Myanmar Trip: My Pre-Water Festival Menu


Terus terang, saya bukanlah pencinta kuliner, karena saya termasuk kategori picky kelas berat alias sangat pemilih dalam hal makanan. Untuk daging-dagingan, saya hanya makan daging ayam dan sapi meskipun sekarang karena pertimbangan kesehatan saya semakin jarang makan daging sapi. Untuk makanan laut, saya masih bisa makan ikan, kepiting dan udang. Saya tidak memakan jeroan dari hewan apapun, bahkan saya tidak makan kambing, kelinci, kerang, cumi, gurita. Jadi sedikit kan variasi makanannya? Tapi saya tetap menikmati makanan meskipun dengan menu yang itu-itu saja dan tetap gendut 😀

Nah apalagi ketika melakukan perjalanan. Saya yang pemilih ini cenderung menon-aktifkan keinginan mau makan dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk menikmati obyek-obyek wisatanya. Kadang saya baru tersadarkan karena waktu makan sudah jauh terlewati atau bahkan bisa digabung dengan waktu makan berikutnya. Jadi ketika ada ajakan teman melakukan acara kuliner atau wisata kuliner, saya hanya bisa tersenyum kecut karena itu bukan saya banget.

Kata seorang sahabat, kebiasaan ‘picky’ itu karena saya tidak mau melihat sisi lain dari makanan selain untuk dimakan dan juga tidak mau memperluas variasi makanan yang masuk ke perut itu.  Mungkin ada benarnya juga sih…

Jadi saya perlu belajar makan…

Oleh sebab itu, ketika ke Danau Inle, Myanmar, saya meluangkan waktu untuk dinner makanan lokal di hotel bertepatan dengan promosi Pre-Water Festival yang ada saat itu. Water Festival merupakan perayaan menyambut tahun baru yang biasa dilakukan di negara-negara Buddhist di kawasan Asia Tenggara, sama seperti Songkran di Thailand.

Tetapi sebelum memesan, saya berperang dalam hati bagaimana jika tidak cocok rasanya, apakah lebih baik saya memesan nasi goreng atau mie goreng seperti biasanya atau makanan  lainnya yang sudah saya kenal? Tetapi kapan lagi bisa punya kesempatan menikmati satu set makanan lokal yang tidak datang setiap hari? Namun setelah beberapa saat, akhirnya saya memenangkan pilihan yang berbeda dari biasanya. Bukankah saya harus berani keluar dari comfort zone? 😀

Menunya kedengarannya hebat dan saya membayangkannya juga keren.

Rissoler Lotus Root

Makanan ini merupakan hidangan pembuka. Ketika disajikan di depan saya, entah mengapa saya membayangkan gorengan bakwan yang crunchy banget. Dan dengan setinggi harapan menggigit makanan yang akan menerbitkan air liur, saya mencobanya. Tapi garingnya tidak sesuai kenyataan, rasanya juga B-aja. Saya seharusnya cepat menyadari bahwa yang saya makan itu adalah akar bunga lotus!

Myanmar2
The Starter – Risoller Lotus Root

 

Atar Tagu Nwae Ma Achin Hinn

Makanan berikutnya yang susah diucapkan itu datang berupa sup daun akasia dan ikan. Dan lidah saya yang picky ini bisa menerima santapan berkuah yang sedikit asam. Kombinasi rasa asam dan ikan menetralkan rasa daun akasia yang terasa asing pada lidah. Belakangan saya baru tahu bahwa daun akasia itu ternyata bagus untuk mengatur kadar gula. Duh, makanan herbal dong…

Mya Nandar Myanmar Curry & Fried Morning Glory – The Course

Saya mungkin terbiasa terpesona dengan besar atau hebohnya saat hidangan utama disajikan, sehingga saya menunggu dengan debar tersendiri saat hidangan utama belum datang. Dan ketika saatnya datang, saya tetap terperangah…

Myanmar3
Pre Water Festival Menu

Hidangan utama itu datang dalam mangkuk kecil berisikan ikan rebus dan potongan nangka dengan saus kari. Saus karinya enak, meskipun B-aja. Ikannya juga cukup menarik rasanya, meskipun jumlahnya sedikit. Dan saat menggigit nangka, saya jadi teringat makan gudeg-gudegan, istilah saya akan gudeg yang belum masuk kategori gudeg.

Hidangan utama didampingi dengan mangkuk keripik berisi tumis kangkung. Saat melihat tumis kangkung, saya langsung tersenyum lebar tersadarkan, karena saat membaca menu Fried Morning Glory, saya sama sekali tidak sadar nama itu merupakan nama lain dari kangkung. Namanya keren yaa…?

Tangyuan & Fried Ice Cream Rolls

Sebagai penutup saya mendapatkan bola-bola Tangyuan dalam kuah apel, yang lagi-lagi bagi saya B-aja. Mungkin memang lidah saya yang tidak pandai menyesuaikan diri sehingga nilainya selalu B-aja.

Dan untuk menghadiahkan diri sendiri berhasil makan makanan lokal apapun rasanya, saya memesan minuman Banana Lassi dan tambahan makanan penutup: Es Krim Goreng Gulung, yang bagi saya paling juara enaknya malam itu. Untuk mendapatkan es krim goreng gulung ini, saya harus menyaksikan demo pembuatannya dan memang es krim itu dipanaskan sehingga keras dan ketika waktunya tepat, penyajinya langsung menggulung es-krim itu. Rasanya dengan lelehan coklat tentunya sangat lezat. Es krim mana sih yang tidak lezat?

Sepanjang jalan menuju kamar, rasa es krim goreng gulung dan banana lassi sepertinya masih tertinggal di mulut. Ah, kalau sudah begini, kapan bisa menambah variasi makanan?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-17 ini bertemakan Food agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…