Menjejak Kembali Langkahmu


Sadly missed along life’s way, quietly remembered everyday…

No longer in our life to share, but in our hearts you’re always there

-Unknown

Ketika seorang sahabat mengajak untuk menuliskan cerita tentang menapak tilas, pikiran ini langsung terbang ke sebagian perjalanan-perjalanan yang saya lakukan selama ini. Perjalanan-perjalanan menapak tilas seseorang yang selalu ada dalam jiwa,dan sebagian besarnya sudah saya tuliskan di blog ini. Bagi saya pribadi hanya ada satu perjalanan menapak tilas, yaitu menapak tilas perjalanan almarhum Papa. Tapi ah, bisa jadi, saya sudah terlalu lelah untuk membongkar ruang-ruang hati dan ingatan mencari tahu perjalanan lain yang berupa menapak tilas.

Meskipun kamus rujukan mendeskripsikan menapak tilas adalah melakukan perjalanan dengan menelusuri tempat-tempat yang pernah didatangi dan dilalui oleh seseorang pada jaman dahulu untuk menghidupkan kenangan atau sejarah, saya sendiri mengartikannya secara bebas. Karena menapak tilas bagi saya pribadi mencakup juga kegiatan mendatangi kota-kota yang pernah didatangi atau ditinggali oleh seseorang yang berarti. Dan itu artinya adalah Papa!


Saya telah menjejak Hong Kong, negeri tempat Papa dan Mama menikmati honeymoon yang ke sekian kali. Merasakan gempitanya Kowloon, melihat kerlap-kerlip lampu kota seperti yang Papa Mama ceritakan. Dan saya ceritakan pula kepada mereka tentang sudah adanya jalan mobil dan kereta yang menghubungkan tempat-tempat yang terpisahkan oleh laut meskipun saya tetap mencoba menaiki ferry yang sangat khas itu. Tak lupa saya ceritakan bandara yang tak lagi di Kaitak sehingga saya tak bisa lagi merasakan debaran jantung saat mendarat karena dekatnya dengan perairan. Hong Kong yang modern telah jauh berbeda dengan Hong Kong yang dulu Papa Mama datangi, berpuluh tahun silam. Meskipun demikian, jauhnya perbedaan itu tetap tak mampu menghilangkan kenangan yang terpaut di dalamnya.

Tak lupa, saya pun telah menjejak langkah Papa di Jepang, termasuk di Kamakura, berfoto di Daibutsu, patung Buddha yang besar itu. Bahkan saya sempat menginap satu malam di Yokohama, kota pelabuhan tempat kapal Papa dulu berlabuh. Malam itu, saya berjalan sendiri sekitaran Yokohama, menghirup harumnya udara laut sambil mengenang langkah-langkah Papa. Dan yang paling meninggalkan kesan ketika saya bisa berpose serupa foto Papa di depan Gedung A-Dome di Hiroshima. Dan semua pengalaman itu telah saya ceritakan kepadanya ketika Papa masih terbaring tak berdaya karena stroke yang menyerangnya. Meski demikian, kegembiraan dan semangat selalu terpancar pada raut wajahnya saat kami bertukar cerita tentang Jepang.

Saya sendiri mengalami rasa emosi yang menggelegak saat berdiri di depan Shwedagon Paya, Myanmar. Karena saya mengenal nama pagoda besar di Myanmar itu sejak masih teramat kecil. Buat seusia itu, mengucapkan Shwedagon teramat susah, apalagi membayangkan letaknya. Namun nama itu begitu kuat menempel di benak sehingga tercetus, one day saya akan sampai ke sana. Dan benarlah saya bisa menjejak ke tempat itu, ke tempat Papa dulu juga berfoto. Sepulangnya saya dari Myanmar, cerita tentang itu teramat membahagiakan Papa. Cerita itu bagaikan tak berakhir, menjadi penyemangat Papa di kala sakit mendera, sesemangat saya menceritakan kepadanya.


Akhir Desember 2019

Dalam bus yang bergerak meninggalkan kota Mekkah setelah melakukan ibadah Umroh, saya diliputi berbagai rasa. Ada kesedihan meninggalkan kota Mekkah, ada juga kegembiraan karena kami sedang menuju Palestina. Dan diantara rasa-rasa yang bercampur aduk itu, di salah satu sudut ruang hati ada denyutan yang teramat pribadi. Yang mungkin tidak terasakan oleh rombongan kami, namun hanya saya sendiri yang merasakan.

Denyut itu begitu kecil tapi jelas, laksana genta-genta yang digoyangkan oleh biksu penjaga kuil yang menghasilkan denting indah yang merambat jauh. Dan denyut itu terjadi karena bus sedang menuju kota yang pernah disinggahi Papa. Jeddah!

Berpuluh tahun silam ketika penerbangan merupakan transportasi termahal sehingga biayanya tak terjangkau bagi kalangan biasa untuk menunaikan ibadah haji, para jamaah hanya memiliki pilihan menggunakan kapal laut. Berminggu hingga berbulan lamanya dari Indonesia untuk mencapai Mekkah dan selama itu kehidupan berjalan tak mudah bagi yang tak biasa. Ombak mengayunkan manusia-manusia yang berjalan, titik keseimbangan raga tak pernah tetap. Bagi yang tak tahan, kepala pusing bahkan sampai mengeluarkan isi perut merupakan peristiwa yang terlalu sering terjadi sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan. Dan para jamaah tamu Allah yang kebanyakan telah lanjut usia itu bertahan semampunya. Bahkan kota-kota yang disinggahi pun tak terlihat menarik lagi karena Jeddah merupakan kota pelabuhan terakhir sebelum akhirnya para jamaah berduyun memasuki Mekkah, kota kecintaan mereka. Tak semua bisa mencapainya, karena sebagian darinya telah syahid dalam perjalanan haji mereka. Dan sesuai protokol yang ada dalam setiap perjalanan di laut, bagi mereka yang dipanggil pulang ke HadiratNya dan freezer tak mampu menampung lagi, satu-satunya jalan adalah mengembalikan jasad yang telah kaku itu ke alam semesta melalui pelarungan.

Saya telah mendengar kisah itu sejak kecil dari bibir almarhum Papa, termasuk manusia-manusia tak sabar yang menyangka pelabuhan-pelabuhan sebelumnya yang disinggahi adalah Jeddah. Mereka sudah tak lagi sabar, ingin segera turun, bersujud mencium harumnya Bumi Mekkah.

Kisah-kisah tentang Jeddah semakin cepat silih berganti menghias benak saya ketika bus mendekati kota yang menimbulkan kenangan itu. Ada sejentik air yang mengembang di sudut mata, sejumput doa terucap dari hati yang paling dalam. Saya menarik nafas panjang untuk menguatkan jiwa. Kali ini, tak ada lagi telinga Papa yang siap mendengar cerita-cerita saya saat mengunjungi kota yang pernah ia singgahi dalam perjalanan dengan kapalnya. Papa telah dipanggil pulang dua tahun lalu.

Masjid Qisas, Jeddah

Meski Jeddah semakin dekat, saya tahu takkan bisa mengunjungi pelabuhannya karena tak pernah ada dalam itinerary. Namun, bisa mencapai kotanya saja, bisa menjejak di bumi Jeddah dan bisa mencium harum udaranya, saya sudah sangat bersyukur. Tak ada waktu untuk singgah kecuali melihat dari atas bus, juga pelabuhannya yang hanya bisa terlihat dari kejauhan. Seperti biasa di bus, saya menempelkan telapak tangan di jendela untuk menyapa tempat-tempat yang mampu mengaitkan kenangan dan juga membisikkan kata dalam jiwa. Dan ketika menjejak bandara Jeddah, pikiran saya terbang ke pelabuhan Jeddah somewhere out there,

Saya telah sampai di Jeddah, Pa, di kota tempat Papa dulu pernah melangkahkan kaki.

Berjuta cerita ingin saya sampaikan kepadanya, karena saya begitu beruntung bisa sampai ke Mekkah dan selepasnya bisa melewati Jeddah dengan sangat cepat, hanya belasan jam penerbangan dan juga dengan bus yang nyaman melalui jalan bebas hambatan. Sungguh tak perlu seperti mereka yang dulu ikut dalam kapal Papa, yang begitu lengkap deritanya, yang begitu panjang perjuangannya.

Ya Allah, begitu banyak saya ingin bercerita kepadanya…


April 2019

Saya memang terlambat melakukan perjalanan ke Mawlamyine (sebuah kota yang diminta Papa untuk saya datangi, ketika kami bertukar cerita tentang Shwedagon). Mawlamyine merupakan kota pelabuhan yang pernah disinggahi Papa dulu. Saya melakukannya 102 hari setelah Papa meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Setelah sore yang mengharu biru (jika berkenan, baca kisahnya Hadiah Manis di Mawlamyine), keesokan paginya saya berjalan kaki menyusuri sungai lebar di depan hotel itu, melepas semua rasa yang ada, membiarkan angin menunjukkan arah kaki melangkah. Sunset yang rupawan sore kemarin tak menyediakan tempat bagi sunrise untuk bertanding dengannya. Kapal tambang yang terbengkalai namun tertambat di pinggir, menambahkan kerak yang tak enak dilihat. Air keruh sungai juga tak mengubah keadaan menjadi manis. Satu-satunya yang mampu melipur jiwa adalah kabut yang melingkupi sebagian dari jembatan membuat pemandangan terlihat magis karena sebagian jembatan seperti hilang ditelan kabut.

Meski tak mengerti banyak hal, saya mencoba memahami denyut kota pelabuhan Mawlamyine itu. Papa tak pernah mengatakan kepada saya secara langsung apa yang menarik dari kota itu sehingga saya harus menemukannya sendiri. Dan setelah mendapatkan hadiah manis seperti yang saya ceritakan pada link di atas, pagi ini saya harus menemukannya kembali. Apakah kabut magis yang menutupi sebagian jembatan itu atau bukan, saya hanya bisa menduga-duga.

Dan langkah-langkah pagi itu membukakan mata saya. Di sepanjang jalan yang disusuri, saya menemukan banyak masjid bahkan Masjid Sunni dan Syiah berdekatan. Di hari itu saya juga berkeliling kota sunset itu. Begitu banyak gereja Kristen maupun Katolik dan aliran lain didirikan di kota Mawlamyine. Bahkan di negeri yang mayoritas penduduknya menganut Buddha ini, saya juga menemukan kuil Hindu yang luas. Dan tentu saja ada banyak kuil Buddha yang amat indah dengan stupa-stupanya yang berlapis emas.

Perlahan saya memahami, mungkin ini yang dimaksud Papa mengenai keindahan Mawlamyine. Kehidupan beragama mereka begitu penuh toleransi. Sebuah teladan yang selalu Papa ajarkan kepada saya, kepada seluruh anaknya. Dan Papa meminta saya untuk ke Mawlamyine, untuk menemukannya. Sebuah keindahan yang saya saksikan namun tak bisa lagi saya ceritakan kepadanya. Saya 102 hari terlambat mengunjungi Mawlamyine…

Terlalu banyak kenangan manis di Myanmar terkait dengannya.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 5 dan bertema Napak Tilas agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

How Are You, Hong Kong?


IMG_0084

Waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin kami sekeluarga merayakan tahun baru di Hong Kong, padahal peristiwa itu terjadi lima tahun yang lalu! Dan saat itu merupakan kali terakhir kami ke Hong Kong. Padahal sebelumnya, Hong Kong selalu menduduki peringkat atas dalam hal destinasi liburan keluarga kami, terutama bagi saya yang sering menggunakan hak veto 😀

Mungkin karena ada alasan romantisme tersendiri dengan Hong Kong. Karena kota ini begitu sering disebut dalam pembicaraan Papa Mama semasa kecil saya. Ke kota inilah mereka berdua menghabiskan waktu berbulan-bulan meski harus menitipkan kakak dan saya di Balikpapan di Opa Oma (dalam kehidupan keluarga yang ditinggal berlayar berbulan-bulan, bagi Mama, -sebagai isteri-, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bisa ikut dalam sebuah pelayaran panjang ke Hong Kong). Selain itu, pembicaraan tentang Kowloon, tentang airport Kaitak (bandara lama sebelum bandara Bandara Chek Lap Kok) yang seperti ‘mau nyemplung’ ke laut kalau mendarat, kapal-kapal ferry dan pelabuhan yang sibuk, senantiasa mewarnai pembicaraan tentang Hong Kong. Mungkin tanpa sadar kisah-kisah yang diceritakan berulang-ulang itu seperti menyerap ke alam bawah sadar saya tentang kehebohan Hong Kong. Hingga saya berucap dalam hati, one day saya akan pergi ke Hong Kong!

Juga kisah sahabat saya yang lebih dahulu berwisata ke Hong Kong dan menyarankan saya untuk bisa ke kota metropolitan yang termasuk wilayah administrasi khusus China itu. Katanya, saya pasti suka! Tanpa perlu visa, di luar Asia Tenggara, modern, dan cukup mudah orientasinya karena banyak petunjuk bahasa Inggris.

Dan benarlah, akhirnya saya menaikkan prioritas untuk bisa pergi ke Hong Kong. Bahkan untuk trip pertama kali saya melakukannya secara backpacking dengan memboyong kedua putri saya tanpa sang suami. Nekad memang, tetapi penuh keseruan. Tujuan utamanya hanya satu: ke Disneyland! 

Gilanya, karena begitu senang bisa berlibur bertiga, ada hal yang teramat penting yang saya anggap enteng. Saya gagal booking hotel untuk hari pertama dan tanpa sadar saya melangkah terus melewati konter pemesanan hotel di bandara yang letaknya sebelum pintu keluar dan nyelonong keluar tanpa rasa bersalah!

Apapun alasannya, ketika sudah berada di area publik dari terminal kedatangan, saya langsung sadar dan panik. Celaka dua belas! Saya tak bisa masuk lagi ke dalam, padahal deretan konter hotel itu ada di dalam. Akhirnya, saya nekad menemui petugas di pintu keluar tadi dan memohon ijin untuk masuk lagi untuk memesan hotel di konter dekat dengan pintu keluar. Awalnya petugas itu dengan keras menolak, namun saya kekeuh memohon sambil menunjukkan muka memelas, menunjuk hari sudah malam dan mengatakan ada anak-anak. Meskipun mukanya bersungut-sungut, akhirnya dengan sedikit kesal ia membiarkan saya masuk lagi. Sejak itu saya kapok! Saya pasti sudah selesai booking tempat penginapan untuk hari pertama.

Meskipun demikian, saya tetap menyukai kota ini dan salah satu yang saya suka di Hong Kong adalah transportasi umumnya. Bisa dibilang hampir semua tempat wisata bisa dijangkau dengan transportasi umum, baik kereta, tram, taksi, ferry atau bus. Dan tentu saja pembayarannya mudah sekali dengan menggunakan kartu Octopus. Begitu sering kami ke Hong Kong dalam periode yang tidak terlalu lama (duluuu lho), masing-masing dari kami punya kartu Octopus.

Saat kami ke Disneyland, kami menggunakan kereta, meskipun harus mengatur jadwal agar bisa sampai lebih awal dan pulangnya tidak tertinggal kereta terakhir karena kami tak mau melewatkan pertunjukan kembang api di Disneyland yang amat indah. Dan rasanya seperti Disneyland dimana-mana, keretanya selalu lucu. Di Hong Kong keretanya berjendela Mickey Mouse. Cute kan?

IMG_3301e

Berkunjung ke Hong Kong belum bermakna bila belum mencoba langsung Star-ferry legendarisnya yang menghubungkan tempat-tempat di sekitar Victoria Harbour dan Kowloon. Bukan masalah cepatnya karena sekarang sudah bisa menggunakan MTR atau mobil melalui terowongan bawah laut, melainkan merasakan segarnya aroma dan angin laut Hong Kong dan utamanya merasakan transportasi berusia seabad lebih itu.

Selain Star-ferry, Hong Kong juga punya tram legendaris yang bolak-balik di kawasan Central hingga Causeway Bay. Melihatnya saja menarik, apalagi jika mengetahui nama favoritnya yaitu Ding-Ding 😀 Murah, meriah dan lucu… Saya jadi teringat di pelajaran sejarah bahwa Jakarta dulu juga memiliki tram. Bisa dihidupkan lagi gak ya???

Belajar dari kesalahan pertama yang menggunakan taksi dari bandara ke hotel, akhirnya saya begitu jatuh hati dengan kereta bandara Hong Kong yang cepat dan mewah. Dari bandara Hong Kong yang keren itu, saya bisa langsung turun di Kowloon atau di Hong Kong Station. Jadi hemat waktu. Selain itu, pemandangannya indah! Meskipun setelah turun di stasiun Hong Kong, yaa… pernah juga tersesat di dalamnya 😀 (stasiun ini merupakan salah satu yang terbesar di Hong Kong karena terintegrasi dengan stasiun Central).

Pernah sekali waktu saya pergi bersama anak bungsu secara backpacking dan mencoba cross-border ke Shenzhen karena tujuan kami ke Window Of the World. Kami berangkat dari hotel lalu menaiki MTR ke Stasiun Tsim Sha Tsui lalu jalan kaki lagi ke Stasiun East Tsim Sha Tsui. Dari sana kami naik kereta menuju Hung Hom dan berganti kereta untuk menuju Lo Wu. Sampai terkantuk-kantuk kami berdua menyaksikan penumpang yang awalnya sedikit lalu menjadi banyak hingga kembali sedikit selama perjalanan dari Hung Hom sampai Lo Wu yang lamaaaaa sekali. Tidak heran, namanya saja perjalanan kereta dari stasiun awal hingga stasiun akhir. Namun perjalanan panjang itu berbuah manis karena kami bisa menikmati Window of The World di Shenzhen, meskipun kaki terasa pegal…

By the way, siapa yang pernah ke Hong Kong dan merasa pegal karena jalan kaki? Bagi saya dan anak-anak, jalan kaki di Hong Kong merupakan salah satu jalan kaki yang ‘bikin kaki rasanya mau potek‘ 😀 apalagi jika ditambah momen tersesat, momen belanja, momen mau ngirit dan seterusnya… 😀 😀 😀

Bicara soal tram, rasanya tidak lengkap jika tidak mencoba tram yang mengangkut pengunjung ke The Peak, tempat populer untuk melihat keindahan panorama Hong Kong di waktu malam. Tapi untuk sampai ke The Peak, pengalaman naik tram itu sendiri lebih menegangkan dan seru. Dengan naik hingga hampir 400 meter ketinggiannya, kemiringan yang terjadi luar biasa curam, begitu menyeramkan karena rasanya kuatir tram ‘tidak kuat’ lalu menggelinding jatuh! Benar-benar tak terlupakan!

Lucunya pada kesempatan berbeda ketika saya berdua suami ke Hong Kong hendak ke The Peak, mendadak saya memperlambat langkah menuju stasiun The Peak Lower Terminus itu. Ada kerumunan cukup banyak orang di sekitarnya dan beberapa petugas bersiaga. Saya agak cemas dengan situasinya sehingga saya berdiri agak jauh di seberangnya sambil mengamati situasi. Tiba-tiba saya tersadarkan ketika menyadari bahwa kerumunan itu adalah buruh migran yang sedang menyampaikan unjuk rasa mengenai kenaikan BBM mengingat saat itu Bapak Presiden SBY sedang berada di Hong Kong. Jauh-jauh ke Hong Kong, eh masih ketemu unjuk rasa warga sebangsa di negeri orang…

Hong Kong masih menyisakan cerita mengesankan ketika saya dan anak-anak menaiki kereta gantung Ngong Ping 360  menuju Patung Buddha Tian Tan di Lantau Island. Pemandangan lepas ke arah laut dari ketinggian itu teramat cantik meskipun bagi anak bungsu saya hal itu sangat menyebalkan. Ia memunggungi arah laut sambil sedikit mengancam jika kakaknya atau saya bergerak-gerak atau berpindah tempat duduk. Saya tersenyum lebar memahaminya lalu merangkulnya untuk menenteramkan. Sebagai anak yang terus mencoba untuk berani menghadapi phobia ketinggiannya, dia telah begitu hebat untuk bisa sampai di level sekarang, bisa naik di kereta gantung yang amat tinggi ini.  Di tengah perjalanan kereta yang berayun-ayun itu, meskipun tahu jawaban akan ditolak saya, dia santai menchallenge mamanya, “pulangnya bisa gak sih kalau gak pake cable car ini?” 🙂 🙂 🙂

Hong Kong tetap menjadi tempat yang menyenangkan pada saat itu, berjalan bergandengan tangan di Avenue of the Stars sambil menikmati laut atau memajang senyum lebar melihat antrian para warga +62 saat SALE produk-produk branded yang dijual di sekitaran Tsim Sha Tsui, mengunjungi museum-museum yang banyak tersebar atau mencoba panjangnya The Escalator yang terkenal itu yang menghubungkan Central dan wilayah Barat.  Atau ke Hong Kong Sky100, yaitu naik ke lantai 100 dari gedung International Commerce Centre dan melihat panorama 360 derajat Hong Kong dari ketinggian gedung. Dan tidak boleh dilupakan melihat patung-patung orang terkenal di Museum Madame Tusaud.

P1020161
Hong Kong From Sky100

Dan saya begitu trenyuh melihat mereka para buruh migran yang menikmati akhir pekannya dengan bercengkrama bersama teman-temannya di Victoria Park atau taman-taman sekitarnya. Melihat perjuangan mereka, -sang pahlawan devisa-, yang berbulan-bulan jauh dari keluarga, bahkan mungkin menjadi tulang punggung bagi keluarganya, mereka tidak jarang malah dipandang sebelah mata oleh sebagian bangsanya sendiri.

Di Hong Kong juga, hanya berdua dengan suami, saya menikmati honey-moon yang kesekian kalinya, di tengah udara sejuk Hong Kong. Tapi ‘pacaran’-nya pun tetap meluangkan waktu melihat sibuknya kegiatan bisnis di sana, menyaksikan para investor saham di bursa Hang Seng yang terkenal, mencari Bull sculpture yang maunya sedang bullish yang biasanya berada di antara skyscrappers finansial dan investasi dengan berbagai brand dunia.

Hong Kong itu selalu meninggalkan kesan yang menyenangkan bagi kami sekeluarga. Terakhir kami ke Hong Kong sengaja menggabungkan diri dalam lautan manusia yang merayakan malam tahun baru, ikut bersama-sama berteriak untuk count-down lalu menikmati sajian kembang api yang berlangsung lama. Teramat cantik menghias langit Hong Kong.

Saat merayakan tahun baru itu, percaya tidak, bahwa pada hari sebelumnya dunia saya terbolak-balik karena kehilangan dompet berisi uang dan kartu kredit, yang disadari ketika berada di Macau. Kemudian bagai kesetanan saya tracking back, menelepon semua orang di tempat-tempat yang saya datangi, memohon-mohon dan menggantung harapan pada orang terakhir yang bisa saya hubungi. Kisah serunya bisa dibaca di tautan berikut ini: Dompetku Hilang di Luar Negeri…!!!

Apapun yang belakangan mewarnai Hong Kong, yang sebelumnya penuh dengan unjuk rasa yang sepertinya tidak pernah berhenti, rasanya saya tetap menyukai kota Hong Kong dengan segala dinamikanya. Walaupun saya merasakan keramahannya menjadi sedikit berkurang, hanya sedikit saja…

Semoga Hong Kong senantiasa baik-baik saja…

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-32 bertema City agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

WPC – In or Out of This World?


When I visited this place, –and psssstt don’t tell anybody… actually it is in this world-, what if I let my imagination to fly freely? One thing I could imagine was, -without any knowledge about the place-, I went there with blindfold and then after a while something with robotic voice told me to open the blindfold.

Ok, after I opened the blindfold…

Perhaps, while adjusting my eyes from the blindfold, I stood there and was confused. I saw a strange building in front of me and also near me, I saw a high pole with another strange objects. There were five antenna with horizontal circles in the middle on top of the roof of the building. I’d never seen this kind of antenna, especially on top of a building’s roof. And about the strange objects in the high pole, did those objects have meaning? Where was I actually? Was I still on Earth? Or out of the World? Was I kidnapped by a group of aliens?

Strange objects on top of the roof
Strange objects on top of the roof

*

Ok, I woke up from the day-dreaming and back to the reality. I was in Hong Kong Disneyland, in the area of Tomorrowland. It’s a nice place to play with imagination…

 

WPC – Through The Grid


I was in Kuala Lumpur and just wandering in a mall.  I stopped in a spot and looked up…  I saw the Petronas Twin Towers through a grid on the roof, although not the whole building, but I could see the bridge..

Petronas Twin Towers, Kuala Lumpur, Malaysia Through A Grid
Petronas Twin Towers, Kuala Lumpur, Malaysia Through A Grid

*

And another time, I was on the escalator to Sky Terrace at The Peak, Hong Kong. Just had a limited moment to capture Hong Kong view through a beautiful grid

Hong Kong view from the Sky Terrace, The Peak
Hong Kong view from the Sky Terrace, The Peak

*

And again another time… I fell in love with the atmosphere in a traditional house in Japan, with a grid of wooden windows and doors.

Once Upon A Time in Japan
Once Upon A Time in Japan

*

In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: Grid

 

 

Dompetku Hilang di Luar Negeri…!!!


A Lesson with Love
A Lesson with Love

Macau, hari ketiga liburan akhir tahun 2014.

Saat check-in, Customer Service Hotel di Macau itu menunggu saya membongkar tas mencari dompet. Dan isi tas telah tumpah ruah tapi dompet isi kartu kredit dan uang tunai tidak ada wujudnya sama sekali. Hilang! Dompet saya hilang! Dan saya di Macau!!

Tetapi tetap saja saya orang Indonesia yang masih beruntung! Untung kamar sudah dibayar lunas sehingga kunci kamar bisa diserahkan tanpa harus deposit. Petugas itu mungkin kasihan terhadap saya, atau bisa juga supaya saya cepat menyingkir karena antriannya sudah panjang.

Di kamar, saya terduduk di karpet di depan jendela besar selebar kamar, membiarkan pikiran kacau balau berkecamuk dengan segala macam rasa, -galau, jengkel, takut, panik, kalut, cemas, dan segala macam rasa negatif lainnya yang menjadikan jantung berdebar, nyawa serasa hilang-, dalam diam. Segala imajinasi buruk tergambar di benak. Tidak ada cukup uang untuk beli tiket kembali ke Hong Kong. Tidak ada cukup uang untuk hotel bila mau menunggu tanggal pulang, kalau pulang sekarang, tidak cukup untuk beli tiket, belum lagi soal makan. Semua kartu kredit, kartu ATM, KTP, uang! Dompet yang lain hanya ada kurang 200 HKD. Terbayang jelas, liburan yang baru 3 hari dijalani sudah hancur lebur. Sungguh semua bayangan buruk yang mengerikan hilir mudik di benak laksana film.

Saya menarik nafas panjang untuk berpikir lebih tenang dan fokus pada apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Saya harus menelusuri ke belakang sampai saat terakhir yakin masih memegangnya.

Saya merasa yakin masih memegangnya saat check-out hotel di Tsim Sha Tsui siangnya. Lalu apakah jatuh di hotel?  Paling tidak hotel itulah saya harus hubungi pertama kali. Dengan gemetar saya meneleponi hotel di Hong Kong itu. Saya jelaskan masalahnya dan untunglah petugas cukup ramah menanggapi serta meminta saya menelepon kembali setelah 10 menit. Ah, waktu berjalan seperti kura-kura, lama sekali rasanya!

Setelah 10 menit penuh kecemasan, saat menelepon kembali terdengar suara ramah yang terasa menusuk hati ketika mereka menyampaikan penyesalan dompet hitam tidak ditemukan di lobby maupun di kamar. Tak percaya begitu saja, saya tanya lagi dan lagi, mungkin disana atau disitu. Tetapi jawaban tetap sama. Tidak ada. Menyesal, mereka menutup telepon. Satu tempat sudah saya coret. Tak ada dompet saya di sana! Woaah…

Saya kembali mengingat-ingat, tidak mungkin selama di MTR, karena saya menggunakan kartu Octopus dan tidak pernah membuka dompet. Apakah dicopet? Mungkinkah di Hong Kong ada copet??

Lost wallet
Lost wallet

Berikutnya tempat membeli tiket ferry dari Hong Kong ke Macau. Saya tidak yakin tetapi sepertinya memang saya mengeluarkan dompet hitam selain dompet paspor yang juga terselip uang untuk membeli tunai. Dompet paspor memang sengaja saya pisahkan dengan dompet uang.

Dengan bergegas saya mencari potongan tiket ferry Turbojet Hong Kong – Macau untuk mendapatkan nomor teleponnya. Berhasil. Lalu dengan berdebar saya menghubungi nomor telepon di Hong Kong itu dan beruntung ditanggapi baik oleh pihak TurboJet selaku operator Ferry dan seperti yang sebelumnya ia meminta saya waktu 15 menit untuk pemeriksaan.

Lagi-lagi saya mengalami penyiksaan waktu yang terasa berjalan sangat lambat. Dan ketika saya meneleponnya kembali, ia memberitahu bahwa baik di ferry maupun di wilayah layanan TurboJet tidak ditemukan dompet saya. Saya seperti jatuh terkapar, semakin panik dan tak mau percaya begitu saja dan saya minta mereka memeriksa di toilet karena saya sempat ke kamar kecil itu. Tetapi dengan saya minta itu, mereka justru meminta saya menghubungi gedung terminal ferry karena toilet berada di luar wilayah operator ferry. Kali ini saya terhempas seperti memasuki ruang hampa, melayang tak jelas arah! Saya di Macau, dan saya tidak tahu dompet itu apakah ada di Hong Kong atau di mana dan jika memang benar, itu artinya cross border atau melewati imigrasi… Whoaaaaa……

Saya menutup mata memohon kekuatan Ilahi. Hanya dariNya saya mendapatkan kekuatan. Dari google saya mendapatkan nomor telepon terminal ferry di Hong Kong dan langsung menghubunginya. Petugas perempuan itu ramah dan meminta waktu 15 menit untuk memeriksa. Tetapi lagi-lagi, dompet saya tak ada disana baik di ruang tunggu maupun di toilet. Saya terpuruk lagi.

Where's my wallet?
Where’s my wallet?

Pertolongan Tuhan itu datang melalui manusia lain. Sebelum menutup telepon, petugas penuh empati itu menjelaskan mengenai wilayah tanggung jawab. Jika jatuh di ferry maka itu menjadi tanggung jawab operator ferry, jika jatuh di ruang tunggu sebelum boarding atau setelah imigrasi di terminal, maka itu menjadi tanggung jawab terminal ferry. Saya bertanya bagaimana jika jatuh saat membeli tiket? Dia menjawab dengan yakin bahwa itu menjadi tanggung jawab Operator Ferry. Entah kenapa, rasanya seperti mendapatkan segelas air di gurun pasir, kali ini rasa dingin yang menguatkan.

Saya menghubungi kembali Operator Ferry TurboJet di Hong Kong. Dengan bermuka tembok walaupun dipingpong terus, saya tidak berhenti. Petugas TurboJet sepertinya jengkel dan setengah hati menjelaskan tidak ada dompet yang ditemukan di sana. Saya tidak peduli dengan nada suaranya dan ngotot minta mereka memeriksa area tempat saya membeli tiket. Dan entahlah, mungkin karena kesal menghadapi saya yang tak mau menerima kenyataan atau gembira karena bisa melemparkan tanggung jawab ke orang lain, petugas operator ferry itu menyarankan untuk langsung menelepon konter tiket. Entah mengapa, ada lagi rasa dingin yang terasa menguatkan mendapatkan informasi itu walaupun saya harus setengah mati memahami omongan angka dalam bahasa Inggeris dengan lidahnya yang penuh aksen Mandarin. My last resort!

Tetapi apapun kondisinya, dompet saya tetap lenyap. Saya tahu harus segera melakukan pemblokiran, tetapi entah kenapa seperti ada bisikan untuk tidak melakukannya dulu.

Tanpa sadar saya sudah duduk di karpet itu sepanjang siang dan sore. Hati terasa amat lelah. Saya kembali mencari kekuatan dariNya dengan refleksi diri, melihat kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Sebuah déjà vu, seperti pernah mengalaminya, dan semuanya karena saya melakukan kesalahan!

Tersadarkan bahwa saya sudah menjadi orang yang sangat berduri saat ini, yang menyakiti siapapun yang mendekat. Saya melihat kepada orang-orang tercinta dan tumpah memeluk mereka semua. Memohon maaf atas apapun yang saya lakukan. Kepada mereka saya katakan harus mengikhlaskan dompet yang hilang dan berharap mereka juga bisa menerima dengan ikhlas pula situasi liburan yang harus disesuaikan dengan kejadian ini.

Ya Tuhan, saya sudah ikhlas dengan kehilangan ini…

Saya memeluk mereka semua, mengikhlaskan apapun yang terjadi…

Pelukan penuh cinta itu menguatkan. Saya katakan akan menghubungi nomor telepon ini sebagai langkah terakhir. Saya akan terus berupaya selagi masih ada jalan, saya percaya pada pepatah ‘take an extra mile further while the others had already stopped’. Namun tetap berdasar pada keikhlasan. Jika dompet itu memang tidak ada, itulah yang terbaik!

The brighter side
The brighter side

Sebelumnya saya mengerahkan jiwa raga berdoa dengan khusuk, -seperti dulu ketika sudah malam dan saya masih belum bisa menemukan jalan pulang dari Gayasan National Park di Korea Selatan-. Kali ini saya menceritakan kepadaNya betapa dompet itu berarti untuk mendukung liburan yang kali ini saya dedikasikan untuk keluarga. Jauh di lubuk hati saya meminta pengampunan dan menerima semua pembelajaran ini karena saya percaya Tuhan Maha Kasih, Maha Baik. Di hadapanNya, saya serahkan semua padaNya.

Lalu dengan mengucapkan namaNya, saya menghubungi nomor telepon Hong Kong itu sebagai langkah terakhir upaya saya menemukan dompet hitam saya yang hilang. Dengan sopan saya jelaskan kasus yang saya alami kepada suara laki-laki diujung telepon. Dan seperti biasa, ia menanyakan ciri-ciri dompet yang hilang itu. Ia juga menanyakan asal negara saya dan nomor yang bisa ia hubungi. Saya berikan semua yang dia minta.

“Indonesia?”, ia mengulang pertanyaan itu sedikit ragu yang terasa di telepon. Tanpa sadar saya mengangguk mengiyakan.  Lalu dengan sedikit bergumam, ia menceritakan bahwa ia menyimpan sebuah benda hitam yang di dalamnya terdapat kartu identitas dari Indonesia, kartu kredit dan uang tunai. Saya terkesiap, dan tak menunggu dia menyelesaikan kalimatnya dan memotongnya, ‘Sorry, it means… did you keep my wallet?”

Dia tidak menjawab langsung dan mengingatkan saya tetap harus menunjukkan identitas sebagai pemilik sah dompet tersebut. Dan menegaskan ia akan menyimpannya sehingga saya tidak perlu cemas. Dia juga minta maaf karena telah memeriksa dompet dan menemukan kartu kredit dan kartu identitas Indonesia dan beberapa bank notes. Saya sebutkan bank notes yang ada di dompet dan ia membenarkan. Kali ini saya benar-benar seperti terlontar setinggi-tingginya ke angkasa. Dompet saya ada padanya. Ya Tuhan… saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar.

Walaupun belum 100%, intuisi terdalam telah memastikan memang itu dompet saya! Saya seperti terbang dengan daya maksimum yang tak terbayangkan. Sepersekian detik itu saya rasa Tuhan sedang tersenyum lebar saat orang-orang tercinta termasuk saya berteriak bersama-sama dalam kegembiraan dan kebahagiaan, “Ketemuuuuuu…..!”

Dia Yang Maha Kasih selalu punya cara yang ajaib untuk melimpahkan anugerah penuh berkah kepada saya, kadang teguran cintaNya membuat haru biru tak karu-karuan. Rasa syukur saya tak bisa disampaikan dengan kata-kata. Saya memahami pembelajarannya. Kali ini dompet saya dikembalikan sebagai pembelajaran agar lebih berhati-hati menjaga semua yang berharga. Airmata bahagia untukNya. Terima kasih Tuhan walau ungkapan terima kasih itu tidak akan pernah cukup…

Ada yang pernah mengalami hal serupa?

<><><> 

Dan untuk kembali ke Hong Kong, Alhamdulillah suami ternyata membawa kartu ATM yang jarang sekali dibawanya saat liburan. Dan dengan uang itu keesokan harinya kami kembali ke Hong Kong untuk menjemput sang dompet yang telah terpisah denganku selama 24 jam. Dan kami bisa melanjutkan liburan akhir tahun…