WPC – Ornate Temples


The Roof's Corner of Haeinsa Temple
The Roof’s Corner of Haeinsa Temple

When I was in South Korea, I was so attracted to their ornate colorful temples, especially on the roof.  The people behind these temples were so amazing, they did with the heart, focused on the small details one by one, day by day until it completed done. And after a while, the continuous process started again, this time was for the maintenance.

I saw the work result of the monks who is always embracing the present moments. They’re never in hurry, do everything quietly and in calm spirit. They do not lose their inner peace for working with the intricate designs.

“Enjoy the little things in life, because one day you will look back, and realize they were the big things”

In response to the Daily Post weekly photo challenge – Ornate

WPC – Push The Boundaries


Your current safe boundaries were once unknown frontiers – Anonymous

Boundaries
Boundaries

The theme for this week’s photo challenge is Boundaries. And for this challenge, I selected a photo of my trip to Haeinsa Temple, a World Heritage Site in South Korea.

I could not forget the trip. The time I pushed the boundaries. I was on my solo trip, trapped in the traffic jam for long hours in the afternoon, then had to get off from the bus in the middle of nowhere, continued with a trekking through a National Park with limited English signs, with limited English spoken people there, running out of time before dark and in autumn season which the temperature was far cooler than my tropical country’s.

I posted a complete story about this experience in Bahasa Indonesia here (Haeinsa Trip)

Ada Bahasa Indonesia di Seoraksan


Setelah membatalkan perjalanan ke Naejangsan National Park yang terkenal keindahan musim gugurnya, saya mengharuskan diri untuk berkunjung ke Taman Nasional Seoraksan, lagi-lagi dengan alasan sama: demi warna musim gugur!

Seoraksan atau Mt. Sorak, merupakan tempat wisata di Korea yang sangat populer di kalangan wisatawan terutama dari Indonesia. Tempat wisata yang berada di bagian Timur Laut semenanjung Korea ini, memang indah di semua musimnya dan telah terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Tentative List, termasuk Korea Selatan sendiri mencatatnya sebagai Taman Nasional ke 5 di tahun 1970. Dan tentu saja, saya mengenal nama ini juga dari teman-teman penggila Korea yang selalu merekomendasi untuk ke Seoraksan, apalagi musim gugur, yang katanya merupakan salah satu waktu terbaik untuk mengunjungi Seoraksan, selain musim dingin yang bersalju. Seakan-akan ke Korea Selatan belum lengkap kalau belum ke Seoraksan 🙂

Fall Season around Seoraksan
Fall Season around Seoraksan

Saya memilih melakukan daytrip ke Taman Nasional Seoraksan dari Seoul karena sempitnya waktu di Korea. Konsekuensinya harus berangkat pagi dari Seoul agar bisa kembali pada malam harinya. Perjalanan dengan bus memakan waktu sekitar 3 jam.

Hari itu, lagi-lagi karena terlambat bangun, saya terbirit-birit pergi ke arah subway line 2 menuju Gangbyeon Exit 4, dan menuju terminal bus Dong Seoul yang berada di seberang stasion subway lalu membeli tiket bus ke Sokcho. Dan seperti biasa karena bus intercity dan bus express berbeda jadwal tapi tidak begitu banyak pengaruh lama perjalanannya, saya bebas memilih bus yang paling cepat berangkat menuju Sokcho.

Akhirnya, setelah 3 jam perjalanan yang nyaman termasuk melewati daerah DMZ yang menjadi wilayah perbatasan dengan Korea Utara, bus sampai juga ke terminal kota Sokcho. Saya berjalan melipir keluar terminal sekitar 100 meter lalu menunggu di halte bus. Tiga menit, lima menit, tujuh menit, Bus no 7 atau 7.1 belum datang juga. Saya menunggu sambil berjalan mondar mandir mencoba bertahan terhadap godaan wangi makanan yang menyeruak dari warung kecil di belakang halte di tengah udara belasan derajat yang membawa angin dingin.

Bus yang dinantikan akhirnya datang juga. Dengan pedenya seperti orang lokal, saya naik, membayar ongkos yang 1200 Won dan duduk mengamati. Saya yang baru pertama kali ke Sokcho merasa gembira bisa melihat-lihat pemandangan kota kecil di Timur laut Korea itu. Dan karena saya tidak mengetahui harus turun dimana, saya menyimak semua pemberitahuan nama-nama halte. Setelah meninggalkan kota Sokcho dan kelihatannya dekat sebuah taman, terdengar nama Seoraksan disebutkan, tanpa pikir panjang lagi, saya langsung turun!

Begitu menjejakkan kaki di tanah, ada perasaan aneh muncul. Lagi! Saya berjalan kaki dan tidak tampak kegiatan wisata. Tidak mau begitu saja menyerah, saya mengelilingi taman yang cukup menarik di dekat situ yang berhadapan langsung dengan pantai. Tetapi tidak ada petunjuk lagi, apalagi tulisan latin. Brrr… Mt. Sorak… Gunung bukan Pantai! Walau terasa kecut, saya tertawa menyadari ketololan sendiri telah turun di halte yang salah, lalu berjalan kaki kembali ke halte tadi dan setia menunggu. Satu menit, dua menit, tiga menit, sepuluh menit… Bus berikutnya tidak datang-datang sementara waktu berjalan terus. Akhirnya, mengingat terdesak waktu, saya hentikan taksi yang lewat dan melanjutkan perjalanan yang membuat isi dompet langsung bolong! Tetapi yang pasti saya tidak lagi tersesat dan sampai dengan cepat di gerbang Taman Nasional Seoraksan!

Seoraksan National Park view from Cable Car
Seoraksan National Park view from Cable Car

Setelah membayar tiket sebesar 2500 Won, saya berjalan menikmati taman yang cantik dengan nuansa musim gugur yang berwarna campuran hijau, kuning dan merah. Saya menuju stasion cable car yang akan membawa saya ke pegunungan. Harga tiket cable car ini sekitar 9000 Won, cukup mahal tetapi memang sangat layak dibeli.

Tiba-tiba saya mendengar bahasa Indonesia yang terdengar makin lama makin keras, disambung dengan gelegar tawa yang membahana, dan celotehan-celotehan atau teriakan yang cenderung memalukan seakan dunia milik mereka sendiri. Kedengarannya, tour guide yang bertugas melalui speaker Toa-nya cukup kewalahan menangani rombongannya. Dari tempat berdiri yang jaraknya ratusan meter dari mereka, saya bisa memastikan bahwa suara-suara itu datang dari rombongan turis Indonesia yang baru sampai dan juga menuju cable car. Saya tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali mempercepat langkah saya menuju cable car dan berdoa, semoga saya tidak dalam rombongan yang sama untuk ke atas. Entahlah, rasa tak nyaman seketika menyeruak keluar menyaksikan perilaku yang cenderung tak beradab.

Doa saya terjawab karena tak perlu lama mengantri untuk naik cable car yang bergerak ke atas dan meninggalkan rombongan itu di bawah. Kereta perlahan naik, dan semakin tinggi selaras dengan diperdengarkannya lagu-lagu yang bernada menyenangkan hati, mungkin supaya penumpangnya tidak gamang dan takut ketinggian menuju ke atas. Tapi bagi saya, memang ketinggiannya mantap!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dari Cable car yang semakin naik, pemandangan semakin indah, Taman Seoraksan dengan Patung Buddha yang besar tampak terlihat jelas dengan latar belakang pepohonan yang berwarna musim gugur. Kemudian, pemandangan pelan beralih menjadi bebatuan cadas dengan ukuran yang sangat besar. Pemandangan yang hanya ada di Seoraksan. Batu-batu cadas dengan ukuran raksasa itu seakan muncul dari rimbunnya pepohonan hijau yang menghiasi gunung. Konon, -walaupun saya tidak melihatnya langsung-, tumbuhan cinta abadi Edelweiss tumbuh diantara 1400 jenis tanaman yang ada di Taman Nasional ini.

Dari stasion atas cable car, saya menyaksikan kota Sokcho yang indah jauh di pesisir pantai. Namun pemandangan di sekitar stasion, hanya ada tanaman penuh ranting yang kehilangan daun. Sayup-sayup terdengar suara merdu pendeta-pendeta melagukan kitab suci. Pastilah datang dari vihara yang biasanya ada di pegunungan. Tadinya saya ingin mengunjungi vihara itu, tetapi waktu tidak mengijinkan. Lebih baik saya mendaki ke arah atas.

Selagi saya mengelilingi wilayah stasion cable car, rombongan turis asal Indonesia itu telah sampai dan telah menyebar kemana-mana, sebagian berada tak jauh dari saya. Mereka asik bicara satu sama lain dengan celotehan-celotehan penuh keributan seakan Seoraksan hanya milik mereka sendiri dan saya bisa mendengar serta memahami semuanya. Beberapa kali saya memergoki wisatawan negara lain menengok ke arah mereka, mungkin merasa terganggu. Saya menarik nafas miris karena bukan kali ini saja saya bertemu rombongan Indonesia seperti mereka, apakah karena berjumlah puluhan, karena berbanyakan, mereka seakan menjadi mayoritas dan bisa berbuat seenaknya, berbicara keras tanpa peduli ada orang lain yang juga ingin menikmati alam. Bukankah dari berbahasa mereka membawa nama Indonesia?

Tapi tak ingin terganggu oleh kehadiran mereka, saya melanjutkan mendaki menuju puncak Gwongeumseong melalui jalan setapak yang berbatu tetapi di sebagian tempat telah dibantu dengan tangga-tangga buatan berlapis karet, supaya tidak licin. Dua tiga kali saya menyusul rombongan perempuan cantik Indonesia yang bersepatu boot selutut dengan high heel serta wintercoat berbulu yang sedang beristirahat karena kehabisan nafas.  Hmm… saya menyayangkan high heel boot yang dipakainya untuk naik gunung. Bagus dan mahal, tetapi tidak tepat.

Bebatuan  terlihat dari Gwongeumseong, Seoraksan NP
Bebatuan terlihat dari Gwongeumseong, Seoraksan NP

Akhirnya sampai juga saya di bebatuan Seoraksan. Namun karena bukan pendaki gunung yang baik, saya merasa sudah senang berada di ketinggian tanpa harus mencapai puncaknya, lagi pula banyak sekali orang di tempat itu, termasuk rombongan dari Indonesia itu. Saya duduk dan menikmati alam selama waktu mengijinkan karena saya tidak bisa berlama-lama agar tak tertinggal transportasi  kembali ke Seoul. Waktu jugalah yang menentukan saya harus turun lagi.

Dalam perjalanan turun itu, ketika saya tengah mengambil foto pemandangan, tak sadar bibir saya berucap dalam bahasa Indonesia mengagumi alam lukisan Sang Pencipta, “…Indahnya…”

“Ya, memang indah….”, seseorang bicara dalam bahasa Indonesia dengan aksen Korea.

Saya terkejut sekali, karena sebelumnya tak ada orang di sekitar itu. Ternyata di hadapan saya berdiri seseorang membawa speaker Toa dan sepertinya dialah sang tour guide dari rombongan Indonesia itu.

“Dari Indonesia?”, pandangannya menyelidik dan menebak karena mungkin dia hafal anggota rombongannya.

Tidak bisa menghindar, lagi pula secara tidak sadar kepala saya mengangguk.

“Anda juga?”

“Saya asli Korea, tetapi pernah tinggal di Indonesia. Hmm… naik apa kesini?”

“Naik bus…”

“Bisa bahasa Korea?”

Saya menggeleng sambil menjawab “Tidak”

Dia sepertinya terkejut sekali, “Hah?? Sendiri…???”

Saya mengangguk dan memastikan, “Ya”

Sepertinya makin tergagap dia. “Hah?”

“Berani?”

Sambil tersenyum lebar, saya menjawab, “Buktinya saya sampai di sini, dan sekarang saya harus kembali lagi ke Sokcho supaya tidak terlambat sampai ke Seoul”

Sepertinya dia terpana. Tidak mau tahu apa yang ada dalam pikirannya, saya ber-kamsahamnida kepadanya atas percakapan singkat dalam Bahasa Indonesia lalu turun dengan cepat langsung ke stasion untuk mengejar cable car.

Sampai di bawah, saya berkejaran dengan matahari yang mulai meredup untuk mengambil foto patung Buddha yang sangat besar di dekat kuil Sinheungsa. Saya makin kehilangan waktu untuk mengabadikan taman nasional. Cahaya kurang, foto sudah semakin buram. Warna musim gugur sudah tak terkenali lagi. Waktunya pulang mengejar bus.

Dalam perjalanan pulang di bus saya tercenung. Ada rombongan Indonesia berperilaku tak menyenangkan di Korea dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Namun ada orang Korea menyapa saya ramah tentang Korea dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Ah, semua yang terjadi ini tidak ada yang kebetulan… pastilah ada alasan di balik itu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-Abad


Jika ada produk dari kayu yang bertahan selama hampir satu millenium, masih dalam kondisi baik, bahkan masih bisa berfungsi hingga sekarang, tentu saja satu diantaranya adalah Tripitaka Koreana, yaitu puluhan ribu bilah kayu pencetak Tripitaka, -kumpulan ajaran agama Buddha-, yang dituliskan dalam karakter China yang paling lengkap, paling tua dan tanpa kesalahan yang dimiliki dunia saat ini. Sebuah mahakarya, yang kini bukan saja milik Korea Selatan semata, tetapi juga telah menjadi milik dunia. Oleh karena itu UNESCO memasukkan bilah-bilah kayu pencetak Tripitaka Koreana dan Barbagai Literatur Keagamaan Buddha ke dalam Memory Of The World, sejak 3 Agustus 2007.

Bahkan jauh sebelumnya di tahun 1995 UNESCO telah mendaftarkan bangunan kayu sederhana yang oleh orang lokal disebut sebagai sebagai Janggyeong Panjeon, artinya bangunan penyimpan Tripitaka Koreana sebagai World Heritage Site. Bangunan kayu dengan strukturnya yang sangat unik ini menempati permukaan tanah yang paling tinggi dari kompleks Kuil Haeinsa yang berada di Gayasan National Park, Korea Selatan. Penempatan bangunan yang tidak biasa di kuil-kuil Buddha, karena lebih tinggi daripada bangunan utama kuil, sepertinya menandakan betapa pentingnya makna yang terkandung di dalamnya.

Dan memang seperti itulah rasanya ketika saya berdiri di depan tangga menuju Janggyeong Panjeon. Walaupun damai dan ketenangan terasa meresap di kuil Haeinsa, tetap saja jantung ini sedikit berdetak lebih banyak ketika kaki menapaki tangga curam menuju Janggyong Panjeon, pelataran tertinggi dari kuil Haeinsa, tempat penyimpanan Tripitaka Koreana. Berdetak lebih banyak karena akan menyaksikan sebuah keluarbiasaan yang telah diakui dunia.

Under The Gate of Janggyeong Panjeon
Under The Gate of Janggyeong Panjeon

Saya melangkah pelan menaiki tangga mengikuti langkah orang-orang yang berada di depan saya. Di puncak tangga, di bawah gerbang Janggyeong Panjeon, saya berdiri diam menutup mata sejenak. Menyadari bahwa pengamanan di level ini sangat tinggi, tidak boleh ada kamera dan semua yang berhubungan dengan api, saya menyiapkan diri menyerap semua pemandangan sekuat-kuatnya dengan mata saya. Selangkah di depan ini saya bersama dunia menjadi saksi akan mahakarya kayu yang disimpan hampir satu millenium di bangunan kayu sangat sederhana.

Namun mata ini seakan tak percaya akan pemandangan yang ada di hadapan. Seluruh bangunan di Janggyeong Panjeon ini bisa dikatakan sangat sederhana dengan unsur terbanyak dari kayu tanpa hiasan. Semua jendela dan pintu berkisi-kisi, juga dari kayu. Tetapi rupanya inilah kelebihannya yang secara akurat memperhitungkan semua segi untuk mempertahankan asset berharga bilah-bilah cetakan kayu yang disimpannya. Lokasi kuil, tata letak, struktur bangunan, jendela dan pintu, semuanya telah dihitung sejak dari awal pembangunannya untuk mengatur ventilasi, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya sehingga dapat menjaga keutuhan Tripitaka Koreana selama berabad-abad.

Karena tidak diperkenankan untuk mengambil foto dan berhenti saat melewati sisi berpintu yang memperlihatkan rak-rak penyimpan bilah-bilah kayu cetakan, saya hanya menyerap keluarbiasaan ini dengan segala kemampuan mata yang dimiliki.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pelataran Janggyeong Panjeon terdiri dari empat bangunan yang menyerupai persegi panjang. Bangunan di utara, Beopbojeon (Ruang Dharma) dan Bangunan di selatan, Sudarajang (Ruang Sutra) sejajar membentuk sisi yang lebih panjang karena berfungsi sebagai tempat penyimpanan ke delapan puluh ribu cetakan kayu tersebut. Sedangkan dua ruang kecil di sebelah barat dan timur merupakan tempat penyimpanan ajaran-ajaran Buddha yang datang belakangan.

Petugas-petugas jaga ternyata berbaik hati kepada pengunjung yang ada sehingga bisa ‘mencuri-curi’ foto saat berada pada halaman tengah Janggyeong Panjeon. Tak mau melepaskan kesempatan itu, saya mengambil kamera saku dan mengambil beberapa foto dari sudut yang berbeda. Tetapi tetap tidak bisa mengambil deretan tempat simpanan bilah-bilah kayu cetakan tanpa diiringi teriakan teguran dari petugas jaga.

Can you see the printing woodblocks inside?
Can you see the printing woodblocks inside?

Dimana-mana terdapat alat pemadam api yang jaraknya relatif dekat dari tiap-tiap petugas jaga.  Ya, memang api merupakan musuh terbesar asset dunia ini. Dan walaupun dalam sejarahnya kompleks Kuil Haeinsa pernah terbakar berkali-kali karena perang dan serangan musuh, namun api tidak pernah merambat naik ke Janggyeong Panjeon.  Sepertinya para dewa pun menjaganya dengan berbagai cara.

Walaupun seluruh pengunjung tidak dapat berinteraksi langsung dengan bilah-bilah kayu Tripitaka Koreana yang disimpan berabad-abad yang hasil cetakannya tersebar ke seluruh penjuru negeri itu, rasa ingin tahu pengunjung bisa terpuaskan di jalan keluar dari Janggyeong Panjeon. Di situ terpajang contoh bilah kayu cetakan Tripitaka Koreana beserta segala informasinya.

A sample of the Printing Woodblocks - Can you see the image?
A sample of the Printing Woodblocks – Can you see the image?

Sungguh saya terkagum-kagum dengan pengetahuan orang Korea yang telah membuatnya. Sejarah mengisahkan bahwa Tripitaka Koreana yang asli buatan tahun 1087 musnah terbakar saat penyerangan kekaisaran Mongol tahun 1232, lalu Kaisar Gojong memerintahkan untuk pembuatannya kembali.

Konon, kayu yang digunakan untuk Tripitaka Koreana datang dari Daesa-ri, wilayah Namhae-gun di selatan semenanjung Korea karena pasang surut air lautnya sangat tinggi, sehingga mudah untuk mengirim dan merendam kayu. Kayu-kayu yang telah lama terendam melewati panas dan dinginnya air laut, menjadi lebih mudah diukir dan lebih awet terhadap serangan serangga.

Sambil menunggu alam merendam kayu, ada banyak pekerjaan pendahuluan yang harus dikerjakan oleh para pendeta. Mereka harus menuliskan 23 baris tulisan dengan 14 karakter per barisnya pada sehelai kertas dengan sangat cermat dan akurat. Tidak itu saja, para pendeta yang terlibat dalam penulisan ini harus rajin berlatih berhari-hari agar konsistensi gaya penulisan dari waktu ke waktu tetap terjaga.

Dan setelah sehelai kertas siap serta kayu telah tersedia, dimulailah pengerjaan pengukiran. Tentu saja, agar karakter dicetak dalam arah yang benar, sisi kertas yang sama harus ditempelkan ke bilah kayu kemudian dilapiskan minyak tumbuhan tertentu ke kertas sehingga hurufnya langsung terlihat jelas. Setelah itu kayu baru dapat diukir pada kedua belah sisi bilah kayu.

Lalu bagaimanakah caranya sehingga Tripitaka Koreana tersusun tanpa bisa ditelusuri jejak kesalahan yang terjadi? Rupanya setelah pengukiran selesai, langsung dilakukan proses validasi hasilnya dengan tulisan pada kertas original. Karakter yang salah dipotong dan dibetulkan, sementara karakter yang sudah benar, ternyata diukir ulang pada sepotong kayu terpisah dan ditempelkan kembali. Proses ini sangat rapi dan cermat, sehingga tidak pernah dapat ditelusuri proses koreksi yang sebenarnya yang pernah terjadi. Bagaimana mungkin membandingkan jika keduanya sama-sama dipotong dan ditempel ulang?

Untuk menghasilkan cetakan diperlukan lembar-lembar kertas dengan kualitas baik. Kemudian ujung bilah cetakan kayu dilumuri dengan tinta lalu selembar kertas ditempelkan langsung ke cetakan tersebut. Selanjutnya kertas tadi diangkat secara hati-hati dengan alat terbuat dari rambut yang dicelupkan pada lilin. Luar biasa sekali prosesnya. Dan konon karena dicetak pada kertas berkualitas sangat baik yang diproduksi selama periode Dinasti Goryeo itulah, menjadikan Tripitaka Koreana terkenal hingga ke seluruh negeri, hingga ke negeri-negeri jauh… hingga sekarang.

Dan waktu berjalan terus…

Sambil melangkah ke jalan keluar, saya masih membawa serta kekaguman terhadap bilah-bilah cetakan kayu yang bertahan melawan jaman. Saya berbalik badan menatap kembali ke empat bangunan luar biasa yang telah berabad-abad menyimpan harta milik dunia itu. Hati saya kembali terharu, bila semua negara berupaya keras menjaga harta dunia yang telah dibuat oleh para pendahulu kita, alangkah semakin kayanya dunia ini.

The Wooden "Scientific" Building
The Wooden “Scientific” Building

Hwaseong Fortress: Menjadi Warisan Dunia Karena Sebuah Buku Tua


Dari sebuah benteng yang dirancang untuk menjadi Ibukota

Disusun dan dibangun dengan perhitungan rinci tanpa cela

Namun perlahan terlupakan karena pergantian para penguasa

Lalu hancur total akibat Jepang menyerang juga Perang Korea

Dua ratus tahun setelahnya Hwaseong seakan tak pernah ada

Namun dari sebuah buku, Hwaseongseongyeokuigwe namanya

Para ahli bersatu padu bekerja sama membangun sebuah citra

Dan dalam dua tahun Hwaseong Fortress yang hilang kembali ada

Abad-18 Hwaseong hanya merupakan bagian dari Istana Raja

Abad-20 Hwaseong telah menjadi bagian dari Warisan Dunia

*

Menjelang sore pada musim gugur di Suwon, Korea Selatan…

Hwaseong Fortress, salah satu UNESCO World Heritage Site di Korea Selatan, berdiri dengan megah. Benteng atau Fortress ini pada awal pembangunannya merupakan bagian dari Istana Haenggung, tempat kediaman sementara para Kaisar dari Dinasti Joseon di luar kediaman resminya di ibukota negeri. Dan Kaisar Jeongjo-lah yang menginstruksikan pembangunan benteng pertahanan sepanjang 5.5km ini mengelilingi sebuah kota yang dirancang mandiri sebagai pengungkapan bakti Sang Kaisar kepada ayahnya, Putra Mahkota Sadosaeja. Selain mendirikan benteng, sepanjang pemerintahannya, Kaisar Jeongjo senantiasa berupaya berbakti dengan cara membersihkan nama ayahnya yang dibunuh oleh tangan kakeknya sendiri.

Hwaseong Fortress - Suwon
Hwaseong Fortress – Suwon

Kata “Hwaseong” sendiri sesungguhnya memiliki makna filosofis yang sangat dalam, karena berasal dari salah satu pengajaran Konfusianisme, Jangja. Dalam karakter China, Hwaseong merupakan tempat yang diperintah oleh seorang tokoh legenda yang bijak dan bermoral sempurna yakni Kaisar Yao. Beliau adalah kaisar legendaris dalam sejarah Cina kuno yang kebajikannya digunakan sebagai model untuk kaisar Cina pada masa-masa selanjutnya. Masa pemerintahan Kaisar Yao merupakan waktu yang paling damai dan makmur dalam sejarah Cina kuno. Dengan dilatarbelakangi oleh pemahaman filosofis yang dalam itu, pembangunan Hwaseong Fortress di Korea Selatan menjadi luar biasa.

Hingga kini Hwaseong Fortress menjadi benteng dengan struktur terhebat dan penuh perhitungan yang pernah dibuat di dunia. Memiliki empat gerbang di setiap arah mata angin. Janganmun di Utara, Paldamun di Selatan, Changnyongmun di Timur dan Hwaseomun di Barat. Bahkan katanya setiap lubang diantara batu batanya diukur dengan presisi sehingga dapat menembakkan senjata, panah atau tombak panjang.

Dan kehebatan Hwaseong Fortress tidak berhenti sampai disitu. Benteng ini bahkan menjadi pelopor perencanaan pembangunan kota di tingkat dunia, dilihat dari segi kelengkapan sarana dan prasarana serta perencanaan matang yang sistematis dibandingkan pembangunan kota yang serupa pada jamannya seperti Saint Petersburg di Rusia atau bahkan Washington DC di Amerika. Sebuah pemikiran yang sangat hebat dari Kaisar Jeongjo, orang yang menginstruksikan pembangunan Hwaseong Fortress ini.

Sejarah mengisahkan ketika Kaisar Jeongjo bertempat tinggal sementara di Istana Haenggung dalam rangka kunjungan ke wilayah Suwon, Sang Kaisar mulai menginstruksikan pembangunan Hwaseong Fortress termasuk kota di dalamnya. Pada awalnya Kaisar Jeongjo merencanakan Hwaseong menjadi ibukota kedua dari Dinasti Joseon. Untuk itu, Kaisar Jeongjo berencana akan pindah ke istana Haenggung, untuk menikmati kota Hwaseong-nya, setelah ia menyerahkan tahtanya kepada penerusnya. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Kaisar Jeongjo mangkat dalam usia yang relatif muda pada tahun 1800 menyebabkan Hwaseong perlahan-lahan terlupakan oleh peradaban.

Janganmun North Gate of Hwaseong Fortress, Suwon (means capital city and welfare of the people)
Janganmun North Gate of Hwaseong Fortress, Suwon (means capital city and welfare of the people)

Dan UNESCO pun mencatat Hwaseong Fortress dalam daftar World Heritage Site…

Sebenarnya Hwaseong Fortress masih relatif berumur muda, sekitar 200 tahun, jika dibandingkan dengan seribuan obyek lainnya yang bisa mencapai ribuan tahun, untuk tercatat dalam daftar UNESCO World Heritaga Site. Ditambah lagi sebagian besar struktur asli sudah hancur karena penyerangan Jepang dan akibat perang Korea. Lalu apa yang menyebabkan tempat itu bisa terdaftar sebagai World Heritage Site?

Dan karena sebuah buku kuno, Hwaseongseongyeokuigwe, sehingga Hwaseong Fortress dapat direkonstruksi kembali mengikuti struktur aslinya. Hwaseongseongyeokuigwe merupakan buku arsip yang terperinci mengenai pembangunan Hwaseong Fortress. Di dalam buku ini seluruhnya tersimpan baik penjelasan arsitektur dan prosedur teknis yang diterapkan, lengkap dengan gambar-gambar dan disain strukturnya, dimensi struktur, penggunaan dan sumber bahan baku yang digunakan dan hal-hal kecil lainnya. Sungguh menakjubkan berdasarkan satu buku kuno berumur ratusan tahun itu, pembangunan kembali benteng ke bentuk aslinya bisa dilakukan dengan sangat mudah.

Para insinyur dan ahli teknik masa kini benar-benar mengikuti semua petunjuk yang diberikan dalam buku Hwaseongseongyeokuigwe, yang dimulai dari menemukan jenis yang tepat untuk menghasilkan bentuk dan kualitas batu bata yang digunakan. Setelah batubata diproduksi dengan benar, kumpulan batu itu digunakan untuk membangun tembok benteng seperti yang dijelaskan dalam dokumen.

Hwaseong Fortress sepertinya merupakan kasus pertama kali dan satu-satunya hingga kini, sebuah monumen sejarah yang hancur total dibangun kembali hanya berdasarkan dokumen tertulis. Kelengkapan Hwaseongseongyeokuigwe, yang penuh informasi ilmiah yang sangat detail, membuat monumen ini memungkinkan memenangkan gelar sebagai UNESCO World Heritage Site.

*

Setelah membayar tiket masuk, rencana melihat Gukgung (Korean Traditional Archery) di dekat pintu masuk batal karena saat itu merupakan trip terakhir kereta kelilingHwaseong Fortress. Saya sedang malas mendaki berkilo-kilometer sehingga tawarannaik kereta keliling disambut gembira. Sebenarnya para penumpang diberikan informasi mengenai tempat-tempat menarik sepanjang perjalanan, tetapi sayangnya dalam bahasa Korea!

A corner in Hwaseong Fortress in Suwon. It's believed to have been constructed very scientifically — at Hwaseong Fortress.
A corner in Hwaseong Fortress in Suwon. It’s believed to have been constructed very scientifically — at Hwaseong Fortress.

Sudah beberapa gerbang dan tempat pemantauan benteng terlewati. Kereta masih menyusuri tembok benteng yang berdiri tegak, seakan angkuh terhadap kemungkinan serangan musuh. Kemudian berjalan perlahan mendaki bukit. Tampak seluruh permukaan tanah tertutup dengan rumput hijau yang terpelihara. Pemerintah Korea Selatan bersama warga sekitar bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap indah dan di sudut lain, tampak tembok benteng menjulang di balik rimbunnya rumput keladi yang berbunga.

Tak lama kemudian kereta memasuki wilayah dengan pepohonan berwarna khas musim gugur yang terhampar di depan mata. Merah, hijau, kuning keemasan dan jalanan yang sepi. Ketika kereta melewati perlahan sebuah pelataran dengan patung besar, terlontar keinginan untuk turun menikmati pemandangan. Dan ternyata kereta memang berhenti di situ, menurunkan semua penumpangnya dan kembali kosong. Dan memang trip terakhir kereta tidak termasuk kembali ke tempat awal sehingga saya harus berjalan kaki untuk kembali.

Setelah mengeksplorasi pelataran berisi patung besar Kaisar Jeongjo, saya menikmati jalan-jalan di sekitarnya dalam suasana musim gugur. Sebagai orang tropis, saya menikmati sekali pengalaman berjalan-jalan diantara pohon-pohon yang berwarna-warni dengan gugurnya dedaunan. Banyak juga warga lokal dari segala umur yang berjogging. Bahkan disediakan peralatan olahraga di area terbuka.

The Bronze Statue of King Jeongjo The Great
The Bronze Statue of King Jeongjo The Great
The Map & Pictures of Hwaseong Fortress on the Wall next to the Statue
The Map & Pictures of Hwaseong Fortress on the Wall next to the Statue
Public Park in Autumn inside the Hwaseong Fortress
Public Park in Autumn inside the Hwaseong Fortress

Belum ingin berpisah dengan indahnya suasana, saya bahkan mendaki ke puncak bukit. Dan sampai di atas, terhampar pemandangan yang jauh lebih indah dari kota Suwon, apalagi menjelang malam, lampu-lampu kota dinyalakan. Saya duduk menikmati malam. Seandainya Kaisar Jeongjo masih hidup, tentunya ia juga suka melihat pemandangan ini. Pemandangan lepas, udara dingin, sangat tepat untuk berpikir strategis memikirkan bangsa dan negara.

Malam merangkak pelan. Waktu juga yang memutuskan. Saya berjalan turun perlahan sambil melamunkan keluarbiasaan situs warisan dunia, Hwaseong Fortress ini. Yang tadinya hancur, dalam waktu dua tahun bisa kembali berdiri megah. Hanya karena sebuah buku tua. Saya belajar bahwa dari dokumentasi yang detil dan menyeluruh, apa yang hancur bisa kembalikan ke semula. Ah, rasa terima kasih tak terhingga untuk Kaisar Jeongjo!

A part of 5.5km of the Hwaseong Fortress
A part of 5.5km of the Hwaseong Fortress
Seojangdae (Western Command Post), built 1794 on the summit of Mt. Paldal
Seojangdae (Western Command Post), built 1794 on the summit of Mt. Paldal
Hwaseong Fortress at night
Hwaseong Fortress at night

*

Hwaseong Fortress dibuka setiap hari untuk umum, pk. 09.00 – 18.00 kecuali musim dingin dari pk. 09.00 – pk. 17.00 dengan harga tiket masuk 1000 Won (dewasa) dan 500 Won (anak-anak).

Menikmati Malam di Gyeongju, Korea


Gyeongju, Korea merupakan kota dengan sebutan museum tanpa dinding, karena berseraknya tempat-tempat bersejarah di kota kecil sekitar 1 jam berkendara dari Busan itu. Tetapi apabila tak tertarik dengan sejarah pun, kita tetap masih bisa menikmati kota itu, terutama pada malam hari. Jadi, lupakan sejarah sesaat, nikmati saja keindahan di Gyeongju yang sejuk (atau karena saya datangnya pas musim gugur ya?).

 

Anapji Pond

Saya bersyukur karena mengunjungi tempat ini di kala senja dan menikmatinya hingga malam bertandang. Saya coba lupakan sejenak sejarahnya, dan membiarkan rasa yang menuntun langkah-langkah saya pada malam itu.

Saya hanya menyentuh pagar pembatas area yang di dalamnya terdapat bulatan-bulatan bekas fondasi bangunan itu sebagai tanda permintaan maaf karena ketakmampuan saya melepaskan diri sepenuhnya dari sejarahnya. Aura peninggalan yang sangat kuat tetap terasa membumbung di udara, sehingga saya hanya bisa terdiam hening sebagai penghormatan walaupun kali ini saya hanya ingin menikmati malam di Anapji Pond.

Sisi dari Anapji Pond
Sisi dari Anapji Pond
Lihat! Ada ikan-ikan diantara lampu kolam
Lihat! Ada ikan-ikan diantara lampu kolam
Bangunan Utama di Anapji Pond
Bangunan Utama di Anapji Pond
Detil Atap Bangunan di Anapji Pond
Detil Atap Bangunan di Anapji Pond
Refleksi di Anapji Pond
Refleksi di Anapji Pond
Anapji Pond At Night
Anapji Pond At Night
Anapji Pond dari sisi seberang
Anapji Pond dari sisi seberang

Terlepas dari cerita hebat di baliknya, Anapji Pond tetaplah sebuah kolam, yang berisikan ikan-ikan cantik berenang diantara lampu yang menyinari bangunan-bangunan tradisional berukir indah.

Namun entah kekuatan apa yang menyelimuti saat itu, tetapi terasa sekali pada malam itu atmosfer kaum bangsawan berjalan perlahan menikmati malam, berawal dari aula utama menyusuri bangunan-bangunan cantik di tepi kolam berhias cahaya yang memantul dari air kolam yang tenang. Memberikan efek refleksi yang sempurna. Berpikir sangat dalam mengenai kehidupan bernegara, kehidupan sehari-hari rakyat dan kehidupan romansa pribadi para keluarga kerajaan.

Tidak perlulah mengetahui siapa Raja, siapa Perdana Menteri atau silsilah keturunannya, atau Dinasti yang mengelolanya. Cukuplah untuk menikmati dengan sepenuh hati, merasakan aura kehidupan para pemilik darah biru, merasakan keindahan terangkai sepanjang malam di Anapji Pond. Dan saya pun berjebak dalam semesta keindahan Anapji Pond.

 

Cheomseongdae Observatory

Tak jauh dari Anapji Pond, bisa dicapai dengan berjalan kaki, berdirilah Cheomseongdae Observatory dengan anggunnya di tengah-tengah taman di pusat kota.  Pemerintah setempat telah membuat bangunan kuno itu semakin tampil dramatis dengan sorotan lampu yang memecah kegelapan malam.

Tanpa perlu mengetahui secara dalam kekuatan sejarah di balik keanggunan Cheomseongdae Observatory, siapapun yang melihatnya malam itu akan merasakan hal yang sama. Keindahannya melebihi keingintahuan orang akan fungsi bangunan itu.

Cheomseongdae Observatory - Peninggalan dari Seorang Perempuan
Cheomseongdae Observatory – Peninggalan dari Seorang Perempuan

Saya hanya duduk dalam keheningan di bangku taman dan menikmati Cheomseongdae Observatory yang luar biasa di hadapan. Saya tak melihat sisi sejarahnya, saya tak mencari tahu fungsi bangunannya. Saya hanya diam dalam hening. Suasana yang tercipta terasa magis dan menerbangkan saya untuk melihat ke dalam jiwa mengenai makna kehidupan. Dan malam pun terus merangkak pelan…

Saya tetap tak bisa melepaskan dari kekuatan sejarahnya. Tetapi, lagi-lagi saya berusaha melupakannya sesaat. Saya hanya mengingat bahwa Cheomseongdae merupakan warisan dunia dari seorang perempuan! Dan hidup sebagai perempuan, saya seperti jatuh ke dasar jurang tak bertepi, berhadapan dengan peninggalan dengan tingkat dunia yang seakan bertanya langsung kepada saya, apa yang telah kau berikan kepada dunia sebagai warisan?

Arrggghhh… Cheomseongdae yang indah tetapi membantingku KO.

 

Tumuli Park

Di arah yang berlawanan dari Cheomseongdae Observatory, tersebar tumuli-tumuli (gundukan) yang di dalamnya menyimpan sejarah Korea yang panjang. Tapi malam itu, tak perlu melihat sejarah, tak perlu memikirkan apa yang ada di balik tumuli itu. Lihat saja keindahan lengkung-lengkung rerumputan hijau yang tertata rapi dan disinari lampu sorot.

Lagi-lagi saya terdiam dalam hening. Saya tahu tumuli adalah makam dan hal itu yang menghenyakkan saya dalam keheningan. Saya hanya ingin menikmati dalam hening dan tak ingin terlalu filosofis melihatnya. Tetapi rasa dari dalam itu begitu membuncah Sudahkah saya memikirkan mati? Lalu bagaimanakah saya ingin diingat ketika saya sudah mati? Apakah saya sudah bernilai hingga sekarang ini, sebelum saya mati? Dan masih banyak lagi karena saya berhadapan dengan makam!

Tumuli adalah Makam!
Tumuli adalah Makam!

Tak perlu menilik sejarahnya, tak perlu tahu siapa yang ada di baliknya, hanya makna sebuah makam dan saya pun berlari bergidik, karena tahu belum cukuplah bekal untuk itu.

Kuliner

Di depan area tumuli itu terdapat deretan rumah makan dan kios-kios yang menawarkan makanan Korea atau makanan ringan, yang bagi para wisatawan penggila kuliner bisa langsung menikmatinya setelah lelah berjalan-jalan. Saya sendiri tidak mencicipinya karena saya masih harus berjuang mencari jalan pulang ke penginapan yang lumayan jauh.

***

Jika saja masih ada waktu bagi saya untuk berkeliling lagi, tentu masih banyak tempat wisata lain yang bisa dikunjungi. Tidak apa-apa, saya menyimpannya untuk kunjungan kesana lagi, kapan-kapan ketika kesempatan lain datang…

(DISCLAIMER: All photos are mine unless otherwise stated. Please put the link or e-mail me if you wish to use it personally)

Menuju Seoul dengan ‘Shinkansen’-nya Korea


Pagi jelang siang di Daegu

Sambil memejamkan mata, saya mengucap selamat berpisah kepada kamar penginapan yang telah menjadi saksi diam atas pengalaman spiritual penuh emosi semalam sekembalinya saya dari Haeinsa (klik disini kalau mau baca). Tiga kota Korea Selatan yang telah mengharubiru hati sudah terlewati dalam perjalanan ini dan tiba saatnya untuk berpindah kembali.

Semalam, diantara airmata bahagia yang tumpah dan pengalaman-pengalaman luar biasa selama perjalanan ini, sebuah  keputusan harus ditetapkan. Saya harus menghapus trip ke Naejangsan National Park. Taman Nasional Naejangsan, yang terkenal keindahannya saat musim gugur bukan menjadi rejeki saya untuk dikunjungi kali ini. Waktunya tidak akan cukup untuk sampai juga ke Suwon dan Seoul pada hari yang sama. Dan kalaupun dipaksakan juga, kunjungan terburu-buru ke Naejangsan pastilah tidak menyenangkan. Itupun kalau lancar dan tidak tersesat! Mudah-mudahan ada kesempatan lagi untuk bisa berkunjung kesana di lain waktu.

KTX Kereta Super Cepat Korea Selatan
KTX Kereta Super Cepat Korea Selatan

Membatalkan pergi ke Naejangsan adalah satu hal, tetapi hari itu untuk bisa sampai ke Seoul dari Daegu dengan selamat adalah hal lain yang berbeda sama sekali. Berdasarkan pengalaman-pengalaman mengejutkan sejak hari pertama tiba di Korea Selatan, hal sekecil apapun bisa menjadi hal yang prosesnya tak semudah membalikkan telapak tangan. Tentu saja kejutan seperti itu benar-benar bisa membuat cemas, deg-deg-an, hati ketar-ketir atau apapun seperti itu. Dan… hal sepele itu termasuk mengurus tiket kereta super cepat Korea Selatan, Shinkansen-nya Korea, yang disebut KTX.

Setelah check-out, dengan menggendong ransel saya berjalan kaki ke station Dong Daegu, yang terintegrasi dengan stasion KTX, kereta api super cepat Korea Selatan. Beberapa toko roti yang saya lewati menebarkan aroma harum menggugah perut yang berontak belum sarapan. Karena tidak mau teralihkan dengan wangi harum itu, saya memaksa diri menggunakan kacamata kuda, meneruskan langkah menuju stasion kereta. Tukar tiket KTX dulu baru sarapan, demikian yang saya teriakkan kepada si perut.

Lagi! Di Stasion KTX

Stasion KTX di Daegu cukup megah. Sebagai orang yang sudah tercemar dampak dunia kapitalis konsumtif, saya merasa kembali ke peradaban modern ketika memasuki gedung station KTX setelah semalam sebelumnya berkutat di Gayasan National Park. Modernitas telah mengangkat rasa optimisme saya.  Merasa ‘hidup’ dengan atmosfer kesibukan kerja, penuhnya kios-kios kopi dan makanan dengan para profesional. Ah, sepertinya saya sedang mendekat pada dunia yang saya kenal, seharusnya semua akan berjalan normal, demikian perasaan saya berkata.

Lorong menuju Main Hall Stasion KTX Daegu
Lorong menuju Main Hall Stasion KTX Daegu

Seperti seekor doggie yang menandai daerah jelajahnya, saya berjalan mengelilingi station KTX dari ujung ke ujung, hanya supaya mengetahui situasi dan kondisinya di station Daegu. Setelah puas, saya kembali ke arah counter untuk menukarkan E-ticket KRPass 1 day yang saya miliki. Semoga lancar.

Setelah mengantri pada antrian yang terpendek, sampai juga giliran saya ke depan counter. Saya serahkan print-out e-ticket sebagai bukti pembayaran dan paspor. Perempuan di balik counter hanya bertanya, “1 day Pass, today?” Saya mengangguk, menjawab, “Yes. Today. To Seoul Station” Kemudian dia sibuk dengan komputernya. Jam pasir mulai bergulir.

Seperti juga JRPass di Jepang, KRPass adalah kartu transportasi yang khusus untuk oleh turis asing dan dibeli di luar negara korea, untuk digunakan tanpa batas pada kereta-kereta api yang tergabung dlm Korail, kecuali subway dan kereta turis. KR Pass tersedia dalam beberapa periode, 1, 3, 5, 7 atau 10 hari dengan berbagai variasi harga.

KR Pass seukuran kartu nama & Ticket Kereta
KR Pass seukuran kartu nama & Ticket Kereta

Saya membeli KRPass 1 hari secara online karena pertimbangan kemudahan dan kecepatan mendapatkan transportasi dalam sehari sesuai rencana awal perjalanan saya. Awalnya, saya mau ke Naejangsan dan pada hari itu juga saya harus sampai ke Seoul, maka saya harus berganti-ganti kereta. Dan karena saya tidak mau dipusingkan dengan rute dan jadwal, maka dari itu KTX menjadi pilihan utama saya dan jadilah saya membeli KRPass 1 hari itu. Sebenarnya dengan pembatalan ke Naejangsan, perjalanan saya lebih simple, saya hanya perlu tiket Dong Daegu ke Seoul. Tetapi semenit, dua menit petugas perempuan di depan saya masih tetap memencet-mencet keyboardnya. Ah, lagi! Tanda-tanda buruk di depan mata, sesuatu yang tak semudah membalikkan telapak tangan…

Benarlah! Ia meminta saya menunggu sebentar, lalu pergi dan tidak berapa lama ia kembali bersama seorang perempuan lain yang seperti supervisornya. Sang Supervisor memperhatikan e-ticket saya, lalu berbicara dengan petugas tadi dalam bahasa Korea yang tidak bisa saya mengerti. Blah-blah-blah… Sang Supervisor memencet-mencet keyboard lalu kembali ia meminta saya menunggu dengan manis. “Anything wrong?” tanya saya ketar-ketir. Di kiri kanan antrian sudah bergerak banyak dan di belakang saya mulai tak sabar. Dia tersenyum menggeleng dan pergi meninggalkan saya.

Saya agak putus asa menyaksikannya pergi  namun agak tenang melihatnya kembali lagi dengan buku notes di tangan. Ia meminta saya pindah ke counter yang paling ujung sehingga tidak mengganggu antrian di belakang saya. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, saya menurut saja. Kemudian Sang Supervisor itu membuka terminal dan mulai membaca buku catatan yang dibawanya. Membiarkan saya menyaksikan semua itu. Hmmm… ia membaca ke buku ‘manual’nya, lalu ke terminal, memencet keyboard lagi, membaca lagi. Dan seorang perempuan lain lagi bergabung membantu. Luar biasa, untuk penukaran e-ticket KRPass saya itu sampai 3 orang yang melayani. Entah kenapa, pikiran saya terbang ke saat-saat memberikan pelatihan di kantor, muka bingungnya terlihat serupa. Dalam sekejap saya berkesimpulan bahwa di Daegu jarang yang menukarkan e-ticket KRPass. Mungkin jamak di Seoul atau Busan, tetapi mungkin tidak banyak di tempat selain dua kota itu.

Stasion KTX Daegu, Korea Selatan
Stasion KTX Daegu, Korea Selatan

Akhirnya kesabaran saya menunggu berbuah juga, berhasil mendapatkan KRPass dan mendapat tiket kereta KTX ke Seoul. Sambil menunggu kereta dan menenangkan hati yang lagi-lagi diberikan kejutan pagi,  saya mencari sarapan roti baguette. Karena sejak kecil dicekoki dengan makanan setipe satu ini, akibatnya kalau belum ketemu roti, rasanya belum sarapan!

KTX, si kereta berhidung aneh

Kemudian jelang waktu keberangkatan, saya melangkah menuju peron menunggu si kereta dengan hidung aneh ini datang. Berbeda dengan rel Shinkansen di Jepang yang terdiri dari 3 rel paralel, rel KTX ini tampak tidak berbeda dengan rel kereta biasa dengan dua bilah besi paralel walaupun secara teknologi mungkin berbeda spesifikasinya. Berdasarkan informasi wiki, infrastrukturnya didisain agar kereta dapat berjalan baik dengan kecepatan hingga 350km/jam. Hebat…

Tidak perlu lama menunggu, kereta saya pun datang dan naiklah saya ke kereta super cepat buatan Korea ini. Disebelah saya duduk seorang bapak dengan tampang eksekutif yang tampaknya tak mau diajak bicara karena sibuk dengan catatan-catatannya. Mungkin lebih baik, karena saya juga ingin melanjutkan tidur di kala bosan melihat pemandangan keluar jendela.

Perkiraan mendapatkan pemandangan indah sepanjang perjalanan tidak tercapai karena yang terlihat kebanyakan hanyalah pagar tembok batas kereta, kadang sisi belakang perumahan kota. Sedikit sekali pemandangan gunung dengan warna musim gugurnya. Entahlah, mungkin saya sedang tertidur saat pemandangan indah terhampar.

Yang ajaib, saya berharap di gerbong kereta terdengar informasi suara saat memasuki stasion kota-kota besar yang disampaikan dalam bahasa Inggeris, selain Korea tentu. Tetapi dalam gerbong KTX yang saya naiki ini sama sekali tidak terdengar bahasa Inggeris, hanya bahasa Korea. Wow! Saya hanya membaca satu persatu nama-nama stasion ketika kereta berhenti. Itupun jika tidak tertidur. Sebuah hal yang sangat mendasar, bagaimana mungkin dalam gerbong kereta yang ditujukan sebagai pendukung utama turisme Korea tidak disampaikan dalam bahasa internasional? Padahal harga tiketnya mahal dan dijual di luar Korea! Entahlah, tetapi pada hari itu, sejak dari Stasion  Daegu hingga mencapai Seoul Station, tidak ada satupun bahasa Inggeris terdengar dari loudspeaker di gerbong saya. <Catatan: tetapi ketika menggunakan kereta dengan kelas yang lebih rendah menuju Suwon, saya mendengar informasi yang disampaikan dalam bahasa Inggeris!>

Akhirnya KTX sampai di Seoul Station
Akhirnya KTX sampai di Seoul Station

Untunglah, saya selamat sampai di Seoul Station, station di Seoul dimana semua penumpang berhenti dan turun. Jika tidak, mungkin kejadian salah turun stasion seperti ketika di Thailand akan terulang lagi (klik disini kalau mau baca pengalaman salah turun stasion di tengah malam).

When I Smell the Fragrance of Heaven in Bulguksa Temple…


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mid-day in Gyeongju, South Korea…

When the local bus stopped at Bulguksa and the visitors got off the bus, it didn’t mean they had arrived at the temple. Actually all visitors should walk around 200m uphill along a nice walkway to reach the ticket booth. Then walk along a natural path to the temple’s gate.  But while walking the beautiful scenery will surround us in 360. Seems the Koreans love to build temples and monasteries in harmony with the mountains since long time ago.

The walkway was comfortably made, wide and neat, with food or souvenir stalls in each side. The beautiful autumn scenery with red and yellow maple leaves with fresh atmosphere and the happiness of family picnics on the greenery grass removed the tiredness of walking.

And after walking for a while, finally I reached the iconic stone with UNESCO World Heritage Site symbol on it in Roman and Hangul. Bulguksa Temple itself was designated as a World Cultural Asset by UNESCO in 1995, which is home to many important cultural relics.

My heart smiled when I stepped into the natural path, sensing the aura of beauty. A picturesque pond welcomed me with autumn colored trees around it and the motionless water showed its total reflection. Very beautiful. It’s Bulguksa! As the name indicates, it was designed as a realization of the blissful land of the Buddha in the present world. It was intended to be the happy land where all beings are released from the suffering by following Buddha’s teachings. Meaning, the temple had to be not only faithful to Buddha’s teachings but beautiful as well. It works, I felt it.

I stopped for a while in the gate with four statues of heavenly gods inside as temple’s guardians, watching some Koreans gave a slight bow to each god with both palms met in front of the chest, some others passed as nothing was important. From the gesture and the intimidating stares of the gods, they looked like asking me the reason going to Bulguksa. Hmm.. I thought of this Korean trip. Bulguksa Temple was in my bucket list since my first plan going to South Korea last year. But it’d never happened because of the warming political situation between North and South Korea in the first quarter of 2013. I had to cancel the trip although all was ready. Well, no regret at all, there’s price I had to pay for extending my trip in Japan instead of going to South Korea at that time. Fortunately I got the beautiful chance to go in autumn. In November 2013 my dream came true, arrived in Bulguksa temple, -a complex of beautiful wooden buildings and stone pagodas built upon decorative stone terraces-, and here I was standing on my own feet.

It was a heartwarming moment, like a kid got unexpected gift. I walked slowly, enjoying moments in this representative relic of Gyeongju, and was known worldwide for the amazing details and the touch of stone relics.  In front of my own eyes, I saw the famous White Cloud and Blue Cloud Bridge which are the thirty-three stone-stairs adorned with elaborate railings, -which symbolize the thirty-three heavens-, that originally to reach the elevated compound of the temple.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Then after a while, avoiding the crowds of people at Tourist Information hut, I went to a small shrine on the right side which was less people visited but interesting. There were stone tub filled with water for purifying all beings before praying. Looking at the tub with lotus petals in each foot and details where the water comes out, reminded me of Yoni, as one pair with Lingam in Hinduism.

I walked slowly and entered the main yard from the right side of the temple. The long wooden terrace was so lovely with adorned detail pillars and roof. I closed my eyes and took a deep breath trying to absorb all the beauty of the temple. My mind was flying back many centuries ago, giving me a flash of its history. Originally called Hwaeombeomnyusa or Beopryusa Temple, a small wooden temple, -built in 528 during the reign of King Beop-Heung-, was for the Queen to pray for the welfare of the kingdom. It took hundreds years to be redeveloped. The current temple was built by Kim Dae-Seong, -a devoted believer and the architect of the original temple with a remarkable eye for beauty and legendary reincarnated into the prime minister-, in 751 during the reign of King Gyeong-Deok and completely built in 774. After that the temple logged a long history of reconstructions and numerous renovations from the Goryeo Dynasty to the Joseon Dynasty included burned down during the Imjin Waeran war following Japanese Invasion in the end of 16th century. Then it was reconstructed again in 1604 during the reign of King Seon-jo of the Joseon Dynasty and had continuous renovation for 200 years.

The chitchat of other visitors woke me up from the daydreaming and realized that I’d been on the land of Seokgamoni Buddha as part of the temple’s main yard. Actually Bulguksa’s cloistered sanctuary is divided into two, the land of Seokgamoni Buddha and the land of Amitabha, means the Buddha of Boundless Light. The land of Seokgamoni Buddha, -the impure land-, is larger and higher than Amitabha’s, the pure one. Some said that Seokgamoni, or Sakyamuni, is praised as the more noble to appear in the mundane world out of his great compassion.

One of the buildings in the land of Seokgamoni Buddha is Daeungjeon, hall of great enlightenment, which enshrines a gilt-bronze Buddha and is the main hall for worshiping. The other important one is  Musolijeon, the Hall of No Discourse, as the lecture hall.

But I was amazed with view in front of me. Between Daeungjeon and Jahamun (Mauve Mist Gate), stand the famous pagodas, Tabotap, the Pagoda of Many Treasures, and the other should be the Seokgatap (the Seokgamoni Pagoda). Unfortunately on my visit, the sacred Seokgatap was being under 3 years restoration.

I walked into the Jahamun, the Mauve Mist Gate that is full of delicate detailed decoration on the wooden roof and pillars. Jahamun was the gate for people to reach Daeungjeon from the outside by using staircases. But considering the age and value, visitors cannot use the staircases anymore.

The staircases, although they are called as bridges, have deep meaning. The staircase which is in the lower part is Cheongungyo or Blue Cloud Bridge and has 17 steps. The staircase which is in the upper part is Baegungyo or White Cloud Bridge and has 16 steps. These staircases symbolically connect the earthly world below and the world of Buddha above. In the other version, some wise people said that the staircases are the symbol of man’s journey from youth to old age.

Back to the land of Seokgamoni Buddha,  among the many treasures of Bulguksa, the famous pagoda pair in the main yard have an unmatched reputation. Seokgatap and Tabotap, have stood for over 12 centuries surviving the flames of war that engulfed all of the temple’s original wooden structures. And it’s surprising me that a legend inspires the arrangement of them. When Seokgamoni preached the Lotus Sutra, the pagoda of Prabhutaratna emerged out of the earth in witness of the greatness and truth of his teaching. Some other said that both pagodas are the manifestations of the Buddha’s contemplation and detachment from the world. Because of the legend and amazing history of them, none of thousands pagodas scattered across South Korea surpass those two pagodas for the philosophical depth. 

Seokgatap

Based on many sources, Seokgatap, or the Seokgamoni Pagoda, represents the finest traditional style of Korean Buddhist pagodas that was inspired from China’s one. As proven by many people, the three-story pagoda is admired for its proportions, simple with minimal decoration but graceful style. Unfortunately I was not able to see the glorious height of Seokgatap because of its current restoration process.  However, during restoration when the second roof was removed, it’s showed a gilt bronze casket containing, for those who believe, was the relics of Sakyamuni.

It was like in 1966, during repairing a collection of precious treasures was found in the Seokgatap. They included a paper scroll of the Pure Light Dharani Sutra, printed between 706 and 751. The scrolling Sutra, 6m long 7cm wide, was one of the world oldest printed materials. The other treasures found were three sets of beautiful decorated relic containers including a gilt-bronze box in elaborate openwork, a gilt-bronze box with a fine engraving of bodhisattvas and heavenly gods, and a glass bottle containing 46 grains of holy relics. No wonder Seokgatap is so sacred.

Beside the sacredness of Seokgatap, I was told about its legend. Among the Koreans, Seokgatap is also called as the Pagoda without Reflection. It referred to the sad legend of Asanyeo, wife of the Asadal, who built this pagoda. The poor woman came to Gyeongju to see her husband as years had gone without any news. At that time, no outsiders were allowed to come into the holy site and she had to wait by a pond near the temple until the the water showed a reflection of the pagoda. But that reflection was never showed up, she gave up waiting in vain and finally she threw herself into the pond.

Tabotap

This beautiful pagoda is symbolizing Prabhutaratna Buddha, -the one that emerged out of the earth in witness of the greatness and truth of Seokgamoni’s teaching. The highly ornate pagoda representing the skill of Silla’s craftsmanship, looks like a shrine with railings supported by a square slab roof on four pillars, and seems unbelievable that was constructed of stone. Those pillars stand on an elevated platform approached by four staircases in each side with 10 steps, symbolizing the 10 paramitas, or great virtues in Buddhism.

Considering the name of Tabotap which is called as Pagoda of Many Treasures, there was no record about the treasures found inside it.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Slowly I continued to walk to the quietness of the backyard by using a steep stairs. I saw here Gwaneumjeon or Avalokitesvara’s Shrine, the Boddhisattva of Perfect Compassion. It is called as the shrine of the One who Listens to the Cries of the World. I noticed that few people worshiped here. Perhaps it was a good sign that most Koreans had solved their own problems.

From Gwaneumjeon, I had to go downstairs for reaching Birojeon. It was similar with the adjacent building with more people worshiped. Birojeon is the hall in which enshrined the Golden Bronze Vairocana Buddha Sitting Statue, which was believed for the Truth, Wisdom and Cosmic Power. At the corner of Birojeon’s yard, there is a small building which houses the Sarira or Relic Stupa.

Leaving Birojeon then passing the Beophwajeon, -the area of stone foundation-, and my journey in Bulguksa was approaching the land of Amitabha, the pure land with Geungnakjeon or the Paradise Hall as the main hall. From many resources, Amitabha, -who vowed that all who believed in him and   called upon his name would be born into his paradise-, has a broad following among Koreans. It’s proven by lots of fresh beautiful and colorful flowers arranged in front of this hall and of course, the crowds in the Shrine. In front of this main hall, stand the Anyangmun Gate -the Pure Land Gate- and a big golden mouse statue in between.

Similar to Jahamun Gate in the eastern of the temple, Anyangmun Gate in the western part was the gate for people to reach Geungnakjeon from the outside by using staircases. But, again, considering the age and value, of course visitors are not allowed to use the staircases anymore.

These are 18-step stone staircases, the lower part of staircase called Yeonhwagyo or Lotus Flower Bridge and has 10 steps. Long time ago, this staircase was graced by the delicate lotus blossom carvings. The upper part of the staircase called Chilbogyo or Seven Treasure Bridge and has 8 steps. It is said that only those who reached enlightenment could use these stairs. Although these structures are smaller than the eastern one, both are similar in design and structure form.

My journey in Bulguksa was almost completed. I stopped for a minute in a building that stores a big heavy bell. My mind flew back again centuries ago and the sound of the bell heard over every corners of the temple, waking up the monks in grey robe to start the day with their daily routines.

Then I was back again in the front yard of Bulguksa Temple in the western side. From this corner people usually take the picturesque Bulguksa Temple in Autumn, with red and yellow colorful trees. My eyes absorbed the beauty in front of me. This was truly heaven on earth.

From the western corner I walked slowly to face the central façade of the temple. I saw Beomyeongnu or the Overflowing Shadow Pavillion, an elevated center building between Anyangmun and Jahamun Gate and originally constructed in mid of 8th century for placing the Dharma Drum. Its shape represents of Mt. Sumeru, an imaginary mount considered to be in the center of the universe in Buddhist cosmology. The current structure was restored in 1973, which is smaller than the original. Particularly unique are the stacked pillars, using 8 differently nice shaped stones and their placement, facing each of the four cardinal directions. The workers seemed in meditative state when putting the stones into the arrangement. 

Before leaving Bulguksa, I sat facing the temple and enjoyed the view. Closing my eyes and imagined a lotus pond that once existed beneath the staircases leading up to the main courtyard gave a fresh atmosphere. Seems I could smell the fragrance of heaven here…