Look At The Top of The World


Tahun 2014

Sudah lama sekali saya memelihara impian untuk melihat Himalaya, barisan pegunungan berpuncak salju abadi dengan Mt. Everest yang menyandang gelar sebagai gunung tertinggi di dunia. Awalnya saya tak tahu harus bagaimana untuk bisa melihat Himalaya, apakah dari India, China atau Nepal. Telah berulang kali saya browsing untuk ke Leh, Ladakh untuk bisa merealisasikan impian itu, tetapi tidak pernah terjadi. Tetapi akhirnya cerita seorang teman yang terlebih dahulu menjejak di sana, membuat bulat keputusan itu. Saya harus ke Nepal. Sendiri!

Dan November tahun itu juga, impian itu benar-benar mewujud. Sengaja saya memilih kursi jendela di sebelah kanan dalam penerbangan siang. Dan sekitar satu jam jelang sampai, perasaan itu langsung berkecamuk begitu hebatnya, saat mengetahui barisan awan putih di horison sesungguhnya adalah pegunungan Himalaya yang saya rindukan. Saya melihatnya langsung, meskipun kecil, jauh dan bercampur awan. Tetapi awan adalah awan, Himalaya bertudung salju itu ada di sana. Berjajar dengan indahnya. Penguasa Alam Semesta selalu baik.

1IMG_0004
Himalaya and the Clouds at the horizon

Demi melihat Himalaya dari dekat, saat itu saya menabung agar bisa mengambil Mountains Flight, sebuah penerbangan wisata menjajari pegunungan itu dari jarak terdekatnya. Pada harinya, siapa sangka, saya yang check-in sejak pagi ternyata disela oleh banyak turis yang menggunakan jasa tur sehingga akhirnya saya mendapat nomor kursi terakhir? Tapi ah, saya telah banyak belajar untuk bisa menerima setiap peristiwa yang terjadi dengan ikhlas tanpa ekspektasi berlebihan. Namun siapa sangka, kejadian itu merupakan anugerah? Saya mendapatkan nomor terakhir, dengan dua jendela di sebelah kiri dan dua jendela di sebelah kanan karena tempat duduk di sebelah kanan kosong.

Pagi itu saya duduk sendiri menatap keluar jendela ke arah pegunungan Himalaya yang terlihat sangat indah. Rasa syukur saya tak berhenti sepanjang penerbangan hingga berkali-kali saya menghapus airmata bahagia. Alhamdulillah, sungguh saya orang yang paling beruntung di dunia, Begitu banyak anugerah terlimpah buat saya.

Belum selesai mengucap syukur, saya dipanggil pramugari untuk bisa melihat Himalaya dari ruang cockpit. Dan saat itulah saya mendapat anugerah terbesar dalam perjalanan itu. Puncak Mt. Everest yang bersaput awan sesaat menampakkan diri, memperlihatkan setitik puncaknya. Hanya setitik! Oh, betapa saya beruntung karena menjadi satu-satunya dalam penerbangan itu yang melihatnya karena giliran orang lain setelah saya hanya bisa melihat Mt. Everest yang kembali tertutup awan.  

Bahkan setitik puncaknyapun, bagi saya sudah cukup. Itu adalah Mt. Everest, gunung tertinggi di dunia dan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Impian saya begitu lama sudah terealisasi.

Tetapi bisa jadi Semesta tidak menginginkan saya meninggalkan Nepal hanya dengan ingatan Setitik Puncak Gunung Everest. Dalam penerbangan pulang ke Jakarta, kali ini pegunungan Himalaya itu tampak bersih dari awan, dan tentunya Mt. Everest yang memperlihatkan puncak khasnya. Lagi-lagi Himalaya membuat saya terharu-biru. Akankah ada lagi perjalanan ke pegunungan bertudung salju itu untuk saya? Saat itu saya tak pernah tahu.

April 2015

Gempa besar melanda Nepal, termasuk longsoran yang melanda kawasan Everest. Hati saya mengerut dalam doa.

Tahun 2017

Siapa sangka, sekali lagi saya diberikan kesempatan melakukan perjalanan ke Nepal, melakukan trekking di Himalaya dan melakukan mountain flight dan saat itu Mt. Everest benar-benar menampilkan keindahannya. Dengan mata tak berkedip dan tangan menempel di jendela seakan ingin menyentuhnya langsung, saya menyaksikan gunung tertinggi di dunia itu dari pesawat kecil saya. Mungkin banyak orang bermimpi untuk bisa melihat Himalaya dan melihat Everest namun belum mendapatkan kesempatannya, sedangkan saya telah berulang kali dan semakin jelas. Sungguh saya telah banyak menerima anugerahNya. Rasanya bersyukur saja tak akan cukup.

5DSC00640
Everest View From the 2nd Mountain Flight

Dan saya tak pernah bermimpi sekalipun, dalam tahun itu juga, saya bisa menjejak Himalaya lagi. Lebih dekat lagi, bukan dari atas melainkan dari tanah pegunungan yang sama yang menyambung ke Gunung Everest itu, berada di Taman Nasionalnya. Saya berjalan seakan melata di kaki dan punggung bukit-bukitnya untuk menyaksikan langsung dari tanah yang sama. Begitu dekat.

Saya tak pernah tahu adakah kesempatan bagi saya untuk melihatnya lagi dari dekat. Impian itu tetap saya pelihara dalam jiwa sembari terus mengucap syukur atas semua kesempatan menyaksikan keindahan alamnya sejak berupa garis horison tak jelas, lalu setitik puncak, lalu Everest yang semakin jelas, semakin dekat. Terima kasih Ya Allah atas semua anugerah yang berlimpah tak henti.

620170924_082733
Mt. Everest from Everest viewpoint, on the way to Namche Bazaar

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-25 ini bertema A View from The Top agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

WPC – Gateway To Everest


Hillary Bridges, the Gateway To Everest

Hillary Bridge is the highest and last suspension bridge on the route between Lukla (famous for the label as the most dangerous airport in the world) and Namche Bazaar (the village where trekkers usually stay for first acclimatization) on Everest Region, Nepal. The higher bridge is newer and looks more spectacular than the lower one although both still can be used. When I crossed the bridge last month, among my admiration of beautiful surroundings I just imagined how its construction was, without any cranes and modern technology aid, everything had to be brought in manually on foot.

Situated around 50 meters upstream from the confluence of two rivers and spanning over the Dudh Kosh (river) which has white milk-alike color, the 250 meters long Hillary bridge is built on top of a stone-walled gorge 100 meters above the waterline. And sorry for those who are acrophobia, -a phobia of height-, this place may be not recommended. But for scenery lovers… hmm… priceless!

For the trekkers, it is the beginning of 600 meters steep climbing to Namche Bazaar (3400 meters above sea level) through the dense forest, usually as part of the 2 weeks Everest Base Camp trekking.

By the way, not only people cross the bridge, but mules or yaks do as well…

Just give them way to cross first… 😀

 

Pedestrian

Nepal – Sampai Kita Berjumpa Lagi, Himalaya…


Dalam postingan sebelumnya, ada peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi, tetapi bagaimanapun tetap terjadi. Banyak barang basah terkena air dalam perjalanan menuju bandara saat mau pulang ke tanah air. Untuk lengkapnya bisa dibaca di post ini cerita tentang Nagarkot

Dengan celana yang setengah basah dan ‘rempong’ dengan tas-tas dan barang yang juga basah, saya tergopoh-gopoh melangkah memasuki ruangan keberangkatan namun dicegat oleh seorang petugas karena salah terminal. Setengah jengkel dengan kebodohan diri sendiri, saya keluar lagi menyusuri pinggir bangunan untuk menuju ruang keberangkatan untuk Air Asia. Sebelum masuk saya masih sempat menoleh ke tempat drop-off. Mobilnya sudah tidak ada disana, tetapi rasa bersalah saya tak mau hilang. Semoga Tuhan memberi banyak keberkahan untuknya.

Setelah boarding pass dipegang di tangan, saya menarik nafas penuh kelegaan. Masih ada waktu untuk membereskan segala kekacauan yang sebenarnya tak perlu terjadi ini. Saya memutar pandangan dan menemukan sebuah bangku kosong yang sempurna untuk repacking.

I will be back...
I will be back…

Saya mencari handuk kecil yang selalu saya simpan di ransel dan tentu saja beberapa tas plastik. Kebiasaan menyisipkan beberapa tas plastik untuk sesuatu yang penting kini terlihat manfaatnya. Saya mengeringkan sebisa mungkin lalu memasukkan barang-barang yang terasa masih lembab ke dalam beberapa kantong plastik. Kemudian saya keluarkan daypack yang kering dari ransel untuk menggantikan tas tangan yang basah kuyup di bagian bawahnya.

Selagi sibuk dengan mengeringkan dan memindahkan barang, dua turis remaja perempuan berwajah Oriental mengambil tempat di sebelah saya untuk menata ulang kopernya. Namun lebih-lebih dari saya, mereka menghamparkan hampir semua barangnya lalu dipaksakan masuk ke dalam kopernya. Jika saja mereka mengerjakan dengan diam, tentu saja saya tak keberatan. Tetapi mereka melakukannya seakan di rumah sendiri dengan suara keras sambil tertawa-tawa. Dengan mood yang masih tak tentu, situasi saat itu sungguh menyebalkan. Tetapi bagaimana pun ruang saya duduk merupakan ruang publik, lebih baik saya memperpanjang sabar.

Saya masih mengeringkan barang-barang basah ketika melihat petugas dan anjing terlatihnya mendekati saya. Mereka mendekat secara khusus sampai pada jarak yang saya kira terlalu dekat ke barang-barang yang saya letakkan di sekitar. Tak perlu berpikir dua kali, -ketika saya melihat si anjing terlatih itu mengendus dari jarak tertentu-, saya langsung mendekatkan barang-barang yang agak tersebar. Damn… Darah mendesir kencang, pikiran saya langsung bekerja cepat, saat itu pastilah saya ditandai sebagai seseorang yang mungkin sedang melakukan pekerjaan haram, mungkin seperti kurir narkotik yang memindahtangankan dengan kedua perempuan muda yang ada di sebelah saya.

Bukankah anjing terlatih itu diarahkan untuk mendatangi dan mengendus di dekat barang-barang saya? Bukankah ada dua perempuan muda di sebelah yang juga sedang membongkar tasnya dengan menghamparkan barangnya dekat dengan barang-barang saya? Bukankah barang haram itu bisa dipindahtangankan dalam situasi seperti ini, dengan skenario seakan-akan sedang merapikan barang dalam koper? Bukankah saya dalam situasi yang sangat memungkinkan dituduh sebagai kurir barang haram? Bukankah bisa saja barang haram itu diletakkan di antara barang-barang saya dan barang orang lain yang terserak dan bisa dijadikan bukti kepemilikan? Saya bergidik terhadap kemungkinan itu… Hiiii…

Ada sesuatu yang berjalan tidak pada tempatnya… ada yang tak seimbang, ada yang tak sesuai…

Saat menunggu keberangkatan, sepenggal rasa bersalah masih bertengger di hati, ditambah dengan sejumput ingatan ketika si anjing mendengus dekat barang-barang saya. Rasanya terbeban. Saya mengingat seluruh kenangan yang menyenangkan sejak perjalanan dimulai agar beban bisa terangkat sedikit. Ketika melihat Everest dan barisan Himalaya, ketika bisa berlama-lama bertatapan dengan Dewi Kumari the Living Goddess di Kathmandu Durbar Square, ketika mendapat berkat Hariboddhi Ekadashi di Kuil Changu Narayan, saat mendapat sunrise luarbiasa di Pokhara, saat mendapat Khata dari Bhiksu di bawah pohon Boddhi di Lumbini, pagi yang indah di Nagarkot dan begitu banyak kemudahan di semua tempat yang saya datangi… dan di ujung akhir perjalanan semua berbalik arah. Kesalahan apa yang telah saya lakukan?

Ketika boarding, orang yang duduk di belakang kursi saya memasang dan menggunakan speaker dari music playernya, seakan di rumahnya sendiri dan seakan semua senang dengan lagunya. Saya tahu telah berada di ambang batas sabar sehingga saya sampaikan keluhan kepada pramugari yang bertugas karena saya telah membayar mahal untuk tempat duduk yang berada di quiet-zone yang seharusnya senyap agar bisa beristirahat. Bahkan kejengkelan dan ketidaksabaran saya masih bisa merangkak keluar.

Tribhuvan International Airport, Kathmandu
Tribhuvan International Airport, Kathmandu

Sebelum semuanya menjadi tak terkendali, lebih baik melakukan refleksi ke dalam, menenangkan diri, memohon bantuan kepadaNya.

Ketika pesawat bergerak perlahan untuk meninggalkan bumi Nepal, saya menoleh keluar jendela, ke langit yang biru, ke pegunungan yang berjejer. Dengan menempelkan tangan pada jendela, selarik bisikan berupa ucapan terima kasih keluar dari bibir. Dan seketika pula permintaan maaf mengalir keluar atas apapun kesalahan saya selama di bumi Nepal, membuat pandangan buram karena airmata menggenangi pelupuk mata…

Saya teringat kembali kepada dia, pengemudi yang pendiam dan selalu tersenyum terhadap apapun yang saya lakukan. Saya diserang ingatan betapa buruk perlakuan saya terhadapnya. Menganggapnya tidak mengerti, mengabaikan harkat kemanusiaannya bahwa setiap orang ingin dihargai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia diam, tetapi bukankah saat itu ada musik sayup serupa Om Mani Padme Hum yang memungkinkan dia mengemudi dengan pikiran yang meditatif? Atau mungkin ia memang pendiam dan juga pemalu, sebuah kombinasi sempurna untuk ‘tidak dianggap’ dan saya memperlakukannya tanpa perasaan. Lalu bukankah setelah itu ada air yang tiba-tiba menggenang? Saya bergidik sendiri, menyadari telah menjadi seburuk-buruknya manusia. Tak heran, jika semua ini terjadi.

Luruskan pikiranmu, begitu teguran Sang Maha Cinta untuk saya dengan tetap melimpahkan kasih sayang berupa air yang menggenangi tas. Dengan begitu banyak berkah yang saya terima selama perjalanan di Nepal mengapa saya mengakhirinya dengan mengabaikan nilai seorang manusia?

Lalu bukankah hanya air? Dan air hanya membasahi barang-barang tak penting? Bukankah bisa lebih mengerikan, bisa lebih buruk, tapi karena CintaNya, hanya ada air? Lalu bukankah bisa saja ada barang haram di antara barang-barang saya saat merapikan kembali? Tetapi yang terjadi sebuah teguran kasih sayang berupa dengusan anjing sebagai pengingat? Bukankah bisa terjadi yang lebih buruk dan lebih mengerikan? Tapi saya dihindarkan dari yang lebih buruk dan yang lebih mengerikan…

Air mata mengalir membasahi pipi, saya menggigit bibir menyadari kesalahan. Sebuah pembelajaran yang check-mate. Teguran yang keras, tetapi tersampaikan dengan sangat lembut dan tidak menyakitkan. Begitu indah, betapa Dia mencintai saya… Bahkan dalam salahpun saya masih dilimpahkan berkah kebaikan dan kasih sayang.

Dan Dia tak pernah putus memberi anugerahNya…

Can't take my eyes off of you, Himalaya
Can’t take my eyes off of you, Himalaya

Saya melihat keluar jendela melihat jelas barisan pegunungan Himalaya yang berpuncak salju berjejer seakan memberi salam perpisahan kepada saya yang terbang kembali menuju tanah air. Dan sang komandan dari barisan pegunungan cantik itu ada di sebelah kanan, terlihat sebagai puncak tertinggi, Sagarmatha yang agung. Everest!

Saya teringat ketika melakukan Everest experience mountain flight, saya hanya diberi kesempatan melihat setitik puncak dari jarak terdekatnya. Dan kini dalam perjalan pulang, siapa yang menyangka gunung tertinggi di dunia itu menampakkan keagungan dirinya di hadapan mata saya. Sagarmatha yang luar biasa indahnya, Everest…

I see you...
I see you…

Bahkan dalam salahpun saya masih diberikan anugerah terindah, di ujung akhir perjalanan di Nepal.

Sejuta rasa berkecamuk di dalam jiwa. Inilah pencucian jiwa. Saya telah menerima anugerah tak henti sejak berangkat dan saya nodai dengan keangkuhan diri, namun semuanya tak menghentikan dari limpahan anugerah. Alangkah tak beruntungnya saya jika tak bersyukur… Bukankah perjalanan ini diatur dariNya langsung? Bukankah susunan itinerary yang telah saya buat itu akhirnya tertinggal di Jakarta lalu digantikan semua dariNya? Bukankah tak banyak orang yang berkesempatan melihat pegunungan Himalaya dan juga Gunung Everest secara jelas?

Saya tetap manusia yang menyadari ketidakmampuan melepas kecantikan pegunungan bertudung salju itu. Saya tak ikhlas, tak rela melepas pandang. Saya memutar badan, lebih baik duduk dengan setengah bokong bertumpu pada satu kaki daripada harus kehilangan pandangan dari Himalaya. Mata saya lekat pada barisan itu. Gunung-gunung yang tampak berbaris gagah itu semakin mengecil, semakin tak terlihat, sampai akhirnya saat dataran India dengan sungai besarnya yang terlihat, mau tak mau, ikhlas saya melepasnya dalam bisikan, terima kasih Ya Allah, terima kasih Nepal, sampai kita berjumpa lagi, Himalaya…

Suatu saat saya pasti kembali, ini sebuah janji…

When will I see you again?
When will I see you again?
It's not a Goodbye, Just Au Revoir
It’s not a Goodbye, Just Au Revoir

<><><>

Dan enam bulan setelah perjalanan saya, sebuah gempa besar meluluhlantakkan Nepal. Saya terguncang hebat. Semua kenangan tempat-tempat indah dengan segenap keajaiban-keajaiban yang pernah mewarnai perjalanan saya itu bergerak bagai film di benak, silih berganti dengan tempat-tempat yang rusak dan yang luluh lantak. Tetapi sebagaimana pengalaman perjalanan saya, -bahkan dalam salah pun saya diberi anugerah-, demikian juga Nepal… Dalam titik rendah kehancurannya, Pemilik Semesta tak pernah sedikitpun meninggalkan ciptaanNya.

*

Baca rangkuman dan cerita seri perjalanan di Nepal : Nepal – Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Nepal: Ketika Setitik Puncak Everest Tersibak Untukku


Melanjutkan tulisan sebelumnya (baca disini untuk separuh penerbangan sebelumnya), penerbangan ‘mountain flight’ yang tak terlupakan seumur hidup sesuai promosinya Buddha Air sebagai Everest Experience, memasuki paruh kedua pegunungan Himalaya yang berujung pada pemandangan Puncak dari segala puncak dunia, Sang Bintang, Sagarmatha! Everest 8848m!

Dari atas ketinggian terbang 25000 kaki, Puncak Melungtse yang eye-catching itu baru saja menghilang dari pandangan, namun barisan pegunungan berselimut salju itu masih tak putus terhampar di luar jendela kiri dan bagaikan sedang menikmati film yang sedang berputar, pemandangan indah puncak gunung Chugimago 6297m dan Pigferago 6620m seakan menggantikan Melungtse yang selesai tampil.

Melungtse 7181m -Chugimago 6297m-Pigferago 6620m
Melungtse 7181m -Chugimago 6297m-Pigferago 6620m

Sementara saya melihat keluar jendela menikmati pemandangan indah di luar, saya tak mampu lupa sikap putus asa pria berwajah Hindustan yang tak bisa melihat jelas Himalaya karena duduk di sebelah kanan. Gilirannya pun belum tiba. Bagaimanapun saya pun tak dapat mengabaikan ketukan pengingat untuk berbagi yang terdengar di hati. Saya memutuskan untuk mendengarkan dan mengikutinya.

Saya tersenyum kepada si pria Hindustan, “You can use my window, I have two”.

Matanya berbinar dan tersenyum lebar, “Thank you very much. I just wanna take pictures using my phone, one or two” Tanpa menunggu jawaban saya lagi, pria tadi langsung menyeruak ke jendela di dekat saya, menenggelamkan tanggapan saya berikutnya.

“no problem, take your time…”

Saya tersenyum dalam hati, semua orang di pesawat ini memang pecinta jendela, termasuk pria Hindustan ini. Pramugari tak dapat berbuat apa-apa ketika hampir semua orang menjadi tak sabar terutama yang berada di sebelah kanan yang berdiri sambil membungkuk ke arah jendela kiri. Di luar puncak Pigferago 6620m, Numbur 6957m, Karyolung 6511m hingga Cho-Oyu 8201m masih tampil dengan keindahannya bercampur awan. Bahkan Cho-Oyu puncak ke delapan tertinggi di dunia itu masih malu berselimut mega. Lalu pramugari itu mendatangi saya, berdiri di lorong tak jauh dari pria tadi…

Pramugari itu tersenyum, “Next is your turn”

Setiap penumpang diijinkan masuk ke cockpit pesawat untuk mendapatkan pemandangan Himalaya yang lebih jernih. Saya terloncat kegirangan. Sebagai orang terakhir check-in, tentu saja saya bukan orang yang termasuk yang didahulukan untuk masuk ke cockpit tetapi juga bukan orang paling akhir.

Numbur - Karyolung - Cho Oyu
Numbur – Karyolung – Cho Oyu

Dari belakang, tidak mudah untuk berjalan menuju cockpit dengan situasi para penumpang yang berdiri bergerombol di lorong dan membungkuk untuk melihat jendela kiri. Akhirnya ketika sampai di depan, pramugari itu menghentikan saya di antara ruang bagasi yang tertutup tanpa jendela. Saya kehilangan pemandangan di luar dan harus menunggu antrian dengan sabar.

Namun penumpang di depan saya itu seakan tak rela melepas waktunya. Saya paham, siapa juga yang rela melepas pemandangan barisan pegunungan tertinggi nomor satu di dunia? Saya juga tidak! Tetapi semakin lama ia menikmatinya, semakin lama pula saya kehilangan pemandangan indah di paruh kedua perjalanan ini. Saya tadi hanya sempat melihat sekilas puncak Cho-Oyu 8201m, dan itu semakin dekat dengan Sang Bintang.

ChoOyu 8201m - GyachungKang 7652m -Pumori 7161m
ChoOyu 8201m – GyachungKang 7652m -Pumori 7161m

Tapi entah kenapa, saya seakan diingatkan oleh janji saya sendiri kepadaNya saat bangun pagi. Saya tak mau meminta apapun. Saya sudah sangat banyak mendapat anugerah. Saya akan menerima apapun. Makanya saya diam menikmati waktu tunggu. Pramugari itu akhirnya meminta orang di depan saya untuk menyudahi gilirannya dan akhirnya dia keluar juga dari cockpit. Hati saya bergemuruh. Akhirnya giliran saya! Finally!

Tetapi Yang Maha Kuasa seakan mengajak bercanda dengan saya. Dia menunggu giliran saya untuk masuk cockpit, dan saat itu juga waktunya pesawat berputar menyebabkan saya hanya melihat langit dan garis horison yang miring serta disorientasi arah. Sepertinya Dia sungguh-sungguh bercanda, berhasil ‘ngerjain’ saya agar bisa kembali bergembira dan tersenyum setelah rentetan keharuan yang menyesakkan dada menyaksikan begitu banyak keindahan ciptaanNya. Sambil menjaga keseimbangan saat pesawat berputar, saya pun tertawa terbahak-bahak dalam hati, menerima semua kegembiraan dan canda dariNya, walau berupa garis horison miring dan disorientasi arah. Tuhan Maha Baik, Maha Menyenangkan Hati.

Saya menunggu dalam senyum hingga garis horizon itu kembali mendatar, sekejap saya menyadari berada di cockpit dengan jendela yang lebih bening. Saya terpana. Langit begitu biru. Salju begitu putih. Dan pemandangan pegunungan begitu indah dengan lekuk-lekuk mengular dan dinding-dinding cadas berhias awan. Saya masih kehilangan arah. Saya bertanya kepada pramugari berwajah Hindustan tadi. Telunjuk tangannya menunjuk lurus ke jendela kecil di arah kanan. Saya kebingungan. Apa? Sepersekian detik ia memandang saya dan tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, saya terbelalak paham. Ya itu dia! Sagarmatha! Everest! 8848m!

Walau hanya setitik! Walau hanya sebagian dari puncaknya, tetapi saya diberi kesempatan melihatnya. Saya hanya bisa menatapnya sebentar dengan mata kepala sendiri, nyata, bukan melalui TV atau internet, tanpa kamera. Biarlah ini menjadi rejeki milik mata yang menyaksikan dan tubuh menerima getaran ekstasi rasa syukur yang menjalar ke seluruh permukaannya. Terima kasih ya Allah…

A Tip of Everest Peak
A Tip of Everest Peak

Lalu saya cepat mengambil foto. Jari terus menerus menekan tombol kamera walaupun dada terasa sesak lagi. Baru saja Dia menggoda saya dengan garis horison miring dan disorientasi arah, lalu sekejap diberikan hadiah luar biasa hingga hilang kata-kata. Tidak ada penumpang lain yang melihatnya dari jendela cockpit yang jernih karena begitu posisi berganti, selapis kabut awan telah menutup puncaknya. Seperti disengaja, hanya dikhususkan untuk saya. Ah, nikmat mana lagi yang hendak kamu dustakan?

Saya masih bergeming seakan tak percaya akan cinta yang diberikan olehNya. Dan saya teringat akan penumpang yang masuk ke cockpit sebelum saya, yang tak pernah mau meninggalkan cockpit. Kini saya pun seperti dia dan memahami sepenuhnya. Siapa yang mau meninggalkan tempat dengan pemandangan seindah ini? Bagaimanapun waktu bukanlah milik saya dan kini ia berkunjung pada penumpang sesudah saya. Saya melangkah keluar dari cockpit bersamaan dengan menghilangnya Everest dari cakupan jendela. Benar-benar hadiah tak terlupakan seumur hidup saya!

Pramugari tadi memandang saya sambil tersenyum, mengenali ekspresi wajah yang mendapatkan hadiah luar biasa. Saya berterima kasih kepadanya yang telah mengatur penumpang yang hampir semuanya mengatakan “Sebentar lagi…” saat di dalam cockpit. “It’s so majestic… wow… Speechless”, kata saya padanya.

Saya kembali ke tempat duduk di bagian belakang dan membungkukkan tubuh ke depan sebisanya dengan jiwa yang bersyukur memuji namaNya, jutaan kali pun tetap terasa kurang atas satu hadiah luar biasa ini. Kali ini rasanya benar-benar saya tersungkur, menyadari bahwa sesungguhnya keterbatasan kemampuan menerima yang dimiliki manusia. Ah, kita selamanya memang tak pernah memiliki…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kini jendela kanan yang dipenuhi orang yang masih asik mengambil foto, Melungtse yang berpuncak datar kembali tampil di jendela menyusul Ghauri-Shankar yang puncaknya masih berbalut kabut putih yang berpendar tertiup angin. Sebentar lagi Dorje Lakpa mengambil alih pandangan di jendela.

Saya tahu setiap detiknya berarti semakin dekatnya perpisahan dengan pegunungan bertudung salju itu. Tatapan hampa dengan berjuta kata terima kasih pada mereka yang berbaris diam namun berbaik hati membiarkan mata dimanjakan.

Gunung Dorje Lakpa baru saja menghilang dari jendela, dan Langtang Lirung hadir di kejauhan. Kehijauan lembah Kathmandu semakin terhampar di hadapan. Semakin jelas perpisahan sudah dimulai, pesawat semakin jauh dari Himalaya yang berjajar gagah. Mountain flight dengan Everest Experience dari Buddha Air ini akan berakhir dalam beberapa saat, tetapi saya tahu pengalaman yang saya dapatkan ini telah memberi warna hidup yang tak terlupakan. Saya meletakkan tangan di jendela sebagai tanda salam perpisahan sementara. Terima kasih, Himalaya…

Nepal: Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa


Keindahan awan putih berkelompok memberi warna kontras di langit biru tak lagi mampu menyembunyikan gelegak perasaan yang menyeruak keluar saat akhirnya saya mengetahui bahwa yang tampak terlihat jauh di horison bukanlah kelompok awan lain melainkan barisan pegunungan Himalaya yang bertudung salju. Seakan tidak percaya akan penglihatan yang ada di hadapan, saya mengerjapkan mata yang tiba-tiba terasa hangat dan mengabur oleh air mata. Terima kasih Tuhan telah berikan aku kesempatan terbang ke tempat indah ini…

Telah lama terbit keinginan untuk bisa melihat barisan pegunungan tertinggi di dunia yang selalu tertutup salju itu. Dengan melihat saja sudah cukup bagi saya karena kata Himalaya selalu membuat saya tercekat. Bertahun sudah saya membuat rencana untuk bisa melihatnya, merencanakan melihatnya melalui Leh, Ladakh atau melalui Lhasa, Tibet. Semuanya tidak pernah terwujud. Dan akhirnya, melalui Kathmandu, Nepal, impian sejak kecil itu menjadi senyata-nyatanya di hadapan.

Inilah sebuah perjalanan pulang, perjalanan panjang dan memabukkan ke dalam diri, perjalanan yang dipenuhi oleh ekstasi syukur yang tak habis-habis atas anugerah yang mengucur deras dariNya. Ketika kaki telah menginjak bumi Nepal, telapak tangan pun tak mau kalah hendak merasakan hangatnya bumi seribu kuil ini – sebuah kebiasaan menyentuhkan telapak tangan pada bumi yang baru pertama saya datangi.

Pegunungan Himalaya Bertudung Salju
Pegunungan Himalaya Bertudung Salju

Dan untuk mengikatkan jiwa pada yang hanya ada di Nepal, saya menyediakan dana untuk mengikuti Everest Experience Flight, sebuah kegiatan wisata terbang mengikuti jalur pegunungan Himalaya selama hampir 60 menit. Sebuah pengalaman tak terlupakan penuh gejolak emosi bagi saya yang tak memiliki cukup waktu luang untuk menapaki lereng-lereng pegunungan yang selalu tertutup salju itu. Untunglah saya mendapat tempat duduk paling belakang sehingga tak ada yang melihat bagaimana airmata ini cukup deras mengalir keluar. Dan entah kenapa, sebersit keinginan mendadak menyeruak, apakah saya bisa mendapatkan kesempatan bermalam di Everest Base Camp? Apakah saya bisa memiliki kesempatan melangkahkan kaki di Sagarmatha National Park? Ah semoga saja…

Dan tak lengkap rasanya mengunjungi Nepal tanpa menapaki tujuh lokasi di Kathmandu Valley yang telah dianugerahkan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO: Kathmandu, Patan, Bhaktapur, Swayambunath, Bouddhanath, Pasupathinath dan Changu Narayan. Dan ketika keajaiban-keajaiban menyertai langkah-langkah saya di lokasi itu, seperti melihat Dewi Kumari the Living Goddess, tubuh ini gemetar, dada ini sesak, lidah ini kelu. Sampai perlu menggigit bibir dan mengerjapkan mata yang panas. Tak terhingga bilangan syukur dari hati yang tersungkur atas kebesaran anugerah yang tercurah. Bukankah tidak ada peristiwa yang kebetulan? Apalagi hingga berturut-turut dan berkelanjutan.

Agaknya Yang Maha Kasih kali ini memang sengaja mengajak saya terbang dalam kebahagiaan perjalanan yang selalu dimudahkan olehNya. Walaupun jam tangan memilih waktu yang salah untuk mati karena habis baterenya dan itinerary yang sudah lengkap terupdate ternyata lebih memilih tertinggal di Jakarta, saya terus dapat menikmati setiap perjalanan indah ini. Ternyata Yang Maha Kasih memilihkan itinerary yang lebih cantik daripada yang telah saya buat.

Saya bisa mencapai Pokhara, kota tepi danau yang cantik dengan menggunakan pesawat terbang yang tiketnya baru saya dapatkan dari sebuah kemudahan, karena pada peak season biasanya sangatlah sulit mendapat tiket pesawat dalam waktu singkat. Dan lagi-lagi rangkaian keajaiban menyertai saya, Atas permintaan penumpang lain yang ingin bersama pasangannya, tempat duduk saya dipindahkan dan mendapat tempat duduk di jendela sehingga bisa menyaksikan pegunungan berselimut putih sepanjang penerbangan walaupun saya tidak memesannya. Ditambah pula dengan seorang teman yang bertukar sapa, dia seorang pensiunan tentara Inggeris yang bisa berbahasa Melayu. Siapa sangka di atas langit Nepal, saya tidak usah menggunakan bahasa Inggeris?

Mentari Terbit Menerangi Stupa
Mentari Terbit Menerangi Stupa

Dan di Pokhara, lagi-lagi jiwa saya tersungkur dalam rasa syukur yang tak terhingga karena diberikan kesempatan melihat pemandangan dunia ciptaanNya yang sungguh menggetarkan hati. Saya menyaksikan matahari terbit dengan seakan berada di atas hamparan awan yang menutupi danau, dengan latar belakang pegunungan bertudung salju yang malu-malu mengintip dari balik awan dan di sebelah kanan tampak bangunan stupa di atas puncak bukit berselimut kabut pagi. Kali ini saya biarkan airmata jatuh. Yang terhampar di depan mata adalah negeri khayangan. Inilah surga di bumi.

Rangkaian keajaiban dalam perjalanan untuk saya belumlah putus. Dalam perjalanan menuju Lumbini yang menurut rencana saya lakukan dengan penerbangan, ternyata direalisasikan melalui jalan darat. Yang Maha Mengetahui memang tahu benar kecintaan saya terhadap perjalanan darat. Saya menikmati setiap perjalanan melalui kota-kota dan desa-desa, dengan meliuk-liuk mengitari pegunungan dengan tebing yang sangat tinggi dan lembah serta jurang yang sangat dalam, yang kadang disertai dengan sedikit longsoran disana sini. Cukup mengerikan. Tetapi tak terbantahkan keindahannya, tiba-tiba ada air terjun di pinggir tebing atau sungai yang terlihat jauh di bawah sana meliuk-liuk dengan air yang berwarna tosca kehijauan. Sesuatu yang tidak akan bisa saya lihat bila menggunakan pesawat terbang.

Dan Lumbini, tempat kelahiran seorang Siddharta Gautama yang telah mengubah wajah dunia hingga kini, tetap memberikan keajaiban kepada saya. Hati kembali bergejolak berada langsung di tempat yang dipercaya sebagai lokasi akurat kelahiran Sang Buddha ribuan tahun lalu dan semua itu masih seperti apa adanya. Suara semilir angin terasa membelah kedamaian diantara kelompok peziarah yang sedang mendendangkan kidung puji dan doa di bawah pohon Boddhi. Dan lagi-lagi rasa syukur terucapkan begitu saja ketika saya diberi kesempatan terpercik keajaiban dari kekuatan doa-doa yang dipanjatkan di tempat sakral itu.

Oleh karena itinerary yang datang dari Yang Maha Kuasa ini, maka saya diberi kesempatan untuk mencium harumnya suasana Chitwan National Park dalam perjalanan kembali dari Lumbini ke ibukota. Padahal sama sekali tidak terbayangkan walaupun hanya mencium wanginya saja. Tidak mampir, hanya merasakan sentuhan akan keberadaannya dan itu pun telah saya syukuri dengan sepenuh hati. Juga tempat antara Pokhara dan Kathmandu yang pada awalnya saya ingin datangi tetapi karena keterbatasan waktu, saya harus mencoretnya dari daftar dan Yang Maha Kuasa sungguh memberikan anugerah pada saya untuk merasakan denyut tempat itu, walau hanya sekejap.

Nagarkot, sebuah tempat di puncak bukit di dekat kota Kathmandu, juga menjadi bagian dari perjalanan cinta penuh keajaiban ke Nepal ini. Lembah-lembah berselimut kabut menjadi saksi ketika sang mentari terbit membuka lembaran hari baru. Dan lagi-lagi pegunungan bertudung salju hanya tersenyum simpul dari balik awan.

Dan ketika akhirnya ketika saatnya tiba, ketika pesawat menerbangkanku kembali ke tanah air, rasanya tak ingin saya melepas pandangan dari pegunungan berpuncak putih itu. Walaupun sudah tinggi di atas dataran India, tetap saja saya ingin menghadap belakang. Sepertinya ada yang tak ingin saya lepaskan, belum ikhlas melepas. Saya meyakini, ada perjalanan ke tempat-tempat yang membuat saya merasa nyaman di hati seperti pulang ke rumah dan Nepal adalah salah satunya. Saya telah mengambil keputusan, bahkan sebelum saya sampai ke tanah air, bahwa suatu saat nanti, saya akan kembali ke Nepal. Pasti.

Ya Allah, terima kasih atas perjalanan luar biasa yang Engkau rancangkan untuk saya. Sungguh kurasakan kehadiranMu di tiap saatnya.

<><><><>

Tulisan ini merupakan rangkuman perjalanan saya sebagai female solo-traveler ke Nepal awal bulan November 2014 ini, yang akan saya bagi menjadi ke banyak tulisan, termasuk berbagai peristiwa yang mengetarkan jiwa yang saya alami disana sehingga saya memasukkannya sebagai keajaiban-keajaiban perjalanan.

Seri Perjalanan Nepal

  1. Namaste Nepal, Dhanyabaad
  2. Salam Perkenalan Pertama di Kathmandu
  3. Suatu Malam di Swayambhunath
  4. Kuliner Nepal de Lezatos Dal Bhaat
  5. Everest Mountain Flight – Memeluk Himalaya dari Jendela (1)
  6. Everest Mountain Flight – Ketika Setitik Puncak Everest Tersibak Untukku (2)
  7. Meniti Jalan Cinta di Durbar Square Kathmandu
  8. Memandang Dewi Kumari The Living Goddess di Jendelanya
  9. Bertemu Pengagum Soekarno di Basantapur
  10. Bertabur Legenda di Patan Durbar Square
  11. Kematian Yang Membahagiakan di Pashupatinath
  12. Pemandu, Warna Lain di Kuil Pashupatinath
  13. Bertemu Guardian Angels di Changu Narayan
  14. Kalung Bunga Cinta di Haribodhini Ekadashi
  15. Menyapa Sore di Bhaktapur Durbar Square
  16. Menyambut Malam di Taumadhi Square
  17. Terjebak Lorong Waktu Menuju Dattatreya
  18. Berlimpah Anugerah Menuju Pokhara
  19. Merasakan Rehat di Surga Bumi
  20. Jalan-jalan di Pokhara, The Lakeside City
  21. Pokhara to Lumbini Overland
  22. Menapak Pagi di Kawasan Monastik Lumbini
  23. Khata – Syal Putih dari Lumbini
  24. Overland (Again), Lumbini – Chitwan – Kathmandu
  25. Nagarkot – Kisah Makhluk Ajaib dan Lembah Halimun
  26. Sampai Kita Berjumpa Lagi, Himalaya