Penuh Kain Kampuh di Candi Cetho


Sudah lama saya memendam keinginan untuk bisa pergi ke Candi Sukuh dan Candi Ceto, dua kompleks candi Hindu abad-15 yang saling berdekatan di ketinggian lereng seribuan meter Gunung Lawu, gunung yang ada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun keinginan-keinginan itu tetap menjadi keinginan saja karena terlibas oleh seribu satu alasan lain yang bagi saya lebih prioritas. Lalu kesempatan itu datang begitu saja, ketika kami memiliki satu hari kosong dalam libur lebaran beberapa waktu lalu.

Jadilah dengan berkendara pribadi, berjuang mengatasi jalan yang meliuk-liuk menanjak amat curam dan sempit, sampailah kami di Candi Cetho. Sengaja kami melewatkan dulu Candi Sukuh dengan pertimbangan akan mengunjunginya setelah kembali dari Candi Cetho.

Sebelum memasuki area parkir yang tidak cukup luas, saya sudah melihat sekumpulan orang memenuhi sekitar pintu masuk namun saya menganggap itu hal biasa. Namanya juga liburan, pasti banyak orang. Dan setelahnya, saya bergegas ke loket tiket masuk lalu mengantri giliran dibantu untuk mengenakan kain kampuh, kain putih berkotak hitam seperti papan catur yang biasa terlihat di Bali.

Kain kampuh yang melingkari pinggang hingga ke paha itu sejatinya biasa digunakan oleh umat Hindu saat sembahyang ke Candi Cetho yang hingga kini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah. Dan untuk menjaga kesucian tempat ibadah dan menghormati sebuah budaya, hingga kini seluruh pengunjung baik Hindu maupun Non-Hindu wajib mengenakan kain kampuh itu, karena dengannya diharapkan pengunjung dapat menjaga kebersihan jiwa raga, lahir batin saat berada di area Candi Cetho,

Terlepas dari dalamnya makna kain kampuh itu, saya melihat sesuatu yang menarik melihat semua pengunjung seragam mengenakan kain kotak-kotak hitam putih itu. Keren juga sebagai penanda. Tapi sekali lagi, perasaan akan ‘keren’ itu sepertinya terlalu cepat.

Saya menikmati udara yang terasa sejuk. Candi Cetho memang berlokasi di sekitaran 1500 meter di atas permukaan laut, jadi lebih tinggi letaknya dari pada Candi Sukuh. Hebatnya lagi, Candi Cetho memiliki 13 teras yang semakin meninggi ke arah puncak yang poros tengahnya memiliki gapura-gapura, demikian yang saya ingat dalam beberapa foto teman yang sudah pernah ke tempat ini. 

Saya menaiki tangga untuk melalui gerbang gapura pertama dan drama kekagetan saya dimulai.

Dimana-mana ada orang, anak-anak dan orang dewasa yang mengenakan kain kampuh kotak-kotak hitam putih itu. Bahkan di dalam taman yang tertata indah dengan rumputnya yang telah susah payah dipelihara. Petugas yang selalu menjaga keindahan taman bisa jadi akan merasa masygul melihat kaki-kaki yang tak mengindahkan rumput-rumput yang juga memiliki kehidupan. Apakah dengan tanaman pembatas yang pendek menjadi alasan untuk melanggar batas dan menginjak-injak rumput selayaknya lapangan bola? Saya sungguh prihatin.

Dan saya hanya melihat bokong-bokong yang berbalut kain kampuh di jalur tangga menuju teras berikutnya. Saya memahami jika mereka terus berjalan atau hanya sebentar untuk pengambilan foto, tetapi kebanyakan dari mereka lupa akan orang lain yang ingin juga berdiri di sana dan berfoto. Mereka hanya tertawa-tawa tidak peduli, menguasai waktu dan areanya seperti miliknya sendiri. Keinginan saya menikmati Candi Cetho langsung lenyap…

Tetapi saya mencoba bersabar…

Candi Cetho dikenal sebagai tempat suci untuk melakukan ruwatan atau pembebasan jiwa dari kutukan, karena simbol-simbolnya yang jelas terpampang,

Di sebuah teras terbuka tersusun batu-batuan datar yang membentuk burung garuda yang sedang mengembangkan sayap dan di atasnya terdapat susunan batu berbentuk kura-kura, yang menurut informasi yang terpampang di sana menceritakan bagian dari kisah mengenai Samudramathana atau Churning of the ocean of milk atau biasa dikenal sebagai kisah Pengadukan Lautan Susu. Kisah dalam agama Hindu ini menceritakan mengenai perebutan terus menerus antara Dewa yang menjadi simbol dari sisi baik melawan Asura yang menjadi simbol dari sisi buruk, untuk mendapatkan air keabadian.

Burung Garuda dan Kura-kura, keduanya merupakan simbol-simbol yang terkait dengan Dewa Wisnu dalam agama Hindu. Dewa Wisnu sendiri menjadi seekor kura-kura untuk menopang Gunung Mandara dalam kisah Samudramathana tersebut. Dan diujung bentuk burung Garuda dan kura-kura terdapat penggambaran yang cukup erotis, seperti phallus yang bersentuhan dengan penggambaran vagina yang menjadi lambang penciptaan atau kelahiran kembali setelah terbebas dari kutukan.

IMG_0390
Selalu ada Manusia
IMG_0395
Garuda & Turtle – Cetho Temple

Di sekitaran teras tersebut, sekumpulan manusia yang datang berkunjung tak pernah sebentar. Amat mudah terlihat, kain kampuh dimana-mana. Saya seperti menjadi sang pungguk yang merindukan bulan, karena berharap terus manusia-manusia itu akan menghilang dari frame foto. Orang-orang itu memang pergi tetapi yang datang lebih banyak, bisa jadi sampai waktu berkunjung habis…

Saya memahami saat kunjungan itu saya tidak akan mendapatkan foto bersih tanpa manusia dalam frame, karena keadaan yang tidak memungkinkan. Akhirnya sebisa mungkin saya mengambil foto-foto yang penuh makna di Candi Cetho itu.

Karena belum sampai di teras tertinggi, saya menaiki tangga-tangga yang penuh dengan orang itu. Menjengkelkan sekali karena mereka berdiri dan bergaya menghalangi lalu lintas orang. Sungguh tak peduli dengan pengunjung lain yang mau turun atau naik, Kesabaran saya semakin tipis terhadap pengunjung yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kadang saya berpikir, apakah mereka tidak pernah diajarkan oleh orangtuanya untuk memikirkan orang lain? 

Setelah berjuang melewati pengunjung-pengunjung lainnya yang menghalangi jalan, sampai juga saya di teras teratas, tempat yang paling sakral dan suci dari Candi Cetho yang merupakan tempat umat Hindu biasa beribadah,  Bagi saya, Candi Cetho yang dipercaya dibangun pada abad-15 merupakan salah satu warisan nenek moyang kita yang amat berharga dan wajib dijaga kelestariannya. Selain itu, sebagaimana tempat ibadah lainnya, bagian puncak Candi Cetho sewajarnya memiliki batas suci. Artinya, hanya boleh dimasuki atau dinaiki oleh orang-orang yang akan beribadah saja,

IMG_0479
Cetho Temple – Main Area on the highest

Sayangnya tidak ada informasi mengenai batas suci, atau tidak ada larangan untuk menaiki tangga untuk sampai ke pelataran suci. Yang ada hanya larangan masuk yang dipasang di pintu masuk yang tertutup. Dan karenanya, saya benar-benar jengkel maksimal!

Karena tidak ada larangan, maka pengunjung mungkin merasa bebas untuk menaiki pelataran atas itu untuk duduk-duduk, bersandar dan berfoto. Berombongan! Hitung saja, jika mereka berbobot rata-rata 40 kg, maka pelataran atas itu sudah menerima beban tambahan sekitar 400 kg jika dinaiki oleh 10 orang bersamaan. Padahal di salah satu sisi bangunan puncak yang menyerupai piramid itu batu-batunya sudah sedikit ambrol. Saat itu saya sungguh senewen dengan rombongan pengunjung yang tanpa rasa bersalah turun naik untuk berfoto secara berombongan di tempat yang paling suci.

Ketika saya mengambil foto sambil memutari bangunan puncak, saya mendapati beberapa pasangan menduduki pelataran atas bagian belakang untuk berdua-duan. Tepok jidat deh saya!!!

IMG_0465
Please don’t do that

Bahkan ada yang lebih gila lagi karena ada empat atau lima remaja yang berfoto sambil meloncat! Berulang-ulang. Rasanya saya ingin menangis melihat tindakan ugal-ugalan mereka terhadap candi abad-15 di pelataran yang paling suci! Sepertinya petugas yang ada di sana sudah kewalahan juga untuk memberi teguran.

Saya benar-benar kehilangan mood. Saya merasa tak minat untuk tinggal lebih lama. Kain kampuh kotak-kotak hitam putih yang digunakan pengunjung dengan harapan agar bersih lahir batin dan penuh kesadaran memasuki tempat suci, sudah kehilangan maknanya. Kain kampuh hari itu, hanya menjadi penanda saja

Saya turun melalui gapura-gapuranya yang cantik namun sepanjang jalannya dipenuhi pengunjung yang mengenakan kain kampuh tanpa menyadari makna yang amat dalam yang ada padanya.

Rasanya amat miris, masih banyak pengunjung Indonesia yang belum mampu menunjukkan sikap untuk menjaga dan memelihara peninggalan kuno bangsa sendiri yang amat berharga.

Hari itu, saya membatalkan kunjungan Candi Sukuh karena sepulangnya dari Candi Cetho, di gerbang terlihat banyak sekali pengunjung yang tak jauh beda seperti di Candi Cetho. Saya kehilangan mood. Lebih baik saya menyimpan keinginan ke Candi Sukuh dan membiarkan gambaran baik tentangnya dalam benak, daripada mengingat hal yang kurang menyenangkan seperti yang terjadi di Candi Cetho.

Pembelajaran pentingnya: jangan ke tempat wisata saat libur lebaran!

IMG_0486
The Gapuras

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-10 ini bertema Kotak-Kotak agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Bersama Hujan Mencicipi Rasa India di Singapura


Keinginan untuk pergi ke India lagi, -setelah dulu hanya sesaat ke Mumbai untuk urusan pekerjaan-, belum juga terpenuhi hingga kini. Alasan penyebabnya bisa dibuat seribu satu, tetapi sejujurnya itu hanya urutan prioritas saja. Budaya India, termasuk peninggalan sejarahnya yang mampu membuat saya menangis guling-guling ingin pergi, hingga kini hanya tinggal keinginan belaka. Akhirnya, daripada tidak sama sekali, November lalu saya membohongi diri sendiri untuk mencicipi rasa budaya India di Singapura. Jadilah, dengan berbekal cuti dua hari di tengah minggu, -yang membuat orang bertanya-tanya karena tak biasa untuk ukuran saya-, saya terbang ke Changi dengan penerbangan pertama.

Hari masih relatif pagi ketika mendarat di Changi dan menyambut saya dengan sebuah rangoli besar yang cantik, sebagai ucapan selamat datang dan berharap keberuntungan akan melimpahi saya (Amin 🙂 ) dan hal itu menandakan sedang ada festival, yaitu Deepavali di Singapura. Rangoli, merupakan seni tradisional dari India yang biasanya dibentuk dari bubuk, pasir atau bunga berupa lingkaran sebagai lambang waktu yang tak putus atau bunga lotus sebagai lambang dari Dewi Lakshmi, dewi kemakmuran dan keberuntungan, yang biasanya diletakkan di dekat pintu masuk untuk menyambut tamu.

Deepavali atau Diwali adalah hari raya di India, -yang juga dirayakan di Singapura karena banyaknya warga keturunan India di negeri Singa itu-, untuk memperingati kembalinya Rama dan istrinya Sita (Sinta) serta Lakshmana ke Ayodya dari pengasingannya yang berlangsung selama 14 tahun dengan memberinya lampu-lampu penerang di sepanjang jalan kembalinya sang pahlawan, yang secara simbolik dimaknai sebagai kemenangan terhadap kegelapan, kemenangan kebaikan terhadap kejahatan. Dan mungkin juga demikian harapan saya dalam perjalanan singkat kali ini. Semoga saja saya dapat menangani ‘kegelapan-kegelapan’ dalam diri ini :p

Berjalan kaki menuju kerumunan dan sebuah pembelajaran

Rintik hujan bulan November tak menghalangi keinginan saya untuk berjalan kaki menuju Serangoon Road dari kawasan Kp. Glam, tempat saya menginap. Jarak lebih dari 3 kilometer itu tidak saya tempuh dengan menggunakan MRT atau bus, melainkan jalan kaki melalui pedestrian Singapura yang lebar dan menyenangkan. Dan akhirnya saat menjejakkan kaki di ujung jalan Serangoon Rd, saya tersenyum sendiri melihat wajah-wajah India ke semua arah mata memandang.

Awan yang menggantung menyembunyikan terik matahari hingga saya bisa menikmati hiasan-hiasan di sepanjang Serangoon Rd, sambil berjanji kepada diri sendiri untuk kembali mendatangi Little India di malam hari karena cahaya lampu-lampunya menjadi kekuatan utama saat perayaan Deepavali. Pasti sangat indah.

Decoration at Serangoon Rd
Decoration at Serangoon Rd

Tiba-tiba terdengar denting halus dari dalam diri, dan seperti tersadarkan dari koma, saya baru memperhatikan sekeliling yang hampir semuanya pria keturunan India yang tak terhitung banyaknya. Keberadaan seorang perempuan sendirian di antara kerumunan yang kebanyakan pria menjadikannya sebuah perbedaan yang sangat menyolok. Tak heran alarm diri berdenting agar saya menyadari situasi. Lalu, -seakan memperburuk situasi-, alam pun menurunkan hujan deras secara tiba-tiba sehingga memaksa kerumunan orang di jalan bubar dan mencari tempat berteduh, termasuk saya. Bahkan kini, situasinya menjadi lebih ekstrim karena jarak fisik semakin dekat.

Tetapi sebuah peristiwa terjadi bukanlah secara kebetulan. Dalam situasi seperti itu, Dia yang selalu baik menghentikan saya untuk berteduh dengan aman di beranda sebuah kios lukisan dan hiasan-hiasan dinding agar saya bisa berpikir. Di dekat saya tentu saja banyak pria keturunan India yang juga berteduh, hanya satu dua perempuan yang lewat diantara puluhan pria. Sambil berdiri dalam diam menunggu hujan saya memperhatikan hiasan dinding yang ada di kios itu seperti kehidupan Buddha, kehidupan Krishna kecil, Ganesha, dan hiasan-hiasan budaya India lainnya yang cantik dan menyenangkan untuk dilihat, termasuk menatap titik-titik hujan yang jatuh lalu mengalir ke saluran drainase…

Lagi-lagi saya tersadarkan, segala ketidaknyamanan seorang perempuan yang menjadi obyek tatapan mata yang tak sebentar diantara begitu banyak pria itu, sesungguhnya karena ketidaksadaran saya. Siapapun, apalagi perempuan, sudah sewajarnya selalu sadar akan lingkungan dimanapun, kapanpun. Bukankah saya sendiri yang hendak jalan kaki menuju Little India yang memang merupakan kawasan keturunan India dengan gaya sosial budaya mereka yang khas? Bukankah seharusnya saya menyadari saat hari libur (Deepavali merupakah hari libur nasional di Singapura), kawasan Little India akan penuh dengan kerumunan orang?

Mempertahankan kesadaran dan bersikap waspada bukan berarti tidak peduli dengan orang lain atau mengabaikan tatapan mata orang. Meskipun kini saya tengah berada di Singapura yang terkenal keras dengan sanksinya yang melindungi kaum perempuan dari gangguan sekecil apapun terkait perlakuan terhadap lawan jenis yang salah-salah bisa berakhir dengan denda yang sangat mahal. Saya seharusnya secara terus menerus aktif mengukur tingkat keamanan diri berada di tempat itu, bahkan dimanapun. Bukan take it for granted

Dia Yang Selalu Baik dan selalu melindungi saya…

Memang tak nyaman ditatap seakan hendak ditelan bulat-bulat, namun bukankah saya tak kehilangan satu apapun? Hanya diperlukan kesadaran setiap saat. Ah, hujan yang turun selalu membawa berkah dan hari inipun memberi kesempatan pada saya untuk belajar…

Shri Lakshminarayan Temple dan Sri Veeramakaliamman Temple

Tak lama kemudia hujan pun mereda. Saya melanjutkan langkah ke Kuil Laksmi dan Kuil Sri Veeramakaliamman yang tak jauh dari situ, karena disana pastilah banyak perempuan yang melakukan pemujaan, paling tidak berada dekat perempuan saya dapat menenangkan hati. Melihat pintunya yang masih tertutup, saya teringat akan kunjungan saya ke dalam kuil itu setahun lalu

Shri Srinivasa Perumal Temple

Titik hujan terasa lagi sehingga saya mempercepat langkah menyusuri Serangoon Rd menuju kuil Shri Srinivasa Perumal, yang didedikasikan untuk Dewa Wisnu dan termasuk kuil tertua di Singapura. Gapuranya dipenuhi penggambaran 10 reinkarnasi Dewa Wisnu. Saya selamat sampai ke kuil itu sebelum hujan, tetapi belum selesai menikmati keindahan penggambaran relief kuil, lagi-lagi hujan turun dengan derasnya membuat saya berlari sebelum basah kuyup sepenuhnya menuju pintu masuk kuil. Ada rasa geli di hati kali ini hujan terasa menjadi air yang mensucikan sebelum masuk kuil…

Gopuram of Shri Srinivasa Perumal Temple
Gopuram of Shri Srinivasa Perumal Temple

Di dalam kuil ini tidak sulit untuk mengidentifikasi 10 avatar Dewa Wisnu, seperti Rama dengan busurnya, Krishna dengan serulingnya. Saat saya di dalam, tak sedikit umat yang beribadah yang membuat saya terpesona melihat cara sebagian dari mereka yang melakukan ritual sembah hingga tiarap.

Malam Deepavali di Little India

Saya meninggalkan kuil sebelum sore berakhir dan kembali ke hostel untuk beristirahat sejenak hingga malam tiba. Kali ini saya menggunakan MRT untuk kembali ke hostel dan kembali lagi ke Little India pada malam harinya.

Beautiful decor at Serangoon Rd at night
Beautiful decor at Serangoon Rd at night

Sesampainya di kawasan Little India, kali ini memelihara kesadaran pada lingkungan yang isinya hampir semua pria berwajah India Selatan dan rata-rata berkulit gelap itu. Saya kembali menuju ujung jalan Serangoon dan ternyata cukup banyak turis Barat yang ingin berada di Little India saat Deepavali, mungkin untuk merasakan keriuhan hari besar di India itu.

Saya berdiri di ujung bawah lampu lalulintas menunggu lampu penyeberangan berubah hijau. Bahkan dari pinggir jalan, banyak orang mengabadikan cahaya lampu yang menghiasi jalan Serangoon itu. Saat lampu berubah hijau berbondong-bondong orang, termasuk saya, bergerak ke tengah jalan dan memotret dari tengah jalan. Semua orang sepertinya sepikiran. Memotret dari tengah jauh lebih baik, walaupun jalan Serangoon itu sedang macet. Dan herannya, bahkan sampai lampu penyeberangan telah berganti merah, tak sedikit orang masih berdiri di tengah jalan. Kali ini klakson mobil silih berganti berbunyi menambah keriuhan di wilayah itu.

Serangoon Rd on Deepavali
Serangoon Rd on Deepavali
Beautiful Serangoon Rd at Night
Beautiful Serangoon Rd at Night

Kemudian kaki membawa saya ke arah bazaar yang menjual berbagai keperluan puja untuk umat Hindu. Berbagai ukuran kalungan bunga warna warni, genta, buah, lampion, kalung-kalung berkilauan, bubuk warna, patung-patung dewa, bulu merak, tampat puja, lampu-lampu dan macam-macam barang lainnya, semuanya dijual diantara suara-suara pedagang dan pembeli yang menghebohkan.

Menyadari dimana-mana penuh orang dan saya termasuk orang yang tidak cukup kuat berlama-lama di kawasan padat orang, setelah dirasakan cukup dengan keriuhan Deepavali, saya mengakhiri perjalanan hari itu dan kembali ke hostel.

Sri Mariamman Temple

Esok harinya, kembali saya merasakan rintik hujan saat menuju Kuil Hindu tertua di Singapura yaitu Kuil Sri Mariamman yang kini menjadi salah satu monumen nasional di Singapura dan berlokasi di kawasan China Town. Kuil yang dibangun pada tahun 1827 oleh para immigran dari Tamil Nadu di India Selatan ini didedikasikan kepada Dewi Mariamman yang terkenal akan kekuatan penyembuhannya. Gapura masuknya terdiri dari enam tingkat yang dipenuhi patung-patung dewa-dewi, orang-orang suci dan makhluk mitos lainnya. Sayang sekali saya tak sempat melihat upacara jalan diatas api yang biasanya dilakukan secara tahunan sekitar seminggu sebelum Deepavali.

Entrance of Sri Mariamman Temple
Entrance of Sri Mariamman Temple

Pintunya seperti kuil-kuil Hindu lainnya, terbuat dari kayu yang terlihat berat dan langit-langitnya berhiaskan mandala-mandala yang cantik. Pada saat saya datang, sedang berlangsung upacara khusus membersihkan patung di altar utama sehingga umat yang hadir memperhatikan dengan takzim selama prosesi dilakukan diiringi bunyi-bunyian tradisional yang sangat meriah. Sungguh kuil ini penuh dengan penggambaran dewa dewi dengan ukiran detail yang indah.

Waktu berjalan cepat, saya harus memperhitungkan kembali ke Bandara tanpa terlambat. Walaupun bersama hujan saya menikmati mencicipi rasa India di Singapura pada saat Deepavali, saya masih meninggalkan beberapa tempat yang masih bersentuhan dengan budaya India, yang belum sempat saya kunjungi. Tetapi bukankah semua itu bisa menjadi alasan untuk kembali?

Nepal: Kematian Yang Membahagiakan di Pashupatinath


Pashupatinath, salah satu UNESCO World Heritage Site yang terletak di pinggir sungai Bagmati di Kathmandu, merupakan kawasan ketiga yang saya datangi hari itu. Sesuai dengan rekomendasi waktu terbaik untuk berkunjung ke kuil itu, ketika matahari sudah condong ke arah peraduannya, jelang sore hari hingga sinar tak lagi terasa terik.

Dengan tiket seharga 500 NPR, kaki membawa tubuh ini memasuki kawasan Kuil Pashupatinath yang luas dan langsung disambut dengan auranya yang kelam dan sendu. Tak heran, karena kuil ini merupakan salah satu kuil Dewa Siwa yang terbesar di Kathmandu sekaligus tempat suci untuk melakukan kremasi, ritual terakhir bagi manusia yang telah meninggal dunia.

Sunset at Pashupatinath
Sunset at Pashupatinath

Dan walau kematian selumrah kelahiran, tetap saja ada rasa sendu yang tak nyaman untuk disaksikan sendirian saat terang sedang berubah perlahan menjadi temaram. Saya terus melangkah, membiarkan hati tetap membuka untuk mendapatkan sejatinya makna karena apa yang dirasa pertama bukanlah yang sesungguhnya.

Terasa angin yang datang dari pepohonan menerpa wajah dengan lembut. Dengan ekor mata terlihat pula pucuk-pucuk pohon bergoyang manis mengikuti irama angin. Seandainya kuil ini bukan tempat suci untuk kremasi, mungkin rasanya akan berbeda, mungkin saya akan suka desir lembut angin yang datang, juga pucuk-pucuk pohon yang bergoyang. Tetapi kali ini terasa berbeda, sepertinya roh-roh sedang mengajak bermain, kadang sembunyi di balik pohon, kadang meniupkan rasa dingin ke balik tengkuk. Tetapi ah, apapun yang dirasa, saya tetap harus melangkah mengikuti jalan setapak yang berujung pada sungai suci Bagmati tempat lokasi kuil Pashupatinath.

Bagmati River
Bagmati River

Dari kejauhan terlihat asap membumbung menandakan sebuah ritual kremasi tengah berlangsung. Saya mengingat janji pada diri sendiri untuk tidak menggunakan zoom terhadap proses kremasi, untuk tidak mengambil foto tubuh yang dikremasikan ataupun keluarga yang kehilangan. Karena semua prosesi itu merupakan bagian dari ibadah yang sangat pribadi dan harus dihargai setinggi-tingginya.

Sungai semakin dekat dan saya mulai menyusurinya, perlahan mendekat ke pinggir sungai yang sedang tak banyak air. Tak jauh dari tempat saya berdiri, terlihat seekor sapi berwarna coklat yang tengah berjalan santai. Ketakpeduliannya mampu membuat saya tersenyum. Tidak ada orang yang berani mengganggu makhluk yang dianggap suci itu, apalagi di dalam kawasan Kuil Pashupatinath yang nota bene merupakan Kuil Sang Mahadewa. Di benak langsung terbayang semua kuil yang didedikasikan kepada Dewa Siwa biasanya terdapat lembu Nandi, sang bhakta yang setia.

Tak terasa langkah kaki telah menyusuri sungai hingga berada di seberang kuil. Sebuah jembatan batu tampak kokoh menghubungi kedua sisi kuil. Dan di ujung kuil di bagian bawah tebing tinggallah para sadhu, orang suci yang mendedikasikan hidupnya dengan bermeditasi, memperkaya kehidupan spiritualnya dan meninggalkan keduniawian untuk mencapai keadaan moksha, kesempurnaan.

Berhadapan langsung dengan bangunan utama kuil, terlihat tempat kremasi yang dibagi berdasarkan kelas sosialnya. Ada tempat khusus untuk para kalangan atas yang rapi berlantai warna terang dan tentu saja ada tempat untuk rakyat jelata yang terlihat standar berwarna kelam. Saat itu terlihat dua asap mengepul di bagian rakyat jelata. Tidak ada keramaian, tak banyak orang, mungkin hanya beberapa keluarga terdekat saja, itu pun kurang dari hitungan jari dalam satu tangan. Saya teringat ketika menyaksikan ngaben sederhana di pantai Kuta, Bali. Semua syarat utama dalam ritus telah dilaksanakan walau sederhana, tak berlebih. Lalu apa yang kurang? Bukankah berlaku sederhana itu memperkaya jiwa?

Menyaksikan kremasi dari seberang, berbagai rasa melesat dari kepala. Tak ada keriuhan tangis melepas raga yang telah selesai bertugas, sementara sang jiwa kembali bebas dengan sejuta amalnya. Kematian telah membebaskan dari suka duka dunia, membukakan gerbang bahagia bagi sang jiwa, lalu mengapa manusia kerap menahannya? Bukankah sang jiwa akan bahagia kembali kepada Yang Maha Kuasa yang penuh Cinta? Saya merenung, mendapat pembelajaran dari rasa dan mata yang menyaksikan.

Seusai pembelajaran hidup dari menyaksikan ritual kremasi dari seberang sungai, saya beralih menaiki tangga kearah bukit. Di sana terdapat rumah-rumah puja yang dibangun sejajar mengikuti garis lurus. Di dalam semua rumah puja yang berjendela lengkung di tiap dindingnya itu, berisikan lingga-yoni yang merupakan lambang Dewa Siwa. Dan di atas linggayoni itu senantiasa diletakkan bunga segar. Pemandangan rumah puja dengan linggayoni yang berjajar dengan bunga diatasnya itu ditambah dengan pantulan sinar matahari sore yang menerobos masuk melalui jendela lengkung, membuat suasana kompleks kuil Pashupatinath menjadi lebih indah, menghapus rasa sendu yang ada di dekat sungai.

Meninggalkan linggayoni, lagi-lagi kaki ini menapaki tangga menuju tempat para Sadhu di bagian atas bukit. Di hadapan mereka saya kehilangan kata-kata untuk bertanya kepada mereka bahkan juga untuk mengabadikannya. Rasanya tak pantas mengabadikan mereka, para yogi yang telah menempuh jalan spiritual yang tak mudah, bermeditasi dan meninggalkan keduniawian, dengan balasan lembaran-lembaran uang. Hati ini berkata jika ingin berdonasi, maka berdonasi saja, tanpa perlu meminta balas bisa mengabadikannya dalam foto. Akhirnya sambil meminta maaf karena tidak mengambil foto mereka, saya melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit.

Dari puncak bukit terhampar pemandangan indah seluruh kompleks kuil Pashupatinath di antara sinar matahari sore. Entah kenapa sinar matahari sore yang berwarna oranye itu memberi nuansa khusus pada  kuil. Ada rasa bahagia diantara rasa sendu. Sebagaimana kegembiraan terwakili oleh warna-warna terang, kesenduan tak pernah luput memberi makna yang dalam di tiap hidup.

Selain menyaksikan keindahan kompleks dari puncak bukit, sempat juga saya melihat kawanan kecil rusa totol seperti yang ada di Istana Bogor hidup berkelompok dalam sepetak tanah berpagar kawat. Lucu dan manisnya kawanan rusa totol itu mampu membuat wajah ini tersenyum.

Turun dari bukit, saya melanjutkan perjalanan ke Kuil Dewa Wisnu di kompleks itu. Beberapa lukisan hasil sapuan wanita Perancis yang menggambarkan kisah Radha-Krishna yang penuh cinta, mampu membuat rasa sendu di Kuil Pashupatinath semakin terangkat. Setelah mengabadikan Garuda dan juga Ganesha, Sang Dewa Pengetahuan, saya melanjutkan perjalanan kearah Kuil Utama di seberang sungai Bagmati.

Menyeberangi jembatan batu, kaki melangkah ke pelataran Kuil Utama.  Karena bukan Hindu, saya tidak diperbolehkan masuk ke Kuil Utama yang memang hanya digunakan untuk ibadah. Di sudut pelataran, tak jauh dari jembatan, terlihat sebuah bangunan kuil kecil yang sekeliling dindingnya dipenuhi panel-panel kayu tentang kamasutra.

Kerumunan orang terlihat lebih banyak di kuil ini, bisa jadi menjelaskan betapa lekatnya manusia pada hal-hal ilusif yang terlihat menyenangkan di dunia ini. Kamasutra di sebuah kuil ibadah? Di Nepal ini memang bukan merupakan hal yang luar biasa. Di Durbar Square Kathmandu saya menyaksikan kuil Jagannath yang berpanel Kamasutra dan kini, -dekat dengan tempat penyelenggaraan kremasi-, disini juga terdapat kuil yang berpanel Kamasutra. Bukankah proses kreasi itu umumnya berujung pada proses kelahiran yang pada waktunya juga akan berakhir?

Saya berjalan perlahan menuju kuil lainnya yang harus melewati sebuah tempat serupa panti jompo yang merawat sekumpulan ibu-ibu lanjut usia. Mereka yang telah ditempa pahit manisnya hidup, pasang surutnya ombak kehidupan, tidak memiliki keluarga yang cukup mampu untuk menjaganya, tampak duduk nyaman bersenda gurau bersama-sama di beranda menikmati sore. Sambil melempar senyum dan menghaturkan salam kepada mereka, saya meminta izin melalui gerakan badan untuk mengabadikan bangunan-bangunan indah itu. Ah, mereka hanya menunjuk kotak donasi sebagai jawaban dan saya memahaminya. Paling tidak sebuah kejujuran ada pada wajah mereka, untuk hidup senyata-nyatanya diperlukan uang yang cukup.

Selepas mengabadikan keindahan bangunan lainnya, pelan-pelan saya melangkah mengikuti jalan setapak untuk meninggalkan Kuil Pashupatinath. Saya menyempatkan diri untuk menoleh kembali menyaksikan proses kremasi yang masih berlangsung di tempat tadi. Mengingat sebuah pembelajaraan. Bagi mereka kematian merupakan gerbang bagi jiwa untuk memulai kehidupan baru, sebuah kelahiran baru atau bahkan sebuah kepulangan abadi berupa kemanunggalan sejati dengan Dia Pemilik Semesta. Sebuah kematian itu sesungguhnya membahagiakan.

Berada di Pashupatinath dan menyaksikan kematian, membuat saya mensyukuri setiap tarikan nafas yang tertinggal, begitu banyak anugerah yang telah dilimpahkan hingga saat ini dan kita tidak pernah mengetahui berapa banyak sisa waktu untuk berbuat kebaikan. Anjuran orang bijak untuk bersering datang pada tempat-tempat kematian memang benar, selain memberikan doa dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan, kematian akan mengingatkan mengenai makna hidup kita sendiri. Tua atau muda, laki-atau perempuan, kaya atau miskin, orang baik atau jahat, siap atau tidak, bukankah kita semua makhluk berjiwa yang sedang dalam antrian menuju kesana?

Ngaben Sederhana Yang Memikat Hati


Siang itu terik matahari terasa memanggang kawasan Pantai Kuta. Setelah terkantuk-kantuk dibuai angin laut di bawah rimbunnya pepohonan selama pergelangan tangan dihiasi tattoo temporer yang akan pudar dalam hitungan minggu, saya melangkah pelan kembali ke hotel di bawah bayang-bayang pohon dengan angin terasa hangat di muka.

Menyusuri jalan setapak yang sama, di tengah perjalanan kembali ke hotel antara Kuta dan Discovery, saya mendapat kejutan bisa melihat kegiatan adat yang ketika berangkat di pagi harinya belum ada. Dari seorang warga saya diberitahu bahwa upacara ngaben yang sederhana tengah berlangsung, yang tentu saja tidak akan saya lewatkan begitu saja.

Ngaben Sederhana
Ngaben Sederhana

Ngaben, sebuah upacara sakral untuk mereka yang telah kembali ke alam baka sekaligus merupakan kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya. Melalui upacara ngaben yang dilaksanakan pada hari baik, penganut Hindu percaya bahwa dengan api, -yang merupakan ujud lain dari Dewa Brahma-, dapat menyucikan roh, membakar semua kekotoran yang melekat pada tubuh dan roh manusia yang telah meninggalkan dunia fana.

Ngaben dan Meja Sesaji
Ngaben dan Meja Sesaji
Ngaben, Meneruskan Tradisi Leluhur
Ngaben, Meneruskan Tradisi Leluhur

Walaupun sederhana, cukup banyak wisatawan terlihat antusias mengikuti rangkaian upacara dan berdiri tak jauh dari dua tenda yang didirikan di sekitar tempat upacara. Tenda pertama merupakan tempat sesaji dan tempat duduk para pengantar dan keluarga serta tenda kedua tampaknya untuk para penabuh gamelan. Sedikit ke arah pinggir pantai, terjemur di bawah terik matahari, sebuah pepaga yang berdiri dalam diam disandari papan bunga kertas.

Mengantar Kematian Tanpa Airmata
Mengantar Kematian Tanpa Airmata
Api pun Membersihkan Kekotoran
Api pun Membersihkan Kekotoran

Saya memang datang terlambat. Karena prosesi awal Ngaben sudah berlangsung beberapa saat sebelumnya dan wadah atau pepaga sudah berada di tempat pembakarannya, bahkan sepertinya jasad telah diletakkan di pemalungan, yaitu tempat pembakaran yang terbuat dari tumpukan batang pohon pisang, yang tentunya diawali dengan rangkaian upacara lain dan doa mantra dari seorang pemuka agama (Ida Pedanda). Pastilah sebelum semua ini ada arak-arakan yang berlangsung menarik dan meriah menuju tempat ini yang tidak sempat saya saksikan.

Biasanya, sebelum menuju ke tempat pembakaran, seluruh keluarga yang ditinggalkan memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan agar arwah yang diupacarai memperoleh tempat yang baik.Kemudianpepaga diusung beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi dengan gamelan dan nyanyian suci serta diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Pengusungan pepaga ini ke tempat upacara ngaben melalui suatu prosesi yang khas, seperti berputar kekiri dan tidak menempuh pada satu jalan lurus. Konon, hal ini guna mengacaukan roh jahat yang mencoba mendekati.

Dan gending pun terdengar
Dan gending pun terdengar
Gamelan, Yang Tak Terpisahkan dari Kegiatan Adat
Gamelan, Yang Tak Terpisahkan dari Kegiatan Adat

Tetapi saat ini, pepaga sudah di tempat pembakarannya dan tidak jelas apakah upacara penyucian roh oleh Ida Pedanda sudah dilakukan. Upacara yang dimaksud adalah pembakaran dengan api abstrak yang berupa mantra pelepasan kekotoran roh yang melekat di jasad, sebagai tahap awal proses pembakaran. Proses pembersihan yang lengkap dan indah, bahkan roh pun disucikan sebelum kembali ke Sang Pencipta.

Tak lama seseorang tampak mendekat ke pemalungan dan melakukan persiapan pembakaran dengan menggunakan api yang sebenarnya, yang kini tidak lagi menggunakan kayu bakar melainkan dengan alat sejenis kompresor. Diiringi doa dari keluarga dan masyarakat serta gamelan yang bernada meriah,  api tampak membumbung ke atas, seakan mengantar jiwa yang suci kembali pada Sang Pencipta. Penuh harapan untuk moksa.

Api Membakar Semua Kekotoran Jiwa Raga
Api Membakar Semua Kekotoran Jiwa Raga
Ngaben Sederhana di Pinggir Laut
Ngaben Sederhana di Pinggir Laut

Tak sampai satu jam berlangsung proses pembakaran hingga menjadi abu. Api pun dipadamkan dan alas pembakaran yang digunakan ditarik keluar menjauhi pemalungan, yang langsung membuat para pengantar dan pengunjung berkerumun mengelilinginya. Prosesi upacara Ngaben mendekati akhir, tahap utama telah terlaksana meninggalkan sisa pembakaran berupa abu tulang berwarna putih yang dapat dibedakan dari arang kayu atau bambu yang menghitam. Abu berwarna putih ini akan dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah dilanjutkan dengan upacara nyekah dan akhirnya akan dilarung ke laut, karena laut merupakan simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan.

Tak lama kemudian, dengan diiringi gamelan, dua orang pemuda tampak mendekati pepaga dan sigap menjungkirbalikkan pepaga tersebut untuk kemudian dibakar. Lagi-lagi tampak api besar membumbung, seakan melengkapi prosesi mengantar kematian dengan memberi warna sukacita, tanpa duka, tanpa airmata, memutuskan semua keterkaitan dia yang pergi dengan kehidupan duniawi dengan gembira dan harapan moksa.

Pepaga Ngaben di Pinggir Pantai
Pepaga Ngaben di Pinggir Pantai
Berkerumun Menyaksikan Sisa Pembakaran
Berkerumun Menyaksikan Sisa Pembakaran
Yang Mengiringi Prosesi Ngaben
Yang Mengiringi Prosesi Ngaben

Ngaben yang saya saksikan tidak megah, tidak besar, melainkan sederhana, hanya dihadiri oleh sebagian warga banjar. Mungkin tidak perlu biaya puluhan juta atau bahkan hingga milyaran Rupiah, seperti biaya yang harus dikeluarkan jika melakukan upacara Palebon untuk kalangan raja atau bangsawan. Bukan juga upacara yang bisa dijual secara komersial. Yang saya saksikan hanyalah sebuah kesederhanaan. Sebuah upacara Hindu yang utamanya sudah dilaksanakan dengan segera demi kebahagiaan perjalanan kembali arwah yang diupacarai.

Keluarga yang ditinggalkan telah mewujudkan rasa hormat, bakti dan sayangnya kepada yang pergi dalam rangkaian upacara pengabenan yang unsur-unsur utamanya telah lengkap. Tak ada airmata, tak ada isak tangis, karena mereka percaya bahwa dengan menangisi orang yang pergi dapat menghambat perjalanan sang arwah ke tempat tujuannya. Mereka juga meyakini dia yang pergi akan gembira telah terbebaskan dari semua perbuatan duniawinya dan akan menjalani reinkarnasi atau menemukan tempat peristirahatan terakhir yang bebas dari kematian (moksa).  Sesuatu yang mungkin tak biasa dan tak mudah diterima di kalangan yang bukan Hindu. Tetapi inilah hakekat Ngaben yang sebenarnya.

Ngaben, Dengan Api Memutuskan Ikatan Duniawi
Ngaben, Dengan Api Memutuskan Ikatan Duniawi

Upacara yang berlangsung ini bukan dari kalangan kasta yang tinggi, melainkan dari yang cukup mampu untuk menyegerakan kewajiban yang utama. Karena demi kesucian arwah yang telah pergi, mereka mengupayakan upacara ngaben secepatnya, setelah jasad disemayamkan di rumah untuk sementara waktu sambil menunggu hari baik. Mereka percaya ketidakbaikan menyimpan jasad terlalu lama di rumah, karena arwah menjadi tidak tenang dan merasa hidup diantara dua alam serta berharap cepat dibebaskan. Dan bukankah bila semua unsur utama dalam rangkaian upacara ngaben dan sekah telah selesai, keluarga yang ditinggalkan dapat tenang mendoakan leluhur dari pura masing-masing?

Saya meninggalkan tempat upacara Ngaben dengan kekaguman baru, selama ini selalu terbayang Ngaben yang megah dan menghabiskan biaya luar biasa besar diluar kemampuan keluarga yang ditinggalkan, dan kini terhapuskan dengan sebuah kesederhanaan yang menghujam. Mengapa harus ditunda lama jika yang utama dapat dilaksanakan secepatnya, bukankah yang dibawa mati hanyalah karma? Ah, kesederhanaan memang sangat memikat hati…