Nepal DTD Trip, Once Again, Namaste Kathmandu


Work in the invisible world at least as hard as you do in the visible – Rumi

Kembali ke ‘rumah’

Saya mendadak terbangun dari tidur, merasakan naiknya intensitas frekuensi dari dalam diri agar kesadaran terjaga. Dengan segenap upaya saya membuka kedua mata yang terasa lengket lalu menoleh ke jendela kanan. Gelapnya malam menghilangkan pemandangan yang seharusnya indah, yang pernah saya saksikan dengan mata kepala dan mata hati, dua tahun silam. Himalaya bertudung salju yang berjajar indah, seakan bersama semesta menyambut kedatangan sebuah hati. Namun kini, bulanpun malu tampil, malam tetap berhias pekat, seakan melempar sebuah tanya, siapkah saya kembali ke rumah, dengan apapun yang ada?

Tanpa diberitahu oleh pilot penerbangan pun, saya mengetahui dalam beberapa saat lagi kaki ini akan menjejak kembali di Kathmandu. Kelap-kelip lampu di tanah mulai satu per satu terlihat, yang semakin banyak, semakin mengelompok. Seperti rasa yang muncul di dalam hati ini. Sebuah rasa yang semakin membuncah. Saya kembali ke Nepal, tempat dua tahun lalu menjalani hari-hari penuh dengan keajaiban. Luar biasa, seperti kembali ke rumah.

Dan kali ini tetap saja dengan sejuta harap kepada Yang Maha Mengasihi agar berkenan melimpahkan anugerah yang sama…

Namaste

Akhirnya roda pesawat itu menjejak bumi yang dua tahun lebih dihajar gempa besar yang meluluhlantakkan banyak tempat itu. Saya menutup mata, memindahkan sejenak kenangan pahit dampak gempa di Nepal ke sebuah sudut hati yang terdalam. Menyimpannya agar diam disana lebih lama untuk bertransformasi kearah kebaikan. Kali ini, dalam perjalanan ini, tak boleh ada airmata duka karena bukankah perjalanan ini sebuah undangan yang luar biasa? Bukankah saya diijinkan memiliki impian dan dibuncahkan keberanian untuk menjalaninya? Ini sebuah perjalanan untuk mewujudkan impian… A Dare to Dream Trip!

Pesawat akhirnya berhenti dan bandara Tribhuvan International Airport pun menyambut penumpang. Satu per satu penumpang keluar menuruni tangga termasuk saya. Di ujung tangga, di bawah, saya merendahkan tubuh lalu menyentuhkan telapak tangan ke bumi Nepal.

Namaste, Nepal…

Lalu saya berdiri menunggu Pak Ferry kemudian berjalan perlahan kearah bus untuk menuju terminal kedatangan. Saya terdiam menggigit bibir karena potongan-potongan kenangan indah dua tahun lalu di Nepal menghajar benak tanpa jeda. Saya seakan hidup dalam kenangan melewati lorong yang sama dan mengikuti alur penumpang di bandara yang sama. Suasana yang sama. Hanya kali ini malam, dulu siang. Tetapi sejatinya memang tak banyak beda.

Di Bandara

Proses imigrasi yang sama walau kini bisa lebih cepat dengan bantuan terminal pintar yang mengambil foto wajah. Tetap dengan harga visa yang sama, 25USD untuk 15 hari. Wajah-wajah Nepal yang serupa dengan senyum yang segera menghias bibirnya. Masyarakat yang ramah! Dan kembali terdengar di telinga tutur bahasa yang dua tahun lalu terasa asing yang hingga kini pun masih terasa tak biasa di telinga. Ah, saya saja yang tak cepat belajar bahasa.

Sedikit letih akibat lamanya penerbangan, saya mengikuti alur penumpang dari sejak imigrasi hingga akhirnya pengambilan bagasi. Ditunggu satu saat dua saat, kedua ransel yang terbungkus plastik tak muncul juga hingga bagasi terakhir. Belum sempat pak Ferry dan saya diterpa bingung, sebuah sapa menggugah perhatian saya. Di belakang kami, sesosok tubuh besar menuturkan dalam bahasa Nepal sambil menggerakkan tubuh menjelaskan maksudnya. Ia menunjuk ke bawah, apakah ini yang dicari? Di kakinya, ransel kami yang terbungkus plastik tanpa kurang suatu apapun. Dan saya pun mengangguk memahami maksudnya. Seketika sebuah senyum menghias wajahnya. Kami juga. Ah, sebuah sambutan bahagia yang nyata.

Welcome to Nepal – menuju lorong VOA

 

Kami menenteng ransel yang kini menjadi sulit diangkat karena terbungkus erat plastik sambil menggendong daypack kami. Ini semua gara-gara tidak terjaminnya pengamanan bagasi di Jakarta. Sudah terlalu sering pejalan bertukar cerita tentang maling bagasi yang dibiarkan merajalela di bandara. Jangankan yang bernilai, makanan dan oleh-oleh dalam tas penuh pakaian kotor pun di-embat. Mana mungkin saya membiarkan peralatan trekking yang susah payah saya kumpulkan untuk hilang tak berbekas oleh manusia bejad di Jakarta? Jadi walaupun ransel ini menjadi susah diangkat, mitigasi ini jauh lebih baik.

Sambutan

Kemudian akhirnya kami sampai di depan pintu keluar. Mau tak mau saya tersenyum. Teringat betapa gila saya mencari nama sendiri diantara ratusan nama yang tertera pada kertas yang dibawa penjemput. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tetapi ini diantara ratusan pasang mata laki-laki yang melihat ke diri saya langsung di siang hari bolong itu. Nekad. Mengingat itu, saya cerita pengalaman itu secara sekilas  kepada Pak Ferry. Dia tersenyum lebar lalu mengajak melakukan hal yang sama lagi. Karena selain itu, apalagi yang bisa dilakukan?

Tetapi kali ini, terbaca nama saya pada sebuah kertas di dekat pintu. Ah, sebuah permulaan yang baik. Begitu cepat. Saya mendatangi mereka dengan senyum, seakan memberitahu jati diri tanpa perlu bicara. Seorang dari mereka memperkenalkan diri sebagai pemandu utama kami lalu mengalungkan bunga selamat datang kepada pak Ferry dan saya. Ah, begitu cantik penyambutan ini. Sebuah permintaan maaf sekaligus terima kasih secara otomatis keluar dari bibir saya karena mereka telah menunggu begitu lama di bandara karena tertundanya penerbangan kami. Tapi semua itu tak menjadi soal, karena tak lama kami telah berada di dalam jeep yang membawa ke hotel di kawasan Thamel, sebuah tempat terkenal untuk hang-out di Kathmandu.

Saya pun bertukar cerita kepada Dipak, tour & trekking guide kami, bahwa saya senang bisa kembali ke Nepal yang langsung disambut berbagai pertanyaannya mengenai perjalanan saya sebelumnya itu. Ah, bagaimana mungkin saya melupakan perjalanan penuh keluarbiasaan itu? Bisa tak habis-habis saya bercerita…

Tak ingin memonopoli dengan cerita perjalanan Nepal sebelumnya, pembicaraan saya alihkan dengan menunjukkan Kuil Pashupatinath yang saat itu kami lalui, kepada Pak Ferry yang tentu saja disambut dengan sangat antusias karena ia memiliki banyak kawan Hindu yang menanyakan mengenai Kuil Pashupatinath yang suci. Namun Kuil Pashupatinath pada malam hari hanya berhias temaram dan sedikit lampu walau tetap memendarkan kemagisan. Hanya sejumput harap untuk bisa mengunjungi kuil itu sekembalinya dari trekking…

Lalu setelah melalui beberapa turunan dan tanjakan perbukitan serta menembus jalan-jalan kecil di Kathmandu, saya menebak telah memasuki kawasan Thamel yang diwarnai oleh orang-orang yang mulai menutup tokonya. Kami memang datang terlambat. Sudah banyak toko yang menutup pintu tetapi Dipak mengatakan bahwa ada toko yang bisa buka sampai malam agar kita bisa membeli peralatan trekking yang kurang.

Pemeriksaan

Sesampai di hotel, kami disambut oleh Siddhartha, sang manajer dari perusahaan pemanduan trekking yang kami gunakan. Sambil menunggu proses check-in, seluruh peralatan trekking kami diverifikasi olehnya untuk memastikan bahwa trekking akan berjalan dengan aman. Mereka meminjamkan kami trekking pole, botol minum, tas besar tahan air, sleeping bags dan lain-lain. Oleh sebab itu sisanya perlu dipastikan kecukupannya, termasuk jaket, jas hujan, ransel, celana trekking, jumlah pakaian dan lain-lain. Bahkan sepatu yang digunakan juga diperiksa. Mungkin sebagian orang bisa merasa terganggu dengan proses verifikasi ini, tetapi saya mengambil sisi positif. Bukankah ini perjalanan ke alam yang telah mereka kenali? Bukankah mereka lebih paham? Bukankah kami berasal dari negara tropis yang tak pernah kenal salju? Bukankah kami tidak pernah menjajaki gunung-gunung di Himalaya ini? Apalagi saya yang sama sekali belum pernah mendaki gunung. Lalu apa salahnya belajar dari orang yang lebih ahli dan lebih memahami Himalaya?

Persiapan dari Jakarta membuahkan hasil karena seluruh peralatan trekking kami lulus verifikasi dan tentu saja kami tetap diajak belanja untuk menambah peralatan di toko yang masih buka. Pak Ferry berkenan melihat jaket-jaket dengan beragam merk dengan spesialisasi outdoor yang terkenal. Akhirnya beliau membeli satu jaket termal tahan air TNF seharga kurang dari 1 juta yang jika di mal terkenal di Jakarta dipatok harga sekitar 5 juta. Kapan lagi bisa beli dengan harga itu???

Pegunungan Himalaya Bertudung Salju

Kehadiran

Kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Keriuhan Thamel hanya menyisakan degup-degup musik dari tempat yang masih penuh pengunjung. Saya memilih kembali ke hotel karena sudah pernah menyusuri Thamel agar bisa menghemat energi untuk trekking keesokan harinya. Ya, besok kami memulai perjalanan itu.

Sendiri di kamar hotel membuat saya terpaku dalam hening, menyadari hadirnya diri, seutuh-utuhnya, di ‘rumah’, di bumi Nepal yang bagi saya selalu magis. Saya telah menempuh perjalanan dari pagi hingga malam hari hingga bisa berdiri di sini, di bumi tempat Himalaya sambung menyambung. Getarnya terasa langsung dalam jiwa. Esok hari, kaki ini mulai melangkah, satu demi satu, menapaki bukit, menuruni lembah.

Sepertinya saya masih tak percaya, tetapi udara yang saya hirup dan saya lepaskan adalah udara yang sama. Udara Himalaya.

Dan bagi saya hanya ada satu Himalaya di dunia. Himalaya yang itu.

Tiap Langkah Penuh Cinta Untukmu, Pa


“Maaf, permisiii…”

“Sssh… Jangan, Tidak apa-apa, kita tunggu saja,“ selanya lirih

“Tidak baik menyela orang yang sedang mengambil makanan”, lanjutnya hampir tak terdengar

Sambil mengelus-elus pundak Papa dari belakang, saat itu saya dapat memastikan seperti apa wajah penuh cinta yang tak mampu menghapus guratan-guratan ketampanan walau termakan usia. Pandangan penuh kebaikan hati, berhiaskan senyum yang tersungging. Sifat Papa yang lebih mengutamakan orang lain ini, membuatnya sering terlibas oleh kejinya manusia tak berhati yang menjalankan hidup tanpa makna. Tetapi semua itu tak menghentikannya dari berbuat baik. Seperti apa yang dikatakan di sebuah hotel di Jogja pada tahun lalu…

***

Semua berawal ketika Papa akhirnya mengalah pada serangan stroke yang bertubi-tubi dan menjalani hidup keseharian di atas kursi roda. Setiap hari, sepanjang tahun dan bertahun-tahun. Hanya memiliki rute ke dokter, ke rumah sakit, ke keluarga besar, mal atau tempat yang dekat rumah. Sebuah rute yang sangat memenjarakan bagi beliau yang mencintai kebebasan untuk bepergian. Bukankah para difabel itu seperti kita juga, yang perlu rehat sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, berwisata, apalagi bepergian adalah hobbynya. Dan walaupun tak ingin terjebak pada keharusan penggunaan istilah difabel, disabled, differently-abled, handicapped atau apapun istilahnya, -karena pada dasarnya berujung pada gambaran yang sama sebagai pengguna kursi roda-, keinginan saya hanya satu yaitu memberinya kebahagiaan saat masih diberi kesempatan. Dan semua terjadi tepat dan indah pada waktunya karena hidup memberi pembelajaran penting tentang sebuah sudut pandang yang jarang atau tak pernah saya gunakan sebelumnya.

Dan hikmah itu terserak dalam perjalanan darat bersamanya ke Jogja dan Jawa Tengah tahun lalu.

Meskipun dengan sebanyak-banyaknya upaya untuk memesan hotel, memilih restoran, obyek wisata dan mengatur perjalanan yang nyaman dan ramah difabel, hal yang di luar perkiraan kerap terjadi karena tak cukupnya saya mengambil sudut pandang Papa yang menggunakan kursi roda.

Papa tak pernah minta menginap di hotel mewah penuh bintang. Kaki Papa sulit digerakkan apalagi diangkat sehingga tak perlu ada bath-tub. Mandi pun Papa harus dibantu dalam keadaan duduk, sehingga tak perlu ada kelembutan air laksana hujan yang jatuh dari kepala shower yang fix. Villa split-level sudah pasti dicoret dari daftar. Tapi yang terpenting, kursi roda harus bisa masuk ke kamar mandi. Dan saya mengira sudah memikirkan semuanya…

The Only Disability in Life is A Bad Attitude (Scott Hamilton)
The Only Disability in Life is A Bad Attitude (Scott Hamilton)

Pembelajaran dimulai ketika sampai di Jogja, dan hendak menurunkan Papa di hotel. Tak banyak hotel yang menyediakan tempat berhenti dan turun khusus untuk para difabel sehingga pengendara lain di belakang menjadi tak sabar dan membunyikan klakson karena dirasa terlalu lama dalam menurunkan penumpang. OMG. Tetapi Papa tersenyum dan meminta kami memindahkan mobil lalu menurunkan Papa dan semua peralatannya di tempat parkir daripada di depan lobby. Mengalah.

“Mereka tidak tahu, kan?” kata Papa menenteramkan.

Papa yang fisiknya terbatas lebih memilih untuk mengalah dari orang yang lebih muda, lebih sehat dan fisiknya lebih mampu. Bagi manusia normal, turun dari mobil sesederhana naik. Tetapi tidak sesederhana itu proses menaikturunkan Papa yang fungsi kakinya sudah sangat-sangat terbatas.

Yang jelas, perlu cukup jarak dengan mobil lain sehingga tersedia ruang antara pintu mobil yang terbuka dengan kursi roda yang disiapkan terlebih dahulu di posisinya. Lalu kaca jendela di dekat Papa perlu diturunkan karena bisa jadi pegangan Papa, kemudian membantu menggeser posisi duduk Papa mulai dari menurunkan kaki perlahan hingga bisa menjejak sambil dipapah. Kami tetap harus memotivasi Papa agar memperbaiki gesture dan melangkah sekali, dua kali sambil bertumpu pada yang membantu. Kemudian berputar, melangkah mundur, satu, dua langkah yang sangat pelan namun sangat berarti buat orang yang tak mampu berdiri normal, lalu perlahan mendudukkan Papa. Setelah mengembalikan posisi pijakan untuk tempat kaki papa dan membebaskan rem, kursi roda baru bisa didorong.

Fisik pendorong harus cukup kuat untuk mendorong atau menahan bobot papa yang lebih dari 70kg saat tanjakan dan turunan. Jika ada setengah anak tangga, maka kursi roda harus diungkit sehingga roda kecil di depan terangkat. Bila jalan menurun yang tidak landai, kursi roda harus berjalan mundur sehingga bisa ditahan. Paling tidak harus ada satu orang yang membantu. Belum lagi jika turun hujan atau panas terik sehingga perlu orang yang memayungi.

Tetapi segala keruwetan itu hilang jika melihat Papa bersuka ria dan tertawa lebar bersama keluarga dan kerabat di suasana yang berbeda dan jauh dari Jakarta. Sejujurnya ada bahagia luar biasa terasa mekar di dalam. Saya hanya bisa mengerjapkan mata membuang airmata bahagia yang mengembang.

Dari beberapa kesempatan, saya belajar dari Papa yang menyadari tak sedikit orang yang sepertinya merasa berada di tempat dan waktu yang salah karena berdekatan dengan Papa saat naik atau turun mobil. Mereka tampak gagap dan gugup untuk membantu, karena takut salah, atau takut menyakiti, atau bingung harus berbuat apa. Tetapi Papa tak mau mereka kehilangan muka, karenanya Papa mengeluarkan cerita humor sambil tertawa lebar sekaligus berterima kasih atas niat mereka yang sudah tampak di wajah.

Being Unconscious is the Ultimate Disability
Being Unconscious is the Ultimate Disability

Namun bagaimana pun keberadaan sebuah kursi roda selalu menjadi perhatian. Mungkin Papa telah terbiasa, namun saya belum. Rasanya jengah melihat banyak mata memperhatikan walaupun entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Hanya karena Papa terlihat berbeda, hanya untuk memuaskan mata melihat, tanpa sebuah kesadaran apapun. Apakah pengguna kursi roda itu aneh? Apakah para difabel itu sebuah tontonan? Lagi-lagi Papa hanya melempar senyum pada mereka yang seakan melihat hantu.

Sarapan di hotel merupakan kesempatan menjadi pusat perhatian lagi, apalagi pengaturan sebagian meja hidangannya terletak di luar ruang yang satu-satunya jalan digunakan tamu untuk mengantri, termasuk untuk jalan kursi roda. Dan itulah yang terjadi sehingga saya menuliskan perkataan Papa di awal tulisan ini. Karena Papa yang hendak kembali ke kamar karena sudah selesai sarapan, terhalang oleh antrian tamu yang hendak mengambil makanan. Bagi orang normal, akan mudah meminta jalan untuk lewat, tetapi tidak demikian bagi kursi roda dan pendorongnya.

“Maaf, permisiii…” kataku berharap orang di depan menyadari kehadiran Papa

“Sssh… Jangan, Tidak apa-apa, kita tunggu saja,“ selanya lirih

“Tidak baik menyela orang yang sedang mengambil makanan”, lanjutnya hampir tak terdengar, tapi membuatku berhenti mendorong. 

Dalam sebuah kesempatan, kami mengajak Papa untuk melihat sunset di Candi Ratu Boko. Namun karena suasana liburan, saat itu tempat parkir penuh. Saya menarik nafas, karena melihat akses kursi roda yang telah disediakan terhalang mobil yang parkir didepannya dan tidak memberikan ruang sama sekali. Lagi-lagi saya merasakan bagaimana menjadi orang yang terpinggirkan, yang harus mengalah kepada suara mayoritas. Mungkin di benak sebagian besar orang hanya mempertanyakan jumlah kemungkinan pengguna kursi roda yang pergi berwisata. Jika kecil atau tidak signifikan, bukankah lebih baik tempat luangnya digunakan untuk orang lain yang lebih banyak dan lebih perlu? Atau bisa jadi karena tidak ada sanksi karena memanfaatkannya, entahlah…

Awalnya kami ingin membatalkan, tetapi Papa bersemangat untuk melihat suasananya dan bersedia dipapah. Sambil memapah Papa yang berjalan seperti kepiting di antara mobil, tertatih-tatih mencoba membuat satu, dua, tiga langkah yang sangat menguras energinya karena stroke telah membuat kaku otot-ototnya, membuat hati saya remuk redam. Wahai pengguna mobil yang telah mengambil ruang, bersyukurlah masih memiliki kaki normal sehingga dapat digunakan untuk berjalan. Setelah berjuang dengan titik-titik peluh di lehernya, akhirnya Papa bisa duduk kembali di kursi roda. Walau lelah itu tidak ditampakkan di wajahnya, Papa merasa gembira bisa datang ke Ratu Boko untuk melihat Prambanan di kejauhan dan melihat nuansa sunset di langit.

It's Not Our Disabilities, It's Our Abilites That Count (Chris Burke)
It’s Not Our Disabilities, It’s Our Abilites That Count (Chris Burke)

Salah satu momen menyenangkan selama liburan adalah acara makan di restoran favorit, tetapi kali ini saya harus mencari restoran yang benar-benar nyaman dan bisa diakses Papa. Di Jogja banyak restoran terkenal yang nyaman dan katanya ramah difabel walaupun tidak benar-benar ramah. Ada yang hanya memaksakan membuat jalan kursi roda tapi tidak bisa dimanfaatkan. Mungkin lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Namun terlepas dari itu, ada juga restoran yang memiliki karyawan yang sigap menolong, dan itu membuat Papa langsung jatuh hati. Orang santun tanpa diminta langsung menolong memang dicintai banyak orang. Orang-orang yang memiliki kesadaran hidup dan berbagi. Rasanya luar biasa bahagianya melihat Papa bisa makan dengan suasana nyaman bahkan bisa terlibat obrolan dengan orang-orang di balik restoran. Rasanya homey.

Dan akhirnya ketika meneruskan perjalanan dan harus menginap di kota yang tidak memiliki pilihan lain selain di hotel yang tidak ramah difabel dan bertangga belasan. Bahkan di sebuah ibukota kabupaten di Jawa Tengah tidak menyediakan aksesnya sama sekali. Tidak ada jalan lain kecuali memapah Papa setengah mengangkat. Terlepas dari ketidakadaan jalan akses difabel, kami bersyukur di tempat itu, karena selain dibantu oleh para karyawannya, kami bahkan bisa memotivasi Papa untuk melangkah. Belum pernah Papa naik tangga sebanyak itu dan semangat keberhasilan kami pekikkan tiap satu langkah menapak tangga dan ketika berhasil, tidak hanya papa yang senang. Kami semua luar biasa gembira dan takjub akan kekuatan cinta.

Bahkan ketika sampai di pemakaman keluarga karena Papa ingin menyekar keluarganya yang telah mendahului menghadap Yang Maha Kuasa, kami memapahnya karena memang belum ada akses kursi roda. Papa sangat berbahagia bisa sampai di sana untuk tiap langkahnya yang tertatih. Ada airmata menitik jatuh, karena bisa pergi melakukan ziarah, sesuatu yang tak terbayangkan olehnya setelah duduk di kursi roda selama ini. Melihat papa menitikkan airmata, saya melengos, tak mau terlihat bahwa mata saya pun ikut-ikutan basah. Tetapi keinginan membuat Papa, sebagai difabel, berbahagia karena bisa berwisata, jauh lebih besar daripada semua kerepotan yang ditimbulkan. Walau tempatnya ramah atau tidak ramah untuk difabel, membuat orang lain berbahagia, apalagi ayah sendiri,  itu jauh lebih membahagiakan.