga kera bijak (Sanzaru) yang telah menggaungkan “hear no evil, see no evil, speak no evil” ke seluruh dunia. Lalu apa hubungannya kera dan kuda? Kenapa ada di kandang kuda? Ternyata sejak dulu telah dipercaya kera merupakan pelindung kuda, dengan demikian kera yang tergambar di sekeliling dinding kandang diharapkan bisa melindungi kuda-kuda suci dari penyakit.

Omizuya for purifying
Omizuya for purifying

Setelah diberi petuah hidup oleh Sanzaru, saya dilepas menuju Omizuya, tempat untuk bersuci lahir batin sebelum memasuki bangunan utama Kuil. Omizuya ini didirikan tahun 1618 oleh Nabeshima Katsushige, seorang Pejabat Daerah dari Kyusu-Saga. Air yang digunakan untuk bersuci, -datangnya dari sungai tak jauh dari situ-, sangat segar dan dingin sekali seperti es walau di musim panas sekalipun. Terdapat 12 pilar granit untuk mendukung atap bergaya China berlapis keemasan yang menggambarkan gelombang dan naga terbang, yang merupakan keindahan seni jaman Momoyama akhir abad-15.

Sayangnya Yomeimon Gate yang luar biasa dan menjadi pusat keindahan Nikko, sedang direnovasi, padahal gerbang itulah yang dijuluki Gerbang Utama Kekaisaran. Gerbang ini dikenal juga sebagai Gerbang Matahari Tenggelam karena konon bisa menyaksikan keindahan matahari seharian tanpa merasa lelah. Tetapi saat melewatinya saya sempat mengabadikan sedikit bagian Gerbang dan itupun sudah mampu membuat nafas berhenti karena indahnya.

The decoration of The Corridor
The decoration of The Corridor

Walaupun gerbang diselubungi, saya bisa menikmati Kairo (Koridor) yang merupakan dinding luar kiri dan kanan dari Gerbang Yomeimon yang dihiasi dengan bunga-bunga dan burung yang luarbiasa indahnya yang merupakan salah satu ukiran terbaik di Jepang. Sebagai penggemar merak, saya gemas sekali melihat begitu banyaknya ukiran merak yang cantik disini.

The White Stories of Karamon
The White Stories of Karamon

Setelah Yomeimon, terdapat gerbang kedua, Karamon, berwarna putih dan dihiasi dengan ukiran cantik yang mengambil kisah legenda orang bijak dari China (Kyoyi dan Shoho) yang beraudiens dengan Kaisar dan beberapa adegan lainnya. Gerbang ini tak bisa dilalui, sehingga pengunjung harus memutarinya namun karena melihat banyaknya antrian orang yang akan beribadah, saya tak menyesal membatalkan untuk masuk ke Gohonsa, ruang utama untuk ibadah. Bukankah niat ibadah jauh lebih penting daripada saya yang hanya untuk melihat-lihat?

Juga jalan menuju Okumiya, makam dari Ieyasu Tokugawa, penuh dengan orang yang akan memberi penghormatan. Saya sempat menapaki setengah hati lalu akhirnya berhenti dan berbalik. Tanjakan panjang masih menanti sedangkan waktu tak mau menunggu. Saya harus kembali ke Tokyo. Semoga saya masih punya kesempatan kembali ke sini meskipun diantara proses renovasi yang dimulai sejak 2007 dan berakhir di tahun 2024, saat peringatan 400 tahunnya Ieyasu Tokugawa.

The Red Shinkyo Bridge
The Red Shinkyo Bridge

Dalam perjalanan kembali ke Tokyo, walaupun saya melewatkan kuil-kuil lainnya, dari jendela bus saya sempat mengabadikan jembatan merah Shinkyo yang terkenal. Jembatan yang merupakan pintu masuk ke Kuil Rinnoji, sering disebut dengan nama Snake Bridge.  Konon, biksu Shodo Shonin yang sedang kesulitan menyeberang sungai Daiya saat menyebarkan kebaikan, mendapat pertolongan dewa yang menjelma menjadi sepasang ular yang membentangkan diri di atas sungai menyerupai jembatan. Tak salah memang, orang baik senantiasa mudah mendapatkan pertolongan.

Nepal: Suatu Malam di Swayambhunath


Alkisah Manjusri, seorang Boddhisattva yang terkenal akan Kebajikan dan Pengetahuannya, sedang dalam perjalanan menuju sebuah danau, -yang kini tempat itu terkenal dengan nama Swayambhu-, untuk melihat bunga teratai yang tumbuh indah ditengah-tengahnya. Ia melihat potensi pengembangan di sekeliling wilayah berbukit itu sehingga ia mengupayakan akses yang lebih mudah untuk masyarakat agar bisa mencapainya. Manjusri, dengan kesaktian spiritualnya kemudian memotong sebuah ngarai di Chovar. Air danau mengalir keluar lalu mengering serta meninggalkan lembah yang dikenal sebagai Lembah Kathmandu sekarang ini. Bunga teratai yang terlihat sebelumnya itu konon berubah bentuk menjadi sebuah bukit dan bunga itu menjadi Stupa di Swayambhunath. Sementara itu, Manjusri tetap menjalankan hidup kesehariannya di wilayah Swayambhu.  Karena terkanal akan welas asihnya, Manjusri membiarkan kutu-kutu tumbuh di rambutnya yang panjang. Konon, dengan berjalannya waktu, kutu-kutu itu bertransformasi menjadi kera-kera sakti yang tetap mendiami Swayambunath bagian barat laut hingga kini.

Itulah sekelumit kisah legenda tentang asal-usul Swayambhunath yang terkenal juga dengan nama Monkey Temple, yang kini menjadi salah satu kompleks peribadatan tertua di pinggir Barat Kathmandu.  Karena lokasinya di puncak bukit, banyak yang menyarankan saya untuk mengunjungi Swayambhunath pada malam hari untuk melihat keindahan lampu-lampu seantero lembah Kathmandu.

Setelah membeli tiket masuk seharga 200NRs di pintu Selatan, saya mengikuti Bivek, sang guide dadakan, yang berjalan menuju Kolam Perdamaian Dunia (World Peace Pond) yang di tengahnya terdapat patung Buddha berdiri diatas bunga teratai. Walaupun tidak seheboh Fontana di Trevi di Roma, turis disini juga melempar koin ke sebuah guci di dekat kaki Sang Buddha dengan tujuan agar permohonannya terkabul.

World Peace Pond
World Peace Pond – throw the coins here…

Hanya karena ingin berpartisipasi menambah jumlah koin di kolam, saya mengambil koin seadanya dari dalam dompet. Kemudian sambil melihat ke arah wajah patung Sang Buddha di temaramnya lampu, sesaat teringat akan orang-orang yang mengikuti jalannya, juga para biksu yang melakukan pindapatta, lalu orang-orang yang terlekat pada nafsu keinginannya, lalu ke orang-orang yang menderita, ke berbagai tempat terjadi perang, tempat-tempat menyedihkan. Ah, semoga semua makhluk berbahagia lalu saya lempar koin itu. Koin mendarat tepat pada bibir lubang guci lalu jatuh perlahan karena gaya gravitasinya ke bagian dalam guci bergabung bersama koin-koin lain, gerakannya a la slow motion.  Masuk! Rasa dingin langsung menjalar di sekujur tubuh. Tak percaya akan lemparan pertama yang berhasil masuk, saya melihat tangan sendiri. Saya bukan pelempar yang baik, bahkan bisa dikategorikan sebaliknya. Kok bisa?

Melihat koin saya masuk, Bivek yang sudah dua tiga kali mencoba dan tidak masuk, langsung berteriak, “Hei… Good to you… your wish will come true.” Saya tersenyum datar. Bagi seorang pelempar yang sangat buruk, masuk ke dalam guci di lemparan pertama adalah sebuah keajaiban. Apalagi, setelah itu Bivek mengatakan harapan baikmu yang menjadikannya masuk. Saya mengangkat bahu mengamini.

Tangga Selatan menuju puncak itu tak sebanyak 365 anak tangga di pintu timur, tetapi tetap saja membuat saya terengah kehabisan nafas. Benar-benar saya membenci tangga, teringat sempat hampir pingsan di tangga Bromo dulu, dan juga mata berkunang-kunang jelang gelap di tangga sempit menara Mesjid Banten. Tetapi saya tahu upaya melelahkan itu akan terbayar lunas dengan pemandangan indah di puncak bukit.

Night view over Kathmandu Valley
Night view over Kathmandu Valley

Dan tentu saja saya langsung tertarik pada magnet kuat Mata Kebajikan Sang Buddha, yang tergambar di tiap sisi dinding Stupa Utama. Sepasang mata yang tercerahkan dari kemelekatan dunia, sepasang mata yang akhirnya menjadi icon di seluruh Nepal.

Di tiap sisi dinding itu, tak hanya ada sepasang Mata. Sedikit di atas di antaranya, terdapat mata ketiga yang dipercaya ketika Sang Buddha sedang mengajar, -sinar kosmik yang berasal dari Mata Ketiga dan bertindak sebagai pembawa pesan kepada makhluk surgawi-, menyebabkan makhluk surgawi apabila tertarik dapat turun ke bumi untuk mendengarkan pengajaran Sang Buddha. Para makhluk yang sedang tersiksa di neraka dan para makhluk yang mendiami Dunia Bawah, tidak dapat datang ke bumi untuk mendengarkan ajaran Sang Buddha. Walaupun demikian sinar kosmik yang terpancar itu dapat mengurangi penderitaan mereka selama Sang Buddha mengajar. Selaini tu, di antara Mata Sang Buddha sedikit di bawahnya, terdapat hidung yang tergambar seperti tanda tanya dengan ulir yang lebih banyak. Bentuk ini merupakah karakter Nepali untuk menuliskan angka 1, sebagai simbol menyatukan semuanya untuk meraih pencerahan, melalui ajaran Buddha. Di atas kubah besar, di puncak terdapat tiga belas tingkatan yang menunjukkan bahwa setiap makhluk hidup harus menempuh tiga belas tahap perjalanan spiritual untuk mencapai tingkat kebuddhaan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Beberapa biksu berjubah merah maroon berjalan perlahan mengitari Stupa Besar menyempurnakan suasana damai di antara lantunan suara puji-pujian dari sebuah beranda, tetapi bukan Om Mani Padme Hum yang sering terdengar di kios-kios di Thamel. Walau tak sempat melihat, saya hanya bisa membayangkan sebelum fajar menyingsing ratusan umat menaiki  365 anak tangga dari sisi timur menuju puncak melalui lokasi yang disebut Vajra dan dua patung singa penjaga gerbang untuk mengitari Stupa searah jarum jam sambil melantunkan mantra-mantra.

Malam beranjak pelan di Swayambhunath, yang konon dibangun sejak abad 5 oleh Raja Vrsadeva dan diselesaikan oleh Raja Manadeva sekitar tahun 640, walaupun ada yang percaya bahwa Raja Ashoka pernah mengunjungi situs ini pada abad ke 3 dan memerintahkan untuk pembangunan kuil.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Yang menarik dari Swayambhunath ini bagi saya adalah toleransi antar agama. Seperti umumnya di bagian lainnya di Nepal, walaupun Swayambhunath merupakan tempat ibadah agama Buddha, tempat ini juga digunakan oleh penganut Hindu karena memang ada tempat pemujaan khusus bagi penganut Hindu. Bahkan Raja Pratap Malla yang beragama Hindu memberikan penghormatan di kuil ini dengan membangun tangga timur pada abad 17. Bahkan Bivek, guide dadakan saya itu juga memberi penghormatan di tempat-tempat Buddha.

Berada di ketinggian puncak bukit memang memungkinkan menikmati kelip-kelip lampu seantero lembah Kathmandu. Karena bepergian sendiri dan berada di tempat indah dalam suasana yang damai, pikiran ini terbang ke orang-orang terdekat yang sudah mendoakan keselamatan perjalanan saya. Sejumput doa terucapkan dalam hati untuk mereka semua. Salam penuh cinta dari Swayambhunath…

Prayer Flags, The Eye, The Stupa of Swayambhunath
Prayer Flags, The Eye, The Stupa of Swayambhunath

Ketentraman itu buyar seketika ketika terdengar gebrakan kayu berkali-kali. Saya mencari sumber suara dan mendadak saya diam tak bergeming sedikitpun melihat yang tampak di depan mata. Pertama hanya sedikit lalu semakin banyak dan semakin banyak… Berawal dari satu, dua, tiga lalu puluhan… ratusan… kera-kera dalam rombongan besarnya menuju tempat istirahatnya. Asli, baru sekali itu saya melihat kera dalam rombongan yang sangat besar. Sejak kecil saya tidak pernah menyukai kera, bagi saya kera itu bisa saja mendadak menjadi liar dan ganas. Dan rombongan kera itu, walaupun tertib lewat di hadapan, bisa saja menjadi chaos dan menyerang… dan gambaran itu sangat-sangat menakutkan!

Do you see two monkeys?
Do you see two monkeys?

Tetapi bukankah Nama lain Swayambhunath adalah Kuil Kera? Jadi saya harusnya heran kalau di sana saya menemui banyak kelinci kan…

Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-Abad


Jika ada produk dari kayu yang bertahan selama hampir satu millenium, masih dalam kondisi baik, bahkan masih bisa berfungsi hingga sekarang, tentu saja satu diantaranya adalah Tripitaka Koreana, yaitu puluhan ribu bilah kayu pencetak Tripitaka, -kumpulan ajaran agama Buddha-, yang dituliskan dalam karakter China yang paling lengkap, paling tua dan tanpa kesalahan yang dimiliki dunia saat ini. Sebuah mahakarya, yang kini bukan saja milik Korea Selatan semata, tetapi juga telah menjadi milik dunia. Oleh karena itu UNESCO memasukkan bilah-bilah kayu pencetak Tripitaka Koreana dan Barbagai Literatur Keagamaan Buddha ke dalam Memory Of The World, sejak 3 Agustus 2007.

Bahkan jauh sebelumnya di tahun 1995 UNESCO telah mendaftarkan bangunan kayu sederhana yang oleh orang lokal disebut sebagai sebagai Janggyeong Panjeon, artinya bangunan penyimpan Tripitaka Koreana sebagai World Heritage Site. Bangunan kayu dengan strukturnya yang sangat unik ini menempati permukaan tanah yang paling tinggi dari kompleks Kuil Haeinsa yang berada di Gayasan National Park, Korea Selatan. Penempatan bangunan yang tidak biasa di kuil-kuil Buddha, karena lebih tinggi daripada bangunan utama kuil, sepertinya menandakan betapa pentingnya makna yang terkandung di dalamnya.

Dan memang seperti itulah rasanya ketika saya berdiri di depan tangga menuju Janggyeong Panjeon. Walaupun damai dan ketenangan terasa meresap di kuil Haeinsa, tetap saja jantung ini sedikit berdetak lebih banyak ketika kaki menapaki tangga curam menuju Janggyong Panjeon, pelataran tertinggi dari kuil Haeinsa, tempat penyimpanan Tripitaka Koreana. Berdetak lebih banyak karena akan menyaksikan sebuah keluarbiasaan yang telah diakui dunia.

Under The Gate of Janggyeong Panjeon
Under The Gate of Janggyeong Panjeon

Saya melangkah pelan menaiki tangga mengikuti langkah orang-orang yang berada di depan saya. Di puncak tangga, di bawah gerbang Janggyeong Panjeon, saya berdiri diam menutup mata sejenak. Menyadari bahwa pengamanan di level ini sangat tinggi, tidak boleh ada kamera dan semua yang berhubungan dengan api, saya menyiapkan diri menyerap semua pemandangan sekuat-kuatnya dengan mata saya. Selangkah di depan ini saya bersama dunia menjadi saksi akan mahakarya kayu yang disimpan hampir satu millenium di bangunan kayu sangat sederhana.

Namun mata ini seakan tak percaya akan pemandangan yang ada di hadapan. Seluruh bangunan di Janggyeong Panjeon ini bisa dikatakan sangat sederhana dengan unsur terbanyak dari kayu tanpa hiasan. Semua jendela dan pintu berkisi-kisi, juga dari kayu. Tetapi rupanya inilah kelebihannya yang secara akurat memperhitungkan semua segi untuk mempertahankan asset berharga bilah-bilah cetakan kayu yang disimpannya. Lokasi kuil, tata letak, struktur bangunan, jendela dan pintu, semuanya telah dihitung sejak dari awal pembangunannya untuk mengatur ventilasi, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya sehingga dapat menjaga keutuhan Tripitaka Koreana selama berabad-abad.

Karena tidak diperkenankan untuk mengambil foto dan berhenti saat melewati sisi berpintu yang memperlihatkan rak-rak penyimpan bilah-bilah kayu cetakan, saya hanya menyerap keluarbiasaan ini dengan segala kemampuan mata yang dimiliki.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pelataran Janggyeong Panjeon terdiri dari empat bangunan yang menyerupai persegi panjang. Bangunan di utara, Beopbojeon (Ruang Dharma) dan Bangunan di selatan, Sudarajang (Ruang Sutra) sejajar membentuk sisi yang lebih panjang karena berfungsi sebagai tempat penyimpanan ke delapan puluh ribu cetakan kayu tersebut. Sedangkan dua ruang kecil di sebelah barat dan timur merupakan tempat penyimpanan ajaran-ajaran Buddha yang datang belakangan.

Petugas-petugas jaga ternyata berbaik hati kepada pengunjung yang ada sehingga bisa ‘mencuri-curi’ foto saat berada pada halaman tengah Janggyeong Panjeon. Tak mau melepaskan kesempatan itu, saya mengambil kamera saku dan mengambil beberapa foto dari sudut yang berbeda. Tetapi tetap tidak bisa mengambil deretan tempat simpanan bilah-bilah kayu cetakan tanpa diiringi teriakan teguran dari petugas jaga.

Can you see the printing woodblocks inside?
Can you see the printing woodblocks inside?

Dimana-mana terdapat alat pemadam api yang jaraknya relatif dekat dari tiap-tiap petugas jaga.  Ya, memang api merupakan musuh terbesar asset dunia ini. Dan walaupun dalam sejarahnya kompleks Kuil Haeinsa pernah terbakar berkali-kali karena perang dan serangan musuh, namun api tidak pernah merambat naik ke Janggyeong Panjeon.  Sepertinya para dewa pun menjaganya dengan berbagai cara.

Walaupun seluruh pengunjung tidak dapat berinteraksi langsung dengan bilah-bilah kayu Tripitaka Koreana yang disimpan berabad-abad yang hasil cetakannya tersebar ke seluruh penjuru negeri itu, rasa ingin tahu pengunjung bisa terpuaskan di jalan keluar dari Janggyeong Panjeon. Di situ terpajang contoh bilah kayu cetakan Tripitaka Koreana beserta segala informasinya.

A sample of the Printing Woodblocks - Can you see the image?
A sample of the Printing Woodblocks – Can you see the image?

Sungguh saya terkagum-kagum dengan pengetahuan orang Korea yang telah membuatnya. Sejarah mengisahkan bahwa Tripitaka Koreana yang asli buatan tahun 1087 musnah terbakar saat penyerangan kekaisaran Mongol tahun 1232, lalu Kaisar Gojong memerintahkan untuk pembuatannya kembali.

Konon, kayu yang digunakan untuk Tripitaka Koreana datang dari Daesa-ri, wilayah Namhae-gun di selatan semenanjung Korea karena pasang surut air lautnya sangat tinggi, sehingga mudah untuk mengirim dan merendam kayu. Kayu-kayu yang telah lama terendam melewati panas dan dinginnya air laut, menjadi lebih mudah diukir dan lebih awet terhadap serangan serangga.

Sambil menunggu alam merendam kayu, ada banyak pekerjaan pendahuluan yang harus dikerjakan oleh para pendeta. Mereka harus menuliskan 23 baris tulisan dengan 14 karakter per barisnya pada sehelai kertas dengan sangat cermat dan akurat. Tidak itu saja, para pendeta yang terlibat dalam penulisan ini harus rajin berlatih berhari-hari agar konsistensi gaya penulisan dari waktu ke waktu tetap terjaga.

Dan setelah sehelai kertas siap serta kayu telah tersedia, dimulailah pengerjaan pengukiran. Tentu saja, agar karakter dicetak dalam arah yang benar, sisi kertas yang sama harus ditempelkan ke bilah kayu kemudian dilapiskan minyak tumbuhan tertentu ke kertas sehingga hurufnya langsung terlihat jelas. Setelah itu kayu baru dapat diukir pada kedua belah sisi bilah kayu.

Lalu bagaimanakah caranya sehingga Tripitaka Koreana tersusun tanpa bisa ditelusuri jejak kesalahan yang terjadi? Rupanya setelah pengukiran selesai, langsung dilakukan proses validasi hasilnya dengan tulisan pada kertas original. Karakter yang salah dipotong dan dibetulkan, sementara karakter yang sudah benar, ternyata diukir ulang pada sepotong kayu terpisah dan ditempelkan kembali. Proses ini sangat rapi dan cermat, sehingga tidak pernah dapat ditelusuri proses koreksi yang sebenarnya yang pernah terjadi. Bagaimana mungkin membandingkan jika keduanya sama-sama dipotong dan ditempel ulang?

Untuk menghasilkan cetakan diperlukan lembar-lembar kertas dengan kualitas baik. Kemudian ujung bilah cetakan kayu dilumuri dengan tinta lalu selembar kertas ditempelkan langsung ke cetakan tersebut. Selanjutnya kertas tadi diangkat secara hati-hati dengan alat terbuat dari rambut yang dicelupkan pada lilin. Luar biasa sekali prosesnya. Dan konon karena dicetak pada kertas berkualitas sangat baik yang diproduksi selama periode Dinasti Goryeo itulah, menjadikan Tripitaka Koreana terkenal hingga ke seluruh negeri, hingga ke negeri-negeri jauh… hingga sekarang.

Dan waktu berjalan terus…

Sambil melangkah ke jalan keluar, saya masih membawa serta kekaguman terhadap bilah-bilah cetakan kayu yang bertahan melawan jaman. Saya berbalik badan menatap kembali ke empat bangunan luar biasa yang telah berabad-abad menyimpan harta milik dunia itu. Hati saya kembali terharu, bila semua negara berupaya keras menjaga harta dunia yang telah dibuat oleh para pendahulu kita, alangkah semakin kayanya dunia ini.

The Wooden "Scientific" Building
The Wooden “Scientific” Building

Bercermin Diri dalam Harmoni Kuil Haeinsa


AWAL PERJALANAN RASA. Saya berdiri diam di depan batu besar bersimbol UNESCO yang dihiasi aksara Hangul. Tidak perlu bisa membaca Hangul untuk bisa memahami saya sudah sampai pada tujuan, Haeinsa Temple. Ada rasa haru membuncah berhasil melakukan pencapaian setelah melewati berbagai hambatan emosi sepanjang perjalanan hingga sampai ke tempat saya berpijak ini. Melewati batu besar ini berarti saya memasuki sebuah perjalanan dalam rasa.

Logo UNESCO di antara karakter Hangul
Logo UNESCO di antara karakter Hangul

HANYA BAGI YANG MEMERLUKAN. Haeinsa Temple sesungguhnya bersembunyi dalam diam dan heningnya wilayah Taman Nasional Gayasan, di propinsi Gyeongsangnam-do, seakan tak peduli akan kunjungan para peziarah atau wisatawan. Juga seakan tak peduli dengan gelar yang disandangnya sebagai UNESCO World Heritage Site karena telah ratusan tahun menyimpan Tripitaka Koreana, bilah-bilah cetakan kayu berisikan ajaran Buddha. mungkin baginya, manusia yang datang berkunjunglah yang memerlukannya. Memerlukan keheningan dan kedamaian untuk bercermin diri dalam meniti hidup.

MELURUHKAN KEBURUKAN. Dan entah mengapa, segala sesuatu yang menyesakkan, segala kekuatiran, derita dan ketakutan seakan runtuh luluh, terlepas dan tak berani membonceng begitu kaki melangkah memasuki gerbang Haeinsa yang memang menjadi tujuan utama perjalanan saya ke Korea Selatan.

BATAS. Ucapan Selamat Datang tampaknya tersampaikan dalam keheningan Iljumun, Gerbang Satu Pilar yang merupakan gerbang pertama dalam wilayah kompleks Haeinsa Temple. Namun sepertinya lebih banyak orang yang memperhatikan sebuah karya seni berbentuk orang yang sedikit membungkuk daripada menyadari makna gerbang Iljumun. Dan Iljumun pun seperti tak peduli dengan apapun yang dilakukan mereka. Dalam diamnya, ia hanya membukakan rasa akan sebuah batas bagi mereka yang sadar dan seakan mempersilakan untuk melangkah di jalan setapak menuju gerbang kedua, Bonghwangmun atau yang lebih dikenal dengan Gerbang Empat Dewa Penjaga. Dan untuk melengkapi rasa yang hadir, di kiri kanan jalan setapak yang mendaki landai ini dipenuhi berbagai bendera putih bertuliskan untai kata filosofis yang sangat dalam, sebuah awalan untuk membersihkan taman pikiran.

Tanda Baru  dalam diam dan Sebuah Karya Seni
Tanda Baru dalam diam dan Sebuah Karya Seni
Iljumun, Gerbang Satu Pilar
Iljumun, Gerbang Satu Pilar

TUMBUH BERSAMA WAKTU. Langkah demi langkah diambil menuju Gerbang kedua, semua pengunjung termasuk saya seakan dibawa ke awal waktu pembangunan kuil Haeinsa oleh dua pendeta, Suneung dan Ijeong sekitar abad-8 sepulangnya dari Tiongkok. Pihak kerajaan mendukung pembangunan kuil setelah kedua pendeta tak henti berdoa untuk kesembuhan Sang Ratu dari penyakitnya yang tak terobati. Pengunjung pun diajak melihat sisa pohon di pinggir jalan setapak yang dipercaya menjadi saksi terakhir awal pembangunan kuil Haeinsa walau akhirnya tumbang pada tahun 1945 setelah tumbuh bersama waktu selama hampir 1200 tahun.

Saksi Terakhir Pembangunan Kuil Haeinsa yang tumbang tahun 1945
Saksi Terakhir Pembangunan Kuil Haeinsa yang tumbang tahun 1945

KESUNGGUHAN. Dan akhirnya ketika langkah kaki menjejak di Bonghwangmun, atau dikenal dengan gerbang Empat Dewa Penjaga, -berisikan lukisan Empat Dewa sebagai Penjaga arah mata angin-, para pengunjung seakan ditanya kembali akan niatnya berkunjung dan bersedia meluruhkan semua yang berbau keburukan. Dan bukankah di setiap gerbang milestone kehidupan kita seakan ditanya kembali niat kita?

TAMBAHAN BEKAL KEKUATAN. Selepas Bonghwangmun, siapapun yang berkehendak dapat memohon doa di Guksudan atau Hall of Mountain Spirit. Bangunan kecil ini berisikan patung Guksa-daesin, dewa pelindung ranah Haeinsa, yang dipercaya dapat memberikan pencerahan kepada manusia dan mencegahnya dari ketidakberuntungan serta memberikan berkat kepada semua orang agar mengikuti kebenaran hakiki. Dalam perjalanan rasa ini, sebuah analogi tergambarkan saat berada di antara dua gerbang milestone hidup yang masih memerlukan bekal kekuatan.

MENUJU GERBANG AKHIR. Perjalanan melalui pintu-pintu gerbang hampir berakhir. Di ujung jalan setapak terdapat tangga curam menuju Haetalmun atau dikenal sebagai Gerbang Surga, yang dipercaya sebagai simbol memasuki dunia kebenaran dan meninggalkan dunia yang penuh penderitaan, selaras dengan konsep Buddha.

MEMAKNAI PERJALANAN. Sesaat menengok ke belakang dari posisi saya berdiri, dari gerbang pertama Iljumun, lalu Bonghwangmun hingga gerbang ketiga Haetalmun, saya telah menapaki 33 anak tangga, yang konon simbol surga Trayastrimsa, tempat berdiamnya 33 dewa di puncak Gunung Sumeru. Sebuah nama yang membuat pikiran lain terbersit, walaupun saya memahami maksudnya adalah gunung imajiner Mt. Meru atau Mahameru dalam pemahaman Buddha, namun pikiran ini terbang ke puncak Mahameru yang indah di Jawa Timur, Indonesia, yang tentu saja merupakan sebuah perjalanan panjang, mendaki penuh lelah dari tempat-tempat yang rendah mencapai tempat-tempat tinggi. Bukankah hidup dipenuhi rasa syukur atas sebuah perjalanan dari sebuah titik kecil ke titik kecil lain yang begitu berdekatan?

MENJAGA KESEIMBANGAN. Gerbang Haetalmun di puncak tangga yang tinggi, curam dan fragile seakan mengingatkan saya agar senantiasa menjaga keseimbangan rasa namun tetap waspada dalam setiap langkah hidup, seperti juga di kawasan kuil Haeinsa. Laksana sebuah pengingat akan peristiwa bencana kebakaran hebat yang berkali-kali terjadi di kuil Haeinsa semasa Dinasti Joseon berkuasa, walaupun upaya menjaga, mengamankan dan memelihara sepenuhnya setia dilaksanakan.

Halaman Utama Haeinsa
Halaman Utama Haeinsa

PEMENUHAN JANJI. Rasanya saya benar-benar luruh melebur menjadi satu dengan Haeinsa dengan setiap langkah penuh keajaiban makna. Haeinsa, inikah yang engkau janjikan untuk setiap jiwa yang datang dengan rasa?

HARMONI. Langkah terasa ringan menapaki pelataran kuil. Sepertinya memang sesuai dengan makna Haeinsa yang dikenal sebagai Kuil Pencerminan di Laut tenang. Untuk mudahnya bagi non-Buddhist seperti saya, dalam kehidupan duniawi dengan semua penderitaan, penyakit dan delusi, bisa dianalogikan sebagai laut yang bergolak dan segala sesuatu yang harmoni diibaratkan sebagai laut yang tenang. Sebuah makna yang dapat dilihat dalam rasa.

HIDUP YANG BERJENJANG. Bahkan kompleks Kuil Haeinsa ini pun dibangun di atas permukaan tanah yang berjenjang dengan dua pelataran tempat aktivitas peribadatan dan kegiatan sehari-hari dari para penghuninya. Seperti juga kehidupan, memiliki jenjang-jenjang tersendiri. Bahkan dalam sebuah jenjang pun memiliki keindahan, seperti juga pemandangan hutan di pegunungan dengan keindahan musim gugur menyembul di antara bangunan kuil di pelataran pertama. Dan melalui tangga, saya menuju pelataran kuil yang lebih tinggi. Dan pelataran akhir ini penuh dengan pengunjung yang kebanyakan datang dari berbagai penjuru Korea, yang membuat saya tersenyum dalam rasa dengan penggambaran ini. Sangat manusiawi. Bukankah pada akhir perjalanan hidup kita semua akan berkerumun?

Pagoda Birotap
Pagoda Birotap

3 SAKSI DIAM YANG SETIA. Perlahan saya berjalan ke tengah pelataran tempat tegaknya tiang bendera yang konon menjadi saksi setia kuil dari abad ke abad. Didekatnya terdapat pagoda batu tiga tingkat yang dikenal sebagai Birotap (Pagoda Vairocana) yang dahulu tempat menyimpan patung Buddha. Tak jauh dari Pagoda Birotap berdiri Lampu Batu, simbol lampu kedamaian Buddha yang dibangun untuk memberikan penerangan ke pelataran. Dalam hidup yang sudah terjalani ini, bukankah kita semua memiliki saksi-saksi diam yang setia menemani?

SEDERHANA. Saya melewati bangunan termpat peribadatan Gwaneumjeon dan Gunghyeondang yang sederhana dan tidak bercat. Ciri khas yang kuat dari Haeinsa, sebuah kesederhanaan, tetapi tampil kontras dengan keindahan hutan yang menghias pegunungan di latar belakang. Kuat dan berprinsip.

Pemandangan Musim Gugur di antara Bangunan
Pemandangan Musim Gugur di antara Bangunan

PUNCAK, YANG UTAMA. Mata saya memandang tiga rangkaian anak tangga di kiri, tengah dan kanan untuk naik ke permukaan tanah yang lebih tinggi. Rasa membawa saya menapaki tangga di kanan, -karena memang sebenarnya tangga di tengah hanyalah untuk para pendeta dalam upacara khusus-, menuju bangunan utama kuil yang disebut Daejeokgwangjeon (Tempat Kedamaian dan Kebijaksanaan Yang Agung) yang didedikasikan untuk Buddha Vairocana, dan diapit oleh Shrine Daebirojeon di kiri dan Myeongbujeon di kanannya. Seakan terdengar bisik dari dalam kalbu akan simbol dari tiap kehidupan yang memiliki tempat tujuan akhir?

IBADAH DENGAN CINTA. Tetapi di sudut Daejeokgwangjeon tampak orang berkerumun menanti giliran beribadah ke dalam. Ah, tak patut rasanya mendahulukan keinginan saya daripada orang-orang yang berniat ibadah. Saya berpindah untuk menikmati lukisan sepanjang dinding dan bagian atap Daejeokgwangjeon, yang semuanya dikerjakan dengan kesabaran, ketelitian dan kecintaan melalui kondisi meditatif yang panjang.

Detail Sudut Atap Daejeokgwangjeon
Detail Sudut Atap Daejeokgwangjeon

MOMENT KEINDAHAN. Mengambil jeda untuk melepas lelah, saya duduk di belakang bangunan utama menikmati pemandangan alam di latar belakang. Karena tersembunyi di kawasan Gayasan National Park, kuil Haeinsa memiliki nilai tambah. Selain udaranya yang sejuk, kuil ini dikelilingi oleh indahnya warna-warni pepohonan khas musim gugur. Dan sebagai orang tropis yang jarang melihat perbedaan warna pohon, sungguh saya menikmati keindahan warna merah, kuning, hijau dalam nuansanya sendiri-sendiri yang menjadi kontras dengan warna homogen coklat kehitaman dari kuil. Seperti juga dalam fase hidup, saat jeda istirahat kita juga dapat menikmati moment indahnya hidup. Dan saat itu pun, walau dipenuhi pengunjung, Haeinsa tetap diliputi ketenangan yang terasa sampai ke dalam relung rasa.

Pepohonan dengan warna musim gugur di latar belakang
Pepohonan dengan warna musim gugur di latar belakang

MENAPAKI PUNCAK. Di puncak ketinggian kompleks Haeinsa, dari sisi Myeongbujeon, Sang Waktu telah menuntun saya melihat tempat penyimpanan Tripitaka Koreana di level teratas, yang paling terjaga. Lalu, setelahnya saya berjalan turun kembali ke arah Bangunan Utama Daejeokgwangjeon dari sisi kiri Daebirojeon, yang berisi dua patung kayu Buddha yang konon dipercaya dari abad-9 dan merupakan yang tertua di Korea. Semua dari kita memiliki langkah-langkah di puncak ketinggian yang tak terlupakan dan penuh kesan.

Sebuah Pameran Karya Seni Bernilai Filosofis
Sebuah Pameran Karya Seni Bernilai Filosofis
Lampion Jalur Meditasi
Lampion Jalur Meditasi

MELEPAS DERITA. Puncak ketinggian telah terlampaui dan saya turun kembali ke pelataran tempat Pagoda Birotap berada. Sebuah pameran seni filosofis sedang berlangsung di pelataran Haeinsa ini. Sekitar seribu kain persegi merah diikat menyerupai kantong berisikan batu tersusun rapi di atas tanah yang membentuk persegi panjang. Batu-batu yang diletakkan pengunjung kuil merupakan simbol dari beban penderitaan yang pernah dirasa sepanjang hidupnya. Sebuah interaksi pengunjung untuk melepaskan penderitaan di Haeinsa, dan menjelma menjadi orang baru setelahnya. Ibarat ringan setelah melepas beban, hidup terbuka menjadi tempat bersyukur dan berdoa. Dan kesempatan itu tersedia di pelataran berikutnya, pengunjung diarahkan melakukan meditasi berjalan melalui jalur yang dibatasi oleh lampion-lampion yang tergantung berwarna merah, hijau, ungu dan kuning. Siapapun, tanpa harus menjadi Buddhist, dapat menggantungkan harapan dan doa pada lampion-lampion itu.

MEMBAWA BAHAGIA. Hari semakin sore, pengunjung semakin berkurang. Akhir perjalanan sudah tercium auranya. Suasana sepi mulai terasa di pelataran depan bangunan tempat genta besar dan drum tabuh tergantung. Sambil menyisiri bagian luar dari lampion-lampion jalur doa, saya berjalan pelan menuju pintu keluar. Dan saat kaki melangkah meninggalkan gerbang surga terdengar pukulan tabuhan oleh pendeta, tanda kuil ditutup dari kunjungan orang luar. Dan bersamaan dengan itu, dari dalam jiwa sebuah ucapan terungkap keluar, Terima kasih atas suasana damai dan harmonimu, Haeinsa! Ah, Semoga semua makhluk berbahagia…

Bagan: Ketika Sang Waktu Bermimpi di Bumi Sejuta Pagoda


Mungkin di suatu masa tersembunyi,

Para bidadari menari dan menyanyi,

Membiarkan Sang Waktu terus bermimpi,

kala para Dewa Dewi tak henti memberi,

demi Bagan, berhiaskan permata diri

Hamparan Pagoda di Bagan
Hamparan Pagoda di Bagan

Bagan adalah destinasi selanjutnya di Myanmar/Burma yang saya kunjungi setelah Bago. Dengan menggunakan pesawat baling-baling  dan mendarat di lapangan terbang kota Nyaung Oo, mata ini mencari nama saya diantara penjemput, ternyata ada di paling belakang dan terluar (mungkin karena saya dijemput dokar, bukan mobil! dan seperti dimana-mana, dokar dianggap prioritas terendah!).  Dengan suka cita, saya mengikuti pemuda tanggung yang menjadi kusirnya. Yihaaaaa…. (dan dokar  belum meninggalkan bandara ketika saya dengar raungan di atas, ternyata pesawat ATR72 yang saya tumpangi tadi, sudah terbang lagi… persis seperti angkot, drop, take and leave!)

Memilih dokar sebagai transportasi di Bagan memang tidak salah. Disini waktu seakan tertidur. Saya bisa menikmati paparan angin pagi di wajah sambil melihat jalan bandara yang sepi.  Dengan bahasa Inggeris yang bisa dipahami, kusir dokar merekomendasikan untuk langsung ke area peninggalan sejarah daripada harus memutar ke kota lagi untuk check-in hotel. Saya setuju. Dan diantarlah saya ke bumi sejuta pagoda yang terhampar di Bagan ini, bermula dari jalan utama bagian utara kemudian mengelilingi area peninggalan hingga matahari hilang dari ufuk dan kembali ke hotel.

Shwezigon Paya

Shwezigon
Shwezigon

Pagoda Shwezigon dengan stupa keemasan di bagian tengah ini merupakan bangunan pertama yang dibangun di Burma pada tahun 1087. Pagoda cantik ini pada awalnya dibangun oleh Raja Anawrahta dan diselesaikan oleh Raja Kyanzitta. Ternyata pagoda ini merupakan prototype pembangunan Pagoda Shwedagon yang tersohor itu.

Selain terdapat bangunan pagoda dengan atap tradisional Burma yang khas, dalam kompleks Shwezigon juga terdapat candi batu bata yang masih tegak berdiri dan bangunan-bangunan lain berwarna putih, sehingga menimbulkan warna warni yang sangat kontras dengan langit biru.

Di bagian tenggara, terdapat patung 37 Nat (Spirit) yang dipercaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Burma. Dan sebagai salah satu pagoda yang tertua di Bagan, Shwezigon merupakan tempat diakuinya ke 37 Nat oleh Kerajaan Burma.

Lokasi Pagoda ini berada di sebelah kanan dari jalan Bagan – Nyaung Oo Utara, tepat setelah melewati stasiun bis. Jalan menuju Pagoda, di sepanjang lorong lebar pedagang kaki lima yang sangat ahli menjual tampak memenuhi pelataran. Dengan alasan gratis, Lanjutkan membaca “Bagan: Ketika Sang Waktu Bermimpi di Bumi Sejuta Pagoda”