Taj Mahal Mini di Jakarta


Dua bulan sebelum pendirinya berpulang, saya mengajak suami untuk berkunjung ke Masjid Ramlie Musofa yang berada di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Memang sudah lama saya ingin ke Masjid ini karena konon, bentuknya menyerupai Taj Mahal, sebuah bangunan indah UNESCO World Heritage Site yang berlokasi di Agra, India. Yah, tidak apa-apa ke Sunter dulu. hitung-hitung menjejak miniaturnya dulu sebelum melihat aslinya yang ada di negeri Shah Jahan itu 😀

Jadilah, jelang waktu Ashar, saya sampai di Masjid yang didominasi warna putih itu. Kesan pertama melihat masjid itu, teramat cantik dan indah. Cukup beruntung saya bisa mendapatkan tempat parkir kendaraan di pinggir jalan tepat di depan Masjid, karena sepertinya lahan untuk parkir tidak terlalu luas (meskipun petugas parkir mempersilakan untuk parkir di halaman dalam Masjid)

Masjid Ramlie Musofa

Berada di seberang Danau Sunter, Masjid Ramlie Musofa ini memang menarik perhatian karena, -selain warna bangunan yang putih mencolok mata-, bangunan ibadah ini berdiri di antara perumahan elite di kawasan Danau Sunter Selatan yang mayoritas penghuninya beretnis Chinese dan umumnya Non-Muslim. Tapi semuanya itu tentu ada kisahnya sendiri…

Tidak seperti umumnya masjid-masjid di Indonesia, nama masjid ini tergolong unik karena namanya diambil dari gabungan dari lima nama orang dalam satu keluarga. Ya, nama Ramlie Musofa merupakan gabungan nama Ram dari Ramli Rasidin, sang pemilik sekaligus pendiri Masjid;, Lie dari Lie Njoek Kim, istri sekaligus sang belahan jiwa; Mu dari Muhammad Rasidin, anak pertama; So dari Sofian Rasidin, anak kedua dan Fa dari Fabianto Rasidin, si bungsu dari keluarga Rasidin. Harapannya tentu teramat baik, sepanjang Masjid difungsikan untuk kepentingan orang banyak dan alam semesta, InsyaAllah pahalanya tetap mengalir kepada keluarga. Namun sebenarnya siapa mereka?

H. Ramli Rasidin merupakan seorang mualaf keturunan China yang lahir di tahun kemerdekaan dan menyatakan syahadat ketika masih belia yakni berumur 19 tahun, di Aceh pada tahun 1964. Dan hampir setengah abad kemudian, ia mendirikan sebuah masjid tiga lantai di atas lahan seluas 2000 meter persegi di kawasan Sunter yang pembangunannya memakan waktu hingga 5 tahun. Keelokan masjid ini bukan kaleng-kaleng, keterkenalannya sebagai bangunan cantik serupa Taj Mahal ini, membuat Imam Besar Masjid Istiqlal sendiri, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, berkenan mendatangi Masjid dan meresmikannya pada bulan Mei 2016. Hebat kan?

Masjid cantik yang menyerupai Taj Mahal ini memang sesungguhnya terinspirasi oleh filosofi bangunan yang terkenal sebagai The Wonders of The World yang berlokasi di Agra, India itu. Jika Taj Mahal yang asli didirikan sebagai persembahan cinta seorang suami terhadap isterinya, seorang Raja Mughal, Shah Jahan, terhadap Mumtaz Mahal, sang belahan jiwa yang telah memberinya 14 orang anak, maka Masjid Ramlie Musofa ini didirikan juga atas dasar cinta, namun bukan sembarang cinta. Masjid ini dibangun atas dasar cinta yang tulus dari seorang Ramli Rasidin terhadap Allah Subhana wa Ta’ala, juga terhadap agama Islam yang dianutnya dan tentunya tak dapat dipisahkan cintanya terhadap keluarga.

From the entrance stairs

Jelang Ashar itu, terik matahari masih terasa memanggang kulit sehingga saya bergegas memasuki halaman Masjid untuk mencari keteduhan di sudut halaman. Dari tempat saya berdiri, rasanya tak bisa dihindari bahwa saya terkagum-kagum melihat keindahan arsitekturnya yang memang menyerupai bangunan utama dari Taj Mahal. Memiliki tiga kubah dengan komposisi letak dan perbandingan yang serupa satu sama lainnya. Lengkap dengan menara-menara kecil yang didirikan mengitari kubah utama dan dua kubah kecil di lantai atap. Seandainya ada empat menara putih tinggi di tiap sudut halamannya, tentunya Masjid ini akan semakin lekat berlabel Taj Mahal mini. Tapi tak ada menara pun rasa Taj Mahal sudah menghampiri hati.

Saya tak bisa berlama-lama memanjakan mata karena panggilan shalat Ashar sudah terdengar. Saya tersenyum penuh syukur dalam hati, ternyata segala kemacetan panjang dari rumah hingga mencapai masjid ini memiliki maknanya sendiri. Sang Pemilik Kehidupan berkenan melimpahkan karuniaNya, menghantarkan saya agar bisa mendirikan shalat Ashar berjamaah di Masjid ini.

Memasuki ruang wudhu untuk wanita yang diletakkan di sisi Barat, membuat saya terperangah dan mambuat hati terasa hangat. Kenangan saat ibadah umroh enam bulan sebelumnya langsung mengisi kalbu. Ruang wudhu perempuan (dan tentunya juga untuk pria) dari Masjid Ramli Musofa tak jauh beda dengan ruang wudhu di masjid-masjid utama di Jazirah Arab dan juga di Palestina. Pada setiap keran yang mengalir disediakan tempat duduk batu sehingga memudahkan jamaah untuk bersuci dan tentunya aman. Setelah ruang berwudhu, terlihat pula area kecil tempat menggantung mukena-mukena bersih yang siap digunakan. Kemudian dilanjut dengan ruang terbuka yang luas dengan hamparan karet. Memang, lantai dasar digunakan sebagai ruang shalat wanita. Ada televisi layar datar yang digunakan sebagai alat monitor kegiatan ibadah Imam yang memimpin shalat. Sebelum memulai shalat, saya mencuri waktu untuk memperhatikan ruangan. Tidak ada yang istimewa kecuali ada pintu langsung ke jalan samping Masjid. Ternyata akses itu diberikan untuk calon pengantin yang akan melakukan proses pernikahan karena memang lantai dasar merupakan tempat pelaksanaan akad nikah.

Selesai shalat saya memanfaatkan waktu untuk berkeliling. Ternyata semakin dijelajahi, semakin terasa kentalnya percampuran tiga budaya yaitu Indonesia, Timur Tengah dan Timur Jauh (Tiongkok). Pada dinding di kanan dan kiri tangga utama dituliskan arti Surat Al Fatihah dalam dua bahasa. Dibuat seperti itu, konon, ditujukan kepada semua yang datang agar membaca, memahami dan memaknai Surat Pembukaan dari Al Qur’an itu. Bagi mereka yang berlatar budaya China tentu akan lebih mudah membaca dan memahaminya dalam karakter Mandarin. Bagi mereka yang hafal surat Pembukaan itu tapi belum memahami artinya, diberikan pula arti dalam bahasa Indonesia. Semua itu ditujukan seraya menaiki tangga utama sebelum menjejak lantai utama yang digunakan sebagai tempat shalat untuk laki-laki. Lalu berada di puncak tangga utama, saya menikmati lengkungan indah di atas pintu. Tak heran, bagian ini mengingatkan akan bangunan Taj Mahal dengan hiasan geometris khas Islam.

Sebelum memasuki ruang utama, saya berjalan mengelilingi selasar luar dan menikmati setiap dekorasi yang ada pada dinding-dinding Masjid hingga sampai di pintu Timur. Dari pintu di bagian Timur terlihat pemandangan di lantai utama sangat indah dengan mihrab tempat Imam memimpin ibadah yang dibuat cantik, lengkap dengan hiasan khas Islam. Sinar matahari menerobos masuk dari jendela-jendela mini di dasar kubah utama, menerangi bagian bawah seperti cahaya surga.

the mihrab in main prayer area

Dari tempat saya berdiri juga bisa terlihat lantai tiga Masjid yang terbuka ke bawah seperti sebuah mezanin. Mungkin digunakan untuk ibadah jika lantai satu tak mampu menampung jamaah yang mau beribadah. Terlihat juga pilar-pilar putih menghiasi bagian dalam masjid.

Saya memahami, waktu bagi saya untuk menikmati Taj Mahal mini di Jakarta hampir habis, sehingga saya mempercepat langkah tanpa melepas untuk mengabadikan spot-spot yang cantik karena ada sebuah bedug terlindung dalam sebuah ruang berkubah yang disokong empat pilar yang diletakkan di sudut Barat Daya.

Sungguh saya bersyukur bisa mewujudkan keinginan untuk menyambangi Masjid yang serupa dengan Taj Mahal bahkan bisa mendirikan shalat berjamaah di dalamnya. Dan meskipun pendiri Masjid Ramlie Musofa,, Haji Ramli Rasidin, telah tutup usia pada akhir bulan Agustus 2020 dalam usia 75 tahun, saya berharap Masjid yang ditinggalkannya bisa tetap bermanfaat bagi masyarakat. Dan tentu saja saya juga berharap semakin banyak muslim dan muslimat yang memakmurkan Masjid cantik ini.

Bagi yang hendak berkunjung ke Masjid Ramlie Musofa, berikut adalah alamat lengkapnya: Jalan Danau Sunter Selatan 1 blok 1/10 Nomor 12C – 14A, RT.13/RW.16, Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14350


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 7 dan bertema Mosque agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

Sukacita Menjejak Tempat Suci


Bagi yang mengikuti blog saya ini, telah beberapa kali saya mengungkapkan kegemaran jalan-jalan yang sudah ada sejak saya kecil. Menjejak tempat baru membukakan wawasan namun suka duka perjalanan menuju tempat baru itu membuat saya hidup.

Dan dari begitu banyak destinasi, -kebanyakan berupa tempat-tempat yang memiliki sejarah-, hanya ada beberapa tempat yang berhasil memporak-porandakan rasa dalam jiwa begitu dahsyat. Bisa jadi karena tempat-tempat itu diyakini oleh banyak jiwa sebagai tempat suci keimanan.


Puskarni, The Holy Pond

Meskipun saya telah menuliskan dalam pos Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini namun rasanya kata-kata itu tak pernah bisa terangkai dengan tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami ketika menjejak Kuil Mayadevi di Lumbini. Tempat itu konon, merupakan tempat kelahiran Sang Buddha, lebih dari dua setengah millenium yang lalu.

Kuil yang menurut saya terlalu sederhana untuk sebuah lokasi yang dipercaya merupakan tempat kelahiran seseorang yang telah mengguncang dunia, sesungguhnya hanya sebuah bangunan batu yang menutupi sebidang tanah serupa ekskavasi arkeologis. Tak ada hiasan, tak ada altar, tak ada tanda-tanda pemujaan, namun ketiadaan barang-barang duniawi itu tak mampu menghilangkan rasa sakral yang begitu hebat di dalamnya. Hanya dengan sebuah penanda yang dikenal dengan istilah Marker Stone yang terlindung oleh kaca, banyak pengunjung bisa jatuh bersimpuh di depannya. Itulah tempat yang dipercaya menjadi titik akurat kelahiran Sang Buddha Siddharta Gautama.

Suara sayup genta-genta kecil yang berdenting tertiup angin, juga suara bacaan sutra yang disenandungkan di bawah rimbun pohon Boddhi di luar kuil, menambah suasana sakral di Marker Stone yang letaknya tak jauh dari pintu keluar. Bahkan setelah dua setengah millenium, kesakralan tempat itu tetap masih terasa kuat.

A Monk under a Boddhi Tree

Sebagai non-Buddhist yang bisa sampai di tempat itu, saya merasakan energi yang begitu besar melingkupi tempat itu, membuat rambut halus di sekujur tubuh meremang dan perasaan dari dalam menggelegak keluar. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada saya sebelum ini, Berbagai rasa campur aduk, suka cita, bahagia, keharuan yang dalam silih berganti dengan rasa syukur yang berlimpah, semuanya berlangsung dalam waktu singkat membuat diri ini rasanya akan meledak. Tetapi mengenal diri yang lemah ini, saya harus segera melipir keluar mencegah tangis menjadi tersedu dalam sukacita yang dalam.

Lalu melengkapi keluarbiasaan di tempat suci itu, sebuah khata, -selendang sutra putih pembawa berkah-, yang didapat dari seorang biksu di bawah Pohon Boddhi melingkari leher saya. Dengan khata yang melingkar leher, saya meninggalkan Lumbini masih dengan berbagai rasa dari bersyukur, terpesona, bahagia, haru, merasa beruntung hingga rasa sedikit tak percaya mengalaminya, atas semua kebaikan Sang Pemilik Semesta.


Kemudian bertahun-tahun setelah perjalanan ke Lumbini itu, saya akhirnya berkesempatan melakukan perjalanan ibadah umroh ke Makkah dan Madinah yang tentu saja juga meluluhlantakkan rasa dalam jiwa. Rasanya setiap detiknya memiliki kenangan tersendiri, bagaimana saya bisa menjejakkan kaki sendiri, berdiri dengan tubuh sendiri, bersimpuh lalu bersujud meletakkan kening di masjid Nabi dan juga di hadapan Ka’bah. Seperti kata teman-teman saya yang telah melakukan perjalanan serupa terlebih dahulu, hanya ibadah yang ada dalam pikiran, rasanya ingin bermanja-manja selamanya dalam Kasih SayangNya. Bahkan bangun selepas tengah malam lalu berjalan ke arah Masjid pun dilakukan dengan sukacita. Tak berat sekalipun melangkahkan kaki, bertafakur, melangitkan doa dan pujian serta bersyukur. Bahkan di siang hari, saat matahari terik memanggang bumi, tempat-tempat bersujud dan berdoa itu tetaplah nyaman. Payung-payung terkembang untuk melindungi mereka dari terik matahari, karpet-karpet yang tergelar, bahkan mesin-mesin pendingin udara yang menyemburkan udara sejuk untuk kenyamanan ibadah.

Semua yang menyenangkan itu membuat jatuh tersungkur dalam syukur saat mengingat dan membayangkan berabad-abad lalu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga serta sahabat-sahabatnya melakukan perjuangan Islam yang sangat tidak mudah, dengan kondisi alam di Jazirah Arab yang tak bersahabat serta budaya setempat yang tidak kondusif. Dan membandingkan dengan kenyamanan serta semua yang membuat haru biru di tempat saya bersimpuh dan bersujud, bagaimana mungkin saya mengeluh? Saya tak bisa lain kecuali membiarkan airmata bahagia yang terus turun membasahi pipi.

Dan saat itu saya melihat di sekitaran, di depan, di belakang, kiri maupun kanan, memiliki wajah yang serupa, teduh dalam kebahagiaan beribadah memujiNya. Datang dari berbagai bangsa dan warna kulit serta dari segala penjuru dunia, berbalut pakaian yang bernada sama. Bertasbih, memuji namaNya, membaca kitabNya… menikmati undangan dariNya. Rasanya tidak ada rangkaian kata yang tepat untuk mewakili ungkapan rasa yang saya alami. Takkan pernah ada, takkan pernah cukup…

Saat itu, rasa penuh anugerah yang seperti mau meledak dan mendesak terus dari dalam, setiap detiknya, setiap menitnya itu, sungguh sebuah candu, membuat rindu, yang selalu ditunggu.

Saya pun mengamini apa yang dirasakan oleh teman-teman dan kerabat yang pernah menjalankan ibadah umroh terlebih dahulu bahwa semua kebahagiaan selama berada di Makkah dan Madinah itu selalu ingin diulang. Bahagianya itu seperti orang sedang jatuh cinta, ingin selalu berada berdekatan dan merasakan terus mencintai dan dicintai. Namun berbeda dengan rasa jatuh cinta pada manusia lain yang biasa menimbulkan keegoisan berdua dengan orang yang dicintai, rasa bahagia di Makkah dan Madinah ini tidak ada rasa ingin menguasai, bahkan meningkatkan rasa berbagi dan mengikis rasa mendahulukan kepentingan diri sendiri. Mungkin rasa bahagia itu berada di tingkatan yang lebih tinggi…


Dan yang tak kalah penting di akhir tahun 2019 lalu itu, dengan susah payah saya sungguh menahan airmata bahagia saat bus meninggalkan perbatasan Jordan menuju bumi Palestina. Setelah puluhan tahun memendam impian untuk sampai ke bumi Palestina, akhirnya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri Masjid Al Aqsho, saya berdiri di halamannya, bisa menghirup dan menghembus harum udaranya, juga beribadah di dalamnya. Bumi para Nabi. Bahkan sampai sekarang saja, setiap menuliskannya airmata saya selalu meleleh merasakan betapa besar anugerah yang saya terima. Alhamdulillah…

Jika saja saya bisa, rasanya ingin waktu berhenti agar saya bisa berlama-lama menikmati setiap detil kenangan saat berada di Bumi Palestina. Namun manusia ini serba terbatas, meski keinginan bisa liar tanpa batas. Sebisa mungkin saya merekam semua yang dirasakan berada di tempat yang dipercaya sebagai titik awal peristiwa Isra’ Mi’raj.

Tidak hanya itu, berada di Jerusalem membuat saya juga mengingat kembali kisah-kisah yang pernah didengar semasa mengenyam pendidikan di sekolah Katolik berpuluh tahun lalu. Menyusuri lorong-lorong kota tua Jerusalem tak bisa terhindar dari Via Dolorosa (jalan kesengsaraan yang diyakini dilalui oleh Yesus hingga ke Bukit Golgota). Juga, lalu lalangnya rabbi Yahudi dan banyaknya sinagoga di kota ini membuat kebahagiaan tersendiri. Lagi-lagi saya setengah percaya sedang berada di kota Jerusalem, kota yang menelurkan begitu banyak kisah di kitab-kitab suci tiga agama.

Dome of The Rock, Al Aqsho complex
Al Aqsho’s courtyard

Meskipun saya masih berangan-angan untuk mengunjungi Varanasi yang merupakan salah satu kota suci umat Hindu di India, saya tak kecil hati. Di Kathmandu, Nepal saya juga sempat mengunjungi Pashupatinath, salah satu kuil suci Hindu yang memberikan kebahagiaan tersendiri. Juga mengunjungi kuil Changu Narayan di Kathmandu yang memberikan saya begitu banyak keajaiban yang membahagiakan dan tentu saja ke Muktinath, salah satu kuil Hindu yang sederhana namun menjadi salah satu yang sangat sakral.

Jika saya diberikan umur panjang, sepertinya saya masih berkeinginan untuk mengunjungi tempat-tempat suci di dunia ini. Kebahagiaan berada di tempat-tempat itu tak bisa diabaikan begitu saja. Addictive


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-47 bertema Happiness agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Pilgrimage 4: Menuju Tempat Utama


25 Desember 2019

Insya Allah, ini harinya, nanti malam…

Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka

madinah3
Masjid Nabawi Yang Selalu Dirindukan

Setelah hari-hari sebelumnya saya menikmati ibadah di Masjid Nabawi dan menyempatkan juga berkeliling kota Madinah, maka tiba hari setelah waktu dzuhur akan meninggalkan kota Cahaya, kota yang telah membuat saya jatuh hati. Kenyataan yang membuat hati langsung mengerut, saya akan meninggalkan Masjid Nabi, sebuah tempat yang selalu menenteramkan jiwa. Dan waktunya melanjutkan menuju yang utama. Di antara kerinduan melihat Ka’bah, terselip juga rasa cemas. Kecemasan manusiawi dari diri yang telah bergelimang dosa. Ya Allah, ampuni kami…

Saya mencoba menghilangkan kecemasan itu dengan membantu suami mengenakan pakaian ihramnya. Untung saya sempat mengabadikan Pak Ustadz yang mencontohkan prosesnya waktu manasik. Tips-tipsnya amat berguna (mungkin kapan-kapan akan saya tuliskan cara mengenakan pakaian ihram agar tidak melorot meskipun tanpa sabuk).

Sesaat sebelum meninggalkan kamar, sebersit rasa menyeruak keluar. Ya Allah, ada kerinduan untuk tinggal di Madinah tapi undangan berumroh tak kalah kuatnya. Ada saat datang, ada saat pergi…

Di lobby hotel, tampak orang berkerumun dari beberapa grup travel. Ada yang baru check-in dan ada pula yang check-out seperti kami. Bisnis hotel di Madinah ini berjalan luar biasa, meskipun menurut saya, frontliners hotel ini tidak menerapkan service excellence.

Saya mendekat ke rombongan kami dan disambut oleh wajah-wajah cerah dari para ibu.

Ya ampun Bu, gamisnya bagus sekali, putih bersih… Keren“, kata mereka melihat pakaian yang saya kenakan. Saya tersipu menjelaskan bahwa saya membelinya di toko yang ada di lorong-lorong dekat Masjid. Saya tahu, mereka amat prihatin dengan belum ditemukannya koper saya. Dan mereka ikut gembira dan bahagia melihat saya tampil serupa dengan mereka.

Yang penting, putih dan bersih”, lanjut saya tersenyum lebar.

Teringat ketika membelinya, sepulang dari Mesjid. Suami dan saya secara tak sengaja menemukan lorong yang mengarah ke toko-toko yang mengingatkan saya akan Tanah Abang atau ITC di Jakarta. Saya amat terbantukan oleh mereka yang berjualan dan membolehkan kami membayar dengan uang Rupiah bahkan komunikasinya juga dilakukan dalam bahasa Indonesia. Rasanya tak berada jauh dari tanah air. Bahkan sekilas terlihat baju-baju gamis dan khimar (jilbab panjang) yang dipajang tidak jauh beda dengan yang biasa terlihat di toko-toko di Tanah Abang atau ITC-ITC di Jakarta. 

Setelah diperbolehkan untuk naik ke bus, sang suami mengajak saya segera ke bus. Ia memastikan koper kami yang tinggal satu itu masuk ke dalam ruang bagasi bus. Lalu di atas bus, dengan setengah bercanda saya mengatakan kepadanya bahwa saya kasihan terhadap koper suami yang sendirian tak punya teman. Karena pasangan suami isteri dalam rombongan selalu memiliki dua koper sedang kami hanya punya satu, karena koper saya sedang jalan-jalan sendiri entah kemana. Tanpa berkata suami yang telah mengenakan pakaian ihram itu menepuk-nepuk tangan saya agar tak berpikir lagi mengenai koper.

Tapi saya tidak berpikir soal koper, melainkan analoginya. Bukankah tadi saya berkata tentang koper pasangan ada dua dan yang satu jalan-jalan entah kemana? Bukankah tadi saya mengasihani koper suami? Bisa jadi rasa iba saya tadi menjadi wakil dari rasa iba banyak orang, melihat seringnya suami bersama anak-anak ditinggal saya yang pergi jalan-jalan sendiri (solo-travelling). 

Saya terdiam menggigit bibir mengikuti alur pikiran sendiri, melempar sebuah pertanyaan main-stream yang tak mudah dijawab, apakah memang demikian pandangan banyak orang melihat seorang isteri yang melakukan solo-travelling? Saya sendiri tak mampu berkata setuju maupun tidak, namun hanya bisa menyimpan pemikiran ini ke dalam hati sebagai masukan yang indah.

madinah1
Gedung-gedung di dekat Masjid Nabawi, Madinah

Dari atas bus, kami masih menunggu mereka yang belum check-out sambil menyaksikan denyut nadi kota Madinah yang kebanyakan berlalu-lalang dari dan ke Masjid. Kota yang selalu diberkahi Allah, entah kapan saya bisa kembali ke kota ini. Ah, saya pasti merindukan kota yang damai ini.

Setelah semua lengkap, bus beranjak pelan menuju hotel bintang lima untuk menjemput sebagian dari rombongan kami. Menjemput mereka yang tinggal di tempat yang lebih mahal ini, membuat saya teringat sesuatu. Meskipun mereka memilih hotel yang lebih mahal, bukan berarti mereka tak bisa menunjukkan kebaikan dan ketulusan hati. Salah seorang dari merekalah yang memberi tahu saya pertama kali untuk urusan yang amat krusial. Tempat mencari pakaian dalam!

Di Saudi Arabia, paling tidak di semua pertokoan yang saya masuki, tidak pernah terlihat perempuan yang menjaga toko. Semuanya laki-laki. Sehingga tidak mungkin saya menanyakan apakah mereka menjual pakaian dalam perempuan. Lalu, seandainya ada, bagaimana saya harus menjawab bila mereka menanyakan ukurannya? Tidak, saya memang kehilangan koper, tetapi saya tidak kehilangan kewarasan untuk mengobral hal-hal yang amat personal itu.

Lalu pertolongan itu datang dari seorang ibu yang menginap di hotel berbintang lima itu. Dia berbisik agar saya mencoba melihat-lihat di sebuah supermarket di dekat Masjid. Jika memang tidak ada, maka harus cari di mal yang untuk mencapainya perlu naik taxi. Saya percaya pertolongan itu datang dari arah mana saja. Dan benarlah, saya menemukan beberapa pakaian dalam yang cocok tanpa harus bertanya-tanya dengan laki-laki kemudian meminta suami yang membayarnya ketika berada di kasir. Selesai urusan.

Mengingat peristiwa itu, saya tersenyum mengangguk kepadanya ketika melihat mereka sekeluarga naik ke atas bus. Mata yang berbicara, sama-sama mengerti dan saling memahami satu sama lain.

Bus bergerak terus meninggalkan kota Madinah. Saya menguatkan hati dan janji untuk memenuhi panggilanMu ya Allah…

madinah2
Gedung-gedung di Kota Madinah

Dzul Hulaifah (Bir Ali) 

Dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah meninggalkan Madinah, sampailah kami di Dzul Hulaifah atau kini lebih dikenal dengan nama Masjid Bir Ali, tempat kami mengambil miqot (batas/awalan memulai ibadah utama Umroh dan mengucap niat Umroh). Pak Ustadz mengingatkan bahwa di Masjid ini selalu padat dipenuhi Jamaah sehingga jamaah harus hati-hati dan ingat arah ke titik kumpulnya.

Langit terlihat amat biru di Dzul Hulaifah, teramat kontras dengan warna putih dinding Masjid. Segera saja kami semua melaksanakan shalat sunnah 2 raka’at dan mengucap niat Umroh. Kemudian saya menunggu di titik kumpul. Sejauh mata memandang hampir semua jamaah diliputi pakaian ihram putih. Membuat berdegup saat terlintas bayangan akan manusia di padang mahsyar.

birali2
Biru Langit di atas Masjid Bir Ali

Setelah beberapa saat bus melanjutkan perjalanan lagi menuju Mekkah Al Mukarramah yang memakan waktu sekitar enam jam. Tepat sebelum berangkat Pak Ustadz mengulang mengucapkan niat Umroh yang diikuti jamaah lalu kalimat-kalimat talbiyah dikumandangkan lagi.

Saya memandang ke jalan di luar yang lebar, halus dan penuh rambu. Enam jam perjalanan dengan bus yang dilengkapi pendingin udara. Duduk di atas reclining seat dan tersedia makan serta minum. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di luar jendela terpampang alam yang kering dan tandus dengan gurun batu di sana sini membuat saya membayangkan perjalanan Rasulullah bersama para sahabat dan keluarganya empat belas abad yang lalu saat melakukan ibadah dari Madinah ke Mekkah. Dulu tak ada jalan rata yang mulus dan lebar. Tak ada kendaraan yang sejuk, bahkan tak ada bangunan batu ber-AC untuk beristirahat. Begitu sulit, begitu banyak kendala dan hambatan alam. Perjalanan hanya bisa dilakukan dengan menggunakan unta atau kuda, atau bahkan berjalan kaki. Berhari-hari, melewati malam yang kering dan siang yang amat terik.

Ya Rasul, Ya Nabi, begitu lama jaraknya, baru bisa kuikuti jejakmu…

Mekkah Al Mukarramah

Waktu terus berjalan, gelap mulai menyelimuti. Pak Ustadz bercerita banyak hal namun kemudian ia berkata, “Alhamdulillah kita telah sampai di batas kota Mekkah”.

Saya melihat perubahan pemandangan di luar jendela, karena sudah banyak bangunan yang menunjukkan sebuah kota. Lampu-lampu jalan yang terang.

Setelah beberapa menit, pak Ustadz kembali berkata,”perhatikan sebelah kiri…”

Otomatis semua jamaah menoleh ke kiri ke luar jendela. Terlihat ada yang terang dan tinggi di kegelapan malam. Pak Ustadz melanjutkan, “ke sanalah tujuan kita semua. Itulah jam yang ada di Masjidil Haram”.

Saya menggigit bibir, terasa sakit. Saya benar-benar berada di Mekkah! 

Mata tak terasa menjadi basah. Allah telah menggenapi janjiNya sehingga saya bisa sampai ke kota Mekkah setelah sekian puluh tahun hidup sebagai manusia. Saya juga menggenapi janji kepada ayah mertua untuk sampai ke Mekkah sepeninggalnya, meskipun perlu waktu bertahun-tahun. Juga janji kepada almarhum Papa bahwa saya bisa sampai ke Mekkah. Kepada almarhum Opa dan almarhumah Oma yang meneladani saya semasa kecil tentang menjalankan shalat. Dan Mama, yang telah terlebih dahulu berhaji dan menceritakan keindahan dan keajaiban Tanah Suci. Airmata saya meleleh tanpa bisa dihentikan.

Saya tak menyadari arahnya bus berjalan, karena masih terpesona dengan bayangan jam di Masjidil Haram. Tapi mendadak bus memasuki terowongan yang menutupi semua pemandangan. Rupanya rombongan yang menginap di hotel bintang lima diturunkan lebih dahulu. Keluar dari terowongan yang terlihat hanyalah manusia dimana-mana berjalan kaki. Kepadatannya melebihi apa yang saya lihat di Madinah. Luar biasa.

Dan sampailah kami di hotel, yang juga penuh dengan manusia. Tidak heran, karena bulan Desember merupakan peak season untuk melakukan umroh. Pembagian kamar dilakukan dengan cepat lalu dilanjut dengan makan malam.

Setelah makan malam itu, kami semua akan berjalan kaki menuju Baitullah.

Waktunya tiba untuk Umroh!

DSC00341
Clock Tower

 

Pilgrimage 1: Menuju Kota Cahaya


Hanya terbilang dua bulan sebelum keberangkatan, saya mengambil keputusan besar untuk melakukan perjalanan batin ke Tanah Suci, sebuah perjalanan yang selalu digadang-gadang dilakukan seawal mungkin, jika mampu, dalam kehidupan seseorang yang beragama Islam.

Meskipun terkesan mendadak, -keputusan diambil 2 bulan sebelum berangkat-, saya bisa menuliskan sejuta alasan pembenaran telah melakukan penundaan sekian lama, bertahun-tahun, bahkan berdekade-dekade. Yaa sudahlah, apapun alasan itu, akhirnya Allah SWT mengabulkan perjalanan kami berdua, -dengan sang belahan jiwa-, dalam minggu terakhir bulan Desember 2019 yang lalu. Sebagai hadiah ulang tahun saya sekaligus hadiah ulang tahun pernikahan, yang keduanya diperingati dalam bulan Desember dan berjarak hanya hitungan hari dari tanggal keberangkatan.

Dan manisnya, sejak dulu saya memang memiliki impian jika melakukan ibadah ke Tanah Suci, -umroh atau bila memungkinkan haji-, inginnya langsung ke tiga Masjid utama, Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al Aqsho, sesuai hadist

“Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsa”

(HR. Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397)”.  

Dan keinginan itu juga yang membuat perjalanan ini menjadi terbatas.

Karena suami dan saya hanya pegawai, -artinya cutinya terbatas-, pemilihan waktu untuk melakukan ibadah ke Tanah Suci itu perlu pertimbangan sendiri. Karena pertimbangan ini, akhirnya saya memilih waktu akhir tahun meskipun merupakan peak season. Paling tidak, kami meninggalkan kantor tidak terlalu lama karena ada cuti bersama, hari libur Natal dan Tahun Baru, Tapi yaaa… begitulah, karena akhir tahun, harganya lebih mahal (bangeeet!). Tapi di sisi lain, untuk ibadah kepada Allah Yang Selalu Melimpahkan Rejeki, mosok kita itung-itungan?

Selain waktu yang tidak tersedia banyak, tidak banyak juga agen perjalanan yang mau melakukan perjalanan ibadah Umroh Plus Aqsho di akhir tahun. Kalaupun ada, harganya sangat membumbung tinggi. Akhirnya, setelah memilih dan memilah, saya memutuskan menggunakan agen perjalanan MAP Tour yang berkantor pusat di Condet, Jakarta dengan mengambil paket bintang 3 untuk berdua yang harganya lebih terjangkau daripada paket bintang 5 (Bintang-bintangan ini hanya ditentukan oleh jarak ke Masjid, yang semakin tinggi bintangnya, semakin dekat jarak dengan Masjid, meskipun fasilitasnya sangat berbeda dengan standar bintang di Indonesia)

Maka pada tanggal keberangkatan…

Di Bandara, satu persatu anggota grup kami menampakkan mukanya. Hari itu dengan maskapai Malaysian Airlines, kami menuju Madinah (yang terkenal dengan sebutan Kota Cahaya) dengan transit di Kuala Lumpur. Untuk penerbangan ke Kuala Lumpur, saya mendapatkan penerbangan jam 9 pagi, dan sebagian dari grup kami mendapatkan penerbangan jam 11 pagi. Memang agak aneh grup kami terpecah dua, tetapi pihak travel beralasan karena peak season dan penerbangan ke Kuala Lumpur sangat penuh. Baiklah… kami semua belajar ikhlas karena ini adalah perjalanan ibadah.

Pagi di terminal 3 itu, tidak sedikit dari kami yang menunggu dengan cemas. Suasana di depan restoran sebagai meeting point itu sudah seperti pasar dengan begitu banyak jamaah dari berbagai travel Umroh dengan masing-masing seragamnya. Kami berbisik satu sama lain, di Jakarta saja sudah padat dengan manusia, apalagi di Mekkah… tetapi sebenarnya kecemasan kami bukan itu.

Menit demi menit berlalu, jamaah semakin banyak. Saya melirik jam tangan, tinggal satu jam sebelum lepas landas, tetapi boarding pass belum di tangan dan belum antri imigrasi. Berkali-kali saya mengintip ke arah check-in, koper-koper itu masih rapi berjajar di depan konter group check-in. Saya terus mengingat diri, ini adalah perjalanan ibadah, jadi sewajarnya untuk memperpanjang sabar. Lagi pula saya, yang biasanya solo-travelling, kali ini harus belajar melakukan perjalanan melalui agen.

Alhamdulillah, akhirnya semua tepat pada waktunya, dan kami bisa terbang ke Kuala Lumpur dan menunggu cukup lama untuk melanjutkan penerbangan lanjutan ke Madinah. Yah kan juga harus menunggu grup kami yang berangkat jam 11 dari Jakarta. Latihan sabar lagi.

KLIA1
Kuala Lumpur International Airport 1

Kecemasan berikutnya terasa ketika sudah ada panggilan untuk boarding ke pesawat lanjutan yang akan membawa kami ke Madinah, grup berikutnya belum terlihat batang hidungnya satu pun! Berkali-kali saya melihat ke arah pintu saat mengantri, mereka belum tampak juga. Akhirnya dalam hitungan menit sebelum saya memasuki badan pesawat Airbus A380 itu, tampak rombongan grup berlari-lari menuju gerbang. Alhamdulillah.

Saya terkagum memasuki pesawat Airbus A380 dua lantai yang hingga kini masih merupakan pesawat penumpang terbesar di dunia. Kelas Business Suite di lantai satu yang hanya saya lalui saja tampak menyenangkan sekali, bisa jadi dipesan oleh mereka yang berkelimpahan rejeki. Meskipun tak penting, saya mencoba mengingatnya bahwa di lantai dua pesawat ini hanya untuk kelas bisnis dan tidak ada kelas ekonomi. Entah kenyataannya seperti apa. Yang pasti, saat duduk di kelas ekonomi, saya kurang begitu nyaman karena sepertinya kursi kelas ekonomi tidak dirancang secara ergonomis untuk tubuh Asia yang lebih kecil. Kaki saya kurang bisa menjejak lantai. Atau saya yang tidak tinggi ya?

Mendapat kursi di bagian jendela untuk penerbangan selama 9 jam seharusnya menyenangkan, tetapi buat saya benar-benar membuat mati gaya. Pemandangan di luar jendela tidak menarik, sedangkan untuk menonton film rasanya malu terhadap diri sendiri karena kontradiktif dengan alunan suara otomatis yang diperdengarkan ke kabin,

Labbaik Allahumma Labbaik. Labaika Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulk. Laa Syarika Lak

Aku penuhi panggilanMu, ya Allah, aku penuhi panggilanMu. Tidak ada sekutu bagiMu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milikMu, begitu juga kerajaan adalah MilikMu. Tiada sekutu bagiMu.

Jadilah seperti itu, selama penerbangan panjang yang diselingi makan dan cemilan, jamaah menjalankan apa yang dihimbau pak Ustadz untuk meluruskan niat dan melafalkan kalimat talbiyah meskipun tidak bisa dihindari sejenak terlelap

Jam demi jam berlalu, akhirnya kota tujuan tak jauh lagi meskipun telah berbalut malam. Seruan Alhamdulillah otomatis terdengar di seluruh kabin ketika roda pesawat besar itu menyentuh landasan kota Madīnah al-Munawwarah, kota yang bercahaya. Ya Allah, Ya Rasul… dada saya dipenuhi oleh rasa haru yang begitu menggelegak, mata terasa kabur oleh airmata yang mengembang. Benarkah saya telah di Madinah?

Saya masih merasa linglung, rasanya tak menjejak tanah, tak percaya bahwa saya ada di bumi yang berabad dulu juga dijejaki Rasulullah, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Saya menggigit bibir memastikan bahwa saya sungguh memasuki bandara Madinah yang tidak terlalu luas dan juga tak terlalu padat oleh manusia. Kami benar-benar beruntung bisa mendarat langsung di Madinah karena umumnya pesawat yang mengangkut jamaah Haji atau Umroh lebih banyak mendarat di Jeddah. Tidak ada antrian imigrasi yang mengular di Madinah ini, sama sekali tidak ‘mengerikan’ seperti yang diceritakan dalam beberapa blog jika saja kita mendarat di Jeddah.

Madinah Airport
Madinah Airport

Lepas imigrasi kami menunggu di tempat pengambilan bagasi. Menit demi menit berlalu, satu per satu koper grup kami muncul tetapi bukan koper saya. Sampai akhirnya proses pengeluaran bagasi selesai, koper saya tak pernah muncul. Tentu saja saya menjadi masygul, meskipun dipendam sendiri. Entah apa rencana Allah untuk saya dengan kejadian ini. Telah berkali-kali saya mengalami ujian kehilangan barang dalam perjalanan, seperti kehilangan dompet dulu ketika di Macau, hampir kehilangan paspor di Hoi An, juga pernah carrier saya yang tak muncul di Jakarta setelah trekking di Annapurna, Nepal. Dan kini, saat akan menjalankan ibadah Umroh, saya tak memiliki baju lain kecuali yang dikenakan.

Waktu berlalu dengan cepat. Saya tak mungkin membiarkan jamaah lain menunggu koper yang tidak jelas keberadaannya itu. Sementara pak Ustadz yang sekaligus menjadi Tour Leader berkali-kali menunjukkan wajah kebingungan, dengan ikhlas saya mengusulkan kepada grup untuk segera ke hotel daripada menunggu sebuah ketidakjelasan. Saya telah ikhlas atas peristiwa koper yang tak muncul, dengan segala konsekuensinya karena meninggalkan bandara tanpa bukti pengaduan jelas tentang lost & found itu artinya sama saja tak kehilangan satu pun! Hanya saja saya melihat tidak adanya sumber daya (manusia) yang cukup di bandara itu untuk keperluan lost & found, airport handling yang tidak tertib dari agen perjalanan. Pak Ustadz dan suami akhirnya setuju untuk setiap hari ke bandara untuk mengecek keberadaan koper itu.

Meskipun telah mengikhlaskan, selama perjalanan menuju hotel, pikiran saya tetap saja bercabang. Untuk dua belas hari ke depan, saya harus membeli beberapa pakaian dan keperluan penting lainnya. Selain itu, berbelanja hanya bisa dilakukan di waktu kosong padahal jadwal acara lumayan padat. Ya Allah, saya tak tahu tempat toko yang menjual barang-barang yang saya perlukan, sebagai perempuan apakah saya aman berbelanja mengingat begitu banyaknya batasan untuk seorang perempuan di Arab.

Ada rasa cemas yang merambat ke seluruh tubuh, bersamaan dengan suara hati yang terus mengingatkan kedalaman surat Al Ikhlas, bukankah Allah SWT menjadi tempat pertama kita menyandarkan segala sesuatu, susah atau senang, sempit maupun lapang? Sepertinya saya masih harus banyak belajar…

Meskipun dari jauh, bus yang kami tumpangi sengaja berjalan perlahan ketika melewati Masjid Nabawi yang terang dipenuhi cahaya seakan-akan memberi kesempatan kepada kami untuk mengagumi. Saya tertegun melihatnya, masjid indah yang hanya bisa saya lihat dari internet, juga dari foto saudara atau kawan yang ke Tanah Suci, kini ada di depan mata saya sendiri. Ya Allah… saya hanya bisa diam, tergugu dengan mata basah penuh airmata.

Hari itu, meskipun berselang belasan abad jauhnya, saya hanya berjarak ratusan meter dari kubur Nabi, Keluarga dan sahabat-sahabatnya. Saya mendapat anugerah tak terhingga dari Allah SWT bisa sampai ke tanah yang berabad dulu juga pernah dijejak Rasulullah, udara yang berabad dulu juga pernah dihirupnya. Saya tahu, seperti Muslim yang lain juga, hati saya jatuh menjangkar kuat di Madinah. 

WelcomeNote1
Welcome Note

Bersambung…

Kala Sakit Menghampiri, Rasa Syukur Kian Menderas


Bila memang saatnya telah tiba, sehebat-hebatnya kita menjaga kesehatan, tetap saja sakit itu akan datang berkunjung. Kali ini bukan karena banyaknya penjaga kesehatan yang ditugaskan di tubuh, melainkan karena diri sendiri yang memperkenankan bahaya masuk.

Laksana kuda Troya, dengan suka hati saya menyambut begitu banyak sambal dan teman-temannya ke dalam tubuh. Dan tanpa disadari, pasukan ‘musuh’ menyerang dengan mudahnya pada saat lengah. Alhasil, tubuh dikalahkan oleh diare sehingga kekurangan cairan. Minum air dan oralit pun tidak mempan lagi, minum obat biasa pun tidak membawa perbaikan. Menyerah kalah, dengan tertatih saya pergi ke dokter setelah sekian puluh kali keluar cairan dari atas dan bawah tubuh. Dokter berkata dengan santainya bahwa untuk mengembalikan kondisi tubuh, sebaiknya dibantu dengan cairan infus, itu artinya menginap di rumah sakit. Duh!

Jadilah, namun selain kondisi perut dan isinya yang tidak nyaman, hampir tidak ada yang salah dengan kondisi tubuh lainnya. Kecuali, mungkin sedikit rasa sakit akibat infus. Dua kali obat antibiotik yang dimasukkan melalui selang infus, dua kali harus meringis menahan sakit. Tes alergi yang pedih karena dilakukan di bawah kulit terasa tidak ada apa-apanya. Bahkan di pengobatan antibiotik yang kedua, saya hanya bisa diam menggigit bibir berusaha mengalihkan rasa  pedih.

Lanjutkan membaca “Kala Sakit Menghampiri, Rasa Syukur Kian Menderas”

Mukena yang sering terabaikan


Saya baru saja melepaskan mukena (pakaian untuk shalat) ketika seseorang menyentuh bahu saya untuk bermaksud meminjamnya. Saya tersenyum padanya dan sesegera mungkin melepaskannya kemudian menyerahkannya sehingga ia bisa lebih cepat mendirikan shalat. Saya menyerahkan tempat untuknya dan mundur ke belakang.

Sambil menunggunya selesai, saya memperhatikan keadaan sekeliling. Di atas sajadah-sajadah yang terhampar, cukup banyak yang sedang mendirikan shalat dengan mengenakan mukena berbagai warna dan motif. Kebanyakan putih berhias bordir dan renda, tetapi banyak juga dengan warna-warni. Di pojok ada sejenis loker terbuka tempat menyimpan mukena, tetapi isinya kosong. Mungkin mukena yang disediakan itu sedang dipakai semua.

Karena isi loker yang kosong itulah, pikiran saya terbang kembali ke masa lalu ketika sebuah pembelajaran langsung datang menghampiri dan memukul saya dengan telak.

Lanjutkan membaca “Mukena yang sering terabaikan”