D-3 Trekking di Nepal – Dihajar Hujan Es


There are no mistakes or failures, only lessons –  Denis Waitley

Setiap langkah trekking membawa saya pada berbagai pembelajaran. Setiap hari bertambah pengalaman yang memperkaya rasa, tentang kekuatan diri, tentang warna orang-orang yang menolong, tentang tanggung jawab, keberanian, juga pembelajaran dari alam, dan tentu saja kebaikan hati.

Menghargai Kekuatan Diri Manusia

Penginapan bertingkat itu sudah sepi ditinggalkan para trekker sejak pagi menyisakan kami yang merupakan rombongan terakhir. Sedikit sendu saya melangkah menuju halaman, meninggalkan tempat yang mengukir kenangan tak terlupa tentang sebuah pemberontakan isi perut (baca cerita soal itu). Saya hanya perlu belajar lebih mengenal diri sendiri. Tidak ada kesalahan atau kenangan buruk, semua akan menjadi cerita indah sebagaimana saya juga siap menerima cerita-cerita lain di tempat baru di hari ketiga trekking ini.

Sambil menunggu Dipak menyelesaikan administrasi, di halaman saya menyaksikan Pak Ferry mencoba menjadi porter seperti Kedar, dengan meletakkan pusat tali yang mengikat tas bagasi besar yang sangat berat itu di kepalanya. Berhasil, bahkan pak Ferry juga berhasil berjalan dari ujung ke ujung halaman. Sebenarnya saya kuatir akan kekuatan leher dan kepalanya. Jika ada apa-apa dengannya, bagaimana saya harus cerita kepada keluarganya?

Try to be a porter
my friend tried to be a porter (photo credit to Pak Ferry’s)

Saya tak menyadari kehadiran Dipak yang tersenyum lebar menyaksikan unjuk kekuatan di halaman itu. Pak Ferry yang mukanya memerah akibat mengangkat tas bagasi, mengakui beratnya tas untuk dibawa orang normal apalagi dengan menggunakan kekuatan otot leher. Ah, sebagai perempuan satu-satunya dalam rombongan kecil, saya menggeleng-gelengkan kepala sambil mencoba memahami apakah semua laki-laki itu perlu kesempatan untuk bisa unjuk kekuatan fisik? 😀

Namun, pertunjukan sesaat itu membuat saya semakin menghargai pekerjaan Kedar, porter kami untuk trekking kali ini. Dia, yang menurut Dipak berasal dari keluarga tak mampu, hanya bisa mengandalkan kekuatan fisiknya untuk berjalan membawa beban mengikuti alur gunung dengan pakaian dan sepatu seadanya, hanya untuk mendapat sedikit uang. Banyak trekker tak ingin menggunakan jasa porter karena merasa tak memerlukannya, padahal dengan menggunakan jasa porter, trekker telah membantu secara langsung sebuah kehidupan di Nepal.

Ketiga sahabat seperjalanan mulai melangkah pergi, saya sejenak menoleh ke belakang, membisikkan kata perpisahan pada tempat yang menjadi saksi diam keindahan Himalaya. Entah kapan saya bisa kembali lagi ke tempat ini.

Dalam beberapa saat kami berjalan mendekati batas desa karena bangunan semakin jarang dan  akhirnya terlihat sebuah gapura. Saya kembali berfoto disitu. Kali ini untuk meninggalkan Ghorepani.

Our Porter waiting in the Ghorepani's Gate
Our Porter waiting in the Ghorepani’s Gate – See You Again…

 Sebuah Tanggung Jawab

 “Where is your trekking pole?”, tanya Dipak mengejutkan setelah berjalan santai sekitar sepuluh menit.

Rasanya seperti ketahuan menyontek saat ujian, saya langsung berdiri diam membeku. Trekking pole merupakan benda pinjaman dari agen trekking dan menjadi tanggung jawab saya selama trekking. Kini benda itu tidak di tangan padahal saya biasa menggunakannya selama berjalan. Untungnya otak masih cukup bagus untuk mengingat tempat terakhir saya meletakkannya. Pasti di sudut kamar. Merasa bersalah, saya katakan tempatnya sambil balik arah untuk mengambilnya tetapi Dipak mencegah. Ia akan mengambilnya dan meminta saya berjalan terus karena ia bisa menyusul. Rasanya saya terjun bebas ke jurang, malu dan tak enak hati, ini benar-benar sebuah keteledoran!

Sambil mengutuk diri, saya terus berjalan menuju rindangnya hutan rhododendron yang berdaun hijau karena musim bunga sudah berlalu. Terlintas di benak anjuran untuk forest bathing, -bukan mandi di tengah hutan-, melainkan menikmati jalan-jalan di hutan yang katanya bisa menurunkan stress. Mungkin benar karena memang nyaman jalan-jalan di hutan. Tapi untuk situasi saya  saat ini? Ugh…

Belum lama berjalan di hutan, Dipak sudah menyusul lalu menyerahkan trekking pole yang tertinggal itu. Malu ditambah rasa bersalah, saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Rasanya seperti menghujam ke inti bumi. Ironis sekali, berada di dalam hutan rindang yang katanya bisa menurunkan stress tapi saya menerima barang, -yang merupakan tanggung jawab saya-, dari seseorang yang bersedia mengambilnya kembali hanya karena saya LUPA! Sepertinya guilty feeling itu menaikkan stress.

A Horse in tranquility
A Horse in tranquility

Kegembiraan trekking

Bagaimanapun semua sudah terjadi dan saya harus meneruskan perjalanan menuju perbukitan yang lebih terbuka. Kami bertemu dengan tiga trekkers yang datang dari arah berlawanan, yang meminta kepastian arah menuju Ghorepani. Wajah mereka bahagia karena jalurnya menurun, berlawanan dengan jalur kami yang masih terus menanjak walaupun lebih landai daripada hari sebelumnya. Dua sahabat seperjalanan, Pak Ferry dan Kedar, terlihat gembira untuk berlomba mencapai puncak bukit, entah siapa yang menang. Saya sendiri, seperti biasa, menjadi buntut. Di sisi kanan, Dipak duduk di batu tampak bahagia bisa menelepon. Bahagia itu memang sederhana…

The trekking path
The trekking path

Sambil mengatur napas karena jalannya menanjak, saya mengerahkan daya untuk merekam suasana sekitar yang menenteramkan ke dalam jiwa. Alam itu sangat indah. Saya melihat Dipak yang sudah menyusul lalu berteriak menyemangati dari puncak bukit. Last Ukalo, katanya, yang berarti tanjakan terakhir. Yeeiy…

Akhirnya di puncak bukit itu saya mendapati Pak Ferry tidur dengan buku menutupi wajahnya. Bahagianya! Kedar dan Dipak mengobrol sambil mengunyah kurma dari Pak Ferry dan membuang bijinya ke semak-semak sekitar. Mungkin sekian tahun lagi akan tumbuh pohon kurma di pegunungan Himalaya 😀

Dihajar Badai dan Hujan Es

Rehat bubar karena kabut turun dengan cepat. Segera saja Kedar dan Pak Ferry tancap gas meninggalkan saya yang menyempatkan mengambil foto kabut menyelimuti kawasan dengan jurang di kanan dan tebing di kiri. Dipak meminta saya bergegas melihat cuaca yang mulai tidak bersahabat. Rasa kuatir di wajahnya membuat saya mematuhinya, mempercepat langkah ke Deurali.

Guntur menggelegar, mengikuti kilat yang datang terlebih dahulu. Jeda diantara keduanya masih cukup jauh, walaupun saya tetap harus waspada berjalan dengan tebalnya kabut. Namun selaras dengan waktu, kilat dan guntur pun semakin sempit jedanya dan semakin sering terdengar dan akhirnya hujan pun jatuh. Cukup deras! Di depan mata hutan kembali menghadang. Aduh…

Walaupun jalannya lebih landai, beberapa kali saya hampir jatuh tersandung akar-akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah. Untung trekking pole cukup kuat menopang saya walaupun di beberapa tempat yang terjal Dipak sampai harus mengulurkan tangan untuk membantu. Dasar saya orang kota, -yang tidak terbiasa jalan di hutan, kehujanan, dingin lagi-, beberapa kali saya ‘telmi’ untuk menapakkan kaki terutama di turunan terjal. Sepertinya saya terlalu banyak berpikir, padahal kaki sudah mengarah yang benar tetapi pikiran saya menghentikannya. Kaki dan pikiran tidak seirama. Pelan-pelan saya mencoba menyelaraskan pikiran dengan irama kaki. Saya belajar untuk mempercayakan keselamatan tubuh kepada irama kaki dan hei… langkah menjadi lebih ringan. Ah, kadangkala alam membiarkan saya belajar pada waktu yang aneh. Hujan-hujan begini, di hutan lagi…

Jas hujan yang menutupi setengah badan, membasahi bagian bawah celana trekking yang baru saja saya ganti di Ghorepani. Untungnya, kaki dalam sepatu tetap kering. Saya teringat saat membeli sepatu beberapa waktu sebelumnya. Penjual sepatu itu menyarankan yang waterproof walaupun tidak keren dan sedikit mahal. Tak sadar saya tersenyum dalam hujan, berterima kasih pada penjual sepatu karena saat ini terbukti ucapannya.

Di hutan yang agak terbuka saya baru tersadar, sebenarnya yang menerpa kami di menit-menit terakhir adalah hujan es, bukan hujan biasa. Ya benar, hujan es! Butiran-butiran es itu terasa saat jatuh di jas hujan. Dalam keadaan itu, saya berhenti sejenak sambil mengangkat lengan ke atas dan menyaksikan butiran es itu jatuh di lengan dan bergulir. Walaupun cukup kedinginan, saya terpesona. HUJAN ES! Dipak tertawa melihat saya seperti anak kecil yang baru pertama kali merasakan nikmatnya mandi hujan.

Deurali Yang Hangat

Tak sampai satu jam, rumah pertama di Deurali, destinasi kami, sudah terlihat. Dan kami berhenti di sebuah penginapan sederhana di tengah desa yang di pintunya berdiri Pak Ferry dan Kedar. Selama kurang dari dua puluh empat jam ke depan, penginapan sederhana ini akan menjadi tempat persinggahan kami.

Penginapan di Deurali ini berpusat di sekitar tungku. Saya meriung bersama sahabat seperjalanan di depan tungku menghangatkan badan. Sepatu, kaos kaki juga berjejer rapi di lantai dekat tungku. Kakek pemilik rumah tampak nyenyak tertidur di pembaringan depan tungku. Saya sedikit iri padanya, bisa terus tidur tanpa terganggu oleh kehadiran kami. Rasanya pasti hangat dan nyaman.

Saat meriung itulah kami berbagi cerita saat melewati hujan es. Ternyata Pak Ferry melewati badai hujan es sendirian. Kedar ternyata tidak dapat dikejar olehnya. Masih beruntung ia berpengalaman menjelajah gunung-gunung di Indonesia dan terus berjalan menembus hutan karena jalan setapak cukup jelas terlihat. Saya menggeleng-gelengkan kepala membayangkan saya sendirian menembus hutan dan kedinginan… hiiii…

Di penginapan sederhana itu, saya juga bertukar ‘sapa’ dengan seorang kerabat pemilik rumah. Walau ia tunawicara, ia sangat baik terhadap saya. Di saat seluruh sahabat seperjalanan harus bergantian charging ponsel di tempat yang terbatas, ia memberi saya secara personal tempat lain yang lebih banyak. Ia tersenyum lebar melihat kegembiraan saya saat ponsel aktif kembali. Tunarungu bukan berarti kehilangan kebaikan, kan?

*

Cuaca hari itu tetap sendu hingga malam, jadi kami hanya bertukar cerita di depan tungku sampai jelang waktu tidur. Di kamar, sebelum terlelap saya merenung hari yang sungguh luar biasa, pengalaman diterpa hujan es, berteman dan ditolong oleh orang-orang luar biasa. Setiap detiknya yang penuh dengan keluarbiasaan. Di tempat-tempat sederhana ini, saya terus diperkenalkan dengan indahnya hidup. Walau jauh dari rumah dan keluarga, di ketinggian pegunungan Himalaya yang dingin, saya aman berada di dalam sebuah rumah yang hangat dengan orang-orang yang memiliki kepribadian hangat. Dia memang tak pernah meninggalkan saya dalam kesendirian, selalu melimpahkan berjuta kebahagiaan…

(bersambung)

Nepal – Annapurna Trekking, Menuju Ghorepani


Duhai Pemilik Keindahan, demi Keagungan NamaMu, benarkah yang kulihat melalui kedua biji mata ini?

Setelah kemarin berlelah-lelah, hari ini dengan tak berkedip saya membiarkan mata bermanja-manja memandang datangnya pagi bersama seluruh keindahannya melalui jendela kaca penginapan sederhana itu. Di tempat ini, fasilitas hotel bintang lima ataupun penginapan sederhana, semuanya luruh tak bermakna, terbanting oleh pemandangan indah yang terhampar di depan mata. Saya menggigil dengan sendirinya, relung bukit hijau (yang kalau di Indonesia sudah disebut gunung) yang berjajar tinggi membentuk lembah sempit sebagai latar depan dengan gunung berpuncak salju tepat di tengahnya. Melihat ini dari penginapan sederhana membuat mata terasa panas. Terundang untuk menyaksikan keindahan ini, saya merasa sangat beruntung.

Selesai bersiap dengan mandi secepat kilat menggunakan air sedingin es, pemandangan gunung berpuncak salju telah hilang tertutup awan. Saya tak menyesalinya karena tahu di sisi lain dari penginapan ini masih menyimpan pemandangan indah. Lagi-lagi ada semburan rasa syukur yang melesak dari dalam. Bumi tercipta dengan amat indah di setiap sudutnya, hanya manusia dengan keserakahan dan kesombongan kerap membuat buruk wajahnya.

Pagi itu saya menikmati sarapan dengan keindahan wajah bumi yang berlalu perlahan setiap detiknya. Undangan perjalanan ini sungguh meluluhlantakkan rasa, sering tak sadar saya menggeleng-gelengkan kepala seakan tak percaya sampai sejauh ini hanya menggunakan kaki sendiri. Lalu dengan kaki yang sama, trekking menuju Ghorepani akan dilanjutkan, entah kejutan apalagi dalam perjalanan hari ini.

Belum lama berjalan meninggalkan Pratap Guesthouse, di ujung sebuah pendakian saya melihat seorang perempuan paruh baya duduk di kios sederhana, tempat donasi pendidikan yang bangunan sekolahnya tampak lebih bawah dari jalur trekking. Saya merasa tertampar di hati. Ketika saya mampu mengeluarkan sekian juta Rupiah untuk ke Nepal, adakah bagian untuk masyarakat lokal yang menjadi haknya, apalagi setelah dihajar gempa yang meluluhlantakkan negeri indah ini? Bukankah semua manusia berhak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik?

Started from dooooown there

Saya tak menyesal perjalanan terhenti beberapa saat, bahkan saya mendapat sebuah khata (selendang putih) dan tika di dahi. Melihat itu, Dipak tersenyum sambil berkata, “you got the blessings for this trip”. Ah, entah kenapa tiba-tiba saya merinding tak jelas (setelahnya baru saya tahu saat bertemu Pak Ferry yang berjalan sekian menit di depan saya, -yang merasa surprise melihat tika di dahi dan khata yang melingkar di leher saya-, karena ia merasa tak melihat atau melalui kios sederhana itu!). Dia mungkin tak melihatnya dan saya hanya beruntung bisa berkesempatan, seperti dua tahun lalu saat menerima khata putih di Lumbini. Bukankah tidak ada peristiwa yang kebetulan?

Saya kembali melangkah sambil memperhatikan hewan-hewan jinak di rumah penduduk. Ada ayam yang terlihat sangat montok bertengger di atas pagar. Matanya melirik saya seakan memamerkan tubuhnya yang diatas rata-rata. Saya terkesima, entahlah, mungkin Pemilik Semesta memberi penglihatan tentang keindahan makhluk yang kehilangan nyawa karena sering saya santap (dan benarlah, setelahnya hingga kini setiap saya makan ayam, saya jadi teringat si montok yang pamer tubuh itu).

Baru melangkah tak jauh dari si montok, saya sampai di sebuah bangunan sederhana di sudut jalan. Saya terkesima lagi, di Nepal saya tak akan heran melihat rumah ibadah Hindu atau Buddha di banyak tempat, tetapi menemukan sebuah gereja di desa kecil yang terpencil di pelosok pegunungan merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan. Saya terbayang para misionaris yang membangunnya dan memelihara komunitasnya yang tentu bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Tetapi semua yang tampak tak mungkin bagi manusia, sama sekali bukan hal yang mustahil bagi Pemilik Kuasa. Pastilah karena kekuatan dan semangat iman, bangunan sederhana ini bisa berdiri. Sayangnya karena pagar terkunci, Pak Ferry hanya bisa melakukan ritual singkat dari luar pagar.

The Church

Tak terasa rumah-rumah mulai tertinggal di belakang dan jalan setapak itu semakin menanjak. Tangga batu pun mulai terbentang panjang di depan mata, seakan menertawai saya yang langsung patah semangat. Keindahan pagi dalam sekejap mata memudar tergantikan oleh bayangan kehabisan nafas lagi seperti kemarin! Uh, ujian fisik lagi.

Lalu seakan menghibur untuk memberi semangat baru kepada saya, alam menunjukkan kasih sayangnya dengan menurunkan gerimis kecil. Saya terpesona dengan berkat ini, seperti yang sering terjadi dalam kehidupan saya sehari-hari, awan yang tiba-tiba menutup jalur matahari saat saya berjalan di panas terik atau angin yang berhembus lembut saat saya kegerahan. Tanpa sadar saya tersenyum merasakan titik-titik air yang menerpa kulit dan membuat lebih nyaman berjalan. I’m so blessed.

Gerimis semakin terasa sehingga Dipak menyarankan untuk memasang rain cover pada semua ransel lalu melanjutkan perjalanan yang naik, naik, naik lagi… Melihat saya yang mulai kehabisan nafas, Pak Ferry mengusulkan untuk ‘tea-break’ yang tentu saja disambut gembira oleh saya. Apalagi warung tea-break ini menyediakan menu yang saya rindukan, sejenis mie kuah dicampur telur. Walaupun tidak bisa menyamai kenikmatan makan indomi telur di Indonesia, saya bisa menyantap mie hangat versi Nepal di antara dinginnya udara.

Setelah mendapat asupan mie hangat, kami berlanjut melewati Banthanti, desa tempat seharusnya kami menginap semalam.  Kondisi jalan setapak menjadi lebih bersahabat, entah karena efek mie hangat tadi atau memang jalannya tidak sekejam sebelumnya. Yang pasti dikenal sebagai Nepali flat, bagi orang Nepal jalan yang menanjak landai itu dibilang datar, walaupun bagi orang kota seperti saya tetap saja menanjak yang membuat menderasnya keringat. Tetapi lagi-lagi saya mendapat berkah karena berada di hutan yang melindungi dari panas terik. Gemericik air sungai dan cantiknya bunga Rhododendron walaupun musim berkembangnya sudah berakhir, membuat saya merasa lebih dekat dengan alam.

Selepas hutan, saya berhenti sejenak di dekat sebuah bangunan kayu, karena ada kepala kambing melongok keluar dari celahnya. Ah, kambingpun ingin melihat pemandangan indah. Bahkan seekor kepik berwarna cantik terlihat berjalan pelan di atas batu gunung yang sangat besar. Tiba-tiba saya menyadari begitu banyak makhluk yang jarang saya lihat di kota menjadi terlihat di depan mata. Bahkan kupu-kupu, kadang lebah dan serangga-serangga kecil lainnya entah karena pengaruh keringat atau apa, selalu mendekat dan terbang di dekat wajah saya. Beberapa kali saya mengibas gemas dan mencoba menghindarinya, namun akhirnya menyerah dan membiarkan mereka terbang lalu lalang di dekat wajah. Kalaupun terlalu dekat, saya mengibas penuh sayang, everything likes me, included the insects!

Memasuki hutan lagi. Kini suara gemericik air semakin kuat. Sebuah air terjun kecil terlihat di ujung jalan yang berpagar besi melindungi pengunjung yang menikmati pemandangan. Walaupun indah dan menyegarkan, kami tak bisa lama menikmati karena gerimis turun lagi. Kami mempercepat langkah untuk sampai ke Nangenthanti, tempat untuk makan siang. Walaupun akhirnya kami berhamburan lari ke rumah makan terdekat ketika hujan menderas. Untung sudah dekat dan dari dalam rumah makan kami lihat hujan turun semakin tak terkendali diiringi suara ribut. Baru saya sadari itu bukan hujan biasa melainkan hujan es. Benar, hujan es! Tidak besar, tetapi cukup terlihat.

Menyaksikan turunnya hujan es dari dalam rumah membuat atmosfer terasa sendu. Fisikpun tergerus habis, selera makan turun drastis. Sebagai guide, Dipak meminta saya makan lebih banyak untuk menghindari AMS (Altitude Mountains Sickness). Masalahnya saya termasuk orang yang tidak suka makan ketika melakukan perjalanan. Merasakan makanan lokal bukan bagian (mungkin belum) dari gaya travelling saya karena termasuk pemilih makanan. Jika lidah ini tidak sesuai, sampai kapanpun makanan itu akan sulit masuk ke dalam perut saya. Makanan tradisional Nepal, dal bhat, yang saya cicipi saat perjalanan pertama termasuk lezat sekali sehingga ketika dal bhat berikutnya tidak cukup lezat, lidah saya menolak untuk memakannya. Saya tahu risiko yang dihadapi sehingga harus makan dan siang itu hanya berhasil makan setengah porsi saja. Untuk melupakan nafsu makan yang menghilang, saya sengaja mengunyah sambil melihat keluar, ke arah trekkers yang menembus hujan es. Uh, pasti dingin sekali berhujan-hujan es. Pasti mereka lapar…

Waktu tak mengijinkan untuk berlama-lama istirahat untuk mengejar sampai ke Ghorepani. Hujan es telah berhenti walaupun awan dan udara dingin masih menyelimuti. Dan alampun tanpa henti memberikan kasih sayangnya kepada saya. Seekor anjing putih yang entah dari mana, -sayapun lupa mulai kapan-, menemani langkah-langkah saya. Ia memandu, berjalan di muka lalu berhenti sebentar untuk memeriksa apakah saya masih di belakangnya. Ia pun berhenti pada tempat-tempat yang berbahaya, menunjukkan langkah-langkah kecilnya agar saya mengikuti pijakan kakinya dan ia pun berhenti saat saya berhenti istirahat. Hingga suatu saat di suatu tempat, ia berhenti. Mukanya memandang saya. Entahlah, seakan ia berbicara pemanduannya hanya sampai di situ dan sampai jumpa lagi. Sebagai pemilik anjing di masa kecil, saya masih mengenali gerakan-gerakan hewan yang sering menjadi simbol setia itu. Matanya sedikit sendu dengan kepalanya yang sedikit miring membuat hati ini terasa teriris. Mengeraskan hati, saya menghentikan langkah sejenak untuknya, berterima kasih atas kebaikan hatinya menemani dan menjaga saya. Beberapa langkah setelahnya, saya menoleh ke belakang melihat ia berjalan kembali dengan langkah-langkah kecilnya. Apakah ia seorang pemandu dalam kehidupan sebelumnya, entahlah, yang jelas  ia telah mewarnai kehidupan saya hari ini.

Akhirnya gerbang Ghorepani terlihat di depan mata. Kami mempercepat langkah untuk berfoto di tempat yang iconic itu. Hampir setiap trekker yang baru pertama kali ke Ghorepani berfoto di tempat itu. Sepertinya saya masih tak percaya, Ghorepani yang berada pada ketinggian 2850m akhirnya bisa juga dijejaki oleh seorang yang belum pernah naik gunung sekalipun.

Selagi Dipak mengurus semua pemeriksaan di check-point Ghorepani, rasanya saya berada di surga, bisa duduk meluruskan kaki yang sudah berjalan berkilo-kilo meter, menanjak dan menuruni lembah yang rasanya tak habis-habis itu. Dan malangnya, ternyata gerbang Ghorepani itu benar-benar sebuah PHP, Pemberi Harapan Palsu, karena kami harus mendaki lagi. Penginapan kami berada di Upper Ghorepani sementara gerbang tadi berada di Lower Ghorepani. Serangkaian tangga batu pun menyambut kami, seakan menertawakan penuh kebahagiaan telah berhasil menipu saya yang beranggapan telah sampai di tujuan.

Dipak dan Pak Ferry terus memberi semangat kepada saya untuk menapak tangga-tangga yang rasanya tak berujung itu, sampai akhirnya sampai juga di Sunny Hotel, tempat kami menginap di Ghorepani. Saya mendapat kamar berjendela lebar menghadap pegunungan berpuncak salju dengan tempat tidur besar. “Khusus untuk saya”, kompak kata para pria teman seperjalanan itu. Penginapan yang seharusnya berpemandangan langsung pada jajaran Himalaya sore itu hanya berhias kabut putih dimana-mana juga saat sunset yang seharusnya indah. Tetapi entahlah, kali ini saya lebih tertarik pada tempat tidur untuk merebahkan badan bukan pada pemandangan indah. Selalu terbaik untuk situasi saya. Ketika benar-benar membutuhkan istirahat, saya diberikan kesempatan tidur di tempat tidur besar yang nyaman tanpa perlu indahnya pemandangan.

Istirahat sebentar cukup mengembalikan stamina tubuh saat dipanggil untuk makan malam di tengah udara dingin itu. Kami semua duduk dekat tungku pemanas untuk menghangatkan badan dan setelah makan malam, saya memesan coklat panas. Tak cukup satu, saya minta tambahan segelas lagi untuk memuaskan kerinduan akan susu coklat hangat. Walau cuaca muram dan dingin malam itu, harapan kami semua yang hadir di ruang makan itu sama, berharap cuaca akan membaik sehangat susu coklat yang saya minum dan menampilkan keindahan Himalaya esok hari.

Wifi yang berfungsi normal membuat kegembiraan tersendiri, masing-masing dari kami sibuk dengan ponselnya entah untuk menghubungi orang-orang yang tercinta atau posting di media sosial. Semangat timbul kembali hingga kembali ke kamar masing-masing karena sekitar pukul 10 malam kegelapan akan menyelimuti semua kamar demi efisiensi listrik. Saya memang langsung terlelap begitu merebahkan badan tapi rasanya tak lama hingga saat suara-suara itu terdengar riuh membangunkan saya…. Aduh!

(bersambung)