Petra, Yang Tak Direncanakan


Dalam itinerary final yang disampaikan agen perjalanan sebelum berangkat, Petra memang tak pernah dimasukkan dalam daftar destinasi kami, namun mereka sepertinya setengah berjanji kepada sebagian anggota rombongan bahwa kunjungan ke Petra termasuk memungkinkan, dengan syarat tersedia waktunya. Namun setelah memeriksa itinerary finalnya, saya memperkirakan Petra tidak akan sempat dikunjungi kecuali mengorbankan kunjungan-kunjungan ke tempat lainnya. Lagi pula, bagi saya Petra bukanlah destinasi yang prioritas dalam perjalanan ibadah ini.

Namun berbeda dengan sebagian anggota rombongan yang merasa dijanjikan. Ketika baru saja duduk di bus sekeluarnya dari terminal bandara Amman, mereka menagih janji untuk ke Petra, yang tentu saja disambut kebingungan Pemandu kami karena tak ada dalam listnya. Tetapi pemandu kami itu hatinya sangat baik dan mencoba mewujudkan impian untuk sampai ke Petra. Setelah telepon sana-sini dengan tangan yang mengayun-ayun di udara, akhirnya ia menyampaikan kabar gembira. Kami bisa ke Petra, dengan syarat harus siap berangkat setelah waktu subuh. Tawa riang langsung terdengar di bus, bangun subuh bukan masalah sama sekali, termasuk mengunjungi Laut Mati langsung pada hari itu juga. Cerita ke Laut Mati bisa dibaca di tulisan ini Senja Di Laut Mati, Terendah di Muka Bumi dan juga Sejumput Malam di Makam Nabi Syu’aib.

Keesokan harinya, -matahari pun masih malas bangun-, kami sudah menyusuri jalan menuju Petra yang bisa ditempuh dengan bus dalam waktu tiga hingga empat jam. Pemandangan serupa saat kami ke Laut Mati dengan perbukitan kering kecoklatan membuat saya lebih memilih mengistirahatkan mata sepanjang perjalanan.

Mata Air Musa

Suara pemandu yang memecah keheningan menyadarkan kami telah sampai di Wadi Musa, kota kecil dengan ketinggian 1000 mdpl yang terdekat dengan Kawasan Arkeologi Petra. Dan tentu saja, sesuai dengan namanya, kami mampir dulu ke lokasi Uyun Musa atau Mata Air Musa, lokasi yang dipercaya sebagai tempat Nabi Musa Alaihissalam memukulkan tongkatnya ke batu besar dan menyemburkan air saat pengikutnya kehausan (QS. Al-Baqarah: 60). Mata Air Musa ini terlindung dalam sebuah bangunan kecil serupa musholla. Melihat airnya yang sangat jernih, saya memberanikan diri untuk membasuh muka. Ya ampun, Jordan di bulan Desember sudah berada di musim dingin sehingga airnya terasa bukan lagi sejuk, melainkan dingiiiin! Meskipun Uyun Musa bukan satu-satunya tempat yang diklaim sebagai tempat Nabi Musa Alaihissalam memukulkan tongkatnya, -sebagian lain percaya ada di perbukitan Thursina, Sinai di Mesir-, tetap saja saya merasa beruntung sekali bisa merasakan dinginnya air yang mengalir cukup deras itu. Konon, kaum Nabatean membuat saluran dari mata air ini dan mengalirkannya ke Petra.

Meninggalkan Uyun Musa, saya baru menyadari bahwa kota wisata Wadi Musa itu memang sangat menarik. Berhawa sejuk, banyak hotel dan restoran yang cantik. Terbersit dalam hati, jika saja saya diberi kesempatan lagi ke Jordan, rasanya akan membahagiakan bila bisa menginap di Wadi Musa.

Tak lama kemudian, bus berhenti di depan gerbang kawasan Petra. Alhamdulillah, rasanya sangat luar biasa! Saya yang tak pernah berani memimpikan, -karena rasanya sangat tidak mudah dicapai-, namun Dia Yang Maha Kasih mengijinkan saya menginjak tanah Petra yang tercantum sebagai UNESCO World Heritage Site sejak 1985. Sebuah hadiah yang lagi-lagi datang dariNya. Sungguh rasa syukur berlomba menyeruak keluar menyesakkan dada. Ya Allah, saya sungguh beruntung…

Saya melihat sekeliling. Kawasan wisata Petra memang tertata sangat baik, dengan tempat parkir yang luas, tersedia juga museum yang relatif besar untuk pengunjung yang ingin menggali lebih dalam tentang Petra. Dan tentu saja ada banyak kios souvenir, cafe untuk makanan atau minuman. Tetapi yang pasti, saya beruntung mengunjungi Petra di bulan Desember yang membawa angin sejuk. Bayangkan saja seandainya datang di bulan Agustus, bulan terpanasnya di Petra, suhu bisa mencapai 40 derajat lebih! Padahal perlu jalan kaki untuk melihat keindahan Petra. Tapi bagi mereka yang punya dana berlebih bisa naik kendaraan sewaan serupa dokar.

Kami hanya perlu menunggu sebentar lalu setelah masing-masing memegang tiket, kami berjalan melalui pintu pagar pembatas. Pengunjung berwajah Timur Tengah mendominasi meski wajah-wajah Eropa dan Amerika tak kalah banyak. Bersama suami, saya mulai menapaki jalan setapak berbatu di padang terbuka menuju perbukitan gersang, yang berhasil menyembunyikan kota Petra beberapa millenia. Siapa yang menyangka di balik semua kegersangan itu ada kehebatan hasil seni bangsa Arab Nabatean yang menguasai daerah itu sejak satu abad sebelum Masehi hingga empat abad berikutnya, sampai gempa bumi besar membuatnya terabaikan selama hampir dua millenia! Untung saja ada seorang pengelana Swiss yang menyamar menjadi seorang Arab dan bisa memaksa pemandu Beduinnya untuk menunjukkan tempat misterius itu untuk kemudian menceritakan kembali kepada dunia. Tentang keluarbiasaan Petra, yang amat indah, ditatah penuh lekuk langsung pada wajah tebing-tebing tinggi yang berwarna kemerahan.

Djinn Blocks & The Obelisk Tomb

Sekitar 400 meter berjalan di jalur Bab Al Siq, yang berarti pintu gerbang ke ‘Siq’, saya mengenali spot pertama yang luar biasa dari bangsa Nabataean. Djinn Blocks. Bagaimana tidak? Yang namanya Djinn Blocks itu terlihat dari jauh karena ukurannya sangat besar dan eye-catching. Bahkan bagi orang yang tidak tahu apapun tentang Petra, biasanya memperhatikan batu segede gaban itu. Ya, Djinn Blocks memang terdiri dari tiga blok batu berbentuk kubus yang sangat besar, terpotong rapi, presisi dan berhias sederhana. Ukurannya sekitar 8 x 8 x 8 meter, besar sekali kan? Dan mengacu namanya yang unik, saya berpikir agak nyeleneh, Djinn Blocks mungkin menjadi tempat tinggal para makhluk jin (asal katanya ya memang itu kan). Tapi juga bisa berarti rumah spirit yang orientasinya lebih relijius. Apapun artinya itu, konon menurut orang lokal dari suku Beduin, Djinn Blocks merupakan tempat peristirahatan (tapi entah peristirahatan dalam artian makam atau memang tempat istirahat manusia dalam sebuah perjalanan panjang) karena ada juga yang mengartikan sebagai ‘tempat menyimpan air’ yang biasanya menjadi tempat pemberhentian pengelana.

The Obelisk Tomb

Puas foto-foto di Djinn Blocks, tak berapa lama setelahnya, kami bisa melihat dari kejauhan yang namanya Makam Obelisk (The Obelisk Tomb), lagi-lagi buatan bangsa Nabatean ketika Malichus II berkuasa (40-70 M) yang sayangnya tidak bisa saya eksplorasi lebih dekat karena keterbatasan waktu.

Tetapi dari jalan saya bisa melihat bentuk yang menarik di bagian atas, empat bentukan seperti piramida (disebut ‘nafesh’) dengan ceruk di bagian bawah, konon berhias relief sebagai representasi simbolis lima orang yang dimakamkan di tempat itu dan ada aula perjamuan (Triclinium) yang berada di bagian bawah. Siapa tahu saya punya kesempatan ke Petra lagi agar bisa mengeksplorasinya dan melihat prasasti dalam karakter Nabatean dan Yunani yang mendeskripsikan monumen makam yang konon ditulis sendiri oleh Abdomanchos yang akhirnya menghuni makam itu bersama keluarganya.

Kaki kami terus melangkah hingga ke awal lokasi yang disebut The Siq, yang merupakan pintu masuk utama kuno menuju kota Petra. Baru awalnya saja, saya sudah terpukau. Memang The Siq ini sangat epic karena merupakan sebuah celah, -jalan sempit-, di antara batu karang yang sangat tinggi sepanjang 1200 meter dengan lebar hanya 3 hingga 12 meter dan tingginya mencapai 80 meter atau kira-kira setinggi bangunan bertingkat 20! Gilanya, sebagian besar batu itu dibiarkan alami dan sebagian lagi dipahat oleh bangsa Nabatean dengan keindahan yang luarbiasa.

Kehadiran dua penjaga berbaju besi yang memegang tombak di bekas pintu gerbang The Siq seakan menyadarkan saya untuk berimajinasi akan kemegahan sisa gerbang kota tua itu. Hebatnya lagi, sepanjang The Siq, kita bisa melihat saluran air yang datang dari Wadi Musa berupa pipa tembikar atau juga pahatan dari batu, dengan beberapa tempat berfungsi sebagai filter air. Saya berpikir, bagaimana mungkin karena tempat saya berpijak ini sepertinya tampaknya lebih tinggi daripada Wadi Musa.

Ternyata kebingungan saya terjawab langsung. Bangsa Nabatean membuat bendungan! Saya sempat melihat dinding yang dibangun pada celah batu karang yang ternyata merupakan bagian dari Bendungan Nabatean asli yang direnovasi pemerintah Jordan pada tahun 1964 mengikuti teknologi asli Nabatean. Bendungan ini dibangun untuk melindungi The Siq sebagai jalan masuk dan juga kota Petra dari banjir ketika musim hujan. Konon, air banjir itu dialirkan ke dalam sebuah terowongan, yang kemudian diberi judul ‘Terowongan Gelap’ dan selamanya kota Petra selamat dari banjir. Hebat ya infrastruktur untuk ukuran abad pertama Masehi. Menyusuri The Siq yang dikeraskan dengan lempengan batu yang masih bisa disaksikan di beberapa tempat, saya terus dibuat kagum saat melihat patung dewa bangsa Nabataean, Sabinos, yang berdiri dekat saluran air. Tak heran karena bangsa Nabataean percaya air merupakan sesuatu yang suci, jadi patung dewa mereka harus berdiri dekat air.

Di tengah perjalanan saya dikejutkan oleh penampakan batu yang berdiri sendiri, unik, di tengah celah serta besar menyerupai bentuk hewan. Saya dan suami menebak-nebak, apakah itu gajah atau ikan.

Kami berdua masih terkagum-kagum saat berjalan di sepanjang The Siq. Tebing itu tinggi sekali sehingga tinggi manusia tiada artinya. Saya mendongak ke atas, memang teramat tinggi! Tidak heran, ada banyak film Hollywood mengambil lokasi shooting di tempat ini. Keren sekali sih. Keluarbiasaan jalan diapit tebing berwarna kemerahan itu hampir berakhir ketika cahaya semakin kuat datang dari kota tua yang bernama Raqeen yang akhirnya diganti namanya menjadi Petra, -artinya adalah batu karang-, sesuai bahasa dari bangsa yang mendudukinya, Yunani. 

The Treasury atau Khazna

Belum juga lepas dari The Siq, saya sudah melihat sebagian fasad Petra yang paling megah; Al Khazna atau Treasury. Saya seakan melihat wajah istana yang ditempelkan di tebing batu karang. Megah. Tingginya sekitar 40 meter dan didekorasi indah. Di bagian atas seperti ada guci yang biasa untuk digunakan dalam ritual penguburan, yang menurut legenda setempat menyembunyikan harta. Sayangnya ada banyak jejak bekas tembakan dan pengrusakan yang mungkin disebabkan oleh keserakahan pemburu harta karun atau penjarah makam-makam tua.

The Treasury, Petra

Saya melongo! Tak mampu membayangkan bagaimana bangsa Nabatean pada abad ke-1 SM bisa membangun fasad The Treasury yang fungsi aslinya pun masih menjadi misteri hingga kini. Banyak yang bilang tempat itu merupakan sebuah kuil meski tak sedikit ahli yang menganggap hanya sebuah tempat penyimpanan dokumen. Tetapi pada ekskavasi terakhir di bawah lantai pertama bangunan dua tingkat dengan lebar 25 meter itu ditemukan makam yang tentunya bukan makam orang sembarangan.

Petra memang menyimpan misteri, masih begitu banyak yang belum terkuak dan masih tersembunyi di bawah permukaan tanah. Tidak heran karena setelah ditaklukkan Romawi dan kepentingan perdagangannya berkurang, Petra sengaja ditinggalkan. Apalagi setelah bencana alam dan gempa bumi besar terjadi, Petra semakin terpuruk dan mencapai titik nadirnya pada abad-7 lalu perlahan hilang ditelan bumi.

Di depan Treasury saya hanya mampu diam menikmati sambil berfoto. Sepasang unta siap disewa mereka yang uangnya berlebih. Mungkin baginya, kapan lagi bisa menunggang unta di Petra? Keriuhan terjadi ketika si unta bangun dari posisi duduknya dan mengayun ke depan membuat si turis berteriak-teriak, takut terpelanting ke depan. Yang ikut menyaksikan tersenyum lebar. Bahkan suasana turistik di depan Treasury terasa menggembirakan.

Waktu berjalan tak kenal kasihan. Setelah puas berfoto, saya harus melambaikan tangan ke arah Treasury. Petra memang tidak hanya itu, sebenarnya masih banyak, masih ada jalan penuh kolom, ada juga bangunan Teater dan Makam Kerajaan bahkan bisa sampai ke Wadi Rum. Saya belum mendapat kesempatan untuk melihatnya karena waktu membatasi. Semoga Yang Maha Memiliki berkenan memberikan saya kesempatan untuk kembali ke Petra.

Pelan-pelan saya kembali menyusuri The Siq, menikmati yang terlewatkan, menyempatkan duduk di tempat peristirahatan, menyaksikan para turis datang dan pergi, semoga saya bisa kembali…

Sejumput Malam di Makam Nabi Syu’aib


Sekembalinya dari Kawasan Wisata Laut Mati, -ceritanya bisa dibaca dalam tulisan Senja di Laut Mati, Terendah Di Muka Bumi sebelum ini-, tanpa perlu dikomando lagi seisi bus duduk dalam diam. Tak ada celoteh atau suara pemandu karena temaramnya lampu di dalam bus membuat kantuk menyerang. Apalagi jalan yang mulus tanpa kemacetan membuat perjalanan menjadi nyaman. Namun bisa jadi karena kami semua sudah lelah menjalani hari yang panjang sejak meninggalkan Jeddah pagi tadi lalu terbang ke Jordan, yang dilanjut dengan perjalanan ke Laut Mati dan kini yang dirindukan mungkin hanya pembaringan.

Demikian pula keadaan saya, dengan mata yang setengah mengantuk, kadang terbuka dan kadang terlelap, saya berusaha sebisanya mengikuti perjalanan. Rasanya sayang sekali jika terlelap di negeri yang baru pertama kali saya kunjungi.

Ketika melihat banyak lampu di luar jendela bus, saya berpikir sudah sampai di Amman. Ternyata dugaan saya salah. Saat itu kami masih sekitar tiga puluh menit lagi ke kota Amman. Saya hanya ingat bus berbelok lalu bergerak lagi untuk beberapa saat lalu akhirnya berhenti di sebuah tanjakan yang disusul dengan dinyalakannya sebagian lampu dalam bus.  Lalu suara pemandu terdengar memecah keheningan. Sayangnya saya tak mendengar jelas informasi yang disampaikan. Saya hanya melihat sebuah mesjid yang terlihat indah jika difoto dengan lampu kehijauan di menaranya. Rasanya tak banyak rumah ataupun toko di sekitarnya karena terlihat kegelapan menyelimuti. Masjid itupun terang karena lampu di halamannya. Seperti berada di tempat terpencil di perbukitan yang jauh dari pemukiman.

Prophet Syu’aib Mosque and Shrine, Jordan at night

Di dalam bus, -mungkin karena lelah-, tidak ada perempuan lain yang turun dari bus kecuali saya. Yang laki-laki pun bisa dihitung tak melebihi dari jumlah jari dalam satu tangan. Saya mengambil beberapa foto di halaman Masjid lalu mendekat ke sebuah pintu. Di situ baru saya memahami, betapa beruntungnya saya mengikuti hati untuk turun dari bus karena di dekat pintu tertulis dengan sangat jelas: Makam dan Masjid Nabi Syu’aib Alaihissalam. Bukankah kita sangat beruntung bisa menjejakkan kaki di tempat orang-orang sholeh berbaring di peristirahatan terakhirnya?

Entah kenapa, saya agak takut untuk mendekat. Rasanya aura kesholehannya tetap menguar dan meliputi seluruh ruangan itu. Saya menjadi begitu insecure berada di dekat makam orang yang selama hidupnya begitu sholeh dan menjadi utusan Allah kepada orang-orang Madyan dan Ashabul Aikah. Tanpa sadar saya mundur selangkah sambil menundukkan kepala, menyadari banyaknya khilaf yang dibuat hingga kini. Rasanya tak pantas untuk mendekat, seakan bisa menjadi noda atas kesucian auranya.

Terpampang jelas di depan mata, makam Nabi Syu’aib Alaihissalam yang terletak di tengah ruangan berlangit-langit tinggi dan lantainya berkarpet tebal, diselimuti dengan kain beludru berwarna hijau berhiaskan benang emas sebagai penutup yang indah. Lalu dari tempat saya berdiri, yang berjarak hanya beberapa langkah dari makam Nabi Syuáib Alaihissalam, saya mengangkat tangan dan melangitkan doa.

Makam Nabi Syu’aib, Jordan

Sebelum meninggalkan ruangan, saya membiarkan ingatan menari-nari, mengingat kisah hidup Nabi Syu’aib Alaihissalam. Sebagai orang yang diutus Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kaum Madyan dan Ashabul Aikah, tantangan yang dihadapi Nabi Syu’aib Alaihissalam sangatlah besar. Kaum Madyan merupakan kaum yang menguasai jalur perdagangan di wilayah sekitar Laut Mati sedangkan Ashabul Aikah merupakan sekelompok orang yang percaya kepada pepohonan bahkan mereka menyembahnya. Kaum Madyan terkenal sebagai pedagang yang ulet dan banyak diantara mereka yang sukses dan berlimpah kekayaan. Sayangnya, dalam menjalankan perdagangan, mereka seringkali tak jujur dan licik. Ketidakjujurannya terlihat saat bertransaksi jual beli, mereka suka mengurangi ukuran dan timbangan. Gandum yang seharusnya ditimbang 1 kilogram dikurangi dan dijual dengan harga untuk 1 kilogram, sehingga mereka mendapatkan keuntungan dari cara tak jujur tersebut. Selain itu, seperti juga Ashabul Aikah, Kaum Madyan lebih percaya pada hal-hal selainNya yang membuat mereka hidup berlimpah harta dan bisa menguasai jalur perdagangan.

Nabi Syu’aib mengetahui hal itu dan memperingatkan mereka akan hukuman atas perbuatan kaum Madyan dan Ashabul Aikah yang tidak benar itu. Namun, bukannya berterima kasih, mau memahami dan bertobat, mereka justru makin menentangnya. Bahkan mereka mengusir Nabi Syu’aib Alaihissalam dan semua pengikutnya untuk keluar dari kota itu. Ah, sepertinya saat itu mereka berpandangan sebagai mayoritas di kota itu dan jumlahnya lebih banyak maka apa yang mereka lakukan adalah benar. Lebih benar daripada Nabi Syu’aib Alaihissalam dan pengikutnya yang menjadi kelompok minoritas karena jumlahnya sedikit.

Bagaimanapun Kebenaran hanyalah milik Yang Maha Kuasa,

Lalu, terjadilah bencana di tempat kaum Madyan bermukim. Gempa hebat terjadi di tempat itu dan meluluhlantakkan pemukiman mereka hingga tak bersisa satupun. Kaum Madyan meregang nyawa terjebak di rumah mereka sendiri.

Sedangkan bencana yang menimpa Ashabul Aikah adalah serangan udara yang sangat panas dan membakar kulit. Tentunya sangat jauh lebih panas daripada gelombang panas yang sering terjadi belakangan ini di negeri-negeri jauh. Tidak ada lagi bangunan dan pohon yang dapat dijadikan tempat berteduh dari udara yang mematikan itu. Kemudian di langit muncul segerombolan awan hitam dan berat, awan yang membawa petir dengan suaranya yang sangat keras menggelegar. Mereka tak dapat lagi menghindarkan diri dari bencana yang mengerikan itu.

Tentu saja kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam yang diutus kepada mereka yang membuat kerusakan di muka bumi ini, dapat dibaca dalam Al Qurán. Tetapi mengingat kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam di depan makamnya di Jordan ini, tentu jauh berbeda rasanya. Gambar-gambar imajinasi mengenai kisah itu bergerak sendiri seperti menonton sebuah film di benak, menjadikan sebuah peringatan yang menyesakkan. Sebuah pembelajaran teramat penting yang dapat diambil dari kaum terdahulu.

Keheningan berada di depan Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam pecah saat datang pengunjung lain. Saya meninggalkan ruangan dan mengambil foto di halaman. Sayang sekali, Masjid Syu’aib yang ada di kompleks itu pintunya terkunci, padahal konon sangat indah. Pintu Masjid berada tak jauh dari bangunan kecil berkubah emas yang ada di tengah-tengah pelataran halaman dalam.

A nice place for taking the ablution, Mosque of Prophet Syuaib, Jordan

Tak banyak yang bisa diabadikan kecuali bangunan kecil berkubah emas tadi yang terbuka pada sebagian dindingnya yang tampaknya merupakan tempat mengambil air wudhu, terlihat dengan keran air dan tempat duduk batu yang melingkarinya.

Setelah puas mengambil foto yang tak seberapa, saya berbalik ke arah bus berhenti. Dalam beberapa saat saya akan meninggalkan salah satu tempat yang diklaim sebagai Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ini. Selain di Jordan di tempat saya berdiri ini, ada juga yang mengatakan bahwa makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di Galilea Hilir, Israel. Selain itu ada yang mengatakan makamnya ada di Guriyeh, Iran. Bahkan tak sedikit yang berpendapat makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di sebelah Barat Ka’bah, Mekkah. Sementara yang lain berpandangan makamnya ada di Jabal Nabi Syu’aib di Yaman. Mana yang benar? Wallahu a’lam bishawab.

Saya melangkah kembali ke dalam bus, lalu pintu-pintu bus ditutup. Roda bus mulai bergerak pelan meninggalkan kegelapan perbukitan di belakang, lampu-lampu dalam bus kembali temaram. Meski badan terasa lelah, saya merasa sangat beruntung dapat menjejak sebentar di tempat yang baru saja ditinggalkan dengan hikmah yang terserak begitu banyak. Dan kini, sepertinya saya menyerah pada dunia, hanya pembaringan yang saya rindukan…

From the courtyard of Prophet Syuaib Mosque

Senja di Laut Mati, Terendah di Muka Bumi


Katanya, belum pergi ke Jordan jika belum mengunjungi Petra dan Laut Mati, seakan-akan negeri Jordan itu hanya dikenal karena keberadaan dua tempat itu saja, bukan hal lainnya. Kenyataannya, selain Petra masih ada peninggalan sejarah di Jerash yang indah. Dan Laut Mati itu sesungguhnya tidak dikuasai seluruhnya oleh Jordan melainkan terbagi ke dalam dua kekuasaan, Jordan untuk bagian Timur dan Israel untuk bagian Baratnya. Jadi agak berlebihan juga sih dengan istilah belum ke Jordan jika belum menjejak Laut Mati dan Petra, karena Jordan tidak hanya itu!

Tapi bagaimanapun, karena kami sedang berada di Jordan, mengunjungi Laut Mati sepertinya menjadi agenda yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Jadi selepas kunjungan singkat ke Gua Ashabul Kahfi yang sudah saya tulis sebelumnya, kami semua duduk manis lagi dalam bus sekitar satu jam perjalanan dari kota Amman menuju Laut Mati.

Pinggir Kota Amman

Pemandangan kota Amman melalui jendela bus masih tak jauh berbeda, dengan bukit-bukit gundul serupa gurun berwarna kecoklatan dihiasi bangunan-bangunan kubus yang tumbuh tak beraturan. Jalan di depan mata  bisa dibilang sempurna dengan aspal mulus yang lebar. Kesan saya akan kota Amman bisa saja salah karena saya tidak mengunjungi pusat kota atau pusat bisnisnya. Rasanya tertanam di benak Amman bukanlah kota yang penuh gedung pencakar langit seperti kota-kota dunia lainnya. Ibukota Jordan ini sepertinya hanya menjadi kota tua yang berusia sembilan ribu tahun yang mewarisi sejarah panjang di bumi Timur Tengah.

Pemandangan menuju Laut Mati

Kesan saya bisa sangat salah. Seperti saat kita melihat seseorang lanjut usia yang renta. Meski terlihat tak memanjakan mata, usianya yang tua itu menyimpan banyak asam garam kehidupan. Demikian juga kota Amman, sejarahnya telah teramat panjang dan meninggalkan banyak jejak, dari sejak zaman Neolitikum, periode emasnya Kerajaan Ammon, peradaban Romawi, Byzantium, hingga Persia dan Ottoman. Bahkan alam pun meninggalkan jejaknya di sana dengan banyaknya gempa bumi dan bencana lainnya hingga sempat terabaikan sampai akhirnya ditemukan kembali di zaman modern.

Jika saja, saya memiliki waktu yang lebih panjang di Jordan, mungkin saya akan mendatangi lebih banyak jejak-jejak sejarah yang tertinggal karena pastilah semuanya menarik. Semenarik nama yang pernah disandang kota Amman. Siapa yang sangka nama Philadelphia yang memiliki makna kasih persaudaraan, -kini lebih dikenal sebagai nama kota di Pennsylvania, Amerika Serikat-, pernah disandang oleh kota Amman pada zaman dulu? 🙂 Hmmm… Amman memang bukan sekedar pintu gerbang untuk sampai ke Petra dan Laut Mati.

Menuju Tempat Terendah di Muka Bumi

Kota Amman sudah tertinggal di belakang namun saya masih terpaku melihat pemandangan keluar jendela yang menghilang cepat seirama kecepatan bus. Suara pemandu terdengar samar di antara deru bus namun ia tak bosan menyampaikan himbauan agar kami bersiap-siap menghadapi kemungkinan situasi tak nyaman pada raga. Perjalanan menuju Laut Mati memang bukan perjalanan biasa, karena Laut Mati merupakan tempat terendah di muka bumi. Tidak tanggung-tanggung, pantai Laut Mati itu berada sekitar 400 meter di bawah permukaan laut. Bisa jadi, akibat lokasinya itu, terjadi perbedaan tekanan udara yang mungkin berdampak pada tubuh.

Himbauan pemandu mengembalikan ingatan saya ketika trekking di Himalaya ke tempat-tempat dengan ketinggian di atas 3000 mdpl. Usia yang tidak lagi muda apalagi jarang berolahraga membuat saya mengalami situasi tak nyaman di tubuh. Entah karena perbedaan ketinggian atau memang karena kondisi tubuh yang sedang tidak begitu fit, saat itu saya hanya merasa cepat lelah. Pengalaman itu membuat saya cukup waspada terhadap perbedaan ketinggian tempat. Memang secara teori, makin tinggi sebuah tempat dari permukaan laut, maka tekanan udara di tempat itu makin kecil. Artinya semakin tipis kadar oksigen yang terkandung dalam lapisan udara itu. Sebaliknya semakin rendah sebuah tempat, maka tekanan udaranya akan semakin besar dan kadar oksigennya semakin banyak.

Nah, pantai Laut Mati yang berada 400 meter di bawah permukaan laut, secara teori memiliki tekanan udara lebih besar dari 1 ATM. Dari Google saya mendapatkan Laut Mati memiliki tekanan 1.09 ATM (sementara di ketinggian sekitar 3000 Meter di atas permukaan laut, tekanan udaranya mencapai 0.70 ATM). Membaca angka-angka yang terpampang, saya merasa lebih tenang karena situasi saya ketika berada di Himalaya jauh lebih buruk. Namun bagaimanapun alam tak boleh dianggap enteng.

Bus yang berbelok tajam ke arah kiri menyadarkan bahwa kami telah berkendara beberapa waktu lamanya. Matahari sudah makin condong ke Barat. Di kejauhan tampak sedikit bagian dari Laut Mati. Ah, melihat Laut Mati yang berada di kejauhan itu, saya membayangkan perjalanan masih lama.

Menyusuri Laut Mati dari bus
Some hotels and resorts at Dead Sea

Tapi berbeda dengan jalan sebelumnya yang datar dan lurus, kini bus bergerak menuruni jalan-jalan yang berliku, berbelok-belok seperti layaknya jalan di gunung. Tapi yang pasti hanya satu, berbelok atau lurus, semua jalan menurun tajam dengan sesekali melandai. Turunan-turunan yang tajam itu membuat saya terus berdoa memohon keselamatan karena terasa sekali rem bus bekerja tak henti. Mungkin saya terlalu terpengaruh terhadap berita tentang banyaknya bus di Indonesia yang seringkali masuk jurang atau kecelakaan karena remnya blong. Namun Alhamdulillah, di setiap jalan yang sesekali melandai itu mampu membuat saya menarik sedikit nafas lega.

Berpuluh menit kemudian, perjalanan dengan rasa was-was itu berakhir saat bus berbelok ke sebuah kawasan yang dikenal dengan Pantai Laut Mati. Begitu bus berhenti, tanpa diperintah lagi, kami semua turun dari bus dan menyebar mencari lokasi terbaik untuk berfoto.

Saya sendiri, ketika menjejak tanah, tidak merasakan perbedaan tekanan udara. Rasanya biasa saja, seperti di ruang terbuka dimanapun meskipun jam tangan saya menunjukkan elevasi -439 meter. Mungkin tidak akurat 100% tetapi tetap saja surprise juga melihat angka yang lumayan aneh di jam tangan itu 🙂

Dead Sea altitude at my watch

Berusaha memanfaatkan waktu yang sempit berada di Laut Mati, langsung saja saya menuruni berpuluh anak tangga agar bisa sampai ke tepi pantainya. Terlihat juga di kejauhan hotel dan resort mewah yang berada di pinggir Laut Mati tetapi sepertinya tetap saja harus menuruni banyak anak tangga untuk sampai ke pantainya, seperti di kawasan ini juga. Laut Mati yang sebenarnya danau itu tak memiliki ombak, hanya riak kecil. Saya berjongkok untuk melihat batuan yang ada di pantainya. Bukan kebanyakan pasir seperti umumnya pantai, melainkan batu-batu dan butiran garam yang mengkristal. Airnya sendiri menurut saya cenderung seperti minyak, sedikit lebih pekat atau kental dari air dan licin. Sungguh rasanya aneh saat terkena kulit tangan.

Selagi saya memperhatikan batuan kristal garam itu, datang tiga orang turis yang langsung menceburkan diri untuk berenang dan berfoto. Mau tidak mau saya turut tersenyum memperhatikan mereka yang tertawa lebar karena langsung mengapung tanpa perlu bantuan. Memang, kandungan garam di Laut Mati mencapai 33%, -sebuah angka yang ekstra tinggi dibandingkan dengan rata-rata kandungan garam di laut lainnya yang hanya 3%-, membuat manusia secara otomatis mengapung di Laut Mati.

What we see at Dead Sea Beach
The must taken pose on Dead Sea – floating

Sebuah pertanyaan nakal melintas di benak saat melihat mereka yang mengapung. Jika manusia selalu mengapung, tentunya di Laut Mati selalu aman, tidak pernah ada yang tenggelam. Apakah benar begitu? Pertanyaan itu membuat saya googling dan terkejut juga mendapatkan jawabannya. Ternyata ada kasus ‘tenggelam’ di Laut Mati. Tapi tenggelam di sini tidak seperti tenggelam di perairan biasa, melainkan celaka (yang mungkin menimbulkan kematian) karena kehabisan nafas di dalam air. Faktanya, manusia bisa dengan mudah membalikkan badan, atau dengan bantuan gerakan kaki menghentak dasar di perairan biasa, tetapi di Laut Mati dengan kadar garam 10 kali lipat dari perairan laut normal, hal itu sangat sulit dilakukan dan sangat melelahkan karena kondisi pekatnya perairan. Kondisi manusia yang mengapung dengan posisi tertelungkup sangat berisiko tinggi di Laut Mati. Maka dari itu, di Laut Mati disarankan orang berenang dengan posisi telentang yaitu wajah, dada dan perut menghadap atas.

Selain bisa langsung mengapungkan manusia, konon lumpur Laut Mati merupakan salah satu skincare terbaik. Bisa jadi karena kandungan mineralnya yang jauh lebih tinggi dari perairan biasa. Namun ketika melihat ada teman rombongan yang membeli berbotol-botol ramuan dari Laut Mati sebagai skincare, saya tetap tak tergoda. Selain mahal (mata uang Jordan itu bikin mules kalau dirupiahkan!), saya menggunakan satu rule, jika kulit semua orang lokalnya sebagus yang dipromosikan, mungkin boleh dipertimbangkan untuk dibeli. Tapi, hmm… by the way, yang bernyawa memang tidak bisa hidup di Laut Mati, namun bukan berarti perairan itu bersih dari makhluk yang pernah hidup lalu tidak bisa meninggalkan Laut Mati itu kan…? Lalu, buat skincare di wajah? 🙂

Pemikiran itu terbersit karena mengingat kisah dalam Al Quran tentang peristiwa yang menimpa kaum Nabi Luth Alaihissalam yang konon menempati kota Sodom. Peristiwa itu terjadi karena mereka telah terus menerus melakukan perbuatan maksiat dengan saling menyukai sesama jenisnya. Bahkan tiga orang tamu Nabi Luth Alaihissalam juga menjadi sasaran keinginan mereka padahal ketiga tamu yang berwajah rupawan itu adalah malaikat yang menyamar menjadi manusia.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Al Quran, Surat Hud, ayat 82)

Sejauh yang saya tahu, konon kota Sodom dan Gomorrah itu sudah dimusnahkan hingga tak ada lagi jejaknya. Tetapi tetap saja, ada begitu banyak alasan bagi negeri-negeri untuk bisa mem”bumi”kan kisah yang tertulis di Kitab Suci itu. Ada penelitian yang mengatakan kota Sodom itu berada di wilayah Jordan, ada juga yang mengatakan ada di wilayah Israel. Artinya semuanya ada di sekitar Laut Mati. Bisa jadi karena kisah Sodom dan Gomorrah ini berkategori keburukan, maka tidak banyak negeri yang mau mengklaimnya (Lain halnya kalau bersifat positif dan keren, pastinya banyak negara berlomba-lomba mengklaim). Yang pasti, jika kita membuka Google Map, di bagian Barat Daya Laut Mati, di wilayah Israel, ada tempat yang dinamakan Mt. Sodom yang tak jauh dari pilar garam yang disebut sebagai Statue of Lot Wife. Apakah itu berkaitan dengan peristiwa di Kitab Suci atau tidak, wallahualam.

Saya memang tidak berlama-lama di Pantai Laut Mati, tetapi merasakan berdiri di atas kaki sendiri di tempat yang konon berlatar kisah yang ada di kitab suci itu, memang berbeda. Selain indah, rasanya kita diingatkan tentang kisahnya, tentang konsekuensinya. Juga tentang kekuasaan Allah yang Maha Besar. Berdiri di tempat terendah di muka bumi, membukakan mata hati. Air di depan mata tampak seperti air biasa, padahal tidak. Permukaan air di depan mata dan tanah yang dipijak, seperti tanah biasa, padahal secara sains tempat ini tempat terdalam di muka bumi yang bisa dijejak oleh manusia secara normal. Tentunya tidak banyak manusia yang bisa merasakan berada di tempat yang “ter” di dunia, tentunya di sini maksudnya adalah yang paling rendah.

Apalagi saya bisa menikmati wajah sunset yang indah di Laut Mati. Warna kuning keemasan akibat matahari tenggelam itu sangat luar biasa. Tidak banyak orang yang bisa menikmati sunset dari tempat yang berada di 400 meter di bawah permukaan laut. Dan saya termasuk orang yang sangat beruntung dapat mengalaminya. I am so blessed…

Sunset at Dead Sea, Jordan

Menjejak Jordan, Mengintip Cave of Seven Sleepers


Lamat-lamat dalam hati saya mendaraskan doa dalam penerbangan menuju Amman yang baru saja meninggalkan bandara internasional King Abdul Azis, Jeddah. Tidak lain kecuali harapan bisa kembali lagi ke Tanah Suci. Sebuah rasa yang sejak dulu saya selalu skeptis kini benar-benar menguasai hati. Dulu, saya tak pernah mengerti mengapa orang berkali-kali mengerjakan umroh dan berhaji, bukankah ibadah itu cukup sekali saja? Kini, setelah mengalami sendiri, saya paham bahwa rasa ingin berada di Tanah Suci itu yang begitu intim, begitu personal, begitu menyenangkan, semua itu seperti minum di saat dahaga dengan damai memenuhi jiwa. 

Kesadaran berada di pesawat yang sedang mengangkasa, melahirkam setitik rasa tak rela meninggalkan bumi tempat Tanah Suci berada. Saya menarik nafas panjang, tanpa membuka mata pun saya memahami diri ini dihadapkan langsung oleh hukum kefanaan. Tidak pernah ada yang abadi, sebuah awal senantiasa memiliki akhir, sebuah perjumpaan senantiasa berujung pada perpisahan. Dan ini saatnya…

Bersamaan dengan rasa yang keluar, jauh di sudut jiwa, serangkaian kata bijak dari Jalaluddin Rumi terasa mendenting-denting di benak seakan mengingatkan. Bukankah perpisahan hanya untuk orang-orang yang mencintai dengan matanya? Bukankah untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak akan pernah ada kata perpisahan? Sekali lagi saya menarik nafas panjang, melepas dengan ikhlas, menyambut rasa yang memberi semangat baru.

Setelah dua jam penerbangan Saudi Arabian Airlines dengan pesawat A320 itu akhirnya bandara megah Internasional Queen Alia, kota Amman, Jordan menyambut kami semua. Sebagai bandara terbesar di Jordan, kemegahannya langsung terasa apalagi tak banyak orang berlalu lalang. Entahlah, bisa jadi kelengangannya lebih terasa karena saya baru datang dari Jeddah yang kerap didatangi manusia dari berbagai negara. 

Belum cukup lama mengagumi bandara megah kota Amman, kami sudah diarahkan segera keluar bangunan indah ini. Yah, seperti umumnya perjalanan yang diatur oleh sebuah agen, tidak ada istilah santai selepas imigrasi Jordan. Bersamaan dengan koper-koper yang dimasukkan ke dalam bagasi, kami pun segera menaiki bus untuk kemudian bergerak menuju tempat-tempat wisata di Jordan. 

Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Dari balik jendela bus, saya mengamati pemandangan gurun yang kering kecoklatan menghias perjalanan, yang sesekali disela oleh suara pemandu wisata. Kami memang menuju Gua Ashabul Kahfi yang terletak di Abu Alanda, dekat kawasan Raqim, sekitar 30 menit berkendara dari bandara. Konon, di sana merupakan tempat yang melatari kisah yang tertulis dalam kitab suci Al Quran. Kisah tentang Ashabul Kahfi atau dikenal juga The Seven Sleepers

Kawasan Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Meski masih diperdebatkan keakuratannya, gua Ashabul Kahfi atau tertulis di gerbang dengan nama Cave of Seven Sleepers yang berlokasi di Jordan ini tetap berhasil membuat saya kagum. Gerbangnya sendiri melengkung cantik, menandakan adanya campur tangan dari dunia modern. Saya tersenyum dalam hati, Jordan tidak sendirian mengklaim memiliki gua Ashabul Kahfi karena Turki pun melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari satu tempat (Ephesus, Afsin dan Tarsus). Bagaimanapun, saya sebagai pencinta segala sesuatu yang berbau sejarah kuno, bisa merasakan Ashabul Kahfi di Jordan ini begitu menguarkan rasa ancient. Rasanya hidung saya otomatis bergerak-gerak membaui batu-batunya, temboknya, suasananya, lalu membiarkan imajinasi menari lincah membayangkan tempat yang seakan terperangkap dalam waktu itu. 

Otomatis saya teringat perjalanan ke Lumbini, Nepal beberapa tahun lalu (baca tulisan saya tentang Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini). Lumbini yang dipercaya sebagai tempat lahir Sang Buddha lebih dari dua millenium lalu, memiliki situasi struktur bebatuan serupa dengan yang terhampar di Ashabul Kahfi ini. Rasanya tak jauh beda. Tanpa perlu mengetahui secara ilmiah, dari rupa bebatuannya saja sudah terasa goresan sejarah besar kehidupan berabad-abad lalu di tempat saya berpijak.  

Di depan mata terhampar kawasan selayaknya sebuah situs purbakala yang sedang diekskavasi, dengan jalan setapak yang lebarnya hanya bisa dilalui oleh manusia. Bisa jadi dulu tanah ini juga dijejaki oleh tentara Romawi yang mencari ketujuh pemuda yang menolak perintah Raja itu. Ada yang masih ingat kisah Ashabul Kahfi ini? 

Gate of Ashabul Kahfi area

Tertulis dalam kitab suci, Ashabul Kahfi atau Tujuh Pemuda Yang Tertidur merupakan kisah manis tentang kekuatan iman dari tujuh pemuda penganut agama samawi yang konon terjadi beberapa abad sebelum kedatangan Nabi Isa ‘Alaihissalam

Kala itu, penguasa (ada yang menyebutnya Raja Decius dan juga Gubernur Daqyanus) dikenal sebagai orang-orang yang dzalim dan penyembah berhala. Dengan kekuasaannya, mereka bisa memaksa siapapun dan dengan cara apapun untuk menanggalkan iman akan Dia Yang Maha Esa untuk kembali menyembah berhala. Tak heran, kemarahan penguasa langsung saja  berkobar ketika mengetahui ada tujuh pemuda yang menolak perintahnya, meski salah satu diantara tujuh orang itu adalah kerabatnya.. Akibatnya tidak tanggung-tanggung, hukuman mati atas ketujuh pemuda itu menanti apabila dalam waktu dua hari mereka tidak mau mengubah keyakinannya. 

>Ketujuh pemuda itu tetap menolak dan memutuskan melarikan diri dan bersembunyi dalam sebuah gua di kawasan pegunungan. Seperti juga kisahnya, nama ketujuh pemuda itupun senantiasa diperdebatkan, termasuk apakah ada anjing yang konon bernama Qithmir dan bertugas menjaga pintu gua. Apapun itu, nyatanya ketujuh pemuda terselamatkan dari hukuman yang keji itu. Dia, Pemilik Semesta ini menunjukkan kuasaNya dengan membuat mereka tertidur selama 300 tahun Masehi atau 309 tahun Hijriah. 

Terbangun karena rasa lapar, ketujuh pemuda ini menyangka terlelap hanya sehari. Namun, ketika salah satu pemuda itu pergi ke kota untuk mencari makanan, alangkah terkejutnya dia karena kota sudah sangat berbeda. Selain itu, uang peraknya sudah tidak berlaku untuk membayar. Serta merta seisi kota gempar mendengar ceritanya karena dia adalah salah satu dari tujuh pemuda yang telah menghilang selama tiga abad. Penduduk kota ingat betul akan kisah turun temurun tentang tujuh pemuda yang menghilang karena tidak ikhlas menjual agama kepada penguasa dzalim penyembah berhala. Dan hari itu, salah satu dari ketujuh pemuda itu berdiri di antara mereka.

Sontak saja, berita kembalinya ketujuh pemuda itu tersiar seantero negeri. Raja yang berkuasa saat itu dan penduduk negeri menyambut mereka dengan meriah dan meminta mereka tinggal di kota. Namun mereka menolak dan tetap memilih kembali ke gua. Konon, sesampainya di gua, mereka bersujud dan memohon agar Pemilik Segala Kuasa bisa menurunkan rahmatNya dan mengizinkan mereka meninggalkan dunia fana. Tak ada yang mustahil bagi Pemilik Semesta. 

Tubuh mereka dikuburkan di dalam gua, yang bisa disaksikan adanya tujuh makam batu di dalam gua. Namun kini semua tulang yang tersisa ditempatkan di salah satu makam batu, yang di satu bagiannya diberi kaca tembus pandang, agar kita bisa melihat ke dalamnya.

-o- 

Tampak depan Gua Ashabul Kahfi, pintunya rendah & ceruk gaya Romawi, di bagian atas ada reruntuhan bekas mihrab masjid
Tempat tidur sekaligus makam batu dalam gua
Hiasan dinding di dalam gua
Showcase of artefacts in the cave.

Dengan berhias ceruk khas Romawi di dekat pintu gua yang rendah, udara lembab gua yang minim sirkulasi langsung menyergap hidung ketika saya melangkah memasukinya. Gua itu tak luas, tapi cukup untuk dihuni tujuh orang. Ada bagian depan gua dan di bagian belakangnya dengan level yang lebih rendah merupakan kubur batunya. Saya mengintip ke lubang kaca, serupa tulang masih terkumpul di dalam sana dan sebuah showcase tampak diletakkan di sana untuk menyimpan segala macam artefak pendukung kisah. Entahlah, bisa jadi hanya tiruan, mungkin juga asli… Rasanya semua isi kisah terasa jumpalitan di benak. Otak ilmiah yang bertumbuk dengan kisah reliji ini bermuara pada selarik pemahaman, bisa jadi sebidang tempat ini memang terlipat dalam waktu. Wallahualam bissawab. Kebenaran hanyalah milik Allah.

Saya tidak lama berada dalam gua karena ingin melihat bagian luar yang juga terlihat menarik. Selain kucing cantik berbulu lebat yang sedang berjemur, yang terhampar hanyalah bebatuan belaka. Namun bukan sekedar bebatuan tanpa kisah karena awalnya dulu di atas gua konon dibangun sebuah gereja kecil. Bisa jadi demikian karena ada perkembangan kependudukan di wilayah yang kini masuk ke negeri Jordan itu. Tetapi pada akhirnya, seperti umumnya perjalanan waktu di negeri-negeri Timur Tengah, gereja kecil tadi dikonversi menjadi masjid. Menariknya, mihrab masjid tepat tepat di atas pintu depan untuk masuk ke gua, yang tentunya menghadap kiblat.

Meninggalkan bebatuan kuno itu, saya melangkah menuju Masjid Al Kahfi, yang didirikan di kawasan yang sama yang letaknya lebih atas. Kompleks Masjid itu sangat megah dan sangat kontras dengan lingkungan kuno Gua Ashabul Kahfi. Seperti bumi dan langit, yang satu menunjukkan modernitas, lainnya merujuk pada kekuatan alam. 

Setelah mendirikan shalat di Masjid itu, kami melangkah keluar menikmati sesaat waktu bebas untuk mengabadikan tempat bersejarah sekaligus tempat ibadah yang tak kalah indah. Sayangnya, lagi-lagi tak bisa lama, karena bus telah menunggu kami menuju persinggahan berikutnya…

Tempat terendah di muka bumi.

Masjid di atas kawasan Ashabul Kahfi
Pemandangan dari arah Masjid ke lembah

Batu-Batu Pembuat Takjub


Ada seorang teman sekolah yang mengatakan bahwa saya penyuka batu. Mendengar itu saya hanya bisa mengangkat alis, karena, -meskipun terdengar aneh-, saya tidak bisa mengabaikan kenyataan itu. Benar juga sih. Karena saya memang menyukai batu. Bukan batu-batu permata yang dulu pernah heboh, melainkan batu-batu yang memiliki makna, batu alam yang membuat takjub, atau batu-batu yang tersusun menjadi bangunan candi, batu-batu kecil yang berbentuk aneh. Ah, rasanya saya memang mudah tertarik oleh penampakan batu yang ‘menghebohkan’. Aneh juga ya?

Namun bagi mereka yang mengenal saya, atau mengikuti perjalanan saya melalui blog ini, tentu mengetahui bahwa saya sedikit ‘gila’ terhadap candi-candi Hindu/Buddha yang umumnya tersusun dari batu. Bahkan saya ‘kejar’ kegilaan saya akan batu itu sampai ke luar negeri. Meskipun, jujur deh, masih sangat banyak tempat di Indonesia yang belum saya kunjungi dan semuanya terkait dengan batu. 😀

Ketika berkesempatan pergi ke Jepang untuk pertama kalinya, di Osaka Castle saya terpaku di depan sebuah batu utuh yang amat besar, yang menjadi bagian dari dinding pelindung halaman dalam yang dikenal dengan nama Masugata Square. Batu yang disebut dengan Tako-ishi atau harafiahnya berarti Batu Gurita (karena ada gambar gurita di kiri bawahnya) memang luar biasa besar. Beratnya diperkirakan  108 ton, berukuran panjang 11.7 meter dan tingginya 5.5 meter (atau lebih dari saya ditumpuk tiga ke atas 😀 ). Satu batu utuh yang termasuk megalith dan terbesar di Osaka Castle ini bisa disaksikan tak jauh dari Gerbang Sakura.

Konon, dinding batu yang terbuat dari batu-batu amat besar ini dibuat pada awal periode Edo, yaitu sekitar tahun 1624 oleh Tadao Ikeda, Bangsawan besar dari Okayama yang diperintahkan oleh Shogun Tokugawa. Selain, Takoishi sebagai yang terbesar, tepat di sebelahnya terdapat batu yang merupakan ketiga terbesar di Osaka Castle, yang dikenal dengan nama Furisodeishi atau harafiahnya berarti batu lengan panjang kimono. Mungkin karena bentuknya seperti lengan kimono.

Saya sendiri belum sempat menelaah lebih lanjut tempat pembuatan Tako-ishi itu, apakah memang dibuat di Osaka atau di Okayama, tempatnya Tadao Ikeda menjabat. Jika benar di Okayama, saya tak pernah membayangkan pengirimannya. Padahal jarak Osaka ke Okayama itu sekitar 170 km. Lalu bagaimana pengirimannya pada masanya ya?

Stone1-Takoishi
Takoishi – The Largest Stonewall in Osaka Castle

– § –

Berbeda dengan batu yang ada di Jepang, dalam perjalanan saya ke Cambodia, -tentu saja selain Angkor Wat dan kuil-kuil lainnya yang mempesonakan-, saya juga terpesona dengan Reclining Buddha raksasa yang terbuat dari batu utuh yang berlokasi di kompleks Preah Ang Tom di Phnom Kulen, sekitar 50 km di utara kompleks percandian Angkor.

Dengan panjang sekitar 17 meter, Reclining Buddha dari abad ke-16 ini, dibangun di atas batu setinggi 8 meter sehingga saya harus menaiki tangga untuk mencapainya. Meskipun ukurannya kalah jauh dari Wat Pho di Bangkok atau bahkan Reclining Buddha di Mojokerto apalagi jika dibandingkan panjang patung-patung serupa di Myanmar, saya merasa amat unik dengan apa yang saya lihat di Preah Ang Tom ini.

Tidak seperti biasanya di negara-negara Buddhist yang pada umumnya Reclining Buddha dalam posisi Parinirvana (perjalanan menuju Nirvana setelah kematiannya) dibuat dengan kepala di sebelah kiri, Reclining Buddha yang ada di Phnom Kulen ini, kepala Sang Buddha berada di sebelah kanan. Terlebih lagi, konon sudah amat tua, hampir empat abad keberadaannya dan dibuat diatas batuan pegunungan! Bahkan setelah saya browsing, hanya ada tiga Reclining Buddha dalam posisi ini, dua di Thailand dan di Preah Ang Tom ini.

Stone2-PhnomKulen
Reclining Buddha at Phnom Kulen, Cambodia

– § –

Bicara soal usia batu, saya jadi teringat batu yang ditemui saat melakukan trekking ke Muktinath di kawasan Lower Mustang, Nepal. Tak jauh dari kuil Muktinath yang dipercaya oleh penganut Hindu Vaishnavas sebagai salah satu tempat yang paling sakral, terdapat sebuah patung Buddha sebagai penghormatan kepadan Guru Rinpoche yang konon pernah ke sana. Di bawahnya diberi hiasan batu-batu asli, yang diambil dari Sungai Kali Gandaki. Batu-batu asli ini namanya Shaligram.

Shaligram ini sangat khas. Meski kecil, tidak lebih besar dari telapak tangan-, batu ini luar biasa unik karena memiliki motif kerang yang terbentuk secara alamiah. Konon terbentuk sebagai fosil sejenis kerang yang ada sekitar ratusan juta tahun lalu!

Yang membuat saya terpesona adalah kenyataan bahwa batu kerang sebagai binatang laut yang sudah memfosil itu bisa ditemukan di dasar atau pinggir sungai Kali Gandaki yang berair tawar di sekitaran kawasan Himalaya yang tinggi gunungnya beribu-ribu meter ke atas. Mungkin saja, pikiran saya terlalu terbatas untuk bisa membayangkan yang terjadi di alam ini selama ratusan juta tahun yang lalu, ketika jaman es masih menutupi planet bumi tercinta ini. 

Menyaksikan sendiri fakta alam yang begitu dekat dan bisa dipegang, rasanya amat luar biasa. Namun sayang sekali, ada saja manusia-manusia yang tak bertanggung jawab yang mencungkilnya untuk dijadikan sesembahan.

DSC06048
Shaligram of Muktinath, Nepal

– § –

Batu-batu lain yang membuat saya takjub adalah batu-batu yang berdiri dalam posisi amat kritis. Salah satu batu yang membuat saya terkagum-kagum adalah The Golden Rock, yang ada di Myanmar, sekitar 5 – 6 jam perjalanan dengan bus dari Yangon. Hingga kini, Golden Rock menjadi tempat sakral bagi umat Buddha Myanmar sehingga banyak didatangi peziarah dari segala penjuru Myanmar.

Bagi saya, The Golden Rock bisa mewakili semua posisi batu yang disangga batu lainnya meskipun dengan posisi yang teramat kritis dan tetap dalam keseimbangan selama berabad-abad. Mungkin tingkat kekritisannya bisa dibandingkan dengan The Krishna’s Butter Ball yang ada di Mahablipuram, India (Semoga saya diberikan kesempatan untuk berkunjung kesana!) atau batu-batu lainnya yang serupa.

Di dekat Wat Phu, Laos Selatan, saya melihat celah sempit di bawah batu cadas (rocks) dan digunakan untuk tempat persembahyangan. Juga di Golden Rock, saya melihat banyak orang bersembahyang di bawah batu tersebut. Entah kenapa melihat semua itu, selalu terlintas di pikiran, bagaimana jika terjadi gempa bumi yang membuat posisi batu menjadi tak seimbang dan batu itu ‘glundung‘ jatuh ke bawah? Bukankah apapun bisa terjadi?

DSC07435
Critical Point of The Golden Rock, Myanmar

– § –

Tetapi, dari banyak tempat yang pernah saya kunjungi, mungkin Petra di Jordan menjadi juaranya terkait batu yang membuat saya terkagum-kagum. Kekaguman saya akan tingginya celah ngarai yang teramat sempit yang dikenal dengan nama The Siq, juga bentukan-bentukan alam serta olahan tangan dari bangsa Nabatean jaman dahulu terhadap kawasan berbatu cadas itu. Sang Pemilik Semesta telah menciptakan kawasan Petra begitu berbatu yang tanpa sentuhan manusia pun sudah begitu mempesonakan, namun bangsa Nabatean dengan kemampuan artistiknya membuatnya semakin menarik.

Menuju The Treasury, saya melewati daerah yang disebut dengan Djinn blocks. Isinya batu-batu yang berbentuk kubus, nyaris sempurna. Saat mengetahui namanya, konotasi saya langsung mengarah ke tempat-tempat jin (asal katanya ya memang itu kan), namun konon bentukan kubus itu merupakan tempat peristirahatan (tapi entah peristirahatan dalam artian makam atau memang tempat beristirahat dalam perjalanan karena ada juga yang mengartikan ‘tempat air’ yang biasanya menjadi tempat pemberhentian pengelana)

Tetapi tetap saja, batu-batuan di Petra ini, dalam kondisi aslinya atau telah menerima sentuhan manusia, tetap mempesona. Yang pasti, saya ingin kembali lagi kesana, menjelajah lebih lama, lebih santai…

DSC00469
Other angle of Djinn Blocks

DSC00466
Djinn Blocks, Petra

DSC00496
Elephant, Fish or Aliens?

– § –

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-20 bertema Stone agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Siapa Dia Yang Berjemur Di Depan Gua


Saya baru saja meninggalkan pintu gua Ashabul Kahfi yang terletak sekitar 10 km sebelah Timur kota Amman, -ibukota Jordan-, dan masih terpesona dengan kawasan bersejarah yang kisahnya terabadikan di kitab suci Al Qur’an dalam Surat Al Kahfi itu, surat yang biasa dibaca umat Muslim setiap hari Jumat itu. Rasanya belum mau melepas pandang dari pintu gua seukuran badan manusia yang baru saja saya tinggalkan itu. Entah kenapa saya jadi teringat saat berada di kawasan Lumbini enam tahun lalu.

Ada kesamaan di antara keduanya yakni berupa reruntuhan peradaban yang masih terpelihara hingga kini, melewati masa ratusan tahun hingga milenia. Seakan alam menjaganya, melindunginya dari prahara-prahara dunia yang tak pernah berhenti. Persis seperti permata berharga yang tak lekang oleh masa. Ada aura khas yang  menggetarkan rasa. Seperti menguarkan atmosfir adanya kehidupan yang menjadi sejarah di antara batu-batu kuno itu.

Ashabul Kahfi sendiri mengisahkan tentang tujuh pemuda yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tertidur lelap di dalam gua selama 309 tahun menurut kalender hijriah. Konon ketujuh pemuda yang taat mempertahankan keimanannya itu melarikan diri dari kekejaman Raja Dakyanus yang saat itu berkuasa dan telah menjatuhkan hukuman mati kepada siapapun yang menentang dirinya, termasuk ke tujuh pemuda itu karena senantiasa mempertahankan keimanannya. Dan ketika mereka terbangun 309 tahun setelahnya, mereka terkejut karena keadaan telah berubah sama sekali dan tidak ada lagi pasukan Raja Dakyanus yang mengejar mereka. 

Saat itu, rasanya saya masih terpukau dengan peninggalan-peninggalan sejarah pada dinding dekat pintu gua, yang dihiasi oleh simbol-simbol Romawi. Sungguh saya belum puas menikmati keluarbiasaan itu ketika terdengar arahan dari tour leader kami untuk segera berpindah menuju Masjid yang ada di dalam kawasan yang sama untuk melaksanakan kewajiban ibadah agar bisa melanjutkan perjalanan (Suatu saat nanti, InsyaAllah, saya akan menuliskan kisah perjalanan di Amman ini)

Saat itulah saya melihatnya. Hewan berbulu di depan gua. Cantik.

Meskipun matahari telah condong ke Barat, panasnya tak lagi gahar. Bisa jadi suhu udara kota Amman dua hari jelang Tahun Baru 2020 itu memang teramat sejuk. Hewan berbulu, -yang oleh sebagian teman-teman penggemar biasa disebut Anbul, alias Anak Bulu-, duduk di atas bebatuan, menghadap ke Barat.

DSC00392

Salahnya dia duduk menghadap ke Barat sehingga ia teramat silau terpapar sinar matahari jelang sore. Ia memicingkan matanya, tak bisa membuka mata lebar-lebar karena sinar matahari terlalu terang. Tapi entahlah, bisa jadi ia justru memilih posisi duduk menghadap Barat. Sepertinya terasa hangat. Sepertinya ia memang mencari matahari. Kasarnya, berjemur sore.

Saya bukanlah seorang penggemar kucing, bukan juga pembencinya. Tetapi ketika melihat seekor kucing yang “kesilauan” dan bersikap santai tak peduli dengan lingkungan lainnya, duduk di atas batu di kawasan wisata bersejarah, terus terang saja saya merasa terbawa oleh sikapnya yang menyenangkan. Entah kenapa, saya teringat turis-turis kulit putih yang sering berjemur di pantai mencari sinar matahari agar kulitnya lebih tanned.

Warna kulit si Kucing Cantik ini tak terlalu jauh dari warna-warna batuan yang menjadi latar belakangnya. Tetapi bagaimana pun sikapnya yang “kesilauan” itu menggugah rasa gembira saya. Lucu sekali, karena seumur-umur saya tak pernah melihat seekor kucing menantang matahari dan kesilauan sendiri. (Ah, kamu Cing, harusnya pakai kacamata cengdem!)

Saya tidak bisa berlama-lama menatap si Kucing Cantik ini karena tour leader lagi-lagi mengingatkan untuk melanjutkan perjalanan.

Meskipun masih gemas dengan sikap si Kucing Cantik ini, saya harus melepaskan pandangan darinya.

Sampai bertemu lagi, Cing…

Sambil melangkah saya terpikir, apakah si Kucing Cantik itu juga merasakan aura bersejarah dari Gua Ashabul Kahfi seperti yang saya rasakan tadi? Siapa sebenarnya si Kucing ini?

Ah, jangan-jangan si Kucing Cantik ini….

Segera saja saya membuang pikiran nyeleneh yang muncul dan bergegas menyusul rombongan.


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-12 ini bertema Kucing (Cat) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…