Ketika Damai Menghampiri Abhaya Giri


Lebaran tahun lalu kami menyempatkan diri menginap satu malam di sebuah peristirahatan yang berada di puncak perbukitan Jogja. Sebuah tempat yang memang menjadi bucket list saya, setelah pernah melewatinya sepulang dari penjelajahan candi di sekitaran Ratu Boko (saat melewatinya, saya langsung mengetahui one day saya harus sampai di sini)

The Abhaya Giri

Keinginan itu terwujud saat akhirnya GPS membawa saya ke gerbang yang sama di ketinggian hampir 200 mdpl itu. Lalu saat beberapa tas diturunkan dari kendaraan, seorang petugas tergopoh-gopoh mendekati dan bertanya menanyakan dengan keramahan yang tak dibuat-buat. Ia melihat tas-tas itu dan berasumsi akan menginap yang tentu saja kami benarkan. Lalu sambil memohon maaf dia menjelaskan bahwa akses kendaraan ke hotel masih terpisah dan jika kami berkenan, dia akan menunjukkan jalannya. Tentu saja kami tidak keberatan, sehingga tas-tas dimuat kembali dan melalui jalan yang sedikit memutar kami sampai di depan pintu hotel.

Penerimaan yang cepat dan ramah. Saya suka!

Tak perlu lama kami telah berada di kamar pesanan yang berhias batik Truntum (simbol cinta yang tulus) dengan pintu dan jendela kaca menghadap taman belakang yang penuh bunga. Tak menyesal saya memesannya meski untuk melihat pemandangan alam dan gunung harus berjalan sedikit. Ternyata hanya dengan jalan kaki selemparan batu kami telah sampai lagi di restoran tempat kami berhenti pertama kali tadi.

Hanya saja, sore itu kami tak beruntung mendapatkan sunset karena seluruh wilayah pandang penuh dengan awan. Tak mengapa, karena ada aura romantis memenuhi suasana restoran yang berada di luar ruang. Kelip-kelip kota Jogja mulai menampakkan keindahannya.

Abhaya Giri view

Mungkin bagi pasangan yang sedang jatuh cinta, santap malam di sini akan melimpahkan banyak kenangan, namun bagi kami sekeluarga yang menjadikan makan malam merupakan sebuah festival urusan perut 🙂 , suasana remang dari cahaya lilin tak banyak membantu. Makanan tak terlihat jelas sehingga berulang kali kami mendekatkan muka ke hidangan yang tersaji di meja. Salah makan cabe kan bisa berabe.


Abhaya Giri At night

Abhaya Giri, memang biasa menjadi opsi melepas penat karena ada teras atau jalan panggung buatan diapit sawah berlampu hias yang cantik. Instagrammable, apalagi di latar belakang dipenuhi kelap-kelip lampu kota, ketika malam datang.

Siang hari pun, -apalagi pagi hari-, pemandangannya tak kalah indah. Sebagian puncak bangunan candi terkenal di Indonesia, Candi Prambanan dan juga candi Sojiwan, terlihat di hamparan, membuat saya benar-benar terpikat. Apalagi, -sebagai penggemar candi dan kuil-, di halaman dalam dari Abhaya Giri juga terdapat Candi Sumberwatu, candi Buddhist yang berbentuk stupa dan mengalami proses restorasi bersamaan dengan pendirian restoran Abhaya Giri.

Pengelola resort memang memanjakan tamu-tamunya agar memiliki kenangan yang indah di Abhaya Giri, baik yang menginap maupun yang bersantap di restoran. Terlihat satu set wayang punakawan sebagai hiasan pada teras untuk memperkuat nilai budaya dan rasa heritage di tempat ini. Semuanya terasa saling melengkapi. Tak jauh dari situ, resort juga menyediakan pakaian tradisional untuk memanah. Menarik kan?

Kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di halaman resort menikmati malam, bahkan di lobby hotel pun disediakan permainan tradisional congklak dan permainan lainnya.

Lelah melakukan perjalanan jauh membuat kami semua terlelap begitu kepala menempel di bantal yang empuk. Bagaimanapun, kenyamanan tidur merupakan nilai yang paling utama pada sebuah peristirahatan. Meskipun hingga saya menginap saat itu, Abhaya Giri belum banyak membuka kamar untuk menginap.


Pagi yang merekah itu membuat saya bergegas keluar untuk berjalan pagi. Karena saat-saat matahari terbit alam melimpahkan berjuta keindahan.

Menjejak jalan kecil yang ditata manis dengan bunga di kiri kanan, saya kembali menuju teras utama.

Sebuah batu vulkanik besar hasil letusan dari Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu diangkut lalu diletakkan di tengah di antara meja makan outdoor. Sebuah plakat peresmian bertandatangan Sultan terlihat di batu besar ini.

From the Pendopo
A beautiful Morning at Abhaya Giri

Pemandangan dari teras atas terasa menenangkan jiwa, di kejauhan Gunung Merapi dengan puncaknya yang tinggi tampak menghias latar belakang, kemudian bangunan utama Candi Prambanan terlihat menarik perhatian, dan hamparan sawah dengan puncak khas dari Candi Sojiwan dan menara masjid yang berdekatan seakan mengingatkan bahwa telah lama kehidupan beragama yang rukun dan penuh toleransi terjadi di bumi Indonesia. Dan semoga demikian juga seterusnya…

Sinar lembut mentari pagi yang baru saja terbit menerpa Candi Sumberwatu yang berbentuk Stupa, yang mungkin bagi sebagian orang yang tak tahu, stupa itu dianggap sebagai sebuah hiasan belaka.

Sunrise at Sumberwatu Temple

Siapa yang menyadari bahwa hingga tahun 2012, Candi Sumberwatu, -dipercaya berdiri pada tahun 700 M-, masih berupa onggokan reruntuhan yang terlupakan? Siapa yang sangka setahun kemudian reruntuhan itu bisa direstorasi hingga berdiri dengan anggun di tempatnya sekarang?

Sejak dulu oleh warga sekitar, sebenarnya Candi Sumberwatu dikenal dengan nama Sumur Bandung, yang merujuk pada tokoh antagonis dalam legenda Roro Jonggrang yaitu Bandung Bondowoso. Legenda ini begitu terkenal di Indonesia, paling tidak versi singkatnya pernah saya tulis di tulisan Mengintip Puncak Merapi dari Balik Legenda Candi Sewu.

Dalam struktur sebuah candi, biasanya terdapat bagian sumuran yang terletak di dalam lapisan kaki candi bagian tengah yang biasanya terbuka bila candi runtuh, termasuk juga Candi Sumberwatu. Di dasar sumuran ini biasanya para arkeolog akan mencari kotak peripih yang umumnya berisi prasasti tentang keberadaan candi. Dari sumuran ini pun Candi Sumberwatu lebih dikenal sebagai Sumur Bandung oleh masyarakat sekitarnya.

Dan seperti lingkungan tempat ibadah Buddha lainnya, tak jauh dari Stupa utama, terdapat kolam yang berisi bunga teratai warna-warni. Sebuah bunga yang menjadi simbol filosofi kehidupan. Jadilah seperti lotus, yang percaya pada Cahaya, yang mampu tumbuh melalui kepekatan lumpur dan percaya pada sebuah awal baru yang indah. Tanpa kehadiran manusia lain di sekitarnya, suasana terasa hening dan damai. Suasana yang serupa ketika saya berada di sebuah kuil. Tiba-tiba saya merindukan bunyi genta yang biasa melengkapi sebuah kehidupan kuil.

Lotus flowes near The Stupa

Tak jauh dari tempat saya berdiri, pengelola resort membuatkan sebuah teater terbuka dengan Candi Sumberwatu sebagai pusatnya. Melihat tempat duduk berundak itu, tidak bisa tidak saya teringat akan teater terbuka gaya Romawi dan langsung membayangkan sebuah pertunjukan kolosal yang luar biasa. Alangkah indahnya bila terselenggara di Abhaya Giri itu. Setidak-tidaknya sebuah resepsi pernikahan yang intim, dengan pengantin yang membaur di antara para undangan yang saling mengenal. Mungkin akan seindah penyelenggaraan sebuah pertunjukan sendratari tradisional.

Saya berhenti sejenak pada tangga yang menuju sebuah pendopo berupa rumah Joglo. Bisa jadi pendopo ini menjadi pusat bila sebuah acara dalam ruang diselenggarakan. Sebuah gebyok panjang yang teramat cantik menghias latar pendopo lengkap dengan ukiran rumit yang menunjukkan ketelatenan perajinnya. Pernah membaca soal gebyok ini? Jika belum, coba klik Pintu Gebyok Yang Tertutup

Meninggalkan Pendopo, kaki saya membawa kembali ke arah teras utama. Sebuah jalan buatan yang diapit oleh sawah yang ditanami padi. Satu dua manusia pagi telah berdiri di sana, mencuri suasana yang hanya hadir beberapa saat setelah matahari terbit. Mereka dan saya, sama-sama memahami, suasana seperti itu hanya sebuah privilege manusia yang bersedia bangun lebih pagi dan bisa menikmatinya dalam hening. Sebuah anugerah hari yang baru.

Kali ini pemandangan yang sama terasa lebih hangat. Mungkin karena sinar mentari pagi baru saja menerpa permukaan bumi. Gunung Merapi masih malu-malu berselimut kabut. Tak ada yang lebih indah daripada menikmati pemandangan gunung dan hamparan sawah serta candi-candi kuno di pagi hari, saat sinar matahari memantulkan cahaya hangat. Pemandangan khas di bumi Indonesia sejak jaman dulu kala.

The wisdom of Humility

Bunga keladi yang merunduk di antara pohon-pohon semak menarik perhatian untuk diabadikan. Beberapa langkah dari situ, sepetak sawah kecil berisikan padi yang menguning. Saya mendekat ke tanaman yang hasilnya bisa menguasai perut manusia Indonesia itu. Terpesona saya mengamati buliran padi yang merunduk. Langsung saja terlintas sebuah ajaran lama dari para leluhur. Ilmu padi, sebuah pemahaman yang teramat dalam tentang kerendahhatian. Di sini, di Abhaya Giri yang menghamparkan kedamaian, alam telah melimpahkan nasehat kehidupan.

Kaki saya melangkah lebih jauh, kini lebih ke Timur, ke arah kolam renang yang dikelilingi oleh rimbunnya pagar tanaman yang tertata indah. Hanya pengunjung restoran yang memiliki mata jeli yang akan memilih duduk dengan pemandangan indah kolam renang yang memantulkan warna biru ini. Bahkan dari tempat ini pun, Gunung Merapi pun masih bisa terlihat.

The Swimming pool
A Koi pond

Waktu berjalan terus, satu persatu pengunjung hotel terlihat memasuki restoran untuk sarapan pagi. Celoteh manusia makin sering terdengar memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti resort itu. Saya melipir ke arah kolam ikan yang bergemericik dengan ikan-ikan yang bergerak hilir mudik memulai kehidupannya.

Pelan-pelan saya melangkah kembali ke arah kamar dan berhenti sejenak di ayunan dengan pemandangan gunung. Pagi telah merangkak naik, hari baru telah dimulai, kesibukan menyambut rejeki telah menghampiri, tetapi rasa damai tetap mengisi hati.

Garden view of the resort’s room

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-43 bertema Indonesia agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Pintu Gebyok Yang Tertutup


Lebaran tahun lalu, saya sempat menginap di sebuah resort bernama Sumber Watu Heritage, di Kecamatan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat yang mungkin lebih dikenal orang sebagai tempat makan dengan nama Abhaya Giri itu memang cukup menguras kantong, namun worth it karena bisa memiliki akses ke seluruh tempat seharian termasuk saat sunset, ketika malam, ketika sunrise dan ketika pagi hari, yang semuanya agak susah didapat jika kita hanya berkunjung ke restoran untuk makan.

Saat jalan pagi, saya berhenti di pendopo utama yang berbentuk rumah joglo. Di dalamnya di sisi selatan terhampar sebuah gebyok yang panjangnya sekitar 8 meter. Langsung saja saya teringat jaman dulu saat mencari dekorasi pelaminan untuk pernikahan saya dan suami. Semakin panjang dan semakin bagus gebyoknya artinya semakin mahal padahal budget kami sangat terbatas.

The GebyokNotice the old style of the tiles, the jars and Loro Blonyo

Saya memutar pandangan seantero rumah joglo itu. Sepertinya area ini biasa menjadi area pelaminan dengan para tamu undangan yang hadir akan menempati kursi-kursi yang melingkari meja yang tersebar di satu level di bawahnya untuk makan. Entah kenapa, berdiri di situ seakan-akan saya mendengar tabuhan Kebo Giro, musik pengiring pernikahan adat Jawa.

Tapi bukan bayangan pernikahan yang ada di benak saya, melainkan gebyok yang panjang itu. Meskipun di dalam saya mengalir darah Jawa, saya tak pernah membayangkan memiliki sebuah gebyok di dalam rumah. Mungkin saya orang Jawa yang tersesat 🙂 atau bisa jadi saya terlalu malas untuk membersihkan ukiran-ukiran yang rumit itu sehingga tidak terbayang punya gebyok di rumah.

Main Hall (Pendopo) with A Gebyok on the Southern side Night View

Gebyok, sejauh pengetahuan saya, sebenarnya merupakan sebuah partisi penyekat ruangan yang amat tradisional namun klasik. Umumnya terbuat dari kayu jati pilihan. Meskipun awalnya berupa partisi ruangan, di jaman modern ini tak jarang kita melihat pintu gebyok yang dipasang di depan rumah sebagai pintu masuk, bahkan bisa dikombinasi dalam rumah dengan gaya minimalis. Duh, membayangkannya saja sudah ruwet dan terasa “berat”

Gebyok yang saya lihat di Pendopo Abhaya Giri ini memiliki ukiran yang amat rumit di bagian atas, termasuk di atas pintu. Pintunya sendiri tidak penuh dengan ukiran kecuali singkatan nama resort yang dibuat di bagian tengah. Saya bertanya-tanya dalam hati apakah orang dulu juga menuliskan singkatan namanya pada pintu gebyok mengingat tidak semua orang bisa memiliki gebyok di rumahnya. Karena tanpa namapun mungkin masyarakat sudah mengenalnya karena gebyok hanya mampu dimiliki oleh orang-orang yang berpenghasilan tinggi dan orang yang terpandang di masyarakat. Mungkin memiliki gebyok di rumah merupakan sebuah prestise tersendiri.

The doors of A Gebyok

Tetapi gebyok yang penuh ukiran ini tidak hanya sekedar penyangga rumah, melainkan memiliki makna spiritual yang dalam bagi pemilik rumah. Konon ukiran-ukiran itu dibuat selaras dengan filosofi tradisional Jawa yang amat dalam tentang cara manusia menyikapi kehidupannya (Sangkan Paraning Dumadi, yang kira-kira berarti dari mana manusia itu berasal dan kemana ia kembali). Hidup itu memiliki tujuan akhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian dalam menjalani kehidupan manusia perlu memegang nilai-nilai luhur ketuhanan.

Namun, pagi itu sungguh saya hanya bisa menduga-duga benang merah antara ukiran pada gebyok dan “makna dalam” dari Sangkan Paraning Dumadi, Apapun itu, saya hanya menggunakan rasa untuk menikmati keindahan gebyok itu, karena memang indah sekali! Seperti ada harmoni didalamnya.

Ukiran yang saya lihat memang cukup mengesankan dan menunjukkan tingkat kemahiran pembuatnya. Bersulur-sulur, ada bentuk seperti buah nanas, bunga-bunga dan dedaunan dengan handle pintu berbentuk ring. Dan bentuk utama di atas pintu yang amat cantik.

Tetapi semakin lama memperhatikan ukiran gebyok, saya mulai terasa mules membayangkan cara perawatan gebyok. Saya bukan tipe orang yang telatan membersihkan ukiran yang meliuk-liuk sampai ke bagian-bagian yang paling dalam dan paling rumit. Rasanya orang-orang dengan ketekunan, ketelitian, kecintaan tinggi yang bisa merawat gebyok. Karena pasti tidak hanya pakai kemoceng saja, mungkin perlu pakai kain khusus atau kuas-kuas kecil. Apalagi kalau daerahnya berdebu ya… Duh, saya langsung terpikir pakai jasa kebersihan online saja, kalau punya…

Saya harus melangkah mundur agak jauh dari gebyok agar dapat mengambil fotonya secara utuh. Saya suka dengan lantai yang membawa saya ke jaman dulu. Juga ada sepasang Loro Blonyo di kanan kiri pintu serta gentong kuning yang terletak lebih dekat ke pintu. Melihatnya secara utuh dari kiri ke kanan, simetri pada pintu gebyok, sesungguhnya kreasi seni di depan mata saya ini merupakan sebuah masterpiece dari sebuah perjalanan waktu yang menggabungkan budaya, agama, tradisi yang sudah sewajarnya kita jaga kelestariannya.

The closed doors of The Gebyok

Sesaat sebelum meninggalkan ruang, entah mengapa saya merasa ada sesuatu yang mengganjal, seperti ada sesuatu yang terlupakan. Saya diam sesaat lalu mata ini tertumbuk pada pintu gebyok yang tertutup. Rasanya seperti ada kilat yang menyambar ketika tersadarkan, mengapa gebyok kebanyakan ditampilkan dengan pintu yang tertutup?

Tak jadi melangkah pergi, saya malah merenungkan sesaat pikiran yang melintas itu. Pintu yang tertutup, bukan berarti tidak bisa dibuka, karena ada handlenya yang berupa dua ring bulat itu. Jika di dalam sebuah gebyok mengandung makna tentang kehidupan, bisa jadi pintu itu juga memiliki simbol-simbolnya.

Berada di depan pintu yang tertutup, -yang berupa simbol-, kita tak pernah tahu situasinya. Bukankah kita melangkah menuju ke depan pintu ini? Tetapi kita tak pernah tahu sebuah pintu itu terkunci atau tidak, jika kita tidak berusaha mengetahuinya. Kita hanya perlu satu tindakan. Memulainya.

Berusaha mengetahuinya.

Mengetuk dahulu, lalu menyampaikan niat yang baik untuk mendapatkan aksesnya.

Karena berupa simbol dan jika pintu itu tidak terkunci, kita hanya perlu mendorongnya, atau mungkin menariknya. Kehidupan telah membawa kita sampai ke depan pintu ini, mungkin memang pintu itu harus dilalui oleh kita. Itu kemungkinan pertama.

Kemungkinan kedua, setelah kita berusaha mendorong atau menariknya tetapi pintu tidak juga terbuka, bisa jadi pintu itu terkunci. Dan mungkin saja kita telah memiliki kuncinya yang didapat dari perjalanan kehidupan menuju ke depan pintu ini. Karena, jika memang kehidupan membawa kita harus melalui pintu ini, maka kunci yang dimiliki adalah kunci yang tepat untuk pintu ini. Dan kita hanya perlu menggunakan kunci untuk membuka pintu, hanya dengan sedikit usaha.

Yang terakhir, jika pintu terkunci dan kita sama sekali tidak memiliki kuncinya selama perjalanan hidup kita sampai ke pintu, bisa jadi kehidupan kita memang tidak akan pernah melewati pintu ini dengan begitu banyak alasan di baliknya. Bisa jadi yang ada di baliknya tidak membaikkan kehidupan kita. Pintu ini bukan untuk kita lalui. Sebuah pesan yang amat berharga untuk dimengerti sepenuhnya.

Karenanya, untuk apa berlama-lama berdiri di depannya? Selain tidak menghargai waktu kehidupan, bisa jadi kita diminta melihat arah lain yang membukakan hal-hal yang baik buat kehidupan kita. Tuhan selalu berbuat baik untuk kita, menunjukkan dan membukakan jalan terbaik untuk kita, lalu mengapa kita tetap bertahan di depan pintu tertutup? Begitu sering kita bersikukuh pada keinginan kita yang sebenarnya tidak membawa kebaikan, dan mengabaikan jalan yang lebih baik yang telah dibukakan untuk kita.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-24 bertema Doors agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Kenangan Mudik Lewat Tol Trans-Java


Kecuali tahun 2020 ini, hampir di setiap liburan Idul Fitri yang panjang itu, kami sekeluarga melakukan mudik ke Jogja dengan menggunakan kendaraan pribadi. Jika biasanya kami mengambil rute Jalur Selatan karena ada keluarga yang tinggal di Ciamis, maka tiga tahun terakhir ini kami mengambil jalur Utara. Pertimbangannya selain keluarga di Ciamis banyak yang pindah ke Jogja, pada tahun 2017 itu juga jalur mudik via tol yang belakangan disebut Tol Trans-Java itu sudah difungsionalkan, meskipun hanya sebagian. Dasar saya penggemar jalan-jalan, tol baru pun saat itu langsung dicoba.

2017

Karena moodnya masih bagus, saya langsung foto-foto sejak berangkat dari Jakarta. Bahkan mall pinggir jalan di kawasan Bekasi pun tak luput saya foto. Dan seperti biasanya keluarga kami mulai menghitung mobil dengan bagasi di atas yang kadang-kadang bagasinya menghebohkan. Tak luput juga pemandangan menarik khas Lebaran seperti anak atau orang yang menggunakan kendaraan bak terbuka ditutup terpal. Kebahagiaan mudik jelas terlihat, tanpa peduli kondisi yang panas bahkan bahaya.

Dan ketika sampai di gerbang awal tol fungsional yang masih dibangun secara darurat secara paralel miring itu, saya bertambah antusias. Apalagi begitu keluar gerbang, kondisi jalan tol yang masih dalam proses konstruksi itu terhampar di depan mata. Cone-cone sebagai rambu sementara diletakkan di tempat-tempat yang perlu mendapat perhatian.

Selain harus menyalakan lampu utama di setiap kendaraan, -meskipun siang hari-, pengguna jalan juga diingatkan untuk menggunakan kecepatan maksimal 40km/jam. Padahal kebanyakan pengguna jalan tol terbiasa menggunakan diatas itu, bahkan ada yang nekad sampai 100km/jam!

Start
2017 Start from Jakarta, common view, tol gate and functional road

Dan mulailah perjalanan di jalan tol yang sebenarnya masih dalam tahap konstruksi namun dapat difungsikan secara hati-hati. Sayangnya tidak semua pengguna jalan darurat ini menghargai upaya pemerintah membuat perjalanan mudik lebih nyaman. Namanya juga jalan tol fungsional, tentunya masih banyak kekurangan.

Diminta kecepatan kendaraan maksimal 40km/jam dan menyalakan lampu, tetapi lebih banyak pengguna yang tidak patuh. Tidak sedikit yang memaksa kendaraan diatas batas kecepatan membuat debu-debu beterbangan ke udara. Melupakan kenyamanan bagi orang yang tak menggunakan AC dalam kendaraannya atau yang tinggal di sekitar jalan tol itu.

Bisa jadi mereka memang tak menghargai kendaraannya sendiri. Jalan beton yang belum berlapis aspal, bisa menjadi jagal maut bagi ban kendaraan. Sepanjang jalan tidak sedikit kami melihat mobil-mobil bagus yang tadinya dikebut, mengalami permasalahan pada bannya. Tidak heran, ban memang bisa robek dihajar tepi bentukan beton yang masih tajam. Tapi bukankah sudah disarankan untuk berjalan maksimal 40 km/jam?

Selain berdebu, keriting, tak mulus, sepanjang jalan tol fungsional banyak pembangunan jembatan-jembatan. Hal ini membuat kami dan pengguna jalan lain harus menanjak curam lalu menurun yang tak kalah curamnya. Bagaimana mungkin ngebut? Apa mobilnya mau terbang kayak di film-film action Hollywood itu?

Belum lagi jembatan-jembatan daruratnya yang lumayan bikin deg-degan. Ada yang alasnya masih berlapis kayu dan mobil harus bergerak satu per satu mengikuti jalurnya. Ada juga yang masih menggunakan lempeng-lempeng baja sehingga berkendara di atasnya menghasilkan suara-suara yang berderit-derit mencekam. Meskipun ada petugas di sana-sini, tetapi tetap serem kan? Dan hampir semua jembatan masih menggunakan railing pembatas samping sementara.

Menggunakan jalan tol fungsional untuk mudik ini membuat saya sibuk dan terjaga terus sepanjang perjalanan. Sebab jarang-jarang kan bisa berkendara di jalan yang masih dalam tahap konstruksi? Kadang jalannya lurus membuat mengantuk, tapi ada juga jalan yang berliku. Kadang membuat saya tersenyum lebar melihat ada tiang listrik berdiri sendiri di atas gundukan tanah yang tidak bisa dipindahkan. Ini masalah umum dimana-mana, koordinasi antar instansi. (Teringat kondisi serupa dekat rumah saya sampai sekarang ada jalan lebar lalu menyempit pada jembatan karena jembatannya tidak bisa diperlebar sebab ada pipa besar di sebelah jembatan itu. Akibatnya jembatan itu jadi bottleneck macet. Ada yang lain lagi, Sebuah jalan yang lebar tapi terhalang masjid, dan sepertinya belum ada perbaikan hingga kini)

Menggunakan jalan tol fungsional harus siap menghadapi segala sesuatu dalam keadaan darurat. Rest-area yang darurat, atau pompa bensin darurat yang mengambil langsung dari mobil tanki Pertamina atau bensin gendong yaitu bensin yang dibawa langsung oleh petugas sesuai permintaan. Tapi yang penting dalam posisi-posisi tertentu harus tampil keren dan sadar kamera setiap saat 😀 😀 karena siapa tahu ada media yang sedang live menyiarkan  berita secara langsung 😀 😀

Lalu apa yang terjadi pada saat balik kembali ke Jakarta? Berbeda dengan saat berangkat yang lancar dan hanya tersendat di beberapa tempat, saat kembali ke Jakarta bertepatan dengan puncak arus balik sehingga mengalami macet tak bergerak, menunggu waktu untuk one way arah Jakarta. Padahal Jakarta masih jauh…

Dan sambil bermacet-macet itu, banyak penduduk lokal yang memanfaatkan kondisi. Dengan sigap mereka berjualan, dari mie instan, kopi, teh dan lain-lain. Ada demand yaaa ada supply dong…

Toll-sellerTrafficJamOnReturn


2018

Perjalanan seperti setahun sebelumnya berulang. Yah, namanya mudik kan pasti sama ya. Ada kebahagiaan tersendiri menuju kampung halaman tercinta meskipun harus melalui kemacetan. Bahkan perjalanan kami pun sudah mulai tersendat dari arah Cikarang. Tapi selalu saja kami beranggapan, kemacetan adalah bagian dari perjalanan mudik. Jadi harus dinikmati.

20180610_122146
Traffic jam

Kebiasaan kami sekeluarga menghitung jumlah kendaraan yang ada bagasinya di atap. Bukan kendaraan dengan roof rack yang mahal itu ya, melainkan bagasi yang dibungkus terpal atau plastik secara darurat. Jumlah hitungan kami, bukanlah tujuan akhir, melainkan kegembiraan melihatnya. Kami membayangkan isinya, kadangkala ada kasur, sepeda roda tiga, kursi roda sampai kardus dan koper. Kami juga memperkirakan jumlah orang yang naik di kendaraan itu hingga tak bisa meletakkan bagasi di dalam mobil, –kadang wajah lelah tapi gembira, kadang ada telapak kaki menempel di kaca belakang, kadang wajah-wajah yang ‘terhimpit’ oleh mereka yang fisiknya lebih besar. Meskipun demikian, ada kesamaan rasa yang bisa kami rasakan. Ada bahagia hendak pulang ke kampung halaman. Walaupun kendaraan terlihat menjadi ‘mblesek‘ karena terlalu berat 😀

Tapi tidak semua kendaraan yang membawa bagasi di atas itu adalah kendaraan-kendaraan yang masuk kategori mobil sejuta umat karena tidak sedikit diantaranya adalah mobil-mobil yang masuk kategori mobil mewah yang harganya mencapai ratusan juta. Dan bagasinya tidak kira-kira tingginya. Ketika kami berada di belakangnya, suara angin menghempas-hempaskan penutupnya itu terdengar menghebohkan, apalagi bentuknya yang terlihat amat besaaaar…

Bagasi
Kendaraan-kendaraan dengan bagasi di atap

Tetapi keseruan khas mudik itu tidak dapat kami nikmati lama-lama karena akhirnya perjalanan memang lancar. Pakai banget. Karena tidak ada lagi jalan tol darurat seperti setahun sebelumnya, tidak ada lagi jembatan sementara yang masih menggunakan alas baja atau kayu, tidak ada lagi jalan yang berdebu dengan kerikil lepas. Praktis kendaraan bisa melaju dengan cepat, wuuuussshh… wuuuussshh… wuuuussshh…

Persimpangan-persimpangan jalan tol terlihat cantik dengan jembatan lebar dan terhampar jelas dari jauh. Ditambah rambu-rambu berwarna hijau yang setahun sebelumnya belum ada.

Simpang
Persimpangan Jalan Tol

Tahun itu kami menginap dulu di Semarang, berwisata kuliner  sebentar di Simpang Lima sebelum melanjutkan ke Solo. Bagi kami, mudik tidak selalu berarti harus langsung sampai ke Jogja secepat mungkin. Kami menikmati perjalanan dengan berhenti di kota-kota yang memang ingin disinggahi.

Saya memang mengatur itinerary seperti itu. Menginap semalam di Cirebon sehingga jika terkena macet pun tidak terlalu melelahkan badan. Menikmati kuliner di Cirebon, jika memungkinkan berkunjung ke tempat-tempat wisata. Yang pasti tempat menginap harus memiliki tempat tidur yang nyaman dan bisa mandi yang enak! Istirahat cukup ditambah badan yang segar, mood pastilah membaik. Iya kan?

Esoknya lanjut ke Semarang lalu besoknya lagi ke Ambarawa lalu ke Solo, ngapain? Ya pengen aja ke tempat-tempat itu! Baru setelah itu ke Jogja. Padahal di kota-kota yang kami inapi semalam-semalam itu tidak ada keluarga. (Sssstttt… sebenarnya, sssst, jangan kasih tau yaa, sebenarnya kami suka hotel-hotelnya) 😀 😀 😀

20180612_133334
Indahnya Perjalanan Darat

Lalu pagi harinya perjalanan dilanjutkan lagi masih melewati jalan tol. Aduh, saya ini mudah sekali terharu. Masak melihat penanda Km.400-an itu saya jadi terharu. Sepanjang hidup saya, dulu menganggap jalan tol Jagorawi ke Bogor dan Ciawi yang 59 km itu luar biasa keren dan panjang karena itu satu-satunya jalan tol bebas hambatan yang ada dan dimiliki Indonesia. Sebelum ada Jagorawi, semasa kecil saya harus melewati Jalan Bogor lama atau via Parung hanya untuk ke Bogor. Dan bahagia sekali ketika merasakan bisa berkendara di Jagorawi.

Lalu ketika ada jalan tol yang menghubungkan Jakarta – Cikampek saya terharu lagi karena mengingat betapa lelahnya keluar dari Jakarta, selalu kena macet di perlintasan-perlintasan kereta api yang saya sebut “pintunya sudah ditutup tapi keretanya masih di Jakarta” sangking lamanya menunggu di perlintasan kereta. Apalagi setelah ada tol Purbaleunyi yang menghubungkan Jakarta – Bandung – Cileunyi sehingga tidak perlu lagi bermacet-macet di Puncak atau di Sadang jika mau ke Bandung. Jalan tol semakin panjang dan semakin menghubungkan banyak kota, sebagai warganegara saya sungguh-sungguh suka dengan perkembangan infrastruktur ini. Sehingga melihat rambu Km.400-an di luar kota Semarang itu, artinya dari Jakarta sudah lebih dari 400 km terhubung dengan jalan tol bebas hambatan. Bayangkan dengan jalan tol pertama, Jagorawi yang hanya 59 km!

20180612_121142
Sudah 422 km dari Jakarta!

Dan jalan tol itu masih belum berakhir…

Kami sekeluarga menikmati perjalan via jalan tol yang indah selepas Semarang. Jalan tol ini seperti di Bandung, menanjak dan menurun serta berliku dengan pemandangan yang amat indah.

Jalan tol yang nantinya disebut Jalan Tol Trans-Java itu memang pada tahun 2018 masih memberlakukan secara fungsional pada ruas Salatiga – Kartosuro. Memang tidak begitu rambu-rambu masih sedikit tetapi jalannya jauh lebih baik daripada jalan tol fungsional pada tahun 2017. Bahkan pada jembatan Kali Kenteng yang dihebohkan media pada waktu itu karena tingkat kecuramannya terasa landai saja. Kadang kala berita-berita hoax itu memang membuat orang menjadi cemas berlebihan. Padahal sih, jika sudah sampai di lokasinya saat itu, tidak ada yang menakutkan. Masih lebih serem melewati jalan nanjak ke Candi Cetho!

KaliKenteng
2018 – Jembatan Kali Kenteng Yang Belum Jadi

Perjalanan mudik tahun 2018 itu amatlah menyenangkan. Bahkan saat kembali ke Jakarta pun tidak mengalami kemacetan seperti pada tahun sebelumnya. Lalu bagaimana di tahun 2019?


2019

Perjalanan mudik di tahun 2019 ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan tahun 2018, terutama di perjalanan kembalinya. Dengan kondisi jalan tol yang sudah lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya tentunya perjalanan seharusnya semakin nyaman. Bahkan bagi pemudik yang langsung ke Semarang, bisa menggunakan jalur one way yang langsung keluar di Gerbang Tol Kali Kangkung. Sedangkan kami, seperti biasa masih senang menginap semalam-semalam di sepanjang jalan tol itu. Tapi tetap saja, meskipun sudah empat lajur terbuka menuju arah Timur, kepadatan lalu lintas tak dapat dihindari jelang Km 180 Cikopo – Palimanan.

DSC09208
Kepadatan Lalu lintas di Cipali

Selepasnya, perjalanan mudik seperti biasa, langsung wush-wush-wush… Jalan terasa lengang, entah kemana mobil-mobil yang lain, Mungkin mereka semua memenuhi rest area untuk beristirahat.

2019 Mudik
Jakarta – Semarang 2019

Dan saya terkesan sekali melihat Jembatan yang keren jelang Semarang, yang dikenal dengan nama Jembatan Kali Kuto. Jembatan ini dikenal sebagai jembatan yang menjadi icon dari Jalan Tol Batang – Semarang.

Sepanjang jalan tol yang lurus itu, warna merah dari lengkung jembatan amat menarik perhatian. Tidak heran kalau pengguna jalan tol akan melambatkan sedikit saat melewati jembatan ini hanya untuk mengabadikan icon unik ini.

DSC09220
Jembatan Merah Kali Kuto

Dan kami masih melanjutkan perjalanan ke Jogja, kali ini tanpa ke Solo dahulu. Sekali lagi kami melewati jalan tol dengan pemandangan indah. Perjalanan sudah lebih baik dari tahun sebelumnya. Sebelum sampai Solo, kami telah keluar gerbang tol menuju Jogja sambil berharap bahwa Jalan tol Solo – Jogja akan terealisasi dalam waktu dekat.

Mudik 2019
Perjalanan Mudik 2019 semakin nyaman

Selesai bersilaturahmi dengan keluarga di Jogja, ada saatnya kami harus kembali ke Jakarta. Dan dalam perjalanan pulangnya, masih sekitar 180 km untuk sampai ke Jakarta, kendaraan langsung mengantri, menjadi semakin padat. Tak ada lagi kebahagiaan dan wajah-wajah senyum sumringah ketika mudik. Kebanyakan berpacu siapa yang paling cepat sampai ke Ibukota.

Masih 180km untuk ke Jakarta, tapi saya biarkan dua foto di bawah ini yang berbicara yaa…

§


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-23 bertema Kendaraan agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Cerahnya Klenteng Tek Hay Kiong


Sungguh tak menyangka saya bisa mampir dan menikmati sejenak keindahan klenteng Tek Hay Kiong, -yang arsitekturnya dipercaya masih asli-, ketika melakukan perjalanan singkat bersama kawan-kawan kantor ke Gunung Guci beberapa waktu lalu.

Menariknya Klenteng Tek Hay Kiong yang berada di Jalan Gurami, Kota Tegal ini, terdaftar sebagai bangunan pusaka daerah, karena menjadi saksi sejarah akan keberadaan komunitas Tionghoa yang sudah mendiami kawasan kota Tegal sejak masa kolonial Belanda. Tidak bisa dipungkiri karena bagaimanapun komunitas Tionghoa selalu berpusat pada sebuah Klenteng yang umumnya menyediakan catatan orang-orang yang (pernah) tergabung dalam komunitasnya sejak awal pendirian. Catatan-catatan inilah yang menjadi sumber informasi berharga atas sejarah sebuah kawasan yang diatasnya terdapat sebuah klenteng. Demikian juga untuk Klenteng Tek Hay Kiong.

P1010147
Dari gerbang Klenteng Tek Hay Kiong

Di salah satu sudut terdapat inskripsi tentang sejarah klenteng ini yang tertulis dalam aksara aslinya dan dipahat di atas kayu jati. Tidak hanya mengenai sejarah pendiriannya di tahun 1837 oleh Kapitan Tionghoa Tan Koen Hay dan dukungan umat serta tokoh-tokoh kota lain yang mendukung pembangunan klenteng saat itu, di klenteng ini juga menyimpan papan-papan arwah yang berisikan catatan-catatan nama, asal muasalnya, pasangan hidup dan anak cucunya. Dari papan-papan arwah ini bisa ditarik benang merah sejarah bahwa kapitan pertama yang memimpin komunitas Tionghoa di Tegal adalah Souw Tjwan Heng (1699 – 1770) bergelar Kapitan Souw Pek Gwan. Artinya komunitas Tionghoa di Tegal sudah ada sejak 320 tahun lalu bahkan mungkin lebih dari itu. Hebat kan?

Warna merahnya yang umum mendominasi Klenteng terlihat sangat eye-catching sehingga memudahkan orang untuk mampir. Apalagi ditambah warna kuning keemasan di beberapa tempat, memberi rasa kontras pada Klenteng Tek Hay Kiong ini. Dua warna, merah dan kuning (mewakili warna emas) memang secara tradisional menjadi warna klenteng.

Warna merah sendiri, yang merupakan unsur dari “Yang” memiliki arti kebahagiaan, keberuntungan, kesenangan, keberhasilan, keselamatan dan pembawa nasib baik. Sehingga dengan adanya warna merah di Klenteng diharapkan agar seluruh kesedihan dan kegelapan akan sirna dan digantikan dengan kebahagiaan dan kebaikan. Warna merah juga mewakili kebenaran, kebaikan dan ketulusan hati. Bukankah orang beribadah ke Klenteng berharap bisa mendapatkan kebaikan dan kebenaran?

Tidak begitu berbeda dengan warna merah, warna kuning atau keemasan juga dianggap sebagai lambang kemakmuran, kehangatan, kekayaan, kesejahteraan dan bisa membawa aura positif. Konon sesuai pepatah kuno Tiongkok, warna kuning sebagai pengganti warna emas dipercaya sebagai warna yang paling indah karena kuning menghasilkan Yin dan Yang. Menjadi pusat dari segala hal. Tidak heran, warna kuning menjadi warna untuk Kaisar. Saya jadi teringat istana-istana Kaisar Tiongkok pastilah memiliki warna kuning keemasan. Dan juga pakaian kebesaran Sang Kaisar, selalu berwarna kuning keemasan.

Dua warna yang mendominasi sebuah Klenteng memang memiliki makna dan harapan yang amat baik bagi mereka yang bersembahyang di sana.

P1010152
Klenteng Tek Hay Kiong

Sekarang ini, Klenteng Tek Hay Kiong di Tegal lebih menjadi tempat ibadah daripada menjadi pusat kegiatan komunitas Tionghoa seperti pada jaman kolonial dulu. Kendati demikian, rasanya tak salah bila kita mengunjungi tempat bersejarah ini, asalkan tidak mengganggu aktivitas peribadatan yang berlangsung. Bukankah dengan mengunjunginya, -meskipun bukan untuk beribadah-, kita bisa membuktikan kekuatan kebhinekaan negeri tercinta ini?

Apalagi, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, seharusnya kita bisa membanggakan sebuah bangunan yang telah ditetapkan sebagai bagian dari sejarah kota dan turut serta menjaga dan memeliharanya. Paling tidak, kita bisa mengunjunginya dan menikmati keindahannya. Dan bisa menambah pengetahuan!

Jadi, tidak ada salahnya menjadikan Klenteng Tek Hay Kiong ini menjadi destinasi wisata saat sedang berlibur bersama keluarga atau teman.

Dan saya membayangkan kemeriahan perayaan Imlek kemarin di Klenteng Tek Hay Kiong ini.  Pasti seru banget…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-4 ini bertema Red & Yellow agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Kemajemukan Yang Indah


Melihat Pelangi seperti melihat bangsa kita sendiri, banyak warnanya dan indah

rainbow
Rainbow in the sky

Sebagai anak yang terlahir dari keluarga berdarah majemuk, sejak kecil saya selalu terdiam kebingungan ketika ditanya orang lain, -yang saat itu selalu orang dewasa-, “aslinya dari mana?”. Errrr… yang bertanya mungkin basa-basi namun biasanya hanya menginginkan satu jawaban pendek saja, misalnya, Jawa, Minang, Batak, Bali dan seterusnya. Sesungguhnya saya tak pernah yakin, apakah ia menginginkan jawaban saya yang panjang lebar.

Karena saya selalu harus memulainya begini…

Ibu dari Papa saya berasal dari Sunda, itu pun tidak seratus persen Sunda. Lalu, Papa dari Papa saya berasal dari Jawa Tengah, itu pun tidak seratus persen asli Jawa. Papa saya sendiri lahir di Palembang. Jadi mungkin dari Papa, saya bisa dibilang ada darah Jawa dan Sunda. Itu dari Papa.

Nah dari jalur Mama, ayahnya dari Minang, itu pun tidak murni seratus persen Minang. Kemudian ibu dari Mama saya, ada darah Belanda, Ambon, Cina, Arab dan entah apa lagi. Mama sendiri dilahirkan di kota kecil di Papua. Jadi, kalau dari keturunan Mama, saya bisa dibilang ada darah Minang, Ambon, Belanda, Cina.

Saya sendiri lahir dan dibesarkan di Jakarta dan tidak bisa satu pun bahasa daerah yang darahnya ada dalam tubuh saya. Mengerti mungkin bisa meskipun sedikit, tetapi jangan disuruh bicara ya.

Jadi bila ada yang menanyakan asal-usul, saya selalu menjawab, Saya Indonesia!

Karena memenangkan salah satu suku, rasanya seperti mengkhianati darah suku lain yang lebih banyak berdiam di dalam saya.

Dan selalu terjadi keseruan ketika kumpul keluarga.

Karena keluarga dari  garis keturunan Mama bisa dibilang lebih akrab satu sama lain, tak heran saya bisa berlama-lama bercengkrama dengan keluarga Ambon, lengkap dengan bahasa yang penuh irama naik turun itu… dan tentu saja, termasuk menikmati makanan yang enak-enak itu.

Tak kurang serunya bila keluarga Minang sedang kumpul, paling tidak saat Lebaran atau Halal bil Halal. Namun semua sama, ketika mereka berbicara bahasa Minang kepada saya, langsung saya tertawa lebar mengakui ketidakmampuan saya 😀

Meskipun tidak seakrab seperti yang terjadi pada keluarga dari garis keturunan Mama, saya selalu senang-senang saja bila berkumpul dengan pihak keluarga Papa. Apalagi jika sedang ke kampung halaman, di kawasan Banyumas. Bahasa Jawa khas Tegal, Banyumas dan sekitarnya itu selalu berhasil membuat saya tergelak meskipun tidak mengerti seratus persen.

Dan jangan salah, saking banyaknya garis darah keturunan, saya sendiri sering kehilangan jejak. Kerabat Mama dari sisi Minang, saya anggap dari keluarga Papa yang dari Jawa. Lhaaaa… susah lhooo mengenal semuanya, mana orang dulu kan anaknya banyak!


Bicara soal agama dalam keluarga besar, menjadi keindahan tersendiri. Meskipun Islam menjadi mayoritas dalam keluarga besar saya, ada juga kerabat yang convert ke Kristen Protestan karena pernikahan. Belakangan setelah menikah, saya juga memiliki kerabat yang berdiam di Bali dan memilih menganut Hindu. Masih ada kerabat yang lain lagi yang memilih menganut Aliran Kepercayaan dengan berbagai versi, ada yang memilih dengan pengaruh Indianya yang sangat kuat dan ada juga yang memilih Kejawen.

Dan seperti yang sering saya ceritakan di blog, sejak kecil saya justru lebih banyak mengunjungi candi-candi Hindu Buddha yang bertebaran di banyak tempat di Jawa. Oh ya, biar tambah seru soal kemajemukan ini, perlu ditulis di sini bahwa saya belajar hampir dua belas tahun di sekolah Katolik dan tiga tahun terakhirnya di sekolah yang isinya perempuan semua!

Dan Islam, sebagai agama mayoritas dianut dalam keluarga besar, tentu saja memiliki ‘bandwidth’ yang paling lebar. Ada yang berprinsip Salafi dan berniqab bagi seluruh anggota keluarga yang perempuan, ada yang biasa-biasa saja, ada yang moderat, ada juga keluarga yang hanya tertawa mesem sambil menunjukkan KTP-nya untuk jika ditanya soal agama! Masalah? Tidak sama sekali!

Dan selalu ada keseruan makan-makan jika ada hari keagamaan tentu saja diluar ritual ibadah masing-masing.

Keindahan dan kebahagiaan yang sama ketika saya harus menyambut keluarga yang datang dari Belanda atau Jerman, meskipun kulit mereka lebih putih, mata yang lebih biru dan hidung yang lebih bangir atau meskipun mereka menggunakan bahasa yang berbeda. Bukankah mereka tetap memiliki jalinan kekerabatan yang sama dengan saya?

Jika memang demikian, mampukah kita memperlakukan orang lain seperti kerabat kita sendiri yang memang masih bertautan darah sejak penciptaan?


Dan setiap terjadi konflik di antara bangsa kita sendiri, saya merasa amat sangat sedih sekali. Tak berlebihan, bila saya mengasumsikan diri ini adalah Indonesia mini. Mana mungkin dalam satu tubuh ini saling menyakiti? Jika tangan kanan tanpa sengaja melukai tangan kiri, sakitnya terasa ke seluruh tubuh. Jika di perut terasa sakit, seluruh tubuh ini otomatis menjadi tidak enak. Jika kaki saya pegal, tangan kanan dan kiri juga otomatis memijat untuk meredakan rasa pegal itu. Bagaimana mungkin bagian yang satu lebih baik daripada yang lain, atau bagian yang satu lebih rendah nilainya dari yang lain? Apakah saya tetap menjadi saya bila dipecah-pecah menjadi beberapa bagian?

Apalagi tahun-tahun belakangan ini, saat pemilihan kepala daerah maupun saat pemilihan presiden beberapa waktu lalu, saya sungguh tak nyaman, serasa tak hidup. Bagaimana mungkin ada kelompok-kelompok yang mempermainkan SARA untuk kepentingan kekuasaannya sendiri?

*

Ah, memang tidak semua orang beruntung dan mendapat berkah bisa dilahirkan dalam kemajemukan seperti saya dan tidak semua orang beruntung bisa memahami indahnya kemajemukan sejak masih kecil.

Dan banyak juga dari kita yang “bersedia” dibelah-belah demi kepentingan orang lain dan tak menyadari bahwa dengan begitu mereka kehilangan jati dirinya sendiri. Padahal kemajemukan membawa kekuatan.

Bukankah mematahkan sepotong lidi yang berdiri sendiri lebih mudah daripada mematahkan lidi-lidi yang terikat kuat dalam kesatuan sapu lidi?

Sesungguhnya saya tak pernah berhenti berharap Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 itu bisa berakar kuat dalam setiap manusia Indonesia, -tidak hanya dihafalkan-, melainkan sadar sepenuhnya, menjiwai dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-42 ini bertema Unity agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Wayang dan Museumnya


 

Terik matahari sudah berkurang meskipun belum sepenuhnya reda. Dengan bergegas karena takut segera tutup, saya meninggalkan rumah makan di kawasan kota tua itu lalu menuju Museum Wayang karena lokasinya hanya selemparan batu dari situ.

Setelah membeli tiket yang harganya hanya Rp 5000,00 saya masuk ke dalam tanpa lupa bertanya jam tutupnya. Petugas menjawabnya seperti asal saja, yang katanya hingga pengunjung terakhir keluar. Entah apa maksudnya, apakah dia sungguh-sungguh mau menunggu hingga pengunjung terakhir keluar, -hal itu bisa jadi bumerang baginya sebab siapa tahu pengunjungnya adalah penggila wayang yang mau berjam-jam di sana-. Ataukah karena sangat sedikit pengunjung museum sehingga ia yakin dan tahu pasti bahwa pada jam tertentu akhirnya tidak akan ada pengunjung baru. Kok saya miris ya?

DSC09052
Baratayudha – The War

Meskipun tidak dibesarkan dalam keluarga yang suka nonton wayang, saya cukup mengenal kisah-kisahnya. Kisahnya ya, bukan wayangnya. Di Indonesia pertunjukan wayang biasanya mengambil kisah-kisah dari epos Ramayana atau Mahabharata dengan tambahan ciri khas masing-masing daerah meskipun ada juga yang mengambil kisah sehari-hari. Jadi, entah itu wayang dari Jawa atau Sunda atau Bali, apabila membicarakan Dewi Sinta, itu artinya ya istrinya Rama. Atau, jika bicara Drona ya artinya gurunya Pandawa dan Kurawa. Sesederhana itukah?

Ternyata tidak! Dari kunjungan ini, saya tahu bahwa saya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang wayang, juga kisahnya! Yang saya tahu hanya sebagian kecil saja dari begitu banyak variasi wayang yang ada di Indonesia ini.

Dengan bermodal ilmu kira-kira, saya disambut wayang segede gaban di dekat pintu masuk lalu lorong panjang yang memamerkan banyak wayang. Di sini lebih banyak dipamerkan wayang golek Bandung yang memang terlihat kualitasnya yang terpelihara dengan baik.

DSC09006
Wayang Golek Bandung

Ups, saya baru sadar bahwa Museum Wayang ini dulunya adalah gereja tua yang sekaligus menjadi tempat prasastinya Jan Pieterson Coen dan masih banyak prasasti-prasasti lain yang mengingatkan saya bahwa disana dibaringkan tubuh-tubuh mereka. Hmmm… mengapa auranya menjadi mistis begini yaaa… lalu kemana semua orang yang tadi ada? Mendadak saya berasa lebih dingin dan saya cepat-cepat pergi dari situ.

Ruangan selanjutnya membuat saya lebih tak nyaman. Ada boneka Sigale, yang secara tradisi katanya, sering digunakan juga untuk memanggil arwah. Boneka Sigale yang ada di balik ruang kaca ini, apakah juga dulu pernah dijadikan sebagai media pemanggilan arwah? Uuuh… kenapa sih pakaiannya harus putih begitu?  Tadinya saya mau upload fotonya, tapi setelah dipikir-pikir nanti malah takut, jadi saya batalkan uploadnya. Dan tak jauh dari boneka Sigale, juga ada boneka Si Manis, -dengan kisah horornya-, yang tentunya menambah suasana tak nyaman di sana. Ini kenapa Museum Wayang yang tempatnya udah berbau horor juga mengoleksi item yang horor-horor?

Tak luput dipamerkan pula boneka dengan Kisah Si Pitung (Sudah datang ke rumahnya? Saya sudah!) Jadi ingat, bukankah kisah Si Pitung juga penuh kontroversi dan katanya, punya daya sakti yang membuat Belanda gagal terus menangkapnya?

Seingat saya setiap pertunjukan wayang pasti dimulai dengan ditampilkannya gunungan dan biasanya gunungan itu cantik-cantik. Dan saya selalu kagum dengan gunungan-gunungan yang ada di Museum Wayang. Dan di museum ini saya baru tau makna-makna di hampir setiap sudut wayang kulit. Wow, ini beneran setiap sudutnya memiliki arti. Tidak heran semua penggemar wayang yang sejati langsung mengenal sebuah wayang ditunjukkan padanya. Tidak seperti saya. Saya hanya kenal punakawan, meskipun sering juga terbalik antara Bagong dan Semar.

Dari kisah-kisahnya yang mengambil dari Mahabharata, saya sebagai penggemar Kresna hanya tersenyum-senyum sendiri ketika melihat wayang Kresna yang sedang melakukan Triwikrama, yang ditampilkan seperti raksasa. Jadi inilah penggambaran Triwikarma dalam tradisi wayang tersebut.

DSC09063
Trivikarma of Krishna

Saya masih berkeliling dan menemukan boneka-boneka yang digunakan dalam sebuah pertunjukan tradisional seperti dari Malaysia, Vietnam, Kamboja, Russia, China dan lain-lain.

Tapi yang membuat saya terpesona adalah banyaknya versi wayang yang ditampilkan di Museum ini. Bahkan wayang kulit pun ada kategorinya, ada yang berukuran normal maupun berukuran lebih kecil yang akan dimainkan oleh anak-anak yang memiliki bakat sebagai dalang. Jika saya disodorkan wayang, saya tak pernah tahu bahwa ukuran yang satu lebih kecil dengan wayang yang lain.

Ada juga wayang lidi! wayang yang terbuat dari lidi yang diambil dari pohon kelapa itu. Hebatnya bisa dianyam sehingga membentuk wayang. Uh, jika saya yang membuat, lidinya pasti sudah patah dimana-mana. Sungguh, saya terkagum-kagum dengan wayang ini. Kagum dengan cara membuatnya!

DSC09162
Wayang Lidi

Dari ilmu sejarah yang saya dapat disekolah, dulu wayang juga merupakan alat syiar agama Islam di dalam masyarakat meskipun berkembang pula wayang wahyu, yaitu wayang yang digunakan untuk menyebarkan agama Nasrani. Pernah lihat wayang wahyu? Lihat gambarnya saja sudah dapat diidentifikasi. Dan tidak untuk syiar saja, untuk membangkitkan semangat juang, juga menggunakan wayang. Makanya ada yang namanya wayang revolusi! Asyik kan?

Dan wayang memang pantas mendapat gelar sebagai salah satu dari The Masterpieces of Oral and Intangible Cultural Heritage, -yang diberikan UNESCO pada tanggal 7 November 2003. Karena memang wayang ada di sudut-sudut Indonesia. Ada wayang dari Palembang, Bali, Lombok dan lain-lain selain Jawa dan Sunda yang lebih sering dikenal.

Jadi seru juga datang ke Museum Wayang. Selain ada rasa ngeri-ngeri sedap gitu, ada juga pengetahuan tentang wayang dari berbagai tempat. Belum lagi topeng-topengnya atau perangkat gamelannya.

Ayooo… agendakan akhir pekan ini ke Museum Wayang di Kota Tua, Jakarta…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-36 ini bertema Traditional agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A Dose of Vitamin Sea


Salt water heals. Sweat, Tears and Sea. So don’t wait, let’s have some dose of Vitamin Sea

Mungkin juga tidak berlaku untuk sebagian orang, tetapi bagi saya, di saat stress melanda begitu menekan, -baik di lingkungan kantor ataupun pribadi-,  Vitamin Sea merupakan salah satu terapi yang lumayan ampuh untuk dijalankan. Memang tidak menghilangkan sama sekali, tetapi minimal bisa mengangkat mood menjadi lebih baik.

Seperti duluuu… ketika saya sekeluarga melakukan perjalanan mudik Lebaran melalui jalur Selatan menuju Jogjakarta dan terjebak di perjalanan hingga belasan jam, suami saya yang menyetir malah melakukan detour sebentar ke pantai selatan. Bisa jadi dia sudah jengkel melihat antrian kendaraan di Jalur Selatan yang tidak habis-habis itu dan ingin mengistirahatkan matanya sejenak dengan melihat laut.

IMG_4930
Southern Beach before Sunset

Saya sekeluarga menjejak pantai pada sore hari, kurang dari dua jam sebelum matahari terbenam. Suara deru ombak yang berkejaran menenangkan hati. Badan yang lelah terjebak dalam kendaraan selama berjam-jam mendadak bebas bergerak, sangat menyenangkan rasanya. Saya memandang ke laut lepas, mengagumi lembutnya sinar mentari sore yang tak lagi menyilaukan dan membiarkan air laut yang asin itu menyentuh kaki. Rasanya ingin berlama-lama menceburkan diri main air jika saja tak ingat harus melanjutkan perjalanan segera. Rehat itu hanya sejenak, namun sentuhan air itu cukup menularkan semangat bertahan untuk meneruskan perjalanan ke Jogja.

*

Tetapi dari pinggir laut saya juga mendapatkan pengalaman lain yang penuh makna. Saat itu masih di pantai selatan Jogjakarta, meskipun pada kesempatan yang berbeda. Saatnya sama, jelang matahari terbenam juga, tetapi situasinya sama sekali tak serupa. Tak ada rasa hangat saat itu, tak ada rasa ingin bermain di pantai saat itu. Jauh dari semua rasa itu.

Awan gelap menggantung di atas saya meskipun sedikit terang di horison. Sebuah kapal terlihat jauh di batas pandang, seakan meninggalkan saya yang terjebak di bawah awan badai. Ombak datang lebih cepat, lebih menderu yang bagi saya, terasa mengancam. Hempasannya tak main-main. Seakan berkata tanpa satu pilihan, jangan mendekat atau kamu akan disikat.

Anger is like Gasoline. If you spray it around and somebody lights a match, you’ve got an inferno. But if you can put it inside the engine, it can drive you forward.

Begitu juga Vitamin Sea, jika dilakukan bukan pada waktu yang tepat dan tidak sesuai dengan dosisnya, maka Vitamin Sea itu bisa berbalik arah menjadi sebuah ancaman yang membahayakan. Pada akhirnya manusia seharusnya yang belajar memahami alam dan tidak menantangnya.

Karena alam memiliki aturannya sendiri yang sudah jelas. Sebagian manusia dengan segala kepandaiannya justru kadang tak mampu menjaga alam. Alam yang terlahir cantik dengan keindahan luar biasa justru mendapatkan upaya penghancuran dari manusia-manusianya.

Akankah kita mampu menjaga keindahannya? Menjaga kebersihan pantai dan laut dari sampah, menjaga kelestarian biota laut? Saya seringkali gemas dan miris melihat foto-foto orang yang menginjak terumbu karang, atau mengangkat bintang laut ke udara tanpa rasa salah atau merasa lucu saat menduduki penyu yang sedang menuju laut. Apakah manusia-manusia itu pernah merasakan dipisah paksa dari lingkungan hidupnya yang utama, apakah mereka pernah dipaksa berada dalam ruang tanpa oksigen? Apakah mereka pernah diinjak dengan beban berlebih hanya untuk mendapatkan sebuah kesenangan?

Padahal keindahan pantai dan laut bisa membuat hati menjadi lebih nyaman, stress bisa terkendali. Rasanya luar biasa jika bisa melihat pantai pasir putih yang panjang dan bersih serta warna biru lautannya, apalagi jika air laut yang jernih. Indah sekali tentunya.

P1000693
Dreamland Beach in Bali

Atau seperti di pantai Kuta di Bali atau pantai-pantai indah lainnya yang menghadap Barat saat mentari terbenam mampu memberikan suasana romantis. Saat bola matahari itu perlahan-lahan ditelan horison, memberikan pendar warna kuning keemasan di langit Barat, siapa yang tak suka? Apalagi disaksikan bersama orang tercinta…

Jangan seperti saya yang pernah datang sendiri untuk menyaksikan matahari terbenam di Pantai Kuta tapi menjadi ingin menimpuk sepasang kekasih yang duduk di depan saya karena mereka saling berciuman tepat setelah matahari hilang dari horison. Bikin iri kan? 😀 😀

P1000475
Sunset in Kuta, Bali

Tidak bisa disanggah, berada di pantai memandang lautan dan mendengar deru ombak yang saling berkejaran memang sebuah terapi yang ampuh untuk mengendalikan stress seakan ombak membawa pergi semua masalah yang sedang dihadapi sehingga kita menjadi lebih jernih dalam berpikir.

Bayangkan saja, saat saya di Korea Selatan, saya menyempatkan diri ke Pantai Haeundae, padahal waktu itu musim gugur dan tentu saja udara serta air lautnya dingin sekali. Meskipun begitu, saya senang sekali menyaksikan sekumpulan anak-anak TK bersama gurunya menari di pantai dengan iringan lagu Gangnam Style yang waktu itu sedang ngetop sedunia. Lucu sekali!

Juga saat berkendara dari Danang menuju Hue di Vietnam Tengah, saya sempat mengambil foto pantai yang menggoda saya untuk singgah. Deburan ombaknya itu benar-benar sangat menggoda dan jika saja sopir mobil yang saya sewa itu tak menyebalkan, tentu waktu itu sudah saya sempatkan berhenti di pantai. Just to take a Vitamin Sea!

Sampai sekarang saya tak pernah lupa pengalaman berada hanya berdua dengan suami di Pantai Selong Belanak di Lombok Selatan yang berpasir putih sangat panjang hingga menyilaukan. Benar-benar seperti pantai pribadi!

Soal Vitamin Sea, Indonesia selalu di hati!


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-33 ini bertema Vitamin Sea agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Main Ke Rumah Si Pitung Di Marunda


 

Rumah Si Pitung

Siapa orang Betawi yang tidak kenal si Pitung? Dialah Sang Legenda Robin Hood dari Betawi pada akhir abad 19 yang telah berhasil mempermalukan Kepala Polisi Batavia dan meresahkan pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera pada masanya.

Selama delapan tahun, 1886 – 1894, Si Pitung melakukan aksi perampokan uang dan emas permata yang bernilai tinggi terhadap saudagar-saudagar kaya yang dinilainya bersekutu dengan Belanda lalu konon ia membagikan rampasannya kepada orang-orang miskin, namun selalu berhasil lolos dari kejaran polisi. Sempat sekali tertangkap, tapi seperti belut, dengan mudahnya Si Pitung yang bernama asli Salihun ini melarikan diri dari penjara Meester Cornelis di tahun 1891. Dan tidak tanggung-tanggung Sang Jawara ini mempermalukan Pemerintah Hindia Belanda karena ia bisa hilir mudik dengan kereta api tepat di depan hidung Sang Kepala Polisi. Dan bukannya mereda, Si Pitung bahkan berhasil membinasakan Demang Kebayoran yang memusuhi petani-petani serta tak henti-hentinya meresahkan pemerintah kolonial saat itu.

Tak terbayangkan gusar dan marahnya Penasehat Pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera yang bernama Snouck Hurgronje kepada Kepala Polisi Batavia, Schout Hijne, yang selalu gagal menangkap satu orang Bumiputera yang bernama Si Pitung ini. Pelecehan jabatan yang dilakukan Si Pitung terhadap Schout Hijne ini membuat Sang Kepala Polisi menghalalkan segala cara untuk menangkapnya, termasuk mendatangi dukun untuk mencari penawar jimat keberuntungan Si Pitung. Tindakan ini makin membuat Snouck Hurgronje hilang akal karena yang dilakukan Sang Kepala Polisi dianggap sangat memalukan dan tidak terpelajar. Tetapi kegagalan terus menyelimuti penguasa saat itu, karena ketika menggerebek rumah Si Pitung di Rawa Belong, mereka hanya menemukan uang 2.5 sen pada tiang bambu. Bahkan kabar kematiannya tetap tak jelas, apalagi keberadaan makamnya.

Dan legenda jawara itu tetap memenuhi pikiran masyarakat Betawi dengan penuh kebanggaan

*

Museum Rumah Si Pitung

Sebenarnya sudah lama saya ingin ‘main’ ke rumah Si Pitung, tetapi baru empat hari jelang puasa niat mengenal legenda Sang Robin Hood Betawi itu bisa terlaksana. Saya sengaja mengambil cuti untuk main ke rumah Sang Legenda yang kini menjadi museum di Marunda. Sebuah pertanyaan menari-nari di benak sepanjang perjalanan, rumah masa kecilnya di Rawa Belong (dekat Palmerah) dan konon makamnya ada di Sukabumi Utara, yang tak jauh dari Rawa Belong. Lalu mengapa museumnya ada di Marunda yang sangat jauh? Saya tak punya jawaban pasti, kecuali hanya untuk menenangkan pikiran. Sebagai buronan kelas kakap, sewajarnya ia tak pernah menetap dan selalu berpindah…

Untuk mencapai rumah Si Pitung di Marunda atau House of Si Pitung di Google Maps, saya menggunakan aplikasi Travi untuk membantu perjalanan dengan bus TransJakarta. Saya naik bus Transjakarta Koridor 1 menuju Kota lalu turun untuk transit di Monas, dan menunggu bus Koridor 2 yang menuju Pulo Gadung. Setelah melewati sekian banyak halte, saya turun di Cempaka Timur. Tanpa keluar dari area bayar, saya menyusuri jembatan penghubung ke Cempaka Mas 2 untuk lanjut dengan bus TransJakarta Koridor 10 menuju Tanjung Priok dan turun di halte Enggano. Di Halte TransJakarta Enggano ini saya harus menunggu agak lama bus ukuran ¾  jurusan Marunda, dan turun di Pertigaan Rumah Si Pitung. Dari sini saya harus jalan kaki lagi sekitar 200 meter untuk sampai ke Rumah Si Pitung. Meskipun jauh banget, perjalanan dengan bus TransJakarta sangat mudah dan murah, hanya Rp 3.500,- atau sekali tap, tanpa tersesat.

Perjalanan panjang dan lama, -yang kalau naik mobil pribadi bisa sampai Bandung itu saat tol Cikampek bebas macet-, membuahkan hasil meskipun cuaca agak kurang bersahabat. Udara pantai utara Jakarta yang panas membuat keringat mengalir dengan cepat, meskipun ada kolam-kolam bakau yang mampu meredam sedikit panas. Setelah membayar Rp. 3.000 untuk tiket masuk, akhirnya saya bisa berdiri di halaman Rumah Si Pitung, Legenda Jawara terkenal dari Betawi.

Rumahnya yang kini jadi museum tak beda dengan rumah-rumah Betawi pesisir pada umumnya yang berbentuk rumah panggung. Saat saya berkunjung sama sekali tak ada orang, bisa jadi karena saya datang pada hari kerja dan bukan akhir minggu.

Saya menaiki tangga sempit itu dengan hati-hati dan langsung terkejut ketika sampai di anak tangga paling atas. Di sudut teras depan, sebuah patung tak berwajah mengenakan pakaian jawara. Meskipun tak berwajah, saya merasa tak nyaman dengan patung setinggi manusia itu. Ah, saya mungkin lebih terbiasa dengan manekin yang benar-benar terlihat sebagai patung daripada sesuatu berbentuk tubuh manusia tapi tak berwajah. Hitam lagi… Meskipun siang, tetap serem ‘kan?

Kemudian saya melangkah masuk ke ruang tamu melalui pintu yang ketinggiannya rendah. Panas matahari di luar rasanya terjebak di dalam sini, membuat saya seperti kehabisan nafas. Tanpa angin meskipun jendela terbuka. Gerah! Di dalam ruang ini terdapat seperangkat kursi tamu lengkap dengan toples-toplesnya, menggenapi yang ada di teras depan. Lukisan Si Pitung bersama seorang perempuan dan sebuah lampu teplok menghiasi dinding. Sebenarnya ruangan ini bagus, tetapi pengelolanya tak memiliki rasa estetika sama sekali karena kabel listrik yang putih bersama stopkontaknya tidak disembunyikan dan terlihat sangat jelas, merusak penataan warna kayu yang telah dibuat senada.

Lalu ruang berikutnya adalah kamar tidur Si Pitung yang berisi ranjang berkelambu. Saya hanya bisa mengambil foto dari batas pintu karena ada pembatas akses. Jika dalam beberapa sumber dikatakan Si Pitung melajang seumur hidupnya untuk mempertahankan kekuatan jawaranya, maka kondisi kamar yang memiliki ranjang double bertiang dan berkelambu serta meja rias perempuan, menjadikannya bertolak-belakang. Apalagi di lukisan pada ruang sebelumnya terdapat penggambaran Si Pitung bersama seorang perempuan. Adakah yang tahu kisah cinta Si Pitung ini? Siapakah perempuan pendamping legenda Betawi ini?

Saya masih melangkah terus ke belakang. Rasanya saya menjadi pemilik rumah karena menjadi satu-satunya pengunjung saat itu. Ruang berikutnya adalah ruang makan dengan seperangkat meja makan dengan kendi dan lampu gantung berhias. Melihat kendi itu, tergambar dalam benak jawara-jawara meminum air yang mengucur langsung dari kendi ke mulutnya tanpa menggunakan gelas. Kadang kala untuk menyegarkan wajah juga.

Kemudian di sudut ruang terdapat lemari bercermin dengan tikar di hadapannya dan sebuah kayu permainan congklak. Sepertinya bayangan Si Pitung bermain congklak terasa absurd pada benak saya, seharusnya perempuan muda yang melakukan permainan ini. Adakah perempuan-perempuan muda atau anak-anak di sekeliling Jawara Betawi ini? Atau benda ini hanya sekedar benda budaya yang tak terkait dengan Si Pitung? Entahlah… karena tak ada informasi pendukung di sekitar benda ini.

Di sudut seberangnya terdapat bale-bale dengan setumpuk peti yang entah untuk apa kegunaannya. Bisa jadi sebagai tempat menyimpan sementara harta rampasan sebelum dibagikan kepada yang membutuhkan. Selain itu juga terdapat satu set rebana dan alat musik tradisional Betawi. Sayangnya tidak ada penjelasan sama sekali, kecuali larangan-larangan. Bisa jadi pengelola menganggap semua pengunjung sudah tahu mengenai Si Pitung dan budaya Betawi. Padahal di luar negeri untuk museum spesifik seperti ini, selalu disertai informasi yang lengkap, jika perlu ditambahkan hal-hal lain yang bisa mengundang pengunjung datang lagi. Informasi yang ada justru membuat saya bertanya-tanya, -karena diinformasikan peti-peti itu adalah koleksi seseorang-, lalu hubungannya apa dengan sejarah Si Pitung?

Dapur dan Peralatan Masak

Ruang berikutnya adalah dapur dengan sebuah bale-bale dan seperangkat peralatan masak diletakkan diatasnya. Bukankah akan menarik bila dipresentasikan bagaimana cara memasak secara tradisional pada abad 19 itu? Belum tentu semua anak millenial jaman now bisa mengetahui nama-nama alat masak tradisional itu. Tetapi sayang, tidak ada informasi pendukungnya.

Di arah belakang terdapat pintu menuju teras belakang yang tersedia juga sebuah bale-bale yang kelihatannya enak sekali untuk bersantai tidur-tiduran sambil minum kopi. Sekali lagi, sayang tak ada informasi pendukung yang menjelaskan. Jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesia saja tidak ada. Selain itu, lagi-lagi si kabel putih merusak semua pemandangan. Mungkin memang museum ini tidak ditujukan untuk pasar turis asing. Sayang ya?

Saya kembali ke teras depan, menikmati sedikit angin di situ. Menatap ke luar, seakan-akan ke halaman tetangga, tetapi apa daya, terlihat kabel-kabel listrik bergantungan tak beraturan. Gemas rasanya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditata dengan lebih baik.

Balkon di Teras Depan

Mentari semakin terik, saya turun mencari tempat teduh di halaman sambil menikmati Rumah Jawara Betawi ini. Seekor kucing tiba-tiba datang melingkari kaki saya, ingin bermanja-manja rupanya. Hati ini miris, masyarakat Indonesia belum banyak yang mencintai museum. Bahkan bisa jadi pengelolanya pun masih beranggapan museum adalah tempat membuang benda-benda tua yang tidak diperlukan lagi, yang tak jauh beda dengan gudang. Tanpa perlu informasi pendukung, meskipun sebenarnya banyak cerita sejarah berada di balik benda-benda berharga yang dipamerkan itu. Ah, jika manusia belum mencintai sejarahnya, bagaimana ia bisa menghargai masa depan bangsanya?

Saya meninggalkan museum Rumah Si Pitung dengan perasaan sedikit masygul. Apalagi bus TransJakarta melewati saya begitu saja tanpa berhenti di halte yang sama tempat saya turun sebelumnya. Kali ini karena tak tahan panas untuk menunggu lagi, langsung saja saya mengorder babang Ojol untuk kembali ke halte Enggano. Meskipun setelah itu saya agak menyesal karena rupanya babang Ojol itu nekad menerobos sempitnya jalan di antara truk-truk peti kemas segede gaban tanpa peduli saya yang senewen tak terbiasa dan terus komat-kamit berdoa. Saya hanya membayangkan wajah suami yang ngomel karena saya nekad naik ojek diantara truk-truk peti kemas itu. Bisa-bisa ijin jalan-jalan ditarik… uugh..