Nepal – Sampai Kita Berjumpa Lagi, Himalaya…


Dalam postingan sebelumnya, ada peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi, tetapi bagaimanapun tetap terjadi. Banyak barang basah terkena air dalam perjalanan menuju bandara saat mau pulang ke tanah air. Untuk lengkapnya bisa dibaca di post ini cerita tentang Nagarkot

Dengan celana yang setengah basah dan ‘rempong’ dengan tas-tas dan barang yang juga basah, saya tergopoh-gopoh melangkah memasuki ruangan keberangkatan namun dicegat oleh seorang petugas karena salah terminal. Setengah jengkel dengan kebodohan diri sendiri, saya keluar lagi menyusuri pinggir bangunan untuk menuju ruang keberangkatan untuk Air Asia. Sebelum masuk saya masih sempat menoleh ke tempat drop-off. Mobilnya sudah tidak ada disana, tetapi rasa bersalah saya tak mau hilang. Semoga Tuhan memberi banyak keberkahan untuknya.

Setelah boarding pass dipegang di tangan, saya menarik nafas penuh kelegaan. Masih ada waktu untuk membereskan segala kekacauan yang sebenarnya tak perlu terjadi ini. Saya memutar pandangan dan menemukan sebuah bangku kosong yang sempurna untuk repacking.

I will be back...
I will be back…

Saya mencari handuk kecil yang selalu saya simpan di ransel dan tentu saja beberapa tas plastik. Kebiasaan menyisipkan beberapa tas plastik untuk sesuatu yang penting kini terlihat manfaatnya. Saya mengeringkan sebisa mungkin lalu memasukkan barang-barang yang terasa masih lembab ke dalam beberapa kantong plastik. Kemudian saya keluarkan daypack yang kering dari ransel untuk menggantikan tas tangan yang basah kuyup di bagian bawahnya.

Selagi sibuk dengan mengeringkan dan memindahkan barang, dua turis remaja perempuan berwajah Oriental mengambil tempat di sebelah saya untuk menata ulang kopernya. Namun lebih-lebih dari saya, mereka menghamparkan hampir semua barangnya lalu dipaksakan masuk ke dalam kopernya. Jika saja mereka mengerjakan dengan diam, tentu saja saya tak keberatan. Tetapi mereka melakukannya seakan di rumah sendiri dengan suara keras sambil tertawa-tawa. Dengan mood yang masih tak tentu, situasi saat itu sungguh menyebalkan. Tetapi bagaimana pun ruang saya duduk merupakan ruang publik, lebih baik saya memperpanjang sabar.

Saya masih mengeringkan barang-barang basah ketika melihat petugas dan anjing terlatihnya mendekati saya. Mereka mendekat secara khusus sampai pada jarak yang saya kira terlalu dekat ke barang-barang yang saya letakkan di sekitar. Tak perlu berpikir dua kali, -ketika saya melihat si anjing terlatih itu mengendus dari jarak tertentu-, saya langsung mendekatkan barang-barang yang agak tersebar. Damn… Darah mendesir kencang, pikiran saya langsung bekerja cepat, saat itu pastilah saya ditandai sebagai seseorang yang mungkin sedang melakukan pekerjaan haram, mungkin seperti kurir narkotik yang memindahtangankan dengan kedua perempuan muda yang ada di sebelah saya.

Bukankah anjing terlatih itu diarahkan untuk mendatangi dan mengendus di dekat barang-barang saya? Bukankah ada dua perempuan muda di sebelah yang juga sedang membongkar tasnya dengan menghamparkan barangnya dekat dengan barang-barang saya? Bukankah barang haram itu bisa dipindahtangankan dalam situasi seperti ini, dengan skenario seakan-akan sedang merapikan barang dalam koper? Bukankah saya dalam situasi yang sangat memungkinkan dituduh sebagai kurir barang haram? Bukankah bisa saja barang haram itu diletakkan di antara barang-barang saya dan barang orang lain yang terserak dan bisa dijadikan bukti kepemilikan? Saya bergidik terhadap kemungkinan itu… Hiiii…

Ada sesuatu yang berjalan tidak pada tempatnya… ada yang tak seimbang, ada yang tak sesuai…

Saat menunggu keberangkatan, sepenggal rasa bersalah masih bertengger di hati, ditambah dengan sejumput ingatan ketika si anjing mendengus dekat barang-barang saya. Rasanya terbeban. Saya mengingat seluruh kenangan yang menyenangkan sejak perjalanan dimulai agar beban bisa terangkat sedikit. Ketika melihat Everest dan barisan Himalaya, ketika bisa berlama-lama bertatapan dengan Dewi Kumari the Living Goddess di Kathmandu Durbar Square, ketika mendapat berkat Hariboddhi Ekadashi di Kuil Changu Narayan, saat mendapat sunrise luarbiasa di Pokhara, saat mendapat Khata dari Bhiksu di bawah pohon Boddhi di Lumbini, pagi yang indah di Nagarkot dan begitu banyak kemudahan di semua tempat yang saya datangi… dan di ujung akhir perjalanan semua berbalik arah. Kesalahan apa yang telah saya lakukan?

Ketika boarding, orang yang duduk di belakang kursi saya memasang dan menggunakan speaker dari music playernya, seakan di rumahnya sendiri dan seakan semua senang dengan lagunya. Saya tahu telah berada di ambang batas sabar sehingga saya sampaikan keluhan kepada pramugari yang bertugas karena saya telah membayar mahal untuk tempat duduk yang berada di quiet-zone yang seharusnya senyap agar bisa beristirahat. Bahkan kejengkelan dan ketidaksabaran saya masih bisa merangkak keluar.

Tribhuvan International Airport, Kathmandu
Tribhuvan International Airport, Kathmandu

Sebelum semuanya menjadi tak terkendali, lebih baik melakukan refleksi ke dalam, menenangkan diri, memohon bantuan kepadaNya.

Ketika pesawat bergerak perlahan untuk meninggalkan bumi Nepal, saya menoleh keluar jendela, ke langit yang biru, ke pegunungan yang berjejer. Dengan menempelkan tangan pada jendela, selarik bisikan berupa ucapan terima kasih keluar dari bibir. Dan seketika pula permintaan maaf mengalir keluar atas apapun kesalahan saya selama di bumi Nepal, membuat pandangan buram karena airmata menggenangi pelupuk mata…

Saya teringat kembali kepada dia, pengemudi yang pendiam dan selalu tersenyum terhadap apapun yang saya lakukan. Saya diserang ingatan betapa buruk perlakuan saya terhadapnya. Menganggapnya tidak mengerti, mengabaikan harkat kemanusiaannya bahwa setiap orang ingin dihargai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia diam, tetapi bukankah saat itu ada musik sayup serupa Om Mani Padme Hum yang memungkinkan dia mengemudi dengan pikiran yang meditatif? Atau mungkin ia memang pendiam dan juga pemalu, sebuah kombinasi sempurna untuk ‘tidak dianggap’ dan saya memperlakukannya tanpa perasaan. Lalu bukankah setelah itu ada air yang tiba-tiba menggenang? Saya bergidik sendiri, menyadari telah menjadi seburuk-buruknya manusia. Tak heran, jika semua ini terjadi.

Luruskan pikiranmu, begitu teguran Sang Maha Cinta untuk saya dengan tetap melimpahkan kasih sayang berupa air yang menggenangi tas. Dengan begitu banyak berkah yang saya terima selama perjalanan di Nepal mengapa saya mengakhirinya dengan mengabaikan nilai seorang manusia?

Lalu bukankah hanya air? Dan air hanya membasahi barang-barang tak penting? Bukankah bisa lebih mengerikan, bisa lebih buruk, tapi karena CintaNya, hanya ada air? Lalu bukankah bisa saja ada barang haram di antara barang-barang saya saat merapikan kembali? Tetapi yang terjadi sebuah teguran kasih sayang berupa dengusan anjing sebagai pengingat? Bukankah bisa terjadi yang lebih buruk dan lebih mengerikan? Tapi saya dihindarkan dari yang lebih buruk dan yang lebih mengerikan…

Air mata mengalir membasahi pipi, saya menggigit bibir menyadari kesalahan. Sebuah pembelajaran yang check-mate. Teguran yang keras, tetapi tersampaikan dengan sangat lembut dan tidak menyakitkan. Begitu indah, betapa Dia mencintai saya… Bahkan dalam salahpun saya masih dilimpahkan berkah kebaikan dan kasih sayang.

Dan Dia tak pernah putus memberi anugerahNya…

Can't take my eyes off of you, Himalaya
Can’t take my eyes off of you, Himalaya

Saya melihat keluar jendela melihat jelas barisan pegunungan Himalaya yang berpuncak salju berjejer seakan memberi salam perpisahan kepada saya yang terbang kembali menuju tanah air. Dan sang komandan dari barisan pegunungan cantik itu ada di sebelah kanan, terlihat sebagai puncak tertinggi, Sagarmatha yang agung. Everest!

Saya teringat ketika melakukan Everest experience mountain flight, saya hanya diberi kesempatan melihat setitik puncak dari jarak terdekatnya. Dan kini dalam perjalan pulang, siapa yang menyangka gunung tertinggi di dunia itu menampakkan keagungan dirinya di hadapan mata saya. Sagarmatha yang luar biasa indahnya, Everest…

I see you...
I see you…

Bahkan dalam salahpun saya masih diberikan anugerah terindah, di ujung akhir perjalanan di Nepal.

Sejuta rasa berkecamuk di dalam jiwa. Inilah pencucian jiwa. Saya telah menerima anugerah tak henti sejak berangkat dan saya nodai dengan keangkuhan diri, namun semuanya tak menghentikan dari limpahan anugerah. Alangkah tak beruntungnya saya jika tak bersyukur… Bukankah perjalanan ini diatur dariNya langsung? Bukankah susunan itinerary yang telah saya buat itu akhirnya tertinggal di Jakarta lalu digantikan semua dariNya? Bukankah tak banyak orang yang berkesempatan melihat pegunungan Himalaya dan juga Gunung Everest secara jelas?

Saya tetap manusia yang menyadari ketidakmampuan melepas kecantikan pegunungan bertudung salju itu. Saya tak ikhlas, tak rela melepas pandang. Saya memutar badan, lebih baik duduk dengan setengah bokong bertumpu pada satu kaki daripada harus kehilangan pandangan dari Himalaya. Mata saya lekat pada barisan itu. Gunung-gunung yang tampak berbaris gagah itu semakin mengecil, semakin tak terlihat, sampai akhirnya saat dataran India dengan sungai besarnya yang terlihat, mau tak mau, ikhlas saya melepasnya dalam bisikan, terima kasih Ya Allah, terima kasih Nepal, sampai kita berjumpa lagi, Himalaya…

Suatu saat saya pasti kembali, ini sebuah janji…

When will I see you again?
When will I see you again?
It's not a Goodbye, Just Au Revoir
It’s not a Goodbye, Just Au Revoir

<><><>

Dan enam bulan setelah perjalanan saya, sebuah gempa besar meluluhlantakkan Nepal. Saya terguncang hebat. Semua kenangan tempat-tempat indah dengan segenap keajaiban-keajaiban yang pernah mewarnai perjalanan saya itu bergerak bagai film di benak, silih berganti dengan tempat-tempat yang rusak dan yang luluh lantak. Tetapi sebagaimana pengalaman perjalanan saya, -bahkan dalam salah pun saya diberi anugerah-, demikian juga Nepal… Dalam titik rendah kehancurannya, Pemilik Semesta tak pernah sedikitpun meninggalkan ciptaanNya.

*

Baca rangkuman dan cerita seri perjalanan di Nepal : Nepal – Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Nepal – Nagarkot : Kisah Makhluk Ajaib dan Lembah Halimun


Setelah berjam-jam terkurung dalam mobil kecil dari Lumbini Ke Kathmandu, bersama Santa yang jeda bicaranya sedikit ditambah dengan gempitanya musik pop berbahasa Hindi, rasanya lega sekali berada di kendaraan lain yang membawa saya ke Nagarkot. Sebelumnya, Santa telah mengatakan bahwa ia tak memahami jalan ke Nagarkot sehingga ia akan digantikan oleh pengemudi lain yang lebih mengenal daerah itu. Tentu saja saya tak keberatan selama tujuan sampai di hotel bisa tercapai. Begitulah ceritanya hingga saya duduk di mobil Honda baru yang terasa mewah ini.

Wangi khas mobil baru yang tercium lekat di hidung menunjukkan mobil ini belum lama keluar dari dealer. Semuanya terasa masih brand new. Bisa jadi ini mobil pemiliknya, bukan untuk disewakan. Beruntunglah saya bisa mencobanya…

Early Bird and The Misty Valley
Early Bird and The Misty Valley

Cool but…

Kemudian datanglah laki-laki pengganti itu lalu menyalami saya selayaknya orang yang saling berkenalan. Ada senyum tipis di wajah Orientalnya. Wajah campuran yang umum terlihat di sekitar Nepal dan Tibet. Cool… Menarik, seperti magnet. Keren abis… *anakdansuamibawakatapel

Tak cuma sekali saya melirik mengamati caranya mengemudikan kendaraan di perbukitan menuju Nagarkot, terlihat sangat trampil namun santai. Bahkan saya mendengar musik meditatif yang menenangkan seperti Om Mani Padme Hum, dipasang dengan volume kecil tapi terdengar. Di langit luar bulan terlihat begitu terang, supermoon yang waktunya telah dekat, seakan menemani perjalanan saya menuju Club Himalaya Resort untuk menghabiskan malam terakhir perjalanan saya di Nepal. Berdua menembus malam di Lembah Kathmandu *katanenekberbahaya

Namun ada yang salah. Situasinya terlalu hening. Seperti pasangan yang ngambeg. Saya teringat Santa yang hampir tak pernah diam, sementara makhluk di sebelah saya ini terlalu pendiam. Jika ia tak mengemudi, mungkin saya pikir dia patung. Bahkan saya tak ingat namanya. Mungkin dia tadi menyebutkan, mungkin juga tidak, tapi yang pasti saya tak menyukai keheningan ini.

Saya ingin memecahkan keheningan ini dan melihat lampu-lampu desa di puncak bukit.

“Is that Nagarkot?“ sambil menunjukkan lampu-lampu di atas bukit

Kepalanya menggeleng, “No”

Di mobil seperti ada setan lewat karena begitu hening, kecuali suara sayup musik… sepi…

“So where is Nagarkot?”

Dia tersenyum dalam gelap, hanya menunjuk kearah yang berbeda, tanpa bicara, lalu wajahnya ke jalan lagi… Damn!

Karena melihat penampilannya yang rapi seperti pemilik mobil, saya iseng bertanya kepadanya lagi,

“Is this your own car?”

“No”

Entah benar atau tidak, sama nilai kemungkinannya. Kembali senyap.

Bisa jadi dia penganut fanatik ‘jangan ganggu pengemudi yang sedang mengemudikan kendaraan’. Baiklah, I do it my way. My Kejahilan 😀 Saya memutar tubuh lalu memandang langsung ke wajahnya. Bukan manusia jika intuisinya tak memberitahu ada mata yang memandangnya. Dan BERHASIL, ia jengah ditatap lalu menoleh dengan ekspresi stress berada di dekat perempuan 😀 Yang bisa sukses dilakukannya adalah menetralkan suasana. Tersenyum manis. LOL

“Where are you from”, tanyanya basa-basi

Ahaa, daripada diam seperti patung, lebih baik berbasa-basi. Saya memutar tubuh kembali menghadap  depan sambil menertawakan dirinya yang tak tahan diperhatikan seorang perempuan dan menjawab singkat seakan tak peduli, “Indonesia”

Dan hening lagi seperti di kuburan. Cape deh…

Saya mengalah padanya dan pada situasi serta tak berharap ada komunikasi yang lancar. Benar, dia hanya menjawab Yes atau No, walaupun selalu ada senyum di latar belakangnya.

“You drive so well, when and how did you learn to drive?”

“Yes”

Saya tak peduli dijawab demikian olehnya, tetapi kali ini benar-benar hmmm… apa yaa… makhluk di sebelah saya ini, -walaupun cool menarik seperti magnet-, something is very wrong with him… 😀

Walaupun bukan urusan saya, namun saya ingin tahu apa yang dia lakukan setelah menurunkan saya di Nagarkot karena dia akan kembali mengantar saya ke bandara keesokan harinya.

“Where do you stay tonight?” (belakangan baru sadar, pertanyaan ini bisa diartikan berbeda, kalau ia mengerti)

“Yes”

Gggggrrrrr…*siapsiapambilpacul

Saya mengerutkan kening, mencoba menyederhanakan kalimat saya.

“Here at Nagarkot?”, sambil memperagakan tidur.

“Yes”

“Where”

“Yes” Dia tersenyum, tanpa rasa salah…

Bruuuk… Saya seperti menabrak tembok. Whatever, saya menyerah. Makhluk laki-laki di sebelah saya ini sesungguhnya keren, tetapi sama sekali ga nyambung. Ya sudahlah, lebih baik saya mengambil langkah seperti dia, senyum terus sampai hotel. Senyum dibalas senyum sama dengan damai. 😀

Akhirnya sampai juga di Club Himalaya Resort dan dengan berbagai cara dia mengupayakan agar saya memahami bahwa dia akan menunggu besok pagi jam sembilan di tempat parkir. Sebenarnya saya sudah mengerti, tetapi saya membiarkan dia untuk berlama-lama berbahasa tubuh. Hahaha…

The Misty Valley, Nagarkot
The Misty Valley, Nagarkot

Lembah Halimun

Lelah karena berjam-jam melakukan perjalanan dari Lumbini dan ditambah keharusan menghadapi makhluk ajaib serta mengantri menunggu check-in yang lama, saya langsung terlelap begitu selesai membersihkan diri. Sebenarnya rencana awal adalah menikmati sunset di Nagarkot dan berjalan-jalan di lembah yang terkenal penuh dengan kabut itu. Tetapi apa daya, saya datang saat malam sudah datang dan Dia Yang Penuh Kasih Sayang telah menghapus rencana menikmati malam terakhir di Nepal dengan memberikan saya tidur yang amat nyenyak.

About Sunrise in Nagarkot
About Sunrise in Nagarkot

Esoknya saya terbangun sebelum matahari terbit lalu bergegas menyelesaikan kewajiban pribadi. Udara dingin terasa memeluk pagi. Saya menyibak gorden di jendela. Di luar masih gelap, tetapi saya tak mau melewatkan hari terakhir di Nepal begitu saja. Inilah tujuan saya menginap di Nagarkot, menyambut matahari pagi.

Tak lama terdengar suara kepak sayap burung-burung pagi yang telah meninggalkan sarang, mencari makan, yang suaranya datang dari teras balkon. Saya membuka pintu, udara dingin lembah langsung menerpa wajah. Jauh di horison, pegunungan Himalaya tampak kecil berjejer dengan puncaknya yang tertutup salju. Ufuk Timur mulai berpendar kuning keemasan, tanda Sang Surya beranjak bangun dari tidur. Lembah Nagarkot di hadapan berselimut halimun. Indah. Walau tak seluarbiasa sunrise di Raniban Retreat di Pokhara, keindahan Nagarkot ini tetap menimbulkan rasa haru. Indah dan rasanya berbeda.

Pelan-pelan pagi merekah menyibakkan halimun yang menyelimuti lembah. Sinar matahari sejenak memantulkan cahaya keemasan dari puncak-puncak gunung yang tertutup salju lalu berlomba dengan awan yang bergerak cepat hendak menyelimuti puncak-puncak itu. Pagi yang indah itu tak lama, tetapi birunya langit tetap mewarnai keindahan pagi di Nagarkot.

Saya menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar halaman hotel, menikmati pagi terakhir di bumi Nepal. Rasanya langkah ini adalah langkah menjauh dari bumi Nepal karena waktunya akan tiba dalam beberapa jam lagi. Dan waktu pun terus berjalan, tak peduli apapun, tanpa belas kasihan. Akhirnya datang juga waktu untuk melambaikan tangan kepada kamar di Nagarkot. Belum juga 24 jam, saya sudah harus meninggalkan tempat indah ini. Tepat jam 9, saya pun turun dari lobby menuju tempat parkir.

Dibanjur Air

Dia yang tidak-saya-ketahui-namanya, si makhluk ajaib, berdiri setengah bersandar di depan kap mobil. Tersenyum.

Setelah basa-basi menanyakan kabar, dia membukakan pintu untuk saya. Duh seperti tuan puteri. Teringat berbagai peristiwa komunikasi gagal di malam sebelumnya, saya tak berharap banyak. Seandainya nyambung tentunya sangat menyenangkan berkendara dengannya di pagi yang indah ini.

Pagi itu saya baru melihat keindahan lembah Nagarkot dengan hutan pinusnya yang cantik yang semalam sebelumnya hanya gelap menyelimuti. Keajaiban bertambah karena kali ini dia memulai pembicaraan.

“It’s beautiful…” katanya sambil menunjuk sinar matahari yang menyeruak lembut dari balik pohon-pohon pinus.

Bukannya menanggapi, saya hanya mengangguk tak memperhatikan karena sibuk mengambil foto-foto hutan. Rasanya malas memulai ‘pembicaraan’ tak berujung sehingga saya hanya melempar pertanyaan mudah dan bisa dijawab Yes atau No tanpa perlu berpanjang cerita. Tanpa disadari, saya sudah menjadi seperti dia semalam.

The Pines of Nagarkot
The Pines of Nagarkot

Dan… dalam waktu singkat, bandara Tribhuvan International Airport di Kathmandu sudah di depan mata. Saat bersiap-siap, saya mengangkat tas tangan yang diletakkan di kaki. Tapi… What! Ada air menggenangi tas tangan. Tak berpikir panjang, -karena didalamnya ada tas kamera-, saya langsung angkat tas tangan ke pangkuan yang serta merta membuat celana panjang saya basah. Secepat kilat saya keluarkan tas kamera dan tas kecil untuk paspor, uang dan tiket. Dan terlihatlah biang keroknya. Botol minum plastik yang masih tertutup tetapi isinya tinggal setengah. Pasti tutupnya tidak 100% menutup.

Saya tahu pada saat mencoba menyelamatkan tas tangan dari air yang menggenang dekat kaki, makhluk ajaib di sebelah saya itu tahu something wrong has happened tapi tidak tahu persisnya. Ia kesulitan bertanya. Mencoba memahaminya, saya menjelaskan dengan mengatakan Water! sambil menunjuk ke bawah. Tanpa melepas tangan dari kemudi, ia mencoba melihatnya dari tempat duduknya.

Di tempat drop-off bandara, saya memandangnya dengan perasaan bersalah. Air yang menggenang karpet mobil itu akan menimbulkan bau tak sedap jika tidak langsung dikeringkan dan divacum. Wangi baru dari mobil pasti akan sirna. Tetapi dia berkali-kali tersenyum sambil berkata, it’s Okay, no problem.

Dia, si makhluk ajaib, memiliki hati yang sungguh baik…

Saya turun dengan celana bagian paha basah kuyup dan kedua tangan terasa penuh memegang tas-tas kecil berisi barang penting yang basah terkena air. Dengan hati yang tak enak dan campur aduk ditambah rasa bersalah, saya memandang makhluk ajaib itu turun mengatasi masalah yang saya timbulkan. Tapi saya tak mampu berbuat lebih, karena harus bergegas menuju ruang keberangkatan.

Setelah begitu banyak anugerah berlimpah selama di Nepal ini, di hari terakhir ini rasanya saya dibanjur air (sedikit banyak dalam arti yang sebenarnya!). Dengan pakaian basah, tangan penuh barang setengah basah, saya melangkah ke dalam. Peristiwa ini, sepertinya sebuah tanda… Apa artinya belum bisa saya pahami sekarang, tetapi pasti ada maknanya. Dan tentu saja peristiwa itu bukanlah sebuah kebetulan…

*

Baca rangkuman dan seri perjalanan di Nepal : Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Nepal – Overland (Again), Lumbini – Chitwan – Kathmandu


Gerbang Lumbini yang baru saja dilewati, -satu lagi destinasi yang berhasil ditandai-, kini semakin kecil tertinggal di belakang.  Tanpa sadar saya menyentuh Khata, -syal putih yang didapat dari Biksu di bawah pohon Boddhi di Kuil Mayadevi, Lumbini, tempat kelahiran Sang Buddha-;  yang kini melingkar di leher dan telah membuat saya sangat terharu.  Menyentuh kain halus yang kontras dengan blus biru saya ini terasa menenteramkan, seakan memastikan bahwa kebahagiaan akan terus menemani dalam perjalanan ini, kembali ke Kathmandu.

Begitu memasuki wilayah Siddharthanagar, mobil yang saya naiki, Hyundai Atoz mulai bersaing dengan  truk-truk besar. Udara Terai terasa semakin panas saat berada dalam antrian lambat kendaraan-kendaraan besar itu. Kebanyakan dari truk-truk itu mengarah ke India melalui Belahiya (Nepal) lalu masuk ke Sunauli (India) dan selanjutnya ke Gorakhpur, -kota terdekat dengan stasiun kereta-, atau ke kota-kota lain di India. Perbatasan yang buka 24 jam ini  juga sering dilalui turis yang melakukan perjalanan darat dari Varanasi, Sarnath atau Kushinagar menuju Lumbini, Kathmandu atau Pokhara, demikian pula sebaliknya. Saya diam-diam mencatat situasinya dalam hati, siapa tahu saya melakukan cross-border disini.

Namun belum bergerak jauh dari simpang perbatasan Nepal – India tadi, Santa menghentikan kendaraan di sebuah bukit lalu memberitahu bahwa hamparan dataran rendah yang sangat luas didepan mata itu adalah dataran India. Negara impian untuk didatangi kembali, yang menyimpan begitu banyak cerita namun belum sempat mendapat prioritas, terlihat jauh sekaligus dekat. Sepertinya hanya selemparan batu dari bukit ini…

Tetapi yang benar-benar selemparan batu adalah warung makan tanpa nama yang begitu mengundang. Matahari yang belum tegak diatas kepala sepertinya menertawakan saya yang terpaksa mengikuti kebiasaan penduduk Nepal untuk makan siang sebelum tengah hari. Tak berapa lama, sepiring Dal Bhat terhidang di meja yang langsung saya lahap dengan penuh syukur. Rejeki dari Pemilik Semesta berupa hidangan, apapun rasanya, tak boleh ditolak karena bukankah masih banyak manusia tak bisa makan di bumi ini…

Waktu berjalan lambat saat mobil meluncur kembali ke jalan yang berkelok menembus perbukitan. Kini pemandangan meranggas telah berubah warna dengan hijaunya pepohonan yang menyelimuti bukit-bukit. Hingga kami mendekati sebuah jalan yang dipisahkan oleh batuan gunung besar yang seakan dibelah secara rapi, -entah oleh alam atau teknologi-, walaupun saya lebih cenderung pada kemungkinan yang terakhir. Saya mengabadikan ‘batu segede gaban‘ yang terbelah dengan keren  itu sambil mengingat jalan-jalan tol di Jawa yang juga dipotong rapi dari gunung-gunung yang menghalangi pembangunan jalan walaupun rasanya tidak ada yang seperti di Nepal ini yang dipenuhi tumbuhan di atasnya.

Namanya overland itu, kecuali sendirian, yaaa perlu juga toleransi. Perjalanan yang tadinya diisi musik top40 kini berganti musik pop berbahasa Hindi. Walaupun ada yang menyenangkan, tapi entah kenapa langsung mengingatkan saya akan momen “cinta pohon atau tiang” dari film-film Bollywood. Santa kadang bernyanyi mengikuti musik yang membuat telinga rasanya gatal mendadak, tetapi demi sebuah perjalanan yang menyenangkan, saya melebarkan batas toleransi lagipula pemandangan di luar menarik hati. …. kya karoon hayee, Kuch Kuch Hota Hai…. 😀 😀 (artinya pas gak ya?)

Sekitar satu jam kemudian, mata saya menangkap rombongan perempuan dalam balutan sari merah yang sedang berjalan sambil ngobrol. Pasti ada kuil di sekitar sini yang sedang ramai dengan perayaan atau mungkin juga pasar rakyat. Bukankah ibu-ibu dimanapun tak jauh dari Sale dan diskonan?

Women around Narayangarh, Nepal
Women around Narayangarh, Nepal

Dan benarlah di depan ada sebuah jembatan panjang yang membentang di atas Sungai Seti Gandaki, yang suci dan telah memberi banyak manfaat bagi penduduk di sepanjang alirannya. Sungai yang mengarah ke Selatan ini merupakan gabungan dari Sungai Kali Gandaki dan Sungai Trishuli, sungai lainnya yang juga dianggap suci. Bukankah nama-nama sungainya bermakna dalam? Dan sebagaimana biasa, di bantaran sungai Seti Gandaki ini dibangun sebuah kuil yang didedikasikan untuk Dewi Durga, mendampingi kuil lain yang pasti ada di dekatnya yaitu Kuil Shiva, yang saat itu penuh hiasan merah. Selain itu dari atas jembatan, terlihat seperti ada pasar rakyat dengan begitu banyak kegembiraan bercampur dengan mereka yang melakukan puja.

Seti Gandaki River
Seti Gandaki River

Di ujung jembatan panjang tadi, sebuah kota yang disebut dengan Narayangarh atau Narayanghat menyambut kami. Keberadaan kota kecil yang terletak di pinggir sungai suci ini telah menjelaskan arti nama kotanya tanpa perlu berpanjang cerita. Ghar atau Ghat berarti sebuah tangga turun ke sungai untuk ritual bersuci. Dan Narayan, sudah tak asing bagi di kalangan Hindu, yang dikenal sebagai Yang Maha Kuasa. Entah kenapa, mengetahui nama kota yang dilewati dengan kedalaman maknanya, saya langsung teringat pada kota-kota yang namanya bermakna indah, Madinah atau al-Madīnah l-Munawwarah, bermakna kota cahaya penerang iman; Los Angeles adalah kota malaikat; atau Krung Thep alias Bangkok adalah kota para bidadari dan makhluk abadi dan masih banyak lainnya. Dan tak luput Las Vegas, yang paling terang, penuh cahaya terlihat dari langit. (tapi yang terakhir ini duniawi sekali ya… 😀 )

The City of Narayangarh, Nepal
The City of Narayangarh, Nepal

Melintasi Narayangarh ini mata saya menikmati situasi setiap sudut kotanya, dengan hotel, bank dengan ATM, toko-toko atau penarik becak seperti yang ada di Lumbini. Kota kecil ini hidup dan langsung saya tersadarkan, tentu saja hidup, sebab tak jauh dari tempat wisata terkenal, Taman Nasional Chitwan, yang terdaftar sebagai salah satu kawasan UNESCO World Heritage Site.

Dalam hitungan menit selepas Narayangarh terbentang jalan membelah kawasan hutan yang tertata. Di pinggirnya sempat terlihat gambar hewan mungkin kawasan konservasinya. Jantung ini berdegup lebih kuat, seandainya saya terbang, tak pernah saya alami ini. Memang saya tak bisa menapakinya langsung, atau berpelukan dengan gajah dan hewan-hewan disana tetapi saya diberi kesempatan untuk membaui sejenak harumnya udara Chitwan yang terkenal dan menyaksikan kawasan hutan pendukungnya. Lagi-lagi saya bersyukur telah berlimpah anugerah dari sebuah kegagalan tidak mendapat penerbangan. Jadi mengapa harus menyesal dengan satu rencana yang gagal?

The Forest in Chitwan National Park, Nepal
The Forest in Chitwan National Park, Nepal

Akhirnya di simpang tiga itu, saya melambaikan tangan kepada Chitwan National Park. Setiap pertemuan memiliki perpisahan. Walaupun sejenak, walaupun hanya membauinya saja, saya bersyukur berkesempatan, daripada tidak sama sekali. Dan kini waktunya meneruskan perjalanan dengan pemandangan lembah-lembah sempit, tebing tinggi dengan sungai kehijauan yang kondisinya tak jauh beda saat melakukan perjalanan dari Pokhara ke Lumbini kemarin. Beberapa kali mata saya juga menangkap bebatuan yang terlihat longgar, yang dalam sekejap bisa longsor menimpa kendaraan-kendaraan di bawahnya. Ngeri untuk membayangkan.

Beautiful Trishuli River, Way to Mugling, Nepal
Beautiful Trishuli River, Way to Mugling, Nepal

Hari beranjak sore, diantara lembah sempit, dengan cahaya langit luar biasa menerpa punggung bukit dan ditemani Sungai Trishuli yang mengalir kehijauan di bawah membuat hati tersenyum. Siapa yang tak kagum dengan lukisan alam yang indah terjadi di depan mata?

Kemudian kurang dari satu jam berikutnya, kami sampai di pertigaan Mugling yang menyatukan kendaraan dari Lumbini dan Chitwan dengan kendaraan dari Pokhara yang semuanya menuju Kathmandu. Walau tak sampai menimbulkan kemacetan seperti di pertigaan Jomin saat mudik jaman dulu, terasa sekali lalu lintas semakin padat. Kini bus-bus semakin terlihat. Jalan nasional Prithvi Highway yang menghubungkan Kathmandu dan Pokhara ini telah dilewati oleh jutaan turis yang bolak-balik antara kedua kota terkenal di Nepal ini.

Sekitar lima kilometer dari pertigaan Mugling, kami mampir sebentar di Kurintar, stasiun kereta gantung satu-satunya yang ada di Nepal yang berasal dari Austria dengan keamanan bergaransi 100%. Sebenarnya menaiki kereta gantung ini sangat menyenangkan, karena bergerak sepanjang 3 km lintasan kabel  antara Kurintar dan Kuil Manakamana dengan ketinggian 1300 mdpl di puncak bukit yang ditempuh dalam waktu 10 menit dengan pemandangan lembah cantik dengan Sungai Trishuli yang berkelok-kelok. Sayangnya saat saya berkunjung tempat itu sudah hampir tutup sementara antrian pengunjung masih mengular panjang. Selain itu ongkosnya tak murah juga, sekitar USD20 per turis. Mungkin lain kali.

Setelah menyeruput segelas kopi, perjalanan dilanjutkan kembali karena Kathmandu masih sekitar 3 jam di depan. Pemandangan masih cantik dengan semakin turunnya matahari. Namun padatnya lalu lintas yang bergerak tak henti, -walau di tengah cahaya lembut sunset-, telah membaurkan udara dengan debu. Tak mungkin berhenti barang sejenak di sepanjang jalan yang berpinggir jurang, lagi pula pastilah membuat kemacetan panjang jika dipaksakan.

Trishuli River and the Mountains
Trishuli River and the Mountains

Hari perlahan berganti wajah menjadi malam. Jalan-jalan masih berkelok dalam gelap kecuali ada penerangan dari kendaraan atau dari bangunan dan billboard di pinggir jalan. Hingga di suatu kelokan bukit, sebuah bundaran besar bercahaya terlihat di antara pepohonan. Saya tertarik mengamati bundaran besar itu, seakan magnet yang sangat kuat. Benda apakah itu… Mata saya terus mengikutinya sementara kendaraan bergerak tanpa henti. Saya terus menatap benda itu mencari tahu sampai akhirnya saya tertawa sendiri. Itu Bulan, satelitnya Bumi yang terlihat sangat besar. Supermoon. Belum pernah saya melihat Bulan sebesar itu saat terbit, benar-benar beruntung saya bisa menyaksikan cantiknya Bulan di langit Nepal. Tetapi saya tak beruntung mengabadikannya, mungkin Pemilik Semesta hanya mengijinkan mata dan pikiran saya untuk melihat dan merekam kecantikan alam itu tanpa bisa mengabadikannya. Sungguh sebuah malam yang luar biasa…

Akhirnya Alhamdulillah, setelah berjam-jam berkendara, sampai juga di kantor penyewaan mobil di Kathmandu. Saya berterima kasih kepada Santa untuk dua hari perjalanan darat yang luar biasa dari Pokhara – Lumbini hingga Kathmandu dan mobil Hyundai Atoz itu kini bisa parkir semalam untuk kembali besok ke Pokhara, sementara saya langsung berganti kendaraan dengan sebuah mobil Honda putih yang wangi barunya masih sangat gres. Aaargh, malam-malam terang bulan begini menuju ke sebuah resort di Nagarkot, dengan mobil keren baru, dengan pengemudi pengganti yang duduk di sebelah saya, yang… ‘keceh‘ dan menarik 100% serta ‘seksih’… Ampuuuunnnn… 😀 😀 😀

bersambung…

Baca Rangkuman dan seri perjalanan Nepal lainnya:

Nepal – Pokhara to Lumbini Overland


Sekali lagi saya menatap sendu ke barisan pegunungan berpuncak salju yang tampil tipis diantara awan tebal. Macchapuchhre dan Annapurna yang mempesona. Walau tampil tipis, ia tetap memperlihatkan diri pada hati yang meminta agar bisa membisikkan kata perpisahan. Sampai jumpa lagi pegunungan yang mempesona… Suatu waktu kita akan jumpa lagi…

Saya memperbaiki letak ransel di punggung lalu melangkah meninggalkan beranda kamar menuju lobby untuk menyelesaikan administrasi dan berterimakasih kepada para petugas hotel yang telah membuat saya betah seperti berada di rumah sendiri. Ganga menemani saya menuruni 500 anak tangga yang menjadi ciri khas Raniban Retreat menuju mobil yang akan membawa saya ke Lumbini. Sebuah hari dengan perjalanan panjang…

Sebenarnya Ganga mengupayakan tiket pesawat dari Pokhara ke Bhairawa atau sekarang dikenal dengan nama Siddhartanagar (yang artinya kota Siddharta), karena memang merupakan kota terdekat dari Lumbini, tempat kelahirannya Siddharta Gautama, Sang Buddha. Tetapi schedule pesawat ke kota itu memang seperti mengetahui akhir suara tokek, ada… tidak… ada… tidak… Singkat cerita, saya tidak mendapat tiket pesawat ke Bhairawa namun karena saya harus ke Lumbini maka by any means, bagaimanapun caranya saya akan sampai ke Lumbini. Sebagai pencinta fleksibilitas (baca: suka-suka hati) akhirnya saya memutuskan menyewa mobil daripada naik bus, walaupun untuk itu dompet terasa langsung tipis. Lagi pula saya suka sekali perjalanan darat.

Pengemudi mobil sewaan masih muda, seorang Nepal asli. Dia minta dipanggil Santa, walaupun tak terlihat sedikitpun ke‘Santa’annya. Tetapi berjam-jam berkendara bersama menempuh kurang lebih 200km, tentu saya harus berbaik-baik dengannya agar perjalanan terasa menyenangkan.

Harum pagi jelang berakhir ketika akhirnya tangan saya melambai kepada Ganga dan Raniban Retreat. Seperti menggambarkan perasaan saya yang campur aduk antara gembira menuju destinasi lain dan galau meninggalkan Pokhara dengan berbagai kenangan indah, kendaraan pun berguncang-guncang menuruni bukit di jalan yang tak rata. Dalam waktu beberapa menit keempat roda mobil Hyundai kecil itu sudah menyentuh hitamnya aspal di jalan Siddharta Rajmarg yang berkelok-kelok menyusuri pegunungan tinggi.

Pokhara – Butwal – Siddharthanagar – Lumbini

Dari cerita Santa, saya justru bersyukur tidak mendapat tiket pesawat ke Lumbini, karena perjalanan darat dari Pokhara ke Lumbini ini akan melalui begitu banyak pemandangan luar biasa, yang tidak akan bisa dinikmati bila naik pesawat. Siapa tak kenal pemandangan wilayah Tansen – Palpa dengan lembah-lembah tinggi nan sempit dengan air sungai yang hijau toska? Ah, saya ini benar-benar berlimpah anugerah dengan semua itinerary dariNya untuk setiap tahap perjalanan saya ke Nepal ini.

Duduk di sebelah Santa yang mengemudi, saya tak putus mengambil foto pemandangan yang luar biasa keren, dengan puncak Annapurna yang bersalju mengintip di antara lembah hijau yang tinggi dengan sungai kecil yang berkelok di dasar lembah. Bahkan Santa bersedia berhenti sejenak agar saya bisa berfoto dengan pemandangan menakjubkan itu.

1 hour drive from Pokhara, Bye Annapurna
1 hour drive from Pokhara to Lumbini, Bye Annapurna…

Setelah break makan siang di warung pinggir jalan, kami pun melanjutkan perjalanan. Berbeda dengan Kathmandu, lalu lintas sepanjang jalan ini tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Tetapi mobil tidak bisa melaju lebih kencang karena kondisi jalan yang berkelok-kelok sepanjang punggung bukit dengan tebing sangat tinggi di kiri dan jurang sangat dalam berada di kanan. Bahkan google maps pun memberikan waktu hampir enam jam untuk menempuh 200km itu. Tetapi saya tak pernah merasa bosan dengan enam jam duduk menikmati pemandangan alam. Sesekali Santa menyusul bus lokal yang melaju dan melihatnya saya semakin bersyukur telah mengambil keputusan menyewa mobil.

The Local Bus
The Local Bus

Santa mengemudi dengan kecepatan sedang, karena jalan yang tak berhenti berliku melipir gunung menyusuri Sungai Aadhi Khola di dasar jurang yang juga meliuk-liuk bagaikan ular besar melata di bumi. Pemandangan di bukit-bukit sekitar sangat cantik namun menggambarkan betapa infrastruktur jalan di Nepal masih sangat kurang. Bisa jadi karena Nepal merupakan landlocked country ditambah kondisi geografis penuh dengan lembah dan ngarai yang tinggi mengakibatkan semakin sulitnya distribusi barang. Tak heran bila ada jalan di Nepal yang termasuk kategori the most dangerous road in the world.

Road in Nepal
Road in Nepal

Setelah melewati beberapa desa, akhirnya kami menyeberang Sungai Kali Gandaki yang lebar dengan warna airnya yang hijau toska. Sungai yang bermula dari pegunungan Himalaya ini sering dimanfaatkan sebagai tempat wisata outdoor seperti kayaking dan olahraga air lainnya. Rasanya aneh juga ada sungai yang mengalir di bagian selatan dan utara pegunungan dengan nama yang sama.

Beautiful color of the river
Beautiful color of the river

Di desa-desa yang dilewati sepanjang jalan sering sekali saya lihat rombongan kaum perempuan bersari merah berjalan gembira menuju kuil untuk sebuah festival. Balutan merah yang menggambarkan kegembiraan, semangat dan keberuntungan tentu saja pantas digunakan dalam sebuah perayaan. Saya langsung teringat kehebohan festival yang saya alami di Changu Narayan dan juga di Kathmandu Durbar Square, semuanya seakan memastikan bahwa tiada hari tanpa festival di Nepal.

Tak terasa beberapa jam telah berlalu ketika Santa mengatakan sudah memasuki wilayah Tansen Palpa yang terkenal. Sayang untuk kesana, harus meninggalkan jalur utama yang tentunya akan memakan waktu untuk pergi pulang. Sang Waktu sepertinya memang belum mengizinkan saya untuk menjejak di Tansen Palpa. Saya hanya melempar pandang ke gapura Tansen – Palpa di persimpangan sambil berharap suatu saat saya akan mampir.

Tak lama setelahnya Santa melambatkan laju kendaraan karena ada antrian kendaraan di depan. Tak seperti antrian kendaraan di Indonesia yang bisa mencapai berkilo-kilometer, di depan hanya ada beberapa kendaraan. Santa memberitahu antrian terjadi karena kendaraan harus berjalan satu persatu di situ karena sering longsor.

Mendengar itu secara otomatis saya melihat tebing bukit yang ada di sebelah kiri. Karena tingginya saya sampai harus menempel pada jendela agak ke bawah untuk bisa melihat puncak bukit itu. Dan di depan tebing menjulang hampir lurus vertikal dengan bebatuan tak stabil di pinggir jalan yang hanya cukup dilewati sebuah kendaraan. Saya tak berani membayangkan bagaimana kondisi jurang yang ada di sebelah kanan. Bagi saya sendiri, inilah jalan yang masuk kategori the most dangerous road in the world. Sewaktu-waktu longsor dapat terjadi dan langsung menimbun kendaraan yang lewat di bawahnya. Sejumput rasa khawatir terbersit di dada yang secara otomatis mengucap doa dalam hati, menyaksikan kendaraan di depan berjalan pelan hingga sampai ke titik aman. Lalu datang giliran kami…

One by One, After Tansen - Palpa
One by One, After Tansen – Palpa

This is terrifying…

Luar biasanya, di dalam situasi mengerikan itu Sang Pemilik Semesta senantiasa memberikan keindahan di dalamnya. Sambil kendaraan berjalan perlahan saya melihat air terjun di sisi kiri, turun dari atas bukit tinggi itu. Sejenak saya teringat air terjun Lembah Anai yang cantik yang juga terletak di pinggir jalan. Volume Air Terjun ini tak cukup melimpah, hanya membasahi jalan untuk menyerap debu yang terbang. Kendaraan kami sampai di jalan yang sedikit rusak tepat di bawah tebing dengan batu-batu besar yang longgar. Guncangan kendaraan di bawah tebing itu benar-benar mendebarkan hati. Jika batu-batu besar itu longsor, tamatlah kami…

The Waterfalls next my window
The Waterfalls next my window

Pelan tapi pasti kendaraan maju pelan-pelan dan akhirnya sampai pada titik aman. Saya menarik nafas lega, demikian juga Santa. Lalu dia menghentikan kendaraan di Kuil Siddhababa yang ada di ujung jalan mengerikan itu. Memberi jeda untuk rehat sejenak terhadap rasa kuatir yang tadi sangat menekan. Dari kuil itu saya baru tahu situasi jurang di sebelah kanan yang sama mengerikannya. Di kiri tebing setinggi gunung, di kanan jurang… melewati jalan itu benar-benar memerlukan doa sepenuh hati.

The dangerous road before Butwal - Do you see the trucks?
The dangerous road before Butwal – Do you see the trucks?

Kuil Hindu Siddhababa yang baru saja dilewati merupakan penanda batas terdekat antara wilayah pegunungan dengan wilayah dataran rendah Terai yang panas. Sambil meninggalkan kuil itu, dengan gurauan khasnya, Santa mengatakan bahwa sekarang sudah meninggalkan Nepal. Baginya, Nepal identik dengan pegunungan tinggi dan dataran rendah Terai hanya bagian dari India, bukan Nepal. Saya terbahak mendengar gurauan absurd darinya…

Tak lama kemudian kami menembus sebuah kota. Karena sama sekali tidak ada tulisan latin yang bisa saya baca, saya mencari tahu melalui ponsel. Ternyata kami telah berada di Butwal, kota yang pernah menyandang sebagai kota terbaik di Nepal selama empat kali berturut-turut. Berada di Butwal, artinya Siddharthanagar hanya tinggal selemparan batu.

Lalu sesampainya di Siddharthanagar, -atau dulu disebut Bhairawa yang merupakan tempat mendarat jika tadi pagi saya terbang dari Pokhara-, pikiran saya mendadak melayang ke Varanasi, kota suci di India yang bisa ditempuh sekitar 8 jam berkendara dari kota ini. Siddharthanagar memang berbatas dengan India. Ah… pikiran ini selalu penuh dengan keinginan.

Santa melanjutkan perjalanan sepanjang 24 km kearah Barat, arah ke Lumbini, destinasi berikutnya. Dan rasanya seperti air segar mengguyur tubuh yang gerah ketika gerbang Lumbini terlewati. Dan ketika akhirnya mobil berhenti di hotel, -berlokasi di depan pintu gerbang Barat Taman Lumbini-, saya menatap setengah tak percaya ke Taman Lumbini yang gelap, pikiran saya terbang ke masa hampir dua ribu enam ratus tahun lalu…

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal

Nepal – Merasakan Rehat di Surga Bumi


This is the place where time stands still… (itu istilah saya tentang hotel tempat saya menginap di Pokhara)

Taksi mungil itu berhenti tepat di bawah tangga natural. Pemandangan sekitar menakjubkan, tetapi tak ada manusia lain selain sang pengemudi taksi dan saya. Lalu dimana hotelnya? Belum sempat bertanya, Bapak tua pengemudi taksi telah menghubungi hotel dan dalam waktu singkat seseorang berperawakan tinggi turun tergopoh-gopoh dari atas, sepertinya petugas hotel. Dengan cekatan ia mengambil ransel lalu meletakkan di punggungnya lalu mempersilahkan saya jalan duluan.

Wait….! Seperti yang tertulis di situs web Raniban Retreat, semua tamu harus menapaki 500 anak tangga untuk sampai ke hotel.

500! *langsungpingsan

Kalau saja kolega di kantor tidak merekomendasikan tempat ini, kalau saja review hotelnya biasa-biasa saja, mungkin saya akan langsung pindah ke hotel lain di tepi danau Phewa di Pokhara. Jumlah 500 anak tangga itu kalau dikonversi normal laksana naik tangga ke lantai 25!

Ah, betapa saat ini saya sangat merindukan ekskalator! Atau tandu 😀

Tapi apapun yang terjadi, saya sudah berdiri disini. Pilihannya hanya satu: Terus, yang artinya naik, karena pilihan kedua untuk balik arah lalu menyesal, bertentangan dengan makna perjalanan saya hingga hari ini.

Bahkan setelah berlimpah anugerah selama ini, sekarang inipun saya masih diberikan sebuah anugerah lain dalam bentuk tantangan. Menaklukkan kemalasan bergerak. Dan kesempatan ini hadir sekarang di depan mata. Bukankah sebuah perubahan dimulai dari sebuah langkah kecil? Dan bukankah kita tak perlu melihat keseluruhan tangga untuk mewujudkan keinginan kita? *halah..

Saya mulai melangkah, menapaki anak tangga satu per satu dan tentu saja dalam waktu singkat rasanya sudah kehabisan nafas. Saya mengomel dalam hati merasa kebiasaan naik tangga enam lantai di kantor pun masih belum cukup, walaupun lebih baik daripada tidak sama sekali. Minimal setiap seratusan anak tangga saya bisa rehat sejenak mengumpulkan tenaga. Setahap demi setahap. Tak perlu memaksakan diri, daripada pingsan seperti dulu di tangga Bromo atau di tangga menara masjid Banten hanya gegara sok kuat 😀

Tapi Bapak setengah baya itu amatlah sabar menemani saya. Dia hanya tersenyum penuh pengertian ketika untuk kesekian kalinya saya meminta waktu untuk rehat di dekat sebuah tempat pemujaan. Bisa jadi ia telah menemani begitu banyak tamu yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk menapaki 500 anak tangga itu. Bisa jadi banyak yang memiliki stamina bagus dan juga tidak sedikit yang lamban laksana kura-kura seperti saya. Hebatnya, tak sekalipun ia mau mendahului tamunya.

Ia hanya merekomendasi untuk sesekali melihat ke belakang. Dan saya berbalik…

p1010627
Phewa Lake and City of Pokhara
p1010630
Half way up to the Hotel with World Peace Pagoda and City of Pokhara on the background

Dan pemandangan itu memang menakjubkan, kota Pokhara di tepi danau Phewa terhampar di hadapan.

Ketika tenaga sudah kembali, saya lanjut menapaki tangga hingga gerbang hotel terlihat. Ah, masih 100 anak tangga lagi! Merasa tinggal tahapan terakhir, saya melanjutkan langkah dengan nafas yang tinggal Senin-Kamis dan… akhirnya 500 anak tangga itu berhasil saya lampaui. Horeee…!

Di lobby, saya tidak langsung menuju konter untuk check-in karena masih berupaya memasukkan lebih banyak oksigen ke paru-paru agar bisa ‘hidup’ secara normal lagi. Tetapi karena tidak ada tamu lain, petugas di balik konter itu dengan ramah bertanya untuk proses check-in. Bagaimana mungkin orang yang kehabisan nafas bisa menjawab pertanyaan sederhana? Kecuali menjawabnya dengan bahasa tangan…

…Hah… Sebentar… Hah… Tunggu … Hah… 1 menit… Hah… *megap-megap

Mereka semua tersenyum lebar, memahami. Mungkin terbiasa menghadapi tamu yang kehabisan nafas di area lobby. Mereka menunggu dengan sabar sampai saya bisa ‘normal’ kembali untuk check-in lalu mengantar ke kamar saya. Kamar berpintu kaca lebar dengan pemandangan langsung kota Pokhara di tepi Danau Phewa di bawah dan pegunungan Himalaya berpuncak salju dengan Macchapuchhre (Fish Tail) didepan mata, berhiaskan taman bunga di depan kamar. SubhanAllah… Inilah yang disebut Heaven on earth!

img_0791
Phewa Lake and the City of Pokhara – view from the small garden in front of my room

Tak menunggu lama, saya menyalakan musik di ponsel dan ikut menggoyangkan badan menyaksikan pemandangan di depan mata ini.

… I’m on Your magical mystery ride

And I’m so dizzy, don’t know what hit me, but I’ll be alright…

Dengan pemandangan seperti ini, rasanya naik lebih dari 500 anak tangga pun tidak akan menyesal.

img_1014
Annapurna and Machhapuchhre (Fish Tail) on the center – view from the garden in front of my room

Di taman depan kamar berhias bunga-bunga kuning, saya duduk diam, do nothing, menikmati rehat dipeluk keindahan alam. Melupakan sebuah kota yang baru didatangi tapi tak kunjung dijelajahi. Saya berada di surga bumi karena indahnya tak berakhir, seakan waktu membeku, turut menjadi saksi keagungan Ilahi. Bahkan setelah beberapa waktu pun saya masih di tempat yang sama sampai seorang perempuan dari hotel datang membuyarkan rasa sambil menyatakan kesiapannya memberi layanan spa.

img_0797
Phewa Lake and the City of Pokhara – a night view from the hotel

Bagi saya, memanjakan diri di tempat yang indah merupakan sebuah proses recharge yang luar biasa. Lagi-lagi saya hanya mengikuti hati, apa yang terjadi di hadapan itulah yang saya terima dengan senang. Bisa jadi kali ini Dia meminta saya untuk diam beristirahat dan menyaksikan…

You wanna make a memory
You wanna steal a piece of time
You can sing the melody to me
And I can write a couple of lines

Tidak hanya itu, Ganga, -manajer hotel-, bahkan menjadi teman ngobrol yang asik untuk menghabiskan waktu di Raniban Retreat, dengan berbagai topik pembicaraan yang menarik dari kebun organik, pengobatan gratis hingga pemanfaatan energi surya untuk listrik hotel. Dengan semangat ia menceritakan hotel unik yang eco-friendly ini hingga bisa memberdayakan masyarakat lokal yang bermukim tak jauh dari hotel bahkan tamu-tamu hotel bisa diajak melihat langsung kehidupan mereka.

Dan keinginan kecil saya keluar dengan sendirinya. Sebenarnya saya hanya memesan semalam di Raniban Retreat dan keesokan harinya saya akan pindah ke Sarangkot untuk mendapatkan mountain view lebih dekat. Tetapi merasakan sendiri kesenyapan yang ada di Raniban Retreat yang sangat saya, akhirnya saya memutuskan untuk memperpanjang sehari lagi di Raniban Retreat ini. Bahkan Ganga memberikan diskon besar untuk itu 😀

Walaupun udara dingin menyelimuti pagi itu, saya tetap menanti sunrise di taman bunga di depan kamar saya di Raniban. Rasanya tak mampu mengungkapkan keindahan alam yang ada di hadapan, dada terasa sesak ditambah airmata yang mengaburkan pandang. Tak henti rasanya mengucap syukur kepada Pemilik Semesta yang telah memberikan kesempatan menjadi saksi keindahan alam.

img_0811
The first silhoutte of Annapurna Range, Mt. Macchapuchhre (Fish Tail)
img_0816e
The first sunlight over the peaks of Annapurna Range on a misty morning
img_0984
Annapurna Range with Mt. Macchapuchhre (Fish Tail)

Himalaya berbaris dengan cantiknya di atas lautan gerombolan awan putih yang pekat menggantung menutupi Danau Phewa dan kota Pokhara. Puncak-puncak gunung Annapurna dan Macchapuchhre yang tingginya sekitar 7000-an meter dan tertutup salju abadi itu perlahan-lahan tampak bersinar terkena matahari pagi. Di hadapan mata ini ada doa yang terkabulkan karena Himalaya menampakkan diri di balik sifat pemalunya. Kesenyapan pagi menambah magisnya suasana. Burung-burung pagi terbang memperkuat lukisan pagi.

Di arah timur, Sang Surya perlahan naik dengan gagahnya, menyapu lembut lapisan-lapisan awan yang bergerak menyelimuti bukit dengan World Peace Pagoda di puncaknya. Sebuah peristiwa menyambut pagi terbaik yang pernah saya alami.

img_0826
World Peace Pagoda on hilltop, view from right side of my room
p1010640
The magical moment – The Sun, Sea of clouds and World Peace Pagoda
p1010641
Morning has broken – the sun over World Peace Pagoda and sea of clouds

Pagi hari itu berkunjung dengan kegembiraan tak hingga. Ganga menemani saya menikmati sarapan yang tersedia di rooftop dengan pandangan 360 derajat yang menakjubkan. Saat itulah saya mengatakan kepadanya, this is the place where time stands still…

p1010700
Panorama View from my room – Himalaya (behind the clouds on the left) and World Peace Pagoda on the right

*

Di dunia ini tidak ada yang tak berakhir, juga istirahat saya di Raniban Retreat ini. Telah sampai waktu untuk melanjutkan perjalanan. Ransel sudah siap di punggung, saya menatap World Peace Pagoda yang cantik di atas bukit. Keindahan lukisan alam yang tak terlupakan.

p1010722
Sea of clouds in the morning and World Peace Pagoda, Raniban, Pokhara, Nepal

Lalu saya menoleh ke barisan pegunungan bertudung salju. Macchapuchhre di depan mata. Sekali lagi doa yang terkabulkan, karena saya meminta kepadaNya agar dapat melihatnya sebelum merambah ke wilayah Terai. Memohon sekali lagi setelah pagi tadi ia menampakkan keagungannya seperti kemarin. Dan kini ia menepiskan awan-awan yang menyelimutinya, membiarkan puncak yang tak pernah ditaklukan terlihat oleh hati yang meminta. Saya mengucapkan kata perpisahan kepadanya dan kepada gunung-gunung di Annapurna. Selama dua hari puncak-puncak itu tak malu menampakkan diri yang luar biasa dan entah kapan saya bisa menjejak disana, di Annapurna…

peaks
Annapurna Range and Mt. Macchapuchhre (center)

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal

Nepal – Berlimpah Anugerah Menuju Pokhara


Begitu menutup pintu mobil, taksi mungil itu langsung melesat meninggalkan Bhaktapur menuju bandara Tribuvan seakan tak memberikan kesempatan kepada saya untuk mengucapkan “Sampai Jumpa Lagi” kepada kawasan yang telah menorehkan pengalaman penuh bahagia ini. Saya memejamkan mata, sesaat saja, membiarkan diri memeluk rasa bahagia pernah begitu menyatu di Bhaktapur, lalu rasa itu harus saya lepaskan kepada pemiliknya. Saya juga dimakan Sang Waktu yang tak pernah berjalan mundur.

Kali ini tidak seperti déjà vu, karena saya memang kembali ke Bandara Tribhuvan di Kathmandu, seperti saat melakukan Everest experience flight kemarin. Tiga hari berturut-turut berada di bandara yang sama, hanya beda terminal, mungkin bisa disebut dengan frequent-flier in 3 days! Saya turun dengan ransel di punggung menuju gedung terminal yang masih direnovasi lalu  secepatnya melakukan check-in. Berbeda dengan kemarin saat melakukan kesalahan hingga ditegur para laki-laki, kali ini saya memasukkan tas tangan ke jalur perempuan lalu mencari tempat duduk di ruang tunggu. Saya menunggu hingga waktunya boarding namun tidak ada penjelasan hingga akhirnya pengumuman itu keluar. Penerbangan ditunda 1 jam! Lalu 30 menit lagi… Tetapi ah, saya sedang dalam perjalanan hati. Apapun yang terjadi harus diterima dengan keterbukaan. Siapa tahu saya diselamatkan dari keburukan. Hanya perlu menambah sabar kan?

ktm-airport
Tribhuvan Airport, Domestic Terminal, Kathmandu

Ruang tunggu bandara itu penuh, kebanyakan terdiri dari penumpang lokal walaupun disana-sini ada tubuh tinggi berambut pirang dengan penampilan yang siap menjelajah gunung-gunung tinggi yang bertebaran di Nepal. Kebanyakan mereka ke Lukla, sebagai awal langkah menuju Everest. Tak banyak turis yang memilih terbang ke Pokhara, mereka biasanya telah terangkut di dalam bus-bus turis yang berangkat pagi dari Kathmandu.

Lamanya perjalanan dari Kathmandu ke Pokhara melalui jalan darat, -walaupun katanya pemandangan alamnya indah sekali-, membuat saya mengambil keputusan untuk terbang. Menghemat waktu adalah penting bagi saya sehingga waktu cuti dapat dimanfaatkan secara maksimal, walaupun untuk itu saya harus merogoh kocek lebih dalam.

Panggilan boarding yang ditungu-tunggu akhirnya terdengar juga. Seluruh penumpang terlihat lega dan bergegas menuju bus pengangkut yang membawa ke pesawat ATR72 Buddha Air itu. Pesawat bermesin baling-baling itu dimasuki dari belakang sehingga saya yang mendapatkan tempat duduk di lorong bagian depan, harus mengantri dengan sabar, mendahulukan para penumpang bisnis yang duduk di bagian belakang yang saat itu kebanyakan terisi oleh kelompok tinggi besar berambut pirang dan para pebisnis Nepal.

Setelah menempati tempat duduk, penumpang yang duduk di depan saya membuat sedikit kegaduhan. Mereka mendapat nomor terpisah dan ingin bertukar tempat duduk karena merupakan pasangan suami isteri. Sang suami mendapat nomor jendela tepat di sebelah saya dan sang isteri tidak bersedia duduk bersebelahan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Saya sekilas melihat pria yang telah bersedia memberikan tempat duduknya demi pasangan suami isteri itu, beliau tak lagi muda tapi ada keramahan diparasnya. Kegaduhan di depan saya menyurut namun beliau tetap berdiri di lorong.

Dengan sedikit ragu, pak tua berwajah ramah itu menyapa saya, meminta maaf.

“Could you do a favor for me? I could not sit there, on the window-seat; I prefer on the aisle”

Saya melihat cepat kepadanya, entah apa, ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan, sesuatu yang ditutupi. Hanya saja beliau tetap tak bersedia untuk menempati tempat duduk yang ada di jendela. Sementara saya yang sudah benar dengan nomor tempat duduk tiba-tiba menjadi pusat perhatian karena ada penumpang yang masih berdiri dan melihat saya. Seakan-akan saya salah menempati tempat duduk.

Kejadian begitu cepat, saya harus mengambil keputusan. Saya tak meminta nomor lorong, bahkan sebenarnya di hati terdalam, saya menginginkan nomor jendela. Dan kini nomor itu diberikan kepada saya, lalu mengapa saya harus berpikir dua kali?

Tetapi begitu naïve-nya saya, saya masih bertanya meminta persetujuan kepada orang itu sambil tangan menunjuk ke samping, “so, is it okay if I take the window seat?”

Dia tak menjawab tapi ada senyum lebar berkembang menghias wajahnya. Ada semacam kelegaan besar. Tak sampai sedetik saya langsung bergerak berpindah. Rejeki tak boleh ditampik! Tempat duduk di jendela dengan pemandangan pegunungan Himalaya bertudung salju sepanjang penerbangan! Diberikan gratis lagi!

p1010595
Himalaya

Selagi pesawat melakukan persiapan lepas landas, saya terdiam dalam hening. Anugerah lagi. Memang terbersit keinginan untuk duduk di kursi dekat jendela karena saya suka dengan pemandangan Nepal, tetapi jika tak bisa ya tidak mengapa. Lalu mengapa ada pasangan yang terpisah tempat duduk dan ngotot ingin duduk bersama lalu ada orang baik hati yang bersedia bertukar tempat dan apapun alasannya dia bahkan memberikan kursi jendelanya kepada saya. Ah, Tuhan Yang Maha Baik memang selalu punya caraNya sendiri untuk melimpahkan anugerah kepada yang diinginkan walau harus melalui beberapa orang lainnya. Mereka telah menjadi saluran berkah untuk saya. Semoga hidupnya berlimpah kebaikan…

Di atas lembah Kathmandu, bapak tua baik hati di sebelah saya itu membuka percakapan awal. Ternyata beliau bukan orang sembarangan, beliau seorang pensiunan tentara Inggris yang selama ini ditempatkan di banyak negara persemakmuran di Asia. Dan alangkah terkejutnya saya, ketika ia mengetahui saya berasal dari Indonesia, ia membuka percakapan dalam bahasa Indonesia dengan sedikit dialek Melayu.

“Apa kabar. Maaf bahasa Indonesia saya tidak baik, banyak sudah lupa”

Saya tersenyum lebar, tidak setuju dengannya karena menurut saya, bahasa Indonesianya bagus. Saya terkejut, sekaligus bangga dan kagum, rasanya aneh, campur aduk. Siapa sangka, di ketinggian dua puluhan ribu kaki di atas kawasan Himalaya yang jauh dari Indonesia, saya diajak berbicara dalam bahasa Indonesia oleh penutur asing, bukan penutur asli. Bahasa Indonesia campur dialek Melayu dan bukan bahasa Inggeris! Kemungkinan terjadinya sangat amat kecil sekali dan tentu saja, saya merasa sangat  berbahagia bisa mendapatkan kesempatan itu. Sungguh tak terduga. Lagi-lagi, Dia Yang Maha Baik telah melimpahkan anugerah kepada saya berupa kemudahan berbahasa ibu. Bisa jadi Dia menginginkan agar saya merasa kenyamanan berada di rumah. At Home… Bukankah ada pepatah Home is where the heart is..?

Perjalanan ini sungguh memperkaya jiwa, Oh I’m so blessed…

p1010605
Himalaya with Clouds

Namun pembicaraan tetap saja memiliki jeda sehingga memungkinkan bagi saya untuk menikmati pemandangan diluar jendela, barisan pegunungan berselimut salju abadi yang tadinya terlihat samar kini seluruhnya telah tertutup awan. Hanya puncak tinggi dengan salju abadinya terlihat serupa dengan awan-awan putih tebal yang memenuhi pandangan mata. Di bagian depan, deretan pegunungan yang menjadi pagar dari pegunungan Himalaya atau dikenal dengan Mahabharat Range itu mengumbar keindahan lembahnya yang meliuk-liuk. Sepertinya Dia Yang Maha Kuasa sedang tersenyum ketika menciptakan bumi Nepal hingga kontur permukaan bumi terlihat begitu indahnya.

Tak lama kemudian terasa pesawat menurunkan ketinggiannya secara perlahan. Danau Phewa sudah terlihat, itu artinya Pokhara sudah di depan mata. Saya memperhatikan keadaan danau. Inilah wajah lain dari Nepal. Jika Kathmandu penuh dengan budaya tradisional, Pokhara mengumbar janji dengan kegiatan outdoor yang menantang adrenalin. Di kota ini saya tak punya banyak rencana kecuali untuk beristirahat di tempat yang indah. Saya tak punya target khusus, saya biarkan itinerary dari Yang Maha Kuasa terjadi pada hari-hari saya di Pokhara.

Semakin dekat ke Pokhara, saya terpikir kembali mengenai transportasi dari bandara ke penginapan. Walaupun telah saya kabarkan soal penundaan penerbangan sejak dari Kathmandu tadi, saya tak yakin pesannya sampai. Berdasarkan pengalaman sebelumnya saat baru sampai di Kathmandu dan ternyata pesanan taksi saya tak muncul batang hidungnya, saya skeptis untuk mendapatkan layanan antar di Pokhara ini. Tetapi biarlah, apapun yang terjadi pasti ada jalan keluarnya. Semoga.

Bahkan saat akan meninggalkan tempat duduk,  the old Brit yang baik hati itu mengucapkan salam perpisahan dalam bahasa Indonesia, seakan tahu hal-hal yang bisa menentramkan dan menenangkan hati. Sampai jumpa lagi…

Bandara Pokhara kecil, -dalam arti yang sebenarnya-. Gedung terminalnya hanya berupa sebuah ruangan berkaca dan seluruh bagasi yang sebelumnya ada di perut pesawat diserahterimakan ke penumpang melalui sebuah jendela yang bisa disaksikan langsung oleh pemilik bagasi. Setelah mengambil ransel, saya keluar gedung tanpa ekspektasi dijemput.

p1010610
Pokhara Airport

Tetapi saya membaca nama saya di kertas yang dipegang oleh seseorang. Rasanya tak percaya, tetapi benar. Itu nama saya! Saya dijemput! Saya masih ditunggu, walaupun penerbangannya ditunda lama. Lagi! AnugerahMu yang berlimpah, yang tak putus.

Saya meminta maaf kepadanya sekaligus sangat berterima kasih karena telah bersedia menunggu lama. Sang pengemudi yang tak muda lagi itu tersenyum ramah. Tak perlu berpanjang kata, dia mempersilakan saya masuk dan menjalankan mobilnya, menyusuri danau dan perlahan meninggalkan pusat kota. Walaupun tahu penginapan saya itu jauh dari kota, tetapi saya tidak menyangka sejauh ini. Terpencil bahkan harus memasuki daerah perbukitan dengan jalan yang tak lagi beraspal. Seandainya saya tak ditunggu olehnya, apakah taksi biasa mengetahui dan mau mengantar hingga ke tempat ini?

p1010620
On the way to Hotel, Pokhara

Saya menggigit bibir, perjalanan kali ini benar-benar berlimpah anugerah dariNya. Benar-benar tak henti, terus-menerus sampai dada terasa sesak. Semuanya serba luar biasa… Dari Bhaktapur yang penuh kenangan, mendapat tempat duduk jendela sehingga bisa menikmati pemandangan Himalaya yang berselimut salju, diajak berkomunikasi dalam bahasa ibu oleh penutur asing di ketinggian Himalaya, tetap dijemput taksi yang bersedia menunggu walaupun penerbangan mengalami penundaan dan kini terhampar pemandangan indah…

Maka Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Then which of the favors of your Lord will you deny?

Laos – Memenuhi Janji ke Wat Phou


Walaupun sudah berusaha lebih awal, saya sampai di gerbang Wat Phou pada saat matahari membentuk sudut kecil dengan tegaknya di atas kepala. Namun demikian, diiringi panas yang juara, saya berdiri diam dalam haru, setelah sekian lama akhirnya saya bisa menjejak di Wat Phou, kompleks percandian terakhir dari daftar candi yang dianugerahi oleh UNESCO sebagai World Heritage Site sebelum tahun 2014 di kawasan Asia Tenggara. Laksana sebuah pita lebar, pikiran saya terbang dan menalikan Borobudur, Prambanan, Angkor, Preah Vihear, Ayutthaya, Sukhothai, My Son dan kini Wat Phou yang ada di depan saya. Lengkap, 8 situs. Delapan, bentukan angka yang tarikan garisnya lengkung tak berujung.

Dan sebagaimana umumnya UNESCO World Heritage Site, jarak antara gerbang dan lokasi candi pasti masih jauh. Tetapi untunglah pemerintah Laos menyediakan layanan shuttle gratis sejenis golf-car berkursi banyak untuk mengantarjemput pengunjung dari gerbang masuk ke batas awal percandian. Sesuatu yang patut diacungi jempol untuk memajukan industry pariwisatanya. Tak terbayangkan seandainya harus berjalan kaki terpanggang matahari sepanjang hampir satu kilometer…

Kendaraan shuttle itu menyusuri pelan di pinggir baray (kolam buatan) yang airnya memberikan kesejukan di tengah hari yang panas dan menurunkan seluruh pengunjung di sudut Barat Daya baray. Berbeda dengan kebanyakan orang yang lebih memilih berjalan di jalan aspal di samping baray kedua yang telah mengering, saya justru memilih melakukan kunjungan secara ‘resmi’ melalui jalan pelintasan seremonial yang diapit dua baray kedua yang telah mengering.

The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background
The ceremonial causeway of Wat Phou with Lingaparvata as background

Sebelum melangkah, tanpa menghiraukan terik yang memanggang, saya berdiri dalam hening di awal jalan pelintasan yang terbentang di depan, menatap lurus ke candi yang berada di atas bukit. Seperti juga di tujuh situs sebelumnya, saya selalu menautkan hati dengan bumi yang berada di bawah kaki saya, inilah tempat-tempat yang memiliki keluarbiasaan. Seakan memberi sambutan khusus, sejumput awan bergerak menutup matahari barang sejenak ditambah kesejukan udara dari baray besar tadi yang terasa membelai dari arah belakang. Jalan pelintasan lama ini beralaskan batuan pipih membentang tepat di tengah menuju bangunan candi. Saya memang tengah berdiri di pintu pertama dari jalan pelintasan resmi yang dulu digunakan untuk sebuah prosesi seremonial, jalan yang digunakan para Raja dan kaum bangsawan pada masa keemasannya. Tak heran auranya terasa magis dan suasana alamnya luar biasa…

Inilah candi kuno yang dulu selalu diasosiasikan dengan kota Shrestapura, kota yang terletak di pinggir Sungai Mekong dan berhadapan langsung dengan Gunung Lingaparvata. Dua symbol suci bagi mereka yang percaya, gunung yang berada di ketinggian dan dari namanya saja sudah dapat ditebak merupakan tempat kediaman salah satu dewa dalam Trimurti dan sungai besar yang tentu saja diasosiasikan dengan samudra atau Gangga yang suci. Jelas sekali bahwa Wat Phou ini didedikasikan Shiva, Sang Mahadewa.

Masih berdiri di awal jalan pelintasan, saya menatap pegunungan dengan puncak Lingaparvata yang melatari Wat Phu. Siapa yang mengira saya bisa menjejak di tempat yang berada segaris membagi dua antara Angkor Wat dan My Son, seakan memberi konfirmasi dari inskripsi yang ada bahwa sejak jaman dulu, tempat suci di bumi Laos sekarang ini memang telah memiliki hubungan langsung dengan Kerajaan Champa (sekarang Vietnam) dan juga Kerajaan Chenla (sekarang Kamboja).

Pemikiran itu menggugah senyum dalam hati, membayangkan sebagai bagian rombongan bangsawan melangkah pelan di jalan pelintasan beralas batu dan berhiaskan tonggak setinggi pinggang di kanan kiri. Jika dahulu jalan pelintasan ini terhampar bersih, kini mata perlu jeli agar kaki melangkah tanpa perlu menginjak kotoran binatang yang tertinggal.

Struktur pertama sebelah Utara menarik perhatian saya untuk dijelajahi terlebih dahulu, sementara bagian Selatan mengalami perbaikan di sana sini. Setelah mengambil gambar tampak luar, saya mulai menapaki tangga dan menyusuri dinding-dindingnya. Jendela berteralis batu berulir seperti di Angkor membuat saya lupa sejenak berada di bumi Laos. Memasuki bangunan tanpa atap ini, menjadikan imajinasi bergerak liar. Saya bebas membayangkan ruangan di hadapan ini, pada masanya berlantai kayu yang indah atau dibiarkan terhampar dengan rumput yang terpelihara. Saya juga mengintip dari balik gallery yang biasa tertutup atap lengkung. Disini pastinya sangat menyenangkan, memandang bumi Champasak yang terhampar jauh di hadapan dengan air yang memenuhi baray memberi keteduhan tersendiri.

Bangunan kembar di Selatan dan Utara ini, yang sering disebut sebagai istana, -bisa jadi untuk rehat bagi para bangsawan yang berkunjung-, merupakan bangunan pertama yang ditemui setelah akhir dari jalan pelintasan. Hanya bangunan di Selatan memiliki tambahan Kuil Nandi, bhakta (pemuja) setia Dewa Shiva, selain sebagai kendaraannya. Sayang sekali, di beberapa tempat terserak batu-batu hiasan yang cantik yang bisa jadi masih menunggu dikembalikan ke posisinya.

Kembali ke jalan pelintasan tengah, terlihat permulaan tangga berundak di ujung jalan. Tangga di tengah yang dinaungi pohon kamboja (frangipani) ini tidak dapat dilalui karena telah rusak dimakan usia sehingga pengunjung harus memutar sedikit. Dari sedikit ketinggian, pemandangan sudah terlihat membentang luar biasa.

Saya terus melangkah di jalan pelintasan yang kini menanjak dan berakhir di sebuah tangga berundak lain yang juga dinaungi pohon kamboja yang mengundang saya untuk rehat sejenak di bawahnya sambil mengamati bentuk dekorasi anak tangga dan orang yang melakukan sembah dan doa di depan sebuah patung berdiri berselempang hijau. Patung yang konon disebut dengan Dwarapala ini, bergaya Khmer dan hanya tinggal sendiri.

Setelah air botol habis, saya bergegas menuju kuil utama di atas melalui jalan berbatu yang kini tak lagi rata. Tangga di depan mata ini cukup curam, tak rata dan berdasar sempit dan tentunya tanpa pegangan tangan. Di beberapa tempat tinggi batunya mencapai lutut orang dewasa. Salah langkah disini, glundung sudah pasti.

Dibangun berdasar kosmologi Hindu, Wat Phou merupakan sebuah candi gunung, sebagai representasi gunung suci Meru, pusat alam semesta tempat kediaman para dewa. Dengan demikian, setiap lantai di Wat Phou bertambah tinggi seiring kenaikan levelnya, persis sebuah piramida.

Wat Phou - Central Sanctuary, Champasak, Laos
Wat Phou – Central Sanctuary, Champasak, Laos

Memasuki level teratas, selain menemukan batuan berukir yang terserak menunggu dikembalikan ke posisi sebenarnya, saya juga mengamati bangunan utama. Wilayah ini sudah digunakan sejak abad-5 sebagai tempat suci walaupun struktur yang sekarang berdiri berasal dari abad-11 hingga abad-13. Keindahan bangunan ini dipenuhi dengan hiasan rumit dwarapala dan devata di dinding. Berbagai hiasan di atas pintu seperti saat Krishna mengalahkan ular Kaliya dengan menari di atas kepalanya di atas pintu kiri atau Indra yang sedang menunggang Airvata sang gajah berkepala tiga di pintu tengah, Vishnu dengan mengendarai Garuda menaklukan naga di pintu kanan, Vishvakarma di atas Kala dan dijaga oleh singa.

Indra on Airvatha, Wat Phou
Indra on Airvatha, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishnu on Garuda, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Vishvakarma on Kala, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou
Krishna defeats Kaliya, Wat Phou

Sejak abad-13 Wat Phou dialihfungsikan menjadi tempat ibadah Theravadda Buddha tanpa mengubah ornamen dinding namun hanya menambahkan patung Buddha, yang ritual ibadahnya dilakukan hingga kini. Pada altar tengah terdapat Buddha dengan pernak-pernik pemujaan di sekitarnya termasuk gong. Pada meja depan terdapat 3 buah batu yang terlihat cukup berat jika diangkat.

Inside the Sanctuary of Wat Phou
Inside the Sanctuary of Wat Phou

Di halaman sebelah Utara bangunan terdapat patung Boddhisatva yang kondisinya sebagian rusak namun dupa-dupa di depannya menandakan masih dipergunakan. Di belakangnya terpahat pada sebuah batu besar, Trimurti dengan Shiva di tengah, diapit oleh Brahma di sebelah kiri dan Vishnu di kanan.

Wat Phou view from the main sanctuary
Wat Phou view from the main sanctuary

Saya berjalan ke arah tebing di sebelah Utara, pemandangan kearah dataran rendah Laos terlihat semakin luar biasa dari balik pepohonan. Saya melihat banyak tumpukan beberapa batu pipih disusun keatas layaknya sebuah pagoda, yang sering juga saya lihat di Korea, Jepang, maupun di Angkor yang konon merupakan upaya meditasi yang menyusunnya. Selain itu, banyak batuan besar yang terlihat ‘labil’ ,-karena disangga bidang yang lebih kecil-, dipenuhi oleh penyangga kayu-kayu yang sengaja diletakkan pengunjung yang ibadah. Bisa jadi semua dilakukan berdasarkan keikhlasan turut menyangga sesuatu yang bersifat genting dan kritis.

Akhirnya saya mendapatkan Batu yang berpahat gajah itu. Luar biasa sekali. Beberapa saat menikmati batu gajah itu, semilir angin terasa membelai dari belakang. Karena saya tak merasakan kehadiran manusia lain di dekat saya, dan konon, jauh berabad sebelumnya tempat ini dijadikan tempat persembahan manusia, hal itu membuat saya bergegas kembali ke kuil utama.

Di tebing belakang kuil yang merupakan tempat awal kesakralan Wat Phou karena di bawah batu yang terlihat menggantung itu dialirkan air dari mata air melalui saluran berukir yang hingga kini tetap dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari dan ditampung pada tempat yang menyerupai sebuah yoni berongga. Padahal semua itu terdapat di sebuah ruang (ceruk) yang terbentuk di bawah tebing menggantung. Alam menyangganya dengan sangat baik.

Saya melihat dengan penuh ketakjuban, menyadari sangat kecilnya saya dibandingkan tebing batu itu. Kekuatan manusia tak ada apa-apanya. Sekali penyangganya terlepas, manusia lenyap, tak berbekas, penyet…

Udara masih panas, tetapi saya harus melangkah pelan meninggalkan Wat Phou, lokasi terakhir janji saya yang mewujud. Angka delapan itu tak putus, meliuk melingkar hingga suatu saat kita akan berjumpa lagi…

Nepal: Terjebak Lorong Waktu Menuju Dattatreya


Baru saja meninggalkan kamar ketika langkah kaki terhenti sejenak melihat beberapa orang, -sepertinya tetangga sekitar-, melakukan puja dan ibadah pagi di tempat pemujaan kecil yang ada di bagian dalam halaman penginapan. Pikiran langsung melayang pada ritual serupa di tanah air atau juga di banyak tempat. Sepertinya semua agama memiliki keserupaan mengawali hari dengan ibadah, menciptakan hubungan yang amat pribadi antara manusia dengan Sang Khalik Pemilik Semesta. Indah sekali.

 

Tak ingin mengganggu mereka lebih lama, saya melipir dinding kearah luar melalui pintu belakang dan menemukan deretan gerabah tanah liat teronggok begitu saja tanpa ada yang menjaga. Siapa juga yang berniat mengambilnya karena hampir semua sudut dekat penginapan terdapat deretan gerabah serupa. Tak heran Bhaktapur terkenal juga dengan Pottery Square-nya, sebuah tempat yang kemanapun mata memandang terdapat gelaran gerabah yang instagramable. Namun entah kenapa, hal yang menjadi salah satu ikon Bhaktapur itu bukan menjadi fokus saya pagi hari itu, karena kedua kaki ini mengajak kembali menuju Bhaktapur Durbar Square melalui lorong berdinding bata yang menjulang tinggi.

Berada di lorong sempit di antara bangunan tradisional, rasanya seperti menekan tombol mesin waktu ke abad pertengahan. Jarak antar bangunan begitu rapatnya hingga langit hampir tak terlihat karena tertutup sambungan atap dari bangunan yang berseberangan. Beberapa kali saya mendongak ke atas mencari langit sambil mengukur ketinggian jendela-jendela Newari yang menghias dinding. Mau tidak mau saat melihat material dinding, sejumput pikiran teknis yang terinstal di kepala muncul sekejap dalam rasa ngeri, dinding-dinding itu terlihat begitu ringkih, mudah runtuh dan sangat berisiko (dan enam bulan kemudian, Bhaktapur menjadi salah satu kawasan terburuk yang terkena dampak gempa bumi April 2015)

Benar-benar seperti terperangkap dengan apa yang saya lihat dan apa yang saya rasakan di Bhaktapur ini. Mereka meneruskan tradisi hingga sepertinya kesan kuno Bhaktapur tetap terjaga. Mereka tetap menggunakan batu bata dengan perekat lumpur untuk mendirikan atau merenovasi bangunan yang bergaya tradisional di negeri indah ini. Bisa jadi karena bahan konstruksi mahal dan tidak mudah didapat di negeri yang dikelilingi dua negara besar India dan China ini. Ketika melihat semua yang kuno di Bhaktapur ini, tidak hanya sekali saya mencubit diri sendiri, ini bukan mimpi kan? Tapi terasa pedih, ini sungguh nyata, bukan mimpi, saya ada di abad-21!

Akhirnya saya menjejak lagi di alun-alun istana lama itu. Saya terpana dengan pemandangan sekitarnya, -sungguh berbeda dengan keadaan sore sebelumnya yang padat dengan pengunjung-, kali ini hanya ada dua orang di ruang terbuka luas itu diantara burung-burung pagi yang sibuk mencari makanan di pelataran depan kuil Vatsala Durga (yang kini telah rata dengan tanah akibat gempa 2015). Rasanya janggal melihat bangunan-bangunan indah di Bhaktapur Durbar Square itu dibalut kelengangan, seperti masih terlelap dalam pelukan pagi. Sepinya terasa menggigit dan mampu membuat saya terdiam dalam hening, merasa seperti ribuan mata damai tengah memperhatikan. Menyadari hari ini terakhir di Bhaktapur, saya berbisik pamit pada tempat dengan kedamaian pagi yang indah ini. Semoga waktu bisa mempertemukan kita lagi disini.

Saya melanjutkan langkah ke Taumadhi Square, alun-alun kecil lainnya tempat Nyatapola megah berdiri dan hanya berjarak seratus meter dari Bhaktapur Durbar Square. Di balik sebuah panggung batu saya melihat orang-orang menggelar dagangannya di tanah beralaskan plastik lebar. Sayuran, ubi, tomat, labu, bawang merah, bawang putih, buncis, rempah-rempah, paprika, kembang kol, ketimun, dan masih banyak lagi keperluan sehari-hari. Pelan-pelan saya melangkah menikmati situasi, dikelilingi bangunan berusia ratusan tahun dan ditengah pasar dadakan yang penuh dengan orang berbaju tradisional. Rasanya sama seperti terjun  kembali ke abad pertengahan. Lagi-lagi saya berpikir, ini bukan abad-21!

Diterpa keterpanaan menyaksikan semuanya dalam pusaran ‘lorong waktu’ ini, saya terus mengikuti kaki melangkah dan terhenyak saat menyadari sudah berdiri di depan penginapan saya sendiri dari sisi yang berbeda. Ah, kali ini bisa jadi si dua kaki menurut pada si perut yang memerintah 🙂

Dan karena sudah di depan penginapan sendiri, saya sempatkan untuk menikmati sarapan yang tersedia di lantai teratas yang terbuka (rooftop). Kali ini saya merasa kembali ke abad-21 lagi karena makanan yang sedikit internasional walaupun terasa aneh karena sarapan ditemani burung gagak. Bisa jadi terpengaruh cerita-cerita tentang burung gagak… 😀

Selepas sarapan saya melanjutkan jalan-jalan pagi, kali ini lebih mengarah mencari ATM atau money changer untuk menambah lembaran Nepali Rupee yang sudah tinggal satu atau dua sambil, -jika memungkinkan-, menjelajah ke tempat lain.

Kali ini saya mengambil arah lain yang lebih sepi walaupun tetap berhiaskan dinding bata yang menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran rumit pada jendelanya. Angin pagi bulan November terasa lembut menerpa muka. Alunan musik tenang bernada oriental Tibet Om Mani Padme Hum yang mengalun lembut sepanjang toko-toko terdengar menghipnotis di telinga, seakan membawa saya kembali dalam perjalanan waktu. Rasanya memang luar biasa, langkah yang sangat ringan, tak ada beban, terbang melayang…

Hingga sampai pada muara lorong itu…

Tepat di depan sebuah hiti, -tempat pengambilan air- dan di depannya terdapat sebuah panggung kecil dari batu. Saya tersadarkan berada di sebuah square lain dan pastinya dekat dengan sebuah tempat istimewa. Saya masih melangkah, di sebelah kanan saya dinding rumah dengan hiasan rumit yang sangat cantik tapi terawat dengan baik.

Hingga saya berdiri dekat sebuah kolom dan mendongak melihat sesuatu di atas…

Garuda!

Garuda at Dattatreya Temple
Garuda at Dattatreya Temple

Dalam sekejap rasanya seluruh aliran darah meluruh semua ke bawah meruntuhkan kekuatan berdiri begitu menyadari bangunan yang ada di hadapan mata adalah Dattatreya, kuil yang dibangun oleh Raja Yaksha Malla di tahun 1427! Kuil berusia ratusan tahun dan konon dibuat dari satu pohon ini, didedikasikan kepada sosok inkarnasi ketiga dewa utama dalam Hindu, Brahma, Vishnu dan Shiva. Namun dengan empat symbol Vishnu yang ada di depan bangunan, Gada, Cakra, Lotus dan Kerang menyadarkan presentasi reinkarnasi dewa yang lebih diutamakan di kuil ini.

Garuda, Cakra, The Mace, Conch Shell, Lotus in front Dattatreya
Garuda, Cakra, The Mace, Conch Shell, Lotus in front Dattatreya

Saya masih dipenuhi rasa tak percaya mengikuti kaki melangkah hingga ke tempat ini bahkan tanpa peta sekalipun, hanya berdasarkan ingatan bahwa somewhere in Bhaktapur, there is Dattatreya square. Bahkan dalam lorong jalan yang ditempuh tak ada satu pun rambu yang menunjukkan arah ke Dattatreya. Seakan-akan memang saya ‘dibawa terbang’ ke tempat ini menembus lorong waktu untuk sampai ke tempat cantik ini.

Bhimsen Temple in front of a hiti, Dattatreya Square
Bhimsen Temple in front of a hiti, Dattatreya Square

Tengah menikmati situasi sekitar yang aslinya berasal dari abad pertengahan, secara tidak sengaja mata ini tertumbuk pada sebuah proses jual-beli disitu. Mendadak rasa dingin menyerang sekujur tubuh menyadari isi dompet yang telah tipis dan waktu yang berangkat siang. Saya harus segera mencari ATM Internasional atau money changer. Tetapi di Bhaktapur? Di pagi hari seperti ini? Pikiran ini sekejap membolakbalikkan pikiran saya antara abad-21 dan abad pertengahan tepat seperti apa yang saya lihat di depan mata. Ah… saya mungkin gagap waktu!

Dengan miris tak ikhlas, sejumput kata perpisahan kepada Dattatreya saya bisikkan dari dekat kolom Garuda. Alun-alun kecil di Bhaktapur ini telah dengan ajaibnya memberi warna di dalam hati dengan membiarkan ditemukan hanya dari sebuah bimbingan hati. Benar-benar berat untuk melangkah meninggalkan kawasan Dattatreya, tetapi saya sadar waktu tak pernah menunggu. Memutar langkah, saya melangkah kembali, suatu saat kita akan berjumpa kembali…

Menyusuri jalan yang sama, kali ini lorong waktunya lebih cepat berganti ke abad-21, mungkin karena kebutuhan uang yang mendesak. Mata saya lebih tajam mencari logo ATM ataupun Money Changer. Semoga sistem ATM-nya buka 24 jam atau  money changer sudah buka.

Selagi melangkah mencari ATM, di ujung lorong dari sebuah kios yang tersembunyi, mata menangkap rangkaian bulu merak yang dibentuk menjadi sebuah kipas yang tergantung. Sebagai penggemar merak, semua yang berhubungan dengan merak cepat sekali saya kenali. Tentu saja saya ingin membelinya, tetapi tidak punya cukup uang untuk itu. Entah kenapa tetapi situasi ini sepertinya saya kenali, seakan saya sedang diuji… Apakah saya memilih membeli merak dengan lembaran besar USD atau meneruskan langkah untuk mendapatkan Nepali Rupees seperti niat awal sekembalinya dari Dattatreya tadi. Sebuah godaan…

The lane to Dattatreya
The lane to Dattatreya

Saya memilih meneruskan mencari Money Changer dan melepas keinginan membeli kipas merak itu lalu melanjutkan langkah.  Dan benar saja, sekitar 500 meter setelahnya saya melihat tulisan Money Changer yang hanya bisa dilihat dari posisi arah jalan saya. Dan yang terpenting, money changer tersebut telah buka! Ah, lagi-lagi saya mendapatkan berkah keajaiban pagi ini. Setelah sehari sebelumnya mencoba beberapa ATM dan tidak berhasil, sepertinya saya memang ditakdirkan mengalami perjalanan bolak-balik melalui lorong waktu. ATM merupakan teknologi yang sudah umum di abad-21 namun saya tidak berjodoh dengan menggunakan teknologi abad-21 itu di Bhaktapur. Pagi ini di kios Money Changer, saya kembali dihadapkan kepada proses tradisional, yang dilakukan sama berabad lalu, -seperti juga di abad pertengahan-, dalam hal penukaran mata uang asing. Selembar USD tadi telah berubah menjadi NPR, dan lega rasanya membawa kembali NPR di dompet.

Dengan adanya uang di dompet, timbul lagi keinginan kembali ke kios yang menjual kipas bulu merak. Tetapi lagi-lagi ada rasa ragu, entah kenapa, saya ragu tak cukup waktu untuk ke bandara mengejar pesawat. Entahlah, tetapi saya membatalkan untuk kembali ke kios yang menjual kipas merak itu, sebuah keputusan setengah hati yang mungkin saya sesali karena hingga kini saya tidak pernah punya kipas merak! Tetapi, ah, bisa jadi kipas bulu merak yang cantik itu memang bukan jodoh saya, melainkan milik mereka yang ‘terjebak di abad pertengahan’…