Myanmar – Mereka Yang Bersilang Jalan


7

One of the great things about travel is that you find out how many good, kind people there are – Edith Wharton

Matahari telah tinggi saat saya meninggalkan penginapan di Golden Rock menuju terminal truk dan saya cukup kaget mengetahui ternyata rute truk dari Golden Rock tidak melulu ke Kinpun! Uh, betapa naïve-nya saya! Mana dimana-mana tulisannya meliuk-liuk seperti cacing, saya hanya bisa berdiri pasrah melihat orang lalu lalang. Bisa jadi karena akhir pekan, suasana terminal bisa dibilang padat. Seketika saya melipir mengamati situasi dan Alhamdulillah, mata ini menangkap orang yang kelihatannya merupakan pengatur perjalanan truk. Semoga ia bisa membantu saya.

Saya mendatanginya lalu bertanya, “Kinpun?”

Seperti pria Myanmar lainnya, ia mengenakan longjyi lalu sekilas memperhatikan saya dan menyimpulkan saya turis. Tak banyak kata, ia menunjuk tempat truk yang ke Kinpun dan meminta saya berjalan memutar supaya bisa naik tangga. Untunglah, truk sudah hampir penuh dan saya masih bisa duduk menyempil di pinggir bersebelahan dengan ibu-ibu berbadan besar.

Tak lama, dimulailah perjalanan menuruni gunung. Kali ini terasa lebih mengerikan dibandingkan ketika berangkat, mungkin karena gravitasi sehingga kendaraan terasa lebih cepat, atau bisa juga karena jurang dan tikungan seperti huruf U itu lebih terlihat saat jalan menurun. Saya hanya bisa berdoa semoga rem truk berfungsi baik dan cepat sampai ke Kinpun karena saya lebih sering tergencet oleh ibu-ibu sebelah saat truk berbelok di tikungan…dan saya teringat ayam penyet! 😀

Perjalanan menuju Kinpun lebih cepat daripada ketika berangkat, tapi jangan harap berhenti di terminal truk seperti saat berangkat. Itu masih beberapa ratus meter! Jadi saya harus clingak-clinguk mencari tempat bus parkir. Asli, bus kalau sedang dicari tak pernah nampak hidungnya! Saya jalan lurus saja padahal tak tahu arah. Jika tersesat ya balik lagi! Lagi-lagi saya tersenyum sendiri, siap menerima semua kejutan yang terjadi hari ini.

Rupanya kedua kaki ini mengarahkan tepat menuju terminal bus dan ternyata memang ada bus yang siap berangkat. Dan pastinya lewat Kyaikto. Horeee! Sambil membeli tiket ke Kyaikto, saya mencoba peruntungan tiket bus lanjutan ke Hpa’an. Ternyata petugas tiket bisa mengaturnya. Tambah horeee… Tidak ragu saya langsung naik ke bus yang termasuk kategori bus scania (double deck) yang lumayan bagus.

kinpuntokyaikto-e
Scania Bus (Double Deck) from Kinpun to Kyaikto

Perjalanan dari Kinpun menuju Kyaikto tidak sampai 1 jam. Kenek bus memberitahu saya saat harus turun di Kyaikto! Benar-benar turun di pinggir jalan, -bukan di halte atau terminal-, dan harus menunggu bus yang lewat untuk ke Hpa’an. Mau komplain? Tidak! Ini seru!!!

Di tempat saya diturunkan itu, -katakanlah halte dadakan-, ada seorang anak muda yang melayani penumpang yang diturunkan seperti saya ini. Selain saya, ada 3 orang lainnya yang merupakan orang lokal dan mereka berceloteh dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Tiba-tiba anak muda itu menyodorkan kursi kepada saya untuk duduk. Aduh, saya terharu dengan pelayanannya.

Tetapi pelayanan itu masih harus dibuktikan dengan adanya bus ke Hpa’an, kan? Mata saya tak mau lepas dari si anak muda, satu-satunya orang yang tahu saya sudah bayar transportasi untuk ke Hpa’an. Dan apa yang saya takutkan terjadi juga. Setelah ketiga orang lokal itu mendapat busnya, si anak muda pun ikut kabur naik motornya. What? Lalu saya gimanaaaaa..?

Bahkan saya tak sempat berdiri untuk mengejarnya. Alih-alih ngomel berkepanjangan, secara intuitif saya mencoba sabar dan mengamati situasi. Tiiiing! Saya tersadar beberapa kali mengalami hal serupa ini dalam hidup, sebuah situasi ‘chaos’ lalu diikuti oleh “kunci penjelasan”. Hanya dengan duduk diam mengamati situasi setelah chaos terjadi. Menunggu “sang kunci” datang. Satu, dua, tiga menit berlalu, rasanya lama sekali, seperti menunggu kekasih datang! Dan menit ke lima, kesabaran saya berbuah hasil, si anak muda datang kembali bersama motornya.

Ketika ia sudah memarkir motor, saya langsung mendatanginya dan mengingatkan bahwa saya belum mendapat bus ke Hpa’an. Ia mengangguk memahami dan saya membayangkan dia bicara, don’t worry, the bus will come  😀

Entah berapa lama saya menunggu di bawah pohon di depan sebuah kios, akhirnya dengan tergopoh-gopoh dia mendatangi dan meminta saya bersiap-siap. Saya langsung berdiri menyambar ransel lalu mengejar dia yang secepat kilat sudah berada di tengah jalan! Untung tidak ada lalu lintas sehingga saya bisa langsung menyeberang.

Bus jenis scania itu berhenti di pinggir seberang, pemuda tadi bertransaksi dengan orang yang sepertinya kenek bus. Sambil melambaikan tangan mengucapkan terima kasih, saya naik ke dalam bus, berdiri di depan menghadap para penumpang hanya untuk melihat tidak ada satupun kursi yang kosong! Celaka! Bagaimana ini? Apakah saya harus duduk di bangku ‘baso’, seperti yang sering terjadi di Myanmar?

Kenek yang tadi bertransaksi dengan si pemuda, berbicara tak jelas dalam bahasa Myanmar dan setengah memaksa saya untuk berjalan lebih ke dalam lalu ia membuka lipatan yang ada di bagian luar lengan kursi lorong. Itu dia bangku ‘baso’-nya! Bukan seperti bangku baso yang ada di Indonesia yang terbuat dari plastik dan tidak nyaman, bangku ‘baso’ di bus ini empuk. Jadi sambil memeluk ransel, sekarang saya bisa duduk enak dan nyaman di tengah. Sebagai turis, -apalagi mengenakan topi genit-, saya tahu saya sedang menjadi pusat rasa ingin tahu dari banyak penumpang lain, tapi dengan santainya saya mengabadikan situasi tempat duduk yang menurut saya hanya ada di Myanmar! Hehehe…

Bus berjalan lagi melewati desa demi desa, satu persatu penumpang naik dan mengisi tempat duduk tambahan di depan saya. Lalu setelah beberapa lama, penumpang di belakang saya hendak turun dan seluruh penumpang kursi tengah yang duduk sepanjang lorong harus berdiri memberi jalan. Baiklah, harus bagaimana lagi?

Tapi percayalah, sebagai traveler kita selalu mendapat kebaikan dari orang-orang lokal. Sebagai orang asing, -dianggap sebagai tamu sesuai adat ketimuran-, saya dicarikan tempat duduk yang bukan di kursi tambahan. Meskipun saya sendiri tidak masalah duduk di kursi tambahan, namun sepertinya mereka ingin memberikan yang terbaik. Penumpang yang lebih muda diminta mengalah untuk duduk di kursi tambahan itu. Tidak ada yang protes, semua senang, apalagi saya. Tapi saya ditempatkan di sebelah laki-laki muda.

Saya ragu-ragu untuk mendudukinya mengingat adat dan tradisi yang berlaku, karena di Myanmar biasanya perempuan dan pria yang tidak saling kenal duduk terpisah lorong dan tidak bersebelahan. Tetapi sang pemuda sepertinya tidak keberatan, ia sedikit bergerak memberikan keleluasaan untuk saya. Saya tersenyum padanya sambil mengatakan terima kasih.

Bus bergerak lagi. Di barisan belakang ada seorang isteri yang kelihatannya mabuk. Tak henti-hentinya ia berusaha mengeluarkan angin dari dalam tubuhnya dan sekali-sekali memuntahkan isi perutnya. Baunya ya… seperti biasa, menyebar ke seluruh bus. Mau complain? Duh, rasanya mendadak di hadapan muncul Guru Tak Kasat Mata memberi wejangan tentang pembuktian compassion kepada yang sedang menderita! 😀

Sambil mengisi waktu, saya melihat-lihat kembali foto-foto yang ada di kamera dan senyum-senyum sendiri mengingat setiap peristiwanya. Pemuda di sebelah saya sepertinya mengintip juga lalu membuka pembicaraan yang akhirnya kami ngobrol panjang lebar. Juga ibu-ibu yang ada di seberang lorong. Wah saya punya teman ngobrol banyak. Semuanya ingin tahu, mengapa saya melakukan perjalanan sendiri, sudah kemana saja, soal keluarga, dimana mereka, dan banyak lagi. Wajah mereka semakin cerah dengan mata berbinar ketika mereka tahu saya mengunjungi Myanmar bukan yang pertama. Rasanya bukan mereka saja yang gembira karena saya juga gembira bercerita tentang pengalaman saat kunjungan pertama dan melihat perkembangannya yang baik pada kunjungan kali ini. Siapa sih yang tidak senang mendengar kisah perkembangan yang baik?

Dan bahkan pemuda tidak diketahui namanya itu, juga memberitahu saya untuk mencari tahu lokasi terdekat dengan hostel untuk turun dari bus karena bus tidak akan masuk ke terminal Hpa’an. Ia juga membantu saya mencarinya melalui google maps-nya. Dan 5 menit sebelum berhenti, saya mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang menjadi teman baru selama perjalanan ke Hpa’an dan berjalan mendekat ke pengemudi. Lagi-lagi saya turun di pinggir jalan. Semoga google-maps benar!

Saya berdiri sejenak menunggu bus berlalu dan berpikir, ini kiri atau kanan? Sambil melakukan positioning arah saya melihat sekitarnya dan voilaaa…! Itu dia hostel boutique yang cantik, tempat saya menginap di Hpa’an.

Tak sampai 80meter berjalan, saya memasuki hostel dan disambut oleh perempuan bertubuh kecil yang bicaranya cepat, dan tidak begitu ramah. Ah, rupanya dia yang ditandai oleh beberapa tamu yang memiliki kesan yang sama, bicara cepat, efisien, informatif namun tidak begitu ramah. Bagi saya, dia seorang perempuan yang sedang bekerja untuk hidupnya dengan muka datar, tak perlu basa-basi. Itu pilihannya. Namun jika saya boleh memilih, kelihatannya resepsionis yang berdiri di sebelahnya lebih menyimpan perhatian. Dari sorot matanya, saya tahu dia bisa diandalkan.

*

Di hostel kecil yang cantik ini saya memesan kamar privat yang mungil dan bercitarasa tinggi meskipun jendelanya kecil dan pemandangannya secuil sungai. Semua sudah sempurna, lagi pula hanya sehari di sini dan lebih banyak keluar. Saya membersihkan diri sejenak lalu menatap keluar jendela. Matahari masih terang benderang sehingga punya banyak waktu untuk mengunjungi beberapa tempat wisata Hpa’an.

Saya merebahkan diri sejenak, bersyukur telah sampai di Hpa’an sambil berpikir mau kemana dan mengingat kembali orang-orang yang telah bersilang jalan dalam kehidupan saya hari itu. Tapi merebahkan diri itu tindakan salah besar karena udara sejuk dari AC mendinginkan badan yang membuat saya tertidur lelap… Ampun!

Myanmar2 – Menikmati Golden Rock


Setelah terik matahari di Mon State ini terasa mereda, saya mulai melangkah keluar hotel dan berjalan kaki menuju lokasi Golden Rock yang letaknya hanya selemparan batu. Jalannya cukup bagus, tetapi yang membuat saya terpana saat berada di luar adalah banyaknya orang yang akan beribadah. Selalu seperti inikah? Saya bertanya-tanya dalam hati, teringat juga penuhnya Shwedagon saat saya ke sana tujuh tahun yang lalu. Golden Rock, serupa dengan Shwedagon, merupakan salah satu dari kuil-kuil sakral di Myanmar. Tetapi aduh, kepadatan ini, pastinya menjadi tantangan tersendiri untuk memotret di Golden Rock.

DSC07515
The Gate and The Chinthe

Saya sampai di gerbang dengan sepasang chinthe besar, -patung menyerupai singa-, yang dibuat indah sebagai penjaga kesucian kawasan. Seingat saya, kisah klasik tentang chinthe berawal dari Mahavamsa, sebuah epos dari Sri Lanka.

Konon, seorang Putra dilahirkan dari pasangan putri bangsawan dan seekor singa. Namun sejak ditinggalkan selama bertahun-tahun, singa menjadi marah dan menyebar terror ke seluruh negeri. Sang Putra maju untuk menghentikan terror dan berhasil membunuh singa itu. Sesampainya di rumah sambil mempertontonkan singa yang berhasil dibunuhnya itu, barulah Sang Putra tahu sesungguhnya singa itu adalah ayahnya sendiri. Dengan penyesalan yang sangat dalam, Sang Putra lalu membangun patung singa untuk menjaga kuil sebagai penebusan dosanya.

Keberadaan Chinthe menunjukkan batas suci, sehingga saya harus menanggalkan alas kaki dan tentunya berpakaian sopan, sesuai peribahasa kita, Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Melangkah tanpa alas kaki sudah menjadi pemandangan biasa di Myanmar, meskipun kuil yang akan dijelajahi itu luas sekali.

StoneBoatPagoda
Kyaukthanban Pagoda or the Stone Boat Pagoda

Belum lama berjalan, saya sudah sampai pada Stupa Kyaukthanban atau yang dikenal dengan nama Stupa Perahu Batu. Berbentuk perahu di atas sebuah batu besar, batu ini memiliki kaitan dengan kisah legenda Golden Rock. Menariknya, selain bisa melihat Golden Rock dalam jarak 300 meter, di bawah batu besar ini terdapat beberapa stupa mini yang sepertinya diletakkan oleh para peziarah, yang membuat saya mengingat kembali kisah legenda Golden Rock.

GoldenRockFar
Golden Rock from a far

Konon, Buddha memberikan sejumput rambutnya kepada seorang pertapa bernama Taik Tha. Sang pertapa, yang telah menyelipkan rambut Buddha di kepalanya, kemudian memberikannya kepada Raja, untuk disimpan dalam sebuah batu emas yang berbentuk seperti kepala pertapa itu. Sang Raja yang memiliki kekuatan gaib warisan dari ayahnya yang bernama Zawgyi, seorang ahli alkimia, dan ibunya yang merupakan seorang putri naga ular, menemukan batu yang dimaksud di dasar laut. Dengan bantuan Raja Surga dalam kosmologi Buddhis, batu itu bisa ditempatkan secara sempurna di Kyaiktiyo untuk selanjutnya dibangunlah sebuah Pagoda. Menurut legenda, sejumput rambut itulah yang menjaga agar batu tak terguling dari bukit. Dan perahu yang digunakan untuk mengangkut Golden Rock, juga telah berubah menjadi batu. Batu berbentuk perahu inilah yang kini dikenal dengan Stupa Kyaukthanban atau stupa perahu batu, terletak 300 meter dari posisi Golden Rock.

Menjelang Golden Rock itu sendiri, terdapat bangunan-bangunan yang mungkin merupakan rumah-rumah ibadah dan tempat tinggal dari para monk. Bangunan-bangunan itu terlihat sangat menawan, apalagi warna-warnanya kontras dengan birunya langit. Saya suka dengan ornamen-ornamen yang ada.

Setelah mengambil foto bangunan-bangunan itu, selagi melanjutkan langkah ke Golden Rock yang berada 1100 meter (3615 ft) di atas permukaan laut, saya melihat patung-patung yang –maaf-, sepertinya tidak senada dengan kompleks beribadatan, seperti laki-laki kekar layaknya Indian, laki-laki pemburu. Entahlah, namun bisa jadi semua ini merupakan hiasan perjalanan dan impian masyarakat sekitar.

Tak lama saya sampai pada sebuah pelataran yang diatasnya terdapat beberapa genta yang umum ada di kawasan pagoda Buddha. Genta itu diberi sentuhan tradisional sehingga terlihat keren. Jelang sore itu Golden Rock semakin berkilau, juga perbukitan yang berada di kejauhan tampil berlapis-lapis dan sangat indah.

Buildings
The Buildings In Golden Rock Pagoda complex

Saya semakin dekat dengan Golden Rock. Peziarah terlihat semakin menyemut ke arah Golden Rock. Tak heran, dalam hal kesakralan Golden Rock menempati urutan ketiga setelah Shwedagon di Yangon dan Mahamuni di Mandalay. Karena banyaknya peziarah, untuk sampai ke pelataran tempat Golden Rock berada, saya harus bergiliran. Uh, rasanya tak mungkin mengambil foto Golden Rock yang bersih tanpa manusia dalam frame.

Selain jam besar hasil pemberian perusahaan Jepang, di pelataran terbuka juga terdapat monumen tinggi yang menjulang sebagaimana biasa di kawasan pagoda di Asia Tenggara. Namun di Golden Rock ini, bagian dasarnya dihiasi empat patung Nat (spirit pelindung khas Myanmar). Dan tak heran bila di dekatnya juga terdapat pohon Boddhi yang rindang. Melihat pohon Boddhi ini, saya teringat saat diberi selendang oleh Biksu di Lumbini, tepat di bawah pohon Boddhi juga.

MalePrayers
Only Male Worshipper can touch the Golden Rock
FemalePrayers
Female Prayers

Pelan-pelan saya mendekat ke Golden Rock yang tingginya sekitar 7 meter itu. Sesuai namanya, batu besar itu benar-benar dilapisi lembar emas (gold leaf) yang ditempelkan hanya oleh peziarah laki-laki. Perempuan dilarang, karena dalam tradisi Buddhist, perempuan tidak boleh menyentuh biksu laki-laki, dan sesuai legendanya, Golden Rock ini dipercaya sebagai kepala biksu (meskipun rasanya saya tak pernah melihat perempuan menempelkan goldleaf di pagoda-pagoda dimanapun di Myanmar). Perempuan yang berziarah hanya dapat beribadah di tempat yang disediakan di bagian bawah atau di pelataran atas.

Tanpa ingin mengganggu mereka yang ingin beribadah, saya melipir ke pinggir. Sebenarnya saya ingin tahu posisi kritis Golden Rock yang terdiri dari dua batu besar yang saling independen itu dan ketika menemukannya, saya terpesona juga. Sekitar setengah bagian dasar Golden Rock itu sebenarnya menggantung dari batu alasnya yang permukaannya miring. Dan luarbiasanya, dari tempat saya berdiri terlihat betapa kecilnya luas batu yang menahan batu besar di atasnya dengan bidang kontak yang miring. Benar-benar awesome jika dilihat dari sisi gravitasi bumi. Pikiran melenceng yang selintas lewat ‘seandainya ada gempa besar’ cepat-cepat saya hapus…

DSC07435
Can You See the Critical Area?

Sebagai turis mata saya terpusat pada Golden Rock itu dan mengamati, tetapi saya harus minta maaf karena tak mampu melihat kemiripan Batu dengan bentuk kepala. Karena sesuai legenda, Kyaiktiyo itu berarti pagoda diatas kepala biksu, (kyaik berarti pagoda, yo berarti membawa di atas kepala dan ithi berarti Biksu).  Entahlah, mungkin saya saja yang bukan pemerhati serius…

GoldenRockDiffloc
Golden Rock on different angle

Saya menikmati sekali berada di kawasan Golden Rock yang batu alasnya dihias serupa bunga lotus meskipun sebagai perempuan akses saya terbatas. Golden Rock merupakan area terbatas dan hanya bisa diakses oleh laki-laki dengan seorang penjaga yang berwajah tegas dan siap mengusir siapapun yang bisa membatalkan kesucian tempat sakral itu. Saya melipir ke tempat-tempat yang diperbolehkan, menyaksikan para penziarah menyalakan lilin, memberikan persembahan, membaca doa dan melantunkan sutra.

Sebuah pemandangan yang menghangatkan hati saat melihat peziarah begitu khusuk berdoa dengan mata tertutup dan penuh pengharapan, tua muda, laki dan perempuan, yang tak berpunya maupun yang berkecukupan. Dan tetap saja ada pemandangan yang menggemaskan ketika biksu-biksu kecil berdoa tanpa bisa melepaskan sifat kanak-kanak mereka yang menyelipkan kesempatan untuk bermain dan bercanda. Pemandangan yang meluluhkan hati.

Worship
An Old Lady’s Offerings
LittleMonks
Little monks

Karena matahari hampir tenggelam, sebisanya saya mengambil tempat terbaik dengan Latar depan Golden Rock dan posisi matahari di sebelahnya. Meskipun saya tak bisa mengambil perbukitan yang berlapis-lapis di bawahnya.

GoldenRockAtDusk
Golden Rock at Sunset

Luar biasa memang sunset di tempat ini.

Setelahnya, saya berkeliling kompleks lagi. Peziarah bukannya semakin sedikit, malah semakin padat. Rupanya mereka menginap di pelataran dan tidur beralaskan tikar berlangitkan bintang-bintang yang sangat indah. Tadinya saya berpikir akan bisa memiliki foto Golden Rock yang sepi, tetapi ternyata saya salah. Wisma, restoran, toko-toko semua penuh peziarah.

DSC07492
Golden Rock At Night

Saya mulai lelah dan ingin beristirahat. Sekali lagi saya membuat foto Golden Rock saat malam dari berbagai sudut. Suasananya memang magis dengan langit kelam dan batu emas yang sangat kontras serta lilin-lilin dan asap dupa yang naik ke udara.

Karena tahu tidak bisa mengabadikan situasi yang hening dan sepi di Golden Rock, saya berjalan balik ke hotel untuk kembali ke Golden Rock esok pagi.

Crowded
From The Afternoon, Evening, Night and Morning, there’s a non-stop crowd

Namun malam itu, melihat kepadatan manusia di pelataran Golden Rock, saya sedikit kehilangan mood untuk keluar melihat matahari terbit keesokan harinya. Meskipun tetap berharap bahwa rombongan peziarah akan pulang sehingga kepadatannya akan berkurang pada pagi harinya. Harapan saya tidak terjadi, yang datang dan yang pergi sama banyaknya. Luar biasa sekali. Sepertinya mereka datang tumplek blek ke Golden Rock dari segala penjuru Myanmar.

Meskipun demikian, saya tetap kembali ke pelataran dan tersenyum pahit melihat banyaknya peziarah yang melantunkan doa dengan khusuk atau hanya sekedar berdoa sambil lalu. Pasrah, akhirnya saya membuat beberapa foto lagi sebelum saya meninggalkan Golden Rock.

DSC07517
Sunrise at Golden Rock’s valleys
Pindapatta
Pindapatta in the morning

Sebelum meninggalkan kawasan, saya melihat ke perbukitan yang ada di bawah. Uh, saya tak terbayangkan melakukan trekking 11 km dari desa terdekat Kinpun ke Golden Rock, yang katanya, jika dilakukan tiga kali dalam setahun akan mendapat berkat kaya dan kehormatan. Dari beberapa blog yang saya baca, kelihatannya jalur trekking yang ada cukup terjal dan berbahaya, meskipun sekarang banyak kuil baru sehingga bisa menjadi alternatif kunjungan. Tetapi, faktor keselamatannya rasanya tidak janji.

Saya kembali ke hotel untuk berberes. Hari ini saya melanjutkan ke Hpa’An dan belum tahu bagaimana saya menuju ke sana, termasuk belum beli tiket. Hari ini pasti seru… dan nyatanya memang begitu…

 

Myanmar 1 – Menuju Golden Rock


Love recognizes no barriers. It jumps hurdles, leaps fences, penetrates walls to arrive at its destination full of hope ~ Maya Angelou

Bisa jadi quote Maya Angelou di atas mewakili rasa perjalanan saya kembali ke Myanmar setelah tujuh tahun. Untuk pertama kalinya saya memilih terbang tengah malam dengan AirAsia ke Yangon via Kuala Lumpur dengan harapan bisa mengejar bus pagi agar sampai di Golden Rock sebelum matahari terbenam. Memang sedikit melelahkan bepergian dari tengah malam hingga jelang malam berikutnya, tapi cinta pada perjalanan sepertinya mampu mengalahkan semua hambatannya. Lagipula saya bisa istirahat di pesawat dan di bus, serta tentu saja menghemat hotel, makan serta kemungkinan belanja karena toko masih tutup ‘kan?

Namun kenyataannya, sayapun terjatuh pada ‘kerikil’ perjalanan. Kesombongan mencintai perjalanan diuji saat boarding tengah malam itu. Tanpa periksa lagi, saya bersikap angkuh, dengan nada tinggi menuntut hak kursi di jendela 16F kepada orang yang sudah setengah tertidur menduduki kursi. Nada tinggi saya membangunkannya dan dengan sebalnya akhirnya ia menunjukkan boarding passnya yang bernomor 17F! Woilaaaa…. Langit rasanya runtuh… ternyata kursi saya terlewati dan kursi saya itu ada didepannya dan kosong!!! Malunya disaksikan satu pesawat itu tak tertahankan! Tanpa pikir panjang saya duduk, menutupi muka dengan jaket lalu pura-pura tidur… 😀

7
Do you see the Cable Cars?

Penerbangan berjalan lancar hingga mendarat di KLIA2. Masih setengah mengantuk, saya menyusuri travelator menuju ruang transfer antar bangsa untuk kemudian melihat gate penerbangan selanjutnya. Sambil berjalan menuju gate saya tersenyum melihat banyak orang tidur meringkuk di sudut-sudut nyaman lantai bandara yang berkarpet atau di kursi-kursi panjang. KLIA2 memang termasuk bandara yang nyaman untuk tidur overnight. Tersedia air panas untuk minum atau sekedar pelarut makanan instan dan yang paling penting bagi saya adalah kamar mandi, yang semuanya gratis.

Tidak ada yang menarik dalam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Yangon, kecuali kebanyakan saya tertidur dan baru terjaga jelang mendarat. Dan ketika akhirnya roda pesawat menyentuh runway dengan mulus, sekelumit rasa haru meliputi saya. Akhirnya saya bisa kembali ke negeri ini, Pa dan nanti saya akan ke tempat itu…

Rasa haru itu tak lama karena saya terpesona ketika memasuki terminal kedatangan. Bandara ini telah berubah banyak dalam tujuh tahun dan tidak kalah hebatnya dengan bandara-bandara internasional lainnya, bahkan tidak perlu lagi arrival card untuk imigrasi yang layanannya juga cepat. Ah, tiba-tiba saya teringat tujuh tahun lalu harus bolak-balik mengurus visa ke Kedutaan Myanmar di Jakarta dan kini saya melenggang masuk, melewati ban-ban berjalan itu karena saya tidak membawa bagasi.

Dalam sekejap pemandangan laki-laki berlongjyi dan perempuan berkain yang telah begitu lama tidak saya lihat, kini terhampar di depan mata, dimana-mana. Kenangan tujuh tahun lalu menari-nari di benak yang dengan cepat saya hilangkan karena perlu segera ambil uang via ATM yang terletak dekat KFC. Dengan salah satu kartu Bank Swasta Nasional kita, uang dengan mudah keluar. Tujuh tahun lalu, saya harus ketar-ketir menjaga kecukupan Bank Notes USD yang harus keluaran terbaru dan licin karena belum ada jaringan ATM Internasional. Belum lagi money changer terpercaya yang hanya terbatas, kalaupun ada yang lain, nilai tukarnya mengerikan. Betapa sekarang semakin mudah!

Setelah memegang uang lokal Kyat atau MMK, saya menuju konter taksi dan petugasnya langsung memberi harga standar US$ 7 atau 10000 MMK untuk tujuan ke terminal bus Aung Mingalar, yang menurut saya seharusnya bisa lebih murah untuk jarak itu. Tapi sudahlah, bukankah itu juga bagian dari peristiwa-peristiwa yang ada dalam perjalanan?

Karena telah memegang tiket bus Win Express menuju Kinpun yang dipesan online seminggu sebelumnya sebesar US$7.6, pengemudi taksi menurunkan tepat di depan bus dan tempat tunggunya. Saya tak lama menunggu di konter itu karena setelah beberapa menit bus berangkat menempuh perjalanan panjang sekitar 6 jam.

Saya memilih bus Win Express sesuai rekomendasi sahabat Celina yang pernah ke Golden Rock sebelumnya. Menurut penuturannya, banyak turis sebenarnya mau ke Golden Rock tapi mengatakannya ke Mt. Kyaikto, karena memang Golden Rock itu berlokasi di Mt. Kyaikto. Masalahnya, Kyaikto sendiri merupakan sebuah kota kecil yang masih cukup jauh dari Golden Rock dan harus naik bus lagi melalui desa Kinpun untuk mencapai Golden Rock. Sehingga kata kuncinya adalah Golden Rock bukan Mt. Kyaikto untuk menghindari salah komunikasi, atau bisa juga Kinpun.

Nah, meskipun banyak bus lain menawarkan harga yang lebih murah, tapi tidak sedikit yang hanya sampai Kyaikto saja dan cari sendiri transportasi lain ke Kinpun. Bus Win Express ini langsung berangkat dari Yangon ke Kinpun serta jadwalnya sesuai waktu yang saya rencanakan. Menyenangkan kan? Apalagi terus mendapatkan kemudahan hingga bisa berada dalam bus menuju Golden Rock itu, benar-benar anugerah ya…

Tetapi selalu ada kerikil lagi…

Rencana saya untuk melanjutkan tidur di bus langsung batal karena saya lupa beli SIM lokal untuk ponsel. Aduh, dasar saya yang suka lupa umur, pikirannya langsung ke pertanyaan bagaimana agar bisa tetap eksis dan nampang di medsos 😀 😀 😀 Tetapi, ya ampuuun… ketika mengakses aplikasi MyTelkomsel untuk membeli paket roaming, transaksi gagal. Serta merta saya seperti diguyur air es, panik! Dengan hati berat saya ON-kan roaming untuk minta pertolongan dari Indonesia, tetapi semua tidak berhasil. Saya mulai berpikir untuk offline selama perjalanan kecuali ada WIFI. Huaaaa…. :”(

Tetapi saya belum putus asa, mencoba lagi dengan cara lama sebelum adanya apps yaitu dengan cara Unstructured Supplementary Service Data (USSD). Dan… horeee…. Berhasil!!! *Dansa-dansa duluuu… Akhirnya tidak jadi komplen ke provider, yang penting bisa online, kan?

Setelah itu, baru saya memperhatikan keadaan bus yang lay-out kursinya dua-dua ini, ditambah AC yang cukup dingin menjadikan perjalanan selama 6 jam menjadi lebih nyaman. Di tengah perjalanan saat 30 menit break makan siang, saya menuju kios sebelah untuk membeli keripik kentang dan minuman botol. Meskipun terkendala bahasa, transaksi bisa berjalan baik, uang dan barang saling bertukar tempat ditambah senyum lebar tanda saling memahami. Inilah salah satu yang saya sukai dalam sebuah perjalanan, hubungan antar manusia itu tetap bisa terjalin meskipun beda bicara. Dengan saling melempar senyum, berprasangka baik diiringi hati yang terbuka. Indahnya dunia…

1
Lunch Break on the way to Golden Rock

Saat berhenti itu pula saya gunakan untuk toilet break yang mengesankan, karena pintu di toilet perempuan tidak dapat ditutup sempurna sehingga saya cukup was-was saat melakukan ritual itu. Entah apa jadinya jika tiba-tiba pintu dibuka dari luar 😀 Untunglah tak terjadi.

Setelah semua penumpang lengkap, bus melanjutkan perjalanan menuju Kinpun.

Ketika sampai di Kinpun, ternyata bus itu berhenti bukan di terminal melainkan di hotel yang menjadi grupnya. Bersama penumpang lainnya, saya turun dan berjalan kembali ke terminal keberangkatan truk. Truk? Iya, truk yang bagian bak belakangnya dimodifikasi dengan diberi besi-besi melintang ditambah bantalan sebagai dudukan sehingga banyak orang bisa duduk. Penumpang harus naik dulu ke platform tinggi bertangga seperti layaknya mau naik gajah wisata.

Dan jangan salah, di terminal itu jalur truknya tidak hanya ke Golden Rock tetapi banyak juga ke tempat lain dan jangan harap ada tulisan latin! Wajah saya menunjukkan kebingungan tapi banyak juga orang yang mau menolong. Sekali bertanya, saya langsung ditunjukkan truk yang akan ke Golden Rock. Alhamdulillah!

Saya harus membayar 2000MMK atau 2000 Kyat untuk ke Golden Rock karena dengan lembaran uang 5000MMK yang saya berikan, kondekturnya mengembalikan 3000MMK. Saya duduk di pinggir dengan ransel di antara kaki.

2
Onboard the Truck to Golden Rock
3
From Kinpun to Golden Rock
4
From Kinpun to Golden Rock with Sharp Turn

Perjalanan truk ke Golden Rock cukup membuat deg-degan apalagi duduk di pinggir. Saya lebih banyak melihat jurang daripada tanah yang datar. Terutama kalau jalannya menanjak tinggi atau berbentuk tikungan tajam. Saya hanya bisa berdoa, karena tak yakin apakah ada asuransi yang bersedia mencover dengan menaiki truk modifikasi ini. Saya tidak berani membayangkan truk ini terguling. Uh, amit-amit. Tetapi setahu saya, insiden seperti ini rendah sekali atau nyaris tidak ada (meskipun mungkin tidak pernah di-publish atau juga karena saya tidak bisa baca tulisan mereka).

Di tengah perjalanan, truk berhenti di sebuah tempat yang ternyata merupakan tempat minta donasi. Ada lebih dari satu orang laki-laki di bagian depan bicara dengan seru, kelihatannya sedang memberikan penasehatan iman (meskipun pendengarnya banyak yang mengabaikan dan ngobrol sendiri, tapi pada akhirnya mengulurkan juga donasinya). Saya tersenyum sendiri, karena sering melihat peristiwa serupa dengan latar agama yang berbeda.

Truk berjalan lagi melintasi jalan yang berkelok-kelok hingga satu tempat agak terbuka, saya terpesona juga dengan apa yang saya lihat. Ada kereta gantung di Myanmar! Dan truk pun pergi menuju stasion awal kereta gantung itu untuk memberi kesempatan turun bagi penumpang yang ingin menaiki kereta gantung itu. Sebenarnya saya ingin turun tetapi saya tidak tahu tujuan akhirnya. Jadi saya diam saja di truk. Melihat perkembangan transportasi ini, saya merasa sedikit kontradiktif. Di Myanmar ini, sementara saya berada di bagian belakang truk yang dimodifikasi sederhana, ada juga transportasi kereta gantung yang memerlukan teknologi dan pengamanan tinggi.

5
Cable Car view from the Truck

Tak lama kemudian bus melanjutkan perjalanan menuju Golden Rock. Dan setelah beberapa kali badan ini terhimpit oleh ibu-ibu di sebelah saya karena tikungan-tikungan tajam, akhirnya sampai juga saya di terminal akhir Golden Rock. Dengan intuisi seadanya, saya mengikuti saja jalannya penduduk lokal karena seharusnya mereka akan Pagoda juga kan? Sebenarnya nekad juga ya… tetapi entah kenapa saya meyakininya. Dan benarlah, karena kemudian saya mengenali situasi seperti yang saya lihat di google street dan youtube. Horeee…

Setelah beberapa langkah, saya sampai pada tempat tiket masuk. Sebagai foreigner, saya dikenakan 10000MMK untuk masuk ke pelataran Golden Rock lalu diberikan kalung bertanda tamu asing yang sampai pulang saya tidak kenakan. 🙂 🙂 Bagi penduduk lokal, tidak dikenakan biaya masuk.

Tidak jauh dari tempat tiket, sampailah saya pada hotel yang telah saya pesan. Sebenarnya bisa saja tidak menginap di Golden Rock, tetapi buat saya, menyaksikan matahari tenggelam di Golden Rock itu must-see dan jika memungkinkan juga saat matahari terbit. Lagi pula, truk terakhir turun jam 5 atau 6 sore sehingga dengan menginap saya memiliki kebebasan untuk menjelajah sepuas hati.

Setahu saya hanya ada tiga hotel di sekitaran Golden Rock yaitu Mountain Top Hotel, Kyaikhto Hotel dan Yoe Yoe Lay Hotel dan semuanya terasa kemahalan untuk fasilitas yang disediakan. Tetapi tidak bisa mengajukan complaint karena mahalnya itu disebabkan oleh nilai dekatnya jarak dengan Golden Rock. Jika tidak mau mengeluarkan uang, mungkin bisa saja tidur di lantai pelataran pagoda 🙂 Tetapi maaf ya, saya tidak tahu pasti apakah foreigner boleh tidur di pelataran pagoda seperti penduduk lokal. Bagaimanapun menginap kemahalan di salah satu hotel itu pasti ujung-ujungnya adalah ada harga, ada barang ‘kan? Sunset, bintang bertaburan saat malam dan sunrise, serta kebebasan untuk menjelajah… mungkin bagi saya menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikanbegitu saja…

<Bersambung>

Ke Myanmar Lagi Setelah Tujuh Tahun


Saat roda pesawat menyentuh mulus landasan bandara Internasional Yangon, saya menarik nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rasanya tak percaya bahwa setelah 7 tahun akhirnya saya kembali lagi ke Myanmar, negeri yang terkenal dengan sebutan The Golden Land. Bandara yang dulu terkesan tak ramah dan seram, kini bagai perempuan cantik yang menarik hati dengan begitu banyak toko-toko merek Internasional.

Jika 7 tahun lalu saya harus datang menggunakan visa, kini sebagai pemegang paspor Indonesia, saya bisa melenggang dengan visa exemption dari Pemerintahan Myanmar. Jika dulu saya ketar-ketir dengan kecukupan bank notes US Dollar terbaru yang harus licin yang saya bawa karena ATM internasional tidak ada, kini saya bisa menarik uang kyat melalui ATM, bahkan sampai di tempat terpencil pun ada ATM! Jika dulu sinyal ponsel lebih banyak hilang, kini saya bisa terus exist dimana-mana hingga ke tempat terpencil. Dan yang paling membahagiakan, jika dulu saya hanya mendapat sedikit hotel yang bisa dibooking online kini Myanmar tak beda dengan Negara-negara lainnya. Jika dulu saya bingung untuk bisa booking pesawat domestik di Myanmar, kini saya memiliki kemudahan untuk memilih transportasi bus atau pesawat untuk pindah kota. Tujuh tahun untuk keterbukaan sebuah Negara, perubahan ini patut diacungi jempol.

Kemudahan itu juga termasuk pemesanan tiket bus sehingga saya bisa dengan cepat dari bandara ke stasiun bus dan langsung menuju Kinpun, desa terdekat untuk sampai ke Golden Rock. Saya telah menghitung waktu perjalanan bahwa saya bisa mencapai Golden Rock sebelum sunset dan betapa membahagiakan saya bisa mendapatkan sunset yang indah di Golden Rock! Bahkan keesokan harinya saya juga bisa mendapatkan pemandangan indah perbukitan yang berlapis-lapis ditimpa sinar mentari pagi.

DSC07452
Sunset at Golden Rock, Myanmar

Perjalanan saya pagi itu berlanjut ke kota kecil Hpa’an di Kayin State dengan menggunakan bus dan sempat berkenalan dengan penduduk lokal seperjalanan bus. Mereka dengan ramahnya dan dengan bahasa Inggeris yang fasih menunjukkan tempat saya harus turun agar tak jauh berjalan kaki dari hostel saya menginap. Membahagiakan sekali rasanya mendapatkan bantuan dari mereka.

Di hostel kecil di Hpa’an itu, lagi-lagi saya mendapatkan kemudahan. Setelah rehat sejenak di kamar hostel yang ber-AC sambil menunggu meredupnya terik mentari, saya berkeliling tempat-tempat wisata di Hpa’an dengan motortaxi. Hpa’an, kota kecil pinggir sungai Than Lyin yang berada di kawasan perbukitan karst memang merupakan surga bagi penggemar wisata gua. Karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat mengunjungi Gua Kaw Gon yang luar biasa cantik karena dipenuhi dengan tatahan ribuan Buddha kecil di sepanjang dinding dan atap gua, juga Gua Yathae Pyan yang banyak stalaktit dan stalagmit, Gua Kaw Ka Thaung yang menyimpan relik Buddha dan tentunya gua terbesar Mahar Saddan yang terkenal dengan stalagtit dan stalagmitnya dan berujung pada danau kecil di ujung keluarnya. Bahkan di hari pertama saya sempat mengunjungi sebuah monastery berpemandangan indah pada saat senja. Refleksi monastery dan perbukitannya terlihat sangat menawan di danau kecil.

Perjalanan selanjutnya menuju kota Mawlamyine atau dulu dikenal dengan Moulmein, di Mon State, yang mengharubiru rasa. Sesungguhnya perjalanan ke Mawlamyine inilah yang membuat saya kembali ke Myanmar setelah tujuh tahun. Dengan apapun saya akan menempuhnya, saya akan sampai pada Mawlamyine meskipun hal ini tidak akan mudah.

Sebuah perjalanan menapak tilas tidak akan pernah mudah karena dipenuhi kenangan dan cinta. Setiap langkah saya seperti melepaskan helai bunga doa untuknya. Meskipun menginap di tempat terbaik di kota ini, saya tahu akan berteman dengan airmata dan menghabiskan waktu berbicara dengan jiwa.

Namun jiwa pejalannya yang ada pada saya mengajak melangkah ke tempat-tempat baru. Di kota ini saya melihat bagaimana Myanmar berusaha memiliki bangunan Buddha Tidur terbesar di dunia (meskipun kini dikalahkan oleh China yang mengubah bukit menjadi Sleeping Buddha). Bangunan Buddha Tidur yang saya lihat ini juga masih dalam tahap pembangunan, entah kapan selesainya.

DSC08118
Win Sein Taw Ya Pagoda, Mawlamyine, Myanmar

Selepasnya, saya diajak oleh sopir tuktuk untuk mengunjungi beberapa masjid, termasuk menyempatkan ziarah kubur kepada seorang ulama yang dimakamkan disana. Pengalaman mengunjungi perkampungan muslim dengan melihat beberapa masjid di kota Mawlamyine melengkapi keindahan hari saya. Seakan saya dibukakan mata bahwa saya tidak boleh menyamaratakan keadaan Muslim di Myanmar. Di kota ini, di Negara bagian Mon ini, toleransi antar agama berjalan dengan sangat baik. Buktinya amat jelas, saat berjalan kaki di pagi hari, saya mendapati tiga masjid yang tak berjauhan lokasinya. Bahkan belakangan saya menyesal, karena tahu disana ada lebih banyak masjid daripada rumah ibadah lain, yang tidak sempat saya lihat.

Bagaimanapun perjalanan harus dilanjutkan, pada malam harinya saya kembali ke Yangon dengan menggunakan bus malam yang menyimpan cerita untuk bersikap berani di baliknya. Kota Yangon dengan segala kebaikan dan keburukannya, tidak jauh beda dengan Jakarta, kota tempat saya dibesarkan dan hidup didalamnya. Sebagai perempuan yang pergi sendiri, antenna kewaspadaan saya harus terus berfungsi dengan baik, kelengahan sedikit saja bisa berakibat tak baik. Meskipun diatas segalanya, Dia Yang Maha Melindungi yang menjaga saya selamanya.

Hari itu, kota Yangon bukan menjadi kota destinasi, melainkan kota transit karena saya harus terbang ke Heho untuk sampai ke Danau Inle yang terkenal. Tujuh tahun lalu, saya tidak sempat ke Danau Inle dan tahun ini, Inle menjadi tujuan destinasi saya untuk menikmati liburan kali ini. Benar-benar beristirahat.

Dua malam saya habiskan di Danau Inle untuk berleha-leha dan berwisata sekitar danau, ke tempat-tempat pembuatan kain, tempat pembuatan perahu, tempat kerajinan tangan dan lain-lain. Bahkan di tempat itu, yang jauh dari kota, saya sempat menarik ATM. Ah, Myanmar memang sekarang lebih mudah.

DSC08571
Inle Lake one-leg rowing fisherman during Sunset

Menikmati sunrise dan sunset di Danau Inle merupakan pengalaman indah yang saya alami. Bagaimana mungkin saya mengabaikan nelayan-nelayan yang mencari ikan di danau dengan mendayung memakai satu kakinya? Bagaimana mungkin saya mengabaikan bunga-bunga matahari dan lotus yang terhampar dan mekar dengan indahnya di pinggiran danau? Keindahan luar biasa Danau Inle membuat saya berjanji akan mendatangi lagi suatu saat nanti.

Meskipun beristirahat total, -ini cara mengisi liburan saya yang sangat berbeda dari biasanya-, tetap saja ada satu tempat yang membangkitkan semangat. Dengan melakukan perjalanan sekitar 1 jam dengan perahu, saya sampai pada reruntuhan bangunan dari Abad ke-11. Meskipun terpapar terik matahari dan sedikit mendaki, saya bisa menikmati kawasan Bagan dalam ukuran mini.

Perjalanan saya di Myanmar mendekati akhir. Saya harus kembali ke Yangon, dengan berkendara bus selama 11 jam. Sebuah perjalanan panjang yang menghabiskan hari, namun bagi saya tetap saja ada kisah-kisah menyenangkan dan menghangatkan hati melalui sentuhan hati dengan orang-orang lokal yang baik dan ramah.

Malam terakhir di Yangon, dalam keadaan badan yang lelah, justru saya mendapat pengalaman ‘perkenalan’ sampai akhirnya saya minta penggantian kamar. Meskipun saya tidak mau berpikir aneh-aneh, tetapi demi istirahat enak, lebih baik saya pindah ke kamar lain. Bukankah mengganggu bila lampu tiba-tiba meredup lalu terang kembali dan berulang serta bunyi-bunyian keras tanpa alasan yang jelas?

Tetapi bagaimana mungkin saya meninggalkan Yangon tanpa mampir ke Shwedagon yang megah? Dan tetap saja beberapa jam disana sudah mampu memberi sentuhan hangat ke dalam jiwa, sampai akhirnya waktu juga yang memaksa saya meninggalkan Yangon.

Setelah tujuh tahun, Myanmar telah banyak berdandan cantik disana-sini menyambut tamu-tamu yang semakin banyak berdatangan. Meskipun kali ini saya mendatangi tempat-tempat yang belum saya datangi sebelumnya, -kecuali Yangon-, saya merasakan sekali perubahan kearah yang lebih baik itu, dan tentu saja sangat menggembirakan.

Ah, karena post ini merupakan rangkuman perjalanan, doakan saja saya bisa menulis perjalanan seru waktu disana ya. Siapa yang baru-baru ini ke Myanmar juga? Boleh dong cerita-cerita… 🙂