Adakah Gema Cinta Rama Sita di Janakpur?


Konon dalam periode Ramayana, Raja Janak menguasai wilayah, -yang saat ini bernama Dhanusa di Nepal-. Putrinya, Sita, yang cantik jelita memilih Rama, -yang berhasil mengangkat busur Shiva-, sebagai suaminya dalam sayembara pernikahannya. Upacara pernikahannya konon berlangsung di Vivaha Mandap yang berada di sebelah Kuil Janaki, tak jauh dari tempat Rama melihat Sita untuk kali pertama.

Sejak pertama kali ke Nepal hampir lima tahun lalu, saya sudah menginginkan untuk menginjak Janakpur suatu saat nanti. Alasannya jelas, ada gema cinta di kota wilayah Nepal yang tak jauh dari perbatasan dengan India itu. Konon disanalah untuk kali pertama Rama dan Sita mendentingkan nada cinta dan tentu saja saya suka menelusuri semua yang berbau cinta.

Meskipun Janakpur bukan tempat prioritas untuk dikunjungi di Nepal, -biasanya turis berkunjung ke sekitaran Kathmandu, Pokhara, Lumbini, Chitwan dan trekking ke gunung-gunung tinggi Himalaya-, tetap saja saya menemukan satu dua turis saat berada di sana.

Di bulan cinta, akhirnya saya terbang dari Kathmandu ke Janakpur yang tidak lebih dari satu jam, meskipun delay hingga bisa menghasilkan 1 blogpost 😀 Dan ketika turun dari pesawat ATR72 itu, saya disuguhi pemandangan yang tak biasa. Seseorang berseragam memegang senjata laras panjang tampak siaga di atap terminal sehingga menimbulkan sedikit rasa tak nyaman. Adakah situasi tak aman di kota lambang cinta dari Nepal ini?

Selepas itu, saya berjalan menuju terminal, tetapi jangan bayangkan masuk ke ruangan dingin ber-AC karena saya diminta berdiri diemperannya hingga bagasi datang. Lalu dari bawah pesawat pelan-pelan terlihat dua manusia menghela dan mendorong manual semua bagasi penumpang termasuk ransel saya! Urusan ransel selesai, saya tinggal mencari transportasi ke kota. Tidak ada pilihan lain, kecuali tuktuk karena itulah satu-satunya moda transportasi yang tersedia. Hebatnya, setelah harga disepakati dan saya naik… supir tuktuk berteriak-teriak menawarkan lagi kendaraannya untuk ke kota dan datanglah satu orang laki-laki yang bersedia duduk di samping supir tuktuk. Mendadak saya teringat lagu dan ingin menyanyi…. Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota, naik tuktuk istimewa kududuk dimuka, kududuk samping pak supir yang sedang bekerja, mengendarai tuktuk supaya baik jalannya…

DSC03807
Janaki Temple in Janakpur
DSC03541
Main Shrine in Janaki Temple

Kuil Janaki

Setelah rehat sejenak di penginapan menunggu panas mentari mereda, saya langsung berjalan kaki ke Kuil Janaki yang tak jauh dari tempat saya menginap.  Dan ketika saya melangkah ke halamannya, -tak terlihat tempat jual tiket-, saya seperti tak percaya berada di kuil Hindu yang termasuk dalam daftar Tentative UNESCO World Heritage Site itu. Arsitektur kuil begitu berbeda, tidak seperti yang pernah saya lihat pada bangunan-bangunan kuil di Nepal. Wiki memberitahu bahwa kuil Janaki ini bergaya Mughal Koiri Nepali, yang penuh warna dan kubah. Ini kuil Hindu lho…

Tidak heran, karena kuil yang terletak di distrik Dhanusa, Nepal ini, sangat lekat asosiasinya dalam sepenggal kisah epic Ramayana dan kini didedikasikan kepada Dewi Sita. Hal ini terjadi karena tahun 1657 ditemukan sebuah patung Sita oleh Sannyasi Shurkishordas, pendiri kota Janakpur.

DSC03574
Main Shrine of Janaki Temple
DSC03754
The marble in the Main Shrine

Uniknya, bila disebut bergaya Mughal, di wilayah itu sama sekali tidak tampak peninggalan-peninggalan Kekaisaran Mughal. Bisa jadi merupakan campuran gaya dengan Hindu Koiri Nepali, sehingga kuil ini merupakan landmark paling penting dalam arsitektur Koiri. Keseluruhan bangunan kuil berlantai tiga yang terdiri dari tembok batu dan marmer.

Kuil Janaki juga dikenal dengan nama Nau Lakha Mandir, yang secara harafiah berarti Sembilan Lakh atau Sembilan ratus ribu Rupees, sebagai pengingat nilai uang yang dikeluarkan Ratu Vrisha Bhanu dari Tikamgarh, India untuk mendirikan kuil di tahun 1910, bahkan di lokasi tempat Kuil sekarang ini berdiri,

Entah kenapa saya sedikit masygul karena kebersihan dan perawatan kuil ini tidak begitu terjaga. Kecantikan kuil ini sedikit terganggu oleh kabel-kabel listrik yang menghalangi façade-nya. Kabel yang mempercantik disaat malam, tetapi sungguh merusak foto dikala siang. Dengan melepas alas kaki dan berjalan di lantai yang tidak begitu bersih, saya mulai mengelilingi bagian dalam kuil. Terlihat banyak umat, laki-laki dan perempuan, tua dan muda bersemangat menuju altar. Dari sudut bagian dalam kuil itu, saya terus mengamati keindahannya. Lengkung-lengkungnya sangat menawan meskipun pewarnaan disana-sini terlihat kian memudar.

Di bagian dalam terdapat museum yang bisa dimasuki setelah membayar sejumlah kecil Rupees. Dan ada kisah-kisah Ramayana dalam bentuk diorama. Saya sudah asik membuat satu dua foto ketika tiba-tiba menyadari sebenarnya dilarang untuk mengabadikannya. Saya hanya berani bertanya di dalam hati, mungkin tidak diperbolehkan mengambil foto karena kesakralan tempat ini.

Selain diorama tersebut, banyak lukisan-lukisan dinding khas Hindustan yang kelihatannya mengambil tema Ramayana.  Indah dan penuh warna. Sayang sekali, saya hanya bisa menebak-nebak dari penggambarannya karena tidak ada informasi dalam bahasa Inggris. Saat melangkah ke balkon luar, pemandangan disana tidak kalah indahnya.

Saat keesokan harinya saya kembali ke kuil, saya melihat serombongan pemuja beriringan membawa benda-benda sakral dengan musik yang sangat riuh. Mendengar itu, saya kehilangan rasa romantisme yang tenang ala Rama dan Sita, yang terdengar malah suara yang riuh rendah penuh semangat. Saya hanya membayangkan, saat saya sedang jatuh cinta melihat keindahan wajah seseorang, tiba-tiba terdengar riuh rendah suara genderang dan pukulan-pukulan ritme lainnya, tentu rasa cinta itu langsung menyelinap pergi. Demikian juga saya yang kehilangan rasa, membuat saya pelan-pelan melipir memasuki Taman Janaki Mandap.

Janaki Mandap/Vivaha Mandap

Saya harus membeli tiket yang saya lupa berapa harganya, tetapi tidak seberapa. Dan ketika kaki menjejak Taman ini, saya tersadarkan di tempat inilah konon Rama terpesona melihat kecantikan Sita untuk kali pertama dan disini pulalah mereka berdua mengikat janji serta mengelilingi api suci, setelah Rama berhasil mengangkat busur Shiva yang sakti, yang menjadi syarat sayembara yang ditetapkan oleh Raja Janak, ayah Sita.

Cerita itu sudah lama berada di kepala, walaupun tamannya tak seindah yang dibayangkan, apa yang saya lihat cukup memanjakan rasa meskipun rasa masygul kembali menyerang. Bangunan Janaki Mandap terlihat modern, bahkan terlalu modern untuk ukuran kisah Ramayana, membuat saya kehilangan rasa untuk mengetahui lebih jauh. Sekali lagi saya merasakan benturan modernitas terhadap sesuatu yang melegenda –yang menurut saya sakral-. Saya hanya berjalan mengelilingi, mengintip dari luar.

Gema cinta Rama dan Sita mungkin terdengar sayup disini, tetapi aura ibadah tetap terasa kental. Saya juga berbahagia, karena berkesempatan menyaksikan Sang Surya beranjak turun diantara pepohonan. Pepohonan yang sama yang memperindah Kuil Janaki yang ada di sebelah Mandap ini. Kehilangan rasa gema cinta Rama Sita, saya mendapat anugerah dari Sang Surya. Cinta ada dimana-mana rupanya.

Dan rupanya saya terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang gema cinta Rama Sita, karena dalam perjalanan pulang ke penginapan, langkah saya terhenti oleh rombongan pengantin yang sedang berjalan. Saya melihat pasangan pengantin yang berada dalam satu kerudung itu, saya mendoakan semoga mereka bahagia. Ah… Gema cinta Rama Sita masih nyata adanya…

DSC03732
Facade of Janaki Temple
DSC03595
Janaki Temple from the Mandap
DSC03639
The Bride an The Groom

****

Sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-4 ini bertemakan Cinta (Love), agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Bersama Hujan Mencicipi Rasa India di Singapura


Keinginan untuk pergi ke India lagi, -setelah dulu hanya sesaat ke Mumbai untuk urusan pekerjaan-, belum juga terpenuhi hingga kini. Alasan penyebabnya bisa dibuat seribu satu, tetapi sejujurnya itu hanya urutan prioritas saja. Budaya India, termasuk peninggalan sejarahnya yang mampu membuat saya menangis guling-guling ingin pergi, hingga kini hanya tinggal keinginan belaka. Akhirnya, daripada tidak sama sekali, November lalu saya membohongi diri sendiri untuk mencicipi rasa budaya India di Singapura. Jadilah, dengan berbekal cuti dua hari di tengah minggu, -yang membuat orang bertanya-tanya karena tak biasa untuk ukuran saya-, saya terbang ke Changi dengan penerbangan pertama.

Hari masih relatif pagi ketika mendarat di Changi dan menyambut saya dengan sebuah rangoli besar yang cantik, sebagai ucapan selamat datang dan berharap keberuntungan akan melimpahi saya (Amin 🙂 ) dan hal itu menandakan sedang ada festival, yaitu Deepavali di Singapura. Rangoli, merupakan seni tradisional dari India yang biasanya dibentuk dari bubuk, pasir atau bunga berupa lingkaran sebagai lambang waktu yang tak putus atau bunga lotus sebagai lambang dari Dewi Lakshmi, dewi kemakmuran dan keberuntungan, yang biasanya diletakkan di dekat pintu masuk untuk menyambut tamu.

Deepavali atau Diwali adalah hari raya di India, -yang juga dirayakan di Singapura karena banyaknya warga keturunan India di negeri Singa itu-, untuk memperingati kembalinya Rama dan istrinya Sita (Sinta) serta Lakshmana ke Ayodya dari pengasingannya yang berlangsung selama 14 tahun dengan memberinya lampu-lampu penerang di sepanjang jalan kembalinya sang pahlawan, yang secara simbolik dimaknai sebagai kemenangan terhadap kegelapan, kemenangan kebaikan terhadap kejahatan. Dan mungkin juga demikian harapan saya dalam perjalanan singkat kali ini. Semoga saja saya dapat menangani ‘kegelapan-kegelapan’ dalam diri ini :p

Berjalan kaki menuju kerumunan dan sebuah pembelajaran

Rintik hujan bulan November tak menghalangi keinginan saya untuk berjalan kaki menuju Serangoon Road dari kawasan Kp. Glam, tempat saya menginap. Jarak lebih dari 3 kilometer itu tidak saya tempuh dengan menggunakan MRT atau bus, melainkan jalan kaki melalui pedestrian Singapura yang lebar dan menyenangkan. Dan akhirnya saat menjejakkan kaki di ujung jalan Serangoon Rd, saya tersenyum sendiri melihat wajah-wajah India ke semua arah mata memandang.

Awan yang menggantung menyembunyikan terik matahari hingga saya bisa menikmati hiasan-hiasan di sepanjang Serangoon Rd, sambil berjanji kepada diri sendiri untuk kembali mendatangi Little India di malam hari karena cahaya lampu-lampunya menjadi kekuatan utama saat perayaan Deepavali. Pasti sangat indah.

Decoration at Serangoon Rd
Decoration at Serangoon Rd

Tiba-tiba terdengar denting halus dari dalam diri, dan seperti tersadarkan dari koma, saya baru memperhatikan sekeliling yang hampir semuanya pria keturunan India yang tak terhitung banyaknya. Keberadaan seorang perempuan sendirian di antara kerumunan yang kebanyakan pria menjadikannya sebuah perbedaan yang sangat menyolok. Tak heran alarm diri berdenting agar saya menyadari situasi. Lalu, -seakan memperburuk situasi-, alam pun menurunkan hujan deras secara tiba-tiba sehingga memaksa kerumunan orang di jalan bubar dan mencari tempat berteduh, termasuk saya. Bahkan kini, situasinya menjadi lebih ekstrim karena jarak fisik semakin dekat.

Tetapi sebuah peristiwa terjadi bukanlah secara kebetulan. Dalam situasi seperti itu, Dia yang selalu baik menghentikan saya untuk berteduh dengan aman di beranda sebuah kios lukisan dan hiasan-hiasan dinding agar saya bisa berpikir. Di dekat saya tentu saja banyak pria keturunan India yang juga berteduh, hanya satu dua perempuan yang lewat diantara puluhan pria. Sambil berdiri dalam diam menunggu hujan saya memperhatikan hiasan dinding yang ada di kios itu seperti kehidupan Buddha, kehidupan Krishna kecil, Ganesha, dan hiasan-hiasan budaya India lainnya yang cantik dan menyenangkan untuk dilihat, termasuk menatap titik-titik hujan yang jatuh lalu mengalir ke saluran drainase…

Lagi-lagi saya tersadarkan, segala ketidaknyamanan seorang perempuan yang menjadi obyek tatapan mata yang tak sebentar diantara begitu banyak pria itu, sesungguhnya karena ketidaksadaran saya. Siapapun, apalagi perempuan, sudah sewajarnya selalu sadar akan lingkungan dimanapun, kapanpun. Bukankah saya sendiri yang hendak jalan kaki menuju Little India yang memang merupakan kawasan keturunan India dengan gaya sosial budaya mereka yang khas? Bukankah seharusnya saya menyadari saat hari libur (Deepavali merupakah hari libur nasional di Singapura), kawasan Little India akan penuh dengan kerumunan orang?

Mempertahankan kesadaran dan bersikap waspada bukan berarti tidak peduli dengan orang lain atau mengabaikan tatapan mata orang. Meskipun kini saya tengah berada di Singapura yang terkenal keras dengan sanksinya yang melindungi kaum perempuan dari gangguan sekecil apapun terkait perlakuan terhadap lawan jenis yang salah-salah bisa berakhir dengan denda yang sangat mahal. Saya seharusnya secara terus menerus aktif mengukur tingkat keamanan diri berada di tempat itu, bahkan dimanapun. Bukan take it for granted

Dia Yang Selalu Baik dan selalu melindungi saya…

Memang tak nyaman ditatap seakan hendak ditelan bulat-bulat, namun bukankah saya tak kehilangan satu apapun? Hanya diperlukan kesadaran setiap saat. Ah, hujan yang turun selalu membawa berkah dan hari inipun memberi kesempatan pada saya untuk belajar…

Shri Lakshminarayan Temple dan Sri Veeramakaliamman Temple

Tak lama kemudia hujan pun mereda. Saya melanjutkan langkah ke Kuil Laksmi dan Kuil Sri Veeramakaliamman yang tak jauh dari situ, karena disana pastilah banyak perempuan yang melakukan pemujaan, paling tidak berada dekat perempuan saya dapat menenangkan hati. Melihat pintunya yang masih tertutup, saya teringat akan kunjungan saya ke dalam kuil itu setahun lalu

Shri Srinivasa Perumal Temple

Titik hujan terasa lagi sehingga saya mempercepat langkah menyusuri Serangoon Rd menuju kuil Shri Srinivasa Perumal, yang didedikasikan untuk Dewa Wisnu dan termasuk kuil tertua di Singapura. Gapuranya dipenuhi penggambaran 10 reinkarnasi Dewa Wisnu. Saya selamat sampai ke kuil itu sebelum hujan, tetapi belum selesai menikmati keindahan penggambaran relief kuil, lagi-lagi hujan turun dengan derasnya membuat saya berlari sebelum basah kuyup sepenuhnya menuju pintu masuk kuil. Ada rasa geli di hati kali ini hujan terasa menjadi air yang mensucikan sebelum masuk kuil…

Gopuram of Shri Srinivasa Perumal Temple
Gopuram of Shri Srinivasa Perumal Temple

Di dalam kuil ini tidak sulit untuk mengidentifikasi 10 avatar Dewa Wisnu, seperti Rama dengan busurnya, Krishna dengan serulingnya. Saat saya di dalam, tak sedikit umat yang beribadah yang membuat saya terpesona melihat cara sebagian dari mereka yang melakukan ritual sembah hingga tiarap.

Malam Deepavali di Little India

Saya meninggalkan kuil sebelum sore berakhir dan kembali ke hostel untuk beristirahat sejenak hingga malam tiba. Kali ini saya menggunakan MRT untuk kembali ke hostel dan kembali lagi ke Little India pada malam harinya.

Beautiful decor at Serangoon Rd at night
Beautiful decor at Serangoon Rd at night

Sesampainya di kawasan Little India, kali ini memelihara kesadaran pada lingkungan yang isinya hampir semua pria berwajah India Selatan dan rata-rata berkulit gelap itu. Saya kembali menuju ujung jalan Serangoon dan ternyata cukup banyak turis Barat yang ingin berada di Little India saat Deepavali, mungkin untuk merasakan keriuhan hari besar di India itu.

Saya berdiri di ujung bawah lampu lalulintas menunggu lampu penyeberangan berubah hijau. Bahkan dari pinggir jalan, banyak orang mengabadikan cahaya lampu yang menghiasi jalan Serangoon itu. Saat lampu berubah hijau berbondong-bondong orang, termasuk saya, bergerak ke tengah jalan dan memotret dari tengah jalan. Semua orang sepertinya sepikiran. Memotret dari tengah jauh lebih baik, walaupun jalan Serangoon itu sedang macet. Dan herannya, bahkan sampai lampu penyeberangan telah berganti merah, tak sedikit orang masih berdiri di tengah jalan. Kali ini klakson mobil silih berganti berbunyi menambah keriuhan di wilayah itu.

Serangoon Rd on Deepavali
Serangoon Rd on Deepavali
Beautiful Serangoon Rd at Night
Beautiful Serangoon Rd at Night

Kemudian kaki membawa saya ke arah bazaar yang menjual berbagai keperluan puja untuk umat Hindu. Berbagai ukuran kalungan bunga warna warni, genta, buah, lampion, kalung-kalung berkilauan, bubuk warna, patung-patung dewa, bulu merak, tampat puja, lampu-lampu dan macam-macam barang lainnya, semuanya dijual diantara suara-suara pedagang dan pembeli yang menghebohkan.

Menyadari dimana-mana penuh orang dan saya termasuk orang yang tidak cukup kuat berlama-lama di kawasan padat orang, setelah dirasakan cukup dengan keriuhan Deepavali, saya mengakhiri perjalanan hari itu dan kembali ke hostel.

Sri Mariamman Temple

Esok harinya, kembali saya merasakan rintik hujan saat menuju Kuil Hindu tertua di Singapura yaitu Kuil Sri Mariamman yang kini menjadi salah satu monumen nasional di Singapura dan berlokasi di kawasan China Town. Kuil yang dibangun pada tahun 1827 oleh para immigran dari Tamil Nadu di India Selatan ini didedikasikan kepada Dewi Mariamman yang terkenal akan kekuatan penyembuhannya. Gapura masuknya terdiri dari enam tingkat yang dipenuhi patung-patung dewa-dewi, orang-orang suci dan makhluk mitos lainnya. Sayang sekali saya tak sempat melihat upacara jalan diatas api yang biasanya dilakukan secara tahunan sekitar seminggu sebelum Deepavali.

Entrance of Sri Mariamman Temple
Entrance of Sri Mariamman Temple

Pintunya seperti kuil-kuil Hindu lainnya, terbuat dari kayu yang terlihat berat dan langit-langitnya berhiaskan mandala-mandala yang cantik. Pada saat saya datang, sedang berlangsung upacara khusus membersihkan patung di altar utama sehingga umat yang hadir memperhatikan dengan takzim selama prosesi dilakukan diiringi bunyi-bunyian tradisional yang sangat meriah. Sungguh kuil ini penuh dengan penggambaran dewa dewi dengan ukiran detail yang indah.

Waktu berjalan cepat, saya harus memperhitungkan kembali ke Bandara tanpa terlambat. Walaupun bersama hujan saya menikmati mencicipi rasa India di Singapura pada saat Deepavali, saya masih meninggalkan beberapa tempat yang masih bersentuhan dengan budaya India, yang belum sempat saya kunjungi. Tetapi bukankah semua itu bisa menjadi alasan untuk kembali?

Nepal: Bertabur Legenda di Patan Durbar Square


Mengunjunginya jelang sore, hanya sehari sebelum Haribodhini Ekadashi, -salah satu hari untuk upacara kepada Dewa Wisnu-, Patan Durbar Square dipenuhi oleh warga yang akan beribadah yang saat itu berpusat di bawah tenda di bagian depan. Tapi berada di tengah kota yang punya nama lain Lalitpur, yang artinya Kota yang Cantik ini, memang benar-benar mengesankan walaupun gempa besar berkekuatan 7.8 bulan April 2015, -beberapa bulan setelah perjalanan saya-, telah meluluhlantakkan sebagian besar bangunan utama bersejarah yang tercatat sebagai bagian dari UNESCO World Heritage Site di Lembah Kathmandu itu. Wajah cantik Patan berubah muram karena ribuan nyawa tercabut dalam sekejap dan banyak bangunan bersejarah warisan dunia yang tak ternilai harganya itu tak lagi berdiri di situ.

Patan Durbar Square in the afternoon
Patan Durbar Square in the afternoon

Patan memang merupakan kota kuno, konon sudah dikenal sejak Dinasti Kirat pada abad 3 SM dan dikembangkan oleh Dinasti Licchavi pada abad 6, kemudian dilanjutkan oleh Raja-Raja Malla. Bahkan konon Raja Ashoka dari India, -karena cintanya pada Buddha-, membangun stupa di empat arah mata angin, -simbol dari Dharma Chakra-, masing-masing di wilayah Pulchowk untuk arah Barat, di Ebahi Tol  untuk Timur, di Lagankhel  untuk Selatan dan Teta untuk Utara. Keberadaan semua stupa itu seakan memberi konfirmasi bahwa Patan merupakan salah satu kota tua di Lembah Kathmandu.

Saat saya menjejakkan kaki disitu, mentari jelang sore itu menyinari dengan cantiknya ke seluruh kawasan Patan Durbar Square yang berarsitektur Newari dan berpusat pada bangunan Istana Kerajaan serta berbagai kuil yang bersisian dengan Istana. Cukup membuat gerah, tetapi keindahannya tak mampu membuat saya berpaling dari berpanas-panas demi untuknya.

Kisah Jaya Wijaya dan soal Sati 

Kuil cantik yang disebut Chyasim Deval Krishna ini adalah bangunan pertama yang mengucapkan selamat datang kepada saya setibanya di Patan Durbar Square. Penuh kekaguman saya mengamati kuil yang didirikan puteri Raja Yognarendra Malla pada tahun 1723.  Bentuknya yang oktagonal dan mengerucut ke atas dengan kubah-kubah kecil di sisi simetrisnya, -serupa kuil-kuil Shikara di India-, terlihat sangat berbeda dibandingkan kuil-kuil tradisional yang bergaya Newari, apalagi seluruh kuil yang terdiri dari 3 lantai ini terbuat dari batu. Lantai pertamanya memiliki beranda berkolom lengkung yang mengelilingi kuil. Sungguh cantik!

Di depan kuil cantik ini, duduk dua patung singa penjaga yang dikenal dengan nama Jaya – Wijaya yang langsung mengingatkan saya pada kisah Mahabharata ketika Krishna membunuh Shishupal dengan Cakra Sudharsana-nya dalam acara Rajasuya Yudhistira, sebuah kisah yang memiliki makna dan sudut pandang bertingkat, yang mengajarkan untuk tidak langsung menghakimi secara hitam putih pada sebuah peristiwa.  Adakah yang ingat kaitannya?

Tapi sungguh memilukan! Upacara ritual tidak pernah dilakukan di kuil Krishna ini karena konon dilatari kisah tradisi heroik puluhan perempuan yang memilih melakukan sati atau bakar diri ketika berlangsung kremasi Raja Yognarendra yang mangkat. Mengetahui ini, walau mentari masih terang benderang, saat itu saya langsung bergidik.

Dan hanya beberapa langkah dari kuil Chyasim Deval Krishna, ada sebuah pelataran yang menjadi fondasi dari sebuah genta yang besar, yang disebut Genta Taleju (Taleju’s Bell) dan didirikan pada tahun 1736 oleh Raja Vishnu Malla. Dulu, genta ini dibunyikan saat rakyat ingin mengajukan keluhan kepada Raja, namun sekarang dibunyikan hanya setahun sekali saat festival penting. Dan konon…. saat gempa April lalu genta ini berdentang terus menerus. Bisa jadi karena bumi bergoyang, genta jadi berbunyi atau memang ada orang yang sengaja membunyikannya kan?

Di bagian lain, di sebelah Timur Patan Durbar Square, berdiri Royal Palace yang dindingnya terbuat dari batu bata merah dan bergaya arsitektur Newari serta memiliki pintu-pintu masuk yang berbeda untuk masuk ke halaman-halaman dalam, yang terdiri dari Sundari Chowk, Mul Chowk dan Keshavnarayan Chowk (Chowk adalah halaman dalam). Dan tak beda dengan bangunan serupa di Katmandu, bangunan-bangunan di kompleks Istana Raja yang rata-rata dibangun pada abad 17 ini, memiliki lantai-lantai yang bertingkat sehingga dapat memantau seluruh aktivitas di Durbar Square. Yang terbesar adalah Kuil Degu Taleju dengan lima lantai beratap tiga tingkat yang dihiasi oleh genta-genta kecil di sekeliling pinggiran atap yang berdenting terkena tiupan angin. Di bagian agak dalam berdiri Kuil Taleju yang atapnya menyerupai lingkaran dan juga dihiasi genta-genta kecil di sekeliling pinggiran atap. Entah kenapa, tiba-tiba saya terbayang kalau malam hari yang gelap dan sepi tanpa angin, tiba-tiba ada bebunyian genta-genta, waduuh…

Patan Royal Palace
Patan Royal Palace

Kuil-Kuil Historis Ratusan Tahun

Berseberangan dengan tembok Istana, berdiri kuil Hari Shankar yang kuno berusia lebih dari 300 tahun yang didirikan oleh putri Raja Yognarendra Malla. Kuil penuh ukiran ini merupakan tempat ibadah yang didedikasikan kepada dewa yang diwakili setengah Wisnu dan setengah Siwa. Yang menarik, struktur atap kuil diukir sangat indah walaupun, -menurut beberapa sumber-, penggambarannya berupa penyiksaan makhluk di berbagai tingkat neraka. Hiiii…. Saya cukup menyesal juga tidak memperhatikan dengan lebih teliti karena tidak merasa nyaman dengan mata-mata yang memandang.

Sepasang patung gajah yang sedang duduk menghadap Royal Palace menghiasinya sebagai penjaga gerbang kuil. Saya tak akan pernah lupa keindahan sinar mentari sore yang menerangi kolom-kolom kayu penuh ukiran itu dan tak mampu membayangkan bagaimana cara mengembalikan nilai historis ratusan tahun yang hilang dalam sekejap karena kuil ini telah runtuh, meninggalkan sang gajah di tempatnya.

Sedikit melangkah ke Utara, terdapat Vishnu temple yang dibangun pada akhir abad-16 dari batu bata kokoh berbentuk sikhara yang digunakan untuk melakukan pemujaan terhadap Narasimha, reinkarnasi ke empat Dewa Wisnu sebagai manusia berkepala singa yang membinasakan Hiranyakashipu. Di hadapannya berdiri sebuah kolom yang di puncaknya terdapat patung Raja Yognarendra Malla sedang bersimpuh menghadap Royal Palace dengan perlindungan Naga. Patung Raja tampak berkilau terpapar sinar mentari sore , indah sekali.

Tetapi dalam gonjang-ganjing lapisan tanah akibat gempa besar tahun lalu, Vishnu temple mampu tegar bertahan namun tidak demikian dengan patung Raja Yognarendra Malla yang jatuh tergeletak di permukaan tanah di depan Vishnu Temple.

Selemparan baru darinya, berdiri Kuil Char Narayan atau disebut juga dengan Kuil Jagannarayan yang cantik. Kuil dua lantai yang dibangun pada tahun 1565 ini merupakan kuil tertua di Durbar Square dan penuh ukiran rumit mahakarya perajin Newari. Waktu saya berkunjung ke tempat itu hanya sehari sebelum Haribodhini Ekadashi yang merupakan salah satu hari upacara untuk Dewa Wisnu, sehingga tak heran kuil Char Narayan ini ramai oleh umat yang akan beribadah.

Namun sayang sekali, karena banyak ditopang oleh kayu dengan dasar bata merah, kuil berusia 4,5 abad ini runtuh, rata dengan tanah saat gempa April tahun 2015 lalu. Walaupun nilai historis ratusan tahun hilang dalam sekejap, tetapi berita baik tentang kekuatan budaya Nepal datang dari kuil ini. Dua hari setelah runtuh seluruh benda berharga di dalamnya dapat diselamatkan, kemudian semua reruntuhan dibersihkan dalam seminggu serta sebulan setelah gempa di tempat yang sama telah dapat dilakukan upacara peribadatan (puja) walaupun hanya di tempat terbuka tanpa bangunan pelindung. Bukankah Yang Maha Kuasa menerima semua doa yang disampaikan dengan tulus?

Dari Mimpi Bertemu Dewa Lalu Meraih Kemenangan

Dan serupa dengan kuil Krishna kembarannya di dekat pintu masuk Durbar Square, di sebelah Kuil Char Narayan berdiri  Krishna Mandir, yang tepat di depannya terdapat Garuda sedang duduk bersimpuh di puncak sebuah kolom. Di tahun 1636 Raja Siddhi Narasimha Malla mendirikan kuil yang seluruhnya terbuat dari batu ini, konon berdasarkan mimpi melihat Dewa Krishna berdiri di lokasi tempat kuil berdiri saat ini. Dan tidak hanya itu, legenda tentang kecintaan dan kebaktian Sang Raja terhadap Dewa Krishna kian digaungkan. Sepuluh tahun sejak kuil berdiri, Raja Siddhi Narasimha Malla dapat memenangkan perang melawan kerajaan tetangga karena berseru memanggil nama Dewa Krishna untuk menghabisi musuhnya. Bagi mereka yang percaya, Dewa Krishna merupakan sosok tempat kemenangan selalu berpihak kepadanya.

Terlepas dari cerita itu, kuil yang eye-catching ini memiliki hiasan cerita Mahabharata dan Ramayana.  Di lantai pertama kuil berwarna abu-abu ini bisa dilihat kisah Mahabharata sedangkan cerita Ramayana ada di lantai dua. Dua lapis penjaga gerbang kuil tampak menghiasi bagian pintu masuk, sepasang diantaranya berbentuk singa. Hanya saja kalau mau datang ke kuil ini, perlu diperhatikan waktunya. Jika suka dengan keramaian dan festival, coba datangi saja ketika Janmashtami, yaitu saat peringatan kelahiran Dewa Krishna. Pasti tempat ini penuh dengan manusia yang melakukan persembahan dan perayaan.

Perjalanan menyusuri kuil belum berakhir. Di sebelah Krishna Mandir berdiri Kuil Vishwanath yang dijaga oleh sepasang gajah yang berdiri. Sebagai kuil yang didedikasikan kepada Dewa Siwa, kuil dua lantai ini memiliki lingga di ruang dalam yang hanya bisa disaksikan oleh penganut Hindu yang akan beribadah. Selain itu kuil yang dibangun oleh Raja Siddhinarasimha Malla pada awal abad-17 ini, dihiasi dengan ukiran rumit pada kayu-kayu penyangga yang bernuansa erotis seperti kuil-kuil Siwa di India. Saya malu tapi mau lihat… hihihi…

Dan tentu saja seperti juga Garuda menemani Kuil Dewa Wisnu, pasti ada Nandi yang menemani Kuil Dewa Siwa. Saya menemukan sang bhakta di bagian barat dari kuil, yang menurut mata saya bentuknya tidak serupa dengan yang saya lihat di Indonesia.

Tiga Jendela Emas di Kuil Bhimsen

Terletak pada wilayah ujung Durbar Square, kuil Bhimsen yang terdiri dari 3 lantai dan dijaga sepasang singa berambut ikal ini memiliki tiga jendela berlapis emas yang sangat indah. Mudah sekali ditemukan karena jendela yang saling berhubungan ini dapat dilihat pada dinding yang menghadap timur atau Istana. Kuil yang didirikan oleh Raja Srinivasa Malla tahun 1680 ini, didedikasikan kepada dewa yang mengatur urusan bisnis, perdagangan dan karya seni sesuai tradisi Newari. Uniknya, sesuai peruntukannya, tepat di depan kuil ini terhampar pasar yang menjual berbagai karya seni dan keperluan sehari-hari.

The Golden Windows of Bhimsen Temple
The Golden Windows of Bhimsen Temple

Bersebelahan dengan pasar tadi, masih di seberang kuil Bhimsen terdapat Manga hiti, sebuah tempat kuno pengambilan air yang masih berfungsi hingga kini, yang letaknya satu lantai lebih rendah dari permukaan tanah dan tepat berbatas dinding dengan Bangunan Istana yang kini digunakan sebagai Museum Patan. Penduduk sekitar dapat mengambilnya melalui tiga buah pancuran cantik berhias makara. Sambil beristirahat, saya menyaksikan penduduk lokal maupun turis mengambil air di Manga hiti dari salah satu dari dua buah bangunan yang disebut dengan Mani Mandap, yang terletak di awal tangga turun dan difungsikan untuk memantau proses pengambilan air. Sayang sekali kedua Mani Mandap tempat saya duduk beristirahat ini telah tak ada lagi di tempatnya, runtuh terkena gempa April lalu.

*

Tak sadar waktu berlalu sangat cepat, sore sudah datang dan saya harus melanjutkan kunjungan ke tempat wisata lainnya. Saya mempercepat langkah meninggalkan kawasan cantik itu menuju tempat parkir sambil melongok-longok mencari mobil sewaan saya. Ampuuun… Saya lupa mencatat pelat nomor mobilnya! 🙂