Ketika Rasa Kehilangan Mendera


 


November 2013 di Gayasan National Park, Korea Selatan 

Di musim gugur malam datang lebih cepat. Saya melangkah pulang mengikuti jalan setapak yang masih menanjak di tengah hutan, sendirian dalam kelam dan dingin. Manusia-manusia lain sudah lenyap dari pandangan, langsung masuk ke rumah setelah gelap datang. Apalagi mereka hampir semua tak bisa berbahasa Inggris. Saya hanya bisa mengira-ngira arah pulang ke terminal bus karena sebelumnya, seperti penumpang lain, diturunkan di tengah jalan dan bukan di terminal karena macet total akhir pekan. Saya menepis rasa takut yang terus menyerang, menahan airmata yang hampir jatuh, mencoba fokus dari kebingungan yang mendera. Praktis saya di ujung putus asa karena kehilangan arah

Akhir Tahun 2014 di Macau 

Di depan konter check-in hotel itu, muka saya langsung pias, -tak bisa melakukan open-deposit-, karena tak menemukan dompet di dalam tas meskipun isinya sudah dikeluarkan semua. Dompet saya hilang! Paniknya tak dapat dirangkai dalam kata-kata. Masih untung perempuan cantik di balik konter itu membolehkan saya sekeluarga memasuki kamar karena semua sudah dibayar lunas. Di dompet yang hilang itu tersimpan semua lembaran uang dengan nominal besar dan kartu-kartu kredit yang menjadi andalan kami untuk berlibur akhir tahun. Dan seketika liburan itu berada di ujung tanduk…

Desember 2015 di Hoi An, Vietnam

Pagi itu di tempat tidur seperti ada yang membangunkan saya untuk memeriksa kembali isi tas. Ketika saya melakukannya, saya tidak dapat menemukan paspor di tempatnya ataupun di tas lainnya! Seketika rasa dingin menyerang ke seluruh permukaan kulit. Setahun lalu dompet, kini paspor! Saya panik tapi mencoba berpikir dengan begitu intens. Membuat rencana. Siapa tahu paspor jatuh di jalan sepanjang malam sebelumnya, harus ke kantor polisi untuk melaporkannya, harus terbang ke Hanoi untuk laporan kehilangan paspor di Kedutaan Besar Indonesia, harus menyiapkan uang tambahan untuk penginapan di Hanoi dan yang pasti sisa liburan pasti berantakan hanya karena paspor tidak ada di tas! Saya mandi yang tak terasa mandi, rasanya lunglai tak berenergi…

 

Siapapun tak ingin menghadapi halangan saat melakukan perjalanan, apalagi saat bepergian ke luar negeri. Namun tak pernah ada perjalanan yang selalu sempurna tanpa halangan. Seperti yang saya alami di atas, mau tidak mau tiga situasi karena rasa kehilangan di atas dan penuh kebingungan harus saya hadapi.

P1030976e
Sign to Haeinsa

Seperti saat hendak pulang di Gayasan National Park, -setelah selesai berkunjung ke Kuil Haeinsa-, saya hanya bisa berjalan berdasarkan intuisi, -sungguh seperti meraba-raba dalam gelap-, berjalan terus tidak tahu apakah benar atau salah arahnya. Saya benar-benar di ujung rasa putus asa namun saya tak mau menangis dan menyerah kalah. Menangis tidak menyelesaikan masalah bahkan memperlemah diri di saat harus tegar menghadapi kebingungan. Saya harus kuat dan hanya bisa terus berdoa untuk ditunjukkan jalan.

Bagi yang pernah membaca Ziarah (The Pilgrimage) atau juga Brida, novel-novel karangan Paulo Coelho, rasanya saya menapaki apa yang disebut di buku itu sebagai Malam Kelam. Dan saya hanya bergantung perlindungan dan kasih sayang kepadaNya. Sungguh saya belajar sungguh-sungguh bergantung total kepadaNya, berserahdiri secara total kepadaNya, memohon pertolongan. Dan apa yang terjadi?

Dan kemudian Dia mengirimkan pertolongan melalui dua orang lanjut usia di sebuah pondok yang saya temui akhirnya di ujung jalan setapak yang saya lalui. Tanpa perlu mengerti bahasa Inggeris, mereka menangkap maksud “bus” yang saya ungkapkan. Mereka berdua, dalam udara dingin, berjalan sebentar lalu menunjukkan arah lampu untuk naik bus berada tempat yang saya harus ikuti (kata terminal itu misleading karena tidak ada bus, kalaupun ada hanya 1 bus). Bagaimanapun, kedua orang lanjut usia yang membantu saya adalah malaikat dalam wujud manusia yang saya temui di ujung rasa putus asa karena kehilangan arah.

*

Situasi serupa penuh dengan kebingungan terulang di Macau. Kali ini saya bertanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh keluarga juga. Di kamar saya diam seribu bahasa dengan tensi yang meningkat karena situasi yang dihadapi. Saya hanya minta bantuan kepada keluarga untuk mencari tahu nomor telepon hotel di Hong Kong yang pagi harinya kami keluar, nomor kapal ferry yang kami gunakan dari Hong Kong ke Macau, nomor masing-masing pelabuhan hingga nomor taxi yang kami gunakan di Macau.

wallet1

Tanpa menghitung biaya roaming, satu per satu saya menghubungi mereka semua dan semuanya mengatakan tidak ada dompet hitam milik saya. Ada yang penuh empati ingin membantu dengan memberikan nomor telepon tempat yang terkait, tetapi hasilnya sama saja. Tidak ada!

Situasinya sangat serupa, saya mencoba terus tanpa henti hingga ke titik ujung usaha dan akan masuk ke dalam situasi ‘lepaskan atau terjebak pada penghambaan benda’. Seakan diingatkan akan batas ini, saya meluruh dan akhirnya berserah diri. Jika benda itu memang ditakdirkan dipinjamkan kepada saya, ia akan kembali. Bila tidak, biarlah saya menghadapi situasi lain yang berbeda yang memang harus saya hadapi. Saat itu, saya memohon izin untuk satu kali lagi menelepon sebagai upaya terakhir kalinya sebelum saya lepaskan semuanya. Terakhir!

Di Macau itu, saya tak tahu harus menangis atau bahagia ketika suara di ujung telepon mengabarkan dia, petugas tiket ferry di Hong Kong, menemukan dompet dengan ciri-ciri yang sama dengan dompet saya!

*

Saya ingat pagi di Hoi An, Vietnam itu setelah mengubek-ubek isi tas dan mengitari kamar hotel tanpa menemukan paspor dimana-mana. Lenyap dari tempatnya. Rasa dingin seperti tahun lalu kembali menjalar ke seluruh tubuh. Saya duduk di tempat tidur, lunglai dan bertanya dalam hati kepada Dia. Sungguhkah ini? Mengapa Engkau senang sekali bergurau kepada diri ini? Jika setahun lalu dompet, kini paspor.

passport1

Saat itu, meskipun kehilangan paspor, meskipun rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh dan memiliki plan A, plan B, plan C dan seterusnya untuk mengatasi situasi yang saya hadapi saat itu, ada rasa yang sangat berbeda! Jauh di dalam sana, saya merasa dicintaiNya, saya merasa disayang olehNya, saya berlimpah Kasih SayangNya. Ada ketenangan. Saya hanya diminta untuk percaya dan bersabar akan pertolonganNya. Sebuah rasa yang muncul dalam jiwa. Tidak pernah ada yang hilang, Dia menyimpannya untuk saya.

Tapi saya tetap manusia yang penuh tarik ulur yang hebat, yang merasa mampu mendapatkan hasil dari rencana-rencana yang dibuat. Dengan perang antara logika dan rasa, saya berangkat meninggalkan kamar dengan segudang rencana namun tetap percaya PertolonganNya akan datang. Help is on the way!

Berharap mendapat pertolongan pertama dari konter depan, saya mengungkapkan kehilangan paspor sambil mengatakan hendak check-out. Petugas itu lebih concern dengan informasi kehilangan paspor daripada proses check-out. Ia tampak berpikir sebentar, lalu berbalik mencari dokumen menginap di balik konter. Ia berbalik kembali menghadap saya sambil memperlihatkan folder transparan dengan paspor saya di dalam folder itu!

***

Siapapun tak ada yang suka mendapatkan halangan dalam perjalanan. Namun halangan ada, bukan tanpa tujuan. Halangan itu ada untuk kebaikan kita sendiri dan dapat menyempurnakan perjalanan, termasuk perjalanan hidup. Seperti musuh, dari halangan dan kesulitan, kita bisa belajar sangat banyak untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Yang kita perlukan hanya satu, berpegang pada Dia yang selalu ada untuk kita dimanapun kita berada, kapanpun. Selalu dan selamanya.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-36 ini bertema The Invisible Hand agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Dompetku Hilang di Luar Negeri…!!!


A Lesson with Love
A Lesson with Love

Macau, hari ketiga liburan akhir tahun 2014.

Saat check-in, Customer Service Hotel di Macau itu menunggu saya membongkar tas mencari dompet. Dan isi tas telah tumpah ruah tapi dompet isi kartu kredit dan uang tunai tidak ada wujudnya sama sekali. Hilang! Dompet saya hilang! Dan saya di Macau!!

Tetapi tetap saja saya orang Indonesia yang masih beruntung! Untung kamar sudah dibayar lunas sehingga kunci kamar bisa diserahkan tanpa harus deposit. Petugas itu mungkin kasihan terhadap saya, atau bisa juga supaya saya cepat menyingkir karena antriannya sudah panjang.

Di kamar, saya terduduk di karpet di depan jendela besar selebar kamar, membiarkan pikiran kacau balau berkecamuk dengan segala macam rasa, -galau, jengkel, takut, panik, kalut, cemas, dan segala macam rasa negatif lainnya yang menjadikan jantung berdebar, nyawa serasa hilang-, dalam diam. Segala imajinasi buruk tergambar di benak. Tidak ada cukup uang untuk beli tiket kembali ke Hong Kong. Tidak ada cukup uang untuk hotel bila mau menunggu tanggal pulang, kalau pulang sekarang, tidak cukup untuk beli tiket, belum lagi soal makan. Semua kartu kredit, kartu ATM, KTP, uang! Dompet yang lain hanya ada kurang 200 HKD. Terbayang jelas, liburan yang baru 3 hari dijalani sudah hancur lebur. Sungguh semua bayangan buruk yang mengerikan hilir mudik di benak laksana film.

Saya menarik nafas panjang untuk berpikir lebih tenang dan fokus pada apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Saya harus menelusuri ke belakang sampai saat terakhir yakin masih memegangnya.

Saya merasa yakin masih memegangnya saat check-out hotel di Tsim Sha Tsui siangnya. Lalu apakah jatuh di hotel?  Paling tidak hotel itulah saya harus hubungi pertama kali. Dengan gemetar saya meneleponi hotel di Hong Kong itu. Saya jelaskan masalahnya dan untunglah petugas cukup ramah menanggapi serta meminta saya menelepon kembali setelah 10 menit. Ah, waktu berjalan seperti kura-kura, lama sekali rasanya!

Setelah 10 menit penuh kecemasan, saat menelepon kembali terdengar suara ramah yang terasa menusuk hati ketika mereka menyampaikan penyesalan dompet hitam tidak ditemukan di lobby maupun di kamar. Tak percaya begitu saja, saya tanya lagi dan lagi, mungkin disana atau disitu. Tetapi jawaban tetap sama. Tidak ada. Menyesal, mereka menutup telepon. Satu tempat sudah saya coret. Tak ada dompet saya di sana! Woaah…

Saya kembali mengingat-ingat, tidak mungkin selama di MTR, karena saya menggunakan kartu Octopus dan tidak pernah membuka dompet. Apakah dicopet? Mungkinkah di Hong Kong ada copet??

Lost wallet
Lost wallet

Berikutnya tempat membeli tiket ferry dari Hong Kong ke Macau. Saya tidak yakin tetapi sepertinya memang saya mengeluarkan dompet hitam selain dompet paspor yang juga terselip uang untuk membeli tunai. Dompet paspor memang sengaja saya pisahkan dengan dompet uang.

Dengan bergegas saya mencari potongan tiket ferry Turbojet Hong Kong – Macau untuk mendapatkan nomor teleponnya. Berhasil. Lalu dengan berdebar saya menghubungi nomor telepon di Hong Kong itu dan beruntung ditanggapi baik oleh pihak TurboJet selaku operator Ferry dan seperti yang sebelumnya ia meminta saya waktu 15 menit untuk pemeriksaan.

Lagi-lagi saya mengalami penyiksaan waktu yang terasa berjalan sangat lambat. Dan ketika saya meneleponnya kembali, ia memberitahu bahwa baik di ferry maupun di wilayah layanan TurboJet tidak ditemukan dompet saya. Saya seperti jatuh terkapar, semakin panik dan tak mau percaya begitu saja dan saya minta mereka memeriksa di toilet karena saya sempat ke kamar kecil itu. Tetapi dengan saya minta itu, mereka justru meminta saya menghubungi gedung terminal ferry karena toilet berada di luar wilayah operator ferry. Kali ini saya terhempas seperti memasuki ruang hampa, melayang tak jelas arah! Saya di Macau, dan saya tidak tahu dompet itu apakah ada di Hong Kong atau di mana dan jika memang benar, itu artinya cross border atau melewati imigrasi… Whoaaaaa……

Saya menutup mata memohon kekuatan Ilahi. Hanya dariNya saya mendapatkan kekuatan. Dari google saya mendapatkan nomor telepon terminal ferry di Hong Kong dan langsung menghubunginya. Petugas perempuan itu ramah dan meminta waktu 15 menit untuk memeriksa. Tetapi lagi-lagi, dompet saya tak ada disana baik di ruang tunggu maupun di toilet. Saya terpuruk lagi.

Where's my wallet?
Where’s my wallet?

Pertolongan Tuhan itu datang melalui manusia lain. Sebelum menutup telepon, petugas penuh empati itu menjelaskan mengenai wilayah tanggung jawab. Jika jatuh di ferry maka itu menjadi tanggung jawab operator ferry, jika jatuh di ruang tunggu sebelum boarding atau setelah imigrasi di terminal, maka itu menjadi tanggung jawab terminal ferry. Saya bertanya bagaimana jika jatuh saat membeli tiket? Dia menjawab dengan yakin bahwa itu menjadi tanggung jawab Operator Ferry. Entah kenapa, rasanya seperti mendapatkan segelas air di gurun pasir, kali ini rasa dingin yang menguatkan.

Saya menghubungi kembali Operator Ferry TurboJet di Hong Kong. Dengan bermuka tembok walaupun dipingpong terus, saya tidak berhenti. Petugas TurboJet sepertinya jengkel dan setengah hati menjelaskan tidak ada dompet yang ditemukan di sana. Saya tidak peduli dengan nada suaranya dan ngotot minta mereka memeriksa area tempat saya membeli tiket. Dan entahlah, mungkin karena kesal menghadapi saya yang tak mau menerima kenyataan atau gembira karena bisa melemparkan tanggung jawab ke orang lain, petugas operator ferry itu menyarankan untuk langsung menelepon konter tiket. Entah mengapa, ada lagi rasa dingin yang terasa menguatkan mendapatkan informasi itu walaupun saya harus setengah mati memahami omongan angka dalam bahasa Inggeris dengan lidahnya yang penuh aksen Mandarin. My last resort!

Tetapi apapun kondisinya, dompet saya tetap lenyap. Saya tahu harus segera melakukan pemblokiran, tetapi entah kenapa seperti ada bisikan untuk tidak melakukannya dulu.

Tanpa sadar saya sudah duduk di karpet itu sepanjang siang dan sore. Hati terasa amat lelah. Saya kembali mencari kekuatan dariNya dengan refleksi diri, melihat kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Sebuah déjà vu, seperti pernah mengalaminya, dan semuanya karena saya melakukan kesalahan!

Tersadarkan bahwa saya sudah menjadi orang yang sangat berduri saat ini, yang menyakiti siapapun yang mendekat. Saya melihat kepada orang-orang tercinta dan tumpah memeluk mereka semua. Memohon maaf atas apapun yang saya lakukan. Kepada mereka saya katakan harus mengikhlaskan dompet yang hilang dan berharap mereka juga bisa menerima dengan ikhlas pula situasi liburan yang harus disesuaikan dengan kejadian ini.

Ya Tuhan, saya sudah ikhlas dengan kehilangan ini…

Saya memeluk mereka semua, mengikhlaskan apapun yang terjadi…

Pelukan penuh cinta itu menguatkan. Saya katakan akan menghubungi nomor telepon ini sebagai langkah terakhir. Saya akan terus berupaya selagi masih ada jalan, saya percaya pada pepatah ‘take an extra mile further while the others had already stopped’. Namun tetap berdasar pada keikhlasan. Jika dompet itu memang tidak ada, itulah yang terbaik!

The brighter side
The brighter side

Sebelumnya saya mengerahkan jiwa raga berdoa dengan khusuk, -seperti dulu ketika sudah malam dan saya masih belum bisa menemukan jalan pulang dari Gayasan National Park di Korea Selatan-. Kali ini saya menceritakan kepadaNya betapa dompet itu berarti untuk mendukung liburan yang kali ini saya dedikasikan untuk keluarga. Jauh di lubuk hati saya meminta pengampunan dan menerima semua pembelajaran ini karena saya percaya Tuhan Maha Kasih, Maha Baik. Di hadapanNya, saya serahkan semua padaNya.

Lalu dengan mengucapkan namaNya, saya menghubungi nomor telepon Hong Kong itu sebagai langkah terakhir upaya saya menemukan dompet hitam saya yang hilang. Dengan sopan saya jelaskan kasus yang saya alami kepada suara laki-laki diujung telepon. Dan seperti biasa, ia menanyakan ciri-ciri dompet yang hilang itu. Ia juga menanyakan asal negara saya dan nomor yang bisa ia hubungi. Saya berikan semua yang dia minta.

“Indonesia?”, ia mengulang pertanyaan itu sedikit ragu yang terasa di telepon. Tanpa sadar saya mengangguk mengiyakan.  Lalu dengan sedikit bergumam, ia menceritakan bahwa ia menyimpan sebuah benda hitam yang di dalamnya terdapat kartu identitas dari Indonesia, kartu kredit dan uang tunai. Saya terkesiap, dan tak menunggu dia menyelesaikan kalimatnya dan memotongnya, ‘Sorry, it means… did you keep my wallet?”

Dia tidak menjawab langsung dan mengingatkan saya tetap harus menunjukkan identitas sebagai pemilik sah dompet tersebut. Dan menegaskan ia akan menyimpannya sehingga saya tidak perlu cemas. Dia juga minta maaf karena telah memeriksa dompet dan menemukan kartu kredit dan kartu identitas Indonesia dan beberapa bank notes. Saya sebutkan bank notes yang ada di dompet dan ia membenarkan. Kali ini saya benar-benar seperti terlontar setinggi-tingginya ke angkasa. Dompet saya ada padanya. Ya Tuhan… saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar.

Walaupun belum 100%, intuisi terdalam telah memastikan memang itu dompet saya! Saya seperti terbang dengan daya maksimum yang tak terbayangkan. Sepersekian detik itu saya rasa Tuhan sedang tersenyum lebar saat orang-orang tercinta termasuk saya berteriak bersama-sama dalam kegembiraan dan kebahagiaan, “Ketemuuuuuu…..!”

Dia Yang Maha Kasih selalu punya cara yang ajaib untuk melimpahkan anugerah penuh berkah kepada saya, kadang teguran cintaNya membuat haru biru tak karu-karuan. Rasa syukur saya tak bisa disampaikan dengan kata-kata. Saya memahami pembelajarannya. Kali ini dompet saya dikembalikan sebagai pembelajaran agar lebih berhati-hati menjaga semua yang berharga. Airmata bahagia untukNya. Terima kasih Tuhan walau ungkapan terima kasih itu tidak akan pernah cukup…

Ada yang pernah mengalami hal serupa?

<><><> 

Dan untuk kembali ke Hong Kong, Alhamdulillah suami ternyata membawa kartu ATM yang jarang sekali dibawanya saat liburan. Dan dengan uang itu keesokan harinya kami kembali ke Hong Kong untuk menjemput sang dompet yang telah terpisah denganku selama 24 jam. Dan kami bisa melanjutkan liburan akhir tahun…