Wayang dan Museumnya


 

Terik matahari sudah berkurang meskipun belum sepenuhnya reda. Dengan bergegas karena takut segera tutup, saya meninggalkan rumah makan di kawasan kota tua itu lalu menuju Museum Wayang karena lokasinya hanya selemparan batu dari situ.

Setelah membeli tiket yang harganya hanya Rp 5000,00 saya masuk ke dalam tanpa lupa bertanya jam tutupnya. Petugas menjawabnya seperti asal saja, yang katanya hingga pengunjung terakhir keluar. Entah apa maksudnya, apakah dia sungguh-sungguh mau menunggu hingga pengunjung terakhir keluar, -hal itu bisa jadi bumerang baginya sebab siapa tahu pengunjungnya adalah penggila wayang yang mau berjam-jam di sana-. Ataukah karena sangat sedikit pengunjung museum sehingga ia yakin dan tahu pasti bahwa pada jam tertentu akhirnya tidak akan ada pengunjung baru. Kok saya miris ya?

DSC09052
Baratayudha – The War

Meskipun tidak dibesarkan dalam keluarga yang suka nonton wayang, saya cukup mengenal kisah-kisahnya. Kisahnya ya, bukan wayangnya. Di Indonesia pertunjukan wayang biasanya mengambil kisah-kisah dari epos Ramayana atau Mahabharata dengan tambahan ciri khas masing-masing daerah meskipun ada juga yang mengambil kisah sehari-hari. Jadi, entah itu wayang dari Jawa atau Sunda atau Bali, apabila membicarakan Dewi Sinta, itu artinya ya istrinya Rama. Atau, jika bicara Drona ya artinya gurunya Pandawa dan Kurawa. Sesederhana itukah?

Ternyata tidak! Dari kunjungan ini, saya tahu bahwa saya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang wayang, juga kisahnya! Yang saya tahu hanya sebagian kecil saja dari begitu banyak variasi wayang yang ada di Indonesia ini.

Dengan bermodal ilmu kira-kira, saya disambut wayang segede gaban di dekat pintu masuk lalu lorong panjang yang memamerkan banyak wayang. Di sini lebih banyak dipamerkan wayang golek Bandung yang memang terlihat kualitasnya yang terpelihara dengan baik.

DSC09006
Wayang Golek Bandung

Ups, saya baru sadar bahwa Museum Wayang ini dulunya adalah gereja tua yang sekaligus menjadi tempat prasastinya Jan Pieterson Coen dan masih banyak prasasti-prasasti lain yang mengingatkan saya bahwa disana dibaringkan tubuh-tubuh mereka. Hmmm… mengapa auranya menjadi mistis begini yaaa… lalu kemana semua orang yang tadi ada? Mendadak saya berasa lebih dingin dan saya cepat-cepat pergi dari situ.

Ruangan selanjutnya membuat saya lebih tak nyaman. Ada boneka Sigale, yang secara tradisi katanya, sering digunakan juga untuk memanggil arwah. Boneka Sigale yang ada di balik ruang kaca ini, apakah juga dulu pernah dijadikan sebagai media pemanggilan arwah? Uuuh… kenapa sih pakaiannya harus putih begitu?  Tadinya saya mau upload fotonya, tapi setelah dipikir-pikir nanti malah takut, jadi saya batalkan uploadnya. Dan tak jauh dari boneka Sigale, juga ada boneka Si Manis, -dengan kisah horornya-, yang tentunya menambah suasana tak nyaman di sana. Ini kenapa Museum Wayang yang tempatnya udah berbau horor juga mengoleksi item yang horor-horor?

Tak luput dipamerkan pula boneka dengan Kisah Si Pitung (Sudah datang ke rumahnya? Saya sudah!) Jadi ingat, bukankah kisah Si Pitung juga penuh kontroversi dan katanya, punya daya sakti yang membuat Belanda gagal terus menangkapnya?

Seingat saya setiap pertunjukan wayang pasti dimulai dengan ditampilkannya gunungan dan biasanya gunungan itu cantik-cantik. Dan saya selalu kagum dengan gunungan-gunungan yang ada di Museum Wayang. Dan di museum ini saya baru tau makna-makna di hampir setiap sudut wayang kulit. Wow, ini beneran setiap sudutnya memiliki arti. Tidak heran semua penggemar wayang yang sejati langsung mengenal sebuah wayang ditunjukkan padanya. Tidak seperti saya. Saya hanya kenal punakawan, meskipun sering juga terbalik antara Bagong dan Semar.

Dari kisah-kisahnya yang mengambil dari Mahabharata, saya sebagai penggemar Kresna hanya tersenyum-senyum sendiri ketika melihat wayang Kresna yang sedang melakukan Triwikrama, yang ditampilkan seperti raksasa. Jadi inilah penggambaran Triwikarma dalam tradisi wayang tersebut.

DSC09063
Trivikarma of Krishna

Saya masih berkeliling dan menemukan boneka-boneka yang digunakan dalam sebuah pertunjukan tradisional seperti dari Malaysia, Vietnam, Kamboja, Russia, China dan lain-lain.

Tapi yang membuat saya terpesona adalah banyaknya versi wayang yang ditampilkan di Museum ini. Bahkan wayang kulit pun ada kategorinya, ada yang berukuran normal maupun berukuran lebih kecil yang akan dimainkan oleh anak-anak yang memiliki bakat sebagai dalang. Jika saya disodorkan wayang, saya tak pernah tahu bahwa ukuran yang satu lebih kecil dengan wayang yang lain.

Ada juga wayang lidi! wayang yang terbuat dari lidi yang diambil dari pohon kelapa itu. Hebatnya bisa dianyam sehingga membentuk wayang. Uh, jika saya yang membuat, lidinya pasti sudah patah dimana-mana. Sungguh, saya terkagum-kagum dengan wayang ini. Kagum dengan cara membuatnya!

DSC09162
Wayang Lidi

Dari ilmu sejarah yang saya dapat disekolah, dulu wayang juga merupakan alat syiar agama Islam di dalam masyarakat meskipun berkembang pula wayang wahyu, yaitu wayang yang digunakan untuk menyebarkan agama Nasrani. Pernah lihat wayang wahyu? Lihat gambarnya saja sudah dapat diidentifikasi. Dan tidak untuk syiar saja, untuk membangkitkan semangat juang, juga menggunakan wayang. Makanya ada yang namanya wayang revolusi! Asyik kan?

Dan wayang memang pantas mendapat gelar sebagai salah satu dari The Masterpieces of Oral and Intangible Cultural Heritage, -yang diberikan UNESCO pada tanggal 7 November 2003. Karena memang wayang ada di sudut-sudut Indonesia. Ada wayang dari Palembang, Bali, Lombok dan lain-lain selain Jawa dan Sunda yang lebih sering dikenal.

Jadi seru juga datang ke Museum Wayang. Selain ada rasa ngeri-ngeri sedap gitu, ada juga pengetahuan tentang wayang dari berbagai tempat. Belum lagi topeng-topengnya atau perangkat gamelannya.

Ayooo… agendakan akhir pekan ini ke Museum Wayang di Kota Tua, Jakarta…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-36 ini bertema Traditional agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

A Dose of Vitamin Sea


Salt water heals. Sweat, Tears and Sea. So don’t wait, let’s have some dose of Vitamin Sea

Mungkin juga tidak berlaku untuk sebagian orang, tetapi bagi saya, di saat stress melanda begitu menekan, -baik di lingkungan kantor ataupun pribadi-,  Vitamin Sea merupakan salah satu terapi yang lumayan ampuh untuk dijalankan. Memang tidak menghilangkan sama sekali, tetapi minimal bisa mengangkat mood menjadi lebih baik.

Seperti duluuu… ketika saya sekeluarga melakukan perjalanan mudik Lebaran melalui jalur Selatan menuju Jogjakarta dan terjebak di perjalanan hingga belasan jam, suami saya yang menyetir malah melakukan detour sebentar ke pantai selatan. Bisa jadi dia sudah jengkel melihat antrian kendaraan di Jalur Selatan yang tidak habis-habis itu dan ingin mengistirahatkan matanya sejenak dengan melihat laut.

IMG_4930
Southern Beach before Sunset

Saya sekeluarga menjejak pantai pada sore hari, kurang dari dua jam sebelum matahari terbenam. Suara deru ombak yang berkejaran menenangkan hati. Badan yang lelah terjebak dalam kendaraan selama berjam-jam mendadak bebas bergerak, sangat menyenangkan rasanya. Saya memandang ke laut lepas, mengagumi lembutnya sinar mentari sore yang tak lagi menyilaukan dan membiarkan air laut yang asin itu menyentuh kaki. Rasanya ingin berlama-lama menceburkan diri main air jika saja tak ingat harus melanjutkan perjalanan segera. Rehat itu hanya sejenak, namun sentuhan air itu cukup menularkan semangat bertahan untuk meneruskan perjalanan ke Jogja.

*

Tetapi dari pinggir laut saya juga mendapatkan pengalaman lain yang penuh makna. Saat itu masih di pantai selatan Jogjakarta, meskipun pada kesempatan yang berbeda. Saatnya sama, jelang matahari terbenam juga, tetapi situasinya sama sekali tak serupa. Tak ada rasa hangat saat itu, tak ada rasa ingin bermain di pantai saat itu. Jauh dari semua rasa itu.

Awan gelap menggantung di atas saya meskipun sedikit terang di horison. Sebuah kapal terlihat jauh di batas pandang, seakan meninggalkan saya yang terjebak di bawah awan badai. Ombak datang lebih cepat, lebih menderu yang bagi saya, terasa mengancam. Hempasannya tak main-main. Seakan berkata tanpa satu pilihan, jangan mendekat atau kamu akan disikat.

Anger is like Gasoline. If you spray it around and somebody lights a match, you’ve got an inferno. But if you can put it inside the engine, it can drive you forward.

Begitu juga Vitamin Sea, jika dilakukan bukan pada waktu yang tepat dan tidak sesuai dengan dosisnya, maka Vitamin Sea itu bisa berbalik arah menjadi sebuah ancaman yang membahayakan. Pada akhirnya manusia seharusnya yang belajar memahami alam dan tidak menantangnya.

Karena alam memiliki aturannya sendiri yang sudah jelas. Sebagian manusia dengan segala kepandaiannya justru kadang tak mampu menjaga alam. Alam yang terlahir cantik dengan keindahan luar biasa justru mendapatkan upaya penghancuran dari manusia-manusianya.

Akankah kita mampu menjaga keindahannya? Menjaga kebersihan pantai dan laut dari sampah, menjaga kelestarian biota laut? Saya seringkali gemas dan miris melihat foto-foto orang yang menginjak terumbu karang, atau mengangkat bintang laut ke udara tanpa rasa salah atau merasa lucu saat menduduki penyu yang sedang menuju laut. Apakah manusia-manusia itu pernah merasakan dipisah paksa dari lingkungan hidupnya yang utama, apakah mereka pernah dipaksa berada dalam ruang tanpa oksigen? Apakah mereka pernah diinjak dengan beban berlebih hanya untuk mendapatkan sebuah kesenangan?

Padahal keindahan pantai dan laut bisa membuat hati menjadi lebih nyaman, stress bisa terkendali. Rasanya luar biasa jika bisa melihat pantai pasir putih yang panjang dan bersih serta warna biru lautannya, apalagi jika air laut yang jernih. Indah sekali tentunya.

P1000693
Dreamland Beach in Bali

Atau seperti di pantai Kuta di Bali atau pantai-pantai indah lainnya yang menghadap Barat saat mentari terbenam mampu memberikan suasana romantis. Saat bola matahari itu perlahan-lahan ditelan horison, memberikan pendar warna kuning keemasan di langit Barat, siapa yang tak suka? Apalagi disaksikan bersama orang tercinta…

Jangan seperti saya yang pernah datang sendiri untuk menyaksikan matahari terbenam di Pantai Kuta tapi menjadi ingin menimpuk sepasang kekasih yang duduk di depan saya karena mereka saling berciuman tepat setelah matahari hilang dari horison. Bikin iri kan? 😀 😀

P1000475
Sunset in Kuta, Bali

Tidak bisa disanggah, berada di pantai memandang lautan dan mendengar deru ombak yang saling berkejaran memang sebuah terapi yang ampuh untuk mengendalikan stress seakan ombak membawa pergi semua masalah yang sedang dihadapi sehingga kita menjadi lebih jernih dalam berpikir.

Bayangkan saja, saat saya di Korea Selatan, saya menyempatkan diri ke Pantai Haeundae, padahal waktu itu musim gugur dan tentu saja udara serta air lautnya dingin sekali. Meskipun begitu, saya senang sekali menyaksikan sekumpulan anak-anak TK bersama gurunya menari di pantai dengan iringan lagu Gangnam Style yang waktu itu sedang ngetop sedunia. Lucu sekali!

Juga saat berkendara dari Danang menuju Hue di Vietnam Tengah, saya sempat mengambil foto pantai yang menggoda saya untuk singgah. Deburan ombaknya itu benar-benar sangat menggoda dan jika saja sopir mobil yang saya sewa itu tak menyebalkan, tentu waktu itu sudah saya sempatkan berhenti di pantai. Just to take a Vitamin Sea!

Sampai sekarang saya tak pernah lupa pengalaman berada hanya berdua dengan suami di Pantai Selong Belanak di Lombok Selatan yang berpasir putih sangat panjang hingga menyilaukan. Benar-benar seperti pantai pribadi!

Soal Vitamin Sea, Indonesia selalu di hati!


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-33 ini bertema Vitamin Sea agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Main Ke Rumah Si Pitung Di Marunda


 

Rumah Si Pitung

Siapa orang Betawi yang tidak kenal si Pitung? Dialah Sang Legenda Robin Hood dari Betawi pada akhir abad 19 yang telah berhasil mempermalukan Kepala Polisi Batavia dan meresahkan pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera pada masanya.

Selama delapan tahun, 1886 – 1894, Si Pitung melakukan aksi perampokan uang dan emas permata yang bernilai tinggi terhadap saudagar-saudagar kaya yang dinilainya bersekutu dengan Belanda lalu konon ia membagikan rampasannya kepada orang-orang miskin, namun selalu berhasil lolos dari kejaran polisi. Sempat sekali tertangkap, tapi seperti belut, dengan mudahnya Si Pitung yang bernama asli Salihun ini melarikan diri dari penjara Meester Cornelis di tahun 1891. Dan tidak tanggung-tanggung Sang Jawara ini mempermalukan Pemerintah Hindia Belanda karena ia bisa hilir mudik dengan kereta api tepat di depan hidung Sang Kepala Polisi. Dan bukannya mereda, Si Pitung bahkan berhasil membinasakan Demang Kebayoran yang memusuhi petani-petani serta tak henti-hentinya meresahkan pemerintah kolonial saat itu.

Tak terbayangkan gusar dan marahnya Penasehat Pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera yang bernama Snouck Hurgronje kepada Kepala Polisi Batavia, Schout Hijne, yang selalu gagal menangkap satu orang Bumiputera yang bernama Si Pitung ini. Pelecehan jabatan yang dilakukan Si Pitung terhadap Schout Hijne ini membuat Sang Kepala Polisi menghalalkan segala cara untuk menangkapnya, termasuk mendatangi dukun untuk mencari penawar jimat keberuntungan Si Pitung. Tindakan ini makin membuat Snouck Hurgronje hilang akal karena yang dilakukan Sang Kepala Polisi dianggap sangat memalukan dan tidak terpelajar. Tetapi kegagalan terus menyelimuti penguasa saat itu, karena ketika menggerebek rumah Si Pitung di Rawa Belong, mereka hanya menemukan uang 2.5 sen pada tiang bambu. Bahkan kabar kematiannya tetap tak jelas, apalagi keberadaan makamnya.

Dan legenda jawara itu tetap memenuhi pikiran masyarakat Betawi dengan penuh kebanggaan

*

Museum Rumah Si Pitung

Sebenarnya sudah lama saya ingin ‘main’ ke rumah Si Pitung, tetapi baru empat hari jelang puasa niat mengenal legenda Sang Robin Hood Betawi itu bisa terlaksana. Saya sengaja mengambil cuti untuk main ke rumah Sang Legenda yang kini menjadi museum di Marunda. Sebuah pertanyaan menari-nari di benak sepanjang perjalanan, rumah masa kecilnya di Rawa Belong (dekat Palmerah) dan konon makamnya ada di Sukabumi Utara, yang tak jauh dari Rawa Belong. Lalu mengapa museumnya ada di Marunda yang sangat jauh? Saya tak punya jawaban pasti, kecuali hanya untuk menenangkan pikiran. Sebagai buronan kelas kakap, sewajarnya ia tak pernah menetap dan selalu berpindah…

Untuk mencapai rumah Si Pitung di Marunda atau House of Si Pitung di Google Maps, saya menggunakan aplikasi Travi untuk membantu perjalanan dengan bus TransJakarta. Saya naik bus Transjakarta Koridor 1 menuju Kota lalu turun untuk transit di Monas, dan menunggu bus Koridor 2 yang menuju Pulo Gadung. Setelah melewati sekian banyak halte, saya turun di Cempaka Timur. Tanpa keluar dari area bayar, saya menyusuri jembatan penghubung ke Cempaka Mas 2 untuk lanjut dengan bus TransJakarta Koridor 10 menuju Tanjung Priok dan turun di halte Enggano. Di Halte TransJakarta Enggano ini saya harus menunggu agak lama bus ukuran ¾  jurusan Marunda, dan turun di Pertigaan Rumah Si Pitung. Dari sini saya harus jalan kaki lagi sekitar 200 meter untuk sampai ke Rumah Si Pitung. Meskipun jauh banget, perjalanan dengan bus TransJakarta sangat mudah dan murah, hanya Rp 3.500,- atau sekali tap, tanpa tersesat.

Perjalanan panjang dan lama, -yang kalau naik mobil pribadi bisa sampai Bandung itu saat tol Cikampek bebas macet-, membuahkan hasil meskipun cuaca agak kurang bersahabat. Udara pantai utara Jakarta yang panas membuat keringat mengalir dengan cepat, meskipun ada kolam-kolam bakau yang mampu meredam sedikit panas. Setelah membayar Rp. 3.000 untuk tiket masuk, akhirnya saya bisa berdiri di halaman Rumah Si Pitung, Legenda Jawara terkenal dari Betawi.

Rumahnya yang kini jadi museum tak beda dengan rumah-rumah Betawi pesisir pada umumnya yang berbentuk rumah panggung. Saat saya berkunjung sama sekali tak ada orang, bisa jadi karena saya datang pada hari kerja dan bukan akhir minggu.

Saya menaiki tangga sempit itu dengan hati-hati dan langsung terkejut ketika sampai di anak tangga paling atas. Di sudut teras depan, sebuah patung tak berwajah mengenakan pakaian jawara. Meskipun tak berwajah, saya merasa tak nyaman dengan patung setinggi manusia itu. Ah, saya mungkin lebih terbiasa dengan manekin yang benar-benar terlihat sebagai patung daripada sesuatu berbentuk tubuh manusia tapi tak berwajah. Hitam lagi… Meskipun siang, tetap serem ‘kan?

Kemudian saya melangkah masuk ke ruang tamu melalui pintu yang ketinggiannya rendah. Panas matahari di luar rasanya terjebak di dalam sini, membuat saya seperti kehabisan nafas. Tanpa angin meskipun jendela terbuka. Gerah! Di dalam ruang ini terdapat seperangkat kursi tamu lengkap dengan toples-toplesnya, menggenapi yang ada di teras depan. Lukisan Si Pitung bersama seorang perempuan dan sebuah lampu teplok menghiasi dinding. Sebenarnya ruangan ini bagus, tetapi pengelolanya tak memiliki rasa estetika sama sekali karena kabel listrik yang putih bersama stopkontaknya tidak disembunyikan dan terlihat sangat jelas, merusak penataan warna kayu yang telah dibuat senada.

Lalu ruang berikutnya adalah kamar tidur Si Pitung yang berisi ranjang berkelambu. Saya hanya bisa mengambil foto dari batas pintu karena ada pembatas akses. Jika dalam beberapa sumber dikatakan Si Pitung melajang seumur hidupnya untuk mempertahankan kekuatan jawaranya, maka kondisi kamar yang memiliki ranjang double bertiang dan berkelambu serta meja rias perempuan, menjadikannya bertolak-belakang. Apalagi di lukisan pada ruang sebelumnya terdapat penggambaran Si Pitung bersama seorang perempuan. Adakah yang tahu kisah cinta Si Pitung ini? Siapakah perempuan pendamping legenda Betawi ini?

Saya masih melangkah terus ke belakang. Rasanya saya menjadi pemilik rumah karena menjadi satu-satunya pengunjung saat itu. Ruang berikutnya adalah ruang makan dengan seperangkat meja makan dengan kendi dan lampu gantung berhias. Melihat kendi itu, tergambar dalam benak jawara-jawara meminum air yang mengucur langsung dari kendi ke mulutnya tanpa menggunakan gelas. Kadang kala untuk menyegarkan wajah juga.

Kemudian di sudut ruang terdapat lemari bercermin dengan tikar di hadapannya dan sebuah kayu permainan congklak. Sepertinya bayangan Si Pitung bermain congklak terasa absurd pada benak saya, seharusnya perempuan muda yang melakukan permainan ini. Adakah perempuan-perempuan muda atau anak-anak di sekeliling Jawara Betawi ini? Atau benda ini hanya sekedar benda budaya yang tak terkait dengan Si Pitung? Entahlah… karena tak ada informasi pendukung di sekitar benda ini.

Di sudut seberangnya terdapat bale-bale dengan setumpuk peti yang entah untuk apa kegunaannya. Bisa jadi sebagai tempat menyimpan sementara harta rampasan sebelum dibagikan kepada yang membutuhkan. Selain itu juga terdapat satu set rebana dan alat musik tradisional Betawi. Sayangnya tidak ada penjelasan sama sekali, kecuali larangan-larangan. Bisa jadi pengelola menganggap semua pengunjung sudah tahu mengenai Si Pitung dan budaya Betawi. Padahal di luar negeri untuk museum spesifik seperti ini, selalu disertai informasi yang lengkap, jika perlu ditambahkan hal-hal lain yang bisa mengundang pengunjung datang lagi. Informasi yang ada justru membuat saya bertanya-tanya, -karena diinformasikan peti-peti itu adalah koleksi seseorang-, lalu hubungannya apa dengan sejarah Si Pitung?

Dapur dan Peralatan Masak

Ruang berikutnya adalah dapur dengan sebuah bale-bale dan seperangkat peralatan masak diletakkan diatasnya. Bukankah akan menarik bila dipresentasikan bagaimana cara memasak secara tradisional pada abad 19 itu? Belum tentu semua anak millenial jaman now bisa mengetahui nama-nama alat masak tradisional itu. Tetapi sayang, tidak ada informasi pendukungnya.

Di arah belakang terdapat pintu menuju teras belakang yang tersedia juga sebuah bale-bale yang kelihatannya enak sekali untuk bersantai tidur-tiduran sambil minum kopi. Sekali lagi, sayang tak ada informasi pendukung yang menjelaskan. Jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesia saja tidak ada. Selain itu, lagi-lagi si kabel putih merusak semua pemandangan. Mungkin memang museum ini tidak ditujukan untuk pasar turis asing. Sayang ya?

Saya kembali ke teras depan, menikmati sedikit angin di situ. Menatap ke luar, seakan-akan ke halaman tetangga, tetapi apa daya, terlihat kabel-kabel listrik bergantungan tak beraturan. Gemas rasanya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditata dengan lebih baik.

Balkon di Teras Depan

Mentari semakin terik, saya turun mencari tempat teduh di halaman sambil menikmati Rumah Jawara Betawi ini. Seekor kucing tiba-tiba datang melingkari kaki saya, ingin bermanja-manja rupanya. Hati ini miris, masyarakat Indonesia belum banyak yang mencintai museum. Bahkan bisa jadi pengelolanya pun masih beranggapan museum adalah tempat membuang benda-benda tua yang tidak diperlukan lagi, yang tak jauh beda dengan gudang. Tanpa perlu informasi pendukung, meskipun sebenarnya banyak cerita sejarah berada di balik benda-benda berharga yang dipamerkan itu. Ah, jika manusia belum mencintai sejarahnya, bagaimana ia bisa menghargai masa depan bangsanya?

Saya meninggalkan museum Rumah Si Pitung dengan perasaan sedikit masygul. Apalagi bus TransJakarta melewati saya begitu saja tanpa berhenti di halte yang sama tempat saya turun sebelumnya. Kali ini karena tak tahan panas untuk menunggu lagi, langsung saja saya mengorder babang Ojol untuk kembali ke halte Enggano. Meskipun setelah itu saya agak menyesal karena rupanya babang Ojol itu nekad menerobos sempitnya jalan di antara truk-truk peti kemas segede gaban tanpa peduli saya yang senewen tak terbiasa dan terus komat-kamit berdoa. Saya hanya membayangkan wajah suami yang ngomel karena saya nekad naik ojek diantara truk-truk peti kemas itu. Bisa-bisa ijin jalan-jalan ditarik… uugh..

Sebuah Refleksi Hati Di Museum MACAN


Dalam sebuah ruang tepatnya bersebelahan jalur masuk Museum Of Modern And Contemporary Art in Nusantara (MACAN) terdapat instalasi karya Yayoi Kusama yang sangat populer, yang berjudul Infinity Mirrored Room – Brilliance of the Souls. Instalasi yang menjadi koleksi Museum ini, sekarang ditampilkan permanen dan sepertinya menjadi icon dari Museum MACAN. Atau pengunjung yang datang hanya untuk berfoto dalam ruang ini? Bisa jadi…

Yayoi Kusama’s Infinity Mirror – Museum of Modern And Contemporary Art in Nusantara, Jakarta

Instalasi dalam ruang gelap ini penuh polka dot ini, awalnya hanya dihadirkan sementara dalam pameran perdana museum dan juga pameran retrospektif seniman unik itu yang berjudul Life is The Heart of A Rainbow. Siapa nyana, akhirnya yang sementara itu sekarang menjadi permanen sejak 26 Maret 2019 lalu?

Di Museum MACAN, pengunjung hanya bisa memasuki ruang Infinity Mirrored Room – Brilliance of the Souls setelah berkeliling museum dan ikut dalam antrian. Tidak bisa lama di dalam, hanya 30 detik! Bahkan bisa lebih cepat dari angka itu jika antriannya panjang. Apa pesonanya?

Jangankan saya, selebriti dunia seperti Katy Perry saja melakukan selfie didalamnya. Ya, karena instalasi polkadot warna warni itu dalam ruang gelap penuh cermin yang disinari memang sangat indah, menarik sekaligus menyimpan misterinya sendiri.

Namun terlepas dari kekaguman saya akan hasil karya dan kece-nya Infinity Mirrored Room itu, saya juga tak bisa lepas dari rasa prihatin yang dalam kepada sang artist. Sesungguhnya ruang gelap dan bentuk polkadot warna-warni yang terlihat terhampar tanpa batas karena refleksi cermin itu merupakan halusinasi dan ekspressi dari mental illness yang ditanggung oleh perempuan Jepang kelahiran tahun 1929 itu sejak usia 10 tahun. Kemampuan membelokkannya menjadi seni yang begitu indah, telah menyelamatkan hidupnya dari upaya bunuh diri.

Sungguh saat saya meninggalkan ruang Infinity Mirrored Room itu, saya merasa seperti ‘bukan gegar otak melainkan gegar rasa’ bahwa sebuah kekurangan manusia, sebuah mental illness, dapat menjadi sebuah berkah luar biasa yang bila dikenali dan disalurkan kearah yang positif, bisa berubah menjadi sebuah kelebihan. Sebuah gangguan kejiwaan yang di dunia sering dikategorikan negatif bisa menghasilkan karya positif yang dicari banyak orang, -dan orang yang memahami bersedia membayar mahal untuk bisa mengagumi karyanya-, serta menjadi trademark bagi Yayoi Kusama.

Bagi saya pribadi, merasakan sendiri berada di dalam Infinity Mirrored Room itu benar-benar ‘makjleb

***

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-18 ini bertemakan Reflection agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Kemudian Wajah Kita Menjadi Asing Satu Sama Lain…


IMG_0548

It is not our differences that divide us. It is our inability to recognize, accept, and celebrate those differences

(Audre Lordes)

Sejak tahun lalu, gejolak api untuk berseberangan pilihan semakin membesar. Padahal hari besar itu sesungguhnya merupakan sebuah pesta, sebuah perayaan akan kemampuan kita berdemokrasi. Semua dari kita yang memenuhi syarat, akan menentukan pilihan lalu menerima apapun hasilnya. Benarkah kita mampu menerima apapun hasilnya? Benarkah kita mampu menerima perbedaan?

Sejak tahun lalu, gejolak api untuk pilihan yang saling berseberangan semakin dikobarkan diantara kita, sehingga banyak dari kita ikut terbakar. Dalam pergaulan, tak jarang terjadi peristiwa yang begitu menyesakkan dan mengagetkan.

Rasanya saya tidak sendirian, karena saya percaya banyak terjadi juga dalam lingkup pergaulan kita semua. Seperti saya yang tergabung dalam sebuah WAG (WhatsApp Group) teman sekolah semasa kecil (SD dan SMP), -yang semuanya saya kenal sejak mereka kecil, masih menggunakan celana pendek, masih malu-malu ketika berdekatan dengan lawan jenis dan masih polos pemikirannya-, salah satu dari teman masa kecil ini mendadak left group karena merasa tidak sejalan lagi dengan teman-temannya semasa kecilnya itu. Hanya karena sebuah pilihan.

Dan tidak berhenti disana, ia pun meninggalkan group dengan kata-kata yang menghenyakkan. Hanya karena salah satu dari anggota group posting yang mendukung salah satu calon presiden. Namun ia telah menyamaratakan semua anggota group, yang mengenalnya sejak kecil. Bukan kata-katanya yang memedihkan hati, melainkan kepergiannya dari kami semua. Hanya karena sebuah pilihan.

Tetapi bisa jadi aktivitas di dunia maya membuat dirinya merasa tersudutkan. Ketika saya menjumpainya saat pemakaman Papa beberapa bulan setelah peristiwa left group itu, saya berhambur memeluknya, paham bahwa ia tak pernah meninggalkan saya.  Tapi bisa jadi, tak banyak yang seperti dia.

Karena di dunia nyata tidak jauh berbeda dengan dunia maya untuk masalah pilihan ini. Salah satu teman main semasa SMA, mendadak menjadi pendukung fanatik seseorang dari tim pemenangan salah satu calon presiden. Mendadak kami sebagai teman-temannya, -yang mengenalnya begitu dekat sejak masa sekolah, yang menjadi tempat curhatnya saat dia mengalami masalah dalam pernikahannya-, ditinggalkan olehnya demi seseorang yang baru ia kenal. Dia menjadi seseorang yang sangat berbeda, menjadi seseorang yang tidak kami kenal, seseorang dengan wajah asing. Bahkan kini, demi seseorang dari tim pemenangan salah satu calon presiden, dia kini menetapkan garis batas yang membedakan, yang memberi jarak antara kami dan dia.

Di lingkungan tempat bekerja,- meskipun pekerjaan berjalan biasa-, tetapi jika melihat dalam-dalam ke dunia media sosial dari rekan-rekan kerja, betapa berkobar api berseberangannya. Hanya karena sebuah pilihan.

Sekali lagi saya percaya, saya tidak sendirian. Bahkan di media massa pun berkisah, ada banyak dari keluarga yang seperti terperangkap oleh api pertengkaran. Ada banyak persoalan yang dihadapi teman-teman sekolah, ada banyak masalah baru ditimbulkan dalam lingkungan kerja, hanya karena sebuah pilihan.

Hanya karena sebuah pilihan, masing-masing dari kita menjadi begitu berbeda, menjadi seseorang dengan wajah asing, wajah yang seakan-akan tidak pernah dikenal.

Tanggal 17 April 2019 semakin dekat, semoga menjadi titik balik agar kembali seperti semula. Kita sesungguhnya hanya bisa berharap semua akan kembali damai, tanpa api yang membakar satu sama lain.

Namun, setelah banyak dari kita mengalami sendiri fenomena ini, sebuah pertanyaan muncul di benak apakah benar wajah kita masing-masing menjadi asing satu sama lain?

Ataukah mungkin,

Kita yang belum sungguh-sungguh mengenal diri sendiri sehingga tidak mampu menerima makna perbedaan?

*


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-13 ini bertemakan Stranger agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Saat Impian Menjadi Nyata di MesaStila


Ketika pulang mudik menuju Jogja, hampir selalu saya melewati persimpangan itu, -sebuah persimpangan menuju hotel impian-, dan selama itu pula saya hanya bisa berujar dalam hati, suatu saat saya akan berbelok disini, entah kapan tetapi pasti akan datang waktunya. Dan benarlah, dalam libur Lebaran tahun lalu, akhirnya saya sekeluarga berbelok di persimpangan itu. Mewujudkan impian yang begitu lama, -lebih dari sepuluh tahun-, yang saya genggam untuk bisa menginap di hotel impian sambil menyiapkan dana karena harganya sangat tidak murah. Hotel yang bisa dicapai sekitar 2 – 3 jam dari Semarang terletak di antara perkebunan kopi, dulu bernama Losari Plantation, namun kini menjadi MesaStila Resorts & Spa.

Sebagai bagian dari Jaringan Hotel Mesa, MesaStila Resorts & Spa yang terletak Desa Grabag Losari, Magelang, Jawa Tengah ini termasuk dalam kategori Mesa Collection, yang mengedepankan koleksi seni benda-benda antik termasuk bangunan tradisional yang berbentuk rumah-rumah joglo yang indah dan juga bangunan stasiun kereta. Dan meskipun berkategori hotel mewah, MesaStila berkomitmen untuk tetap memfokuskan pada pengalaman tradisional, memperhatikan masyarakat lokal serta memfasilitasi gaya hidup sehat dengan menonjolkan keindahan lingkungan. Keren kan?

Nah, sejak meninggalkan persimpangan jalan raya itu dan memasuki kompleks hotel, kami berhenti di depan sebuah pavillion yang uniknya direkonstruksi dari bangunan asli stasiun kereta Mayong Losari yang berangka tahun 1873! Bangunan bercat kuning yang sangat cantik ini punya kisah tersendiri, karena awalnya bangunan stasiun Mayong Losari itu akan dirubuhkan karena menghalangi jalan yang baru dibuka. Beruntung seluruh kayu bangunan cantik itu bisa diselamatkan tepat pada waktunya untuk kemudian direkonstruksi sesuai aslinya dan kini berdiri di MesaStila berfungsi sebagai ruang penyambutan.

7
MesaStila – The Mayong Losari Station Hall

Dan laksana berhenti di stasiun, begitu turun dari kendaraan saya sekeluarga disambut hangat oleh seorang petugas berpakaian tradisional dan langsung memandu kami menuju bangunan utama yang terletak di tengah taman luas dan apik dan berfungsi sebagai lobby sambil menjelaskan banyak hal mengenai MesaStila. Saya terpesona, namun tetap melangkah mengikutinya sambil mengambil foto disana-sini.

Tak lama kemudian, kami sampai di bangunan utama peninggalan Belanda yang besar dan berfungsi sebagai lobby. Cantik sekali dengan halaman yang tertata apik, suara gamelan sayup terdengar, saya tak berkeberatan menunggu proses administrasi yang ternyata sangat cepat. Semua sudah disiapkan. Meskipun berjalan kaki, kami tak lagi membawa koper dan tas-tas karena semua sudah ditangani tersendiri. Kami hanya melenggang, menikmati semua pemandangan selagi jalan menuju villa. Apik.

6
MesaStila – The main park

12
MesaStila – my villa’s bedroom

Melalui pintu samping villa, kami melangkah ke dalam, sebuah buket bunga cantik diatas meja makan terselip nota dengan nama saya tertulis diatasnya dari Manager Hotel menyambut saya sekeluarga. Saya mengagumi layanan luarbiasa dengan sentuhan yang sangat personal namun penuh penghormatan.

Selain buket bunga, saya melihat ranjang megah bertiang empat dan berhiaskan kain krem berlipit menjadikan suasana seperti kamar raja. Semua terasa sempurna. Ah, rasanya terbang mendapatkan layanan begitu prima.

Saya tak sabat menuju kamar mandi yang ternyata terpisah antara toilet, ruang shower dan ruang berendam yang memiliki jendela selebar dinding berpemandangan indah keluar dengan privasi yang terjaga. Tak jauh tempat berendam tersedia  semangkuk penuh helai bunga mawar sebagai pengharum saat berendam. Tidak berhenti disitu, saat kami ke beranda, saya mendapati satu lagi tempat shower outdoor. Siapa yang tak suka mendapat semua layanan dan fasilitas itu?

Keindahannya tak berhenti disana. Villa kami berpintu dan jendela kaca selebar dinding villa dan menyuguhkan pemandangan alam dengan pepohonan rindang bersaput gunung Andong yang memanjakan mata. Suasana yang begitu tenang, melupakan fakta bahwa sejatinya tempat ini hanya selemparan batu dari jalan raya penghubung kota Jogja dan Ambarawa. Ah, sang suami langsung duduk leyeh-leyeh menikmati kesejukan udara yang membuat jiwa raga terasa lega.

13
MesaStila – a peek from the spa’s entrance to swimming pool

14
MesaStila – infinity pool

Rasanya tak mungkin bila saya melewatkan free-spa yang diberikan untuk merehat sejenak kekakuan otot pundak hingga kepala. Tempat spa yang lokasinya bersebelahan dengan kolam renang, memiliki penataan yang luar biasa menenteramkan. Musik yang sayup terdengar dan pijatan lembut yang saya rasakan membuat diri ini serasa terbang ke dunia impian. Atau bisa juga mendapatkan Hammam Spa yang khas Turki disini.

Selemparan batu dari tempat Spa, terdapat kolam renang infinity yang dikelilingi hijaunya pepohonan yang rimbun menjadikannya seperti oase natura. Siapapun yang berada di kolam itu akan merasakan menyatunya dengan alam sekitar. Rasanya déjà vu dengan situasi serupa yang ada di Ubud, Bali.

Tak terasa sore telah menjelang dan kami bersiap untuk bersantap malam. Searah dengan kolam renang, di hadapan taman luas yang lapang, kami menuju restoran dengan berbagai macam sajian makanan dan minuman yang harganya bagi saya tak mengapa untuk impian satu dasa warsa yang menjadi nyata. Kerlip cahaya malam yang diatur indah membuat suasana terasa romantis. Kami memesan makan malam yang rasanya enak sekali untuk ukuran lidah orang biasa. Tak jauh dari meja kami, sekelompok turis Eropa juga sedang menikmati makanan sambil ngobrol satu sama lain juga bertukar sapa dengan penjamu sajian. Ada rasa menyatu antara tamu dan orang-orang yang ada di belakang MesaStila ini.

1
MesaStila – Restaurant at Night

Jika masih ingin bersantai, hotel ini juga menawarkan sajian kopi khas MesaStila yang tumbuh dan berkembang serta diolah langsung di atas tanah seluas 11 hektar. Kopi jenis Robusta ini, konon terasa amat enak di lidah. Saya sendiri tidak sempat merasakannya.

Keesokan harinya setelah melewati malam yang melelapkan, seperti biasa saya melakukan jalan pagi, berusaha menyapa mereka yang bekerja. Di depan Bangunan Utama, dekat dengan taman yang luas itu, saya mengamati keindahan bangunan lounge yang merupakan replika asli dari gudang penyimpan kopi jaman penjajahan Belanda. Jika duduk disini, pemandangan indah Gunung SIndoro dan Gunung Sumbing jelas terlihat. Dan berseberangan dengan bangunan lounge tadi, pengunjung bisa mengolah daya pikir bermain catur raksasa yang disediakan di halaman.

Pada sisi lainnya, saya tersenyum sendiri karena melihat sepetak area yang berbentuk susunan batu-batu kecil yang terstruktur yang konon bisa menyehatkan bila berjalan diatasnya. Saya tahu bagi yang kurang sehat akan terasa sulit jalan diatasnya. Tapi tak salah untuk mencobanya… Susunan batu itu  berhias gentong besar senada dan sebuah gong yang semuanya terlihat dalam harmoni saling mendukung suasana.

3
MesaStila – The Labyrinth and The Main Lobby

2
MesaStila – The Lounge & The Giant Chess

Tak jauh dari sana, sepertinya disediakan tempat untuk mengheningkan rasa atau meditasi, karena terdapat kolam air mancur dan bangku panjang menghadapnya. Saya teringat akan Fontana di Trevi, kolam air mancur di Trevi, Roma, Italia saat melihat dasar kolamnya yang penuh koin. Ah, saya sedang tidak membawa koin, jika saja saya bawa, tentu akan saya lempar juga ke kolam air mancur itu.

Saya melanjutkan jalan pagi lalu mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas yoga di sebuah beranda yang terbuka, yang saya perkirakan akan dimulai saat saya selesai mengelilingi kompleks hotel.

Melewati musholla dan kolam ikan yang cantik, saya berjalan menuju perkebunan kopi, yang tingginya seukuran manusia sehingga saya bisa menggapai kopi-kopinya. Inilah khas dari MesaStila, mereka menanam kopi dan memprosesnya sendiri hingga disajikan kepada penikmat kopi. Dan sebagai tamu, kita bisa melihat semua prosesnya, sejak awal, sejak pembibitan.

9
MesaStila – Green Coffee Plantation

8
MesaStila – Coffee Plantation

Saya mengamati penjelasan pembuatan kopi hingga sampai kemasan termasuk nilai analisa kopi yang dihasilkan. Karena saya bukan penikmat asli kopi, saya tidak begitu memahami makna angka-angka itu  tapi tak mungkin dipajang bila biasa-biasa saja kan?

Selain kopi, saya pun ke kandang kambing yang memang dipelihara sebagai bagian dari penataan perkebunan dan pemberdayaan masyarakat sekitar. Lucu juga pagi-pagi saya memberi makan para kambing dan mereka menampilkan wajah yang lucu saat difoto. Sadar kamera sekali para kambing itu 😀

10
MesaStila – Beautiful paths to walk or ride a horse

11
MesaStila – A gate to a villa

Selain kambing, di MesaStila juga bisa berkuda. Jalurnya dibuat dengan cantik. Salah satunya memiliki gerbang altar yang sangat instagrammable. Memang disini banyak sekali tempat yang bagus untuk diabadikan, Ah, waktu cepat sekali berlalu, tak sadar sudah waktunya untuk kelas yoga, sehingga saya harus kembali ke arah kolam renang.

Saat berjalan kembali, perasaan saya menari-nari. Bahagia itu ketika impian bisa menjadi nyata, tetapi apa sebutannya bila yang diterima dan dirasakan jauh melebihi dari impian itu sendiri? Impian satu dasa warsa memang menjadi nyata dan itu sangat membahagiakan, tetapi sungguh yang saya dapatkan dan yang saya rasakan lebih banyak dari pada itu. Oh, seperti  kata sahabat saya, I am not lucky, I am blessed.

4
MesaStila – The Restaurant in the morning

5
MesaStila – The path to the villas


Sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-8 ini bertemakan Impian Menjadi Nyata, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Lukisan Pagi Dari Sang Pencipta


DSC05475
The Magical Borobudur

Beberapa tahun lalu, Punthuk Setumbu menjadi saksi saya sekeluarga berjalan dalam gelap hanya untuk mendapatkan momen matahari terbit. Saat itu, walau matahari merangkak naik di balik awan, alam tetap berbaik hati dengan menghamparkan pesona Candi Borobudur berbalut kabut pagi yang luar biasa indahnya. Sebuah keindahan yang mempesonakan. Tak heran, ketika libur Lebaran tahun lalu tiba, saya mencari kesempatan bisa melihatnya kembali. Kali ini, hanya ingin memanjakan diri di hotel yang tenang dengan pemandangan cantik Borobudur dari kejauhan yang dikelilingi kabut pagi hari.

Tidak banyak hotel yang menjanjikan pemandangan luarbiasa itu. Kalaupun ada, harga kamarnya bisa menyentuh langit, yang tentu saja bukan pilihan. Akhirnya, di sebuah hotel yang terjangkau , semua yang diinginkan tersedia. Yang paling penting pemandangan Borobudur, -bangunan abad 8 yang terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site-, diselimuti kabut pagi bisa terlihat dari kamar!

bhills
Borobudur, The Infinity Pool and Mt. Merbabu

Tidak mudah menemukan hotel itu, apalagi saat itu di kawasan Borobudur diberlakukan pengalihan lalu lintas mengingat jumlah pengunjung yang melonjak selama periode Lebaran. Sungguh lokasi yang menggoda, membuat tak sabar untuk segera tiba. Lalu ketika saatnya datang, tak terduga masih ada pesona lainnya. Di kamar, tersedia infinity private pool dengan latar Borobudur dikejauhan, ditambah bonus Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang berjajar ikut menambah eksotisnya pemandangan yang bisa dihamparkan. Gunung Sumbing sedikit ke Utara tak mau kalah ambil bagian dalam pesona. Lalu, apakah saya terlupa mengatakan saat malam datang, ribuan bintang berkelip menghiasi langit. Rasanya sudah lama saya tak melihat bintang sebanyak itu.

Lalu keesokan harinya, sejak semburat sinar menghias langit Timur, saya telah terjaga. Gunung Merapi dan Merbabu tampak anggun bersebelahan di depan mata. Kabut-kabut menyelimuti lembah, membuat pepohonan dan desa seakan dekorasi di atas kanvas alam dengan Borobudur menjadi sentral pandangan mata. Lukisan yang sangat indah dari Sang Pencipta. Waktu berjalan dan secara perlahan cahaya mentari naik dari antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi, memberi kehangatan pada permukaan bumi. Perlahan melenyapkan kabut, menjelaskan keindahan desa, membangunkan kehidupan dunia.

Menyaksikan semuanya, saya tahu, Pemilik Semesta selalu berbaik hati kepada saya dengan melimpahkan pemandangan indah pagi itu. Saya juga tahu, ada banyak orang yang sudah bangun jauh lebih awal dari saya, melakukan perjalanan subuh, berjalan kaki dalam gelap, hanya untuk mendapatkan pemandangan ini. Sedangkan saya, hanya dengan membuka mata dari tempat pembaringan, telah melihatnya. Apalagi disertai usaha melangkah ke beranda kamar, semua terpampang penuh pesona. Sungguh semua ini nikmat anugerah yang nyata.

The most beautiful way to start and end the day is with a grateful heart.

DSC05538
Borobudur, Like a Painting




Sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-7 ini bertemakan Pagi, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Berjuta Kenangan Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik


Jumat, 21 Desember 2018,
13:35
Teman-teman sekantor merayakan ulang tahun sekretaris dengan gembira, riuh mendatangkan  kue mengumbar nyanyian
13:37
Masih dalam suasana riang gembira, saya sempat membaca ada panggilan tak terjawab dari rumah mama, namun belum sempat menelepon balik, sudah ada telepon lagi dari rumah mama. Saya menjawab tetapi suara saya sepertinya tak terdengar di ujung sana. Saya tak menutup tetapi telepon di ujung sana akan ditutup. Tetapi sebelum ditutup, terdengar suara mama menangis. Bresssss… terasa semburan hawa dingin tak nyata di sekujur tubuh.
13:38

Cepat saya menelepon rumah Mama, Mas No, perawat Papa yang mengangkat, menyampaikan permohonan untuk segera pulang. Something is very wrong, Saya memaksanya menceritakan fakta sesungguhnya karena saya tidak suka dengan harapan palsu. Dan saya tak akan pernah lupa suara Mas No yang menyampaikan berita itu, “Sudah tidak ada, mba”
Innalillahi wainna ilaihi roji’un…

jp1
A sunset view from Father’s Cemetary

Kahlil Gibran menitipkan pesan indah, ketika kita bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu, sesungguhnya kesedihan sedang menunggu dengan sabar di pembaringan. Lalu, mampukah saya berpeluk mesra dengan kesedihan, -semesra saya memeluk kebahagiaan-, saat kesedihan menggantikan tempat kebahagiaan? Nyatanya roller-coaster hidup ini menghias keseharian saya dalam bulan Desember 2018 ini.

Desember pekan pertama, bahagia dan bangga menyelimuti, melihat ananda berbalut toga wisuda yang dilanjut adiknya yang turut berlomba antar negara. Minggu selanjutnya mata dan hati saya berbinar memeluk bahagia dapat melampaui ulang tahun berumahtangga untuk kesekian kalinya.

Dan pekan berikutnya, kesedihan datang dengan cepat, menukar tempat bahagia.

Jumat siang yang indah itu, Papa kembali kepadaNya untuk selama-lamanya. Begitu cepat dan dimudahkan semua prosesi kembalinya. Hanya enam jam setelah tarikan nafas terakhirnya, almarhum Papa telah dibaringkan dalam kuburnya.

Kematian…
Sebaik-baiknya saya mempersiapkan hati, sejatinya tak pernah 100% saya siap menghadapinya. Kepergian Papa mampu membekukan saya, dinding-dinding tebal emosi terbangun sangat tinggi, melindungi hati duniawi, menangisi dia yang pergi.  Tak banyak yang melihat saya dengan airmata berlinang, sebagian mereka hanya melihat senyum datar terkembang, walau di dalam, saya tertatih menata rasa.

Papa adalah pahlawan, bagi saya, keluarga dan Negara. Mama bercerita, saat itu, kesatuan dan keutuhan Negara diragukan, Papa maju dengan risiko kehilangan nyawa dalam kegelapan laut nun jauh disana. Dengan keahlian ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya, dalam gelap ia memberi supply bahan bakar untuk mendukung Angkatan Laut Republik Indonesia membela Negara. Papa adalah senoktah kecil peran bela Negara.

Papa, bagi saya, adalah teladan keikhlasan dan berserah diri. Tak pernah segan ia membagi yang dimiliki, tak henti ia membagi ilmu selama mampu. Bahkan setelah stroke, dengan fisik tertatih ia masih memberi pelatihan di luar kota Jakarta bahkan di luar pulau Jawa. Untuk semua yang telah ia berikan, tak pernah sekalipun ia meminta balas. Ia ikhlas atas semuanya. Juga tipu daya dan khianat yang dilakukan sebagian dari mereka yang pernah menerima dari Papa. Ikhlas yang tak bertepi.

Papa, pria pertama yang mencintai saya, -anak perempuan satu-satunya-, dan selamanya cintanya menggema.

jp2
View from Father’s cemetary

Walau tertatih rasa, saya percaya, dalam setiap peristiwa tersebar sidik-sidik jari Yang Maha Kuasa; terutama dalam kematian, sebuah peristiwa dengan bimbinganNya yang begitu nyata. Kesedihan yang mengekor dari peristiwa kematian, bersama-sama menjadi guru pembimbing hidup. All are sent as guides from beyond. Semua itu hadir membawa kekuatan pemurnian jiwa yang tak ada dua. Seperti Candradimuka yang melahirkan manusia-manusia utama.

Dan demikianlah saya. Berjubah kegelapan, duka itu menyelimuti saya. Ya, kegelapan yang mampu menyembunyikan benda-benda di alam nyata, tetapi saya belajar, kegelapan tak mampu menyembunyikan cinta. Sesungguhnya cinta memendarkan keajaiban kemana-mana, kesegala penjuru dunia, ke tempat yang paling tersembunyi hingga alam Semesta. Cinta menembus ruang dan waktu, menembus kegelapan, dan bahkan kematian.

Rencana indah ke negeri Sakura esok harinya telah saya batalkan sejak detik pertama mendengar berita kepergian Papa. Tetapi Cinta mampu mengubah semua, di atas pusara Papa malam itu juga. Sebuah rencana yang sudah dibatalkan menjadi nyata harus dijalankan.

Ya, kurang dari dua belas jam setelah Papa berada dalam pembaringan abadinya, dengan berbagai rasa saya sudah terbang mengangkasa menuju negeri yang Papa cinta sejak lama. Gen-gen cinta dari Papa sebagai Pejalan, memberi semangat untuk tetap melangkah. Move forward, apapun yang terjadi. Dan saya hampir tak percaya, saya sungguh berdiri di sana, bersama cinta Papa akan negeri Sakura.

Lalu bukankah duka selalu beralih rupa dengan sukacita?

Tiga hari setelah kepergian Papa, di sana, di negeri yang Papa cinta, saya berulang tahun. Sebuah peristiwa untuk mengingat usia yang berkurang di dunia. Tapi bagi Papa, ulangtahun anak perempuan satu-satunya tetap sebagai peristiwa bahagia dan saya menghidupkan kenangan bahagia untuknya. Di benak saya jelas tergambarkan bagaimana ia mengumbar senyum dan tawa bahagia.

krans
Flowers

Kehadiran cinta Papa, yang telah melewati pekatnya gerbang kematian, menembus batas kematian itu. Saya percaya di setiap sudut kehidupan saya selanjutnya dan selamanya, kenangan dan cinta Papa akan hadir untuk saya serta menjadi jembatan kehidupan yang membaikkan.

Karena sejatinya, sesuai keindahan pesan yang dititipkan oleh Kahlil Gibran,
Kenangan adalah anugerah Tuhan yang tidak dapat dihancurkan oleh maut.

Kini sekembali dari Negeri Sakura, saya kembali menyambangi pusara Papa, hari demi hari, bersamaan dengan meniti kehidupan yang terus berlanjut. Dan karena harum Tahun Baru 2019 masih terasa, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan membiarkan kenangan-kenangan menjadi kunci, -bukan ke masa lalu-, melainkan untuk ke masa depan yang lebih baik.

Selamat Tahun Baru 2019.