Pindah, dari Akhir ke Awal


Life begins at the end of your comfort zone. – Neale Donald Walsch

30 Maret 2019, hari ke-100.

Masih jelas dalam benak momen itu, saya hanya bisa diam mematung, tak bisa bicara. Lagi pula tak guna lagi bicara, karena semua ada waktunya. Seperti sebuah potongan puzzle yang tepat menempati posisinya yang terbuka. Ini sudah jalannya.

Saat itu,

Semua orang sibuk, lalu lalang berbisik di belakang saya, entah untuk apa. Sebuah tangan terasa menepuk lembut di pundak, seakan memberi kekuatan jiwa. Tapi rasanya semua berupa maya.

Entah mengapa saya hanya diam dalam hening, hanya bisa menyadari situasi di muka. Entah siapa lagi yang sesungguhnya sadar situasi yang ada.

Akhir dari sebuah perjalanan dan sebuah perjalanan baru bermula.

Yang ada di depan saya hanya sebuah sisa, dari sebuah akhir.

Sebuah milestone, sebuah gerbang telah terlewati

Sebuah awalan baru, bermula

*

Hingga kini, saya tak lupa momen itu.

Saat itu, hanya sebuah momen yang menggegarkan jiwa. Bagi yang menyadarinya, ada momen mikro yang serupa sepanjang masa, hanya bagi yang menyadarinya. Sebuah awalan yang memiliki akhir dan sebuah akhir yang bermula.

Dengan keterbatasan kemanusiaan saya, hanya bisa diam mematung menghadap sisa. Suatu saat nanti, saya, juga Anda, akan menjadi sisa, sama seperti dia.

Hari ini, keseratus kali sang surya membuka cerita.

Sebuah akhir, sebuah awal, sebuah akhir, sebuah awal…

Kita sesungguhnya senantiasa berpindah.

Al Fatihah.

jerpur


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-12 ini bertemakan Berpindah agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…