Yang Asri Yang Menyamankan Hati


Sebagai penggiat tanaman, salah seorang teman kakak saya pernah mengatakan bahwa ia memiliki beberapa cara untuk mengelola stressnya. Namun salah satu yang paling mudah dilakukannya adalah menyiram tanaman dan hal itu beliau lakukan dua kali sehari, pagi dan sore hari. Awalnya tentu saja saya skeptis, karena amat jarang saya berhubungan langsung dengan tanaman. Lagi pula saya ini benar-benar penikmat keindahan tanaman yang sudah ditata cantik, yang sudah jadi.

Dan memang, segala sesuatu itu ada waktunya…

Ketika saya sudah bisa beli rumah yang kini ditempati, -meskipun halamannya kecil-, suami dan saya menatanya dengan keasriannya sendiri. Memang sebagian besar hanya ditanami rumput dan di sisi tembok samping diberi berbagai tanaman hias. Dasarnya hanya satu, ketika kami duduk di teras depan atau berdiri di foyer, hanya kehijauan asri yang menyamankan mata dan hati.

Dan akhirnya saya mengamini kata-kata teman kakak yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini. Ketika saya menyiram tanaman di pagi atau sore hari, rasanya ada ketentraman tersendiri yang muncul di jiwa. Air yang membasahi tanah memberi efek langsung harumnya petrichor (bau tanah kering saat tertimpa hujan pertama kali) yang memang saya suka. Selain itu muncul juga rasa bahagia menyaksikan tanaman-tanaman kembali segar setelah mendapatkan air sebagai unsur penting dalam kehidupannya. Terbayang betapa semua makhluk berbahagia karena bisa mendapatkan air di kala dahaga datang menyerang. Rasa bahagia yang menenteramkan ini memang bisa menjadi cara untuk mengelola stress sehari-hari.

Tak disadari bahwa faktor kenyamanan yang satu ini, -yang membuat jiwa raga lelah menjadi segar kembali-, menjadi salah satu penentu dalam memilih hotel saat liburan. Setelah berbulan-bulan disesaki oleh pandangan dinding gedung-gedung perkantoran dan hutan beton ditambah dengan pekerjaan yang datang dan pergi, membuat jiwa perlu rehat sejenak.

Kadang bukan di rumah, melainkan di tempat yang berbeda…

Pernah suatu kali saat long weekend, suami mendadak mengajak jalan ke Jogja. Tapi waktunya amat tidak tepat karena pada saat yang sama banyak penduduk Jakarta juga keluar kota membuat jalan bebas hambatan itu padat luar biasa alias macet tak bergerak! Menit-menit berlalu sampai hitungan jam. Akhirnya suami menyerah. Di gerbang keluar yang pertama ditemui, suami memilih keluar dari jalan tol, berputar arah. Dan saya usul bagaimana jika ke Puncak saja? Meski ia setuju, akhirnya bukan Puncak melainkan Rancamaya, dekat Bogor, yang menjadi tempat liburan kami. Dari rencana ke Jogja, lalu berputar ke Puncak, sampainya di Rancamaya!

Tetapi ternyata berlibur mendadak di Rancamaya membawa kejutan yang manis. Hotel yang kami inapi itu memiliki halaman yang amat luas dan hijau sejauh mata memandang. Bahkan dari jendela besar selebar kamar, kami bisa melihat gunung Salak yang menjulang dan kehijauan yang menghampar.

Bahkan saat berjalan pagi di sekitar hotel, saya bisa mendatangi sepetak tanah berpagar yang berisikan hewan-hewan jinak, diantaranya rusa tutul. Semua berada di kawasan hotel. Belum lagi instalasi-instalasi seni yang diletakkan secara harmonis dengan alam sekitar lengkap dengan tempat duduk untuk menikmati semuanya. Rasanya romantis ketika berjalan pagi bersama suami 😀

View at a hotel in Bogor
View at a hotel in Bogor
A tunnel of leaves, Bogor
A tunnel of leaves, Bogor

Lain Rancamaya, lain pula Jogja…

Seperti post sebelumnya yang pernah saya ceritakan tentang pengalaman menyenangkan menginap di hotel di Jogja, kami sekeluarga mempunyai hotel favorit di Jogja karena halamannya yang amat luas. Membuat saya tak bosan untuk berjalan pagi meskipun berkali-kali menempuh rute yang sama. Setiap ke Jogja hampir selalu menginap di tempat yang sama dan berjalan pagi melihat pemandangan yang tidak jauh berbeda. Kadang daunnya rimbun, kadang sebagian ditebang untuk pemeliharaan. Kadang tamannya sudah berganti tema ketika saya menginap di sana lagi. Bahkan pernah sampai seorang resepsionis sedikit terpana mengetahui bahwa saya sudah ‘merambah’ sampai ke sebuah taman yang disebutnya Secret Garden, karena tempat itu memang agak tersembunyi.

Sambil berjalan di halaman hotel yang amat luas itu, kadang saya bertemu dengan mereka yang bertugas. Jika memang tak terganggu, saya mengajaknya berbincang sebentar dan mengucapkan terima kasih sudah melakukan pemeliharaan yang begitu melelahkan. Merawat halaman yang luas kan melelahkan sekali…

Tapi saya tak sendiri, semakin siang biasanya tamu hotel semakin banyak yang berjalan-jalan, termasuk anak-anak yang celoteh riangnya seringkali terdengar. Senyapnya suasana akan hilang jika anak-anak sudah banyak yang bangun dan berjalan-jalan di halaman hotel.

Tetapi apakah hotel selalu harus berbatas dengan lapangan golf?

Mungkin sedikit tak adil, karena dua hotel yang saya sebut lebih dulu itu berbatas langsung dengan lapangan golf. Lalu apakah selalu harus ada lapangan golf untuk memutuskan menginap di sebuah hotel? Tentu tidak!

Hotel yang kami pilih di dekat Ambarawa tidak memiliki lapangan golf, tapi memiliki perkebunan kopi! Tentunya luas juga kan? Saya bisa berjalan kaki dengan santai mengikuti rute yang tak habis-habis. Merasakan aura kolonial dalam area perkebunan berdampingan dengan budaya Jawa yang kental, ditambah dengan hamparan pohon kopi dengan biji-bijinya yang masih tergantung sampai harumnya bubuk dalam kemasannya, semuanya dapat disaksikan dalam kawasan yang sama.

Liburan saat itu merupakan liburan yang amat menyenangkan. Bisa jadi karena saya telah lama bermimpi bisa menginap di sana dan terwujud. Salah satu the dreams come true. Saya tak perlu keluar dari kawasan itu untuk bisa menikmati alam.

Tapi yang meninggalkan kesan yang dalam sepanjang liburan-liburan kami adalah saat kami masih menjadi keluarga muda. Di Jogja kami menginap di sebuah hotel di kawasan Prawirotaman yang memiliki kolam renang di halaman belakangnya. Setiap ke Jogja hampir pasti kami kembali ke hotel itu. Sangking seringnya, pengelolanya mengenal kami sebagai tamu yang loyal dan sudah dianggap VIP. Kami selalu disediakan kamar yang sama, kamar paling belakang, paling bagus dan merupakan kamar yang terdekat dengan kolam renang.

Anak-anak kami tak akan bisa melupakan kolam renang yang ada di halaman belakang itu karena di sana mereka menjadi berani untuk berenang di kedalaman 2 meter, mereka berani memesan makanan sendiri setelah berenang, pokoknya seperti orang dewasa yang sedang berlibur meskipun mereka masih duduk di sekolah dasar. Karena lokasinya, mereka tahu kapan kolam renang kosong dan kapan waktu terbaik untuk berenang.

Sampai sekarang pun kami masih ingat kamar yang paling dekat dengan halaman belakang itu dan mungkin kapan-kapan, kami akan menginap di sana lagi. Sekedar nostalgia.

P1000297
Swimming pool at the backyard of Hotel

-§-

Tapi di antara banyak hotel yang kami inapi di Jogja, ada satu hotel yang kami inapi hanya semalam saja dan tak ingin kembali lagi ke sana. Ceritanya…, waktu itu karena check-in sudah malam, kami tak melihat keluar jendela lagi. Namun saat pagi, saat tirai jendela saya buka dan melihat ke luar halaman, saya baru tahu bahwa malam itu kami menempati kamar yang kavling sebelahnya adalah kuburan! Aaarrgh….

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-30 bertema Courtyard agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu.

WPC – Place Where The Heart is


Trees and Ratu Boko Temple, Jogja
Sunset, Trees and Ratu Boko Temple, Jogja

Around two thousands years ago, a Roman philosopher, Gaius Plinius Secundus or known as Pliny the Elder, said short nice words but has deep meaning of a home,

“Home is where the heart is.”

It is not only a place where we’re back after working from day to day. It is more than that. Home is a place that makes us fully recharged and gives us peace. The place that is comforting because we know by heart.

Jogjakarta, or Jogja in short, or some say Yogyakarta, is my second hometown. The place I always be back, the place where I recharge, smell its sweet fragrance and feel its calm ambiance. I can watch sunrise at its beautiful beaches, or get lost into its old market, or wander around the labyrinth of traditional batik makers, visit the palaces and its squares, watch sunset on the hilly places and dine the gudeg, -Jogja’s traditional cuisine- which is offered in every corner of the city. Perhaps I do not know the people, but I can feel the same soul of Jogja in them.

And Ratu Boko’s palace is one of my favorite places in Jogja. Located on a small plateau not far from Prambanan temple, this palace is actually an archaeological site which has many heritage buildings. As a heritage lover I love to be there at different times, but watching sunset there is totally remarkable. From the highest point of this palace, I can see the amazing sunset and the panoramic view of Prambanan temple, and sometimes Mt. Merapi in the background if the weather is clear. Well, everyone knows about sunset, but sunset we watch from the place that is resided in our heart, surely evokes different feeling.

I can sit there in silence, do nothing, just listen to the nature’s voices, smell its calming fragrance, feel the encouraging delight ambiance, harmonize the love of people there and allow all the beauties to color the life. I am part of the amazing local.

Sunset at Ratu Boko, Jogja
Sunset at Ratu Boko, Jogja

Ada Relief Kuda Terbang di Watu Gilang


Dalam liburan weekend beberapa waktu lalu, saya berkesempatan ke Jogjakarta untuk ‘nyandi’, istilah untuk kegiatan mengunjungi dan menikmati candi yang bertaburan di sekitar Jogja. Kegiatan yang aneh bagi sebagian orang namun sangat ngangeni bagi saya, rasanya seperti orang yang baru pacaran. Dan sore itu langsung saja saya menuju jalan Wonosari untuk melihat sebuah situs Watu Gilang yang memiliki relief yang sangat menarik dan eksotis.

Watu Gilang di Pemukiman Dusun Gilang, Banguntapan, Jogja
Watu Gilang di Pemukiman Dusun Gilang, Banguntapan, Jogja

Dalam bahasa Jawa Kuno, Watu Gilang memiliki makna batu datar untuk duduk atau beristirahat, kadang diartikan pula tempat perhentian atau peristirahatan para musafir. Dan memang demikian keadaannya. Batu yang dimaksud memang datar dan dapat dipakai untuk duduk atau beristirahat bahkan bisa berbaring rebahan sehingga tak heran apabila pada suatu masa terdahulu, batu tersebut memang digunakan sebagai tempat peristirahatan para musafir dalam perjalanan (mungkin kalau sekarang bisa diibaratkan pompa bensin kalau mudik Lebaran atau seperti bandara/terminal/stasion atau mesjid yang dijadikan tempat rebahan demi ngirit uang hotel).

Saya tidak tahu apakah Dusunnya terlebih dahulu ada atau Watu Gilangnya, tetapi kelihatannya Batu-nya yang terlebih dahulu ada sehingga dusunnya dinamakan Dusun Gilang, dan termasuk wilayah Desa Batu Retno, kecamatan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Sehingga, masyarakat sering menyebutnya dengan Watu Gilang Banguntapan (untuk membedakannya dengan Watu Gilang Kotagede yang konon dipercaya merupakan tahta Panembahan Senapati).

Papan Informasi Watu Gilang, Banguntapan, Jogjakarta
Papan Informasi Watu Gilang, Banguntapan, Jogjakarta

Tak dapat dipungkiri bahwa situs Watu Gilang Banguntapan, yang dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta ini, memang menarik perhatian karena berada di tengah-tengah pemukiman warga. Tidak sulit untuk mencapai Watu Gilang Banguntapan ini, karena kalau Anda tidak sampai, itu artinya Anda tersesat 😀

  • Dari arah Jogja, ambil Jalan Wonosari sampai sekitar km 7 dan temukan pompa bensin Pertamina di sebelah kiri jalan.

  • Di seberang pompa bensin (sebelah kanan jalan Wonosari) ada jalan, berbeloklah ke situ (kanan)

  • Terus ikuti jalan tersebut hingga menemukan mesjid Al-Mujahirin. Ada hanya perlu ikuti jalan utama yang mengarah ke kanan,

  • Ikuti jalan lagi hingga ada pertigaan pertama, berbeloklah ke kiri (jalan ini dikenal dengan jalan Gilang Raya)

  • Ikuti jalan Gilang Raya ini (cukup panjang, sekitar sekilometer) hingga mentok ke sebuah pertigaan (di sebelah kanan terlihat mesjid lagi). Disini, berbeloklah ke kiri.

  • Ikuti jalan perumahan ini (jalannya tidak lebar, tetapi mobil bisa masuk) hingga mentok lagi. Di sebelah kanan terlihat lapangan volley. Jika Anda menggunakan mobil, kelihatannya Anda harus meminta izin untuk parkir di sekitar sini, tetapi jika Anda menggunakan sepeda motor, Anda bisa meneruskan jalan ke kanan. Tidak sampai 100 meter, Anda sudah bisa melihat situs Watu Gilang.

Mudah kan?

Nah Watu Gilang itu sebenarnya sebuah batu besar satuan (monolith) yang terbuat dari jenis batuan sedimen sejenis tuffastone. Tidak kepalang tanggung, ukuran Watu Gilang ini mencapai ukuran sisi sekitar 2.60 m dan tingginya sekitar 1 meter. Sedangkan permukaannya agak lebih kecil sekitar 240 X 230cm dan ditengahnya ada lubang berdiameter 18cm sedalam 15cm. Lumayan gede untuk rebahan kan? (Tapi jangan lakukan ya, karena Watu Gilang ini situs cagar budaya yang dilindungi undang-undang)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Watu Gilang ini berada di atas sebuah tanah seluas pekarangan rumah dengan pagar tanaman dibuat seadanya yang berfungsi hanya sebagai pembatas. Saat saya datang, sekeliling Watu Gilang tampak cukup terpelihara walaupun tak ada yang memayunginya sebagai pelindung dari air hujan dan daya rusak alam yang tak memilih dalam menghancurkan.

Dan para ahli belum dapat memastikan fungsi Watu Gilang ini dalam kehidupan masyarakat pada masanya, bahkan belum diketahui juga kapan masa pembuatannya. Meskipun telah dilakukan penelitian sejauh ini, -mengingat bentuknya yang datar-, bahwa Watu Gilang ini digunakan sebagai tempat bertafakur dan bertirakat dari seorang tokoh terkenal yang bernama Kyai Gejawan. Namun kelihatannya keberadaan batu ini melampaui dari periode penelitian tersebut. Para ahli pun belum dapat memastikan, apakah Watu Gilang ini merupakan bagian dari sebuah bangunan dengan nilai budaya atau reliji tertentu.

Unik dan menariknya, pada tiap sisinya penuh dengan ukiran relief hiasan sulur-suluran dan bunga serta sepasang binatang dalam panel yang berbentuk kotak persegi. Dari cerita mulut ke mulut, ada pendapat yang mengatakan bahwa penggambaran binatang-binatang itu merupakan simbol dari tokoh-tokoh wayang, yang tentu saja sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat kita sejak lama. Konon Watu Gilang ini merupakan peninggalan dari Parikesit, seorang tokoh terkenal dalam dunia pewayangan. Dan profil binatang apa saja yang menghiasi batu?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pada dinding batu sebelah Utara digambarkan ikan dan musang (walaupun saya gagal melihat bentuk musangnya, karena lebih kelihatan seperti ubur-ubur atau gurita :D), pada sisi Timur dihiasi dengan relief sapi dan kambing, pada sisi sebelah Selatan dihiasi dengan burung dan kuda (yang lagi-lagi saya gagal melihatnya) dan yang mengejutkan adalah pada sisi Barat terdapat relief Gajah dan Kuda Terbang, dengan sayapnya yang terkembang! Jika pada waktu itu para seniman pahat batu sudah menggambarkan kuda terbang, imajinasinya cukup menawan kan? Ataukah kuda terbang kala itu benar-benar nyata?

Saat mengunjungi Watu Gilang, saya tidak bertemu dengan wisatawan lainnya. Dan juga tidak bertemu dengan tempat penjualan tiket masuk, karena pagar pun tak ada. Keramahan khas Yogyakarta tampak jelas pada warga desa yang dengan senyum menyambut pengunjung yang akan melihat Watu Gilang. Mereka sesekali bertanya tentang asal saya, mungkin karena melihat saya yang kelihatan Indonesia tapi ‘bukan asli Jawa’. Dan setelahnya, mereka membiarkan saya menikmati Watu Gilang, tanpa gangguan. Nyaman! Sepertinya mereka memelihara cagar budaya yang tersembunyi di dusun mereka, menghargainya dengan tidak merusaknya, merawat kebersihannya dan membiarkan Watu Gilang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka. Sesederhana itu!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.