Nepal: Menyapa Sore di Bhaktapur Durbar Square


Sebelum berangkat, seorang teman kantor yang pernah ke Nepal merekomendasikan untuk menginap di Bhaktapur minimal semalam, karena menurutnya saya pasti akan suka. Kenyataannya… bukan suka, melainkan suka banget, sangat teramat suka sekali! Hehe..

Bisa jadi karena suasana hati saat itu sedang bahagia level maksimum, -setelah mengalami keajaiban tak henti sejak dikawal guardian angels kemudian mendapat air suci serta sekalung bunga bersamaan dengan festival Haribodhi Ekadashi di kuil kuno Changu Narayan-, sehingga tak ada rasa keberatan ketika taksi berputar-putar tak jelas di lorong-lorong sempit Bhaktapur untuk mencapai penginapan. Saya memang menyerahkan sepenuhnya kepada pengemudi setengah baya itu untuk menemukan alamat penginapan walau seingat saya letaknya tak jauh dari Durbar Square ataupun Pottery Square. Saya hanya duduk manis penuh kekaguman menyaksikan semua keindahan arsitektur khas Nepal melintas silih berganti di hadapan mata saat mobil memasuki kawasan lama Bhaktapur. Kadang kepala saya berputar tak ingin melepas pandangan indah, tapi yang lebih indah memasuki wilayah pandang. Saya panik, ini kawasan luar biasa untuk dijelajahi. Lalu ketika akhirnya mobil berhenti di depan penginapan kecil, saya langsung keluar lalu berdiri menjejakkan kaki di bumi Bhaktapur. Bahagia, tak percaya.

Tak bisa tidak, semua keindahan itu harus menunggu urusan check-in dan lain-lainnya. Jelas sekali saya tak ingin berlama-lama di penginapan walaupun dengan penuh kesadaran saya harus mengurus kelanjutan perjalanan di Nepal. Kepada petugas penginapan itu, saya  minta bantuan pengurusan tiket penerbangan ke Pokhara untuk keesokan harinya karena saya ingin menikmati Bhaktapur lebih lama. Bahkan sambil menghubungi agen perjalanan, dia sigap memberikan penjelasan arah tempat wisata yang telah berabad berdiri dalam diam itu. Setelah semuanya selesai, segera saja saya mengawali perjalanan di kawasan kuno itu.

Bhaktapur Durbar Square From Western Gate
Bhaktapur Durbar Square From Western Gate

Bhaktapur, -atau dengan lidah lokal sering disebut dengan nama Bhadgaon atau Khwopa-, memiliki makna kotanya para bhakta, para pemuja. Bhaktapur yang terletak sekitar 13 km arah Timur Kathmandu modern itu, pernah menjadi ibukota Kerajaan Malla berabad-abad lampau.

Saat itu saya melangkah di lorong-lorong antara bangunan rumah hingga akhirnya muncul di Bhaktapur Durbar Square, sebuah kawasan yang menjadi bagian dari UNESCO World Heritage Sites di Nepal. Inilah lapangan terbuka yang sudah terhampar sejak berabad lalu dan berhadapan dengan istana yang terkenal dengan 55 jendelanya. Sejuk udara November memberi rasa berbeda. Tetapi entah kenapa saya ingin melewatkan istana Raja, -yang dulu menjadi pusat kekuasaan hingga saat ditaklukkan oleh Raja Prithvi Narayan Shah pada abad-18-, bisa jadi karena teringat Rupee yang kian menipis.

Saya melihat ke sisi yang lain. Jika sebagian masyarakat China percaya angka empat sebaiknya dihindari, tidak demikian dengan para pemuja di Bhaktapur. Di bagian barat Durbar Square terlihat empat kuil yang dikenal dengan nama Char Dham (Char berarti empat). Bagi penganut Hindu, ibadah ke kuil-kuil ini merupakan ziarah mini jika belum mampu pergi ke Kuil Char Dham yang asli di India Utara. Kuil Char Dham terdiri dari Kuil Gopinath yang bergaya tradisional Nepali penuh image Dewa Vishnu lengkap dengan Garudanya yang merupakan kuil terbesar dari kelompok Char Dham ini. Lalu Kuil Rameshwar dengan empat pilar beratap putih dekat gerbang Durbar Square serta kuil kecil Badrinath yang sakral untuk Dewa Vishnu dalam inkarnasinya sebagai Narayan. Kuil keempat adalah kuil Kedarnath yang didedikasikan untuk Dewa Shiva. Dalam gempa 2015 lalu hanya bagian atas kuil yang terbuat dari batu bata merah yang rusak walaupun kuil ini berhasil dibangun lagi setelah runtuh akibat gempa tahun 1934.

Masih di sekitar gerbang Barat, di depan sekolah terdapat Ugrachandi dan Bhairab, sebuah karya abad-17 yang menggambarkan Dewa Shiva dan Dewi Parwati. Namun dibalik keindahannya, terdapat kisah mengerikan yang membuat sakit perut. Sebagaimana penguasa-penguasa keblinger jaman dulu yang ingin hasil karya semasa kekuasaannya abadi, konon tangan pembuat Ugrachandi dan Bhairab sengaja dipotong agar ia tak dapat membuat duplikasinya! Whew…

Sore mulai menghias langit Barat saat saya menyusuri dinding Istana. Sayang sekali karena National Art Gallery saat itu sedang direnovasi, hingga saya hanya bisa mengabadikan Vishnu sebagai Narsingha di salah satu dekorasi gerbangnya. Namun apa yang lebih cantik melihat gerbang emas istana yang dikenal dengan sebutan Sun Dhoka (Golden Gate) berkilau tertimpa matahari sore? Dihiasi dewa-dewi Hindu di bagian atas, gerbang yang dibuat oleh Raja Bhupatindra Malla ini tampak sangat menonjol di dinding Istana. Detil hiasannya begitu mengagumkan, Garuda yang bertarung melawan Naga di puncak lengkung gerbang dan di bawahnya terpampang Dewi Taleju Bhawani berwajah empat bertangan ratusan sebagai dewi pelindung dinasti Malla. Melalui Sun Dhoka ini pengunjung bisa memasuki halaman dalam Istana 55 jendela.

Sun Dhoka - Garuda and the 4 faces Taleju Bhawani
Sun Dhoka – Garuda and the 4 faces Taleju Bhawani

Kemudian di depan Istana tampak menjulang kolom dengan Raja Bhupatindra Malla bersimpuh di puncaknya dengan tangan mengatup di depan dada menghadap Kuil Taleju yang ada di halaman dalam Istana. Sebuah monumen yang mengingatkan saya pada monumen serupa di Kathmandu dan Patan Durbar Square. Semua ukurannya sama, relatif kecil untuk ukuran seorang Raja bahkan saya harus menggunakan zoom untuk mengabadikannya dalam foto. Bisa jadi itulah makna sebuah kerendahhatian seorang penguasa, bukan dirinya yang diperbesar untuk dipuja-puja melainkan hal lain yang lebih berguna bagi banyak orang.

Bhupatindra Malla's Column, Bhaktapur
Bhupatindra Malla’s Column, Bhaktapur

Selemparan batu dari kolom Raja terdapat kuil Vatsala Durga. Kuil indah, saingannya Krishna Mandir di Patan ini didirikan oleh Raja Jagat Prakash Malla pada abad-17. Mengikuti aturan dan arsitektur kuil di India, kuil cantik ini sungguh memanjakan mata dengan hiasannya yang detil. Teringat saat matahari sore menerpa permukaan kuil, tak bosan-bosan saya mengabadikannya dari beberapa sudut. Keindahannya yang menjadi ikon Bhaktapur Durbar Square, -yang menjadi pusat pandangan mata wisatawan yang datang-, meluluhlantakkan hati saya karena kini keindahannya hanya tinggal kenangan sejak gempa April 2015 meruntuhkannya rata dengan tanah. *sedih

Dan di atas dua pelataran di dekatnya terdapat dua genta. Yang ukurannya lebih besar, Taleju Bell, didirikan oleh Raja Jaya Ranjit Malla pada abad-18 untuk mengingatkan waktu ibadah pagi dan sore di Kuil Taleju. Genta yang lebih kecil diletakkan di depan kuil Vatsala Durga yang dikenal sebagai Genta Menyalak (Barking Bell). Konon, genta kecil yang didirikan oleh Raja Bhupatindra Malla sebagai pembuktian mimpinya ini bila dibunyikan mampu membuat anjing-anjing menggonggong. Sempat terlintas di benak untuk membunyikannya tapi saya takut nanti anjing-anjing itu jadi fans mengikuti kemana saya pergi hehe..

Saya melanjutkan langkah menuju sebuah pendopo yang cukup lapang yang dikenal sebagai Chyasilin Mandap melengkapi kuil Vatsala Durga. Pendopo ini dijaga sepasang singa mengkilat yang dibuat dengan sangat indah, menjadi tempat istirahat saya ketika kaki sudah lelah menikmati Durbar Square.

Lions as the guardians of Chyasilin Mandap
Lions as the guardians of Chyasilin Mandap

Masih di sekitar Istana, di sudut tenggara berdiri Kuil Siddhi Lakshmi yang dibangun pada abad-17. Dihiasi dengan penjaga-penjaga yang berpasangan yang berbeda jenis, yang paling depan penjaga berwajah Oriental yang lucu dan memegang anak dan anjing, undakan berikutnya dijaga sepasang kuda berhias, lalu badak yang juga berhias, kemudian singa yang berwajah manusia dan entah apa lagi yang pastinya memiliki makna dalam karena seperti biasanya, setiap patung penjaga itu memiliki kisahnya tersendiri.

Dan akhirnya saya berdiri di depan dua patung singa yang tampak menyolok namun janggal di tengah-tengah lapangan terbuka itu. Bertangga tetapi tidak ada apa-apa di belakangnya. Ada yang mengatakan bahwa sebelumnya terdapat kuil indah di belakangnya tetapi telah rata dengan tanah akibat gempa bumi puluhan tahun atau berabad sebelumnya. Namun mungkin yang lebih masuk akal, kedua patung singa itu memang sengaja dibuat sebagai penjaga sebelum memasuki kawasan istana dari arah Timur. Saya tidak tahu kebenarannya, tapi yang jelas keduanya sangat menarik! Lagi pula singanya seksi hehe…

Bhaktapur Durbar Square from Eastern Gate
Bhaktapur Durbar Square from Eastern Gate

Di sebelah Utara patung singa terdapat kuil Fasidega yang memiliki pelataran tinggi yang luas dengan bangunan berwarna putih di atasnya. Kuil yang didedikasikan untuk Dewa Shiva ini, memiliki undakan bertingkat yang masing-masing dijaga oleh pasangan gajah, singa dan sapi yang sangat keren. Dan di bagian dalam bangunan puncak terdapat sebuah lingga sebagai lambang Dewa Shiva. Sayangnya, bangunan yang berwarna putih telah runtuh dalam gempa April 2015 meninggalkan pelataran dan patung-patung penjaganya. Konon sebelum runtuh, kuil Fasidega ini dapat terlihat dari kuil Changu Narayan karena puncak putihnya (tetapi yang jelas saya tidak dapat melihatnya saat berada di Changu Narayan, karena bangunan serupa Kuil Fasidega itu tidak hanya satu!)

Kaki melangkah terus menyusuri jalan-jalan di Bhaktapur ditemani sore yang manis. Tanpa terasa saya telah melewati Tadhunchen Bahal yang kini menjadi tempat tinggal Dewi Kumari dari Bhaktapur, the little princess, the living goddess. Kali ini saya melewatkan tempatnya, bisa jadi melewatkan kesempatan berpandang mata, berbahasa kalbu dengannya. Tetapi tak ada penyesalan karena saya telah melakukannya dengan Dewi Kumari di Kathmandu.

Pashupatinath Temple
Pashupatinath Temple – Can you see the erotic panels?

Saya kembali kearah istana menyusuri beranda lorong kayu yang berukir melengkung dan berhenti di depan sebuah kuil tua di sebelah selatan dari Kuil Vatsala Durga. Terkenal dengan nama Kuil Pashupatinath, -karena menjadi replika kuil di Pashupatinath itu-, berdiri dengan megahnya. Kuil yang didirikan oleh Raja Yaksha Malla pada abad-15 ini didedikasikan untuk Dewa Shiva yang diperkuat dengan kehadiran arca Nandi di sebelah Barat, sang bhakta yang menjadi kendaraan setia Dewa Shiva. Kuil Hindu megah yang tertua di kawasan ini bernuansa Tantra sehingga terlihat jelas panel-panel erotis tanpa harus memanjangkan leher dan membelalakkan mata. Panel erotis yang terpampang jelas di sekeliling kuil seakan memberi konfirmasi bahwa aktivitas seksual bukanlah hal yang tabu, bahkan konon lebih bersifat spiritual yang hakiki atas penyatuan jiwa manusia dengan alam semesta. Namun terlepas dari kebenarannya, faktanya adalah semua panel erotis berada di bagian luar kuil. Sebuah makna yang kebenarannya bisa diterima banyak orang, bahwa semua urusan keduniawian dan nafsu sudah seyogyanya ditanggalkan sebelum melakukan ibadah, sesederhana itu. Bukan begitu?

Nandi the Bull
Nandi the Bull

Langit Barat Bhaktapur semakin oranye, kembali saya melanjutkan langkah membiarkan diri ini get-lost diantara lorong-lorong sempit Bhaktapur. Alunan musik Om Mani Padme Hum terdengar samar dari dalam kios, berpadu harmonis dengan alunan Bhajan yang juga terdengar dari kios yang lain. Tak ada yang tersinggung bermuka garang, disini Hindu Buddha berdamping mesra, sama-sama mengalunkan musik puja dan puji, menawarkan damai bahagia…

Nepal: Bertabur Legenda di Patan Durbar Square


Mengunjunginya jelang sore, hanya sehari sebelum Haribodhini Ekadashi, -salah satu hari untuk upacara kepada Dewa Wisnu-, Patan Durbar Square dipenuhi oleh warga yang akan beribadah yang saat itu berpusat di bawah tenda di bagian depan. Tapi berada di tengah kota yang punya nama lain Lalitpur, yang artinya Kota yang Cantik ini, memang benar-benar mengesankan walaupun gempa besar berkekuatan 7.8 bulan April 2015, -beberapa bulan setelah perjalanan saya-, telah meluluhlantakkan sebagian besar bangunan utama bersejarah yang tercatat sebagai bagian dari UNESCO World Heritage Site di Lembah Kathmandu itu. Wajah cantik Patan berubah muram karena ribuan nyawa tercabut dalam sekejap dan banyak bangunan bersejarah warisan dunia yang tak ternilai harganya itu tak lagi berdiri di situ.

Patan Durbar Square in the afternoon
Patan Durbar Square in the afternoon

Patan memang merupakan kota kuno, konon sudah dikenal sejak Dinasti Kirat pada abad 3 SM dan dikembangkan oleh Dinasti Licchavi pada abad 6, kemudian dilanjutkan oleh Raja-Raja Malla. Bahkan konon Raja Ashoka dari India, -karena cintanya pada Buddha-, membangun stupa di empat arah mata angin, -simbol dari Dharma Chakra-, masing-masing di wilayah Pulchowk untuk arah Barat, di Ebahi Tol  untuk Timur, di Lagankhel  untuk Selatan dan Teta untuk Utara. Keberadaan semua stupa itu seakan memberi konfirmasi bahwa Patan merupakan salah satu kota tua di Lembah Kathmandu.

Saat saya menjejakkan kaki disitu, mentari jelang sore itu menyinari dengan cantiknya ke seluruh kawasan Patan Durbar Square yang berarsitektur Newari dan berpusat pada bangunan Istana Kerajaan serta berbagai kuil yang bersisian dengan Istana. Cukup membuat gerah, tetapi keindahannya tak mampu membuat saya berpaling dari berpanas-panas demi untuknya.

Kisah Jaya Wijaya dan soal Sati 

Kuil cantik yang disebut Chyasim Deval Krishna ini adalah bangunan pertama yang mengucapkan selamat datang kepada saya setibanya di Patan Durbar Square. Penuh kekaguman saya mengamati kuil yang didirikan puteri Raja Yognarendra Malla pada tahun 1723.  Bentuknya yang oktagonal dan mengerucut ke atas dengan kubah-kubah kecil di sisi simetrisnya, -serupa kuil-kuil Shikara di India-, terlihat sangat berbeda dibandingkan kuil-kuil tradisional yang bergaya Newari, apalagi seluruh kuil yang terdiri dari 3 lantai ini terbuat dari batu. Lantai pertamanya memiliki beranda berkolom lengkung yang mengelilingi kuil. Sungguh cantik!

Di depan kuil cantik ini, duduk dua patung singa penjaga yang dikenal dengan nama Jaya – Wijaya yang langsung mengingatkan saya pada kisah Mahabharata ketika Krishna membunuh Shishupal dengan Cakra Sudharsana-nya dalam acara Rajasuya Yudhistira, sebuah kisah yang memiliki makna dan sudut pandang bertingkat, yang mengajarkan untuk tidak langsung menghakimi secara hitam putih pada sebuah peristiwa.  Adakah yang ingat kaitannya?

Tapi sungguh memilukan! Upacara ritual tidak pernah dilakukan di kuil Krishna ini karena konon dilatari kisah tradisi heroik puluhan perempuan yang memilih melakukan sati atau bakar diri ketika berlangsung kremasi Raja Yognarendra yang mangkat. Mengetahui ini, walau mentari masih terang benderang, saat itu saya langsung bergidik.

Dan hanya beberapa langkah dari kuil Chyasim Deval Krishna, ada sebuah pelataran yang menjadi fondasi dari sebuah genta yang besar, yang disebut Genta Taleju (Taleju’s Bell) dan didirikan pada tahun 1736 oleh Raja Vishnu Malla. Dulu, genta ini dibunyikan saat rakyat ingin mengajukan keluhan kepada Raja, namun sekarang dibunyikan hanya setahun sekali saat festival penting. Dan konon…. saat gempa April lalu genta ini berdentang terus menerus. Bisa jadi karena bumi bergoyang, genta jadi berbunyi atau memang ada orang yang sengaja membunyikannya kan?

Di bagian lain, di sebelah Timur Patan Durbar Square, berdiri Royal Palace yang dindingnya terbuat dari batu bata merah dan bergaya arsitektur Newari serta memiliki pintu-pintu masuk yang berbeda untuk masuk ke halaman-halaman dalam, yang terdiri dari Sundari Chowk, Mul Chowk dan Keshavnarayan Chowk (Chowk adalah halaman dalam). Dan tak beda dengan bangunan serupa di Katmandu, bangunan-bangunan di kompleks Istana Raja yang rata-rata dibangun pada abad 17 ini, memiliki lantai-lantai yang bertingkat sehingga dapat memantau seluruh aktivitas di Durbar Square. Yang terbesar adalah Kuil Degu Taleju dengan lima lantai beratap tiga tingkat yang dihiasi oleh genta-genta kecil di sekeliling pinggiran atap yang berdenting terkena tiupan angin. Di bagian agak dalam berdiri Kuil Taleju yang atapnya menyerupai lingkaran dan juga dihiasi genta-genta kecil di sekeliling pinggiran atap. Entah kenapa, tiba-tiba saya terbayang kalau malam hari yang gelap dan sepi tanpa angin, tiba-tiba ada bebunyian genta-genta, waduuh…

Patan Royal Palace
Patan Royal Palace

Kuil-Kuil Historis Ratusan Tahun

Berseberangan dengan tembok Istana, berdiri kuil Hari Shankar yang kuno berusia lebih dari 300 tahun yang didirikan oleh putri Raja Yognarendra Malla. Kuil penuh ukiran ini merupakan tempat ibadah yang didedikasikan kepada dewa yang diwakili setengah Wisnu dan setengah Siwa. Yang menarik, struktur atap kuil diukir sangat indah walaupun, -menurut beberapa sumber-, penggambarannya berupa penyiksaan makhluk di berbagai tingkat neraka. Hiiii…. Saya cukup menyesal juga tidak memperhatikan dengan lebih teliti karena tidak merasa nyaman dengan mata-mata yang memandang.

Sepasang patung gajah yang sedang duduk menghadap Royal Palace menghiasinya sebagai penjaga gerbang kuil. Saya tak akan pernah lupa keindahan sinar mentari sore yang menerangi kolom-kolom kayu penuh ukiran itu dan tak mampu membayangkan bagaimana cara mengembalikan nilai historis ratusan tahun yang hilang dalam sekejap karena kuil ini telah runtuh, meninggalkan sang gajah di tempatnya.

Sedikit melangkah ke Utara, terdapat Vishnu temple yang dibangun pada akhir abad-16 dari batu bata kokoh berbentuk sikhara yang digunakan untuk melakukan pemujaan terhadap Narasimha, reinkarnasi ke empat Dewa Wisnu sebagai manusia berkepala singa yang membinasakan Hiranyakashipu. Di hadapannya berdiri sebuah kolom yang di puncaknya terdapat patung Raja Yognarendra Malla sedang bersimpuh menghadap Royal Palace dengan perlindungan Naga. Patung Raja tampak berkilau terpapar sinar mentari sore , indah sekali.

Tetapi dalam gonjang-ganjing lapisan tanah akibat gempa besar tahun lalu, Vishnu temple mampu tegar bertahan namun tidak demikian dengan patung Raja Yognarendra Malla yang jatuh tergeletak di permukaan tanah di depan Vishnu Temple.

Selemparan baru darinya, berdiri Kuil Char Narayan atau disebut juga dengan Kuil Jagannarayan yang cantik. Kuil dua lantai yang dibangun pada tahun 1565 ini merupakan kuil tertua di Durbar Square dan penuh ukiran rumit mahakarya perajin Newari. Waktu saya berkunjung ke tempat itu hanya sehari sebelum Haribodhini Ekadashi yang merupakan salah satu hari upacara untuk Dewa Wisnu, sehingga tak heran kuil Char Narayan ini ramai oleh umat yang akan beribadah.

Namun sayang sekali, karena banyak ditopang oleh kayu dengan dasar bata merah, kuil berusia 4,5 abad ini runtuh, rata dengan tanah saat gempa April tahun 2015 lalu. Walaupun nilai historis ratusan tahun hilang dalam sekejap, tetapi berita baik tentang kekuatan budaya Nepal datang dari kuil ini. Dua hari setelah runtuh seluruh benda berharga di dalamnya dapat diselamatkan, kemudian semua reruntuhan dibersihkan dalam seminggu serta sebulan setelah gempa di tempat yang sama telah dapat dilakukan upacara peribadatan (puja) walaupun hanya di tempat terbuka tanpa bangunan pelindung. Bukankah Yang Maha Kuasa menerima semua doa yang disampaikan dengan tulus?

Dari Mimpi Bertemu Dewa Lalu Meraih Kemenangan

Dan serupa dengan kuil Krishna kembarannya di dekat pintu masuk Durbar Square, di sebelah Kuil Char Narayan berdiri  Krishna Mandir, yang tepat di depannya terdapat Garuda sedang duduk bersimpuh di puncak sebuah kolom. Di tahun 1636 Raja Siddhi Narasimha Malla mendirikan kuil yang seluruhnya terbuat dari batu ini, konon berdasarkan mimpi melihat Dewa Krishna berdiri di lokasi tempat kuil berdiri saat ini. Dan tidak hanya itu, legenda tentang kecintaan dan kebaktian Sang Raja terhadap Dewa Krishna kian digaungkan. Sepuluh tahun sejak kuil berdiri, Raja Siddhi Narasimha Malla dapat memenangkan perang melawan kerajaan tetangga karena berseru memanggil nama Dewa Krishna untuk menghabisi musuhnya. Bagi mereka yang percaya, Dewa Krishna merupakan sosok tempat kemenangan selalu berpihak kepadanya.

Terlepas dari cerita itu, kuil yang eye-catching ini memiliki hiasan cerita Mahabharata dan Ramayana.  Di lantai pertama kuil berwarna abu-abu ini bisa dilihat kisah Mahabharata sedangkan cerita Ramayana ada di lantai dua. Dua lapis penjaga gerbang kuil tampak menghiasi bagian pintu masuk, sepasang diantaranya berbentuk singa. Hanya saja kalau mau datang ke kuil ini, perlu diperhatikan waktunya. Jika suka dengan keramaian dan festival, coba datangi saja ketika Janmashtami, yaitu saat peringatan kelahiran Dewa Krishna. Pasti tempat ini penuh dengan manusia yang melakukan persembahan dan perayaan.

Perjalanan menyusuri kuil belum berakhir. Di sebelah Krishna Mandir berdiri Kuil Vishwanath yang dijaga oleh sepasang gajah yang berdiri. Sebagai kuil yang didedikasikan kepada Dewa Siwa, kuil dua lantai ini memiliki lingga di ruang dalam yang hanya bisa disaksikan oleh penganut Hindu yang akan beribadah. Selain itu kuil yang dibangun oleh Raja Siddhinarasimha Malla pada awal abad-17 ini, dihiasi dengan ukiran rumit pada kayu-kayu penyangga yang bernuansa erotis seperti kuil-kuil Siwa di India. Saya malu tapi mau lihat… hihihi…

Dan tentu saja seperti juga Garuda menemani Kuil Dewa Wisnu, pasti ada Nandi yang menemani Kuil Dewa Siwa. Saya menemukan sang bhakta di bagian barat dari kuil, yang menurut mata saya bentuknya tidak serupa dengan yang saya lihat di Indonesia.

Tiga Jendela Emas di Kuil Bhimsen

Terletak pada wilayah ujung Durbar Square, kuil Bhimsen yang terdiri dari 3 lantai dan dijaga sepasang singa berambut ikal ini memiliki tiga jendela berlapis emas yang sangat indah. Mudah sekali ditemukan karena jendela yang saling berhubungan ini dapat dilihat pada dinding yang menghadap timur atau Istana. Kuil yang didirikan oleh Raja Srinivasa Malla tahun 1680 ini, didedikasikan kepada dewa yang mengatur urusan bisnis, perdagangan dan karya seni sesuai tradisi Newari. Uniknya, sesuai peruntukannya, tepat di depan kuil ini terhampar pasar yang menjual berbagai karya seni dan keperluan sehari-hari.

The Golden Windows of Bhimsen Temple
The Golden Windows of Bhimsen Temple

Bersebelahan dengan pasar tadi, masih di seberang kuil Bhimsen terdapat Manga hiti, sebuah tempat kuno pengambilan air yang masih berfungsi hingga kini, yang letaknya satu lantai lebih rendah dari permukaan tanah dan tepat berbatas dinding dengan Bangunan Istana yang kini digunakan sebagai Museum Patan. Penduduk sekitar dapat mengambilnya melalui tiga buah pancuran cantik berhias makara. Sambil beristirahat, saya menyaksikan penduduk lokal maupun turis mengambil air di Manga hiti dari salah satu dari dua buah bangunan yang disebut dengan Mani Mandap, yang terletak di awal tangga turun dan difungsikan untuk memantau proses pengambilan air. Sayang sekali kedua Mani Mandap tempat saya duduk beristirahat ini telah tak ada lagi di tempatnya, runtuh terkena gempa April lalu.

*

Tak sadar waktu berlalu sangat cepat, sore sudah datang dan saya harus melanjutkan kunjungan ke tempat wisata lainnya. Saya mempercepat langkah meninggalkan kawasan cantik itu menuju tempat parkir sambil melongok-longok mencari mobil sewaan saya. Ampuuun… Saya lupa mencatat pelat nomor mobilnya! 🙂

Meniti Jalan Cinta di Durbar Square Kathmandu


Apabila cinta memanggilmu ikutilah dia,

Walau jalannya terjal berliku-liku.

Dan apabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah,

Walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.

Saya memang langsung teringat sepenggal keindahan kata-kata Kahlil Gibran ketika harus membuka kembali album perjalanan di Durbar Square Kathmandu. Perjalanan dengan semua keindahan dan keluarbiasaan cinta yang saya alami yang kenyataannya saat ini situasinya sudah sangat jauh berbeda. Menjadikan semua langkah sepanjang jalan menjadi sebuah kenangan yang amat dalam, membahagiakan sekaligus memedihkan.

Kasthamandap

Berawal dari sedikit keraguan akan arah ke Durbar Square, Cinta berbisik pelan agar saya tetap berjalan lurus memasuki kawasan UNESCO World Heritage itu lalu membeli tiket seharga 750NPR. Saya memulainya dari Kasthamandap, sebuah kuil tua seribuan tahun yang berada di sebelah barat daya Durbar Square yang tidak banyak dikunjungi wisatawan saat itu. Kayu-kayu tua yang menawan dengan dominasi warna merah ini menjadi saksi perjalanan waktu selama berabad-abad. Pemuja datang dan pergi, mempersembahkan bunga warna kuning yang dijual di pintu-pintu masuk, juga menjadi saksi atas puja dan puji yang dilantunkan. Pada tempat-tempat puja terlihat jelas titik-titik merah yang merupakan jejak jari pengabdian para pemujanya.

Bercerita atau melihat foto Kasthamandap, bagaikan pedang yang tersembunyi di sayap, kenyataan saya pernah menjejakkan kaki di bangunan cantik yang kini rata dengan tanah akibat gempa hebat April lalu itu, terasa melukai perlahan, terasa pedih diantara kenangan yang begitu indah.

Trailokya Mohan Narayan Temple

Pedang tak kasatmata yang tersembunyi di balik sayap itu kian menggores mengikuti gerak langkah saya menuju bangunan tinggi besar berpuncak tiga, yang saat itu mulai dipenuhi manusia dan bendera warna warni untuk persiapan perayaan untuk Sang Narayan. Cinta menyelimuti saya yang berteduh di dalam bayang kuil saat menikmati keindahan kuil favorit saya berusia lebih dari 3 abad ini. Berbagai panel mengenai inkanarsi Vishnu menghiasinya. Kuil ini terlihat begitu megah dan mencolok di Durbar Square yang lapang. Saya menyentuhnya, duduk di undakannya, ikut bernyanyi dalam bahagia bersamanya.

Walaupun berbagai pertanyaan tak percaya terlontar, tanpa tedeng aling-aling Cinta mencabut seakar-akarnya. Pedang tak kasatmata itu sekali lagi menebas kenangan indah saya di kuil Trailokya Mohan Narayan. Airmata yang jatuh pun tak akan mengembalikan kuil yang tak tampak lagi sekarang, sudah runtuh, hilang, musnah, meninggalkan undakannya yang tinggi. Salah satu icon Durbar Square yang tidak akan sama lagi.

3 Icons Durbar Square  in Memoriam: Trailokya Mohan Narayan - Maju Dega - Narayan temple
3 Icons Durbar Square in Memoriam: Trailokya Mohan Narayan – Maju Dega – Narayan temple

Dan rasanya ingin terbang kesana sekarang juga memeluk dan menemani Sang Garuda yang duduk bersimpuh di dekat kuil yang runtuh. Satu yang tetap anggun berdiri dari gempa April lalu. Satu penampakan yang tak biasa, Garuda yang dibentuk sangat indah itu tetap duduk tanpa ada lagi Kuil Narayan. Kesetiaan dan pengabdian berabad yang sempat saya saksikan, yang saya rasa dalam cinta, tertebas dalam sekejap.

Garuda, yang tetap setia
Garuda, yang tetap setia

Tetapi bukankah cinta cukup untuk Cinta? Bukankah itu tetesan darah sukarela penuh sukacita? Sebagaimana ia menebas, demikian pula ia menghadirkan. Hanya dalam hitungan langkah dari Garuda, berdiri anggun kuil Bimaleshwar yang terbuat dari batu, selamat dari gempa yang meluluhlantakkan Durbar Square. Bentuknya yang berkubah melengkung penuh dengan ornamen di pinggir atap dan bagian atas pilar-pilarnya, seakan menemani kesendirian Garuda. Yang sebelumnya berada di bawah bayang Trailokya Mohan Narayan yang megah, kini menjadi kawan setia baru Sang Garuda.

Bahkan Cinta pun menggoda saya. Tak jauh dari Sang Garuda, saat itu duduklah seorang sadhu yang ingin sekali saya potret, tetapi nampaknya sang sadhu dapat membaca pikiran saya. Dia menatap tajam seakan tak memperbolehkan saya mengambil fotonya. Sambil tersenyum saya paham artinya, momen yang tak boleh dimiliki. Saya melepas keinginan itu dan melanjutkan perjalanan. Sesederhana itu.

Kumari Ghar

Waktu berjalan terus, jalan Cinta di Durbar Square masih panjang. Cinta berbisik agar saya berbalik badan dan masuk melalui pintu di belakang saya berdiri. Ah, lagi-lagi ini adalah hadiah Cinta karena saya melangkah ke halaman Istana Dewi Kumari yang pintunya dijaga oleh dua patung singa yang besar. Di halaman istana ini, dengan berselimutkan Cinta saya bertukar pandang dengan Sang Dewi yang tampil di jendelanya. Sebuah kesempatan yang tak banyak didapat wisatawan. Kenangan yang membuat tetap merinding karena selimut Cinta itu seakan membalut seluruh istana Dewi Kumari, melindunginya dan memberinya kedamaian dari kehancuran gempa besar lalu.

Gaddi Baithak

Dari Kumari Ghar, Cinta membebaskan saya melihat-lihat lapak yang digelar para pedagang tetapi tak ada yang menarik hati. Saya kembali kearah Durbar Square dan melihat gedung modern bergaya Eropa yang kelihatannya merusak harmoni arsitektur sekitar yang padat dengan gaya tradisional Newari. Sempat terlintas pikiran absurd di benak saya, mengapa bukan gedung Gaddi Baithak ini yang runtuh saat gempa, mengapa harus kuil-kuil megah itu? Tetapi pada detik yang sama, Cinta memberi tanda untuk tidak menghakimi yang terjadi agar masa kini dapat terus memeluk masa lampau sekaligus merangkul masa depan dengan penuh kerinduan.

Durbar Square

Langkah kaki saya berhenti di tengah-tengah Durbar Square, menghadap tiga kuil yang berdiri dengan megah. Saya berdiri dengan diam dalam Cinta, terpukau dan merinding berada di tempat itu merasakan keagungan masa lalu. Bagaikan film berputar cepat, tempat ini penuh keluarbiasaan.

Di tengah Durbar Square yang tidak akan sama lagi
Di tengah Durbar Square yang tidak akan sama lagi

Dan… sekejap mata terasa panas menyadari ketidakhadiran ketiga kuil megah itu lagi. Yang tertinggal hanya undakan-undakannya saja. Durbar Square yang kini tidak akan pernah sama lagi walaupun saya tahu Cinta tetap hadir di sana dan selamanya.

Cinta juga yang menguatkan untuk tetap bisa melangkah menyusuri jalan-jalan penuh kenangan, melewatkan Kuil Saraswati, kuil Vishnu dan genta besar Taleju di sebelah kiri menuju monument UNESCO World Heritage yang didirikan untuk mengingatkan pengunjung bahwa kawasan ini terjaga oleh dunia internasional. Saya sejenak berhenti dan mengabadikan monumen itu.

Kemudian berbalik mengamati merpati-merpati yang memperebutkan makanan yang disebar oleh pengunjung. Kepak sayapnya langsung terbuka terbang terbirit-birit ketika anak-anak Nepali menghambur mengejar kerumunan merpati. Udara Durbar Square seketika riuh dengan kepak merpati yang diiringi senyum lebar dan tawa anak-anak yang tak henti berlari. Pengunjung yang melihat ikut tersenyum. Bahkan mungkin patung Pratap Malla yang duduk diatas tiang di pelataran itu pun ikut tersenyum. Kegembiraan yang selalu menghias Durbar Square.

Namun tak pernah lepas dari ingatan apa yang saya lihat di TV maupun Youtube, keriuhan kepak merpati yang terbang mendadak itu jugalah mengiringi gempa besar yang diikuti dengan suara teriakan manusia dan dentuman kuil-kuil megah yang runtuh serta debu yang langsung mengangkasa. Saya sungguh berharap masih ada bahagia dan senyum anak-anak yang mengejar kepak merpati itu sekarang di Durbar Square.

Kuil Taleju & Ujian Kesabaran

Jelang Kuil Taleju, saya berkesempatan mengabadikan sebagian arak-arakan perayaan yang melantunkan pujian Hare Krishna dan membawa bendera warna warni dari Kuil Trailokya Mohan Narayan. Bagaimana bisa saya melupakan perayaan pertama yang saya alami di Nepal dan saya begitu dekat dengan mereka?

Arak-arakan Perayaan
Arak-arakan Perayaan

Setelah peserta arak-arakan berlalu, saya kembali ingin memasuki kuil Taleju. Seorang penjaga menghadang saya untuk masuk karena kuil Taleju sedang dalam perbaikan. Ada sedikit penyesalan kuil indah itu tak bisa banyak saya abadikan kecuali gerbangnya. Bagaimana pun selalu ada hikmah terserak untuk saya. Bisa saja kali ini saya terkendala untuk sesuatu lain yang lebih indah.

Taleju Gate
Taleju Gate

Kegagalan saya untuk memasuki Kuil Taleju membuat saya rehat sejenak di sebuah kuil kecil. Saya duduk diam memperhatikan orang lalu lalang. Seorang pria mendekat membuka pembicaraan. Awalnya demi sebuah persahabatan antar Negara, saya menjawab dengan baik, walaupun akhirnya saya tahu dari gelagatnya akan berujung dimana. Uang! Ah, seandainya dia memahami bahwa saya tak pernah percaya pada orang seperti dia karena gayanya yang too good to be true dan terasa palsu ketulusannya. Selagi mendirikan benteng penolakan darinya, saya juga mengerti, Cinta juga yang mengirim dia sebagai hadiah. Bukankah hadiah bisa berupa ujian kesabaran?

Jagannath

Taleju pun ditinggalkan dan kali ini Cinta memberi kejutan atas rasa lelah saya menjelajah seharian. Seorang guide baik hati yang saya temui di Basantapur tiba-tiba lewat di depan saya, mengenali dan menyapa saya kembali, menyuruh saya mendatangi Kuil Jagannath yang tak jauh dari Kal Bhairab. Melihat wajah jenakanya sebelum ia menjauh, rasa lelah itu lenyap seketika. Saya percaya memang ada orang yang dikirim untuk menggembirakan orang lain, walaupun tidak kenal dekat, walaupun hanya melalui sebuah senyuman dan sapaan.

Jagannath Temple
Jagannath Temple

Saya mengikuti sarannya, setelah mengabadikan Kal Bhairab yang bermata besar dan mengintip Sweta Bhairab dibalik penutupnya, saya mendekati Kuil Jagannath. Ah, pantas saja wajah guide tadi mengekspresikan kejenakaan. Entah karena kasihan melihat kelelahan saya tanpa teman, atau sekedar jahil, sehingga ia menyarankan saya ke kuil ini. Di bagian atas dari kuil, sangat jelas terukir adegan-adegan kamasutra yang membuat saya menjadi sangat manusiawi, mau lihat tapi malu. Dan rasa lelah itu benar-benar telah hilang, yang tertinggal hanyalah keterpanaan dan kekaguman. Saya belajar mempercayai bahwa di tempat-tempat melantunkan puja dan puji yang sakral, gambaran kamasutra pun merupakan bagian kehidupan normal yang harus bisa diterima. Hadiah Cinta selalu penuh kejutan.

Kegembiraan saya mencuat kembali, setelahnya langkah kaki terasa ringan menuju Kuil Shiva Parvati yang tak jauh dari Narayan Temple yang kini sudah runtuh, untuk kemudian perlahan saya melambaikan tangan kepada kawasan Durbar Square. Jalan Cinta di Durbar Square sudah saya susuri dan tak akan pernah bisa terlupakan. Karena Apabila cinta memanggilmu ikutilah dia, walau jalannya terjal berliku-liku…