It’s Not Me vs. Dare To Dream


If I’m not for myself, who will be for me? If not this way, how? If not now, when? – Primo Levi

Pernah suatu kali saat sedang boarding, -mungkin karena lelah dan sedang bad mood dengan teman perjalanan yang demanding dan arogan-, saya melemparkan kekesalan kepada penumpang lain yang menjajah tempat duduk saya hanya karena ia ingin bersebelahan dengan keluarganya dan beranggapan saya luluh atas dasar kasihan. Saat itu, saya tidak bisa dinegosiasi, lagi pula saya sudah mengeluarkan uang untuk tempat duduk itu. Tambahan lagi, kalau penumpang itu mau dempet-dempet bagaikan kembar siam dengan keluarganya, mengapa tidak beli kursi? Parahnya dia sudah beranggapan saya bisa diatur-atur sekehendaknya dengan bicara seenak-udelnya hanya dengan mempertontonkan rasa iba khas perempuan yang sedang merayu laki-laki untuk mendapatkan yang dia inginkan.

Dia tidak tahu saya lagi bad mood tingkat dewa dan laksana naga, api sudah siap menyembur dari mulut. No way, get the hell out of my way. Saya tidak peduli, saya tidak kasihan terhadap orang yang pelit mengeluarkan uang demi kedekatan keluarga, saya tidak bertoleransi terhadap orang yang selalu minta ditoleransi. Sebagai sama-sama perempuan, bisa jadi dia kaget mendengar ketegasan saya mempertahankan apa yang menjadi hak saya. Untung dia mingkem ditarik keluarganya yang lain sebelum saya ‘menghajar’-nya lebih jauh.

It’s Not Me, It’s Not Me, berkali-kali saya mengatakan itu dalam hati beberapa saat setelahnya, sedikit menyesal. Saya seharusnya tak perlu sebegitu kakunya, saya seharusnya bisa lebih fleksibel, saya seharusnya lebih bersabar… meskipun saya tahu persis, saya tak wajib mengalah untuknya.

Tetapi tetap saja saya merasa ada hal yang kurang dilakukan. Saya meletakkan batas kesabaran saya lebih cepat daripada seharusnya. Saya kurang mengeksplorasi toleransi. Pertempuran dalam hati itu berlangsung terus, rasanya saya melakukan sabotase pada gambaran menjadi orang baik yang selalu saya impikan. Benarkah hal itu merupakan sabotase?


Dalam situasi yang berbeda…

Saat saya ke Nepal pertama kalinya di tahun 2014, saya langsung menggeleng ketika ditanya oleh agen perjalanan apakah saya mau trekking selama saya di sana. Juga pada saat saya berada di bandara domestik Nepal, saya melihat begitu banyak yang sedang menunggu pesawat yang akan membawanya ke destinasi impiannya. Bagi saya saat itu, It’s Not Me banget. Trekking bukan jalan saya, karena saya ini penggemar budaya dan sejarah, paling saya memilih yang aman, yang bisa saya lakukan dengan damai, tidak perlu bersusah- payah mendaki gunung. Saat itu saya penganut filosofi Kapten Haddock, dalam serial komik Tintin karangan Herge, yang katanya, buat apa naik gunung, jika nanti harus turun lagi? 

Dan tiba-tiba di bulan Oktober 2016, tepat dua tahun setelah ke Nepal, tiba-tiba saya mendapat ‘panggilan’ untuk ke Nepal lagi, tetapi kali ini bukan untuk budaya atau sejarah, melainkan untuk trekking! Karena saya lebih sering percaya pada intuisi, saat itulah terjadi pertempuran dalam diri antara meyakini bahwa saya tak mampu karena trekking bukan saya banget (It’s Not Me); dengan adanya keinginan untuk mewujudkan impian berdasarkan intuisi yang datang tiba-tiba itu (Dare to Dream).

Pilih mana, It’s not me atau Dare to dream?

Saya memberanikan diri untuk memilih yang kedua. Bahkan pada saat saya belum tahu apakah ada teman yang mau diajak trekking bersama. Paling buruk adalah solo-trekking! Entah vitamin apa yang saya telan sehingga memiliki kenekadan seperti itu. Tetapi bukankah hal ini merupakan sebuah tantangan yang belum pernah saya lakukan? Saya terus berpegang pada impian itu, membebaskan diri saya dan tidak ingin memberikan batasan pada diri sendiri. Dengan terus membebaskan diri dengan melepas batasan limit, saya tidak mau lagi berpikir it’s not me, minimal saya akan mencobanya, terus dan terus. Karena dengan mencoba saya menjadi tahu hasil akhirnya, daripada diam yang tidak akan pernah membawa saya kemana-mana kecuali mimpi belaka tanpa tahu rasanya.

DSC06115
Lower Mustang, Nepal

Hari demi hari saya sambut dengan berpegang terus pada Dare to dream. Saya mempercayai kebenaran kata-kata Paulo Coelho, When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. Buktinya memang ke arah sana. Bahkan saat bertemu dengan Tony Fernandes, sang co-founder AirAsia, beliau menuliskan hal yang sama di dalam buku catatan saya, Dare to dream!

Dan akhirnya pada bulan April 2017, saya benar-benar menapaki Himalaya di kawasan Annapurna, lalu beberapa bulan setelahnya, saya menapaki jalan-jalan menuju Namche Bazaar di jalur trekking yang menuju Everest Base Camp, dan di tahun 2018, saya merambah untuk trekking ke kawasan Lower Mustang. Semuanya di Nepal.

Hanya dengan menggeser atau mengganti sudut pandang!

Lain kali, saya akan sangat berhati-hati dengan ucapan, It’s Not Me! Karena dengannya saya telah menjadikannya alasan, agar saya percaya bahwa saya tidak mampu. Bukankah dengan berkata itu, saya bahkan memberi energi untuk melakukan sabotase, untuk menggagalkan impian saya sendiri?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-30 ini bertema It’s Not Me agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…