Batu-Batu Pembuat Takjub


Ada seorang teman sekolah yang mengatakan bahwa saya penyuka batu. Mendengar itu saya hanya bisa mengangkat alis, karena, -meskipun terdengar aneh-, saya tidak bisa mengabaikan kenyataan itu. Benar juga sih. Karena saya memang menyukai batu. Bukan batu-batu permata yang dulu pernah heboh, melainkan batu-batu yang memiliki makna, batu alam yang membuat takjub, atau batu-batu yang tersusun menjadi bangunan candi, batu-batu kecil yang berbentuk aneh. Ah, rasanya saya memang mudah tertarik oleh penampakan batu yang ‘menghebohkan’. Aneh juga ya?

Namun bagi mereka yang mengenal saya, atau mengikuti perjalanan saya melalui blog ini, tentu mengetahui bahwa saya sedikit ‘gila’ terhadap candi-candi Hindu/Buddha yang umumnya tersusun dari batu. Bahkan saya ‘kejar’ kegilaan saya akan batu itu sampai ke luar negeri. Meskipun, jujur deh, masih sangat banyak tempat di Indonesia yang belum saya kunjungi dan semuanya terkait dengan batu. 😀

Ketika berkesempatan pergi ke Jepang untuk pertama kalinya, di Osaka Castle saya terpaku di depan sebuah batu utuh yang amat besar, yang menjadi bagian dari dinding pelindung halaman dalam yang dikenal dengan nama Masugata Square. Batu yang disebut dengan Tako-ishi atau harafiahnya berarti Batu Gurita (karena ada gambar gurita di kiri bawahnya) memang luar biasa besar. Beratnya diperkirakan  108 ton, berukuran panjang 11.7 meter dan tingginya 5.5 meter (atau lebih dari saya ditumpuk tiga ke atas 😀 ). Satu batu utuh yang termasuk megalith dan terbesar di Osaka Castle ini bisa disaksikan tak jauh dari Gerbang Sakura.

Konon, dinding batu yang terbuat dari batu-batu amat besar ini dibuat pada awal periode Edo, yaitu sekitar tahun 1624 oleh Tadao Ikeda, Bangsawan besar dari Okayama yang diperintahkan oleh Shogun Tokugawa. Selain, Takoishi sebagai yang terbesar, tepat di sebelahnya terdapat batu yang merupakan ketiga terbesar di Osaka Castle, yang dikenal dengan nama Furisodeishi atau harafiahnya berarti batu lengan panjang kimono. Mungkin karena bentuknya seperti lengan kimono.

Saya sendiri belum sempat menelaah lebih lanjut tempat pembuatan Tako-ishi itu, apakah memang dibuat di Osaka atau di Okayama, tempatnya Tadao Ikeda menjabat. Jika benar di Okayama, saya tak pernah membayangkan pengirimannya. Padahal jarak Osaka ke Okayama itu sekitar 170 km. Lalu bagaimana pengirimannya pada masanya ya?

Stone1-Takoishi
Takoishi – The Largest Stonewall in Osaka Castle

– § –

Berbeda dengan batu yang ada di Jepang, dalam perjalanan saya ke Cambodia, -tentu saja selain Angkor Wat dan kuil-kuil lainnya yang mempesonakan-, saya juga terpesona dengan Reclining Buddha raksasa yang terbuat dari batu utuh yang berlokasi di kompleks Preah Ang Tom di Phnom Kulen, sekitar 50 km di utara kompleks percandian Angkor.

Dengan panjang sekitar 17 meter, Reclining Buddha dari abad ke-16 ini, dibangun di atas batu setinggi 8 meter sehingga saya harus menaiki tangga untuk mencapainya. Meskipun ukurannya kalah jauh dari Wat Pho di Bangkok atau bahkan Reclining Buddha di Mojokerto apalagi jika dibandingkan panjang patung-patung serupa di Myanmar, saya merasa amat unik dengan apa yang saya lihat di Preah Ang Tom ini.

Tidak seperti biasanya di negara-negara Buddhist yang pada umumnya Reclining Buddha dalam posisi Parinirvana (perjalanan menuju Nirvana setelah kematiannya) dibuat dengan kepala di sebelah kiri, Reclining Buddha yang ada di Phnom Kulen ini, kepala Sang Buddha berada di sebelah kanan. Terlebih lagi, konon sudah amat tua, hampir empat abad keberadaannya dan dibuat diatas batuan pegunungan! Bahkan setelah saya browsing, hanya ada tiga Reclining Buddha dalam posisi ini, dua di Thailand dan di Preah Ang Tom ini.

Stone2-PhnomKulen
Reclining Buddha at Phnom Kulen, Cambodia

– § –

Bicara soal usia batu, saya jadi teringat batu yang ditemui saat melakukan trekking ke Muktinath di kawasan Lower Mustang, Nepal. Tak jauh dari kuil Muktinath yang dipercaya oleh penganut Hindu Vaishnavas sebagai salah satu tempat yang paling sakral, terdapat sebuah patung Buddha sebagai penghormatan kepadan Guru Rinpoche yang konon pernah ke sana. Di bawahnya diberi hiasan batu-batu asli, yang diambil dari Sungai Kali Gandaki. Batu-batu asli ini namanya Shaligram.

Shaligram ini sangat khas. Meski kecil, tidak lebih besar dari telapak tangan-, batu ini luar biasa unik karena memiliki motif kerang yang terbentuk secara alamiah. Konon terbentuk sebagai fosil sejenis kerang yang ada sekitar ratusan juta tahun lalu!

Yang membuat saya terpesona adalah kenyataan bahwa batu kerang sebagai binatang laut yang sudah memfosil itu bisa ditemukan di dasar atau pinggir sungai Kali Gandaki yang berair tawar di sekitaran kawasan Himalaya yang tinggi gunungnya beribu-ribu meter ke atas. Mungkin saja, pikiran saya terlalu terbatas untuk bisa membayangkan yang terjadi di alam ini selama ratusan juta tahun yang lalu, ketika jaman es masih menutupi planet bumi tercinta ini. 

Menyaksikan sendiri fakta alam yang begitu dekat dan bisa dipegang, rasanya amat luar biasa. Namun sayang sekali, ada saja manusia-manusia yang tak bertanggung jawab yang mencungkilnya untuk dijadikan sesembahan.

DSC06048
Shaligram of Muktinath, Nepal

– § –

Batu-batu lain yang membuat saya takjub adalah batu-batu yang berdiri dalam posisi amat kritis. Salah satu batu yang membuat saya terkagum-kagum adalah The Golden Rock, yang ada di Myanmar, sekitar 5 – 6 jam perjalanan dengan bus dari Yangon. Hingga kini, Golden Rock menjadi tempat sakral bagi umat Buddha Myanmar sehingga banyak didatangi peziarah dari segala penjuru Myanmar.

Bagi saya, The Golden Rock bisa mewakili semua posisi batu yang disangga batu lainnya meskipun dengan posisi yang teramat kritis dan tetap dalam keseimbangan selama berabad-abad. Mungkin tingkat kekritisannya bisa dibandingkan dengan The Krishna’s Butter Ball yang ada di Mahablipuram, India (Semoga saya diberikan kesempatan untuk berkunjung kesana!) atau batu-batu lainnya yang serupa.

Di dekat Wat Phu, Laos Selatan, saya melihat celah sempit di bawah batu cadas (rocks) dan digunakan untuk tempat persembahyangan. Juga di Golden Rock, saya melihat banyak orang bersembahyang di bawah batu tersebut. Entah kenapa melihat semua itu, selalu terlintas di pikiran, bagaimana jika terjadi gempa bumi yang membuat posisi batu menjadi tak seimbang dan batu itu ‘glundung‘ jatuh ke bawah? Bukankah apapun bisa terjadi?

DSC07435
Critical Point of The Golden Rock, Myanmar

– § –

Tetapi, dari banyak tempat yang pernah saya kunjungi, mungkin Petra di Jordan menjadi juaranya terkait batu yang membuat saya terkagum-kagum. Kekaguman saya akan tingginya celah ngarai yang teramat sempit yang dikenal dengan nama The Siq, juga bentukan-bentukan alam serta olahan tangan dari bangsa Nabatean jaman dahulu terhadap kawasan berbatu cadas itu. Sang Pemilik Semesta telah menciptakan kawasan Petra begitu berbatu yang tanpa sentuhan manusia pun sudah begitu mempesonakan, namun bangsa Nabatean dengan kemampuan artistiknya membuatnya semakin menarik.

Menuju The Treasury, saya melewati daerah yang disebut dengan Djinn blocks. Isinya batu-batu yang berbentuk kubus, nyaris sempurna. Saat mengetahui namanya, konotasi saya langsung mengarah ke tempat-tempat jin (asal katanya ya memang itu kan), namun konon bentukan kubus itu merupakan tempat peristirahatan (tapi entah peristirahatan dalam artian makam atau memang tempat beristirahat dalam perjalanan karena ada juga yang mengartikan ‘tempat air’ yang biasanya menjadi tempat pemberhentian pengelana)

Tetapi tetap saja, batu-batuan di Petra ini, dalam kondisi aslinya atau telah menerima sentuhan manusia, tetap mempesona. Yang pasti, saya ingin kembali lagi kesana, menjelajah lebih lama, lebih santai…

DSC00469
Other angle of Djinn Blocks
DSC00466
Djinn Blocks, Petra
DSC00496
Elephant, Fish or Aliens?

– § –

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-20 bertema Stone agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Siapa Dia Yang Berjemur Di Depan Gua


Saya baru saja meninggalkan pintu gua Ashabul Kahfi yang terletak sekitar 10 km sebelah Timur kota Amman, -ibukota Jordan-, dan masih terpesona dengan kawasan bersejarah yang kisahnya terabadikan di kitab suci Al Qur’an dalam Surat Al Kahfi itu, surat yang biasa dibaca umat Muslim setiap hari Jumat itu. Rasanya belum mau melepas pandang dari pintu gua seukuran badan manusia yang baru saja saya tinggalkan itu. Entah kenapa saya jadi teringat saat berada di kawasan Lumbini enam tahun lalu.

Ada kesamaan di antara keduanya yakni berupa reruntuhan peradaban yang masih terpelihara hingga kini, melewati masa ratusan tahun hingga milenia. Seakan alam menjaganya, melindunginya dari prahara-prahara dunia yang tak pernah berhenti. Persis seperti permata berharga yang tak lekang oleh masa. Ada aura khas yang  menggetarkan rasa. Seperti menguarkan atmosfir adanya kehidupan yang menjadi sejarah di antara batu-batu kuno itu.

Ashabul Kahfi sendiri mengisahkan tentang tujuh pemuda yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tertidur lelap di dalam gua selama 309 tahun menurut kalender hijriah. Konon ketujuh pemuda yang taat mempertahankan keimanannya itu melarikan diri dari kekejaman Raja Dakyanus yang saat itu berkuasa dan telah menjatuhkan hukuman mati kepada siapapun yang menentang dirinya, termasuk ke tujuh pemuda itu karena senantiasa mempertahankan keimanannya. Dan ketika mereka terbangun 309 tahun setelahnya, mereka terkejut karena keadaan telah berubah sama sekali dan tidak ada lagi pasukan Raja Dakyanus yang mengejar mereka. 

Saat itu, rasanya saya masih terpukau dengan peninggalan-peninggalan sejarah pada dinding dekat pintu gua, yang dihiasi oleh simbol-simbol Romawi. Sungguh saya belum puas menikmati keluarbiasaan itu ketika terdengar arahan dari tour leader kami untuk segera berpindah menuju Masjid yang ada di dalam kawasan yang sama untuk melaksanakan kewajiban ibadah agar bisa melanjutkan perjalanan (Suatu saat nanti, InsyaAllah, saya akan menuliskan kisah perjalanan di Amman ini)

Saat itulah saya melihatnya. Hewan berbulu di depan gua. Cantik.

Meskipun matahari telah condong ke Barat, panasnya tak lagi gahar. Bisa jadi suhu udara kota Amman dua hari jelang Tahun Baru 2020 itu memang teramat sejuk. Hewan berbulu, -yang oleh sebagian teman-teman penggemar biasa disebut Anbul, alias Anak Bulu-, duduk di atas bebatuan, menghadap ke Barat.

DSC00392

Salahnya dia duduk menghadap ke Barat sehingga ia teramat silau terpapar sinar matahari jelang sore. Ia memicingkan matanya, tak bisa membuka mata lebar-lebar karena sinar matahari terlalu terang. Tapi entahlah, bisa jadi ia justru memilih posisi duduk menghadap Barat. Sepertinya terasa hangat. Sepertinya ia memang mencari matahari. Kasarnya, berjemur sore.

Saya bukanlah seorang penggemar kucing, bukan juga pembencinya. Tetapi ketika melihat seekor kucing yang “kesilauan” dan bersikap santai tak peduli dengan lingkungan lainnya, duduk di atas batu di kawasan wisata bersejarah, terus terang saja saya merasa terbawa oleh sikapnya yang menyenangkan. Entah kenapa, saya teringat turis-turis kulit putih yang sering berjemur di pantai mencari sinar matahari agar kulitnya lebih tanned.

Warna kulit si Kucing Cantik ini tak terlalu jauh dari warna-warna batuan yang menjadi latar belakangnya. Tetapi bagaimana pun sikapnya yang “kesilauan” itu menggugah rasa gembira saya. Lucu sekali, karena seumur-umur saya tak pernah melihat seekor kucing menantang matahari dan kesilauan sendiri. (Ah, kamu Cing, harusnya pakai kacamata cengdem!)

Saya tidak bisa berlama-lama menatap si Kucing Cantik ini karena tour leader lagi-lagi mengingatkan untuk melanjutkan perjalanan.

Meskipun masih gemas dengan sikap si Kucing Cantik ini, saya harus melepaskan pandangan darinya.

Sampai bertemu lagi, Cing…

Sambil melangkah saya terpikir, apakah si Kucing Cantik itu juga merasakan aura bersejarah dari Gua Ashabul Kahfi seperti yang saya rasakan tadi? Siapa sebenarnya si Kucing ini?

Ah, jangan-jangan si Kucing Cantik ini….

Segera saja saya membuang pikiran nyeleneh yang muncul dan bergegas menyusul rombongan.


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-12 ini bertema Kucing (Cat) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…