Berhak Bahagia Kala Petang Datang


Every sunset is an opportunity to reset, so take a seat and calm down…

Entah sejak kapan saya menyukai waktu jelang senja menatap laut yang sepertinya tak berbatas, menikmati riak-riaknya, angin yang menerpa wajah, gemericik atau debur gelombangnya serta harum laut yang sangat khas. Rasanya, dengan berada di pinggir laut, mengarah kemanapun, -apalagi yang menghadap matahari tenggelam ataupun kadang matahari terbit-, bisa membantu menenangkan hati dan menyeimbangkan jiwa. Dengan memelihara hati yang tenang, paling tidak stress lebih bisa dikendalikan. 

Tidak sulit sebenarnya untuk mencapai pinggir laut Jakarta, hanya perlu ke arah Utara saja. Masalahnya, tidak banyak tempat-tempat yang relatif nyaman. Lebih seringnya, bising, gaduh atau tempatnya sendiri yang memiliki kategori “lebih baik tidak kesana” 🙂

Di utara Jakarta, selain Ancol, saya lebih menyukai datang sore-sore ke Pantai Mutiara yang ada di kawasan Pluit. Berbeda dengan Ancol, untuk masuk ke kawasan ini sama sekali tidak dipungut bayaran. Bisa jadi karena kawasan ini sebenarnya merupakan area perumahan. Dan tidak tanggung-tanggung, kawasan perumahan kelas atas banget. Memiliki rumah di kawasan ini berarti memiliki mobil-mobil mewah di garasinya dan di bagian belakang rumah terdapat dermaga kecil sebagai tempat parkir kapal-kapal yacht mereka, atau setidaknya jetski.

Biasanya ketika sampai di kawasan Pantai Mutiara ini, keluarga kami menjalankan mobil pelan-pelan dengan jendela terbuka lebar agar suasana pinggir lautnya terasa (meskipun agak panas ya 😀 ) dan bisa mengintip ke garasi-garasi yang menyimpan mobil-mobil mewah. Paling tidak kelasnya Porsche, Lamborghini Aventador, atau Ferrari 458 yang harganya bisa sampai dua digit milyaran Rupiah. Dan jika beruntung, diantara rumah-rumah besar itu, bisa terlihat kapal-kapal yacht mereka yang ada di bagian belakang rumah. Jangan tanya harga kapal-kapal yacht itu, sepertinya bisa empat atau lima kali harga mobil mewah mereka. Uh, rasanya  saya mimpi pun tak sampai ke tingkat itu. 

Tetapi dengan melihat secuil saja sudah cukup membahagiakan.

Menyusuri jalan yang berbatas laut hingga ke ujung Pantai Mutiara tempat berdirinya bangunan ikonik yaitu Apartment Regatta yang bentuk bangunannya seperti layar yang sedang terkembang. Saya sering menandainya dari pesawat saat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Dan saya membayangkan betapa asiknya punya ruang keluarga atau kamar yang bisa memandang ke laut lepas. Ah… meskipun cuma membayangkan saja, tetapi sudah bisa membuat saya tersenyum bahagia.

Kalau belum puas jalan-jalan sore sambil intip sana-sini di sekitar kawasan Pluit Mutiara, biasanya saya berhenti di Jetski Café. Waktu paling tepat ke sini memang ketika sore hari jelang matahari tenggelam. Meskipun awalnya sinar matahari terasa menyilaukan, pengunjung bisa memesan meja di bagian dalam Café terlebih dahulu sebelum nantinya pindah ke bagian luar yang berbatas laut (meskipun meja-meja outdoor yang berada di pinggir laut itu sangat diminati dan seringnya sudah fully reserved). Apalagi akhir pekan, wuiih susah!

jetski2
A bit back light but it’s the view in the afternoon

Terakhir kami ke tempat ini, sekitar bulan November 2019 yang lalu. Ketika itu saya mengajak Mama, yang akhirnya bersedia ikut setelah dibujuk-bujuk karena hampir setahun mengurung diri di rumah sepeninggal Papa menghadap Ilahi. Meskipun saya agak sedikit cemas, -takut Mama terkenang kembali bersama Papa karena mereka pernah saya ajak ke tempat ini sebelumnya-, saya berharap angin laut yang segar dan suasana yang berbeda bisa menggembirakan hati Mama. Alhamdulillah, ternyata memang benar, Mama terlihat gembira dengan suasana yang berbeda dari situasi sehari-hari dirumahnya.

Sepertinya kegemaran saya berada di tempat-tempat yang berbatas laut itu menurun dari Papa Mama. Saat itu, Mama terlihat terpukau senang melihat keindahan warna sore dan mentari yang pelan-pelan menghilang di balik gedung meninggalkan warna kuning keemasan di langit Barat.

jetski1
Live music

Live music yang memang selalu ada pada setiap akhir pekan menambah suasana lebih hangat. Meskipun volume suara musik cukup nyaring, Mama tak terganggu bahkan mengatakan kepada saya jika Papa masih ada, pastilah Papa ikut menyanyi di panggung. 😀 Saya tersenyum mengingat kegemaran Papa untuk tampil menyanyi dimana saja yang memungkinkan, meskipun lagu-lagunya sangat klasik (baca: jadul)! Bahkan tak jarang di panggung Papa memainkan organ sambil bernyanyi…

Mentari semakin turun. Saya menawarkan pindah ke meja luar tetapi Mama lebih menyukai di bagian dalam Cafe karena masih mau menyantap makanan yang ada. Hati di dalam ini langsung meluruh, biasanya Mama makan tak begitu banyak sejak kepergian Papa tetapi kali ini saya melihat Mama menikmati makanannya lebih lahap. Rasanya langsung makjleb… saya ditegur keras oleh Sang Pemilik Cinta agar supaya bisa lebih memperhatikan sisi batin Mama yang kini tinggal sendiri.

Warna keemasan masih menghias langit Barat, ketika saya menatap permukaan laut yang tak pernah berhenti bergerak, seperti juga stress kehidupan. Selalu ada, namun bukan berarti tidak bisa dikendalikan.

Sisa sinar matahari jatuh lembut ke wajah Mama yang telah dimakan usia. Garis-garis kerutnya tergambar di wajahnya dengan jejak airmata kehilangan Papa yang belum sepenuhnya sirna.

Biasanya saya ke Pantai Mutiara hanya untuk mendapatkan kenyamanan rasa diri sendiri. Tetapi kala petang hari itu, bisa mengajak mama ke tempat itu, melihat Mama bisa makan dengan lahap dan melihatnya terkagum atas pemandangan yang indah, semuanya menjadi jauh amat berharga dan amat bermakna daripada warna keemasan yang menghias langit Barat.

Seperti mengingatkan bahwa bahagia itu memang sederhana…

jetski3
About Sunset

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-5 ini bertema Petang agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…