Nepal – Annapurna Trekking, Menuju Ghorepani


Duhai Pemilik Keindahan, demi Keagungan NamaMu, benarkah yang kulihat melalui kedua biji mata ini?

Setelah kemarin berlelah-lelah, hari ini dengan tak berkedip saya membiarkan mata bermanja-manja memandang datangnya pagi bersama seluruh keindahannya melalui jendela kaca penginapan sederhana itu. Di tempat ini, fasilitas hotel bintang lima ataupun penginapan sederhana, semuanya luruh tak bermakna, terbanting oleh pemandangan indah yang terhampar di depan mata. Saya menggigil dengan sendirinya, relung bukit hijau (yang kalau di Indonesia sudah disebut gunung) yang berjajar tinggi membentuk lembah sempit sebagai latar depan dengan gunung berpuncak salju tepat di tengahnya. Melihat ini dari penginapan sederhana membuat mata terasa panas. Terundang untuk menyaksikan keindahan ini, saya merasa sangat beruntung.

Selesai bersiap dengan mandi secepat kilat menggunakan air sedingin es, pemandangan gunung berpuncak salju telah hilang tertutup awan. Saya tak menyesalinya karena tahu di sisi lain dari penginapan ini masih menyimpan pemandangan indah. Lagi-lagi ada semburan rasa syukur yang melesak dari dalam. Bumi tercipta dengan amat indah di setiap sudutnya, hanya manusia dengan keserakahan dan kesombongan kerap membuat buruk wajahnya.

Pagi itu saya menikmati sarapan dengan keindahan wajah bumi yang berlalu perlahan setiap detiknya. Undangan perjalanan ini sungguh meluluhlantakkan rasa, sering tak sadar saya menggeleng-gelengkan kepala seakan tak percaya sampai sejauh ini hanya menggunakan kaki sendiri. Lalu dengan kaki yang sama, trekking menuju Ghorepani akan dilanjutkan, entah kejutan apalagi dalam perjalanan hari ini.

Belum lama berjalan meninggalkan Pratap Guesthouse, di ujung sebuah pendakian saya melihat seorang perempuan paruh baya duduk di kios sederhana, tempat donasi pendidikan yang bangunan sekolahnya tampak lebih bawah dari jalur trekking. Saya merasa tertampar di hati. Ketika saya mampu mengeluarkan sekian juta Rupiah untuk ke Nepal, adakah bagian untuk masyarakat lokal yang menjadi haknya, apalagi setelah dihajar gempa yang meluluhlantakkan negeri indah ini? Bukankah semua manusia berhak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik?

Started from dooooown there

Saya tak menyesal perjalanan terhenti beberapa saat, bahkan saya mendapat sebuah khata (selendang putih) dan tika di dahi. Melihat itu, Dipak tersenyum sambil berkata, “you got the blessings for this trip”. Ah, entah kenapa tiba-tiba saya merinding tak jelas (setelahnya baru saya tahu saat bertemu Pak Ferry yang berjalan sekian menit di depan saya, -yang merasa surprise melihat tika di dahi dan khata yang melingkar di leher saya-, karena ia merasa tak melihat atau melalui kios sederhana itu!). Dia mungkin tak melihatnya dan saya hanya beruntung bisa berkesempatan, seperti dua tahun lalu saat menerima khata putih di Lumbini. Bukankah tidak ada peristiwa yang kebetulan?

Saya kembali melangkah sambil memperhatikan hewan-hewan jinak di rumah penduduk. Ada ayam yang terlihat sangat montok bertengger di atas pagar. Matanya melirik saya seakan memamerkan tubuhnya yang diatas rata-rata. Saya terkesima, entahlah, mungkin Pemilik Semesta memberi penglihatan tentang keindahan makhluk yang kehilangan nyawa karena sering saya santap (dan benarlah, setelahnya hingga kini setiap saya makan ayam, saya jadi teringat si montok yang pamer tubuh itu).

Baru melangkah tak jauh dari si montok, saya sampai di sebuah bangunan sederhana di sudut jalan. Saya terkesima lagi, di Nepal saya tak akan heran melihat rumah ibadah Hindu atau Buddha di banyak tempat, tetapi menemukan sebuah gereja di desa kecil yang terpencil di pelosok pegunungan merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan. Saya terbayang para misionaris yang membangunnya dan memelihara komunitasnya yang tentu bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Tetapi semua yang tampak tak mungkin bagi manusia, sama sekali bukan hal yang mustahil bagi Pemilik Kuasa. Pastilah karena kekuatan dan semangat iman, bangunan sederhana ini bisa berdiri. Sayangnya karena pagar terkunci, Pak Ferry hanya bisa melakukan ritual singkat dari luar pagar.

The Church

Tak terasa rumah-rumah mulai tertinggal di belakang dan jalan setapak itu semakin menanjak. Tangga batu pun mulai terbentang panjang di depan mata, seakan menertawai saya yang langsung patah semangat. Keindahan pagi dalam sekejap mata memudar tergantikan oleh bayangan kehabisan nafas lagi seperti kemarin! Uh, ujian fisik lagi.

Lalu seakan menghibur untuk memberi semangat baru kepada saya, alam menunjukkan kasih sayangnya dengan menurunkan gerimis kecil. Saya terpesona dengan berkat ini, seperti yang sering terjadi dalam kehidupan saya sehari-hari, awan yang tiba-tiba menutup jalur matahari saat saya berjalan di panas terik atau angin yang berhembus lembut saat saya kegerahan. Tanpa sadar saya tersenyum merasakan titik-titik air yang menerpa kulit dan membuat lebih nyaman berjalan. I’m so blessed.

Gerimis semakin terasa sehingga Dipak menyarankan untuk memasang rain cover pada semua ransel lalu melanjutkan perjalanan yang naik, naik, naik lagi… Melihat saya yang mulai kehabisan nafas, Pak Ferry mengusulkan untuk ‘tea-break’ yang tentu saja disambut gembira oleh saya. Apalagi warung tea-break ini menyediakan menu yang saya rindukan, sejenis mie kuah dicampur telur. Walaupun tidak bisa menyamai kenikmatan makan indomi telur di Indonesia, saya bisa menyantap mie hangat versi Nepal di antara dinginnya udara.

Setelah mendapat asupan mie hangat, kami berlanjut melewati Banthanti, desa tempat seharusnya kami menginap semalam.  Kondisi jalan setapak menjadi lebih bersahabat, entah karena efek mie hangat tadi atau memang jalannya tidak sekejam sebelumnya. Yang pasti dikenal sebagai Nepali flat, bagi orang Nepal jalan yang menanjak landai itu dibilang datar, walaupun bagi orang kota seperti saya tetap saja menanjak yang membuat menderasnya keringat. Tetapi lagi-lagi saya mendapat berkah karena berada di hutan yang melindungi dari panas terik. Gemericik air sungai dan cantiknya bunga Rhododendron walaupun musim berkembangnya sudah berakhir, membuat saya merasa lebih dekat dengan alam.

Selepas hutan, saya berhenti sejenak di dekat sebuah bangunan kayu, karena ada kepala kambing melongok keluar dari celahnya. Ah, kambingpun ingin melihat pemandangan indah. Bahkan seekor kepik berwarna cantik terlihat berjalan pelan di atas batu gunung yang sangat besar. Tiba-tiba saya menyadari begitu banyak makhluk yang jarang saya lihat di kota menjadi terlihat di depan mata. Bahkan kupu-kupu, kadang lebah dan serangga-serangga kecil lainnya entah karena pengaruh keringat atau apa, selalu mendekat dan terbang di dekat wajah saya. Beberapa kali saya mengibas gemas dan mencoba menghindarinya, namun akhirnya menyerah dan membiarkan mereka terbang lalu lalang di dekat wajah. Kalaupun terlalu dekat, saya mengibas penuh sayang, everything likes me, included the insects!

Memasuki hutan lagi. Kini suara gemericik air semakin kuat. Sebuah air terjun kecil terlihat di ujung jalan yang berpagar besi melindungi pengunjung yang menikmati pemandangan. Walaupun indah dan menyegarkan, kami tak bisa lama menikmati karena gerimis turun lagi. Kami mempercepat langkah untuk sampai ke Nangenthanti, tempat untuk makan siang. Walaupun akhirnya kami berhamburan lari ke rumah makan terdekat ketika hujan menderas. Untung sudah dekat dan dari dalam rumah makan kami lihat hujan turun semakin tak terkendali diiringi suara ribut. Baru saya sadari itu bukan hujan biasa melainkan hujan es. Benar, hujan es! Tidak besar, tetapi cukup terlihat.

Menyaksikan turunnya hujan es dari dalam rumah membuat atmosfer terasa sendu. Fisikpun tergerus habis, selera makan turun drastis. Sebagai guide, Dipak meminta saya makan lebih banyak untuk menghindari AMS (Altitude Mountains Sickness). Masalahnya saya termasuk orang yang tidak suka makan ketika melakukan perjalanan. Merasakan makanan lokal bukan bagian (mungkin belum) dari gaya travelling saya karena termasuk pemilih makanan. Jika lidah ini tidak sesuai, sampai kapanpun makanan itu akan sulit masuk ke dalam perut saya. Makanan tradisional Nepal, dal bhat, yang saya cicipi saat perjalanan pertama termasuk lezat sekali sehingga ketika dal bhat berikutnya tidak cukup lezat, lidah saya menolak untuk memakannya. Saya tahu risiko yang dihadapi sehingga harus makan dan siang itu hanya berhasil makan setengah porsi saja. Untuk melupakan nafsu makan yang menghilang, saya sengaja mengunyah sambil melihat keluar, ke arah trekkers yang menembus hujan es. Uh, pasti dingin sekali berhujan-hujan es. Pasti mereka lapar…

Waktu tak mengijinkan untuk berlama-lama istirahat untuk mengejar sampai ke Ghorepani. Hujan es telah berhenti walaupun awan dan udara dingin masih menyelimuti. Dan alampun tanpa henti memberikan kasih sayangnya kepada saya. Seekor anjing putih yang entah dari mana, -sayapun lupa mulai kapan-, menemani langkah-langkah saya. Ia memandu, berjalan di muka lalu berhenti sebentar untuk memeriksa apakah saya masih di belakangnya. Ia pun berhenti pada tempat-tempat yang berbahaya, menunjukkan langkah-langkah kecilnya agar saya mengikuti pijakan kakinya dan ia pun berhenti saat saya berhenti istirahat. Hingga suatu saat di suatu tempat, ia berhenti. Mukanya memandang saya. Entahlah, seakan ia berbicara pemanduannya hanya sampai di situ dan sampai jumpa lagi. Sebagai pemilik anjing di masa kecil, saya masih mengenali gerakan-gerakan hewan yang sering menjadi simbol setia itu. Matanya sedikit sendu dengan kepalanya yang sedikit miring membuat hati ini terasa teriris. Mengeraskan hati, saya menghentikan langkah sejenak untuknya, berterima kasih atas kebaikan hatinya menemani dan menjaga saya. Beberapa langkah setelahnya, saya menoleh ke belakang melihat ia berjalan kembali dengan langkah-langkah kecilnya. Apakah ia seorang pemandu dalam kehidupan sebelumnya, entahlah, yang jelas  ia telah mewarnai kehidupan saya hari ini.

Akhirnya gerbang Ghorepani terlihat di depan mata. Kami mempercepat langkah untuk berfoto di tempat yang iconic itu. Hampir setiap trekker yang baru pertama kali ke Ghorepani berfoto di tempat itu. Sepertinya saya masih tak percaya, Ghorepani yang berada pada ketinggian 2850m akhirnya bisa juga dijejaki oleh seorang yang belum pernah naik gunung sekalipun.

Selagi Dipak mengurus semua pemeriksaan di check-point Ghorepani, rasanya saya berada di surga, bisa duduk meluruskan kaki yang sudah berjalan berkilo-kilo meter, menanjak dan menuruni lembah yang rasanya tak habis-habis itu. Dan malangnya, ternyata gerbang Ghorepani itu benar-benar sebuah PHP, Pemberi Harapan Palsu, karena kami harus mendaki lagi. Penginapan kami berada di Upper Ghorepani sementara gerbang tadi berada di Lower Ghorepani. Serangkaian tangga batu pun menyambut kami, seakan menertawakan penuh kebahagiaan telah berhasil menipu saya yang beranggapan telah sampai di tujuan.

Dipak dan Pak Ferry terus memberi semangat kepada saya untuk menapak tangga-tangga yang rasanya tak berujung itu, sampai akhirnya sampai juga di Sunny Hotel, tempat kami menginap di Ghorepani. Saya mendapat kamar berjendela lebar menghadap pegunungan berpuncak salju dengan tempat tidur besar. “Khusus untuk saya”, kompak kata para pria teman seperjalanan itu. Penginapan yang seharusnya berpemandangan langsung pada jajaran Himalaya sore itu hanya berhias kabut putih dimana-mana juga saat sunset yang seharusnya indah. Tetapi entahlah, kali ini saya lebih tertarik pada tempat tidur untuk merebahkan badan bukan pada pemandangan indah. Selalu terbaik untuk situasi saya. Ketika benar-benar membutuhkan istirahat, saya diberikan kesempatan tidur di tempat tidur besar yang nyaman tanpa perlu indahnya pemandangan.

Istirahat sebentar cukup mengembalikan stamina tubuh saat dipanggil untuk makan malam di tengah udara dingin itu. Kami semua duduk dekat tungku pemanas untuk menghangatkan badan dan setelah makan malam, saya memesan coklat panas. Tak cukup satu, saya minta tambahan segelas lagi untuk memuaskan kerinduan akan susu coklat hangat. Walau cuaca muram dan dingin malam itu, harapan kami semua yang hadir di ruang makan itu sama, berharap cuaca akan membaik sehangat susu coklat yang saya minum dan menampilkan keindahan Himalaya esok hari.

Wifi yang berfungsi normal membuat kegembiraan tersendiri, masing-masing dari kami sibuk dengan ponselnya entah untuk menghubungi orang-orang yang tercinta atau posting di media sosial. Semangat timbul kembali hingga kembali ke kamar masing-masing karena sekitar pukul 10 malam kegelapan akan menyelimuti semua kamar demi efisiensi listrik. Saya memang langsung terlelap begitu merebahkan badan tapi rasanya tak lama hingga saat suara-suara itu terdengar riuh membangunkan saya…. Aduh!

(bersambung)

Makna Hikmah Terserak di Perjalanan Korea


Ketika saya baru kembali dari Korea, seorang atasan menanyakan tentang perjalanan saya di Korea. Karena tahu beliau tidak berbasa-basi, saya yang masih gres dengan semua peristiwa yang dialami, menjawab dengan ringan bahwa ternyata di Korea Selatan yang maju itu tidak banyak orang bisa berbahasa Inggris sehingga banyak peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi hanya karena faktor bahasa. Dan Jleb! Saya takkan pernah lupa akan tanggapannya. Time is healing, yang tidak menyenangkan akan berubah menjadi momen-momen yang berkesan mendalam, kata beliau.

Bagaimana mungkin sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan menjadi memorable moments? Saat itu karena masih penuh dengan kesan tak nyaman selama di Korea, saya tak menerimanya begitu saja, tetapi karena menghormatinya, saya membiarkan hal itu mengendap di dalam hati.

*

Perjalanan ke Korea saat itu memang impulsif, karena masih tersisa cuti banyak (baca cerita lengkap alasan saya pergi ke Korea disini) dan mungkin juga karena trip ke Korea sebelumnya sempat dibatalkan. Saat saya ke Jepang sebelumnya di tahun yang sama, seharusnya lanjut ke Korea tetapi situasi politik di semenanjung Korea saat itu tidak mendukung sehingga trip itu dibatalkan. Padahal saat itu tiket sudah ditangan bahkan sudah memesan beberapa hotel. Pembatalan itu sepertinya berubah menjadi keingintahuan yang besar itu yang mungkin menjadi trigger keputusan untuk pergi ke Korea di musim gugur. Namun pada dasarnya saya tidak tahu apa-apa tentang Korea, saya bukan penggemar K-pop, K-drama, bukan juga penggemar kuliner Korea, tidak bisa baca Hangeul, tidak tahu banyak sejarah Korea. Hanya karena ada Samsung, LG dan cerita kondisi alamnya yang cantik. Itu saja!

Berbekal itu, saya mengurus sendiri pembuatan visa (baca soal pembuatan visa disini) yang sampai sekarang terus menjadi salah satu top-posting di blog ini, sampai akhirnya dengan sangat menyesal kolom komentar saya tutup karena menjurus yang aneh-aneh dan tidak mutu 😀 (Saya kan bukan agen tenaga kerja juga bukan agen pencari bakat untuk K-pop, juga bukan agen untuk operasi plastik kan… 😀 )

Ketika semua orang memulai perjalanan ke Korea dengan masuk melalui Seoul, saya justru masuk melalui Busan (baca:  Berkenalan dengan Busan disini). Mendarat pagi-pagi saat jam kerja normal belum dimulai merupakan masalah tersendiri. Apalagi saya tidak bisa baca karakter Hangeul yang mendominasi dimana-mana. Bertemu wajah tak bersahabat di hari pertama, bertanya pada seseorang tapi dijawab dengan gelengan atau muka lempeng. Bahkan untuk mencari lokasi hotel pun saya harus mengerahkan kreativitas. Kekuatiran dan kecemasan bisa survive di Korea mulai menemani di hari pertama perjalanan. Lalu apakah saya akan menyerah di hari pertama?

Namun bukankah jika kuatir dan cemas dipelihara terus, kita tidak akan pernah pergi kemana-mana? Saya mencoba mengatasinya, saya percaya masih ada orang baik di sekitar kita. Pergeseran titik pandang, -dari penerima negativeness menjadi pemberi positiveness-, terbukti benar. Saya menurunkan harapan tinggi tentang Korea dan memilih lebih percaya kepada orang lokal dan orang baik pun mulai muncul di hadapan (Baca disini saat Jelajah Busan). Saya bersyukur bisa merambah mengelilingi pantai Haeundae, ke Museum Seni Busan, ke Mal yang segede gaban, menikmati Jembatan Gwangan di kegelapan malam. Paling tidak masih ada pengalaman yang cukup menyenangkan.

Kemudian keesokan harinya saat akan berpindah kota, saya harus jujur bahwa keteledoran juga menjadi faktor mengapa banyak hal buruk terjadi pada saya. Jika saya teledor membaca peta sehingga salah stasiun dan kehilangan waktu, janganlah situasi eksternal yang disalahkan. Juga kalau teledor meletakkan tiket jangan salahkan faktor luar kan ya? Tetapi terlepas dari dua faktor itu, saya menyadari sepenuhnya memang perjalanan dari Busan ke Gyeongju itu penuh drama hanya karena faktor bahasa (baca cerita Menuju Gyeongju disini). Tetapi saya belum mau menyerah secepat itu…

Gyeongju, -kota cantik 1 jam berkendara dari Busan-, memiliki banyak tempat publik yang luar biasa walaupun bagi saya dihiasi rasa antara cemas, takut dan ingin tahu yang besar (baca cerita Ruang Publik Gyeongju disini). Sebagai solo-traveller perempuan, saya harus mampu mengatasi rasa gamang tidak mengenali siapapun dan juga tidak bisa berkomunikasi karena keterbatasan bahasa. Namun segala yang tidak menyenangkan itu bisa diseimbangkan ketika menjejak Bulguksa Temple. Sebuah keluarbiasaan bisa sampai di tempat World Heritage ini. Mungkin karena beberapa kejadian sebelumnya yang tidak menyenangkan, bisa sampai ke destinasi ini rasanya seperti mendapat durian runtuh, rasanya seperti mencium bau surga (baca cerita Bulguksa Temple). Tapi sayang, setelah meninggalkan Bulguksa, kembali saya berteman dengan sepi bersama benda-benda bersejarah yang berserakan disana hingga malam hari, paling tidak itulah hal yang saya dapat nikmati di Gyeongju (Baca disini: Malam di Gyeongju)

Tetapi ketidaknyamanan trip di Korea belumlah mencapai puncak. Ketika akan meninggalkan kota Gyeongju, begitu banyak rasa tak bersahabat menghampiri saya, tak ada yang bisa membantu menjawab pertanyaan saat saya ingin naik bus sampai akhirnya saya memilih taksi namun ternyata ditolak oleh sopir taksi dengan berbagai alasan. Tidak bisa naik kereta karena jadwalnya tidak cocok akhirnya saya menuju terminal bus, -satu-satunya lokasi yang saya tahu-, dengan berjalan kaki walau cukup jauh ditambah menggendong ransel berat. Saya tak berpikir jauh, setiap masalah yang ada di depan mata saya hadapi satu persatu. Meskipun pelan, saya tetap bergerak maju. Saya seakan sedang ujian, kesabaran dan kekuatan saya diuji, sejauh apa keseriusan saya untuk mencapai tujuan dan untuk Korea ini, ada sebuah tempat yang menjadi destinasi utama yang ingin saya capai, Kuil Haeinsa di tengah hutan taman Nasional Gayasan.

Sungguh, keberanian dan kekuatan saya diuji saat menuju dan sepulangnya dari Kuil Haeinsa. Di tengah jalan bus terjebak dalam kemacetan parah dan harus berhenti sebelum mencapai terminal Haeinsa dan mengharuskan saya turun di tempat yang bagi saya adalah in the middle of nowhere. Saya mengalami disorientasi, tanpa teman, tanpa orang yang bisa diajak bicara atau tanya, dan situasi antara pulang dan lanjut sama tak pastinya, apakah saya harus menyerah? Tetapi menangis tak akan menyelesaikan masalah (Baca disini Ujian dalam Perjalanan)

Dan bagai sebuah siklus kehidupan dengan roda di bawah kemudian berputar ke atas, perjalanan tak mudah ke Haeinsa itu terbayar dengan keindahan Kuil Haeinsa dengan begitu banyak simbol-simbol kehidupan (baca soal simbol-simbol kehidupan di Haeinsa Temple) dan tentu saja Mahakarya kayu ratusan tahun yang dijaga didalamnya (baca hebatnya Mahakarya Kayu). Tetapi ujian bagi saya rupanya belum berakhir karena kegembiraan bisa mencapai Haeinsa hanya terasa sekejap saja bagi saya, setelahnya saya kembali harus menapak perjalanan yang tak mudah.

Tanpa tahu arah terminal bus, dari Kuil Haeinsa saya mengikuti intuisi sendirian menuruni jalan setapak di tengah hutan Nasional dalam keremangan jelang gelap dan dinginnya udara pegunungan, hanya berpegang pada percaya dan yakin akan pertolonganNya. Saya seperti bergantung di ujung tali, airmata ini hampir pecah, tetapi saya tak boleh menyerah. Dua kali mencoba mencari bantuan, tak ada satu pun orang muncul di hadapan. Kali ketiga, bak malaikat penjaga, dua orang lanjut usia muncul di pintu sebuah kios memberi arah tempat bus kembali ke Daegu. Saya tahu saya boleh menangis penuh syukur saat itu karena lulus dari ujian. Setelahnya didepan mata saya hadir para sahabat seperjalanan tanpa perlu tahu nama-namanya.

Hari-hari selanjutnya perjalanan menjadi lebih mudah karena puncak ketidaknyamanan telah terlewati. Saya meneruskan perjalanan menuju Seoul dengan menggunakan KTX (baca disini: Kereta Super Cepat KTX). Bahkan waktupun bersahabat sehingga saya menyempatkan diri berjalan ke Hwaseong Fortress (baca disini Hwaseong Fortress).

Perjalanan tak mudah menuju ke Mt. Seorak (baca trip ke Seoraksan disini), -yang menjadi salah satu tujuan utama wisatawan Indonesia-, terasa manis ketika saya mendapat apresiasi dari seorang tour guide lokal yang membawa rombongan Indonesia karena berani ke Seoraksan sendiri tanpa mengerti bahasa Korea. Bagi saya, perjalanan ke Seoraksan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua kesulitan di Haeinsa. Bahkan di Seoraksan ini, Tuhan pun mengirimkan seorang sahabat seperjalanan tanpa perlu bicara, tanpa perlu bersalaman. Hanya sebuah anggukan dan senyum karena sama-sama menempuh perjalanan yang searah. Saya memungut hikmah, bahwa diantara wajah-wajah yang serupa, saya mendapatkan hati yang penuh senyum. Seorang saja cukup untuk menenteramkan hati.

Trip Korea yang penuh ketidaknyamanan ini membaik saat berjalan di Seoul, menjelajah hingga kaki lelah di istana-istananya yang cantik seperti Istana Deoksugung (baca: Istana Deoksugung) maupun Istana Changdeokgung (baca: Istana Changdeokgung). Bahkan lagi-lagi Tuhan mengirimkan sahabat seperjalanan untuk berbagi cerita di Secret Garden Istana Changdeokgung dalam rombongan berbahasa Korea dalam hujan musim gugur yang basah (baca Secret Garden). Dan malamnya kaki dibawa hingga kebatas lelahnya dengan menyusuri Cheonggyecheon Stream untuk menyaksikan festival Lentera (baca Lantern Festival disini).

Namun Yang Kuasa sepertinya menitip pesan penutup di akhir trip Korea dengan membiarkan saya berlari-lari di luasnya bandara Incheon di hari kepulangan karena ceroboh tak mengukur jarak Incheon dengan Seoul (baca hebohnya Lari di Incheon). Semuanya bukan kebetulan, saya dibiarkan untuk lari sehingga tak mengenali bandara Incheon di dalam waktu yang sangat pas agar tak tertinggal pesawat. Semua pasti ada alasannya…

Tetapi dasar manusia yang lebih banyak dan lebih cepat mengingat buruknya, demikian pula saya yang pulang ke tanah air, lebih banyak mengingat ketidaknyamanan daripada semua yang menyenangkan selama melakukan perjalanan ke Korea.

*

Waktu pun berjalan, time is healing.  Benar kata atasan saya. Setelah sekian lama, trip Korea ini berubah menjadi perjalanan yang memiliki memorable moments, yang sangat tidak menyenangkan pun menjadi sebuah keluarbiasaan yang selalu saya syukuri. Jika tidak ada semua faktor yang tidak menyenangkan itu, sejatinya saya tak akan memahami makna setiap detik kehidupan dariNya. Jadi janganlah takut jika mengalami hal yang tidak menyenangkan selama melakukan perjalanan karena sebagaimana hal menyenangkan, hal yang tidak menyenangkan pun akan memperkaya jiwa…

Korea: Menapak Huwon, The Secret Garden


Walaupun belum puas berkeliling Istana Changdeokgung, tetapi waktu untuk mengikuti tour Huwon tinggal beberapa saat lagi sehingga saya bergegas menuju titik pertemuan di Hamnyangmun, gerbang masuk Huwon, the Secret Garden yang berada di belakang Istana Changdeokgung. Peraturan sangat ketat untuk Huwon, tak seorangpun diperkenankan memasuki kawasan Huwon bila tidak dalam rombongan yang memiliki pemandu resmi. Lagi-lagi karena kemalasan saya yang tidak mencari tahu jadwal tour berbahasa Inggeris sehingga saya tertinggal karena jadwalnya sudah terlewat. Walaupun begitu, saya nekad mengikuti rombongan berikutnya yang berbahasa Korea yang tidak saya mengerti. Daripada tidak bisa masuk sama sekali kan…?

Melewati gerbang Hamnyangmun, saya berjalan pelan di buntut rombongan sambil mengabadikan Huwon yang dikenal sebagai tempat istirahat raja-raja Dinasti Joseon dengan tamannya yang memiliki pohon raksasa berusia ratusan tahun. (Betapa bangsa Korea ini sangat menghargai pepohonan karena saya langsung teringat akan pohon pertama yang ditanam di Kuil Haeinsa yang telah tinggal sisa, -karena terkena petir-, masih tetap dipelihara dengan baik). Sambil melangkah, mata dan jiwa rasanya sangat dimanjakan oleh pemandangan dedaunan yang sedang berganti warna, rasanya seperti sedang melangkah di negeri dongeng.

Starting the tour, leaving the gate of Huwon
Starting the tour, leaving the gate of Huwon

Huwon, sejatinya berarti Taman Belakang, mengambil lahan seluas 32 hektar di belakang Istana Changdeokgung dan Istana Changgyeonggung yang berada disisinya. Namun siapa yang sangka, taman yang dibangun saat Raja Taejong berkuasa pada awalnya dikhususkan untuk keluarga kerajaan dan para perempuan Istana, kini menyimpan banyak cerita di sudut-sudutnya? Setiap pondok kecil, tempat-tetirah, kolam teratai dan pepohonan yang berjumlah 26.000 spesies, tampaknya hanya bisa berdiam diri selama ratusan tahun menyimpan rahasia para manusia yang pernah hidup di dekatnya.

Bahkan pernah suatu masa hanya Raja yang bisa memasukinya, hingga taman itu dinamakan Geumwon (Taman Terlarang). Jangan masyarakat biasa, petinggi-petinggi Istana hanya bisa memasukinya bila mendapat izin dari Raja sendiri. Waktu pun berjalan lambat hingga taman indah itu berganti nama menjadi Naewon yang berarti Taman Dalam, maksudnya mungkin taman dalam lingkungan Istana. Belakangan masyarakat Korea Selatan menamakannya dengan nama Biwon (Taman Rahasia) sesuai nama kantor yang ada di tempat itu pada abad-19. Namun hingga kini, taman itu dikembalikan dengan nama Huwon, -sesuai namanya semasa dinasti Joseon yang membangunnya-, walaupun untuk kepentingan pariwisata, Huwon diterjemahkan sebagai The Secret Garden.

Secret Garden in Autumn
Secret Garden in Autumn

Berjalan kaki di Secret Garden saat musim gugur memang seperti memasuki negeri dongeng yang banyak tergambar dalam lukisan. Indah. Mungkin karena dibangun mengikuti topografi alamnya dengan menekan sesedikit mungkin pembuatan taman buatan. Taman-taman yang lebih kecil dibuat lebih intim dengan tambahan kolam teratai seperti yang terlihat di Buyongji, Aeryeonji dan Gwallamji serta jeram kecil Ongnyucheon yang semuanya mengikuti aliran air yang ada di Secret Garden. Puncak Bukit Maebong yang berada di belakang Secret Garden menambah keharmonisan dengan alam sekitarnya. Siapa yang mau menolak merasakan sendiri sensasi rasa, -sebuah perjalanan waktu-, saat Secret Garden masih digunakan sebagai tempat menulis puisi-puisi indah, bermeditasi atau perjamuan kerajaan bahkan sampai latihan panah yang disaksikan Raja?

Tetapi walaupun keindahannya di depan mata, rasanya saya masih ingin mengetahui sesuatu yang terus mengganjal di pikiran. Apa yang rahasia? Apakah karena tersembunyi di belakang Istana hingga tak langsung terlihat? Ataukah ada kegiatan rahasia yang dilakukan di taman ini? Bisa jadi, karena ada sebuah bangunan yang didirikan sebagai tempat diskusi politik yang hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu yang dipercaya oleh Raja. Bukankah itu sesuatu yang rahasia? Masih ada alternatif lain. Bisa jadi karena aktivitas kalangan Istana yang tak pantas terlihat oleh mata masyarakat umum, seperti Raja yang memancing di Buyongji, atau Raja dan Permaisuri yang giat berkebun dan beternak ulat sutra. Atau mungkinkah ada kisah-kisah romantis yang terlarang di tempat ini yang tak pernah terungkap? Semua bisa terjadi… tetapi saya hanya mendengar desir angin dari antara pepohonan.

Buyongjeong Pavillion
Buyongjeong Pavillion

Buyongjeong

Saya tertinggal beberapa meter saat rombongan telah berhenti mendengarkan cerita si pemandu di dekat Kolam Buyongji dan Bangunan Juhamnnu, yang merupakan tempat belajar dan pelatihan diri dari anggota keluarga Istana. Perpustakaan kerajaan yang dikenal dengan nama Gyujanggak dan Seohyanggak juga didirikan di wilayah ini. Namun tak itu saja, di depan Yeonghwadang sering kali acara perjamuan kerajaan diselenggarakan, termasuk ujian Negara yang disaksikan oleh Raja! Entah apa rasanya mengerjakan ujian Negara disaksikan Raja.

Buyongjeong yang menghadap kolam teratai Buyongji dan berada di seberang Juhamnu memang sangat tepat digunakan sebagai tempat bermeditasi dari anggota keluarga kerajaan. Saya beruntung karena pondokan Buyongjeong sudah dibuka kembali setelah direstorasi selama setahun. Bangunan cantik dua lantai Juhamnu dibangun di bagian atas yang dapat dicapai setelah melalui gerbang Eosumun. Dan konon di tempat ini Raja sering membaca sambil melihat-lihat keadaan sekitar yang tentu saja indah. Jika musim gugur dihiasi dengan dedaunan penuh warna, musim dingin dengan salju putih yang memukau namum misterius dan tentu saat musim semi harum bunga menyerbak kemana-mana.

Two stories Juhamnu and the gate Eosomun
Two stories Juhamnu and the gate Eosomun
Yeonghwadang for the banquet
Yeonghwadang for the banquet

Berjalan sendiri di tempat yang indah seperti di Secret Garden ini, saya merasa ada yang kurang sehingga saya mendekati seseorang yang juga berjalan sendiri untuk berkenalan dan berbagi keindahan. Dia seorang female solo traveler yang menyenangkan dari  Philippines. Akhirnya saya bisa bicara banyak dengan seseorang di Seoul! Kami berdua, -sampai akhir perjalanan di Secret Garden- saling berbagi pujian keindahan dan bertukar cerita tanpa perlu menanyakan nama dan latar belakang. Sepertinya situasi kami sama, hanya merindukan orang lain agar bisa berkomunikasi normal. Saat itu hanya kami yang berbicara dalam bahasa Inggeris. Di Korea Selatan, jauh dari negeri sendiri, saya mendapat pembelajaran, betapa berharganya, -sebuah berkah luar biasa-, bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sama, untuk bisa saling memahami, walaupun tengah berada diantara kerumunan manusia.

Aeryeonjeong

Pemandangan pepohonan dengan daun warna-warni terus berlangsung sampai di area Aeryeonjeong yang dibangun saat Raja Sukjong berkuasa pada akhir abad-17. Aeryeonjeong sepertinya merupakan area memorial karena Putra Mahkota Hyomyeong, anak pertama dari Raja Sunjo, -yang berbakat luar biasa dan telah dipercaya mengurus tata Negara atas nama Raja Sunjo sejak usia 18 tahun-, hanya berkesempatan hidup sebentar, hingga berusia 22 tahun. Dengan bakatnya, ia telah membangun banyak fasilitas di wilayah ini. Melalui gerbang Bulromun yang terasa magis, saya menyaksikan tempat belajarnya yang dikenal dengan nama Uiduhap, yang dibangun sangat sederhana tanpa dekorasi dan merupakan satu-satunya bangunan yang menghadap Utara sehingga sangat tepat untuk membaca dan bermeditasi. Lengkap dengan kolam teratainya, dan tentu saja karena sedang musim gugur ini, keadaan sekitarnya begitu indah.

Alam yang sedang tampil indah di Secret Garden sepertinya masih mau mempercantik dirinya dengan menurunkan rintik hujan. Lengkap sudah, alam yang cantik, rintik hujan dan udara dingin. Sempurna.

Saya pun bergegas membeli payung di sebuah toko cinderamata lalu bersama teman perempuan Philippines itu, kami mengejar rombongan sambil menatap hujan. Seandainya bisa, kami ingin menari di bawah hujan di tengah Taman Rahasia ini…

Ongnyucheon

Tempat ini terkenal dengan kolam dengan jeram kecilnya yang indah terbuat dari batu pualam dengan beberapa pondokan menghiasi pinggirannya sehingga menjadikannya tempat terbaik untuk menulis puisi. Romantisnya sangat terasa, apalagi di saat hujan seperti ini. Dan sementara yang lain sibuk berfoto dengan pasangan masing-masing, saya memilih mengabadikan dedaunan merah, oranye, kuning yang tertimpa rintik hujan.

Saya terpukau dengan bentuk Gwallamjeong, sebuah pondokan yang dibangun di situ. Walaupun sekilas terlihat seperti umumnya bangunan tradisional Korea, namun jika diperhatikan lebih jauh, bagian dasarnya dibangun menyerupai bentuk kipas yang tentu saja jadi terasa berbeda, apalagi jika diperbolehkan duduk di tempat itu. Ah, pikiran saya terbang liar, siapa ya yang pernah duduk menitikkan air mata yang mengalir seperti aliran jeram di tempat itu?

Jongdeokjeong juga merupakan pondokan yang didirikan di wilayah Ongnyucheon. Dibangun dengan pilar-pilar kayu di enam sisi, pondokan paling tua ini terlihat cantik dengan bentuk atap dua tingkat khas Korea yang cantik. Apalagi dengan latar belakang cantik warna-warni musim gugur. Tak salah memang, perjalanan di Secret Garden ini mata dimanjakan dengan keindahan dan imajinasi bisa liar menari. Lagi-lagi saya bertanya dengan diri sendiri, adakah kisah cinta yang terjadi di sudut ini?

Walau pelan kaki melangkah, akhirnya saya sampai juga di ujung perjalanan. Saya akan mengucapkan selamat berpisah kepada Huwon, The Secret Garden yang membentuk harmoni dengan lingkungan alam sekitar, yang pastinya tak akan mudah hilang dari ingatan. Sudut-sudutnya yang diam menyimpan begitu banyak kisah rahasia. Indah, romantis sekaligus misterius.

Akses

  • Subway
    • Jongno 3 (sam)-ga Station (Line 1, 3 or 5), Exit 6. Jalan 10 menit, atau
    • Anguk Station (Line 3), Exit 3. Jalan lurus ke Timur selama 5 menit
  • Bus
    • 7025, 151, 162, 171, 172, 272 atau 601 turun di halte Istana Changdeokgung

Tutup : Setiap Senin

Jam Buka

  • Feb-Mei, Sep-Okt 09:00-18:00 / Jun-Ags 09:00-18:30 / Nov-Jan 09:00-17:30
  • Tiket terakhir dijual 1 jam sebelum tutup.
  • Akses Huwon, hanya melalui tur yang dipandu selama 90 menit, dijual secara terbatas maksimal untuk 100 orang (online 50 orang, sisanya dapat dibeli di tempat)

Harga Tiket

Dewasa                Istana 3,000 won / Huwon 5,000 won
Anak-anak          Istana 1,500 won / Huwon 2,500 won

Korea – Warna-Warni Istana Deoksugung


Sebenarnya masih ingin berlama-lama di balik selimut. Saya ini kan sedang liburan, bukan dikejar target destinasi. Apalagi pagi di awal bulan November di Seoul itu sungguh dingin. Walaupun katanya 11°C tetapi menurut saya rasanya lebih dingin dari 7°C di Tokyo yang pernah saya alami di musim semi. Rencananya hari ini saya akan mengelilingi Seoul walaupun sedikit menyesal karena hari ini diramalkan akan hujan. Mengingat akan hujan itulah yang membuat saya bergegas walaupun tahu hari telah terlambat untuk dimulai.

Akhirnya saya melambaikan tangan pada penginapan itu, berjanji akan kembali untuk mengambil ransel pada sore harinya. Kamarnya yang modern, nyaman untuk solo-traveler seperti saya, tidak gaduh dan lokasinya di seberang Exit Seoul Station membuat saya mudah kemana-mana. Hari ini saya akan mengunjungi Istana Deoksugung, satu diantara empat istana yang terkenal di Seoul.

Deoksugung dapat dicapai dengan mengendarai subway line 1 dari Seoul Station dan turun di City Hall, Exit-2. Petunjuk arah jelas dengan karakter latin selain karakter Hangeul. Seandainya seluruh destinasi wisata di luar kota Seoul juga sejelas ini, tentu perjalanan saya ke provinsi-provinsi di Korea Selatan tidak seheboh itu.

Prosesi Penggantian Penjaga Istana

Tak perlu lama berjalan dari Exit-2, saya sudah di depan gerbang Daehanmun. Ketika melihat sebuah drum berlukis indah di pelataran di depan gerbang, saya menjadi ragu untuk langsung menjelajahi ke dalam istana. Benarlah, petugas tiket membenarkan bahwa prosesi penggantian penjaga istana akan dimulai tepat pk 11.00 Tak mungkin dalam waktu kurang dari 1 jam saya menjelajah istana yang luas ini, sehingga saya memilih untuk menanti prosesi itu.

Prosesi penggantian penjaga Istana yang menyerupai prosesi  di Istana Buckingham di London itu diwujudkan kembali sejak tahun 1996 setelah melalui riset mendalam dan komprehensif oleh para ahli sejarah Korea. Memang segala sesuatu yang terjadi di balik tembok Istana atau yang berkaitan dengan Kerajaan selalu menarik perhatian kaum kebanyakan, bisa jadi karena tidak semua orang beruntung terlahir dalam kalangan Istana Kerajaan.

Seperti makan obat, prosesi itu memiliki jadwal tiga kali sehari (pk 11:00, 14:00 dan 15:30) dan berlangsung selama 30 menit serta selalu mengikuti aturan baku. Dimulai dengan iringan musik tradisional, pasukan penjaga berpakaian indah penuh warna-warni berjalan dalam barisan rapi lalu komandan pasukan pengganti menemui komandan pasukan yang sedang berjaga untuk saling bertukar password sebagai verifikasi dan memastikan keaslian penugasan. Kemudian dilanjutkan dengan penggantian posisi penjaga dan diakhiri dengan prosesi barisan. Bagi saya, tanpa mengerti prosedurnya, acara itu sudah sangat menarik karena keindahan warna pakaian tradisionalnya. Ada yang seperti Lee Min-ho gak yaaa? Hehehe…

Istana Deoksugung

Selesai prosesi di depan gerbang, saya pelan-pelan menyusuri jalan yang di pinggirnya tumbuh pepohonan maple yang sedang berganti warna dari hijau menjadi kuning. Kadang dedaunan itu gugur terbang terbawa angin. Indah…

Dan seperti kebanyakan nasib istana-istana yang menjadi saksi diam atas perubahan peta kekuasaan baik secara terhormat maupun secara paksa yang menyedihkan, demikian juga kisah dari Istana Deoksugung ini. Istana ini sebenarnya dibangun untuk digunakan sebagai kediaman Pangeran Wolsandaegun, kakak dari Raja terkenal Seongjong dari Dinasti Joseon di abad-16, dan bukan menjadi Istana utama Raja, namun sejarah bisa bercerita lain.

Melalui sebuah gerbang dalam, saya berjalan menuju Junghwajeon, -bangunan ruang tahta yang direkonstruksi pada tahun 1906 setelah terbakar di tahun 1904-, yang terlihat megah berdiri di tengah-tengah ruang terbuka. Jalan pelintasannya dibuat dengan indah dengan kolom-kolom kecil sepanjang jalan menuju ruang tahta. Di bagian depan terdapat prasasti batu berhias yang tampaknya sangat bernilai karena diberi pagar pelindung. Sejarah mencatat dua Raja keturunan Dinasti Joseon naik tahta di istana ini yang salah satunya adalah Raja Gwanghaegun yang mengganti nama istana ini menjadi Gyeongungung.

Ketika melihat ke dalam ruang tahta, -yang merupakan pusat diskusi politik yang hangat antara pejabat tinggi pemerintahan selama periode Daehanjeguk yang dideklarasikan oleh Raja Gojong dan membawa Korea ke abad 20-, terlihat dekorasi sepasang naga yang menghiasi kanopi di atas tahta. Hiasan berbentuk Naga yang terlihat juga di langit-langit merupakan hiasan khas dari Istana Deoksugung.

Bersebelahan dengan ruang tahta Junghwajeon adalah Hamnyeongjeon, wilayah pribadi Sang Raja dan Ratu yang sangat luas. Jadi berbeda dengan kaum kebanyakan yang hanya memiliki satu ruang tidur untuk suami isteri, Raja maupun Ratu memiliki bangunan pribadinya sendiri-sendiri. Dan tentu saja, walaupun berjabatan sebagai Ratu, tetap saja memiliki prosedur yang harus dilakukan agar bisa bertemu suaminya, Sang Raja. Jadi siapa bilang nyaman jadi Ratu atau Raja?

Hamnyeongjeon, private residential area
Hamnyeongjeon, private residential area

Jeonggwanheon, -terletak di atas bukit kecil di bagian belakang menghadap istana-, merupakan bangunan dengan campuran gaya Barat dan Korea yang pertama kali dibangun pada tahun 1900 oleh arsitek Rusia, A I Sabatin. Walaupun menurut saya, bangunan itu sedikit mengganggu harmoni arsitektur tradisional Korea secara keseluruhan, tetapi siapa yang bisa mengerti jalan pemikiran Raja yang berkuasa saat itu? Entah apa yang ada dalam pikiran Raja Gojong saat menghabiskan waktu luang di tempat ini yang memang merupakan kebiasaannya. Dibangun sebagai tempat rehat dan bersukacita, bangunan ini mungkin juga untuk melupakan peristiwa kematian permaisurinya, Ratu Min, yang terbunuh di usia 43 tahun yang akhirnya membuat Raja Gojong menyelamatkan diri ke Agwan Pacheon yang merupakan gedung Perwakilan Rusia. Ah, saya jadi membuka-buka sejarah dunia…

Jeonggwanheon, designed by Russian Architect
Jeonggwanheon, designed by Russian Architect

Singkat cerita, akibat pembunuhan Ratu Min, -Permaisuri Raja Gojong yang pro China dan Rusia namun sangat anti Jepang-, oleh pasukan Jepang di istana Gyeongbokgung pada tahun 1895, menyebabkan Raja Gojong melarikan diri dari Istananya melalui lorong bawah tanah ke Agwan Pacheon karena keselamatan dirinya terancam. Rusia yang saat itu di pihak yang berseberangan dengan Jepang, mendapat ‘keuntungan’ dari peristiwa pembunuhan itu. Raja Gojong dan Putra Mahkotanya menetap di Agwan Pacheon hingga akhirnya kembali ke Istana Deoksugung pada tahun 1897 untuk menyatakan Kekaisaran Korea.

Lantai batu Istana yang indah lagi-lagi menjadi saksi bisu saat Kaisar Gojong memilih tetap tinggal di Istana Deoksugung setelah dipaksa untuk menyerahkan tahta kepada putranya, -yang akhirnya menjadi Kaisar Sunjong dan dikenal sebagai Kaisar terakhir Korea-, karena desakan Jepang. Pada masa inilah istana ini berganti nama kembali, dari Gyeongungung menjadi Deoksugung, sebagai harapan umur panjang dari (orang-orang) yang berbudi luhur yang menempatinya.

Bangunan Bergaya Barat

Istana Deoksugung yang berusia 5 abad itu itu memang unik. Di dalam kawasan istana dibangun beberapa gedung modern bergaya Barat diantara bangunan-bangunan khas tradisional Korea yang terlihat saling berbenturan gaya, namun ternyata disitulah kekuatan utama istana ini, unik. Dalam posisi tertentu, kita bisa tak yakin berada di kawasan istana di Seoul.

Seokjojeon (yang kini menjadi galeri seni) merupakan bangunan gaya Barat yang dibangun di Deoksugung. Karena Won yang menipis, saya tak masuk ke dalamnya namun bangunan dengan taman cantik berair-mancur inilah yang membuat saya tak percaya dengan mata sendiri, saya ini sedang berada di Seoul atau di Eropa…

Seokjojeon - is it in Seoul or not?
Seokjojeon – is it in Seoul? 🙂

Saya bergegas keluar karena hendak melanjutkan ke istana lain, walau tak yakin bisa memenuhi semua target yang ingin saya kunjungi di Seoul. Daun-daun berwarna kuning itu masih berjatuhan melayang tertiup angin musim gugur, memberi kenangan tersendiri tentang sebuah istana di Seoul.

Seri cerita sebelumnya di Korea:

  1. Ada Bahasa Indonesia di Seoraksan
  2. Hwangseong Fortress: Menjadi Warisan Dunia Karena Sebuah Buku Tua
  3. Menuju Seoul Dengan ‘Shinkansen’-nya Korea
  4. Haeinsa Trip: Beautiful Life Lessons with Ups & Downs
  5. Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-abad
  6. Bercermin Diri dalam Harmoni Kuil Haeinsa

*****

Tambahan info

Buka 09:00 – 21:00 (terakhir pembelian tiket pk. 20:00)

Harga Ticket

  • Dewasa 1,000 won / lebih dari 10: 800 won
  • Remaja 500 won / lebih dari 10: 400 won
  • Gratis bagi anak 6 tahun kebawah, atau Lansia 65 tahun ke atas atau bagi yang mengenakan Hanbok atau setiap hari Budaya (Setiap hari Rabu terakhir setiap bulan)
  • Terusan 10.000 Won mencakup Istana Changdeokgung termasuk Huwon dan Secret Garden, Istana Changgyeonggung, Istana Deoksugung dan Istana Gyeongbokgung serta Jongmyo Shrine, yang dapat digunakan dalam waktu satu bulan setelah pembelian.

Jadwal Tutup

  • Setiap Senin: Istana Changdeokgung, Istana Deoksugung, Istana Changgyeonggung
  • Setiap Selasa: Istana Gyeongbokgung dan Jongmyo Shrine

Laos – Memenuhi Janji ke Wat Phou


Walaupun sudah berusaha lebih awal, saya sampai di gerbang Wat Phou pada saat matahari membentuk sudut kecil dengan tegaknya di atas kepala. Namun demikian, diiringi panas yang juara, saya berdiri diam dalam haru, setelah sekian lama akhirnya saya bisa menjejak di Wat Phou, kompleks percandian terakhir dari daftar candi yang dianugerahi oleh UNESCO sebagai World Heritage Site sebelum tahun 2014 di kawasan Asia Tenggara. Laksana sebuah pita lebar, pikiran saya terbang dan menalikan Borobudur, Prambanan, Angkor, Preah Vihear, Ayutthaya, Sukhothai, My Son dan kini Wat Phou yang ada di depan saya. Lengkap, 8 situs. Delapan, bentukan angka yang tarikan garisnya lengkung tak berujung.

Dan sebagaimana umumnya UNESCO World Heritage Site, jarak antara gerbang dan lokasi candi pasti masih jauh. Tetapi untunglah pemerintah Laos menyediakan layanan shuttle gratis sejenis golf-car berkursi banyak untuk mengantarjemput pengunjung dari gerbang masuk ke batas awal percandian. Sesuatu yang patut diacungi jempol untuk memajukan industry pariwisatanya. Tak terbayangkan seandainya harus berjalan kaki terpanggang matahari sepanjang hampir satu kilometer…

Kendaraan shuttle itu menyusuri pelan di pinggir baray (kolam buatan) yang airnya memberikan kesejukan di tengah hari yang panas dan menurunkan seluruh pengunjung di sudut Barat Daya baray. Berbeda dengan kebanyakan orang yang lebih memilih berjalan di jalan aspal di samping baray kedua yang telah mengering, saya justru memilih melakukan kunjungan secara ‘resmi’ melalui jalan pelintasan seremonial yang diapit dua baray kedua yang telah mengering.

The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background
The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background

Sebelum melangkah, tanpa menghiraukan terik yang memanggang, saya berdiri dalam hening di awal jalan pelintasan yang terbentang di depan, menatap lurus ke candi yang berada di atas bukit. Seperti juga di tujuh situs sebelumnya, saya selalu menautkan hati dengan bumi yang berada di bawah kaki saya, inilah tempat-tempat yang memiliki keluarbiasaan. Seakan memberi sambutan khusus, sejumput awan bergerak menutup matahari barang sejenak ditambah kesejukan udara dari baray besar tadi yang terasa membelai dari arah belakang. Jalan pelintasan lama ini beralaskan batuan pipih membentang tepat di tengah menuju bangunan candi. Saya memang tengah berdiri di pintu pertama dari jalan pelintasan resmi yang dulu digunakan untuk sebuah prosesi seremonial, jalan yang digunakan para Raja dan kaum bangsawan pada masa keemasannya. Tak heran auranya terasa magis dan suasana alamnya luar biasa…

Inilah candi kuno yang dulu selalu diasosiasikan dengan kota Shrestapura, kota yang terletak di pinggir Sungai Mekong dan berhadapan langsung dengan Gunung Lingaparvata. Dua symbol suci bagi mereka yang percaya, gunung yang berada di ketinggian dan dari namanya saja sudah dapat ditebak merupakan tempat kediaman salah satu dewa dalam Trimurti dan sungai besar yang tentu saja diasosiasikan dengan samudra atau Gangga yang suci. Jelas sekali bahwa Wat Phou ini didedikasikan Shiva, Sang Mahadewa.

Masih berdiri di awal jalan pelintasan, saya menatap pegunungan dengan puncak Lingaparvata yang melatari Wat Phu. Siapa yang mengira saya bisa menjejak di tempat yang berada segaris membagi dua antara Angkor Wat dan My Son, seakan memberi konfirmasi dari inskripsi yang ada bahwa sejak jaman dulu, tempat suci di bumi Laos sekarang ini memang telah memiliki hubungan langsung dengan Kerajaan Champa (sekarang Vietnam) dan juga Kerajaan Chenla (sekarang Kamboja).

Pemikiran itu menggugah senyum dalam hati, membayangkan sebagai bagian rombongan bangsawan melangkah pelan di jalan pelintasan beralas batu dan berhiaskan tonggak setinggi pinggang di kanan kiri. Jika dahulu jalan pelintasan ini terhampar bersih, kini mata perlu jeli agar kaki melangkah tanpa perlu menginjak kotoran binatang yang tertinggal.

Struktur pertama sebelah Utara menarik perhatian saya untuk dijelajahi terlebih dahulu, sementara bagian Selatan mengalami perbaikan di sana sini. Setelah mengambil gambar tampak luar, saya mulai menapaki tangga dan menyusuri dinding-dindingnya. Jendela berteralis batu berulir seperti di Angkor membuat saya lupa sejenak berada di bumi Laos. Memasuki bangunan tanpa atap ini, menjadikan imajinasi bergerak liar. Saya bebas membayangkan ruangan di hadapan ini, pada masanya berlantai kayu yang indah atau dibiarkan terhampar dengan rumput yang terpelihara. Saya juga mengintip dari balik gallery yang biasa tertutup atap lengkung. Disini pastinya sangat menyenangkan, memandang bumi Champasak yang terhampar jauh di hadapan dengan air yang memenuhi baray memberi keteduhan tersendiri.

Bangunan kembar di Selatan dan Utara ini, yang sering disebut sebagai istana, -bisa jadi untuk rehat bagi para bangsawan yang berkunjung-, merupakan bangunan pertama yang ditemui setelah akhir dari jalan pelintasan. Hanya bangunan di Selatan memiliki tambahan Kuil Nandi, bhakta (pemuja) setia Dewa Shiva, selain sebagai kendaraannya. Sayang sekali, di beberapa tempat terserak batu-batu hiasan yang cantik yang bisa jadi masih menunggu dikembalikan ke posisinya.

Kembali ke jalan pelintasan tengah, terlihat permulaan tangga berundak di ujung jalan. Tangga di tengah yang dinaungi pohon kamboja (frangipani) ini tidak dapat dilalui karena telah rusak dimakan usia sehingga pengunjung harus memutar sedikit. Dari sedikit ketinggian, pemandangan sudah terlihat membentang luar biasa.

Saya terus melangkah di jalan pelintasan yang kini menanjak dan berakhir di sebuah tangga berundak lain yang juga dinaungi pohon kamboja yang mengundang saya untuk rehat sejenak di bawahnya sambil mengamati bentuk dekorasi anak tangga dan orang yang melakukan sembah dan doa di depan sebuah patung berdiri berselempang hijau. Patung yang konon disebut dengan Dwarapala ini, bergaya Khmer dan hanya tinggal sendiri.

Setelah air botol habis, saya bergegas menuju kuil utama di atas melalui jalan berbatu yang kini tak lagi rata. Tangga di depan mata ini cukup curam, tak rata dan berdasar sempit dan tentunya tanpa pegangan tangan. Di beberapa tempat tinggi batunya mencapai lutut orang dewasa. Salah langkah disini, glundung sudah pasti.

Dibangun berdasar kosmologi Hindu, Wat Phou merupakan sebuah candi gunung, sebagai representasi gunung suci Meru, pusat alam semesta tempat kediaman para dewa. Dengan demikian, setiap lantai di Wat Phou bertambah tinggi seiring kenaikan levelnya, persis sebuah piramida.

Wat Phou - Central Sanctuary, Champasak, Laos
Wat Phou – Central Sanctuary, Champasak, Laos

Memasuki level teratas, selain menemukan batuan berukir yang terserak menunggu dikembalikan ke posisi sebenarnya, saya juga mengamati bangunan utama. Wilayah ini sudah digunakan sejak abad-5 sebagai tempat suci walaupun struktur yang sekarang berdiri berasal dari abad-11 hingga abad-13. Keindahan bangunan ini dipenuhi dengan hiasan rumit dwarapala dan devata di dinding. Berbagai hiasan di atas pintu seperti saat Krishna mengalahkan ular Kaliya dengan menari di atas kepalanya di atas pintu kiri atau Indra yang sedang menunggang Airvata sang gajah berkepala tiga di pintu tengah, Vishnu dengan mengendarai Garuda menaklukan naga di pintu kanan, Vishvakarma di atas Kala dan dijaga oleh singa.

Indra on Airvatha, Wat Phou
Indra on Airvatha, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou

Sejak abad-13 Wat Phou dialihfungsikan menjadi tempat ibadah Theravadda Buddha tanpa mengubah ornamen dinding namun hanya menambahkan patung Buddha, yang ritual ibadahnya dilakukan hingga kini. Pada altar tengah terdapat Buddha dengan pernak-pernik pemujaan di sekitarnya termasuk gong. Pada meja depan terdapat 3 buah batu yang terlihat cukup berat jika diangkat.

Inside the Sanctuary of Wat Phou
Inside the Sanctuary of Wat Phou

Di halaman sebelah Utara bangunan terdapat patung Boddhisatva yang kondisinya sebagian rusak namun dupa-dupa di depannya menandakan masih dipergunakan. Di belakangnya terpahat pada sebuah batu besar, Trimurti dengan Shiva di tengah, diapit oleh Brahma di sebelah kiri dan Vishnu di kanan.

Wat Phou view from the main sanctuary
Wat Phou view from the main sanctuary

Saya berjalan ke arah tebing di sebelah Utara, pemandangan kearah dataran rendah Laos terlihat semakin luar biasa dari balik pepohonan. Saya melihat banyak tumpukan beberapa batu pipih disusun keatas layaknya sebuah pagoda, yang sering juga saya lihat di Korea, Jepang, maupun di Angkor yang konon merupakan upaya meditasi yang menyusunnya. Selain itu, banyak batuan besar yang terlihat ‘labil’ ,-karena disangga bidang yang lebih kecil-, dipenuhi oleh penyangga kayu-kayu yang sengaja diletakkan pengunjung yang ibadah. Bisa jadi semua dilakukan berdasarkan keikhlasan turut menyangga sesuatu yang bersifat genting dan kritis.

Akhirnya saya mendapatkan Batu yang berpahat gajah itu. Luar biasa sekali. Beberapa saat menikmati batu gajah itu, semilir angin terasa membelai dari belakang. Karena saya tak merasakan kehadiran manusia lain di dekat saya, dan konon, jauh berabad sebelumnya tempat ini dijadikan tempat persembahan manusia, hal itu membuat saya bergegas kembali ke kuil utama.

Di tebing belakang kuil yang merupakan tempat awal kesakralan Wat Phou karena di bawah batu yang terlihat menggantung itu dialirkan air dari mata air melalui saluran berukir yang hingga kini tetap dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari dan ditampung pada tempat yang menyerupai sebuah yoni berongga. Padahal semua itu terdapat di sebuah ruang (ceruk) yang terbentuk di bawah tebing menggantung. Alam menyangganya dengan sangat baik.

Saya melihat dengan penuh ketakjuban, menyadari sangat kecilnya saya dibandingkan tebing batu itu. Kekuatan manusia tak ada apa-apanya. Sekali penyangganya terlepas, manusia lenyap, tak berbekas, penyet…

Udara masih panas, tetapi saya harus melangkah pelan meninggalkan Wat Phou, lokasi terakhir janji saya yang mewujud. Angka delapan itu tak putus, meliuk melingkar hingga suatu saat kita akan berjumpa lagi…

Bercermin Diri dalam Harmoni Kuil Haeinsa


AWAL PERJALANAN RASA. Saya berdiri diam di depan batu besar bersimbol UNESCO yang dihiasi aksara Hangul. Tidak perlu bisa membaca Hangul untuk bisa memahami saya sudah sampai pada tujuan, Haeinsa Temple. Ada rasa haru membuncah berhasil melakukan pencapaian setelah melewati berbagai hambatan emosi sepanjang perjalanan hingga sampai ke tempat saya berpijak ini. Melewati batu besar ini berarti saya memasuki sebuah perjalanan dalam rasa.

Logo UNESCO di antara karakter Hangul
Logo UNESCO di antara karakter Hangul

HANYA BAGI YANG MEMERLUKAN. Haeinsa Temple sesungguhnya bersembunyi dalam diam dan heningnya wilayah Taman Nasional Gayasan, di propinsi Gyeongsangnam-do, seakan tak peduli akan kunjungan para peziarah atau wisatawan. Juga seakan tak peduli dengan gelar yang disandangnya sebagai UNESCO World Heritage Site karena telah ratusan tahun menyimpan Tripitaka Koreana, bilah-bilah cetakan kayu berisikan ajaran Buddha. mungkin baginya, manusia yang datang berkunjunglah yang memerlukannya. Memerlukan keheningan dan kedamaian untuk bercermin diri dalam meniti hidup.

MELURUHKAN KEBURUKAN. Dan entah mengapa, segala sesuatu yang menyesakkan, segala kekuatiran, derita dan ketakutan seakan runtuh luluh, terlepas dan tak berani membonceng begitu kaki melangkah memasuki gerbang Haeinsa yang memang menjadi tujuan utama perjalanan saya ke Korea Selatan.

BATAS. Ucapan Selamat Datang tampaknya tersampaikan dalam keheningan Iljumun, Gerbang Satu Pilar yang merupakan gerbang pertama dalam wilayah kompleks Haeinsa Temple. Namun sepertinya lebih banyak orang yang memperhatikan sebuah karya seni berbentuk orang yang sedikit membungkuk daripada menyadari makna gerbang Iljumun. Dan Iljumun pun seperti tak peduli dengan apapun yang dilakukan mereka. Dalam diamnya, ia hanya membukakan rasa akan sebuah batas bagi mereka yang sadar dan seakan mempersilakan untuk melangkah di jalan setapak menuju gerbang kedua, Bonghwangmun atau yang lebih dikenal dengan Gerbang Empat Dewa Penjaga. Dan untuk melengkapi rasa yang hadir, di kiri kanan jalan setapak yang mendaki landai ini dipenuhi berbagai bendera putih bertuliskan untai kata filosofis yang sangat dalam, sebuah awalan untuk membersihkan taman pikiran.

Tanda Baru  dalam diam dan Sebuah Karya Seni
Tanda Baru dalam diam dan Sebuah Karya Seni
Iljumun, Gerbang Satu Pilar
Iljumun, Gerbang Satu Pilar

TUMBUH BERSAMA WAKTU. Langkah demi langkah diambil menuju Gerbang kedua, semua pengunjung termasuk saya seakan dibawa ke awal waktu pembangunan kuil Haeinsa oleh dua pendeta, Suneung dan Ijeong sekitar abad-8 sepulangnya dari Tiongkok. Pihak kerajaan mendukung pembangunan kuil setelah kedua pendeta tak henti berdoa untuk kesembuhan Sang Ratu dari penyakitnya yang tak terobati. Pengunjung pun diajak melihat sisa pohon di pinggir jalan setapak yang dipercaya menjadi saksi terakhir awal pembangunan kuil Haeinsa walau akhirnya tumbang pada tahun 1945 setelah tumbuh bersama waktu selama hampir 1200 tahun.

Saksi Terakhir Pembangunan Kuil Haeinsa yang tumbang tahun 1945
Saksi Terakhir Pembangunan Kuil Haeinsa yang tumbang tahun 1945

KESUNGGUHAN. Dan akhirnya ketika langkah kaki menjejak di Bonghwangmun, atau dikenal dengan gerbang Empat Dewa Penjaga, -berisikan lukisan Empat Dewa sebagai Penjaga arah mata angin-, para pengunjung seakan ditanya kembali akan niatnya berkunjung dan bersedia meluruhkan semua yang berbau keburukan. Dan bukankah di setiap gerbang milestone kehidupan kita seakan ditanya kembali niat kita?

TAMBAHAN BEKAL KEKUATAN. Selepas Bonghwangmun, siapapun yang berkehendak dapat memohon doa di Guksudan atau Hall of Mountain Spirit. Bangunan kecil ini berisikan patung Guksa-daesin, dewa pelindung ranah Haeinsa, yang dipercaya dapat memberikan pencerahan kepada manusia dan mencegahnya dari ketidakberuntungan serta memberikan berkat kepada semua orang agar mengikuti kebenaran hakiki. Dalam perjalanan rasa ini, sebuah analogi tergambarkan saat berada di antara dua gerbang milestone hidup yang masih memerlukan bekal kekuatan.

MENUJU GERBANG AKHIR. Perjalanan melalui pintu-pintu gerbang hampir berakhir. Di ujung jalan setapak terdapat tangga curam menuju Haetalmun atau dikenal sebagai Gerbang Surga, yang dipercaya sebagai simbol memasuki dunia kebenaran dan meninggalkan dunia yang penuh penderitaan, selaras dengan konsep Buddha.

MEMAKNAI PERJALANAN. Sesaat menengok ke belakang dari posisi saya berdiri, dari gerbang pertama Iljumun, lalu Bonghwangmun hingga gerbang ketiga Haetalmun, saya telah menapaki 33 anak tangga, yang konon simbol surga Trayastrimsa, tempat berdiamnya 33 dewa di puncak Gunung Sumeru. Sebuah nama yang membuat pikiran lain terbersit, walaupun saya memahami maksudnya adalah gunung imajiner Mt. Meru atau Mahameru dalam pemahaman Buddha, namun pikiran ini terbang ke puncak Mahameru yang indah di Jawa Timur, Indonesia, yang tentu saja merupakan sebuah perjalanan panjang, mendaki penuh lelah dari tempat-tempat yang rendah mencapai tempat-tempat tinggi. Bukankah hidup dipenuhi rasa syukur atas sebuah perjalanan dari sebuah titik kecil ke titik kecil lain yang begitu berdekatan?

MENJAGA KESEIMBANGAN. Gerbang Haetalmun di puncak tangga yang tinggi, curam dan fragile seakan mengingatkan saya agar senantiasa menjaga keseimbangan rasa namun tetap waspada dalam setiap langkah hidup, seperti juga di kawasan kuil Haeinsa. Laksana sebuah pengingat akan peristiwa bencana kebakaran hebat yang berkali-kali terjadi di kuil Haeinsa semasa Dinasti Joseon berkuasa, walaupun upaya menjaga, mengamankan dan memelihara sepenuhnya setia dilaksanakan.

Halaman Utama Haeinsa
Halaman Utama Haeinsa

PEMENUHAN JANJI. Rasanya saya benar-benar luruh melebur menjadi satu dengan Haeinsa dengan setiap langkah penuh keajaiban makna. Haeinsa, inikah yang engkau janjikan untuk setiap jiwa yang datang dengan rasa?

HARMONI. Langkah terasa ringan menapaki pelataran kuil. Sepertinya memang sesuai dengan makna Haeinsa yang dikenal sebagai Kuil Pencerminan di Laut tenang. Untuk mudahnya bagi non-Buddhist seperti saya, dalam kehidupan duniawi dengan semua penderitaan, penyakit dan delusi, bisa dianalogikan sebagai laut yang bergolak dan segala sesuatu yang harmoni diibaratkan sebagai laut yang tenang. Sebuah makna yang dapat dilihat dalam rasa.

HIDUP YANG BERJENJANG. Bahkan kompleks Kuil Haeinsa ini pun dibangun di atas permukaan tanah yang berjenjang dengan dua pelataran tempat aktivitas peribadatan dan kegiatan sehari-hari dari para penghuninya. Seperti juga kehidupan, memiliki jenjang-jenjang tersendiri. Bahkan dalam sebuah jenjang pun memiliki keindahan, seperti juga pemandangan hutan di pegunungan dengan keindahan musim gugur menyembul di antara bangunan kuil di pelataran pertama. Dan melalui tangga, saya menuju pelataran kuil yang lebih tinggi. Dan pelataran akhir ini penuh dengan pengunjung yang kebanyakan datang dari berbagai penjuru Korea, yang membuat saya tersenyum dalam rasa dengan penggambaran ini. Sangat manusiawi. Bukankah pada akhir perjalanan hidup kita semua akan berkerumun?

Pagoda Birotap
Pagoda Birotap

3 SAKSI DIAM YANG SETIA. Perlahan saya berjalan ke tengah pelataran tempat tegaknya tiang bendera yang konon menjadi saksi setia kuil dari abad ke abad. Didekatnya terdapat pagoda batu tiga tingkat yang dikenal sebagai Birotap (Pagoda Vairocana) yang dahulu tempat menyimpan patung Buddha. Tak jauh dari Pagoda Birotap berdiri Lampu Batu, simbol lampu kedamaian Buddha yang dibangun untuk memberikan penerangan ke pelataran. Dalam hidup yang sudah terjalani ini, bukankah kita semua memiliki saksi-saksi diam yang setia menemani?

SEDERHANA. Saya melewati bangunan termpat peribadatan Gwaneumjeon dan Gunghyeondang yang sederhana dan tidak bercat. Ciri khas yang kuat dari Haeinsa, sebuah kesederhanaan, tetapi tampil kontras dengan keindahan hutan yang menghias pegunungan di latar belakang. Kuat dan berprinsip.

Pemandangan Musim Gugur di antara Bangunan
Pemandangan Musim Gugur di antara Bangunan

PUNCAK, YANG UTAMA. Mata saya memandang tiga rangkaian anak tangga di kiri, tengah dan kanan untuk naik ke permukaan tanah yang lebih tinggi. Rasa membawa saya menapaki tangga di kanan, -karena memang sebenarnya tangga di tengah hanyalah untuk para pendeta dalam upacara khusus-, menuju bangunan utama kuil yang disebut Daejeokgwangjeon (Tempat Kedamaian dan Kebijaksanaan Yang Agung) yang didedikasikan untuk Buddha Vairocana, dan diapit oleh Shrine Daebirojeon di kiri dan Myeongbujeon di kanannya. Seakan terdengar bisik dari dalam kalbu akan simbol dari tiap kehidupan yang memiliki tempat tujuan akhir?

IBADAH DENGAN CINTA. Tetapi di sudut Daejeokgwangjeon tampak orang berkerumun menanti giliran beribadah ke dalam. Ah, tak patut rasanya mendahulukan keinginan saya daripada orang-orang yang berniat ibadah. Saya berpindah untuk menikmati lukisan sepanjang dinding dan bagian atap Daejeokgwangjeon, yang semuanya dikerjakan dengan kesabaran, ketelitian dan kecintaan melalui kondisi meditatif yang panjang.

Detail Sudut Atap Daejeokgwangjeon
Detail Sudut Atap Daejeokgwangjeon

MOMENT KEINDAHAN. Mengambil jeda untuk melepas lelah, saya duduk di belakang bangunan utama menikmati pemandangan alam di latar belakang. Karena tersembunyi di kawasan Gayasan National Park, kuil Haeinsa memiliki nilai tambah. Selain udaranya yang sejuk, kuil ini dikelilingi oleh indahnya warna-warni pepohonan khas musim gugur. Dan sebagai orang tropis yang jarang melihat perbedaan warna pohon, sungguh saya menikmati keindahan warna merah, kuning, hijau dalam nuansanya sendiri-sendiri yang menjadi kontras dengan warna homogen coklat kehitaman dari kuil. Seperti juga dalam fase hidup, saat jeda istirahat kita juga dapat menikmati moment indahnya hidup. Dan saat itu pun, walau dipenuhi pengunjung, Haeinsa tetap diliputi ketenangan yang terasa sampai ke dalam relung rasa.

Pepohonan dengan warna musim gugur di latar belakang
Pepohonan dengan warna musim gugur di latar belakang

MENAPAKI PUNCAK. Di puncak ketinggian kompleks Haeinsa, dari sisi Myeongbujeon, Sang Waktu telah menuntun saya melihat tempat penyimpanan Tripitaka Koreana di level teratas, yang paling terjaga. Lalu, setelahnya saya berjalan turun kembali ke arah Bangunan Utama Daejeokgwangjeon dari sisi kiri Daebirojeon, yang berisi dua patung kayu Buddha yang konon dipercaya dari abad-9 dan merupakan yang tertua di Korea. Semua dari kita memiliki langkah-langkah di puncak ketinggian yang tak terlupakan dan penuh kesan.

Sebuah Pameran Karya Seni Bernilai Filosofis
Sebuah Pameran Karya Seni Bernilai Filosofis
Lampion Jalur Meditasi
Lampion Jalur Meditasi

MELEPAS DERITA. Puncak ketinggian telah terlampaui dan saya turun kembali ke pelataran tempat Pagoda Birotap berada. Sebuah pameran seni filosofis sedang berlangsung di pelataran Haeinsa ini. Sekitar seribu kain persegi merah diikat menyerupai kantong berisikan batu tersusun rapi di atas tanah yang membentuk persegi panjang. Batu-batu yang diletakkan pengunjung kuil merupakan simbol dari beban penderitaan yang pernah dirasa sepanjang hidupnya. Sebuah interaksi pengunjung untuk melepaskan penderitaan di Haeinsa, dan menjelma menjadi orang baru setelahnya. Ibarat ringan setelah melepas beban, hidup terbuka menjadi tempat bersyukur dan berdoa. Dan kesempatan itu tersedia di pelataran berikutnya, pengunjung diarahkan melakukan meditasi berjalan melalui jalur yang dibatasi oleh lampion-lampion yang tergantung berwarna merah, hijau, ungu dan kuning. Siapapun, tanpa harus menjadi Buddhist, dapat menggantungkan harapan dan doa pada lampion-lampion itu.

MEMBAWA BAHAGIA. Hari semakin sore, pengunjung semakin berkurang. Akhir perjalanan sudah tercium auranya. Suasana sepi mulai terasa di pelataran depan bangunan tempat genta besar dan drum tabuh tergantung. Sambil menyisiri bagian luar dari lampion-lampion jalur doa, saya berjalan pelan menuju pintu keluar. Dan saat kaki melangkah meninggalkan gerbang surga terdengar pukulan tabuhan oleh pendeta, tanda kuil ditutup dari kunjungan orang luar. Dan bersamaan dengan itu, dari dalam jiwa sebuah ucapan terungkap keluar, Terima kasih atas suasana damai dan harmonimu, Haeinsa! Ah, Semoga semua makhluk berbahagia…

Hwaseong Fortress: Menjadi Warisan Dunia Karena Sebuah Buku Tua


Dari sebuah benteng yang dirancang untuk menjadi Ibukota

Disusun dan dibangun dengan perhitungan rinci tanpa cela

Namun perlahan terlupakan karena pergantian para penguasa

Lalu hancur total akibat Jepang menyerang juga Perang Korea

Dua ratus tahun setelahnya Hwaseong seakan tak pernah ada

Namun dari sebuah buku, Hwaseongseongyeokuigwe namanya

Para ahli bersatu padu bekerja sama membangun sebuah citra

Dan dalam dua tahun Hwaseong Fortress yang hilang kembali ada

Abad-18 Hwaseong hanya merupakan bagian dari Istana Raja

Abad-20 Hwaseong telah menjadi bagian dari Warisan Dunia

*

Menjelang sore pada musim gugur di Suwon, Korea Selatan…

Hwaseong Fortress, salah satu UNESCO World Heritage Site di Korea Selatan, berdiri dengan megah. Benteng atau Fortress ini pada awal pembangunannya merupakan bagian dari Istana Haenggung, tempat kediaman sementara para Kaisar dari Dinasti Joseon di luar kediaman resminya di ibukota negeri. Dan Kaisar Jeongjo-lah yang menginstruksikan pembangunan benteng pertahanan sepanjang 5.5km ini mengelilingi sebuah kota yang dirancang mandiri sebagai pengungkapan bakti Sang Kaisar kepada ayahnya, Putra Mahkota Sadosaeja. Selain mendirikan benteng, sepanjang pemerintahannya, Kaisar Jeongjo senantiasa berupaya berbakti dengan cara membersihkan nama ayahnya yang dibunuh oleh tangan kakeknya sendiri.

Hwaseong Fortress - Suwon
Hwaseong Fortress – Suwon

Kata “Hwaseong” sendiri sesungguhnya memiliki makna filosofis yang sangat dalam, karena berasal dari salah satu pengajaran Konfusianisme, Jangja. Dalam karakter China, Hwaseong merupakan tempat yang diperintah oleh seorang tokoh legenda yang bijak dan bermoral sempurna yakni Kaisar Yao. Beliau adalah kaisar legendaris dalam sejarah Cina kuno yang kebajikannya digunakan sebagai model untuk kaisar Cina pada masa-masa selanjutnya. Masa pemerintahan Kaisar Yao merupakan waktu yang paling damai dan makmur dalam sejarah Cina kuno. Dengan dilatarbelakangi oleh pemahaman filosofis yang dalam itu, pembangunan Hwaseong Fortress di Korea Selatan menjadi luar biasa.

Hingga kini Hwaseong Fortress menjadi benteng dengan struktur terhebat dan penuh perhitungan yang pernah dibuat di dunia. Memiliki empat gerbang di setiap arah mata angin. Janganmun di Utara, Paldamun di Selatan, Changnyongmun di Timur dan Hwaseomun di Barat. Bahkan katanya setiap lubang diantara batu batanya diukur dengan presisi sehingga dapat menembakkan senjata, panah atau tombak panjang.

Dan kehebatan Hwaseong Fortress tidak berhenti sampai disitu. Benteng ini bahkan menjadi pelopor perencanaan pembangunan kota di tingkat dunia, dilihat dari segi kelengkapan sarana dan prasarana serta perencanaan matang yang sistematis dibandingkan pembangunan kota yang serupa pada jamannya seperti Saint Petersburg di Rusia atau bahkan Washington DC di Amerika. Sebuah pemikiran yang sangat hebat dari Kaisar Jeongjo, orang yang menginstruksikan pembangunan Hwaseong Fortress ini.

Sejarah mengisahkan ketika Kaisar Jeongjo bertempat tinggal sementara di Istana Haenggung dalam rangka kunjungan ke wilayah Suwon, Sang Kaisar mulai menginstruksikan pembangunan Hwaseong Fortress termasuk kota di dalamnya. Pada awalnya Kaisar Jeongjo merencanakan Hwaseong menjadi ibukota kedua dari Dinasti Joseon. Untuk itu, Kaisar Jeongjo berencana akan pindah ke istana Haenggung, untuk menikmati kota Hwaseong-nya, setelah ia menyerahkan tahtanya kepada penerusnya. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Kaisar Jeongjo mangkat dalam usia yang relatif muda pada tahun 1800 menyebabkan Hwaseong perlahan-lahan terlupakan oleh peradaban.

Janganmun North Gate of Hwaseong Fortress, Suwon (means capital city and welfare of the people)
Janganmun North Gate of Hwaseong Fortress, Suwon (means capital city and welfare of the people)

Dan UNESCO pun mencatat Hwaseong Fortress dalam daftar World Heritage Site…

Sebenarnya Hwaseong Fortress masih relatif berumur muda, sekitar 200 tahun, jika dibandingkan dengan seribuan obyek lainnya yang bisa mencapai ribuan tahun, untuk tercatat dalam daftar UNESCO World Heritaga Site. Ditambah lagi sebagian besar struktur asli sudah hancur karena penyerangan Jepang dan akibat perang Korea. Lalu apa yang menyebabkan tempat itu bisa terdaftar sebagai World Heritage Site?

Dan karena sebuah buku kuno, Hwaseongseongyeokuigwe, sehingga Hwaseong Fortress dapat direkonstruksi kembali mengikuti struktur aslinya. Hwaseongseongyeokuigwe merupakan buku arsip yang terperinci mengenai pembangunan Hwaseong Fortress. Di dalam buku ini seluruhnya tersimpan baik penjelasan arsitektur dan prosedur teknis yang diterapkan, lengkap dengan gambar-gambar dan disain strukturnya, dimensi struktur, penggunaan dan sumber bahan baku yang digunakan dan hal-hal kecil lainnya. Sungguh menakjubkan berdasarkan satu buku kuno berumur ratusan tahun itu, pembangunan kembali benteng ke bentuk aslinya bisa dilakukan dengan sangat mudah.

Para insinyur dan ahli teknik masa kini benar-benar mengikuti semua petunjuk yang diberikan dalam buku Hwaseongseongyeokuigwe, yang dimulai dari menemukan jenis yang tepat untuk menghasilkan bentuk dan kualitas batu bata yang digunakan. Setelah batubata diproduksi dengan benar, kumpulan batu itu digunakan untuk membangun tembok benteng seperti yang dijelaskan dalam dokumen.

Hwaseong Fortress sepertinya merupakan kasus pertama kali dan satu-satunya hingga kini, sebuah monumen sejarah yang hancur total dibangun kembali hanya berdasarkan dokumen tertulis. Kelengkapan Hwaseongseongyeokuigwe, yang penuh informasi ilmiah yang sangat detail, membuat monumen ini memungkinkan memenangkan gelar sebagai UNESCO World Heritage Site.

*

Setelah membayar tiket masuk, rencana melihat Gukgung (Korean Traditional Archery) di dekat pintu masuk batal karena saat itu merupakan trip terakhir kereta kelilingHwaseong Fortress. Saya sedang malas mendaki berkilo-kilometer sehingga tawarannaik kereta keliling disambut gembira. Sebenarnya para penumpang diberikan informasi mengenai tempat-tempat menarik sepanjang perjalanan, tetapi sayangnya dalam bahasa Korea!

A corner in Hwaseong Fortress in Suwon. It's believed to have been constructed very scientifically — at Hwaseong Fortress.
A corner in Hwaseong Fortress in Suwon. It’s believed to have been constructed very scientifically — at Hwaseong Fortress.

Sudah beberapa gerbang dan tempat pemantauan benteng terlewati. Kereta masih menyusuri tembok benteng yang berdiri tegak, seakan angkuh terhadap kemungkinan serangan musuh. Kemudian berjalan perlahan mendaki bukit. Tampak seluruh permukaan tanah tertutup dengan rumput hijau yang terpelihara. Pemerintah Korea Selatan bersama warga sekitar bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap indah dan di sudut lain, tampak tembok benteng menjulang di balik rimbunnya rumput keladi yang berbunga.

Tak lama kemudian kereta memasuki wilayah dengan pepohonan berwarna khas musim gugur yang terhampar di depan mata. Merah, hijau, kuning keemasan dan jalanan yang sepi. Ketika kereta melewati perlahan sebuah pelataran dengan patung besar, terlontar keinginan untuk turun menikmati pemandangan. Dan ternyata kereta memang berhenti di situ, menurunkan semua penumpangnya dan kembali kosong. Dan memang trip terakhir kereta tidak termasuk kembali ke tempat awal sehingga saya harus berjalan kaki untuk kembali.

Setelah mengeksplorasi pelataran berisi patung besar Kaisar Jeongjo, saya menikmati jalan-jalan di sekitarnya dalam suasana musim gugur. Sebagai orang tropis, saya menikmati sekali pengalaman berjalan-jalan diantara pohon-pohon yang berwarna-warni dengan gugurnya dedaunan. Banyak juga warga lokal dari segala umur yang berjogging. Bahkan disediakan peralatan olahraga di area terbuka.

The Bronze Statue of King Jeongjo The Great
The Bronze Statue of King Jeongjo The Great
The Map & Pictures of Hwaseong Fortress on the Wall next to the Statue
The Map & Pictures of Hwaseong Fortress on the Wall next to the Statue
Public Park in Autumn inside the Hwaseong Fortress
Public Park in Autumn inside the Hwaseong Fortress

Belum ingin berpisah dengan indahnya suasana, saya bahkan mendaki ke puncak bukit. Dan sampai di atas, terhampar pemandangan yang jauh lebih indah dari kota Suwon, apalagi menjelang malam, lampu-lampu kota dinyalakan. Saya duduk menikmati malam. Seandainya Kaisar Jeongjo masih hidup, tentunya ia juga suka melihat pemandangan ini. Pemandangan lepas, udara dingin, sangat tepat untuk berpikir strategis memikirkan bangsa dan negara.

Malam merangkak pelan. Waktu juga yang memutuskan. Saya berjalan turun perlahan sambil melamunkan keluarbiasaan situs warisan dunia, Hwaseong Fortress ini. Yang tadinya hancur, dalam waktu dua tahun bisa kembali berdiri megah. Hanya karena sebuah buku tua. Saya belajar bahwa dari dokumentasi yang detil dan menyeluruh, apa yang hancur bisa kembalikan ke semula. Ah, rasa terima kasih tak terhingga untuk Kaisar Jeongjo!

A part of 5.5km of the Hwaseong Fortress
A part of 5.5km of the Hwaseong Fortress
Seojangdae (Western Command Post), built 1794 on the summit of Mt. Paldal
Seojangdae (Western Command Post), built 1794 on the summit of Mt. Paldal
Hwaseong Fortress at night
Hwaseong Fortress at night

*

Hwaseong Fortress dibuka setiap hari untuk umum, pk. 09.00 – 18.00 kecuali musim dingin dari pk. 09.00 – pk. 17.00 dengan harga tiket masuk 1000 Won (dewasa) dan 500 Won (anak-anak).

Menikmati Malam di Gyeongju, Korea


Gyeongju, Korea merupakan kota dengan sebutan museum tanpa dinding, karena berseraknya tempat-tempat bersejarah di kota kecil sekitar 1 jam berkendara dari Busan itu. Tetapi apabila tak tertarik dengan sejarah pun, kita tetap masih bisa menikmati kota itu, terutama pada malam hari. Jadi, lupakan sejarah sesaat, nikmati saja keindahan di Gyeongju yang sejuk (atau karena saya datangnya pas musim gugur ya?).

 

Anapji Pond

Saya bersyukur karena mengunjungi tempat ini di kala senja dan menikmatinya hingga malam bertandang. Saya coba lupakan sejenak sejarahnya, dan membiarkan rasa yang menuntun langkah-langkah saya pada malam itu.

Saya hanya menyentuh pagar pembatas area yang di dalamnya terdapat bulatan-bulatan bekas fondasi bangunan itu sebagai tanda permintaan maaf karena ketakmampuan saya melepaskan diri sepenuhnya dari sejarahnya. Aura peninggalan yang sangat kuat tetap terasa membumbung di udara, sehingga saya hanya bisa terdiam hening sebagai penghormatan walaupun kali ini saya hanya ingin menikmati malam di Anapji Pond.

Sisi dari Anapji Pond
Sisi dari Anapji Pond
Lihat! Ada ikan-ikan diantara lampu kolam
Lihat! Ada ikan-ikan diantara lampu kolam
Bangunan Utama di Anapji Pond
Bangunan Utama di Anapji Pond
Detil Atap Bangunan di Anapji Pond
Detil Atap Bangunan di Anapji Pond
Refleksi di Anapji Pond
Refleksi di Anapji Pond
Anapji Pond At Night
Anapji Pond At Night
Anapji Pond dari sisi seberang
Anapji Pond dari sisi seberang

Terlepas dari cerita hebat di baliknya, Anapji Pond tetaplah sebuah kolam, yang berisikan ikan-ikan cantik berenang diantara lampu yang menyinari bangunan-bangunan tradisional berukir indah.

Namun entah kekuatan apa yang menyelimuti saat itu, tetapi terasa sekali pada malam itu atmosfer kaum bangsawan berjalan perlahan menikmati malam, berawal dari aula utama menyusuri bangunan-bangunan cantik di tepi kolam berhias cahaya yang memantul dari air kolam yang tenang. Memberikan efek refleksi yang sempurna. Berpikir sangat dalam mengenai kehidupan bernegara, kehidupan sehari-hari rakyat dan kehidupan romansa pribadi para keluarga kerajaan.

Tidak perlulah mengetahui siapa Raja, siapa Perdana Menteri atau silsilah keturunannya, atau Dinasti yang mengelolanya. Cukuplah untuk menikmati dengan sepenuh hati, merasakan aura kehidupan para pemilik darah biru, merasakan keindahan terangkai sepanjang malam di Anapji Pond. Dan saya pun berjebak dalam semesta keindahan Anapji Pond.

 

Cheomseongdae Observatory

Tak jauh dari Anapji Pond, bisa dicapai dengan berjalan kaki, berdirilah Cheomseongdae Observatory dengan anggunnya di tengah-tengah taman di pusat kota.  Pemerintah setempat telah membuat bangunan kuno itu semakin tampil dramatis dengan sorotan lampu yang memecah kegelapan malam.

Tanpa perlu mengetahui secara dalam kekuatan sejarah di balik keanggunan Cheomseongdae Observatory, siapapun yang melihatnya malam itu akan merasakan hal yang sama. Keindahannya melebihi keingintahuan orang akan fungsi bangunan itu.

Cheomseongdae Observatory - Peninggalan dari Seorang Perempuan
Cheomseongdae Observatory – Peninggalan dari Seorang Perempuan

Saya hanya duduk dalam keheningan di bangku taman dan menikmati Cheomseongdae Observatory yang luar biasa di hadapan. Saya tak melihat sisi sejarahnya, saya tak mencari tahu fungsi bangunannya. Saya hanya diam dalam hening. Suasana yang tercipta terasa magis dan menerbangkan saya untuk melihat ke dalam jiwa mengenai makna kehidupan. Dan malam pun terus merangkak pelan…

Saya tetap tak bisa melepaskan dari kekuatan sejarahnya. Tetapi, lagi-lagi saya berusaha melupakannya sesaat. Saya hanya mengingat bahwa Cheomseongdae merupakan warisan dunia dari seorang perempuan! Dan hidup sebagai perempuan, saya seperti jatuh ke dasar jurang tak bertepi, berhadapan dengan peninggalan dengan tingkat dunia yang seakan bertanya langsung kepada saya, apa yang telah kau berikan kepada dunia sebagai warisan?

Arrggghhh… Cheomseongdae yang indah tetapi membantingku KO.

 

Tumuli Park

Di arah yang berlawanan dari Cheomseongdae Observatory, tersebar tumuli-tumuli (gundukan) yang di dalamnya menyimpan sejarah Korea yang panjang. Tapi malam itu, tak perlu melihat sejarah, tak perlu memikirkan apa yang ada di balik tumuli itu. Lihat saja keindahan lengkung-lengkung rerumputan hijau yang tertata rapi dan disinari lampu sorot.

Lagi-lagi saya terdiam dalam hening. Saya tahu tumuli adalah makam dan hal itu yang menghenyakkan saya dalam keheningan. Saya hanya ingin menikmati dalam hening dan tak ingin terlalu filosofis melihatnya. Tetapi rasa dari dalam itu begitu membuncah Sudahkah saya memikirkan mati? Lalu bagaimanakah saya ingin diingat ketika saya sudah mati? Apakah saya sudah bernilai hingga sekarang ini, sebelum saya mati? Dan masih banyak lagi karena saya berhadapan dengan makam!

Tumuli adalah Makam!
Tumuli adalah Makam!

Tak perlu menilik sejarahnya, tak perlu tahu siapa yang ada di baliknya, hanya makna sebuah makam dan saya pun berlari bergidik, karena tahu belum cukuplah bekal untuk itu.

Kuliner

Di depan area tumuli itu terdapat deretan rumah makan dan kios-kios yang menawarkan makanan Korea atau makanan ringan, yang bagi para wisatawan penggila kuliner bisa langsung menikmatinya setelah lelah berjalan-jalan. Saya sendiri tidak mencicipinya karena saya masih harus berjuang mencari jalan pulang ke penginapan yang lumayan jauh.

***

Jika saja masih ada waktu bagi saya untuk berkeliling lagi, tentu masih banyak tempat wisata lain yang bisa dikunjungi. Tidak apa-apa, saya menyimpannya untuk kunjungan kesana lagi, kapan-kapan ketika kesempatan lain datang…

(DISCLAIMER: All photos are mine unless otherwise stated. Please put the link or e-mail me if you wish to use it personally)