Cherish Simple Little Things


Ketika membaca sebuah berita tentang adanya penemuan bayi malang yang telah disia-siakan oleh orangtuanya, sering saya terpikir bagaimana kelanjutan hidup si bayi itu. Bagaimana ia dibesarkan. Jika saja ia dibesarkan oleh orang yang menemukannya, -meski dengan penuh keterkejutan pastinya-, kemudian mencintainya dan membesarkan tanpa pamrih, alangkah indahnya kehidupan si bayi.

Mungkin awalnya seperti kisah burung yang membawa bayi dalam paruhnya lalu meletakkannya di depan pintu rumah pasangan yang belum memiliki keturunan. Terbayang bagaimana terkejutnya pasangan yang menemukannya…

Entah itu doa yang dikabulkan atau ada rencana lain dari Sang Pemilik Semesta… Namun, pastinya selalu baik. 

Hal yang serupa ternyata menyambangi saya juga. Tentu saja saya terkejut dengan apa yang terlihat di teras depan rumah. Tentu saja bukan bayi manusia, melainkan induk kucing dan seekor anaknya 😀 😀 😀

Ya Tuhan, saya ini sudah kapok mengadopsi makhluk bernyawa sebagai pet entah anjing, kelinci atau ikan. Saya sudah tidak mau merasakan kembali pedihnya hati merasa kehilangan. Duluuuu ketika anjing saya mati, saya menangis seminggu. Rasa kehilangan yang amat pedih juga saya rasakan ketika kelinci atau ikan peliharaan mati. Jadi, no more pet di rumah saya!

Tapi bukan berarti saya tidak bisa merasakan bahagianya melihat tingkah laku hewan domestik itu karena saya follow akun-akun di Instagram tentang kucing atau anjing yang memposting semua tingkahnya yang lucu-lucu. Tak perlu memeliharanya namun bisa merasakan bahagianya.

 

Dan ujug-ujug Tuhan mengirimkan induk dan anaknya ke teras rumah saya! 😀

6

Jadilah dua minggu terakhir ini saya mendadak punya kesibukan baru, browsing tentang kucing. Dalam seminggu saya beberapa kali membeli makanan kucing dalam kemasan, baik yang kering maupun basah. Lucunya semua penghuni rumah mendadak ikut sibuk dengan si kucing melihat aktivitas saya.

Pagi sebelum ke kantor saya pasti melihat kucing dan memberinya makan ditambah susu. Dan ada tambahan pekerjaan untuk suami yaitu buka kap mesin dan melihat kolong mobil karena si anak kucing lincahnya bukan main dan sering masuk ke mesin mobil. Lucunya, kita jadi bermain cilukba dengan si anak kucing. Kami pelan-pelan membuka kap mesin dan baaaa…. si anak kucing sedang duduk anteng di atas mesin, dia kaget sedikit melihat kami berdua hahaha… dan langsung lompat ke bawah, lari lagi ke induknya. By the way, tempat sembunyi si anak kucing itu ada di mesin motor yang memang saya parkirkan di atas teras rumah. Bagus banget kan dia memilih tempat sembunyi? 😀 😀 😀

5

Dan karena masih kecil, saya sibuk menyuapi si anak kucing. Lucu sekali, seperti punya anak bayi lagi hahaha… Anak saya yang phobia dengan kucing bahkan melihat juga (dari jauh tapi 😀 )

Setelah makan, biasanya saya menggoda si anak kucing untuk bermain dengan lidi yang diujungnya digantungkan kain perca. Dia mengejar, mencoba menangkap kain yang memantul-mantul. Kelihatan sekali gemasnya karena gagal menangkap. Dia melompat setinggi-tingginya, kadang duduk di atas kaki belakangnya sampai terjerembab ke belakang. Dan kalau sudah jengkel, dia lari ke induk atau ke motor. ‘Jual mahal‘ terhadap saya tetapi tetap saja dia mengintip-intip. 😀

Selagi saya bermain dengan anaknya, si induk kucing goleran di teras dengan mata kreyep-kreyep. Mungkin tahu anaknya aman bersama saya.

Senangnya saya tiba-tiba mendapat kelucuan di depan mata setiap hari. Ada saja kelakuan si anak kucing kecil yang menyenangkan terjadi setiap hari.

Tetapi mereka, -si induk dan anak kucing-, tetap bebas menempati teras rumah yang dari sana bisa berjalan kemana saja. Saya berkali-kali mengatakan kepada diri sendiri bahwa mereka datang karena rencanaNya dan suatu saat mereka juga akan pergi meninggalkan teras karena rencanaNya juga.

Kucing memang sering terlihat di Indonesia, berjalan di antara kaki kita, atau di rumah-rumah yang mengadopsinya, di pinggir jalan, di pasar. Kucing jalanan memang tak jarang mengais tempat sampah atau mendadak menyeberang jalan. Tak jarang manusia overlooked terhadap mereka, melihat tapi dianggap tak ada.

Ada, tapi tak ada. Just little things…

Dan jangan terkejut jika tiba-tiba Pemilik Semesta mengirimkan mereka…

1

Cherish simple things such as family, friends and love, because great things appear simple from far away. Place your simple things in the best light; there’s enough sunshine for all of them ― Val Uchendu


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-31 bertema Simple Things agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu.

Siapa Dia Yang Berjemur Di Depan Gua


Saya baru saja meninggalkan pintu gua Ashabul Kahfi yang terletak sekitar 10 km sebelah Timur kota Amman, -ibukota Jordan-, dan masih terpesona dengan kawasan bersejarah yang kisahnya terabadikan di kitab suci Al Qur’an dalam Surat Al Kahfi itu, surat yang biasa dibaca umat Muslim setiap hari Jumat itu. Rasanya belum mau melepas pandang dari pintu gua seukuran badan manusia yang baru saja saya tinggalkan itu. Entah kenapa saya jadi teringat saat berada di kawasan Lumbini enam tahun lalu.

Ada kesamaan di antara keduanya yakni berupa reruntuhan peradaban yang masih terpelihara hingga kini, melewati masa ratusan tahun hingga milenia. Seakan alam menjaganya, melindunginya dari prahara-prahara dunia yang tak pernah berhenti. Persis seperti permata berharga yang tak lekang oleh masa. Ada aura khas yang  menggetarkan rasa. Seperti menguarkan atmosfir adanya kehidupan yang menjadi sejarah di antara batu-batu kuno itu.

Ashabul Kahfi sendiri mengisahkan tentang tujuh pemuda yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tertidur lelap di dalam gua selama 309 tahun menurut kalender hijriah. Konon ketujuh pemuda yang taat mempertahankan keimanannya itu melarikan diri dari kekejaman Raja Dakyanus yang saat itu berkuasa dan telah menjatuhkan hukuman mati kepada siapapun yang menentang dirinya, termasuk ke tujuh pemuda itu karena senantiasa mempertahankan keimanannya. Dan ketika mereka terbangun 309 tahun setelahnya, mereka terkejut karena keadaan telah berubah sama sekali dan tidak ada lagi pasukan Raja Dakyanus yang mengejar mereka. 

Saat itu, rasanya saya masih terpukau dengan peninggalan-peninggalan sejarah pada dinding dekat pintu gua, yang dihiasi oleh simbol-simbol Romawi. Sungguh saya belum puas menikmati keluarbiasaan itu ketika terdengar arahan dari tour leader kami untuk segera berpindah menuju Masjid yang ada di dalam kawasan yang sama untuk melaksanakan kewajiban ibadah agar bisa melanjutkan perjalanan (Suatu saat nanti, InsyaAllah, saya akan menuliskan kisah perjalanan di Amman ini)

Saat itulah saya melihatnya. Hewan berbulu di depan gua. Cantik.

Meskipun matahari telah condong ke Barat, panasnya tak lagi gahar. Bisa jadi suhu udara kota Amman dua hari jelang Tahun Baru 2020 itu memang teramat sejuk. Hewan berbulu, -yang oleh sebagian teman-teman penggemar biasa disebut Anbul, alias Anak Bulu-, duduk di atas bebatuan, menghadap ke Barat.

DSC00392

Salahnya dia duduk menghadap ke Barat sehingga ia teramat silau terpapar sinar matahari jelang sore. Ia memicingkan matanya, tak bisa membuka mata lebar-lebar karena sinar matahari terlalu terang. Tapi entahlah, bisa jadi ia justru memilih posisi duduk menghadap Barat. Sepertinya terasa hangat. Sepertinya ia memang mencari matahari. Kasarnya, berjemur sore.

Saya bukanlah seorang penggemar kucing, bukan juga pembencinya. Tetapi ketika melihat seekor kucing yang “kesilauan” dan bersikap santai tak peduli dengan lingkungan lainnya, duduk di atas batu di kawasan wisata bersejarah, terus terang saja saya merasa terbawa oleh sikapnya yang menyenangkan. Entah kenapa, saya teringat turis-turis kulit putih yang sering berjemur di pantai mencari sinar matahari agar kulitnya lebih tanned.

Warna kulit si Kucing Cantik ini tak terlalu jauh dari warna-warna batuan yang menjadi latar belakangnya. Tetapi bagaimana pun sikapnya yang “kesilauan” itu menggugah rasa gembira saya. Lucu sekali, karena seumur-umur saya tak pernah melihat seekor kucing menantang matahari dan kesilauan sendiri. (Ah, kamu Cing, harusnya pakai kacamata cengdem!)

Saya tidak bisa berlama-lama menatap si Kucing Cantik ini karena tour leader lagi-lagi mengingatkan untuk melanjutkan perjalanan.

Meskipun masih gemas dengan sikap si Kucing Cantik ini, saya harus melepaskan pandangan darinya.

Sampai bertemu lagi, Cing…

Sambil melangkah saya terpikir, apakah si Kucing Cantik itu juga merasakan aura bersejarah dari Gua Ashabul Kahfi seperti yang saya rasakan tadi? Siapa sebenarnya si Kucing ini?

Ah, jangan-jangan si Kucing Cantik ini….

Segera saja saya membuang pikiran nyeleneh yang muncul dan bergegas menyusul rombongan.


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-12 ini bertema Kucing (Cat) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…