Dia Yang Berwajah Sendu


lotus
Pink Lotus

Sudah lama saya tak melihat wajahnya, dan hari ini, entah bidadari mana yang menerbangkan saya tepat di hadapannya sehingga saya bisa melihat wajahnya. Dan baru kali ini saya melihat sepenuh rasa. Mungkin dulu pernah, tetapi  bisa jadi semasa itu saya terlalu terpesona dengan keindahan wajah-wajah lain yang bertebaran dimana-mana.

Sesungguhnya ia sangat berbeda dengan bidadari yang menerbangkan saya kepadanya, dalam hal wajahnya. Bahkan mungkin, hmmm… melebihi selusin bidadari. Sejak mengenal dirinya, wajahnya memiliki sesuatu yang berbeda dari yang manusia-manusia biasa. Serupa dewata. Atau saya yang lebay? Entahlah.

Membesar bersamanya, dulu dia memiliki wajah ceria mencari kuasa. Kadang terasa sedikit kejam memaksa raga, melibas semua yang tak mampu mengikuti iramanya, mendapatkan semua yang diminta akibat sikap persistensinya dan Semesta mendukungnya.

Dan hari ini saya kembali melihat wajahnya. Terkejut saat melihatnya. Wajah yang begitu berbeda dengan wajah yang biasa saya lihat semasa remaja. Ada rasa sendu di wajahnya, di hitam matanya, di tarik nafasnya, di kedip kelopak matanya, di gerak miring kepalanya, di senyumnya.

Tetapi dia bahagia, katanya. Dan saya mencari jejak airmata di wajahnya. Bisa jadi ada, tapi saya tak mampu menemukannya.

Sepertinya dia membaca keraguan saya, sehingga dia berkata sambil tertawa, sungguh! Kepalanya kembali bergoyang indah, memastikan saya mengerti perkataannya bahwa dia bahagia. Dan pertemuan itu berlalu dengan sejuta cerita.

Dan selama perjumpaan itu, saya tetap melihat wajahnya, yang bercampur antara sendu dan bahagia. Rasa sendunya kadang mendominasi diantara tawa bahagia.

Lalu di ujung jumpa, sesaat sebelum dia menghilang membawa harum tubuhnya, dia kembali memperlihatkan sendu wajahnya. Diantara senyum  dan sentuhan tangannya, ia kembali berkata bahwa dia sungguh bahagia.

Saya ingin percaya. Sungguh, saya ingin percaya.

Dan begitu banyak ceritanya yang berdansa di benak. Teringat saat dia bicara bahwa sepanjang masa dia menerima semua duka dari manusia-manusia terdekat dalam hidupnya. Pada awalnya dia mencoba melawan dengan semangat baja. Namun yang ada semakin memporakporandakan rasa. Semakin dilawan, semakin menghancurkan. Sekali waktu datang seseorang yang mampu melengkapinya tapi hukum dunia memisahkannya. Suka atau tidak, ia harus menerimanya. Dia belajar merelakan. Setelah masa penuh airmata itu, datang seorang manusia yang mengenakan topeng wajah malaikat yang begitu jahat memanipulasi kebaikan hatinya begitu rupa hingga jatidirinya terbang entah kemana. Dan kebaikan hatinya jugalah yang membebaskan dirinya. Tetapi ceritanya belum selesai karena manusia yang kini bersamanya, mencintainya dengan caranya yang berbeda dan terus meminta kesabarannya.

Malam-malamnya sejak dulu bermahkota duka dan airmata diantara tidur dan doa-doanya. Hari-harinya berhiaskan penghakiman yang menghinakan seakan bukan lagi manusia, sungguh menghancurleburkan rasa. Namun bukan hatinya. Karena dia dihinakan, sebisanya dia melata merendah hingga orang lain tak mampu lagi merendahkannya dan bertahan untuk berdiri demi hati walau di atas duri dan api.

Terpukul, terinjak, tersakiti, terhinakan dalam waktu yang lama… tapi dia selalu bisa berdiri kembali, walau di atas duri dan api.

Demi hati.

Dia belajar banyak menggunakan wajah-wajah palsu di hadapan banyak orang namun bukan di hadapan saya.

Hati siapa? Saya tak sabar bertanya.

Dia menjawab sambil mengangkat sendu wajahnya.

Dia yang mendiami hati.

Dia yang memenuhi ruang jiwa.

Saya menjadi saksi saat ia menjawab, mata di wajahnya tak lagi menyirat sendu, kilatan bahagia terlihat mempesonakan. Saya terserap ke dalam relung jiwanya dan tak perlu lama, saya menyadarinya. Ia memang bahagia. Penuh, utuh.

Teringat semua kata yang meluncur dari bibirnya. Saya mendengar ceritanya dengan hati remuk redam. Dunia berlaku kejam padanya. Tetapi ia tak menyesal menerima semua duka demi yang mendiami hati, demi yang memenuhi ruang jiwa walau harus berdiri di atas duri dan api.

Kini airmata saya yang menderas.

Dia, manusia yang saya kenal selalu berpikir dan berbuat kebaikan dengan ikhlas, mengalami kekejian dunia. Tak hanya sekali atau dua, melainkan terus berkelanjutan. Tetapi seperti katanya, dia tak pernah sekalipun menyesal menerima semua duka dan kekejian dunia. Dia menjadi saksi, setiap satu duka, maka bertambah luas hatinya, bertambah penuh hatinya. Dan dia percaya akan sebuah kesetiaan, yang tidak akan pernah ingkar janji.

Dia percaya yang mendiami hati selalu melindunginya, memenuhi bersama pertumbuhan hatinya, karena hidupnya akan sebesar hati yang dimilikinya, sebanyak sabar yang dipinjamkan kepadanya.

Ah, semua duka, kekejian dunia yang telah ia rasa, telah mengubah matanya, gerak miring kepalanya, tarikan senyumnya, semuanya memberi nuansa sendu pada wajahnya.

Namun tak sekalipun dia menyesal memiliki wajah sendu, karena semua duka dan airmata telah meluaskan hatinya, terus memberi ruang pada hatinya, memperbesar yang mendiami hatinya. Hidupnya.

Dia memang berwajah sendu, namun dia telah memenangkan Hatinya.

Saya tak lagi bisa berkata-kata, kini saya yang iri padanya.

Live life to the fullest.

Uji Nyali di Pagi Hari Yang Indah


The Hanging Lanterns
The Hanging Lanterns

Pagi hari masih berada di atas tempat tidur di kamar yang hening sambil melihat kembali foto-foto kota kuno Hoi An yang indah dengan kerlap-kerlip lampion warna warni di kamera, rasanya menyenangkan sekali. Apalagi hari ini akan mengunjungi My Son, destinasi percandian yang sudah lama diimpikan. Nikmatnya My Me-Time yang sudah kesekian kali ini, memang membuat ketagihan karena rasanya seperti mencapai langit ketujuh, bisa merasa begitu dekat dengan Pemilik Semesta. Ketika segala topeng di wajah tak perlu dikenakan, ketika segala takut dan cemas bisa ditinggalkan di belakang, ketika airmata bisa mengalir kapan saja tanpa rasa dihakimi, ketika bahagia dan syukur bisa dilantunkan penuh pujian tanpa putus, ketika tak perlu merasa malu karena tak mampu dan masih banyak ketika-ketika lain yang semuanya satu. Sejatinya manusia.

Dan saat seperti ini, kejernihan suara hati lebih sering tampil ke permukaan. Tetapi apakah didengarkan atau diabaikan, semua itu tergantung dari situasi yang dihadapi. Juga pagi itu.

Sejak mendarat di Vietnam tak cuma sekali suara hati itu berusaha menggapai kesadaran saya untuk memeriksa cap paspor setelah melewati imigrasi Vietnam. Hanya sekedar mendengar, tetapi tidak bertindak, karena tidak ada negara baru yang didatangi sepanjang tahun 2015. Sebuah kebiasaan buruk sebenarnya, karena sebaiknya kita memeriksa paspor sendiri saat melewati imigrasi, mungkin kecuali Hong Kong dan Macau ya, karena dua tempat itu sudah tidak cap paspor lagi (Teringat dulu ketika naik KTM dari Singapura ke Malaysia saya tidak tahu bahwa paspor tidak dicap masuk oleh imigrasi Malaysia, sehingga harus gelagapan menunjukkan tiket pergi KTM, -yang untungnya masih disimpan-, di imigrasi Malaysia saat keluar untuk pulang ke Jakarta).

20160106_140824ee

Nah, saat leyeh-leyeh di tempat tidur itulah suara hati itu kembali mengguncang kesadaran dan akhirnya berhasil membuat saya ingin melihat bentuk cap dan warna imigrasi Vietnam. Artinya harus mengambil paspor yang ada di dompet hijau.

Sejak kehilangan dompet uang (dan Alhamdulillah ketemu lagi) ketika melakukan perjalanan ke Hong Kong – Macau di akhir tahun 2013 lalu, kini tersedia dua dompet yang berbeda untuk  uang dan kartu-kartu. Pengalaman itu luar biasa sekali stressnya. Bayangkan ada paspor, tetapi tidak punya cukup dana untuk seluruh keluarga untuk sampai ke tanggal pulang. Sejak itu, keberadaan dompet mendapat perhatian lebih. Dompet berwarna hijau dipakai untuk menyimpan paspor, dua kartu dan uang sehari-hari, dan dompet hitam yang tidak pernah dikeluarkan dari ransel kecuali sangat diperlukan.

Karena dompet hijau itu bisa dibilang nyawa perjalanan, maka selalu berada dalam jangkauan mata dan tangan serta biasanya diletakkan berdekatan dengan ponsel. Pagi itu dompet hijau berada di atas meja dekat kaki tempat tidur. Dengan sedikit malas, saya mengarah ke meja dan mengambil dompet hijau itu.

Segera saya buka ritsletingnya dan… Ya Tuhan… Paspor TIDAK ADA!!!

Mengedip sekali tak percaya, terlintas di benak kemungkinan paspor terselip di kantong sebelahnya… Langsung saja saya buka ritsleting satunya lagi…. TIDAK ADA JUGA!!!

Sepersekian detik kemudian, semua isi dompet hijau itu sudah berserakan di atas tempat tidur, uang, kartu kredit, kartu debit, lembar pesanan hotel dan boarding-pass penerbangan pulang, serta nota-nota tak penting lainnya… semua lengkap, KECUALI PASPOR!!! Huuuuaaaaaaaa…

PASS-E1

Ada rasa terkejut menyergap ke seluruh tubuh, lalu berusaha mengingat-ingat dimana dan kapan terakhir saya memegang paspor. Satu detik, dua detik dalam diam, meyakinkan diri untuk tidak panik. Harus bisa berpikir tenang agar dapat mengingat kronologis perjalanan.

Sambil tetap berusaha mengingat-ingat dan berusaha tenang, ransel daypack yang digunakan semalam untuk jalan keliling Hoi An, saya bongkar seluruh isinya dan sama seperti dompet hijau, isinya tertumpah semua ke tempat tidur. Tetapi si buku kecil bersampul hijau itu tetap lenyap tak terlihat.

Yang pasti, waktu hilangnya antara check-in kemarin hingga pagi ini, karena tidak mungkin tidak menyerahkan paspor saat check-in bukan?  Tetapi sejak saat itu hingga pagi ini, artinya bisa dimana saja, di ribuan tempat walau hanya di kota kuno Hoi An. Masih bersyukur bisa menentukan tempat dan waktunya sehingga ada batas yang jelas (tapi jelas atau tidak, paspor tetap lenyap…).

Teringat peristiwa tahun lalu, tepat perjalanan akhir tahun, sama seperti sekarang. Bedanya waktu itu bersama keluarga, kali ini sendirian. Waktu itu terbantu oleh dukungan orang-orang tercinta, kali ini tidak ada mereka disini. Situasinya hampir sama, kehilangan “Nyawa Perjalanan”, kalau tahun lalu seluruh dompet beserta isinya, kalau tahun ini PASPOR!

Walaupun memaksa diri untuk tetap tenang, ada sejumput rasa tegang yang naik dengan cepat ke permukaan tubuh. Hanya sejumput! Karenanya, saya cukup heran dengan diri sendiri, tidak ada kepanikan. Bisa dibilang tenang, bahkan terlalu tenang untuk ukuran masalahnya. Tetapi itu SAMA seperti tahun lalu, saat menyadari berada di negara orang dan tanpa uang, saat itu saya tenang, bahkan terlalu tenang. Apakah ini sebuah pertanda?

Ya Tuhan, ada apa lagi kali ini… Ada tarik ulur yang hebat antara logika dan rasa. Yang satu berkata harus cepat karena berlomba dengan waktu, yang satu berkata nikmatilah bersama sang waktu, yang satu bicara soal yang nyata yang lain lebih pada jiwa. Akhirnya saya menyerah, karena yang mendominasi rasa berserah. Ya, saya hanya perlu pasrah, percaya sepenuhnya padaNya bahwa semua akan baik-baik saja. Sabar dan tenang. (Walau tak bisa dibohongi, rasa panik mulai naik menyerang ketenangan itu…)

Bagaimana bisa tenang…???

Tetapi kesadaran saya masih berfungsi baik. Kepanikan yang tidak perlu harus diatasi sebelum menjadi liar. Panik tidak akan menyelesaikan masalah. Harus ada solusi. Jadi what’s next? First thing first!

Mandi!

Ternyata tenang itu memang bermanfaat. Asli, saya bisa meletakkan masalah kehilangan itu di depan pintu kamar mandi lalu berpikir dan menetapkan langkah berikutnya secara detail sambil browsing yang diperlukan selama duduk di kloset. Yang pasti, harus kerjasama dengan pihak hotel terutama ketika berhubungan dengan pihak berwenang (polisi setempat), lalu menapak tilas rute semalam dalam satu jam karena siapa tahu ada yang berbaik hati mengembalikan paspor, lalu mengurus surat kehilangan dipastikan harus selesai hari itu, kemudian terbang ke Hanoi untuk langsung mengurus ke KBRI (karena hari itu adalah hari Jumat) dan ucapkan selamat tinggal pada liburan karena tentu saja harus langsung pulang setelah mengurus SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor). Untunglah semua dokumen penting sudah disimpan ke cloud, jadi tinggal dicetak. Tak boleh lupa harus menyediakan dana untuk hidup di Hanoi. Ketika permasalahan sudah diidentifikasi batas-batasnya, rasanya semakin tenang. Kalau pun ada rasa tidak nyaman, harusnya normal, karena berpergian dengan satu kondisi yang tidak menyenangkan. Tetapi selalu ada alasan positif kan? Bukankah saya belum pernah ke Hanoi? Pemikiran itu membuat saya mandi dengan nyaman dan sempat keramas dulu walau lebih cepat dari biasanya, hehehe…

Barang-barang telah rapi tetapi sebelum ke lobby untuk melakukan langkah pertama, saya sisihkan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia Pemilik Semesta. Dan setelah kewajiban selesai, saya masih bersimpuh dalam diam, tak terasa airmata jatuh. Hanya ada satu kata. Pasrah. Menerima yang harus dijalani, karena saya sedang diuji. Tepat seperti tahun lalu, Desember yang sama, seakan diminta untuk Percaya, untuk Yakin, untuk Sabar akan pertolonganNya.

Satu airmata jatuh lagi, bukan karena sedih, melainkan merasa tak berdaya dengan serupanya ujian dalam selang waktu tepat satu tahun.

Namun di balik rasa tak berdaya, entah kenapa terasa bahwa Dia Yang Maha Kuasa sedang menyelipkan rasa bahagia. Saya mengenalinya melalui ketenangan itu. Setahun lalu dengan ketenangan yang sama. Tidak ada yang hilang, Dia menyimpannya dan saya harus Percaya dan Sabar. Itu saja.

Pasrah. Percaya dan Sabar. Help is on the way…

Tersentak karena tiba-tiba terlintas di benak pengalaman serupa untuk bergantung sepenuhnya padaNya, -percaya dan sabar-, ketika kehilangan arah dan kemalaman di tengah-tengah Gayasan National Park di Korea Selatan dulu… (Klik disini untuk baca ceritanya)

Bismillah.

Tetapi dasar manusia. Walaupun diupayakan tenang, kecemasan dan kepanikan mulai menghajar diri sepanjang langkah menuju lobby. Bagaimana kalau benar-benar harus ke Hanoi? Bisakah mengingat rute semalam? Bagaimana kalau nanti… Bagaimana kalau…dan banyak lagi ‘bagaimana’

Sampai di depan konter hotel, lagi-lagi saya terdiam sebentar menarik nafas sementara petugas laki-laki berwajah ramah itu tersenyum menyapa dengan standar layanan lalu menunggu.

Mmm… err…. (mulai panik)…. Hmm… I think… (bingung mau mulai dari mana dan bagaimana) I think… hmm… my passport is lost… perhaps it fell somewhere on the ancient city last night…

Dia mendengarkan seksama dan terkejut. Matanya membelalak.

“Do you mean, hmmm… err… lost? Your passport is lost?”

Saya mengangguk pasrah. Ya Tuhan… tolong saya…

Tiba-tiba petugas hotel itu diam, tampak terpikir sesuatu.

“Hold on… wait… wait… It’s lost … or we still keep it”, nada kalimatnya bertanya, mungkin ke diri sendiri.

WHAAAT??? – Tentu saja ekspresi dengan tiga tanda tanya ini hanya ada di pikiran.

Petugas hotel itu berbalik badan dan dengan cepat dia memeriksa dokumen-dokumen di balik konter dan mengambil satu folder plastik transparan. Sedetik kemudian, dia membalik dan mengangkat folder plastik tadi ke hadapannya.

Dia tak perlu membukanya karena terlihat si buku kecil berwarna hijau kebiruan di folder plastik itu!

“Yessss…that’s my passport!!!”, teriakan saya cetar membahana. Dua wajah tersenyum lebar.

20160113_071709E1

Dalam sekejap mata sekujur badan rasanya disiram air dingin. Hati yang cemas, langsung hilang. (Lagi-lagi teringat rasa yang sama setahun lalu, ketika suara di ujung telepon mengatakan bahwa dia menemukan sebuah dompet hitam di depan konternya). Rasa dingin yang mengguyur, sama rasa, tak beda.

Jadiiiii…. Selama ini mereka belum mengembalikan? Mereka menyimpannya. Mengapa tidak mengatakannya? (Lalu mengapa saya tak ingat paspor belum dikembalikan? Sedetik kemudian teringat kembali saat check-in, ada dua petugas yang melayani, -yang memberikan welcome drink dan merekomendasikan rencana tur serta yang melakukan registrasi-, berada di dua meja yang berbeda. A distraction!

Walau tak ada maaf telah memisahkan paspor dengan pemiliknya, petugas hotel itu segera menyerahkan paspor yang tentu saja diterima dengan bahagia luar biasa. Saya ciumi buku kecil itu dan ditempelkan ke dada seakan kekasih yang tak boleh lepas lagi. Sekujur tubuh tersenyum penuh rasa syukur yang tak henti. Bayangan kesulitan menghadapi polisi dan keterpaksaan terbang ke Hanoi langsung memudar dan berganti dengan gambar candi-candi kerajaan Champa di My Son. Ah, liburan kini bisa dilanjutkan lagi. Tubuh bergegas untuk sarapan yang tadinya hampir saja dilewatkan.

Sekali lagi saya diberikan kesempatan merasakan Cinta yang luar biasa, begitu lengkap, begitu dekat dan tak terbandingkan, tak terdefinisikan… I am so blessed.

Hadiah Cinta di Kuta Bali


Howdy? Masih tetap baik kan hari ini? Ya, lagi-lagi rasa syukur kita limpahkan kepada Sang Pemilik Alam, atas seluruh berkah yang sudah kita dapatkan hingga kini… Kita ketemu lagi di sini dan kali ini saya ingin cerita sedikit ketika berada di Bali…

 

Saya menyusuri jalan Poppies 2 menuju pantai, dan bertemu banyak wisatawan dengan pakaian khas pantai, celana pendek dan kaos. Kaki saya melangkah terus hingga mencapai pasir Pantai Kuta. Inilah Kuta di sore hari menjelang sunset. Penuhnya luar biasa.

Tak ada tikar, tas seadanya pun bisa jadi alas duduk. Tidak apa-apalah sedikit kotor, yang penting pemandangan cantik matahari tenggelam langsung terhampar di hadapan. Baru saja mulai mengamati keadaan sekitar, ponsel saya berdering dan harus terlibat dalam komunikasi itu selama 10 menit. Dan saat itulah serangan mulai terjadi….

Salah seorang dari mereka, seorang ibu, mendatangi saya dan tidak seperti lainnya, dia tidak mau pergi hanya karena melihat saya sedang menelepon. Ia hanya duduk bersimpuh di hadapan dan saya tidak menggubrisnya. Saya sudah mengangkat tangan sebagai tanda tidak berkenan, tetapi dia tetap di tempatnya. Oleh karena saya harus berfokus pada lawan bicara di telepon, sungguh saat itu dia harus terabaikan. Menjelang akhir pembicaraan, karena dia masih ada di hadapan, saya mengerti saya sedang maju ke pertandingan cinta.

Lanjutkan membaca “Hadiah Cinta di Kuta Bali”