Menuju Seoul dengan ‘Shinkansen’-nya Korea


Pagi jelang siang di Daegu

Sambil memejamkan mata, saya mengucap selamat berpisah kepada kamar penginapan yang telah menjadi saksi diam atas pengalaman spiritual penuh emosi semalam sekembalinya saya dari Haeinsa (klik disini kalau mau baca). Tiga kota Korea Selatan yang telah mengharubiru hati sudah terlewati dalam perjalanan ini dan tiba saatnya untuk berpindah kembali.

Semalam, diantara airmata bahagia yang tumpah dan pengalaman-pengalaman luar biasa selama perjalanan ini, sebuah  keputusan harus ditetapkan. Saya harus menghapus trip ke Naejangsan National Park. Taman Nasional Naejangsan, yang terkenal keindahannya saat musim gugur bukan menjadi rejeki saya untuk dikunjungi kali ini. Waktunya tidak akan cukup untuk sampai juga ke Suwon dan Seoul pada hari yang sama. Dan kalaupun dipaksakan juga, kunjungan terburu-buru ke Naejangsan pastilah tidak menyenangkan. Itupun kalau lancar dan tidak tersesat! Mudah-mudahan ada kesempatan lagi untuk bisa berkunjung kesana di lain waktu.

KTX Kereta Super Cepat Korea Selatan
KTX Kereta Super Cepat Korea Selatan

Membatalkan pergi ke Naejangsan adalah satu hal, tetapi hari itu untuk bisa sampai ke Seoul dari Daegu dengan selamat adalah hal lain yang berbeda sama sekali. Berdasarkan pengalaman-pengalaman mengejutkan sejak hari pertama tiba di Korea Selatan, hal sekecil apapun bisa menjadi hal yang prosesnya tak semudah membalikkan telapak tangan. Tentu saja kejutan seperti itu benar-benar bisa membuat cemas, deg-deg-an, hati ketar-ketir atau apapun seperti itu. Dan… hal sepele itu termasuk mengurus tiket kereta super cepat Korea Selatan, Shinkansen-nya Korea, yang disebut KTX.

Setelah check-out, dengan menggendong ransel saya berjalan kaki ke station Dong Daegu, yang terintegrasi dengan stasion KTX, kereta api super cepat Korea Selatan. Beberapa toko roti yang saya lewati menebarkan aroma harum menggugah perut yang berontak belum sarapan. Karena tidak mau teralihkan dengan wangi harum itu, saya memaksa diri menggunakan kacamata kuda, meneruskan langkah menuju stasion kereta. Tukar tiket KTX dulu baru sarapan, demikian yang saya teriakkan kepada si perut.

Lagi! Di Stasion KTX

Stasion KTX di Daegu cukup megah. Sebagai orang yang sudah tercemar dampak dunia kapitalis konsumtif, saya merasa kembali ke peradaban modern ketika memasuki gedung station KTX setelah semalam sebelumnya berkutat di Gayasan National Park. Modernitas telah mengangkat rasa optimisme saya.  Merasa ‘hidup’ dengan atmosfer kesibukan kerja, penuhnya kios-kios kopi dan makanan dengan para profesional. Ah, sepertinya saya sedang mendekat pada dunia yang saya kenal, seharusnya semua akan berjalan normal, demikian perasaan saya berkata.

Lorong menuju Main Hall Stasion KTX Daegu
Lorong menuju Main Hall Stasion KTX Daegu

Seperti seekor doggie yang menandai daerah jelajahnya, saya berjalan mengelilingi station KTX dari ujung ke ujung, hanya supaya mengetahui situasi dan kondisinya di station Daegu. Setelah puas, saya kembali ke arah counter untuk menukarkan E-ticket KRPass 1 day yang saya miliki. Semoga lancar.

Setelah mengantri pada antrian yang terpendek, sampai juga giliran saya ke depan counter. Saya serahkan print-out e-ticket sebagai bukti pembayaran dan paspor. Perempuan di balik counter hanya bertanya, “1 day Pass, today?” Saya mengangguk, menjawab, “Yes. Today. To Seoul Station” Kemudian dia sibuk dengan komputernya. Jam pasir mulai bergulir.

Seperti juga JRPass di Jepang, KRPass adalah kartu transportasi yang khusus untuk oleh turis asing dan dibeli di luar negara korea, untuk digunakan tanpa batas pada kereta-kereta api yang tergabung dlm Korail, kecuali subway dan kereta turis. KR Pass tersedia dalam beberapa periode, 1, 3, 5, 7 atau 10 hari dengan berbagai variasi harga.

KR Pass seukuran kartu nama & Ticket Kereta
KR Pass seukuran kartu nama & Ticket Kereta

Saya membeli KRPass 1 hari secara online karena pertimbangan kemudahan dan kecepatan mendapatkan transportasi dalam sehari sesuai rencana awal perjalanan saya. Awalnya, saya mau ke Naejangsan dan pada hari itu juga saya harus sampai ke Seoul, maka saya harus berganti-ganti kereta. Dan karena saya tidak mau dipusingkan dengan rute dan jadwal, maka dari itu KTX menjadi pilihan utama saya dan jadilah saya membeli KRPass 1 hari itu. Sebenarnya dengan pembatalan ke Naejangsan, perjalanan saya lebih simple, saya hanya perlu tiket Dong Daegu ke Seoul. Tetapi semenit, dua menit petugas perempuan di depan saya masih tetap memencet-mencet keyboardnya. Ah, lagi! Tanda-tanda buruk di depan mata, sesuatu yang tak semudah membalikkan telapak tangan…

Benarlah! Ia meminta saya menunggu sebentar, lalu pergi dan tidak berapa lama ia kembali bersama seorang perempuan lain yang seperti supervisornya. Sang Supervisor memperhatikan e-ticket saya, lalu berbicara dengan petugas tadi dalam bahasa Korea yang tidak bisa saya mengerti. Blah-blah-blah… Sang Supervisor memencet-mencet keyboard lalu kembali ia meminta saya menunggu dengan manis. “Anything wrong?” tanya saya ketar-ketir. Di kiri kanan antrian sudah bergerak banyak dan di belakang saya mulai tak sabar. Dia tersenyum menggeleng dan pergi meninggalkan saya.

Saya agak putus asa menyaksikannya pergi  namun agak tenang melihatnya kembali lagi dengan buku notes di tangan. Ia meminta saya pindah ke counter yang paling ujung sehingga tidak mengganggu antrian di belakang saya. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, saya menurut saja. Kemudian Sang Supervisor itu membuka terminal dan mulai membaca buku catatan yang dibawanya. Membiarkan saya menyaksikan semua itu. Hmmm… ia membaca ke buku ‘manual’nya, lalu ke terminal, memencet keyboard lagi, membaca lagi. Dan seorang perempuan lain lagi bergabung membantu. Luar biasa, untuk penukaran e-ticket KRPass saya itu sampai 3 orang yang melayani. Entah kenapa, pikiran saya terbang ke saat-saat memberikan pelatihan di kantor, muka bingungnya terlihat serupa. Dalam sekejap saya berkesimpulan bahwa di Daegu jarang yang menukarkan e-ticket KRPass. Mungkin jamak di Seoul atau Busan, tetapi mungkin tidak banyak di tempat selain dua kota itu.

Stasion KTX Daegu, Korea Selatan
Stasion KTX Daegu, Korea Selatan

Akhirnya kesabaran saya menunggu berbuah juga, berhasil mendapatkan KRPass dan mendapat tiket kereta KTX ke Seoul. Sambil menunggu kereta dan menenangkan hati yang lagi-lagi diberikan kejutan pagi,  saya mencari sarapan roti baguette. Karena sejak kecil dicekoki dengan makanan setipe satu ini, akibatnya kalau belum ketemu roti, rasanya belum sarapan!

KTX, si kereta berhidung aneh

Kemudian jelang waktu keberangkatan, saya melangkah menuju peron menunggu si kereta dengan hidung aneh ini datang. Berbeda dengan rel Shinkansen di Jepang yang terdiri dari 3 rel paralel, rel KTX ini tampak tidak berbeda dengan rel kereta biasa dengan dua bilah besi paralel walaupun secara teknologi mungkin berbeda spesifikasinya. Berdasarkan informasi wiki, infrastrukturnya didisain agar kereta dapat berjalan baik dengan kecepatan hingga 350km/jam. Hebat…

Tidak perlu lama menunggu, kereta saya pun datang dan naiklah saya ke kereta super cepat buatan Korea ini. Disebelah saya duduk seorang bapak dengan tampang eksekutif yang tampaknya tak mau diajak bicara karena sibuk dengan catatan-catatannya. Mungkin lebih baik, karena saya juga ingin melanjutkan tidur di kala bosan melihat pemandangan keluar jendela.

Perkiraan mendapatkan pemandangan indah sepanjang perjalanan tidak tercapai karena yang terlihat kebanyakan hanyalah pagar tembok batas kereta, kadang sisi belakang perumahan kota. Sedikit sekali pemandangan gunung dengan warna musim gugurnya. Entahlah, mungkin saya sedang tertidur saat pemandangan indah terhampar.

Yang ajaib, saya berharap di gerbong kereta terdengar informasi suara saat memasuki stasion kota-kota besar yang disampaikan dalam bahasa Inggeris, selain Korea tentu. Tetapi dalam gerbong KTX yang saya naiki ini sama sekali tidak terdengar bahasa Inggeris, hanya bahasa Korea. Wow! Saya hanya membaca satu persatu nama-nama stasion ketika kereta berhenti. Itupun jika tidak tertidur. Sebuah hal yang sangat mendasar, bagaimana mungkin dalam gerbong kereta yang ditujukan sebagai pendukung utama turisme Korea tidak disampaikan dalam bahasa internasional? Padahal harga tiketnya mahal dan dijual di luar Korea! Entahlah, tetapi pada hari itu, sejak dari Stasion  Daegu hingga mencapai Seoul Station, tidak ada satupun bahasa Inggeris terdengar dari loudspeaker di gerbong saya. <Catatan: tetapi ketika menggunakan kereta dengan kelas yang lebih rendah menuju Suwon, saya mendengar informasi yang disampaikan dalam bahasa Inggeris!>

Akhirnya KTX sampai di Seoul Station
Akhirnya KTX sampai di Seoul Station

Untunglah, saya selamat sampai di Seoul Station, station di Seoul dimana semua penumpang berhenti dan turun. Jika tidak, mungkin kejadian salah turun stasion seperti ketika di Thailand akan terulang lagi (klik disini kalau mau baca pengalaman salah turun stasion di tengah malam).

When I Smell the Fragrance of Heaven in Bulguksa Temple…


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mid-day in Gyeongju, South Korea…

When the local bus stopped at Bulguksa and the visitors got off the bus, it didn’t mean they had arrived at the temple. Actually all visitors should walk around 200m uphill along a nice walkway to reach the ticket booth. Then walk along a natural path to the temple’s gate.  But while walking the beautiful scenery will surround us in 360. Seems the Koreans love to build temples and monasteries in harmony with the mountains since long time ago.

The walkway was comfortably made, wide and neat, with food or souvenir stalls in each side. The beautiful autumn scenery with red and yellow maple leaves with fresh atmosphere and the happiness of family picnics on the greenery grass removed the tiredness of walking.

And after walking for a while, finally I reached the iconic stone with UNESCO World Heritage Site symbol on it in Roman and Hangul. Bulguksa Temple itself was designated as a World Cultural Asset by UNESCO in 1995, which is home to many important cultural relics.

My heart smiled when I stepped into the natural path, sensing the aura of beauty. A picturesque pond welcomed me with autumn colored trees around it and the motionless water showed its total reflection. Very beautiful. It’s Bulguksa! As the name indicates, it was designed as a realization of the blissful land of the Buddha in the present world. It was intended to be the happy land where all beings are released from the suffering by following Buddha’s teachings. Meaning, the temple had to be not only faithful to Buddha’s teachings but beautiful as well. It works, I felt it.

I stopped for a while in the gate with four statues of heavenly gods inside as temple’s guardians, watching some Koreans gave a slight bow to each god with both palms met in front of the chest, some others passed as nothing was important. From the gesture and the intimidating stares of the gods, they looked like asking me the reason going to Bulguksa. Hmm.. I thought of this Korean trip. Bulguksa Temple was in my bucket list since my first plan going to South Korea last year. But it’d never happened because of the warming political situation between North and South Korea in the first quarter of 2013. I had to cancel the trip although all was ready. Well, no regret at all, there’s price I had to pay for extending my trip in Japan instead of going to South Korea at that time. Fortunately I got the beautiful chance to go in autumn. In November 2013 my dream came true, arrived in Bulguksa temple, -a complex of beautiful wooden buildings and stone pagodas built upon decorative stone terraces-, and here I was standing on my own feet.

It was a heartwarming moment, like a kid got unexpected gift. I walked slowly, enjoying moments in this representative relic of Gyeongju, and was known worldwide for the amazing details and the touch of stone relics.  In front of my own eyes, I saw the famous White Cloud and Blue Cloud Bridge which are the thirty-three stone-stairs adorned with elaborate railings, -which symbolize the thirty-three heavens-, that originally to reach the elevated compound of the temple.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Then after a while, avoiding the crowds of people at Tourist Information hut, I went to a small shrine on the right side which was less people visited but interesting. There were stone tub filled with water for purifying all beings before praying. Looking at the tub with lotus petals in each foot and details where the water comes out, reminded me of Yoni, as one pair with Lingam in Hinduism.

I walked slowly and entered the main yard from the right side of the temple. The long wooden terrace was so lovely with adorned detail pillars and roof. I closed my eyes and took a deep breath trying to absorb all the beauty of the temple. My mind was flying back many centuries ago, giving me a flash of its history. Originally called Hwaeombeomnyusa or Beopryusa Temple, a small wooden temple, -built in 528 during the reign of King Beop-Heung-, was for the Queen to pray for the welfare of the kingdom. It took hundreds years to be redeveloped. The current temple was built by Kim Dae-Seong, -a devoted believer and the architect of the original temple with a remarkable eye for beauty and legendary reincarnated into the prime minister-, in 751 during the reign of King Gyeong-Deok and completely built in 774. After that the temple logged a long history of reconstructions and numerous renovations from the Goryeo Dynasty to the Joseon Dynasty included burned down during the Imjin Waeran war following Japanese Invasion in the end of 16th century. Then it was reconstructed again in 1604 during the reign of King Seon-jo of the Joseon Dynasty and had continuous renovation for 200 years.

The chitchat of other visitors woke me up from the daydreaming and realized that I’d been on the land of Seokgamoni Buddha as part of the temple’s main yard. Actually Bulguksa’s cloistered sanctuary is divided into two, the land of Seokgamoni Buddha and the land of Amitabha, means the Buddha of Boundless Light. The land of Seokgamoni Buddha, -the impure land-, is larger and higher than Amitabha’s, the pure one. Some said that Seokgamoni, or Sakyamuni, is praised as the more noble to appear in the mundane world out of his great compassion.

One of the buildings in the land of Seokgamoni Buddha is Daeungjeon, hall of great enlightenment, which enshrines a gilt-bronze Buddha and is the main hall for worshiping. The other important one is  Musolijeon, the Hall of No Discourse, as the lecture hall.

But I was amazed with view in front of me. Between Daeungjeon and Jahamun (Mauve Mist Gate), stand the famous pagodas, Tabotap, the Pagoda of Many Treasures, and the other should be the Seokgatap (the Seokgamoni Pagoda). Unfortunately on my visit, the sacred Seokgatap was being under 3 years restoration.

I walked into the Jahamun, the Mauve Mist Gate that is full of delicate detailed decoration on the wooden roof and pillars. Jahamun was the gate for people to reach Daeungjeon from the outside by using staircases. But considering the age and value, visitors cannot use the staircases anymore.

The staircases, although they are called as bridges, have deep meaning. The staircase which is in the lower part is Cheongungyo or Blue Cloud Bridge and has 17 steps. The staircase which is in the upper part is Baegungyo or White Cloud Bridge and has 16 steps. These staircases symbolically connect the earthly world below and the world of Buddha above. In the other version, some wise people said that the staircases are the symbol of man’s journey from youth to old age.

Back to the land of Seokgamoni Buddha,  among the many treasures of Bulguksa, the famous pagoda pair in the main yard have an unmatched reputation. Seokgatap and Tabotap, have stood for over 12 centuries surviving the flames of war that engulfed all of the temple’s original wooden structures. And it’s surprising me that a legend inspires the arrangement of them. When Seokgamoni preached the Lotus Sutra, the pagoda of Prabhutaratna emerged out of the earth in witness of the greatness and truth of his teaching. Some other said that both pagodas are the manifestations of the Buddha’s contemplation and detachment from the world. Because of the legend and amazing history of them, none of thousands pagodas scattered across South Korea surpass those two pagodas for the philosophical depth. 

Seokgatap

Based on many sources, Seokgatap, or the Seokgamoni Pagoda, represents the finest traditional style of Korean Buddhist pagodas that was inspired from China’s one. As proven by many people, the three-story pagoda is admired for its proportions, simple with minimal decoration but graceful style. Unfortunately I was not able to see the glorious height of Seokgatap because of its current restoration process.  However, during restoration when the second roof was removed, it’s showed a gilt bronze casket containing, for those who believe, was the relics of Sakyamuni.

It was like in 1966, during repairing a collection of precious treasures was found in the Seokgatap. They included a paper scroll of the Pure Light Dharani Sutra, printed between 706 and 751. The scrolling Sutra, 6m long 7cm wide, was one of the world oldest printed materials. The other treasures found were three sets of beautiful decorated relic containers including a gilt-bronze box in elaborate openwork, a gilt-bronze box with a fine engraving of bodhisattvas and heavenly gods, and a glass bottle containing 46 grains of holy relics. No wonder Seokgatap is so sacred.

Beside the sacredness of Seokgatap, I was told about its legend. Among the Koreans, Seokgatap is also called as the Pagoda without Reflection. It referred to the sad legend of Asanyeo, wife of the Asadal, who built this pagoda. The poor woman came to Gyeongju to see her husband as years had gone without any news. At that time, no outsiders were allowed to come into the holy site and she had to wait by a pond near the temple until the the water showed a reflection of the pagoda. But that reflection was never showed up, she gave up waiting in vain and finally she threw herself into the pond.

Tabotap

This beautiful pagoda is symbolizing Prabhutaratna Buddha, -the one that emerged out of the earth in witness of the greatness and truth of Seokgamoni’s teaching. The highly ornate pagoda representing the skill of Silla’s craftsmanship, looks like a shrine with railings supported by a square slab roof on four pillars, and seems unbelievable that was constructed of stone. Those pillars stand on an elevated platform approached by four staircases in each side with 10 steps, symbolizing the 10 paramitas, or great virtues in Buddhism.

Considering the name of Tabotap which is called as Pagoda of Many Treasures, there was no record about the treasures found inside it.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Slowly I continued to walk to the quietness of the backyard by using a steep stairs. I saw here Gwaneumjeon or Avalokitesvara’s Shrine, the Boddhisattva of Perfect Compassion. It is called as the shrine of the One who Listens to the Cries of the World. I noticed that few people worshiped here. Perhaps it was a good sign that most Koreans had solved their own problems.

From Gwaneumjeon, I had to go downstairs for reaching Birojeon. It was similar with the adjacent building with more people worshiped. Birojeon is the hall in which enshrined the Golden Bronze Vairocana Buddha Sitting Statue, which was believed for the Truth, Wisdom and Cosmic Power. At the corner of Birojeon’s yard, there is a small building which houses the Sarira or Relic Stupa.

Leaving Birojeon then passing the Beophwajeon, -the area of stone foundation-, and my journey in Bulguksa was approaching the land of Amitabha, the pure land with Geungnakjeon or the Paradise Hall as the main hall. From many resources, Amitabha, -who vowed that all who believed in him and   called upon his name would be born into his paradise-, has a broad following among Koreans. It’s proven by lots of fresh beautiful and colorful flowers arranged in front of this hall and of course, the crowds in the Shrine. In front of this main hall, stand the Anyangmun Gate -the Pure Land Gate- and a big golden mouse statue in between.

Similar to Jahamun Gate in the eastern of the temple, Anyangmun Gate in the western part was the gate for people to reach Geungnakjeon from the outside by using staircases. But, again, considering the age and value, of course visitors are not allowed to use the staircases anymore.

These are 18-step stone staircases, the lower part of staircase called Yeonhwagyo or Lotus Flower Bridge and has 10 steps. Long time ago, this staircase was graced by the delicate lotus blossom carvings. The upper part of the staircase called Chilbogyo or Seven Treasure Bridge and has 8 steps. It is said that only those who reached enlightenment could use these stairs. Although these structures are smaller than the eastern one, both are similar in design and structure form.

My journey in Bulguksa was almost completed. I stopped for a minute in a building that stores a big heavy bell. My mind flew back again centuries ago and the sound of the bell heard over every corners of the temple, waking up the monks in grey robe to start the day with their daily routines.

Then I was back again in the front yard of Bulguksa Temple in the western side. From this corner people usually take the picturesque Bulguksa Temple in Autumn, with red and yellow colorful trees. My eyes absorbed the beauty in front of me. This was truly heaven on earth.

From the western corner I walked slowly to face the central façade of the temple. I saw Beomyeongnu or the Overflowing Shadow Pavillion, an elevated center building between Anyangmun and Jahamun Gate and originally constructed in mid of 8th century for placing the Dharma Drum. Its shape represents of Mt. Sumeru, an imaginary mount considered to be in the center of the universe in Buddhist cosmology. The current structure was restored in 1973, which is smaller than the original. Particularly unique are the stacked pillars, using 8 differently nice shaped stones and their placement, facing each of the four cardinal directions. The workers seemed in meditative state when putting the stones into the arrangement. 

Before leaving Bulguksa, I sat facing the temple and enjoyed the view. Closing my eyes and imagined a lotus pond that once existed beneath the staircases leading up to the main courtyard gave a fresh atmosphere. Seems I could smell the fragrance of heaven here…

Haeinsa Trip: Beautiful Life Lessons with Ups & Downs


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Haeinsa Temple, sebuah kuil dalam Gayasan National Park, Korea Selatan, merupakan World Heritage Site yang menyimpan Tripitaka Koreana, kitab suci Buddha pada 81.350 buah cetakan kayu sejak tahun 1398. Haeinsa Temple sendiri telah lama tersimpan rapi dalam Korea bucket list saya sebagai destinasi dengan prioritas tertinggi, bahkan mengalahkan tempat-tempat world heritage lainnya di Korea. Tidak ada alasan spesifik yang jelas, namun sebagai pejalan, sepertinya ada ikatan yang begitu dalam antara Haeinsa dan saya. Karena itulah tekad membulat untuk menyentuh Haeinsa Temple dengan seluruh panca indera ketika melakukan solo-trip ke Korea Selatan November 2013 lalu.

Man jadda wajada. Man shabara zhafira. Man sara ala darbi washala

Yang mengupayakan sungguh-sungguh akan sukses, yang bersabar akan beruntung, 

dan yang berjalan di jalannya secara konsisten akan sampai ke tujuan.

Sebuah perjalanan pada intinya adalah upaya yang sungguh-sungguh. Bagi yang tidak pernah mengupayakan, tidak pernah beranjak kemana-mana. Seperti pagi itu, pagi musim gugur yang indah di Guesthouse, Gyeongju, yang harus ditinggalkan. Hari itu saya mengarah ke Haeinsa Temple, destinasi utama saya, melalui kota Daegu dengan cara apapun juga.

Saya melangkah menuju halte untuk bertanya kepada seseorang yang menunggu bus, tentang nomor bus dan arah ke terminal bus antar kota. Namun dia memilih meminta maaf karena tidak bisa berbahasa Inggris. Halte yang hanya didukung oleh karakter Hangul yang tidak bisa dipahami, serta ketidakpastian situasi tanpa tahu arah, -sementara waktu berjalan terus-, meningkatkan kekuatiran yang menjengkelkan. Saya tak ijinkan ketidakpastian melanda hingga saya beralih berjalan kaki menuju stasion kereta api di seberang. Namun apa daya, ternyata jadwal kereta tak sejalan waktu saya. Keluar stasion kereta, saya melangkah ke tempat antrian taksi. Namun, ketika saya sampaikan tujuan ke terminal bus antar kota, pengemudi taksi itu tak berkenan mengantar saya. Sekali lagi, tak berkenan! Dan dengan berbagai alasan! Terhenyak, kecewa pun merambat naik. Baru kali itu, -jika boleh bersombong rasa-, uang ada tetapi taksi tak mau mengantar. Bukan tak bisa, tetapi tak mau. Ada sedikit yang berdenyut dengan penolakan itu, tetapi kecewa hanya menjadi beban bila dipelihara. Saya belum berpindah, dan hanya ada dua pilihan di hadapan: berdiam menunggu dalam ketidakpastian atau mengambil tindakan untuk mencapai tujuan impian. Saya memilih opsi terakhir.

So walk, or run if you can, to your dreams. It doesn’t matter if it’s far or near.

You can pause along the way but never stop…

Bukankah masih ada kaki sehat yang dianugerahi oleh Yang Maha Memiliki? Bukankah beban ransel tidak sampai membuat punggung meliuk? Sedangkan mentari pagi masih bersinar lembut. Selangkah demi selangkah saya jalani dengan senyum, terminal bus antar kota di Gyeongju pun akan terlampaui. Jalan, kalau perlu berlari. Jarak sekian kilometer ke Terminal Bus tak akan terasa jauh karena Haeinsa terdengar samar memanggil dari balik gunung. Tetes keringat jatuh pun jadi hiasan. Semangat dari dalam pun meneriakkan, ayo menuju Haeinsa! Dan saya terganjar dengan kegembiraan sesampainya di terminal bus antar kota.

 In Life, many things don’t go according to plan,

If you fall, get back up. If you stumble, regain your balance, but never, never give up!

Dan kenyamanan pun saya dapatkan dalam perjalanan bus selama 60 menit dari Gyeongju ke Daegu.  Hati tenang beristirahat. Namun, seperti juga kehidupan, kenyamanan tidak pernah berlangsung selamanya. Sesampainya di Daegu, kota besar sebelum Haeinsa, bus berakhir di terminal antah berantah, yang tidak tertera dalam rencana perjalanan. Tak tampak rambu menuju subway. Naik bus atau taksi? Rasa cemas kembali merambat naik. Ditambah sisa buruk sangka dari pengalaman sebelumnya berhubungan dengan orang Korea yang terbatas berbahasa Inggris. Tapi…

Never give up. Miracles happen every day

Hati ini bertahan untuk memenangkan perjalanan ke Haeinsa walaupun kerikil terserak. Tak mungkin berdiam dalam ketidakpastian. Harus bergerak, mencari keseimbangan baru. Tak boleh menyerah pada situasi. Never give up! Sejalan semangat yang terbit, saya mendekati seorang perempuan Korea di halte bus. Sebagai sesama perempuan, saya membuka percakapan dengan bahasa dunia, senyum. Tidak dinyana, dia malaikat penolong berbahasa Inggeris yang memberi jalan keluar. Sarannya, menggunakan taksi kembali ke terminal yang ada dalam rencana saya. Ketika kelelahan hati terjadi berulang kali, senyum pun menjadi pemuas dahaga, apalagi pertolongan tulus berupa solusi. Denting keajaiban. Bersyukur saya menerima keajaiban-keajaiban yang terjadi setiap hari. Dan akhirnya di terminal bus yang seharusnya, hati bersukacita memegang karcis bus dari Daegu ke Haeinsa.

But, life isn’t meant to be easy, it’s meant to be lived. Sometimes good, other times rough.

And with every ups and downs, you learn lessons that make you strong…

Namun sepertinya keberuntungan bukanlah teman perjalanan saya kali ini. Belum juga beranjak dari terminal bus antar kota Daegu, petugas bus naik dan bicara cepat dalam bahasa Korea yang membuat setengah dari isi bus yang siap berangkat mengeluh keras dan langsung turun. Beberapa turis mancanegara dan saya terhenyak panik dalam ketidakmengertian. Ada apa? Mengapa? Apakah batal? Tidak seorangpun menyampaikan dalam bahasa Inggeris, dan karenanya saya bertanya pada mahasiswa di sebelah. Ia menjelaskan terpatah-patah bahwa perjalanan ke Haeinsa perlu waktu 5 jam dari yang biasanya paling lama 2 jam, karena lalu lintas padat. Sebelum saya bertanya lebih jauh, ia sudah bergegas turun membiarkan saya dilanda ketidakjelasan. Dan untunglah seorang turis Eropa sigap mencari tahu dan memastikan bus tetap berangkat ke Haeinsa, hanya saja akan lebih lama. Dan benarlah, perjalanan ke Haeinsa di akhir minggu itu tersendat-sendat dalam antrian panjang yang semakin parah jelang tujuan. Sebuah bagian dari kerikil-kerikil yang terserak dalam perjalanan…

Before your reach your destination, you’ll find yourself going through the wilderness.

While in the wilderness, your faith will be tried and tested.

Dan kemacetan lalu lintas yang parah bukanlah halangan terakhir untuk mencapai Haeinsa. Waktu yang terus bergulir hingga jelang sore pun belum membuat bus sampai ke Haeinsa. Satu per satu penumpang turun di tengah perjalanan, entah sampai tujuannya, mengalihkan ke kendaraan lain atau membatalkan perjalanan, sehingga membuat kekuatiran saya meningkat lagi. Penumpang bus semakin sedikit, tidak ada informasi jarak apakah Haeinsa sudah dekat atau masih jauh. Namun bus telah memasuki wilayah pegunungan Gayasan National Park dengan jalannya yang berkelok-kelok. Hingga suatu saat, bus benar-benar terjebak dalam kemacetan total, tak bisa lagi bergerak, tak bisa maju atau mundur, dua arah berhenti di tengah hutan pegunungan. Dalam kemacetan pun sebagian penumpang kagum sambil menunjuk sisi kiri bus. Tak dinyana, tampak sebuah patung Buddha Berdiri membelah hutan cantik berwarna merah kuning khas musim gugur. Gelombang besar penumpang mendesak minta diturunkan di situ menyisakan beberapa lansia. Bahkan turis Barat yang sigap tadi juga turun dan menghilang entah kemana. Dan terbawa arus penumpang lain yang mendesak turun, tanpa pikir panjang, saya pun ikut melompat turun.

Leap and the net will appear (Zen saying) 

Sepersekian detik setelah melompat dari bus, disorientasi dan sendirian, saya kehilangan arah dan tidak tahu dimana saya berada saat itu. Salah atau tidak, saya sudah turun dari bus. Jelas belum sampai di Haeinsa temple. Dalam hitungan detik, tingkat mawas diri yang diperlukan saat solo-traveling itu turun mencapai level terendah karena lelah hati akibat gempuran situasi tak bersahabat sejak memulai hari. Saya hanya menduga tempat ini merupakan spot penting untuk mulai trekking dalam Gayasan National Park, karena terlihat kelompok orang mengenakan pakaian trekking, berjalan ke berbagai arah. Berdesir perasaan di dalam, benih pikiran buruk bertandang. Saya sendirian, tanpa teman, orang asing yang tak mengerti bahasa lokal, tanpa persiapan trekking, tanpa tahu arah, dan dalam beberapa jam malam akan datang. Berlomba dengan waktu, kekuatiran luar biasa menerjang saya. Walaupun dalam hati, saya tetap malu untuk merasa takut dan kalah. Tak mau menyerah begitu saja, saya harus bisa tetap bertahan, dan berperang melawan segala bentuk kekuatiran yang tidak memberikan solusi apa-apa kecuali rasa takut.

Courage was not the absence of fear, but the triumph over it.

The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear

Seperti tak menginjak bumi, saya paksa untuk melangkah ke arah taman tempat patung Buddha yang putih tinggi menjulang itu di antara pepohonan dengan warna musim gugur yang indah, berharap lebih tenang. 

Do not dwell in the past, do not dream of the future,

concentrate the mind on the present moment (Buddha)

Alih-alih terjebak rasa takut karena disorientasi, saya mencoba fokus menikmati keindahan saat itu. Rasa indah memberi cukup ruang untuk berpikir lebih jernih tindakan selanjutnya. Dan setelah beberapa saat menenangkan diri, karena tempat itu bukan Haeinsa dan tak ingin terjerat pada sebuah pengalih perhatian, maka saya harus berpindah menuju ke Haeinsa. Walau dalam hati masih tersimpan campur aduknya sisa kekuatiran, tetapi saya tidak boleh kalah dengan rasa. Saya harus bergerak mencari jawaban akan keberadaan posisi saya.

Dan kaki ini melangkah ke papan peta yang ternyata tertulis dalam Hangul yang tidak saya pahami dan memperlihatkan rute trekking yang menyebar ke beberapa tujuan. Tidak ada petunjuk arah ke Haeinsa Temple. Peta itu mampu meningkatkan kecemasan saya lagi, seandainya saya bisa memahami Hangul! Lengkap sudah, saya sendirian, in the middle of nowhere, di tempat yang tidak dikenal, di hutan  negara orang, dikelilingi oleh orang-orang yang berbicara dalam bahasa asing, ditambah lagi banyak dari mereka hanya peduli dengan kelompoknya. Tetapi saya tidak mungkin kembali, lalu lintas berhenti total, point of no return. Perasaan ini sangat menekan, hati sangat lelah, tetapi jauh di dalam sana, terdengar teriakan untuk tetap tidak boleh kehilangan harap.

No storm lasts forever, hold on. Be brave. Have faith. Every storm is temporary and we’re never alone!

Jiwa membawa saya mendekati seorang pasangan paruh baya yang membawa kamera mahal. Saya duga mereka mampu berbahasa Inggeris karena kameranya. Absurd memang, tetapi siapa tahu? Dan benarlah, ternyata mereka adalah malaikat yang dikirim untuk memberi kekuatan kepada saya. Dalam bahasa Inggeris patah-patah, mereka menunjukkan jalan setapak untuk mencapai Haeinsa Temple, serta perkiraan waktunya. Rasanya ingin berteriak bahagia, pertolongan itu datang jua. Bersyukur karena saya tidak sendirian. Saya hanya diminta untuk percaya saja. Sepotong informasi sudah cukup untuk menunjukkan jalan berikutnya.

Faith is taking the first step even when you don’t see the whole staircase – Martin Luther King Jr.

Saya, tidak bisa tidak, kecuali melangkah mengikuti jalan setapak. Saya tidak mempersiapkan pakaian dan sepatu trekking, karena saya menduga Haeinsa seperti juga kuil terkenal lain di Korea, sudah terbentuk akses jalan sehingga tidak perlu trekking. Saya hanya berdoa agar sepatu boot beralas karet ini tidak licin dan jaket musim gugur yang saya pakai cukup untuk menahan dinginnya udara.

 No one saves us but ourselves, No one can and no one may. We ourselves must walk the path.

Inilah jalan yang harus saya tapaki, ‘belantara hutan’ yang harus dijelajahi untuk mencapai apa yang saya inginkan. Saya memulai ratusan meter pertama yang mendaki yang masih landai. Dan ketika di sudut tersembul sebuah papan petunjuk arah ke Haeinsa Temple, tertulis dalam tulisan latin, benar-benar seperti rintik hujan saat kemarau berkepanjangan.

Saya nikmati sejengkal dua jengkal, sekilo dua kilo jalan setapak yang kian mendaki sambil mengambil foto tempat-tempat indah, tempat-tempat yang mengingatkan akan rasa yang bergejolak seperti roller coaster. Tetes keringat mengucur, lagi-lagi menjadi hiasan perjalanan. Tiap langkah yang diambil, entah mengapa hati ini mengucap nama Yang Maha Pemberi Petunjuk, sepertinya ada airmata yang menetes bahagia dari dalam jiwa. Saya tak bicara, kecuali kepada Sang Pemilik Alam. Luar biasa.

Jalan semakin mendaki dan sampailah saya pada sebuah simpang dekat pasar, yang saya kenali dari gambar internet sebagai awal akses jalan ke Haeinsa Temple. Saya sudah dekat, tinggal sedikit lagi.  Seakan tak sabar, saya mempercepat langkah karena hari sudah semakin sore. Dan, akhirnya… saya melihat sebuah batu besar bertuliskan Haeinsa Temple, UNESCO World Heritage Site, tak terasa mata saya panas, berkaca-kaca… Finally! Akhirnya saya menjejakkan kaki di Haeinsa Temple! Saya menyentuhkan tangan ke batu besar itu. (Dan saya akan ceritakan mengenai Haeinsa Temple di tulisan terpisah).

… hug it when you finally meet it! Embrace the moment. Love it and never let it go.

Hold its opportunities and kiss its lessons with full of sincerity.

Remember every moment of it – specially – the journey.

It is what matters most.

Ijinkan saya memeluk rasa itu sedalam-dalamnya. Saya nikmati setiap langkah di dalam Haeinsa Temple hingga dentang terakhir gong itu berbunyi, akhir dari kunjungan ke kuil. Berat rasanya harus mengucapkan salam perpisahan kepada Haeinsa. Tapi tak pernah ada datang yang tak pergi bukan? Karena pada akhirnya, saya harus mencari cara apapun untuk kembali ke Daegu malam itu. Masih adakah bus yang kembali ke Daegu? Padahal terminal pun tak tahu, apalagi karcis pulang…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Menyadari itu, setengah berlari saya menuruni jalan setapak menuju persimpangan dekat pasar itu dan rasanya sekejap saya sampai di persimpangan itu. Saya membisikkan doa, menyebut namaNya yang indah sebagai Maha Pemberi Petunjuk. Saya melangkah ke arah kanan, yang dalam pemahaman saya di situlah arah terminal bus. Saya terus mengayunkan langkah di pinggir jalan diantara mobil-mobil yang parkir tak teratur. Petugas lalu lintas masih terus berupaya mencairkan lalu lintas. Lampu-lampu mobil sudah dinyalakan memberi terang dalam kegelapan. Saya mengikuti pasangan muda yang berjalan di depan, berharap mereka juga ke terminal bus. Tapi ketika mereka membuka pintu mobilnya, pupus harapan saya ada teman yang menuju terminal bus. Di sekitar saya hanya ada mobil-mobil dengan penumpangnya yang mencoba sabar dalam macet. Tak ada manusia yang berjalan di depan saya. Selain lampu mobil, di tempat itu hanya ada kegelapan, tanpa senter. Saya merapatkan jaket, udara dingin dan angin pegunungan di musim gugur mulai menusuk. Jalan terus. This too shall pass… Tak bisa lain, saya harus bergegas walaupun airmata terasa hampir pecah. Saya sudah sampai di ujung tali, saya bergantung. Ya Tuhan, tolong saya…

 When you get to the end of your rope, tie a knot and hold on. Help is on the way.

Kaki terus melangkah menuju keramaian lampu. Mobil-mobil masih mengekor ke belakang dan kesanalah saya melangkah. Sampai akhirnya mulai ada bangunan-bangunan. Saya mendaki pada lorong yang ada penginapan namun dua kali saya melongok ke meja resepsionis di penginapan murah, tetapi tak ada orang sama sekali di baliknya.

God will make a way when there seems to be no way…

Saya keluar lagi menatap mobil-mobil yang terjebak di lapangan bawah. Apa yang harus saya lakukan? Seratus meter di atas ada toko barang kelontong, harapan saya. Saya bergegas ke atas. Di depan pintu, sambil membungkukkan badan dan mengucap salam, saya memohon kepada mereka untuk ditunjukkan arah terminal bus. Dan mereka malaikat yang tidak bisa berbahasa Inggeris, tetapi mau menolong hingga keluar ke jalan untuk menunjukkan jalan arah terminal bus. Saya terbungkuk-bungkuk hampir menangis bahagia mendapat petunjuk yang sangat berharga. Lagi-lagi, hanya perlu percaya dengan sepotong informasi…

Saya mengikuti petunjuk itu dan menemukan satu bus yang parkir. Walau tak tampak seperti terminal, tetapi tempat itu sebuah terminal bus. Dan kekuatan dari Yang Berkehendaklah yang menggerakkan mata saya untuk melihat tulisan yang tersembunyi: TICKET. Sekejap saya meluncur kesana dan berhasil mendapatkan tiket walaupun antrian penumpang yang menunggu kedatangan bus di pinggir jalan sudah mengular dan saya adalah ekornya. Saya tunggu bus datang sampai kapanpun walau dingin dan angin gunung menembus jaket.

Tidak ada yang kebetulan, semua terjadi karena ada alasannya. Seorang remaja putri dan seorang bapak yang entah dari mana ikut mengantri, dikirim oleh Yang Maha Kasih sebagai malaikat untuk menemani saya. Mereka membuka percakapan, karena melihat wajah saya yang non-Korea dan akhirnya menjadi teman perjalanan yang menyenangkan hingga Daegu. Tak ada nama atau email yang dipertukarkan, hanya ada rasa welas asih yang terjalin. Dan di Daegu setelah memastikan saya aman dan selamat, mereka menghilang memisahkan diri di balik ratusan orang di terminal. Dan sesampai di kamar penginapan, airmata saya tumpah. Saya telah mendapat pembelajaran yang teramat indah, dibimbing langsung dariNya. Tuhan Maha Baik.

Karena bepergian sesungguhnya adalah untuk mengenal diri dan

barangsiapa yang mengenal dirinya, ia pasti akan mengenal Tuhannya.

Day 2 – Serasa Adu Tinju Menuju Gyeongju


Saya tanya ya? Dalam perjalanan keluar negeri, pernah tidak mengalami hal berikut ini:

1. Salah turun stasion?

2. Kehilangan Tiket Subway?

3. Naik taksi yang tidak tahu alamat tanpa GPS?

Hehehe… saya pernah dan mengalami hal itu semua dalam setengah hari perjalanan dari Busan ke Gyeongju. Rasanya? Ya mungkin seperti di ring tinju, kena jab kiri kanan, uppercut kiri kanan, asli puyeng… tetapi belum KO sih…

Busan Metro Line 1
Busan Metro Line 1

Saya check-out dari penginapan dan langsung menuju subway Busan Station.  Waktu itu saya akan ke Gyeongju, sekitar 1 jam berkendara bus dari Busan. Karena naik kereta lebih memakan waktu, maka saya memilih naik bus antar kota. Saya mengulang membaca itinerary untuk mencapai terminal bus dan dari peta Metro jaraknya 2 stasion dari Busan Station, area tempat saya menginap.

Berbekal pengalaman hari kemarin, saya sudah pandai menggunakan mesin tiket subway, jadi cepat saya membeli tiketnya. Dan langsung naik metro begitu kereta sampai dan langsung turun pada Nampo, 2 station saja jaraknya dari Busan Station. Di Nampo saya melihat-lihat situasi, tidak ada penunjuk arah ke terminal bus dan kesan saya, terlalu mewah untuk stasion yang dekat dengan terminal bus. Ada rasa was-was yang tiba-tiba membuncah. Sepertinya saya salah stasion niiih. Salah satu yang paling merepotkan adalah bicara dengan orang Korea yang bahasa Inggerisnya terbatas, dan kalau sudah salah arah seperti ini, satu-satunya jalan yang harus saya lakukan adalah harus tanya orang. Saya menuju konter informasi subway dan menanyakan maksud saya sebenarnya yaitu arah terminal bus.

Petugas yang sudah tua itu, tampak mengerti maksud saya tetapi kesulitan menjelaskan. Celaka! Akhirnya dia mencari peta jalur Metro dan membentangkan di hadapan saya. Dia hanya mengatakan, we lalu menunjuk saya dan dirinya, lalu ia melingkari station Nampo. Oke, saya mengerti, kita ada di station Nampo. Dia tersenyum, lalu dia bicara tidak jelas, kemudian dia mengikuti bolpennya sepanjang line 1 yang berwarna oranye sampai ke ujung dan menunjuk saya lagi, you go here, dia melingkari stasion Nopo. Bus Terminal! Hah? Saya salah turun stasion? Tepok jidat! Saya berulangkali berkamsahamnida kepadanya dengan membungkukkan badan sambil terus menyalahkan diri sendiri. Saya harusnya ke Nopo bukan Nampo! Memang mirip! Tetapi beda sekali tempatnya dan jaraknya jauh! Stasion Nopo ada di ujung dan hampir 1 jam ke sana! Hilang waktu lagi! Saya berulang kali menyalahkan diri sendiri, kenapa saya berulang kali teledor membaca? Kemarin masalah Jangsan dan Yangsan, sekarang Nopo dan Nampo! Gara-gara kebodohan ini jadwal jadi berantakan. Jadilah saya menuju Nopo dan tentu saja melalui Busan Station lagi, tempat tadi pagi saya pergi. Dodol sekali!

Tiket Busan Metro
Tiket Busan Metro

Dan belum selesai sampai di situ! Saya kembali membeli tiket, kali ini ke Nopo (karena saya ada di Nampo) dan lewat gate tiket lagi, turun tangga lagi dan duduk untuk menentramkan diri sambil menunggu kereta. Semenit dua menit saya termangu jengkel sama diri sendiri karena masalah salah stasion, lalu tiba-tiba saya teringat tiket untuk ke Nopo yang biasanya saya pegang. Lho mana tiket saya??? Tidak ada di tempat saya biasanya, tidak ada di saku, tidak ada di hape, tidak ada yang jatuh di sekitar. Biasanya saya otomatis mengambil tiket saat memasuki gate. Dan tiket tidak ada pada saya. Kereta untuk ke Nopo sudah datang, saya tidak peduli. Saya harus cari tiket dulu. Manaaaaa? Tiket kan harus ada saat masuk dan keluar, masa saya bisa masuk tapi tidak bisa keluar? Terpikir untuk langsung naik kereta, bilang saja tiket hilang, paling diminta bayar… tapi saya ragu, nanti urusannya jadi panjang. Ini di negeri orang, bukan di Indonesia. Saya cemas, kekuatiran langsung naik level ke derajat tertinggi. Kalau tiket benar-benar hilang ya apapun yang terjadi harus dihadapi. Tetapi apakah tiket sudah benar-benar hilang? Sudah dicari? Walaupun dipenuhi rasa cemas, akhirnya saya berberes ransel yang sudah saya bongkar untuk mencari tiket dan kembali naik tangga yang lumayan tinggi. Stress dan napas satu-satu karena naik tangga ditambah ransel yang rasanya semakin berat tapi saya tetap berharap siapa tau ada penjaga baik hati di atas yang bisa menolong saya. Semakin dekat puncak tangga, saya semakin galau. Berbagai kemungkinan buruk dan kekuatiran memenuhi benak. Bagaimana bila begini, atau bila begitu? Saya mencoba menghilangkannya dan naik tangga terus. Dan akhirnya… dibalik gerbang tiket, saya tidak melihat ada orang satupun. Sepi! Nobody!

Tapi tiba-tiba mata saya bergerak otomatis mengarah ke gerbang tempat saya masuk sebelumnya. Dan diatasnya masih ada sebuah tiket yang diletakkan begitu saja di dekat lubang keluarnya! Seperti disiram air es, saya hampir berteriak kegirangan melihat selembar tiket kecil masih di tempatnya. Pasti ada orang Korea yang baik hati meletakkan tiket saya begitu saja. Tiket tidak diambil, tidak dibuang, hanya diletakkan di dekatnya. Mungkin mereka akan berpikir orang yang lupa mengambil tiket akan kembali. Tepat seperti yang saya alami! Saya mengucap syukur berkali-kali. Tuhan mengingatkan dengan cintaNya yang indah atas keteledoran saya. 

Sepanjang perjalanan menuju Stasion Nopo, saya berulang kali mengucap syukur dalam hati. Tak dibayangkan apa yang akan terjadi bila tiket kereta benar-benar hilang, mungkin karena saya merupakan tipe yang lurus-lurus saja, jadi kehilangan tiket itu, -walaupun sesaat- merupakan sesuatu yang sangat memalukan. Saya berdoa, semoga untuk sisa hari yang masih panjang ini saya dimudahkan dan dilancarkan untuk segala urusannya. Belum lagi siang, saya sudah dua kali mengalami kekuatiran yang turun naik seperti roller coaster.

Sampai Stasion Nopo tidak sulit untuk melanjutkan ke terminal bus karena gedungnya terintegrasi. Masalahnya saya tidak tahu apakah terminal ini Express atau Intercity. Di Korea ada perbedaan antara keduanya, namun biasanya letaknya berdekatan. Saya mulai mules lagi, dan hanya bisa berdoa, semoga petugasnya bisa bahasa Inggris, minimal mengerti. Saya mengarah ke satu loket untuk membeli tiket ke Gyeongju. Untunglah, dia mengerti bahasa Inggeris. Aahh setelah dua kali beroller-coaster, dapat petugas yang mengerti bahasa Inggeris dan bisa membeli tiket darinya saja, rasanya seperti dapat durian runtuh!

Dengan tiket di tangan, yang kali ini saya pegang erat-erat, saya sukses selamat bisa naik bus ke Gyeongju. Tetapi, hati ini benar-benar turun naik, karena saya buta aksara Hangul, karena saya tidak bisa bicara bahasa Korea, karena bahasa Inggeris tidak berlaku di Korea, maka saya seperti berada di arena tinju, tetapi belum KO, hanya rasanya terkena jab kiri, jab kanan, uppercut. Uuugh…

Bus berjalan dengan kecepatan sedang di jalan bebas hambatan yang lalu lintasnya tidak terlalu padat. Saya kebagian tempat duduk di pinggir satu kursi yang lebar dan nyaman. Perjalanan ke Gyeongju tidak spesial, itu dikarenakan di sebagian besar perjalanan saya tertidur. Hanya kadang terlihat gugusan pohon dengan warna khas musim gugur. Sepanjang perjalanan merupakan waktu yang menentramkan hati, karena tidak mengalami gejolak ketidaktahuan, salah informasi, salah arah, salah komunikasi. Mendekati Gyeongju, entahlah, muncul rasa was-was lagi, saya berdoa agar dimudahkan untuk sampai ke Guesthouse.

Gyeongju Bus Terminal
Gyeongju Bus Terminal

Ketika sampai di terminal Gyeongju, kekuatiran saya meningkat lagi. Untuk menuju ke penginapan, saya tidak mengetahui arah dan nomor bus. Tidak mungkin naik bus lokal. Informasi mengenai letak guesthouse saya tahu hanya dari stasion kereta api, yang katanya hampir semua orang Gyeonju tahu dimana letak stasion kereta api itu. Yang pasti tidak ada tukang ojek! Tidak ada jalan lain, saya naik taxi. Pengemudinya sudah tua. Saya menyebutkan nama guesthouse-nya dan ia mengangguk. Dan itu problem! Argo sudah jalan, mulai dia berbicara yang tidak jelas. Sepertinya dia tidak tahu tujuannya. Karena saya menduga dia tidak mengerti lokasi guesthouse, saya minta dia ke station kereta api. Pikir saya, biarlah saya jalan kaki dari stasion ke guesthouse. Tetapi hal ini semakin membingungkan dia, karena ada dua stasion di Gyeongju, stasion lama yang menjadi tujuan saya dan stasion baru. Mampuslah saya! Saya menyebut berkali-kali, bukan ke arah Sin-gyeongju melainkan stasion kereta yang lama (Sin-gyeongju adalah stasion kereta yang baru khusus untuk kereta api express KTX, serupa Shinkansen di Jepang). Perut makin mules, padahal tidak sakit perut. Roller coaster lagi!

 Tidak mau kalah oleh keterbatasan bahasa, saya keluarkan print-out alamat guesthouse dalam Hangul untuk kepentingan check-in agar dia bisa baca. Ahaaa…! Sepertinya pengemudi itu tahu daerahnya, tetapi tidak tahu persis tempatnya. Jreng… dia memencet GPS-nya tapi malah keluar kota. Salah! Beberapa kali dia pencet-pencet lagi GPS-nya tetapi hasilnya salah terus (saya juga tidak bisa bantu sebab GPSnya dalam Hangul). Namun sabar itu memang menyelamatkan. Setelah dia memasukkan alamat lengkap, barulah terlihat arah yang benar. Saya berteriak gembira melihat arahnya yang benar karena kira-kira saya tahu tempatnya. Dia juga gembira karena bisa mengantar saya. Dia ungkapkan kegembiraannya dalam bahasa Korea, dan saya mengangguk-angguk senang walaupun tidak mengerti.

Pak Sopir taksi berhenti tepat di depan pintu Guesthouse. Saya sendiri terkejut karena tidak ada huruf latin yang memastikan bahwa guesthouse itu sesuai pesanan saya. Setelah berkamsahamnida dengan pak Sopir, dengan iman (pasrah mode) saya ditinggal taksi untuk kemudian melangkah masuk ke dalam dan menjumpai kekosongan, tidak ada satu orangpun di dalamnya! Duuh.. roller coasternya belum berhenti. Tulisannya hanya 1, check-in time jam 14:00 dan telpon jika perlu dan ada tanda panah untuk menggunakan telepon. Sesuai petunjuk saya telepon dan diujung line terdengar suara, yang untungnya fasih berbahasa Inggris. Baguslah!

Tidak lama kemudian sebuah wajah jenaka keluar dari balik pintu dan melayani saya dengan baiknya. Ia menyerahkan kunci locker sementara belum bisa check-in karena memang belum waktunya. Gembira karena akhirnya ada orang yang bisa berbahasa Inggeris dengan baik, saya bertanya banyak mengenai destinasi seputar Gyeongju sambil memasukkan ransel ke dalam locker dan menggantinya dengan day-pack. Untuk sementara huru hara roller coaster berhenti dulu dan walaupun babak belur seakan bertanding tinju, saya sudah sampai Gyeongju dengan selamat, memiliki tempat untuk beristirahat nanti malam dan siap menjelajah Gyeongju, the World Heritage City in South Korea! 

Day 1 – Jelajah Busan Sampai Menyeret Kaki


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Busan adalah kota pertama di Korea Selatan yang saya jelajahi dalam solo-traveling kali ini dan waktunya hanya 1 hari! Sebenarnya banyak destinasi yang bisa dilihat di Busan, tetapi dengan keterbatasan waktu saya hanya mendapatkan sebagian kecil dari daftar saya. Mungkin sebagian besar sisanya buat lain waktu. Bukankah jadi ada alasan untuk datang lagi ke Korea Selatan? hehehe… Yang jelas, walaupun tidak banyak yang saya kunjungi di Busan, saya merasa sangat sehat karena kemana-mana harus jalan kaki yang buat ukuran saya adalah jaauuuuhh…!

Penginapan saya yang letaknya tidak jauh dari Busan Station membuat saya mudah kemana-mana dengan menggunakan Metro (subway). Sayang memang, karena sepanjang perjalanan tidak ada yang bisa dilihat kecuali kegelapan. Berlainan jika menggunakan bus, kita bisa melihat keindahan pemandangan sekitar. Tetapi masalahnya, saya tidak mempersiapkan diri menggunakan transportasi dengan bus. Karena berpengalaman tersesat di Jepang dengan bus dulu karena kebodohan saya sendiri, subway menjadi pilihan ternyaman dengan prioritas lebih tinggi karena sifatnya yang lebih pasti.

Sudah sekitar jam 10-an ketika saya meninggalkan penginapan untuk mulai menjelajah Busan. Tidak sampai 100meter saya sampai di stasion metro Busan Station (113, line 1 – orange) dan seorang penjaga membantu saya untuk berkenalan dengan mesin-mesin tiket karena mungkin dia kasihan melihat saya lama bengong di depan mesin tiket. Saya membeli 1 day trip pass karena saya mau keliling Busan sehari ini tanpa harus berpikir soal transportasi lagi. Tiket sehari unlimited ini hanya berbentuk secarik kertas kecil, tidak lebih besar dari jempol orang dewasa dan sama bentuknya dengan tiket point to point.

Kemudian saya turun ke arah kereta melalui… tangga! Seperti yang saya baca, subway di Korea Selatan dipenuhi dengan tangga. Mungkin mayoritas penduduk Korea adalah orang yang sehat jasmaninya dan mampu naik/turun melalui tangga. Bukan berarti tidak ada lift atau ekskalator untuk para lansia dan disable, tetapi akses yang paling terlihat dari gate tiket dan mungkin yang paling disarankan untuk digunakan adalah tangga. Dan kedalamannya tidak tanggung-tanggung, bisa sampai 3 lantai. Kalau turun mungkin masih no problem, tapi naik? apalagi kalo tersesat.. hehehe…

Seperti biasanya pada hari pertama ini, saya meluangkan waktu khusus untuk mempelajari peta metro Busan, yang menurut saya sangat ajaib, karena mampu membuat silap mata khususnya bagi orang yang suka teledor seperti saya. Bayangkan, stasion awal line 2 di Yangsan dan berakhir di Jangsan. Bagi saya, kedua nama stasion itu sama karena bacaannya mirip. Saya sempat terkecoh karenanya (waktu transfer kereta bayangin muka dodol saya ke kiri: Yangsan, ke Kanan: Jangsan.. Lhoo!)  Halaah! hanya beda 1 huruf : Y dan J !!!

Haeundae Beach

Destinasi pertama di Busan adalah menuju Haeundae Beach yang terkenal seantero Korea Selatan. Untuk itu dari Busan station (#113 line 1, orange) saya menuju Napo dan turun di Seomyeon untuk transfer ke line 2. Dari Seomyeon saya menuju Jangsan (Jangsan yaaa… bukan Yangsan! :-D) dan turun di Haeundae Station, exit 5. Dan lagi-lagi naik tangga untuk keluar ke permukaan bumi ya! Tetapi karena masih awal penjelajahan, masih semangat45.

Muncul di permukaan tanah dari Haeundae Station, udara sejuk musim gugur langsung menerpa. Tidak terlalu dingin, bisa dikatakan nyamanlah. Namun untuk mencapai pantai harus berjalan sekitar 10 menit. Tetapi stop sebentar! Karena kelihatannya orang Korea menghitung jarak dekat dalam hitungan menit-nya jalan kaki, hitung dulu kecepatan rata-rata orang berjalan. Jika kecepatannya 4 km/jam itu artinya jarak ke pantai sekitar 700meter. Di Indonesia, jarak segitu biasanya sudah tersedia ojek. Di Korea? Ya jalan kaki… dan itu termasuk dekat! Pantai dan suasananya sudah terlihat kok… (tapi kalau dipikir-pikir dari sini juga terlihat bulan kan??? mau jalan kaki juga? Hehehe…)

Jadilah saya berjalan kaki menuju pantai terkenal itu dan menjelang tengah hari bolong yang terik tapi anginnya cukup dingin, saya menginjak pantai putih Haeundae yang sangat landai. Benar-benar waktu yang tidak tepat untuk berkunjung ke pantai. Saya melihat jajaran gedung tinggi dengan hotel Novotel menjulang di tempat yang paling strategis. Hmm.. ditandai untuk nanti bersama keluarga… Di pantai tampak anak-anak TK sedang belajar dan bermain bersama guru-gurunya. Mereka bergoyang lucu mengikuti lagu Gangnam Style yang mendunia itu. Juga tampak orang-orang yang mengajak anjingnya berjalan-jalan. Selain itu tampak pula pesepeda yang menyusuri pedestrian khusus sepeda. Memang nyaman sekali menyusuri pantai dengan sepeda, walau waktunya salah sekalipun karena anginnya tetap membuat nyaman. Pantai Haeundae tidak terlalu banyak dikunjungi pengunjung saat itu, padahal jika musim panas tiba, pantai Haeundae sangat penuh pengunjung dengan payung-payung pantainya yang berwarna merah berjejer-jejer.

Saya berjalan perlahan menuju Dongbaek dengan menyusuri pantai melewati area Busan Aquarium yang dipenuhi pengunjung muda. Jika ada kesempatan di waktu mendatang, saya akan mengunjungi Busan Aquarium tapi kali ini belum dulu. Pantai Haeundae ditata apik. Beberapa spot terlihat menarik walaupun informasinya dalam tulisan Hangul sehingga saya tidak dapat mengerti maknanya. Tetapi tanpa perlu memahami artinya, saya bisa  menikmati dengan mata dan hati, semua terasa indah. Beberapa sisanya diberikan penjelasan bahasa Inggeris, seperti fenomena pulau Tsushima yang termasuk wilayah Jepang, kadang terlihat dari Haeundae, kadang tidak.. walaupun dalam keadaan cuaca yang jernih.Mau tau penjelasannya? Datang deh ke Haeundae Beach..

Patung Putri Duyung

Saya masih terus menyusuri pantai Haeundae sampai ke ujung, arah ke Dongbaek dan di atas sebuah karang, dibuatlah sebuah patung putri duyung. Kita bisa mencapainya dengan menyusuri jalan di balik hotel Westin ataupun dari arah Dongbaek melalui jalan setapak yang terbuat dari kayu. Konon, legenda mengisahkan bahwa Putri Hwanggok yang datang dari Kerajaan duyung Naranda, dinikahi oleh Raja Eunhye dari Mugung, sebuah kerajaan yang sangat terkenal. Setelah menikah dan menetap di Mugung, di saat-saat Putri Hwanggok sangat merindukan keluarga dan bangsanya di Naranda, ia hanya dapat melepas rindunya melalui pantulan bola emas saat bulan purnama tiba. Sedih yaa… wajah patung sang putri pun dibuat melow penuh kerinduan. Percaya ga sih, saya merasakan atmosfir rindu disitu… Bagaimana tidak, dalam posisi di atas patung putri duyung itu, sejauh mata memandang hanya ada lautan, dan memang bila kita sendiri disitu, hanya ada satu rasa, rindu sama orang-orang tercinta…. jiaaaahhh 🙂  

The Chamber

Saya kembali ke Haeundae sambil mulai terseok-seok pegal dan kepanasan sampai ke titik awal dekat Hotel Novotel. Di belakang hotel terdapat sebuah monumen seni yang dikenal dengan nama The Chamber karya Dennis Oppenheim (1938 – 2011), seorang seniman pelopor dalam seni konsep. Untuk menikmatinya, pengunjung the Chamber perlu masuk ke dalam monumen tersebut dan berjalan diantara ‘tembok’ yang dibuat menyerupai lembar kelopak bunga yang berlekuk. Dan merasakan bahwa dalam keleluasaan dan keterbukaan, tetap terdapat rasa restriksi dan pembatasan. Dari luar, pengunjung akan merasa terundang karena terlihat terbuka, namun begitu masuk di dalamnya, akan terasa terbatasi karena lekuk dari ‘tembok’ The Chamber. Ada makna yang sangat dalam. Ironisnya, Dennis Oppenheim meninggal sebulan sebelum monumen di Busan ini sempurna tersusun.

Haeundae Traditional Market

Saya meninggalkan pantai pelan-pelan dan menuju pasar tradisional. Tidak ada yang spesial di pasar ini kecuali keadaannya yang bersih dan teratur (dan semoga saja semua pasar di Indonesia bisa seperti ini). Tidak banyak pengunjung, mungkin karena sudah siang. Bisa jadi keadaannya berbeda jika kita datang pagi-pagi dimana banyak orang mengunjungi pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Awalnya saya berminat membeli makanan untuk langsung disantap, tetapi sepanjang kaki melangkah tidak ada satu pun yang kena di hati. Akhirnya saya kembali ke stasion Metro.

Busan Museum of Art

Meninggalkan pantai, dengan Metro saya menuju BMA (Busan Museum of Art) dan tentu saja pakai tangga dan tangga lagi 😥 Dan ketika hendak keluar ke permukaan tanah, saya sampai tidak mau melihat ke atas karena takut putus asa karena tingginya tangga, hehehe..  Akhirnya walaupun nafas satu-satu sampai juga ke permukaan tanah dan langsung duduk di taman untuk minum dahulu sambil meluruskan kaki yang mulai protes dan ngambek. Untung saja pemandangannya cantik. BMA ini terletak di seberang BEXCO dan sangat nyaman dinikmati saat sore, dimana karya-karya seni digelar di dalam dan di luar gedung. Bentuk tangan, cangkir, teko, dalam ukuran besar dan banyak lagi karya seni yang indah saling mengisi dunia seni Busan ditunjang dengan halamannya yang sedang ditumbuhi pohon-pohon berwarna hijau, kuning, oranye dan merah, warna-warna khas musim gugur. Udara sore makin memberi kenikmatan untuk melihat-lihat karya seni. Rasanya ingin terus berlama-lama di taman itu. Bentuk-bentuk arsitektur gedung yang ada di sekitar BMA juga sangat mendukung keindahan disain kota. Saya kagum. Untuk urusan disain, sepertinya Korea Selatan memang berada di level-level atas, paling tidak menurut pandangan rasa saya.

Shinsegae Mall @ Centum City

Waktu berjalan terus, saya harus melanjutkan perjalanan walaupun untuk melangkah sudah harus menyeret kaki. Dan sampailah saya ke pusat perbelanjaan terbesar di dunia yang terdaftar di World Guinness Book of World Record. Awalnya Shinsegae hanya merupakan pelopor pusat perbelanjaan di Korea, tetapi perkembangannya luar biasa. Memiliki jumlah item yang tak terhitung banyaknya, termasuk spa, tempat bermain seluncur es, golf driving range, multi-bioskop yang berada dalam satu atap juga terintegrasi dengan stasion Metro. Gedungnya sendiri memang luar biasa besar. Saya hanya sedikit mencoba menjelajah lantai-lantainya yang memang luar biasa besarnya. Sepertinya ekskalator tidak habis-habis bersambung, makin lama makin tinggi. Dasar saya tidak suka berbelanja, saya selalu beranggapan bahwa pusat perbelanjaan dimana-mana berkonsep sama: ada barang, diatur dengan baik dan ada yang membeli (tetapi bukan termasuk saya! hehe). Puas melihat-lihat, saya keluar meninggalkan pusat perbelanjaan itu. Dan malam pun datang menjelang, situasi di luar lebih menarik. The Golden time…

Saya mencari lokasi paling nyaman di sudut dan duduk menikmati situasi sambil (lagi-lagi) meluruskan kaki di bangku beton yang disediakan di dekat pedestrian lebar. Tidak ada orang di sekitar saya. Yang ada hanyalah pemandangan indah di depan mata saya. Malam menjelang datang, lampu-lampu penerangan sudah mulai dinyalakan, lampu kendaraan yang lewat menambah suasana sementara ranting-ranting berdaun kuning tampak keemasan diterpa lampu. Gedung-gedung bertabur lampu menjulang indah menjadi latar belakang pemandangan kota dalam menyambut malam di musim gugur.  Saya suka di tempat ini.

Gwangalli Beach & Gwangan Bridge

Malam pun datang, saya menyeret kaki lagi meninggalkan area Centum City dan Haeundae dan menuju Gwangan Station, exit 3 atau 5. Hanya untuk menuju pantai malam-malam! Lagi-lagi, salah waktu untuk berkunjung ke pantai. Jika tadi siang salah waktu ke Haeundae, sekarang waktu malam ke Gwangalli yang tentu saja tidak terlihat apa-apa kecuali ya satu itu… Gwangan Bridge yang terkenal. Saya memperhatikan jembatan panjang yang penuh lampu di tengah kegelapan malam. Indah memang walaupun tidak terlalu spesial. Di pinggir pantai banyak lampu-lampu menghiasi gedung. Saya jadi teringat akan gemerlapnya kota Macau yang penuh dengan kasino, walaupun belum seekstrim itu. Yang jelas, saya berhasil mengunjungi pantai Gwangalli walaupun kaki sudah seperti mau putus. Lagi-lagi Korea Selatan hanya menuliskan 10 menit jalan kaki menuju pantai dari stasion. Artinya, 20 menit untuk bolak balik. Cukup bikin mampus dengan kaki yang sudah protes berat minta istirahat total. Tambah lagi untuk ke pantai Gwangalli ini jalannya agak menurun dan tentu saja untuk kembalinya, harus nanjak! (Ampuuun… Saya kangen tukang ojek… 😀 )

Ayam Goreng Tanpa Tulang

Akhirnya saya menyerah, kaki benar-benar protes dan seharian ini perut belum terisi. Saya mengenal perut yang tidak bisa menerima makanan Korea ini. Pelan-pelan saya menyusuri jendela-jendela yang masih buka sekembali dari pantai. Begitu laparnya, saya langsung naik lift melihat ada tulisan latin Thai di lantai 3, yang saya kira restoran Thailand, namun ternyata hanyalah sebuah kantor travel yang gelap! Dodol lagi! Terpaksa turun dan merayap lagi pada jendela-jendela yang menawarkan makanan. Puji syukur masih ada restoran buka dengan menu bahasa Inggeris: ayam goreng tanpa tulang, sejenis chicken nugget, dengan side dish. Ketika order saya datang, porsi yang katanya kecil itu datang dengan ukuran untuk 4 orang! Saya terkejut dan memandang putus asa kepada waitress. Tetapi waitress dengan bahasa Inggeris yang cukup baik dan ramah mengatakan, bisa dibungkus kok! Alhasil makanan bungkus itu menjadi makanan saya terus selama dua hari ke depan! Hidup ayam goreng tanpa tulang!!!

Seokbulsa, Yonggungsa, Beomeosa Temples, Jagalchi, 40 Steps, Taejongdae Park yang terlewatkan…

Kembali dari Gwangan, badan ini sudah menyerah total, yang paling buruk telah saya lakukan, berjalan tidak lagi melangkah tetapi menyeret-nyeret kaki. Sebenarnya kali ini tidak separah ketika jalan di Hong Kong atau Shenzhen, tetapi entah kenapa rasanya lelah sekali. Walaupun perut sudah terisi, beberapa kali mata dan otak sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Gawat… Sepertinya badan sudah mau ‘demo’ anti-jalan, tidak bisa tidak, saya harus memutuskan kembali ke penginapan. Saya tahu masih banyak destinasi yang belum dikunjungi, Seokbulsa, Yonggungsa, Beomeosa temples, Jagalchi market, Taejongdae Park, Seomyeon area dan 40 Steps yang saya simpan untuk dikunjungi lain waktu. Kali ini, Busan, cukuplah sampai di sini dulu, karena besok saya harus meninggalkan Busan dan pergi ke kota lain…

Ke Korea Selatan? CIiiYusSsS… MiaPah ?*


Demikian, meminjam istilah anak-anak alay kalau ada di depan saya, maknanya adalah sebuah pertanyaan, mau ke Korea Selatan? Seriussss??? Demi apa…??? Demi-kian mungkin… 😀

Bendera Korea Selatan
Bendera Korea Selatan

Ya, lembaran cuti masih tertera 2 minggu lagi yang harus digunakan sebelum berakhirnya tahun 2013 ini jika tidak mau hangus begitu saja. Dan setelah Jepang dan Shenzen tahun ini, saya masih bisa melakukan perjalanan lagi, tetapi destinasinya masih kabur. Kemana?

Korea? Pembatalan perjalanan ke Korea Selatan April lalu, bisa jadi menumpuk dan menekan secara tak sadar keingintahuan tentang negara ini seakan-akan magma bertekanan kuat pada gunung berapi. Ketika itu terjadi peningkatan suhu politik Korea Selatan beserta sekutu-sekutunya dengan Korea Utara yang ‘ujug-ujug iseng berbuat nakal’ untuk test the water dengan Korea Selatan dan dunia pada umumnya. Media internasional menghangat dengan kondisi siap perang ini dan demikian juga dengan media kita yang tak mau kalah, seakan kompor yang mau meledak setiap saat. Kondisi genting ini serta merta membuat exit permit saya dari keluarga dibatalkan sepihak 🙂 tepat 2 minggu sebelum tanggal berangkat. Untung saja permohonan visa masih bisa ditarik dari si agen.

Saya menerima pembatalan ini dengan tawa,

Lanjutkan membaca “Ke Korea Selatan? CIiiYusSsS… MiaPah ?*”