Ketika Damai Menghampiri Abhaya Giri


Lebaran tahun lalu kami menyempatkan diri menginap satu malam di sebuah peristirahatan yang berada di puncak perbukitan Jogja. Sebuah tempat yang memang menjadi bucket list saya, setelah pernah melewatinya sepulang dari penjelajahan candi di sekitaran Ratu Boko (saat melewatinya, saya langsung mengetahui one day saya harus sampai di sini)

The Abhaya Giri

Keinginan itu terwujud saat akhirnya GPS membawa saya ke gerbang yang sama di ketinggian hampir 200 mdpl itu. Lalu saat beberapa tas diturunkan dari kendaraan, seorang petugas tergopoh-gopoh mendekati dan bertanya menanyakan dengan keramahan yang tak dibuat-buat. Ia melihat tas-tas itu dan berasumsi akan menginap yang tentu saja kami benarkan. Lalu sambil memohon maaf dia menjelaskan bahwa akses kendaraan ke hotel masih terpisah dan jika kami berkenan, dia akan menunjukkan jalannya. Tentu saja kami tidak keberatan, sehingga tas-tas dimuat kembali dan melalui jalan yang sedikit memutar kami sampai di depan pintu hotel.

Penerimaan yang cepat dan ramah. Saya suka!

Tak perlu lama kami telah berada di kamar pesanan yang berhias batik Truntum (simbol cinta yang tulus) dengan pintu dan jendela kaca menghadap taman belakang yang penuh bunga. Tak menyesal saya memesannya meski untuk melihat pemandangan alam dan gunung harus berjalan sedikit. Ternyata hanya dengan jalan kaki selemparan batu kami telah sampai lagi di restoran tempat kami berhenti pertama kali tadi.

Hanya saja, sore itu kami tak beruntung mendapatkan sunset karena seluruh wilayah pandang penuh dengan awan. Tak mengapa, karena ada aura romantis memenuhi suasana restoran yang berada di luar ruang. Kelip-kelip kota Jogja mulai menampakkan keindahannya.

Abhaya Giri view

Mungkin bagi pasangan yang sedang jatuh cinta, santap malam di sini akan melimpahkan banyak kenangan, namun bagi kami sekeluarga yang menjadikan makan malam merupakan sebuah festival urusan perut 🙂 , suasana remang dari cahaya lilin tak banyak membantu. Makanan tak terlihat jelas sehingga berulang kali kami mendekatkan muka ke hidangan yang tersaji di meja. Salah makan cabe kan bisa berabe.


Abhaya Giri At night

Abhaya Giri, memang biasa menjadi opsi melepas penat karena ada teras atau jalan panggung buatan diapit sawah berlampu hias yang cantik. Instagrammable, apalagi di latar belakang dipenuhi kelap-kelip lampu kota, ketika malam datang.

Siang hari pun, -apalagi pagi hari-, pemandangannya tak kalah indah. Sebagian puncak bangunan candi terkenal di Indonesia, Candi Prambanan dan juga candi Sojiwan, terlihat di hamparan, membuat saya benar-benar terpikat. Apalagi, -sebagai penggemar candi dan kuil-, di halaman dalam dari Abhaya Giri juga terdapat Candi Sumberwatu, candi Buddhist yang berbentuk stupa dan mengalami proses restorasi bersamaan dengan pendirian restoran Abhaya Giri.

Pengelola resort memang memanjakan tamu-tamunya agar memiliki kenangan yang indah di Abhaya Giri, baik yang menginap maupun yang bersantap di restoran. Terlihat satu set wayang punakawan sebagai hiasan pada teras untuk memperkuat nilai budaya dan rasa heritage di tempat ini. Semuanya terasa saling melengkapi. Tak jauh dari situ, resort juga menyediakan pakaian tradisional untuk memanah. Menarik kan?

Kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di halaman resort menikmati malam, bahkan di lobby hotel pun disediakan permainan tradisional congklak dan permainan lainnya.

Lelah melakukan perjalanan jauh membuat kami semua terlelap begitu kepala menempel di bantal yang empuk. Bagaimanapun, kenyamanan tidur merupakan nilai yang paling utama pada sebuah peristirahatan. Meskipun hingga saya menginap saat itu, Abhaya Giri belum banyak membuka kamar untuk menginap.


Pagi yang merekah itu membuat saya bergegas keluar untuk berjalan pagi. Karena saat-saat matahari terbit alam melimpahkan berjuta keindahan.

Menjejak jalan kecil yang ditata manis dengan bunga di kiri kanan, saya kembali menuju teras utama.

Sebuah batu vulkanik besar hasil letusan dari Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu diangkut lalu diletakkan di tengah di antara meja makan outdoor. Sebuah plakat peresmian bertandatangan Sultan terlihat di batu besar ini.

From the Pendopo
A beautiful Morning at Abhaya Giri

Pemandangan dari teras atas terasa menenangkan jiwa, di kejauhan Gunung Merapi dengan puncaknya yang tinggi tampak menghias latar belakang, kemudian bangunan utama Candi Prambanan terlihat menarik perhatian, dan hamparan sawah dengan puncak khas dari Candi Sojiwan dan menara masjid yang berdekatan seakan mengingatkan bahwa telah lama kehidupan beragama yang rukun dan penuh toleransi terjadi di bumi Indonesia. Dan semoga demikian juga seterusnya…

Sinar lembut mentari pagi yang baru saja terbit menerpa Candi Sumberwatu yang berbentuk Stupa, yang mungkin bagi sebagian orang yang tak tahu, stupa itu dianggap sebagai sebuah hiasan belaka.

Sunrise at Sumberwatu Temple

Siapa yang menyadari bahwa hingga tahun 2012, Candi Sumberwatu, -dipercaya berdiri pada tahun 700 M-, masih berupa onggokan reruntuhan yang terlupakan? Siapa yang sangka setahun kemudian reruntuhan itu bisa direstorasi hingga berdiri dengan anggun di tempatnya sekarang?

Sejak dulu oleh warga sekitar, sebenarnya Candi Sumberwatu dikenal dengan nama Sumur Bandung, yang merujuk pada tokoh antagonis dalam legenda Roro Jonggrang yaitu Bandung Bondowoso. Legenda ini begitu terkenal di Indonesia, paling tidak versi singkatnya pernah saya tulis di tulisan Mengintip Puncak Merapi dari Balik Legenda Candi Sewu.

Dalam struktur sebuah candi, biasanya terdapat bagian sumuran yang terletak di dalam lapisan kaki candi bagian tengah yang biasanya terbuka bila candi runtuh, termasuk juga Candi Sumberwatu. Di dasar sumuran ini biasanya para arkeolog akan mencari kotak peripih yang umumnya berisi prasasti tentang keberadaan candi. Dari sumuran ini pun Candi Sumberwatu lebih dikenal sebagai Sumur Bandung oleh masyarakat sekitarnya.

Dan seperti lingkungan tempat ibadah Buddha lainnya, tak jauh dari Stupa utama, terdapat kolam yang berisi bunga teratai warna-warni. Sebuah bunga yang menjadi simbol filosofi kehidupan. Jadilah seperti lotus, yang percaya pada Cahaya, yang mampu tumbuh melalui kepekatan lumpur dan percaya pada sebuah awal baru yang indah. Tanpa kehadiran manusia lain di sekitarnya, suasana terasa hening dan damai. Suasana yang serupa ketika saya berada di sebuah kuil. Tiba-tiba saya merindukan bunyi genta yang biasa melengkapi sebuah kehidupan kuil.

Lotus flowes near The Stupa

Tak jauh dari tempat saya berdiri, pengelola resort membuatkan sebuah teater terbuka dengan Candi Sumberwatu sebagai pusatnya. Melihat tempat duduk berundak itu, tidak bisa tidak saya teringat akan teater terbuka gaya Romawi dan langsung membayangkan sebuah pertunjukan kolosal yang luar biasa. Alangkah indahnya bila terselenggara di Abhaya Giri itu. Setidak-tidaknya sebuah resepsi pernikahan yang intim, dengan pengantin yang membaur di antara para undangan yang saling mengenal. Mungkin akan seindah penyelenggaraan sebuah pertunjukan sendratari tradisional.

Saya berhenti sejenak pada tangga yang menuju sebuah pendopo berupa rumah Joglo. Bisa jadi pendopo ini menjadi pusat bila sebuah acara dalam ruang diselenggarakan. Sebuah gebyok panjang yang teramat cantik menghias latar pendopo lengkap dengan ukiran rumit yang menunjukkan ketelatenan perajinnya. Pernah membaca soal gebyok ini? Jika belum, coba klik Pintu Gebyok Yang Tertutup

Meninggalkan Pendopo, kaki saya membawa kembali ke arah teras utama. Sebuah jalan buatan yang diapit oleh sawah yang ditanami padi. Satu dua manusia pagi telah berdiri di sana, mencuri suasana yang hanya hadir beberapa saat setelah matahari terbit. Mereka dan saya, sama-sama memahami, suasana seperti itu hanya sebuah privilege manusia yang bersedia bangun lebih pagi dan bisa menikmatinya dalam hening. Sebuah anugerah hari yang baru.

Kali ini pemandangan yang sama terasa lebih hangat. Mungkin karena sinar mentari pagi baru saja menerpa permukaan bumi. Gunung Merapi masih malu-malu berselimut kabut. Tak ada yang lebih indah daripada menikmati pemandangan gunung dan hamparan sawah serta candi-candi kuno di pagi hari, saat sinar matahari memantulkan cahaya hangat. Pemandangan khas di bumi Indonesia sejak jaman dulu kala.

The wisdom of Humility

Bunga keladi yang merunduk di antara pohon-pohon semak menarik perhatian untuk diabadikan. Beberapa langkah dari situ, sepetak sawah kecil berisikan padi yang menguning. Saya mendekat ke tanaman yang hasilnya bisa menguasai perut manusia Indonesia itu. Terpesona saya mengamati buliran padi yang merunduk. Langsung saja terlintas sebuah ajaran lama dari para leluhur. Ilmu padi, sebuah pemahaman yang teramat dalam tentang kerendahhatian. Di sini, di Abhaya Giri yang menghamparkan kedamaian, alam telah melimpahkan nasehat kehidupan.

Kaki saya melangkah lebih jauh, kini lebih ke Timur, ke arah kolam renang yang dikelilingi oleh rimbunnya pagar tanaman yang tertata indah. Hanya pengunjung restoran yang memiliki mata jeli yang akan memilih duduk dengan pemandangan indah kolam renang yang memantulkan warna biru ini. Bahkan dari tempat ini pun, Gunung Merapi pun masih bisa terlihat.

The Swimming pool
A Koi pond

Waktu berjalan terus, satu persatu pengunjung hotel terlihat memasuki restoran untuk sarapan pagi. Celoteh manusia makin sering terdengar memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti resort itu. Saya melipir ke arah kolam ikan yang bergemericik dengan ikan-ikan yang bergerak hilir mudik memulai kehidupannya.

Pelan-pelan saya melangkah kembali ke arah kamar dan berhenti sejenak di ayunan dengan pemandangan gunung. Pagi telah merangkak naik, hari baru telah dimulai, kesibukan menyambut rejeki telah menghampiri, tetapi rasa damai tetap mengisi hati.

Garden view of the resort’s room

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-43 bertema Indonesia agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Kebaikan Hati Itu Tak Pernah Ragu


A kind heart is a fountain of gladness, making everything in its vicinity freshen into smiles

(Washington Irving)

Sudah kesekian kali kami sekeluarga kembali ke hotel itu, baik ketika mudik maupun sekedar libur biasa. Memang bisa dibilang menguras kantong setiap menginap di sana, tetapi sikap santun dan kebaikan hati para pegawainya yang luar biasa membuat kami, terutama saya, terpesona dan jatuh hati untuk selalu kembali ke sana. Tidak hanya para pegawai yang berhubungan langsung dengan tamu, melainkan mereka yang berada di semua level, termasuk dari tingkat yang umumnya tak terlihat oleh tamu hotel.

Sejak pertama kali menginap di sana hingga kemarin ketika mudik, kualitas layanan para pegawainya tak berubah bahkan pada saat-saat ‘genting’ sekalipun. Seperti pada saat Hari Raya, ketika tingkat penghunian kamar hotel berada di level sangat tinggi dan situasi ‘genting’ pelayanan laksana ujian terjadi ketika sarapan pagi. Hampir semua tamu secara bersamaan, -terutama setelah selesai shalat Ied-, datang tumplek blek di restoran, menuntut hak perut mereka, dan termasuk saya. 😀 Sambil meminta maaf, tamu-tamu yang belum mendapatkan meja diarahkan ke meja-meja sementara di halaman luar yang didekorasi dengan cantik dekat kolam renang. Senyum mereka tak pernah lepas dari wajah. Tulus, tidak dibuat-buat hanya demi kenyamanan tamu.

Ketulusan dan kebaikan hati ini mengingatkan saya sebuah momen beberapa tahun sebelumnya, ketika saya ‘tertangkap’ oleh salah seorang dari mereka sedang dalam posisi memotret landscape luar yang cantik dari jendela lorong. Meskipun tak ingin mengganggu ‘kesibukan’ saya, dengan santun ia mengucapkan salam dan menunggu sejenak hingga saya selesai. Kemudian…

“Karena kelihatannya Ibu suka memotret, apakah Ibu sudah ke lantai Panorama?”

“Apa itu, Mas?”

“Tempat teratas sehingga Ibu bisa memotret 360 derajat pemandangan dari atas, tanpa halangan.”

“Sungguhkah?” Saya terbelalak karena tidak menyangka mendapatkan informasi singkat yang berguna.

“Jika sekarang Ibu sedang luang, saya bisa mengantarkan”

“Wah, tentu saja saya bisa, terima kasih banyak mas”

Bersamanya kami naik lift ke lantai teratas tempat orang-orang prioritas menginap lalu melalui naik tangga satu lantai sehingga kami sampai di rooftop. Saya terpukau dengan keberadaan tempat terbuka yang juga ditata manis dengan berbagai tumbuhan bunga.

Merapi berselimut awan dengan latar bougainville

Rasa terima kasih saya kepadanya sepertinya tak cukup, karena ia telah membagikan informasi yang sama sekali tak saya duga. Ia bisa saja berdiam diri melihat saya sedang memotret di lorong, atau ia bisa saja hanya menyapa lalu memberi salam untuk saya pagi itu. Itu sudah cukup dalam penyelesaian tugasnya terhadap tamu. Namun dengan kebaikan hati dan kesantunan, ia mengutamakan kepuasan tamu tanpa ragu. Sebagai sesama pemegang status sebagai pegawai perusahaan, belum tentu saya berada dalam nilai profesionalisme yang sama, dibandingkan dengannya.

Dan sejak itu, setiap menginap di sana, saya selalu menyempatkan diri ke lantai Panorama itu. Kadang hanya melihat-lihat pemandangan sekitar atau bisa juga memotret pemandangan yang sama. Berada di sana, rasanya saya selalu teringat akan kebaikan hati yang tercetus begitu saja, tanpa sebuah keraguan dan hal itu membuat saya tersenyum sendiri. Namun sayangnya, di sana saya belum pernah mendapatkan foto pemandangan Gunung Merapi yang jelas, karena lebih sering ia bersaput kabut, malu-malu bersembunyi di balik awan. Ah sepertinya Gunung Merapi mau bergaya laksana Gunung Fuji di Jepang, hanya orang-orang beruntung yang bisa menyaksikannya dengan jelas.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-22 ini bertema Unexpected Information agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Lebaran, Mengukur Jalan, Merajut Cinta


Siapa yang mampu menghalangi datangnya kebahagiaan cinta dalam libur panjang hari kemenangan saat satu keluarga mengukur jalan menuju serangkaian kota lebih dari sepuluh malam? Walau didalamnya bercampur rasa, antara tak ikhlas melepas Ramadhan mulia penuh berkah dan rasa bahagia hari kemenangan yang memenuhi sukma. Ditambah sepanjang perjalanan setiap harinya, memberi warna ceria. Rasanya seperti mengamini satu pepatah, the journey itself is the destination.

Menuju Cirebon Penuh Senyum Lebar

Tapi rencana tinggal rencana, yang awalnya niat berangkat setelah subuh, akhirnya jelang tengah hari, satu kendaraan berisi empat manusia ini baru meninggalkan kota Jakarta. Tetapi rasanya berkah senantiasa berlimpah, sehingga perjalanan hari pertama berjalan mulus tanpa jeda.

Dan seperti biasa, di saat hampir semua penghuni Jakarta kembali ke kampung halaman, di jalan-jalan bebas hambatan terlihat mobil konde, satu istilah untuk mobil dengan tambahan bagasi di atasnya. Dan mengulang masa balita anak-anak dulu, setiap mobil konde yang terlihat akan dihitung. Hanya sayangnya, jelang seratus hitungan, biasanya kemalasan menghampiri. Salah hitung akibat macet atau gara-gara mobil konde yang sama terhitung lebih dari sekali.

 

Namun siang itu, berada di belakang sebuah mobil Fortuner yang berkonde mampu menghangatkan suasana dan memberi senyum lebar. Bagasi koper dan teman-temannya itu tampak dibungkus dengan plastik biru tua yang mungkin tidak rapat sehingga angin masuk dengan leluasa. Akibatnya selubung biru itu terlihat menggembung dan berkibar-kibar. Sekilas seperti buntelan atau mungkin orang bisa menganggap mereka membawa kerupuk dalam jumlah besar. Persepsi absurd antara gembung berkibar konde bagasinya serta nilai mobil yang pasti tidak murah itu memang bisa menghangatkan suasana. 😀

Senyum lebar semakin terasa ketika memasuki kamar hotel di kota yang berjuluk kota udang itu. Terbelalak mata kami melihat kamar yang sangat luas, bahkan terlalu luas untuk ukuran dua manusia dewasa Indonesia. Entah strategi hotel agar tidak terlihat terlalu lapang atau memang sesuai dengan brand mereka, di kamar disediakan sofa yang berbentuk setengah lingkaran. Ah, sofa melengkung yang muat sepuluh manusia ini terasa memenuhi ruang. 😀

Dan terjadi lagi rencana tinggal rencana, awalnya ada keinginan untuk mengunjungi obyek-obyek wisata di Cirebon, namun semua tak terwujud hanya karena waktunya tak lagi tepat. Tapi bukankah selalu ada lain kali agar bisa kembali ke Cirebon?

Menuju Semarang Yang Dulu Menyesatkan Dunia

Kebahagiaan liburan tak kunjung berakhir. Kendaraan melintas mulus di jalan tol Palimanan – Kanci dan berlanjut ke jalan tol Pejagan – Pemalang dengan kondisi yang jauh lebih baik daripada tahun kemarin. Melewati jalan tol ini, teringat akan tagar Brexit dua tahun lalu yang menjadi trending topic. Entah apa yang ada dalam pikiran orang-orang Inggris atau dunia yang saat itu sedang memikirkan dampak keluarnya Inggris dari Uni-Eropa, karena manusia Indonesia menggunakan tagar yang sama #Brexit untuk problem pemudik saat keluar dari tol Brebes, yang maksudnya adalah Brebes Exit.

Tahun ini, Brexit (Brebes Exit) terlihat sudah jelas rambu-rambunya. Di perjalanan terlihat pula KM 300 berarti sudah 300 km meninggalkan Jakarta melalui jalan tol, bahkan jika diteruskan pemudik bisa sampai Surabaya dengan melalui beberapa tol fungsional. Sungguh infrastruktur Indonesia tidak kalah dengan negeri seberang, apalagi bisa berkendara dengan pemandangan alam yang indah.

 

Akhirnya setelah bangunan tua legendaris Lawang Sewu terlewati, menginaplah kami di kawasan Simpang Lima kota Semarang, sebuah kawasan untuk menikmati kuliner yang menggoyang lidah. Bahkan sang suami sampai tergoda makan, dan makan lagi, karena semua yang ditelan terasa cocok dilidahnya. Bahagia itu sederhana, karena hotel dengan harga sangat terjangkau berjarak sangat dekat dengan semua resto berselera.

Akhirnya Menginap di Hotel Impian

Di hari ketiga liburan, berjarak hanya dua jam dari Simpang Lima, akhirnya saya menjejakkan kaki di hotel impian selama sedasawarsa. Begitu lama saya mengumpulkan mimpi, cita dan dana untuk bisa merasakan bermalam di tengah kawasan perkebunan kopi itu.

Dengan sebuah bangunan peninggalan Belanda sebagai pusat, dibangunlah beberapa villa untuk disewa sehingga dapat membiayai perkebunan kopi dan mendukung penghidupan masyarakat sekitarnya. Semua eksterior ditata cantik dan berkelas, menyegarkan rasa dan mata yang memandang. Rasanya seperti terbang ke masa sebelum negara kita merdeka namun fasilitas terbarukan.

8
Mesastila – A View from the Restaurant

 

9
Mesastila – the Infinity Swimming Pool

Villa dengan ranjang megah bertiang empat dan berhiaskan kain krem berlipit menjadikan suasana seperti kamar raja. Sebuah buket bunga cantik dengan nota khusus menyambut saya sekeluarga. Ah, rasanya terbang mendapatkan layanan begitu prima. Tak mungkin rasanya bila saya tidak mencoba free-spa yang diberikan untuk merehat sejenak kekakuan otot pundak.

Di kamar mandi tersedia semangkuk penuh helai bunga mawar sebagai pengharum saat berendam. Keindahannya tak berhenti disana. Dari ruang beranjangsana yang berjendela selebar kamar, terpampang pemandangan alam dengan pepohonan rindang bersaput gunung Andong yang memanjakan mata. Suasana yang begitu tenang, melupakan fakta bahwa sejatinya tempat ini hanya selemparan batu dari jalan raya penghubung kota Jogja dan Ambarawa.

 

Kolam renang dengan model infinity berhiaskan hijaunya pepohonan menjadikannya seperti oase natura. Rumput dan taman yang terpelihara serta suasana tenang yang terjaga, membuat nyaman melakukan yoga. Bahkan makanan sehat yang tersedia di restoran juga terasa nikmat di lidah. Dan bagaimana bisa saya tidak berjalan kaki berkeliling area untuk melihat perkebunan dan membaui harumnya kopi? Sejuk pula!

Tiba Giliran Untuk Yang Suka Serba Modern

Liburan keluarga berarti semua anggota harus gembira. Bahkan juga saat melalui jalan tol yang hari-hari belakangan ini menjadi perbincangan di dunia maya, karena ada  kendaraan yang tak mampu menanjak hingga seorang polisi datang mengganjal roda. Padahal saat kami melaluinya siang itu, sungguh tak terasa curamnya. Bagi saya, masih banyak jalan lain yang lebih curam dan mengerikan.  Tapi entahlah, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam mobil yang viral itu…

 

Jadi selepas hotel impian bagi saya di malam sebelumnya, maka selanjutnya untuk suami dan anak-anak sebagai penyuka semua hal bernada modern. Sebuah hotel baru yang mencakar langit menjadi tempat persinggahan di kota Solo, tempat berbaurnya nilai modern dan tradisional. Keindahan kota Solo dan Gunung Merapi serta Gunung Merbabu bisa disaksikan dari ketinggian lantai kamar yang berjendela lebar. Bahkan kamar mandinya pun berjendela lebar dengan pemandangan kota. Hanya saja, saya tak pernah berpikir untuk melihat indahnya kota selagi tak berbusana. Anda pernah?

Jogja, Kota dan Rumah Kita

Setelah empat malam berkeliling berbagai kota, akhirnya sampai juga di Jogja, kota sekaligus rumah, tempat hati berada, tempat kembalinya rasa. Dan sebagaimana rumah, dimana pun terasa damai sempurna. Kembali ke tempat penginapan yang sama, ke suasana yang sama, ke rasa yang sama tapi waktu yang berbeda.

Back again to Jogja
Back again to Jogja

17
Beauty during morning walk at Jogja

16
The morning light through the leaves

Dan suara takbir sudah menggema dimana-mana saat sampai di Jogja, menandakan Ramadhan mulia penuh berkah telah beranjak. Ada rasa kehilangan dalam jiwa, tapi juga bercampur rasa bahagia. Jogja, bagi saya, tak pernah berubah wajah rasa, selalu sama, selalu penuh cinta.

Pada Jumat penuh berkah itu, ikatan silaturahmi semakin kuat terasa saat seluruh keluarga berkumpul saling berbagi rasa, hanya ada tawa bahagia sebagaimana Almarhum Bapak yang bijaksana selalu berkata. Kekuatan keluarga hendaklah selalu menjadi prioritas utama, walau secara fisik tersebar di berbagai kota dari Tasikmalaya, Jakarta hingga Madinah. Tapi akhirnya seluruh keluarga pun terjerat pada aturan Sang Waktu, hakim penuh disiplin yang tak kenal kecuali. Ada saat jumpa, ada juga saat berpisah. Dan tak bisa tidak, seluruh anggota keluarga berlaku sama, mencoba memperpanjang acara berpamitan. The Long Long Goodbye…

Borobudur Yang Memanjakan Mata

Meninggalkan Jogja yang penuh cinta tetap saja memedihkan rasa, walau tujuan selanjutnya adalah Borobudur yang sudah terkenal seantero dunia. Kali ini bukan ke Borobudurnya, melainkan sebuah tempat dengan pemandangan Borobudur yang diselimuti awan berkabut dan gunung-gunung tinggi di sekitarnya.

Walaupun tidak mudah ditemukan, hotel ini sangat menggoda. Dengan kamar berkelas ditambah kolam renang pribadi yang infinity, dijanjikan Candi Borobudur tampak jelas sebagai pemandangan kamar. Bonusnya adalah Gunung Merapi, Merbabu dan Sumbing yang ikut mendekorasi alam. Hotel tidak mengatakan bahwa berjuta bintang tampak menghias langit malam. Dan semuanya terhampar bagi kami meninggalkan kesan mendalam.

20
Infinity private pool – Borobudur and Mt. Merbabu

19
The Borobudur view with mist from our room

Esoknya, sejak sinar awal menghias langit Timur, saya telah terjaga. Gunung Merapi dan Merbabu anggun berjajar di depan mata. Dan tak jauh di Utara, Gunung Sumbing memperlihatkan keindahannya. Perlahan mentari terbit memancarkan hangatnya cahaya, menghalau kabut-kabut yang menghias lembah-lembah dengan Borobudur di puncak seakan singgasana. Lukisan yang sangat indah dari Sang Pencipta. Sejuta rasa mampu mengharu biru dan bersyukur melihat keagungan Semesta.

Ah, pemandangan luar biasa yang memanjakan mata dengan harga yang relatif terjangkau itu benar-benar pengalaman liburan dengan warna spesial. It’s totally worth it!

Purwokerto Yang Menghidupkan Nostalgia

Dari Borobudur yang mempesona kota berikutnya adalah Purwokerto. Bagi saya pribadi, Purwokerto selalu menghidupkan nostalgia sebab disini merupakan destinasi utama saat melakukan perjalanan darat bersama ayahbunda berdekade-dekade lalu. Bau khas rokok klobot, bunyi penjual sate sapi yang khas dan bangunan lama yang sekarang sulit ditemui mampu membuat saya merindu dan menggambar di benak secara jelas semua yang dirasa saat kecil dahulu. Indah!

Dan tak berlebihan jika di setiap jaraknya, setiap nama desanya, terasa begitu familiar di kepala, dengan bahasa yang ngapak-ngapak membuat tawa, selalu menghangatkan rasa. Tidak heran, leluhur saya memang mengakar disini.

Kembali ke Cirebon Sebelum Ke Jakarta

Lalu lintas tak dapat diduga, macet panjang menghias jalan sejak Purwokerto, tak pelak kami kembali ke kota Cirebon untuk melepas malam. Namun tak ada kebetulan. Desa-desa di pegunungan dengan pemandangan indah jadi dilalui tanpa rencana. Sawah hijau menghampar, mega berarak di puncak bukit. Bukankah ini berkah? Semua tidak akan terlihat jika perjalanan hari itu normal. Dan sungguh, hari berikutnya saat menuju Jakarta, perjalanan tambah dimudahkan dengan pembukaan jalur satu arah. Semuanya jalan serasa membuka.

Ketika kembali menjejak rumah, hanya ada rasa gembira dan bahagia, rasanya berkah tumpah ruah, tak bisa tidak, perjalanan ini seperti merajut Cinta sepenuh rasa.