Keikhlasan Dalam Lemari Kaca di Sudut Sepi Pagoda


Pagoda Phaung Daw Oo memang terkenal di Danau Inle, Myanmar. Hampir semua turis yang menyempatkan diri mengelilingi Danau Inle, biasanya berhenti di Pagoda ini. Termasuk saya, yang tidak hanya mengunjungi Pagoda  pinggir danau yang hingga kini menyimpan 5 buah Buddha Image berlapis emas, tetapi juga sempat-sempatnya mengambil uang melalui ATM di sini (kebayang kan, di Myanmar, lalu kota  pinggir danau itu hanya kota kecil, dan untuk sampai ke Pagoda harus menyeberangi danau besar itu sampai ke desa, nah itu lokasi ATM-nya!)

DSC08379
Phaung Daw Oo Pagoda, Inle Lake, Myanmar

Ketika hampir semua pengunjung berada di tengah Pagoda yang menyimpan Buddha Image dalam bentuk batu berlapis emas gold leaf yang ditempelkan oleh para pria, saya malah melipir ke sisi yang sepi dan agak remang setelah selesai mengelilingi bagian tengah. Para pengunjung, -lebih banyak yang beribadah daripada sekedar berkunjung seperti saya-, tampak memusatkan pandangan ke lima buah batu lapis emas yang dipercaya sebagai Buddha Image, yang bagi saya pribadi bentuknya seperti kanak-kanak yang menggemaskan dan lucu (maaf). Baru di tempat ini saya melihat Buddha Image yang berbeda, sama sekali tidak sama dengan Buddha Image yang umumnya duduk bersila, berdiri, berjalan atau berbaring.

Tapi ada hal yang menarik lainnya di Pagoda ini…

Di sudut sepi yang saya datangi ini terdapat sebuah lemari kaca yang kelihatannya tak menarik dan sedikit kusam. Namun ketika saya mendekat untuk melihat lebih jelas ke dalamnya, mengamati isi di balik kacanya, saya terperanjat. Oh, lemari berkaca kusam itu berisikan uang dan perhiasan.

Lemari penyimpan uang-uang dan perhiasan persembahan dari pengunjung di seluruh dunia.

Ada juga uang Thailand sebesar 20 Bath, dan di baliknya ada lembar US Dollar sebesar $100! Di sekitarnya ada uang Korea sebesar 1000 Won, juga lembar uang Vietnam sebesar 50.000 Dong, lembar Euro yang tidak terlihat nominalnya, uang Afrika, dan tentu saja lembaran-lembaran uang Myanmar dengan nominal 100, 200 dan 500.

Saya juga melihat kalung mutiara, cincin batu permata, perhiasan telinga dan jam tangan serta nota-nota pengantar semua benda dan uang itu. Ah, indah sekali.

DSC08388
Money from the World
DSC08387
Different Bank Notes

Dan ada uang Rupiah! Wow!

Saya sempat melihat lembaran Rp. 1.000,- dan lembaran Rp. 20.000,- Bisa jadi, pengunjung yang melihat akan berpikir, betapa orang Indonesia itu kaya dan baik hati, mau mendonasikan uangnya dengan nilai yang sangat besar, yang angka nolnya berbaris panjang.

Tetapi entah bagaimana, tiba-tiba saya merasa dicubit dari dalam diri. Ini adalah lemari persembahan! Jangan dilihat dari nilai nominalnya, bukan kuantitasnya, bukan banyaknya, bukan nilai duniawinya… melainkan apa yang ada di balik semuanya.

Keikhlasan.

Tersadarkan bahwa saya sama sekali tak boleh menilai atas apapun yang ada di dalam lemari kaca itu. Sepotong berlian atau batu permata terindah sekalipun, atau uang atau benda tua yang paling lusuh yang dipersembahkan kepadaNya, hanya Dia yang memiliki keputusan bernilai atau tidak, dan bukan atas benda-bendanya

Apa jadinya bila benda-benda itu diselimuti dengan kesombongan ‘ingin diperlihatkan’ atau ‘ingin terlihat berbeda’ terhadap manusia lain oleh orang yang memberikan? Lalu apa jadinya, bila benda itu merupakan satu-satunya yang dimiliki oleh pemberinya dan dipersembahkan laksana jiwanya sendiri  yang dipersembahkan kepadaNya?

Your greatness is not what you have, it’s what you give

Namun, bukankah benda-benda material itu bersifat relatif bagi manusia satu dengan manusia yang lainnya? Selembar uang atau sebentuk perhiasan bagi seseorang bisa begitu sangat berharga, namun bagi orang lainnya mungkin hanya sekedar lewat untuk sesuatu hal yang tidak bermanfaat. Dan ketika benda-benda material itu dijadikan pemberian, apalagi sebagai sebuah persembahan, sesungguhnya ada hal yang menyelimuti pemberian itu.

Dan sesungguhnya kita sama sekali tidak memiliki kewenangan untuk menilai hubungan manusia lain dengan TuhanNya.

***


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-26 ini bertema Money agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Ke Myanmar Lagi Setelah Tujuh Tahun


Saat roda pesawat menyentuh mulus landasan bandara Internasional Yangon, saya menarik nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rasanya tak percaya bahwa setelah 7 tahun akhirnya saya kembali lagi ke Myanmar, negeri yang terkenal dengan sebutan The Golden Land. Bandara yang dulu terkesan tak ramah dan seram, kini bagai perempuan cantik yang menarik hati dengan begitu banyak toko-toko merek Internasional.

Jika 7 tahun lalu saya harus datang menggunakan visa, kini sebagai pemegang paspor Indonesia, saya bisa melenggang dengan visa exemption dari Pemerintahan Myanmar. Jika dulu saya ketar-ketir dengan kecukupan bank notes US Dollar terbaru yang harus licin yang saya bawa karena ATM internasional tidak ada, kini saya bisa menarik uang kyat melalui ATM, bahkan sampai di tempat terpencil pun ada ATM! Jika dulu sinyal ponsel lebih banyak hilang, kini saya bisa terus exist dimana-mana hingga ke tempat terpencil. Dan yang paling membahagiakan, jika dulu saya hanya mendapat sedikit hotel yang bisa dibooking online kini Myanmar tak beda dengan Negara-negara lainnya. Jika dulu saya bingung untuk bisa booking pesawat domestik di Myanmar, kini saya memiliki kemudahan untuk memilih transportasi bus atau pesawat untuk pindah kota. Tujuh tahun untuk keterbukaan sebuah Negara, perubahan ini patut diacungi jempol.

Kemudahan itu juga termasuk pemesanan tiket bus sehingga saya bisa dengan cepat dari bandara ke stasiun bus dan langsung menuju Kinpun, desa terdekat untuk sampai ke Golden Rock. Saya telah menghitung waktu perjalanan bahwa saya bisa mencapai Golden Rock sebelum sunset dan betapa membahagiakan saya bisa mendapatkan sunset yang indah di Golden Rock! Bahkan keesokan harinya saya juga bisa mendapatkan pemandangan indah perbukitan yang berlapis-lapis ditimpa sinar mentari pagi.

DSC07452
Sunset at Golden Rock, Myanmar

Perjalanan saya pagi itu berlanjut ke kota kecil Hpa’an di Kayin State dengan menggunakan bus dan sempat berkenalan dengan penduduk lokal seperjalanan bus. Mereka dengan ramahnya dan dengan bahasa Inggeris yang fasih menunjukkan tempat saya harus turun agar tak jauh berjalan kaki dari hostel saya menginap. Membahagiakan sekali rasanya mendapatkan bantuan dari mereka.

Di hostel kecil di Hpa’an itu, lagi-lagi saya mendapatkan kemudahan. Setelah rehat sejenak di kamar hostel yang ber-AC sambil menunggu meredupnya terik mentari, saya berkeliling tempat-tempat wisata di Hpa’an dengan motortaxi. Hpa’an, kota kecil pinggir sungai Than Lyin yang berada di kawasan perbukitan karst memang merupakan surga bagi penggemar wisata gua. Karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat mengunjungi Gua Kaw Gon yang luar biasa cantik karena dipenuhi dengan tatahan ribuan Buddha kecil di sepanjang dinding dan atap gua, juga Gua Yathae Pyan yang banyak stalaktit dan stalagmit, Gua Kaw Ka Thaung yang menyimpan relik Buddha dan tentunya gua terbesar Mahar Saddan yang terkenal dengan stalagtit dan stalagmitnya dan berujung pada danau kecil di ujung keluarnya. Bahkan di hari pertama saya sempat mengunjungi sebuah monastery berpemandangan indah pada saat senja. Refleksi monastery dan perbukitannya terlihat sangat menawan di danau kecil.

Perjalanan selanjutnya menuju kota Mawlamyine atau dulu dikenal dengan Moulmein, di Mon State, yang mengharubiru rasa. Sesungguhnya perjalanan ke Mawlamyine inilah yang membuat saya kembali ke Myanmar setelah tujuh tahun. Dengan apapun saya akan menempuhnya, saya akan sampai pada Mawlamyine meskipun hal ini tidak akan mudah.

Sebuah perjalanan menapak tilas tidak akan pernah mudah karena dipenuhi kenangan dan cinta. Setiap langkah saya seperti melepaskan helai bunga doa untuknya. Meskipun menginap di tempat terbaik di kota ini, saya tahu akan berteman dengan airmata dan menghabiskan waktu berbicara dengan jiwa.

Namun jiwa pejalannya yang ada pada saya mengajak melangkah ke tempat-tempat baru. Di kota ini saya melihat bagaimana Myanmar berusaha memiliki bangunan Buddha Tidur terbesar di dunia (meskipun kini dikalahkan oleh China yang mengubah bukit menjadi Sleeping Buddha). Bangunan Buddha Tidur yang saya lihat ini juga masih dalam tahap pembangunan, entah kapan selesainya.

DSC08118
Win Sein Taw Ya Pagoda, Mawlamyine, Myanmar

Selepasnya, saya diajak oleh sopir tuktuk untuk mengunjungi beberapa masjid, termasuk menyempatkan ziarah kubur kepada seorang ulama yang dimakamkan disana. Pengalaman mengunjungi perkampungan muslim dengan melihat beberapa masjid di kota Mawlamyine melengkapi keindahan hari saya. Seakan saya dibukakan mata bahwa saya tidak boleh menyamaratakan keadaan Muslim di Myanmar. Di kota ini, di Negara bagian Mon ini, toleransi antar agama berjalan dengan sangat baik. Buktinya amat jelas, saat berjalan kaki di pagi hari, saya mendapati tiga masjid yang tak berjauhan lokasinya. Bahkan belakangan saya menyesal, karena tahu disana ada lebih banyak masjid daripada rumah ibadah lain, yang tidak sempat saya lihat.

Bagaimanapun perjalanan harus dilanjutkan, pada malam harinya saya kembali ke Yangon dengan menggunakan bus malam yang menyimpan cerita untuk bersikap berani di baliknya. Kota Yangon dengan segala kebaikan dan keburukannya, tidak jauh beda dengan Jakarta, kota tempat saya dibesarkan dan hidup didalamnya. Sebagai perempuan yang pergi sendiri, antenna kewaspadaan saya harus terus berfungsi dengan baik, kelengahan sedikit saja bisa berakibat tak baik. Meskipun diatas segalanya, Dia Yang Maha Melindungi yang menjaga saya selamanya.

Hari itu, kota Yangon bukan menjadi kota destinasi, melainkan kota transit karena saya harus terbang ke Heho untuk sampai ke Danau Inle yang terkenal. Tujuh tahun lalu, saya tidak sempat ke Danau Inle dan tahun ini, Inle menjadi tujuan destinasi saya untuk menikmati liburan kali ini. Benar-benar beristirahat.

Dua malam saya habiskan di Danau Inle untuk berleha-leha dan berwisata sekitar danau, ke tempat-tempat pembuatan kain, tempat pembuatan perahu, tempat kerajinan tangan dan lain-lain. Bahkan di tempat itu, yang jauh dari kota, saya sempat menarik ATM. Ah, Myanmar memang sekarang lebih mudah.

DSC08571
Inle Lake one-leg rowing fisherman during Sunset

Menikmati sunrise dan sunset di Danau Inle merupakan pengalaman indah yang saya alami. Bagaimana mungkin saya mengabaikan nelayan-nelayan yang mencari ikan di danau dengan mendayung memakai satu kakinya? Bagaimana mungkin saya mengabaikan bunga-bunga matahari dan lotus yang terhampar dan mekar dengan indahnya di pinggiran danau? Keindahan luar biasa Danau Inle membuat saya berjanji akan mendatangi lagi suatu saat nanti.

Meskipun beristirahat total, -ini cara mengisi liburan saya yang sangat berbeda dari biasanya-, tetap saja ada satu tempat yang membangkitkan semangat. Dengan melakukan perjalanan sekitar 1 jam dengan perahu, saya sampai pada reruntuhan bangunan dari Abad ke-11. Meskipun terpapar terik matahari dan sedikit mendaki, saya bisa menikmati kawasan Bagan dalam ukuran mini.

Perjalanan saya di Myanmar mendekati akhir. Saya harus kembali ke Yangon, dengan berkendara bus selama 11 jam. Sebuah perjalanan panjang yang menghabiskan hari, namun bagi saya tetap saja ada kisah-kisah menyenangkan dan menghangatkan hati melalui sentuhan hati dengan orang-orang lokal yang baik dan ramah.

Malam terakhir di Yangon, dalam keadaan badan yang lelah, justru saya mendapat pengalaman ‘perkenalan’ sampai akhirnya saya minta penggantian kamar. Meskipun saya tidak mau berpikir aneh-aneh, tetapi demi istirahat enak, lebih baik saya pindah ke kamar lain. Bukankah mengganggu bila lampu tiba-tiba meredup lalu terang kembali dan berulang serta bunyi-bunyian keras tanpa alasan yang jelas?

Tetapi bagaimana mungkin saya meninggalkan Yangon tanpa mampir ke Shwedagon yang megah? Dan tetap saja beberapa jam disana sudah mampu memberi sentuhan hangat ke dalam jiwa, sampai akhirnya waktu juga yang memaksa saya meninggalkan Yangon.

Setelah tujuh tahun, Myanmar telah banyak berdandan cantik disana-sini menyambut tamu-tamu yang semakin banyak berdatangan. Meskipun kali ini saya mendatangi tempat-tempat yang belum saya datangi sebelumnya, -kecuali Yangon-, saya merasakan sekali perubahan kearah yang lebih baik itu, dan tentu saja sangat menggembirakan.

Ah, karena post ini merupakan rangkuman perjalanan, doakan saja saya bisa menulis perjalanan seru waktu disana ya. Siapa yang baru-baru ini ke Myanmar juga? Boleh dong cerita-cerita… 🙂